Tuesday, February 14, 2006

Si zalim Yang Menangan

Filsafat negeri dongeng sungguh menyesatkan, bahwa kezaliman akan selalu kalah oleh si benar, bahwa pahlawan terlahir untuk menumpas ketidak adilan. Lalu kebenaranlah pemenang sejatinya. Teori itu hanya menyemangati anak anak kecil untuk menanamkan budi baik kepada kehidupan supaya tidak ada kezaliman dari keturunan keturunan selanjutnya. Nyatanya dalam dunia sebenarnya, kezaliman lebih terasa kemenanganya ketika segala aturan dirampas dan ditindas dengan semena mena, bahkan untuk membuktikan bahwa si zalim lah yang berkuasa atas sabuah kejadian.

Ketika si zalim berkuasa atas sebuah pribadi, maka apapun yang dikehendaki si zalim ini menjadi kenyataan dengan serta merta. Lalu si pribadi hanya merasa telah menjadi korban dari kelaliman si zalim tanpa mampu memberikan pembelaan yang memadai. Ketidak mampuan untuk melakukan pembelaan adalah karena nurani si pribadi yang meng-upgrade kolam toleransinya menjadi semakin luas dan lebar meskipun menggerogoti daratan logika.

Ketika si zalim berkuasa atas sebuah pribadi, maka ekspansinya bisa semena mena, bahkan merekrut bayi bayi kebaikan untuk dijadikan aparat pelaksana kekuasaan kezaliman, menjadi sebuah tirani yang akhirnya akan melembaga dan membudaya. Ya, tirani peradaban namanya. Ini bukankanlah kehidupan rekayasa ketika kebiadaban sebuah tirani menjadi sesuatu yang umum berlaku, menciptakan rezim kolonialisme yang sangat menggerogoti nilai nilai kehidupan. Kebangkrutan moral dan keboborokan budi pekerti menjadi indikasinya, ketika si terjajah berubah menjadi pemberontak yang hanya bisa membarontak kepada dirinya sendiri dan pada saat yang sama lumpuh layu menghadapi bengisnya kekuatan tirani kelaliman.

Paparan diatas hanya terjadi pada sebuah gelembung dunia bagi sebuah pribadi, sebuah cerita kehidupan manusia. Ya, setiap manusia memiliki gelembung dunianya sendiri sendiri, hidup dan tinggal dalam gelembung itu dalam kesendirianya sendiri. Terkadang tak ada orang lain dari gelembung dunia lain yang bisa membantu bangkit dari keterjajahanya karena memang dinding gelembung menghalangi. Yang bisa dilakukan adalah berteriak teriak menguatkan semangat dari luar lingkaran, dan ketika teriakan melemah, maka penjajahan terus saja terjadi dan terjadi semakin merajalela.

Pahlawan yang diharapkan diidentifikasi sebagai striyo piningit sebuah retorika pemaksaan harapan bahwa akan datang satu sosok atau satu kekuatan yang akan menghancurkan birokrasi si zalim ini, kemudian mengembalikan harkat hidup ketempat yang semestinya. Dalam cerita ini, satriyo piningitnya sedang terjepit diantar dua batu karang dengan gelombang pasang yang mengempas dan menghantam setiap detik dan menit yang dijalani, dan tetap mencoba terus mempertahankan nafas yang melekat dibadan. Pahlawan ini bernama hati, yang karena kelaliman si zalim teraniaya dan menjadi kerdil namun tidak mati. Dialah yang akan membela kepentingan yang tertindas, menjadi pahlawan yang sejati bagi sebuah kehidupan di gelembung dunia sebuah kepribadian.

Penggambaran tentang kemenangan si zalim dalam dongengan pengantar tidur masa kanak kanak tidaklah sebengis dari kenyataan yang terjadi di dunia kenyataan, supaya nantinya anak anak yang tumbuh menjadi manusia utuh bisa belajar sendiri tentang nilai hidup yang harus dijalani tanpa harus terus terkooptasi dengan dongengan yang menghibur sebelum berangkat tidur itu.


Gempol suatu pagi, ketika iblis menyerbu dari segala penjuru, 060214

Sunday, February 12, 2006

Manusia baik hati

Sebuah long term relationship tidaklah bisa dimanifestasikan dalam satu perhitungan metematis, dimana 2 + 2 = 4 dan seterusnya, bahw satu individu + satu individu seyogianya menjadi satu kehidupan, bukan dua kehidupan. Bagaimanapun juga dua individu tetaplah sabagai dua individu dengan dan terikat dengan sebuah batasan bernama toleransi. Hubungan itu lebih rumit dari sekedar menggabungkan rumus rumus kimia untuk mencapai sebuah hasil yang terkandung di dalam pengharapan. Hubungan ini adalah seni menggabungkan dua unsur berbeda menjadi satu kesatuan untuk membangun harapan dam mewujudkan mimpi mimpi sederhana menjadi sesuatu yang dijalani dengan rasa yang sama.

Ketika orang memilih seseorang yang lain untuk melalui proses ini, maka yang dibutuhkan hanya satu kriteria, yaitu manusia baik hati. Pengertianya adalah bahwa seorang manusia yang baik hati meliputi semua hal yang dibutuhkan untuk menjadi teman hidup, teman hidup yang sebenar benarnya. Seorang manusia yang baik hati memiliki dasar dasar humanisme baku yang mengakar kepada sifat sifat baik pula, sekali lagi sebagai teman hidup, dia akan dengan sukarela mendengar panggilan nuraninya untuk menjadi pelindung, penenteram, peneman penguat dan pencinta terhadap individu partner hidupnya. Orang seperti inilah yang ideal bagi kehidupan sebuah relationship apapun bentuknya.

Manusia yang baik hati tidak perlu lagi mengeja eja bahkan memanipulasi tentang hukum hukum adat pergaulan seperti tenggang rasa maupun menghormati. Dia telah dibekali secara kodrati untuk menjadi manusia yang berarti, mungkin bagi dirinya sendiri dan berharap berarti bagi orang lain. Sifat baik hati sungguh adalah sebuah sifat yang mumpuni untuk menuntun sebuah hubungan jangka panjang menjadi sesuatu yang bermakna, berarti sesuai dengan janji dan isi mimpi mimpi yang dibangun.

Idealnya teman hidup memang seorang manusia yang baik hati karena dari situlah awal dari semua invsestasi hidup, karena dari sanalah jejak sejarah tentang sebuah riwayat diri terbentuk dan tercatat menjadi salah satu tauladan bagi kehidupan selanjutnya. Manusia yang baik hati akan sangat menghayati nilai nilai luhur sebagai manusia, menjadikan agama sebagai pemandu dan Tuhan sebagai muara bagi semua persoalan. Diluar dari topik bahasan tentang itu, manusia baik hati menyediakan diri dan hati untuk kehidupan orang lain, menjadi sesuatu yang bermakna dan bernilai bagi diri sendiri dan mungkin orang lain.

Adalah jamak kalau manusia baik hati itu menjadi semakin langka pada zaman elektronik sekarang ini. Kehidupan telah menciptakan imitasi imitasinya termasuk kepribadian. Penampilan yang menarik, kebendaan yang merangsang dan konsumi gaya hidup menjadi pola yang bisa dengan mudah membiuskan. Hampir segala sesuatu bisa terbentuk dengan instant dan juga keaslian sebuah manusia baik hati sering kali terkubur dalam imitasi sikap untuk sekedar memancing perhatian, menciptakan sebuah kepribadian rekaan sebagai umpan bagi pemenuhan atas kepuasan nafsu duniawi belaka.

Sayangnya memang manusia tidak bisa menghindari itu semua bagi sebuah kehidupan dibuminya. Kehidupan yang terkotak kotak (baca: kastanisasi diri) telah membantuk juga komunitas komunitas yang memiliki warna dan golonganya sendiri, terlalu mudah memincingkan mata bahwa kesederhanaan adalah milik golongan yang dibawah, bahwa charity adalah cara mengekspresikan simpati.

Semoga dalam kehidupan kita selalu dikaruniai manusia manusia baik hati, entah sebagai kenalan, sahabat maupun teman hidup. Sungguh beruntung mereka yang mengalami ini, menemukan individu lain untuk kita jadikan teman hidup yang bisa kita percaya untuk titipan hati sepanjang hayat dengan hak hak khusus yang kita miliki dan ukuran ukuran pribadi sebagai standardisasi dari kriteria yang sesuai dengan harapan nurani kita.


Gempol 060212

Friday, February 10, 2006

Bunuh diri; pemberontakan atau kemenyerahan?

Ketika logika tak sanggup lagi mencerna realita, terbentur dinding tembok tinggi bernama keadaan, alam fikiran gelap pekat terkepung pesimis. Bathin berjalan bimbang mengitari tepi garis batas keyakinan dengan ribuan pertanyaan yang hanya berujung kepada ribuan pertanyaan lainya. Buntu jawaban. Mandul akal fikiran. Diri tak punya apa apa lagi untuk diharapkan, apalagi dibanggakan.

Harapan yang terputus dan mati layu membawa dorongan untuk melakukan tindakan mengambil short cut dengan menyelesaikan hidup secara ekstrem, membunuh diri sendiri dan lepas tanggung jawab dari konskwensi kehidupan. Yang terbayang adalah bahwa tidak ada lagi kehidupan selain dimuka bumi ini. Sungguh pemahaman nurani yang gersang, tapi itu berlaku mutlak terhadap sesiapapun yang memang memiliki dorongan untuk melakukan bunuh diri ketika hidupnya terkurung ditempurung pengertian yang hanya berdinding gelap, berlantai gelap dan baratap gelap.

Sebermula dorongan untuk bunuh diri itu timbul dari kebutuhan akan empati dari sekitar, dimana diri mengharap agar orang melihat, mendengar dan merasakan apa yang sedang terjadi dialam bathin. Kebutuhan itu menemui jalan buntunya, tak mendapat pemenuhan. Yang terjadi tentu kekecewaan, kemudian berkembang menjadi rasa kesendirian dimuka bumi. Betul betul sendiri harus menghadapi kekecewaan, menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan pengharapan, sementara celah untuk memberontak samasekali tak ditemukan. Buntu. Orang orang terdekat dalam kehidupanya serasa menjauh dan diri merasa dijauhkan dari kehidupan, semakin terpencil dalam alam bathin yang berbadai dan memelas pada diri sendiri, dan pada saat yang sama kehabisan akal untuk menolong dirinya dari keadaan yang menyergap.

Bunuh diri dipilih sebagai perlawanan yang sangat ekstrim terhadap kenyataan. Sebuah penolakan yang sangat tragis kepada keadaan yang harus dihadapi. Kekuatan batin setiap orang tidaklah sama dan memilih bunuh diri adalah pemberontakan terakhir yang dimiliki sebagai symbol perlawanan, penolakan terhadap kemungkinan masadepan, yang didalam kepala kemungkinan itu hanya berisi satu hal; ketidak mungkinan!

Orang terdorong untuk melakukan bunuh diri juga karena menyerah dengan keadaan seperti tertulis pada paragraf diatas. Rasa malu dan tak berdaya yang berlebihan menjadi faktor faktor pendorong terjadinya bunuh diri. Kemudian menyerah, merasa tak sanggup lagi melawan atau merubah keadaan selama hidup masih dijalankan, lalu memilih untuk berhenti hidup dan berhenti bertanggung jawab atas segala laku hidup yang pernah dijalani, maka semua selesai tak lagi ada perhitungan perhitungan yang harus dipertanggung jawabkan bagi peradaban. Anggapanya adalah bahwa berhenti dari kehidupan berarti berhenti menanggung ‘beban’ yang dari hidup yang dijalani. Padahal kalau mau sedikit saja menyadari, bahwa ‘beban’ tersebut hanyalah konskwensi dari pilihan yang diambil dalam menjalani kehidupan. Haih…rumit!

Orang pada akhir ‘perjuangan’ hidupnya memilih bunuh diri, adalah orang yang memiliki bangunan rohani yang rapuh, tandus dari keimanan dan kepercayaan tentang semesta, tentang Tuhan. Orang yang berpemahaman bahwa hal hal duniawi adalah segalanya, bahwa peradaban tidak mengikut sertakan dirinya untuk berperan karena berbagai keterbatasan kemampuan. Materialistik.

Pada akhirnya, bunuh diri menjadi pililhan terakhir untuk melawan keadaan yang tidak sesuai keinginan atau harapan yang sekaligus menjadi cara mengasihani diri paling sempurna, menyerah terhadap kehidupan peradaban hanya karena merasa diri tidak layak menerima apa yang diberikan kehidupan. Sungguh, orang orang seperti ini adalah golongan orang orang yang kufur.


Gempol – Simatupang, 060210

Thursday, February 09, 2006

Kisah si Gaby

(Sebuah perenungan dari masalalu tentang setitik nilai manusia)
Balian Beach Bungalows, Desa Lalang Linggah – Selemadeg Tabanan-Bali pada suatu saat ditahun 1992. Dihalaman samping bangunan utama, seekor monyet terikat dengan rantai, terikat pada ‘kandang’ sederhana dari kayu disebuah cabang pohon Angsoka. Didekat pohon itu dua bangku dari beton menghiasi. Monyet jantan berumur sekitar dua tahunan itu bernama Gaby.

Pada mulanya memang rasanya ngeri mendekatinya, melihat caranya bereaksi dan juga pandangan mata liarnya. Tapi dia binatang kecil yang terikat, meskipun gigi gigi tajamnya terkadang membuat perasaan bergidik dibuatnya.

Keakraban muncul ketika hampir setiap hari tugasku memberinya makan dan mengajaknya bermain main. Makanan buah buahan, juga dan membiarkan Gaby untuk berada diatas tubuhku, sambil ngeri dan sesekali geli. Singkat kata, Gaby menjadi teman akrab, menjadi monyet yang hampir tiap hari akan bisa dengan mudah menjerit menyambutku setiap saat mendekat.

Lalu pada suatu kesempatan, entah sebab apa tiba tiba setelah baru saja dia berada dilenganku, dia meradang, mengamuk dan menggigit ketiakku. Sakit juga tidak begitu, tapi kaget saja bahwa Gaby masih menyimpan keliaranya, bahkan kepada orang yang setia memberinya makan dan mengajaknya bermain setiap hari. Aku tak mengerti jalan fikiran monyet ini. Yang terjadi adalah marah, menganggap dia mengerti kata kata yang kuucapkan, maka dengan kata kata kuperingatkan untuk tidak mengigit lagi.

Tugas tetap harus berjalan, kehidupan berjalan. Beberapa hari setelah insiden itu, Gaby mengulanginya lagi, kali ini tengkuk yang jadi sasaranya, digigit dengan semena mena padahal memar dan gores diketiak belum juga hilang warna merah kebiruanya, bekas gigi giginya yang menggores kulit. Kali itu aku yang begitu muda hilang kesabaran, kupegang tali pengikatnya dan menamparnya dengan marah, dengan kekuatan untuk ukuran seekor monyet, cukup membuatnya menjerit dan diam. Tingkahnya jadi ketakutan terhadapku. Dan menit berikutnya penyesalan mengganjal isi kepala, bahwa aku telah menjadi lebih binatang dari Gaby sendiri. Tetapi sejak itu, Gaby tak pernah lagi menggigitku, menjadi monyet manis yang sopan dan menyenangkan untuk diajak bermain dan menerima jatah makan dari tanganku. Rupanya dia belajar dari kekerasan yang terjadi.

Empat belas tahun kemudian, situasi yang sama dan lebih serius ternyata harus terlewati. Seorang manusia yang konon mahluk yang diciptakan paling sempurna ketimbang mahluk lainya dimuka bumi menganiaya batinku dengan semena mena. Tanpa sadarpun reaksiku sama seperti Gaby, menasehati dengan kata kata dan sikap dan memberinya kesempatan setelah berbulan bulan ‘mengorbankan diri’ menanti keajaiban kesadaran nurani. Tetapi rupanya hal itu bukan sesuatu yang berarti, kehancuran pendalaman dan kerusakan alam bathinku tak bararti apa apa baginya setelah sebelas bulan yang melelahkan syaraf itu, diulanginya lagi penganiayaan bathin itu dengan cara yang lebih keji dan sempurna. Rupanya dia tidak bisa menyerap sikap dan cara ‘halus’ itu menjadi pengertian untuk pelajaran perilaku, maka tamparan mendarat untuk pertama kali selama sepuluh tahun lebih kebersamaan.

Si mahluk yang notabene binatang yang paling sempurna itupun ternyata memiliki sifat melebihi binatang, bahkan ketika dia harus berlaku culas. Akal fikiranya memperparah kesempurnaan itu, menjadi peculas yang paling sempurna dibanding mahluk bernama binatang jenis apapun. Kali inipun aku kehilangan akal sehatku, mencoba mencerna jalan fikiranya yang kelewat ‘biadab’, atau mungkin kebiadaban yang sempurna itu, pun sikap belajar dari pengalaman tak jua kunjung datang menghampiri. Haih!

Rasa sakitnya lebih sakit karena dia juga dibekali dengan akal budi dan nurani dimana seharusnya tenggang rasa bersumber, dimana seharusnya perilaku bermuara. Tetapi barangkali memang benar teori bahwa manusia adalah binatang yang paling sempurna, demikian juga kesempurnaan dari sifat kebinatanganya justru melebihi binatang itu sendiri.

Gaby, yang hanya dibekali instinkpun bisa belajar dari kesalahan, seperti menerima resiko dari kekeliruanya dan kemudian ‘bersikap’ merubah perilaku. Sedangkan, seorang manusia yang dibekali akal untuk inisiatif, nurani untuk tenggang rasa, logika untuk mengukur rasionalitas, dan hati untuk wahana nilai justru dengan semua bekal keunggulan itu seperti sengaja melanggarnya, menindas semua batas pembeda antara manusia dan binatang, dan menjadi binatang yang paling sempurna.
Memprihatinkan!

Gempol, 060209

Wednesday, February 08, 2006

Kesetiaan Pak Ubung

Lelaki bertubuh kecil berusia sekitar 58 tahun itu tampak menyempil diantara kedua angkringnya, memikul dagangan keliling kampung diseputar Gempol – Cipayung. Pakaianya lusuh, berpeci lusuh dengan kulitnya coklat gelap. Angkring uniknya tak kalah menarik perhatian, dengan daging ayam dalam rangkaian tusukan disatu sisi dan perapian dari arang batok kelapa disisi lainya. Jaraknya antara kedua angkring itu demikian sempit sampai hanya cukup untuk badannya yang mungil. Lampu minyak terbuat dari gelas diisi minyak kelapa dan diberi sumbu sebagai nyala menempel disalah satu angkringya. Pikulan angkringnya begitu unik, dari batang bamboo yang melengkung tempat dimana beban diletakkan dipundaknya yang mulai renta.

Namanya pak Ubung, lelaki dari Cirebon yang sudah berjualan keliling kampung sejak belum ada angkot di daerah Cipayung sekitar tahun 1985. Sejak 21 satu tahun yang lalu sudah setia menyusuri kampung dengan daganganya dan dengan angkring yang sama pula. Tenaganya makin susut, usianya tak makin menjadi muda tapi semangatnya tetap yang dulu, yang ia punya pada 1985. Jam lima sore keluar dari kontrakan, lalu menjajakan daganganya hanya sampai nanti sekitar jam 12 malam, ketika waktunya orang untuk tidur beristirahat. Duaratus limapuluh tusuk sate paling tidak mampu terjual jika hari baik, yang berarti 250 x 600 rupiah = 150.000 rupiah dikantonginya.

Keramahan dan senyumnya menjadi penyejuk setiap pembelinya, ceritanya yang renyah mengalir tentang pengalamanya, tentang keluarganya dikampungnya di Cirebon, bukan keinginan maupun keluhan keluhan yang dipertontonkan kepada pembelinya. Kesetiaanya pada profesi mengilhami rasa rendah bagi siapapun yang sempat berpapasan dengannya, dan bagiku kesetiaanya pada keluarganya di Cirebon menjadi tauladan tersendiri yang patut kukagumi, dan mungkin kuagungkan. Dialah lelaki yang sesungguhnya, dengan postur mungil tergerus usia, dengan cita cita dan kesahajaaan yang luar biasa.

Ketika gelap menyekap malam, pak Ubung dengan langkah pendek pendeknya setia menyusri jalanan, gang demi gang dengan daganganya; sate ayam tanpa lontong maupun nasi. Sate ayam Cirebon. Pak Ubung bahkan menembus gerimis dan juga melewati hujan ketika memang Tuhan menganugerahkan hujan ke muka bumi. Peci dekilnya setia melindungi kepala yang ditumbuhi rambutnya yang ubanan dari tetesan air dinigin, sekaligus menjadi icon bagi pak Ubung penjual sate Cirebon.

Obrolan dengan pak Ubung sore tadi, menjadi tauladan bagi nurani betapa hidup begitu berharganya untuk disyukuri dan dijalani, betapa pemurahnya Tuhan dangan segala anugerah maupun karunianya kepada kehidupan. Menjadi pak Ubung barangkali menjadi manusia yang bersyukur, menjalani hidup dengan kesahajaan dan sukacita, setia pada profesi, setia pada tanggung jawab keluarga dan setia kepada tanggung jawab sebagai lelaki, sebagai manusia.

Gempol, 060208

Tuesday, February 07, 2006

Truth is the real answer

Pikiran adalah bumerang, ketika jawaban yang sesungguhnya adalah kebenaran. Dia seperti air menelusup dianatara akar dan celah tanah mengering mencari kesejatian. Dan ketika kebenaran ditemukan sebagai jawaban kesemestian, ia terkadang bermakna juga sebagai palu godam yang melumpuhkan kaki, meremukkan tulang belulang.

Adalah akal semata yang memaksa hati untuk terus bergerak mencari, mendesak sampai kedinding ego yang menjulang tinggi hingga penyok penyoklah nilai diri tergencet oleh dorongan hati dan kukuhnya ego yang semestinya melindungi nurani. Peperangan dalam ruang bukanlah futsal, permainan demi kesenangan. Dia adalah perkelahian panjang yang menghancurkan diam diam.

Hati memang tak selamanya memberikan pilihan terbaik, meskipun janji kebanggaan bahwa ego sanggup tertaklukkan dengan sakit hati dan katakanlah pengorbanan atas sebuah kepribadian. Keletihan mental yang melumpuhkan dan membutakan terkadang justru menjadi satu satunya keadaan yang harus ditelan, sebalum dibagikan kepada teman teman yang datang merubung menaburkan benih simpati di sanubari.

Ya, ego hanya memperjuangkan haknya atas kebahagiaan yang terampas semena mena, sementara hati menawarkan kebanggaan atas laku sang Nabi. Terus mendorong untuk tidak melakukan perlawanan, membujuk logika agar mau berkompromi bahwa semua hanyalah buah dari bebijian pekerti yang tersemai dimasa silam. Ego yang congkak terus saja merajuk, bahwa tidaklah sepadan lagi antara benih yang tersemai dan buah yang harus terpetik. Tetapi bukankah sebutir gabahpun menciptakan seuntai padi dengan puluhan butir gabah menempel disana?

Kebenaran memang selalu jawaban yang paling tepat atas pertanyaan. Sayangnya kebenaran terkadang harus mengalami transformasi nilai ketika ia didapatkan dari cara air yang menelusup dicelah tanah kering yang membelah, mencari kesejatianya dengan bantuan akal logika. Kebenaran yang menempati kodratnya sebagai kebenaran sejati, bukan karangan. Ada juga kebenaran yang terlambat untuk ditemukan, ketika semua sikap telah dipersiapkan untuk jawaban yang diyakini sebagai kebenaran kejadian. Jika itu terjadi, maka hidup, nurani, kepribadian tak lebih hanya sebuah alat permainan dari nurani korup yang dipenuhi belatung, menggerogoti nilai akan makna menjadi manusia berakal budi.

Gempol, 060207

Monday, February 06, 2006

Sebuah kisah biasa

Sejak 10 bulan terakhir, SI POLAN merasa tidak dapat tertawa lagi. Yang ada dalam benaknya hanya dua pertanyaan, teruskah atau berceraikah? Berat badannya menurun drastis, sulit tidur, dan tidak selera makan, jantung pun sering berdebar keras. Ia juga menjadi mudah marah dan bila dia sedang sendiri diluar dari istri dan anaknya, maka benda mati sering menjadi sasaran kemarahanya.
Kepercayaan terhadap istri hilang total, sehingga ke mana pun istri pergi sendiri, walaupun untuk belanja, selalu diidentikkan dengan pergi untuk mencari lelaki. Pertengkaran berlanjut tidak terhindarkan. Sebenarnya istrinya sudah meminta maaf berulang kali bahkan bersumpah tidak akan mengulangi “perbuatan” tersebut. Akan tetapi, sumpah yang diulangyapun dilanggarnya berulang pula. Hal itulah yang memupuskan kepercayaan SI POLAN terhadap istrinya.

Sering terlintas pikiran untuk bercerai, tapi ia juga takut akan berdampak sangat buruk terhadap kelangsungan kehidupan anak perempuannya yang berumur delapan tahun. Sementara itu, bila ia berpikir dalam-dalam dan mencoba menggali perasaannya yang dalam ia tidak tega membuat anaknya tidak beribu secara psikis dalam usia sedini itu. Pada sisi lain, timbul kecurigaan dan kekhawatiran mendalam, apakah peristiwa serupa tidak terulang di kemudian hari, bila perkawinan ini dilanjutkan? Ia pun juga menjadi trauma untuk memberikan kepercayaan baru, sehingga harus menanggung semua beban bathinya sendiri, kelelahan fisik dan mentalpun tidak terhindarkan.

Kondisi psikis SI POLAN , yang ditandai oleh konflik batin, berlanjut. Stres emosional semakin intens dan ketegangan emosional memuncak membuat SI POLAN mengalami keluhan-keluhan psikosomatis, seperti tidak bisa tidur, jantungnya sering berdebar keras, dan rentan terhadap meledaknya kemarahan dan kesedihan silih berganti tanpa henti. SI POLAN benar-benar menderita karena lelah fisik dan lelah mental.

Akumulasi Pengalaman Traumatik

Timbul pertanyaan, mengapa sedemikian beratnya ketidakpercayaan terhadap istri, dan mengapa sedemikian intensnya trauma psikis yang diderita SI POLAN ?
Dari anamnesis eksploratif, ternyata masa kanak-kanak dan remaja SI POLAN ditandai oleh kondisi perpecahan orang tuanya karena ayahnya hampir tidak pernah ada untuk melindungi dan membimbing pribadi kecilnya. Sampai semua anak-anak ibu SI POLAN berkeluarga, Ibu SI POLAN tidak pernah memutuskan untuk bercerai dengan ayahnya karena merasa lelah dan terbiasa menderita, tidak punya pilihan lain kecuali menyelamatkan anak anaknya.

Walaupun perceraian itu tidak pernah terjadi, tetapi SI POLAN merasakan kesedihan yang mendalam. Menurut SI POLAN , ayah adalah seorang yang gagah dan’ dandy,’selalu berpenampilan modis dan kelimis. Pertengkaran yang terkait dengan kehadiran perempuan lain dalam perkawinan memberikan efek traumatis yang ternyata tidak sederhana, sehingga dalam memilih istri, SI POLAN pun menetapkan pilihan pada wanita yang tampil sederhana, pendiam, sambil berharap agar SI POLAN tidak mengalami apa yang dialami ibunya.

Dengan peristiwa istrinya tersebut, di samping SI POLAN tersentak oleh akumulasi trauma psikis tentang sikap perempuan sebagai istri yang tidak setia, bayangan negatif tentang sikap laki-laki pada umumnya yang sering didengar dan dipercakapkan dengan teman teman pergaulan menjadi kenyataan. Jadi dapat dipahami, bila efek akumulasi pengalaman traumatik ini begitu eksesif dan intensnya.

Cubicle, 060206

Saturday, February 04, 2006

Jyllands-Posten

Hati bergidik rasanya ketika membaca ratusan tulisan yang bisa terfahami mengomentari karikatur nabi Muhammad SAW di harian Denmark Jyllands-Posten, yang juga bisa diakses melalui http://www.uriasposten.net/?p=2624. Ngeri rasa hati karena justru cemooh, ancaman dan kata kata kasar khas zaman jahiliyah ditayangkan sebagai polemik bebas. Orang berbagai ras dan pandangan , terutama keyakinan akan ketuhananya saling mengolok, mengancam bahkan mencela atau sekedar berkomentar.

Perbedaan agama kemudian dikemukakan lewat pemahaman logika, menempatkan agama dikepala yang muncul adalah perasaan hak azasi yang tertindas atau barangkali sampai kepada kehormatan yang terinjak injak. Tersinggung. Reaksi dari ketersinggungan itu sendiri muncul dengan vulgar, dan counter reaksinyapun tak kalah vulgarnya pula. Disini yang terlihat lagi lagi adalah bahwa orang seperti kehilangan makna dasar dari agama, bahkan keteladanan sang pemimpin telah diartikulasikan dengan cara yang impulsive.

Dimanapun agama mengajarkan sikap rendah hati, andap asor, dan bijaksana. Sikap sikap mulia untuk kehiduapan dunia yang akan menjamin ketenteraman bathin bagi siapapun yang menganggap diri sebagai manusia. Agama tentu tidak mengajarkan pembunuhan, pencelakaan, pembalasan dendam, dan segala bentuk kekerasan fisik maupun non fisik. Tetapi aneh, di uriaposten.com itu justru orang saling mengatasnamakan agama untuk memaki dan mencela.

Agama adalah faham, ajaran nurani, tatanan tingkah laku. Ujungnya adalah perilaku kebajikan dan permaafan. Membela agama idealnya adalah dengan mengamalkan ajaran luhurnya, dengan mempertontonkan keunggulan budi baiknya, dan itu dimulai dari diri sendiri, tanpa tendensi untuk memaksa orang untuk tunduk dengan kehendaknya, mengatasnamakan agama. Pembelaan dengan cara anarki maupun kasar justru akan memerosotkan nilai agama itu sendiri yang bagi orang dengan pemahaman (baca: agama) berbeda malah menjadi pembenaran dari keyakinan bahwa memang sikap si pembela yang anarkis itu mencerminkan ajaran yang sesungguhnya. Padahal hal itu tentu saja samasekali keliru.

Jyllands-Posten sudah meminta maaf, demikian juga pemerintah Denmark, namun reaksinya hampir diseluruh dunia belum lagi surut. Orang muslim tersinggung, sedangkan pers Denmark memandangnya sebagai kebebasan berekspresi tentang kondisi sosial dan menempatkan diri sebagai kontrol sosial. Denmark bukanlah negara Islam, dan si pembuat karikatur Kurt Westergaard juga belum tentu memahami kesakralan akan Nabi Muhammad SAW yang kemudian menyimpulkan bahwa memvisualisasikan Nabi Muhamad SAW dalam karikatur yang mungkin maksudnya adalah mengisyaratkan kepada sosial bahwa kaum muslim (digambarkan sebagai Nabi Muhammad sebagai symbol) adalah ancaman bagi kehancuran dunia dan kehancuranya sendiri (dilambangkan dengan Nabi Muhammad SAW yang diatas kepalanya membawa bom waktu). Kurt Westergaard barangkali memandang kaum muslim belakangan menjadi radikal yang menghalalkan kekerasan dan anarkisme. Kelompok kelompok radikal (atau bahasa orde barunya disebut sebagai ‘oknum’), dengan bendera Islam memang mengemukakan diri sebagai kelompok pencetus kekerasan meskipun barangkali hal itu terjadi karena reaksi atas tindakan yang dirasa sewenang wenang. Sebagai counter reaksinya, sebagian orang (barat) kemudian dengan skeptis menganggap bahwa memang begitulah Islam dicitrakan. Maklum, mereka bukan orang Islam.

Dimanapun, agama apapun, sekali lagi mengajarkan cinta kasih dan perdamaian, kebajikan dan kebijaksanaan nurani. Agama tercipta untuk memperbaiki keporak porandaan akhlak suatu kaum dan kemudian menjadi landasan filosofis paling sahih dimuka bumi. Dunia yang semakin ramai dengan kemajuanya menciptakan manusia manusia berpengetahuan yang kemudian memunculkan kesombongan ego, bahwa dirinyalah yang paling tahu tentang ajaran itu, kemudian menggunakan cara yang bertolak belakang dengan ajaran sebagai dalih kepentingan pembelaan agamanya sendiri. Sungguh kemerosotan moral yang digambarkan secara vulgar dan sangat telanjang oleh Jyllands-Posten pada September 2005 itu.

Jika agama hanya jadi ajang cemoohan dan ajang saling mencaci, juga alasan untuk menindas dan mengeliminasi, atau yang lebih parah sebagai dasar tindakan genocide, maka agama itu sendiri telah kehilangan esensinya, justru oleh pemeluk pemeluknya sendiri, bukan dari fihak luar. Seyogianya, cinta kasih, kebajikan, kebijaksanaan dan perdamaian menjadi dasar dan landasan moral bagi setiap sikap kita ketika orang menempatakan agama sebagai sebuah argumentasi. Sebab, sikap rendah hati dan perilaku cinta kasih karena ketulusan nuranilah yang adalah ajaran dasar setiap agama-lah yang bisa menciptakan kedamaian dimuka bumi.

Peace on earth!!

Gempol, 060204

Thursday, February 02, 2006

Terimakasih

:n
Akhirnya aku berhenti berharap. Setelah jiwa letih menanggung hasrat; kelewat berat. Kepalsuan telah merampas semua yang sempat menjadi warna hidup menukarnya dengan kawah amarah yang dengan perkasa kuredam sendirian. Aku mengerti, hidup hanyalah hiburan bagimu, permainan murahan belaka. Maka nikmatilah ini, luka disekujur tubuhku yang kauukir dengan pisau karatan berulang ulang, pisau yang kubelikan agar kau kukuh menjaga martabat kita.

Engkau dengan mata hatimu yang tertutup oleh debu kebejatan tentu tak mampu mengeja setiap tetes nanah yang meleleh, juga setiap tetes air mata yang menguras isi kepala yang meradang dan membusuk perlahan.

Maka aku berhenti berharap dan melanjutkan hidup berteman dengan iblis ciptaanmu; segala usia, yang kupiara jadi virus bagi jiwa sekelompok penjamin bagi kematian yang tak mungkin akan datang terlambat menghampiri.

Terimakasih sekali lagi, untuki sumbangsihmu bagi kedewasaanku…

Gempol, 060202

Wednesday, February 01, 2006

All I know


“Engkau semakin menjauh…”
Bisikmu pada angin Januari yang basah disutau senja yang gelisah. Bisikan itu memecah gemuruh hati yang koma, membangkitkanya sesaat sebelum jatuh pingsan lagi untuk yang kesekian kali.

“Aku hanya tahu, sesuatu yang dahsyat menyedot energiku, aku tak berdaya dipermainkanya, menempatkanku pada ruang kubus yang sempit pengab. Aku hanya tahu, semakin tenggelam dikedalaman dunia mini yang kupilih sebagai ‘bijaksana’”

Tanganku erat terikat oleh rantai kewajiban dengan gembok bernama kesemestian. Bahkan untuk mengecup air matamu yang berlinanganpun aku tak kuasa, terhalangi oleh dinding kaca setebal kemustahilan.

Samar terdengar, tangis kehilangan mengiringi keterbenamanku, dilumpur lengket yang melumpuhkan tangismu jadi hymne pengiring kematianku bagi hidupmu, dimana hidup baru harus berjalan tanpamu menggenggam lenganku, menguatkanku untuk terus menapaki cadas waktu.

Rasanya aku telah kehilangan hampir semuanya, wahai secuil hatiku. Bahkan benih benih keyakinan dan harapan yang sempat engkau semaikan dikebun kalbu kini membusuk digenangi kekecewaan yang berat melumat.

Ah, all I know…
You can feel me so easily so that I don’t have to tell you how it feels for being me, and the beauty of battle inside of me. One day, I will be walking out from the dust as a champion, with the glorious triumph of honor sit on top of my bare head. Or, you will find a pair of wing growing on my back where stars follow my steps and clouds protect me from the heat of dry sunbeams.

Yes heart, all I know at the time being is I’m drowning deeper into the ocean of uncertainty, floating around with hurricane of anger and sorrow torturing me…


Gempol, 060101

Tuesday, January 31, 2006

Bye Bye Kost...


(20 Juli 2005 – 30 January 2006)
Enam bulan kamar kost menjadi dunia senyap yang semula mengerikan dan kemudian berbah menjadi indah, karena improvisasi atas sunyi dan keperihan memanjang ketika hati menjadi serpihan luluh lantak oleh bengis penghianatan. enam bulan menjadi warna kepasrahan dan kebangrutan setelah sepuluh bulan yang melumpuhkan.

Kamar kost Bu Parmi menjadi singgasana, dilantai dua dan berjejer berdua saja dengan kamar mandi diluar kamar. Ia menjadi singgasana bagi sebuah hati yagn dihancurkan lalu ditelantarkan untuk kemudian dipungut dan dilemparkan legi kejurang kesengsaraan bathin yang lebih dalam. Dan jadi kebisaan sesudahnya.

Kini hidup bagaikan siput tanpa cangkangnya, remuk terinjak kaki sang durjana, terjepit diantara sederet karang kewajiban, terikat dengan tali temali kawat kepatutan. Kenangan kamar kost berisi begitu banyak cerita tentang sunyi kebahagiaan ditengah hamparan kemunafikan. Sunyinya melahirkan filsafat filsafat bijak, perenungan panjang atas makna hidup yang tak bisa berhenti untuk dipertanyakan. Didindingnya tercatata peperangan demi peperangan antara hati dan logika sepanjang masa yang menenggelamkan kesendirian.

Akan kurindukan indahnya hujan di jendela ketika matahari ternggelam di peraduan, akan kurindukan percakapan percakapan panjang yang menghiasi malam malam yang hitam. Dan pasti kukenangkan betapa diri pernah merasa menjadi pemenang karena merasa sanggup menaklukan ego hingga menyerah diantara ikhlas dan mengalah sambil berharap nurani masih tersisa di jiwa yang durjana; sang penganiaya.

Sekarang mohon diri, kaki melangkah meninggalkan catatan enam bulan menjauhi pintu untuk menuju pintu lain lagi yang penuh berisi iblis. Entah untuk berapa lama lagi menjadi nomanden, mengapung diantara keraguan dan sakit hati.

Bye bye kost….terimakasih telah membantuku tetap hidup dan tetap sebagai manusia…


Simatupang, 060131



Jika engkau harus pergi

Jika memang engkau harus pergi wahai secuil hatiku, berjalanlah menjauh dengan kepala tegak dan dagu terangkat pasti menuju tempat teduh yagn kau tuju.

Engkaupun tahu, aku tengah berada di tumpukan badai yang mengamuk bertubi tubi tanpa engkau sanggup menyentuhnya. Badai ini telah dirancang khusus buatku, buat menceraikan damai dan harapan jiwaku. Aku melihatmu, berdiri menggigil diluar lingkaran api yang mengurungku.

Jika memang engkau harus pergi, tolong jangan lupakan jabat tanganku untuk malaikat kecil yang selalu menyertaimu. Nanti bagilah cerita pencerahan tentang makna kepasrahan, ceritakan bahwa dulu pernah ada seorang manusia yang berjuang menjadikan diri manusia dengan bentuk yang tak karuan karena benturan berulang ulang. Ceritakanlah tentang rumah indah yang sempat dibangunya, dengan atap, dinding dan lantai terbuat dari kesementaraan kabut.

Jikapun engkau harus pergi, dipenjara apiku bau nafasmu tak pernah surut, kuhirup menjadi pemandu langkah sampai badai ini usai, atau setidaknya akan kusimpan jadi mantra penyejuk kalbu yang hangus merana.

Jika engkau harus pergi, engkaupun tahu telah kupilih jalan cadas ini, menggendong tanggung jawab di ransel kodrat sebagai manusia. Ya, hanya sebagai manusia yang bodoh dan hina dimata Sang Pencipta.

Jika memang engkau harus pergi, biarkan ruhku selalu mengiringimu dan doa dari isi semesta memohon agar dijaga engkau dari segala bencana yang menghancurkan nilai.

Gempol 060131

Dunia Baru

Sebuah hari baru menyeret diri menjadi satu satunya bagian dari dunia yang baru termasuki. Asing. Sekeliling hanya asing, bahkan dengan perwujudan diri sendiripun begitu asing. Inikah bikini bottom? Inikah dunia dasar laut yang senyap tanpa suara? Ya, senyap tanpa suara, hanya ribuan peristiwa terkenang dikepala.

Jiwa yang kerdil terus menengadah, mengharap ego untuk melipat lutut dan bersideku menanti dengan pasrah apa yang bakal dibawa oelh masadepan yang akan datang. Pengharapan berubah menjadi kemewahan yang memilukan dengan janji kekecewaan yagn mengmbrio pada keyakinan gamang.

Iblis telah menjauhkan diri dari segala yang tercintai, bahkan merampas semua yang pernah tercipta, tinggal tersisa duka lara memanjang tanda kehidupan terus berjalan. Terali kokoh telah dibangun dibalik kesejatian fikiran mengurung petaka sebagai hadiah yang datang bertubi tubi tanpa ampun apalagi belas kasihan. Sebegitu perkasanyakah keculasan memperdayai nurani? Atau diri yang tak tahu cara mengaduh saja jadi begini?

Dan maka, diantara lumpur yang menghambur membutakan pandangan dimana hanya gelap dan tanpa mata angina satupun berjalan diam diam. Meninggalkan stasiun stasiun pemberhentian kenangan menyusuri track track baru yang terkadang mengharuskan diri berhenti sejenak untuk mengukur letih yang membandul dikedua kaki. Tak ada peluh juga keluh yang pantas diutarakan. Semua berjalan, berjalan dengan bimbang.

Ya, hidup hanya berjalan, pelan pelan dan kadang diam, mencari kematian dimana segala cerita kepahlawanan ataupun keculasan akan berujung. Sebuah perjalanan singkat saja, dari ujung gelap keujung gelap lainya yang harus melewati terang benderang bernama; adat dunia!

Gempol, 060131

Monday, January 30, 2006

Langkah kaki

Dikehampaan udara kaki berpijak, kepada kabut berwarna kelabu langkah terayun dimana mata angin adalah garis horizon yang melingkar mengurung. Inilah kegamangan yang harus berjalan dan dianggap sebagai kehiduapan peradaban. Mimpi, kenangan dan harapan lebur dalam debu yang memusingkan asa.

Malaikat datang dari gelap, yang memang hanya ada gelap bermil mil luasnya. Disamudera yang bisu sebisu cangkir berisi coklat panas diri bergumul berkelahi dengan badai, badai bisu tanpa suara yang menenggelamkan jiwa dalam sesak, kalbu kehilangan oksigenya sementara energi harus terus diperas untuk melawan, melawan dan melawan. Terus melawan. Melawan ego sendiri yang terkoyak dan tergulung ombak.

Pertempuran ini begitu sunyi sampai lukapun tak lagi terasa, kecuali kesadaran yang timbul tenggelam antara mati dan entah hidup, antara mimpi dan entah sekedar sisa harapan yang tak lagi punya tempat teduhan.

Aku tahu,
Dikehidupan terang benderang dimana matahari datang dan pergi sesuai jadwal, kematianku telah begitu dipersiapkan dengan upacara dan bumbu kesedihan. Kehilangan menjadi judul dari seremoni, dimana puing dan patahan patahan jiwa, sisa perkelahian akan dikumpulkan dan jadi kenangan abadi, sekedar dramatisasi kehidupan yang pernah singgah dengan warnanya yang mencolok penuh kesan. Ya, dia akan mencatat sebuah kematian ketika separuh hati hanyut, lenyap bersama badai yang menenggelamkanya suatu ketika…


Duren Tiga, 060129 – 2128hrs

Friday, January 27, 2006

Tunggu aku dipantai pengharapan

(Kepada seseorang yang mulai kehilangan)
Tangan mungilmu menggapai gapai, jeritmu terdengar memilukan menyaksikan diri tercabik oleh ribuan iblis dalam badai gelombang yang menenggelamkan. Aku sibuk meladeni, perkelahian sejuta musuh dalam ingatan, hingga engkau kehilangan lengan dan dadaku yang biasa menghangatkan. Diantara gemuruh perangku, kulihat tubuh mungilmu menggigil ditepi pantai, berteriak berharap seseorang akan datang mengulurkan tali untukku lepas dari kepungan taufan.

Aku akan terus berkelahi, aku akan terus meninju dan menendang musuhku yang datang berombongan tak bosan bosan. Di perairan ini pula dulu kau temukan aku, terengah kelelahan sesudah perkelahian pertama yang panjang, lalu kau balut semua luka lukaku, kau obati permukaan kulit hatiku yang membusuk, merawatku bak sebutir telur yang rapuh. Lalu aku jadi kuat, mampu berdiri dan melihat setelah keyakinanku koyak, bahwa aku hanya akan berhadapan dengan kematian, kegilaan ataupun terali penjara. Kau menjadi pupuk bagi sebatang hidupku yang teracuni penghianatan.

“ Will you be back?”
Tanyamu berdesir bersama miliaran pasir yang berkelip kelip disekitar pipimu yang basah oleh air mata. Tatapan mata beningmu memanduku, untuk tetap optimis bahwa iblis akan terkalahkan dan badai akan berlalu pergi dari kehidupan, dimana permukaan akan kembali tenang. Berharaplah dan terus berharap, aku akan muncul dari puing puing peperanganku suatu hari nanti, mungkin dengan kaki pincang atau dengan dada penuh lobang, yang pasti kubawakan padamu cerita seribu malam dalam pertempuranku.

Tunggu aku dipantai pengharapan, wahai malaikat bayanganku, sampai badai mereda dan suara tak lagi menggemuruh meremukkan gendang telinga. Sampai riak ombak mendamparkan jasadku, bahkan jika aku tak pernah lagi kembali mencium bumi, tenggelam dalam samudera berbadai yang abadi….

Tunggu aku, sebab hanya itu semangatku…


Burned cubicle 060127

Thursday, January 26, 2006

Psikotis

Apakah orang yang telah mengalami peristiwa mengerikan akan dengan mudah pulih, apakah bara dalam sekam itu sungguh-sungguh padam? Apakah individu tersebut sudah siap untuk berinteraksi seperti dahulu lagi, bebas dari kebencian, sakit hati dan rasa takut berlebihan.

Gerakan rekonsiliasi telah menyatukan kembali berbagai masyarakat di kancah peradaban dunia. Namun, apakah telah menyatukan keperibadian sesorang yang telah tergores bahkan terpecah oleh luka yang mendalam? Peristiwa traumatis jika tidak disembuhkan akan memberikan dampak yang mendalam, yang akan menjadi bayang yang selalu mengikuti orang yang mengalaminya. Bayang yang mengikuti tersebut akan merusak hubungan sosialnya, relasi dengan keluarga, rekan kerja bahkan dengan dirinya sendiri

Rekonsiliasi pihak yang berkonflik perlu disertai rekonsiliasi batin. Rekonsiliasi yang bersifat sangat personal, yang terjadi dalam batin individu. Rekonsiliasi batin ini dibutuhkan agar individu yang telah melalui perjalanan pahit, menjadi pribadi yang utuh dan sehat serta siap kembali ke keluarga dan masyarakatnya.

Otherwise, dia akan menjalani sisa hidupnya dalam kepincangan psikis, cacat mental secara permanen dan menjadi ganjil dilingkungan sosialnya, bahkan menjadi psikotis, orang gila yang tak diurus pemerintah mengembara dijalan jalan dengan dunia yang hilang dibalik kepalanya.

Kenapa orang bisa menjadi gila, kehilangan akal dan ingatanya? Symptom kegilaan pasti ada gejalanya seperti scizofrenia, insomnia maupun hysteria. Tetapi pada tahap ‘gejala’ itupun sebenarnya jiwa sudah terganggu, masuk pada stadium awal gangguan kejiwaan yang lebih umum disebut gila atau lebih lazim dibilang ‘stress’, sinting padahal dia hanya kehilangan fikiran rasionalitasnya, kehilangan logika.

Orang yang gila memiliki dunianya sendiri, dengan halusinasinya sendiri, tidak peduli dengan keadaan sekitar dan kehilangan respon sosial. Awal dari kegilaan semacam ini adalah tekanan bathin yang luar biasa untuk ditanggungkan, perasaan perasaan negatif yang datang menghimpit di kehidupan nyata, kehidupan peradaban dunia.

Orang orang yang berjiwa lemah, yang merasa haus akan perlindungan dan maupun akar kepribadian sangat rentan terhadap tekanan sejenis ini. Bisa juga karena tekanan yang datang tiba tiba, seperti tak tertanggungkan. Lepas dari kacamata patologi, idealnya kehidupan jiwa, kehidupan bathin memiliki fondasi ‘iman’ atau keyakinan terhadap kekuasaan Tuhan, bahwa semua yang terjadi dimuka bumi, adalah kehendaknya semata.

Tekanan bathin hanya datang ketika ketidak adilan, ketidak berdayaan mencari penggugatan pada diri sendiri, tidak bisa berhadapan dengan kenyataan karena akal yang terlalu jeli melihat ketidak mungkinan yang ternyata menjadi kenyataan; menjadi mungkin. Pelepasan diri dari tekanan yang mematikan logika itu bisa menjadi perkelahian diam diam yang sangat menyakitkan.

Psikotis, merekalah orang orang malang yang tak sanggup lagi menolong dirinya sendiri, dan tak ada satupun tangan yang peduli untuk sekedar meringankan himpitan bathinya. Barangkali dia terbebas dari siksaan beban bathin, dan yang pasti tidak menyadari, banyak mata sehat justru tak melihatnya sebagai manusia, sebagai sesama.

Semoga rahmat Tuhan tercurah kepada orang orang yang menderita itu.

Warung Nabiel, ketika pintu dunia kegilaan mulai terlihat terbuka, 060126

Ketika tak lagi sanggup berdiri

Ketika kaki tak kuat lagi menopang untuk berdiri, maka waktunya membiarkan lutut mencium tanah bumi. Membiarkan hati rebah ketanah, tinggal berharap dan hanya berharap. Diam, biarkan sepi mengelilingi sehingga hanya isak tangis paling bisu yang terjadi. Rubuhkan kesombongan diri, tunduk takluk pada keagungan sang pemilik semesta kehidupan; Gustialah (baca: Gusti Allah).

Membiarkan sunyi mengurung bathin, justru mendatangkan jutaan iblis yang berpesta pora mentertawakan dan menyiksa. Ataukah hanya diri yang terlalu menganggap kesempurnaan menjadi hak milik hingga beban menjadi begitu berat terasa?

Jalan kedepan yang gelap dan tak tertebak tetap jadi tempuhan, kaki yang kelelahan harus segera dibiasakan untuk menerima rute perjalanan, meskipun harus melewati lumpur dan bebatuan, bahkan kadang tenggelam dikedalaman kubangan air, mendaki dan menuruni lembah sendirian. Itulah kehidupan, kata teman yang hanya tahu penderitaan dari judulnya, bukan dari penghayatan.

Ketika kaki tak sanggup lagi berdiri, kalbu mengadu meminta dikasihani. Air mata tak mungkin kering karena dia ada sebagai lambang kelukaan yang tak terlihat mata, bukan sekedar cairan pencuci pipi. “Menerima, menerima, menerima. Ikhlas, ikhlas..ikhlas…” nurani terus memompakan sloganya. Mengharap hati sudi mendengarkanya. Sedangkan logika mencak mencak merasa dipecundangi oleh orang yang justru dilindungi.

Dan ketika lutut tak lagi sanggup menyangga beban, biarkan diri duduk bersimpuh, menikmati keberagaman keperihan yang datang bertubi tubi dalam sanubari. Kiranya diri tak sekuat yang disangka, kiranya hati tak seperkasa yang diduga.

Lalu biarkan semua peristiwa tertayang, semua catatan perjalanan terkuakkan, bahwa ini hanya perjalanan biasa menuju kematian, bahwa Tuhan yang memberikan semuanya kepada diri termasuk kebahagiaan yang pernah ada juga ketika kebahagiaan direnggutkan. Bahwa kehilangan inipun miliknya jua. Sungguh diri tak berarti apa apa.

Duh Gustialah,
Ampunkanlah hamba, atas kesombongan diri dan ego yang menjadi pisau tajam penyiksa diri. Juga ampunkanlah dia laki laki yang menyepelekanku, menganggapku hanya debu semata. Ampunilah ketidak mengertianya, dan berikanlah rahmat dan karuniamu bagi kemuliaan hidupnya. Dan kepada perempuan yang mendustai, juga menganggapku hanya kertas pembersih lubang anusnya, ampunilah ketidak mengertianya tentang tenggang rasa, berkatilah dia dengan rasa kemanusiaan yang wajar dan muliakanlah kehidupanya. Jauhkanlah mereka berdua dari kesengsaraan dan penderitaan bathin dunia, ya Gustialah…

Ya Gustialah,
Ampunkanlah kami, para pendosa yang kotor dengan segala kepentingan diri, menganggap Engkau ada hanya untuk mengawasi….
Ceger on an empty morning, 060126.

Tuesday, January 24, 2006

Kupu Kupu

Kupu kupu yang tampak rapuh dan lemah, bisu tanpa suara terbang mengembara menentang ultra violet sang matahari yang membutakan. Warna kupu kupu yang kaya dengan warna dunia menyimpan kesejatian jika dilihat dengan infra merah, lebih indah dan kaya dari apapun dimuka bumi.

Otot yang menggerakkan sayapnya dengan dinamis itu, adalah otot terkuat didunia bagi kelompok serangga. Kupu kupu mengembara dari sunyi ke sunyi, berenang menikmati hangat matahari. Sekedar hidup, sekali berarti lalu mati.

Kupu kupu adalah guru bagi kesahajaan sikap. Guru bagi tauladan keindahan serta anti kesertamertaan. Dia melewati proses panjang metamorfosa, melewati banyak keprihatinan sebelum dipunggungnya tumbuh sayap dan sanggup mengepak menari, melaju, mundur ataupun bermanuver. Terkadang hidup memperlakukanya dengan bengis, karena dia rapuh dibalik indahnya. Kebengisan hidup dilukiskanya pada sayapnya yang merobek, compang camping mengaburkan bentuk. Tapi dia tetap terbang diantar ranting dan batang batang rumput yang menganiayanya.

Dan jika saatnya tiba, sang kupu kupu sampai diujung pengembaraanya, mati terkapar diantara tanah berdebu ataupun diantara tumpukan daun daun yang usai bertugas bagi pohon kehidupan, warnanya tak pudar, indahnya tak luntur. Dia hanya tidur yang abadi, sambil tersenyum kepada siapapun yang melintasi.

Mute cubicle, 060124

Monday, January 23, 2006

Simalakama


Tak tahu kepada siapa lagi diri harus mengadu, setelah tanpa jemu memohon kepada Tuhan untuk membantu, menguatkan hati dan mambangun logika kembali setelah porak poranda berkali kali. Kali ini juga, kehancuran begitu terasa pedihnya. Diri telah kehilangan segala yang patut untuk dipertahankan menjadi lumpur yang mengabur diterjang kazaliman sesama umat manusia. Luluh lantak bagaikan cuma cerita duka.

Diri tengah dihancurkan tanpa penyesalan, diri yang terlanjur mengenakan jubah malaikat yang compang comping oleh penghianatan. Telah dipenuhi segala (?) yang semesetinya dipenuhi dan telah dilewati segala yang tidak selayaknya dilewati sebagai lelaki, atau bahkan sebagai manusia. Apakah diri terlalu sempurnanya? Tentu tidak, kecuali menempatkan diri sebagai manusia lengakap dengan perhitungan nurani dan kecacatan kepribadianya.

Inipun hanya satu dari sekian banyak persembahan dari setan, bayi bayi unggulan iblis yang dititipkan dikepala dan dibiakkan ketika ego menjadi puing, debu tanah merah belaka. Pernah juga singgah ikhlas dan menyerah ketika diri letih mengharap ampun, ketika hati hancur diterjang ego yang menjulang menutup aib. Semua bergedebaman semaunya berulang ulang, menimbulkan asap barnama sesal, pekat menyesakkan isi rongga kepala, panas membakar dada dan perih menikam punggung. Ternyata hidup tak sesederhana fikiran, ternyata fikiran tak serumit kejadian. Dan harus rela menerima bahwa bumi berubah jadi neraka penyiksaan oleh jutaan beban yang hanya tertampung dalam wadah tipis bernama kulit ari.

Ketika ketidak berdayaan menjadi raja, maka fisik tak lagi bermnakna. Kehidupan riuh hanya dalam angan angan, dalam fikiran berkecamuk mengamuk dan meraung raung. Sampai letih, sampai suara habis dan sampai energi tak tersisa setetespun juga di jiwa. Lalu berkaca melihat diri adalah manusia biasa, bukanlah Nabi apalagi Malaikat. Diri hanya menusia yang menjalani kehidupan dengna ketidak sempurnaan dan terus memaksakan diri untuk menjadi sempurna.

Dengan mata kabur dan tubuh gemetaran, nurani meriut oleh kehendak, menjadi manusia sesejatinya atau menjadi manusia egois. Manusia sejati akan mengumpankan diri untuk kebaikan kehidupan, mengesampingakan diri sendiri tanpa bentuk rasa. Membela rasa yang dikehendaki berarti merelakan satu penggal kehidupan hancur tanpa bentuk dengan miliaran pertanyaan tentang apa yang akan terjadi dimasa depan.

Dan masa depan tetap jadi misteri, apakah diri tetap jadi tumbal atau menjadi pahlawan bagi kehidupan, paling tidak dalam ukuran nurani. Pesimisme menjawab sinis atas setiap tawaran entah dari hati maupun logika, mengumbang ambingkan nurani dalam siksa simalakama...

Entahlah…

Empty cubicle, January 23, 2006 – 1157hrs

Thursday, January 19, 2006

Air mata

Air mata, adalah getah dari ranting jiwa yang patah oleh pristiwa, sempal karena dicabik paksa, terluka. Banjir bandang, tertahan oleh selaput tipis yang melingkupi kornea dan juga aturan kepatutan menempatkan diri. Air mata terus mendesak menuntut pembebasanya, sedangkan telinga hati hanya punya suara arus nafas dan raungan panjang kesakitan didalam kebisuan. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali mengutuk kenyataan, menyaksikan dendam berpesta pora mengobral birahinya, untuk berkembang biak dan beranak pinak, menjadi mutan dijiwa.

Tangis kepedihan adalah manivestasi dari pengebirian rasa ikhlas dari bathin yang dalam. Dia menterjemahkan ribuan pisau silet yang berterbangan mengamuk dan menyambar dinding dinding ego, ketika badai bersimaharaja lela dalam hati. Sangat sunyi terasa dalam kehidupan bathin, sendirian gemetaran menentang segala yang datang menyerang. Menangis adalah perlawanan yang maha diam, maha damai karena tidak menimbulkan dampak sakit kepada individu lain, kecuali simpati barangkali. A shoulder to cry on – barangkali secara impulsif dianggap yang paling tepat sebagai pendampingan, penguatan langkah kaki yang goyah bahkan berhenti linglung. Dan, a shoulder to cry on tetaplah a shoulder, sebuah organ yang berdiri sendiri tanpa berafiliasi dengan dunia jiwa.

Air mata melukiskan kepedihan yang maha dalam, penderitaan bathin yang maha hebat, berputar berpendaran tanpa format interval yang baku, semau gue! Dia bisa datang ketika kita sedang berjalan, ketika kita sedang berbicara bahkan ketika raga sedang tertidur. Inilah penjajahan yang sempurna oleh iblis, yang menyebabkan penderitaan bagi hati. Penderitaan, ya zat mengerikan yang hanya ada dalam alam fikiran dan menggerogoti hampir semua aspek penyubur berlangsungnya kehidupan duniawi. Terjajah oleh pengalaman tentang kezaliman orang lain, dan kerasnya pemberontakan yang dilakukan logika melahirkan penderitaan yang tak terlihat oleh siapapun, dan tak terbagi dengan siapapun, menjadi hak kepemilikan pribadi yang mutlak.

Menangis, menjabarkan ekspresi mengasihani diri yang merasa tidak layak untuk menerima penderitaan, ketika semua upaya banding dan pembelaan telah patah oleh kenyataan yang harus ditelan mentah. Inilah konskwensi dari pilihan diri untuk menjadi manusia yang berusaha menempatkan diri sebagai manusia sebagai kewajiban, seperti telah disepakati dulu ketika kita lahir telanjang dari rahim bunda. Penistaan bathiniahlah yang menjadi pangkal dari segala bentuk penderitaan yang terjadi. Nurani memprotes tanpa perlawanan, menjalaninya seolah akhir dari kehidupan.

Teman hati yang datang dari intisari simpati, mengulurkan bahu dan tangan tanda peduli, menyaksikan diri berkelahi dan menghitung setiap gores luka yang ditimbulkan, dan tetap menyemangati untuk sekedar bertahan, dan berharap badai kan reda, segera. Menjadi suara pemandu, ketika langkah tersuruk dikegelapan mata hati….


Blankspot cubicle, January 18, 2006


Monday, January 16, 2006

@#$$#$%^&^%

Menabur benih masa depan diantara hamparan puing kebanggaan, meyakini keyakinan bahwa manusia memiliki perasaan dan hati untuk bertenggang rasa, memiliki nurani untuk sekedar menempatkan diri menjadi manusia. Maka perjalanan menjemput jubah malaikat yang lama tertanggalkan menumpang harapan dan keikhlasan sebagai kendaraan.

Didasar lumpur aib tanganmu menggapai meminta simpati, memohon agar kesempatan datang lagi. Bahwa tragedy bermakna sebagai pembelajaran atas sikap salah maupun kekhilafan. Dari jauh telah kukemas satu paket rekonsiliasi dengan penyadaran bahwa diri memang layak menerima apa yang telah sepuluh bulang menghacurkan kepribadian dan memincangkan langkah bathin. Luka yang meradang perlahan kukesampingkan dan berharap kesadaranmu datang sebagai perban.

Lalu, dengan tali hati kugendong kaki lumpuhmu, membawamu keluar dari kubangan lumnpur penuh lintah mengerikan. Dan dengan tawa kau tikamkan belati karatan dipunggungku, tepat pada bekas luka yang kau hadiahkan sepuluh bulan lalu. Aku limbung, mataku buta dan jubah malaikatku compang camping oleh tanganmu yang berlumuran nista.

Aku pikir hati telah kebal sakit setelah kau hancurkan, aku pikir bathin telah imun dari luka setelah kau koyakkan, aku pikir nurani akan tetap berdiri tegak sewaktu kepercayaan kau khianati, ternyata aku keliru.

Kamu lebih keji dari iblis, lebih jahat dari segala bentuk setan. Hatimu buta, perasaanmu mati dan kau hanya tahu memaki. Aku tak kenal dirimu lagi, yang telah kujaga dan kucintai serasa hampir seluruh hidupku, yang kupertaruhkan keperihan dendam hati yang panjang berharap aku dapat imbalan akan penghargaan dan kasihanmu.

Ribuan kesalahan kau lakukan dengan sengaja, berharap aku akan hancur dan binasa. Tapi kamu akan kecewa, sebab aku akan tetap berdiri dan berharap suatu saat kau kembali menjadi manusia…


Ceger, 16 Januari 2005 - ketika diri sekarat dipecundangi iblis.


Wednesday, January 11, 2006

81.3 Satpam Indonesia!

(Tulisan ini dibuat sebagai renungan HUT Satpam ke XXV tanggal 30 Desember 2005)

Dunia persatpaman Indonesia maju sedemikian pesatnya, berkembang ibarat jamur dimusim hujan. Orgnaisasi organisasi bisnis perpanjangan tangan POLRI itu kini tanpa kita sadari menjadi komponen professional yang bukan main main. BUJPP (Bada Usaha Jasa Penyelamatan dan Pengamanan) barupun bermunculan disana sini, membawa genre sendiri sendiri dengan core bisnis sama: Satuan Pengaman!

Pandangan bahwa profesi satpam adalah pekerjaan kelas kedua, kelompok kelas kedua dalam sebuah komunitas pekerjaan berkelompok baik yang datang dari luar maupun individu pak satpam sendri sering kali membuahkan sikap skeptis. Pandangan seperti itu samasekali keliru, profesi satpam adalah mulia dan professional. Memutuskan diri menjadi satpam (meskipun banyak juga karena tuntutan keadaan), adalah memutuskan diri untuk bersedia menyediakan diri sebagai tameng hidup bagi orang lain. Keputusan itu dilandasi dengan sikap mengabdi untuk keluarga, untuk Tuhan. Kemuliaanya bahkan jauh dari apa yang bisa terdeskripsikan dalam tulisan ini.

Tugas pokok satpam, TURJAWALI (Atur, Jaga, Kawal dan Patroli), telah beranak pinak dan berkembang meninggalkan paradigma satpam yang berseragam lusuh, penampilan kusut, wajah sangar, kuat begadang dan doyan ngopi. Pengelolaan satpam bahkan telah menyentuh bidang bidang yang lebih serius, dari penanganan white collar crime, close protection, business intelligence, investigation, risk management, due diligence research, security measurement assessment, security audit, security management, crisis management plan, information management dan sedabrek lagi kegiatan pengamanan tertutup dan terbuka yang intinya sama; cegah dan lawan kejahatan, kenali dan antisipasi ancaman!

Kemajuan persatpaman juga diimbangi dengan persaingan kualitas pelayanan jasa dari BUJPP. Angin baik bagi profesi satpam karena persaingan kualitas itu membawa dampak kepada fasilitas pengembangan diri, pengembangan karir dibidang pengamanan, yang at the end of the day, menciptakan organisasi professional perusahaan penyedia jasa pengamanan yang matang karena pengalaman, bukan karbitan.

Tugas sebagai seorang satpam bukanlah tugas main mainan, bukan pekerjaan kelas dua, pekerjaan yang dijalani karena keadaan. Tugas sebagai satpam adalah profesi yang membanggakan dari sisi kemanusiaan, yang mengandung resiko fifty fifty (fifty selamat fifty celaka), dan itu bentuk pengabdian terhadap hidup yang bukan sembarangan. Sunggguh sebuah pilihan profesi yang mengandung tanggung jawab besar dan mulia, menyediakan diri menjadi pelindung dan penjaga dari segala niat dan perbuatan jahat.

Dirgahayu Satpam Indonesia, junjung tinggi jiwa korsa dan disiplin!
Selamat bertugas satpam Indonesia; detect, deter, delay and response!!


Note:
(Tulisan ini juga sebagai persembahan, kepada Alm. Bpk. Bayudi satpam Bank Mandiri Tebet yang tewas tertembak perampok pada 22 Desember 2005, mendiang sahabatku Marcus Yohannes yang tewas pada penyerbuan pos di tepi sungai Kampar Riau pada Oktober 2002, Gam Gurung, dan ribuan lagi yang cidera atau meninggal dalam tugas. Semoga dimuliakanlah kehidupannya seperti telah dimuliakanNya cara kematian mereka. Amin)

Simatupang, 060111 – 0103hrs

Saudara Kandung

“Hey…sopo sing dadi korban kono?”
(terjemahan: Selamat Hari Raya Idhul Adha, saudara kembarku)

Saat ini aku rindukan kamu, tertawa dan bercerita seperti dulu tentang lucu kehidupan, dan indahnya kegetiran panjang kita. Sekarang kita mendiami dunia kita masing masing, mendiami pulau maya kita masing masing terpisah oleh samudra tuntutan dan kewajiban.

Piye kabare, Son?
Piye critane uripmu?

Siapa lagi yang sudah meninggal dikampung kita?

Seorang teman yang kujumpa dalam pengembaraanku pernah bilang, katanya kembar adalah satu jiwa yang terbelah dua. Dua perbedaan fisik yang serupa dengan satu kemiripan tabiat dan kelakuan mungkin juga fikiran (?). Aku dulu percaya itu, merasakan itu, entah sekarang. Aku tak tahu cara merasakanya. Aku hanya tahu aku rindu kamu saat ini, merindukan cerita cerita perjalanan kita masing masing, menelanjangi kenaifan menjadi kelucuan yang hanya kita berdua bisa memahaminya.

Kebersamaan dan kesamaan kita semasa kecillah yang terindah untuk kukenangkan saat ini. Ketika kita sama sama hanya bisa menerima menjadi saksi, dan berimprovisasi dengan cuaca musim paceklik panjang, paceklik lahir bathin. Betapa rapuhnya kita, terbanting dan terhempas kapan saja. Juga betapa perkasanya kita yang sekecil kecil itu berkat bunda mampu melewatinya. Dan kita tetap menjadi saksi atas segala kejadian yang kerap mengusik rasa keadilan yang kita anut.

Betapapun jauh perjalanan masing masing kita tempuh, lalu kita simpan sendiri di almari pengalaman bathin masing masing, kenangan masa kecil kita tetap menjadi akar yang mengilhami kehidupan. Aku pernah beruntung ketika kamu gagal dan aku pernah gagal ketika kamu beruntung. Semua berpilin pilin, membentuk warna yang berbeda beda hingga kita menjadi dua individu. Menghilangkan keraguanku atas teori suratan nasib.

Kita memang sedang menghancur, kita hanya kebal saja terhadap kehancuran. Sebab kita pernah berjaya, menjadi yang terbaik dalam ukuran kita. Tetaplah hidup, saudaraku…menjadi saksi atas berputarnya roda dunia, bekal cerita untuk anak cucu dan keturunan kita…

Titip tinjuku untuk jagoanmu; Landung.


Kamar kost, 060110 – 2255hrs






Cinta dari bawah rindang pohon ceri


Jam setengah sebelas, matahari serius memanggang bumi. Lalulintas bergemuruh dari jarak sekitar 8 meteran tempat duduk, dibawah rindang pohon ceri ditepi jalan TB Simatupang. Kendaraan bagaikan peluru baja dengan malaikat kematian berseliweran dijalanan, melesat cepat diatas jalanan beton seperti hendak ketinggalan sesuatu, atau sekedar bergembira mengendalikan gerak mekanis peluncur badan. Dan teduh pohon ceri jadi oase pilihan.

Diluar lingkupan rindang daun dan ranting ceri, kehidupan terlihat gersang dan ngangas angas. Kehidupan berjalan diam diam dalam alam bathin, mengumpulkan semua memori menggapai gapai kemungkinan masa depan. Kursi plastik, sebotol teh botol dingin menemani, menyempurnakan indahnya kesederhanaan membungkam gemuruh lalu lintas dibelakang punggung.

Didalam sana, ada sunyi yang melapisi gemuruh yang tak teraba. Tak ada suara apa apa, sebab gemuruh itu dikejauhan, terbungkus oleh deburan diluar kebekuan lautan masadepan. Atau hanya diri yang terlalu egois untuk menerima dan mengakui kemenangan sang nasib? Ah, seharusnya diri berhenti mempertanyakan, bukankah keindahan menjadi ada karena ada ketidak indahan?

Dibawah rindang pohon ceri dengan sesekali udara yang dilemparkan setiap kendaraan yang melintas menampar lirih, menunggu satu proses kejadian selesai, membuat nurani haus akan makna. Lalu datang serang bapak, berkaos oblong dan bercelana pendek menggendong seorang anak laki laki berkulit coklat, berumur sekitar tiga tahunan, berbaju ngejreng merah dengan motif kartun warna kuning dan putih sana sini. Dalam pangkuan ayahnya, sikecil mengantuk, matanya kliyep kliyep, merem melek, sesekali memandang kosong tanpa beban, berusaha melawan kantuk yang menyerang, terkantuk dan tergagap lagi karena sesuatu. Sang ayah dengan lembut memeluk tubuhnya yang mungil, meniupi kepalanya agar lekas lelap tidur sang bocah. Dan anak kecil coklat lucu berbaju merah itupun akhirnya samasekali mengatupkan mata, terlelap dalam nyaman dan aman lindungan dada sang ayah.
Terlihat cinta yang begitu kental mengikat bathin keduanya, kedamaian dibalik bathin sikecil yang tak berdaya didada ayahnya. Bayi itu begitu fragile, so weak and protection needed. Kesejukan luar biasa terimbas cinta yang begitu sempurna di keduanya.

Cinta dari bawah pohon ceri akhirnya mendatangkan kesejukan dalam hati sepanjang hari Selasa yang panas ngangas angas…

Simatupang, 060110 - 1023hrs

Tuesday, January 10, 2006

Dari tidak ada menjadi ada dan dari ada menjadi tidak ada


Hari raya Qurban, kumaknai peringatan atas telaah makna keikhlasan. Keikhlasan bathin yang mendasari satu perilaku menerima tanpa pertanyaan, melakukanya dengan kesungguhan dan tanpa pamrih.

Ikhlas menerima kehilangan, mengembalikan diri ke titik dibawah nol ketika kita baru dilahirkan, tanpa selembar benangpun kecuali organ tubuh karunia gratis dari Tuhan. Lalu menjadi manusia, penghuni dunia dan menciptakan budaya dan adat kaum manusia; matrialistik. Dari tidak ada menjadi ada menciptakan rasa memiliki yang mengikat tanpa terlihat. Dari ada menjadi tidak ada menciptakan rasa penyesalan atas kehilangan sesuatu yang pernah dianggap menjadi hak milik pribadi.

Menjadi ikhlas adalah menerima hidayah dari Tuhan, karunia kekuatan hati yang luar biasa. Ikhlas dan bersyukur menerima segala pemberianNya, dan ikhlas menerima imbas sosial dalam kehidupan dunia. Keikhlasan membasmi benih benih protes yang mungkin berujung pemberontakan pada nurani. Mematahkan segala bentuk pledoi atas sebuah ketidak adilan (baca: kehilangan).

Keikhlasan dalam pandanganku sekiranya, adalah keadaan hati yang sejuk damai menjalani kehidupan, tanpa keluhan dan protes macam macam. Kebahagiaan yang lahir dari perilaku ikhlas sungguh luar biasa, membuat diri merasa sangat rendah dan tak berdaya sebagai manusia, merasa sangat dicintai Tuhan dan selalu diperhatikanNya. Hanya ketika kita nakal saja Dia memberi kita pelajaran supaya kita berperilaku baik, pelajaran yang akan kita ingat seumur hidup. Ah, alangkah idealnya hidup dengan pondasi pemikiran seperti itu.

Tunggu…
Bagaimana dengan….ikhlas menerima perilaku durjana orang lain terhadap kita?! Ikhlas menjalani konskwensi negative dari perbuatan orang lain yang memperlakukan kita seperti badut memanfaatkan tenaga kita seperti kuda, dan kadang mempermainkan kita seperti kelinci yang buta. Ikhlas menjalani penyiksaan bathin yang terluka berkepanjangan, ikhlas menerima kecacatan mental sebagai akbat benturanya. Kemudian dengan ikhlas pula mengalami kehancuran diam diam, lalu ikhlas mengambil tanggung jawab dari keseluruhan tragedy, menggantikan posisi si pencipta cerita tragis, menyediakan diri dan hidup untuk menjaga dan membahagiakanya dengan ikhlas hati. Kekuatan energi apa yang akan bisa kita pakai untuk memelihara dan memupuk keikhlasan seperti itu jika ada?

Kata “terpaksa” adalah barangkali benteng terakhir dari menyerahnya ego terhadap kekuatan luar ego. Terpakasa ikhlas, aduh…betapa rendahnya, sebab ikhlas tidak mengenal kata ‘terpaksa’. Keikhlasan itu seperti hamparan warna, polos tanpa cacat dan perbedaan, tanpa alasan masasilam dan tanpa tendensi untuk masa depan.

Doa untuk jutaan nyawa hewan yang disembelih untuk qurban kali ini (yang kemudian dagingnya dibuat pesta pesta, senang senang, sebagian dikorupsi orang), yang memberi pelajaran tentang keihlasan si yang berkorban mengorbankan hak miliknya yang nisbiah, keikhlasan sang hewan untuk menjadi korban. Pelajaran bathin tentang keikhalasan untuk berkehilangan. Sebuah pelajaran perilaku bahwa kita tidak berhak mengklaim memiliki sesuatu, merasa terikat dengan sesuatu yang kita anggap milik kita. Itu semua milikNya, juga termasuk cerita dikehidupan bathin setiap manusia, tak ada lain milikNya. Tuhan, sebagai sang Maha Kuasa, pemilik mutlak jagat raya. Kita hanya dipinjamiNya, apapun yang kita (anggap) miliki.

Selamat Hari Raya Idhul Qurban…semoga kita dikaruniai hidayah keikhlasan…


Kost Simatupang – 060109 – 2357hrs



Saturday, January 07, 2006

Surat Sahabat

Kepada siapapun yang berkenan membaca tulisan ini, aku menulis sebagai sahabat…

Sahabatku,
Seminggu belakangan ini, kepiluan menggilas hatiku setiap kali di tv tertayang berita tentang ledakan kesedihan, tangis pilu ketika jasad jasad diangkat dari timbunan lumpur sisa banjir di Jember dan tanah longsor di Banjarnegara.

Orang orang sederhana itu meronta ronta hatinya disiksa kepedihan yang teramat dalam ketika kebahagiaan direnggut dengan acak oleh alam. Orang orang yang dicintainya dirampas begitu saja tanpa peringatan. Hingga yang terisa hanya kepasrahan dan isak tangis kesedihan. Sungguh penderitaan bathin yang tak terkirakan, dan aku tak bisa menggantikan kedudukanya, bahkan tak sanggup sedikit saja mengurangi beban sedihnya.

Menyalahkan alam barangkali sama dengan mempertontonkan kebodohan kita sendiri. Bukankah sebenarnya kita sendiri yang semakin menjauhkan alam dari kehidupan kita sehari hari? Mungkin saja kita lupa menyadari bahwa alam berada jauh sebelum manusia, pasti lebih bijaksana dari manusia itu sendiri. Lalu manusia berkoloni dan menggerogoti alam dengan keji, hanya demi nasi, dasi, mercy, sebagian demi sapi atau kursi.

Ini mengingatkan orgasme bathin ketika berada diketinggian lereng Lawu beberapa tahun silam. Betapa kemegahan alam mengkerdilkan kesombongan diri, mematahkan segala tanda tanya tentang keagungan Tuhan, menyadarkan bahwa diri tak berdaya samasekali ketika hanya Tuhan sebagai jawaban. Tunduk, takluk tak berdaya! Barangkali saja peristiwa peristiwa bencana itu pesan singkat dariNya juga untuk kita, yang berisi teguran atas tingkah manusia yang pongah dengan kehidupan dunia, merasa menjadi sesuatu padahal kita hanyalah sekuku hitamnya gurem* bagi alam milikNya. Jadi bencana itu atas kersane sing kuoso, kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah Subhannallahita’ala.

Sahabat,
Kepadamu yang sudi membaca tulisan ini, aku menghasutmu untuk sejenak merenungkan tentang interaksi antara kita dan alam. Betapa kita telah menumpuk hutang budi kita kepada alam dengan tingkah tingkah laku atas nama peradaban. Sebagian diantara kita, umat manusia inilah yang sebenarnya mendzalimi alam, padahal kehidupan berhutang banyak kepadanya. Kitalah yang seharusnya malu, tidak tahu rasa berterimakasih kepada Sang Pemiliknya.

Akhirnya, aku mengajakmu sahabat, menunduk diam dalam khusyu’ doa yang menggema dalam palung bathin, memohonkan pengampunan dosa atas nama semua korban bencana yang ditemukan dan yang hilang, memohonkan ampun dosa diri dan seluruh umat manusia atas kesombongan yang tidak disadari jadi kebanggaan, memohon ampun atas nama semua manusia yang masih diberiNya kesempatan hidup…


Peace on earth!

Sahabatmu,
buderfly

*binatang sejenis kutubusuk yang berukuran sangat kecil dan suka menghisap darah manusia.

Kost Simatupang, 060106 – 0004hrs

Friday, January 06, 2006

Maaf (atas nama tulisan)

Atas nama tulisanku, aku minta maaf kepadamu yang tertusuk serpihan masalalu. Inspirasi penulisanya datang begitu saja bersama rombongan kecemasan dan tanda tanya tentang jawaban teka teki masa depan. Anyaman dari kejadian yang sedang teralami sekarang, sebuah matarantai panjang bernama biografi barangkali.

Atas nama kedangkalan syaraf kepekaanku aku minta maaf telah melafalkan mantra mantra penggugah prasangka, meskipun sebenarnya lonceng pengukur seberapa kental rasa memiliki terlukai. Dan itu kusadari belakangan setelah letupan reaksi menggelegar memberi peringatan. Lalu kau tersadar, aku telah berbuat kesalahan.

Kesalahan?
(Ya! Kesalahan, titik!)
No more questions.

Atas nama pengalaman (meminjam salah satu judul essainya PAT) aku meminta maaf kepadamu atas telah kualaminya kehidupan masalalu. Atas kehidupan alam fana yang berbentuk padat dan alam bathin berbentuk udara angkasa. Betapa pengalaman menjadi arsip sejarah yang tersimpan di directory antah berantah, tak terlihat oleh pencarian, kecuali ditemukan secara kebetulan.

Aku bersedia menghukum diri jika engkau mau, tebusan atas kesalahanku. Namun beling pengalamanku terlanjur melukaimu. Dan aku tak bisa memadamkan perihnya. Tak ada yang bisa memadamkanya. Tapi setidaknya aku telah meminta maaf atas salahku.

Kepada bunda, aku mohon ampun telah menjadi anaknya yang durhaka…


Kost Simatupang, 060105 – 2309hrs




Bagimu yang sedang menjelma sakit

Engkau bimbang diantara setengah keberanian dan setengah ketakutan; sama sama nisbi. Penyesalan hanyalah batu beban ditas punggung, dan kau memilih menjelempah mengharap malaikat datang bawa ambulans.

Lihat sekelilingmu, semak semak akan semakin mengurungmu jika kau hanya menunggu dibawah pohon, bahkan sang akar pohonpun lambat lambat akan melilit dan mencekikmu...sementara harapmu tak pernah terjawab, tak ada malaikat bawa ambulans...

Tangan yang dilurkan semestinya dijadikan tiang penyangga ketika kakimu lemah, kepedulian yang disodorkakan mestinya menjadi pelampung ketika engkau mulai tenggelam; bukan untuk dicampakkan. Nyatanya ribuan kata kata bijak lewat bagai angin disisi telinga, mustahil menembus kokoh dinding ego yang membentengi fikiran.

Ya, engkau mengharap cinta dari cinta yang telah kau hancurkan dan memandangnya sebagai bukan apa apa. Membangun kebohongan diatas kebohongan atas azas cinta, atau sekedar petualanganmu mencari pengakuan. Nurani tentu berontak dan menuntut pembebasan dari penindasan, sebab engkau hanya sang naga yang mempermainkan luka luka pada jiwa orang orang yang menjelajahimu. Tapi engkau tak merasa, sebab yang ada hanya lukamu, hanya keberadaamu semata. Jikapun engkau merasakan perihnya, itupun hanya engkau dengan mudah berpaling dan memutar globe duniamu yang kecil.

Teruslah bermimpi, hingga kau sadar bahwa engkau telah jauh tertinggal hanya untuk mencoba mencari dimana ketertinggalanmu. Sekarang engaku menjelma sebagai si sakit yang lemah, terus berharap cinta yang kau hancurkan akan datang memberi hiba. Bukankah engkau adalah naga yang memiliki kekuatan melebihi rata rata? Kebesaranmulah yang memberatkanmu, kekebalanmu pulalah yang menyakitimu.

Sungguh, hidup ini absurd, sangalang….apalagi ketika diri bermahkota ego. Ketika semut diseberang lautan terang benderang dalam pandangan. Sungguh kepintaran absolut yang jusru menghilangkan cermin atas diri. Bahkan mengaburkan pandangan tentang orang orang yang sebenarnya peduli, menjadi sosok sosok tak berarti. Kepintaran dan egomu memagari, menghalangi malaikat manapun untuk sekedar menepuk pundakmu, memelihara kekuatan agar dagu tetap terangkat dan tatapan lurus kedepan.Tapi engkau memilih menjadi budak atas ego hatimu yang tak pernah terkalahkan…memajang keterpurukan disepanjang perlintasan perasaan.

Dan sepotong kabut yang mestinya menyejukkan menjadi tak berarti dalam kehidupan megahmu…

Graha Simatupang, 060105 – 1620

Thursday, January 05, 2006

Untukmu yang pergi dari hidupku

:Tet
Sehelai rambutmu patah, lalu angin winter ditempatmu mengantarnya mengembara, sampai mengetuk dikaca kamarku, lalu luruh dibawah jendela. Senymmu melintas dan cahaya dimatamu selalu mengobarkan nyala setiap kali memandang.

Barangkali sudah sekian abad tak kujumpai lagi suaramu, juga keseluruhan penampilan duniawimu. Engkau menghilang, sengaja menenenggelamkan diri diperut bumi. Menduga kebersamaan akan memupus kesendirianmu. Hidup tidak sesederhana itulah, sahabat manisku, bahkan kadang kita keliru memahami satu makna yang kita yakini. Tapi tangismu redam, bisu. Aku tak tahu kabarmu, aku tak patut untuk tahu sekedar keadaanmu. Bukankah aku hanya selembar daun dalam kehidupanmu, yang kini harus tunduk luruh terpisah dari mekanisme kehidupan sang pohon?

Gerimis Januari datang bersama bayanganmu, sesaat dan menatapku dengan senyuman; dan mata yang gemerlapan penuh excitement. Ah gerimis, menghidupkan lagi mummi mummi kenangan yang rapi tersusun dalam rak pengalaman. Membangkitkan lagi seluruh kehidupan yang sengaja engkau bekukan dikedalaman angan. Sedangkan kemarau sedemikian panjang memaksa akar ilalang tetap tertancap dalam di timbunan tanah hitam.

Kehilangan lambaianmu ketika engkau berangkat menempuh jalan pilihan; menyempurnakan kesendirian. Tapi aku tahu engkau ada, entah dimana. Engkau melihatku, tanpa bicara. Setia menyambangi gunung rindu yang kau tinggalkan sejak lama…

Bersama udara lembab Jakarta, kutitipkan sesalku yang tak mampu melahirkan harapan yang kulela dalam kandungan…sepanjang perjalanan…


Kamar kost TB Simatupang, 060104 2259hrs

Wednesday, January 04, 2006

Ali Bujel


Sewaktu kecil dulu, seorang teman sepermainan, Ali namanya pada suatu pagi aga siang dikebun ketika kami sedang mencari kayu bakar, entah bagaimana jari telunjuknya terpotong putus oleh arit besar bekalnya menebang ranting ranting kering dikebun. Ujung sampai pangkal kuku jari telunjuk kirinya terputus, dan darah ada dimana mana. Diantara rimbunan pohon pepaya muda kami kebingungan menanggung akibatnya nanti kalau bapak si Ali murka karena kami tidak bisa menjaganya. Kami kebingungan bagaimana menghentikan lukanya. Yang terjdi adalah telaah kejadian yang diceritakan berulang ulang oleh Ali. Ali gelisah, ketakutan tampak sekali dimatanya, bukan kesakitan. Diantara ketakutannya, dia coba atasi dengan jalan pintas, bahwa dia ingin menunjukkan bahwa dia tidak apa apa. Jari yang putus itupun tak dirasakanya, digosok gosokkanya detanah sambil kami duduk terpekur mencoba mencari jalan keluar. Jari tangan yang beradarah itupun terus digosok gosokkanya ketanah merah kering berdebu dikebun itu, sampai darahnya berhenti dan membuatnya lega sedikit. Ketika pulang, disembunyikanya luka itu dari orang tuanya, dia hidup seperti layaknya hidup yang sebelumnya, menunggu waktu magrib, pergi mengaji ke masjid, lalu pulang sesudah isya’ lalu belajar pelajaran sekolah.

Si Ali merasa aman sejauh itu, menyembunyikan luka dijari tanganya yang putung, dan hidup terus berjalan normal, tidak ada sesuatu yang ditakutkan terjadi. Hingga esok harinya baru setelah ibu yang mencintainya menemukan jari tangan anaknya putus dan tidak ada tindakan apa apa. Cinta ibunyalah yang kemudian membawanya ke mantri untuk minta perawatan. Beruntung saja jari tangan si Ali tidak terkena infeksi dan berakhir lebih parah. Tanganya dibungkus perban dari mantri untuk beberapa hari, sampai lukanya mengering dan lalu hilang total. Tak sakit lagi, tapi tak juga pulih lagi seperti sedia kala.

Kisah si Ali adalah kisah klasik sifat kejawaan yang cenderung menerima dan merasa ikut wajib melestarikan status qou. Bahwa dipermukaan harus aman toto titi tentrem, tidak ada gejolak maupun gangguan apapun. Sebuah kehidupan harus berjalan dengan tenang tanpa ledakan, meskipun itu harus dengan kebohongan. Ali mewakili kecenderungan karakteristik jawa, yang membohongi orang tuanya karena tidak ingin mereka mendapat kesulitan atas apa yang terjadi padanya.

John Pemberton yang menulis antropologi jawa dalam bukunya "JAVA" pernah juga menyimpulkan bahwa pada masa orde baru, Indonesia berjalan atas azas kejewen itu, yang tidak ada ledakan, yang berjalan toto titi tentrem itu. Air dipermukaan harus tetap datar dan tenang, meskipun dikedalaman sana ada arus dan pusaran yang ganas sekalipun. Bahkan sejak zaman kerajaan sekalipun, kondisi seperti itu haruslah dipertahankan dan dipatronkan. Kebudayaan, adat, kebiasaan klenik dan mistis dijadikan alat penciptaan kondisi seperti itu. Ali adalah type si air datar itu, yang menyembunyikan rasa sakit dan lukanya. Meskipun mungkin sekarang si Ali harusnya berterimakasih kepada ibu yang mencintainya sebab tanganya tidak perlu amputasi karena infeksi. Bekas itu masih ada, kuku yang tumbuh tidak semestinya karena kehilangan media dan kelainan jari jari seperti itu dalam bahasa jawa disebut bujel.

Maka namanya kini Ali Bujel.

Kost, 060104 – 0210hrs

Untuk seseorang yang diam menunggu dibawah pohon.


Yen wedi ojo wani wani, yen wani ojo wedi wedi.
(Kalau takut jangan sok berani, kalau berani jangan takut takut)


Maka akhirnya kaupun tiba, diujung jalan yang menyajikan cabang kemungkinan. Engkau terdiam, menunggu pilihan dikirim langsung dari langit oleh malaikat kekasih Tuhan yang hanya punya kebaikan. Tangis bederai ketika hati dan logika bercerai, menuntut kebajikan dan mempertahankan keinginan. Tangis yang sendiri dimuka bumi, tersimpan sangat rahasia bagi dunia.

Bathinmu memberontak, berharap ini bukanlah kenyataan. Sedangkan logika dengan task forcenya samasekali bukan lawan yang seimbang. Inilah jalan kehidupan, isi kehidupan itu sendiri yang sering kita dengar bahkan dalam kelakar terkadang, sewaktu kita sedikit lupakan bahwa hidup begitu rapuhnya. Semua adalah matarantai yang terbentuk dari masalalu, konskwensi atas keputusan yang pernah diambil dulu. Bukankah hidup adalah menjalani keputusan yang dibuat??

Tak berguna membodohi diri, tak berguna menyesali apa yang terjadi. Ujung jalan yang menyajikan cabang adalah medan peperangan, dimana engkau akan berada hanya berdua dengan musuhmu; ketakutanmu terhadap kemungkinan. Kemungkinan akan tetap datang, bederet beribu pilihan yang nanti akan harus kau ambil satu untuk pilihan. Persiapkan mental untuk menerima scenario terburuk sekalipun, dan hilangkan apapun yang membuatmu merasa berhak untuk membela diri. Sekali ini, serahkan pada kehidupan, apapun yang akan diperlakukan, terimalah sebagai warna kehidupan yang sewajarnya. Terimalah dengan rela, sebagai konskwensi dari keputusan yang pernah diambil dulu.

Maka waktunya untuk melipat lengan baju, menimang bathin mengukur keberanian, sebab engaku butuh supply besar sekali keberanian untuk mengikuti jalan manapun yang nantinya harus menjadi kemungkinan yang menjelma kenyataan. Timbang bathinmu, yakinkan bahwa keberanianya total, setotal ketakutanya. Yen wani ojo wedi wedi! Yen wedi ojo wani wani! Hanya orang yang berani yang bisa menciptakan cerita hidup baginya sendiri.

Dan….jika hal buruk yang terjadi, tidak berarti dunia sudah selesai punya cerita, kiamat. Justru hidup dalam dimensi barulah yang terjadi sesudahnya. Dan engkau akan menemukan kepribadian baru ketika semua bisa kau lewati tanpa niat mengalahkan apapun, kecuali ego diri. Menjadi pribadi yang matang dan bijaksana, belajar dari setiap penggal pengalaman hidup yang pernah dijalani.

Ketika tiba masanya engkau harus menangis sendirian dimuka bumi, maka seorang teman adalah satu satunya yang kau butuhkan…

Kita selalu punya teman yang seperti itu, dia hidup di alam kehidupan kita sendiri….

Good luck, hearts!

Kost, 4 Decmber 2006 - 0117hrs

Tentang hati, suatu ketika


Hanya pada menit terakhir pertemuan, menitipkan kepiluan yang bakalan panjang bahkan terlalu pekat untuk diarungi. Nurani berteriak memanggil atas hati yang selama ini mengumbar haknya yang mutlak. Enough is enough, katanya! Berada diujung persimpangan jalan, memilih perih sebagai jawaban. Pemberontakan logis itu justru ketika si hati sedang pingsan terkena bius tahun baruan.

Pagi tadi ketika dunia terbangun, sang hati perlahan siuman lalu mengumpulkan syaraf yang terkunci dan segala kekuatan yang selama ini menjadi pengemudinya. Dia meraba raba kesekelilingnya, yang dijumpainya hanya hampa. Hujan, suaranya, baunya, nuansanya, memaksa hati untuk terus mencari sesuatu yang berarti. Si hati diam diam terus mencari rumah teduhanya yang telah dibongkar satpol pp, rumah teduhan semu yang memberikan keteduhan sesungguhnya selama ini, yang disangkanya tetap menjadi miliknya. Lalu disesalinya kepingsananya dan seluruh penyebabnya, disesalinya diri yang tak kuat berdiri diatas lantai kesabaran, bahkan dengan sokongan pengertian nurani. Dia terus mencari cari dalam diam. Malam tadi, diantara igauannya dia memanggil nama. Lalu dia pingsan lagi karena yang dijumpai hanya sepi.

Dan, yang pertama ditanyakanya, dicarinya adalah puteri Nawangwulan yang hanya ada dinegeri dongeng. Sampai dengan bijak harus menikam lagi dia dengan pisau logika;
Hey…look now!
See the truth!
Face it! You don’t belong there anymore!
You’re on your own now!
Dia terisak sedih, dia terpukul ragu, darah mengucur dari setiap permukaan kulitnya yang terluka. Dikenangnya segala hal sampai yang sesepele lalat sekalipun menjadi sesuatu yang istimewa, lalu diam diam dibingkainya setiap kenangan itu menjadi karya paling indah yang akan selalu menghiasi dinding sang hati.

Dan si hati tak berhenti merajuk, hujan membuatnya terkurung dalam kenangan, dan mendung pekat seperti meyakinkan bahwa harapanya tinggal menjadi angan angan semata. Tapi dia memang tidak menyerah, tidak percaya bahwa semua harus dialaminya justru setelah dia siuman. Diingatnya saat saat menjelang pingsan. Hhmm…si hati memang gigih, sosok yang perfeksionis dimana dia harus tahu semua yang harus dilaluinya supaya dia bisa mengayunkan langkah apabila memang harus berjalan lagi, jika kekuatanya pulih. Habisan akal membujuknya untuk berhenti bertanya dan merengek. Berbagai kecengengan disampaikan, sampai bingung bagaimana lagi memberi pengertian. Sampai pada penjejalan paksa propaganda alam nyata dengan atas restu logika. Membenturkan bacaan di blog ke jidat si hati, agar dia berhenti bermimpi, kembali mengijak bumi dan menerima keadaan tanpa banyak bacot lagi. Bahkan banyak filsafat tentang kebijaksanaan, tentang tanggung jawab nurani dan tentu saja hati nanti kalau saja dia harus ikutkan kemauan.

Lambat laun perlawananya melemah, jeritanyapun melemah. Yang datang kemudian adalah pertanyaan pertanyaan kekanak kanakan tentang apa yang hati lakukan nanti, dan tentang bagaimana kisah kelanjutan cerita, berusaha selembut mungkin memperlakukan hati, tidak kasar dan sebisa mungkin membujuknya bisa mengerti dan menerima itu semua dengan satu tiang menara: Menerima!

Dan sekarang si hati kembali bernafas seperti biasa, mencoba menggapai sekeliling dan memandang diri, berintrospeksi untuk kemudian berjalan lagi. Dikemasnya segala kenangan dan catatan, lalu disimpanya baik baik di ransel yang akan dibawanya mengelilingi bumi. Tidak, dia tidak berusaha menemukan apa apa, dia hanya berjalan dan terus berjalan, siapa tahu terkadang ketemu dengan sesuatu sebagai pengalamanya. Dipandanginya gambar rumah indah itu penuh keharuan, dikenangnya rasa sayang yang menggenangi hati hampir setiap waktu itu, serasa masih ada meskipun dia kehilangan alamat tujuan. Sisa sisanya masih berserakan menunggu untuk dirapikan. Tapi dia bisa terima keadaan, dia akan perlahan berdiri dan melangkah diam diam. Ya, dia akan diam, seperti sejuta peristiwa yang harus dilalui sebelumnya. Diterimanya doktrin tentang kebijaksanaan dari sang logika, tentang sesuatu demi kebaikan bersama.

Tuesday, January 03, 2006

Diam!


Aku menjadi semakin tak berdaya. Meyakini ketidak yakinan dan berserah pada keadaan memperlakukanku. Diam diam telah kupilih diam sebagai jawaban atas ribuan pertanyaan yang lengkap dengan jawaban dikepala. Aku hanya mahluk kecil penghuni planet.

Luka luka kecil, bahkan singgungan canda sekalipun tak terasa, kecuali membangkitkan pembusukan yang memang sudah ada dan menjadi mutan bagi emosi. Tinggal kewajiban yang harus dijalankan, kewajiban menjadi manusia itu sendiri.

Lalu bathin ragu bertanya tentang harapan, tentang jawaban tekateki masadepan. Harapan? Kemewahan apa lagi itu? Membicarakanya sama rasanya seperti menaburkan benih benih kekecewaan yang siap kita panen dimasa datang.

Penderitaan. Ufh…lagi lagi penderitaan! Bosan hati menafsirkan! Dia hanya ada dalam alam fikiran, dia adalah musuh yang kita ciptakan sediri kemudian kita dramatisir penganiayaanya. Dia datang pada setiap kehidupan yang rumit, complicated.

Diam kau wahai hati! Berhenti bertanya apalagi protes. Terima rasa hidup sebagai pembagian. Terima! Terima! Terima! Tanpa tanda tanya!

Dan kau wahai diri!
Telah bodoh masih bertingkah sombong dengan anggapan egois. Kamu bukan apa apa kecuali debu. Maka luruhlah ditempatmu, menjadi sesuatu yang tak berarti dimanapun berada.

Diam. Baiklah, diam. Mengunci mulut, menyumbat telinga. Tenggelam dalam kegelapan angan angan, tak ada masadepan maupun masasilam. Mustahil!!! Diam hanya karena hati letih mengeja kata kata, karena bathin lusuh diperbudak makna makna. Diam wahai diri! Diam wahai hati! Diamlah!

Diam! Just shut the hell up!!!! Jangan bertanya maupun berbisik tentang semua peristiwa!
Graha Simatupang, 2 Januari 2006

Monday, January 02, 2006

Tahun Baru

2005 meninggalkan kesan sebagai tahun yang celaka, tahun rawa rawa, tahun bencana, dan sekaligus tahun untuk pengetahuan baru, pemahaman baru akan hidup dan aspeknya. Sungguh sepanjang tahun yang melelahkan, sepanjang tahun yang padat berisi, warna warni aneka warna dan rasa! 2005 juga menjadi tahun keramat. Mengalami berada di dua kutub kesempurnaan yang berbeda, berada diantara dua ujung paling ujung rasa; pahit manis kehidupan. Dan 2005 seperti tidaklah berakhir, karena segala detail calon kejadian telah menjadi embrio bagi mengisi cerita di 2006. Dan…kita tinggal menjalani seperti umumnya, meneruskan apa yang setengah jalan, dan menjalankan apa yang sudah jalan, mengikuti track yang telah terbentuk entah bikinan hati atau buatan logika. Kedua duanya mengantarkan setiap insan manusia kepada kelanjutan peristiwa dunia.

Sebagian orang memilih mengikuti kata hatinya dan menjadi legenda kemudian, sebagian lagi babak belur terjebak salah mengikut kata si hati, lalu mengasihani diri tak henti henti, mengemis dan terus mengemis simpati kepada Tuhan. Dan masing masing diiringkan dengan konskwensi sendiri sendiri, yaaa…kita jalani saja 2006 dengan rasa penuh terimakasih kepada Tuhan, tetap menjadikan nurani sebagai yuri pertandingan antara hati dan logika.
2005 juga tahun kehilangan, dimana yang hilang tak akan kembali lagi, hilang musnah ditelan zaman. Tahun yang sama juga berisi temuan temuan baru tentang pengalaman. Yang paling berkesan, 2005 adalah tahun semu, tahun ketidak pastian dan tahun kegelapan...yang menyisakan beban penyesalan ditahun 2006 dan barangkali tahun mendatang.
Dan hidup harus terus berjalan...
Jakarta, 01 January 2006

Sunday, January 01, 2006

Contemplation


Pagi bermula bersama ketidak yakinan dan pertanyaan pertanyaan sinis bahkan pesimis, plain semata.
Aku ingin diam, dalam gelap yang mengurung. Diam tanpa gerakan dan fikiran. Tidak, aku tidak bisa mengentikan laju fikiranku, yang menyeret nyeret kenangan menjadikan beban penyesalan.
Aku ingin berhenti menulis, sebab yang terbaca hanya keluhan, makian diam diam.
Aku ingin berhenti memuja, sebab yang datang hanya cemburu yang menghanguskan isi dada.
Aku ingin diam dalam gelap, diam tanpa gerak dan kata kata, tapi tolong singkirkan segala suara yang datang dikepala.
Mungkin aku sangat marah hingga tak mampu marah,
Mungkin aku sangat sedih hingga tak sanggup bersedih
Mungkin aku sangat sakit hingga tak bisa merasakan sakit
Atau mungkin aku sangat bahagia hingga tak bisa menghayati kebahagiaan?

Inikah titik nadir?
Inikah tubir jurang?
Inikah akhir?
Atau awal?
Atau pertengahan jalan?

Aku kebingungan!

Aku bukan punya siapa siapa, seperti aku tak punya siapa siapa..
Hanya lingkupan gelap dan kabut yang datang pergi sesuka hati, kadang menjanjikan kadang menikam…
Lalu, dimana diri harus diletakkan?
Diantara bekas bangunan kebanggan yang tinggal puing dengan mayat berjalan berseliweran?
Ataukah harus diri mengikuti sesat di persimpangan jalan?

Aku mengalah terseret kebekuan, tanpa langkah apalagi tujuan.
Kuikuti arus zaman, dari gelap ke gelap dan hanya gelap yang tertayang…tanpa rasa, tanpa beban dan tanpa harapan…

Aku diawang awang sendirian…
Melayang layang menunggu kematian datang...

Jakarta, 1 January 2005

Thursday, December 29, 2005

Pemakaman


:Bule’ Sri Lestari
(31 Des 1953 – 28 Des 2005)

Gundukan tanah merah, setengah basah dikepung puluhan peziarah mengantar pergimu. Duka belum lagi pergi dari hati hati yang kehilangan, berjongkok dan merendah pada kedalaman bela sungkawa. Jasad yang semata wayang, telah ditanam, ditabur bunga dan juga doa doa mengiringnya. Tangan menengadah, memohonkan ampun atas dosa dosa. Semua terjemahan kata perpisahan semata.

Hari ini selesai sudah cerita hidupnya. Akan segera hilang ditelan angakasa, ditanam berdesak diantara pendahulu. Ia telah bertahun menahan nanah dalam dirinya, yang tersembunyi dibalik tulang dan kulitnya yang merapuh. Adakah juga air mata tumpah dibawah tanah sana, Bule’?

Sekarang waktunya untuk sendiri, hanya bersama malaikat dan barangkali bidadari. Semua berjalan membelakangi, perlahan menjauh mengusung duka hati pulang, membawa kelegaan kerumah kehidupan.

Selamat jalan, Bule’ Anto'…Selamat menempuh perjalanan lain lagimu, menuju kemanapun hendak engkau tuju…

Tanah Kusir cemetery, 28 Desember 2005