Friday, July 24, 2020

Teori Gila




Gila adalah sebuah keadaan ketika kewarasan terkurung oleh dinding tebalnya pikiran negative. Perasaan negative itu bisa timbul dari peristiwa peristiwa masa lalu yang tidak bisa diulangi lagi, tetapi sudah terlanjur terjadi diluar perkiraan sebelumnya. Efek yang ditimbulkan oleh sebuah peristiwa traumatis yang menghantam dinding dinding jiwa. Rasa kecewa yang berlebihan mendatangkan badai gelap yang dahsyat, bergelombang datangnya menghantam pikiran antara sedih, marah, menyesalkan, dan teraniaya. Hari hari penuh semangat, optimism dan rasa bersyukur seolah tenggelam didalam lautan pikiran muram dan pesimistis dengan durasi yang sangat panjang.

Kambing hitam pertama yang paling bertanggung jawab atas terjadinya hari hari buruk itu adalah manusia lain yang berpredikat penghianat. Mereka kaum penipu, suka ingkar janji dan berlagak bodoh ketika dikonfirmasi. Mereka bertindak anarkis dengan mengatasnamakan hak, berbuat curang tanpa mempertimbangkan kerugian perasaan bagi orang lain yang jadi korban. Perih dan sakit hati karena sadar telah menjadi korban penipuan ataupun janji janji yang dingkari dan diakui secara lugas. Ibarat kata orang sakit yang percaya pada obat penyembuh yang ternyata adalah racun. Seseorang telah dengan sadar berbuat tidak benar dari kesepakatan batin, atau niat awal yang menjadi tonggak perjalanan mengikuti hati. Sesuatu yang sangat rahasia sifatnya. Ingkar janji hanya salah satu strategi yang digunakan dalam menjalankan aksi penghianatan, tetapi senjata yang paling mematikan bagi penghianat adalah rasa percaya dari korbannya. Si korban percaya benar bahwa si penghianat adalah orang yang tepat untuk menitipkan hati agar tidak tersakiti, tetapi kemudian oleh si penghianat si hati di cacah sehingga robek compang camping. Amanah yang dititipkan disalahgunakan justru untuk menyakiti dengan perbuatan yang sama oleh orang lain sebelumnya. Mereka tahu persis dimana letak luka lama yang belum mengering untuk membuat luka baru diatasnya. Empuk dan gampang untuk masuknya embrio iblis ke alam pikiran.

Siksaan batin yang seolah tidak ada henti hentinya menyebabkan kelelahan yang membosankan. Seluruh pikiran isinya hanya hal hal negative yang selalu mendatangkan dampak buruk bagi nuansa perasaan. Menahan rasa sakit terlalu lama juga sangat melelahkan dengan kondisi tidak ada opsi menyerah. Tidak bisa menyerah karena inti dari semua kejadian masa silam terjalani dari hari ke hari dengan terpaksa. Ketidak nyamanan dan perubahan perubahan pola emosi menjadikan hilangnya karakter positif yang selama ini dimiliki. Muram tanpa semangat tetapi harus dijalani karena itulah hidup. Maka pilihan menyerah satu satunya  adalah bunuh diri. Matahari dalam batin seolah padam. Dunia menjadi lengang pucat pasi, selayak memandang kursi goyang yang tidak bergoyang atau menatap pada pendulum jam tua yang tidak bergerak dan kipas angin listrik yang tidak berputar. Beku, seolah tidak ada detak kehidupan yang mencerahkan. Kebanggaan pada diri dan pencapaian lainya telah runtuh oleh badai, berganti kecewa dan penyesalan yang datang bertubi tubi. Negative, identik dengan kondisi raganya saja yang masih hidup, tanpa nyala semangat jiwa. Zombie.

Jiwa yang sakit orang menyebutnya gila, tidak waras dan keluar dari jalur logika. Dan orang yang mengidap sakit jiwa gila banyak dikucilkan, diabaikan dan tidak dianggap sebagai manusia. Mereka dibiarkan hidup di dunia khayali mereka sendiri yang muram dan tidak ada cahaya, menjadi raga raga terlantar yang seolah sendirian menghadapi rasa sakit di jiwanya. Padahal seandainya ada seorang teman dengan ketulusan hati yang datang akan merubah warna hari dengan seketika, menjadikan hidup berjalan selayaknya normal biasa. Dan bedebah yang menyebabkan orang sampai sesakit itu hidup berjaya tanpa rasa bersalah entah dimana. Soal kesehatan jiwa orang lain bukan dianggap sebagai tanggung jawabnya lagi. Idealnya, si pemberi sakitlah orang yang paling bertanggung jawab untuk menyebuhkannya. Datang sebagai seorang teman dengan penuh ketulusan dan menyaksikan korbanya menjalani hari harinya yang menyiksa. Bagi si korban, rasa sakit yang ditanggungkanpun sudah dicoba diobatkan dengan berbagai cara. Memelihara pikiran tetap positif bukan hal yang gampang ketika trauma masa lalu seolah menjadi tema hidup sehari hari sekarang. Sedih dan murung yang berlebih dapat menyebabkan sesorang kehilangan raga, lupa bahwa badan juga perlu dirawat secara sehat dengan makan dan tidur. Ganggong namanya, dan itu adalah tahap paling awal menuju sakit gila. Sebuah titik kulminasi dari kekecewaan yang menghancurkan pikiran dimana lama lama si sakit merasa tidak punya tanggung jawab apa apa lagi terhadap apapun di dunia ini.

Kasihan mereka, orang orang yang sakit jiwa atau gila. Menghadapi perang bisunya  yang maha dahsyat sendirian hingga terjajar kalah oleh kenyataan. Ditinggalkan peradaban dan hidup dalam kesendirian yang hakiki. Batinnya bergemuruh badai dahsyat kekecewaan. Semoga sang pencipta mengampuni segala dosanya dan mengirim malaikatNya untuk menyembuhkan sakitnya. Aamiin.

CMB Guesthouse 200724





Monday, October 07, 2019

Rembulan

#8
: sebuah catatan ulang tahun











Rembulan remang gamang mengambang di awang awang 
dekat dengan wuwungan. 


Cahayanya pucat laksana dinding kapur usai dicat, 
meratap berharap malam lekaslah lewat. 


Satu persatu pertikaian dalam pikiran meninggalkan goresan 
luka pada ingatan. 


Menjadi memori laksana kaligrafi 
abadi dalam hati. 


Letih dan sakit, 
hidup menjadi terasa lebih sulit dan sempit. 


Kamu yang menghiburku dengan caramu 
yang belum tentu seorangpun mampu. 


Menyematkan harap pada langkah berat 
dan pandangan gelap oleh laku khianat. 


Engkau rela menebus mahal atas keslahan fatal 
dengan tidak lagi berharap pada akal. 


Panglimanya adalah hati yang memegang teguh panji 
atas masa depan tanpa janji. 


Toh kita sudah cukup lama Bersama  hidup bahagia 
yang sebenarnya hanya terasa oleh jiwa kita. 


Perasaan terbaik sepanjang riwayat usia kita menjadi epic paling apik 
meski sangat pelik dan tidak tersedia di lain kronik. 


Cinta yang menghela kita menuju tua 
dengan menerima fakta dikala langkah kaki terjebak di segitiga. 


Telah kuterima perih

Sudah kau jalani sedih

Sebagai simbol mahar pengasih



Kost 191007

Friday, September 20, 2019

Pecandu Koreng


#25

Lalu kenapa kamu korek korek lukamu lagi? Koreng memang gatal, seperti mengharuskan kita untuk selalu menggaruknya, memberikan rasa nyaman sejenak karena seakan luka itu diperhatikan. Tetapi sesudahnya akan meninggalkan lobang menganga berupa koreng baru dengan kedalaman yang lebih dalam lagi. Terutama ketika tidak ada hal lain didunia ini yang harus dihadapi kecuali serangan demons yang membabi buta, meniadakan hari malam dan membakar ketika siang. Mereka begitu lihai menghasut hati untuk tetap tunduk merunduk pada ego yang menjulang. Apa daya, semua peristiwa memang hanya ada didalam dunia hati, dunia angan angan dan perasaan belaka. Mencernanyapun dengan hati karena memang keadaan sampai separah inipun sebenarnya inti masalahnya adalah perasaan; urusan hati. Bahkan tidak ada satu orangpun yang akan sanggup memahami betul apa yang menyebabkan begitu kuat tekad untuk memilih jalan perih.

Memang hampir mustahil dapat menyelami perasaan seseorang secara persis. Yang ada paling adalah empati dalam bentuk melibatkan diri ke dalam perasaan orang tersebut, setidaknya membagikan kepedihan yang sama. Selebihnya dikendalikan oleh logika biasa, logika umum yang juga banyak disetujui orang karena memang sesuai dengan atuaran kepantasan dan norma sosial. Berpikir logis, atau bersikap dengan menggunakan alasan logika, tentu saja akan mengabaikan kepentingan hati. Logika menunjukkan jalan terang menuju depan dengan rambu rambu yang sudah jelas bisa menuntun sampai ke ujung tujuan hidup kelak. Bahwa norma  sosial dan etika kemanusiaan yang berlaku di masyarakat umum juga berlaku bagi siapapun. Tidak peduli dia adalah perayu ulung, pemikat hebat, atau penyinta yang luar biasa. Logika juga samasekali tidak fleksibel tidak seperti hati yang kadang seperti karet, melar sana melar sini, mekar, mengkerut lagi. Seperti selayaknya benda hidup, bergerak dan berkembang mengikuti arus suasana yang mudah berubah dan berganti haluan. Apalagi jika datang saatnya bosan! Logika bersifat kaku, memaksa dan rajatega.

Jika hati menghendaki sesuatu yang diyakini sebagai sumber  kebahagiaan abadi, maka kekuatanyapun akan mengalahkan sang logika. Peperangan batin atau perang fiksi tentu masih akan terus terjadi sampai lama lagi karena logika tidak akan menyerah begitu saja dan terus menghasut akal supaya tahu menempatakan diri. Sayangnya hati adalah tempat egosentris berpusat dimana fungsinya untuk kepentingan mempengharuhi laju jalannya cerita kehidupan umat manusia dan peradaban. Masalahnya  kondisi hati yang seperti dikisahkan diatas tidaklah sehat, sedang sakit tuna grahita untuk urusan duniawi. Setiap orang memiliki cara pandang dan cara pikir sendiri yang kesemuanya dikendalikan oleh hati. Kekuatan inti dari semua kejadian di atas muka bumi adalah karena kemauan hati, karena ketidak mauan hati. Itu saja!

Sang logika menggandeng akal akan terus memamerkan norma norma, aturan kepantasan, etika moral, kecerdasan emosional, kepekaan sosial dan lain lainnya dan kesemuanya pasti masuk akal sehat, aman dan nyaman dunia akhirat. Terkadang niat baik dari sang logika diartikan sebagai demons oleh sang hati, iblis yang berpesta tepat ditengah luka. Seperti belatung menggerogoti bagian tubuh hidup yang membusuk. Segala hal yang merugikan dan tidak mengenakkan dipropagandakan, segala macam dalih tentang tenggang rasa dan iba dikampanyekan. Intinya hanya satu, meminta hati untuk menghentikan aksinya yang sudah menyalahi aturan sosial yang ada dan sudah seharusnya ditaati bersama; norma sosial.

Hati bermahkota batu, meyakini jalan perih adalah jalur rintisan setapak menuju bahagia. Berbekal kisah perjalanan perjalanan ajaib dan transformasi perasaan yang gaib, keyakinan terbangun seiring berkembangnya perasaan. Segala sesal, rasa bersalah, kecewa, marah dan sedih berbaur silih berganti bagai badai yang tidak kunjung berhenti. Dan sang hati hanya menganggapnya sebagai dinamika yang akan membentuk sebuah kaldera baru nanti jika badai sudah mereda. Kaldera yang belum tersentuh oleh kehidupan apapun sehingga nanti cukup untuk menempatkan segala sesuatu dari masa lalu sesuai dengan kriteria dan tempatnya  yang terjaga.

Sementara itu gatal pada koreng tak akan berhenti menyiksa. Tindakan gegabah dengan mengorek pada koreng itu justru dinilai sebagai cara menikmati luka. Padahal, siapatah yang menghendaki luka, kecuali mereka yang sedang sakit jiwa. Sehingga orang lain, sesuai dengan standard logika umum, dengan enteng akan menganggap bahwa ia tidak lebih dari seorang pemelihara luka dan pecandu koreng. Play victim! 



happy birthday, buderfly!



Pabrik 190920






Tuesday, September 17, 2019

Bahasa Bisu


#26
Apa makna diam, ketika dua muka berhadapan dan tak saling bersapaan. Menjadi dua gunung batu yang sama sama memeram gemuruh magma. Atas nama perbuatan bijak, kata kata dimatikan dan berganti dengan diam yang menggenang. In silent mode. Secara ajaib juga tidak ada kalimat yang terbuang. Ribuan pertanyaan mengamuk tertahan di kerongkongan. Mereka memaksa untuk keluar meloncat dari indera pengucapan berupa kata kata kasar layaknya gonggongan satwa. Demons telah membuat kekacauan pada jeroan si badan. Membakari semua yang bisa dibakar, memporak porandakan semua yang nampak tertata. Dunia menjadi tenggelam di perairan terdalam, pada titik suhu terdingin.

Diam adalah pilihan supaya damai, ketika seluruh alam batin hanya berisi hasutan dari ribuan demons yang tidak sabar ingin memamerkan diri. Sikap mengalah akan membawa kemenangan pada aspek lainnya. Memilih untuk menerima panasnya api dan menghayati perihnya luka adalah cara bijaksana untuk menunjukkan cinta.  Diam diam, diam menjelma menjadi kesedihan yang seolah tidak berkesudahan. Jangkauan memori pada kenangan masa lalu tiba tiba menjadi terang benderang dan semuanya terangkai rapi dalam sebuah cerita baru yang melengkapkan drama sebelumnya.

Mustahil kesedihan tanpa musabab. Setiap kesedihan pasti disebabkan oleh sebuah kehilangan. Kehilangan akan keyakinan, kehilangan akan benda, kehilangan akan kepercayaan dan segala macam kehilangan yang ada dimuka bumi ini. Tetapi tentu yang paling menyedihkan dari sekian banyaknya jenis atau  macam kehilangan, maka kehilangan harga diri adalah kesedihan yang paling parah tingkatannya.  Kekecewaan yang melebihi batas takaran umum dapat menyebabkan orang sakit jiwa atau mati; entah karena membiarkan diri mati atau karena bunuh diri. Memperjuangkan diri untuk terhindar dari kedua akibat diataspun sulitnya setengah mati.

Diam sungguh bukanlah emas, tetapi semata mata kebijaksanaan hati untuk tidak menerbitkan perkataan pengundang cemas, untuk tidak menabur gasolin diatas bara dendam. Membiarkan diri dijajah demons yang murka adalah perlawanan paling santun yang bisa dilakukan. Tidak semua hal harus diucapkan. Dan jika pertanyaan pertanyaan jujur akan menyebabkan kesakitan, maka lebih baik pertanyaan itu diredam dengan diam. Biarkan pikiran berkelahi di rongga otak. Biarkan hati saling beradu kuat dengan logika. Biarkan perang fiksi terjadi tanpa publikasi.

Satu persatu kongsi pergi menjauh oleh sebab jenuh. Meninggalkan bekal berupa doa agar tetap kuat melintasi gurun berbadai seperti sebelumnya. Mata berkaca ketika tangan dilambaikan tanda perpisahan, memandang kasihan dari kejauhan dan tak sanggup lagi memberi makna sebagai penolong. Pada akhirnya setiap orang memang akan harus sendirian di ujung takdirnya. Membawa kenanganya masing masing sebgai catatan, sebagian lagi menjadikannya sebagai kebesaran masasilam.

Tragedi yang pernah terjadi akan dikubur diam diam, dan seolah olah telah berganti alam dan tidak memiliki lagi masa lalu  yang merongrong kebahagiaan. Didiamkan saja didalam ingatan, diabaikan seolah olah hanya berisi penyesalan dan tidak memberikan manfaat bagi kehidupan. Dihindari segala sesuatu yang dapat menyinggung si kenangan agar tidak bangkit menebar terror lagi dengan hal hal baru. Toh sulit untuk dipungkiri bahwa kenangan hitam sialan itu adalah bagian dari kehidupan sehari hari yang harus dijalani tanpa harus diceritakan. Sungguh menyakitkan bagi diri si pemilik pikiran seperti itu.

Dan siapa bilang bisu tidak bisa bicara dan tidak mengenal bahasa? Sebab diam membisu adalah bahasa paling tua yang pernah ada di bumi manusia. Justru diam membisu memiliki terjemahan tidak terbatas dari bahasa kalbu yang paling munafik. Diam membisu memberikan ajaran untuk tidak jujur kepada perasaan sendiri demi menjaga perasaan orang lain. Diam mengajarkan huruf huruf dan merangkainya dalam percakapan bisu yang panjang dan tidak berujung. Merangkai kata kata dalam setiap bahasa yang bisa dimengerti oleh mahluk seisi dunia. Hanya saja memang tidak terperdengarkan di pendengaran. semua menggema di rongga batin, memantulkan penjabaran penjabaran Panjang tentang kecurangan dan penghianatan.

Diam bukanlah emas, tetapi semata menjaga supaya tidak timbul huru hara karena cemas.



Gempol 190917

Saturday, September 14, 2019

Jelmaan Luka


 #32

Kamu menjelma menjadi luka. Yang menempel ibarat gurita didalam jiwa. Hadirmu kini hanya membawa malepetaka, setelah sekian tahun kujaga selayaknya mustika. Kamu telah berani menghianati hubungan ini seolah didalam jiwamu tidak bersemayam hati. Sesuka kemauanmu yang tanpa batas itu saja hidupmu kau lepas. Dan itu membekaskan luka demi luka yang beranak pinak didalam kepalaku. Ya, kamu mustika jiwaku telah menjelma menjadi luka membiru.

Sekarang sungguh keyakinanku atas sikapmu menjadi goyah. Perih mata memandang langkah, dan gelap hati membawa diri. Ya, kamu menjelma bangsat yang tak henti menghisap. Ceritamu yang penuh dusta telah melahirkan luka luka baru diatas luka lama, yang harus aku  jalani dan terima. Gayamu seolah engkau tidak berdosa, tertawa sambil melihatku meregang menahan perih. Tawamu tak membantu sembuhku, hanya menambah marah yang membuncah seolah kawah.

Kamu sudah menjelma luka, yang menempel tepat dibelahan jiwa. Setelaga ciu dan seladang rumput surga tak akan mampu menebus perih yang kamu bawa. Kamu adalah bagian hidupku yang tak terlihat namun terasa, yang kemudian dengan semena mena menimpakan seluruh kesaksian akibat dari apa yang kau buat.

Kamu menjadi koreng bernanah, perih dan mengganggu yang selalu saja ingin kuhindari untuk memikirkan setiap tingkah laku durjanamu. Ribuan pedang menghalang langkahku, terepenjara dalam perang fiksi yang melumpuhkan logika. Mengerang dan menjerit tak membantu mengurangi pedih, menendang dan menghantam tak juga mengurangi serbuan musuh yang seolah tanpa henti berbuat keji. Sakit yang terlalu lama telah melupakan bahwa sakit itu ada. Goresan demi goresan kebohongan kamu buat layaknya mahakarya yang akan mengantarkanku ke gerbang neraka.

Kamu menjelma luka, selayak daging tumbuh yang telah menjadi bagian dari rasa sakit dan bahagia. Kamu tenggelamkan aku dalam danau danau kesedihan yang tak berkesudahan. Dan aku diam menjalani dan menerimanya. Jeritanku sudah habis kehilangan intonasi. Membagi denganmu, aku telah kehabisan suku kata untuk mengungkapkannya. Aku hanya berharap kamu akan melihatnya  sebagai sesuatu yang layak untuk dihargai saja. selebihnya biar aku yang akan meneruskan perang fiksiku melawan luka buatanmu, dan jutaan kuman demons hasil ciptaanmu.

Ini aku yang kamu lukai. Sungguh tidak pernah kukira akan seberat ini memperjuangkanmu. Jika kamu pernah mendengar sumpah tentang perjuangan, maka lihatlah sendiri seperti apa perjuangan yang semestinya. Aku telah habis habisan membelanjakan perasaanku, dan tetap bersumber kasih sayangku padamu. Meskipun kamu adalah lukaku. Kamu pasti setuju bahwa aku bisa saja membuatmu hancur luluh lantak tak bersisa bagi hidupku. Tetapi itu bukan sifatku, dan bukan semangatku sejak pertama kali kita bertemu.

Kamu menjelma luka, yang menunggu waktu untuk membentuk gambar gambar baru di masa laluku.



Kost 190914

Friday, September 13, 2019

Chit - Chat



Yang membuat aku begitu menyayangimu adalah pribadimu. Sifat ngemongmu menjadikanmu  sosok pelengkap hidupku. Segala takut dan cemasku lenyap ditelan angin setiap kali aku bersamamu, bahkan setiap kali engkau hadir di alam batinku. Lalu keseluruhan kehadiran fisik dan non fisikmu yang perlahan menjadi zat vital bagi kehidupanku. Karena memang seperti katamu sebelumnya, kita seperti udara. Saling membutuhkan dan saling memberi penghidupan. Aku rasa kita mungkin telah jatuh cinta sejak sangat lama, hanya saja kita tidak menyadarinya. Tangis pada langkah pertama perpisahan telah melahirkan trauma betapa akan merananya dunia tanpamu di hidupku. Maka, kasihanilah aku, ijinkanlah aku untuk tetap selalu ada dalam hidupmu.

Ketika dahulu pertama kali bertemu denganmu, aku sungguh tidak menyimpan harapan apa apa. Aku senang memberimu kejutan kecil dengan kedatanganku ke tempat kerjamu kala itu. Selebihnya aku tak melihatmu sebagai sesuatu yang istimewa, hanya biasa saja. Duniaku sedang begitu ramai kala itu, berjubel orang orang dari kaummu yang meminta perhatianku. Ya, dunia unik dengan komunitas unik itu mendekatkanku kepada banyak kaummu. Salah satunya adalah kamu. Kita tidak pernah lupa bahwa kita dipertemukan pertama kali melalui kehendak hati dari sana. Aku tahu kamu pengagumku juga seperti beberapa orang lainnya.

Sekian banyaknya mereka yang menyuka, ada yang paling aku sukai. Namanya kamu. kenapa aku suka kamu waktu itu, aku tidak ingat karena memang tidak kurencanakan hidupku untuk menyukaimu. Beberapa orang menawarkan hatinya untuk dijadikan tempat teduhan, sebagai persinggahan, bahkan sebagai hiburan. Sebagian menawarkan telinga untuk mendengarkan, untuk merasa dianggap menemani. Aku juga tahu bahwa mereka ada yang rela untuk menyerahkan masa depannya kepadaku. Tiba tiba kusadari bahwa kita telah berjalan bersama begitu saja. Hanya berjalan bersama dan mereguk makna bahagia dari setiap perjalanan yang kita buat serta pengalaman yang kita catat. Kita selalu  bergandengan tangan, dan belakangan kita menyadari bahwa kita tidak bisa lagi saling melepaskan. Kamu adalah bagian hidupku dan aku adalah bagian hidupmu.

Dan tanpa rencana sebelumnya kita telah memiliki dunia misterius yang sangat membahagiakan. Begitu membahagiakanya  sehingga banyak kaummu terkapar lunglai terkena virus meri. Mereka berharap ada di posisimu sebagai obyek utama pemujaanku. Sebagian lagi menerka nerka tentang keberadaanmu yang antara nyata dan maya. Jika bertanya  tentang sosokmu, kepada mereka akan kuterangkan siapa kamu. Akan kujelaskan juga betapa aku menyayangimu dengan perasaan sayang dengan kualitas terbaik di dunia. Bahwa kamu adalah manusia terbaik yang dianugerahkan Tuhan kedalam hidupku untuk menjadi bagiannya. Tentu akan ada juga yang menganggapmu hanya imajiner, lalu menempatkan dirinya menjadi seolah kamu. Lalu akan kuceritakan kepadanya  bahwa hubungan kita tidak bisa didefinisikan sebagai salah satu bentuk hubungan yang ada di dunia. Hal itu terjadi karena sangking lengkap dan sederhananya hubungan kita. Masing masing kita bisa menjadi apapun yang kita butuhkan kapan saja!

Hey.. lihatlah mukamu merah padam tersiram kata kata rayuan terabaik di alam kenyataan. Aku bahagia telah membuatmu megap megap karena bahagiamu yang meluap keluar dari debar dada. Satu saat kelak aku ingin membacakan curahan perasaan yang kutulis, langsung ditepi telingamu. Sambil memelukku. Saat itu akan kubawa engkau menjelajah dunia sangat indah yang tidak pernah engkau lihat sebelumnya. Dan kupastikan sepenuhnya bahwa hanya akulah yang mampu membawamu kesana. Tulisanku berisi risalah tentang percakapan kita yang meniadakan jarak ribuan kilometer jauhnya. Aku suka ketika menikmati irama tambur dari dalam dadamu ketika kata rayuku menghambur. Aku bahagia bisa membuatmu bahagia. Ribuan cerita akan engkau dengarkan dari sela bibirku, tentang segala macam hal yang tak menentu. Dulu, mata tidak simetrismu akan menghujam tajam ke mukaku, pertanda antusiasmu menanti kata kata yang berloncatan. Dan itu terjadi sejak awal kita dipertemukan, hingga sekarang dan entah mungkin sampai kapan. Aku senang membagi cerita tentang kehidupan dan pengetahuan denganmu. Tetapi yang paling aku senangi adalah melumuri seluruh perasaanmu dengan limpahan ungkapan kasih sayang yang membanjir. Biasanya senyummu akan merekah, dan pipimu memerah tiba tiba. Kamu tahu, kenapa ketika kita tersipu pipi kita menjadi merah? Itu karena sebagai pertanda bahwa perubahan warna itu menandakan titik paling nikmat untuk dicium!

Ah, berbicara denganmu seolah tidak pernah ingin berkesudahan. Selalu saja ada cerita dan kata kata yang engkau kemas laksana pujangga; kata kata yang membawaku ke tempat terindah dalam hidupku, di palung cintamu. Aku sungguh beruntung menerima semua curahan kasih sayangmu yang berlimpah itu. Dan tidak bisa kubayangkan seandainya kamuku menerima perlakuanmu seperti ke aku, niscaya dia akan jatuh ke tanah dan tak bisa terbang lagi. Itulah bagian terbaik dari dirimu yang membuatku terpikat dan tak mampu menggugat. Aku luluh lantak setiap katamu menampar jantungku. Aku bahagia.

Jangan, jangan kau  bagi hatimu lagi pada sesiapa, termasuk dokter jiwa. Cukuplah aku teman kecilmu, si culun yang menemukan pegangan. Akan kutemani langkahmu melintasi segala musim. Kuikuti setiap penjelajahanmu yang ajaib itu, dan aku  akan selalau ada disana menjadi saksi pertama. Demikian juga kamu, akan tetap menjadi malaikat penjaga yang akan selalu ada dimanapun aku  sedang berada. Tetaplah jaga inginmu untuk selalu bertemu, agar tetap tumbuh pohon cinta yang sudah berubah menjadi peneduh jiwa.



Kost 190913






Saturday, September 07, 2019

Doa Pagi


Saat ini tidaklah banyak pintaku padaMu. Cukuplah turunkan hidayahMu yang maha dahsyat itu untuk memberangus gelisahku. Untuk menghadirkan damai dalam hari hariku.
Aku letih ya Rabbi. Letih meladeni ujianMu yang membuatku seolah terombang ambing di hujan badai nan gelap gulita. Semakin kubertahan semakin pusaran kekuatanya mengoyak dada. Aku terombang ambing dan montang manting tak tentu rimba.
Ya Allah maha pengasih, dengarkanlah ini hambamu yang merintih lirih. Telah kukorek luka lukaku hingga ke ujung sumsum hanya agar logikaku menjadi maklum. Tetapi lagi lagi yang kudapat hanyalah ribuan iblis yang datang menyerbu sambil senyum. Bukankah mereka ciptaanMu juga, Tuhan?! Ufh, sungguh mereka bengis laksana taji. Mengoyak dan merobek dada dan kepalaku sesuka hati. Sungguh perih, Tuhan.
Tuhan aku merindukan cahayaMu. Cahaya yang engkau jadikan pelita bagi dunia, yang menerangi hati hati yang sedang keruh oleh sebab kekecewaan yang ngujiwat. Hambamu mohon penerangan, ya Allah.
Lihatlah kulit di tubuhku penuh goresan pisau cutter. Sebagai penanda begitu banyaknya kebohongan yang dilimpahkan padaku tanpa perasaan.  Aku bahkan kehilangan arah, ya Gustiku. Sudah kukirim sanjungan dan pujian kepada rasul dan malaikatmu, agar sedikit saja sudi memberi karomah bagi jiwaku yang sakit. Bersloki ciu sudah menghambur ke dadaku, menimbrung untuk perang fiksi yang penuh debu.
Tuhanku, aku lelah meladeni pikiranku sendiri yang menjelma serupa iblis. Mereka muncul dari setiap jejak kenangan. Yang tertinggal disetiap sudut bumiMu, lalu datang menyerbu tak pandang waktu. Tanganku mungkin letih, badanku penuh dengan luka. Darah bahkan belum berhenti bergulir dari luka luka yang baru, diatas bekas goresan luka sebelumnya. Telah kuhitung berapa banyaknya luka yang diciptakan bagiku, tetapi selalu saja aku kesulitan menghitungnya. Terlalu banyak dan terlalu sering!
Tuhan, kata temanku aku memelihara dan menikmati perihnya luka yang kugali sendiri dengan pikiran. Sungguh ini hanya upayaku untuk mengamputasi luka jiwa yang menempel laksana benalu. Aku hanya ingin membersihkannya dengan kebenaran untuk kemudian merenungkan hikmah dari cerita yang Kau sajikan di hidupku. Membersihkanya dari bercak dan tanah, obyek asing yang bersemayam dibalik infeksi luka bernanah. Kelak akan lebih cepat sembuh atas kuasaMu ya Pangeranku, aku percayakan padaMu saja untuk kesembuhanya karena nyatanya tidak ada satupun manusia yang mampu untuk membantu menyembuhkannya.
Tuhan Yang Maha Pengasih,
Dengarlah doaku yang seolah menagih. Hadirkan damai dalam pikiranku dan turunkan hidayahMu agar ikhlas hatiku menjalani semua yang Engkau kehendaki. Aku telah berubah menjadi mahluk baru jauh dari kehendakMu. Aku telah tersesat didalam labirin pikiranku sendiri yang menghamparkan belantara api tanpa tepi. Hanya padaMu akau berharap pertolongan dan hanya padaMu hamba memohon pengampunan.
Tuhan pemilik hidupku,
Jika paduka memutuskan untuk menyudahi cerita hidupku dan menghadirkan malaikatmu utuk mencabut nyawaku sekarang, akupun tidak akan banyak menentang. Matikan aku dalam kehendakMu ya Tuhan, dan akhiri saja seua derita batin yang harus kuterima dan kujalani penuh siksaan ini. Untuk dia yang mengharidkan siksa, doaku padanya semoga Engkau memberikan anugerah terindahMU, semoga semua keinginanya terkabul seperti selama ini doaku dan seperti selama ini terjadi pada hidupnya. Tak perlu aku merasa mendenam sebab aku percaya Engkau Maha Adil.
Tuhan Yang Maha Kuat,
Dukunglah langkahku menuju maju, agar kuat dan tak goyah oleh masalalu. Berikanlah ikhlas sebagai landasan setiap kejadian yang tidak menyenangkanku agar aku mampu selalu bersyukur atas karuniaMu.

Gustialah, nyuwun paring kawelasan dumateng kawulo.


Amien.

Gempol, 190907

Tuesday, September 03, 2019

The Lost Paradise



Hei kamu yang berada didalam badan anak ini, yang menggerakkan seluruh aktifitas berpikir anak ini. Kekejamanmu sudah semakin tidak terkendali. Aku pemilik badan anak ini, meminta kepadamu wahai kekuatan dahsyat yang tidak terlihat. Pintaku, sisakan sedikit saja rasa kasihanmu kepada jiwa dan raga bocah lemah ini. Dia sudah melewati batas batas normal tekanan dan aniaya darimu yang berlangsung sangat lama. Belum puaskah kamu menganiaya anak ini dan keluarganya?
Ah aku hampir lupa. Kamu pengisi pikiran dan penggerak otot syaraf bocah ini adalah iblis. Tugasmu di bumi memang hanya untuk menggagalkan dan menghancurkan segala bentuk kebaikan. Aku tahu kamu tidak akan pernah behenti menganiaya hingga anak ini benar benar mati membawa penderitaan lahir batin hingga ke alam baka. Itu sudah menjadi tugasmu dan kamu sudah melakukanya dengan sangat baik. Kamu meremukkan setiap sendi kehidupanya dengan sangat baik bahkan mendekati sempurna. 

Tapi jangan lupa bocah ini masih bernyawa. Hati nuraninya masih akan terus bertahan dari semua hinaan dan aniaya darimu. Anak ini diberkahi Tuhan untuk lebih kuat dari rata rata kemampuan manusia biasa. Hatinya yang rapuh terbuat dari emas dan sesungguhnya ia adalah manusia yang baik. Kebaikan hati yang mengalir dalam jalinan ruhnya yang kamu bakari setiap hari itu akan menjadi kekuatan yang akan memusnahkan pengaruhmu bagi kehidupanya. Saat ini baginnya, peran terbaik yang semestinya dilakukan adalah menerima dan menjalani semua. Menjalaninya dengan caranya sendiri yang bak cerita sandiwara. 

Kebaikan hati anak ini tidak akan perlu dijadikan senjatanya untuk menumpasmu. Anak ini hanya perlu menemukan titik netral dalam pikiran dan perenungan perenungannya agar bisa ditemukan kebijaksanaan sikap berpikir yang selama ini kamu keruhkan. Seharusnya tidak terlalu sulit bagi anak ini untuk menemukan kebenaran dan kekuatan dirinya sendiri. Bocah ini akan menemukan kembali hidup bahagia yang kamu cabik cabik berulang ulang. Penyiksaan yang kamu lakukan sudah melebihi cukup. Anak ini sejauh ini sudah menjalani dan menerima khianatmu hingga habis habisan.

Hei bocah kampung yang sedang merana. Inilah aku malaikat malaikat penjagamu yang ditugaskan Tuhan untuk datang menghampirimu yang sedang mengalami banyak kesulitan. Aku menemukan pandanganmu keruh dan pikiranmu muram. Kamu linglung kebingungan dipermainkan pikiran yang berisi pertanyaan dan jawaban. Semua pertanyaan dan jawaban yang sulit untuk tidak dikonfirmasi kebenarannya. Semua menjadi prasangka buruk yang berubah menjadi sabit yang mencabik perasaanmu sendiri setiap saat pikiran membersit. Aku lihat kamu kewalahan menghadapi ujian ini sendirian. Orang orang hanya bisa menyaksikan kamu kelabakan dan tampak sekarat dari kejauhan. Tidak ada yang bisa benar benar ikut merasakan. Sama halnya kamu tidak bisa merasakan penderitaan dan kegembiraan orang lain. Kamu memang harus sendirian dan hanya bisa sendirian menghadapinya. Keluarlah sebentar dari kancah peperanganmu. Lihat kesana diantara denting pedang yang beradu dan mengepulnya debu; tanah surgamu yang remuk redam oleh perang fiksi

Ya perang fiksi!! Tegas dan jujurlah pada dirimu sendiri, pada hati nuranimu sendiri. Kamu yang membiarkan demons merengsek masuk alam pikiranmu dan cara pandangmulah yang justru mengundang demons untuk datang lalu beranak pinak dalm pikiranmu sekarang. Kamu yang memeliharanya. Semua tang terjadi di alam pikiran dan perasaanmu menjadi liar tanpa kendali. Kebingungan yang membuatmu pailit itu adalah hasil dari semua sikapmu yang tidak tegas dan tidak jujur pula. Tidak ada satupun orang yang patut kamu persalahkan. Tidak ada satupun kejadian yang patut kamu sesalkan. Sambutlah dan berpeganglah pada kasih dan cinta dari orang orang yang tulus menghargaimu sebagai energi penguat melangkah kedepan. Semua sudah terjadi dan tidak bisa diulang lagi, bahkan tidak bisa diperbaiki. Terima dan jalani sebab Tuhan sudah menentukan demikian. Itu teguran dariNya supaya dirimu bermakna bagi kehidupan. Berhentikan hujaman pisau berkarat yang menoreh kulitmu sendiri. Semua tidak ada gunanya. Merataplah hanya kepada Tuhan karena Dia rindu sifat rendah hati dan ketidak percayaan dirimu. Dua sifat dasar itulah yang membuatmu menjadi istimewa sebagai manusia. Terimalah perubahan yang terjadi dengan bijaksana kali ini. Kembalikan semua kepada titik dasar pemikiran tentang hal hal ideal dalam pengertianmu. Kamu memang dikhianati, disakiti dan dibuat hidupmu menderita. Tetapi kamu lebih kuat dari itu semua.

Hapuslah darah dari sekujur badanmu dengan hangatnya keinginan untuk menjadi baik dan nrimo . rawatlah luka lukamu dan serahkan hanya kepada sang waktu. Bekas bekas goresan di setiap sisi emosimu biarlah menjadi catatan tentang kebaikan yang pernah tersia siakan, sebuah cerita biasa buatan manusia di dunia. Letakkan diri sedikit dibawah orang lain, niscaya kamu akan patuh kepada hatinurani karena ego yang rendah hati. Menempatkan ego lebih rendah dari kata hati terkadang membahagiakan diri sendiri. Berbuat baik itu membahagiakan diri sendiri. Orang bisa dengan mudah mengabaikan hati nurani karena menganggap hubungan yang tidak lagi bermakna. Tidak ada nilai manfaatnya. Menjulangkan ego setinggi tingginya; sombong. Setiap orang memang berhak untuk menurutkan egonya. Tetapi jangan lupa ada etika yang selalu dipegang teguh oleh hatinurani dan sudah  diingatkan kepada akal pikiranmu sebelumnya.

Ego yang menjulang berupa kesombongan diri karena menganggap hidup kita sesuka kita. Makanya sering kali orang yang merasa dikecewakan akan bilang manusia nggak punya hati. Sekarang dan sampai kapanpun, diri adalah pemegang hak paling tinggi atas hidup sendiri. Semua orang juga demikian. Kalau mau ya bisa. Mendengarkan hatinurani itu soal mau atau tidak, bukan soal bisa atau tidak. Kalau kita mau mendengar hati nurani sebelum memutuskan sesuatu, seharusnya tidak akan berulang ulang melakukan kesalahan yang sama. Kamu tidak perlu lagi berkutat mencari jawaban mengapa orang bisa sebegitu tega memperlakukan sesamanya. Terlabih lagi, tidak akan kamu temukan jawabannya  untuk pertanyaan alasan orang bisa begitu tega menganiaya orang lain yang menyayanginya. Itu hanya soal persepsi! Abaikan perburuan beratmu untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang tidak bermanfaat itu.

Jika kamu melakukan kebaikan kebaikan kecil setiap hari tanpa berharap balasan dari kebaikanmu itu, kamu tidak akan mendapatkan apa apa. Juga tidak menjadi lebih kaya atau terkenal. Yang kamu akan terima hanyalah balasan emosional oleh sebab kita menyaksikan kebahagiaan yang berlangsung dalam kehidupan. Juga pemahaman yang lebih dalam lagi tentang apa gunanya hidup. Merasakan cinta dan memberikan apa yang tidak dapat dibeli oleh uang. Dunia menjadi begitu indah dan menarik. Maka tidak ada lagi hal lain yang akan kita inginkan di dunia ini ketika keinginan terbesar dan terbaiknya hanyalah berbuat baik, menebar kebaikan kepada kehidupan.

Hei pemilik badan wadag yang sudah terbelenggu tali pocong tak terlihat, dengarkanlah pamongmu bicara dan hanya padamu bicara. Aku tahu saat ini engkau merasa mati dalam menjalani hidup, tetapi yakinlah kembali bahwa hidupmu adalah anugerah terabaik yang diberikan Tuhan kepadamu untuk menebar kebaikan. Rawatlah kehidupan sebaik baiknya seperti sudah kamu lakukan sejauh ini. Berhentilah mengikuti arus merusak dirimu sendiri dan bertahanlan tetap bernafas sampaiTuhan akan mengirimkan hidayah kedalam hatimu yang gelisah. Kumpulkanlah semua keburukan dan aibmu sendiri sebagai kaca cermin kejadian, lalu jadikanlah itu sebagai energi untuk mengimbangi langkahmu yang terbelenggu.

Serahkan kembali kepada Sang Pemilik Hidup, hei anak ingusan. Serahkan semua kepadanya sebab kamu hanya serpihan debu bagiNya di alam semesta ini.


Surabaya – Jakarta 190902


Tuesday, August 13, 2019

Filsafat Luka


Luka adalah sejarah yang tercatat dengan tinta darah. Dan sudah menjadi aturan dunia bahwa segala yang tampak nyata tidak akan sedalam apa yang terasa dan tidak terlihat mata. Namanya darah, proses tereksposenya kepada dunia luar memerlukan sebuah ritual yang menyakitkan dan tentu saja menyita banyak energi dan kekuatan. Luka bukan hanya akan meninggalkan bekas dan menyebabkan perih terasa. Setiap luka pada manusia selalu menyajikan cerita panjang tentang pergaulan, tentang interaksi antar manusia yang berisi takaran takaran perasaan.


Luka yang tampak oleh mata akan menghadirkan perih yang tak terasa, dan hanya waktu yang bisa menguraikan perihnya. Sayatan pada kulit badan akan membekas menjadi prasasti pengingat peristiwa, meskiupun perlahan akan memudar dan oleh kuasa waktu akan tinggal menjadi bekas penanda. Dari luarnya saja orang akan bisa memperkirakan nyeri dan perihnya, dan ekspresi kesakitan dari yang terluka akan menambah dramatisasi dari empati yang terbangun. Luka yang disengaja tidak akan datang bersama efek kejut yang yang tidak diharapkan. Sudah diantisipasi sedemikian rupa sehingga ketika luka disengaja tercipta, sakitnya  sudah mendahului ke otak untuk berjaga jaga.
Luka yang tak kasat mata lebih mengerikan. Ia menghantam tepat ke poros kehidupan dan jika tidak pandai mengelolanya akan menyebabkan keruntuhan nilai nilai ideal dalam kehidupan bahkan mempengaruhi kewarasan. Jiwa yang terluka, hati yang terkoyak dan perasaan yang tersinggung akan meninggalkan luka yang akan tetap menaganga dalam batin. Luka ini biasanya disebabkan oleh laku durjana dari orang yang kita percaya yang menyebabkan kekecewaan yang teramat parah. Luka ini tidak berdarah, tetapi perihnya ratusan kali lipat dari sekedar luka kulit yang tergores benda tajam.
Lukanya jiwa berbentuk abstrak. Luka sebagai akibat dari laku khianat, sebuah perbuatan yang terstruktur dan disengaja akan menimbulkan kerusakan yang lebih massive. Sayangnya, lagi lagi kerusakan dan luka itu tidak akan tampak oleh mata, dan akan menjadi properti perasaan paling pribadi bagi si korban. Sebuah pengalaman empiris yang akan menimbulkan banyak sekali bahan perenungan dan kesadaran kesadaran baru betapa selama ini keyakinan banyak yang salah dan tidak sesuai kenyataan yang diharapkan. Lagi lagi, orang terdekat dan terakrab kita yang kepadanya kita bisa membagi apapun dalam menjalani kehidupan sehari hari bisa tiba tiba berubah menjadi musuh paling mengerikan dan perkasa. Alasnya jelas, bahwa musuh kita yang perkasa itu tahu persis kelemahan kita ada dimana, terutama jika ia pernah menyaksikan kita terluka sebelumnya; atau bahkan ia juga yang kita serahi kepercayaan untuk membantu menyembuhkan luka di masa lalu. 
Jika penyebab luka fisik adalah karena ketidak sengajaan yang menyebabkan kecelakaan dan kesengajaan orang lain atau diri sendiri untuk membuat luka, maka lukanya jiwa akan selalu datang dari orang lain untuk kita. Kekecewaan lahir dari penyalahgunaan kepercayaan kepada orang lain. Orang yang kita percaya tentu bukan sembarang orang, melainkan memang orang orang yang kita titipkan kepercayaan untuk menjaga hati dan perasaan kita dari kesakitan dan membantu menghindarkan kita dari kesulitan kesulitan atas dasar etika kemanusiaan. Tetapi dalam cerita drama manusia, penghianatan memang terjadi berulang ulang. Seseorang yang menemani langkah kita dengan tangan yang kita gandeng sepanjang naik turun dan tikungan perjalananpun terkadang bisa begitu saja menyembunyikan pisau di belakang pinggang untuk dituskkan ke punggung kita. Orang yang kita percaya sebegitu hebat bisa dengan sekali tebas saja memperlakukan kita seperti sampah.
Tragisnya lagi, si korban tidak akan memiliki kesempatan untuk menghindar ataupun melawan. Menerima dan menjalani semua  kejadian menjadi satu satunya pilihan. Lalu si korban akan sekarat sendirian, sekujur tubuh bergetar menahan luapan emosi yang tidak bisa dicerna dengan akal pikiran yang umum dan sederhana. Kejadian yang menghancurkan sendi kehidapan seperti itu akan berdampak panjang dan luas kepada kehidupan disekitar korban, terutama yang menjadi tanggungan dan tanggung jawab si korban selama kehidupan.
Dalam hubungan laki laki dan perempuan mungkin jamak mengalami hal demikian; dikhianati oleh orang yang disayang. Akan tetapi selalu ada pengecualian dalam setiap cerita manusia di dunia. Pengecualian itu akan menentukan kualitas penghianatan yang bisa ditandai dengan keparahan rusak yang ditimbulkan. Toh tetap saja, rasa bahagia dan menderita adalah domain paling rahasia setiap manusia. Kebahagiaan yang terasa tertularkan melalui berjalannya kehidupan disekitar dengan baik baik saja, sedangkan penderitaan pribadi bisa mempengaruhi timbulnya mendung muram di bumi. Dan bagi orang luar, si korban tak lebih hanya bermain watak; play victim!
Cara belajar paling baik berempati pada orang adalah dengan mengalami menjadi korban.

Karawang, 190813

Friday, June 14, 2019

RISALAH JATUH CINTA



: mp
Pejamkanlah mata dalam tidur tenangmu, dan dengarkanlah jiwaku bersyair untukmu;
Kutulis kesaksian hati, pengakuanku paling jujur kepada diri sendiri. Aku memujamu, memujamu sejak dahulu, dan semesetinya engkau tahu itu. Dan oleh karenanya aku telah jatuh kepada lubang dalam ketidak berdayaanku untuk tidak bersamamu. Bagiku engkau adalah dunia damai yang kutinggali dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari hariku yang normal. Mungkin bagiku engkau juga adalah udara yang selalu ada meskipun kita tidak perlu meminta, ada untuk memberi kehidupan.
Sungguh perasaanku mengalir bagaikan mata air yang tak berhenti menyusuri setiap lorong pikiran dan jiwamu, membawamu juga berselancar disetiap kelok labirin pikiranku. Cintaku padamu hampir sepenuh hati, sehingga membuat logikaku mati fungsi. Aku telah habis habisan membelanjakan perasaankku hanya padamu. Akan kau lihat bahwa cintaku padamu adalah cinta terbaik yang pernah ada didunia. Tidak akan ada engkau temukan pengalaman seperti ekspresi cintaku padamu dalam hidupmu, bahkan dari cerita cerita cinta orang lain yang mungkin pernah kau dengar.
Aku memujamu karena engkau adalah hidupku. Susah, sedih, senang dan bahagianya diriku selalu saja memabawamu untuk ikut serta merasakan, atau setidaknya menyimpan keinginan permanen untuk mengajakmu mengalaminya kelak; suatu saat. Mengajakmu ke tempat tempat yang begitu eksotis seperti yang telah ku ceritakan selalu dalam perjalanan hidupku padamu; setiap hari selama duabelas tahun terakhir ini. Ah, betapa engkau telah menjadi bagian inti dari hidupku; hidup yang bahagia. Selama itu pula kubiarkan diriku larut dalam pemujaan dan menganggapmu sepakat membangun cita cita purba kita; menghabiskan hari tua bersama. 
Engkau tahu, betapa bangganya aku ketika engkau menjadikanku seseorang yang engkau puja seperti halnya aku memujamu. Aku memujamu karena kesederhanaanmu. Juga sikapmu yang seolah selalu menjadikan aku bagian penting dari hidup keseharianmu. Ah, aku telah jatuh cinta padamu sejak lama, lama sekali sampai kuyakini selama itu bahwa perasaanmu juga sama denganku; mengagungkan hubungan rahasia kita. Kita sudah tidak lagi merahasiakannya, karena perasaanku yang tertuju padamu adalah nyata. Bahwa aku teramat menyayangimu, itu pasti. Bahwa aku takut kehilanganmu, itu juga pasti, sebab tanpamu bagiku tidak ada kehidupan di dunia ini. Aku akan memilih mati.
Akan kuceritakan saja padamu tentang masa depan dalam khayalanku, sekalian untuk mencurangi masalalu yang terus saja memprovokasi pikiranku. Hidup bersama denganmu adalah cita cita dan impianku sejak dulu. Cita cita dan impian itu kusimpan begitu rapat menjadi rahasia yang kusembunyikan darimu, oleh sebab sesuatu.  Didalam kehidupan batinku, duniaku adalah kamu. Ingin rasanya menghauskan pertanyaan pada diri sendiri tentang keputusanmu yang menghancurkanku belakangan, tetapi itu hanya akan mengorek luka yang bisa meradang kapan saja; terutama pada saat salah makan.
Tumbuh tua bersamamu, maka fisik kita sudah jauh berkurang dari kondisi sekarang. Tidak apa, cinta tidak akan tumbuh menua bersama usia. Rasa cintaku rasanya akan abadi dan tidak mengenal dimensi ruang dan waktu. Setuju tidak? Lihatlah kita sayangku; terpisah 11.217 kilometer, tetapi kita lebih dekat dari siapapun. Kita juaranya. Tumbuh tua bersamamu, kita akan menjadi manusia yang sederhana; hanya saja penuh cinta. Selama duabelas tahun ini saja aku sudah merindukanmu setiap hariku, dan setiap pertemuan adalah keajaiban yang ingin kuabadikan. Coba bayangkan, betapa bersyukur bahagianya hidupku jika setiap hari dapat bertemu denganmu. Akan terjadi keajaiban setiap hari, setiap kali aku bertemu denganmu. Bagiku, kesanku padamu tentang engkau sebagai malaikat penyelamatku tetap ada dalam hatiku.

Khayalku tentang masa depan denganmu seolah nyata dan menjadi patron dalam hidupku. Aku percaya bahwa ketika hati kita kuat memohon, maka Tuhan akan mengabulkan. Kita hanya tidak akan tahu kapan Tuhan akan mengabulkan keinginan kita. Keinginan sederhana saja, hidup bersama dihari tua, menikmati cinta sepenuh jiwa. Kita akan menanam untuk apa yang ingin kita makan. Menumbuhkan dan memelihara tetanaman yang menghasilkan sesuatu adalah keajaiban yang bisa kita syukuri setiap hari. Kita akan membiasakan diri untuk menggali lebih dalam segala sesuatu, karena disana akan kita temukan keindahan. Dari sekian banyak hal sederhana yang kita pandang sebagai keindahan, maka akan terbentuk dunia kita yang serba indah. Indahnya akan cepat mengubur masalalu, dan menjadi tembok penghalang supaya demons tidak bisa menyeberang.
Sayang,
Jika tumbuh tua nanti, hitunglah keriput di wajahku ketika aku tertidur. Terjemahkanlah setiap garis keriput kulit wajahku sebagai cerita panjang tentang segala pengalaman hidup yang kubagi denganmu. Aku telah menahbiskan diriku untuk menjadi manusia kaca bagimu, manusia transparan yang bisa engkau lihat seluruh isi kepala sampai ke dada. Bahkan lebih daripada itu, kuajak engkau untuk hidup senafas, terhubung dalam gawai di setiap gerak dan ucap kita. Itu semua agar engkau tahu; tidak ada sesuatupun yang kusembunyikan darimu. Bukahkah itu akan membuatmu merasa nyaman dan percaya pada perasaan cintaku padamu? Jika engkau terganggu ragu, kekasihku, tengoklah ke belakang, kali ini salami lebih dalam segala isi perasaan yang kusimpan dalam tulisan. Atau, cukup ingatlah kembali; seseorang yang selalu menyapamu setiap hari selama duabelas tahun tanpa henti. Aku rasa akulah satu satunya lelaki dalam hidupmu yang mampu se konsisten itu dalam merawat sebuah hubungan. Aku merasa nyaman denganmu, merasa bahwa aku berhak memiliki dunia rahasia yang berisi bahagia, dan dunia rahasia itu hanya dihuni dua orang saja; aku dan kamu!

Kuceritakan kepadamu tentang harapan harapan yang kusimpan rapat dan menjadikanku semangat. Harapan itu  seperti jimat yang membuatku selalu berusaha baik dalam berbuat. Kupersembahkan dan kupamerkan semua pencapaianku padamu. Bagiku, kebanggaanku adalah bisa membuatmu bangga, dan kebahagiaanku adalah mampu membuatmu hidup bahagia. Aku telah hidup bahagia bersamamu selama ini, maka tidak akan sulit menurutku untuk membawamu ke dunia bahagiaku itu. Menjaga, mengambil alih semua cemasmu dan melayanimu setiap hari adalah harapan paling sederhanaku. Aku tidak peduli bagaimana itu nanti bisa terjadi, kerena seperti kataku sebelumnya, telah kumatikan logikaku hanya untukmu. Akan kuajak engkau ke tempat tempat yang pernah kuceritakan, dan akan kuceritakan padamu tentang perasaanku padamu pada saat dulu aku di tempat itu.  Kita akan tua, keriput dan satu persatu pesendian tulang kita akan menyerah. Tetapi itu semua tidak akan membuatku tunduk lemah. Bagiku, kekaguman dan rasa sayangku padamu bukan tumbuh dari faktor yang tampak kasat mata. Kecintaanku padamu tumbuh dari sesuatu yang terasa dalam hati dan jiwa, bukan dari yang tampak dari mata.
Demikianlah, rasanya kata dan kalimat tidak akan pernah cukup untuk dapat mengekspresikan perasaanku padamu, dan betapa besar rasa cintaku padamu. Seluruh persediaan kata dan kalimat hanya untuk menyanjungmu, mengutarakan isi hatiku tanpa sungkan dan malu. Bagiku engkau adalah hidupku sendiri, tujuan dan juga inti dari seluruh kehidupanku. Lihatlah aku sayang, yang babak belur melawan pikiranku sendiri dan kemudian memilih jalan perih bersamamu. Apapun asal bersamamu, maka kuyakin bahwa Tuhan memberikan keajaiban yang kita butuhkan. Bukankah kita sudah membuktikan itu berulang ulang?
Cintaku,
Pertanyaan gamang tentang candaan atau sindiran tentang kesetiaan cinta yang kita bahas satu kelumit itu melintas begitu saja. Betapa cinta telah melukai begitu banyak anak manusia, bahkan membunuhnya. Dan betapa perasaan manusia dapat berubah menurut situasi dan waktu. Aku takut suatu saat tiba tiba datang kesadaran rasionalmu dan kemudian diam diam menjauhiku, bahkan mungkin ‘membunuhku’. Engkau tahu, aku hampir mati hanya oleh kekecewaanku pada sikap tak terpujimu sebelumnya. Sebenarnya masalahnya sederhana, aku hanya tidak mau kehilangan kamu. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Bagiku, tetap memiliki kamu dalam dunia batinku adalah sepadan dengan pedih perih yang harus kulewati sendirian. Itulah perjuangan, menurutku. Memperjuangkanmu hampir merenggut semua kehidupanku. Aku ingin bangkit dan kuat lagi agar mampu menjagamu kelak. Aku ingin kepalaku tegak lagi dengan senyum lebar kesukaanmu di bibirku, agar aku mampu mengadopsi semua kecemasan dan ketakutanmu. Aku ingin menjadi manusia istimewa buatmu, sekarang dan selamanya.
Soal siapa yang kemudian akan memicu candaan dan sindiran soal kesetiaan cinta, aku rasa aku cukup yakin dengan pengalaman batinku sendiri bahwa perasaanku akan tetap lebat seperti duabelas tahun belakangan ini. Cintaku padamu tak berkurang dan tak tergoyahkan meskipun jarak dan waktu memenjara kita dalam rindu yang menggebu. Kita sudah terbiasa begitu, terbiasa menahan rindu, dan jarang bisa bertemu. Tetapi tahukah kamu cintaku, kondisi itu membuat perasaan cinta yang tumbuh dalam jiwaku menjulang tak terlawan. Aku ingin kamu merasakan cinta terbaik, dan cinta terbaik itu akan datang dariku; seperti biasa.
Kekasih,
Rasanya tidak akan ada selesainya aku menuliskan isi perasaanku padamu. Maka akan kuajak engkau dalam setiap gerak dan tarikan nafasku supaya engkau tahu bahwa disana selalau ada kamu yang menemaniku. Selamilah setiap lorong dan labirin rahasia pikiranku agar tenteram jiwaku untuk menitipkan hati rapuh pada perawatanmu.
Jangan jauh jauh dariku, sebab hanya padamu aku berharap. Kuminta bersetialah pada cinta kita seperti kisah kisah epic fiksi. Jadilah dirimu sendiri seperti sekarang ini, bebaskanlah dirimu dari kungkungan keharusan yang hanya akan menyenangkan orang lain tetapi menenggelamkanmu. Ingat selalu bahwa ada aku yang selalu membanggakanmu, ada aku yang selalu kagum kepada pencapaianmu. Aku mengingat semua proses metamorphosismu sejak kita pertama bertemu. Dan lihatlah sekarang, bahkan pelosok dunia adalah tempat bermainmu sekarang; tempat yang bahkan tidak sempat melintas dalam pikiranku. Dan sikap manismu padaku itu, yang tetap menempatkanku beberapa langkah didepanmu – itu katamu. Insan mana yang tidak lemas dan bangga diperlakukan seperti itu?  Kebanggaan seseorang adalah ketika seorang yang diistimewakanya menempatkan dirinya sebagai orang yang memberi pengaruh baik dan  menempatkan diri sebagai manusia yang baik. Aku adalah kekasih terbaikmu, dan aku tahu itu; dan engkau lebih tahu tentang itu.
Aku mencintaimu sungguh sungguh. Lihat langkahku, mengayun maju; menuju kamu. 
I love You 3000x.
Bambuapus, 190529




Tuesday, May 28, 2019

Larungan


:MP

Dari ketinggian jelajah tigabelas ribu kaki dan terus menurun, pulau tujuan itu nampak seperti seonggok kotoran yang terapung di luasnya air berwarna biru. Kerlap kerlip riak ombak tampak seperti permata yang menyambut pesawat kecil yang terombang ambing dipermainkan altitude. Langit begitu cerah dan biru, awan gemawan mengambang disekitaran seperti kapas dan kembang gula. Warnanya yang putih berlarian ke belakang seolah menyilahkan diri untuk datang mencicipi bumi baru, bumi larungan tanpa masa lalu.

Bandara yang lebih menyerupai airstrip menyambut dengan guncangan dan sedikit kecemasan akan terjadinya celaka diperjalanan. Angin berhembus membawa bau laut menyapu wajah, memperkenalkan diri sebagai tuan baru bagi diri dengan batin kosong melompong yang berkehendak membuang diri ke dalam ketidak tahuan orang orang yang pernah dikenal sebelumnya.

Salam kenal wahai Larungan, bumi kecil tempat masa depan akan terancang dengan hati hati. Luka dan dendam yang tersimpan di hati akan menjadi pengigat abadi dan penghias bagi gemilang yang nanti mungkin menjelang. Kamp kecil menyambut, diiringi oleh sopir penyambut yang langsung memperkenalkan diri begitu kaki menginjak pintu keluar bandara kecil dan sederhana itu.

Berkendara dalam mobil double cabin dan sambil mendengarkan pak sopir berceita tentang tempat tempat, bangunan beratap seng, pagar pagar kawat dan marka marka menunjukkan bahwa inilah areal tambang nickel yang menjadi ladang pangan dan sekaligus arena mengaktualisasikan diri bagi begitu banyak orang, begitu banyak nyawa. Tantangan dan rintangan tidak akan menghalangi, sebab diri datang hanya membawa nyawa yang terbuang.  Betapa sendirinya manusia hidup membawa semua kehidupannya.

Masa lalu telah mati, roboh oleh khianat kekasih hati, sebuah istana batin yang runtuh sekali sentuh oleh dia yang paling memahami cara menyakiti. Catatan catatan kekaguman dan kesetiaan telah berubah menjadi duri duri pengingat sakit hati yang tidak akan tercabut sampai akhir hayat nanti. Perihnya melebihi perih dari kulit yang tergores oleh pisau cutter pada saat kepala hanya berisi api. Amarah yang membuncah setiap siang malam bahkan sampai ke alam mimpi menjadi rahasia paling pribadi yang tidak satu orangpun yang akan mengetahui. Luka itu dibawa dari pertarungan diam yang sangat panjang, dicetuskan oleh penghianatan yang diulang oleh malaikat yang dulunya menolong ketika mulut tak kuat lagi mengerang kesakitan.

Alam baru yang serba asing seolah tunduk oleh diri yang tak lagi berpribadi, tak ber masalalu dan tak punya harga selain nyawa yang dibawa. Hewan dan tumbuhan seperti memaklumi keadaan diri yang polos tanpa tendensi. Akulah orang baru yang terlahir dari badai yang menderu. Masalaluku telah mati bersama dengan orang orang yang tercintai. Hanya badan dan kaki sedikit pincang yang akan bertahan mempertaruhkan nyawa demi masa depan. Akulah manusia baru di bumi Larungan, yang berharap dari puing ingatan akan tumbuh dunia baru dengan harapan harapan baru dan mimpi mimpi yang baru. Duka lara kusimpan dalam diam, kujadikan kenangan paling kelam dalam sejarah kehidupan.

O, Larungan yang cantik, sebentar lagi akan menjadi surga tak bertuan dimana aku akan menjadi raja bagi diri dan keinginganku sendiri. Persetan dengan semua yang datang hanya untuk menyakiti sesudah sekian tumpuk kesetiaan tercatat rapi. Kesedihan yang terbawa akan mejadi alas tidur diam diam dimana tak seorangpun akan dapat mengeja kisahnya. Semua terkubur hanya dalam ingatan meskipun sesekali menyeruak berontak dari otak di dalam mimpi yang samar samar, didalam tangisan tak sadar yang liar.

Luka dari seluruh luka, sakit dari semua sakit terbawa dalam dunia diam. Erangan dan jerit kesakitan harus ditahankan demi menerima dan menjalani takdir yang diciptakan para durjana. Kekecewaan dan kesedihan harus ditahankan dan dirahasiakan oleh sebab mustahil dapat melupakan. Malaikat kecil berambut ikal, yang telah berubah menjadi iblis keji tidak akan dapat berubah jadi malaikat lagi. Hati yang terlalu dalam mencintai telah terlanjur koyak dan bernanah kini. Koreng dalam jiwa masih membiru ketika langkah kaki menapaki halaman kantor tempat satu satunya diri merasa diterima dan ada; disini di tempat yang jauh dimana tidak seorangpun tahu: Larungan.

Pulau Larungan akan berarti pula menjadi obituari yang bermakna pulau Kabar Duka,  akan menjadi bumi baru tempat semua masalalu terpendam rapi dalam api abadi dalam hati. Pulau itu tidak terlalu besar, tidak ada kota yang ada hanya rumah rumah penduduk beratap seng disepanjang tepi pantai yang landai. Kapal ferry datang setiap tiga kali dalam seminggu untuk mengantar perbekalan dan sarana transportasi. Pesawat rintis akan datang dua kali dalam sebulan yang lebih banyak digunakan charter oleh perusahaan tambang yang seolah seenaknya sendiri mengeksploitasi bumi kecil Larungan.

Mercu suar tempat kantor baru berdiri sendirian sejak zaman Belanda. Berdiri tegak dan tegar selama puluhan tahun kesendirian. Aku ingin belajar dari keteguhan sang suar, atas kesetiaanya kepada alam dan memberi kebaikan bagi kehidupan para pemakai jalur pelayaran. Ditempat itu hanya sepi dan isi hati yang berbincang tanpa henti. Jutaan kata kata dan kalimat akan tersusun dalam berjilid jilid kisah indah tentang cinta yang tak pernah terjadi di dunia nyata. Kisah kisah tragis tentang penghianatan dan sakit hati akan tertoreh dengan indah hingga tak seorangpun pembaca akan menyaadari betapa dalam luka yang diderita sang penulisnya.

Inilah manusia kosong berbatin compang camping yang melarungkan diri ke tempat paling sepi. Berharap suatu saat disinilah dia akan bertemu mati. Kehidupan nun jauh diseberang akan tetap dipelihara sebagai kewajiban menjadi manusia. Sementara, jiwa yang merana melarungkan diri ke tempat yang tanpa alamat. Satu dua orang sahabat telah menjadi kerabat yang tak tertandingi. Kepada mereka tertitip pesan agar jasad tanpa nyawa milik diri seorang kelak dapat dipulangkan ke hangat dan damai pangkuan bunda di kampung halaman dan tak perlu kenangan khusus atasnya; cukup menuliskan nama di batu nisannya.



Bambuapus 190312

Saturday, May 25, 2019

Perang Fiksi

: MP

Ibaratkan badan, kamu adalah tangan kanan sedangkan aku adalah tangan kiri. Tangan kanan menggenggam belati tajam, mamiliki daya serbu dan daya  rusak sedemikan kejam. Tangan kanan lebih dominan. Sedangkan aku adalah tangan kiri. Tidak terlalu banyak fungsi kecuali melengkapi keperluan tangan kanan. Tugasku melindungimu,  menangkis serangan dan menyokong tangan kanan jika membutuhkan. Tugasku hanya memberimu keseimbangan dan pemenuhan atas segala yang kau butuhkan.
Suatu hari tanpa sebab, aku kau lukai dengan belatimu yang selalu terhunus. Dilukai begitu saja tanpa kamu merasa seolah rasa sakit itu ada. Nyerinya sampai ke tulang seketika, perihnya melumpuhkan hampiir seluruh kehidupanku. Aku jatuh pingsan dihantam kenyataan. Ketika siuman, badanku sudah penuh luka goresan. Darah menyembul dari kulitku yang koyak lalu mengering di tempat, menegaskan garis garis sayatanmu. Aku mungkin sekarat, tak sanggup mengangkat martabat yang kau tumbangkan. Duniaku hilang seketika, berganti dengan kebingungan yang membingungkan bingung. Matahariku padam saat itu juga.
Hingga kemudian kutemukan gudang setan, tempat demons hidup dan beranak pinak. Kutemukan ruang ruang kenyataan masalalu yang melulu  berisi perihnya dicurangi; sakitnya dikhianati. Aku kecewa karena kamu sampai hati menyakitiku. Aku kecewa karena aku kira akulah rekan terbaik dalam hidupmu, seperti aku menganggapmu sebagai bagian dari kehiduapnku, bagian dari duniaku. Tetapi yang membuatku paling kecewa adalah bahwa telah kau serahkan kerhormatanmu yang selalu kujaga kepada tubuh lain. Aku kecewa dan mengutuk diriku sendiri karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Tetap tidak bisa kumengerti alasan sebab kamu tega menikamku, justru pada saat aku tengah mendukung perjuanganmu. Aku sangkakan aku pendukung tunggalmu, hingga kusembunyikan letihku darimu hanya agar kamu tidak mencemaskanku. Kecemasan itu adalah bagianku, bahkan cita cita rahasiaku adalah mengadopsi semua kecemasanmu. Tapi aku kecewa kamu menghianati ketulusanku.
Kuratapi lukaku penuh penghayatan. Aku berada di level paling bawah, paling dasar ketidak berdayaanku melawan. Seluruh persediaan kekuatanku  sudah kukerahkan, mencengkeram ledakan sakitku dalam pikiran. Hidupku menjadi berantakan. Langkahku menjadi tanpa arah (atau, barangkali memang aku tidak pernah melangkah).  Aku hanya tinggal punya nyawa saja. Aku merasa tidak layak berada di dunia tanpa cahaya ini. Sakit yang kau beri telah berporses menjadi koreng menganga berwarna biru, merah dan hitam kotor. Lukanya membengkakkan bagian lengan yang tak terluka disekitarnya. Rasa sakitknya menyebabkan kesakitan ke seluruh kitaran kehidupan tangan kiriku, bahkan sampai ke seluruh badan –mungkin termasuk kamu. Lukaku dapat kau lihat dan kamu bisa berempati. Tetapi sebenarnya hanya aku yang bisa merasakannya sendiri, menerima dan menjalaninya sendiri. Kamu tidak akan pernah bisa merasakan karena yang terluka adalah aku, bukan kamu.
Kamu tahu tentang luka? Setiap luka adalah gerbang terbuka bagi masuknya bakteri maupun virus yang bertebaran tak kasat mata. Macam macam virusnya, tetapi akan lebih mudah untuk menginventarisir akibatnya. Virus dan bakteri berbahaya dan mematikan dapat masuk ke seluruh badan melalui luka yang kamu buat ini. Perjalanan kuman dalam badan akan menyebabkan berbagai penyakit mengerikan yang pernah kita dengar di dunia kedokteran. Bahkan konon luka terbuka juga dapat menyebabkan infeksi yang bisa menyebabkan kematian atau minimal amputasi.
Kamu adalah bagian dari ruh diniaku, tidak mungkin aku akan sanggup menyebabkanmu sakit atau sedih. Tugasku adalah melindungimu! Kutahankan sakitku sekuat kuatku. Bukan sakit pada luka terbuka buatanmu, tetapi sakitku meladeni pikiran pikiran buruk yang datang tak kenal waktu  dan tak kenal berhenti. Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu hingga kamu sampai hati melukaiku. Pertanyaanku tentang mengapa kamu lakukan itupun hanya membentur di udara, tidak menemukan jawaban logisnya. Begitu banyak argumentasimu bahkan kepada hal hal yang berniat membuatku merasa diunggulkan olehmu, tetapi toh kenyataanya kamu memutus urat nadiku karena lalai pada keberadaanku. Secara template sudah semestinya kamupun turut menjaga dan memelihara sinergi kita, bukan malah meremukkannya. Aku menyesalkan apa yang sudah kamu lakukan; bukankah sudah berulang kukatakan untuk tidak lagi memberiku kejutan buruk bagi hidupku?
Lukaku masih bernanah, menjijikkan bagi siapa saja yang melihatnya. Engkaupun pasti malu memiliki partner seperti keadaanku sekarang. Hari hariku muram oleh menekan perang fiksi yang terus saja terjadi. Perang dalam pikiran antara kemauan hati dan nasehat bijak dari logika. Perang itu semakin meriah saja dengan banyaknya rahasia yang kamu sembunyikan dariku selama dua tahun keparat itu. Selama itu pula setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari engkau dustai aku. Dan selama itu pula setiap detik, setiap menit, setiap jam dan setiap hari aku memujamu, menempatkanmu di tempat paling istimewa dalam batinku. Tetapi rupanya engkau memilih nyaman dengan mendustaiku.
Perang fiksiku telah meluluh lantakkan kebanggaan dan harga diriku. Seluruh pencapaian dan kebanggaanku telah runtuh dan sia sia bersama penghianatanmu. Aku telah menjadi cacat oleh sebab apa yang kau perbuat. Aku terpuruk dalam ketidak berdayaan yang gelap tanpa cahaya, dan kamu enteng saja menganggap semua hanya masa lalu  belaka.
Harus kuterima dan kujalani semua seperti pintamu, seperti rencanamu. Sayatan hanya akan meninggalkan bekas luka, tetapi sakit yang didalam akan terbawa sampai hidupku berganti alam. Terimakasih karena kamu telah mengantarkanku tepat ke pintu lorong panjang bernama kematian.

Kost,
190524

Wednesday, May 08, 2019

Surat Kepada Embun




Dear Embun,
Ini aku, Matahari. Bicara kepadamu seolah kamu masih ada didalam bagian nisbiah hidupku; di alam batinku. Nyatanya sebuah peristiwa telah menjauhkan kedekatan gaib kita, menjauhkan masing masing kita dari jangkauan keinginan setiap kali kita membutuhkan telinga berisi hati. Bicara yang selalu menenangkan dan menguatkan setiap kali serangan amarah bercampur sedih karena kecewa datang mencengangkan sekaligus melumpuhkan.
Kali ini aku  ingin bicara mengenai perang di negeri senyapku, di batin yang menyelubungi seluruh kisah hidupku. Para iblis yang kita kenal dulu telah menjadi jinak oleh waktu dan ketabahan kita dalam meladeni setiap seranganya, tetapi aku sudah lupa bagaimana menghadapi mereka diwaktu itu, aku butuh ilmu untuk menghadapi mereka dari kamu.
Ingatkah kamu, kita bertemu di savanna kosmos maya bertahun silam; sama sama menyembunyikan luka dendam. Buah dari keyakinan kita pada kesetiaan; luka hati oleh sebab mencintai! Kita berjalan sempoyongan di dunia yang penuh dengan aturan kewajiban ini, kemudian tanpa sengaja bergandengan tangan ketika tubuhmu limbung oleh serbuan ingatan masa lalu, dan aku ada disana memapahmu spontan. Kamu hanya perlu telinga dan hati untuk menterjemahkan betapa berat bebanmu dan betapa perih lukamu. Lalu kamu hanya perlu seorang yang memanusiakanmu, menempatkamu sebagai sesuatu yang penting didalam hidupnya. Dan itu aku.
Sedangkan aku waktu itu, kubawa lukaku yang beribu ribu dalam bisu. Di langit ku pahat jeritan jeritan kesakitan dengan indah, berharap sama sepertimu; menemukan telinga dengan hati dan menjadi manusia bagi seseorang. Aku perlu sejuk embun untukku sedikit berjeda dari perang batin yang berkepanjangan. Aku hampir bangkrut kala itu, tidak lagi memiliki tempat didunia dan terus saja batin mengingkari masa lalu dan pesimis memandang masa depan. Aku perlu seseorang dengan mata hati seteduh embun pagi. Dan itu kamu.
Demikianlah kita kemudian mempertontonkan perang yang sama. Perang dalam diam yang menghancurkan hampir semua sendi kehidupan. Perang itu hanya terjadi dalam pikiran. Pertentangan antara hati dan logika, pertentangan antara standard ideal dan kenyataan yang mengecewakan. Kita membawa kehancuran masing masing dan menghitung berapa banyak hal baik yang sudah mereka sia siakan. Perang batin itu sendiri adalah buah pertentangan dan protes diam diam di hati dan pikiran. Jutaan pertanyaan demi pertanyaan yang menyebar pada pertanyaan pertanyaan anakan tentang “bagaimana mungkin hal seburuk itu bisa terjadi ?”. Sampai lelah logika menentangnya hingga dada luluh lantak oleh fakta bahwa khianat itu memang benar benar terjadi dalam hidup kita. Kita sama sama dikhianati oleh orang yang kita cintai, orang yang kepadanya kita titipkan hati rapuh kita. Rasanya kita telah salah memilih titipan hati.
Maka kemudian kita menghadapi perang yang sama. Gerombolan demi gerombolan pengacau kedamaian memporak porandakan pikiran, dan kita tidak berdaya dibuatnya. Kita dianiaya sesuka mereka dengan cara semau mereka. Perihnya luar biasa, panasnya bagaikan api neraka (kira kira). Terkadang kita memilih gila saja daripada hidup hanya membawa nyawa – tanpa cita cita. Mati sengaja bukan menjadi pilihan karena kita terpaut pada kewajiban moral untuk tetap menjadi kita; untuk seorang manusia kecil titisan ruh kita. Hal hal tak rasional terkadang terlintas begitu saja, berharap  perang dalam batin kita lekas berakhir. Kita memvisualisasikan diri kita sendiri sebagai si korban, berkelahi tanpa henti dengan segala macam alasan penghianatan itu sebagai musuh abadi. Kita menyebutnya demons!
Mbun,
Untung aku ketemu kamu. Benar benar laksana embun, hadirmu membuat perangku berjeda. Datangmu membawa sejuk pada waktu yang tidak pernah mengecewakan. Kiranya Tuhan mengirim keajaiban itu melalui kamu. Jika demikian, sekarang aku paham bahwa kamulah malaikat itu kala itu. kita jadi merasa tidak sendiri lagi. Luka luka yang kita bawa dari negeri empiris masing masing dapat redam hanya dengan saling berjabat tangan lalu bergandengan. Dan kita jadi saling mengenal demons masing masing lengkap dengan sifat dan tabiatnya. Aku menopangmu ketika demonsmu menyerbu, dan kamu menyediakan tanganmu membelai kepalaku ketika demonsku  mengamuk merajalela dan aku kalah olehnya; membakar seluruh isi kepala. Lama lama kita jadi kuat, sekuat ikatan dalam batin kita yang penuh dengan rasa hormat. Kita menemukan keajaiban berupa harapan justru pada saat diam diam kita putus asa bahwa akan ada cahaya yang bakal bisa sedikit saja menyinari pekatnya hati.
Meskipun sekarang kamu sudah tidak dalam jangkauanku, tetapi kamu tetaplah embun. Kepada dunia kamu tawarkan damainya kebaikan hati. Kamu tetap saja menyejukkan isi dunia, terutama mereka yang menghayati dan memahami apa makna penderitaan. Itulah kenapa aku tetap bercerita padamu tentang demons baruku;

Demons yang menganiayaku kali ini jauh lebih perkasa dan jahat. Hasil tetasan dari seseorang yang pernah kusangka malaikat. Dia, yang datang setelah pergimu ke dunia baru dengan harapan baru. Pergimu tak melukaiku, tetapi justru menghadirkan bahagia yang membuncah karena semua berjalan baik, dan kesan yang kita tinggalkan pada lambaian terakhir di stasiun itu adalah kesan kebaikan, hormat dan kasih sayang tulus antar hati manusia. Demons kali ini hampir memadamkan cahaya yang kupelihara susah payah. Dampak kerusakan yang ditimbulkannya sepuluh kali daripada bencana pertama dulu; bencana yang kamupun juga tahu. Maaf jika kemudian cerita ini seperti anak kecil yang mengadu karena dizalimi oleh teman bermainnya. Tetapi sifatnya sama seperti dulu juga, bahwa mengagungkan cinta ternyata harus ditebus dengan duka lara. Ah tetapi rasanya tak patut lagi aku membeberkan kisahku kali ini.
Anyway, setidaknya aku masih bisa menulis untuk kamu yang tinggal menjadi imajiner bagiku. Aku sendiri telah kehilangan kebanggan masa lalu dan harapan cemerlang hari depan yang sempat aku yakini tidak akan tergoyahkan. Aku terjerembab pada kenyataan pahit tentang mencintai dengan setulus hati yang berakhir dengan sebuah perbuatan jahat yang amat keji. Kali ini juga aku tidak bisa menghindar lari. Semua yang kujaga telah runtuh, sedangkan pada saat yang sama dia telah menjadi bagian dari keseharianku  untuk waktu sangat lama meskipun hanya kebun rahasia. Tiba tiba semuanya menjadi tidak berarti lagi. Setiap hari bersusah payah aku berusaha untuk tidak memilih mati, dengan cara cara yang mempercepat datangnya mati. Aku menjadi tidak menghargai apa apa lagi di dunia ini. Nilai nilai yang selama ini kupelihara sehingga berusaha hanya kebaikan yang terjadi, seolah olah tidak ada makannya apa apa lagi.
mbun,
Manusia yang katamu hatinya terbuat dari emas ini hidup dengan hanya sekedar hidup. Baginya ia hanya ingin menjalani sisa nafas ini sampai ajal tiba. Bahkan belakangan ia banyak berpikir untuk menghindari dunia. Baginya sudah tidak ada lagi tempat nyaman didunia ini, karena penghianatan yang bejalan begitu lama telah meninggalkan pos pos berisi jutaan beling disetiap jalanan kota kota dan tempat tempat, bahkan disetiap sudut ingatan yang menyimpan kenanagan duabelas tahun kebersamaan. Disanalah mereka mentertawakan kenaifanku, melecehkan intelgensiaku bahkan menginjak injak martabatku sebagai manusia. Untuk waktu yang sangat lama, terlalu banyak peristiwa yang bisa aku analisis menjadi sebuah cerita pilu bagiku sendiri. Cerita pilu itu akan berlangsung lama sekali, sampai nanti datangnya mati.
Saat ini aku hanya bisa menunggu, menunggu malaikat datang menjemputku. Aku telah kehilangan banyak darah dalam perangku kali ini. Luka lukaku terlalu parah dan tenagaku sudah lelah. Sekuat hati aku bertahan, sepenuh tenaga aku melawan mereka. Kali ini aku sendirian. Selain kamu sudah tidak dalam jangkauan, satu satunya yang aku harapkan justru induk dari demons terkutuk itu.
Aku tahu, kamu bukan lagi menjadi pawang demonsku seperti dulu. Meski begitu, oleh kebaikanmu, setiap kali demons menyerbu, bentakan parau, menjerit dan menghina di kepala, atau meneriakkan cerita cerita hasutan, kata kata caci maki dan kekeh tawa kesenangan mereka, kata katamu bagai setetes embun di kemarau abadiku; “yang mereka katakan semua adalah bohong, tidak benar. Tetaplah kuat, kalahkan mereka wahai manusia tangguh matahariku”.
Aku masih berjuang, melawan dan berusaha tetap hidup meskipun kakiku tak punya pijakan.

Jaga dirimu baik baik selalu.
matahari

Gempol - 190507