Tuesday, February 28, 2006

Episode jam makan siang

Berhenti sejenak wahai kejenuhan, ketika tiga tanda titik menjadi jeda bagi kelelahan fikiran mencari cari kemana perginya sang akal setelah dari pagi dibentur benturkan pada kemuakan demi kemuakan yang melelahkan, melumpuhkan.

Orang orang pergi, mengejar dunianya sendiri sendiri, menciptakan hidup mereka sendiri sendiri setelah bosan mendengarkan keluhan demi keluhan; yang itu itu juga. Hanya yang itu itu juga tak beralih juga tak berpindah.

Segala puja bahkan sekedar kata simpati telah pergi, jauh meninggalkan diri. Deret demi deret kata tak lagi punya makna, hanya pemaksaan atas ketidak relaan hati menerima bahwa semua sudah padam, layu diseret seret oleh kemeranaan yang diam.

Sapaan “apa kabar?” hanya sekali terlontar, itupun tadi pagi ketika matahari belumlah meninggi. Lalu hilang tanpa kesan. Jelas sekali hanya angin musim yang kesasar dan meniup nyala cinta yang telah padam, memunafikinya menjadi semacam prasasti bahwa hati pernah memiliki persinggahan yang menenteramkan.

Setengah pertama catatan hari berlalu dengan beban hampa bernama kesia siaan. Menghitung angka, menanti jarum jam menunjuk angka lima sementara setumpuk kewajiban ditumbuhi ilalang dan semak belukar ketidak mengertian, jauh dari sentuhan. Terdampar dibawah matahari yang tiba tiba menyilalukan, setelah berjuta tahun memberi penghidupan.

Mungkin sebaiknya padamkan saja hati, bungkam mulutnya, sumbat telinganya dan ikat matanya supaya hari berjalan tanpa rasa, tanpa cemburu apalagi curiga sebab pemberontakan yang terjadi dibalik kepala datang dari setiap panca indera.

Sepi, hening mencekam pada jam makan siang. Semua orang pergi tertawa didunia mereka sendiri sendiri….


Graham Simatupang, 060228