Thursday, January 26, 2006

Psikotis

Apakah orang yang telah mengalami peristiwa mengerikan akan dengan mudah pulih, apakah bara dalam sekam itu sungguh-sungguh padam? Apakah individu tersebut sudah siap untuk berinteraksi seperti dahulu lagi, bebas dari kebencian, sakit hati dan rasa takut berlebihan.

Gerakan rekonsiliasi telah menyatukan kembali berbagai masyarakat di kancah peradaban dunia. Namun, apakah telah menyatukan keperibadian sesorang yang telah tergores bahkan terpecah oleh luka yang mendalam? Peristiwa traumatis jika tidak disembuhkan akan memberikan dampak yang mendalam, yang akan menjadi bayang yang selalu mengikuti orang yang mengalaminya. Bayang yang mengikuti tersebut akan merusak hubungan sosialnya, relasi dengan keluarga, rekan kerja bahkan dengan dirinya sendiri

Rekonsiliasi pihak yang berkonflik perlu disertai rekonsiliasi batin. Rekonsiliasi yang bersifat sangat personal, yang terjadi dalam batin individu. Rekonsiliasi batin ini dibutuhkan agar individu yang telah melalui perjalanan pahit, menjadi pribadi yang utuh dan sehat serta siap kembali ke keluarga dan masyarakatnya.

Otherwise, dia akan menjalani sisa hidupnya dalam kepincangan psikis, cacat mental secara permanen dan menjadi ganjil dilingkungan sosialnya, bahkan menjadi psikotis, orang gila yang tak diurus pemerintah mengembara dijalan jalan dengan dunia yang hilang dibalik kepalanya.

Kenapa orang bisa menjadi gila, kehilangan akal dan ingatanya? Symptom kegilaan pasti ada gejalanya seperti scizofrenia, insomnia maupun hysteria. Tetapi pada tahap ‘gejala’ itupun sebenarnya jiwa sudah terganggu, masuk pada stadium awal gangguan kejiwaan yang lebih umum disebut gila atau lebih lazim dibilang ‘stress’, sinting padahal dia hanya kehilangan fikiran rasionalitasnya, kehilangan logika.

Orang yang gila memiliki dunianya sendiri, dengan halusinasinya sendiri, tidak peduli dengan keadaan sekitar dan kehilangan respon sosial. Awal dari kegilaan semacam ini adalah tekanan bathin yang luar biasa untuk ditanggungkan, perasaan perasaan negatif yang datang menghimpit di kehidupan nyata, kehidupan peradaban dunia.

Orang orang yang berjiwa lemah, yang merasa haus akan perlindungan dan maupun akar kepribadian sangat rentan terhadap tekanan sejenis ini. Bisa juga karena tekanan yang datang tiba tiba, seperti tak tertanggungkan. Lepas dari kacamata patologi, idealnya kehidupan jiwa, kehidupan bathin memiliki fondasi ‘iman’ atau keyakinan terhadap kekuasaan Tuhan, bahwa semua yang terjadi dimuka bumi, adalah kehendaknya semata.

Tekanan bathin hanya datang ketika ketidak adilan, ketidak berdayaan mencari penggugatan pada diri sendiri, tidak bisa berhadapan dengan kenyataan karena akal yang terlalu jeli melihat ketidak mungkinan yang ternyata menjadi kenyataan; menjadi mungkin. Pelepasan diri dari tekanan yang mematikan logika itu bisa menjadi perkelahian diam diam yang sangat menyakitkan.

Psikotis, merekalah orang orang malang yang tak sanggup lagi menolong dirinya sendiri, dan tak ada satupun tangan yang peduli untuk sekedar meringankan himpitan bathinya. Barangkali dia terbebas dari siksaan beban bathin, dan yang pasti tidak menyadari, banyak mata sehat justru tak melihatnya sebagai manusia, sebagai sesama.

Semoga rahmat Tuhan tercurah kepada orang orang yang menderita itu.

Warung Nabiel, ketika pintu dunia kegilaan mulai terlihat terbuka, 060126

Ketika tak lagi sanggup berdiri

Ketika kaki tak kuat lagi menopang untuk berdiri, maka waktunya membiarkan lutut mencium tanah bumi. Membiarkan hati rebah ketanah, tinggal berharap dan hanya berharap. Diam, biarkan sepi mengelilingi sehingga hanya isak tangis paling bisu yang terjadi. Rubuhkan kesombongan diri, tunduk takluk pada keagungan sang pemilik semesta kehidupan; Gustialah (baca: Gusti Allah).

Membiarkan sunyi mengurung bathin, justru mendatangkan jutaan iblis yang berpesta pora mentertawakan dan menyiksa. Ataukah hanya diri yang terlalu menganggap kesempurnaan menjadi hak milik hingga beban menjadi begitu berat terasa?

Jalan kedepan yang gelap dan tak tertebak tetap jadi tempuhan, kaki yang kelelahan harus segera dibiasakan untuk menerima rute perjalanan, meskipun harus melewati lumpur dan bebatuan, bahkan kadang tenggelam dikedalaman kubangan air, mendaki dan menuruni lembah sendirian. Itulah kehidupan, kata teman yang hanya tahu penderitaan dari judulnya, bukan dari penghayatan.

Ketika kaki tak sanggup lagi berdiri, kalbu mengadu meminta dikasihani. Air mata tak mungkin kering karena dia ada sebagai lambang kelukaan yang tak terlihat mata, bukan sekedar cairan pencuci pipi. “Menerima, menerima, menerima. Ikhlas, ikhlas..ikhlas…” nurani terus memompakan sloganya. Mengharap hati sudi mendengarkanya. Sedangkan logika mencak mencak merasa dipecundangi oleh orang yang justru dilindungi.

Dan ketika lutut tak lagi sanggup menyangga beban, biarkan diri duduk bersimpuh, menikmati keberagaman keperihan yang datang bertubi tubi dalam sanubari. Kiranya diri tak sekuat yang disangka, kiranya hati tak seperkasa yang diduga.

Lalu biarkan semua peristiwa tertayang, semua catatan perjalanan terkuakkan, bahwa ini hanya perjalanan biasa menuju kematian, bahwa Tuhan yang memberikan semuanya kepada diri termasuk kebahagiaan yang pernah ada juga ketika kebahagiaan direnggutkan. Bahwa kehilangan inipun miliknya jua. Sungguh diri tak berarti apa apa.

Duh Gustialah,
Ampunkanlah hamba, atas kesombongan diri dan ego yang menjadi pisau tajam penyiksa diri. Juga ampunkanlah dia laki laki yang menyepelekanku, menganggapku hanya debu semata. Ampunilah ketidak mengertianya, dan berikanlah rahmat dan karuniamu bagi kemuliaan hidupnya. Dan kepada perempuan yang mendustai, juga menganggapku hanya kertas pembersih lubang anusnya, ampunilah ketidak mengertianya tentang tenggang rasa, berkatilah dia dengan rasa kemanusiaan yang wajar dan muliakanlah kehidupanya. Jauhkanlah mereka berdua dari kesengsaraan dan penderitaan bathin dunia, ya Gustialah…

Ya Gustialah,
Ampunkanlah kami, para pendosa yang kotor dengan segala kepentingan diri, menganggap Engkau ada hanya untuk mengawasi….
Ceger on an empty morning, 060126.

Tuesday, January 24, 2006

Kupu Kupu

Kupu kupu yang tampak rapuh dan lemah, bisu tanpa suara terbang mengembara menentang ultra violet sang matahari yang membutakan. Warna kupu kupu yang kaya dengan warna dunia menyimpan kesejatian jika dilihat dengan infra merah, lebih indah dan kaya dari apapun dimuka bumi.

Otot yang menggerakkan sayapnya dengan dinamis itu, adalah otot terkuat didunia bagi kelompok serangga. Kupu kupu mengembara dari sunyi ke sunyi, berenang menikmati hangat matahari. Sekedar hidup, sekali berarti lalu mati.

Kupu kupu adalah guru bagi kesahajaan sikap. Guru bagi tauladan keindahan serta anti kesertamertaan. Dia melewati proses panjang metamorfosa, melewati banyak keprihatinan sebelum dipunggungnya tumbuh sayap dan sanggup mengepak menari, melaju, mundur ataupun bermanuver. Terkadang hidup memperlakukanya dengan bengis, karena dia rapuh dibalik indahnya. Kebengisan hidup dilukiskanya pada sayapnya yang merobek, compang camping mengaburkan bentuk. Tapi dia tetap terbang diantar ranting dan batang batang rumput yang menganiayanya.

Dan jika saatnya tiba, sang kupu kupu sampai diujung pengembaraanya, mati terkapar diantara tanah berdebu ataupun diantara tumpukan daun daun yang usai bertugas bagi pohon kehidupan, warnanya tak pudar, indahnya tak luntur. Dia hanya tidur yang abadi, sambil tersenyum kepada siapapun yang melintasi.

Mute cubicle, 060124

Monday, January 23, 2006

Simalakama


Tak tahu kepada siapa lagi diri harus mengadu, setelah tanpa jemu memohon kepada Tuhan untuk membantu, menguatkan hati dan mambangun logika kembali setelah porak poranda berkali kali. Kali ini juga, kehancuran begitu terasa pedihnya. Diri telah kehilangan segala yang patut untuk dipertahankan menjadi lumpur yang mengabur diterjang kazaliman sesama umat manusia. Luluh lantak bagaikan cuma cerita duka.

Diri tengah dihancurkan tanpa penyesalan, diri yang terlanjur mengenakan jubah malaikat yang compang comping oleh penghianatan. Telah dipenuhi segala (?) yang semesetinya dipenuhi dan telah dilewati segala yang tidak selayaknya dilewati sebagai lelaki, atau bahkan sebagai manusia. Apakah diri terlalu sempurnanya? Tentu tidak, kecuali menempatkan diri sebagai manusia lengakap dengan perhitungan nurani dan kecacatan kepribadianya.

Inipun hanya satu dari sekian banyak persembahan dari setan, bayi bayi unggulan iblis yang dititipkan dikepala dan dibiakkan ketika ego menjadi puing, debu tanah merah belaka. Pernah juga singgah ikhlas dan menyerah ketika diri letih mengharap ampun, ketika hati hancur diterjang ego yang menjulang menutup aib. Semua bergedebaman semaunya berulang ulang, menimbulkan asap barnama sesal, pekat menyesakkan isi rongga kepala, panas membakar dada dan perih menikam punggung. Ternyata hidup tak sesederhana fikiran, ternyata fikiran tak serumit kejadian. Dan harus rela menerima bahwa bumi berubah jadi neraka penyiksaan oleh jutaan beban yang hanya tertampung dalam wadah tipis bernama kulit ari.

Ketika ketidak berdayaan menjadi raja, maka fisik tak lagi bermnakna. Kehidupan riuh hanya dalam angan angan, dalam fikiran berkecamuk mengamuk dan meraung raung. Sampai letih, sampai suara habis dan sampai energi tak tersisa setetespun juga di jiwa. Lalu berkaca melihat diri adalah manusia biasa, bukanlah Nabi apalagi Malaikat. Diri hanya menusia yang menjalani kehidupan dengna ketidak sempurnaan dan terus memaksakan diri untuk menjadi sempurna.

Dengan mata kabur dan tubuh gemetaran, nurani meriut oleh kehendak, menjadi manusia sesejatinya atau menjadi manusia egois. Manusia sejati akan mengumpankan diri untuk kebaikan kehidupan, mengesampingakan diri sendiri tanpa bentuk rasa. Membela rasa yang dikehendaki berarti merelakan satu penggal kehidupan hancur tanpa bentuk dengan miliaran pertanyaan tentang apa yang akan terjadi dimasa depan.

Dan masa depan tetap jadi misteri, apakah diri tetap jadi tumbal atau menjadi pahlawan bagi kehidupan, paling tidak dalam ukuran nurani. Pesimisme menjawab sinis atas setiap tawaran entah dari hati maupun logika, mengumbang ambingkan nurani dalam siksa simalakama...

Entahlah…

Empty cubicle, January 23, 2006 – 1157hrs

Thursday, January 19, 2006

Air mata

Air mata, adalah getah dari ranting jiwa yang patah oleh pristiwa, sempal karena dicabik paksa, terluka. Banjir bandang, tertahan oleh selaput tipis yang melingkupi kornea dan juga aturan kepatutan menempatkan diri. Air mata terus mendesak menuntut pembebasanya, sedangkan telinga hati hanya punya suara arus nafas dan raungan panjang kesakitan didalam kebisuan. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali mengutuk kenyataan, menyaksikan dendam berpesta pora mengobral birahinya, untuk berkembang biak dan beranak pinak, menjadi mutan dijiwa.

Tangis kepedihan adalah manivestasi dari pengebirian rasa ikhlas dari bathin yang dalam. Dia menterjemahkan ribuan pisau silet yang berterbangan mengamuk dan menyambar dinding dinding ego, ketika badai bersimaharaja lela dalam hati. Sangat sunyi terasa dalam kehidupan bathin, sendirian gemetaran menentang segala yang datang menyerang. Menangis adalah perlawanan yang maha diam, maha damai karena tidak menimbulkan dampak sakit kepada individu lain, kecuali simpati barangkali. A shoulder to cry on – barangkali secara impulsif dianggap yang paling tepat sebagai pendampingan, penguatan langkah kaki yang goyah bahkan berhenti linglung. Dan, a shoulder to cry on tetaplah a shoulder, sebuah organ yang berdiri sendiri tanpa berafiliasi dengan dunia jiwa.

Air mata melukiskan kepedihan yang maha dalam, penderitaan bathin yang maha hebat, berputar berpendaran tanpa format interval yang baku, semau gue! Dia bisa datang ketika kita sedang berjalan, ketika kita sedang berbicara bahkan ketika raga sedang tertidur. Inilah penjajahan yang sempurna oleh iblis, yang menyebabkan penderitaan bagi hati. Penderitaan, ya zat mengerikan yang hanya ada dalam alam fikiran dan menggerogoti hampir semua aspek penyubur berlangsungnya kehidupan duniawi. Terjajah oleh pengalaman tentang kezaliman orang lain, dan kerasnya pemberontakan yang dilakukan logika melahirkan penderitaan yang tak terlihat oleh siapapun, dan tak terbagi dengan siapapun, menjadi hak kepemilikan pribadi yang mutlak.

Menangis, menjabarkan ekspresi mengasihani diri yang merasa tidak layak untuk menerima penderitaan, ketika semua upaya banding dan pembelaan telah patah oleh kenyataan yang harus ditelan mentah. Inilah konskwensi dari pilihan diri untuk menjadi manusia yang berusaha menempatkan diri sebagai manusia sebagai kewajiban, seperti telah disepakati dulu ketika kita lahir telanjang dari rahim bunda. Penistaan bathiniahlah yang menjadi pangkal dari segala bentuk penderitaan yang terjadi. Nurani memprotes tanpa perlawanan, menjalaninya seolah akhir dari kehidupan.

Teman hati yang datang dari intisari simpati, mengulurkan bahu dan tangan tanda peduli, menyaksikan diri berkelahi dan menghitung setiap gores luka yang ditimbulkan, dan tetap menyemangati untuk sekedar bertahan, dan berharap badai kan reda, segera. Menjadi suara pemandu, ketika langkah tersuruk dikegelapan mata hati….


Blankspot cubicle, January 18, 2006


Monday, January 16, 2006

@#$$#$%^&^%

Menabur benih masa depan diantara hamparan puing kebanggaan, meyakini keyakinan bahwa manusia memiliki perasaan dan hati untuk bertenggang rasa, memiliki nurani untuk sekedar menempatkan diri menjadi manusia. Maka perjalanan menjemput jubah malaikat yang lama tertanggalkan menumpang harapan dan keikhlasan sebagai kendaraan.

Didasar lumpur aib tanganmu menggapai meminta simpati, memohon agar kesempatan datang lagi. Bahwa tragedy bermakna sebagai pembelajaran atas sikap salah maupun kekhilafan. Dari jauh telah kukemas satu paket rekonsiliasi dengan penyadaran bahwa diri memang layak menerima apa yang telah sepuluh bulang menghacurkan kepribadian dan memincangkan langkah bathin. Luka yang meradang perlahan kukesampingkan dan berharap kesadaranmu datang sebagai perban.

Lalu, dengan tali hati kugendong kaki lumpuhmu, membawamu keluar dari kubangan lumnpur penuh lintah mengerikan. Dan dengan tawa kau tikamkan belati karatan dipunggungku, tepat pada bekas luka yang kau hadiahkan sepuluh bulan lalu. Aku limbung, mataku buta dan jubah malaikatku compang camping oleh tanganmu yang berlumuran nista.

Aku pikir hati telah kebal sakit setelah kau hancurkan, aku pikir bathin telah imun dari luka setelah kau koyakkan, aku pikir nurani akan tetap berdiri tegak sewaktu kepercayaan kau khianati, ternyata aku keliru.

Kamu lebih keji dari iblis, lebih jahat dari segala bentuk setan. Hatimu buta, perasaanmu mati dan kau hanya tahu memaki. Aku tak kenal dirimu lagi, yang telah kujaga dan kucintai serasa hampir seluruh hidupku, yang kupertaruhkan keperihan dendam hati yang panjang berharap aku dapat imbalan akan penghargaan dan kasihanmu.

Ribuan kesalahan kau lakukan dengan sengaja, berharap aku akan hancur dan binasa. Tapi kamu akan kecewa, sebab aku akan tetap berdiri dan berharap suatu saat kau kembali menjadi manusia…


Ceger, 16 Januari 2005 - ketika diri sekarat dipecundangi iblis.


Wednesday, January 11, 2006

81.3 Satpam Indonesia!

(Tulisan ini dibuat sebagai renungan HUT Satpam ke XXV tanggal 30 Desember 2005)

Dunia persatpaman Indonesia maju sedemikian pesatnya, berkembang ibarat jamur dimusim hujan. Orgnaisasi organisasi bisnis perpanjangan tangan POLRI itu kini tanpa kita sadari menjadi komponen professional yang bukan main main. BUJPP (Bada Usaha Jasa Penyelamatan dan Pengamanan) barupun bermunculan disana sini, membawa genre sendiri sendiri dengan core bisnis sama: Satuan Pengaman!

Pandangan bahwa profesi satpam adalah pekerjaan kelas kedua, kelompok kelas kedua dalam sebuah komunitas pekerjaan berkelompok baik yang datang dari luar maupun individu pak satpam sendri sering kali membuahkan sikap skeptis. Pandangan seperti itu samasekali keliru, profesi satpam adalah mulia dan professional. Memutuskan diri menjadi satpam (meskipun banyak juga karena tuntutan keadaan), adalah memutuskan diri untuk bersedia menyediakan diri sebagai tameng hidup bagi orang lain. Keputusan itu dilandasi dengan sikap mengabdi untuk keluarga, untuk Tuhan. Kemuliaanya bahkan jauh dari apa yang bisa terdeskripsikan dalam tulisan ini.

Tugas pokok satpam, TURJAWALI (Atur, Jaga, Kawal dan Patroli), telah beranak pinak dan berkembang meninggalkan paradigma satpam yang berseragam lusuh, penampilan kusut, wajah sangar, kuat begadang dan doyan ngopi. Pengelolaan satpam bahkan telah menyentuh bidang bidang yang lebih serius, dari penanganan white collar crime, close protection, business intelligence, investigation, risk management, due diligence research, security measurement assessment, security audit, security management, crisis management plan, information management dan sedabrek lagi kegiatan pengamanan tertutup dan terbuka yang intinya sama; cegah dan lawan kejahatan, kenali dan antisipasi ancaman!

Kemajuan persatpaman juga diimbangi dengan persaingan kualitas pelayanan jasa dari BUJPP. Angin baik bagi profesi satpam karena persaingan kualitas itu membawa dampak kepada fasilitas pengembangan diri, pengembangan karir dibidang pengamanan, yang at the end of the day, menciptakan organisasi professional perusahaan penyedia jasa pengamanan yang matang karena pengalaman, bukan karbitan.

Tugas sebagai seorang satpam bukanlah tugas main mainan, bukan pekerjaan kelas dua, pekerjaan yang dijalani karena keadaan. Tugas sebagai satpam adalah profesi yang membanggakan dari sisi kemanusiaan, yang mengandung resiko fifty fifty (fifty selamat fifty celaka), dan itu bentuk pengabdian terhadap hidup yang bukan sembarangan. Sunggguh sebuah pilihan profesi yang mengandung tanggung jawab besar dan mulia, menyediakan diri menjadi pelindung dan penjaga dari segala niat dan perbuatan jahat.

Dirgahayu Satpam Indonesia, junjung tinggi jiwa korsa dan disiplin!
Selamat bertugas satpam Indonesia; detect, deter, delay and response!!


Note:
(Tulisan ini juga sebagai persembahan, kepada Alm. Bpk. Bayudi satpam Bank Mandiri Tebet yang tewas tertembak perampok pada 22 Desember 2005, mendiang sahabatku Marcus Yohannes yang tewas pada penyerbuan pos di tepi sungai Kampar Riau pada Oktober 2002, Gam Gurung, dan ribuan lagi yang cidera atau meninggal dalam tugas. Semoga dimuliakanlah kehidupannya seperti telah dimuliakanNya cara kematian mereka. Amin)

Simatupang, 060111 – 0103hrs

Saudara Kandung

“Hey…sopo sing dadi korban kono?”
(terjemahan: Selamat Hari Raya Idhul Adha, saudara kembarku)

Saat ini aku rindukan kamu, tertawa dan bercerita seperti dulu tentang lucu kehidupan, dan indahnya kegetiran panjang kita. Sekarang kita mendiami dunia kita masing masing, mendiami pulau maya kita masing masing terpisah oleh samudra tuntutan dan kewajiban.

Piye kabare, Son?
Piye critane uripmu?

Siapa lagi yang sudah meninggal dikampung kita?

Seorang teman yang kujumpa dalam pengembaraanku pernah bilang, katanya kembar adalah satu jiwa yang terbelah dua. Dua perbedaan fisik yang serupa dengan satu kemiripan tabiat dan kelakuan mungkin juga fikiran (?). Aku dulu percaya itu, merasakan itu, entah sekarang. Aku tak tahu cara merasakanya. Aku hanya tahu aku rindu kamu saat ini, merindukan cerita cerita perjalanan kita masing masing, menelanjangi kenaifan menjadi kelucuan yang hanya kita berdua bisa memahaminya.

Kebersamaan dan kesamaan kita semasa kecillah yang terindah untuk kukenangkan saat ini. Ketika kita sama sama hanya bisa menerima menjadi saksi, dan berimprovisasi dengan cuaca musim paceklik panjang, paceklik lahir bathin. Betapa rapuhnya kita, terbanting dan terhempas kapan saja. Juga betapa perkasanya kita yang sekecil kecil itu berkat bunda mampu melewatinya. Dan kita tetap menjadi saksi atas segala kejadian yang kerap mengusik rasa keadilan yang kita anut.

Betapapun jauh perjalanan masing masing kita tempuh, lalu kita simpan sendiri di almari pengalaman bathin masing masing, kenangan masa kecil kita tetap menjadi akar yang mengilhami kehidupan. Aku pernah beruntung ketika kamu gagal dan aku pernah gagal ketika kamu beruntung. Semua berpilin pilin, membentuk warna yang berbeda beda hingga kita menjadi dua individu. Menghilangkan keraguanku atas teori suratan nasib.

Kita memang sedang menghancur, kita hanya kebal saja terhadap kehancuran. Sebab kita pernah berjaya, menjadi yang terbaik dalam ukuran kita. Tetaplah hidup, saudaraku…menjadi saksi atas berputarnya roda dunia, bekal cerita untuk anak cucu dan keturunan kita…

Titip tinjuku untuk jagoanmu; Landung.


Kamar kost, 060110 – 2255hrs






Cinta dari bawah rindang pohon ceri


Jam setengah sebelas, matahari serius memanggang bumi. Lalulintas bergemuruh dari jarak sekitar 8 meteran tempat duduk, dibawah rindang pohon ceri ditepi jalan TB Simatupang. Kendaraan bagaikan peluru baja dengan malaikat kematian berseliweran dijalanan, melesat cepat diatas jalanan beton seperti hendak ketinggalan sesuatu, atau sekedar bergembira mengendalikan gerak mekanis peluncur badan. Dan teduh pohon ceri jadi oase pilihan.

Diluar lingkupan rindang daun dan ranting ceri, kehidupan terlihat gersang dan ngangas angas. Kehidupan berjalan diam diam dalam alam bathin, mengumpulkan semua memori menggapai gapai kemungkinan masa depan. Kursi plastik, sebotol teh botol dingin menemani, menyempurnakan indahnya kesederhanaan membungkam gemuruh lalu lintas dibelakang punggung.

Didalam sana, ada sunyi yang melapisi gemuruh yang tak teraba. Tak ada suara apa apa, sebab gemuruh itu dikejauhan, terbungkus oleh deburan diluar kebekuan lautan masadepan. Atau hanya diri yang terlalu egois untuk menerima dan mengakui kemenangan sang nasib? Ah, seharusnya diri berhenti mempertanyakan, bukankah keindahan menjadi ada karena ada ketidak indahan?

Dibawah rindang pohon ceri dengan sesekali udara yang dilemparkan setiap kendaraan yang melintas menampar lirih, menunggu satu proses kejadian selesai, membuat nurani haus akan makna. Lalu datang serang bapak, berkaos oblong dan bercelana pendek menggendong seorang anak laki laki berkulit coklat, berumur sekitar tiga tahunan, berbaju ngejreng merah dengan motif kartun warna kuning dan putih sana sini. Dalam pangkuan ayahnya, sikecil mengantuk, matanya kliyep kliyep, merem melek, sesekali memandang kosong tanpa beban, berusaha melawan kantuk yang menyerang, terkantuk dan tergagap lagi karena sesuatu. Sang ayah dengan lembut memeluk tubuhnya yang mungil, meniupi kepalanya agar lekas lelap tidur sang bocah. Dan anak kecil coklat lucu berbaju merah itupun akhirnya samasekali mengatupkan mata, terlelap dalam nyaman dan aman lindungan dada sang ayah.
Terlihat cinta yang begitu kental mengikat bathin keduanya, kedamaian dibalik bathin sikecil yang tak berdaya didada ayahnya. Bayi itu begitu fragile, so weak and protection needed. Kesejukan luar biasa terimbas cinta yang begitu sempurna di keduanya.

Cinta dari bawah pohon ceri akhirnya mendatangkan kesejukan dalam hati sepanjang hari Selasa yang panas ngangas angas…

Simatupang, 060110 - 1023hrs

Tuesday, January 10, 2006

Dari tidak ada menjadi ada dan dari ada menjadi tidak ada


Hari raya Qurban, kumaknai peringatan atas telaah makna keikhlasan. Keikhlasan bathin yang mendasari satu perilaku menerima tanpa pertanyaan, melakukanya dengan kesungguhan dan tanpa pamrih.

Ikhlas menerima kehilangan, mengembalikan diri ke titik dibawah nol ketika kita baru dilahirkan, tanpa selembar benangpun kecuali organ tubuh karunia gratis dari Tuhan. Lalu menjadi manusia, penghuni dunia dan menciptakan budaya dan adat kaum manusia; matrialistik. Dari tidak ada menjadi ada menciptakan rasa memiliki yang mengikat tanpa terlihat. Dari ada menjadi tidak ada menciptakan rasa penyesalan atas kehilangan sesuatu yang pernah dianggap menjadi hak milik pribadi.

Menjadi ikhlas adalah menerima hidayah dari Tuhan, karunia kekuatan hati yang luar biasa. Ikhlas dan bersyukur menerima segala pemberianNya, dan ikhlas menerima imbas sosial dalam kehidupan dunia. Keikhlasan membasmi benih benih protes yang mungkin berujung pemberontakan pada nurani. Mematahkan segala bentuk pledoi atas sebuah ketidak adilan (baca: kehilangan).

Keikhlasan dalam pandanganku sekiranya, adalah keadaan hati yang sejuk damai menjalani kehidupan, tanpa keluhan dan protes macam macam. Kebahagiaan yang lahir dari perilaku ikhlas sungguh luar biasa, membuat diri merasa sangat rendah dan tak berdaya sebagai manusia, merasa sangat dicintai Tuhan dan selalu diperhatikanNya. Hanya ketika kita nakal saja Dia memberi kita pelajaran supaya kita berperilaku baik, pelajaran yang akan kita ingat seumur hidup. Ah, alangkah idealnya hidup dengan pondasi pemikiran seperti itu.

Tunggu…
Bagaimana dengan….ikhlas menerima perilaku durjana orang lain terhadap kita?! Ikhlas menjalani konskwensi negative dari perbuatan orang lain yang memperlakukan kita seperti badut memanfaatkan tenaga kita seperti kuda, dan kadang mempermainkan kita seperti kelinci yang buta. Ikhlas menjalani penyiksaan bathin yang terluka berkepanjangan, ikhlas menerima kecacatan mental sebagai akbat benturanya. Kemudian dengan ikhlas pula mengalami kehancuran diam diam, lalu ikhlas mengambil tanggung jawab dari keseluruhan tragedy, menggantikan posisi si pencipta cerita tragis, menyediakan diri dan hidup untuk menjaga dan membahagiakanya dengan ikhlas hati. Kekuatan energi apa yang akan bisa kita pakai untuk memelihara dan memupuk keikhlasan seperti itu jika ada?

Kata “terpaksa” adalah barangkali benteng terakhir dari menyerahnya ego terhadap kekuatan luar ego. Terpakasa ikhlas, aduh…betapa rendahnya, sebab ikhlas tidak mengenal kata ‘terpaksa’. Keikhlasan itu seperti hamparan warna, polos tanpa cacat dan perbedaan, tanpa alasan masasilam dan tanpa tendensi untuk masa depan.

Doa untuk jutaan nyawa hewan yang disembelih untuk qurban kali ini (yang kemudian dagingnya dibuat pesta pesta, senang senang, sebagian dikorupsi orang), yang memberi pelajaran tentang keihlasan si yang berkorban mengorbankan hak miliknya yang nisbiah, keikhlasan sang hewan untuk menjadi korban. Pelajaran bathin tentang keikhalasan untuk berkehilangan. Sebuah pelajaran perilaku bahwa kita tidak berhak mengklaim memiliki sesuatu, merasa terikat dengan sesuatu yang kita anggap milik kita. Itu semua milikNya, juga termasuk cerita dikehidupan bathin setiap manusia, tak ada lain milikNya. Tuhan, sebagai sang Maha Kuasa, pemilik mutlak jagat raya. Kita hanya dipinjamiNya, apapun yang kita (anggap) miliki.

Selamat Hari Raya Idhul Qurban…semoga kita dikaruniai hidayah keikhlasan…


Kost Simatupang – 060109 – 2357hrs



Saturday, January 07, 2006

Surat Sahabat

Kepada siapapun yang berkenan membaca tulisan ini, aku menulis sebagai sahabat…

Sahabatku,
Seminggu belakangan ini, kepiluan menggilas hatiku setiap kali di tv tertayang berita tentang ledakan kesedihan, tangis pilu ketika jasad jasad diangkat dari timbunan lumpur sisa banjir di Jember dan tanah longsor di Banjarnegara.

Orang orang sederhana itu meronta ronta hatinya disiksa kepedihan yang teramat dalam ketika kebahagiaan direnggut dengan acak oleh alam. Orang orang yang dicintainya dirampas begitu saja tanpa peringatan. Hingga yang terisa hanya kepasrahan dan isak tangis kesedihan. Sungguh penderitaan bathin yang tak terkirakan, dan aku tak bisa menggantikan kedudukanya, bahkan tak sanggup sedikit saja mengurangi beban sedihnya.

Menyalahkan alam barangkali sama dengan mempertontonkan kebodohan kita sendiri. Bukankah sebenarnya kita sendiri yang semakin menjauhkan alam dari kehidupan kita sehari hari? Mungkin saja kita lupa menyadari bahwa alam berada jauh sebelum manusia, pasti lebih bijaksana dari manusia itu sendiri. Lalu manusia berkoloni dan menggerogoti alam dengan keji, hanya demi nasi, dasi, mercy, sebagian demi sapi atau kursi.

Ini mengingatkan orgasme bathin ketika berada diketinggian lereng Lawu beberapa tahun silam. Betapa kemegahan alam mengkerdilkan kesombongan diri, mematahkan segala tanda tanya tentang keagungan Tuhan, menyadarkan bahwa diri tak berdaya samasekali ketika hanya Tuhan sebagai jawaban. Tunduk, takluk tak berdaya! Barangkali saja peristiwa peristiwa bencana itu pesan singkat dariNya juga untuk kita, yang berisi teguran atas tingkah manusia yang pongah dengan kehidupan dunia, merasa menjadi sesuatu padahal kita hanyalah sekuku hitamnya gurem* bagi alam milikNya. Jadi bencana itu atas kersane sing kuoso, kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah Subhannallahita’ala.

Sahabat,
Kepadamu yang sudi membaca tulisan ini, aku menghasutmu untuk sejenak merenungkan tentang interaksi antara kita dan alam. Betapa kita telah menumpuk hutang budi kita kepada alam dengan tingkah tingkah laku atas nama peradaban. Sebagian diantara kita, umat manusia inilah yang sebenarnya mendzalimi alam, padahal kehidupan berhutang banyak kepadanya. Kitalah yang seharusnya malu, tidak tahu rasa berterimakasih kepada Sang Pemiliknya.

Akhirnya, aku mengajakmu sahabat, menunduk diam dalam khusyu’ doa yang menggema dalam palung bathin, memohonkan pengampunan dosa atas nama semua korban bencana yang ditemukan dan yang hilang, memohonkan ampun dosa diri dan seluruh umat manusia atas kesombongan yang tidak disadari jadi kebanggaan, memohon ampun atas nama semua manusia yang masih diberiNya kesempatan hidup…


Peace on earth!

Sahabatmu,
buderfly

*binatang sejenis kutubusuk yang berukuran sangat kecil dan suka menghisap darah manusia.

Kost Simatupang, 060106 – 0004hrs

Friday, January 06, 2006

Maaf (atas nama tulisan)

Atas nama tulisanku, aku minta maaf kepadamu yang tertusuk serpihan masalalu. Inspirasi penulisanya datang begitu saja bersama rombongan kecemasan dan tanda tanya tentang jawaban teka teki masa depan. Anyaman dari kejadian yang sedang teralami sekarang, sebuah matarantai panjang bernama biografi barangkali.

Atas nama kedangkalan syaraf kepekaanku aku minta maaf telah melafalkan mantra mantra penggugah prasangka, meskipun sebenarnya lonceng pengukur seberapa kental rasa memiliki terlukai. Dan itu kusadari belakangan setelah letupan reaksi menggelegar memberi peringatan. Lalu kau tersadar, aku telah berbuat kesalahan.

Kesalahan?
(Ya! Kesalahan, titik!)
No more questions.

Atas nama pengalaman (meminjam salah satu judul essainya PAT) aku meminta maaf kepadamu atas telah kualaminya kehidupan masalalu. Atas kehidupan alam fana yang berbentuk padat dan alam bathin berbentuk udara angkasa. Betapa pengalaman menjadi arsip sejarah yang tersimpan di directory antah berantah, tak terlihat oleh pencarian, kecuali ditemukan secara kebetulan.

Aku bersedia menghukum diri jika engkau mau, tebusan atas kesalahanku. Namun beling pengalamanku terlanjur melukaimu. Dan aku tak bisa memadamkan perihnya. Tak ada yang bisa memadamkanya. Tapi setidaknya aku telah meminta maaf atas salahku.

Kepada bunda, aku mohon ampun telah menjadi anaknya yang durhaka…


Kost Simatupang, 060105 – 2309hrs




Bagimu yang sedang menjelma sakit

Engkau bimbang diantara setengah keberanian dan setengah ketakutan; sama sama nisbi. Penyesalan hanyalah batu beban ditas punggung, dan kau memilih menjelempah mengharap malaikat datang bawa ambulans.

Lihat sekelilingmu, semak semak akan semakin mengurungmu jika kau hanya menunggu dibawah pohon, bahkan sang akar pohonpun lambat lambat akan melilit dan mencekikmu...sementara harapmu tak pernah terjawab, tak ada malaikat bawa ambulans...

Tangan yang dilurkan semestinya dijadikan tiang penyangga ketika kakimu lemah, kepedulian yang disodorkakan mestinya menjadi pelampung ketika engkau mulai tenggelam; bukan untuk dicampakkan. Nyatanya ribuan kata kata bijak lewat bagai angin disisi telinga, mustahil menembus kokoh dinding ego yang membentengi fikiran.

Ya, engkau mengharap cinta dari cinta yang telah kau hancurkan dan memandangnya sebagai bukan apa apa. Membangun kebohongan diatas kebohongan atas azas cinta, atau sekedar petualanganmu mencari pengakuan. Nurani tentu berontak dan menuntut pembebasan dari penindasan, sebab engkau hanya sang naga yang mempermainkan luka luka pada jiwa orang orang yang menjelajahimu. Tapi engkau tak merasa, sebab yang ada hanya lukamu, hanya keberadaamu semata. Jikapun engkau merasakan perihnya, itupun hanya engkau dengan mudah berpaling dan memutar globe duniamu yang kecil.

Teruslah bermimpi, hingga kau sadar bahwa engkau telah jauh tertinggal hanya untuk mencoba mencari dimana ketertinggalanmu. Sekarang engaku menjelma sebagai si sakit yang lemah, terus berharap cinta yang kau hancurkan akan datang memberi hiba. Bukankah engkau adalah naga yang memiliki kekuatan melebihi rata rata? Kebesaranmulah yang memberatkanmu, kekebalanmu pulalah yang menyakitimu.

Sungguh, hidup ini absurd, sangalang….apalagi ketika diri bermahkota ego. Ketika semut diseberang lautan terang benderang dalam pandangan. Sungguh kepintaran absolut yang jusru menghilangkan cermin atas diri. Bahkan mengaburkan pandangan tentang orang orang yang sebenarnya peduli, menjadi sosok sosok tak berarti. Kepintaran dan egomu memagari, menghalangi malaikat manapun untuk sekedar menepuk pundakmu, memelihara kekuatan agar dagu tetap terangkat dan tatapan lurus kedepan.Tapi engkau memilih menjadi budak atas ego hatimu yang tak pernah terkalahkan…memajang keterpurukan disepanjang perlintasan perasaan.

Dan sepotong kabut yang mestinya menyejukkan menjadi tak berarti dalam kehidupan megahmu…

Graha Simatupang, 060105 – 1620

Thursday, January 05, 2006

Untukmu yang pergi dari hidupku

:Tet
Sehelai rambutmu patah, lalu angin winter ditempatmu mengantarnya mengembara, sampai mengetuk dikaca kamarku, lalu luruh dibawah jendela. Senymmu melintas dan cahaya dimatamu selalu mengobarkan nyala setiap kali memandang.

Barangkali sudah sekian abad tak kujumpai lagi suaramu, juga keseluruhan penampilan duniawimu. Engkau menghilang, sengaja menenenggelamkan diri diperut bumi. Menduga kebersamaan akan memupus kesendirianmu. Hidup tidak sesederhana itulah, sahabat manisku, bahkan kadang kita keliru memahami satu makna yang kita yakini. Tapi tangismu redam, bisu. Aku tak tahu kabarmu, aku tak patut untuk tahu sekedar keadaanmu. Bukankah aku hanya selembar daun dalam kehidupanmu, yang kini harus tunduk luruh terpisah dari mekanisme kehidupan sang pohon?

Gerimis Januari datang bersama bayanganmu, sesaat dan menatapku dengan senyuman; dan mata yang gemerlapan penuh excitement. Ah gerimis, menghidupkan lagi mummi mummi kenangan yang rapi tersusun dalam rak pengalaman. Membangkitkan lagi seluruh kehidupan yang sengaja engkau bekukan dikedalaman angan. Sedangkan kemarau sedemikian panjang memaksa akar ilalang tetap tertancap dalam di timbunan tanah hitam.

Kehilangan lambaianmu ketika engkau berangkat menempuh jalan pilihan; menyempurnakan kesendirian. Tapi aku tahu engkau ada, entah dimana. Engkau melihatku, tanpa bicara. Setia menyambangi gunung rindu yang kau tinggalkan sejak lama…

Bersama udara lembab Jakarta, kutitipkan sesalku yang tak mampu melahirkan harapan yang kulela dalam kandungan…sepanjang perjalanan…


Kamar kost TB Simatupang, 060104 2259hrs

Wednesday, January 04, 2006

Ali Bujel


Sewaktu kecil dulu, seorang teman sepermainan, Ali namanya pada suatu pagi aga siang dikebun ketika kami sedang mencari kayu bakar, entah bagaimana jari telunjuknya terpotong putus oleh arit besar bekalnya menebang ranting ranting kering dikebun. Ujung sampai pangkal kuku jari telunjuk kirinya terputus, dan darah ada dimana mana. Diantara rimbunan pohon pepaya muda kami kebingungan menanggung akibatnya nanti kalau bapak si Ali murka karena kami tidak bisa menjaganya. Kami kebingungan bagaimana menghentikan lukanya. Yang terjdi adalah telaah kejadian yang diceritakan berulang ulang oleh Ali. Ali gelisah, ketakutan tampak sekali dimatanya, bukan kesakitan. Diantara ketakutannya, dia coba atasi dengan jalan pintas, bahwa dia ingin menunjukkan bahwa dia tidak apa apa. Jari yang putus itupun tak dirasakanya, digosok gosokkanya detanah sambil kami duduk terpekur mencoba mencari jalan keluar. Jari tangan yang beradarah itupun terus digosok gosokkanya ketanah merah kering berdebu dikebun itu, sampai darahnya berhenti dan membuatnya lega sedikit. Ketika pulang, disembunyikanya luka itu dari orang tuanya, dia hidup seperti layaknya hidup yang sebelumnya, menunggu waktu magrib, pergi mengaji ke masjid, lalu pulang sesudah isya’ lalu belajar pelajaran sekolah.

Si Ali merasa aman sejauh itu, menyembunyikan luka dijari tanganya yang putung, dan hidup terus berjalan normal, tidak ada sesuatu yang ditakutkan terjadi. Hingga esok harinya baru setelah ibu yang mencintainya menemukan jari tangan anaknya putus dan tidak ada tindakan apa apa. Cinta ibunyalah yang kemudian membawanya ke mantri untuk minta perawatan. Beruntung saja jari tangan si Ali tidak terkena infeksi dan berakhir lebih parah. Tanganya dibungkus perban dari mantri untuk beberapa hari, sampai lukanya mengering dan lalu hilang total. Tak sakit lagi, tapi tak juga pulih lagi seperti sedia kala.

Kisah si Ali adalah kisah klasik sifat kejawaan yang cenderung menerima dan merasa ikut wajib melestarikan status qou. Bahwa dipermukaan harus aman toto titi tentrem, tidak ada gejolak maupun gangguan apapun. Sebuah kehidupan harus berjalan dengan tenang tanpa ledakan, meskipun itu harus dengan kebohongan. Ali mewakili kecenderungan karakteristik jawa, yang membohongi orang tuanya karena tidak ingin mereka mendapat kesulitan atas apa yang terjadi padanya.

John Pemberton yang menulis antropologi jawa dalam bukunya "JAVA" pernah juga menyimpulkan bahwa pada masa orde baru, Indonesia berjalan atas azas kejewen itu, yang tidak ada ledakan, yang berjalan toto titi tentrem itu. Air dipermukaan harus tetap datar dan tenang, meskipun dikedalaman sana ada arus dan pusaran yang ganas sekalipun. Bahkan sejak zaman kerajaan sekalipun, kondisi seperti itu haruslah dipertahankan dan dipatronkan. Kebudayaan, adat, kebiasaan klenik dan mistis dijadikan alat penciptaan kondisi seperti itu. Ali adalah type si air datar itu, yang menyembunyikan rasa sakit dan lukanya. Meskipun mungkin sekarang si Ali harusnya berterimakasih kepada ibu yang mencintainya sebab tanganya tidak perlu amputasi karena infeksi. Bekas itu masih ada, kuku yang tumbuh tidak semestinya karena kehilangan media dan kelainan jari jari seperti itu dalam bahasa jawa disebut bujel.

Maka namanya kini Ali Bujel.

Kost, 060104 – 0210hrs

Untuk seseorang yang diam menunggu dibawah pohon.


Yen wedi ojo wani wani, yen wani ojo wedi wedi.
(Kalau takut jangan sok berani, kalau berani jangan takut takut)


Maka akhirnya kaupun tiba, diujung jalan yang menyajikan cabang kemungkinan. Engkau terdiam, menunggu pilihan dikirim langsung dari langit oleh malaikat kekasih Tuhan yang hanya punya kebaikan. Tangis bederai ketika hati dan logika bercerai, menuntut kebajikan dan mempertahankan keinginan. Tangis yang sendiri dimuka bumi, tersimpan sangat rahasia bagi dunia.

Bathinmu memberontak, berharap ini bukanlah kenyataan. Sedangkan logika dengan task forcenya samasekali bukan lawan yang seimbang. Inilah jalan kehidupan, isi kehidupan itu sendiri yang sering kita dengar bahkan dalam kelakar terkadang, sewaktu kita sedikit lupakan bahwa hidup begitu rapuhnya. Semua adalah matarantai yang terbentuk dari masalalu, konskwensi atas keputusan yang pernah diambil dulu. Bukankah hidup adalah menjalani keputusan yang dibuat??

Tak berguna membodohi diri, tak berguna menyesali apa yang terjadi. Ujung jalan yang menyajikan cabang adalah medan peperangan, dimana engkau akan berada hanya berdua dengan musuhmu; ketakutanmu terhadap kemungkinan. Kemungkinan akan tetap datang, bederet beribu pilihan yang nanti akan harus kau ambil satu untuk pilihan. Persiapkan mental untuk menerima scenario terburuk sekalipun, dan hilangkan apapun yang membuatmu merasa berhak untuk membela diri. Sekali ini, serahkan pada kehidupan, apapun yang akan diperlakukan, terimalah sebagai warna kehidupan yang sewajarnya. Terimalah dengan rela, sebagai konskwensi dari keputusan yang pernah diambil dulu.

Maka waktunya untuk melipat lengan baju, menimang bathin mengukur keberanian, sebab engaku butuh supply besar sekali keberanian untuk mengikuti jalan manapun yang nantinya harus menjadi kemungkinan yang menjelma kenyataan. Timbang bathinmu, yakinkan bahwa keberanianya total, setotal ketakutanya. Yen wani ojo wedi wedi! Yen wedi ojo wani wani! Hanya orang yang berani yang bisa menciptakan cerita hidup baginya sendiri.

Dan….jika hal buruk yang terjadi, tidak berarti dunia sudah selesai punya cerita, kiamat. Justru hidup dalam dimensi barulah yang terjadi sesudahnya. Dan engkau akan menemukan kepribadian baru ketika semua bisa kau lewati tanpa niat mengalahkan apapun, kecuali ego diri. Menjadi pribadi yang matang dan bijaksana, belajar dari setiap penggal pengalaman hidup yang pernah dijalani.

Ketika tiba masanya engkau harus menangis sendirian dimuka bumi, maka seorang teman adalah satu satunya yang kau butuhkan…

Kita selalu punya teman yang seperti itu, dia hidup di alam kehidupan kita sendiri….

Good luck, hearts!

Kost, 4 Decmber 2006 - 0117hrs

Tentang hati, suatu ketika


Hanya pada menit terakhir pertemuan, menitipkan kepiluan yang bakalan panjang bahkan terlalu pekat untuk diarungi. Nurani berteriak memanggil atas hati yang selama ini mengumbar haknya yang mutlak. Enough is enough, katanya! Berada diujung persimpangan jalan, memilih perih sebagai jawaban. Pemberontakan logis itu justru ketika si hati sedang pingsan terkena bius tahun baruan.

Pagi tadi ketika dunia terbangun, sang hati perlahan siuman lalu mengumpulkan syaraf yang terkunci dan segala kekuatan yang selama ini menjadi pengemudinya. Dia meraba raba kesekelilingnya, yang dijumpainya hanya hampa. Hujan, suaranya, baunya, nuansanya, memaksa hati untuk terus mencari sesuatu yang berarti. Si hati diam diam terus mencari rumah teduhanya yang telah dibongkar satpol pp, rumah teduhan semu yang memberikan keteduhan sesungguhnya selama ini, yang disangkanya tetap menjadi miliknya. Lalu disesalinya kepingsananya dan seluruh penyebabnya, disesalinya diri yang tak kuat berdiri diatas lantai kesabaran, bahkan dengan sokongan pengertian nurani. Dia terus mencari cari dalam diam. Malam tadi, diantara igauannya dia memanggil nama. Lalu dia pingsan lagi karena yang dijumpai hanya sepi.

Dan, yang pertama ditanyakanya, dicarinya adalah puteri Nawangwulan yang hanya ada dinegeri dongeng. Sampai dengan bijak harus menikam lagi dia dengan pisau logika;
Hey…look now!
See the truth!
Face it! You don’t belong there anymore!
You’re on your own now!
Dia terisak sedih, dia terpukul ragu, darah mengucur dari setiap permukaan kulitnya yang terluka. Dikenangnya segala hal sampai yang sesepele lalat sekalipun menjadi sesuatu yang istimewa, lalu diam diam dibingkainya setiap kenangan itu menjadi karya paling indah yang akan selalu menghiasi dinding sang hati.

Dan si hati tak berhenti merajuk, hujan membuatnya terkurung dalam kenangan, dan mendung pekat seperti meyakinkan bahwa harapanya tinggal menjadi angan angan semata. Tapi dia memang tidak menyerah, tidak percaya bahwa semua harus dialaminya justru setelah dia siuman. Diingatnya saat saat menjelang pingsan. Hhmm…si hati memang gigih, sosok yang perfeksionis dimana dia harus tahu semua yang harus dilaluinya supaya dia bisa mengayunkan langkah apabila memang harus berjalan lagi, jika kekuatanya pulih. Habisan akal membujuknya untuk berhenti bertanya dan merengek. Berbagai kecengengan disampaikan, sampai bingung bagaimana lagi memberi pengertian. Sampai pada penjejalan paksa propaganda alam nyata dengan atas restu logika. Membenturkan bacaan di blog ke jidat si hati, agar dia berhenti bermimpi, kembali mengijak bumi dan menerima keadaan tanpa banyak bacot lagi. Bahkan banyak filsafat tentang kebijaksanaan, tentang tanggung jawab nurani dan tentu saja hati nanti kalau saja dia harus ikutkan kemauan.

Lambat laun perlawananya melemah, jeritanyapun melemah. Yang datang kemudian adalah pertanyaan pertanyaan kekanak kanakan tentang apa yang hati lakukan nanti, dan tentang bagaimana kisah kelanjutan cerita, berusaha selembut mungkin memperlakukan hati, tidak kasar dan sebisa mungkin membujuknya bisa mengerti dan menerima itu semua dengan satu tiang menara: Menerima!

Dan sekarang si hati kembali bernafas seperti biasa, mencoba menggapai sekeliling dan memandang diri, berintrospeksi untuk kemudian berjalan lagi. Dikemasnya segala kenangan dan catatan, lalu disimpanya baik baik di ransel yang akan dibawanya mengelilingi bumi. Tidak, dia tidak berusaha menemukan apa apa, dia hanya berjalan dan terus berjalan, siapa tahu terkadang ketemu dengan sesuatu sebagai pengalamanya. Dipandanginya gambar rumah indah itu penuh keharuan, dikenangnya rasa sayang yang menggenangi hati hampir setiap waktu itu, serasa masih ada meskipun dia kehilangan alamat tujuan. Sisa sisanya masih berserakan menunggu untuk dirapikan. Tapi dia bisa terima keadaan, dia akan perlahan berdiri dan melangkah diam diam. Ya, dia akan diam, seperti sejuta peristiwa yang harus dilalui sebelumnya. Diterimanya doktrin tentang kebijaksanaan dari sang logika, tentang sesuatu demi kebaikan bersama.

Tuesday, January 03, 2006

Diam!


Aku menjadi semakin tak berdaya. Meyakini ketidak yakinan dan berserah pada keadaan memperlakukanku. Diam diam telah kupilih diam sebagai jawaban atas ribuan pertanyaan yang lengkap dengan jawaban dikepala. Aku hanya mahluk kecil penghuni planet.

Luka luka kecil, bahkan singgungan canda sekalipun tak terasa, kecuali membangkitkan pembusukan yang memang sudah ada dan menjadi mutan bagi emosi. Tinggal kewajiban yang harus dijalankan, kewajiban menjadi manusia itu sendiri.

Lalu bathin ragu bertanya tentang harapan, tentang jawaban tekateki masadepan. Harapan? Kemewahan apa lagi itu? Membicarakanya sama rasanya seperti menaburkan benih benih kekecewaan yang siap kita panen dimasa datang.

Penderitaan. Ufh…lagi lagi penderitaan! Bosan hati menafsirkan! Dia hanya ada dalam alam fikiran, dia adalah musuh yang kita ciptakan sediri kemudian kita dramatisir penganiayaanya. Dia datang pada setiap kehidupan yang rumit, complicated.

Diam kau wahai hati! Berhenti bertanya apalagi protes. Terima rasa hidup sebagai pembagian. Terima! Terima! Terima! Tanpa tanda tanya!

Dan kau wahai diri!
Telah bodoh masih bertingkah sombong dengan anggapan egois. Kamu bukan apa apa kecuali debu. Maka luruhlah ditempatmu, menjadi sesuatu yang tak berarti dimanapun berada.

Diam. Baiklah, diam. Mengunci mulut, menyumbat telinga. Tenggelam dalam kegelapan angan angan, tak ada masadepan maupun masasilam. Mustahil!!! Diam hanya karena hati letih mengeja kata kata, karena bathin lusuh diperbudak makna makna. Diam wahai diri! Diam wahai hati! Diamlah!

Diam! Just shut the hell up!!!! Jangan bertanya maupun berbisik tentang semua peristiwa!
Graha Simatupang, 2 Januari 2006

Monday, January 02, 2006

Tahun Baru

2005 meninggalkan kesan sebagai tahun yang celaka, tahun rawa rawa, tahun bencana, dan sekaligus tahun untuk pengetahuan baru, pemahaman baru akan hidup dan aspeknya. Sungguh sepanjang tahun yang melelahkan, sepanjang tahun yang padat berisi, warna warni aneka warna dan rasa! 2005 juga menjadi tahun keramat. Mengalami berada di dua kutub kesempurnaan yang berbeda, berada diantara dua ujung paling ujung rasa; pahit manis kehidupan. Dan 2005 seperti tidaklah berakhir, karena segala detail calon kejadian telah menjadi embrio bagi mengisi cerita di 2006. Dan…kita tinggal menjalani seperti umumnya, meneruskan apa yang setengah jalan, dan menjalankan apa yang sudah jalan, mengikuti track yang telah terbentuk entah bikinan hati atau buatan logika. Kedua duanya mengantarkan setiap insan manusia kepada kelanjutan peristiwa dunia.

Sebagian orang memilih mengikuti kata hatinya dan menjadi legenda kemudian, sebagian lagi babak belur terjebak salah mengikut kata si hati, lalu mengasihani diri tak henti henti, mengemis dan terus mengemis simpati kepada Tuhan. Dan masing masing diiringkan dengan konskwensi sendiri sendiri, yaaa…kita jalani saja 2006 dengan rasa penuh terimakasih kepada Tuhan, tetap menjadikan nurani sebagai yuri pertandingan antara hati dan logika.
2005 juga tahun kehilangan, dimana yang hilang tak akan kembali lagi, hilang musnah ditelan zaman. Tahun yang sama juga berisi temuan temuan baru tentang pengalaman. Yang paling berkesan, 2005 adalah tahun semu, tahun ketidak pastian dan tahun kegelapan...yang menyisakan beban penyesalan ditahun 2006 dan barangkali tahun mendatang.
Dan hidup harus terus berjalan...
Jakarta, 01 January 2006

Sunday, January 01, 2006

Contemplation


Pagi bermula bersama ketidak yakinan dan pertanyaan pertanyaan sinis bahkan pesimis, plain semata.
Aku ingin diam, dalam gelap yang mengurung. Diam tanpa gerakan dan fikiran. Tidak, aku tidak bisa mengentikan laju fikiranku, yang menyeret nyeret kenangan menjadikan beban penyesalan.
Aku ingin berhenti menulis, sebab yang terbaca hanya keluhan, makian diam diam.
Aku ingin berhenti memuja, sebab yang datang hanya cemburu yang menghanguskan isi dada.
Aku ingin diam dalam gelap, diam tanpa gerak dan kata kata, tapi tolong singkirkan segala suara yang datang dikepala.
Mungkin aku sangat marah hingga tak mampu marah,
Mungkin aku sangat sedih hingga tak sanggup bersedih
Mungkin aku sangat sakit hingga tak bisa merasakan sakit
Atau mungkin aku sangat bahagia hingga tak bisa menghayati kebahagiaan?

Inikah titik nadir?
Inikah tubir jurang?
Inikah akhir?
Atau awal?
Atau pertengahan jalan?

Aku kebingungan!

Aku bukan punya siapa siapa, seperti aku tak punya siapa siapa..
Hanya lingkupan gelap dan kabut yang datang pergi sesuka hati, kadang menjanjikan kadang menikam…
Lalu, dimana diri harus diletakkan?
Diantara bekas bangunan kebanggan yang tinggal puing dengan mayat berjalan berseliweran?
Ataukah harus diri mengikuti sesat di persimpangan jalan?

Aku mengalah terseret kebekuan, tanpa langkah apalagi tujuan.
Kuikuti arus zaman, dari gelap ke gelap dan hanya gelap yang tertayang…tanpa rasa, tanpa beban dan tanpa harapan…

Aku diawang awang sendirian…
Melayang layang menunggu kematian datang...

Jakarta, 1 January 2005

Thursday, December 29, 2005

Pemakaman


:Bule’ Sri Lestari
(31 Des 1953 – 28 Des 2005)

Gundukan tanah merah, setengah basah dikepung puluhan peziarah mengantar pergimu. Duka belum lagi pergi dari hati hati yang kehilangan, berjongkok dan merendah pada kedalaman bela sungkawa. Jasad yang semata wayang, telah ditanam, ditabur bunga dan juga doa doa mengiringnya. Tangan menengadah, memohonkan ampun atas dosa dosa. Semua terjemahan kata perpisahan semata.

Hari ini selesai sudah cerita hidupnya. Akan segera hilang ditelan angakasa, ditanam berdesak diantara pendahulu. Ia telah bertahun menahan nanah dalam dirinya, yang tersembunyi dibalik tulang dan kulitnya yang merapuh. Adakah juga air mata tumpah dibawah tanah sana, Bule’?

Sekarang waktunya untuk sendiri, hanya bersama malaikat dan barangkali bidadari. Semua berjalan membelakangi, perlahan menjauh mengusung duka hati pulang, membawa kelegaan kerumah kehidupan.

Selamat jalan, Bule’ Anto'…Selamat menempuh perjalanan lain lagimu, menuju kemanapun hendak engkau tuju…

Tanah Kusir cemetery, 28 Desember 2005

Wednesday, December 28, 2005

Risalah Sunyi


Bau khas sisa hujan masih menyerebak. Sisa ketakjuban atas kejadian alam yang kemudian menggenangi hati dengan rasa melolong lolong, hampa penuh keindahan sendirian, menjadi sang raja dikerajaan bernama sunyi. Menjadi raja atas bukan apa apa, atas bukan siapa siapa, sendiri!!

Sore tadi dikantor.
Mendapati hampir kepala semua orang dikantor sudah berhambur direncana mereka masing masing menyambut akhir minggu di akhir tahun, sebagian lagi natal, semua orang sebegitu sibuknya dengan keriangan masing masing, menunggu jam lima untuk segera berendam ke kehangatan keluarga masing masing. Ya, itu menyadarkan bahwa ketika mereka terbias dikehangatan keluarga masing masing, aku akan tenggelam dikedalaman lautan peradaban dikamar kost. Tidak ada siapa siapa yang tinggal dikedalaman itu. Semua orang dikantor nampaknya sudah terbius dengan atmosphere perayaan. Perayaan atas apa? Zaman yang semakin tua atau hidup yang baru tiba? Apa bedanya juga kalau keduanya sama sama tidak kita kenali? Masa depan dan masalalu, bukan?

Pikiran itu terus berpilin menggubal kemana mana, seperti percakapan antara mencari kesejatian dan sekedar memprotes keadaan. Seperti kedalaman lautan kehidupan, fikiran itu menempatkan aku menjadi selembar bulu elang yang gugur diangkasa dan terbang melayang layang, sementara sang elang dengan kepala diam dan mata buasnya gagah melanglang, sayapnya yang kehilangan satu lembar bulu tetap menjeprak lebar sesekali mengepak anggun menjelajahi ketinggian. Sang bulu tak lagi menjadi bagian dari sayap yang gagah mengaggumkan itu, ia luruh kebumi karena gaya gravitasi dan mengalami proses yang sangat membosankan sesuai kehendak angin dan udara. Sungguh dia tidak berdaya apa apa lagi. Menjadi permainan ketiadaan. Terkadang harus diikutinya jalan kekanan, kekiri, menukik, melambung dan berjumpalitan. Dia tidak berdaya, dan dia nikmati itu menjadi satu maneuver penuh estetika. Indah adanya!

Ketika jam lima betul betul akhirnya datang mengampiri bumi, kantor menjadi makin ramai orang mau pulang. Diluar gedung, gelap pekat menyelimuti rupanya. Dikepala terbayang kamar kost, libur akhir pekan dan warna abu abu yang maha luas. Dan angkasa menjadi kelam, hampir tanpa warna. Tak ada yang terlihat oleh mata, hanya angan yang mampu menerawang menembusi gelap, meraba raba apa bakal terjadinya nanti. Hidup menjadi kotak kotak kubus teka teki masadepan.

Melangkah keluar pintu lobby sesudah kantor terasa sepi, gerimis menciumi kepala dan muka dengan manja, sepatu kets hitam melangkah tenang menjejaki gerimis, menatap keatas dan terkesima oleh sebentuk pelangi, warnanya kabur melengkung ragu diatas graha simatupang yang menjulang. Pelangi itu…warnanya hambar ditikami mendung. Cerita nenek dulu, pelangi adalah kluwung jembatan bagi para bidadari dan putri kayangan turun ke bumi, mandi di telaga suci pilihan para dewa. Lalu dimanakah turunya bidadari2 itu? dimanakah telaga suci itu? Adakah bidadari berhati tuan putri yang turun kebumi dan menjadi penghuni? Ah, aku ingat cerita tentang Nawangwulan dan Joko Tarub. Legenda jawa yang akhirnya melahirkan ‘dogma’ jawa bahwa pantang bagi laki laki untuk membuka tutup dandang menanak nasi sang istri. Haihhhh…dunia demikian tuanya ternyata….!

Kaki kecilku melangkah tenang meninggalkan bayangan tentang kehidupan keluarga, dimana hangat terasa karena ada cinta yang saling mengikat jiwa jiwa penghuninya, karena berisi hati yang saling menyelimuti dan melindungi, dan menjadi tempat dimana segala urusan dunia berpulang. Dalam belaian gerimis, menuju kamar kost dunia angan angan, dunia kedalaman lautan hati. Bikini bottom tanpa Sponge Bob!! Didasar kedalaman dimana hanya berteman putri duyung yang kesepian dan nyai roro kidul yang cantik jelita. Dunia dongeng semata!

Tentang sebuah negeri bikini bottom yang maha luas dan sunyi. Berisi lembah lembah yang luas penuh harapan, berisi jurang jurang curam yang mengerikan, berisi hutan belantara penuh kemisterian, namun semuanya teduh dan indah. Hawanya sejuk dan menyamankan, menandakan memang seluruh negeri adalah istana bagi kesunyian itu sendiri.

Keindahan sunyi, sebetulnya tercipta secara alami oleh ketidak berdayaan melawan, improvisasi dari keadaan yang buruk menyedihkan menjadi cantik dan menyenangkan. Kemudian menjadi warna dunia yang terasa bagi jiwa. Aku jadi menyukai hening dan teduhnya. Ruang privacy yang luas bagaikan rimba . Demikianlah diri berusaha menempatkan dengan layaknya pasrah kepada kondisi bernama kesendirian itu.

Episode Kepasrahan


Ada rasa tiba-tiba tergantung hampa di dasar hati saat hentakan kisah terbaik datang dari sebuah jiwa yang terabaikan. Senyuman manis dan doa gembira yang di paksakan di persembahkan untuk meramaikan suasana jiwa pengharapan. Sebuah kecupan sinis mendarat lembut dan belati kenyataan menikam sopan di relung lubuk yg terdalam. Kesadaran yang terlambat datangnya (atau sengaja di tahan lajunya) bahwa ini semua metamorfosa dimana kenyataan sebenarnya disembunyikan untuk menghidupkan logika.

Ah..logika , sudah lama dia pingsan berkepanjangan(sebetulnya paling pantas kalau dibilang mati tapi sebuah jiwa yang lain meyakinkan bahwa logikaku hanya pingsan dan menunggu 'waktu' untuk sadar) sejak beberapa waktu yang lalu, ketika lembaran berharga menjadi penentu pergaulan nista. Begitu besar keinginan untuk terus bermimpi dan bermain dengan kealpaan jiwa yang terlonjak-lonjak mengharapkan perhatian. Jiwa yang pongah dan selalu menengadah ke atas mempermanis dosa yang di abadikan sebagai kejadian hidup yang patut di pecundangi . Belum ada sengatan lebah pengingat yang bisa mencubit hati yang melamun.

Ah...lagi-lagi soal hati, lagi-lagi soal jiwa, beruntun soal nurani. Kapan bisa tulisan ini dialihkan menjadi sebuah berita universal ? Berita tentang hidup orang lain,tentang hajat orang banyak, terbitan empati yang tulus kepada sesama dan bukan merumpikan tentang hati yang sudah hilang warna merahnya.

Ya..ini bukan tulisan , ini percakapan batin yang rusak, penuh dengan kuasa atas kebohongan yang tertanam rapi, harum bangkai dan terlaknatkan yang terbaca oleh manusia pemikir. Lebih dari seribu kali dicoba untuk menghalalkan pikiran kalau kebohongan hanyalah kejujuran yang tertunda tapi tetap terharamkan oleh olengan simpati dan rasa kesenasiban. Dan yang terpenting, karena saat kebohongan bermain peran, justru kejujuran dengan setia menontonnya berakting bahkan terkadang sebagai pemeran pembantu di layar hidup.

....
Dan lara masih bergemuruh nyaring di lubuk kosong merompong, tidak ada sedikit pun keinginan untuk pemenuhan hati yg stabil. hal yang paling salut adalah dia bisa menempatkan diri sebagai sebuah tiang sanggahan kepedihan,sebagai wadah penampung...dan sebagai terompet kematian rasa bersalah...

Mungkin ini saatnya untuk bercermin, memoles diri dengan kepasrahan dan tawakkal, memuluskan kulit wajah dari cacian duniawi, membungkus erat kekecewaan dengan keikhlasan batiniah. Tutup episode kuasa atas kebohongan dengan pembinasaan karakter surgawi dunia.

Thursday, December 22, 2005

Mimpi Buruk


(Seperti terbagi kepada seorang teman hati)
Pagi ini, angkasa hati berisi Batara Kala (dalam legenda jawa dikenal sebagai visualisasi dari angkara murka, berbentuk raksasa dan bisa melakukan segalanya). Dia datang dari mimpi buruk berderet panjang semalam tadi, ketika kenangan yang menempel dipunggung menampilkan lagi slide kelukaan tanpa bisa mempengaruhinya dengan keinginan.
Pagi ini api menyambar dada, menghanguskan semua harapan dan kemapanan yang selama ini menjadi senjata.

Mimpi tadi malam, terasa seperti ratusan malam sebelumnya yang melulu berisi perkelahian, darah dan tangis. Entah oleh apa, entah dari sudut mana merasakanya, tapi ia ada didalam sana, rapi tersembunyi menjadi mutan penguasa satu ruang hati yang amat tersembunyi, dipagari oleh kepurapuraan logika.Semalam aku melihat tubuhku yang digoda olah batara kala, dipecundangi dengan semena mena. Hidup kesayangan dirusakkan tanpa hati, dan ditertawakan dengan bengis. Aku harus melawan sampai pada titik ketika senyum menghilang dari peredaran. Aku melawan sekuat kuatnya melawan, mengejar sekuat kuatnya berlari, sekedar untuk menyampaikan pesan bahwa dia tidak punya hak untuk menghancurkan apa yang aku cintai; hidup ini. Melewati lembah dan gunung, menuruni jurang jurang yang curam, perkelahian itu melelahkan hati, melemahkan syaraf. Dan aku terus berkelahi sampai akhirnya dia terkapar tak berdaya kecuali menunggu belas kasihan.Aku bisa lihat, punggungku yang terluka, menganga lebar oleh perkelahian itu. Darah merah muda masih bergelimang disana, perihnya tak terasa tertindih oleh letih yang panjang. Aku harus berhenti disana, membawanya kerumah sakit untuk si batara kala dan merawatnya dengan sebaik baiknya perawatan. Luka dipunggung aku lupakan, letih dibadan aku abaikan, semua hambar terasa.Lalu datang seorang bernama Simun itu, yang entah dari belahan bumi mana aku kenal, datang hanya untuk berkoar koar untuk berteriak teriak bahwa aku keji seperti iblis, bahwa aku bengis melebihi setan. Dia mabuk, bau alcohol menyembur dari mulutnya yang jarang dibersihkan. Kata katanya kotor menjijikkan, menyemburkan sumpah serapah dan kesombongan. Semua menghujatku. Tak ada lainya.
Lalu semua orang pergi, tinggal aku sendirian saja diruangan itu. Si sakit sudah membaik, sudah bisa tertawa dan buang air sendiri, menyantap makanannya sendiri. Aku temukan kehidupan yang aku cintai ambrol, kehilangan warna dan rasa. Aku begitu sendiri memunguti serpihan kebaanggan yang aku bangun selama bertahun, dengan darah menggenang dan mata berkunang kunang. Kepedihan memenjara hati, kekecewaan menindih perasaan dalam mimpi itu. Luka itu menjadi kentara dari sudut pemandanganku karena terletak diatas bekas luka yang tertutup dengan kulit baru. Antara marah, kesal, kecewa dan sedih, aku menangis mengasihani diri.

Mata masih basah dan nafas terengah engah. Matahari mencemooh dari sudut jendela. Mengumpulkan nyawa yang tercecer berantakan, bergegas kekamar mandi dan menyiram seluruh tubuh berharap sekam dalam dada yang disusupi bara perlahan memadam, lalu lenyap. Tetapi asapnya tetap saja menyesakkan dada, menyisakan amarah meletup letup tanpa alamat. Dan hari berjalan seperti biasanya….lalulang manusia semakin menyumbat kepala.Sungguh aku mencari pemahaman, dimana menyesali mimpi adalah kemewahan yang sia sia belaka…
Kantor, menjelang makan siang 21 Desember 2005

Nasehat dari hati


Mimpi burukmu...Adalah hari yang sedang tidak bersahabat saat ini mungkin. Menggoda hati yang sedang tidur nyenyak pagi ini meski mimpi panjang yang mengerikan semalam menyeruak keluar dari perasaan yang ikut tidur pagi ini. Dan badai, apa pun namanya juga ikutan tergiur oleh alunan hari yang sumbang. Bukankah ini pernah terjadi sebelumnya ? entah dalam bentuk seperti apa, tapi pasti pernah menjumpai dan bertegur sapa dengan jiwa.

Ini "hanya" soal waktu, yang bersekutu kuat dengan hari. Dua keajaiban Tuhan ( tidak bisa dilihat, hanya bisa dirasakan dan diikuti) yang bisa memporak porandakan atau bahkan merapikan jiwa seorang makhlukNya yang paling disempurnakan. Ada teka teki sanubari yang sedang diberikan untuk di pecahkan. Kalau memang begitu, lakukanlah yang terbaik demi sebuah jawaban sempurna, ikutkan logika dan jiwa sebagai tim suksesnya. Rumah hati sedang menunggu pajangan yang terbaik.

Kehadiran sebuah raga adalah bentuk konfirmasi fisik atas hati yang bergelayut manja , memastikan bahwa informasi hati benar adanya . Sebuah usapan lembut di atas rambut rambut kecil tajam, mengelabui sinar kepahitan di mata, dan melipat gandakan menjadi seribu sentuhan kebaikan penyayangnya yang mengharapkan bila suatu saat raga tak lagi kuat untuk menopang kepala yang terkulai lemah , masih ada kupu kupu yang bersedia membantu mengangkatnya.

Wednesday, December 14, 2005

Tafsir Senja


(sekedar catatan kepada seorang teman yang mencemaskan kematian)

Menafsirkan senja seperti halnya mengeja sebuah kemungkinan yang menganga bernama masadepan. Tak terlihat, penuh rahasia. Seperti juga malam yang turun dengan kegelapanya ketika matahari beranjak pergi bersembunyi diperut bumi. Senja akan tetap lewat, malam akan tetap datang dan semua siklus kehidupan akan terus berjalan dalam tracknya masing masing.

Menafsirkan senja seperti juga halnya menghitung jejak perjalanan hari, lalu merenungkannya perlahan menjadikanya catatan hari ini, yang akan menjadi masalalu, menjadi batu fosil tanpa bisa lagi diubah bentuk maupun warnanya. Terkadang menyisakan sesal, menyisakan letih, terkadang juga menyisakan rasa enggan untuk melepaskan sebuah hari berlalu, berharap jarum jam bisa dihentikan dan matahari bisa dibendung lajunya. Senja selalu saja menyuguhkan kontemplasi kecil dalam hati, tentang apa yang telah terlewati hari ini. Tawa, canda, obrolan, kejadian, kesaksian, tangis adalah isi dari catatan bernama pengalaman.

Senja selalu saja menjadi permulaan bagi sebuah kehidupan kedua, berkemas menyongsong datangnya warna hidup hitam setelah seharian berwaran putih. Hitam putih hidup, aturan baku bagi setiap mahluk dan kehidupan alam. Sebagian orang menghitung rugi laba hari ini, sebagian orang akan tergesa menyiapkan segala upacara penghamburan hati, menyiapkan kehidupan pribadi. Mengaktualisasikan diri dalam kehidupan yang bukan melulu berisi tidur, lalu bangun lagi ketika matahari datang lagi menjelajah bumi besok pagi.

Ya, secara umum senja mengantarkan orang untuk memasuki kehidupan pribadi masing masing, bersama kehidupan sosial yang lebih pribadi. Ada juga bagi sebagian orang senja berarti pagi dimana kehidupan baru dimulai, menjadi pelayan bagi kehidupan malam orang orang yang hidup dalam kehidupan pribadi.

Menafsirkan senja, sebenarnya adalah menafsirkan kehidupan secara manusiawi. Senja mengajarkan untuk mengkalkulasi masalalu dan mempersiapkan diri untuk masuk ke masadepan yang misterius. Senja adalah penggambaran dari siklus kehidupan bumi manusia, dimana semua yang berawal pasti menemui akhiran, seperti halnya kelahiran adalah tanda tangan kontrak untuk kematian. Semua berjalan sesuai siklusnya dalam irama dan genre yang sudah ditentukan Tuhan, manusia tinggal menjadi pelaku, dengan rencana dan keputusan, lalu mengikuti konskwensinya dimasa depan yang akan menjadi masa lalu besok besok hari.

Kehadiran senja mengusung kesepian yang indah kehidupan lain lagi dalam satu bundel besar riwayat diri. Menyuguhkan kesadaran, bahwa hidup patutlah disyukuri dengan cara dinikmati. Menempatkan diri dalam antrean panjang umat manusia menuju kematian yang secara random sudah ditentukanNya. Kita tinggal menjalani siklus yang sudah dengan agenda yang disembunyikanNya. Maka teman, jangan cemaskan kematian karena itu pasti datang. Hal biasa dalam kehidupan…

Bagi sedikit orang, melewati senja adalah memasuki labirin angan angan, penuh kemeranaan yang memilukan, sendirian…

Warung Nabiel, senja 13 Desember 2005

Monday, December 12, 2005

Dua ton beban sesudah makan malam


Warung tenda itu begitu meriah dengan pembeli dan aktifitas memasaknya, dengan semua crewnya laki laki, sebagian berlogat jawa bagian barat sekitar Tegal atau Banyumas. Sepuluh meja yang disediakan menampung total sekitar delapan puluh orang dalam dua lajur dipinggir jalan yang seharusnya mungkin menjadi trotoar. Hampir selalu terisi penuh dengan orang orang yang datang makan, berkelompok, juga sekeluarga kadang kadang, bahkan berdua dengan pasanganpun tak terlewatkan. Dan hampir keseluruhannya adalah etnis tionghoa. Bahasa cina (entah mandarin entah hokian karena kedua duanya aku tak menguasai) terdengar disana sini disela gemuruh suara kompor pompa dan masakan didalam kwali penggorengan. Semua sibuk melayani, seperti semua sibuk menikmati hidangan istimewa; seafood.

Diseberang kali mati yang airnya diam sesekali bau anyir tercium. Genangan air ditepi jalan sisa hujan terlindung oleh mobil mobil mengkilat para tamu yang berjejer sepanjang tenda. Orang yang jajan bermobil menjadi sumber rezeki bagi tukang parkir. Kemegahan WTC Mangga Dua dan Hotel Novotelnya menampakkan kemahalan yang angkuh diseberang jalan raya dengan lampu beraneka rupa, dengan dagangan yang ditawarkan memenuhi hampir seluruh kebutuhan hidup dunia.

Duduk membaca menu, menuliskan pesanan makanan; baronang bakar, cah kangkung cumi, kerang dara rebus dan kerang hijau saus padang. Tukang majalah datang dengan berbagai judul dari femina, kartini, tempo sampai cosmopolitan. Lambaian tangan penolakan mengusung barang barang itu pergi dari hadapan. Hmm…bagaimana akan membaca majalah jika tangan pasti sibuk dengan lumuran bumbu masakan?? Orientasi bisnis yang buruk? Atau hanya pandangaku saja yang terlalu skeptis menilai? Semua berusaha menangguk rezeki, sebagian lagi memanfaatkannya disini.

Ketika hidangan tiba dimeja, dan tangan berlumur saus dan bumbu masakan, pengamen tunggal dengan gitar menyanyikan lagu yang belum pernah terdengarkan ditelinga. Mengharap duli meja didepan untuk menyisakan uang recehan, seribu atau limaratus rupiahpun jadi. Pandanganya mengharap, sedangkan tangan yang berlumur bumbu masakan mustahil menelusup kekentong untuk sekedar uang recehan. Lambaian tangan dan senyum kilat mengusirnya pergi dari hadapan. Mengamen hakikatnya adalah menghibur, bukan membuat orang jadi risih, bukan mengemis dengan modal gitar. Jadi adalah hak untuk tidak meladeni pengamen karena merasa tidak terhibur.

Hidangan tiba dimeja, memenuhi hampir semua permukaanya. Semua tersaji cepat dan panas baru masak. Baronang yang merah kehitaman, kerang hijau yang kering berlumur saus, kerang dara yang gendut gendut dengan saus plus bawang putih, dan cah kangkung cumi mengepul mengundang selera makan membuncah. Hidup terasa begitu nikmat dengan semua karunia yang diberikanNya.

Disudut belakang sebelah kananku, disebuah bangku plastik yang tak terisi oleh satu keluarga mulai dari kakek sampai cucunya yang sedang rusuh menyantap hidangan, seorang gadis cilik memangku keranjang, berisi makanan terbungkus dalam plastik plastik kemasan. Wajah tiong hoanya datar menawarkan dagangan tanpa kata kata, sebentar sebentar berjalan menjajakan daganganya kepada tamu yang datang. Tampaknya sepi malam ini daganganya. Rona wajahnya yang polos tertampak letih, sinar matanya yang bening berisi penuh harap, dan dari gerak tubuhnya terpancar semangat muda yang gigih. Dibelakang samping kanan, pandangan dan keberadaanya menikam empatiku, satu satunya pembeli pribumi ditempat itu.

Gadis tiong hoa kecil yang menjajakan makanan dalam keranjang, bayanganya mengikuti langkahku meninggalkan Kalimati dengan dua ton beban perenungan dalam dada seperti air kali yang menggenang mat. Seharusnya, aku membeli apapun yang dijualnya. Maafkan aku, wahai adik kecil…

Seafood 49, Kalimati – 11 Desember 2005 -

Friday, December 09, 2005

Menyayangi


Menyayangi, bukan berarti harus mengalami apa yang ego inginkan. Menyayangi adalah juga menghormati serta memahami orang lain sebagai sebuah pribadi apa adanya tanpa dikte apapun. Membiarkan bathin orang lain tumbuh subur dalam hidup sebagai dia apa adanya tanpa berupaya membentuk menjadi seperti kehendak diri. Barangkali ibaratnya adalah sebagai lahan dimana orang yang kita sayangi sebagai pohon (juga berlaku sebaliknya) yang tumbuh kokoh dengan akar meneracap jauh kedasar. Menyayangi adalah tetap membiarkan orang tersayang sebagai penguasa atas pribadinya sendiri tanpa ada keharusan untuk mengikuti apalagi menjadi seperti kita. Membiarkan dan merawat orang lain dengan kelengkapan atribut kepribadiannya sendiri.

Menyayangi juga mengandung konskwensi nurani, dimana diri merasa berkewajiban untuk terus menjaga hormat, menempatkan orang yang disayangi di posisi aman dalam setiap hal. Kewajiban itu bukanlah keharusan melainkan sukarela, tumbuh dengan sendirinya tanpa diminta dan tak bisa dipaksa. Rasa sayang tidak mengijinkan sedikitpun orang tersayang untuk menjadi susah karena hubungan, mendapat masalah dari kebersamaan. Terkadang rasa sayang tumbuh liar dirimba hati, yang samasekali tidak bisa ditolerir oleh dunia nalar, juga oleh logika yang sedang pulas terbius. Kita bisa menikmati semua penghamburan hati, hanya ketika logika terbungkam dan semua berjalan mengikuti kehendak hati.

Perasaan sayang juga melingkupi upaya keras untuk bisa memahami apa jalan fikiran serta perasaan orang yang kita sayangi. Beban beban rasa bersalah yang muncul satu persatu dari persembunyian, kecemasan kecemasan yang berderet memamerkan kengerian, perhitungan perhitungan akal sehat yang memaparkan kemungkinan kemungkinan pahit, semua berjajar menghadang kehendak untuk meneguk habis cawan berisi ‘kebahagiaan’ yang dijanjikan hati. Seharusnya tidak akan ada penilaian naïf atau kecewa apabila akhirnya logika mampu menciptakan barricade yang hati tidak sanggup menembusnya. Bahkan akan menghargai sikap apapun yang terambil nanti, tanpa harus dibebani perasaan negatif. Tetap menghormati dia sebagi pribadi yang indah dan independen. Akal sehat dan hati memang otomatis akan berperang ketika nurani mulai terabaikan. Orang yang patut disayang adalah orang yang punya dasar nurani yang baik, yang tidak ingin melukai dan menyusahkan siapapun dimuka bumi ini.

Maka ketika bathin mulai letih oleh pertentangan antara hati dan logika, hentikan semua peperangan dalam bathin, biarkan semua mengendap tenang, dan definisikan ulang keinginan keinginan. Ajaklah logika untuk duduk dimeja perundingan dan biarkan hati dan logika menyampaikan argumenya masing masing. Tetaplah mengawal proses itu dengan kedewasaan sikap. Hati jangan dipaksa, dan logika jangan diracuni. Terkadang tidak ada salahnya mendengarkan logika berbicara karena tugasnya memang melindungi nurani dari beban rasa bersalah dan penyesalan.

Masa depan adalah miliaran pintu kemungkinan, dimana kita hanya punya hak satu saja untuk memasuki dan melewatinya. Pintu pintu itu akan otomatis terbuka oleh sikap yang kita tentukan hari ini. Bahkan terkadang kita harus melewati pintu yang tidak pernah kita perhitungkan samasekali sebelumnya. Pintu pintu itu lahir dari pilihan – sebab hidup hanya pilihan -, dengan pilihan pilihan yang sudah ditentukan olehNya. Menentukan pilihan berarti juga mengambil konskwensi resiko yang dkandungkanya.

Apabila sebuah keputusan yang dilematis itu belum benar benar terjadi, jika logika keras memperingatkan ada baiknya juga mendengarkan pelan pelan. Sekuat dan sebasar apapun hati menginginkan sebuah rencana indah terjadi, tidak akan mengurangi kualitas rasa sayang, apalagi mengurangi itikad baik untuk menempatkan orang tersayang ke posisi yang aman. Teori ini tentu murni produk logika, ketika hati sedang tak berdaya dengan mulut terlakban dan tangan terborgol. Kalaupun sebuah rencana indah tidak terjadi, kita harus bisa menerima itu dengan lapang dada dan menghormati dia sebagai pribadi yang kuat, yang belajar dari pengalaman masalalu. Kita tidak akan hancur, dunia tidak akan kiamat meskipun seandainya rencana besar itu tidak terlaksana. Barangkali hanya tertunda sampai hati dan logika bisa bersinergi untuk mengizinkan itu terjadi.

Apabila logika yang menang, rasa menyayangi mengedepankan semua keinginan untuk menempatkan orang tersayang pada posisi yang bebas resiko, bebas masalah, dan itu harus dengan kehati hatian yang sangat tinggi mengingat cinta tidak sepenuhnya real dan tidak sepenuhnya fake. Nilai dari keberadaan seseorang dalam kehidupan pribadi adalah anugerah yang selayaknya disyukuri, dan tidak ada alasan apapun untuk memaksakan keinginan, karena menyayangi, bukan untuk menyesatkan. Menyayangi mungkin justru akan menimbulkan efek hancur dan kecewa apabila kebersamaan berbuah kehancuran, berbuah penyesalan dan beban bersalah. Saat itulah, seorang pecinta akan menghukum diri sendiri karena telah menghancurkan hidup orang yang amat disayanginya.


Kost, 0115hrs - 151208


Thursday, December 08, 2005

Ketika Logika siuman dari pembiusan.


(kepada seorang istimewa, yang tengah dilanda peperangan)
Hari hari belakangan ini seperti hitungan mundur. Hajat besar dalam hidup yang amat pribadi itu mau tidak mau melibatkan segala unsur yang ada didalam alam bathin yang dikuasai dua kutub bertentangan; kubu tuan hati dan kubu tuan logika. Mereka adalah dua majikan yang mengendalikan emosi dan sikap. Dua duanya penguasa, hanya bergantian saja in charge dalam hidup. Tidak ada yang langgeng sebagai penguasa, terus bertentangan kadang dan saling kalah juga kadang saling menang.

Dua kubu itu memiliki pasukanya sendiri sendiri, andalanya sendiri sendiri, juga senjatanya sendiri sendiri. Kubu tuan hati memiliki pasukan bernama romantisme, kasih sayang dan ketenteraman dengan kehendak kebahagiaan sebagai senjatanya. Sedangkan kubu logika, memiliki pasukan bernama kepatutan, tenggang rasa, dan perhitungan matematis dengan pengalaman sebagai senjatanya. Keduanya sama sama hebat, sama sama kuat. Masing masing kubu ketika memenangkan pertempuran itu akan membawa dampak dan konskwensi yang berbeda beda. Manifestasi peperangan itu adalah munculnya perasaan ragu, bimbang, takut bahkan bingung.

Sudah jadi pengalaman bahwa mengikuti hati sepenuhnya dan membiarkan logika mati suri terlalu lama bisa berakibat fatal, bikin logika tak henti memaki dan memojokkan diri sendiri, menyalahkan tuan hati yang terlalu mengabaikan logika. Tetapi ada kalanya juga hati mendesis geram kepada logika yang terlalu penakut untuk menciptakan perbuatan seperti yang pernah disarankan hati. Penyesalan kerap datang dari hati karena logika yang terlalu bawel dan banyak berhitung, merintangi kemauan hati. Kontradiksi itu tercipta ketika nurani (baca: sifat baik manusia) menjadi ajang perebutan simpati antara hati dan logika.

Pada moment tertentu, dua kubupun bisa bekerja dalam harmoni, selaras saling mengisi dan melengkapi. Ialah ketika hal hal spontan terjadi, atau ketika kedua kubu memberi kontribusi seimbang dalam menentukan sikap. Idealnya begini; hati menginginkan sesuatu lalu logika setelah menghitung resiko dan menyimpulkan kemungkinan konskwensinya bisa ditolerir mengizinkan. Inilah yang disebut hidup harmoni, hidup suasana ideal. Kebahagiaan yang tidak berdampak pada beban moral oleh nurani, kalis dari kecemasan dan kekhawatiran macam macam.

Sayangnya hidup tidak selamanya berjalan ideal. Setiap masa punya catatan peristiwanya sendiri sendiri, dan setiap peristiwa terjadi karena keputusan yang diambil dan dibuat oleh hati maupun logika. Setiap peristiwa adalah konskwensi dari kemenangan hati maupun logika, dan sebenarnya itulah inti kehidupan setitik debu bernama manusia. Ya, hidup manusia sebenarnya hanya menjalani setiap keputusan yang pernah dibuat. Keyakinan yang terlalu kuat akan kebenaran tentang sesuatu terkadang terbukti salah apabila berakhir sebagai sesuatu yang dianggap kegagalan. Dan sebagai penghiburan diri sendiri, kegagalan itu disimpulkan sebagai kecelakaan, padahal kecelakaan selalu bisa diminimalisir atau dihindarkan jika memahami prinsip prinsip kejadian.

Hajat besar sang ego adalah juga perang besar ketika tuan logika mulai terusik dan siuman dari efek bius tuan hati yang bermain sekilit. Perang besar antara hati dan logika! Dimana mana, perang selalu melelahkan bahkan menyisakan kepedihan. Dua kubu punya kesempatan yang sama untuk menang juga untuk kalah.
Setelah perang usai, kita tinggal akan menjadi hamba sahaya dari siapapun yang memenangkan peperangan itu, entah hati entah logika, entah hina entah mulia…

Selepas hujan badai, kamar kost 7 Desember 2005, 2350.

Wednesday, December 07, 2005

Perbedaan yang melengkapkan


Beda, bisa diartikan sebagai satu keadaan yang tidak sama untuk membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lainya. Perbedaan bentuk maupun nuansa, yang bersifat materialistik maupun yang naïf. Perbedaan bisa diukur dari panca indera maupun dengan kepekaan sensor perasaan seetiap orang. Akan sangat mudah secara harfiah memandang perbedaan antara misalnya besi dan kayu, hitam dan putih dan sebagainya. Tetapi apakah semua orang bisa mendefiniskan perbedaan itu?

Dalam kemajemukan sosial yang semakin rumit dan kompleks perbedaanpun muncul dari segala lini. Sisi sisi perbedaan non fisik, non material seperti opini, pemikiran gagasan maupun sering kali dijadikan senjata untuk menentang maupun melawan perbedaan lainya. Orang makin kehilangan cara berfikir yang sederhana bahwa perbedaan memang ada sejak pertama bumi diciptakan dan Tuhan menciptakan perbedaan itu untuk saling melengkapi. Potongan potongan puzzle adalah penggambaran yang paling mudah dicerna otak manusia bahwa perbedaan itu justru adalah material untuk sebuah keselarasan. Untuk saling mengisi kekurangan masing masing komponen yang akhirnya menciptakan satu kesamaan dalam bentuk yang lain, yang lebih sempurna daripada ketika komponen itu berdiri sendiri sendiri. Contoh yang paling kongkrit dari teori ini adalah perbedaan mencolok antara laki laki dan perempuan. Dua perbedaan yang saling melengkapi, seperti dua potong puzzle yang click. Dan ketika dua hati perbedaan itu menemukan “click” nya, maka yang ada adalah penggabungan dua beda menjadi satu kesatuan dalam bentuk cinta. Rumah tangga adalah hal yang lazim menjadi manivestasi dari perbedaan itu.

Manusia, setiap individu juga memiliki kekhasanya sendiri sendiri yang menciptakan perbedaan perbedaan sesuai dengan karakter, cara berfikir, sikap dan lainya yang ditentukan oleh beribu ribu faktor. Cuma sayang, banyak orang menganggap perbedaan adalah ancaman. Perbedaan agama, status, suku, pendapat, bahkan ideologi sering didramatisir sebagai pangkal perpecahan, alasan saling menghancurkan. Orang seperti ini melihat perbedaan sebagai ancaman terhadap diri maupun kelompoknya, dan berkehendak bahwa semua orang dimuka bumi ini sama dan sepakat dengan apa yang ada pada dirinya.

Sebenarnya, perbedaan bisa dijadikan sesuatu yang indah selama kita bisa melihat dari angle yang tepat. Selama memiliki sifat yang sama, perbedaan selalu bisa melahirkan harmonisasi keadaan, bahkan menciptakan suatu pengalaman bathin yang diluar dari jangkauan dugaan. Perbedaan hanyalah cara kita mengartikulasikan sesuatu sesuai kemampuan penalaran kita. Menerima perbedaan sebagai warna yang mencerahkan kehidupan adalah sikap yang paling bijak tanpa tendensi untuk merubah perbedaan itu menjadi seperti diri kita.

Tuhan menciptakan perbedaan untuk saling melengkapi agar kehidupan berjalan selaras..
Kost, 6 Desember 2005

Tuesday, December 06, 2005

Balada seorang lelaki



Laki laki tua itu kini tinggal punya kenangan dan berjuta prasangka. Kakinya telanjang menjuntai diawang awang, jauh dari tanah bumi bernama kenyataan tempat dimana semestinya hidup dipijakkan. Melambung timbul tenggelam diantara bangkai kemewahan yang menobatkanya sebagai raja atas keinginan dan kesenangan hidup tanpa batas dimasa lalunya.

Dia kehilangan kebanggaanya sebagai laki laki, sebagai raja yang menciptakan tirani dengan kata katanya. Materi menjadi satu satunya nilai hidup, begitu miskin dengan penghargaan atas nilai kemanusaan bahkan tenggang rasa. Dalam kelumpuhann jiwa dan raganya, dia memberontak keadaannya sendiri yang tak boleh terjadi dan harus dia terima, yang tak menyempurnakan kesenanganya hingga ajal tiba. Dalam kealpaanya digugatnya zaman yang tak mau mengikuti kemauan individualnya. Kesulitan kehidupan sungguh menjadi monster yang menggerogoti kepribadianya, melupakan kodrat sebagai seorang manusia biasa yang menitiskan ruh dan raga kepada berpuluh puluh nyawa; anak anaknya.

Telinganya tuli, matanya buta, dan panca inderanya matirasa. Dia hanya tahu menjadi diri sendiri dan penguasa, tak peduli apa yang orang lain rasa. Hatinya gersang oleh cinta yang dimanifestasikan dalam pemenuhan hajat hidup yang sungguh kacau lagi bobrok tanpa format. Tanggung jawab adalah hal yang tak pernah dipelajari maupun dihayatinya. Seluruh penampilan fisiknya menterjemahkan status sosial yang bukan pakaianya; dia hidup di bangkai kemewahan masa mudanya, enggan kehilangan sesuatu yang bukan lagi menjadi miliknya. Dia petik hampir semua yang dikehendaki tanpa belajar menanam, menjadikan kesombongan sebagai kebanggaan, tak sadar dia telah kehilangan pengakuan.

Telah dihabiskanya seluruh energi dimasa muda untuk menghamburkan kesenangan manusiawi, tanpa menyisakan sedikitpun untuk masa tuanya. Dia menjadi manusia aneh dengan nilai manusia yang hampir nihil. Dunianya hayali bahkan tak ada Tuhan didalam sanubarinya. Diwariskanya kepada siapa saja yang bertalian darah dengannya sederet rongga kesengsaraan, berpuluh tahun terjalani dan akan bersambung berpuluh tahun lagi. Tak ada tauladan yang patut disimpan sebagai catatan sebagai seorang pelindung dan pembimbing atas nama kebijaksanaan. Patriark yang otoriter, feodal yang kolot dan sangat dangkal pemahaman tentang nurani.

Usia menunggu maut datang menjemput, dia mengharap kematian tak pernah ada. Dia hanya tinggal tahu, menindas orang orang yang mencintainya tanpa syarat, sebab hanya itu cara dia menjaga bangkai kemewahannya tetap terasa…




Jakarta, 5 Desember 2005

Monday, December 05, 2005

Jatuh Cinta


(catatan untuk teman yang sedang jatuh cinta)
Jatuh cinta adalah bunuh diri yang terindah. Ketika kita jatuh cinta, kita membiarkan ego dalam diri kita secara sangat individual mati sesaat, teracuni oleh gejolak hati. Jatuh cinta juga adalah puncak estetik dari nilai nilai hidup, dimana sang hati menjadi raja diraja penguasa yang memerintahkan seluruh syaraf rasa mengubah sudut pandang menjadi seni yang serba indah. Jatuh cinta mutlak menjadi urusan hati, dunia perasaan dan angan angan. Dan menurutkan hidup mengikuti hati, maka batasnya adalah nisbi belaka; dari ujung langit ke ujung lainya. Alias tidak ada. Nihil.

Jiwa manusia membawa dua unsur dunia, yaitu dunia hati dan dunia logika. Dunia hati mengurusi hal hal yang bersentuhan dengan perasaan dan emosi, sedangkan dunia logika berkepentingan dengan urusan urusan perhitungan matetis dan akal sehat. Dan ketika hati menjadi raja bagi jiwa ketika kita jatuh cinta, maka logika akan secara sadar dimati surikan atau mungkin diabaikan. Logika tidak bisa menalar dengan sistematis apa yang terjadi didunia hati, sedangkan hati menemukan egonya bahwa keindahan ketika jatuh cinta tidak ada sangkut pautanya sama logika. Logika yang memandang kelakuan hati akan mengusik usik bahkan memperingatkan untuk tetap dijalur logis, tetapi hati yang jatuh cinta biasanya hanya memandangnya sebagai anjuran yang tidak harus menjadi panutan.

Seperti semua hal didunia ini, bahwa tidak ada sesuatupun yang everlasting, maka jatuh cintapun sebenarnya adalah keadaan sesaat belaka. Ada masanya perasaan cinta yang menggebu lengkap dengan segala macam atributnya itu akan memudar bahkan padam. Tidak dipungkiri, jatuh cinta kepada seseorang dan mendapat sambutan seimbang adalah pengalama bathin yang luar biasa, tidak bisa akan lupa sekaligus pada saatnya ketika mabuk cinta sudah mereda, semua akan tampak wajar dan biasa saja. Jatuh cinta menghadirkan segala perasaan serba indah dan romantis bagi setiap individu. Hal hal sepele dan biasa bisa berubah menjadi dramatis. Sebagian orang menjalani kehidupan dengan dramatisasi emosi yang kental, dengan pemahaman bahwa segala yang disediakan oleh hidup adalah seni. Alam, manusia, perasaan, dan seluruh kehidupan memiliki nilai estetika yang tinggi. Jika orang seperti ini jatuh cinta, maka dunia angan anganya akan berubah menjadi segala sesuatu yang berhubungan dengan terjadinya keajaiban.

Jatuh cinta bagi orang luar yang tidak mengalaminya juga memiliki potensi distruktif, menghancurkan. Banyak orang menafsirkan jatuh cinta sebagai keinginan untuk bersama sama terus, berkomunikasi terus, bahkan sebagian orang menafsirkan sebagai kebebasan untuk bersebadan maupun berduaan dengan bebas dengan lawan jenis. Jatuh cinta seperti ini tentu memiliki kualitas yang rendah dan belum patut dinamakan jatuh cinta, kecuali ketertarikan akan lawan jenis; sexual needs fulfillment.

Jatuh cinta hakiki adalah seni komunikasi hati, dus tidak ada yang instant. Mungkin berawal dari rasa “click”, kemudian simpati, kemudian timbul perasaan perasaan halus yang membuai yang menimbulkan rasa peduli dan kerelaan untuk terlibat terhadap individu lain sekaligus memiliki dasar dasar rasa hormat dan tentu memuja. Jatuh cinta yang baik berisi hal hal yang saling menjaga tanpa mengekang.

Jatuh cinta adalah ketika diri membiarkan hati mengambil kendali, ketika logika mati suri, penghayatan terhadap setiap moment terjadinya komunikasi dua hati dengan cara apapun yang berujung pada satu kesimpulan; memuja rasa.


Minggu, 4 Desember 2005
Perenungan pada siang bolong dari kamar kost…

Sunday, November 27, 2005

Kontemplasi Perjalanan


Engkau hendak kemana?
Pergi, jauh menuju rumah teduhan hati. Menembus awan dan gerimis, melintasi lautan membunuh jarak yang membentang.
Atas kuasa apa?
Hati murni. Tuhan tak membuat aturan. Tapi manusia yang pintar menciptakan permainan nurani. Setiap hati punya parameter kelakuan dengan ukuran kekuatanya sendiri. Aturan peradaban diciptakan bagi nurani yang tak punya itu hati. Hanya hukum alamlah yang terbantahkan, aturan manusia selamanya adalah permainan diluar ruang hati.
Akan sampai kapan perjalananmu?
Sampai kucium tanah tujuan dimana bingkai jarak tak lagi berjejak. Sampai kutertidur diteduh rumah titipan hatiku.
Engkau ada dimana wahai hati?
In the middle of nowhere. Diatas air, ditengah udara dibawah langit dan awan gemawan tanpa matahari. Aku tengah menjelajah belantara kekosongan dimensia ruang, keluar dari kotak kubus kehiudupan logika. Tak ada masalalu, dan masa depan kecuali angan angan sepanjang jalan.
Letihkah engkau?
Hanya indah. Dan nikotin yang tak lagi mengalir di darah sejak kemarin pagi.
Lalu apa yang engkau lakukan itu?
Kontemplasi. Menjadi gila yang paling sempurna diplanet bumi.

Diatas KM Kambuna I – ditengah perairan selat sunda 26 November 2005,