Sunday, August 19, 2012

Lebaran

Akhirnya euphoria lebaran datang lagi. Kali ini seperti tahun sebelumnya, dimulai dengan ketidak pastian oleh pajabat negeri. Pejabat di negeri ini memang semakin gemar membuat bingung rakyatnya. Semakin tidak bermutu. Dulu dulu, hari lebaran itu sudah bisa diketahui setahun sebelumnya, hingga dalam setahun itu semua orang bersiap siap untuk merayakannya hingga hari H.

Semangatnya sama, kegembiraan dan ritual fenomenalnya sama. Yang membedakan ada beberapa, diantaranya prestise dan rasa kewajiban untuk memberi kegembiraan. Sedangkan dulu sewaktu kecil moment lebaran adalah keadaan yang paling menggembirakan, datang dengan sendiirinya. Rupanya kebahagiaan anak anak itu disokong oleh para orang yang dewasa. Pakaian baru dan uang saku berrlimpah adalah identitas lebaran masa kecil, dan sekarang dirubah persepsinya menjadi sebaliknya; penyedia pakaian baru dan uang fitrah lebaran.

Diumumkan di tivi maupun tidak, lebaran tetap harus terjadi. Ritual pulang kampung para perantau sudah dimulai dua minggu sebelum hari lebaran sesuai dalam calendar. Ucapan ucapan selamat dan permaafan menjadi nuansa yang mendamaikan. Permintaan maaf dilahirkan dalam lafal kata kata serta diucapkan  didalam batin serta ditujukan untuk satu pribadi secara spesifik. Zaman berubah, orang sekarang lebih gemar menyebar pesan broadcast permintaan maaf secara massal dan di rapel dalam satu kali klik tombol send. Ucapan selamat dan permintaan maaf yang dilahirkan dari text di gadget menjadi kehilangan bobot makna. Hanya seremonial, tidak ada pendekatan secara up close and personal.  Jadi hambar rasanya.

Ini lafal lebaran yang diajarkan dari tahun ke tahun di masa kecil dulu:
Suasana kalal bikalal begitu sacral. Yang muda mendatangi yang tua secara berkelompok, dan yang tua membuka diri untuk yang muda. Si muda dengan sikap taklim akan menjabat tangan si tua dengan kedua tangan, dan menunduk (pantang menatap mata senior). Si muda lalu berucap “ngaturaken sugeng riyadi, nyuwun pangapunten sedoyo kalepatan lair lan batos”suaranya harus lirih, khidmat seolah dengan segenap perasaan ucapan selamat dan permohonan maaf disampaikan.  Harus tertib, berurutan satu persatu. Si tua dengan santun dan berwibawa akan menjawab runtut :”Iyo, podo podo, semono ugo aku, wong tuwo akeh lupute mugo dilebur ing dino rioyo iki”. Ketika semua sudah selesai sungkeman, maka pecahlah suasana menjadi ceria. Si tuan rumah mempersilahkan tamu tamunya mencicipi hidangan. Dari rengginang, permen, kacang, tape, roti maupun kue kue aneka rupa.

Idealnya semangat seperti itu dipertahankan meskipun dengan cara yang jauh lebih modern. Pesan massal itu ibaratnya menempelkan secarik kertas berisi tulisan, ditujukan kepada siapapun yang membacanya. Sungguh tidak ada hormatnya. Akan sangat berarti jika pesan itu disampaikan seperti halnya pesan pribadi, ditujukan untuk pribadi si penerima. Indikasinya adalah panggilan atau nama si penerima disebutkan.

Diluar dari itu semua, lebaran selalu menghadirkan wajah wajah gembira penuh sukacita. Masing masing orang melewati dengan keadaan dan caranya sendiri sendiri. Sebagian besar berbagi bahagia bersama keluarga, kerabat dan sanak famili; pokoknya orang orang tercinta. Sebagian lagi melewatkan hari raya dengan tetap berada ditempatnya bekerja seolah lebaran tidak lewat di pos jaga. Yang lebih mengenaskan lagi adalah mereka yang mlewatkan hari raya di dalam penjara atau tergolek sakit di pembaringan. Tetapi lebaran tetap terjadi, menghadirkan kesan dan suka dukanya sendiri, untuk diperbandingkan dengan lebaran tahun mendatang. Itupun jika Tuhan masih mengizinkan kita ikut dalam peryaan lebaran tahun depan.

Selamat Idul Fitri 1433, semoga semua mahluk selalu berbahagia. Saling memaafkan tulus dari jiwa.


Bambuapus 120819



Tuesday, August 14, 2012

Kota Mati


Gedung gedung kusam itu tampak membatu.  Pepohonan dan pagar pagar rumah dikuasai debu yang membungkam kehidupan. Kemegahan masalalu menjadi runcing oleh peperangan dalam kenang kenangan. Nyatanya iblis memang tidak pernah mati meskipun zaman menelantarkan sebegitu lama. Memenjaranya dalam kuburan waktu sendirian.

Luka yang mati suri memprovokasi damai dalam hati. Bahkan pada saat malam malam riuh oleh khayalan. Aku meminta maaf kepada batu yang telah tergores oleh kisah dan menjadi prasasti, benda mati yang tak mungkin tergeser dalam hati. Lukisan di dinding sejarah mengandung bekas bercak darah, oleh hati ungu yang terseblak kasih salah kisah. Barangkali nanti kuasa waktu akan mengangkuti butir butir debu yang tersangkut di ranting ranting prasangka.

Sewaktu matahari kuning meredup di tepi bumi, semua luka datang menghiba hiba. Mempertontonkan rekaman demi rekaman memar  yang terperangkap oleh cahaya; kisah suatu masa pada enam tahun berlalu. Pada angin tinggeng di kota mati, pikiran terbelah oleh perih dari pedang bermata ganda. Antara ketakutan akan tragedi laten dan takjub atas keajaiban misteri kehidupan. Perebutan dominasi atas masa lalu dan masa depan; mengesampingkan hari ini. Menapakkan kaki di kota mati ternyata bukan sekedar ziarah ketiadaan, tetapi juga mencicipi kembali beling masa lalu yang menempel di telapak kaki dan sela jari jari.


Pada waktu malam turun mengurung kota mati, jiwa jiwa menari dalam gelapnya.  Tidak lagi menjadi soal siapa yang ada dalam genggaman, sebab ternyata kegelapan telah membutakan mata dari cahaya. Di dalam hitam maha luas, pikiran mengayun mengikuti irama nostalgi; kiranya hanya perih melulu yang muncul kembali.  Rupanya di dalam gelap hanya ada pedang bermata dua, yang melahirkan keragan tak kira kira. Nyanyian angin, nyenyanyian bulan dan bintang bintang telah turut mati bersama sonyaruri. Tinggal angin udara bediding yang tersesat disela palawija, bingung mencari selimut yang tersembunyi di rumah rumah batu.

Ah, kota mati tidak ubahnya gunung batu yang menjulang menghalangi jarak pandang. Mendakinyapun hanya bisa dengan angan angan. Sedangkan pada tebing tebih jurang dan hamparan lembah tandus itulah seretan jejak jejak kaki membekas sewaktu perkelahian tidak mendatangkan pahlawan untuk mengadu. Catatan dendam terbawa berkeliling dunia, memetiki buah buah pengalaman yang kemudian kita sembunyikan. Sebagiannya menjadi penawar sempurna sehingga tak patut untuk diberitakan. Luka itu begitu sempurna, sehingga tidak ada satupun penawar atas perihnya.

Sedangkan aku, telah kutetapkan arah laju perahu, meninggalkan kota mati dan melangkah mengikuti garis langit. Ia akan menjadi catatan masa lalu yang tersimpan rapi di rak kenangan. Tidak ada kuasa dan daya untuk menghapusnya, kecuali melihatnya sebagai fragmen fragmen masa yang tak lagi punya nafas dan tunas. Kepada rumah pelangi layar terkembang memuja angin. 

Rupanya perang telah menyisakan biji bijian yang terabaikan, hingga tumbuh menjadi monumen pengingat bahwa di pematang ladang itu cinta pernah lahir prematur dan kemudian mati suri. Kita pernah membangun mimpi di rumah kayu di kota itu, yang kemudian hancur menjadi beling beling tajam yang mejauhkan dari rabaan tangan.

Kota mati kota kenangan, berisi benda benda mati serta zombie yang tak henti bergentayangan meneror mimpi mimpi yang baru saja terbangun kembali di kejauhan.

Bambuapus 120814 

Monday, August 06, 2012

Buku Wajah


Sungguhlah tidak bijaksana mengukur kualitas sebuah buku hanya dari melihat dan membaca judul di sampulanya. Sebab inti sebuah buku terletak pada susunan huruf demi huruf yang tercantum pada lembar demi lembar halamannya. Dan, sebuah karya tulis yang hebat dan bermutu hanya bisa lahir dari penulis yang rajin mebaca buku. Mungkin sekedar referensi, atau bisa jadi sumber inspirasi. Dan selamanya esensi sebuah buku akan tetap menjadi misteri manakala lembar demi lembar halamannya tidak dibaca.

Berbeda dengan buku wajah, yang kemudian menjadi habitat dari hampir satu miliar manusia di dunia. Buku wajah menjadi panggung sandiwara raksasa dimana setiap orang bebas mengambil peran untuk berpura pura ataupun bersungguh sungguh menampilkan jatidirinya. Kepalsuan dan ketulusan dibatasi hanya oleh garis tipis yang mengaburkan warna antara dua abu abu; dunia bayang bayang dan alam wujud. Itulah sebabnya, sampul sampul dari buku wajah seluruhnya berisi suatu pertontonan dan keluhan. Kedua duanya memiliki makna magnetik pada simpati, dan simpati dapat ditunjukkan tanpa harus merasa bersimpati. Cukup icon gambar jempol.

Selebihnya dari dua macam model sampul buku tadi adalah tuntunan moral. Tuntunan moral yang lahir dari jiwa yang (bisa jadi) brengsek di dunia wujud, dengan serta merta menjadi filsuf maha bijak melebihi pertapa yang selama puluhan tahun hanya menghambakan diri kepada kemuliaan laku. Jelas bahwa sampul sampul dalam buku wajah tidak semuanya mewakili esensi atau isi yang terkandung didalam lembar demi lembar kisah sejarah, pengalaman bahkan tautan moralitas pemilik atau penulisnya. Seorang brengsek bisa tampil palsu menjadi ksatria alim, seperti halnya predator yang mengenakan jubah dan topeng pahlawan si buku wajah.

Semua orang bebas menipu dirinya sendiri sebab aturan peradaban yang dipergunakan hanya tertulis di dinding dinding awan tempat segala sesuatu berkelebat cepat hilang. Dinding awan itu mengambang dalam sanubari setiap orang, yang tidak memiliki sanksi memaksa kecuali rasa malu yang pada akhir akhir ini orang semakin kebal. Sungguh tidak ada penipu yang lebih hebat dari orang yang sanggup menipu dirinya sendiri. Kita layak untuk bersimpati kepada orang orang seperti ini, yang hidup jauh dari sejuk tanah, hanya kakinya menjuntai tinggi di tepi kabut kenyataan. Kita patut bersimpati atas mereka karena mereka sebenarnya terbutakan oleh kebanggan menjadi bukan dirinya sendiri sementara mesin waktu terus mengurai usia. Pasa saatnya nanti mereka tersadar, mereka telah terjebak dalam kubangan kesemuan itu yang mengantarkan mereka pada ketertinggalan yang tak termaafkan.

Maka akan lebih bijaksana lagi jika kita menilai sebuah buku dari tulisan yang terkandung didalamnya, syukur syukur tulisan tulisan yang lahir dari perenungan tanpa tendensi, yang memiliki bobot pemikiran realistik layaknya manusia hidup di lama kasunyatan. Hampir satu miliar sampul buku wajah memainkan magnet simpati. Hanya kebijaksanaan yang didapat dari pemahaman tentang nilai hidup yang bisa dengan bijaksana menentukan buku mana yang layak dijadikan elemen pengait pengetahuan tentang cara menjalani hidup agar tercipta harmoni. Sebab tidak semua sampul buku wajah berisi maklumat palsu.


Gempol 120521

Wednesday, July 25, 2012

Residu Dendam

Pada dinding langit kau pahat murka, menjulang tinggi menikam atap dewa dewi. Bersama embun terakhir, aku terbanting kembali ke bumi, jadi debu milik sang sediakala. Sebentar akan lesap oleh angin tanpa warna.

Malam tengggelam dalam gugusan angan angan. Sonyaruri bisu ditinggalkan kepak sayap sayap mati. Di tanah basah tepi comberan, aku tersesat mencari mimpi yang mati tiba tiba; padahal baru saja kutemukan tertimbun candi jiwa.

Mungkin memang tak semestinya merestorasi mimpi, ketika putaran waktu telah mentahbiskannya jadi prasasti. Sebab mimpi tak pernah benar benar sanggup menyakiti, pun ia adalah titian tertinggi jagad khayali.

Kita tidak akan benar benar saling mengenali, oleh sebab perhatian kita sibuk mengagumi pantulan cermin diri sendiri yang mengelilingi lingkaran keangkuhan penuh sangkalan.

Mungkin semestinya kita tidak harus bersentuhan, agar api tak memercik pada residu dendam yang tersimpan pada guci keabadian. Sekarang ia telah menjadi api yang menghanguskan, hanya menyisakan abu penyesalan. Setinggi lantai khayangan ego kita perdebatkan, nyatanya memang dibalik pelangilah tempatmu berkipu dengan bermacam kemegahan sanjung sanjung dan pujian.

Oleh karena pecahnya suara, maka cinta membara yang melahirkan rindu menggebupun perlahan menghampa. Awan gemawan mengangkutinya pergi menjauh, dan kembali menjadi anak bumi. Rebah disejuk tanah berdebu, sisa lumpur kering musim lalu. Disini, dimana diri menjadi raja atas bukan siapa siapa, raja atas bukan apa apa kecuali dunia yang syahdu sunyi.

Engkau terlalu indah untuk terkena kibas amarah, bahkan percikan darah pertikaian. Menjagamu tetap tak tersentuh adalah kebijaksanaan perih tanpa tawaran. Engkau akan tetap ada dengan segala indahmu yang menyumber, didalam ruang kaca pajangan jiwa; bukan untukku.

Kutitipkan sesal kepada sepasukan pahlawan yang tak henti memuja dan menyanjungmu sepanjang jalan, atas sombong sikapku yang meyakini kesamaan isi hati kita.

Kiranya kegagalan menyapa, atas satu satunya keinginan yang ku jaga.

Lepas sonyaruri - Bambuapus 120725

Saturday, June 09, 2012

Itik berbulu ayam


Sejak semula dia memang seekor ayam, yang ditetaskan oleh induk ayam hasil persetubuhan dari ayam jantan dan betina. Ia bermula dari bukan apa apa pun, berubah jadi telur dan menetas jadilah ia memiliki hidup individu sebagai seekor anak ayam. Ia menetas dalam komunitas ayam. Hidup memberinya kaki yang mampu berjalan dan menjelajah bumi mencari makan, tetapi juga memberikan pengetahuan pengetahuan baru tentang segala sesuatu yang berbeda dan maha luas seperti tak berbatas.

Syahdan, si ayam kecil beranjak dewasa jua setelah masa kanak kanak dan remajanya dihabiskan dengan kesederhanaan kandang ayam.  Si ayam muda mengelana, melintasi sungai sungai serta bebukitan, bahkan gurun dan lelautan. Langkah kecilnya tiba dikeramaian baru, sekerumunan itik dengan susunan masyarakat itiknya. Si ayam kini berada di dunia itik. Itik itik lain menerima kehadiran si ayam sebagai saudara jauh dalam silsilah unggas. Sang ayam muda bergaul dengan itik segala usia, dari yang kekanak kanakan hingga itik dewasa. Di dunia itik, sang ayam disambut baik, yang lalu berbagi cari makan di bumi itik. Ia belajar tumbuh bersama sekawanan itik, hatinya semakin menjauh dari asal muasalnya sebagai ayam dengan keturunan ayamnya. Ia kini berbahasa itik dan berkehidupan sesuai gaya itik. Segala perbedaan tentang asal usul dikamuflasekan meskipun hasilnya wagu semata. Ia berbicara dan bergaya layaknya itik sungguhan. Ia kemudian tersesat dalam kesadaran, merasa dirinya adalah itik, bukan ayam. Bahkan ia merasa dirinya lebih baik daripada itik itik lainya. Padahal dimata itik itik dalam lingkungannya, ia tak lebih hanya ayam yang medapatkan kebaikan hati dari para itik di dunia itik.

Maka iapun tidak sadar bahwa ia hanya punya durasi waktu tertentu untuk menikmati dunia itiknya. Sebab segala sesuatu yang berawal pasti akan ada akhirannya. Segala sesuatu yang hidup akan mati, dan segala sesuatunya akan kembali kepada ketiadaan. Prosesnya evolusi usia akan membawanya naik turun, meluncur berselancar dan kadang ibarat kaki tertancap di lumpur yang mengering. Pahit manis, sedih senang, jaya dan sengasara. Segalanya berporos pada cinta, pada hubungan sosial dalam budaya itik. Kejayaan membuat sang ayam durhaka terhadap asal dan leluhur ayamnya, ibarat kacang yang lupa akan kulitnya. Ia telah merasa berbeda denagan teman teman kecilnya, ayam ayam lain yang tetap bangga dengan identitas ayam meskipun ada di dunia asing di alam perburungan.

Memelihara nilai nilai pergaulan yang terbangun semasa kecil sama halnya menghormati kesebermulaan. Sejarah asal usul diri semestinya tetap terpelihara meskipun badan sekeping terbawa arus ke bumi asing yang jauh dari kampung halaman. Mengingkari asal usul sungguh tak ubahnya menghancurkan jalan setapak yang seharusnya dipelihara sebagai jalar yang sama untuk kembali diretas kelak. Tetapi sebagian orang memang masih meyakini slogan rukun agawe santosa, bahwa kekuatan hanya dapat terwujud dengan kerukunan dan persatuan. Perbedaan serharusnya disisihkan, kepentingan kepentingan pribadi mestinaya semestinya dikorbankan demi terpelihara kebersamaan. Materi, dan kehormatan yang didapat di perantauan semestinya bukan menjadi hal yang dipersombongkan. Kesederhanaan dan kerendahan hati justru mengajarkan kepada kebesaran sebuah pribadi. Sayangnya materi dan gila hormat kerap merubah orang kampung menjadi raja kecil yang harus selalu disembah dan dianggap penting oleh orang lain.  

Menaruh hormat pada kehidupan sosial sebenarnya memberikan satu peringkat lebih tinggi martabat kita. Kehidupan sosial melalui organisasi sederhana yang bertekad kuat untuk menjaga hubungan sesama teman sekampung di perantauan. Sesuatu yang tidak menghasilkan keuntungan materi. Sesungguhnya keuntungan yang bisa didapat dari menjaga silaturahmi, merasa menjadi bagian dari niat baik paguyuban memperoleh keuntungannya sendiri yang jauh lebih bernilai dibanding materi.  Sungguh, orang yang bisa mementingkan sesuatu yang lain sesudah diri sendiri akan menemukan kebahagiaan yang tidak dapat dinilai dengan angka. Sebuah kebahagiaan tulus yang dapat meruntuhkan kesombongan, melahirkan perasaan syukur atas hidup yang penuh karunia.

Kehidupan kampung halaman yang selalu menyenangkan dan selalu ada dalam ingatan dikarenakan oleh kesederhanaan para warganya. Kehidupan kota besar yang pragmatis dan materialistis diyakini dapat menggerus bekal kesederhanaan yang menjadi watak asli orang kampung. Peradaban orang kota yang cenderung berlomba untuk kemegahan imitasi dan rasa hormat imitasi sering menjadi budaya baru yang diadopt oleh orang kampung. Tidak jarang orang kampung menjadi (pura pura) lupa asalnya. Dari gaya berbicara, berpenampilan dan bertingkah laku sudah menjadi orang kota; meskipun tetap wagu. Kepura puraan menjadi orang kota yang diperbanggakan menggambarkan betapa rendahnya pemahaman terhadap pengetahuan etika. Tetapi ada yang tidak bisa berubah dan tidak bisa menipu; ialah dari wajahnya! Dia tetap orang kampung dimata siapapun.

Tabik hormat untuk kawan kawan yang tetap berkeras menjaga dan memelihara kerukunan sesama warga kampung di bumi perantauan. Tetaplah bersatu, untuk keteguhan dan kejayaan nama kampung kita; Indonesia.

Gempol, 120609    

Saturday, June 02, 2012

Tenggur




Si Lia anak Mak Layur hari ini menikah. Kelas dua SMU, tiga bulan hamil oleh Jay pacarnya yang anak Kampung Lubang Buaya. Pestanya besar besaran, tiga malam anak anak remaja teman kakaknya begadangan. Puncaknya hari ini, pagi pagi ke KUA, akad nikah dengan maskawin uang seraturs ribu. Acaranya khidmat, si Mada Caplang kakaknya yang jadi walinya oleh sebab bapaknya lia sudah enam tahun di akherat. Seharian speaker besar melantumkan lagu lagu campur aduk, dari lagu Sunda, Dangdut, Barat, Betawi, bahkan lagu lagu alay jaman sekarang; girl band dan boy band!

Lia bukan jenis gadis periang dan banyak inisiatif, haus ilmu pengetahuan dan punya khayalan liar tentang penjelajahan, tentang pengetahuan dan pengalaman. Dia hanya anak bontot pendiam dengan sorot mata yang nyaris tak bercahaya, dan kabarnya jika ada kemauannya tidak dituruti, atau dia ada dipuncak marahnya, maka segala perabotan dan barang barang dirumah akan hancur lebur menjadi sasaran kedahsyatan amukannya. Dia sejenis anak yang harus selalu terpenuhi keinginannya dan emaknya tidak punya pilihan lain dikarenakan kecintaanya pada titisan darah dan ruhnya yang menjelma jadi cantik jelita, hamil pula. Pacarnya kebetulan sesama ABG, bermuka tiris dan punya potensi merusak kehidupan orang lain. Type cowok ABG yang diidamkan cewek cewek ABG karena tampang. Enah bagaimana ceritanya, yang pasti Lia hamil oleh lelaki yang hari ini resmi menjadi suaminya. Jay.

Sewaktu zaman dimana nilai moral masih menjadi azas yang berwibawa, kejadian Lia tentu adalah aib keluarga yang menghancurkan banyak aspek. Orang menyebutnya Tenggur, sebuah abreviasi dari Meteng Nganggur (hamil tanpa nikah). Berbulan bulan orang orang akan memperbincangkan dengan sembunyi sembunyi perihal kehamilan yang tidak dilengkapi dengan status suami bagi si hamil. Dari gossip, berkembang jadi desas desus yang selalu ditunggu kelanjutan kisahnya. Menjadi pembicaraan negatif orang orang dilingkungan tentunya aib sebagai hukuman yang sangat berat bagi nama baik keluarga. Sebab keluarga adalah investasi sosial.

Saking aibnya, banyak usaha dilakukan orang kurang cerdas ini untuk menutup nutupinya. Meng- abort proses yang sedang jalan menjadi solusi paling umum; gugurkan kandungan. Pada level yang lebih ekstrim, aib justru dicoba di delete pada saat si janin sudah menjadi orok yang berarti menjadi seorang manusia yang kelak mungkin jadi pemimpin dunia. Untuk menyembunyikan pelanggaran moral memang kadang diperlukan laku amoral. Sebuah jibaku dengan taruhan nyawa yang mengandungkan atau yang dikandungkan. Banyak contoh teman teman Lia yang mati dicekik pacarnya hanya karena diminta bertanggung jawab atas sperma yang mulai menggumpal di rahim.  Lia sungguh orang yang beruntung!

Miris juga, ternyata soal tenggur bukan lagi menjadi hal yang terlalu mengganggu. Ada degradasi moral di lingkungan kita yang sebenarnya sangat memprihatinkan. Mak Layur mungkin bisa menjadi salah satu prototype statement diatas itu. Nyatanya pernikahan anak bungsu tersayang berjalan lancar jaya, semua seusai dengan anggaran dan lebih melegakan lagi pihak mertua yang kebagian sebagai donatur wajib dan lagi tunggalnya. Mertuanyalah yang harus menanggung sejumlah angka atas kebejatan anak laki laki mereka membejati anak perempuan Mak Layur. Prosesnya sama dengan prosesi pernikahan Betawi pada umumnya. Pakai nyebar undangan, pakai datang kerumah rumah memberitahu, pakai pengajian majlis taklim, pakai acara resepsi juga meski kali ini tanpa organ tunggal.

Sama sama pernikahan, tetapi motif dari terjadinya pernikahan itu sebenarnya yang menentukan ruh yang dapat dirasa dari pesta perkawinan. Perkawinan normal datang dari dua orang dari dua lembaga berbeda yang menggalang niat sangat kuat untuk mendirikan satu lembaga baru sebagai penanaman modal sosial. Persiapannya bertahun tahun, kalkukasi segala macamnya termasuk kriteria pasangan pengantin sudah diperhitungkan masak masak dan hati hati, menghindari zero accident. Pernikahan seperti itu akan terasa memang khidmat, dihadiri teman dan kenalan yang datang mengucapkan selamat dengan tulus, membagi kebahagiaan dengan perjamuan dan suasana menyenangkan. Perkawinan karena tenggur kebalikan dari itu semua!

Betapa nikmatnya menjadi masyarakat sederhana, yang menjunjung tinggi kepatutan dan perilaku susila. Sebuah lingkungan beradab yang jauh dari intervensi hukum karena sedikitnya kejahatan dan pelanggaran norma sosial. Dari lingkungan seperti itulah semestinya bayi bayi lahir dan tumbuh dewasa dengan ketulusan dan memegang teguh misi untuk selalu mengumpulkan kebaikan dimuka bumi. Bukankah dengan mengumpulakn kebaikan maka seseorang akan memiliki kesempatan lebih untuk membagi kebahagiaan yang lebih besar (?). Ketika setiap perilaku tunduk pada mazab formalistis, niscaya setiap yang beridentitas Indonesia adalah agung dan mulia, oleh perilaku warga negara maupun tamu tamunya.

Betapa nikmatnya menjadi masyarakat sederhana, dimana setiap orang berlaku dan bersikap apa adanya. Ternyata, sejarah peradaban dunia bermula dari hubungan cinta antar manusia. Tidak peduli jenis kelaminnya!

Gempol 120602


Saturday, May 26, 2012

Instan



Teknologi melahirkan kemajuan zaman. Mendorong terjadinya perubahan sosial instan pada hampir segala aspek hidup. Usia dilupakan, sejarah diabaikan lalu segala hal yang bersifat praktis dan instan menjadi berhala baru untuk dipuja dan diperbanggakan. Padahal kekunoan mengandung sejarah panjang hingga terjadinya revolusi diam bagi kebudayaan umat manusia.

Makanan yang dibuat dengan cara instan oleh kecanggihan alat modern akan menghasilkan rasa kenyang yang instan pula; cepat melesat pergi dari lidah dan perut untuk kembali ke status lapar. Proses instanisasi memerrlukan zat zat anorganik yang lambat laun akan menumpuk jadi residu dalam darah, dalam syaraf bahkan sampai ke lapisan daging dan tulang serta organ organ pencernaan.

Lalu hiburan instan, berupa kesenangan kesenangan sesaat yang didapatkan dengan cara kilat, mudah dan berbiaya. Kesenangan macam itupun pada akhirnya akan menimbulkan kepuasan sesaat, untuk kemudian menyeret penikmatnya kembali ke dunia hambar, dunia lapar akan sensasi.

Lebih parah lagi kawan isntan. Berkawan tidak lagi menggunakan metode metode konservatif yang bagi banyak kalangan dianggap tidak efisien alias tidak praktis. Teman bisa didapatkan dengan instan, hanya dengan menekan satu tombol permintaan melalui buku muka. Kehilangan atas teman instan ternyata semudah mendapatkanya. Sebab sesuatu yang diperoleh dengan mudah sama halnya mempermudah proses kehilangannya.

Tetapi sekali lagi, instanisasi berbagai segi ini adalah budaya baru yang melahirkan sensasi kembang api di zaman canggih yang semakin hambar citarasa. Teman yang dikenal bisa tiba tiba berubah menjadi saudara angkat, saudara hati, atau entah apalagi sebutanya yang menunjukkan sifat berlebihan tanpa melalui proses waktu yang semestinya. Tanpa disadari maka akibatnyapun akan menghasilkan sebuah hubungan penih atificialistik. Teman yang diperoleh dari menekan tombol akan cepat melesap lenyap hanya melalui sekali pencet tombol pula. Akan berbeda jika hubungan antar dua manusia diawali dari komunikasi sederhana, dijalani dengan pikiran sederhana untuk kemudian disimpulkan sebagai sebuah hubungan yang memberikan nilai kedamaian karena kesederhanaan itu. Jika pertemanan dibentuk secara instan apalagi dilingkungan dunai tempat kehidupan palsu, maka resikonya adalah sebuah pertemanan yang mungkin juga palsu.

Budaya instan secara perlahan mengeser nilai nilai mulia dari sejarah, dari tatanan sederhana yang mempersatukan umat manusia secara lahiriah dan batiniah. Keajaiban budaya instan dianggap mirip seperti wujud nyata dari khayalan khayalan yang dengan mudah berubah nyata. Hal itu sering melupakan orang dari cara berkaca, cara bertanya, cara berkomunikasi dengan nurani sendiri. Orang cenderung semakin jauh dari nuraninya sendiri, mengedepankanpencitraan dan demi penilaian orang lain.  Budaya instan mendangkalkan hati, dimana banyak hal manusiawi yang tidak dapat lagi diselami karena dangkalnya palung hati. Asumsi menjadi kebenaran umum yang disepakati diam diam, sementra obyektifitas penilaian dipertaruhkan dalam tatanan tatanan baru yang dilatarbelakangi  kepentingan dagang.

Tidak ada salahnya menari mengikuti gelombang perubahan zaman. Tetapi menenggelamkan diri dalam khayalan yang seolah kenyataan sesungguhnya adalah awal dari kebangkrutan identitas. Perwujudan jejak masalalu barangkali hanya benda mati warisan masalalu, tetapi manusia sering lupa bahwa di masalalu, interaksi antar manusia menggunakan konsep hati nurani, jadi tidak mengherankan jika kemudian kisah sejarah menjadi lebih abadi. Sedangkan sejarah yang tercatat dengan tinta instan, akan lekas terhapus oleh angin liar yang melintasi labirin waktu.

Sepatutnya kita menaruh hormat atas apa yang telah membentuk kita menjadi diri kita hari ini sebab dari sekian banyaknya rekayasa peradaban, maka hukum alam akan tetap menyajikan keadilan yang hakiki.


Gempol 120521

Friday, February 24, 2012

Kemaruk Jaya Makmur

Sebatang pohon itu memang bisa menjadi guru bagi kehidupan, asal saja manusia mau meletakkan ego dan kesombongannya di lantai terdasar kesadaran nurani. Sebatang pohon tidak akan menghisap jatah rezeki lebih dari apa yang dibutuhkannya, pun dia masih sanggup menghasilkan buah buah manis bagi kehidupan yang diberikan gratis untuk dunia. Kita belajar bersahaja dari sebatang pohon, kita belajar kukuh dan setia dari sebatang pohon pula.

Sayangnya manusia memang mahluk paling sempurna, yang dibekali dengan akan budi dan juga pikiran pikiran kreatif dalam segala hal. Segala atribut itu menjadi pembungkus sifat dasar bernama nafsu, nafsu diniawi yang tak berbatas langit atau bumi. Sebagai yang paling sempurna diantara mahluk lainnya penghuni dunia, ukuran kesempurnaan itu menjadi subyektif disesuaikan semau maunya. Acuan parameternnya adalah kepuasan, sedangkan kepuasan nafsu akan terus bertumbuh bersama keinginan dan lingkungan yang menyertai pertumbuhan itu. Pergaulan, kebiasaan, tata cara kehidupan semuanya berkembang berdasarkan taraf keserakahan masing masing orang.

Pada level tertentu, keserakahan ditolerir sebagai sebuah “kebutuhan dasar” yang diterima oleh peradaban. Satu orang manusia biasa dengan atribut titipan sementara berupa kekuasaan dan harta diatas rata rata akan sangat mudah terjebak pada paradigma ini. Kehidupan perkotaan yang dibuat seolah olah matematis dan artificialis menjauhkan diri dari pola pola kesederhanaan. Coba saja, sudah umum bahwa satu orang bisa memegang telepon genggam lebih dari satu buah. Bisa dua, bisa tiga, bisa lebih dari itu. Gaya kemaruk seperti itu dipertontonkan justru lebih banyak oleh orang orang yang tergolong intelektual dan berjabatan; sebagai identitas baru sebagai manusia supersibuk yang tidak cukup hanya mengandalkan satu nomor telepon kontak. Kemaruk!

Sebagai manusia supersibuk produk zaman teknologi, bersamanya juga tumbuh kastanisasi kastanisasi berdasarkan kesukaan dan ketidak sukaan semata. Telepon dengan harga lebih mahal dan jangkauan lebih luas diperuntukkan bagi kalangan sekelas yang disebut sebagai kolega, sedangankan pesawat telepon genggam yang lebih rendah nilainya diperuntukkan bagi orang orang yang berada dibawah selevel atau dibawahnya. Ini disebut teman. Kasta kasta tak terlihat nyata itu dibuat penuh keseolah olahan yang sebenarnya mengabaikan tatakrama dasar antar manusia. Sifat kemaruk penguasaan telepon genggam hanya sebuah cerminan, karena dibaliknya sebenarnya terdapat sifat sifat kemaruk untuk hal hal lebih besar lainnya dalam kebanggaan pribadi masyarakat modern.

Di kalangan kehidupan hedonis dan matrialistis, penguasaan atas satu bidang materi sepertinya tidaklah cukup. Batasan batasan tenggang rasa terhadap kondisi sosial sekitar menjadi abu abu dan cenderung terabaikan oleh keangkuhan serta pengakuan duniawi semata. Kekemarukan itu juga meliputi wilayah wilayah kekuasaan (power) serta pengakuan pada komunitas tertentu, jadi tidak semata pada soal kekayaan materi. Kekerabatan, keakraban yang divisualisasikan sebagai teman hanya sekedar pepesan kosong ketika bersentuhan dengan kebutuhan atas pemenuhan nafsu duniawi tersebut.

Kondisi seperti itu menciptakan akar rumput yang apatis, ibarat bara yang menjalar di bawah permukaan tanah gambut. Mereka yang kemaruk, jaya dan makmur sesungguhnya disumpahi, dan didoa doakan oleh mereka yang tebakar ketidak adilan, terinjak injak tak berdaya dibawah duli kuasa sementara. Doa doa terburuk yang pernah lahir dari mereka yang didera penderitaan bathin diam diam di dalam lautan kehidupan ini.

Sudah seyogyanya kita belajar dari sebatang pohon, yang tak merampas lebih dari yang dibutuhkan untuk memberikan hal hal manis dan berguna bagi kehidupan dunia.


Palembang 120224

Monday, February 20, 2012

Filsafat Pohon

Semakin tinggi pohon, maka semakin jauhlah daun dari akarnya. Bahwa memang dedaunan sebagai elemen kehidupan dibatasi oleh siklus usia sebagai penampung dan penampang seluruh silsilah si pohon. Dedaunan pula yang mencatat kisah sejarah si pohon dalam guratan guratan batangnya. Akar ada sejak sebermulanya kehidupan, dia pula yang menjadikan dedaunan yang merepresentasikan sebuah pohon. Daun tak lebih hanya muncul berbentuk kuncup, lalu hijau berjaya, kemudian perlahan menua, kuning dan akhirnya luruh ke tanah, kembali kepada akar yang sebenarnya ketika usia tak lagi membutuhkannya. Nasib daun tidaklah lebih baik dari batang apalagi akar. Terkadang ia terombang ambing dalam arus angin tak menentu, bahkan terkadang patah layu bersama ranting yang menyerah oleh derasnya angin nasib.

Maka semakin tinggi tingkat kehidupan seseorang, pada umumnyapun akan semakin jauh dari akar yang membuatnya menjadi ada dan tempatnya berada. Nilai nilai kesahajaan sering membias bersama dengan pola dan gaya hidup yang dipengaruhi oleh pikiran pikiran hedonis. Memang demikianlah sifat manusia pada umumnya, yang mengukur kejayaan dari segi segi yang dapat dihitung dalam bentuk angka angka. Jangankan pada akarnya yang menjadikannya ada, pada kepastian siklusnyapun terkadang orang menjadi sombong dan pelupa.

Pada ketinggian tingkat daun, angin segar dan langit membentang tak terbataskan garis apalagi dinding menjadi seakan kepemilikan atas kekuasaannya yang abadi. Seluruh kehidupan seolah menyoraki dan menyokong segala yang diperlukan untuk menyenangkan nafsu duniawi. Kaki kaki kesadaran nurani menjuntai tak menyentuh tanah kenyataan, apalagi mengecap becek dan kotornya lumpur dan debu dunia milik sang akar. Daun daun mati yang berserak tak lebih hanya akan menjadi gizi bagi daun daun lain di generasi lain, tak memberi makna apa apa bagi pohon dan akar. Ketika hidup berjaya, terkadang bahkan makna pertemananpun sering diukur dengan pasal pasal pengatur peradaban.

Sungguh malang mereka yang miskin akan kekayaan nurani, meskipun hidup dalam gelimang kemudahan karena materi. Mereka menjauhkan diri dari kehidupan dunia dan menjadi nyaman di kehidupan maya, kehidupan semu yang diciptakan demi melindungi kesenangan yang mampu terbeli. Kebiasaan pamer dan juga tidak peka terhadap perasaan orang disekeliling sesunggunya telah mematahkan anak anak tangga yang didaki dulu, dan karena sombongya menganggap takkan memerlukan anak anak tangga itu lagi. Ah, hidup itu hanya siklus. Sesuai hukum alam, bahwa segala sesuatu yang naik pastilah akan turun lagi. Bukankah akan bijaksana jika kita tetap memelihara anak anak tangga yang membantu kita mencapai puncak, untuk suatu saat nanti kita injak lagi jika tiba saatnya kita harus turun? Sebagian kita memilih jatuh terbanting dari ketinggian, menjelempah bagai sampah karena gravitasi yang diingkari justru dari tempat tinggi.

Memuja angin sama saja memuja ketiadaan, sedangkan langit yang tampak kosong tak selamanya berisi kehampaan. Segala yang hidup pasti akan mati, dan semua yang berwujud dimuka bumi tidaklah kekal. Pamer, sombong, congkak dan mati rasa sesungguhnya hanya akan menjerumuskan kita kepada perasaan antipati serta menebar benih benih kebencian yang pada saatnya kita terjatuh akan menjelma menjadi tepuk tangan yang meriah dari mereka yang berbahagia atas kejatuhan kita.

Kotabumi 120220

Friday, January 13, 2012

Darpin

Ini dongeng mistik masa kecil, yang menelikung keberanian setiap bocah lelaki kecil yang mendengarkannya. Konon Darpin adalah ilmu hitam yang menggunakan mayat orang lain untuk dirubah bentuk menjadi bermacam macam bahan pangan, seperti beras dan lainnya. Konon beras hasil Darpinan ini butiran butirannya lebih besar besar dan mrisih. Terlalu bagus sebagai beras dalam ukuran yang sewajarnya. Selain beras umumnya bahan pangan hasil Darpinan adalah kacang kedelai atau kacang tanah. Kedua komoditi itupun juga memilki cirri ciri yang sama; sempurna.

Konon lagi, orang sakti yang memilki ilmu hitam dan biasa melakukan Darpin menjalankan aksinya dengan cara menarik jasad orang mati dari kubur dengan ilmu gaib. Kabarnya, setiap mayat yang ditarik keluar pasti akan melakukan perlawanan sehingga terjadi perkelahian antara mayat dan tukang Darpin. Tidak jarang tukang Darpin kadang terluka pada perkelahian itu. Ciri ciri kuburan korban Darpin konon ditandai dengan adanya lobang mirip liang gangsir – sejenis jangkrik besar - pada sekitar gundukan makam.

Sangkaan tukang Darpin (yang kalau sekarang lebih dikenal dengan tuduhan dukun santet) yang santer beredar dalam bentuk rumor dari pos ronda ke pos ronda, dari desa ke desa adalah Ki Lurang Gondang. Pak lurah yang kemana mana menyetir sendiri mobil bak terbuka merk Datsun warna merah marun itu memang terkenal dengan kekayaanya. Kekayaanya bukan cuma rumah megah dan sawah berlimpah, tetapi juga usahannya yang bertebaran, dari usaha penggilingan padi sampai penggergajian kayu. Kata rumor, kekayaannya itu didapatkan dari hasil mendarpin.

Begitu santernya nyatannya rumor itu, hingga beredar melalui bisik bisik bahwa setiap habis ada orang yang meninggal, maka biasanya Ki Lurah Gondang akan tiba tiba menghilang paling tidak selama tiga hari. Konon menghilangnya Ki Lurah berkaitan dengan proses transformasi dari jasad manusia menjadi bentuk bahan pangan yang diinginkan. Itu sudah cukup untuk membuktikan betapa saktinya Ki Lurah, yang sudah mengalahkan mayat dan lalu menganiayannya menjadi bahan pakan manusia.

Waktu itu setiap habis ada orang yang meninggal dan dikubur di pekuburan desa, suasana malam tintrim selalu menindih perasaan. Sebuah atmosphere super horror yang diciptakan oleh pikiran kanak kanak. Malam terasa sangat menyiksa seolah olah monster monster bersama mayat mayat bergentayangan mencari anak anak yang ketakutan. Terutama anak anak laki laki yang menggigil sumpek bersembunyi didalam buntalan sarungnya. Kegelapan malam terasa begitu mengancam, dan rasa kantuk hilang berganti kecemasan luar biasa.

Jika seseorang meninggal pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, maka kuburan tersebut harus dijaga selama tiga hari tiga malam berturut turut. Para lelaki kerabat si mati, tetangga dan sanak saudaranya akan begadang di pusara yang baru jadi. Konon Darpin tidak akan bisa melancarkan aksinya jika makam sasaran dijaga oleh orang yang masih hidup. Tetapi konon pernah juga kejadian, kuburan yang dijaga sekalipun bisa kecolongan Darpin. Pasalnya, tukang Darpin juga menguasai ilmu sirep, dimana dengan ilmunya dapat membuat orang akan tertidur karena tidak tahan kantuk yang menyerang. Sewaktu para penjaga kubur itu tertidur, maka aksi Darpin terjadi.

Suatu kali, Ki Lurah Gondang pernah sakit bernama “Badan Mati Separo”. Penyakit mengerikan yang membuat tubuh seseorang akan separo mati fungsi, separonya lagi tetap hidup normal. Konon pula, sakitnya Ki Lurah juga berkaitan dengan aktifitasnya sebagai tukang Darpin. Hukum karma yang didapat dari cara kotor, mencuri mayat demi harta dan kehidupan dunia pribadinya. Sejak sakit itu, perlahan lahan tapi pasti kekayaan Ki Lurah semakin hari semakin menyusut. Malapetaka juga terjadi beruntun, mulai dari penggilingan padinya yang terbakar hingga kecelakaan yang memakan korban di penggergajian kayunya.

Tiga tahunan sejak sakit itu, Ki Lurah Gondang akhirnya meninggal. Sejak itu juga terjadi kelegaan magis pada orang ramai. Tukang Darpin tidak ada lagi, mayat akan lebih aman di liang lahat. Dan konon sejak meninggalnya, tidak ada lagi cerita tentang Darpin terdengar lagi, karena orang meyakini Ki Lurah Gondang adalah tukang Darpin meskipun itu hanya konon.

Andong 120113

Sunday, January 01, 2012

Tahun Baru

Ketika asap kembang api sisa perayaan perlahan melesap di udara, maka yang tampak adalah hamparan jalan berbatu dan tenaga yang berkurang satu demi satu. Tahun baru tak ubahnya lanjutan dari perjalanan panjang, titik penanda dimensi waktu yang diagung agungkan dengan kegembiraan yang berlebihan. Angka tahun yang lama seolah olah tamat mejadi benda mati dalam keterkurungan kenangan. Tekad tekad mulia dibangun dalam kuil kuil semangat, pundi pundi harapan ditimbun demi modal perjalanan setahun kedepan. Garis umur menjadi terkotak kotak oleh penyesalan. Lompatan lompatan peristiwa membekas bagai jeda dalam ketukan spasi.

Tahun yang berat hampir menyentuh ujung. Untaian waktu yang menyisakan catatan, torehan peristiwa demi peristiwa, kesakitan dan juga tawa. Tahun kehilangan yang juga berisi catatan tentang pelangi yang kehilangan warna. Dalam tanjakan usia, indeks prestasi tersusun layaknya cekung cekung kali yang kering dan pucat. Terkadang kenyataan menghantam keras dan bertubi, bahkan khayalan sekalipun tumpas tersapu oleh angkuhnya kekuasaan. Kuasa berpikir, kuasa berbijaksana bermakna juga kuasa nasib atas orang lain dibawah titah.

Usia yang mendaki puncak memerlukan pengorbanan disepanjang jejaknya. Terbelanjakan ha hak instimewa maupun kesempatan. Seolah merapuh titian asa, terkadang gelap bahkan tak mampu teraba. Bahkan jejak jejak indahnya menjadi prasasti mati, sesuatu yang layak dibanggai nanti sepuluh tahun lagi. Seiring berkurangnya jatah usia dan menumpuknya kebijaksanaan yang hanyut terbawa olehnya. Semestinya sebentar lagi kan sampai, ke tanjung kesadaran dimana benih benih kebijaksanaan usia akan tertebar disepanjang sisi laut pengalaman.

Jalan didepan sungguhlah lapang, namun akan ada kemarau dan hujan yang terjadi, juga barangkali badai dan bencana didepan sana. Selayaknyalah kaki dilangkahkan penuh keyakinan dan kepasrahan, bahwa jalan yang akan kita lalui barangkali akan kita lewati sekali dalam seumur hidup. Besertanya juga mengandung konskwensi dari perbuatan sepanjang jalan itu. Konskwensi yang kita jalani pada labirin waktu yang disebut orang seabagai tahun baru. Dan perlahan pada saat yang sama kita akan menjadi tua secara otodidak.

Maka sebenarnya tidak ada istimewanya pergantian tahun, kecuali almanak di dinding yang segera bergeser ke tempat sampah untuk ditempati cover yang baru. Segalanya toh akan berjalan sama lagi, menjadi rutinitas lagi dan menyelenggarakan jejak peradaban yang berjalan berulang dalam siklus waktu. Perayaan tidak ubahnya seremoni pamer kegembiraan yang mudharat. Sungguh menjauhkan kita dari nilai luhur kemanusiaan yang beretika tinggi.

Dari dukacita kita temukan pembelajaran tentang bagaimana menyiasati kemungkinan, dan dari ketidak adilan kita belajar mengenai kebesaran hati. Penolakan dan kekecewaan diredam agar tak jadi dendam, senda gurau dicatat sebagai tanda kasih keajaiban Tuhan.

Songgom – Prupuk 111226

Friday, December 09, 2011

Pelangi Tak Berwarna

Pelangi abadi tanpa warna mengimbangi kegetiran dan kecemasan alam fakta. Dunia temaram, tempat bersemayam kegaiban dan keajaiban dimana tak ada batas oleh dimensi ruang dan dimensi waktu Sepanjang dindingnya yang terbuat dari angin adalah lorong lorong petualangan yang tak terpetakan dan selalu menantang. Sebuah pengembaraan disepanjang ruang kubus yang terbungkus dalam rahasia yang pekat. Semua yang terasa hanya tinggal di rasa, tak menyisakan jejak sejarah sebagaimana layaknya sebuah risalah yang majemuk.


Ketika waktu merampasi hak untuk mampu, bersamanya samar tertampak gundukan demi gundukan kuburan masa silam. Didalamnya tertanam jasad jasad gambaran, keindahan tak bertara yang dianggap mati dalam hidup bekunya. Sungguh sebuah hadiah indah untuk bisa sekedar bernostalgia bersama catatan rahasia yang lama dikaburkan dari sejarah kehidupan. Dunia rasa dunia dengan pelangi tak berwarna, menyajikan pentas raksasa kepada jiwa jiwa petualang yang bermutan dari laku durjana.


Diujung horizon, dikaki pelangi tak berwarna kabut menggupal laksana peri. Jelmaan dari sesuatu yang menjadi pujaan, dan mengambang tak menginjak bumi. Ia menjadi sumber keindahan rapat dibekap misteri. Sepenuhnya berisi tentang petulangan petulangan sunyi antara dua hati, menjelajahi negeri negeri tempat pelangi memiliki warna. Kabut itu tetap menjadi keindahan nisbiah yang tak direstui oleh peradaban. Disembunyikan kepedihan dari tatapan orang, menembusi awan dan langit tak bertuan dengan tangis yang tertahankan diam diam.


Betapa tipis batas antara khayalan dan harapan. Dan pada salah satu keping ingatan yang berlubang, disana ada cerita cinta. Ingatan seperti berjalan dilorong temaram, dengan potongan potongan cermin disepanjang dinding. Dan tangan tangan yang kehilangan genggaman, dingin beku diterlantarkan perpisahan. Sesutu yang mati tiba tiba. Kenapa setiap nama membangkitkan kenangan indah. Kesedihan kesedihan yang membahagiakan itu. Dan pengalaman terus saja melahirkan sangkalan. Biarkan cerita tentang percintaan itu mengalir keluar bersama asap rokok. Cerita yang hanya berputar dan berpendar searah didalam kepala, melangkah ditempat yang sama sementara jejak terjarak di lantai masa.


Kata orang langit tempat pelangi tak berwarna itu tak berbatas. Membentang sepanjang kemauan hati dan bebas gravitasi.


Halim 111209

Friday, November 25, 2011

Demo Buruh di Hari Guru

Ukuran Kebutuhan Hidup Layaklah yang menjadi biang kerok kerusuhan berdarah demo buruh di Batam kemarin, akan menarik untuk dilihat agak bergeser memikir dan menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. Yang pasti, peristiwa itu dipicu oleh suatu sikap pengabaian pejabat pemerintah terhadap tangung jawab moral terhadap rakyatnya, yaitu mensejahterakan. Sejahtera berarti aman sentausa dan makmur; selamat (terlepas dari segala macam gangguan).

Ketika banyak pejabat publik menjadi penipu dan pencuri uang negara bernilai miliaran, buruh menuntut revisi penghitungan nilai Kebutuhan Hidup Layak. Mereka merasa pemerintah yang diwakili pejabatnya telah salah memperkirakan kebutuhan layak para buruh yang dianggap tidak sebanding dengan tingginya tiap individu mengkonsumsi gaji. Secara teknis, penentuan Kebutuhan Hidup Layak memang dilakukan oleh pejabat mewakili kekuasaan negara, kemudian perwakilan buruh sebagai end user, dan organisasi pengusaha yang nantinya wajib membayar nominal minimal dari Upah Minimal yang ditetapkan. Besaran upah inilah yang dianggap layak oleh pemerintah dan dianggap tidak layak oleh buruh.

Mari sinis. Masuk akal jika angka yang ditentukan konsorsium tiga kepentingan tersbut kemudian diprotes oleh buruh yang menghitung kebutuhan hidup layak mereka dengan cara yang berbeda. Pejabat pemerintah sebagai regulator yang melegitimasi upah buruh menggunakan rasio matematis dari hasi survey sehingga tidak klop dengan kondisi nyata di masyarakat. Rasanya hampir (?) tidak ada pejabat negara yang tidak hidup makmur. Itulah makanya kepekaan terhadap kebutuhan kebutuhan dasar hidup dalam masyarakat biasa menjadi tumpul. Intinya, orang kaya tidak tahu dan tidak ingin tahu bagaimana rasanya menjadi orang miskin, sedangkan orang miskinpun tidak akan sanggup menyentuh angka angka ongkos yang dihabiskan untuk kebutuhan hidup layak bagi golongan kaya.


Tidak sesederhana itu, saudara. Upah Minimum yang ditetapkan oleh pejabat pemerintah tentunya telah melewati tahapan tahapan perbandingan, bahasan bahasan mengenai kelayakan serta pertimbangan yang matang. Kepentingan pengusaha sebagai majikan yang memberi upah kepada buruhpun harus diamankan, karena dari kegiatan usaha itulah pundi pundi pendapatan daerah ikut membiayai ongkos managerial birokrsi pemerintahan dalam mengelola wilayahnya. Efek kegiatan usaha itulah yang menggerakkan roda ekonimi diwilayah yang dipimpinnya. Dilihat dari mekanisme yang dipakai dalam menentukan besaran angka, upah minimum sebenarnya adalah kesepakatan antara perwakilan buruh dan perwakilan majikan. Pengertian seperti itu tidak semua buruh dapat memahami; tetapi mereka tahu bahwa angka itu tidak sepadan dengan ongkos hidup. Bagi buruh, angka angka itu memang vital, lebih dari sekedar periuk nasi. Kebutuhan hidup layak tidak hanya makan, tempat tinggal, dan sandangan layak.

Ada tiga faktor inti yang menjadi pemantik pertikaian buruh di Batam; Pertama, zaman telah banyak merubah barang barang yang dulunya dianggap mewah menjadi biasa. Sementara ongkos kehidupan dan biaya pergaulan turut menanjak naik seiring membengkaknya volume komunitas mereka. Kedua, gaya hidup hedonis pejabat negara yang jauh dari kesederhanaan diam diam menjadi racun moral bagi masyarakat awam menengah, yang kemudian disimpulkan sebagai sebuah sikap tidak adil yang dipertontonkan. Ketiga, teknologi informasi yang sedemikian pesat ikut menyeret hampir sebagian masyarakat kepada dunia konsumtif dan imitatif.

Kaum buruh, sebagai komponen manual dari alat alat industri banyak direpresentasikan secara statistik dan menomor duakan aspek sosialnya. Sambil terus bekerja mereka menanggungkan beban mental atas rasa ketidak adilan majikan pemberi kerja, dan mencoba mengadu kepada pemerintah sebagai pemomongnya. Ketidak adilan dan ketidak bijaksanaan yang menjadi biang dari kekerasan. Tindakan represeif petugas Polisi beralasan juga karena mengemban kepentingan tugas sekaligus melindungi harga diri mereka sebagai petugas. Sayangnya, demo yang tujuannya mulia itu akhirnya berakhir dengan anarkisme, tidak ada konklusi, dan merugikan semua pihak; bahkan pihak yang tidak ikut ikutan dalam aksi itu.


Batam masih tegang, sementara nusantara memperingati Hari Guru Nasional, berbarengan lagi dengan pawiwahan agung kepala negara yang ngrabekke anaknya. Segitiga psikoligis; terliakan lapar, krisis tauladan, dan pembororosan seperti berebut perhatian dari rakyat Indonesia dewasa ini. Rakyat Indonesia yang tak berhenti berharap akan terciptannya negeri gemah ripah loh jinawi, aman, toto, titi, tentrem dan kerto raharjo. Barangkali, cita cita itu akan cepat terwujud jika setiap manusia lebih banyak bersyukur atas hidup hingga hari ini.


Selamat berjuang para buruh!
Selamat berulang tahun Bapak dan Ibu Guru!
Selamat ngrabekke pak SBY!

Gempol 111125

Monday, November 14, 2011

Bingkai Cinta

Cinta itu bisa membuat orang menjadi bertingkah aneh. Yang hari ini cinta setengah mati, besok bisa dicekik atau mencekik mati gara gara cinta yang setengah mati itu. Ketika orang lelaki perempuan diperkenalkan kemudian seolah merasa ditakdirkan sebagai jodoh, maka perkawinan kemudian dijadikan legitimasi atas hubungan dua orang tersebut. Tujuannya samar samar jelas; demi terciptanya kebahagiaan lahir batin. Kesejahteraan jiwa raga dan kenyamanan akal dan pikiran. Perkawinan adalah bingkai yang meruangi hubungan cinta itu dalam lingkaran penuh rambu dan aturan. Pelanggaran terhadapnya bisa disebut sebagai penyimpangan sosial dan menistakan sakralnya makna perkawinan yang diagung agungkan. Dan bagi pelanggaran akut, maka perkawinan tinggal bermakna sebagai ikatan hukum antara dua orang yang penyelesaiannyapun melalui jalur hukum negara, kembali kepada syarat syahnya hubungan perasaan yang terwakili dalam tulisan diatas kertas. Disini cinta tak lagi dibicarakan.


Perkawinan menghasilkan rumah tangga, dan rumah tangga memunculkan banyak dinamika. Kuasa waktu kemudian membawa setiap cerita perkawinan dengan kisah kisah luarbiasa, kebahagiaan tertinggi tetapi juga penderitaan bathin terbaik bagi sebagian orang. Dalam perkawinan membujur garis pembatas yang memagari dimana jika semakin dilanggar akan semakin pudar hingga lama lama tak lagi terasa ada pembatas itu. Garis pembatas yang memisahkan antara dunia maya dan dunia nyata. Dunia maya tak terbatas daya jelajahnya, sedangkan dunia nyata hanya berisi simbol simbol peradaban yang ideal yang harus ditaati.


Pengalaman beberapa orang menunjukkan bahwa faktor lahiriah hanya punya andil kecil dalam mengenali orang lain. Kenal yang sebenar benarnya kenal adalah memahami latar belakang alasan atas setiap langkah pikiran yang dibuat orang yang kita kenal. Perbedaan perbedaan fisik seperti usia, maupun hal lainnya tidak cukup kuat intuk menyokong sebuah kesimpulan pengenal seseorang. Cara pikiran melangkah, cara otak mencerna dan sesudah diolah oleh nurani diubah menjadi energi budaya atau kepribadian adalah hal fundamental yang menentukan apakah seseorang berpotensi untuk membuat sebuah hubungan (apapun jenis bentuk dan sifatnya) menjadi nyaman untuk dijalani. Rasa nyaman yang lahir alami dan menjadi ruh sebuah hubungan sesungguhnya adalah intisari tujuan dari setiap perhubungan antara manusia. Rasa nyaman yang kemudian dikurung dalam bingkai hubungan suami istri, dengan keyakinan bahwa rasa nyaman itu tidak akan melewati garis bingkai yang mengkandangkan harap dan tujuan berdua. Abadi selama lamanya!


Tapi waktu punya kuasa. Garis maya pembatas mengikat sekaligus penuntun hati untuk patuh terhadap aturan main kadang tersamarkan oleh kilau dunia, kilau hal hal baru yang menawarkan petualangan lebih seru. Praktek perilaku tidak adil menciptakan kekacauan, dimana kemudian perkawinan berubah bentuk menjadi tirani kecil dengan sel sel penjara yang mengekang. Ikatan hak dan kewajiban dalam suami istri acap kali memunculkan raja raja kecil bermahkota arogansi di singgasana rumah tangga rintisan berdua yang diklaim sebagai ciptaan salahsatunya sendiri. Slogan slogan mulia dalam janji perkawinan perlahan kehilangan makna dan bingkai maya itu mejadi tandus oleh cinta yang sejak semula menjadi penyebab terjadinya. Dihuni oleh para hati yang gersang cinta, dengan bilur bilur luka disekujur permukaannya. Jiwa jiwa malang yang penuh cinta kepada pasanganya perlahan merana, diperlakukan culas tanpa bisa berdaya. Dan hanya dunia diluar bingkai semata tersedia penawar perihnya derita cinta. Hanya disana tersisa bahagia dari cinta yang terlarang.


Tinggallah kenangan cinta masamuda yang tersisa, teronggok menjadi barang mati tak bisa terulang kembali. Waktu bisa merubah orang, dan sebagian yang menundukkan diri pada cinta setengah matipun pada akhirnya terjebak dan terjepit dalam feodalisme suami istri. Ketidak adilan dan kesewenang wenangan akhirnya membuahkan ketidak adilan dan kesewenang wenangan baru yang terjustifikasi. Disinilah kemudian rasa cinta bertransformasi menjadi hitung hitungan matematis semata. Lex talionis, balas dendam dengan perbuatan yang sama tanpa berniat menyakiti demi menghormati rumah tangga. Ketika hukum balas dendam dianggap sebagai rambu baru dalam lingkaran bingkai cinta, maka rumah tangga sebetulnya telah kehilangan esensinya. Makna yang sesungguhnya tentang itu kemudian menjadi aus terganti ego yang menjulang. Kebahagiaan dicari dari luar bingkai ketika apa yang ada dalam bingkai hanya api dalam sekam, ibarat pasukan rayap yang telah melapukkan semua pilar pilar cinta penyangga perkawinan dari dalam. Tak jarang, pada saat badai datang, sang bingkai akan terhempas ke bumi dan hancur berantakan.


Hubungan antara manusia memang rumit, dan terlalu banyak hati yang baik menjadi sakit karenanya. Terlalu banyak kisah indah perkawinan yang berubah bentuk menjadi tragedi kehidupan pada akhirnya.




Gempol 111114

Thursday, October 06, 2011

Perkabungan

: Bue (13 Agustus 1942 - 06 Oktober 2011)


Kepada rindang pohon trengguli tertitip jasad ibunda yang terlelap dalam tidur panjang penuh kedamaian tanpa mimpi. Selimutnya bumi bertabur bunga setaman dan doa doa kami yang kehilangan. Isak tangis disembunyikan dibalik wajah wajah lusuh penuh duka cita. Kuning terang bunga trengguli, bergoyang pelan diatas makam. Kemarau yang membawa angin kering mengembara membawa kabar duka ke kota kota nan jauh. " pagi tadi ibunda telah pergi. . . "


Ibunda induk hidup, separuh akar dunia tercabut oleh karena kepergianya, pergi yang tak akan kembali lagi. Hati berlubang dilimuri puji ujian perkabungan bercampur kesedihan terhebat sepanjang hayat. Segala kenang kenangan atas indahnya masa kecil sepanjang perjalanan menggenang pada udara. Sejuk tanah merah menjadi peristirahatan terakhirnya, tanah yang sama ketika pertama mengenal dunia.

Ibunda ibu dunia, yang menitiskan ruh pada jiwa jiwa perkasa. cinta terbesar terbentuk oleh kisah kisah sepanjang masa. Kembang turi dan kecambah lamtoro memupuk anak anak panah yang melesat menjelajah angkasa tak bertuan, menejejaki bumi bumi nun jauh yang pernah teceritakan di temaram lampu tempel; atau dihamparan rumput teki ketika rembulan penuh menguasai langit dulu.

Ibunda cinta abadi, berpeluh kasih sayang mengalir sepanjang dan sepenuh nafasnya. Dari kedalaman batinnya bersumber cinta kasih, cikal bakal kehidupan yang menebar di lembah lembah dan bukit nasib dimana harapan disemaikan. Sejuknya menjadi jimat penyemangat ketika kaki kaki kecil kami belajar melangkah menapaki bumi, memungut setiap keping kenangan untuk dipersembahkan kembali kepadanya sebagai kebanggaan.

Ibunda yang terbaik hatinya. Bersama pergimu, separuh bumipun luruh jadi debu. Tinggal syahdu suara menggema di dinding jiwa, mengantarkan cerita dongeng tentang negeri yang jauh; mengantar kami ke alam mimpi masa kecil. Senyum ibunda menjadi mercusuar pengarah langkah setiap kali mata angin menyesatkan arah. Maka gugusan waktu akan mengaburkan hangat dari pelukan terakhir, lantunan doa yang mengalir melalui hatimu yang bening.


Ibunda Ibu surga, kepadamu segala cinta dan kebahagiaan berpalung. Yang menjadikan kita menjadi manusia, kemudian yang mengajarikan tentang tata tertib dunia, mengenalkan kepada hidup dengan caranya, menuntun sikap untuk selalu menuruti cahaya hati. Cintanya sebesar rongga antara bumi dan langit, sedangkan kasih sayangnya seluas ukuran dunia. Suci dan juga sepenuh hati. Tidak akan pernah ada cinta yang menyamai keagungan cinta ibunda yang bercita cita memuliakan anaknya dalam kehidupan dunia. Begitu besar cinta kasihnya sehingga ruhnya selalu tertitis kepada jiwa anak anak yang telah menjadi manusia. Tidak peduli hal apapun yang kita anggap sebagai hal buruk yang diberikan, maka ibunda tetaplah seorang malaikat utusan Tuhan untuk menjadi perantara keberadaan kita di dunia dalam keadaan hidup.

Hidup adalah anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan melalui tubuh ibunda. Tidak ada kemuliaan yang melebihi hal itu Untuk itu terhaturkan rasa terimakasih tak terhingga sebagai pengantar perjalanan baru menghadap Sang Pemilik hidup.


Sugeng tindak, bue...

Andong 111006

Wednesday, September 28, 2011

Sepanjang Jalan Buntu

Perjalanan penuh petualangan paling seru sedunia itu memang menuju jalan buntu. Pengetahuan tentang bagaimana mensiasati jalan yang akhirnya buntupun tidak diperlukan, serahkan pada hati untuk berimprovisasi jika nanti ujung jalan buntu sudah ketemu. Akhirnyapun journey itu akan membentur jalan buntu bersama sama dengan hati dan pikiran yang tiba tiba beku. Romansa perjalanan sepanjang jalan buntu itulah memang yang menjelma menjadi candu ajaib, mengalahkan kemungkinan buruk yang mungkin akan ditemui di ujung jalan buntu. Semua terhenti, kecuali cerita yang akan terus mengakar dan menjalar, mengandung getah getah pengalaman dan kenangan yang tidak akan bisa dihapus dari catatan di sel otak, dan di palung hati. Sebab, cerita petualangan itu sendiri sangatlah hebatnya. Nomor satu di dunia.

Memang demikianlah keadaanya. Tak perlu menyalahkan keputusan yang kita buat sewaktu langkah pertama bersama terjadi. Semuanya semata mata pilihan hati yang sama sama dikehendaki, bukan untuk menuju kepada sesuatu atau menjadi sesuatu, tetapi memang semata mata hanya mengarungi pelangi perasaan jiwa. Dan kita terbenam dalam catatan kental kisah kisah khayali yang benar terjadi dimuka bumi. Semua catatan perjalanan mari kita kemas diam diam, untuk kita simpan dalam lemari kenangan abadi masing masing. Ia akan tetap hidup dalam angan angan dan perasaan. Tempat tempat dan kota kota nun jauh akan menyimpan monumen tak kasat mata yang akan selalu membawa kenangan itu hidup kembali dalam bayang bayang, seolah jejak jejak usang itu baru saja kita ciptakan.

Pada akhirnya kita harus menerima bahwa jalan buntu tidak akan membawa kita kemana mana, kecuali menyusuri kembali rute sebelumnya, kali ini dengan langkah terpisah jauh dan jemari tangan yang berdiri sendiri, kita tak lagi saling bertautan. Ya, kita menapak tilas kisah kita sendiri sampai tuntas, sehingga waktu akan mengantar kita ke dunia baru masing masing yang masih tetap rahasia. Tetapi jalan buntu itu akan selalu ada, dengan relief kisah kisah suka duka disepanjang tepinya, mengisahkan tentang perjalanan hati yang tak terekam dalam deretan frame di pita usia. Sungguh seluruh gambar dan suaranya mengisahkan sepotong kisah drama dua manusia pada suatu ketika.

Meskipun dirasa lara, tetapi kita tunduk tak berdaya kepada kekuatan lain lagi yang mengharuskan kita melangkah menjauh dari keinginan sederhana; berjalan besama.

Gempol 110928

Friday, September 23, 2011

Salah Rasa

Perjodohan antara tuduhan dan pengakuan atas sebuah keadaan melahirkan perasaan salah yang wajar dan tulus, yang tidak memberikan hak apapun untuk mencari pembenaran apalagi mencari sesuatu yang lain untuk disalahkan. Perasaan bersalah adalah sesuatu yang benar karena ia jujur seperti apa kata nurani. Sedangkan kesalahan yang kemudian dimodifikasi dengan berbagai alasan supaya tidak terlihat sebagai sebuah kesalahan adalah suatu tindakan yang salah. Tindakan itu tidak lain hanya akan melahirkan bibit bibit kesalahan yang bisa tumbuh subur sehingga menyembunyikan hal yang benar dengan sempurnanya.


Pengakuan salah dalam hati dan dalam pikiran bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani. Sebab rasa pengakuan itu diikuti oleh banyaknya tatanan norma bijaksana sebagai orang yang bersalah; pesakitan. Diam tenang lalu memasrahkan diri pada keadaan. Menempatkan kepentingan kepentingan ego nun jauh dibelakang kepentingan kepentingan lain yang bukan untuk diri sendiri. Atas nama kebaikan sematalah maka kemudian cerita menjadi berubah kelabu sebagai konskwensi dari benturan perbedaan persepsi. Setiap sikap ada akibatnya, dan setiap perbuatan akan memiliki nilai kebenaran dan kesalahan dalam tataran rasa jiwa.

Jiwa yang berani menanggung pengakuan rasa bersalah itulah yang sebenarnya memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh para pendusta, yaitu mereka yang menyangkal kata hati sendiri. Dan sesungguhnya, perbuatan semacam itu tidak lebih dari membodohi diri sendiri dengan kebenaran palsu yang dikomunikasikan. Sebuah konstruksi keseolah olahan yang dibangun sangat megah, meskipun rapuh bersifat sampah.

Sikap terima salah terasa seperti mesin kapal yang tiba tiba mati, tak mampu dikendali lagi titik mata angin yang menjadi tujuan pertama ketika kapal menjejak dermaga. Terapung apung, dipermainkan oleh ketidak berdayaan atas keperkasaan angin dan ganasnya amuk ombak. Saat itulah langit mengajarkan kita akan kerendahan hati, betapa sesungguhnya nasib tiap mahluk sudah diatur dan dikendalikan olehNya. Maka sikap terima salah seperti itu akan menjadi penghargaan terbaik kepadaNya. Kesalahan harus diterima sebagai sebuah pelajaran berharga bagi mereka yang punya cita cita menjadi pribadi yang baik. Taat nurani.

Ketidak berdayaan atas tindakan melahirkan harapan harapan yang lama lama menjadi energi yang menguatkan hati . Bagaimanapun dengan lapang dada harus menerima apapun yang mungkin terjadi jika kapal mati itu bertemu daratan. Kehidupan dunia, kehidupan zonder khayali berisi rangkaian realita peradaban yang dipenuhi dengan dekorasi aturan kepatutan dan tatanan kepantasan sana sini. Sedangkan segala keinginan dan ketidak inginan domainnya ada di dunia khayali itu, bukan di muka planet bumi yang dikendalikan manusia dengan kemunafikan moral.

Rasa bersalah yang disikapi dengan benar sungguh terasa nyeri jika dihayati. Tetapi akan mematikan semua kesalahan lainnya yang merupakan ruh dari rangkaian keinginan dan ketidak inginan. Menyalahkan diri sendiri dengan bijaksana tanpa mengasihani diri menempatkan kita dalam situasi pengampunan dalam menjalani hukuman demi menebus kesalahan.

Semoga Tuhan Maha Kuasa senantiasa memelihara kesejahteraan orang orang yang menerima kesalahan tanpa mendendam, dan menolong mereka yang kurang tepat menterjemahkan makna sebuah kebahagiaan.

Gempol 110923

Tuesday, August 16, 2011

Perayaan

Hidup bisa jadi adalah rangkaian perayaan demi perayaan yang membentuk jalinan sejarah, catatan sambung menyambung yang menghubungkan masalalu dan masa depan. Semuanya masih hidup, berupa sel sel bersyaraf yang mengambil porsi peran masing masing dalam keseharian.

Ketika seseorang menguburkan janin iblis dibawah sekelompok batu pada masa lalu, maka janin janin itu sebagian mati kepanasan, sebagianya lagi tumbuh menjadi musuh laten yang tumbuh kekar di alam bawah sadar. Terkadang mimipi dalam tidur membawa diri kita kepada sekumpulan kisah masalalu. Dan sayangnya, didalam lingkaran kisah masalalu itu sang iblis tinggal beranak pinak. Tak jarang mereka tebawa pulang ke alam faktual, hingga tersisa iblis yang tetap meraja ketika pertama kali mata terbuka di pagi buta.

Jelas sekali bahwa dinding pembatas sebagai tembok pertahanan yang dibangun untuk menimbun kenangan buruk tak ubahnya lapisan kasar dipermukaan hati yang lembek. Kekuatan iblis yang tak terhitngkan tak ibarat pecahnya kepundan yang menyemburkan ribuan beling kenangan, beling kenangan yang terbentuk dari potongan potongan perlakuan buruk hasil muslihat dari orang yang dianggapnya hidup ekslusive didalam nafas hari harinya. Mereka tak ubahnya adalah sisi sisi tajam yang menginvasi kepala, langsung dari langit tanpa batas. Tak ada tempat untuk menghindar, tidak ada daya pula untuk mengalahkannya.

Maka diam menjadi pertahanan yang paling mendamaikan. Berdiam diri mendukung penuh upaya sang nurani untuk mengusirnya hingga cukup jauh. Gemuruh pertempuarannya menyerupai badai, kekuatan energinya laksana gunung api keramat yang tiba tiba menggeram memberi peringatan akan datangnya marabahaya. Niscaya pada setiap akhir dan sepanjang pertempuran itulah perayaan hidup digelar siang malam. Perang yang begitu dahsyat dan hanya terjadi dalam dunia ruh. Dan niscaya pada setiap perang selalu melahirkan korban cacat bagi mental manusia normal.

Dan korban perang bathin bagi manusian normal itulah yang di beri nama psycho atau kegilaan, sebuah perilaku diluar kendali akal waras; penjelmaan iblis yang tak lagi diakui oleh induk induknya, induk induk yang menamkan janin sang iblis di masalalu. Bagi para pembuatnya, aib acap kali terlalu mudah untuk dianggap cerita salah kisah, sudah expired dan tidak ada. Sayangnya, tidak demikian bagi mereka yang pernah mengampuninya dulu. Baginya yang berlaku adalah pertempuran ganas yang maha sunyi, yang hanya terjadi diam diam dalam hati sendiri. Sangat pribadi, hingga tak mungkin dapat terbagi hanya melalui telinga. Perlu hati untuk bisa mendengarkan intonasi yang lahir dari lenguhan nafas mempertahankan api mengamuk di dada dan kepala. Dan sayangnya, sambutan yang tanpa hati sama halnya dengan membuka dinding batu dimana ribuan iblis selama ini terkurung didalamnya.

Diadukanlah lelah kakinya kepada sang induk iblis, dan dijawab sambil lalu tanpa melewati saringan hati. Sang induk terlalu sibuk dengan perayaan lain lagi di dunia gegap gempitanya, perayaan demi perayaan penuh hasutan birahi. Akibatnya, sang iblis bagaikan direstui untuk berbuat sesukanya, mendatangkan lagi catatan catatan hitam yang menghalangi cahaya matahari yang menghidupkan hingga bumi menjadi muram. Nurani terkadang kewalahan, lalu diketahui kemudian bahwa ia tak mungkin mengalahkan iblis. Dan tidak ada yang kalah atau menang jika tidak ada pertempuran. Upaya kompromi dijalankan semstinya dalam dunia diam, di bikini bottom dimana tak ada manusia disana. Sebuah kompromi hanya untuk membujuk, agar iblis mau pergi menjauh dan kembali bersembunyi di kepundan ingatan yang menjelma gunung api ini.

Nyatanya memang, kedukaan seseorang bisa jadi hanya cerita harian dalam kehidupan. Apalagi bagi mereka yang mengartikannya tanpa hati. Maka dalam perang yang diam, segala bentuk perlawanan akan menggenang dalam diam, menjadi rahasia pribadi semata. Tapi perang itu memang ada!

Gempol 110816

Thursday, April 28, 2011

Tentang Sesuatu

Ia adalah seonggok tanah kering dari gundukan lumpur masa lalu. Tak berjiwa apalagi berhati. Ia benda mati yang bahkan tak tersentuh oleh jari jari. Tapi ia hidup, terbungkus oleh bayangan mendung serta gugusan embun. Dilewati hari harinya tanpa almanak, apalagi arloji menikmati kemutlakan atas kematiannya yang rahasia.

Dari dadanya yang retak mengalir air mata, membasah hingga ke lutut dan meresap kedalam tulang. Tapi ia tidak sedang berkabung atas kesalahan yang ditimpakan berulang ulang, di nisbikan makna atas nilai seorang pujaan hati dimasa lalu. Pujaan hati, perasaan cinta milik manusia yang mewakili kesejatian yang paling individual. Dan, status pujaan hati pada saatnyapun akan mangkrak menjadi dua gundukan tanah mati. Kehilangan rasa. Kehilangan kewajiban sebagai manusia.

Ia adalah seonggok tanah kering dari gundukan lumpur masa lalu, tersembunyi di rimbunnya kerinduan akan kedamaian yang pernah terjadi sekilatan petir lamanya. Tanah makam yang menyimpan beragam kisah prematur, putus ditengah jalan oleh kehendak kepatutan yang kemudian menjelma jadi kerangkeng kokoh pengurung harapan. Dalam persembunyiannya yang rapi, justru percintaan hidup dalam dunia angan angan. Bayang bayang yang berjodoh dengan bayang bayang, pikiran yang berpilin dengan pikiran. Semua tersembunyi dan diam, jauh di tengah rimba rindu yang menyesatkan.

Dari dua gumpal bayang bayang, maka akan lahirlah dunia baru, gelembung rapuh yang berdinding pelangi dan mengembara tanpa tujuan pasti. Gelembung kehidupan yang aman dan menentramkan, pun di tabukan.

Dari permukaan pandangan gelembung itu hanyalah seonggok kuburan masa lalu. Tak berjiwa apalagi berhati. Benda mati yang bisa jadi membebani, tapi tak bisa dilenyapkan dari tangkalan mata. Dan, ia tak punya pemilik lagi...




Gempol 110428

Monday, April 25, 2011

Makam

Gelembung udara berisi kehidupan mengambang, terbang mengembara pada hembusan angin masam. Maka telah tiba saatnya, dimana usia mencabuti hak istimewa, habis masa hidup si gelembung sebagai pengisi cerita dunia, lalu menghempas jatuh ke tanah dan menjadi hampa. Tinggal bercak bercak sesal yang menggenang dari pori ke pori bumi, mencari hati tempat mengadu yang tak ada lagi. Usia telah mewajibkan kaki untuk berdiri ketika badai beling menghantam dada, punggung dan telinga, menjadi cangkang bagi kehidupan lain yang lahir dan tumbuh oleh sebab persekutuan maksud. Pada saatnya, badai kambuhan yang rajin menyambangpun harus dihadapi sendiri, tak ada siapa siapa untuk bisa berbagi. Seseorang memandang dari balik gelap yang kekal; hanya dalam lingkaran angan angan.

Demikianlah kiranya hidup bersiklus, amarah dendam bahkan kesedihanpun perlahan akan membatu karang, mematikan rasa, bahkan menghambarkan siksa sang iblis. Ada kalanya ketidak berdayaan diterima sebagai sikap kukuh mengangkangi nasib, mengakui kedigjayaan aturan peradaban dan atau tatanan kepantasan sebagai kekuatan yang bisa juga menghancurkan dengan maskud baik yang terkandung didalamnya. Nyala pikiran yang tak berpola dan cenderung membabibuta di udara hampa hanyalah perusak gagasan akan masa depan gilang gemilang, masa depan seperti dicontohkan oleh garis darah keturunan. Meskipun yang terjadi bukanlah kisah rekaan, tetap saja semua tunduk pada aturan kehidupan dimana sang waktu menentukan segalanya.

Seperti gelembung udara yang tergantung pada senyawa oksigen dan asam, yang memberiknya kebebasan untuk menejelajah cerita demi cerita menyenangkan dan pada akhirnya akan musnah tak berbekas.Pada saatnya semua kisah hanya akan menjadi sejarah, sejarah indah ataupun penuh nanah. Kemegahan dunia yang memunculkan sisi sisi artistik dari setiap tempat dimana kaki dipijakkan hanya akan menjadi tanah makam kenangan, dengan ingatan berbagai rupa terkubur dibalik nisan dalam pandangan mata. Istana yang hampa hanya berisi patung patung bisu, menyaksikan waktu melaju mengabaikan rindu. Percakapan, pertanyaan dan jawaban akan terbungkam oleh sunyi yang meraja hingga semua hanya ada dalam alam pikiran seolah nyata.

Masing masing kita akan terus berlayar melanjuti kemana angin membawa biduk nasib, atau terus menjelajah kemana semak semak dan pohon raksasa menyeret langkah kita di belantara takdir. Sesekali menaiki gelembung dan lepas mumbul bersama tiupan angin surga, toh akan kembali lagi, terhempas ke perjalanan yang sejati. Masih baik, jika dalam pengembaraan yang gelap itu kita mengingat satu kilatan cahaya ketika kita dipertemukan di gelembung kehidupan, tempat cinta bersemai yang lalu membelantara. Dahulu ketika badai mengamuk ditengah kegelapan, dan kita tersesat tanpa tujuan. Sekilat cahaya dari persabungan petir di angkasa, cukuplah sebagai penanda kita saling mengenali luka di wajah yang menua.

Perpisahan usahlah diupacarakan, sebab selayaknya pertemuan, semuanya hanya lingkaran tanpa labirin, proses hidup yang tak direncana awal dan akhirnya. Bahkan ketika tiba waktunya kematian mengakhiri catatan biografi; laksana roda yang berhenti menggelindingkan cerita kehidupan semata. Kita tidak akan sanggup mengemudikan hidup sekehendak hati sendiri, maka kisah tentang perpisahan hanyalah penggalan episode panjang belaka. Sebentar saja arah akan menghilang, berganti muram mengurung langit pikiran. Nanti, bahak tawa masa muda dan canda ceria penuh birahi akan kembali mengisi hari hari; ketika sudah mahfum bahwa kita ada di dua dunia yang berbeda.






Halim 110425

Saturday, February 12, 2011

Kekerasan Beragama

“kesalahan orang pintar adalah menganggap orang lainnya bodoh, sedangkan kesalahan orang bodoh adalah menganggap semua orang selain dirinya sendiri adalah pintar” (PAT-Arus Balik)

Ini kisah di suatu negeri, dimana hukum tidak tegak tetapi doyong sana sini, dimana pengadilan menjadi tempat jual beli keadilan, dimana kebebasan bisa ditebus dengan aksi tipu tipu.

Ini kisah suatu negeri yang kacau, dimana penguasanya memperpintar diri memaling harta Negara, dan rakyatnya terperosok kembali pada budaya jahilliyah, mendewakan anarki; homo homini lupus. Memuja kebencian dengan mengatasnamakan ajaran cinta kasih sesama mahluk.

Hanya dalam satu minggu saja, dua amuk massa besar yang mengatasnamakan agama meletus, di Cikeusik Jawa Barat dan di Temanggung Jawa Tengah. Aksi barbar disertai teriakan takbir yang mengagungkan kebesaran Tuhan, dan pada saat yang sama melecehkan ajaran Tuhan yang diteriakkannya dalam aksi brutal diluar batas pri kemanusiaan. Di Cikeusik itu selain kerugian musnahnya harta benda, tiga orang akhirnya mati ditangan para kriminal yang berjamaah. Mereka mati demi keyakinan yang ada dalam kalbunya, keyakinan akan baktinya kepada Tuhan yang sama, Tuhan yang diteriakkan para pembunuhnya.
Aneh!
Ironis!
Tragis!

Kejadian di Temanggung berbeda lagi, kali ini masih dengan teriakan yang sama, masih dengan semangat ammar ma’ruf nahi munkar yang sama, masih dengan pemahaman tentang ajaran agama yang salah kaprah yang sama. Tiga gereja dan sekian banyak fasilitas umum hancur atau hangus oleh amuk para begundal yang merasa punya hak menjadi polisinya Tuhan.

Pada dua kejadian tragis itu, polisi kelihatan hanya menonton, masih mencoba melakukan pendekatan persusif pada saat massa sudah beringas dan mengancam keselamatan harta benda maupun nyawa orang. Orang disini adalah warga negara yang punya hak untuk dilindungi, dan petugas polisinya semestinya adalah alat negara yang punya kewajiban untuk melindnginya. Bukankah demikian tujuan dibentuknya negara?! Di video amatir yang kemudian muncul di Youtube, yang lalu juga disiarkan berulang ulang di tivi nasional, orang orang yang “mirip” polisi nampak terjepit kebingungan antara apa yang harus mereka lakukan dan ketakutan akan terluka atau bahkan kehilangan nyawa. Para lelaki berseragam mirip polisi itu membiarkan anarki, bahkan pembantaian terjadi diepan mata mereka. Tepat didepan mata.
Sungguh t e r l a l u.

Jika benar orang mirip polisi itu adalah polisi, sungguh penduduk negeri ini disajikan dengan tontonan kenyataan pahit betapa impoten akutnya para penegak hukum di negeri ini. Secara institusi mereka kehilangan wibawa, sedangkan secara individual, tandatanya tentang integritas tugas menempel di jidat dan di pantat mereka. Mereka yang bertugas di lapangan tak mengerti makna tanggung jawab, tetapi hanya keharusan berada di tempat itu sesuai plotingan. Persis sama dengan orang orang berseragam mirip polisi yang berderet sepanjang MT Haryono di pagi hari, yang penting tampil di trotoar, melambai lambaikan tangan mirip jablay, tak tahu persis apa esensi maupun fungsi keberadaanya disana; menonton kemacetan lalulintas di pagi hari!

"Sekedar pencitraan" demikian jika meminjam istilah yang digunakan oleh beberapa petinggi negeri yang gemar mencela presidennya.
Orang menjadi makin berani menggelapkan mata melakukan pelanggaran dan kejahatan terorganisir mengetahui aparat hukumnya tak ubahnya manequin yang tak punya kreasi. Sistem hukum dan bahkan konstitusi tak ubahnya hanya retorika pemantas sebagai syarat adanya sebuah negara. Permainan permainan kotor di elit birokrat diadopsi menjadi konflik SARA di level wong cilik cilik. Dan, ketika nama agama (otomatis nama Tuhan) dipakai sebagai motif melakukan anarkisme, maka sesungguhnya hal itu adalah kontradiksi dari hakekat ajaran agama apapun yang hanya mengajarkan kebaikan; bukan keburukan.Dan kekerasan atas nama agama merajalela. Sebagian orang pelakunya membusung dada dalam kebodohannya, sebagian orang korbanya harus menanggungkan penderitaan seumur hidupnya.

Sudah semestinya kita mengembalikan makna agama sebagai ajaran nurani untuk panutan tingkah laku akhlakul karimah, dan tidak lagi menempatkan agama sebagai sebuah logika di kepala. Sebab agama dan Tuhan letaknya ada di kalbu tiap manusia.

Serang – Sunter 110212