
Ketika waktu merampasi hak untuk mampu, bersamanya samar tertampak gundukan demi gundukan kuburan masa silam. Didalamnya tertanam jasad jasad gambaran, keindahan tak bertara yang dianggap mati dalam hidup bekunya. Sungguh sebuah hadiah indah untuk bisa sekedar bernostalgia bersama catatan rahasia yang lama dikaburkan dari sejarah kehidupan. Dunia rasa dunia dengan pelangi tak berwarna, menyajikan pentas raksasa kepada jiwa jiwa petualang yang bermutan dari laku durjana.
Diujung horizon, dikaki pelangi tak berwarna kabut menggupal laksana peri. Jelmaan dari sesuatu yang menjadi pujaan, dan mengambang tak menginjak bumi. Ia menjadi sumber keindahan rapat dibekap misteri. Sepenuhnya berisi tentang petulangan petulangan sunyi antara dua hati, menjelajahi negeri negeri tempat pelangi memiliki warna. Kabut itu tetap menjadi keindahan nisbiah yang tak direstui oleh peradaban. Disembunyikan kepedihan dari tatapan orang, menembusi awan dan langit tak bertuan dengan tangis yang tertahankan diam diam.
Betapa tipis batas antara khayalan dan harapan. Dan pada salah satu keping ingatan yang berlubang, disana ada cerita cinta. Ingatan seperti berjalan dilorong temaram, dengan potongan potongan cermin disepanjang dinding. Dan tangan tangan yang kehilangan genggaman, dingin beku diterlantarkan perpisahan. Sesutu yang mati tiba tiba. Kenapa setiap nama membangkitkan kenangan indah. Kesedihan kesedihan yang membahagiakan itu. Dan pengalaman terus saja melahirkan sangkalan. Biarkan cerita tentang percintaan itu mengalir keluar bersama asap rokok. Cerita yang hanya berputar dan berpendar searah didalam kepala, melangkah ditempat yang sama sementara jejak terjarak di lantai masa.
Kata orang langit tempat pelangi tak berwarna itu tak berbatas. Membentang sepanjang kemauan hati dan bebas gravitasi.
Halim 111209
No comments:
Post a Comment