Tanya yang meluncur dalam tujuh detik saja lalu membabibuta menikam pagi, siang, sore dan malam hari. Tanya yang itu itu juga dengan jawaban yang itu itu juga; hampa membelenggu.
Kata itu begitu tajam bagai belati dalam genggaman, bebas mencabik cabik semua bidang dan menuntut jawaban. Sedangkan jawabanya mutlak atas kuasa masa depan, kemisterian tanpa buah tebakan. Tanya seperti mengeja udara sedangkan masa depan adalah ribuan pintu kemungkinan dan hanya satu yang harus jadi lompatan.
Bahkan diri sendiri yang menjadi alamatpun kebingungan menemukan jawaban. Kapan dingin angin utara akan lebur di hangat hawa selatan? Kapan rindu yang menggelayuti langit akan bertemu ladang untuk tumpahan? Kapan peristiwa dambaan akan berubah menjadi satu catatan dalam masadepan dari masalalu? Kapan kita akan bertemu? Nah, lo…!
Mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan celaka itu, membuat kerja otak menjadi berat dan lambat. Sedangkan satu keinginan ego adalah untuk melunaskan episode rindu yang makin jarang dikatakan. Pada musim yang sama kecemasan datang menyerbu bagaikan semut merubung kaki. Kecemasan akan ketidak mampuan menjadi sang pemenuh harapan dan hanya memberikan goresan luka bagi si pengharap.
Kata itu begitu tajam bagai belati dalam genggaman, bebas mencabik cabik semua bidang dan menuntut jawaban. Sedangkan jawabanya mutlak atas kuasa masa depan, kemisterian tanpa buah tebakan. Tanya seperti mengeja udara sedangkan masa depan adalah ribuan pintu kemungkinan dan hanya satu yang harus jadi lompatan.
Bahkan diri sendiri yang menjadi alamatpun kebingungan menemukan jawaban. Kapan dingin angin utara akan lebur di hangat hawa selatan? Kapan rindu yang menggelayuti langit akan bertemu ladang untuk tumpahan? Kapan peristiwa dambaan akan berubah menjadi satu catatan dalam masadepan dari masalalu? Kapan kita akan bertemu? Nah, lo…!
Mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan celaka itu, membuat kerja otak menjadi berat dan lambat. Sedangkan satu keinginan ego adalah untuk melunaskan episode rindu yang makin jarang dikatakan. Pada musim yang sama kecemasan datang menyerbu bagaikan semut merubung kaki. Kecemasan akan ketidak mampuan menjadi sang pemenuh harapan dan hanya memberikan goresan luka bagi si pengharap.
Sebuah pertanyaan dengan kewajiban menuntut satu bentuk kesimpulan; terkaan semata. Masa depan bukan hal nyata seperti halnya masa lalu yang tinggal jadi catatan. Jadi, biarkan alam yang menjawab pertanyaan tentang masadepan sebab kita tidak ikut menentukan hasilnya kecuali diri cukup kuat untuk memikul kekecewaan apabila pengharapan tak jadi buah kenyataan, bahwa keyakinanpun bisa menipu diri di kadangkala.
Cubicle 060427, ketika angin memporak porandakan curah hujan dan angan angan.











Badai telah terlalu lama berkuasa, hingga pilar terakhirpun luruh kebumi mencium bekas fondasi labil tumpuan bangaunan untuk teduhan. Semua telah terpertaruhkan sampai kepada titik terakhir kata kata sekalipun. Kita bangkrut kehilangan wujud, amarahmu menebas separuh nafas yang selama ini setia menyangga keberadaannya, menciptanya menjadi kecacatan milik keabadian riwayat.
Menemukan cinta yang sesungguhnya sama saja dengan membujuk kaum lajang untuk segera memiliki anak sebagai keturunan. Cinta yang sepenuhnya menterjemahkan cinta yang hakiki adalah cinta kepada anak keturunan sebagai titisan ruh, bahkan sebagai reinkarnasi atas diri pribadi.



Radio RRI Madiun pada jam setengah lima sore pada 1977an, setiap hari Jum’at pak Har akan membawakan dongenganya dalam bahasa Jawa. Suaranya yang terdengar khas bijaksana dan intonatif selalu mengantarkan cerita cerita yang selalu menakjubkan, tidak rugi menanti seminggu penuh setelah cerita yang berdurasi setengah jam tanpa iklan itu. Dongenganya membuat dunia otak anak anakku secara naluriah mencari dan menggabungkan inti makna cerita. Dirumah Mbahe, dari radio merk National dengan tulisan hitam Nusantara dalam cetakan miring, radio dua band dengan dua tombol bertuliskan suara dan gelombang. Dan mika transparan pelindung angka penunjuk gelombang frekwensi yang kutandai dengan garis dari pisau lipat, angka dimana Pak Har selalu datang setiap Jum’at sore untuk ‘putra putri’ nya yang setia.






(sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan suatu sore)




