Thursday, April 27, 2006

Kapan?

Tanya yang meluncur dalam tujuh detik saja lalu membabibuta menikam pagi, siang, sore dan malam hari. Tanya yang itu itu juga dengan jawaban yang itu itu juga; hampa membelenggu.

Kata itu begitu tajam bagai belati dalam genggaman, bebas mencabik cabik semua bidang dan menuntut jawaban. Sedangkan jawabanya mutlak atas kuasa masa depan, kemisterian tanpa buah tebakan. Tanya seperti mengeja udara sedangkan masa depan adalah ribuan pintu kemungkinan dan hanya satu yang harus jadi lompatan.

Bahkan diri sendiri yang menjadi alamatpun kebingungan menemukan jawaban. Kapan dingin angin utara akan lebur di hangat hawa selatan? Kapan rindu yang menggelayuti langit akan bertemu ladang untuk tumpahan? Kapan peristiwa dambaan akan berubah menjadi satu catatan dalam masadepan dari masalalu? Kapan kita akan bertemu? Nah, lo…!

Mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan celaka itu, membuat kerja otak menjadi berat dan lambat. Sedangkan satu keinginan ego adalah untuk melunaskan episode rindu yang makin jarang dikatakan. Pada musim yang sama kecemasan datang menyerbu bagaikan semut merubung kaki. Kecemasan akan ketidak mampuan menjadi sang pemenuh harapan dan hanya memberikan goresan luka bagi si pengharap.

Sebuah pertanyaan dengan kewajiban menuntut satu bentuk kesimpulan; terkaan semata. Masa depan bukan hal nyata seperti halnya masa lalu yang tinggal jadi catatan. Jadi, biarkan alam yang menjawab pertanyaan tentang masadepan sebab kita tidak ikut menentukan hasilnya kecuali diri cukup kuat untuk memikul kekecewaan apabila pengharapan tak jadi buah kenyataan, bahwa keyakinanpun bisa menipu diri di kadangkala.

Cubicle 060427, ketika angin memporak porandakan curah hujan dan angan angan.

Monday, April 24, 2006

Nyanyian hujan

Titik air yang menghempas dijendela kaca meleleh turun, sisanya menterjemahkan rindu yang menghambur bersama angin bingung yang mempermainkan serpihan mendung. Siang ini rindu menghujam jantung sedang sapamu menggoda goda menimang keberanian untuk menghingkari dunia peradaban. Hanya langit yang abu abu di padang pandangan berbatas kalbu yang lemas.

Gemuruh tanpa warna memaparkan kisah sejuk pekuburan kenangan yang mencambah oleh waktu. Bilur bilur kebahagiaan dikabarkan oleh camar yang berkelebatan membelah rintik hujan. Ah, hujan siang ini begitu tandas menikam palung angan angan, mengantarkan kekosongan dari wajah yang terpaku disisi jendela kaca dengan fikiran menjilati pedih kehampaan.

Hujan melukis wajahmu, sepotong pesan terkirim lewat beku udara, berisi tentang kerinduan akan kaki yang mengejang. Ah, gelap ini begitu kokoh mengurung, dengan udara sebagai dinding kaca. Kebekuan meronta ronta oleh setiap titik air yang meluncur dan menancap. Sisa kemeranaan semalam tertinggal menempel pada setiap inci kulit ari, pedih adanya.

Setitik kehangatan muncul di wajah keruh, melata dalam dan menyisakan dingin meraja. Oh, air mata…betapa rapuhnya kebahagiaan ketika dermaga hati telah porak poranda dipermainkan musim dan iblis yang riang berpesta.

Hujan, gemuruhnya, bau wangi tanah, sejuk yang melumuri, dan kenangan yang membanjir dalam hati, menyajikan keindahan atas dramatisasi keperihan; menu makan siang kali ini…

Cubicle, 060424

Saturday, April 22, 2006

Kupu kupu yang merindu

Ia rindu, sejuk tanah berdebu dibawah rimbun pohon bambu kampungnya, yang menjadi istana masa kecilnya. Tempat pertama mengenal planet bumi, kemudian dunia dan segala macam isinya, dengan segala tumpang tindih kisahnya. Di setiap hembusan angin yang menerpa wajah adalah kabar tentang tempat nun jauh disana, dunia luas terbentang berbatas langit ke langit; mayapada!

Betapa ia ingin segera selesai proses transformasinya dari seekor ulat lembek yang tidak menarik menjadi seekor kupu kupu! Mengakhiri proses demi proses metamorfosa dan akan memasuki fase terlama dalam rantai metamorfosis. Voila! Sepasang sayap terpasang, dan kaki bermunculan untuk menapak, sementara sayap tak sabar untuk mengepak, terbanglah terbang si kupu kupu, jelajahi bumi dari ketinggian, dan ketika kaki harus menapak, ia tinggalkan catatan sebagai jejak.

Bersama angin, kepak sayapnya menari. Setidaknya warna sayapnyapun tidaklah istimewa. Tubuhnya mengikuti angin meliuk dan mendorong, menjelajah udara yang maha luas dan berisi keindahan. Angin sawah musim kemarau di kampungnya dulu, selalu membawa kabar tentang peradaban manusia, selamanya kisah antara manusia dan manusia. Dan manusialah yang membuat dunia ini ada dan bearadab. Pengembaraannya mengajarkan tentang gelembung gelembung dunia bagi setiap individu.

Wajah wajah kusam masa lalu, tersenyum mengundang kenangan untuk menengok jendela kuburan masa kecilnya yang penuh harapan dulu. Betapa kesederhanaan dan alam amatlah nikmatnya. Malam malam yang eksotis masa kecilnya, menantang untuk menjelajah hati, palung terdalam dari gelembung gelembung kepribadian. Betapa kemudian tak mengherankan juga baginya ketika sayapnya koyak tercabik, dan ia harus tgerkapar miring ditanah sebagai lambang ketidak berdayaan. Angin pulalah yang menghempaskan ia ketanah. Gelembung dunia kupu kupuku terkadang bersentuhan lembut, dan suatu ketika keras membentur.

Terbangnya jadi pincang kini. Tak pintar lagi menari bersama matahari. Malam menjalani kehidupan dengan kegelapan. Hitam, gagah dan anggun. Hitam menyembunyikan. Malam menyembunyikan catatan kepak sayapnya, dan ia terus mengepak, menyusuri dunia tak berujung sampai ijin hidupnya dicabutNya dan liang lahat pekuburan jadi garis finishnya. Biarkan catatannya jadi nisannya, setidaknya ia belum cukup jauh menempuh….

Gempol, 060422

Friday, April 21, 2006

Raden Ajeng Kartini (1879 – 1904)

Semakin tua usia merambati nasib, ajaran luhur yang ditanamkan waktu kita SD waktu kita kecil tentang kepahlawanan semakin memudar karena berganti dengan nilai nilai cetakan dari pengalaman hidup sepanjang jalan. Pahlawan yang berakar dari kata ‘pelawan’ sudah tentu mengandung cerita tentang tokoh perlawanan pembela terhadap satu keadaan yang umumnya berlumur ketidak adilan. Si tokoh kemudian menjadi contoh panutan dan sekaligus tugu peringatan zaman atas jasa jasanya.

Pahlawan pahlawan non fiksi tecatat dengan tinta emas dalam sejarah setiap bangsa karena mereka membwa perubahan yang berdampak kepada jalanya roda sejarah selanjutnya. Rasa terimakasih dari generasi berikutnya kemudian dipelihara sebagai penghargaan kepada si pemberi perubahan kepada kebaikan tersebut, dengan peringatan peringatan, karnaval, bahkan upacara resmi kenegaraan terkadang. Dan itu terjadi ketika kita masih anak anak sampai remaja.

Hari ini semestinya juga berisi peringatan tentang sorang pejuang kesetaraan derajat gender, Kartini. Meskipun pada realitasnya sekali lagi, semakin tua pemeliharaan terimakasih dan hormat kepada Kartini makin menyusut. Setidaknya sejenak kita merenung tentang luhurnya cita cita dan kemuliaan budi pekerti wanita yang satu ini, yang pada zaman ketika beliau hidup dulu telah memiliki pemikiran pemikiran dan tindakan sehebat dan seberani itu, dan pada saat yang sama menerima dan menjalani realitas feoedalisme jawa dalam kungkungan system budaya rumah tangga yang super patriarki. Protes sosialnya elegan melalui gagasan gagasan yang mengalir melampaui semua batasan peradaban kala itu. Keterbatasan tehnologi, pengetahuan maupun komunikasi ditengah atmosphere kolonialisme saat itu dilumpuhkan hanya dengan sebuah keberanian dan keyakinan yang luar biasa cemerlang.

Setuju ataupun tidak, Kartini meletakkan batu fondasi kesetaraan gender hingga hari ini. Keberanian dan sikap sikap yang dituangkan dalam tindakannya saat itu telah menggeser paradigma perempuan yang hanya sebagai konco wingking dengan pameo surga nunut neraka katut - nya, atau anak bawang, atau lebih ekstrim lagi sebagai pelengkap dunia lelaki. Kartini melihat kesetaraan itu melalui mata nalurinya yang bening, namun toh tetap mengikut kodratnya sebagai wanita dengan keterbatasan dan pemahaman yang menyeluruh tentang kondisi zamannya yang kemudian melahirkan satu retorika bernama emansipasi.

Zaman melaju, wajah dunia berubah dan manusia dengan peradaban dan budayanyapun ikut berubah. Yang tidak pernah berubah adalah ‘manusia’ dengan kemanusiaanya, dengan kodratnya. Kepintaran dan kemajuan ilmu pengetahuan sering memperdaya artikulasi emansipasi sebagai satu dalih untuk menipu kodrat gender. Sebagian kecil perempuan mengartikan emansipasi sebagai satu hak mutlak untuk berbuat dan bertindak sama atau bahkan melebihi dari lelaki. Yang rendah akal budi ini mengartikan emansipasi sebagai persamaan kodrat, bukan hak. Padahal, sejak hari pertama dilahirkan dari rahim bunda antara laki laki dan perempunan membawa kodratnya sendiri sendiri yang tentu tidak sama. Perbedaan kodrat itupun oleh alam memang telah sedemikian rupa menjadi satu kelengkapan yang harmonis, ideal.

Bagi kaum hawa yang bijaksana menyikapi emansipasi sebagai hak perempuan untuk mendapatkan haknya sebagai perempuan, hak diperlakukan oleh laki laki sesuai dengan kodratnya sebagai perempuan dan memperlakukan laki laki sesuai kodratnya sebagai laki laki. Kesadaran akan hak rembesan dari emansipasi ini tidak lantas memunculkan sikap pengingkaran terhadap kodrat wanita, sebagai ibu dan induk sebuah kaum, sebagai guru bagi tiap generasi dan sebagai penyandang keindahan mahluk Tuhan bagi kaum laki laki yang tidak serta merta keberadaanya diperuntukkan untuk kaum laki laki.


Sejenak mari kita diam, mengirim do’a yang khidmat untuk Kartini, sebagai sesuatu yang pantas untuk kita haturkan sebagai rasa terimaksih kita yang tidak terhingga.


Gempol, 060421

Wednesday, April 19, 2006

Film Unggulan Hollywood versi Padang








1. Enemy at the Gates -- Lah tibo lawan di pintu...
2. Batman Forever -- Kalalauang
3. Remember the Titans -- Lai Takana jo si Titan
4. The Italian Job -- Karajo maliang
5a. Die Hard -- Payah matinyo
5b. Die Hard II -- Alun Juo Mati Lai...?
5c. Die Hard III With A Vengeance -- Ondeh Mandeh, ndak juo mati matidoh...?
6. Bad Boys -- Anak Kalera
7. Sleepless in Seattle -- Mangantuak..
8. Lost in Space -- Ilang di awang awang
9. Brokenback Mountain -- Gunuang patah tulang
10. Cheaper by Dozens -- Bali salusin tambah murah..
11. You've got Mail -- Ado surek tuh ha...
12. Paycheck -- Pitih Gaji
13. Independence Day -- Hari Rayo
14. The Day After Tomorrow -- Saisuak
15. Die Another Day -- Ndak kini matinyo..?
16. There is Something About Marry -- Manga si Merry yo..?
17. Silence of the Lamb -- Kambiang pangambok
18. All The Pretty Horses -- Kudonyo rancak-rancak
19. Planet of the Apes -- Planet Siamang
20. Gone in Sixty Seconds -- Barangkek lah waang Lai
21. Original Sin -- Sabana-bana doso...
22. Mummy Returns -- Lah Baliak si One tadi..?
23. Crash -- Balago kambiang
24. Copycat -- Kopi Kuciang
25. Seabiscuit -- Makan Biskuit di Lauik
26. Freddy vs Jason -- Bacakak
27. Just in Heaven -- Lah di Surgo
28. Air Bud -- aia si Budi
29. How To Lose A Guy in 10 Days -- Baa caronyo manyipak urang..
30. Lord Of The Ring -- Juragan batu cincin
31. Deep Impact -- Taraso dalamnyo
32. Million Dollar Baby -- Anak Rangkayo
33. Blackhawk Down -- Buruang itam si Don
34. Saving Private Ryan -- Mahagia les ka si Ryan
35. Dumb and Dumber -- Pakak jo sabana Pandia..

(PS. copy pasted from widespreaded email. Thank you for my man, BJ for forwarding this email)

Tuesday, April 18, 2006

Piala Plastik untuk Juara Plastik

(Terjadi di sebuah Sekolah Dasar Negeri masa kini…)
Sebuah korporasi produk minuman berafiliasi dengan sebuah penerbit majalah anak anak menggelar bermacam lomba ketangkasan bagi murid murid sekolah dasar. Guru guru sibuk mempersiapkan perwakilan sekolahan dan melatih mereka tiga minggu sekali setelah selesai jam pelajaran, beberapa siswa yang entah atas pertimbangan apa dipilih untuk mengikuti lomba. Hanya sekitar 30 anak dari 240an muridnya. Lokasi lomba; nun jauh dari sekolahan, seratus kilometer arah timur laut. Para orang tua yang kebetulan belum memiliki kendaraan pribadi silahkan kasak kusuk mencari tumpangan kepada orang tua murid lainya yang kebetulan punya. Atau kalau memang tidak cukup nyali untuk kasak kusuk, silakan gigit jari karena sekolahan hanya menyediakan transportasi bagi siswa, sewa dua buah angkot.

Tiga minggu persiapan yang melelahkan, hingga datang hari perlombaan. Peserta dari puluhan sekolahan, melombakan berbagai ketangkasan khas anak anak mulai dari lari berantai membawa bendera, memasukkan bola ke keranjang yang diberi tiang, mengelompokkan bola bola dengan nama bahasa inggris ke tiga keranjang berbeda, hingga melempar gelang gelang ke patok kayu. Semua bergembira tampaknya, ratusan anak dan orang tua bersorak sorai dibawah matahari Cikarang yang panas ngangas angas. Selebihnya, semua orang boleh membikin acaranya masing masing, melepaskan diri dari kelompok besar dari sekolahan. Lomba selesai, mengakhiri masa latihan selama tiga minggu.

Sesudahnya tak ada pembicaraan mengenai lomba, kecuali petualangan asyik main prosotan air di waterboom. Entah apa maknanya lomba, siapa yang menang dan kalah, kriteria penilaian dan hadiahnya. Tak ada informasi tersedia. Sisa waktu usai lomba terisi dengan keasyikan bermain air bahkan esensi kedatangan ketempat rekreasi keluarga itupun sudah tak lagi menjadi penting. Dan ketika waktu tak terbendung melaju, hari berjalan seperti kebanyakan, seperti kebiasaan. Dari pagi ke siang lalu sore lalu malam dan seterusnya hingga dua minggu kemudian kabar dari sekolahan: semua yang ikut lomba diharap membeli piala seharga enampuluh ribu rupiah!

Sebagian anak baru pertama kali seumur hidup mereka mendengar kata “piala”, dan terbiasa menjadikan anjuran sebagai kewajiban. Maka orang tua anak memiliki kewajiban baru yaitu membeli piala seharga enampuluh ribu rupiah. Dunia anak anak memang sangat pragmatis. Harus beli karena yang lain juga beli, malu dan rendah diri apabila tak ikut membeli.

Bibit bibit pengemban kelangsungan kehidupan itu diracuni dengan menyepelekan ajaran moral dari sebuah piala, sebagai lambang penghargaan atas sebuah prestasi individual (ataupun kelompok). Ia insentif bagi semangat juang yang menghasilkan sebuah keteladanan, kemudian melahirkan penghargaan. Hanya dengan berjerih payah, usaha keras dan perjuangan berat piala boleh menjadi hak. Proses peraihanyapun melalui kriteria yang jelas dan standard penilaian yang transparan, bukan sekedar lambang partisipasi atas sebuah kegiatan. Nanti, maka akan tertanam di pengertian si anak bahwa piala adalah lambang penghargaan dengan pengorbanan beberapa lembar uang. Bisa dibeli dan mudah mendapatkanya.

Entah kemana sensitifitas para pendidik itu yang mengajarkan pelajaran moral dengan nilai materi dan bersifat instant seperti itu. Semestinya nilai semangat dan sportifitas ditanamkan sejak anak anak mengenal dunia, bahwa hanya sedikit dari banyak peserta yang berhak atas piala sebagai penghargaan peringkat tiga besar juara, dan harus rela menerima kalau toh diri belum layak menjadi juara. Ketangkasan itupun adalah kerja kolektif, mulai dari para guru pembina hingga rekan rekan peserta, jadi seharusnya pula piala dianugerahkan kepada satu kelompok atas nama, menjadi kebanggaan bersama dan alih alih sebagai ajaran moral bahwa kerjasama kelompok bisa menghasilkan prestasi, bahwa persatuan regu itu penting lebih penting ketimbang kerja individual berdasarkan sifat.

Walhasil sebuah piala dari plastik cetakan berwarna biru kombinasi keemasan setinggi 60 senti menjadi pajangan sudut ruang tamu. “juara tiga lomba ketangkasan bla bla bla…”. Kuning berkilau menyilaukan mata atas kesederhanaan telaah akar nilai. Cuma plastik hasil dari daur ulang sampah non organik, piala plastik bagi juara plastik, piala plasu bagi juara palsu. Sebuah degredasi nilai yang memprihatinkan.

Gempol, 060418

Sunday, April 16, 2006

Pura pura bahagia/bahagia pura pura

(Sebuah monolog hati, diantara riuh rendah kerumunan suatu siang)
Apkah hidupmu berbahagia?
Aku berdiri diantara puing puing bangunan kebahagiaan itu kini. Tetapi aku tidak menderita. Aku mati rasa.
Berarti kamu tengah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dengan cara yang realistis bahwa kamu berbahagia dengan pura pura berbahagia.
Kepura puraan itu relative. Aku lebih senang mendefinisikanya sebagai sebuah kerelaan. Kepura puraan bahagia demi membahagiakan atau minimal menyenangkan orang tersayang adalah kerelaan hati untuk mengalami sendiri sesuatu yang tak enak dikonsumsi, dan pengalaman sendiri itu melahirkan efek kesenangan kepada orang lain, itu kerelaan untuk mengimplementasikan rasa sayang kepada orang istimewa.
Atas nama cinta?
Ya, cinta yang tanpa syarat. Bukan cinta yang sekedar ikatan kewajiban, ikatan hukum dan ikatan tanggung jawab. Cinta yang berazaskan kasihan dengan belitan naluriah yang memiliki kekuatan untuk melakukan itu semua.
Pasangan hidup adalah cinta suci!
Bukan, hal itu hanyalah kewajiban.
Dari sanakah kebahagiaan teraih?
Ketidak bahagiaan datang dari masalalu, dan masalalu hanyalah batu yang tak sanggup digubah lagi menjadi apapun. Ia akan tetap jadi batu, meskipun dalam wujud ukiran patung indah sekalipun. Ia mati, keras dan abadi. Sedangkan kebahagiaan terletak pada masa depan yang berisi tebaran benih harapan. Menanti benih harapan tumbuh adalah pengupayaan sebuah jawaban atas tebakan dengan daya upaya maksimal. Pengupayaan itu membuat aku terus ingin hidup menyambangi benih harapan itu.
Tetapi ketidak bahagiaan mengitip dari setiap sudut kepura puraan, bukan?
Aku sudah pernah bilang bahwa sesekali ego diri haruslah disublimkan, dikempeskan sampai tak ada isi, agar kepentingan diri hilang dan berganti menjadi sebuah persembahan kepada orang kesayangan. Dengan begitu satu persepsi baru bahwa kebahagiaan yang sebenar benarnya kebahagiaan adalah ketika diri bisa membahagiakan orang lain, menyenangkan orang lain yang disayangi.
Bagaimana mengimplementasikah itu?
Mudah saja, aku pura pura bahagia. Dan aku bahagia dengan bahagiaku yang pura pura itu.


LPI Darussalam Cipayung, 060416

Saturday, April 15, 2006

Lelaki, malam dan Sahara

Seorang lelaki sendirian menggigil di gurun Sahara bathin pada satu tengah malam. Di angan angannya berkecamuk fikiran tentang kehilangan demi kehilangan dan berderet daftar harapan yang tak terpenuhi, membentur dinding dan ambyar di hampa suasana.

Sisa haus yang selama berabad ditanggungkan telah mematikan perbedaan antara siang dan malam, membaur menjadi satu rasa dominan haus, lapar dan letih. Ia tersesat di perjalanananya sendiri, mencoba mengingat senyum dan tawa yang pernah dijalani sebagai penipu rasa celaka.

Ia haus akan cinta sedangkan yang dikepalanya hanya berisi kemesuman. Seraut wajah laki laki dan wajah perempuan yang sangat dikenali hanya menawarkan kekecutan atas ketidak berdayaan menghindar dari serangan mereka yang diam diam. Ia haus akan sentuhan embun yang barangkali tersisa menetes dari pohon teduhan satu satunya.

Hatinya begitu lapar akan kebahagiaan sebagai hakikat dari inti perjalanannya. Pemenuhan atas kebutuhan jasmaninya terbentur pada dinding langit yang mengurungnya dalam kosong yang luas.

Badan ragawi menjadi rapuh oleh tamparan demi tamparan badai pasir, merayakan keletihan yang begitu tebal atas keterdamparannya. Karena ia lelaki, maka ia tidak menjerit oleh sebab ia tahu keadaan yang mengurungnya dan mengerti betul dimana dirinya berada. Satu satunya yang membuatnya bertahan adalah harapan, bahkan ketika ia berdiri diantara nisan pekuburan harapannya sendiri.

(Amatlah manisnya dunia ini kalau dipandang dari jurusan hati yang penuh harapan. Tetapi kadang kadang harapan itu mengalami kematian seperti mahluk mahluk lain. Dan untuk sisa hidupku selanjutnya aku akan bernafas tanpa harapan. Aku hanya mau bekerja, bekerja bekerja. Orang lain akan tertawa apabila kukatakan bahwa hanya bekerjalah tempat pelarianku yang utama melupakan masa masa dengan hati penuh mayat harapan. Masa itu, masa yang manis itu, telah lalu. Orang lain itulah yang dengan ejekanya yang sengit akan berkata: pelarian! Pengecut! – P.A.T, Sunyisenyap di siang hidup)

Gempol, 060415

Friday, April 14, 2006

Tentang Rumah Tangga

(Sekali ini aku bicara kepada kalian tentang lembaga yang menjadi pangkal. Mulai kehidupan umat manusia: keluarga! Payung yang melindungii keturunan manusia daripada hujan dan terik pergaulan hidup. Titik permulaan di mana tiap suami dan isteri mendapat atau tidak kebahagiaan.

Aku telah banyak mengenal keluarga dengan mencari hakikat hakikat yang ada padanya, orang lebih gampang mengerti apakah lembaga kehidupan salah pasang ataukah telah bergeser dari tempatnya yang semestinya. Demikianlah pada suatu ketika telah aku perhatikan suatu keluarga yang sebenarnya banyak terdapat dalam lingkungan kita, banyak juga terdapat antara kawan kawan kita sendiri, dan banyak terdapat antara tetanga kita sendiri – dari Lembaga Kehidupan Telah Hancur Sebuah Lagi karya P.A.T)



Dua paragraph pembuka tersbut menghentikan kerja pemaknaan isi rangkaian kalimat yang selalu dahsyat menghasut nurani untuk mencocokkanya dengan fikiran sendiri, menggantinya kepada mode kontemplasi. Berhenti dan menelaah diri, hidup sendiri sebagai kehidupan yang paling dekat bagi si yang menjalani. Tulisan Pram yang diterbitkan Majalah Roman No. 5 Th. III, Mei 1956 tersebut seketika mengakibatkan pemadaman aliran listrik PLN dirumah otak yang tadinya terang benderang karena terangsang bacaan kesukaan; anything Pramoedya Ananta Toer.

Sebermula pendapat Pram yang luar biasa tentang nilai rumah tangga tersebut memang telah tercetak dalam hati, meskipun tak sanggup untuk diuraikan seperti cara Pram menamparkanya ke pembacanya. Menggunakan bahasa salah kaprah jaman sekarang bisa diekspresikan dengan kata kata “sangat setuju sekali”, terlepas dari benar dan tidaknya setiap orang menyikapinya.

Dan…
Rumah tangga sebagai investasi sosial, dimana sesuatu tercipta dari ketiadaan atas upaya bersama, komitmen dua individu laki laki perempuan untuk memasuki satu penjara peradaban, sepakat melepaskan kebebasan atas banyak sekali hak pribadi atas nama cinta. Haih…cinta ini, begitu sempurna sebagai alasan atas hampir semua keadaan. Cinta juga yang mula mula membutakan logika ego, yang bergerak bebas seperti tanpa garis ruang maupun halangan. Dan tetap cinta juga yang memberi kekuatan atas permaafan, bahkan sebagai zat mematikan untuk membunuh seseorang, baik pembunuhan secara karakter maupun pembunuhan atas kuasa aktualisasi diri.

Perkawinan mempertaruhkan nilai wanita yang disimbolkan dengan citra, dengan nilai laki laki yang disimbolkan dengan wibawa, dan cinta melaksanakan tugasnya dengan sempurna memberi hutang harapan yang dikemudian hari bisa berkembang menjadi rentenir bagi batin. Pada saatnya ego yang buta akan sembuh. Terlepas dari delik apapun yang terjadi menyangkut hubungan beda kelamin ini, si ego-lah yang memprakarsai kekacauan. Ketersinggungan ego menggeserkan fungsi sosial gender serta menciptakan status quo dalam rumah tangga.

Hukum sebab akibat kerap menjadi peluru peluru pembelaan dan penyerangan dua ego yang bertempur, melilit mencari cari. Memunculkan indikasi indikasi dini bahwa perkawinan yang bahagia yang menjadi landasan pacu ketika memutuskan untuk menikah dulu jaraknya semakin melenceng menjauh dari jangkauan. Perlu kerja keras ekstra untuk membetulkan letak kemudi agar arah haluan tepat sasaran tujuan awal perkawinan; kebhagiaan suami isteri!

Demi kebahagiaan terkadang justru menimbulkan konflik berkepanjangan, mendapatkan hasil kebalikan dari apa yang diidamkan. Meskipun (dan semoga) happy marriage juga terjadi dikawasan bumi manapun, termasuk dilingkungan kita, sukur sukur terjadi pada kita sendiri. Memang setiap investasi apapun selalu memiliki dua hasil akhir antara bekembang makmur atau bangkrut pailit. Kalau sudah sebegini gawat dimana cinta sebagai alasan dasar dari pembentukan lembaga keluarga tinggal samar terlihat, maka sudah menjadi kesemestian bagi suami untuk kembali mengenakan jubah kodrat dan demikian juga bagi si istri. Suami kembali menjadi sepantasnya lelaki dan istri menjadi sepantasnya istri dengan keharusan keharusan yang menyertainya.

Memang seharusnya, laki laki yang memiliki power lebih dibanding wanita menggunakan power itu secara tepat guna serta bijaksana untuk mengayomi dan sekaligus mengawal laju perjalanan sejarah sebuah rumah tangga.

Gempol, 060414

Thursday, April 13, 2006

Merawat hari hari basi

Badan yang memang semata wayang tak henti mengembara mengisi kubus kubus dimensi ruang dan waktu. Tak bisa berhenti sejak kontrak kematian dengan nama kelahiran disepakati. Dan sang badan melayang meliuk menterjemahkan jalinan ruh tak berwarna, tak berasa dan tak berbau pula. Ia menjalani track yang memang sudah disediakan meskipun tak terlihat mata, kalis dari praduga, seperti langkah dalam menjejaki udara.

Segugus satuan waktu terbunuh tinggal menjadi ampas kehilangan sari pati. Teronggok berisi catatan tentang harapan dan kemisterian hidup yang bermetamorfosa menjadi sepah belaka bernama masa lalu. Sebagian masa lalu memang tak meninggalkan jejak, lenyap terbawa angin usia dan sebagian lagi menempel jadi benalu, terseret seret bahkan sebagian menjadi parasit bagi ruh dalam melanjuti perjalanan di track udara.

Sebagian masa lalu terkadang teronggok bagai sampah dan tak mau pergi begitu saja, meskipun logika berkali kali menepis dan hati keras berusaha membersihkannya dari kedalaman ingatan. Baunya menebarkan kejijikan dan sekaligus kesakitan, yang siap menghampiri indra penciuman dan mengirimkan signal kemuakan ke syaraf otak kapan saja angin leluasa membawa muatannya.

Sungguh segala kesatuan ruh dan badan menyadari kebusukan dan keperihan (atau luka dalam) hanyalah sampah masa lalu yang kemudian menjadi basi. Mereka adalah hari hari basi yang karena system pertahanan ego kemudian mengendap menjadi sumber penyakit yang menggerogoti syaraf. Lalat lalat berbulu malaikat meramaikan kehadiranya, menyempurnakan fungsi fundamentalnya sebagai penjajah bagi keselarasan hidup, dan kemudian memperkenalkan kepada nurani bahwa hari hari basipun harus menjadi bagian dari pola gerak langkah kaki ketika menapaki udara yang sekali lagi tak boleh berhenti.

Life goes on, saudara. Jika hari hari basi tinggal menjadi sampah organik, maka memang begitu hukum alam menentukan. Menerimanya sebagai satu kesatuan paket hidup adalah satu satunya opsi seperti tercantum pula dalam klausul kontrak kematian. Mengingkari keberadaanya dalam palung kenangan hanya akan mempertegas perih yang terasa, sedangkan menelan bulat bulatpun mengandung kemungkinan besar akan tersedak dan tercekik kehabisan oksigen penyegar sel darah. Ah, sejak dahulu hidup memang absurd!

Hari hari basi, kenangan yang tidak kita ingini semestinya tinggal menjadi masa lalu tanpa efek apapun sebab memang tak bisa kita berbuat apapun untuk mengimprovisasinya. Bau busuknya, kuman kuman yang ditimbulkannya kemungkinan kemungkinan negatif yang berkecamuk didalamnya adalah murni milik kehidupan sebuah pribadi. Mustahil melupakan keberadaanya semustahil menghilangkanya. Masalalu tidak bisa begitu saja dicopot dari memori otak untuk dibuang (meminjam istilah si sipit) . Tak ada amputasi otak dimanapun, kecuali mencucinya. Ya mencuci otak agar hari hari basi yang menjelma jadi seonggok sampah penebar malapetaka menjadi lebih higienis dan tetap menyandang kodratnya sebagai kenangan, sebagai pengalaman. Mencuci otakpun punya prinsip khusus dimana satu satunya bahan pembersih yang bisa dipergunakan hanyalah: Menerima tanpa tanya.

Cubicle. 060413

Wednesday, April 12, 2006

Percakapan sebelum tidur

(terjemahan bebas dari percakapan dari sumur tanpa dasar, dengan sebelah jiwa)

“Besok jika kita bangun tidur, maka dimuka bumi ini hanya tinggal aku dan kamu yang tersisa hidup. Semua orang diseluruh dunia seperti tidak pernah ada, semua tiba tiba tidak ada lagi, hanya kita berdua”
“Orang orangnya meninggal kena wabah atau bagaimana?”
“Tidak mereka menghilang pindah dunia. Asyik, kita bisa gila gilaan sampai puas, tidak perlu kerja dan tidak perlu pergi sekolah. Yang ada hanya pergi bersenang senang dan gila gilaan. Aku pingin kita tinggal di Ancol saja biar bisa berenang dan main prosotan air siang dan malam, atau kita cari rumah bagus yang ada kolam renangnya juga bisa”
“Hmm…tapi aku harus kerja, supaya tetap punya uang”
“Kita kan tidak perlu uang lagi, buat apa?? Kan tidak ada orang jualan lagi, kita boleh ambil apa saja semau kita. Aku juga pengin punya Barbie yang banyak sekali…”
“Tapi kalau lapar gimana?
“Kan ada McD, ada KFC dan lain lain?!”
“Iya, tapi siapa yang masak? Kan semua orang sudah tidak ada?”
“Oh, iya yaa…Nah, pasti ada bahan bahanya, kita masak saja berdua. Rasanya pasti nggak karu karuan, tapi pasti asyik”
“Hanya berdua? Bukanya lebih asyik kalau bertiga?”
“Berdua saja lebih asyik, kalau bertiga malah repot nanti, soalnya cuma kita berdua yang bisa gila gilaan. Kita kan teman karib”
“Kalau nanti aku mati, kamu sendirian dong dimuka bumi. Aku nggak mau?!”
“Kamu tidak boleh mati, kalau kamu sakit nanti aku yang rawat kamu”
……

“Besok kamu masuk apa?”
“Masuk siang, sukurin, kamu masuk pagi, kan?!”
“Iya…bobo yuuk….”
“Aku belum ngantuk…aku lagi mikir Ancol dan Eldorado, mana yang akan aku pilih kalau besok benar benar dunia tidak ada orang lagi ya? Eldorado bagus dan Ancol jauh…Eh, tapi kita bisa pakai mobil mana saja deng yaa…tidak perlu pakai motor lagi. Ah, nggak ah…aku lebih suka motor”
“Yasudah…kita harus bobo…”
“Semoga mimpi kita dikabulkan ya…”
“Ya semoga…”
“Aku sayang kamu…”
“Aku leebbbbih…sayang”
“Aku sayang kamu melebihi sayang orang seluruh dunia”
“Aku leeeeeeeeeeeebbbbbbbbbbbbbbiiiiiiiiiiiiiihhhh…….sayang”
“Sekarang waktunya berdoa….”
(berdoa bersama)
“Selamat tidur sayang…”
“Selamat tidur, saying…”
(berpelukan, erat saling merasakan, hingga raga terbuai mencari mimpi tentang dunia yang tak berpenghuni, hanya kami berdua yang menempati dengan cinta sejuta rasa dalam setiap utas usia)

Gempol, 060411

Friday, April 07, 2006

Episode Kebangkrutan

:N
Badai telah terlalu lama berkuasa, hingga pilar terakhirpun luruh kebumi mencium bekas fondasi labil tumpuan bangaunan untuk teduhan. Semua telah terpertaruhkan sampai kepada titik terakhir kata kata sekalipun. Kita bangkrut kehilangan wujud, amarahmu menebas separuh nafas yang selama ini setia menyangga keberadaannya, menciptanya menjadi kecacatan milik keabadian riwayat.

Kandas tak berbekas, bahkan sekedar menghitung kekalahan, apalagi kesalahan. Lenyap dilarung dalam kepasrahan yang dipaksakan. Kesedihan datang menghiasi perih kekecewaan, tak ada tangis meratapinya. Bahkan air matapun kehilangan bahan, setelah sekian lama menjadi catatan pengaduan.

Kekacauan telah sempurna dan hajat iblis telah terlaksana. Langkah akan menjauh mengikuti rencana yang sekian lama menjadi rahasia. Tinggal harapan diserahkan kepada udara, kepada angin yang mengembara diangkasa. Episode kebangkrutan ini begitu berat dijejalkan kepada kemurnian manusia bahkan jika dinamakan pembelajaran, atau sekedar kenyataan.

Setidaknya hal lain diraup sebagai hikmah, bahwa memang beginilah sejarah harus tercatat setelah sekian lama keyakinan dibangun bahwa masa depan hanya konskwensi keputusan dari masa lalu.

Ah, kini hanya tersisa kenangan perih atas iblis yang berpesta pora dikepala, hingga tak ada lagi yang tersisa. Bangkrut apapun yang pernah menjadi ada dari ketiadaan.


Gempol, 060407

Thursday, April 06, 2006

Letak kebahagiaan

Ketidak bahagiaan datang dari diri sendiri, ia adalah buah negatif dari fikiran atas keinginan dasar yang tidak terpenuhi oleh harapan atas orang lain. Buah fikiran negatif itu jika dijabarkan akan menjadi panjang berentet rentet dan berubah menjadi sebuah kisah menyedihkan, laksana pengejawantahan dari badai hujan berwarna hitam. Kemuraman dimulai tanpa mengerti dasar dimana akhiran akan ditemukan. Karena dia – sekali lagi - buah fikiran negatif, penghuni alam angan angan yang tak memiliki dinding konkrit.

Kebahagiaan sendiri adalah suasana hati dan fikiran yang mayoritas berisi keadaan yang harmonis, kesesuaian antara harapan dan keinginan dengan kenyataan yang dijalani. Ekspresinya adalah sebuah perasaan cinta kasih yang memiliki alamat tujuan pelimpahan, menciptakan sebuah kerelaan dengan landasan pengabdian, meluap kepada sebuah sikap peduli terhadap kehidupan kosmik, dengan menjunjung tinggi nilai nilai positif. Kebahagiaan hati membuat langit fikiran bersinar cerah ceria, penuh dengan hal hal yang mudah dilihat dan dirasakan. Bagi pemuja rasa hati, kebahagiaan adalah samudera seni, dimana semua hal memiliki nilai estetika.

Ketika kebahagiaan menjadi hambar (dan diartikulasikan menjadi ketidak bahagiaan) yang terasa adalah bahwa hidup telah kehilangan warnanya, kehilangan rasanya. Ini yang sering menuntun mental kepada keputus asaan karena kemuraman kemudian secara skeptis diartikan sebagai kebutaan yang permanen, bahwa kehilangan tidak akan mendatangkan tunas harapan baru untuk masa depan. Muram semata. Padahal, hidup sudah akan benar benar kehilangan makna maupun nilainya apabila memang hidup itu sendiri sudah berakhir dengan kematian.

Kebahagiaan, sama halnya dengan ketidak bahagiaan juga datang dari diri sendiri, ia adalah buah postif dari fikiran atas keinginan dasar yang terpenuhi oleh harapan atas orang lain. Jadi kalau kita mau mencari dimana letak kebahagiaan itu maka kita tinggal menengok ke pendalaman hati dan fikiran karena disanalah kebahagiaan dan ketidak bahagiaan itu berada. Terkadang kebahagiaan menghilangkan pandangan obyektif bahwa keadaan bisa berbalik dalam hitungan detik tanpa peringatan dan bukan kecelakaan, melainkan akumulasi dari keadaan yang tidak tersadari sebelumnya.

Berjiwa besar, melapangkan hati, kerelaan berkorban (atau menjadi korban), membuat hidup mendekati indah asalkan didasari dengan sukarela yang ikhlas. Merendahkan hati pada ukuran standar juga membuat kita merasa pantas dianggap berharga. Begitulah idealnya cara kita merawat kebahagiaan, jika memang letaknya sudah ditemukan pasti, didalam hati….


Gempol, 060406

Wednesday, April 05, 2006

Cinta yang benar benar cinta

Menemukan cinta yang sesungguhnya sama saja dengan membujuk kaum lajang untuk segera memiliki anak sebagai keturunan. Cinta yang sepenuhnya menterjemahkan cinta yang hakiki adalah cinta kepada anak keturunan sebagai titisan ruh, bahkan sebagai reinkarnasi atas diri pribadi.

Kekuatan cinta kepada sang anak sanggup menciptakan senjata senjata baru yang mumpuni bagi persoalan persoalan yang datang dalam dunia yang melingkupi kehidupan. Anak menjadi jimat penyelamat ketika krisis kedewasaan melanda jiwa. Ia menjadi sinar kekuatan yang memandu langkah untuk tetap bijaksana ketika hati gelap. Cinta kepada anak menerbitkan keikhlasan menyediakan diri untuk menjadi pelampung dan perisai bagi keberlangsungan hidup normal sang anak secara mental.

Anak juga adalah malaikat penyelamat ketika godaan datang menawarkan kesenangan subyektif, atau ketika semangat terperosok kepada lubang ketidak yakinan. Sang malaikat memompakan semangat hanya dengan senyumnya yang tak dibuat buat dan dengan tingkahnya yang tanpa sandiwara apalagi rekayasa, permainan khas orang dewasa.

Anak juga menjadi guru filsafat paling bijaksana dan sederhana. Cara anak mencintai orang tua tanpa memandang busuk atau harum baunya, cara anak mengekspresikan perasaan ketergantunganya adalah cermin dari cinta yang sesungguhnya. Belajar dari anak anak, adalah belajar untuk menjadi manusia sederhana yang hanya tahu kebenaran dan kesahajaan. Dia mengajarkan kebeningan kepada keruhnya nurani manipulatif orang dewasa.

Kecintaan kepada anak sebagai imbal balik dari kebesaran cinta anak kepada orang tua menjadi obat mujarab bagi kekecutan hati yang diracuni oleh sikap sikap palsu orang dewasa yang terkadang harus ditelan mentah mentah dalam kehidupan. Anak memberikan penawarnya dengan segala kemurnian keinginan dan akal fikiranya yang berkembang melewati fase demi fase dengan perlahan. Ia adalah selembar kertas kosong dengan orang tua sebagai pena yang mengisi satu paragraph pembuka untuk menjadi sebuah buku suatu saat kelak.

Mencintai anak adalah mengenal cinta yang sebenar benarnya. Sayang banyak orang tua durjana yang memandangnya sebagai mahluk lemah, bodoh yang merepotkan, bahkan memanfaatkanya dalam permainan busuk, bahkan mengajarkan kebusukan sebagai nilai kehidupan, dengan cinta sebagai alasan.
Orang dengan type seperti itu hanya pantas disebut sebagai bajingan!


Gempol, 060405

Tuesday, April 04, 2006

Maaf

Maafkan aku wahai sesal yang mengisi lambaian tangan perpisahan dengan kehampaan dari perjalanan jauh yang sia sia, senilai dengan pembelaan diri atas ketidak berdayaan. Malam yang membekap anganmu menterjemahkan pelarian yang salah tujuan ketika terali peradaban kokoh membentur wajah dan menyisakan garis keperakan di kornea mata; akar kenyataan.

Ketidak berdayaan kita timbul tenggelam, terpung dalam kapasitas yang berbeda pun terlalu rumit untuk diterjemahkan sebagai nilai dari hubungan. Tak ada tambang pengikat untuk jadi tuntunan ketika gelap mengurung, hanya intuisi yang berjalan bersama harapan dalam simbol tebak tebakan.

Engkau matahari jiwa yang terkadang lewat begitu saja sebagai rutinitas kehidupan, membawa kecerahan dan pandangan terang benderang. Berpendar mengitari alam fikiran dalam orbit yang selalu sama; pengingkaran diri. pengingkaran diri atas letih yang menggenang, atas kepercayaan teronggok bak karung basah

Bulan sabit dikotamu, mengantar hadirku yang termenung diujung tipisnya dan angin telah kuutus untuk membangunkanmu dari tidur, kuajak menemaniku menikmati kopi dan mengais inspirasi malam ini. Setelah letih perjalanan seharian, mungkin engkau letih sebab sapaku tak lagi terjawab. Maka lewat embun kutiupkan mantra pengusik mimpi, agar aku menyembul sebentar dalam perjalanan khayali dalam bawah sadarmu.

Maafkan aku wahai sesal, atas diri yang membatu menyaksikan hasrat membuncah.

(kata kata panjang yang tak terucapkan pada 3 April 2006)

Gempol, 060404

“Truth hurts”

Sebuah pameo terpampang didepan gerbang sebuah dunia hubungan antar manusia, sangat pribadi dan berkarakter terikat jelas olah kewajiban hukum, tanggung jawab dan sosial bernama perkawinan. Dua kata itu mengandung penjabaran atas pencarian kebenaran yang terkadang ketika ditemukan terbungkus dengan keperihan. Keperihan menjadi lebih terasa ketika digarami oleh sandiwara sempurna atas kebohongan yang kemudian terkuak oleh hukum alam. Becik ketitik, olo ketoro, temen tinemu tetap menjadi konsep baku yang tetap mutakhir bagi hukum alam sepanjang sejarah umat manusia.

Ketika kebenaran yang menyakitkan hati itu ditemukan, maka kesakitan akan menuntun pencarian untuk menemukan lebih banyak lagi kebenaran kebenaran lainya. Kebenaran yang sedang dibicarakan disini adalah kebenaran yang tertutupi oleh segala daya upaya kebohongan, seperti menyimpan tahi dalam bungkusan kado indah gemerlapan dan mempertahankan si kado dengan segala pembelaan yang diperlukan dengan kekuatan fisik maupun mental. Perilaku culas pasangan yang beberapa tahun lalu telah sepakat untuk memasuki dunia perkawinan yang notabene adalah penjara pergaulan, menyebabkan nilai komitmen itu sendiri membias menjadi sesuatu yang menghawatirkan, terombang ambing ditubir jurang.

Menemukan bangkai kebenaran yang dengan rapi dikamuflasekan dalam kepura puraan yang hampir sempurna menyebabkan kekecewaan yang meruntuhkan setiap senti dinding kepercayaan yang terbangun dan kokoh menjadi pelindung dari serangan syak wasangka. Bangkai kebenaran yang tak tercium aromanya karena mata tertutupi oleh kepercayaan yang secara total diabdikan sebagai modal bagi sebuah rumah tangga. Runtuhnya bangunan berkomitmen itupun menyebabkan kepercayaan menjadi satu bend mati yang telanjang, mudah dipermainkan musim yang melintasi sesuka hati.

Nasi telah menjadi bubur, kehidupan kebenaran telah mejadi bangkai yang ditemukan membusuk dipekarangan nurani. Dengan tangan gemetaran membujuk amarah, bangkai harus dikuburkan agar baunya berhenti membuat muntah, dan nasi yang jadi bubur tetap harus jadi santapan dengan improvisasi sesuai kekuatan hati. Menyesali penemuan kebenaran yang menyakitkan tetap menjadi warna, meskipun masa lalu telah menjadi batu yang harus juga dikemas dalam tas punggung bernama pengalaman, untuk mau tidak mau dimasukkan menjadi muatan meneruskan perjalanan mencari kematian.

Muatan baru dalam tas pengalaman memerlukan kekuatan ekstra agar kaki tetap punya pola langkah, agar mata tetap terbuka dengan dagu terangkat menatap udara. Nasehat bijak didatangkan dari delapan penjuru angin tanpa definisi, yang berujung kepada satu titik yang tak terbantahkan sebagai alasan terakhir: kehendak sang pencipta. Sebuah jalan pintas yang membungkam protes dan gugatan atas ketidak sesuaian perbuatan dalam aturan peradaban manusia yang berazaskan nurani dan tenggang rasa.

Akal budi menggerutu mengutuki kedurjanaan, meskipun tak ada sesuatupun yang dapat berubah hanya dengan kutukan. Rute perjalanan telah dipilih yakni mengikuti arah matahari pergi. Revolusi yang radikal tetap diperbolehkan tetapi hanya akan menghasilkan korban yang kemudian menjadi momok bernama penyesalan dimasa depan. Nasehat bijak berlalu bagai angin sebab telinga hanya berisi desisan mengerikan dari si Medusa dan jerit kesakitan dalam hampa rongga dada. Ketika bait terakhir dari angkasa berhenti menghibur, maka yang ada hanyalah fikiran yang menata ruang yang porak poranda.

Lalu sebuah nasehat lagi datang dari dalam diri, hanya dengan menyodorkan kaca benggala agar diri bercermin, melihat kebenaran diri sendiri dari luar kubus inklusif bernama ego, melihat dengan jeli setiap gajah yang tak tampak dipelupuk mata. Memandang diri sebagai pencipta dan penemu kebusukan yang menyakitkan, kemudian mengevaluasi diri dalam filsafat yang menyakitkan. Sebab hanya itu yang tersisa sebagai penghiburan. Dan pengingkaran terus berjalan karena memang tak sebanding kuantitas antara sebab dan akibatnya.

Gempol, 060404

Saturday, April 01, 2006

Tamu

Matahari meninggi di isolasi peradaban, sebuah panti rehabilitasi manual bagi lembaga rumah tangga bernama rumah kontrakan. Tamu tamu tak diminta datang sekedar membawa basa basi dan bau tahi. Jelangkung jelangkung dengan nafas teratur dan hasrat hewani yang terperangkap dalam kerendahan akal budi, berkasak kusuk sekedar merendahkan harga diri.

Tamu tamuku membawa teman temanya, ribuan iblis berbagai rupa yang lama terabaikan. Mereka membawa generasi baru dalam gerbong gerbong panjang bagi hidupnya kembali si api bagi otak. Dibawanya juga pesan pesan rahasia yang hanya terperdengarkan oleh dinding dinding dapur, penuh intrik yang mematikan berulang ulang.

Ruang tamu hanya tinggal menjadi simbol keberadaan, menjadi sebuah pelintasan tanpa makna kehormatan. Kasak kusuk menetaskan jentik jentik amarah dalam jantung, mendidihkan darah yang membungkam percakapan, oleh sebab kepalsuan menjadi kudapan ketika teh manis disuguhkan sebagai hadiah kedatangan.

Ketika tamu tamu terhormat pergi, yang tertinggal hanya sampah yang dihasilkan dari sebuah kekacauan yang terselubungi asap menyesakkan, meninggalkan dua ton bahan pertanyaan dan perlahan mengikis keyakinan yang susah payah dibangun dengan segala keterpaksaan. Sebuah komunitas aneh dihidupkan dalam kerjapan kehadiran tamu yang mengguyurkan kenangan menyakitkan, menjadi generator bagi pelecehan sebuah pribadi.

Gempol, 060401

Friday, March 31, 2006

Bapak bapak anak anak

Bermain air, berenang renang kesana kemari dan melakukan ‘manuver-manuver’ aneh di kolam air untuk fun menjadikan sifat asli kanak kanak muncul lagi. Dikolam dengan segala fasilitas permainan yang ada puluhan manusia terapung apung, manusia ukuran bersar dan kecil, semua anak anak!

Taman air Eldorado mengingatkan masa kecil ketika air membawa sukacita yang meniadakan dimensi waktu. Banjir sungai setelah turun hujan, dengan arus yang kuat dan air berwarna coklat tanah. Sungai yang melulu berisi benda benda murni dari alam, pasir sebagai dasar endapan dan bebatuan kerikil bersih ditepi setiap bantaran dengan karang disetiap sisinya.

Eldorado membawa kembali kenangan masa kanak kanak yang perlahan menjadi usang. Kebahagiaan tiba tiba membuncah entah datang dari mana, dia menghilang begitu lamanya, tenggelam dalam realita muram kehidupan manusia dewasa, terkubur oleh pernik pernik peradaban dan tali hubungan yang merapuh ditikam usia.

Masa kanak kanak, sungguh adalah fondasi bagi sebuah kedewasaan…


Eldorado Water Park Cibubur, 060331

Wednesday, March 29, 2006

Membangung karakter dengan dongeng

Radio RRI Madiun pada jam setengah lima sore pada 1977an, setiap hari Jum’at pak Har akan membawakan dongenganya dalam bahasa Jawa. Suaranya yang terdengar khas bijaksana dan intonatif selalu mengantarkan cerita cerita yang selalu menakjubkan, tidak rugi menanti seminggu penuh setelah cerita yang berdurasi setengah jam tanpa iklan itu. Dongenganya membuat dunia otak anak anakku secara naluriah mencari dan menggabungkan inti makna cerita. Dirumah Mbahe, dari radio merk National dengan tulisan hitam Nusantara dalam cetakan miring, radio dua band dengan dua tombol bertuliskan suara dan gelombang. Dan mika transparan pelindung angka penunjuk gelombang frekwensi yang kutandai dengan garis dari pisau lipat, angka dimana Pak Har selalu datang setiap Jum’at sore untuk ‘putra putri’ nya yang setia.

Masa itu memang dunia hanya berisi sesuatu yang serba penuh keingin tahuan dan mudah sekali berkembang menjadi angan angan panjang, bahkan sebagian tertanam menyatu dengan darah dan otak, latar belakang kepribadian. Mbahe juga suka mendongeng, tentang hal hal yang bagiku serba mungkin dan memang ada, entah didunia sebelah mana yang nanti akan aku jelajahi kalau sudah dewasa. Mendengarkan Bue membacakan cerita dari buku pinjaman dari perpustakaan sekolah adalah masa yang luar biasa indah, menjelang tidur. Itulah waktunya Bue menitipkan mimpi indah bagi anak anaknya yang mencerna esensi cerita dengan caranya sendiri sendiri dalam bathin. Gaya Bue membaca dan juga sampai ke detail dialognya menayangkan gambaran multivisi dalam otak, serba indah, tentang dunia antah berantah disatu tempat dibumi ini juga.

Impresi tentang si baik hati, si malang, si licik jahat, si tekun, si cerdik dan karakter karakter lainya pasti ada dalam cerita Pak Har, Mbahe, Bue maupun dalam buku bacaan dongeng. Setiap karakter membekas sebagai sebuah cermin dalam dunia permainan selepas cerita itu menghilang dari pendengaran maupun ketika kata terakhir dari cerita ditulis ‘sekian’ atau ‘selesai’ atau ‘bersambung’ sekalipun.

Betapa kaya dunia anak anak dulu dengan dongengan dongengan indah, dari legenda, fabel sampai sekedar fiksi belaka, semua merangsang otak untuk mencari dan membuktikan kebenaranya nanti jika dewasa. Fabel dimasa kanak kanak tentu bukan cerita konyol jika kita memandangnya sekarang. Dunia anak anak siapapun orang dewasa pasti pernah melewatinya, dan masih bisa biarpun sedikit menengok kembali rasanya, cara memandang sesuatunya.

Ketika televisi tiba tiba menjadi benda yang menjamur, tokoh tokoh dongeng ini berganti serta merta dengan tokoh tokoh kartun, jagoan jagoan tak terkalahkan dan alat alat tehnologi diluar jangkauan akal pemikiran, yang justru menciutkan nyali untuk kelak melakukan pembuktian atau pencarian. Terlalu gamblang menyugukan ketidak mungkinan kecuali kesan, bahwa lebih jauh lagi dibelahan bumi yang lain sana orang sudah punya super hero yang individual, bisa terbang, tak terkalahkan dan berwajah tampan. Kekuatan kekuatan gaib dimiliki sebagai sarana pemberantas kejahatan sampai menghancurkan monster yang mengancam keutuhan planet bumi. Haih!

Dan zaman semakin instant. Dunia pandang anak anak tak berubah dari sejak tahun satu. Dunia imajinatif yang kemudian menjadi pijakan arah uraian langkah langkah sikap sepanjang perjalanan umur menyikapi setiap kejadian yang menghampiri sepanjang masa penghabisan umur. Menjadi karakter sebuah kepribadian setelah menginjak dewasa kelak.

Cerita dongeng, selalu mengandung pengetahuan dan nilai moral yang sederhana dan dapat dengan mudah dicerna oleh mesin berfikir anak anak, karena sesuai dengan pola fikir kanak kanak. Setiap dongeng selalu mengajarkan tentang perjuangan hidup, meniadakan tembok tembok sosial seperti etnis, agama, suku, dan asal muasal. Dongeng adalah konsumsi anak anak yang universal. Anak anak berlajar sesuatu dari dongeng dan yang utama mengenal norma norma sosial. Dongeng dapat membangun karakter kepribadian, tapi sayangnya hanya sedikit orang tua yang memiliki kemampuan mendongeng yang baik, yang sanggup meng’hipnotis’ sang anak untuk memasuki dunia cetakan karakter yang atraktif sekaligus menghibur.

Tanpa harus mengadopsi cerita kepahlawanan yang ngoyoworo dari negara lain seperti tokoh tokoh komik maupun kartun, Indonesia memiliki kekayaan dongeng dan legenda yang jika dikemas dengan apik dan kemudian semua orang tua peduli kepada anak untuk menyuguhkan itu kepada anak anaknya, dengan pesan moral yang bukan diktatif , maka atas ijin Tuhan pembangunan karakter bangsa itu akan tetap masih bisa dilakukan, dengan fondasi yang benar untuk menopang bangsa yang besar. Kelak, anak cucu kita akan memiliki identitas nasional sebagai bangsa Indonesia, dan kita di akherat akan ikut bangga.

060329

(Hormat dan salut untuk Mas Bambang Bimo Suryono - Jogyakarta)

Tuesday, March 28, 2006

DeKa

Namanya Asmar Doni, lelaki kelahiran Bonjol – Pasaman Sumatera barat, ia adalah satu dari sedikit teman laki laki yang sampai ke tahap all out, sangat akrab dan merasa klick. Don King aku menjulukinya, dan cukup memanggilnya dengan DeKa.

Di tengah lebat hutan Teso Nilo - Riau sekira empat tahun silam kami menjalani kehidupan bersama sama, dua pribadi dari dua dunia belakang yang sangat berbeda dan kemudian menjadi satu kesatuan warna yang saling melengkapkan. Deka si flamboyan menempatkan diri sebagai “adik hati” yang bagiku lebih kuanggap sebagai ‘sahabat hati’.

Kebersamaan selama hampir dua tahun itu melalui begitu banyak suka duka bersama, atau mungkin suka bersama. Sedikit sekali kami berduka dalam kungkungan penugasan yang begitu berat dan berpindah pindah tempat itu. Tempat favorit kami sama, di hedges nuersery Teso Timur, dimana akasia disemaikan dan kerap jadi santapan gajah liar.

Deka rasanya juga selalu menyertaiku dalam tugas tugas lapangan, menjelajah gelap malam ditengah hutan sambil menikmati indahnya berada di alam, atau meleati moment moment mendebarkan ketika harus berurusan dengan sindikat pencuri kayu yang mengklaim bahwa pohon yang ada dihutan adalah milik Tuhan, dan mereka bebas menebangi dan mengangkutinya dengan tronton untuk dijadikan uang belanja, dan sebagian foya foya. Ya, kamipun melakukan hal hal gila bersama sama, lebih banyak tertawa dan mengisi hari hari kami dengan kebersamaan yang menyenangkan.

Kebersamaan kami berkahir tatkala aku memilih untuk berhenti dari penugasan itu. Sesudah itu komunikasi kami menjadi sangat terbatas, dan kemudian perlahan mengendur dan lalu menjadi jarang karena kesibukan masing masing. Pertemuan yang benar benar terakhir adalah pada penugasanku di Duri – Riau. Kami bertemu sebentar, kemudian berpisah hingga sekarang.

Hingga kini, Deka tetap tersimpan dalam hati, menjadi sahabat yang tak pernah pergi dari tempatnya yang paling tersembunyi, dipalung hati. Kehilangan komunikasi dengannya tidak lantas mematikan keberadaanya dalam sanubari. Seluruh kenangan yang pernah terlewati terpatri abadi, menjadi catatan manis perjalanan riwayat diri untuk cerita bagi anak cucu kelak.

Deka, sahabat yang tak pernah pergi dari hati, hari ini hari ulang tahun baginya.
Selamat ulang tahun sahabat hatiku, semoga bahagia dan sejahtera selalu hidupmu…entah dimana...


Gempol, 060328

Monday, March 27, 2006

Cinta Azas Kasihan

Sebuah perbuatan yang timbul dari rasa kasihan adalah bentuk kepedulian yang paling hakiki. Empati, panggilan nurani untuk berbuat sesuatu diluar kepentingan diri pribadi. Rasa iba, yang mengetuk jiwa untuk kemudian menggerakkan niat dalam satu bentuk entah melibatkan materi ataupun tidak, tetaplah sebuah bahasa purba kodrat manusia.

Idealnya rasa sayangpun atas azas kasihan, bukan pemujaan terhadap satu pribadi. Rasa sayang yang berazaskan kasihan jauh lebih murni ketimbang ketertarikan badaniah, atau bahkan ketertarikan non badaniah. Azas kasihan tentu akan mengabaikan hukum materi, sebab ia lahir dari perasaan paling murni. Bukankah iba itu hakekatnya menempatkan rasa kasihan secara proporsional terhadap sesama, dan menyayangi adalah efek kembar dari mengasihi?

Orang tentu punya persepsi yang berbeda beda tentang ukuran kasihan ini. Ketika kita melihat anak kecil dijalanan yang mengetuk kaca jendela mobil dan mengharap kepingan uang receh berpindah ke tangannya, belum tentu menghadirkan rasa iba itu. Kesanggupan seseorang untuk menterjemahkan pandangan mata dan bahasa tubuhlah yang bisa menterjemahkan makna yang sesungguhnya. Pada skala yang berbeda rasa kasihan dijabarkan melalui banyak cara dengan menghasilkan banyak reaksi berbeda beda. Dan salah salah, orang yang memiliki sense of empathy yang rendah secara impulsif akan menilainya sebagai suatu pribadi yang pathetic; mengasihani diri.

Rasa kasihan yang timbul karena penderitaan, karena kadaan orang lain secara otomatis menimbulkan rasa yang kuat untuk ingin terlibat, ingin peduli dan ingin berbuat. Perbuatan atas azas kasihan sepenuhnya didasari pada tuntunan moral tanpa menghitung untung rugi apalagi kepentingan diri. Diatas semua itu, sebuah perbuatan yang didasari azas kasihan melahirkan efek kedamaian, kebahagiaan dan yang pasti rasa bersyukur bahwa diri lebih beruntung ketimbang orang lain. Impact positifnya adalah bahwa si yang terkasihani secara bertanggung jawab akan mengemban perasaan agung itu dalam sikap berterimakasih, bukan terbebani dengan hutang budi. Pembalasan dengan terimkasih memiliki standar penghormatan tinggi, imbal balik dari ketulusan dari dua rasa dasar manusia; iba dan bereterimakasih.

Adakah lalu cinta yang berazaskan kasihan? Kebanyakan orang merasa harga dirinya terendahkan ketika orang memandang dengan kasihan, menganggap diri lemah tak berdaya dalam pandangan penuh iba, terlunta lunta dan sebagainya. Cinta yang timbul dari rasa kasihan adalah ketulusan yang sebenarnya. Sebab azas kasihan menempatkan cinta pada sudut yang paling tepat dimana rasa iba atau kasihan melingkupi keinginan untuk berbuat selalu baik dan selalu menolong. Itulah makna cinta yang sejatinya, dimana kemudian orang menyimpulkan dalam tali perkawinan dengan harapan bahwa cinta akan membuat seseorang menjadi teman hidup yang sejati. Kebanyakan cinta datang dari rasa memuja, rasa mengagumi dan menginginkan, kemudian menggunakan topeng kasih sayang sebagai lambang, bukan atas azas kasihan.

Biarkan rasa kasihan menguasai diri dan bekembang menjadi rasa sayang, sebab dengan begitu kata ‘perceraian’ sungguh tak diperlukan, dimana perkawinan hanya menjadi formalitas bagi sebuah komitmen main main untuk menentukan seseorang menjadi teman hidup. Memilih teman hidup atas dasar kekaguman dan pemujaan hanya akan menuai kekecewaan ketika kadar kekaguman dan pemujaan itu aus digerus laju sang waktu. Lebih parah lagi jika keausan itu dipelintir sedemikian rupa menjadi sebuah alasan untuk berselingkuh, membentuk dunia baru diluar lingkaran dunia yang fungsinya hanya satu; menghancurkan. Sungguh, cinta seperti itu samasekali tak mengenal istilah azas kasihan. Ironis bukan, cinta yang mengatas namakan kasih dan sayang justru mengabaikan maknanya yang paling sederhana.

Sejenak kita berfikir, kapan terakhir kita merasa kasihan terhadap teman dalam hidup kita, kemudian orang orang sekitar kita? Azas kasihan, akan membuat dunia hanya melulu berisi kedamaian…


Gempol, 060327

Saturday, March 25, 2006

Sebuah Drama Pengingkaran Fakta

(sebuah kontemplasi akhir pekan)
Sungguh mudah terbaca hanya dari kata kata, betapa sepi sanggup melilit hati dengan keterperosokan dalam gelap fikiran. Suara yang membentur dinding tebal dan dingin membeku dijarak dua sentimeter dari wajah seperti hanya diperuntukkan kepada telinga sendiri, sebab semua telinga berada ribuan mil jauhnya dari letak keberadaan.

Lalu mengalirlah rindu kepada orang orang dimasa lalu, atau barangkali masa depan, sangat rancu. Menggenanglah manis rindu masa lalu, keramahan bumi perasaan kala itu, dan kenyamanan berada dalam lingkupanya yang hangat oleh cinta. Tak terbayang dahulu, bahwa keindahan dan kenyamanan seperti itupun akan berakhir dengan satu akhiran yang tak pernah ada dalam rumus tebakan. Misterius!

Ah, masa lalu. Kemana warna pedih perih masa lalu itu sekarang? Kenapa yang tertayang hanya kebaikan dan keindahan semata? Keindahan yang menarik narik angan angan untuk berdiri diatas angin dan berlarian diantara awan, jauh dari tanah kenyataan. Kepediahan masalalu menjadi bias, mungkin terkubur oleh gundukan sang waktu yang terus meninggi dan membesar. Sang gundukan waktu, tempat tangan nurani bertolak merabai masa depan yang berhamburan di udara sebagai asap.

Ternyata, masa lalu hanya jejak langkah kaki sendiri, yang menerabas belantara cerita dengan peta panduan intuisi dan senjata bernama pedang logika. Pengakuan atas kepemilikan jejak itulah yang memanggil manggil angan angan untuk kembali menoleh sejenak, dan mengais sisa kenangan manis adalah yang terbaik sebagai upaya pada saat ini. Tanah melempang bekas pijakan kaki pengalaman, bangunan bangunan indah yang sempat terbikin semasa perjalanan bahkan persinggahan persinggahan yang menenteramkan dulu, menjadi catatan pengakuan atas diri sendiri. Kenyamanan berada diputaran indahnya ketiadaan itu menjadi dramatisasi atas pengingkaran terhadap fakta bernama kekinian.

Kekinian, hanyalah tangan yang melepuh lelah mengayun pedang membabati belukar kejadian, yang kebetulan kali inipun terasa sedemikian ganas belantara yang satu ini. Kaki yang penuh goresan oleh onak yang tajam pada areal yang terjal mendaki. Rasa rasanya diri tak sanggup untuk maju mendesak, tetapi enggan menyerah demi harga diri. Bertahan dan mengumpulkan semua kekuatan dalam diri adalah pilihan, sambil menunggu hujan badai yang sedang mengamuk perlahan mereda untuk berhenti samasekali. Kekinian beberapa tahun lalu hanyalah kabut yang mengambang diudara masa depan, misteri belaka.

Demikian juga masa depan, tetaplah ia menjadi udara dengan kabut tipis tebal serupa asap rokok menggumpal gumpal. Ia tetap misteri yang tak tertebak dan bahkan menyimpan jawaban bukan dari salah satu jawaban atas tebakan yang dipersiapkan. Terkadang ketidak sesuaian jawaban yang diharapkan menyebabkan kekecewaan, terkadang juga membawa kebahagiaan. Segalanya absurd dan ambigus untuk benda bernama masa depan ini. Diri tak pernah tahu setebal apa lagi belantara onak berduri yang harus ditebas demi menciptakan jejak kenangan seperti ribuan kilometer pernah terbentuk. Dan ketika onak berduri ditanah tejal mendaki terlewati, apakah yang akan ditemui lagi? Semua tinggal menjadi misteri.

Masa lalu menjadi catatan penenang dan masadepan menjadi misteri penjanji ketika kekinian hanya berisi keletihan atas hampa. Menjelajahi dunia masa lalu dan masa depan yang nisbiah, adalah pengingkaran atas fakta datar benama; kekinian. Pengingkaran itu menghasilkan ketidaksesuaian antara fikiran, hati dan perbuatan. Dan…life goes on…

Gempol, 060325
(terima kasih kepada bung Didi Revkotz untukjudul tulisan ini)

Friday, March 24, 2006

Sepatu Mas Jaman

Mas Jaman, berumur tigapuluhan sekian. Staff bagian perencanaan disebuah perusahaan swasta yang dikelola langsung orang orang asing, Australia. Dia pekerja yang rajin dan inovatif. Selalu diciptakanya sendiri kesibukan kesibukan ketika hampir semua pekerjaannya sedang mengalami low priority. Dia memang cakap di bagiannya bahkan belum sekalipun mendapat komplain dari atasanya.

Musim hujan suatu pagi. Seperti biasa mas Jaman datang dikantor tigapuluh menit sebelum waktu mulai bekerja, 08.00 WIB. Perjalanan dari rumahnya yang berjarak lebih 20 kilometer dari kantor degan sepeda motor membuat sepatu yang dipakainya basah dan sedikit kotor. Sang atasan tiba tiba saja menghardik keras kepada mas Jaman, soal sepatu yang tak sepatutnya dipakai kekantor pagi itu; kotor dan tak terawat. Diperlihatkanya sepatunya yang mengkilap oleh semir dan kalis dari setetes airpun, sebab sang boss pastilah bermobil kekantor, dengan sopir yang digaji oleh kantor, dengan penghasilan kantor yang sedikit banyak diciptakan oleh mas Jaman juga.

Ia berusaha sebisa mungkin menstabilkan diri dengan keadaan. Meskipun begitu, hatinya sungguh tidak terima. Perasaan pribadinya tersinggung oleh ulah sang boss yang dianggapnya memang membawa permasalahan rumahnya kekantor pagi ini. Bathinya memprotes keras, tapi mulutnya diam sebagai bawahan. Kalau yang jadi permasalahan adalah karena kualitas pekerjaanya, dia akan memaklumi dan menerimanya dengan lapang dada. Tetapi ini soal sepatu, yang tidak ada sekuku hitampun hubunganya dengan tugas pekerjaanya. Dan hanya dia yang tahu, sepatu itu satu satunya yang dia punya sesuai dress code kantornya!

Mas Jaman bukan type pelawan, apalagi pahlawan. Maka perlahan diredamnya ketersinggunganya, diterimanya sebagai kritik untuk penampilan diri pribadinya, dan juga untuk citra penampilan kantornya. Hanya dua hari sejak itu ia harus segera menemukan cara untuk penampilan sepatunya.

Sejak dua hari itu, maka dia berangkat dan pulang kekantor hanya bersendalan saja, sementara sepatu yang telah dipoles dengan semir dan terlihat jauh lebih terawat disimpanya di locker kantor. Hanya ketika jam kerja saja dipakainya sepatu itu, sementara sendal jepitnya menemani keberangkatan dan kepulanganya kekantor. Dia menjalaninya dengan hati ringan, menemukan solusi untuk satu persoalan yang tak perlu menjadi singgungan atas harga dirinya yang terlalu ketinggian hanya oleh ucapan sang atasan. Justru mas Jaman mengucapkan terimakasih kepada atasanya.

Belajar dari mas Jaman, adalah menelaah sebuah resolusi konflik dari sudut yang paling individual. Berfikir positif atas kritik yang diterima kemudian mengimprovisasi pandangan yang melahirkan sebuah sikap arif berarti sebuah pembentukan karakter yang bijaksana. Zaman yang pekak dengan gembar gembor retorika reformasi dengan pola pola penonjolan individualisme seperti ini, justru yang diperlukan adalah karakter mas Jaman yang dengan arif memandang suatu ketidak nyamanan atau ketidak sukaan dari luar kotak pemikiran egonya sendiri. Jika saja Indonesia memiliki duaratus juta saja mas Jaman, maka negeri ini akan memiliki karakter yang membanggakan seperti yang dicita citakan Bung Karno dulu ; nation character building!
Karena sampai sekarang, bangsa ini tidak punya karakter yang jelas.


Simatupang, 060324

Thursday, March 23, 2006

Pertemuan terakhir

(Tertulis sebagai perenungan atas pertemuan terakhir ditubir jurang)

Menterjemahkan kata perpisahan dari hati yang gemetar tecabik perihnya, fikiran menjadi sarat oleh slide demi slide pertemuan yang selalu berjudul sama “ pertemuan terakhir”. Betapa telah begitu banyak kejadian kehilangan makna sekeras apapun otak dan bathin mengais sisa sisa nyamannya.

Peretemuan terakhir kesekian, berisi tangis semalaman di bilik terpisah dengan dinding berlapis lapis kepantasan logika. Tangisan yang menterjemahkan lolongan hati remuk, yang hanya menghasilkan kebisuan sampai perpisahan yang sebenarnya datang bersama matahari yang selalu saja tersenyum menghibur bumi, menyisakan tanya menyelip diantara kecemasan hati :
“ akankah kita bertemu lagi?”

Mengenang pertemuan terakhir, adalah membenturkan pundi harapan kepada karang tajam kenyataan; ambyar dan berharap akan datang cemburu dari pemandangan yang disuguhkan. Ah, rupanya cemburupun terelalu mahal untuk sekedar menjadi perhiasan negatifisme diri. Tak pantas hanya untuk sekedar dimiliki oleh penonton yang menyaksikan kejadian demi kejadian menyerempet eksistensi.

Merangkai lagi simpul simpul rasa pada pertemuan terakhir, diri terdampar pada ketidak tahu dirian yang dipaksakan. Menganggap kehidupan berjalan sekehendak takdir buatan dan tak sadar, linglung jadi figuran ditengah taman bunga penuh nyenyanyian; mirip dengan apa yang pernah terciptakan. Sayang diri telah kehilangan hak kepemilikan, meskipun hanya sekedar pengakuan dari dalam dan diam diam.

Ah, betapa banyak kata perpisahan terucapkan, tanpa satupun terfahami betul maknanya; hanya bunuh diri yang kesekian…

Gempol, ketika hujan tak berhenti menangisi kegelapan sang malam 060223

Wednesday, March 22, 2006

Mendung, gerimis dan sebuah ‘good bye’ pagi hari.

Embun yang terdampar ditanah pekaranganpun menjadi bias oleh gerimis yang datang kepagian. Mendung mengurung matahari, pagi berwarna kelabu adanya. Jam ini waktunya matahari meninggi, waktunya kehangatan menyelimuti dan kemudian membakar semangat diri melintasi satu ruang hidup, buat mengisi lembaran diary. Hari ini akan tetap berjalan, tak ada apapun yang sanggup menghalangi.

Jarak pandangan membentur dinding kabut yang menyelimuti sementara riuh jalanan menawarkan langkah untuk terus berlari. “Pagi ini, tak ada matahari” ucap asap knalpot kepada gedung gedung yang muram membeku sepanjang jalan basah.

Gerimis yang menaburi bumi mangaburkan kehangatan atas jarak yang membentangkan letak orang kesayangan setelah dialog semalam membeku tanpa keputusan. Fikiran mencari cari, sengatan matahari yang membangunkan kesadaran atas diri. Sia sia.

Lalu sebuah bisikan atas nama peradaban datang menghampiri, sekedar mengucapkan selamat tinggal untuk pergi. Sensitifitas telah melewati titik kulminasi, puncak dari segala yang ditahankan selama ini. Menyerah kalah pada ketidak mungkinan yang rajin menganiaya. Melambaikan tangan tak rela sementara air mata telah kehabisan energinya hanya untuk mengaliri kulit kasar sang pipi. Telah kering bahkan untuk menterjemahkan kesedihan atas ranting hati yang terkoyak patah.

Pagi ini dibumiku, mendung menghias gerimis dan sebuah ucapan selamat tinggal menikam jantung, menyempurnakan langkah matahari yang bersembunyi.

(Half time goes by
suddenly you’re wise
another blink of an eye, 67 is gone
the sun is getting high,
we're moving on...
I'm 99 for a moment dying for just another moment
and I'm just dreaming counting the ways to where you are

....there's never a wish better than this, when you only got 100 yrs to live...")


Cubicle, 060322

Tuesday, March 21, 2006

Pohon Pemujaan

Dia hanya pohon, yang tumbuh dari ketiadaan atas kuasa alam. Demikianlah kita, mengikuti gelembung kehidupan kita masing masing dan berhenti disetiap setasiun yang selalu kosong. Bukankah biadab, menebang pohon yang meneduhi kita dari sengangar terik matahari, memberikan kita oksigen dan kemudian dengan menutup mata dan tangan gemetaran kita tebangi? Aku hanya ingin berterimakasih kepada pohon itu, tanpa berniat kehilangannya. Pohon teduhan itu memang tidak bisa kita bawa kedunia kita yang berbeda ketika kita harus sama sama meneruskan perjalanan bersimpang arah. Tak apa, sebab kita memang punya kewajiban demikian demi mentaati peradaban.

Tapi pohon itu selalu aku bawa didalam hati, yang selalu memberi semangat bahwa dia akan tetap berdiri meraksasa disana menyediakan teduhnya ketika nanti entah kapan, akan aku temukan jalan kembali untuk kurebahkan diri disejuk tanah berdebu dibawah rindangnya, dimana desau angin memanjakan setiap titik syaraf yang bengkak oleh letih perjalanan. Entah nanti engkau ada disana atau tidak, tapi kenangan bersama dibawah pohon rindang itu tak pernah pergi dari tempatnya. Kita memang tak pernah sekalipun menyengaja bahwa kita akan pernah bertemu ditempat dimana sekarang tumbuh pohon itu.

Kita hanya punya kewajiban, berjalan dan terus berjalan menjauhi pohon rindang, untuk kemudian suatu saat logika memperbolehkan kita beristirahat dari kewajiban berjalan. Mari punguti setiap butir pengalaman disepanjang perjalanan, juga aku akan kisahkan perjalanan yang nanti suatu saat kita akan menceritakanya dengan citarasa film India, sebab nanti suatu saat yang tak pasti kita pasti akan bertemu disana, dibawah teduhnya rindang pohon spesies baru bernama Pohon Pemujaan.

(tertulis kepada seorang puteri - dalam hati)
Edited at cubicle, 060321

Monday, March 20, 2006

Tempat

(sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan suatu sore)

Bilik bilik labirin dalam jiwa, telah terisi oleh penghuni segala rupa. Iblis iblis yang didatangkan dari negeri dongengan pendurjana, pun masih berjejalan diluar ruang, diluar kulit ari tubuh. Kelengangan yang dulu melahirkan kearifan dan tak jarang melantumkan tembang merdu dramatisasi panca indera sekarang menjadi riuh oleh tempik sorak dan suara gaduh. Sang tuan tanah telah menggadaikanya dengan harga sedemikian tinggi hingga tak ada angka yang pantas untuk disebutkan sebagai ukuran.

Penghuni penghuni baru itu, memang tak tahu sopan santun apalagi tenggang rasa. Mereka mencoreti dinding, merobeki langit langit dan menghancurkan lantai dengan suara gemuruh pesta urakan. Segala benda yang ada didalamnya dikhawatirkan menjadi rusak oleh ulah mereka yang menangan. Mereka menjadi virus didalam rumah hati yang mereka kunci dari dalam, penuh rahasia. Tak ada yang melawan sebab ia hanya budak rumah hati belian, yang lantas digadaikan. Kehilangan status kepemilikan, dan kemudian menjadi rumah pesta para iblis, pesta pora dari pagi siang sore malam ke pagi lagi. Pesta itu berupa: badai!

Tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali menunggu pesta mereka usai, setelah nurani sanggup mengkompromi bahwa pesta memang pekerjaan si menangan. Mengangkat tangan dan mempersilakan mereka tinggal didalam dengan selamat adalah pilihan. Maka si tuan tanah kehilangan pulalah segala yang merasa menjadi miliknya yang tak berharga. Rumah hati yang digadaikan itu! Itulah satu satunya yang kini patut dianggapnya sebagai benda berkepemilikan. Tapi si tuan tanah lupa jalan pulang. Ia terlalu sibuk menghamburkan uang gadaian untuk senang senang, pesta pora (seperti iblis) sampai tandas tak bersisa, tanpa isi angka. Ia lupa tempatnya berada, karena terlalu mabok oleh kenikmatan sebuah pesta dengan dress code binatang.

Seorang yang baik hati, yang diludahi dulu di tempat pesta menolongnya ketika ia tersesat dan sendirian dalam pencarian jalan pulangnya. Dituntunya si mabok dengan kekuatan yang ia punya sebagai orang nomor kesekian dalam skala prioritas si tuan tanah pemabuk. Diantarkanya sampai pintu rumah hati itu terbuka dan dia masih menemukan miliknya yang disangkakan hilang, fikiran yang penuh kemabukan tatkala itu. Ketika mabuknya perlahan berkurang, dan dia nyaman menjadi penguasa rumah hati. Dia perlahan berfikir…Ah betapa nikmatnya berpesta!

Maka digadaikannya lagi rumah itu, dengan harga yang lebih mahal kepada sekelompok iblis paling bengis. Kemudian rumah itu kehilangan bentuk, menjadi suram tanpa cahaya, hanya jeritan yang kadang terdengar dari dalamnya. Spooky istilahnya (meminjam terminologi dari seorang istimewa). Si tuan tanah setelah uangnyapun kandas ditempat pesta, terhuyung huyung mabuk pulang kerumahnya, lalu terkapar pingsan diemperanya. Pintunya terkunci dari dalam. Ketika siuman, ditemukan dirinya terkapar telanjang di emperan rumah tanpa bentuk. Inilah rumah yang dianggap tetap menjadi miliknya. Kini reot dan buruk, kehilangan bentuk dan…dia tak menemukan pintu ataupun jendela disana! Rumah itu telah jadi batu! Maka ia tetap menggelesot di emperanya, menghayalkan ribuan pesta yang pernah dilakukan sambil menyaksikan matahari melintasi langit bumi setiap hari. Sampai pangeran kodok akan datang untuk menyihir kembali rumah hati jadi rumah teduhan.

Atau, sampai ia pergi lagi mencari pinjaman, setidaknya diemperan rumah tanpa pintu itulah tempatnya berada...


Gempol, 060320

Saturday, March 18, 2006

Kursus Budi Pekerti

Demonstrasi mahasiswa Universitas Cendrawasih di Abepura Papua yang menuntut penutupan PT Freeport McMoran berakhir rusuh, empat nyawa aparat negara menjadi tumbal dibantai beramai ramai. Peristiwa barbar itu menyisakan kesan mengerikan, sebuah tragedi yang ironis. Tragedi kerena sedemikian brutal yang mengakibatkan kepiluan panjang, ironis karena justru dilakukan oleh mahasiswa terhadap aparat hukum, alat negara pengawal ketertiban dan keamanan.

Mahasiswa dalam pengertian harafiah adalah intelektual yang mengedepankan sikap sikap rasional. Secara lebih idealis mahasiswa adalah kader kader yang diharapkan mampu membawa bangsa kearah perbaikan. Jenjang pendidikan sampai di tingkat itu secara sederhana juga pasti memahami hukum hukum materi yang berlaku dalam peradaban manusia. Tetapi yang kita lihat ditayangan tivi itu samasekali mencerminkan kebalikan dari teori teori tersebut. Kita disuguhi tontonan mengerikan, dimana sekelompok petugas yang ragu dikepung dan dibantai oleh ribuan orang mahasiswa. Dan dalam keadaan tak berdaya sekalipun si petugas yang tidak dilengkapi senjata kecuali pelindung tubuh merka masih direjam dengan cara primitif dan sadis.

Sungguh kelompok demonstran itu hanya mengandalkan semangat kriminalisme, mengabaikan aspek hukum apalagi tenggang rasa. Mereka bangga menjadi primitif sehingga sangat tolol untuk sekedar mengerti dan menempatkan diri sebagai mahasiswa yang semestinya dalam komunitas peradaban berada pada derajat yang terhormat. Pemaksaan kehendak dan penggunaan kekerasan (anarkisme) mencerminkan betapa rendah budaya zaman jahilliyah tersebut. Status sosial sebagai mahasiswa hanya tempelan tanpa pemahaman yang memadai.

Ilmu ilmu yang mereka serap dari bangku kuliah hanya menghasilkan kekerasan dan pelanggaran terhadap aturan sebuah negara, sebuah lembaga dimana harus ada rakyat, pemerintahan dan wilayah. Tuntutan penutupan tambang emas dan tembaga rakasasa terkesan sekedar ‘kehendak’ mereka, tanpa memikirkan dampak lain yang akan timbul kalau Freeport harus tutup tiba tiba. Pastilah di kampus mereka juga diajarkan tentang efek domino dari penutupan sebuah tambang raksasa yang menyangkut harkat hidup ribuan orang pekerjanya, bahkan barangkali sampai kepada hal hal yang bersifat politispun mereka pelajari. Pelajaran diambil sebagai landasan ilmiah untuk meluruskan sekaligus mengawal proses bernegara dengan semangat untuk bersama, sekian ratus juta orang dari Sabang sampai Merauke. Ah, barangkali memang mereka berkuliah hanya supaya dapat gelar, dapat sertifikat dan nantinya dapat pekerjaan. Atau memang diajarkan kurikulum pelajaran membunuh polisi? Pantaslah kalau begitu apa yang mereka perbuat!

Konflik horizontal panjang di Papua memang (barangkali) mempengaruhi impresi mereka terhadap penegak hukum. Tetapi seharusnya mahasiswa mengerti betul bahwa petugas petugas itu hanya alat untuk mengawal ketertiban dan mengayomi masyarakat suatu negara. Dibalik figur tugas itu, mereka adalah individu individu yang hanya ingin berbakti kepada negara, tumpah darahnya. Petugas itu bergerak kaku dengan koridor HAM yang sangat ketat, sedangkan mahasiswa penyerangnya tak memiliki itu samasekali. Petugas petugas itu, mereka menjaga agar garis batas HAM tidak terlewati dan pada saat yang sama mereka tidak berada didalam naunganya. Ironis!

Mahasiswa, anarki, criminal…sebuah krisis akhlak yang seharusnya menjadi tombol waker bagi kita semua, betapa bangsa ini sudah memerlukan sebuah kursus sederhana tentang budi pekerti, tenggang rasa dan penghormatan terhadap hukum yang berlaku dimasyarakat suatu pemerintahan dalam wilayah negara Indonesia. Akal yang maju hanya akan jadi penghancur jika tak disertai akhlak yang baik. Kalau itu juga belum bisa difahami, barangkali memang harus setiap hari setiap kader pemimpin itu digembleng dengan doktrin berjudul tenggang rasa saja cukup. Atau kita akan menumpas anak cucu kita sendiri dengan menaburkan kader kader penentu karakter bangsa ini ditangan primitivisme?

(Sebagai ucapan berbelasungkawa kepada empat orang anggota keamanan negara yang tewas dalam pembubaran pemblokiran jalan di Abepura pada 16 Maret 2006)

Friday, March 17, 2006

Siman menggugat Tuhan

(Kronologi: Siman, seorang lelaki dari desa nun jauh dari asap kehidupan metropolis. Dia menjalani hidup berbekal intuisi dan mengumpulkan sedikit demi sedikit pengalaman untuk membangun kehidupanya sendiri dengan cita citanya yang sederhana; hidup tentram damai, pantas dalam peradaban manusia. Selepas dari pintu pagar rumah orang tuanya ketika dia remaja, dia merasa menjelajahi dunia ini sendirian, mengembara ke tempat tempat yang belum pernah dikenalnya, mengenali aneka warna dan rasa kehidupan dan menemukan pelajaran pelajaran tentang hidup sepanjang perjalanannya itu.

Syahdan, Siman membangun sebuah keluarga yang termasuk dalam cita cita sederhananya. Keluarga, sebuah investasi sosial dan pengejawantahan kehidupanya. Semua berjalan sempurna, dengan anak sebagai jimat penyemangat, dengan harapan dan mimpi yang terbangun dan perlahan menjadi kenyataan. Dia hanya tahu membangun, memberi dan mengadakan dari ketiadaan, menempatkan diri sebaik mungkin sebagai suami dan ayah bagi si kecil. Kebahagiaan yang lengkap, dia tak butuh apa apa lagi.

Suatu ketika, kebahagiaanya terampas oleh ulah durjana sang istri yang dia amat sayangi, istri yang dijadikan subyek pengabdian, ketika semua yang ditabung dan dibangunya runtuh oleh obesesi liar sang istri bersama lelaki bejat yang membuat sang istri jatuh cinta habis habisan. Maka Siman mengalami kebangkrutan mental dan material yang sempurna, merana berkepanjangan. Caci maki sang istri bahkan perlakuan fisik untuk memanipulasi kebejatanya diterimanya dengan hati perih, dan dia bertahan dengan investasi sosial yang ditanamnya. Hanya kepada Tuhan dia memohon untuk dikuatkan. Dan ketika tanpa nurani istrinya mengulangi perbuatanya untuk kedua kali, maka Siman menggugat Tuhan, mempertanyakan kesahihan doktrin doktrin moral yang selama ini dianutnya secara harafiah. Dia menggugat setelah bathinya letih berlari mengingkari kenyataan, setelah akal sehatnya tak mampu lagi mencerna makna ketidak adilan umat manusia. Demikian gugatanya….)

Benarkan engkau maha adil? Kalau demikian apakah adil memperlakukanku sedemikian buruk dalam kehidupan? Selama bertahun dipenjara oleh kekecewaan dan disiksa oleh kepintaran? Apakah salah jikalau aku lantas meragukan keberadaanmu sebagai yang maha adil dan penyayang? Rasa sayangkah ini namanya penganiayaan bathin yang tak berkesudahan, dan membiarkan si zalim sang penganiaya bebas tertawa berkeliaran diluar sana, diluar penjara pribadi yang terterali material?

Ketika kenyataan menjepit, aku telah datang kepadamu untuk berdoa, mengemis belas kasihan. Juga ketika orang orang yang begitu rendah budaya dengan enteng merenggut semua kebanggaan sebagai hakku, aku berdoa agar mereka dilaknat. Ketika kebahagiaan yang menjadi symbol dari kebanggaanku runtuh, engkau ada dimana untuk menegakkan keadilan? Apakah hanya mimpi buruk yang terus terjadi setiap malam itu saja yang pantas menjadi imbalanku, mimpi buruk yang terus saja terjadi dalam berbagai bentuknya.

Segala sesuatu yang terjadi dibumi ini tergantung kepada manusia sendiri. Kalaupun engkau maha adil, siapa yang bisa menunjukkan keadilanmu bagi diriku dalam peradaban manusia ini? Mengandalkan dan bergantung padamu hanya akan meracuni pikiran pikiran rasional, dan menaburkan benih harapan harapan yang tidak rasional. Aku sudah dianiaya, dihina, dirampas oleh manusia lain, dan itu membuatku memberontak atas segala keyakinanku sendiri.

Surgamupun terkadang aku ragukan keberadaannya. Bukankah manusia juga yang menggembar gemborkan tentang adanya surga sampai sampai orang rela membunuh dengan iming iming janji surga? Sungguh tidak rasional! Agama yang mengatakan bahwa janji surga itu berasal darimu. Tetapi semua yang menggunakan bahasa manusia adalah produk otak manusia juga.

Aku yakin semua hal dimulai dari pikiran. Demikian juga pembusukan perilaku, juga berakar dari pemikiran yang busuk, sebuah basis kleptrokasi ; kegembiraan atas prestasi jadi maling, kemudian jadi kebiasaan yang menyenangkan dan lama lama jadi kebutuhan. Bukankah dalam setiap kegiatan itu menghasilkan korban? Dan bukankah itu ketidak adilan yang senyatanya menurutmu? Apakah harus menunggu si klepto puas dulu sementara cerita tentang neraka hanya jadi momok belaka? Bukankah akan lebih ideal kalau engkau langsung saja menghukum mereka yang bermental maling dan bermoral bejat ketimbang membiarkan mereka menambah panjang daftar korban yang akhirnya akan datang mengemis padamu dengan doa doa mereka?

Aku menggugat atas kepiluan yang tiada berakhir…tolong jangan hanya diam saja.

Gempol, 060317

Thursday, March 16, 2006

Satu cerita tentang malam

Bahkan senyap sang malampun menjadi kabur oleh pikiran yang menimbun, makin lama makin kokoh mengunci bathin. Bumi menjadi hamparan maha luas dengan gunung dan laut yang memisahkan jarak antara jiwa jiwa yang diam diam menyimpan catatan tentang diri. Begitu jauh dari manapun. Kesendirian yang semestinya menenangkan menjadi kegelisahan ketika ternyata yang ditemukan hanya semu disekeliling.

Keindahan biasanya memiliki ruang sepanjang hidup masih terus dijalani. Bahkan dibalik tragedi yang memilukan atau prahara yang mengerikan sekalipun. Tetapi ketika iblis menempati posnya masing masing disetiap aspek ingatan, rayuan tentang estetika kesemestaan menjelma menjadi pemikiran skeptis belaka. Pemikiran yang hanya berputar putar pada pertanyaan tentang bagaimanakah cara menjalani hidup yang semestinya. Berputar tanpa jawaban kecuali ingatan yang datang silih berganti saling menindih bersama menumpuknya waktu ketika malam bergulir menuju muara bernama pagi.

Malam berisi diam, ketenangan yang mengendapkan banyak pertanyaan. Bahkan rapalan mantra pengusir gelisah rajin terlontar tanpa terucapkan sekedar menunda kemenangan sang amarah. Fikiran yang terkurung dalam ruang terkunci terus memberontak mencari celah, memanggil manggil datangnya seseorang yang dulu setia menemani, menjadi saksi atas setiap gerak yang terbuat dan kata yang terucap, yang lalu menuliskanya dengan indah untuk dipajang di dinding rumah teduhan hati.

Waktunya umat manusia tertidur melepaskan segala kesadaran dan tergolek menjadi zombie. Waktunya istirahat dari kenyataan yang terkadang membebani diri, dan berharap mendapat penghiburan dari mimpi yang dihasilkan dari kontemplasi bawah sadar. Maka bagi penduka waktunya juga menyongsong mimpi buruk yang akan jadi ilustrasi peristirahatan, memperpanjang garis antara tepi ke tepi sang malam dengan catatan hitam.

Sungguh tak penting apa yang telah terjadi hari ini, siang tadi. Sungguh tak penting juga apa yang mungkin akan terjadi esok pagi, keduanya sama sama nisbi. Kekinian adalah malam ini dimana angan angan timbul tenggelam antara kekhawatiran akan esok dan ketidak puasan atas cara memanifestasikan diri hari ini. Sungguh sebuah krisis mental yang rumit untuk diuraikan dengan penjabaran melalui tulisan. Tapi biarlah tulisan menjadi jejak sang fikiran yang tidak akan terhapus oleh waktu bahkan oleh hukum materi. Dan esok hari akan datang lagi bersama matahari, menerbitkan harapan dan benih benih cita cita yang terpupuk oleh gemerlap sisa embun dipucuk rerumputan sepanjang jalan kewajiban, mengaktualisasikan diri dan menjadi bagian dari kehidupan makro bumi manusia.


Gempol, lewat tengah malam di kontrakan, 060316

Wednesday, March 15, 2006

Secuil Sejarah Indah




…from the third floor, watching the busy street with you in mind.
Wondering how could I let this feeling go?
Whom will I tell if the rain pours down?
Whom will I send the picture of red sky?
What do we tell the hearts then?...

Sebait kata kata cantik itu meruntuhkan bangunan dinding keyakinan yang baru saja berdiri setelah berabad abad merana, menunggu proses kering agar kuat seperti karang.
Sebait kata itu merebut simpul hati yang sudah terkendali dalam kekang. Kembali angan mempertanyakan jawaban jawabanya, menggagapi masa masa depan yang tanpa bayangan.

(sebuah percakapan dengan sebelah hati pada 09 Januari 2006)

Tuesday, March 14, 2006

….dan ….

Badai dilangit hati perlahan menepi, diam diam menyisakan keletihan dan keperihan yang menjadi sia sia untuk dicari muasalnya. Dia yang datang ketika gelap menyekap dulu, perlahan menghitung gores demi gores luka yang kelihatan mata. Dia datang untuk membuktikan bahwa disetiap mendung selalu ada garis keperakan sebagai janji akan datangnya kecerahan, bahwa mendung dan hujan badai dihadirkan sebagai penegas keindahan sesudahnya.

Tangan lembutmu memapah berdiri, bangkit dan melangkah menjejaki tangga rumah kita dibalik langit ketika senja datang mengurung. Sendi sendi masih ngilu, dengan beban masalalu melekat dipunggung dan betis kaki. Mulut mungilmu bercerita tentang warna warni lukisa yang pernah kita buat dan kita tinggalkan ditebing gua dimana kita berlindung dari kejinya alam nyata. Mulut mungil yang selalu menaburkan cerita hati, bukan keinginan apalagi ketidak inginan.

Pernah kutitipkan hatiku padamu, dengan bungkus kesementaraan yang sama sama kita sepakati hingga aku tersesat dikedalaman lain lagi. Tersesat tanpa tahu kemana harus kembali, atau kemana harus menuju. Aku hanya tahu berlari dan terus berlari menghindari matahari yang keji membakar, dan berlari menghindari gelap malam yang kejam mengurung. Ya, aku berlari menghindari hingga tak sanggup lagi menghindar kecuali menipu diri dengan segala penghiburan pribadi.

Dibalik langit biru bening itu, engkau tawarkan lagi padaku mantera mantera penegak hati, sedangkan kedua kakiku tertancap erat dibeton yang mengeras ketika kesadaranku hilang dibungkam oleh bius nurani. Bahkan setumpuk naskah catatan kitapun aku kini sulit mengejanya, menerawangkan rasanya ketika itu. Aku kehilangan ketrampilanku untuk mengumpulkan lagi satu demi satu serpihan kehidupanku dulu.

Atau, barangkali memang badai panjang itu telah merubah wujudku menjadi sepotong kabut…

(kepada sesorang, yang pernah menggenggam erat tanganku jadi pegangan ketika angin badai menerjang dulu…terimakasihku tak terhingga buatmu)

Cubicle, 060313


Friday, March 10, 2006

Petinju Lucu = tontonan yang mengesalkan

Menyaksikan pertandingan tinju antara Apolos Inury dan Anwar Solihin dikelas walter yunior 63, 5kg menyisakan kedongkolan setelah delapan ronde yang seharusnya menjadi tontonan yang penuh excitement setelah ditunggu selama satu minggu itu menjadi sesuatu yang menyebalkan. Judulnya saja tinju professional, semestinya menampilkan profesionalisme sang petinju dan para second men yang mendampinginya, tetapi yang tertayang adalah kekuatan emosi, perkelahian yang miskin dengan tehnik bertinju yang baik, bahkan jauh dari memadai. Kedua petinju lebih banyak terlibat dalam rangkulan, dorongan, dan gerakan gerakan seperti perkelahian jalanan umumnya. Maka yang tampak dilayar tv adalah adu nyali antara dua orang petinju diatas ring! Kedua petinju menyuguhkan tontonan seni beladiri yang semestinya dikelola dengan keras dan manis menjadi tontonan “lucu” tanpa tendensi untuk melawak dengan wardrobe tinju; konyol memalukan, menimbulkan kekesalan belaka bagi penonton seni bertinju.

Menonton pertandingan tinju adalah mengikuti sensasi ketegangan rivalitas dua individu, dua orang diatas ring yang mengadu kekuatan, nyali, stamina, strategi, intelegensia dan tentu keberuntungan. Tinju adalah tontonan yang seharusnya bisa mendikte adrenalin penontonya ketika kedua orang diatas ring diadu satu lawan satu dengan sederet aturan ketat yang sama sama difahami dan dikawal oleh seorang wasit. Tehnik bertinju yang baik bukan hanya soal kuat memukul, tetapi juga pintar menggunakan tehnik yang benar, pintar dalam memilih momen momen memukul, pintar dalam mengatur mengontrol dan membelanjakan stamina, dan tidak kalah penting adalah pintar membaca strategi lawan, membaca kekuatan lawan, mengantisipasi serangan lawan dan menemukan solusi jitu dan cepat untuk menetralisir serangan lawan sambil menyusun taktik serangan pada saat yang bersamaan.

Tinju professional adalah pertandingan beladiri dengan bayaran, sebuah bisnis entertainment yang memerlukan pengelolaan secara professional dari setiap elemen yang terlibat mulai dari penyelenggara pertandingan, promotor, pelatih, sampai ke hal hal kecil dari si petinju sendiri. Tetapi yang tidak kalah menonjol dari pertandingan tinju adalah sportifitas karena basis filosofisnya adalah sportif sebagai landasan dasar dari sebuah pertandingan olah raga. Semakin professional para pelaku “bisnis berantem” ini maka semakin berkelas pulalah sebagai tontonan, ketika penonton disuguhi perebutan prestise diatas ring oleh dua orang dengan cara perkelahian yang gentleman.

Bisa dibayangkan betapa tidak mudahnya seorang petinju diatas ring yang pada saat bell dibunyikan tanda perkelahian dimulai diharuskan mampu untuk menjaga emosi tetap stabil antara marah, nafsu ingin mengalahkan, nafsu ingin menyakiti badan lawan dan lain sebagainya, pada saat yang bersama harus juga menjaga agar tidak terkalahkan dalam persaingan itu. Sepanjang tiga menit ronde berlangsung baku hantam itu harus mengikuti koridor aturan yang sangat ketat; hanya boleh memukul dengan kepalan tangan yang sudah dibungkus sarung tinju pada target target yang sudah ditentukan, menghindari serangan dan melindungi anggota badan dari pukulan lawan. Padahal untuk menjatuhkan musuh dalam perkelahian (seperti dalam mix martial art) banyak anggota badan mulai dari kaki sampai kepala bisa dijadikan senjata untuk meruntuhkan keperkasaan sang lawan.

Pertandingan tinju yang menarik untuk ditonton adalah ketika petinju diatas ring memegang teguh disiplin bertinju, dengan tehnik tehnik sesuai text book yang diaplikasikan dalam kombinasi antara kekuatan fisik dan kecerdasan. Pertandingan tinju menjadi berbobot oleh karena ketatnya persaingan kedua unsur tersebut dengan kedisiplinan yang terbaca dari gaya bertinju, melambangkan ketekunan si petinju dalam berlatih keras dan terus mengembangkan andalan yang dimiliki sebagai senjata diatas ring. Chris John adalah satu dari sangat sedikit petinju Indonesia yang memiliki dedikasi dan disiplin dalam bertinju, melengkapi diri secara maksimal untuk menduduki posisi elite dalam peta tinju nasional yang secara otomatis membuka pintu peluang bagi eksistensinya di ring internasional. Chris John mengukir prestasinya dengan gemilang karena dedikasi dan intergritasnya di dunia tinju sebagai profesi yang dipilihnya sepenuh hati. Dia pantas menyandang gelar juara dunia WBA saat ini.

Bagi penonton, yang menang dan yang kalah tidaklah menjadi soal yang penting ketika pertandingan tinju terasa enak untuk ditonton, bahkan ketika petinju yang “diinginkan” untuk menangpun akhirnya kalah, rasa hormat, salut kepada si pemenang akan muncul dari penonton yang juga harus mengikuti aturan permainan sebagai penonton yang professional. Bahkan sekalipun petinjug yang diandalkan diam diam terpukul knock out oleh sebuah lucky blow lawan. Apalagi bagi si petinju, ketika bell dari ronde terakhir usai dibunyikan atau ketika wasit mengehentikan pertandingan karena salah satu terpukul jatuh dan tak sanggup melanjutkan pertandingan, si menang dan si kalah akan berpelukan sesudah saling memukul selama pertandingan, saling memuji, menerima kemenangan dengan rendah hati dan juga menerima kekalahan dengan besar hati, untuk kemudian berlatih lagi siap untuk bertanding lagi, menguji lagi hasil latihan diatas ring.

Jadi memang tinju professional tidaklah pantas dijadikan arena perkelahian yang “gemlelengan”, minim disiplin dan persiapan hanya bermodal nyali dan kekuatan fisik, sebab hanya akan menjadi tontonan dua badut yang berkelahi diatas ring, saling takut kena pukul dan kebingungan cara memukul lawan. Lucu yang tak mengundang tawa, kecuali kekesalan bagi penonton professional yang mengharap sebuah tontonan seni beladiri professional, dedikasi terhadap pilihan hidup sebagai petarung.

(sebagai bayar hutang untuk seseorang yang mempertanyakan kapan akan menulis topik ini – Engkau tak pernah pergi jauh dari hidupku…)
Belakang TMII, 060310