Thursday, April 14, 2016

Anatomi Luka Dalam


:cabekriting
Luka yang tak kasat mata terkadang mengandung sakit yang tak terkira. Tak seorangpun dapat membayangkan beban derita si sakit oleh akibat trauma benturan yang menyisa menjadi lebam. Pembengkakan dan terkadang peradangan jaringan tubuh yang mengalami sakit hanya tersembunyi di balik kulit. Darah akan mati membeku dan menghitam dalam gumpalan yang tinggal lama seolah menjadi tanda bagi titik penyesalan yang membatu karang dalam ingatan.

Luka dalam tak seorangpun dapat mengira perihnya. Ia akan berada disana dalam jangka waktu lama dan hanya si penderita saja yang tahu persis seberapa parah rasanya. Oleh sebab lamanya durasi inkubasinya, maka terkadang dalam keseharian luka dalam sering terlupakan, menjadi keseharian yang lumrah seperti umumnya kehidupan normal lainnya. Satu saja benturan kecil pada luka, satu saja singgungan lembut pada sakit maka efek nyerinya akan timbul dalam waktu lama dan parah. Lagi lagi, tak seorangpun dapat mengira ira seberapa parah perihnya.

Mestinya hanya waktu yang sanggup mengobatinya, waktu yang akan mengurangi perihnya. Tetapi sesungguhnya luka dalam tidak akan sembuh permanen oleh sebab luka dalam adalah luka permanen. Ketika luka dalam dimaksud adalah lukanya hati, maka rasa nyeri yang sering hilang timbul diibaratkan sebagai iblis dari langit yang bebas dalam menebas kenormalan. Iblis iblis merubah  kenormalan menjadi keganjilan, merubah orang baik menjadi monster, merubah tempat baik menjadi neraka tak kasat mata. Luka dalamnya hati tak akan pernah dapat terobati, dia hanya bersembuyi dibalik jam yang berputar tak mau berhenti.

Ketika luka dalam baru terbentuk oleh sebab cerita hidup memang harus demikian, maka dia akan bergabung menjadi satu dengan luka lama yang sudah ada, luka laten yang menganak pinakkan beban sakit berkepanjangan berikutnya. Iblis iblis yang diternakkan oleh luka laten itu akan dengan bebas menganiaya tanpa kenal waktu, tempat dan kondisi. Lebam produksi baru akan membangkitkan lagi lebam lama, seolah menggarami luka dalam yang selama ini tertidur, terbius oleh waktu seolah mati.

Luka dalam di rongga ingatan terkadang menghadirkan kesedihan yang seolah tak berkesudahan. Ialah ketika matahari tiba tiba terasa padam dimana kegelapan hanyalah satu satunya  teman. Kekecewaan demi kekecewaan empiric berjubelan meracuni pikiran, bagai antrian panjang meminta jatah pukulan. Telah terjadi kerusakan jaringan tak terlihat yang perlahan merubah semua arah pandang menuju kepada sesuatu yang berlainan, berkaitan dengan kesan.

Luka dalam, sakitnya selalu ada. Goresannya  tidak akan bisa sirna hanya oleh perubahan sikap tiba tiba, atas nama sikap seolah olah. Semuanya menjadi asing menyebabkan kecanggungan yang menyiksa. Selalu ada yang tersembunyi dibalik semua kata dan sikap, selalu ada yang siap untuk menyakiti dan memadamkan matahari oleh sebab memang luka dalam yang letaknya tersembunyi.

Waktu merubah segalanya, dan terkadang kita lupa cara menerima perubahan itu dengan bijaksana. Sedangkan kebijaksanaan tertinggi adalah menyerahkan segalanya keapda Yang Maha Kuasa tanpa menerbitkan protes diam diam ataupun protes terbuka kepada dunia. Menempatkan diri terlalu tinggi di peradaban dapat menyebabkan kekecewaan yang memupuk keberlangsungan luka dalam, memelihara prasangka dalam ingatan. Jika memang waktunya tiba, maka segala hal yang mungkin terjadi terkadang kita hanya harus bisa menerimnaya.

 

TMII 160414

 

 

 

 

Sunday, April 03, 2016

Nasehat Sloki


 
Malam turun bersama dengan zombie zombie berbau sangit. Jangan memandang langit, sebab disana istana demit. Jangan memandang langit agar tak lupa dimana kaki menginjak bumi. Usia telah menasehati agar langkah menepi memberi jalan kepada mereka yang terbius oleh imajinasi. Sebotol demi sebotol vodka tak akan sanggup mengusir perihnya luka,biarkan saja dia menganga sampai butir demi butir debu sang waktu akan menguburnya pura pura.

Terimalah kalah sebagai berkah, agar perangmu tak menyisakan langkah yang lelah. Gempita di langit maya bukan lagi milik kita, melainkan milik mereka yang muda. Teriakan suka cita, jerit tawa dan segala tingkah bahagia biarl janganah tersimpan dalam gelap yang nyata. Tak perlu disesali semua yang terjadi karena besok hari pasti akan berganti. Tak harus mengeluh untuk perlakuan buruk laksana teluh. Terimalah luka hati sebagai pengingat bahwa terkadang manusia memang dujauhkan dari hati nuraninya hanya oleh gelegar megah dunia.

Diam adalah menjadi pilihan bijak ketika setiap kata yang terlontar hanya membentur dinding. Perasaan dipermainkan dan dilecehkan tak perlu disikapi dengan teriakan. Cukup mengadulah keapada sepi sebab disana akan kita temuai dialog paling pribadi yang banyak berisi kebijaksanaan.Dalam diam segala pertempuran terjadi tanpa seorangpun akan peduli. Tidak aka nada pemenang ketika semua telah bahkan ketika musuh dan jagoan mati menjadi bangkai pikiran. Simpanlah tangis penuh kepedihan mennadi sederet tulisan yang akan terpajang di nisan kenangan.

Waktunya untuk menepi dan sadar diri tak perlu bertinggi hati bahwa memang kita tidak sepenting yang kita pikirkan bagi  orang lain. Biarlah semua berkecamuk dan meruyak dalam bisu yang mengahnguskan, barangkali akan kita temukan menara menara pengingat langkah ketika kaki goyah. Pernah suatu kali bunda berpetuah, bahwa jika dirasa kuat maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menanggungkan tetapi jika terlalu berat maka meletakkan adalah pilihan bijak. Segala kejadian berlandaskan kesuka relaan tak ada yang memaksa dan tak ada yang melarang. Jadilah bahwa semua yang terjadi dalam cerita hidup tiap manusia hanyalah menjalani apa yang menjadi keputusanya di masa lalu.

Di persimpangan pematang yang sepi langakah mesti dikayuh menjauh. Meninggalkan segala mimpi dan mengubur harapan akan terkabulnya doa bahwa keajaiban suatu saat akan menghampiri kita. Menjadi realistis adalah pilihan yang dituntung berdasarkan logika, bahwa terkadang kita tidak diakui lagi di tempat dimana kita pernah merasa ada, menjadi manusia dan diperlakukan sebagai manusia. Kisah kisah perjalanan tinggal mennjadi riwayat basi. Barangkali memang begitulah kisah kehidupan terjadi.

Jangan lupa mengirimkan ucapan selamat kepadanya yang telah memiliki kebebasan baru untuk memuja rasa di dunia baru. Jangan berkecil hati sebab dunia baru  bukan milik bagi mereka yang tergerus usia. Tutup semua jendela dan menajdilah pertapa yang memunguti butir demi butir kebijaksanaan yang jatuh satu demi satu seperti butir hujan di pagi sepi. Sebisa mungkin berbahagialah untuk segala sesuatu yang memberi kebahagiaan bagi makhluk lain di sisi belahan dunia. Temukanlah kedamaian dalam gelap pikiran, agar tak ada api yang membakari kepala atau mata pedang yang menusuk punggung hingga ke dada. Terima saja semua perlakuan buruk dengan mengharap karma; bahwa mereka yang mematahkan hati maka hidupnya akan dihancurkan oleh pemilikNya.

Sekarang tinggal bagaimana menyapa demit demit yang rajin menyerbu malam, bermesuman di dalam pikiran dan terus membujuk diri untuk melawan kezaliman. Meskipun musuh baru telah terlahirkan, bukan berarti kita harus larut dalam pertempuran lain lagi. Ya, menerima kalah dan mengayun langkah untuk turun dari podium adalah pilihan yang paling bijaksana.

Selamat bagimu, siapa saja yang telah memenangkan dunia dengan cara zalim.

 

Rewwin, 160403

 

Thursday, March 24, 2016

Retreat

Hujan dan angin puyuh mereda, iblis penyiksapun ikut berheti tertawa. Sejenak badan kehilangan rasa, terhuyung huyung limbung mencari suaka kedamaian. Palagan hanya berisi api dan puing puing kata kata, yang meruncing disetiap ujungnya. Jiwa menjadi letih teraniaya oleh beratnya siksa hati yang seolah tiada berujung dan berpangkal. Perkelahian selalu saja memproduksi korban, setelah mata menjadi rabun oleh debu debu masa lalu. satu demi satu kebaikan yang tertanam dulu perlahan berangsur layu oleh waktu. Tak ada tempat berlindung, kecuali mundur dari medan tempur.

Perang ini semata hanyalah pengulangan yang sama pada durasi  waktu yang berbeda. Serombongan iblis dari masalalu telah beranak pinak di langit maya dan datang sesukanya besama teman, simpatisan dan keluarganya. Semuanya menyerang dengan pedang karatan , memberi kontribusi sakit yang sama. Kiranya luka hati akan tinggal abadi, membentuk persekutuan zombie dapat dibangkitkan hanya oleh satu perbuatan. Semua seolah hidup kembali, kejadian empiris memilukan seolah baru kemarin selesai.

Letih fisik dan batin luluh dalam semadi yang khidmat. Menghitung luka luka, membaca setiap perih yang terpanen dari sengitnya amarah membabibuta. Diam dalam perenungan menunggu pikiran mengendap dan pandangan menemukan cahaya. Lalu berkontemplasi sendirian, menanya kepada nurani tentang makna semua kejadian, tentang pengertian palin jujur yang disimpan dalam diam. Seribu filsafat bijak dikumpulkan untuk menjadi kekuatan pendorong tekad, bahwa kekalahan bukanlah hal yang menghinakan. Mundur dan memeberi peluang akan lebih mulia bagi kemanusiaan meskipun tak akan ada dalam berita dunia maya.

Sikap ikhlas akan membasuh semua pikiran api yang menghanguskan diri, sedangkan sikap legowo akan meredam geram oleh sebab dendam diam diam. Ikhlas memang tidak mudah, terutama ikhlas menerima bahwa diri telah kalah oleh semua bentuk perbandingan duniawi. Lebih sulit lagi tentunya adalah besikap legowo dalam menerima perubahan sebagai seseuatu yang tidak sama lagi. Perubahan satu sisi yang merubah semua segi.

Nasehat bijak dalam semadi mengisyaratkan untuk mengubur kekakuan hati dan kerasnya ego di kepala. Lebih bijak dalam membaca fakta, bahwa memang perubahan tak bisa dihindarkan. Bahwa waktu memang merubah segala hal di dalam kehidupan, termasuk merubah karakter dan kepribadian seseorang. Kita tidak punya kuasa apa apa untuk mempengaruhi perubahan orang lain menjadi parameter ideal dalam persepsi kita. Ketika sesorang tiba tiba berubah menjadi asing, tentu ada sesuatu yang sangat perkasa yang mampu merubahnya. Sesuatu yang sangat perkasa itu bisa apa saja, segala sesuatu yang merasuki jiwa. Ketika perubahan itu dilakukan tanpa kesadaran, maka boleh dikatakan perubahan itu karena suatu kemabukan. Suatu zat baru telah merasuki saraf hinggal mempengarhui pikiran dan persepsi sampai kepada implementasi dalam berperilaku.

Kelenturan sikap diperlukan untuk dapat menentukan langkah yang tepat tanpa menimbulkan tangis berkepanjangan apalagi melahirkan pribadi baru yang phatetic . Kesadaran nurani yang paling jujur diperlukan demi menuntun hati menuju cahaya keikhlasan. Bahwa kehidupan ini dinamis bahkan terkadang inkonsisten. Perubahan pada satu sisi bilik hidup harus diterima dan disikapi dengan perubahan pesepsi pada diri sendiri. Jika sebuah mustika jiwa telah mengalami degradasi makna, maka sesungguhnya akan lebih bijaksana bagi pemiliknya untuk segera melipat meja, mengemasi sisa cerita dan mengemas dalam peti peti kenangan.

Terkadang kita tidak harus mempertahankan apa yang selama ini dianggap sebagai kenyamanan. Keluar dari lingkaran kenyamanan itu juga bisa berarti memberikan kesempatan bagi orang lain untj mencicipi dunia permainan penuh petualangan yang memabukkan. Hanya mereka yang berjiwa besar dan berdada lebar yang sanggup menahan langkah, lalu perlahan bergerak menyamping dan merelakan diri tertinggal. Segala bentuk euphoria akan ada ujungnya, seperti halnya tidak ada pesta yang tidak berakhir. Jika pengaruh zat memabukkan perlahan susut oleh metabolism tubuh secara alami, kesadaran akan datang bersama datangnya penyesalan. Dan penyesalan terbesar bagi kemabukan instant adalah telah mengabaikan kesantunan dan kepantasan kepada mereka yang mengajari kita tentang peradaban.

Dalam retreat pelajaran demi pelajaran bijak diterima dari wangsit kesunyian semedi. Bahwa kita tidak perlu menganggap diri terlalu penting bagi orang lain. Justru orang lainlah yang selalu lebih penting dari diri kita sendiri. Segala sesuatu tidak membutuhkan publikasi, tetapi hanya perlu penghayatan yang hakiki demi kebahagiaan yang paling  pribadi. Dengan demikian maka perihnya luka akibat dari perang tidak harus terjadi. Kita bisa berharap, kita bisa meminta tetapi tidak bisa memaksa. Masing masin orang hanya menjalani keputusan yang dibuatnya, lengkap dengan konskwensinya. Sesuatu kejadian yang melumpuhkan mungkin akan meninggalkan luka, tetapi luka akan sembuh oleh waktu. Koreng yang membekas bisa menjadi catatan masa depan agar kelak lebih hati hati dalam mempercayai orang.

Memilih berhenti, menerima kekalahan dengan perwira dan melepaskan segala kepentingan atas mustika yang kehilangan  makna sama halnya dengan merendah dalam kemenangan. Kata hati tak bisa dipaksakan kecuali diikuti, dan hidup adalah menjalani keputusan terbaik berdasarkan pertimbangan nurani paling jujur yang jika beruntung dapat kita jumpai dalam kontemplasi retreat.

Perenungan akan membawa kita kepada jalan dimana hati menunjukkan; tetap berjalan bergandengan atau berhenti lalu saling melambaikan sapu tangan isyarat perpisahan.

Rewwin, 160324

Wednesday, March 16, 2016

Risalah Kesangsian

Tanpa dibuat buat, pikiran beranak pinak dalam benak dan mempermainkan badan serta batin. Mereka semena mena. Akhirnya teramuk oleh segala macam pikiran tidak nyaman yang menyerang sejak kemarin badai diciptakan. Entah dari mana semua berawal, dan entah sampai kapan akan berakhir. Meskipun  akan sulit memahami apa yang terasa, tetapi tidak akan ada ruginya mencatat apa yang terasa. Selebihnya, tidak perlu berharap reaksi yang berlebihan.


Iblis muncul dari langit, ketika tirai tirai rahasia terkuak sehelai demi sehelai dan semua berisi  catatan masa lalu. Catatan masa lalu yang terangkai menjadi keadaan kahar, berubahnya kepribadian menjadi pragmatis, prakits dan terkotak kotak dalam labirin rahasia. Labirin yang menyebabkan ketersesatan paham, ketersesatan pemikiran oleh sebab terlalu banyak menyimpulkan prasangka. Kejadiannya jadi melantur tidak karuan, menuruti segala rasa kepenasaran tentang kebenarn yang hakiki. Semuanya menjadi jelas benderang ketika satu demi satu mozaik masa silam terbentuk menjadi sebuah alasan kenapa badai harus diciptakan, dua bulan ke belakang.

Butiran lembut yang tersaring dari semua kejadian masasilam yang disimpulkan dalam sebuah teori konspirasi mengarah kepada pembenaran akan alasan amputasi hati. Yaitu bahwa selama kurun waktu dua bulan itu telah mampu merubah persepsi sedemikian besar. Perubahan persepsi memberi dampak juga kepada perubahan perilaku dan segala tetek bengek lainya.. Jika ditelaah kembali, dasar dasar permintaan amputasi itu dapat dibaca jelas di dunia maya, dunia yang bisa dianggap persembunyian seenaknya dan sekaligus menyimpan jawaban sebanyak banyaknya. Segala indikasi membuat akal sehat begitu mudah menyimpulkan, bahwa dunia baru telah menjanjikan banyak keceriaan dan semangat baru. Orang lama menjadi tidak ada apa apanya dan untuk ditinggalkan, diabaikan. Lalu lahirlah pribadi baru, pribadi 2016 namanya, yang sebenarnya tidak samasekali baru karena hanya kembali ke pribadi lama; bintang dunia maya. Selebriti media sosial. Hal hal lebih personal dan langsung mengena ke individu menjadi ternomorduakan. Pribadi lama dalam bentuk baru yang pragmatis. Itulah keajaiban barang baru.

Segala yang baru memang selalu menarik perhatian dan mengandung banyak hal menjanjikan, terutama untuk mereka yang suka akan pameran keberadaan. Pengabaian bisa menjadi budaya baru karena pecahnya konsentrasi dan prioritas dalam memberikan perhatian. Barang baru sungguh bisa merenggutkan seseoarng dari kita, terutama perhatiannya. Itu harus kita sadari bersama. Barang baru  adalah magnet baru yang menjauhkan seseorang dari yang dekat.  Hal ini patut diamine terutama jika barang baru itu tidak berwujud benda padat, ataupun benda cair melainkan sesuatu yang tak teraba tapi terasa. Barang baru yang dapat menimbulkan suasana hati yang berbeda, serba  baru dan serba menarik. Petualangan batin yang tak tergantikan dengan hal hal yang sudah ada sebelumnya. Hanya karena barang baru pulalah segala sesuatu yang dulunya baru bisa menjadi ‘terasa’ usang tiba tiba. Usang membosankan dan hanya layak jadi rombeng kenangan. Barang baru, dunia baru dapat memberikan kepercayaan diri bagi seseorang untuk dengan ringan hati melukai tanpa merasa melukai, atau setidaknya memiliki dalih bahwa maksudnya tidak untuk melukai. Orang bisa menjadi egois ternyata.

Memang terkadang semangat yang menyala nyala berlebihan, berkorbar kobar menyulut antusiasme untuk selalu terlibat dan terikat kapanpun, dimanapun di seetiap kesempatan. Itulah keajaiban barang baru, dunia baru, dunia yang memabukkan. Diam diam semangat dan antusiasme itu mengabaikan nilai nilai lama, nilai nilai yang tertanam sangat dalam di setiap inci batin orang yang konon dianggap istimewa. Barang baru dapat merubah orang menjadi bukan lagi yang dulu selalu dapat dipercaya dan dapat menjaga hati dengan baik. Kepercayaan kepadanya kemudian diliputi oleh masygul, oleh kesangsian yang justru terjawab oleh sikap  inkonsisten.

Perubahan perilaku dan perhatian menimbulkan kesangsian yang terpelihara untuk jangka waktu lama. Padahal jika saja suka, maka ribuan kata kata yang disusun berbeda dengan esensi sama berulang ulang akan menujelaskan secara terperinci mengenai hikayat kesangsian itu. Hal hal kecil yang biasanya tak perlu keraguan bisa menjadi symbol dari pembuktian akan adanya sangsi yang timbul. Hal hal kecil bagi kita sungguh bisa berarti sesuatu yang besar bagi orang lain, terutama bagi mereka yang menghayati tentang makna dan bobotnya. Hal hal kecil dapat menjadi sesuatu yang detail ketika kita melihat dengan persepsi makro. Perhatian perhatian sederhana yang hilang dari keseharian dapat bermakna pengabaian yang besar bagi mereka yang dapat menghayati hubungan dengan kepercayaan sebagai platform. . Semua sikap abai dan datar akan teringat dan menjadi pengikat atas kadar sangsi dalam hati.

Chatting di gadget misalnya, telah terbukti membunuh banyak orang karena menyebabkan kecelakaan ketika gadget tidak dipergunakan dengan bijaksana. Chatting di gadget juga telah tebukti menjauhkan seseorang yang dekat dalam pelukan, dan mendekatkan mereka yang jauh kedalam pelukan. Dunia semakin aneh, saudara. Maka patut juga dipertanyakan dalam hati ketika kita bersama seseorang yang konon dekat secara lahir batin tetapi justru sibuk dengan gadgetnya, sibuk melayani fans di ujung sana. Atau bahkan tiba tiba si gadget disembunyikan sedemikian rupa seolah mati kerena tidak ada baterai atau kehabisan pulsa, padahal puluhan bahkan mungkin ratusan message muncul minta diperhatikan. Ketika hal itu dikonfirmasikan, jawabanya sudah barang tentu ambigius, membingungkan karena perkataan tidak sesuai dengan sikap perbuatan.  

Pengalaman buruk masalalu yang terekam di dunia maya juga dapat menyebabkan orang menjadi setengah gila, terutama pada keadaan yang tidak stabil dan seimbang atau limbung batin. Sesuatu yang terjadi bertahun silam dapat ditemukan dengan mudahnya dan semena mena menjadi seperti bara yang tersiram premium di kepala, di dada juga. Semuanya terjadi dalam diam diam, hanya si pemilik empiris sendiri yang bisa merasakan. Maka dari itu terkadang hati menasehatkan untuk samasekali menutup mata dari duni maya agar damai di bumi senantiasa. Media sosial bisa menjadi bencana batin bagi mereka yang percaya hahwa hidup memerlukan penghayatan, bukan hanya sekedar seremonial belaka.

Mimpi mimpi indah yang terhambur dalam perkataan bisa jadi berbeda bobot dan komtemen pemenuhanya bagi dua orang yang memang tidak seimbang kontribusi persasaan pada satu hubungan. Perhatian, konsentrasi dan prioritas terhadap pasangan mudah untuk terbagi dengan kehadiran barang baru entah apa namanya. Barang baru, dunia baru itu telah menjadi lebih penting daripada hal hal lain dalam kehidupan. Dia punya segalanya yang orang lain tidak punya untuk dapat tertawa lepas dan menjelajah dunia dengan bebas. Memang sedemikian ajaib dan memabukkan!

Jika seseorang memang sudah terubah oleh karena barang baru itu, maka sebetulnya dia tidak perlu susah susah berusaha memaksakan empati. Karena cukup dengan membaca ulang kalimat yang  tersusun, dan mengendapkannya  dalam nurani  sendiri maka kita akan tahu apa akibat yang timbul dari sikap kita kepada orang lain. Kebenaran dan kesalahan kesimpulan dan pendapat akan dapat ditemukan disana. Akan tetapi hal itu biasanya tidak penting bagi mereka yang berubah menjadi pribadi pragmatis, mabuk oleh keajaiban dunia baru, barang baru. Karena untuk dapat memahami keluh kesah seseorang kita perlu mengembalikan kepada kesadaran nurani kita atas apa yang disampaikan. Kalau hanya dibaca sekilas lalu dilupakan, itu tidak ubahnya seperti membaca berita koran pagi yang kemudian berubah menjadi kertas pembungkus benda di siang hari. Kehilangan makna dan fungsi esensial dari sebuah komunikasi. Tetapi jika sebuah hubungan akhrnyapun berakhir seperti koran tadi, maka memang harus seperti itu kisah hidup yang harus dijalani.

Kita tidak bisa membentuk orang lain menjadi manusia ideal menurut persepsi kita. Empatilah yang semestinya bisa membawa diri, hati dan sikap saling menjaga dan membahagiakan pasangan. Dan adalah mutlak bagi kita untuk membiarkan orang lain menjadi dirinya sendiri.

 

Sukorejo, 160316

Saturday, March 05, 2016

Tumpul


Segala bentuk luka akan sembuh oleh waktu, dan segala bentuk kehidupan akan berubah hanya oleh sang waktu. Setidaknya keyakinan itu masih terpegang dan tetap terbukti sejak awal mula zaman mulai kehidupan manusia hingga kepada berkembangya peradaban yang menyertainya. Demikianlah lakon kehidupan.
Waktu menguasai usia dan atas kuasa waktu  pula semua nilai akan mengalami penyusutan, tak terkecuali perasaan manusia. Kepedulian yang dulu penuh, perhatian yang dulu teguh akan perlahan juga memudar menjadi pedang tumpul oleh kuasa waktu. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah telah ditemukannya hal hal baru sepanjang jalan pengalaman, sehingga kepedulian dan kepekaan menjadi terkaburkan. Bagi orang yang berhati sensitive tentu ini bisa disebut sebagai pengabaian.
 
Mengenal seseorang sehingga begitu dekatnya  ibarat mengenal udara dalam kehidupan. Dia menjadi bagian tak terpisahkan dari tarikan dan hembusan nafas, memberi oksigen yang menyelenggarakan hidup. Dan ketika udara berganti tekanan, suhu, bau bahkan arahnyapun akan sangat mudah untuk dirasakan, tidak perlu kursus kepekaan rasa. Yang diperlukan hanya peduli sejenak memikir dan menyimpulkan. Akan lebih mudah lagi jika kita sanggup mengumpulkan dan memelihara rasa bersyukur sehingga menempatkan udara sebagai sesuatu yang istimewa.

Matapedang yang tumpul ibarat cahaya yang perlahan meredup. Keduanya menerbitkan ketidak yakinan dan lalu menganak pinakkan kebingungan tersendiri yang hanya berputar putar di dalam ingatan, melahirkan kesimpulan kesimpulan subyektif. Menemukan penyebabnya akan sedikit sulit, tetapi menginventarisir daftar ketidak sesuaian tentu lebih mudah. Dari daftar ketidak sesuaian itu semua bersumbu kepada adanya perubahan suhu, tekanan dan arah dari pergaulan.  Mata pedang menjadi tumpul karena terkikis oleh tebasan tebasan kepada pengalaman baru, kesenagan baru dan tentunya gairah gairah baru. Pemikiran menyisakan residu bahwa matapedang yang dulu tajam menusuk hati pada kenyataanya menjadi menumpul oleh kuasa waktu. Matapedang yang dulu ibarat sinar penerang gelap perlahan meredup oleh perubahan yang tak bisa terhindarkan. Ketajaman kepekaan persaan sudah jauh berkurang meskipun bukan sebagai pengabaian. Kepekaan, kepedulian dan fokus tidak sepenuh dulu.  
Ketergantungan terhadap teknologi dan gadget misalnya, telah menjauhkan orang dari kedekatan nyata di dunia nyata. Memang benar, pameo yang mengatakan bahwa gadget akan mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Sungguh pameo itu hanya bisa diamini oleh mereka yang tidak telibat dalam melakukannya.  Gadget soelah menciptakan orang menjadi multi talenta, yang dapat mengerjakan banyak konsentrasi pada saat yang bersamaan. Bahkan pada saat seseorang bersama seseorang yang katanya istimewa. Bagaimana mungkin seorang yang menempatkan sesorang secara istimewa dapa ‘disambi’ dengan bercanda ria atau berbagi moment dengn group, atau bahkan mengobrol dengan orang lain entah dimana, entah siapa, bahkan mungkin saling merayu lewat alat canggih itu. Sedihnya lagi, ketika teguran disampaikan akan hal itu seolah samasekali tidak memiliki makna. Makna bahwa semestinya keberadaan mereka yang nyata lebih dihargai daripada hingar bingar dunia maya yang penuh dengan pemujaan akan popularitas. Tetapi kekuatan gadget memang luar biasa, dia bisa mengabaikan orang yang jelas jelas sekian senti dari tatapan mata.
 
Tanpa bermaksud menyalahkan kemajuan teknologi, gadget juga telah menjadi taman bermain rahasia yang berbahaya. Semestinya dunia maya juga  diperhitungkan sebagai media untuk menjaga perasaan pasangan, dengan tidak memamerkan kekaguman, kedekatan maupun intimasi dengan orang lain disana. Tumpulnya ketajaman mata hati seolah tidak membebani samasekali untuk mengekspose kedekatan keistimewaan orang orang pujaan di dunia maya. Tujuannya jelas, agar seluruh dunia mengetahuinya, tak peduli jika itu menyebabkan sakit hati atau bahkan orang lain bunuh diri. Tentu saja konfirmasi selalu berakhir dengan  “tidak ada apa apa” dengan mereka. Tentu saja, karena lidah tidak bertulang! Tetapi akal sehat juga bisa membaca dengan sangat mudah, hal yang terjawab sebagai tidak ada apa apa itu bukan sekedar tanpa makna. Tidak mungkinlah menempatkan orang asing untuk ditempel ketat di dunia maya, diikuti setiap gerak dan kegiatannya. Bukankah itu memuja?? Tidak mungkinlah orang samasekali asing namanya akan rajin mengiasi pujian dan pemujaan di dinding langit maya. Tidak mungkin kalau dia tidak mengitari hati Ah, sebenarnya disana ada banyak jarum yang siap merejam dada bagi sesiapa yang berhati lentur. Gadget dan dunia maya telah menumpulkan mata hati sebagai pecinta, bahkan sebagai manusia.

Tumpulnya matapedang penuntun hati juga dapat menyebabkan sikap inkonsisten. Inkonsistensi yang dapat mempengaruhi terhadap kepercayaan sedangkan kepercayaan adalah modal awal dari suatu hubungan. Janji janji kecil yang diingkari tanpa merasa bersalah, tanpa merasa terbebani sesungguhnya adalah cermin paling nyata dari ketumpulan perasaan itu. Pada skema yang lebih besar, hal yang lebih penting yang menyangkut kualitas dan status hubungan, maka akan sulit untuk disimpulkan oleh karena alasan yang banyak dan berubah ubah. Akan tetapi yang paling nyata dari inkonsistensi sebagai akibat dari tumpulnya kepekaan matapedang adalah ketidak sesuaian antara alasan yang disampaikan dengan kenyataan yang dijalankan. Semangat baru untuk membagi moment dengan dunia, dengan orang orang lain yang baru dikenal telah mengaburkan focus perhatian. Dan jika focus baru itu dulu disebut sebgai pelarian, pada kenyataanya telah menjadi rumah baru yang menentramkan. Maklum, disana ada pribadi pribadi baru  yang mengagumkan, yang lebih membutuhkan ketajaman mata pedang, perhatian, waktu dan sinar terang.
Matapedang kebanggaan sudah perlahan menumpul, aus termakan oleh waktu dan kejadian, aus oleh banyaknya excitement baru yang mengaburkan kepekaan. Bahkan ribuan huruf yang tersusun dalam kalimat sebagai penjelas dari isi hatipun tinggal hanya terbaca lalu terabaikan tanpa perasaan. Mungkin memang sudah tidak tajam lagi kalimat yang tersusun seperti halnya tidak tajamnya mata hati  pembaca dalam menyelami makna dari setiap kata yang terangkai.  Ya, hal hal baru terkadang menggaburkan focus kepada hal lama yang sudah ada dan menjadi bagian dari udara.
 
Ketertarikan kepada udara sudah terpecah pecah oleh ketertarikan  kepada hal hal lain yang lebih baru. Dinding langit yang dulu penuh graffiti akan kisah dua orang yang saling memuja rasa, perlahan kusam terbengkalai.  Jejak sepanjang jalan buntu itu sekarang sepi seolah tak lagi punya arti. Gemerlap dunia selebriti maya  telah mengalahkan keberadaannya, teabaikan seolah tidak pernah ada. Kedekatan fisik tidak lagi menentukan kedekatan hati, terbukti dengan tidak bermaknanya lagi tatapan mata bahkan ucapan berat berisi segala isi hati. Semua mengabur dalam dengkur, ditinggal pergi bermimpi penuh fantasi bak selebriti.  Udara menjadi tidak  menarik lagi , dan matapedang yang dulu selalu tajam menusuk relung kalbu ketika bedekatan sudah tumpul, sorotnya redup dan berganti arah ke alam baru penuh gempita.

Jika hal baru, dunia baru, kesenangan baru telah membius seluruh jalinan syaraf pikiran dan hati, maka ketajaman  kepekaan tenggang rasa akan menjadi tumpul. Perhatian dan kepedulian akan tinggal sebagai basa basi semata demi pura pura menjaga persaaan. Maka akan bijak jika kemudian hal itu diterima sebagai bagian dari cerita yang memang harus terjadi, seperti halnya kedaaan hari ini yang terbentuk oleh hal hal wajar alami sebelumnya. Memberikan yang terbaik selagi bias dan selagi memungkinkan adalah cara bijaksana sebagai langkah mini pembuktian diri  bahwa perbuatan baik tidak pernah sia sia. Baru kemudian, siapkan hati untuk dapat kuat menerima perihnaya matapedang yang tumpul menembus jantung; saatnya berakhir satu  riwayat kehidupan. Mati tinggal nisan kenangan dan lalu terlupakan!
 
Jogyakarta 160305

Wednesday, February 24, 2016

Sengaja Disleksia

Sudah bukan menjadi pengetahuan baru bahwa setiap hubungan antar manusia akan mengalami pasang surutnya, kencang dan renggangnya sendiri dengan sebab akibat yang bervariasi. Terkadang bahkan diluar pemikiran logika apa yang menjadi penyebab dua orang bisa begitu akrab dan pada momen lainnya dua orang yang akrab itu perlahan atau tiba tiba menjadi asing.

Suami istri bisa berpisah dalam bentuk perceraian, padahal tekad menjadi suami istri justru bertentangan dengan perceraian itu sendiri. Ketidak cocokan yang dijadikan alasan bisa menjadi bemper alasan, mengesampingkan kepentingan lain yang lebih besar; anak misalnya. Ketika perceraian terjadi maka terciptalah dua manusia asing baru. Entah keduanya atau salah satunya telah menemukan dunia ideal diluar perkawinan yang mereka bina dengan awalan penuh perayaan. Penyebabnyapun bukan sekedar keinginan, karena pasti telah didahului oleh konflik, percekcokan yang kemudian mencetuskan ide peceraian. Dalam perceraian pasti ada pihak yang merasa menang dan ada pihak yang merasa dikalahkan. Tetapi jika kita jeli, korban yang sebenarnya adalah anak anak yang telah terlanjur lahir dari perkawinan tersebut. Betapa egoisnya orang tua yang bercerai karena arogansi pribadi dan tidak mempertimbangkan kebutuhan psikologis anak. Sedangkan keadilan kepada anak anak, dijustifikasi dengan kebutuhan materi yang bakal terpenuhi.

Kemudian orang pacaran. Semenggebu gebu apapun rindu, sedahsyat apapun perasaan cinta asmara yang menggilakan, maka waktu akan memudarkannya juga, berubah menjadi hari hari yang biasa. Penghargaan dan pemujaan akan bergeser kualitasnya, skala prioritas akan pula turut bergerak mengikuti perkembangan keadaan. Semakin bertumbuhnya waktu, orang orang baru akan datang dalam pergaulan. Orang orang baru yang terkadang ternyata dirasa lebih memesona dari dia yang sudah ada sebelumnya. Asmara yang meluap luap, pemujaan yang berlebih lebihan yang dulu menggilakan telah menguap seolah lupa. Dalam tahap yang kritis, hubungan pacaranpun bisa berakhir dengan status putus, tak lagi berpacaran tinggal menyandang gelar sebagai mantan.

Selanjutnya adalah teman. Teman yang sebenar benarnya teman adalah hubungan yang tumbuh bukan karen apa yang terlihat tetapi apa yang dirasa. Segala bentuk hubungan khsusus dua manusia didasari atau paling tidak diawali dengan pertemanan, bukan? Konon teman yang baik adalah titisan malaikat yang akan menjaga kita dari keadaan buruk yang mungkin terjadi. Menguatkan hati dan kaki kita ketika keadaan melemahkan, dan menjunjung tinggi itikad baik dalam setiap kesempatan. Tenggang rasa menjadi kunci sedangkan komunikasi yang tidak berlebihan tanpa sadar akan mengikat dua pribadi dalam bentuk yang kuat. Akan tetapi, waktu juga akan menentukan akhirnya. Sebagian pertemanan berakhir tragis dalam bentuk permusuhan, sebagian lagi tetap ada meskipun hanya tinggal dalam kenangan.

Yang lebih menarik dari fenomena biasa tentang berpisahnya dua orang yang sebelumnya terikat hati adalah cara cara mengakhirinya. Muslihat dan tipu daya kadang digunakan hanya untuk menyatakan maksud meninggalkan. Apalagi jika itu terjadi oleh adanya godaan baru yang lebih menjanjikan. Musuh manusia adalah kebosanan, dan terkadang orang bisa bosan berinteraksi intensif dengan seseorang lainnya. Demi menjaga persaan maupun atas nama etika kemanusiaan, maka strategi culas kadang dimainkan. Yang paling umum dan sering terjadi adalah berpura pura lupa. Pura pura lupa cara membaca jalan pikiran partnernya. Itu namanya disleksia yang disengaja, dimana setelah sekian tahun berjalan bersama dan sama sama berada di halaman buku yang sama tiba tiba menyimpulkan pengakuan bahwa dia lupa caranya mengerti jalan pikiran dan sikap partnernya. Sikap tiba tiba seperti itu dapat menimbulkan kebingungan dan kekecewaan, terkadang malahan kemarahan. Tidak dipungkiri memang , tidak ada satupun manusia yang bisa menyelami jalan pikiran orang lain  apalagi dapat membaca isi hati orang lain. Tetapi interaksi istimewa bertahun tahun pasti akan menciptakan intuisi dari kedua orang tersebut yang tanpa sadar terbentuk dalam sebuah jalinan telepati. Jadi ketika seseorang yang begitu dekat dan hidup dihati bertahun tahun, seolah telah manjadi satu bagian dari kehidupan biasa sehari hari tiba tiba menyatakan bahwa dia tidak memahami apa yang kita rasa, sesungguhnya itu adalah disleksia yang disengaja. Kebohongan memang dipraktekkan tanpa perasaan!

Kesengajaan untuk lupa cara membaca perasaan hati partnernya sama saja mengabaikan tenggang rasa yang selama ini sudah ada dan membentuk semacam perekat tak terlihat bagi dua jiwa. Ketika sengaja disleksia dilancarkan sebagai strategi, sesunggunya mudah saja menyimpulkan keadaan bahwa sebetulnya hubungan istimewa itu sudah tidak lagi istimewa. Penjagaan dan penghargaan yang begitu tinggi selama ini menjadi seolah olah tidak berarti. Sengaja disleksia dalah tindakan yang sangat menyakiti dan dapat membalikkan keadaan yang harmonis menjadi antagonis bahkan terkadang melahirkan dendam. Sungguh kasihan bagi mereka yang diabaikan begitu saja dengan sengaja hanya karena datangnya fase baru di dunia baru yang tersembunyi.

Nasehat saya untuk mereka yang teraniaya oleh sikap sengaja disleksia ini adalah, berhentilah menjerit, berhentilah meratap, berhentilah memvisualisasikan perihnya  perasaan dalam rangkaian kata kata. Terimalah sakit hati sebagai sakit yang harus terjadi. Sebab, sebanyak apapun ekspresi dan visualisasi perasaan hati, sudah samasekali tidak ada arti. Dia sudah pura pura lupa membaca perasaan hati kekasihnya. Maka segala yang tertulis dengan penuh perasaan akan terbaca tanpa perasaan.


Rungkut 160224




Monday, February 22, 2016

No Name

Yang lahir dari pikiran subyektif ketika kegusaran menguasai siang malam adalah pukulan demi tikaman yang dialamatkan kepada diri sendiri. Pencarian yang melelahkan hanya memproduksi musuh musuh tak kasat mata yang memperpanjang malam hingga subuh datang. Pikiran disiksa oleh tebakan tebakan tak karuan yang didasari oleh perasaan dikalahkan. Inilah pertempuran dahsyat yang terjadi dengan sangat diam. Pertempuran yang memporak porandakan seluruh tatanan kepercayaan yang tertanam sejak belia.

Dia yang datang dari ingar bingar dunia muda, kesatria berbaju zirah dengan pelindung kepala hingga muka. Tangan kirinya mengekang perisai, sedang di tangan kanannya pedang tajam seolah menawarkan kematian.  Dia yang mengelilingi hati dengan setangkai bunga di tangan, menawarkan keindahan dan mengaburkan pandangan pada kenyataan. Dia yang mengelilingi hati dan mencari celah celah pintu yang tak terkunci, hanya untuk mencuri. Apa yang sudah ada biarlah mati, sebab tunas tunas mudah jauh lebih menjanjikan. Seiringnya, tawa dan cerita asamara membahana di langit maya, mengabarkan kepada dunia tentang dua hati yang berbahagia. Tak peduli siapa yang akan membacanya!

Dia yang datang padamu dengan gemuruh dan gempita, menawarkan tawa dan lautan bunga bunga, pun rapi tersembunyi demi sakit hati. Hilang sudah ketulusan yang terbangun delapan tahun dengan kesahajaaan, semuanya musnah begitu saja, berganti dengan sandirwara sikap; menjadi basa basi belaka dalam setiap ucapan. Rengekan menghibakan berhari hari seolah tidak ada arti, oleh sebab memang sudah tak ada arti. Tak perlu disesali sebab semua rasa telah diungkapkan dengan semua bahasa dan semua cara.

Dia yang datang dengan pedang ditangan, mengelilingi hati dan hari hari taburan api. Ke kepala, dada hingga mematikan matahari. Ternyata luka yang terasa hanya menjadi milik pribadi, tak dapat terbagi. Empati telah mati sejak datangnya pelangi dalam hari hari yang tersembunyi. Ribuan kata yang tersusun sebagai visualisasi rasa tak memiliki makna sedikitpun, semua bisu bak lembaran koran bekas pembersih kotoran ayam di lantai. Kata kata yang terukir penuh perasaan telah terbaca tanpa perasaan, bahkan persaaan sebagai manusia sekalipun. Etika hubungan manusia yang terbangun sekian lama telah sia sia hanya oleh datangnya ksatria baru penyilau pandang.

Dia yang datang dengan segudang harapan bagimu, telah mengajarkan ilmu baru tentang bagaiaman kebal terhadap rasa orang lain. Kepekaan hanya dimiliki oleh mereka yan memiliki hati, dan ketika rintihan yang tak dapat dipahami sebagai sebuah siksa, maka sesungguhnya semua hanya sia sia. Semua menjadi hambar dan basa basi belaka. Menyisakan jutaan anak iblis yang menyerbu dari setiap sudut bumi, menusukkan jarum  jarum beracun disekujur kepala. Kebinngungan telah merajam keyakinan baru tentang azas kebaikan sebagai landasan semua sikap. Pertanyaan yang terlalu besar dan terlalu banyak menjadi bukti bahwa kita tak lagi berpijak di bumi yang sama.

Jika memang harus pergi dengan ksatria pembawa bunga, berjalanlah dengan santun tanpa meninggalkan bibit bibit dendam kepada orang yang tulus menyayangi. Kenangan masalalu bukan lagi menjadi milikmu sebab bagimu masa depan melempang sepanjang jalan. Kenangan dan masalalu biar menjadi racun mematikan bagi yang dia yang gemar mengasihani diri. Tak perlu pula mencoba menterjemahkan isi tangis dan cerita duka lara darinya, sebab percuma saja, tak akan dapat dimengerti.

Noname, ksatria tanpa nama, tersembunyi rapi dirimbunya hati. Dia yang datang dengan pedang dan bunga telah memenangkan hatimu untuk berlalu tanpa empati dari cerita yang terbangun menjadi bukit kenangan, monumen abadi yang sebentar akan menjelma menjadi gunung berapi. Gunung berapi yang siap menghanguskan segala  yang didekatnya ketika erupsi terjadi. Dia yang datang tanpa nama dan tanpa muka, telah menjadi hantu blau yang meluluh lantakkan kebanggaan dan kepercayaan yang terbangun tanpa sengaja.

Berbahagialah menyambut datangnya dunia baru dengan tunas tunas baru bertumbuhan yang akan merinmbunkan kehidupan.
Rungkut 160222

Friday, February 19, 2016

Yang Tersembunyi

: mp

Pada akhirnya langkahpun perlahan goyah, meniti pematang karang dengan kaki nurani telanjang menuju kepada akhir kisah. Batin tak sanggup lagi menahan jutaan jari menunjuk muka, menghempaskan pada ketidak berdayaan akut. Hari hari terakhir tercatati dengan dada sesak sebagai hitungan mundur menuju penghabisan. Tangis menderu ketika satu demi satu batu kerikil dan lumpur kita rangkai agar menjadi tembok yang memisahkan untuk selamanya. Bukankah dunia sudah berbeda seratus delapan puluh derajat ketika tembok penghalang sudah terbangun kelak? Dan bukankah kehidupan menjadi buta  ketika kita tak harus saling tahu kisah hidup yang menyertai perjalanan kita sendirian kelak?
Langkah kecil telah dinobatkan sebagai niat, meskipun batin tak bisa berhenti menggusiri setiap lapis rahasia di langit maya. Dan itu sama halnya dengan menikam nikamkan belati karatan kedalam jantung sendiri yang terbakar, mengetahui begitu banyak kejadian terlewatkan selama ini, dan begitu banyak yang temuan diantara coretan coretan kenangan di dinding langit. Kegusaran memporak porandakan tegguh yang terbangun dengan susah payah, dengan segala upaya rahasia lewat jalan sangat teramat sepi.

Berkelahi melawan ego sendiri, dan lalu tersungkur oleh kekalahan telak saat ini, seolah berharap bumi akan kehilangan matahari untuk selamanya; sebab dalam gelap kita hanya berteman pikiran. Mengajari hati untuk memahami harapan yang terlahirkan premature, sama halnya menelanjangi keegoisan sendiri yang selama ini berjubah kompromi. Rasanya memang tidak ada hak  untuk untuk menolak kemauan itu, seolah mengebiri cita cita mulia yang tak sanggup terwujud nyata dari semula.

Pada saat batin lelah dan sengsara oleh tindasan rasa, kenangan masa lalu dan bayangan masa depan mempermainkan ingatan dengan kejamnya. Sepasukan iblis bernama prasangka menyerbu tak pandang bulu, melesat dari kisi kisi langit maya dan langsung menghujam kedalam metabolisme kehidupan amat pribadi. Raga telah kehilangan ruhnya, bergerak seolah hidup bagai zombie ditengah pasar. Pikiran dan hati telah pergi meninggalkan kerangka, mengembara memunguti kisah kisah tersembunyi yang terkumpul sebagai bahan menyiksa diri. Mestinya kejujuran menjadi cahaya ketika pandangan gelap oleh keruh pikiran. Ya, kejujuran memang menyakitkan laksana godam yang menghantam dada, tetapi terungkapnya kebernaran justru lebih menyakitkan ibarat mata pedang yang menusuk punggung tembus ke dada.

Sabana cosmic maya meninggalkan begitu banyak jejak, sehingga tak sanggup mata menghidarinya. Firasat firasat terangkai menjadi kronologi yang akurat melalui catatan catatan yang sengaja tersebar di dinding langit. Ingar bingar kasih sayang dirayakan sebagai monument pribadi, seolah lukisan perjalanan cerita baru yang tersembunyi di balik dinding goa. Inilah kisah baru dari dunia lama yang sebentar lagi tinggal cerita, dunia baru berisi kisah kisah baru yang sedang bertumbuh dengan perkasanya. Kisah kisah perjalanan terabadikan dalam kubangan suka cita. Kesuka citaan yang membunuh semua kata kata jawaban dari pesan pesan yang terkirim dalam rangkaian kalimat panjang berisi jerit kesakitan dan tangis kekanakan. Tidak ada satupun tanya terjawab, tidak ada satupun pernyataan yang tertanggapi oleh sebab memang jerit tangis tak lagi memilki arti.

Sesungguhnya hidup hanyalah perjalanan pada seutas pita rekam panjang, dan mustahil untuk dapat menghapuskan dari satu adegan untuk melompat kepada frame lainnya tanpa harus menjejakkan kaki di keduanya. Membagi kisah tersembunyi justru akan memberikan kekuatan karena penghargaan, bahwa telah tumbuh tunas baru yang akan menggantikan kisah lama yang konon istimewa. Kompromi ego akan memberikan pengertian yang dewasa dengan kesadaran bahwa kita menyudahi sebuah kesalahan yang kita sadar sejak dini dan kemudian menyesatkan kita hari ini. Tidaklah mungkin langit dapat menyembunyikan semuanya, dan segala yang tersembunyi akan bermetamorfosa menjadi kenyataan yang mematikan.  

Niat baik untuk tidak melukai terkadang justru menimbulkan luka yang lebih mengerikan dan dapat berakibat pada kematian. Segala kebaikan akan bisa musnah seketika oleh kenyataan yang disembunyikan dengan sengaja karena sesungguhnya tidak ada yang patut disembunyikan, tidak ada yang pantas menjadi sesuatu yang tersembunyi bagi sebuah hubungan yang terjalin penuh percaya. Bukankah tidak ada pertanyaan gusar maupun keraguan selama kita saling pecaya? Dan ketika keguasaran membumi hanguskan keberadaan siang dan malam, maka sesungguhnya tak lebih dari kepercayaan yang dipertanyakan.

Pada akhirnya, pengakuan atas kekalahan, atas kesalahan akan mengakhiri kisah indah salaam bertahun tahun dan berganti dengan hari hari sepi penu rasa nyeri, ketika setiap detik yang dijalani melulu berisi cerita tentang lolongan mengasihani diri.

 

Rewwin, 160219

Wednesday, February 17, 2016

Langkah Kecil


Tadinya, dari dinding dinding bangunan rumah maya mengalir pesan pesan harum tentang kemanusiaan, sekaligus mengabarkan kepada dunia tentang peradaban yang tekadang pincang di salah satu sudutnya. Menggugah sesiapa yang berkunjung dan cukup bernurani untuk memelihara etika kemanusiaan. Terkadanng bahkan tampak sebagai selalu bermuram durja si pemilik rumah maya. Padahal sesungguhnya itulah kisi kisi wajah dunia yang ditampilkan cuma untuk dinikmati para pelintas dengan persepsi seni masing masing. Dari padanya terkandung pesan pesan agung mulia, bahkan terkadang pesan kesahajaan yang sering terlupakan. Disana kita bisa belajar semangat dari mereka yang tak patah arang oleh nasib. Belajar bersyukur dari mereka yang seolah selalu tersungkur di megahnya negeri makmur. Bahkan terkadang kita bisa belajar tentang kebijakan dari potret mereka yang terabaikan. Sesekali tersaji keindahan karunia Tuhan yang tak dapat ditiru oleh tangan para seniman.
Rumah maya itu perlahan sepi. Jendela jendela yang semula terbuka telah satu persatu tertutup dan terkunci dengan paku. Rumah maya yang laksana sebutir debu di angkasa itu akan perlahan lesap dan dilupakan orang. Tidak ada rasa kehilangan dari sang pemilik, seperti halnya tidak ada satupun orang yang merasa kehilangan atas kemusnahannya dari jagat maya. Pertemanan, interaksi dan sanjung puja puji di dunia maya ternyata hanya formalitas maya belaka. Itulah sebabnya bahkan tak seorangpun akan merasa kehilangan ketika kita menghilang dari pergaulan maya. Bahkan teman yang terkumpul sekalipun terkadang terbentuk dari sekumpulan orang yang mungkin tidak saiing kenal. Tata pergaulan di dunia maya menjadi sangat pragmatis, cenderung hambar kehilangan esensinya.

Menutup jendela rumah maya  juga menutup mata atas peradaban yang berkembang penuh dengan niat pamer dan keluhan, bahkan keterangan sederhana mengenai kegiatan seseorang, aktifitas biasa yang dipublikasikan dengan serta merta, supaya semua orang diseluruh dunia tahu dan mengaguminya. Bagi si pemamer sendiri tentu dimaksudkan juga sebagai catatan jejak perjalanan yang bebas untuk ditengok, diingat, dikenang kembali kapan saja sesuka hati. Menutup jendela rumah maya adalah memilih jalan sepi untuk kembali ke bumi kenyataan dimana semua hal yang nyata terjadi disana.

Dunia nyata lebih realistis karena tak mencatat kenangan maupun dan juga tidak merumuskan idealisme dalam bentuk visualisasi. Kenangan seperih dan separah apapaun akan rapi tersimpan dalam benak dan menjadi domain sangat pribadi yang terbawa dalam angan angan dan menjadi warna bagi hari hari yang dijalani. Ada kalanya kenangan berubah menjadi hujan beling yang merajam kepala, dan menembus masuk hingga ke dada menjadi bara api yang membabi buta. Ketika itu terjadi, jendela langit akan menyajikan jutaan tayangan menyiksa yang tak lagi mengandung makna positif bagi si penderita. Bagi mereka yang pandai menghayati rasanya sakit hati, setiap tarikan nafas dalam meniti umur akan terasa bagai menyeret barongan (- rumpun bambu berduri) kedalam badan, berat, perih dan menyesakkan. Tak ada tempat untuk sembunyi dari kenangan buruk yang dialami. Umumnya cinta menjadi penyebab termudah dari penyiksaan subyektif tersebut, sedangkan tidak ada media apapun atau sesiapapun yang dapat dijadikan teman berbagi. Itu derita diri sendiri yang harus dialami sendiri, dirasakan sendiri, dilalui sendiri tanpa bersuara. Memang pertempuran paling brutal adalah pertempuran hati yang disebabkan oleh perasaan murni, seperti cinta dan benci.

Menutup jendela rumah maya adalah sebuah langkah kecil untuk berpaling dari kenangan yang dapat melahirkan cemburu dan prasangka, atau kesedihan yang menggelombang. Jejak kenangan tak mungkin terhapuskan dari ingatan, tetapi setidaknya dengan tidak melihat display grafiti di sepanjang dinding memori akan membantu untuk tidak mengembangkan asumsi asumsi negatif yang merajam batin. Sungguh, hanya waktu yang dapat menyembuhkan segala bentuk luka luka. Sebuah kehilangan akan terasa berat untuk diterima akal sehat. Meskipun demikian tekad harus dikuatkan untuk dapat menjalaninya. Tak lagi berada di dunia maya adalah langkah kecil yang akan membantu menguatkan diri kembali kepada kenyataan. Di dunia nyata kita masih berkemungkinan untuk menghindari kenangan, sedangkan di dunia maya kenangan akan selalu ada.

Sudah menjadi aturan alam manusia, bahwa segala bentuk awalan pastilah akan berbuah akhiran. Segala bentuk pertemuan akan berujung dalam perpisahan. Dan perpisahan akan melahirkan rasa kehilangan. Sedangkan kisah sepanjang proses dari pertemuan dan perpisahan terbentuk secara alami, menjadi kisah keseharian yang tanpa sadar mendarah daging tanpa pandang bulu. Kisah darah daging itulah yang berubah menjadi beling ketika indahnya kebersamaan harus berakhir tragis dalam semua bentuk kisah percintaan.

Langkah kecil sudah lahir sebagai penguat tekad mengarah kepada tujuan perpisahan. Bahwa perpisahan terkadang bermakna baik dan ketenangan dan kekuatan diperlukan untuk dapat melihat dengan jernih, memilih dengan bijak pilar pilar pemandu langkah meninggalkan kebersamaan. Egoisme harus dengan hati hati dan pelan pelan ditanggalkan, ditinggalkan di tanah kenyataan agar kehidupan ideal dapat berjalan bagi orang yang dikasihi. Kesedihan bukanlah sesuatu yang layak untuk didramatisir demi belas kasihan. Justru mengumpulkan nilai nilai positif akan menguatkan tekad untuk melihat dengan gemilang bahwa kebersamaan yang tercipta tanpa rekayasa, cinta yang tumbuh alami tanpa rencana adalah anugerah indah yang layak untuk disyukuri. Bersyukur karena Tuhan memberi kesempatan untuk menikmati indahnya kebersamaan dengan seseorang yang sangat luar biasa dalam bentuk hubungan yang istimewa.

Ketika pintu dan jendela dunia maya tertutup dan mati, maka kaki telanjang akan merasakan kembali nikmatnya menjejak bumi. Rumput rumput surga dengan butir embun disetiap pucuk helai daunnya akan menyejukkan luka dari hati yang compang camping karena kehilangan cinta. Keheningan akan menjadi teman yang menciptakan pemahaman pemahaman baru akan segala kejadian.

Semoga Tuhan menguatkan kita dalam memelihara kebaikan serta dikuatkan dalam melawan keburukan.

Rungkut 160217

Tuesday, February 16, 2016

Hello…!


Sungguh ajaib karya Tuhan. Perasaan manusia salah satunya, akal dan pikiran yang diberikan kepada manusia menciptakan peradaban, lengkap dengan ukuran kepantasan dan etikanya masing masing. Ketika sebuah sapaan dilakukan dengan sepenuh perhatian, sepenuh hati sebenarnya merupakan kehendak paling murni dari satu orang ke orang lainnya untuk berkomunikasi, menjalin silaturahmi dalam bentuk yang sangat pribadi. Pertanyaan sesederhana “apa kabar?’, jika dilakukan sepenuh hati sebenarnya mengandung keharuan luar biasa. Pertanyaan itu mendasari keinginan kita untuk mengetahui kabar yang sebenar benarnya dari orang yang kita sapa, bukan sekedar basa basi pemanis pergaulan. Dan sapaan sepenuh hati hanya bisa terjadi ketika kita berempati sepenuh hati berkonsentrasi kepada orang yang kita sapa.

Ketika seseorang yang telah menjadi bagian dari kehidupan kita selama bertahun tahun, telah menjadi bagian dari kebiasaan yang tebangun tanpa sengaja untuk waktu yang lama memutuskan untuk pergi menjauh dari bangunan hubungan yang begitu kukuh, maka pertanyaan apa kabar tadi dapat diartikan sebagai sesuatu yang penuh kesedihan. Keinginan untuk mengetahui kisah hidup yang dijalani setelah beberapa waktu saling menutup pandang terterjemahkan semua dalam sapaan sederhana itu. Sama halnya ketika seseorang dari masa lalu tiba tiba menyapa kita dengan kalimat yang sama, mengartikan bahwa ada kerinduan yang menyeruak untuk menanyakan keadaan sekarang sesudah sekian lama seolah saling mengabaikan.

Semuanya hal peradaban berangkat dari perasaan dasar manusia; kasih sayang. Dalam makna yang lebih populer adalah cinta. Dan kehidupan percintaan bisa selalu menciptakan sesuatu yang ganjil di dunia. Hubungan dua orang yang diikat dalam perkawinan bisa menjadi seolah formalitas sosial, sedangkan hubungan batin tanpa ikatan perkawinan dapat menciptakan ikatan yang lebih kuat ketimbang status suami istri dalam perkawinan. Inilah keganjilan yang terjadi disekitar kita tanpa kita sadari, dan keganjilan itu ada membentuk kisah kisah kehidupan dunia dari masa ke masa. Semua bermula dari sapaan, dari pecakapan biasa. Semula bermula dari keinginan untuk mengetahui kabar kehidupan orang lain dan kemudian tanpa sadar terlibat secara dalam dan kental dalam hubungan. Sungguh mujur bagi kebanyakan orang yang memulai sebuah hubungan dengan komunikasi penuh kedewasaan dan lalu tercipta ikatan batin yang kemudian berlanjut ke perkawinan. Orang orang seperti itu sangat beruntung. Meskipun sebenarnya kebanyakan perkawinan hambar juga berasal dari interaksi serupa.

Sapaan yang datang dari hati tentu  akan diterima oleh hati juga. Sedangkan sapaan basa basi pemanis pergaulan hanya akan lewat begitu saja sebagai sesuatu yang manis bagi interaksi manusia, sebagai lambang kesopanan belaka.  Tragisnya, terkadang sapaan sopan itupun berakhir tanpa response, tanpa tanggapan sepatah katapun. Ucapan “selamat pagi” dan “ terimakasih” di gardu toll ketika kita melakukan pembayaran misalnya, acap kali berakhir dengan tanpa jawaban. Tetapi jangan berkecil hati, karena bukan sikap orang yang menentukan kualitas diri kita, tetapi bagaimana kita bersikap kepada orang, itulah ukuran kualitas kedewasan etika kita. Kebaikan hati tidak bisa dicerminkan dari sikap orang kepada kita karena terkadang kebaikan kita dimanfaatkan oleh orang berhati jahat bahkan seringkali dicurigai sebagai suatu sikap cabul bahkan kriminal. Bagi orang orang kota yang lebih tebal tembok individualistiknya, sapaan bisa menjadi sesuatu yang ganjil dalam pergaulan dengan orang asing. Padahal, jika kita kembali kepada pemahaman sapaan dari hati yang merindu kepada orang yang kita rindui, maknanya lebih besar dari sejuta percakapan di dunia.

Ketika dua hati dipisahkan oleh jarak, oleh waktu dan oleh keadaan maka hal yang paling berarti adalah kabar. Menanyakan kabar orang yang kita kasihi dapat mewakili seluruh perasaan kasih dan rindu yang tersembunyi dibalik tembok jarak, waktu dan keadaan itu.  Maka seyogyanya pertanyaan sederhana itu dijawab pulalah dengan cerita kehidupan biasa yang dialami tanpa tendensi, sekaligus menanyakan kembali kabar dari si penanya supaya terjadi keseimbangan dalam berbagi cerita kehidupan. Perpisahan memang selalu tidak mengenakkan, perpisahan adalah kematian kecil dalam kehidupan. Dan, menanyakan kabar dengan penuh kesungguhan adalah bentuk dari itikad memelihara cinta yang ada dalam batin dua  manusia yang istimewa.

Apa kabarmu, matapedang?


Rewwin, 160216

Monday, April 27, 2015

Bingkai Cahaya


Kembali kepada bingkaian masa, sepi yang menghujam hujam rasa. Kita telah kehilangan kencan dan rencana, sedangkan demikian kukuhnya terbangun kisah dua hati tanpa sengaja. Tempat ini telah membuntalku dalam kenangan mati, mengombang ambingkan keinginan dan permainankan khayal. Trotoar dan jalan setapak membeku ditumbuhi semak keinginan yang menjelma jadi luka dalam diam diam.

Nanyian burung pagi ini melolong menyayat hati, seolah tembang pengiring sapamu yang perlahan lenyap ditelan sepi. Atas nama kepantasan semua harus terjadi dan tak perlu diceritakan kupasan perih akibatnya. Mulut mulut diam dalam hati lebam, sedangkan peristiwa merekam segala percakapan yang hilang tercecer disepanjang jalan. Catatan demi catatan membeku kehilangan pembaca maupun kikik tawa yang mengiring setiap kali kita bersama.

Ujung belati tersembunyi diantara lompatan lompatan ilusi. Selamanya bayangan tentang kenyamanan batin adalah sesuatu  menggoda harapan, menerbitkan cahaya dan menimbulkan senandung riang setiap mata terbuka. Di langit yang berwarna jingga, kita menimbun ketakutan akan tersesat didalam nyamannya, dalam keleluasaan pelangi tanpa warna. Ragu mengayun antara berhenti atau terus jelajahi keajaiban yang menantang.

Oh, engkau menjelma dari semburat warna, mengaburkan pandang dari monumen kesejatian yang terbangun dari bongkah bongkah waktu. Sedangkan kita berdiri memandang cermin yang membuaikan, satu halaman sama dari dua buku yang berbeda. Terbingungkan oleh dunia kembar yang datang ketika bimbang menikam jiwa yang kehilangan. Khayal menghambur dari keruh pikirah, menyemikan lagi angan pengantar tidur paling menakjubkan.

Maka sejatinya, waktulah penguasa kehidupan. Guru alam yang mengajarkan kecerdikan akan kesempatan maupun trik trik mengakali harapan. Hanya waktu jua yang menyimpan rahasia keajaiban, menjadikan khayal menjadi kenyataan mengejutkan. Sesungguhnya seluruh sendi hidup hanya patuh kepada kuasa waktu.

 

Rungkut 150427

 

Monday, March 09, 2015

Ziarah Jejak

Tiba tiba sapamu mengguncang dunia beku. Menanyakan jejak jejak kaki kita yang membatu jadi catatan di langit rahasia. Dua kalimat saja, maka seolah Raflesia Arnoldi, cerita menyeruak kembali, seperti baru kemarin terjadi. Seperti tak pernah berhenti dipenggal waktu.

Terbaca rindu membuncah, rindu pada bunga bunga tetanaman kisah yang pernah kita semai sambil bergandengan tangan dulu. Sepanjang jalan buntu, dunia kecil berpelangi dimana sebatang pohon rindang mengakar di savananya. Kita pernah membagi tangis dan tawa yang menderu seiring rindu yang selalu menggebu, sampai segala drama terindah itu tumpas oleh logika yang rapi terjaga.

Setetes embun luruh di ladang gersang batin. Laksana ribuan tahun tak menemu sejuk, lesap dalam penghayatan rindu masa silam. Kita bersimpuh taklim dihadapan pusara kenangan. Menziarahi sejarah yang terkubur dibalik awan gemawan. Taburkan bunga sebagai pertanda, bahwa kita masih memelihara cinta nomor satu di dunia itu; meski hanya tinggal kuburannya.

Tak menjadi penting ketika hari hari kita dihiasi beling, seperti halnya langkah kakiku yang pincang pun kadang mendaki. Mungkin kita tak akan pernah menang menumpas bayi bayi iblis dengan matapedang, tetapi setidaknya kita pernah merasakan kemenangan; sanggup mengabaikan siksaanya barang setarikan nafas panjang.

Engkau tahu? Aku menjadi yakin bahwa makam cinta kita telah menjelma jadi surga yang mendamaikan diam diam. Dan kita bebas untuk sekedar berziarah dalam terawang.  Memang rindu menikam nikam seolah merajam, tetapi setidaknya telah dipaksakan tumbuh kesadaran baru tentang langkah terpisah yang harus kita jaga tanpa goyah.

Kita nikmati petualangan petualangan bisu yang maha sepi, lalu mencoba menorehkannya di langit khayali. Langit yang melulu berisi warna kelabu, tempat kita rajin memuja rasa. Pengharapan demi pengharapan berjajar bersama mimpi, dengan segudang kebarangkalian yang begitu kita yakini akan terjadi.

Di kota kota yang jauh kucabik cabik sepi yang yang selalu mengusung bayangan masa silam. Seolah berjalan di pematang tanpa ujung, kukumpulkan kisah kisah yang membias di angin musim penghujan. Kisah ini tak akan pernah berkesimpulan, seperti halnya pepamitan yang tak pernah bermakna perpisah. Sebab kita tahu, kita selalu menemukan jalan untuk pulang ke bawah pohon rindang, tetanaman riwayat teduh masa silam.

Paiton, 150309 

Tuesday, January 14, 2014

Candi Tawang Alun

Cerita ini akan sedikit berbeda dengan cerita cerita tentang Candi Tawang Alun yang ada di blog blog di internet. Bukan soal legenda tentang empat tokoh; Resi Tawangalun, Putri Alun, Ario Damar dan Prabu Brawijaya II. Kalau soal legenda itu ada punya pendapat sendiri. Jadi begini;

Semua tempat hebat peninggalan sejarah di Indonesia selalu memiliki legendanya sendiri sendiri, mitos yang hidup diantara masyarakat menjadi symbol kearifan sosial sekitar situs situs bersejarah itu. Pesan moral dari mitos itu begitu jelas: jangan merusak. Maka sudah lazim jika situs bersejarah akan ada dan hidup bersama dengan cerita cerita mistisnya. Kisah kisah mistis yang berujung kepada larangan dan keharusan ternyata mujarab sebagai peringatan bagi kalangan masyarakat pada masanya untuk tidak berbuat cela. Cara yang lebih elegan adalah dengan memelihara konstruksi pemahaman bahwa situs situs sejarah masa silam adalah tempat yang dibangun sebagai tempat suci, dan siapapun harus bertanggung jawab kepada kelestarian kesuciannya.

Selayaknya kita menghormati legenda yang hidup bersama keberadaannya; sama seperti legenda legenda lain yang kita temui di situs situs kuno lainnya. Meskipun hanya tersisa tumpukan bata merah setinggi sekitar dua meter dengan lebar masing masing sisi sekitar empat meter, tetapi sisa kemegahannya masih dapat hidup dalam bayangan khayal. Candi itu dibangun diatas perbukitan kecil, ditepian pesisir selat berupa rawa yang kemudian sekarang menjadi tambak tambak bandeng. Bukit kecil tempat candi itu berdiripun tidak kalah menariknya, karena limapuluh meter dari candi, terdapat tanah lapang yang terus menerus mengeluarkan lumpur dengan bau belerang menyengat dari perut bumi. Dan itu sudah terjadi sejak zaman purba. Lumpur itu sama persis dengan yang ada di bekas pengeboran PT Minarak Lapindo yang kemudian jebol tidak terkendali, atau  juga sama dengan pori pori bumi di Bledug Kuwu di Blora. Patut diduga, berdirinya candi tersebut sangat erat hubungannya dengan lumpur hangat yang membentuk comberan comberan dan mengalir menuju tanah rendah. Lokasi perbukitan kecil disebelah candi Tawang Alunpun telah berubah menjadi tempat pemakaman umum bagi masyarakat sekitar Buncitan.

Candi Tawang Alun dibangun pada masa kerajaan Majapahit. Hal itu jelas terlihat dari material bangunan berupa bata merah padat, dengan corak Hindu yang mencuat. Fungsinya adalah sebagai pendarmaan raja, atau tempat untuk pemujaan raja yang sudah mangkat dan juga sekaligus sebagai monument bagi sang raja, juga tempat orang mengheningkan cipta, semedi mendekatkan diri kepda Yang Maha Kuasa. Ini tentang candi candi di Jawa Timur, yang tentu memiliki karakteristik berbeda dengan candi candi di Jawa Tengah (Kecuali candi Cetho di Karanganyar) karena memang candi candi tersebut merupakan cerminan dari pemerintahan yang ada pada saat itu. Candi candi di Jawa Timur cenderung lebih kecil ukurannya dibanding candi candi di Jawa Tengah, namun lebih artistik. Termasuk candi Tawangalun adalah candi candi Hindu dengan ciri yang sangat menonjol. 

Konon, candi Tawangalun dulunya adalah sebuah sumur. Sebagian masih menyebutnya sebagai candi Sumur Windu. Jika demikian, maka besar kemungkinan bahwa candi ini hanyalah salah satu bangunan dari kompleks candi Tawang Alun dan bukan merupakan candi utamanya. Patut diduga, gundukan tanah yang berubah menjadi pemakaman umum disebelah timur candi itulah candi utamanya yang sudah runtuh disikat usia. Kalau diperhatikan, konstruksinya sama persis dengan candi Pari di kawasan Porong Sidoarjo, dimana limapuluh meter dari candi utama terdapat sebuah bangunan candi yang berukuran lebih kecil, bernama candi Sumur. Kedua bangunan candi tersebut dipisahkan oleh jalan, gang dan rumah rumah penduduk, juga pemakaman umum. Hal sama juga dapat ditemui di candi Jabung yang terletak di daerah antara perbatasan Paiton dan Kraksaan di Probolinggo. Besar kemungkinan bahwa candi yang berisi sumur atau sumber air adalah bangunan pendukung untuk mensucikan diri sebelum seseorang melakukan pemujaan dan tirakat di candi utama. Candi itu berlobang ditengahnya, dengan ukuran satu meter persegi. Ada bekas struktur konstruksi undak undakan yang dipakai untuk menaiki perut candi, kemudian parit kecil sebagai penghubung dengan kolam penampungan di pojok candi.

Candi Tawang Alun seperti kebanyakan nasib candi di negeri cantik kita ini, terkesan terabaikan dari perhatian pemerintah. Perawatan yang sekedarnya oleh juru rawat candilah yang sampai sekarang membuatnya bertahan ditepi pemukiman penduduk yang semakin merangsak mendekati kompleks candi. Berada di areal candi Tawang Alun akan sangat mudah merasakan kesegaran udara disana, dengan hamparan tambak tampak di kejauhan; diseberang gundukan tanah makam. Sesekali bau belerang menghampiri indra penciuman, menambah kesan mendalam tentang kejayaan masasilam ketika candi ini masih berfungsi sebagaimana mestinya. Masa dimana nilai nilai kehidupan dipelajari dan dipegang teguh sebagai panutan. Sesungguhnya dari masa lalu kita bisa belajar banyak mengenai kebajikan. Tawang Alun, seperti halnya situs lainnya juga menancapkan kesan mendalam tentang nilai kebijaksanaan masa silam. Sayangnya, sejarah selalu saja memiliki kesamarannya sendiri, oleh sebab berbagai versi yang menyertai dengan tujuannya sendiri sendiri.

Candi Tawang Alun tidak banyak diperhatikan orang, untuk sekedar mengunjungi dan memunjungnya dengan rasa takjub diam diam. Padahal kata Pramoedya, mengetahui sejarah adalah sesuatu yang sangat penting. Dengan mengetahui sejarah, maka manusia akan tahu kemana tujuannya berdasarkan sejarahnya. Tanpa mengetahui sejarah, maka manusia sebenarnya tidak memiliki tujuan yang selaras dengan asal mula kejadian. Teori ini mungkin bisa kita hubungkan dengan kondisi sekitar Sidoarjo yang memiliki kulit bumi yang tipis. Kegagalan PT Lapindo Minarak dan pemerintah membendung limpahan lumpur dari perut bumi terjadi karena pemilik modal dan penguasa lokal mengabaikan sejarah dan karakter alam setempat. Raden Brawijaya telah menandainya dengan membangun candi di salah satu pori bumi, semestinya pengusa masa kini lebih arif dalam membuat kebijakan. Lumpur Porong tidak ubahnya  putusnya mata rantai sejarah peradaban, yang disebabkan semata mata oleh nafsu duniawi manusia; keuntungan materialistik dengan mengabaikan nilai nilai asli tentang alam dan kehidupan.

Candi Tawang Alun, meskipun hanya tersisa reruntuhan batu bata tetapi menandakan keabadian sejarah peradaban manusia. Keberadaannya tidak bisa tergantikan oleh peradaban baru yang berumur pendek. Secanggih apapapun teknologi yang digunakan, reruntuhan Tawang Alun tetap menyimpan jejak sejarah dan menyuguhkan kekaguman diam diam. Hanya keserakahan umat manusia yang mengatasnamakan nafsu saja yang kelak dapat menghapus jejak agung sejarah candi Tawang Alun. Sungguh beruntung bagi sesiapa yang masih bisa menyentuh untuk membaca sisa kemegahan yang hanya bisa terterjemahkan sebagai ziarah. Tawang alun membawa pikiran menyelam jauh kepada kisah kisah masa silam, sebagai pengalaman empiris yang sangat mengagumkan. 


Rewwin, 140209

             


Friday, November 15, 2013

Luntur

Masih ingatkah kamu?

Waktu itu hujan turun riwis riwis seperti saat ini, suatu sore diatas bus AKDP. Kita bertemu tanpa sengaja, setelah sekian tahun saling menjauh dan tak lagi berkabar.  Tatapan mata yang tiba tiba itu ibarat segumpal salju yang membentur di tebing karang. Menghentak lalu amblas ditelan kejut. “ Sebaiknya  sekarang kita menjalani hidup kita masing masing” ucapmu sambil lalu. Dan seluruh isi dunia diam membeku sejak saat itu. Tatapan matamu kosong kedepan, mengimpikan tempat tujuanmu segera datang. Sedangkan aku, bergelantungan memandang pepohonan dan rumah rumah berlarian. Hampa.

Tas punggung di gendonganku berisi baju celana bekas, hasil dari meminta. Oleh sebab keadaanku yang sedang di dasar jurang kesengsaraan, tak mampu membeli pakaian untuk anakku. Sedangkan kamu, tengah berada dipuncak kejayaan masa mudamu, seolah tak aka nada satupun duka yang akan sanggup menaklukkanmu. Dan aku tengah menghitung jasa dari sesiapa yang berjasa untuk tetap ada dalam hatiku ketika dunia seolah membelakangiku. Tak sedikitpun itu kudapat darimu. Kamu terbuai dengan segala euphoria masamuda, hanyut oleh keinginan melampaui langit batas yang kelak ternyata membantingmu dalam gelap tak beratap.

Empatbelas tahun berlalu, lalu tiba tiba kita bertemu.

Kita telah kehilangan begitu banyak cerita selama itu. Waktu berputar seolah kita tidak berada didalam pusarannya. Ribuah mozaik kehidupan kita susun dalam ketidak tahuan, serpihan masa lalu telah membangkai dan kita hanya bisa mencatatnya dalam kenangan masing masing; penuh rahasia. Wajahmu menjadi layu, bersama keriput yang tumbuh satu satu di garis wajahku. Senyummu masih senyum yang dulu, sinis tapi mengandung madu. Kita bebicara, seolah olah masa lalu tidak pernah ada. Betapa kita sadar ketika itu, bahwa sungguhlah putaran kisah hidup seolah tak mempedulikan kita. Semua yang terjadi di kehidupan kita sebelumnya membias layaknya asap rokok yang memenuhi ruang tamu rumahmu.

Sejak itu aku berusaha memaksa diri, mencari sesuatu yang hilang dari hidupku atas dirimu. Dan tak kutemui jua apa yang kucari. Empatbelas tahun telah menghapus sebagian besar kekagumanku, berganti dengan halaman baru dalam buku komik yang berisi kisah biasa tentang dunia dari dua orang asing yang berbeda. Bukan orang baru yang mengandung misteri keajaiban tentang sebuah pribadi, melainkan dunia lama yang tertayang nyata dalam realita. Bedanya, kali ini hambar terasa. Kita telah menjalani apa yang seharusnya terjadi, dan kitapun akan menjalani apapun yang Tuhan kehendaki. Dunia berputar cepat, segala cerita manusiapun perlahan lindap dalam lilitan waktu.

Lalu waktu berjalan lagi seperti yang seharusnya. Aku mengenalmu sebagai pribadi baru yang suka mengeluh dan menonjolkan kemalangan sebagai symbol mentahnya jiwamu. Sungguh sekian lama waktu dan sekian banyak luka dan tawa tak mendewasakanmu. Tak juga menjadikanmu sebagai kanak kanak seperti halnya engkau ingin dianggap oleh setiap orang yang ada dalam kehidupanmu. Seolah engkaulah manusia paling malang di muka bumi dan berharap semesta alam akan jatuh kasihan terhadapmu. Padahal sesungguhnya, mengasihani diri tidak ubahnya pamer diri yang tidak perlu. Bahkan wajahmupun tak semenarik dulu, pun tiap hari kau pajang di jendela dunia agar semua orang mengagumimu.

Perlahan aku menjadi muak dengan ketidak dewasaanmu. Kecerdasan yang menjadi butir butir benih kekagumanku dulu telah lenyap ditelan waktu. Ya, memang sebaiknya kita menjalani hidup kita masing masing, diam diam.



Medan 131115