Tuesday, January 14, 2014

Candi Tawang Alun

Cerita ini akan sedikit berbeda dengan cerita cerita tentang Candi Tawang Alun yang ada di blog blog di internet. Bukan soal legenda tentang empat tokoh; Resi Tawangalun, Putri Alun, Ario Damar dan Prabu Brawijaya II. Kalau soal legenda itu ada punya pendapat sendiri. Jadi begini;

Semua tempat hebat peninggalan sejarah di Indonesia selalu memiliki legendanya sendiri sendiri, mitos yang hidup diantara masyarakat menjadi symbol kearifan sosial sekitar situs situs bersejarah itu. Pesan moral dari mitos itu begitu jelas: jangan merusak. Maka sudah lazim jika situs bersejarah akan ada dan hidup bersama dengan cerita cerita mistisnya. Kisah kisah mistis yang berujung kepada larangan dan keharusan ternyata mujarab sebagai peringatan bagi kalangan masyarakat pada masanya untuk tidak berbuat cela. Cara yang lebih elegan adalah dengan memelihara konstruksi pemahaman bahwa situs situs sejarah masa silam adalah tempat yang dibangun sebagai tempat suci, dan siapapun harus bertanggung jawab kepada kelestarian kesuciannya.

Selayaknya kita menghormati legenda yang hidup bersama keberadaannya; sama seperti legenda legenda lain yang kita temui di situs situs kuno lainnya. Meskipun hanya tersisa tumpukan bata merah setinggi sekitar dua meter dengan lebar masing masing sisi sekitar empat meter, tetapi sisa kemegahannya masih dapat hidup dalam bayangan khayal. Candi itu dibangun diatas perbukitan kecil, ditepian pesisir selat berupa rawa yang kemudian sekarang menjadi tambak tambak bandeng. Bukit kecil tempat candi itu berdiripun tidak kalah menariknya, karena limapuluh meter dari candi, terdapat tanah lapang yang terus menerus mengeluarkan lumpur dengan bau belerang menyengat dari perut bumi. Dan itu sudah terjadi sejak zaman purba. Lumpur itu sama persis dengan yang ada di bekas pengeboran PT Minarak Lapindo yang kemudian jebol tidak terkendali, atau  juga sama dengan pori pori bumi di Bledug Kuwu di Blora. Patut diduga, berdirinya candi tersebut sangat erat hubungannya dengan lumpur hangat yang membentuk comberan comberan dan mengalir menuju tanah rendah. Lokasi perbukitan kecil disebelah candi Tawang Alunpun telah berubah menjadi tempat pemakaman umum bagi masyarakat sekitar Buncitan.

Candi Tawang Alun dibangun pada masa kerajaan Majapahit. Hal itu jelas terlihat dari material bangunan berupa bata merah padat, dengan corak Hindu yang mencuat. Fungsinya adalah sebagai pendarmaan raja, atau tempat untuk pemujaan raja yang sudah mangkat dan juga sekaligus sebagai monument bagi sang raja, juga tempat orang mengheningkan cipta, semedi mendekatkan diri kepda Yang Maha Kuasa. Ini tentang candi candi di Jawa Timur, yang tentu memiliki karakteristik berbeda dengan candi candi di Jawa Tengah (Kecuali candi Cetho di Karanganyar) karena memang candi candi tersebut merupakan cerminan dari pemerintahan yang ada pada saat itu. Candi candi di Jawa Timur cenderung lebih kecil ukurannya dibanding candi candi di Jawa Tengah, namun lebih artistik. Termasuk candi Tawangalun adalah candi candi Hindu dengan ciri yang sangat menonjol. 

Konon, candi Tawangalun dulunya adalah sebuah sumur. Sebagian masih menyebutnya sebagai candi Sumur Windu. Jika demikian, maka besar kemungkinan bahwa candi ini hanyalah salah satu bangunan dari kompleks candi Tawang Alun dan bukan merupakan candi utamanya. Patut diduga, gundukan tanah yang berubah menjadi pemakaman umum disebelah timur candi itulah candi utamanya yang sudah runtuh disikat usia. Kalau diperhatikan, konstruksinya sama persis dengan candi Pari di kawasan Porong Sidoarjo, dimana limapuluh meter dari candi utama terdapat sebuah bangunan candi yang berukuran lebih kecil, bernama candi Sumur. Kedua bangunan candi tersebut dipisahkan oleh jalan, gang dan rumah rumah penduduk, juga pemakaman umum. Hal sama juga dapat ditemui di candi Jabung yang terletak di daerah antara perbatasan Paiton dan Kraksaan di Probolinggo. Besar kemungkinan bahwa candi yang berisi sumur atau sumber air adalah bangunan pendukung untuk mensucikan diri sebelum seseorang melakukan pemujaan dan tirakat di candi utama. Candi itu berlobang ditengahnya, dengan ukuran satu meter persegi. Ada bekas struktur konstruksi undak undakan yang dipakai untuk menaiki perut candi, kemudian parit kecil sebagai penghubung dengan kolam penampungan di pojok candi.

Candi Tawang Alun seperti kebanyakan nasib candi di negeri cantik kita ini, terkesan terabaikan dari perhatian pemerintah. Perawatan yang sekedarnya oleh juru rawat candilah yang sampai sekarang membuatnya bertahan ditepi pemukiman penduduk yang semakin merangsak mendekati kompleks candi. Berada di areal candi Tawang Alun akan sangat mudah merasakan kesegaran udara disana, dengan hamparan tambak tampak di kejauhan; diseberang gundukan tanah makam. Sesekali bau belerang menghampiri indra penciuman, menambah kesan mendalam tentang kejayaan masasilam ketika candi ini masih berfungsi sebagaimana mestinya. Masa dimana nilai nilai kehidupan dipelajari dan dipegang teguh sebagai panutan. Sesungguhnya dari masa lalu kita bisa belajar banyak mengenai kebajikan. Tawang Alun, seperti halnya situs lainnya juga menancapkan kesan mendalam tentang nilai kebijaksanaan masa silam. Sayangnya, sejarah selalu saja memiliki kesamarannya sendiri, oleh sebab berbagai versi yang menyertai dengan tujuannya sendiri sendiri.

Candi Tawang Alun tidak banyak diperhatikan orang, untuk sekedar mengunjungi dan memunjungnya dengan rasa takjub diam diam. Padahal kata Pramoedya, mengetahui sejarah adalah sesuatu yang sangat penting. Dengan mengetahui sejarah, maka manusia akan tahu kemana tujuannya berdasarkan sejarahnya. Tanpa mengetahui sejarah, maka manusia sebenarnya tidak memiliki tujuan yang selaras dengan asal mula kejadian. Teori ini mungkin bisa kita hubungkan dengan kondisi sekitar Sidoarjo yang memiliki kulit bumi yang tipis. Kegagalan PT Lapindo Minarak dan pemerintah membendung limpahan lumpur dari perut bumi terjadi karena pemilik modal dan penguasa lokal mengabaikan sejarah dan karakter alam setempat. Raden Brawijaya telah menandainya dengan membangun candi di salah satu pori bumi, semestinya pengusa masa kini lebih arif dalam membuat kebijakan. Lumpur Porong tidak ubahnya  putusnya mata rantai sejarah peradaban, yang disebabkan semata mata oleh nafsu duniawi manusia; keuntungan materialistik dengan mengabaikan nilai nilai asli tentang alam dan kehidupan.

Candi Tawang Alun, meskipun hanya tersisa reruntuhan batu bata tetapi menandakan keabadian sejarah peradaban manusia. Keberadaannya tidak bisa tergantikan oleh peradaban baru yang berumur pendek. Secanggih apapapun teknologi yang digunakan, reruntuhan Tawang Alun tetap menyimpan jejak sejarah dan menyuguhkan kekaguman diam diam. Hanya keserakahan umat manusia yang mengatasnamakan nafsu saja yang kelak dapat menghapus jejak agung sejarah candi Tawang Alun. Sungguh beruntung bagi sesiapa yang masih bisa menyentuh untuk membaca sisa kemegahan yang hanya bisa terterjemahkan sebagai ziarah. Tawang alun membawa pikiran menyelam jauh kepada kisah kisah masa silam, sebagai pengalaman empiris yang sangat mengagumkan. 


Rewwin, 140209

             


Friday, November 15, 2013

Luntur

Masih ingatkah kamu?

Waktu itu hujan turun riwis riwis seperti saat ini, suatu sore diatas bus AKDP. Kita bertemu tanpa sengaja, setelah sekian tahun saling menjauh dan tak lagi berkabar.  Tatapan mata yang tiba tiba itu ibarat segumpal salju yang membentur di tebing karang. Menghentak lalu amblas ditelan kejut. “ Sebaiknya  sekarang kita menjalani hidup kita masing masing” ucapmu sambil lalu. Dan seluruh isi dunia diam membeku sejak saat itu. Tatapan matamu kosong kedepan, mengimpikan tempat tujuanmu segera datang. Sedangkan aku, bergelantungan memandang pepohonan dan rumah rumah berlarian. Hampa.

Tas punggung di gendonganku berisi baju celana bekas, hasil dari meminta. Oleh sebab keadaanku yang sedang di dasar jurang kesengsaraan, tak mampu membeli pakaian untuk anakku. Sedangkan kamu, tengah berada dipuncak kejayaan masa mudamu, seolah tak aka nada satupun duka yang akan sanggup menaklukkanmu. Dan aku tengah menghitung jasa dari sesiapa yang berjasa untuk tetap ada dalam hatiku ketika dunia seolah membelakangiku. Tak sedikitpun itu kudapat darimu. Kamu terbuai dengan segala euphoria masamuda, hanyut oleh keinginan melampaui langit batas yang kelak ternyata membantingmu dalam gelap tak beratap.

Empatbelas tahun berlalu, lalu tiba tiba kita bertemu.

Kita telah kehilangan begitu banyak cerita selama itu. Waktu berputar seolah kita tidak berada didalam pusarannya. Ribuah mozaik kehidupan kita susun dalam ketidak tahuan, serpihan masa lalu telah membangkai dan kita hanya bisa mencatatnya dalam kenangan masing masing; penuh rahasia. Wajahmu menjadi layu, bersama keriput yang tumbuh satu satu di garis wajahku. Senyummu masih senyum yang dulu, sinis tapi mengandung madu. Kita bebicara, seolah olah masa lalu tidak pernah ada. Betapa kita sadar ketika itu, bahwa sungguhlah putaran kisah hidup seolah tak mempedulikan kita. Semua yang terjadi di kehidupan kita sebelumnya membias layaknya asap rokok yang memenuhi ruang tamu rumahmu.

Sejak itu aku berusaha memaksa diri, mencari sesuatu yang hilang dari hidupku atas dirimu. Dan tak kutemui jua apa yang kucari. Empatbelas tahun telah menghapus sebagian besar kekagumanku, berganti dengan halaman baru dalam buku komik yang berisi kisah biasa tentang dunia dari dua orang asing yang berbeda. Bukan orang baru yang mengandung misteri keajaiban tentang sebuah pribadi, melainkan dunia lama yang tertayang nyata dalam realita. Bedanya, kali ini hambar terasa. Kita telah menjalani apa yang seharusnya terjadi, dan kitapun akan menjalani apapun yang Tuhan kehendaki. Dunia berputar cepat, segala cerita manusiapun perlahan lindap dalam lilitan waktu.

Lalu waktu berjalan lagi seperti yang seharusnya. Aku mengenalmu sebagai pribadi baru yang suka mengeluh dan menonjolkan kemalangan sebagai symbol mentahnya jiwamu. Sungguh sekian lama waktu dan sekian banyak luka dan tawa tak mendewasakanmu. Tak juga menjadikanmu sebagai kanak kanak seperti halnya engkau ingin dianggap oleh setiap orang yang ada dalam kehidupanmu. Seolah engkaulah manusia paling malang di muka bumi dan berharap semesta alam akan jatuh kasihan terhadapmu. Padahal sesungguhnya, mengasihani diri tidak ubahnya pamer diri yang tidak perlu. Bahkan wajahmupun tak semenarik dulu, pun tiap hari kau pajang di jendela dunia agar semua orang mengagumimu.

Perlahan aku menjadi muak dengan ketidak dewasaanmu. Kecerdasan yang menjadi butir butir benih kekagumanku dulu telah lenyap ditelan waktu. Ya, memang sebaiknya kita menjalani hidup kita masing masing, diam diam.



Medan 131115

Friday, October 25, 2013

Jalan Buntu

Lelah batin dan fisik; lelah mengenang masa lalu dan lelah melihat kenyataan yang ada di masa depanOei Hui Lian. 

Sungguh tidak disangka, menyerahkan pengalaman buruk ke dalam perawatan sang waktu juga memiliki peluang gagal. Bukan maksud untuk memeliharanya dalam kungkungan kenangan, melainkan pengalaman buruk itu tetap ada dan menjadi bagian dari ruh, bagian dari metabolisme tubuh sepanjang hidup. 

Layang layang yang pernah terbang kemudian jatuh ke bumi dan koyak, maka ia tidak akan bisa lagi terbang dengan sempurna. Dia telah kehilangan kegagahannya dan keindahannya telah pupus terbanting oleh kekecewaan di masa lalu. Tapi ia berusaha terbang, berharap menemukan udara baru zonder hujan badai yang hitam.

Ada tangis yang disembunyikan di sepanjang perjalanannya, tangis dari amarah yang coba diredamkan dalam diam. Ada perih yang ditahankannya sendirian, perih dari luka sayatan khianat yang diberikan sambil tertawa oleh orang yang dipujanya. Untunglah Tuhan maha baik yang memberikannya keberuntungan di setiap pijakan jalan terjal.

Separuh dunia mati suri, tak lagi memberi manfaat bagi cita cita. Mimpi mimpi muda tertanggal di dinding kenangan dan mangkrak oleh roda yang berhenti tiba tiba. Seluruh penampilannya diwarnai oleh sesal yang menggumpal; toh tetapi diterimanya sebagai sebuah kematian separuh zaman, menjadi sejarah tanpa monument bagi kejayaan suatu ketika.

Dunia baru bertiang bara dendam masalalu, dicitakannya terbangun diatas puing dan beling. Ribuan malaikat menyertai pembangunannya, ia yang bangkit dari mati yang diidamkan oleh sebab sakit jiwa yang terlampau dahsyatnya. Dunia yang mati oleh perbuatan laknat yang biadab tinggalah kenangan masa lalu yang menjadi hantu bagi hari ini dan samapai ajal nanti. Menjadi kenangan buruk yang setiap saat dapat mengkerdilkan kebanggaan, membutakan orientasi arah masa depan.

Kelelahan panjang melupakan perih hasil dari goresan tajam penghianatan. Langkah yang tertatih yang dianggap tidak bermakna membumbuinya menjadi resep keputus asaan, berbantuk bukit penyesalan laksana tumor disekujur badan. Sungguh, salah memperdiksi keadaan akan berakibat fatal bagi masa depan, sebab kita telah kehilangan begitu banyak langkah yang salah arah.

Letihnya jiwa telah mematikan cahaya, hidup menjadi pasrah dan serba meraba raba. Keikhlasan menjadi tidak berarti ketika di kemudian hari ternyata semuanya dianggap sebagai tahi. Betapa memilukan nasib mereka, yang berjalan menjauhi pengalaman buruk masa silam, menembus kegelapan warna suratan, namun ternyata kembali ke kubang yang sama; masa silam.

Berhenti, bersimpuh pada kubangan nanah, menahan lelah mengenangkan bencana masa silam dan letih mengayun langkah untuk ke depan. Berhenti sejenak, sekedar menyalahkan diri sendiri yang telah salah mengambil keputusan untuk menerima luka dengan tabah. Dan kini telah kehabisan darah untuk sekedar berjalan kembali menemukan cahaya.

Maka sebuah kematian yang amat menyedihkanpun menjelang, kesedihan bisu yang turut mati dalam pusara tanpa catatan.


Panjang Jiwo 131025 



Sunday, October 13, 2013

Anak Setan

Suatu ketika terbersit pemikiran yang kemudian bermutasi menjadi pertanyaan tentang kekuasaan setan atas perilaku seseorang. Tentu pertanyaan itu tidak muncul dari udara hampa, melainkan dari penghakiman yang semena mena dialamatkan ketika ketidak sesuaian pandangan berselisihan.

Setan tidak lebih adalah sikap menyimpang yang kita amini, kita turuti dalam berkehidupan. Jikapun sebagian berpendapat dia bukanlah diri kita sendiri, itu semata mata adalah cara paling ideal untuk mengkambing hitamkan hal lain kecuali diri sendiri. Karena setan tidak ubahnya dalah diri kita sendiri yang terhanyut dalam negatifisme pikiran, kemudian diterjemahkan dalam sikap yang belebihan. Sikap yang melanggar tatanan norma kepantasan mapun aturan peradaban yang tidak tertulis, tetapi terpatri dalam nurani setiap manusia. Jadi setan adalah belahan hitam dari sifat manusia itu sendiri yang keluar dari pakem kemanusiaannya.

Penguasaan atas setan pada diri manusia diterjemahkan dalam berbagai bentuk perilaku yang merugikan orang lain yang sejatinya adalah merugikan diri sendiri. Rugi yang amat besar. Akan tetapi sungguh tidak ada manusia yang bisa terhindar dari bahaya terlarut dalam kekuasaan setan. Itu karena sebagian dari perilaku menyimpang yang dikategorikan sebagai produk setan adalah hal hal yang menyenangkan secara rahasia, terutama memberi kepuasan ego. Acap kali perilaku salah yang dilakukan dengan sadar kemudian menimbulkan penyesalan (bagi mereka yang memang berwatak dewasa), namun tidak jarang juga justru menimbulkan ketertagihan bagi pelakunya. Jadi setan itu bisa adiktif.

Diantara dari sekian banyaknya produksi setan adalah perasaan dendam. Seseorang yang memiliki sifat pendendam akan memuaskan egonya dengan menurutkan dendam itu dalam berbagai bentuk yang merugikan. Dendam adalah perasaan memendam rasa tidak terima untuk dibalaskan dengan kesengsaraan yang berlipat lipat ganda jumlahnya. Dan dendam timbul secara subyektif dari perasaan sakit hati. Seseorang yang hatinya pernah tersakiti tidak akan pernah kembali pulih seperti sedia kala. Rasa sakit dalam hati akan melukai jiwa dan menjelma menjadi magma di dalam batin yang pada suatu saat dapat menggejolak dan meledak. Guncangan guncangan karena ketersinggungan perasaan oleh ucapan maupun perbuatan dapat memicu timbulnya bencana api.

Kompromi nurani adalah satu satunya cara untuk dapat “menyembunyikan” si gunung api. Kompromi menghasilkan kaldera yang tentu saja mengandung kesuburan untuk menumbuhkan tetanaman mimpi maupun harapan bagi kehidupan masa depan. Dan kompromi memerlukan kekuatan yang maha besar, untuk menerima kekalahan sebagai sebuah ketidak berdayaan. Komprimi artinya merelakan sebagaian dari hidup yang terbangun untuk diterima sebagai sesuatu yang telah hancur dan tak bisa dibangun lagi, harus ditinggalkan dan tak diharapkan lagi manfaatnya. Dan bagi lelaki, maka penghinaan yang paling menghancurkan adalah binasanya martabatnya sebagai lelaki, ditempat dimana ia membangun investasi sosialnya.

Mereka yang berpandangan picik akan menganggap bahwa sikap negative seseorang yang pernah disakitinya adalah semata mata karena setan telah menguasai hidupnya. Padahal, jika mau sedikit membuka mata sebenarnya sikap yang disesalkan itu tidak lebih adalah anak anak setan yang dia tanamkan bertahun tahun silam. Penghinaan yang sedemikian buruk telah membinasakan makna kemuliaan yang selama bertahun tahun berusaha dibangun dari kehancuran. Harga diri yang karena penghinaan bagi laki laki sungguh sangat menghancurkan kehidupan, mematikan matahari di siang hari dan meniadakan rembulan ketika malam. Di dalam kegelapan itu terjadi perkelahian panjang dengan segala macam nelangsa, benci, amarah bahkan rasa malu karena telah dilecehkan oleh orang justru seharusnya menjaga hatinya. Sungguh sebuah proses rekonsiliasi yang termat mahal, memboroskan umur dan sekaligus mempertaruhkan kebahagiaan pribadi.

Rasanya sudah sepantasnya jika kita selalu belajar menjadi bijaksana, dengan membukan diri untuk mencoba merasakan apa yang orang lain rasakan atas sikap dan perbuatan kita di masa lalu. Seseorang yang dihancurkan di masa lalu dan kemudian memutuskan untuk bertahan dan membangun kembali puing kebanggan, dengan sekaligus memberikan baktinya kepada orang yang telah menghancurkannya sungguh tidak layak untuk direndahkan lagi. Cita citanya untuk menjadi orang baik layak untuk dihargai dengan cara cara yang membesarkan hati. Bagaimanapun juga, dia telah melewati ribuan siang dan ribuan malam dalam perang batin yang sangat melelahkan dan menyakitkan. Mempersembakan kembali luka masa lalu sebenarnya dalah perbuatan tolol yang hanya mungkin dilakukan oleh orang orang yang tolol pula.

Anak setan bukan lahir dari udara, melainkan tertanam di dalam hati yang baik lewat perkawinan antaran kebohongan dan penghianatan. Bayi bayi setan itu berkubang dalam kawah yang tertutup oleh lembaran waktu yang amat rapuh. Erupsinya mendatangkan pedih yang ribuan kali perihnya dari luka awal yang membentuknya. Hidup tidak sesederhana kata kata, sedangkan sikap menggampangkan sembarang mencerminkan kedangkalan nalar. Sungguh tidak bijaksana menyepelekan perasaan orang lain yang berusaha memberikan kebaikan dan kemudahan hidup kita.

Maka pada akhirnya, terkadang orang akan menyesali kebaikannya sendiri yang sia sia. Sungguh mengerikan rasanya membayangkan menjadi laki laki yang mati dengan menanggungkan sakit hati. Terlebih lagi, sungguh rendah mereka yang menyebabkannya.



Panjang Jiwo 131030

Thursday, April 04, 2013

Maros Nostalgi

Gerbang stasiun perlahan tertutup, seiring lampu lampu peron yang perlahan meredup. Senja turun mengikat satu demi satu cahaya. Sepasang sepasang orang terbuang berkerumun di tepi kali, bersiap melintasi malam sialan sekali lagi. Mata mata waspada, ketika iblis menggeliat disepanjang trotoar dan balik rimbun bunga liar. Tinggallah dingin yang membelah tulang! Gedung gedung megah menjulang menyimpan kemewahan menjadi penghias langit belaka bagi siklus kehidupan sisa sisa disepanjang rel kereta dan pintu air Jagir. Nyala lilin seolah melantunkan lagu lagu pilu tentang masa silam dan orang orang dalam kenangan. Tiba saatnya sadar, bahwa ternyata masa lalu tertimbun jauh lebih banyak ketimbang jumlah masa depan. Tiba tiba hidup menjadi terasa usang.

Bangku kayu panjang kedai kopi beratap terpal, menjadi terminal pikiran bagi setiap pejalan. Sesekali angin membawa debu bercampur asap knalpot, beraroma air kencing basi yang tertimbun kencing lain lagi di pojok parkir stasiun. Inilah dasar dari sebuah peradaban kota, ampas dari  cita cita perjalanan masa muda. Mimpi mimpi terdapar pada lapak lapak dekil Pasar Maling, yang memberi nafas pada kehidupan malam di sebuah lorong kota metropolitan. Orang orang begitu kesepian, dengan wajah wajah gelisah seolah takut sendirian. Sungguh, sebenarnya setiap orang selalu sendirian, meskipun ditengah keriuhan. Sungguh sebenarnya setiap manusia adalah invididu yang membawa dunianya sendiri sendiri, hidupnya sendiri sendiri dengan cara yang paling rahasia.

Segelas kopi menunggu arloji. Berteman gumpalan gorengan dan rupa rupa jajanan. Bangku kayu ini oase sederhana ditengah gurun karbondioksida. Seolah memberikan panorama kehidupan dunia yang berjalan ibarat gerbong berbong kereta yang melaju meninggalkan waktu. Cerita demi cerita diri sendiri, rahasia demi rahasia diri sendiri dan juga rahasia milik setiap orang. Hidup begitu keras, toh tidak harus diperlihatkan sebagai sesuatu yang buas. Kemiskinan yang perih ternyata juga hanya salah satu kisah yang hanya tnggal harus dijalani. Semua kisah ada masanya, ada tempo dan iramanya. Dan semuanya berjalan tak berjeda. Waktu telah menjadi belenggu tak kasat mata, rantai gaib yang menggandengkan antara kejadian masa silam dengan kemungkinan di masa yang akan datang. Sedangkan, di bangku kayu kedai kopi tepi jalan, kenang kenangan menggenang bersama nelangsa yang menikam diam diam.

Sepotong maros yang hampir terasa hambar adalah gerbang masuk miliaran nostalgi masa kecil. Masa kanak kanak yang tumbuh remaja dimana manusia belajar membedakan diri dari binatang. Kemiskinan memberikan banyak dispensasi moralitas, oleh karena idealisme yang harus takluk oleh keperkasaan sang lapar. Dan kemiskinanlah sesungguhnya guru paling bijaksana bagi setiap umat manusia kota. Oleh sebab daripadanya, manusia diajarkan untuk tidak melimbahkan apapun dalam hidup. Kemiskinan juga motivator yang alim, sebab daripadanya lahir mimpi mimpi besar, harapan harapan lebar. Yang diperlukan hanya kekuatan untuk menjalaninya. Itu saja. Ketika dogma dijejalkan sebagai surga dan neraka yang sama sama tak ada di muka bumi, maka hidup memberi kebijaksanaan tinggi atas ajaran mulia itu sebagai nilai penenang hati.

Lunak gumpalan maros membawa runcing tajamnya kenangan masa silam, ketika sekeluarga petani tanpa suami hidup pada suatu masa. Lima bocah dan satu ibu, bersama ketidak mengertian dan ribuan makian yang disembunyikan. Keluarga compang camping yang tidak memiliki banyak pilihan, dan hanya memiliki terlalu banya keinginan. Dunia seolah olah lahir dengan ketidak berdayaan, dan anak anak lahir dari krisis yang tak berujung dan tak berpangkal. Setiap hari terjadi perebutan kekuatan, antara harapan dan keputus asaan. Keajaiban ditunggu tunggu setiap bangun dari tidur di pagi hari, bahwa dunia akan memberikan kemuliaan sepenuhnya dengan tiba tiba. Berpuluh puluh tahun terjalani, dan rupanya memang semuanya harus seperti yang terjadi. Suka cita bisa datang dengan berbagai sarana dan cara, meskipun kemelaratan mengepung dari enambelas penjuru angin.

Suapan terakhir maros di tangan  menghadirkan sensasi kenangan akan masa silam yang jauh dari dimensi ruang dan waktu. Ketika sekeluarga petani tanpa suami, lima bocah satu ibu membagi segumpal darah ayam kental goreng; darah dari ayam jago yang disembelih untuk kenduri, mengirim doa bagi para leluhur dan para wali. Ayam jago ayam piaraan, yang terlalu berharga untuk dilimbahkan oleh keluarga yang kelaparan. Mereka mungkin menawar perintah Tuhan, tetapi sungguh mereka tak hendak mencelakakan sesama. Sesungguhnya, mereka hanya mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh kehidupan, tanpa banyak bertanya.

Terimakasih ibu, atas jasamu mengajari kebijaksanaan hidup yang tak ada di dalam buku.  

Pasar Maling – Wonokromo 130403

Monday, February 18, 2013

Rasyid Jamal Rajasa

Rasyid anak pejabat tinggi Negara, kaya dan lagi ternama. Tempo hari selepas hura hura tahun baruan, dengan mobil mewahnya ngebut di tol dan menabrak omprenangan dari belakang. Dua orang tewas, satu balita satu lagi manula. Setelah samar samar, maka semua jelas bahwa memang si kaya ini lalai, sehingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Hukum pidana berlaku, bersamaan dengan tata acaranya.


Jamal lain lagi, dia supir omprengan biasa, hidup pas pasan di rumah kontrakan, jauh dari kenyamanan. Dia hanya mencari rizki, mengitari kota saban hari sejak dua puluh tahun terakhir ini. Suatu hari yang kacau, Jamal mendapat sewa, seorang mahasiswi UI. Anak baru di Jakarta, tak paham jalan jalan ibukota, maka sopir angkot jadilah navigator andalannya. Ketika ternyata ia salah naik, lalu ia jadi panic. Melompat sejadi jadinya dari angkot yang melaju, dikira Jamal berniat mesum seperti kabar di Koran Koran belakangan. Daripada dirampok, diperkosa lalu dibunuh, mendingan menyelamatkan diri. Walhasil kepala mahasiswi UI membentur aspal, terseret sebenatar kemudian terkapar; tewas pula. Maka hukum pidana berlaku, bersamaan dengan tata acaranya.

Rasyid tidak ditahan, otaknya masih shock oleh kecerobohannya yang menyebabkan orang sengsara batinnya; kehilangan orang orang yang dicintainya. Rumah sakit mewah menjadi pilihan, tameng hukum yang melegalkan alasan keculasan. Konon dia harus rajin berobat dan beristirahat oleh sebab kondisinya yang tidak sehat. Nasibnya terbalik 180 derajat dengan Jamal. Sebab Jamal yang kemudian kaget mengetahui penumpangnya melompat, kemudian membawanya ke rumah sakit untuk diobati. Nahas memang, sebab penumpangnya akhirnya mati. Maka Jamal melapor ke polisi. Detik ia melapor itulah awal dia kemudian ditahan, masuk ruang tahanan polsek yang njekut dan kumuh. Bersama bajingan dan penjahat lainnya yang menganggap diri mereka bernasib apes. Dijauhkannya  Jamal dari istri dan anaknya, dari keluarganya. Demi hukum, maka ia harus berhenti mencari makan untuk keluarganya. Terkurung dalam kerangkeng tahanan dengan masa depan yang penuh kekhawatiran.

Jika dipikir pikir, para petinggi negeri ini memang banyak yang otaknya tercampur feses. Di negeri yang berlandaskan hukum ini, hukum berjalan pincang pincang, tebang pilih dan pandang bulu. Untuk pejabat, orang kaya dan orang orang ternama, hukumannya tak perlu berat, sebab dengan menjalani ketidaknyamanan penjara saja dianggap sudah merupakan hukuman yang berat. Cara berpikir yang imbisil itu nyata nyata pernah disampaikan didepan khalayak oleh seorang yang menyandang gelar ahli hukum. Untuk orang miskin sekelas Jamal, maka hukum diterapkan sesuai apa adanya, sesuai yang seharusnya. Tidak ada yang mempedulikan akibat yang timbul dari proses hukum yang harus ia jalani, sebab Jamal bukan anak pejabat, apalagi kaya raya. Terkenalpun namanya sejak malapetaka sore itu saja.

Memang tambah apes bagi orang kecil di negeri penuh retorika ini. Menjadi obyek dari mesin politik yang berjalan mempengaruhi segala lini. Sikap sikap petinggi tak lagi patut untuk jadi tauladan, yang semestinya pimpinan adalah imam yang mendidik dengan contoh; hidup dengan jujur. Tatkala hukum menyambangi mereka yang Berjaya, maka hukum pula akan menjadi ajang kepandaian meramu fakta. Azas kepastian, azas keadilan dan manfaat hanya tinggal menjadi ajaran yang dilupakan, seperti layaknya pelajaran membaca abjad untuk kali pertama. Hukum tajam kebawah, menghujam bumi dan menjepit mereka yang tak cukup punya piti. Kuat melilit sehingga menyebabkan sesak nafas secara psikologis, sedangkan untuk mereka yang kaya, longgar dan melar seperti trampoline.

Memang keadilan tidak perlu sama rata sama rasa, karena keadilan bersifat abstract lagi subyektif. Hukum bukanlah sarana balas dendam, sebab hukum merupakan satu satunya tiang suar bagi keadilan. Para penegak hukum memiliki tanggung jawab moral yang tidak ringan oleh sebab mereka adalan tentakel pengelola Negara yang berkewajiban mejalankan amanat konstitusi. Ketika pejabat hukum tidak terkontaminasi dengan kekaguman dan materi, maka bisa dipastikan bahwa hukum akan menjadi komoditi menakjubkan dan menguntungkan. Akibatnya, tata cara penghukuman orang akan diabaikan, sebab mata penegak hukum tak lagi melihat bahwa setiap orang sama dihadapan hukum.

Bagaimanapun kita sepakat bahwa kita berpijak pada konsep negara hukum, dimana semua orang memiliki hak yang sama didepan hukum. Meskipun, sebenarnya hukum yang berjalan sendiri sudah memberi peluang kepada bemracam macam diskriminasi. Ditambah lagi, mental penegak hukum yang reyot di negeri ini memberi peluang menganga distribusi ketidak adilan, khususnya pada rakyat jelata. Maka tidak akan mengherankan jika pada akhirnya nanti Rasyid Rajasa yang nyata nyata bersalah karena atas kelalaiannya menyebabkan jatuhnya korban jiwa, akan menerima vonis sejenis lelucon. Sedangkan Jamal dan para sopir angkutan umum yang memiliki bobot kesalahan yang sama dengan motivasi berbeda, tentu akan tunduk pada hukuman badan apa adanya.

Bambuapus 130218 

Wednesday, February 13, 2013

Membelah Detik



Malam jatuh kepada garis garis wajah yang dilukis oleh cahaya temaram, ketika perkasa lampu lampu mematikan gemuruh jalan. Tasikmalaya kembali sunyi, tenggelam dalam rahasiannya yang menggenang.  Kedai kopi tepi jalan, tumpangan khayal melalang terbang, jauh menerabas awan awan kemustahilan. Gambar gambar mati tersaji bagai replica taman kaca, indah menyayat. Pupus mimpi hanya  oleh sepatah sepatah kalimat penyampai yang termaknakan keliru dan berbeda. Sisi sisi berisi estetika rasa, bukan tentang siapa dia tetapi tentang betapa sempurna ciptaanNya.

Malam seperti membelah detik ketika pertempuran kehendak bisu menggejolak, pertarungan antar nilai dan kodrat alam fauna.  Tipu tipu daya berasa seolah nyata, membentuk gugusan kebodohan yang mengagumkan.  Kesadaran atas kemanusiaan yang manusiawi membawa angin menganyam ingatan, atas utas demi utas kenangan masa silam.  Pada pucuk pucuk menara Masjid Agung, sepasang mata agung berkilauan menawarkan rindu.

Ada sepi yang menusuk lewat sela sela pagar setiap rumah batu yang membeku. Ada api yang sesekali menyambar pori pori, membujuk diri untuk bertindak gegabah. Dari lorong lorong berupa jembatan dan gang gang seterang kunang kunang, perempuan bermunculan membawa bau rambut. Itu terjadi ketika rombong demi rombong menjadi tak berlampu, terdiam berselimut plastic menjaga malam. Tepian jalan kota ini telah mengajari satu romansa kehidupan purba, seumur zaman dengan peradaban tikus tikus werok. Tingkah manusia aneh  bisa menjadi sangat wajar dan biasa, sebab hidup memang perlu biaya. Ah, kota kecil ini telah menjelma menjadi metropolitan kecil pula.

Pejalan yang terlupakan tersesat di negeri  bidadari, kehilangan arah, kehilangan gravitasi selayak layangan tak berbenang. Sembunyipun akan percuma sebab semua kejadian yang tak diceritakan akan tetap menjadi rahasia. Ia mencari penderitaan yang tak kasat mata, selayak  kenangan runcing  yang menancap telapak kaki sepanjang marka pemandu di jalan aspal.  Sejatinyalah rasa rindu terpelihara oleh dimensi ruang semata ketika jarak menjadi tunduk pada sebuah batas. Batas yang terkadang terletak berjauhan dengan hasrat dan keinginan tersembunyi.

Pantulan khayal percintaan memperlambat interval di kota bernuansa ziarah ini. Percakapan kental terpenggal oleh sebuah keharusan yang teramini. Kilasan balik pikiran melahirkan pergumulan sepi antara keinginan dan kenyataan. Hidup jadi tiba tiba membeku bersama inspirasi yang mati sewaktu sikap menjaga hati diterjemahkan dengan memasung jarak; batas yang terlalu jauh. Dongengan manis kisah si kembi yang takut matahari menyajikan kantuk, ketika sonyaruri terbelah oleh detik yang tak terhentikan.  

Angin nakal membawa kabar tentangmu, yang bersembunyi di balik gelap. Tentang kisah jejak jejak yang kau teinggalkan setengahnya bersisi undangan. Kabarmu datang terlambat, sedangkan hasrat hati tunduk pada waktu yang membawa tubuh melaju pesat. Hanya pada simpang jalan di sudut pasar tua itu, kenangan terbelenggu rantai di bangku kayu.  Kembara malam mengidung asmaradahana, laksana mendaki Galunggung, serasa telah menaklukkan sang gunung. Rupanya pendaki tak lebih sekedar pengunjung yang melintas di perjalanan. Terkadang ada saatnya, ketika segala bentuk pencapaian seolah olah tidak memiliki makna. Hilang begitu saja, tinggal jejak percakapan yang samar samar kuikuti.

Hingga malam lelah menggantung, lunas sudah mantera  bisu pemujaan mengalun.  Bahkan cahaya hari tak dapat menemukanmu, yang menjauh dan bersembunyi di balik mimpi bimbang milik pejalan yang menyinggahi malam. Nyatanya, engkau seolah olah ada.

Tasikmalaya 130208 

Monday, February 11, 2013

Teman Dibawah



Dia adalah seorang asing yang kemudian oleh keajaiban takdir dipertemukan dan kemudian mengenali hidup pribadinya, bahkan membelasak hingga jauh kedalam hati dan pikiran. Kita begitu sendirian ketika berada di ketinggian, merasa bahwa ketinggian menciptakan jarak persepsi . Kita tumbuh di rimba peradaban dimana ketidak adilan terjadi dan terus menjadi jadi di negeri ini. Ketidak adilan yang juga menerbitkan bibit bibit ketidak adilan lainnya, beranak pinak dan berkembang biak dalam laju zaman yang tak mampu kita bendung. Atau hanya karena kita tumbuh pada zaman yang salah. Barangkali.

Sekumpulan kisah perjalanan   terkandut dalam umur yang menyusut. Lompatan lompatan euphoria hidup maupun dada sesak oleh pikiran pekat terlalui seolah olah hanya cerita milik orang lain. Menjadi gambar mati disepanjang dinding lorong dimana kita terus melangkah menuju kuburan. Kita bertemu diantara lekuk lekuk kisahnya, membagi lolongan tentang dasar jurang berisi lumpur yang pernah membenamkan, atau membagi perih oleh sebab penghianatan orang kepercayaan.  Dan kita tetap melaju dengan cara hidup masing masing.  Cinta begitu syahdu mengombang ambingkan arah disepanjangnya.  Membanting dan menerbangkan angan angan hingga kita terdampar pada halaman yang tak mungkin lagi akan terulangi.

Aturan kepantasan memang tidak peduli pada nasib dan keinginan. Maka, dengan masih bisa saling menemukan di dunia langitpun cukup sebagai ziarah kepada monument abadi yang penuh berisi prasasti tentang stanza dunia kecil berpelangi. Sungguh nilai pertemuan hanya dapat terjadi hanya dengan campur tangan keajaiban, oleh sebab daya rencana kita telah dimatikan oleh begitu banyaknya kewajiban yang harus ditunaikan. Hak istimewa kita sebagai manusia bebas telah gugur satu demi satu, jatuh mati ke tanah pada setiap lembar kalendar yang tercabik dari dinding di dekat ruang tamu.

Ketika langkah kakipun perlahan melemah, maka teman di bawah tetap setia menemani, memelihara keindahan masa muda.  Kenangan atas teman dibawah menjadi mozaik kerinduan yang berisi catatan kebaikan hidup dua manusia yang berbeda kepala, berbeda dada.  Teman dibawah menjadi cinta platonic yang justru lebih abadi dari ingar binger petualangan asmara. Catatan catatan pertemuan menjadi silabus pengalaman yang selalu bisa menguatkan oleh sebab penghargaan yang tanpa motif duniawi.

Rasa rindu adalah kolaborasi dari sekumpulan tiga rantai kehidupan sosial manusia; melakukan untuk orang lain, orang lain melakukan untuk kita, atau kita sendiri melakukan untuk diri sendiri.  Sebagian dikatakan dengan bahasa yang tidak bisa cukup menjelaskan esensinya, sangking rahasianya. Toh selamanya teman di bawah menjadi teman peneman angan, peneman hati yang selalu memiliki ruang untuk kesendirian. Sebab teman di bawah sejatinya adalah mereka yang benar benar memenuhi semua syarat untuk menjadi teman; menyediakan ruang lapang dalam hati untuk sekedar berbagi warna hari hari.

Karawang 130211

Monday, December 10, 2012

Menara Bisu



Bagi kenangan, malam adalah menara tanpa cahaya, tanpa suara. Pada bastion bastioan sepi ziarah pikiran berpendar liar memunguti serpihan kesan. Ternyata, kuota usia yang semakin menipis menggiring langkah langkah kaki menyusuri pematang lengang yang menyempit. Makin lama makin sunyi, hanya ada langit dan bumi. Pikiran menjadi satu satunya teman, tempat kenangan terangkut dalam ingatan yang patah patah. Separti halnya sejarah yang hanya mampu terbaca dengan cara draba.

Mozaik bisu susul menyusul mengerjap seperti bunga langit yang menggeletar lalu lenyap. Sungguh, masalalu telah menjadi benda mati yang kehilangan warna hidupnya, tinggal sinema berwarna pucat sebagai penghiburan rasa. Berharap menjadi kebanggaan pribadi sebab pernah menjadi elemen debu di ranah bumi. Barangkali memang inilah penjelmaan dari relief ingatan yang membentuk museum sangat pribadi; sebaris catatan di dinding langit.

Pada pandangan yang enggan terlepaskan, terpaksa pedang menebas simpul pengikatnya, agar lepas mengembara sesuka udara. Ada kalanya, sesuatu yang terlalu menggila tak mewakili rasa. Euphoria penuh keniscayaan tak ubahnya induk dari déjà vu yang rajin datang hampir disetiap waktu. Déjà vu yang sekarang sudah berubah bentuk menjadi runcing menusuk di setiapa mata sisinya. Sebenarnya, yang melahirkan sakit dari kenangan buruk bukanlah kejadiannya, melainkan penyesalan yang tumbuh setelah saling berpamitan.

Maka kepingan demi kepingan ingatan kemudian bermetamorfosis di dalam palung hati, menjadi monumen bisu yang sangat diam. Menara tanpa suara menyimpan relief relief keindahan ketika tawa terbagi dalam cerah hari hari. Lalu mendung menghalang matahari, membuat bumi muram. Ah, apa bedanya juga jika toh pada akhirnya pematang yang menyempit menumbuhkan bunga bunga rumput disepanjang sisinya. Hidup tetap berjalan meskipuan lengang seolah tak bertuan. Dan semua yang sepatutunya terjadi akan menjadi kejadian dalam kehidupan. Yang tua ditinggalkan, dan yang muda muda kemudian berlagak seolah juragan. Juragan yang berhak atas kehidupan lahir batin orang lain, manusia lain; atas hakekat hidup mahluk lain. Sudah menjadi jamak memang, bahwa usia muda berbanding lurus dengan kesombongan, sebagai implementasi dari pencarian jatidiri yang tidak ada.

Jendela jendela keinginan menganga tanpa daun, membiarkan lumut dan debu bersetubuh disetiap lekuk dan bentuknya. Biar menjadi usang, bekas peradaban masa silam yang tadinya disangka sebagai masa depan. Lalu hujan yang kebingungan mengundang jasad  renik dari benturan pertemuan  yang berhamburan di lantai granit kala itu. Tempat ini menjadi hidup dalam matinya yang tenang. Ada jejak jejak purba yang muram membatu ditingkahi masa. Ada rindu yang jatuh barsama rintik hujan di daun kamboja tepi balkon.

Inilah kisah ziarah sepanjang lorong sepi sisa pertikaian pemahaman. Menara tanpa suara bagi hati yang diam diam kehilangan. Detak arloji memaparkan sesal demi sesal atas kesempatan yang terisa siakan begitu saja tanpa disadari. Sedangkan pikiran atasnya masih menjulang laksana monumen senyap yang menggapai gapai langit, mencari seserpih saja kenyataan. Rupaya waktu telah mengalahkan semua kejadian, seperti sebutir debu yang hanyut terbawa air hujan; melintas hampa dibawah jembatan Ampera menuju lautan.

Seperti halnya air mata yang luruh tanpa tangisan…

Palembang 121210   



Friday, October 26, 2012

Filsafat rumput Teki



Rumput Teki (Cyperus Rotundus L.) adalah lambang alam yang mengandung makna tekad baja jika dicerna dengan cara berpikir rumit, bukan sekedar menganggapnya rumput liar tidak bermanfaat. Kekuatan tekad rumput teki yang sanggup menembus kerasnya aspal hotmix, dalam kondisi tidak penyok penyok, hijau segar runcing menujulang sungguhlah menakjubkan. Daripadanya manusia ditauladani, bahwa kekuatan sebuah tekad dapat menembus rintangan terkeras, dapat melewati medan terganas dalam kehidupan.

Benar kata para pintar bahwa suatu bencana yang tidak membunuh akan menjadikan seseorang untuk sanggup memangku amanah yang lebih besar. Bagi rumput teki, jangankan diinjak manusia, dilindas berulang kali dengan roda pun akan terus tumbuh segar kembali. Bahkan kemarau yang seolah menghanguskan setiap klorofil dimuka bumi sekalipun tidak akan mematikan mereka dari eksistensi. Rimpangnya akan tetap bertahan hidup di tanah tertandus, untuk seuatu saat menyembul ke muka bumi dan bersyukur untuk menjadi sesuatu yang tidak menjulang tinggi. Bangga dan bersyukur karena menjadi rumput Teki. Tekadnya yang kuat dan konsisten tidak terpengaruh oleh cobaan dan ujian yang tidak membunuhnya.

Menjadi rumput teki adalah hal terbaik yang bisa dijalani oleh makhluk hidup di alam semesta. Bagaimana tidak, penampilannya adalah mahkota bentuk; sederhana. Karena mahkotanya itu pula, karena kesederhanaan itu pula yang menyebabkan ia menjadi mahluk yang pintar bersyukur dengan keadaan dan hidup yang dijalaninya. Rumput teki tidak memerlukan pencitraan maupun belas kasihan, apalagi terbersit keinginan untuk menjadi rumput jenis lain. Keberadaannya dimaknai sebagai anugerah tertinggi dari sang pencipta, sehingga untuk mengharap lebih dari keadaanya sekarang dianggapnya sebagai penghinaan terhadap keagungan pencipta.

Rumput Teki tak tergoda oleh dendam meskipuan diabaikan keberadaannya, bahkan terkadang dijadikan materi celaan dalam obrolan tanpa bobot. Kata kata “mung sak teki”dan teman temannya tidak akan mempengaruhi kebanggaanya atas diri sendiri. Ia tak mudah sakit hati. Segala yang didapat didalam hidup sudah lebih dari cukup, oksigen gratis, dan semua molekul dan atom yang menyokong hidupnya dengan cuma cuma adalaah kemewahan dari kehidupan. Tidak layak untuk dinodai dengan keluhan, apalagi congkak dengan sikap pamer. Pamer kehebatan, pamer kebaikan, pamer akan sesuatu yang sejatinya tidak patut untuk dipamerkan, pun sesuatu yang sejatinya tidak layak untuk dikeluhkan.

Dari inferioritas dan kesederhanaan bentuknya, kebaikan tertebar lewat setiap butir angin yang mengampiri batang dan daunnya, serta bunganya yang kecoklatan membentuk payung mini dipermukaan kumpulan debu. Ia memberi manfaat kepada mahluk lain yang mengenalnya, termasuk mereka yang mengesampingaknnya.

Filsafat rumput teki, sejuk dihati laksana butir embun yang menggantung dipucuk lembar daunnya, hijau mencium tanah; memupuk kekuatan bagi hati yang mulai melemah.

Gempol 121026 

Friday, October 12, 2012

Sabana Kosmos Maya

Dalam hukum rimba, bersembunyi adalah cara terbaik untuk tetap bertahan hidup. Barangkali mahzab itu juga yang mengilhami manusia modern dengan kapintaran bermimikri, kepintaran berkamuflase diantara sesamanya. Intinya adalah mengelabuhi orang lain demi kepentingan pribadinya. Terlebih lagi dalam kehidupan dunia maya, dimana apa yang ditampilkan seringkali sebenarnya adalah apa yang hendak disembunyikan. Itu namanya pencitraan. Menampilkan sesuatu yang hebat hebat agar orang hanya mengenal kehebatannya saja.

Kehidupan kosmos maya dalam rekam jejaknya banyak menampilkan kepameran dan unjuk keluhan. Kedua duanya adalah modal utama untuk mengumpulkan simpati sebanyak banyaknya. Dan jika simpati sudah terkumpul, seseorang bisa berubah menjadi selebriti dunia maya, dengan ribuan penggemar, ribuan orang yang mengaku dan dianggap sebagai teman; bahkan terhadap mereka yang sebenarnya tidak dikenal sekalipun. Di dunia nyata, hanya orang yang kita kenallah yang disebut sebagai teman, bukan? Banyaknya teman dunia gaib dimana mana itu juga memberi peluang untuk menanam bibit bibit rasa yang buahnya bisa dipetik dimana saja dan kapan saja sesuai selara. Jika keberadaannya dikonfimasikan di dunia nyata, maka jawabannya akan sama "bukan siapa siapa". Ah, sungguh aneh mainan hati yang satu ini. 

Pada masa yang lebih modern dan canggih lagi, dunia maya yang tadinya bermaksud sebagai wahana pertemanana virtual, bisa pula berubah fungsi sebagai pengemban tujuan materi. Media sosial bisa menjadi etalase yang sangat efektif di masa ekonomi global hari ini. Dan tentu saja, fungsi utama sebagai media sosial, pengikat pikiran antar manusia yang berjauhan atau berdekatan lokasinya ini tidak akan pernah terlepaskan. Etalase berbasis laba bisa menjadi penyamar dari ribuan maksud pribadi yang tersembunyi rapi dibalik gemerlap barang dagangan, dan juga dibalik riuh rendah komentar maupun pujian. Pada saat yang bersamaan, korban korban penipuan berjatuhan, berbanding sejajar dengan para pelakunya yang melenggang sambil tertawa.

Memang sudah sifat manusia untuk haus akan sanjungan, terutama bagi mereka yang merasa terlalu modern dan maju untuk sejenak kembali memahami makna kehidupan akar rumput. Padahal, pujian di dunia maya dengan sangat mudah dapat diartikan sebagai ajakan untuk mengejawantahkan rasa saling mengagumi dan saling memuji itu untuk tujuan yang lebih pribadi lagi; urusan yang berkaitan dengan syahwat dan kepuasan individual. Buktinya, media sosial itu memproduksi korban perkosaan, korban pencabulan, penculikan bahkan human trafficking tanpa henti. Setiap hari selalu ada berita baru mengenai itu di koran dan tivi. Itu jika kita masih mau membaca dan mennyimak berita berita humaniora. Tentu di dunia maya tidak banyak tertampilkan, sebab dunia maya adalah dunia ideal bagi para pemuja asmara berbasis kebohongan. Dan lebih konyol lagi, pujian dan penghargaan di dunia maya tidak lebih hanya symbol lisan, bukan lahir dari ketulusan.

Eksistensi seseorang di dunia maya sebenarnya adalah kelahiran kehidupan yang serba instant. Tanpa melewati fase kanak kanak dan pembelajaran, tetapi tiba tiba dewasa dengan berbagai kepentingan pribadi. Dengan kepentingan pribadi itu pula pada akhirnya justru jejaring sosial dimanfaatkan untuk kepentingan kepentingan tersembunyi, penuh kamuflase dan intrik dimana program kepura puraan dapat diaplikasikan semaksimal mungkin. Di dunia maya orang yang gemar menampilkan kehidupan seolan olah bisa hidup subur makmur. Seseorang tidak perlu mengenal orang lain untuk menjadi teman, dan kita bebas “mematikan”orang yang tidak sesuai dengan selera kita kapan saja kita mau tanpa beban. Sungguh suatu kehidupan yang ideal bagi para pendusta.

Maka, ketika seseorang sembarangan membuat pernyataan bahwa dia akan menutup diri dari jenis pertemanan apapun bentuk media sosial , hal itu sesungguhnya omong kosong. Ah, memang dunia virtual ini sudah meracuni akal sehat orang, membuat orang tak mampu mengelola janji, mengelola kata katanya sendiri. Padahal sesungguhnya kata yang kita ucapkan sendiri adalah ukuran dari kualitas seseorang. Setahu saya, di dunia nyata, yang namanya janji adalah hutang, dan yang namanya hutang harus dilunasi. Sebab tidak dilunasi maka akan ditagih nanti di akherat sana. Meskipun berpendidikan sederhana, tetapi sebagai orang yang beragama - meskipun tidak terlihat religius amat -  tentu kita paham maknanya. Maka sudah selayaknya kita patut untuk berhati hati dalam mengelola janji.

Akan tetapi, jika dipandang dari bumi dengan kaki menapak tanah dan dicerna dengan pikiran yang bersahaja, sebenarnya dunia kehidupan virtual tidak lebih dari sekedar jendela tempat ilmu berada. Secara positif kita bisa belajar dari sana mengenai banyak pengetahuan. Dari situ saja kita bisa mengambil intisari kesimpulan bahwa motif dan modus untuk eksis di dunia maya sebenarnya dikendilkan oleh akhlak masing masing individu pemilik akun. Kita tidak bisa menyalahkan media sosial sebagai zat memabukkan dan menggemboskan akhlak, tetapi manusia dengan sadar dan sengaja terlibat dan memandangnya sebagai sarana dan arena yang cocok, aman dan canggih untuk berlaku durjana. Keputusan untuk memilih dan mematikan teman dan keputusan untuk menggunakan kebijaksanaan dalam mengelola akun jejaring sosial sungguh sangat menentukan citra dari pemilik akunnya. Hanya saja memang, sebagian besar dari orang modern dengan sukarela menyediakan diri untuk terjebak dalam gemerlap hura hura dunia maya, mengumbar segala yang tabu menjadi hal biasa. Salah asuh atas kondisi ini bisa menyebabkan orang berpikiran serba negatif, dan menciptakan kerangka pikiran yang sarkastik. Mungkin karena biasa ber "seolah olah" itu.

Sekali lagi, kemampuan untuk mencerna kebijaksanaan hidup memberi kita peluang untuk menentukan pilihan dalam bergaul di dunia modern dan instant ini. Hanya orang orang yang kurang peka terhadap kehidupan nyata di sekeliling kita saja yang mudah termabukkan oleh pesona dunia maya. Mereka yang akan menjadi mangsa empuk bagi para predator yang telah bercokol dan melanglang buana di dunia seolah tanpa batas itu untuk satu tujuan; mencari mangsa. Internet memang adiktif, dan itu nyata nyata dimanfaatkan orang untuk mengambil keuntungan pribadi. Sebagai media yang diciptakan menyerupai labirin pikiran manusia bertata krama, jejaring sosial bisa menjadi tempat yang sangat berbahaya jika kita salah menafsirkannya. Homo homini lupus, inilah modernisasi dari kejahiliyah-an dalam kemasan menawan sesuai selera zaman.

Jejaring sosial di dunia virtual, tidak ubahnya sabana kosmos maya tempat pendusta memuja rasa.

Surabaya 121011

Thursday, October 11, 2012

Saturday, September 29, 2012

Si Dodoh


Sungguh kita patut menaruh kasihan sama orang seperti ini. Karena kedangkalan nalarnya, Si Dodoh merasa berhak untuk menentukan mana yang salah dan mana yang benar. Si Dodoh selalu menjadi hakim atas semua perkara, hakim yang menentukan tentang benar salahnya sesuatu, bahkan benar atau salahnya kreasi pikiran. Kedangkalan nalarnya itulah yang membuat dirinya menjadi merasa paling pintar serta paling mulia. Sungguh menyedihkan!

Orang type ini mengukur kualitas orang lain dari hal hal duniawi yang ada pada seseorang. Jabatan, profesi, dan tentu saja materi. Sebuah metode pengukur sangat picik jika dilihat dari lingkungan sosialnya. Caranya mendeskripsikan sesuatu yang sarkastik terasa sangat dangkal makna, wujud dari penjabaran akan miskinnya pengetahuannya. Apalagi nuraninya. Tetapi Si Dodoh tetap bangga dengan itu semua, merasa berjaya karena kepicikannya sendiri. Merasa hebat bagi dirinya sendiri, padahal sebenarnya Si Dodoh tidak ubahnya tong kosong yang nyaring bunyinya di dunia nyata.

Hal hal yang bukan dirinya tetapi berasal dari titisan darahnya diagung agungkan sedemikian rupa, seolah adalah yang terhebat diseluruh dunia. Orang yang tahu pergaulanpun pasti paham jika apa yang dipongahkan itu tidak lebih dari lapisan penghibur di kalangannya. Sungguh tidak lebih dari sebuah probabilitas kehidupan; jaya atau merana. Sesuatu yang tidak elok jika dielu elukan sebagai pemenang atas semua persaingan. Apalagi digunakan untuk menghina dan merendahkan orang lain. Bukankah orang yang menistkan orang lain justru menempatkan dirinya lebih rendah dari manusia ternista sekalipun?

Si Dodoh seperti menepuk air di dalam dulang, menyemburkan ludah ke langit pada setiap kata katanya yang akhirnya sebenarnya mendeskripsikan tentang dirinya sendiri. Kemengertiannya tentang tatakrama pergaulan sudah bisa menjadi penunjuk tentang kualitas intelektualnya. Itu bisa tercermin dari susunan kata kata yang dikirimnya melalui pesan singkat. Untungnya Si Dodoh bukan lagi muda. Potensinya sudah habis dimakan usia. Tuhan memang maha adil, orang seperti itu memang tidak layak diberikan kuasa dunia, seandainya Si Dodoh berkuasa, tentu akan menebarkan kemudharatan yang lebih besar. Jadi sebenarnya Si Dodoh tidak lebih dari manusia kardus yang kebingungan mencari cara menyombongkan kedunguannya sendiri.  

Sangking tidak masuk akalnya cerca yang dihamburkan, saya jadi curiga bahwa orang ini mengidap suatu penyakit. Bisa jadi penyakit hati, bisa jadi pula penyakit otak atau mungkin syaraf. Kewarasanya tercemar oleh ambisi atas sanjungan duniawi. Si Dodoh bisa tiba tiba menjadi pembenci paling sadis terhadap orang yang tidak ada hubungannya dengan kekecewaan yang dialaminya, tentu ada sesuatu yang tidak beres atas orang ini. Yang bisa dilakukan oleh mereka yang menyadari kegilaan ini tentu hanyalah menyarankan untuk pergi mencari pertolongan, berobat ke dokter atau ke dukun. Memang hanya sedemikianlah pemahamanya soal pengobatan; itupun pasti dia akan menyangkal bahwa dia sakit. Bukankah tidak ada orang gila yang mengaku sakit jiwa?. Padahal, obat yang sebenar benarnya obat adalah hidayah dari Tuhan.

Sungguh kita patut untuk prihatin atas beban negativisme yang ditanggungkan sehingga Si Dodoh menjadi begitu rendah ahlak. Si Dodoh terang terangan menghinakan sebuah profesi, sedangkan bagi si pemilik profesi itu adalah amanah dan pengabdian mulia kepada Tuhan, keluarga dan pengejawantahan dirinya sendiri. Kita tidak patut merendahkan suatu pekerjaan halal, seburuk dan sekasar apapun itu. Disekeliling kita, kita bisa melihat orang orang yang menghayati pekerjaannya, menjalankannya dengan tekun sebagai ibadah. Sayangnya, Si Dodoh dibutakan dari itu semua sebab yang dilihat adalah bayang bayang kemuliaan dirinya sendiri. Kemuliaan  hayali seseorang yang kehilangan akal pikiran. Jika sudah sampai pada kesimpulan ini, tentu obrolan dengannya menjadi tidak berguna lagi. Bahkan keberadaan dirinya di dunia maya mati kaku hanya dalam hitungan detik, dua kali klick mouse unfriend dan block this person.

Sebenarnya, Si Dodoh berada pada strata terendah dari lingkungan peradaban. Kasihan! Semoga Tuhan memuliakan hidupnya.


Bambuapus, 120929

Wednesday, August 22, 2012

Matinya Pak Urip


Ini kisah dunia biasa, proses alam yang menjadi kendalinya. Bahwa segala yang hidup akan mati, bahwa niscaya semua yang bermula akan berakhir di dunia ini. Dari kisah cinta yang menggebu hingga berubah menjadi debu, dari masa muda yang gemilang menjadi hari tua yang suram dan kesepian. Kejadian demi kejadian adalah rangkaian proses dari metamorfosa kehidupan, sedangkan perasaan hati sebenarnya adalah pewarna hari hari; agar hidup tidak melulu berwarna sephia.

Suatu ketika Pak Urip adalah lelaki gagah perkasa, yang begitu kokoh menjadi sandaran jiwa dan gantungan hati bagi si pemuja. Di dalam setiap geraknya menimbulkan birahi, dan utas demi utas kalimatnya menjadi cahaya. Pak Urip adalah malaikat tanpa sayap bagi seorang bidadari yang terbuang diluar sangkar emasnya. Terlunta lunta dan tersesat sendirian diburu oleh pendendam. Di ketiak Pak Urip semua luka dapat disemayamkan, sedangkan luas hatinya laksana telaga sejuk yang tak pernah kering walau kemarau berlangsung ribuan tahun. Disana pula segala resah dialamatkan.

Dia yang membangun keikhlasan dari kehancuran atas kebanggaan pribadinya sebagai lelaki. Tak perlu diceritakan kepada dunia, sebab ia tersembunyi di kuburan hati, tersimpan pada bilik sunyi setelah melewati lorong panjang labirin kerahasiaan. Bahkan seorang pemujapun bisa palsu. Luka imitasi yang hanya dipergunakan selama menguntungkan, selama menyenangkan. Kiranya memang jalan hidup harus demikian, Pak Urip mengikhlaskan hatinya dijadikan alas kesetan; material pembersih dari gedibal tengik yang menempel di telapak kaki.

Kiranya harta juga ikut mengendalikan manusia. Menjadi salah satu faktor penentu perilaku antar sesama. Harta jugalah yang sanggup memodifikasi romantisme kenang kenangan menjadi sekedar masalalu tanpa sejarah. Oleh karena ketersediaannya yang semakin terpangkas oleh kewajiban usia, pak Urip perlahan menjadi benda mati yang usang didalam hati. Sesosok manusia tawar tanpa cahaya, tidak lagi bedaya pikat; membeku seperti self portrait di dinding ruang sembahyang. Kebersamaannya telah ditebus dengan angka demi angka, tualang demi tualang jiwa raga diantara gang dan selokan rimba beton. Itu lebih dari cukup, bagi pak Urip yang bukan apa apa.

Di dalam hidupnya, pak Urip dimatikan dari arti keberadaan. Senar senar pengantar suara telah putus, rantas oleh datangnya kekaguman baru atas sesuatu yang lebih berwarna, lebih baru dan memesona. Untuknya, telinga telinga dipatri mati, mata mata dibutakan bahkan hati sendiri dapat ditipui. Derai tawa yang meletupkan birahi mejadi pengganti photo profile; agar seluruh dunia tahu hati sedang berbahagia. Agar seluruh dunia tahu, bahwa kecongkakan diijinkan bagi yang mampu. Agar seluruh dunia tahu tentang kehebatannya melalui status statusnya; biksu karbitan baru berjubah musang.

Bagi penipu, Pak Urip tak ubahnya nisan kayu yang akan segera lapuk dimakan waktu. Lalu hilang dari pandangan bahkan dari ingatan. Dia telah mati, dimatikan dengan perlahan, lalu dikubur di bawah dipan. Tak layak dirindukan, apalagi dipikirkan. Sebab, dunia tak berhutang kenang kenangan atas hidupnya.

Bambuapus 120822

Monday, August 20, 2012

Mudik


Kehilangan momentum bertubi tubi ternyata bisa membuat orang frustrasi. Seseorang yang tidak lagi merasa punya kampung halaman sama halnya telah kehilangan akarnya, kehilangan rumah sejatinya, dimana segala persoalan bermuara, diamana semua jenis kebahagiaanpun menyegara. Rumah dimana setiap pengembaraan berakhir dengan cerita kisah kisah tempat yang jauh dan menyenangkan. Dan kehilangan kepemilikan secara batiniah terhadap rumah menjadikan jiwa seolah yatim piatu, bocah lola yang tidak memiliki tempat sebgaimana mestinya.

Kampung halaman yang sering dilewatkan tanpa kehadiran pada moment moment hari raya, moment istimewa, sejatinya tetap berada dalam kalbu, menjadi penaung dan pengingat semua ajaran tentang kesederhanaan dan budi pekerti. Manakala kampung halaman itu kemudian kehilangan bobot karena habisnya masa pakai, rontok satu demi satu dimakan zaman dan digantikan dengan cerita cerita baru yang dianggap lebih seru, maka pulang kampung hanya akan menjadi acara seremonial penyemarak ritual tahunan.

Ketika jutaan orang berbondong menuju timur, kaki akan melangkah ke selatan, beda tujuan. Menyaksikan orang begitu bergembira menyambut hari raya, paling tidak ada juga terbersit kegembiraan yang tak perlu dikatakan. Sebuah kegembiraan yang maha sunyi, empati diam diam sambil membenamkan keinginan. Toh jika kita kembali kepada kesahajaan, hari raya hanya akan berlangsung paling lama dua hari. Kedua duanya pun sama, berasal dari siklus waktu yang berulang tak henti itu; antara Seinin hingga Minggu. Ada baiknya juga mengistimewakannya, pertanda memberi hormat kepada warna peradaban. Mudik adalah ritual ziarah kenangan masa kecil, satu bab tentang awal muasal kehidupan manusia.

Wajah wajah lelah terslemurkan oleh ceria, harapan berlimpah akan datangnya saat bertemu dan berbagi cerita dengan sanak saudara, handai taulan yang lama tidak dijumpa. Jalalnan menjadi riuh oleh para musafir, kegembiraan meluap kemana mana disepanjang jalan. Dan sebagian lagi menyaksikan ingar bingarnya dengan diam diam, dengan perasaan nelangsa yang ditekan sedemikian rupa sehingga tidak terlihat di permukaan. Dunia berjalan dalam sunyi, senyap yang menyergap. Segalanya berjalan dalam diam, angan angan dan keinginan semua dibenamkan dalam percakapan monolog tentang lebaran.


Di jalanan, jutaan orang hilir mudik mengangkuti rindu yang menjadi energi langkah melaju, menziarahi masa lalu. Sejenak mempecundangi bumi perantauan dengan lagak dan gaya sebagai orang baru.

Tasikmalaya 120816


Sunday, August 19, 2012

Lebaran

Akhirnya euphoria lebaran datang lagi. Kali ini seperti tahun sebelumnya, dimulai dengan ketidak pastian oleh pajabat negeri. Pejabat di negeri ini memang semakin gemar membuat bingung rakyatnya. Semakin tidak bermutu. Dulu dulu, hari lebaran itu sudah bisa diketahui setahun sebelumnya, hingga dalam setahun itu semua orang bersiap siap untuk merayakannya hingga hari H.

Semangatnya sama, kegembiraan dan ritual fenomenalnya sama. Yang membedakan ada beberapa, diantaranya prestise dan rasa kewajiban untuk memberi kegembiraan. Sedangkan dulu sewaktu kecil moment lebaran adalah keadaan yang paling menggembirakan, datang dengan sendiirinya. Rupanya kebahagiaan anak anak itu disokong oleh para orang yang dewasa. Pakaian baru dan uang saku berrlimpah adalah identitas lebaran masa kecil, dan sekarang dirubah persepsinya menjadi sebaliknya; penyedia pakaian baru dan uang fitrah lebaran.

Diumumkan di tivi maupun tidak, lebaran tetap harus terjadi. Ritual pulang kampung para perantau sudah dimulai dua minggu sebelum hari lebaran sesuai dalam calendar. Ucapan ucapan selamat dan permaafan menjadi nuansa yang mendamaikan. Permintaan maaf dilahirkan dalam lafal kata kata serta diucapkan  didalam batin serta ditujukan untuk satu pribadi secara spesifik. Zaman berubah, orang sekarang lebih gemar menyebar pesan broadcast permintaan maaf secara massal dan di rapel dalam satu kali klik tombol send. Ucapan selamat dan permintaan maaf yang dilahirkan dari text di gadget menjadi kehilangan bobot makna. Hanya seremonial, tidak ada pendekatan secara up close and personal.  Jadi hambar rasanya.

Ini lafal lebaran yang diajarkan dari tahun ke tahun di masa kecil dulu:
Suasana kalal bikalal begitu sacral. Yang muda mendatangi yang tua secara berkelompok, dan yang tua membuka diri untuk yang muda. Si muda dengan sikap taklim akan menjabat tangan si tua dengan kedua tangan, dan menunduk (pantang menatap mata senior). Si muda lalu berucap “ngaturaken sugeng riyadi, nyuwun pangapunten sedoyo kalepatan lair lan batos”suaranya harus lirih, khidmat seolah dengan segenap perasaan ucapan selamat dan permohonan maaf disampaikan.  Harus tertib, berurutan satu persatu. Si tua dengan santun dan berwibawa akan menjawab runtut :”Iyo, podo podo, semono ugo aku, wong tuwo akeh lupute mugo dilebur ing dino rioyo iki”. Ketika semua sudah selesai sungkeman, maka pecahlah suasana menjadi ceria. Si tuan rumah mempersilahkan tamu tamunya mencicipi hidangan. Dari rengginang, permen, kacang, tape, roti maupun kue kue aneka rupa.

Idealnya semangat seperti itu dipertahankan meskipun dengan cara yang jauh lebih modern. Pesan massal itu ibaratnya menempelkan secarik kertas berisi tulisan, ditujukan kepada siapapun yang membacanya. Sungguh tidak ada hormatnya. Akan sangat berarti jika pesan itu disampaikan seperti halnya pesan pribadi, ditujukan untuk pribadi si penerima. Indikasinya adalah panggilan atau nama si penerima disebutkan.

Diluar dari itu semua, lebaran selalu menghadirkan wajah wajah gembira penuh sukacita. Masing masing orang melewati dengan keadaan dan caranya sendiri sendiri. Sebagian besar berbagi bahagia bersama keluarga, kerabat dan sanak famili; pokoknya orang orang tercinta. Sebagian lagi melewatkan hari raya dengan tetap berada ditempatnya bekerja seolah lebaran tidak lewat di pos jaga. Yang lebih mengenaskan lagi adalah mereka yang mlewatkan hari raya di dalam penjara atau tergolek sakit di pembaringan. Tetapi lebaran tetap terjadi, menghadirkan kesan dan suka dukanya sendiri, untuk diperbandingkan dengan lebaran tahun mendatang. Itupun jika Tuhan masih mengizinkan kita ikut dalam peryaan lebaran tahun depan.

Selamat Idul Fitri 1433, semoga semua mahluk selalu berbahagia. Saling memaafkan tulus dari jiwa.


Bambuapus 120819



Tuesday, August 14, 2012

Kota Mati


Gedung gedung kusam itu tampak membatu.  Pepohonan dan pagar pagar rumah dikuasai debu yang membungkam kehidupan. Kemegahan masalalu menjadi runcing oleh peperangan dalam kenang kenangan. Nyatanya iblis memang tidak pernah mati meskipun zaman menelantarkan sebegitu lama. Memenjaranya dalam kuburan waktu sendirian.

Luka yang mati suri memprovokasi damai dalam hati. Bahkan pada saat malam malam riuh oleh khayalan. Aku meminta maaf kepada batu yang telah tergores oleh kisah dan menjadi prasasti, benda mati yang tak mungkin tergeser dalam hati. Lukisan di dinding sejarah mengandung bekas bercak darah, oleh hati ungu yang terseblak kasih salah kisah. Barangkali nanti kuasa waktu akan mengangkuti butir butir debu yang tersangkut di ranting ranting prasangka.

Sewaktu matahari kuning meredup di tepi bumi, semua luka datang menghiba hiba. Mempertontonkan rekaman demi rekaman memar  yang terperangkap oleh cahaya; kisah suatu masa pada enam tahun berlalu. Pada angin tinggeng di kota mati, pikiran terbelah oleh perih dari pedang bermata ganda. Antara ketakutan akan tragedi laten dan takjub atas keajaiban misteri kehidupan. Perebutan dominasi atas masa lalu dan masa depan; mengesampingkan hari ini. Menapakkan kaki di kota mati ternyata bukan sekedar ziarah ketiadaan, tetapi juga mencicipi kembali beling masa lalu yang menempel di telapak kaki dan sela jari jari.


Pada waktu malam turun mengurung kota mati, jiwa jiwa menari dalam gelapnya.  Tidak lagi menjadi soal siapa yang ada dalam genggaman, sebab ternyata kegelapan telah membutakan mata dari cahaya. Di dalam hitam maha luas, pikiran mengayun mengikuti irama nostalgi; kiranya hanya perih melulu yang muncul kembali.  Rupanya di dalam gelap hanya ada pedang bermata dua, yang melahirkan keragan tak kira kira. Nyanyian angin, nyenyanyian bulan dan bintang bintang telah turut mati bersama sonyaruri. Tinggal angin udara bediding yang tersesat disela palawija, bingung mencari selimut yang tersembunyi di rumah rumah batu.

Ah, kota mati tidak ubahnya gunung batu yang menjulang menghalangi jarak pandang. Mendakinyapun hanya bisa dengan angan angan. Sedangkan pada tebing tebih jurang dan hamparan lembah tandus itulah seretan jejak jejak kaki membekas sewaktu perkelahian tidak mendatangkan pahlawan untuk mengadu. Catatan dendam terbawa berkeliling dunia, memetiki buah buah pengalaman yang kemudian kita sembunyikan. Sebagiannya menjadi penawar sempurna sehingga tak patut untuk diberitakan. Luka itu begitu sempurna, sehingga tidak ada satupun penawar atas perihnya.

Sedangkan aku, telah kutetapkan arah laju perahu, meninggalkan kota mati dan melangkah mengikuti garis langit. Ia akan menjadi catatan masa lalu yang tersimpan rapi di rak kenangan. Tidak ada kuasa dan daya untuk menghapusnya, kecuali melihatnya sebagai fragmen fragmen masa yang tak lagi punya nafas dan tunas. Kepada rumah pelangi layar terkembang memuja angin. 

Rupanya perang telah menyisakan biji bijian yang terabaikan, hingga tumbuh menjadi monumen pengingat bahwa di pematang ladang itu cinta pernah lahir prematur dan kemudian mati suri. Kita pernah membangun mimpi di rumah kayu di kota itu, yang kemudian hancur menjadi beling beling tajam yang mejauhkan dari rabaan tangan.

Kota mati kota kenangan, berisi benda benda mati serta zombie yang tak henti bergentayangan meneror mimpi mimpi yang baru saja terbangun kembali di kejauhan.

Bambuapus 120814 

Monday, August 06, 2012

Buku Wajah


Sungguhlah tidak bijaksana mengukur kualitas sebuah buku hanya dari melihat dan membaca judul di sampulanya. Sebab inti sebuah buku terletak pada susunan huruf demi huruf yang tercantum pada lembar demi lembar halamannya. Dan, sebuah karya tulis yang hebat dan bermutu hanya bisa lahir dari penulis yang rajin mebaca buku. Mungkin sekedar referensi, atau bisa jadi sumber inspirasi. Dan selamanya esensi sebuah buku akan tetap menjadi misteri manakala lembar demi lembar halamannya tidak dibaca.

Berbeda dengan buku wajah, yang kemudian menjadi habitat dari hampir satu miliar manusia di dunia. Buku wajah menjadi panggung sandiwara raksasa dimana setiap orang bebas mengambil peran untuk berpura pura ataupun bersungguh sungguh menampilkan jatidirinya. Kepalsuan dan ketulusan dibatasi hanya oleh garis tipis yang mengaburkan warna antara dua abu abu; dunia bayang bayang dan alam wujud. Itulah sebabnya, sampul sampul dari buku wajah seluruhnya berisi suatu pertontonan dan keluhan. Kedua duanya memiliki makna magnetik pada simpati, dan simpati dapat ditunjukkan tanpa harus merasa bersimpati. Cukup icon gambar jempol.

Selebihnya dari dua macam model sampul buku tadi adalah tuntunan moral. Tuntunan moral yang lahir dari jiwa yang (bisa jadi) brengsek di dunia wujud, dengan serta merta menjadi filsuf maha bijak melebihi pertapa yang selama puluhan tahun hanya menghambakan diri kepada kemuliaan laku. Jelas bahwa sampul sampul dalam buku wajah tidak semuanya mewakili esensi atau isi yang terkandung didalam lembar demi lembar kisah sejarah, pengalaman bahkan tautan moralitas pemilik atau penulisnya. Seorang brengsek bisa tampil palsu menjadi ksatria alim, seperti halnya predator yang mengenakan jubah dan topeng pahlawan si buku wajah.

Semua orang bebas menipu dirinya sendiri sebab aturan peradaban yang dipergunakan hanya tertulis di dinding dinding awan tempat segala sesuatu berkelebat cepat hilang. Dinding awan itu mengambang dalam sanubari setiap orang, yang tidak memiliki sanksi memaksa kecuali rasa malu yang pada akhir akhir ini orang semakin kebal. Sungguh tidak ada penipu yang lebih hebat dari orang yang sanggup menipu dirinya sendiri. Kita layak untuk bersimpati kepada orang orang seperti ini, yang hidup jauh dari sejuk tanah, hanya kakinya menjuntai tinggi di tepi kabut kenyataan. Kita patut bersimpati atas mereka karena mereka sebenarnya terbutakan oleh kebanggan menjadi bukan dirinya sendiri sementara mesin waktu terus mengurai usia. Pasa saatnya nanti mereka tersadar, mereka telah terjebak dalam kubangan kesemuan itu yang mengantarkan mereka pada ketertinggalan yang tak termaafkan.

Maka akan lebih bijaksana lagi jika kita menilai sebuah buku dari tulisan yang terkandung didalamnya, syukur syukur tulisan tulisan yang lahir dari perenungan tanpa tendensi, yang memiliki bobot pemikiran realistik layaknya manusia hidup di lama kasunyatan. Hampir satu miliar sampul buku wajah memainkan magnet simpati. Hanya kebijaksanaan yang didapat dari pemahaman tentang nilai hidup yang bisa dengan bijaksana menentukan buku mana yang layak dijadikan elemen pengait pengetahuan tentang cara menjalani hidup agar tercipta harmoni. Sebab tidak semua sampul buku wajah berisi maklumat palsu.


Gempol 120521

Wednesday, July 25, 2012

Residu Dendam

Pada dinding langit kau pahat murka, menjulang tinggi menikam atap dewa dewi. Bersama embun terakhir, aku terbanting kembali ke bumi, jadi debu milik sang sediakala. Sebentar akan lesap oleh angin tanpa warna.

Malam tengggelam dalam gugusan angan angan. Sonyaruri bisu ditinggalkan kepak sayap sayap mati. Di tanah basah tepi comberan, aku tersesat mencari mimpi yang mati tiba tiba; padahal baru saja kutemukan tertimbun candi jiwa.

Mungkin memang tak semestinya merestorasi mimpi, ketika putaran waktu telah mentahbiskannya jadi prasasti. Sebab mimpi tak pernah benar benar sanggup menyakiti, pun ia adalah titian tertinggi jagad khayali.

Kita tidak akan benar benar saling mengenali, oleh sebab perhatian kita sibuk mengagumi pantulan cermin diri sendiri yang mengelilingi lingkaran keangkuhan penuh sangkalan.

Mungkin semestinya kita tidak harus bersentuhan, agar api tak memercik pada residu dendam yang tersimpan pada guci keabadian. Sekarang ia telah menjadi api yang menghanguskan, hanya menyisakan abu penyesalan. Setinggi lantai khayangan ego kita perdebatkan, nyatanya memang dibalik pelangilah tempatmu berkipu dengan bermacam kemegahan sanjung sanjung dan pujian.

Oleh karena pecahnya suara, maka cinta membara yang melahirkan rindu menggebupun perlahan menghampa. Awan gemawan mengangkutinya pergi menjauh, dan kembali menjadi anak bumi. Rebah disejuk tanah berdebu, sisa lumpur kering musim lalu. Disini, dimana diri menjadi raja atas bukan siapa siapa, raja atas bukan apa apa kecuali dunia yang syahdu sunyi.

Engkau terlalu indah untuk terkena kibas amarah, bahkan percikan darah pertikaian. Menjagamu tetap tak tersentuh adalah kebijaksanaan perih tanpa tawaran. Engkau akan tetap ada dengan segala indahmu yang menyumber, didalam ruang kaca pajangan jiwa; bukan untukku.

Kutitipkan sesal kepada sepasukan pahlawan yang tak henti memuja dan menyanjungmu sepanjang jalan, atas sombong sikapku yang meyakini kesamaan isi hati kita.

Kiranya kegagalan menyapa, atas satu satunya keinginan yang ku jaga.

Lepas sonyaruri - Bambuapus 120725