
Selaksa kabut datang dan pergi menyelimuti bukit dan jurang jurang, terowongan Hannekam sepanjang 1050m menjadi gerbang dunia lain lagi dimana hawa dingin menusuk tulang menyambut. Berdiri ditepi jalan, menyaksikan tebing raksasa dengan puluhan air terjun menghiasi punggung batunya yang berkilau oleh cahaya matahari yang memberontak dari setiap celah awan mendung dan perkabutan. Inilah negeri di awan, kampung impian tempat segala keindahan alam bermuara.
Selepas check point 66 menuju tanah tinggi, ditepi sebuah kelokan di tubir jurang pandangan menebar menjelajahi pohon pohon purba yang hanya sering kita lihat pada gambar di kalender kelender. Inilah keajaiban, sisa kehidupan berjuta tahun silam. Bunga bunga biru, kuning dan putih bertebaran menghiasi sepanjang jalan, seperti menyambut mata siapapun yang mengerti akan arti keindahan alam. Diujung dahan, bunga bunga terompet berwarna krem mengayun ayun seperti menari dipermainkan angin sepoi. Gerimis mempertegas hadirnya kabut, memasuki terowongan kedua Zaagkam sepanjang 950 meter pada ketinggian 2486 di km 104.
Di kejauhan camp rainbow ridge berderet seperti gambar, menjadi tempat perlindungan dan sarang bersosialisasi bagi ratusan penghuninya. Disanalah pelangi berujung, melengkung mengitari separuh luas bumi. Di seberangnya, hidden valley menghampar setelah kabut tersingkap sejenak untuk datang kembali menyelimuti. Tempat ini, saudara, hanya secuil dari dunia yang tak pernah tertemui baik dalam mimpi mimpi maupun cerita romantisme remaja. Pucuk pucuk pohon kelelahan menahan usia, menjadi tebal oleh ganggang yang mungkin ratusan tahun telah menjadi teman setia; anggrek hutan dengan bunga kuning, hitam dan warna warninya.
Alam ini mengingatkan kepada sepenggal cerita Pramoedya tentang pulau Buru yang tandus dan berisi pokok pokok pohon purba. Manusia manusia sisa zaman batupun masih bermunculan dari balik semak semak sepanjang jalan menanjak, berkeliaran di alamnya sendiri dan mencoba berkenalan dengan kemajuan peradaban. Melewati Tembagapura, kota modern ditengah keterbelakangan penduduk Amungme, Menok berkeliaran disana sini. Suku Amungme yang mendominasi wilayah pegunungan ini, dan mereka ikut mengais emas dari sisa pembuangan tailing tambang. Konon, untuk yang mendulang persis di mulut pembuangan limbah, sehari mereka bisa mendapatkan beberapa ons emas jika beruntung! Dan tujuan hidup mereka sejauh ini baru untuk foya foya. Dan kehidupan para pendulang sepanjang sungai Ajwa dimana limbah dari proses konsentrat batuan untuk tembaga dan emas dibuang jauh ke laut lepas menjamur bak gold rush dalam cerita film film cowboy zaman baheula di Amerika. Meningitis-pun menggerayangi selaput otak para pendulang, meski demikian godaan uang dan dampak yang tak terasa langsung membuat mereka abaikan itu semua.
Tembagapura nan modern dengan kehidupan peradaban modern tertinggalkan dan jalan menikung mendaki serta basah terus dilalui. Air dingin mengalir disepanjang sisi kiri kanan jalan, oksigen mulai terasa tipis pada tempat dimana berton ton batu digiling setiap hari, disaring untuk didapatkan konsentrat tembaga dan emasnya. Mesin mesin raksasa menggemuruh tak berhenti, juga sky train yang menggantung hilir mudik diangkasa mengangkuti segala keperluan ke tempat yang lebih tinggi lagi; Grasberg dimana pada bulan September sampai November salju sering turun menyambangi tanah dataran tinggi Grasberg.
Disini, di ketinggian ini kerajaan antah berantah dibangun dalam ironi sosial bumi dan langit, begitu dekat tanpa bersentuhan demi satu kata yang sama; u-a-n-g.
Hidden valley – Tembagapura Papua, 060722