
Terimakasih wahai huruf yang menayangkan apa yang terasa ketika bulan padam pada lewat tengah malam, hanya kehampaan udara sebagai teman dan kenangan menggenang tak pergi tak juga datang. Porong kopi letih menghimpun kecemasan demi kecemasan setelah benderang hari lewat tanpa jejak, kecuali susunan angka statistik yang memangkas usia. Serpihan tulang yang retak di lutut kanan jadi tak terasa, perihnya tertimbun oleh kemeranaan bathin yang merindukan datangnya kematian.
Terimakasih wahai huruf yang mengantarkan sepotong senyum melintasi ruangan, mendamparkan percakapan yang tak pernah selesai. Rencana rencana telah mati muda, sedangkan butiran air hujan sisa tadi siang tak juga pergi dari ujung rerumputan sepanjang jalan pulang; memprovokasi kempis harapan. Dan sepasang mata mungil dengan pancaran sinar menyilaukan milik penguasa alam khayali melumuri sepi dengan gairah tanpa arah, kehilangan arah. Hanya membentur dinding bernama kekecewaan semata.
Terimakasih wahai huruf yang telah menyusun sejarah peradaban hanya melalui catatan, maka inilah catatan isi gelap pada tengah malam ketika rembulan tiga perempat lingkaran baru saja padam…
Pada sisi sebuah sepi, gempol 060515