“Aku merasa sendirian sepanjang jalan, berteman dengan kecemasan yang tak henti mencumbui kehendak diri”
Matahari selalu lahir prematur menumpas sisa embun yang terurai. Semalam tadi curah hujan mengaburkan tangis, menyisakan penindasan kenapa subuh tak datang belakangan setelah semua mimpi terlunaskan dalam tidur yang dalam. Begitu panjang jarum arloji merabai setiap permukaan perasaan, suara detaknya bagaikan genta memekakkan telinga. Di bumi ini kesendirian bisa jadi mengerikan, ketika keindahan telah kehilangan bentuk karena dipermainkan oleh keinginan dan ketidak berdayaan maya.
Remah remah di kamar tempat dulu kita tinggalkan noda di spreinyapun ikutan mati berpupur debu. Tinggal kentara sebagai kenangan yang tak lagi punya nafas hidup meski tak mati jua. Seluruh persediaan air mata telah tumpah sepanjang jalan matahari, tinggal mengering menjadi gurun raksasa tanpa nama. Sepi yang sejati tak mengenal tenggang rasa, berdiri sendiri dan tak terbagi meski hanya dengan kata kata.
Inilah adat dunia; dari ketiadaan lalu menjadi ada kemudian menjadi sesuatu dan oleh waktu ditindas menjadi udara hampa, hilang ditelan sejarah masa. Hidup menjadi sekilas sekilas, sepotong sepotong kemudian lengang tak bertuan. Prosa atau puisi menjadi catatan yang melekat dalam darah, demikian juga sakit hati.
Pikiran mengingatkan masa dimana matahari tiba tanpa selimut awan, hanya embun pagi yang setia memupuk semangat sepanjang hari. Mata bening yang cerah senyum simpul pantang menyerah seoalah mengurai sepotong demi sepotong sejarah masasilam. Waktu membangkai, menyisakan lingkaran debu dalam cerita dan angan angan.
Selembar foto kenangan menyimpan beribu cerita kehidupan, berisikan kisah kisah panjang tentang sesuatu yang selalu bermula baru. Gambar yang terbaca melambangkan kehilangan panjang setelah jarak dan cerita kehidupan menceraikan.
Ciracas dibawah hujan, 071109