
Menatap langit yang kehilangan warna, rintihan sehalus angin terdengar bagai cerita kemeranaan ribuan tahun. Satu bintang, sinarnya letih terkepung luas angkasa, menggigil bagai hati yang pilu memanggil dari kejauhan. Segelas kopi berdaya mendandani muram ingatan, berimajinasi tentang hamparan masa depan dibawah sinar matahari yang menghangatkan. Tapi tangis sang malam melipatnya jadi kegelapan, hanya satu bintang termangu pucat sendirian.
Mestinya embun yang bersuka cita turun ke mayapada hadirkan sejuk dengan cerita dari dunia bidadari di khayangan, tetapi kali ini jadi serpihan teriris tajam pisau kenangan. Kepalsuan telah menjadi payung bagi nafas nafas yang bergantung, meskipun robek sana sini terkoyak badai. Sunggguh kekuatan tak hendak memberontak atas keadaan, kecuali mengalir mengikuti cerita menuju akhiran, entah kapan entah dimana, biarkan jadi rahasia.
Wahai sebelah hati yang menangis sendirian, lewat sepi dan detak arloji yang memunguti sisa malam kutuang gundah hatiku atas kokohnya dinding kenyataan yang melumpuhkan cita cita. Dari langit air matamu turun mengaliri lembah hatiku yang merana karena jauh darimu, tak sanggup kutampungkan hanya dengan tulisan. Mestinya suhu tubuhku mencairkan kebekuan cintamu yang membentur tebing penghinaan; merendahkan makna dari hati emas yang berusaha engkau persembahkan penuh kerelaan.
Engkau matahari jiwa itu, yang berabad abad kesepian menyaksikan musim demi musim menguliti harapan yang telah engkau tanam jadi rencana. Maafkan aku yang tak sanggup membelah ragaku menjadi dua bagian, agar terjangkau fana tubuhmu dalam rengkuhan, melumuri perih dukamu dengan kasih tanpa ukuran. Andai aku malaikat, ingin aku hadir disampingmu, mengecupi setiap butir ari matamu dan melipatnya jadi senyuman…
Gempol, lewat tengah malam 060521