
Menyaksikan batang batang dan daun hijau itu akhrinya terkapar tak berdaya diikat oleh seutas tali plastic, layu bercampur debu diatas beton adalah pemandangan yang menyakitkan. Betapa bertahun tahun hidup berisi pengalaman binasa begitu saja oleh tebasan parang tajam kehendak manusia. Pohon tidak berdaya melawan, tapi tangisannya terdengar sangat memilukan di palung kalbu terdalam.
Sebentar lagi angin besi akan menyeretnya menjauh, menelusuri got got lalu teronggok di penimbunan, berjuang sendiri mempertahankan kambium tetap dikandung badan. Tak berharap banyak pada kesempatan sebab ia hanya sebatang pohon, mahluk pasif penyaksi ribuan cerita manusia.
Halaman yang kosong menjadi pekuburan tanpa catatan kini. Lengang, bahkan sinar mataharipun terkurung oleh kanopi mati. Kehidupan berkurang lagi, melapangkan areal untuk kesenangan, demi habitat yang berkuasa.
Dan hujan turun menghempas bumi yang bolong, kecewa tak bertemu kekasih abadinya; sang pohon. Air menggenang bagaikan tanda duka liar menuruti pencarianya yang sia sia. Tanah lapang tak lagi menjanjikan apa apa kecuali tempat langit bercermin dari segala mendung hamparan bintang ketika malam.
Sekumpulan burung gereja termangu di kusen baja, memandang asing pada tanah yang memberinya ajaran tentang hidup bersama dalam faham mutualisme. Pohon yang biasanya bercerita tentang duapuluh tahun perjalanan hidup dan keculasan yang disaksikan dengan diam sekarang sudah tidak ada lagi.
Dan senjapun turun perlahan tanpa bayangan sang pohon di pintu gerbang berwarna biru…lengang.
Nutricia 070531