
Deru angin seperti mengikuti, mengelilingi dan tak henti menciumi membelai wajah. Di tanah ini angin tak pernah pergi, tidak seperti setiap lelaki isi kampung itu yang berlarian mengejar mimpi setelah akil baliq. Angin seperti mengalir langsung dari langit, tanpa muatan debu maupun karbon dioksida, hanya butiran embun di malam hari dan mengantar hangat sinar matahari di siangnya. Segar hawa persawahan mengantar bergegas mencapai puncak gumuk, menanjak pada sejuk rumput setiap kali kaki ditapakkan. Dan segala pepohonan berdaun berayun menyambut seolah mengabarkan tentang kerinduan yang telah ditanggungkan beratus ratus tahun sendirian. Angge angge di belik kecil barair kecoklatan dipuncak gumuk berenangan kesana kemari seperti kegirangan yang tak bisa berhenti. Batu cadas dinding belik membasah dengan lumut hijau tua menggelayut, ujungnya menari dipermukaan air belik.
Membasuh muka lalu duduk takjub memandangi matahari yang sebentar lagi tenggelam dibalik rimbun kampung Tegal Rejo seberang sawah, dimana rimbun pohon Cepokal menjadi gerbang jalan masuknya. Warnanya memerah saga, besar dan terang benderang bagaikan cermin berkilauan ditengah hamparan langit melembayung syahdu. Hangat tanah pematang membawa kenangan tentang masa kecil dimana masadepan bagaikan langit tak bertuan, tempat dimana penjelajahan bisa terpuaskan sampai ke ujung kekuatan. Cerita tentang negeri negeri penuh kejayaan terlukis jelas disetiap gumpalan mendung yang melintas atau pada petak petak bayangan yang tergambar dilangit tak bergaris. Diseberang
Terimakasih wahai sang matahari yang telah menjadi mata bagi hari ini. Luruhlah luruh ke balik bumi dengan catatan tentang apa yang kau hidupkan dan kau matikan di mayapada. Terimakasih karena kau telah memberi hidup dari yang mati, dan memberi terang bagi yang gelap hati. Terimakasih atas hidup, yang mengajarkan bahwa sendiri bukanlah berarti kesepian. Orang orang tercinta tinggal dan hidup, menghangatkan setiap ruangan dalam lorong hati senja ini, dengan unggun cinta yang selalu terpelihara oleh alam.
Damainya gumuk senja ini, serasa mengikat kaki untuk tidak melangkah pergi; kembali ke dunia plastik, negeri impian masa kecil dulu…dan sebelah hati rebah di bahu kiri, melafalkan percakapan hati tanpa kata kata…
(…aku ingin,
rebah di sejuk tanah berdebu kampungku,
di bawah rimbun pohon bambu…)
Gempol, 070405