Diam. Ketika semua kata kata sudah habis untuk diucapkan dan semua isi hati dan pikiran sudah dituangkan pada kata kata. Di ujung hampa kebingungan menyapa. Serba kabur dan tak terlihat tanda gambaran kemungkinan terdekat untuk masa depan. Amarah menghilang cepat, kesedihan menjadi semacam pengulangan yang membosankan dan berujung pada menyalahkan diri sendiri atas kebodohan mempercayai konsep kebaikan hati, konsep kemanusiaan yang beradab.
Ternyata memang
tidak semua hal yang rusak bisa diperbaiki. Sebagian yang rusak harus dibuang;
lalu diganti atau tidak diganti samasekali. Proses transisi yang sebelum
sebelumnya terbayang berat kemudian berjalan begitu saja tanpa protes maupun
kesulitan yang mendrama. Toh pada akhirnya harus diakui bahwa memang Tuhan
sudah memberikan jalan yang demikian, jalan yang terbaik yang memang sudah
digariskan jauh sebelum kita dilahirkan. Mungkin inilah Hidayah yang
sebenarnya.
Merunduk ketika
badai menggulung dan berdiri menjulang ketika badai menyisakan segalanya yang
porak poranda. Kaki perih tertancap di lumpur kenangan yang banyak penyesalan, gemetarnya
tersembunyi hingga tak seorangpun bisa ber empati. Semangat yang tiba tiba
patah menjadi kekuatan baru untuk memilih tetap hidup dengan citarasa baru;
citarasa patah semangat. Lelah yang mendera tidak mengharuskan diri untuk
menghamba pada nilai kebijaksanaan, karena ternyata kebaikan memerlukan
kekuatan hati yang tidak setiap manusia sama ukuranya.
Tangis perlahan
padam dan bara dendam terpelihara dalam diam. Tetapi bencana tidak lagi lahir
dalam percakapan. Perihnya dikhianati berulang kali, sakitnya didustai berkali kali,
dan ganasnya amarah oleh sebab dihina tidak lagi muncul dalam perbincangan.
Semua topik topik itu sudah menjadi percuma untuk dilahirkan dalam diskusi
konstruktif sekalipun. Barangkali akan lebih bijaksana jika semua kejadian
dibingkai dalam persepsi masalalu. Bukankah tidak ada gunanya juga memelihara
masalalu, karena akan bisa mengaburkan focus paandangan ke masa depan?! Cukup dibuat
sebagai pelajaran saja, mengambil hikmah bahwa sekian puluh tahun pengabdian
adalah taburan ibadah di ladang pahala. Tidak bijak juga menyesali semua niat
baik yang terkhianati, sebab niat baik tetaplah kebaikan jika disertai Ikhlas.
Menjadi Ikhlas adalah
derajat tertinggi dari semua jenis kebaikan di dunia. Mengikhlaskan semua hal
tidak menyenangkan bahkan menyakitkan terjadi pada kita atas berbuatan orang
lain juga mengikhlaskan hal hal yang selama ini kita anggap baik untuk hilang
dari kehidupan; adalah dua konsep Ikhlas yang memerlukan kekuatan super sebagai
manusia biasa. Keikhlasan semacam itu bisa hadir dalam hati sanubari manusia,
sebagian dengan melewati begitu banyak kesabaran yang jumlahnya melebihi
kapasitas yang bisa ditanggungkan oleh manusia biasa. Keikhlasan seperti itu
adalah bentuk kemenyerahan kepada takdir dan bangkitnya semangat pada si
terzolimi untuk membela harga dirinya sendiri; menghargai dirinya sendiri. Pelecehan
dan penghianatan yang melebihi kapasitas yang bisa diterima seseorang akan
mendorong si korban untuk berdiri tegak
dengan prinsip baru dan tekad bulat untuk memperjuangkan prinsipnya; sama
halnya ketika awal awal tekad perjuangan yang di akhir cerita menjadi ajang
penghianatan.
Masa depan
terbaik adalah mengikut pada rencana Tuhan. Hal hal terbaiklah yang harus
diperjuangkan secara konsisten. Mimpi tentang masatua yang damai dengan sedikit
konflik yang bisa ditolerir tetap terpegang sebagai panduan. Semua yang terjadi
sudah terjadi dan tidak perlu dihidup hidupkan lagi bahwa dianggap masih
berpengaruh pada pikiran dan sikap kita hari ini. Semua kejadian sudah digariskan
demikian dan setiap mahluk harus Ikhlas menerimanya sebagai suratan takdir. Penyesalan
akan merintangi Langkah kedepan. Anggap bahwa semua hal baik sudah diperjuangkan
dan hasilnya memang tidak sesuai harapan. Tidak baik juga menyalahkan orang
lain, dan atau menyalahkan diri sendiri untuk semua yang sudah terjadi. Tidak ada
gunanya juga menyalahkan; hanya menciptakan kambing hitam si satu satunya yang
mengerti makna kebenaran.
Empati dan iba
yang berpuluh tahun menjadi penguat ketika hati hancur, dada melepuh dan kaki lumpuh
lenyap bersama dengan kesadaran bahwa selama ini semua percuma. Bahwa luka yang
diceritakan sepanjang perjalanan tak bisa membuka mata juga. Demikian juga
nasehat yang berisi ribuan kata bijak tak lagi bermakna. Jadi memang sudah
tidak ada lagi gunanya memperbincangkan luka. Biarkan kata kata diam menuntun
kita menuju pemahaman baru tentang cara menghargai diri sendiri.
Dukuhan 230929
1 comment:
mampir, edisi oase dengan segala kerinduan melintas di kedalaman sebuah
kontemplasi hati. Melepaskan diri dari hiruk pikuk dunia.
Post a Comment