Seorang lelaki sendirian menggigil di gurun Sahara bathin pada satu tengah malam. Di angan angannya berkecamuk fikiran tentang kehilangan demi kehilangan dan berderet daftar harapan yang tak terpenuhi, membentur dinding dan ambyar di hampa suasana.Sisa haus yang selama berabad ditanggungkan telah mematikan perbedaan antara siang dan malam, membaur menjadi satu rasa dominan haus, lapar dan letih. Ia tersesat di perjalanananya sendiri, mencoba mengingat senyum dan tawa yang pernah dijalani sebagai penipu rasa celaka.
Ia haus akan cinta sedangkan yang dikepalanya hanya berisi kemesuman. Seraut wajah laki laki dan wajah perempuan yang sangat dikenali hanya menawarkan kekecutan atas ketidak berdayaan menghindar dari serangan mereka yang diam diam. Ia haus akan sentuhan embun yang barangkali tersisa menetes dari pohon teduhan satu satunya.
Hatinya begitu lapar akan kebahagiaan sebagai hakikat dari inti perjalanannya. Pemenuhan atas kebutuhan jasmaninya terbentur pada dinding langit yang mengurungnya dalam kosong yang luas.
Badan ragawi menjadi rapuh oleh tamparan demi tamparan badai pasir, merayakan keletihan yang begitu tebal atas keterdamparannya. Karena ia lelaki, maka ia tidak menjerit oleh sebab ia tahu keadaan yang mengurungnya dan mengerti betul dimana dirinya berada. Satu satunya yang membuatnya bertahan adalah harapan, bahkan ketika ia berdiri diantara nisan pekuburan harapannya sendiri.
(Amatlah manisnya dunia ini kalau dipandang dari jurusan hati yang penuh harapan. Tetapi kadang kadang harapan itu mengalami kematian seperti mahluk mahluk lain. Dan untuk sisa hidupku selanjutnya aku akan bernafas tanpa harapan. Aku hanya mau bekerja, bekerja bekerja. Orang lain akan tertawa apabila kukatakan bahwa hanya bekerjalah tempat pelarianku yang utama melupakan masa masa dengan hati penuh mayat harapan. Masa itu, masa yang manis itu, telah lalu. Orang lain itulah yang dengan ejekanya yang sengit akan berkata: pelarian! Pengecut! – P.A.T, Sunyisenyap di siang hidup)
Gempol, 060415



Badai telah terlalu lama berkuasa, hingga pilar terakhirpun luruh kebumi mencium bekas fondasi labil tumpuan bangaunan untuk teduhan. Semua telah terpertaruhkan sampai kepada titik terakhir kata kata sekalipun. Kita bangkrut kehilangan wujud, amarahmu menebas separuh nafas yang selama ini setia menyangga keberadaannya, menciptanya menjadi kecacatan milik keabadian riwayat.
Menemukan cinta yang sesungguhnya sama saja dengan membujuk kaum lajang untuk segera memiliki anak sebagai keturunan. Cinta yang sepenuhnya menterjemahkan cinta yang hakiki adalah cinta kepada anak keturunan sebagai titisan ruh, bahkan sebagai reinkarnasi atas diri pribadi.



Radio RRI Madiun pada jam setengah lima sore pada 1977an, setiap hari Jum’at pak Har akan membawakan dongenganya dalam bahasa Jawa. Suaranya yang terdengar khas bijaksana dan intonatif selalu mengantarkan cerita cerita yang selalu menakjubkan, tidak rugi menanti seminggu penuh setelah cerita yang berdurasi setengah jam tanpa iklan itu. Dongenganya membuat dunia otak anak anakku secara naluriah mencari dan menggabungkan inti makna cerita. Dirumah Mbahe, dari radio merk National dengan tulisan hitam Nusantara dalam cetakan miring, radio dua band dengan dua tombol bertuliskan suara dan gelombang. Dan mika transparan pelindung angka penunjuk gelombang frekwensi yang kutandai dengan garis dari pisau lipat, angka dimana Pak Har selalu datang setiap Jum’at sore untuk ‘putra putri’ nya yang setia.






(sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan suatu sore)










