Sunday, March 05, 2006

Sebuah nilai dari bawah hujan badai

Sore jam setengah empat. Jakarta dikurung hujan lebat dan angin ribut. Udara berwarna gelap oleh air hujan yang menghambur dan dipermainkan angin yang kebingungan arah, berputar dan berpendaran dengan liar. Pepohonan bergoyang hebat, meliuk kesana kemari dengan acak. Angin ribut makin kencang, seperti curah hujan yang makin deras meluncur langsung dari langit. Jalan jalan aspal mulai tergenang disana sini, airnya coklat tua menyapu debu dan tanah sepanjang trotoar dan pembatas jalan. Sebagian lagi mengalir deras memasuki gang gang dengan turunan, berubah menjadi kanal kecil yang dangkal membawa air entah berakhir dimana.

Ditengah hujan sebuah sepeda motor melaju pelan, menyusuri tepian jalan. Diatasnya duduk seorang laki laki memengang kemudi dengan penumpang anak perempuan kecil erat memeluk tubuh si lelaki, bapaknya sendiri. Sepanjang jalan percakapan keduanya tak pernah henti, si anak sibuk bercerita tentang air hujan yang terasa manis tak sengaja masuk ke mulutnya, bertanya tentang air hujan dan berceloteh tentang gembiranya hati si kecil. Ya, keduanya memang sengaja menikmati hujan yang turun, menembus derasnya dan membiarkan air membasahi sekujur tubuh mereka, menembus jaket dan helm mereka. Mereka bergembira, menikmati fenomena alam bernama hujan dengan hati penuh keriangan. Mereka berseru bersama ketika roda sepeda motor membelah genangan air dan memuncratkan air ke kaki mereka. Angin yang mengamuk terasa juga mendorong dorong tubuh keduanya, dan mereka nikmati sebagai sesuatu yang luar biasa dengan tertawa tawa.

Sepanjang jalan rasanya hanya mereka berdua yang bersepeda motor menembus hujan. Tiba tiba dijalur yang sama mobil berderet terhenti oleh sesuatu didepan sana. Sebatang dahan pohon angsana patah, tumbang menutup jalanan. Mobil mobil berhenti, karena tidak mungkin melewatinya. Lelaki pengemudi motor itu berhenti dekat dahan patah, keduanya turun dari motor. Si kecil dipandunya kepinggir jalan, diatas trotoar. Dibawah helm hijaunya mata kecilnya mengikuti bapaknya yang mendorong dorong patahan dahan yang masih melekat di pokok pohon dipinggir jalan. Lelaki itu berkutat keras dengan dahan yang menghalangi jalan, menarik dan mendorongnya ketepi untuk memberi ruang bagi mobil mobil yang akan melintasi jalanan dibawah hujan dan angin ribut sore itu. Perlahan lahan dahan seukuran betis orang dewasa itupun bergerak oleh dorongan kedua tanganya, bergerak kepinggir jalan dan memberikan ruang cukup bagi kendaraan untuk terus melaju. Tidak ada yang membantu. Orang orang didalam mobil hanya melihat dari balik atap dan kaca yang melindungi tubuh mereka dari basah air hujan yang dingin.

Sesudah dahan yang tetap menempel dipokoknya tersingkir, dan lalulintas berjalan mengalir, lelaki itu kembali menghampiri sepeda motornya, menghampiri anaknya yang berdiri memperhatikan tingkah bapaknya. Mobil yang mulai berjalan menyampaikan terimakasih mereka dengan sentuhan bunyi klakson, yang dibalas dengan senyum lebar dibalik helm dan lambaian tangan mengiyakan. Sebuah pekerjaan tanpa keharusan selesai, si lelaki kembali ke sepeda motornya dan sianak kembali berada diboncenganya, meneruskan perjalanan menembus hujan dan angin ribut disore gelap mengurung Jakarta. Sepenjang jalan itu jejak kekuatan angin ditemui, atap atap berterbangan, dahan dahan pohon patah bahkan pepohonan yang tumbang, menambah decak kagum keduanya betapa alam begitu perkasa dibalik keindahan guyuran hujan dan kengerian angin ribut.

Hari itu, si kecil memperolah pelajaran berharga dari kegembiraan main hujan hujanannya, dengan kegirangan dan pembelajaran tentang nilai kebaikan, bahwa diri sendiri bukanlah yang terpenting, bukan segala galanya. Bahwa diri sendiri bisa berguna bagi siapa saja selama tak ada maksud sesuatu dibalik apapun yang dikerjakan, kecuali kegembiraan hati melakukan hal hal yang membuat orang lain terbantu. Sebab, alamlah yang lebih perkasa daripada manusia, dan sebab Tuhanlah yang mengaturnya demikian. Maka tunduk takluk kepada Tuhan memberikan kegembiraan dan kedamaian yang diam tak terkira.


Pasar Rebo 060305

5 comments:

Anonymous said...

tika pasti bangga sama bapaknya... ada keriangan dan keikhlasan dalam hujan, ada berkah dan doa dari mereka yang melihat, merasa dan mendengar...

buderfly said...

hmm....???

buderfly said...

Thanks for watching us eventhough from a distance, tet...

Ida Syafyan said...

Saya sangat menyukai hujan terutama suasana mendung dan segala efek yg diciptakannya... sekarang lagi berusaha nyari blogskin yg temanya hujan, tapi belom dapet yg cocok... mau bikin puisi tentang hujan gak bisa, hiks... depresi deh jadinya...

Anonymous said...

What a great site http://www.dishwashers-comparison.info/Peugeot-spanje.html klonopin and appetite ophthalmology tv advertising halloween area rugs Home improvement loan comparison eiffel tower fabric tote bag