Malam luruh di Jakarta. Ribuan lampu mercury mengingkari gelap, sia sia mencoba menandingi matahari. Di gemuruh jalanan aku meluncur laju, berselancar diatas aspal, menari dalam iringan senandung malaikat pengendali nyawa yang hanya seutas. Membunuh satu demi satu jentik masa depan dan meniadakan pertanyaan atas kemungkinan kemungkinan yang mencemaskan. Dijalanan, setan dan malaikat bermusyarwarah dalam jutaan transmisi komunikasi kasat mata.Diantaraku, ribuan gelembung kehidupan berjalan dengan harapan dan kecemasanya masing masing, tersembunyi dalam tembok yang dibangunya tinggi tinggi, kemunafikan dengan masing masing jubah dan topengnya. Dalam bentuk masing masing, busuk dan memabukkan sekaligus. Disetiap rimbun gelapnya sudut pandangan, kebudayaan terkubur menjadi monumen penegas keberadaan, kerdil dan mengecil.
Jakarta, kampung besar ini begitu kaya dengan segala cerita kebosanan. Dan iklan, mengajarkan penghuninya untuk menjadi budak, mengerjakan sesuatu yang tidak disuka supaya bisa membeli hal hal yang tidak menjadi kebutuhan, melainkan keinginan. Melulu manusia disetiap lorong dan sisi kampung ini, tak ada yang saling mengenal kecuali dalam kelompoknya dalam selera tawa oligarki masing masing pribadi.
Udara malam menimbun karbondioksida begitu indah dicerna paru paru yang makin tua, memompakan oksigen ke dalam metabolisme tubuh dan merubahnya menjadi semangat plastik metropolitan. Jakarta menjadi panggung raksasa, seni imajinasi bagi setiap penghuninya. Lampu dipasang disetiap kepala bagi menyinari kepentingan diri mengontrol laju dunia. Peradaban telah melupakan apa menu sarapan pagi tadi, berganti menjadi apapun yang ada di meja hidangan untuk disantap dengan kecemasan.
Disepanjang jalan malam Jakarta, di kepala kunyanyikan lagu duka seperti yang digariskan dalam cerita sang Sutradara…
Simatupang – Gempol 060501













Badai telah terlalu lama berkuasa, hingga pilar terakhirpun luruh kebumi mencium bekas fondasi labil tumpuan bangaunan untuk teduhan. Semua telah terpertaruhkan sampai kepada titik terakhir kata kata sekalipun. Kita bangkrut kehilangan wujud, amarahmu menebas separuh nafas yang selama ini setia menyangga keberadaannya, menciptanya menjadi kecacatan milik keabadian riwayat.
Menemukan cinta yang sesungguhnya sama saja dengan membujuk kaum lajang untuk segera memiliki anak sebagai keturunan. Cinta yang sepenuhnya menterjemahkan cinta yang hakiki adalah cinta kepada anak keturunan sebagai titisan ruh, bahkan sebagai reinkarnasi atas diri pribadi.



Radio RRI Madiun pada jam setengah lima sore pada 1977an, setiap hari Jum’at pak Har akan membawakan dongenganya dalam bahasa Jawa. Suaranya yang terdengar khas bijaksana dan intonatif selalu mengantarkan cerita cerita yang selalu menakjubkan, tidak rugi menanti seminggu penuh setelah cerita yang berdurasi setengah jam tanpa iklan itu. Dongenganya membuat dunia otak anak anakku secara naluriah mencari dan menggabungkan inti makna cerita. Dirumah Mbahe, dari radio merk National dengan tulisan hitam Nusantara dalam cetakan miring, radio dua band dengan dua tombol bertuliskan suara dan gelombang. Dan mika transparan pelindung angka penunjuk gelombang frekwensi yang kutandai dengan garis dari pisau lipat, angka dimana Pak Har selalu datang setiap Jum’at sore untuk ‘putra putri’ nya yang setia.






(sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan suatu sore)
