Saturday, March 25, 2006

Sebuah Drama Pengingkaran Fakta

(sebuah kontemplasi akhir pekan)
Sungguh mudah terbaca hanya dari kata kata, betapa sepi sanggup melilit hati dengan keterperosokan dalam gelap fikiran. Suara yang membentur dinding tebal dan dingin membeku dijarak dua sentimeter dari wajah seperti hanya diperuntukkan kepada telinga sendiri, sebab semua telinga berada ribuan mil jauhnya dari letak keberadaan.

Lalu mengalirlah rindu kepada orang orang dimasa lalu, atau barangkali masa depan, sangat rancu. Menggenanglah manis rindu masa lalu, keramahan bumi perasaan kala itu, dan kenyamanan berada dalam lingkupanya yang hangat oleh cinta. Tak terbayang dahulu, bahwa keindahan dan kenyamanan seperti itupun akan berakhir dengan satu akhiran yang tak pernah ada dalam rumus tebakan. Misterius!

Ah, masa lalu. Kemana warna pedih perih masa lalu itu sekarang? Kenapa yang tertayang hanya kebaikan dan keindahan semata? Keindahan yang menarik narik angan angan untuk berdiri diatas angin dan berlarian diantara awan, jauh dari tanah kenyataan. Kepediahan masalalu menjadi bias, mungkin terkubur oleh gundukan sang waktu yang terus meninggi dan membesar. Sang gundukan waktu, tempat tangan nurani bertolak merabai masa depan yang berhamburan di udara sebagai asap.

Ternyata, masa lalu hanya jejak langkah kaki sendiri, yang menerabas belantara cerita dengan peta panduan intuisi dan senjata bernama pedang logika. Pengakuan atas kepemilikan jejak itulah yang memanggil manggil angan angan untuk kembali menoleh sejenak, dan mengais sisa kenangan manis adalah yang terbaik sebagai upaya pada saat ini. Tanah melempang bekas pijakan kaki pengalaman, bangunan bangunan indah yang sempat terbikin semasa perjalanan bahkan persinggahan persinggahan yang menenteramkan dulu, menjadi catatan pengakuan atas diri sendiri. Kenyamanan berada diputaran indahnya ketiadaan itu menjadi dramatisasi atas pengingkaran terhadap fakta bernama kekinian.

Kekinian, hanyalah tangan yang melepuh lelah mengayun pedang membabati belukar kejadian, yang kebetulan kali inipun terasa sedemikian ganas belantara yang satu ini. Kaki yang penuh goresan oleh onak yang tajam pada areal yang terjal mendaki. Rasa rasanya diri tak sanggup untuk maju mendesak, tetapi enggan menyerah demi harga diri. Bertahan dan mengumpulkan semua kekuatan dalam diri adalah pilihan, sambil menunggu hujan badai yang sedang mengamuk perlahan mereda untuk berhenti samasekali. Kekinian beberapa tahun lalu hanyalah kabut yang mengambang diudara masa depan, misteri belaka.

Demikian juga masa depan, tetaplah ia menjadi udara dengan kabut tipis tebal serupa asap rokok menggumpal gumpal. Ia tetap misteri yang tak tertebak dan bahkan menyimpan jawaban bukan dari salah satu jawaban atas tebakan yang dipersiapkan. Terkadang ketidak sesuaian jawaban yang diharapkan menyebabkan kekecewaan, terkadang juga membawa kebahagiaan. Segalanya absurd dan ambigus untuk benda bernama masa depan ini. Diri tak pernah tahu setebal apa lagi belantara onak berduri yang harus ditebas demi menciptakan jejak kenangan seperti ribuan kilometer pernah terbentuk. Dan ketika onak berduri ditanah tejal mendaki terlewati, apakah yang akan ditemui lagi? Semua tinggal menjadi misteri.

Masa lalu menjadi catatan penenang dan masadepan menjadi misteri penjanji ketika kekinian hanya berisi keletihan atas hampa. Menjelajahi dunia masa lalu dan masa depan yang nisbiah, adalah pengingkaran atas fakta datar benama; kekinian. Pengingkaran itu menghasilkan ketidaksesuaian antara fikiran, hati dan perbuatan. Dan…life goes on…

Gempol, 060325
(terima kasih kepada bung Didi Revkotz untukjudul tulisan ini)

Friday, March 24, 2006

Sepatu Mas Jaman

Mas Jaman, berumur tigapuluhan sekian. Staff bagian perencanaan disebuah perusahaan swasta yang dikelola langsung orang orang asing, Australia. Dia pekerja yang rajin dan inovatif. Selalu diciptakanya sendiri kesibukan kesibukan ketika hampir semua pekerjaannya sedang mengalami low priority. Dia memang cakap di bagiannya bahkan belum sekalipun mendapat komplain dari atasanya.

Musim hujan suatu pagi. Seperti biasa mas Jaman datang dikantor tigapuluh menit sebelum waktu mulai bekerja, 08.00 WIB. Perjalanan dari rumahnya yang berjarak lebih 20 kilometer dari kantor degan sepeda motor membuat sepatu yang dipakainya basah dan sedikit kotor. Sang atasan tiba tiba saja menghardik keras kepada mas Jaman, soal sepatu yang tak sepatutnya dipakai kekantor pagi itu; kotor dan tak terawat. Diperlihatkanya sepatunya yang mengkilap oleh semir dan kalis dari setetes airpun, sebab sang boss pastilah bermobil kekantor, dengan sopir yang digaji oleh kantor, dengan penghasilan kantor yang sedikit banyak diciptakan oleh mas Jaman juga.

Ia berusaha sebisa mungkin menstabilkan diri dengan keadaan. Meskipun begitu, hatinya sungguh tidak terima. Perasaan pribadinya tersinggung oleh ulah sang boss yang dianggapnya memang membawa permasalahan rumahnya kekantor pagi ini. Bathinya memprotes keras, tapi mulutnya diam sebagai bawahan. Kalau yang jadi permasalahan adalah karena kualitas pekerjaanya, dia akan memaklumi dan menerimanya dengan lapang dada. Tetapi ini soal sepatu, yang tidak ada sekuku hitampun hubunganya dengan tugas pekerjaanya. Dan hanya dia yang tahu, sepatu itu satu satunya yang dia punya sesuai dress code kantornya!

Mas Jaman bukan type pelawan, apalagi pahlawan. Maka perlahan diredamnya ketersinggunganya, diterimanya sebagai kritik untuk penampilan diri pribadinya, dan juga untuk citra penampilan kantornya. Hanya dua hari sejak itu ia harus segera menemukan cara untuk penampilan sepatunya.

Sejak dua hari itu, maka dia berangkat dan pulang kekantor hanya bersendalan saja, sementara sepatu yang telah dipoles dengan semir dan terlihat jauh lebih terawat disimpanya di locker kantor. Hanya ketika jam kerja saja dipakainya sepatu itu, sementara sendal jepitnya menemani keberangkatan dan kepulanganya kekantor. Dia menjalaninya dengan hati ringan, menemukan solusi untuk satu persoalan yang tak perlu menjadi singgungan atas harga dirinya yang terlalu ketinggian hanya oleh ucapan sang atasan. Justru mas Jaman mengucapkan terimakasih kepada atasanya.

Belajar dari mas Jaman, adalah menelaah sebuah resolusi konflik dari sudut yang paling individual. Berfikir positif atas kritik yang diterima kemudian mengimprovisasi pandangan yang melahirkan sebuah sikap arif berarti sebuah pembentukan karakter yang bijaksana. Zaman yang pekak dengan gembar gembor retorika reformasi dengan pola pola penonjolan individualisme seperti ini, justru yang diperlukan adalah karakter mas Jaman yang dengan arif memandang suatu ketidak nyamanan atau ketidak sukaan dari luar kotak pemikiran egonya sendiri. Jika saja Indonesia memiliki duaratus juta saja mas Jaman, maka negeri ini akan memiliki karakter yang membanggakan seperti yang dicita citakan Bung Karno dulu ; nation character building!
Karena sampai sekarang, bangsa ini tidak punya karakter yang jelas.


Simatupang, 060324

Thursday, March 23, 2006

Pertemuan terakhir

(Tertulis sebagai perenungan atas pertemuan terakhir ditubir jurang)

Menterjemahkan kata perpisahan dari hati yang gemetar tecabik perihnya, fikiran menjadi sarat oleh slide demi slide pertemuan yang selalu berjudul sama “ pertemuan terakhir”. Betapa telah begitu banyak kejadian kehilangan makna sekeras apapun otak dan bathin mengais sisa sisa nyamannya.

Peretemuan terakhir kesekian, berisi tangis semalaman di bilik terpisah dengan dinding berlapis lapis kepantasan logika. Tangisan yang menterjemahkan lolongan hati remuk, yang hanya menghasilkan kebisuan sampai perpisahan yang sebenarnya datang bersama matahari yang selalu saja tersenyum menghibur bumi, menyisakan tanya menyelip diantara kecemasan hati :
“ akankah kita bertemu lagi?”

Mengenang pertemuan terakhir, adalah membenturkan pundi harapan kepada karang tajam kenyataan; ambyar dan berharap akan datang cemburu dari pemandangan yang disuguhkan. Ah, rupanya cemburupun terelalu mahal untuk sekedar menjadi perhiasan negatifisme diri. Tak pantas hanya untuk sekedar dimiliki oleh penonton yang menyaksikan kejadian demi kejadian menyerempet eksistensi.

Merangkai lagi simpul simpul rasa pada pertemuan terakhir, diri terdampar pada ketidak tahu dirian yang dipaksakan. Menganggap kehidupan berjalan sekehendak takdir buatan dan tak sadar, linglung jadi figuran ditengah taman bunga penuh nyenyanyian; mirip dengan apa yang pernah terciptakan. Sayang diri telah kehilangan hak kepemilikan, meskipun hanya sekedar pengakuan dari dalam dan diam diam.

Ah, betapa banyak kata perpisahan terucapkan, tanpa satupun terfahami betul maknanya; hanya bunuh diri yang kesekian…

Gempol, ketika hujan tak berhenti menangisi kegelapan sang malam 060223

Wednesday, March 22, 2006

Mendung, gerimis dan sebuah ‘good bye’ pagi hari.

Embun yang terdampar ditanah pekaranganpun menjadi bias oleh gerimis yang datang kepagian. Mendung mengurung matahari, pagi berwarna kelabu adanya. Jam ini waktunya matahari meninggi, waktunya kehangatan menyelimuti dan kemudian membakar semangat diri melintasi satu ruang hidup, buat mengisi lembaran diary. Hari ini akan tetap berjalan, tak ada apapun yang sanggup menghalangi.

Jarak pandangan membentur dinding kabut yang menyelimuti sementara riuh jalanan menawarkan langkah untuk terus berlari. “Pagi ini, tak ada matahari” ucap asap knalpot kepada gedung gedung yang muram membeku sepanjang jalan basah.

Gerimis yang menaburi bumi mangaburkan kehangatan atas jarak yang membentangkan letak orang kesayangan setelah dialog semalam membeku tanpa keputusan. Fikiran mencari cari, sengatan matahari yang membangunkan kesadaran atas diri. Sia sia.

Lalu sebuah bisikan atas nama peradaban datang menghampiri, sekedar mengucapkan selamat tinggal untuk pergi. Sensitifitas telah melewati titik kulminasi, puncak dari segala yang ditahankan selama ini. Menyerah kalah pada ketidak mungkinan yang rajin menganiaya. Melambaikan tangan tak rela sementara air mata telah kehabisan energinya hanya untuk mengaliri kulit kasar sang pipi. Telah kering bahkan untuk menterjemahkan kesedihan atas ranting hati yang terkoyak patah.

Pagi ini dibumiku, mendung menghias gerimis dan sebuah ucapan selamat tinggal menikam jantung, menyempurnakan langkah matahari yang bersembunyi.

(Half time goes by
suddenly you’re wise
another blink of an eye, 67 is gone
the sun is getting high,
we're moving on...
I'm 99 for a moment dying for just another moment
and I'm just dreaming counting the ways to where you are

....there's never a wish better than this, when you only got 100 yrs to live...")


Cubicle, 060322

Tuesday, March 21, 2006

Pohon Pemujaan

Dia hanya pohon, yang tumbuh dari ketiadaan atas kuasa alam. Demikianlah kita, mengikuti gelembung kehidupan kita masing masing dan berhenti disetiap setasiun yang selalu kosong. Bukankah biadab, menebang pohon yang meneduhi kita dari sengangar terik matahari, memberikan kita oksigen dan kemudian dengan menutup mata dan tangan gemetaran kita tebangi? Aku hanya ingin berterimakasih kepada pohon itu, tanpa berniat kehilangannya. Pohon teduhan itu memang tidak bisa kita bawa kedunia kita yang berbeda ketika kita harus sama sama meneruskan perjalanan bersimpang arah. Tak apa, sebab kita memang punya kewajiban demikian demi mentaati peradaban.

Tapi pohon itu selalu aku bawa didalam hati, yang selalu memberi semangat bahwa dia akan tetap berdiri meraksasa disana menyediakan teduhnya ketika nanti entah kapan, akan aku temukan jalan kembali untuk kurebahkan diri disejuk tanah berdebu dibawah rindangnya, dimana desau angin memanjakan setiap titik syaraf yang bengkak oleh letih perjalanan. Entah nanti engkau ada disana atau tidak, tapi kenangan bersama dibawah pohon rindang itu tak pernah pergi dari tempatnya. Kita memang tak pernah sekalipun menyengaja bahwa kita akan pernah bertemu ditempat dimana sekarang tumbuh pohon itu.

Kita hanya punya kewajiban, berjalan dan terus berjalan menjauhi pohon rindang, untuk kemudian suatu saat logika memperbolehkan kita beristirahat dari kewajiban berjalan. Mari punguti setiap butir pengalaman disepanjang perjalanan, juga aku akan kisahkan perjalanan yang nanti suatu saat kita akan menceritakanya dengan citarasa film India, sebab nanti suatu saat yang tak pasti kita pasti akan bertemu disana, dibawah teduhnya rindang pohon spesies baru bernama Pohon Pemujaan.

(tertulis kepada seorang puteri - dalam hati)
Edited at cubicle, 060321

Monday, March 20, 2006

Tempat

(sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan suatu sore)

Bilik bilik labirin dalam jiwa, telah terisi oleh penghuni segala rupa. Iblis iblis yang didatangkan dari negeri dongengan pendurjana, pun masih berjejalan diluar ruang, diluar kulit ari tubuh. Kelengangan yang dulu melahirkan kearifan dan tak jarang melantumkan tembang merdu dramatisasi panca indera sekarang menjadi riuh oleh tempik sorak dan suara gaduh. Sang tuan tanah telah menggadaikanya dengan harga sedemikian tinggi hingga tak ada angka yang pantas untuk disebutkan sebagai ukuran.

Penghuni penghuni baru itu, memang tak tahu sopan santun apalagi tenggang rasa. Mereka mencoreti dinding, merobeki langit langit dan menghancurkan lantai dengan suara gemuruh pesta urakan. Segala benda yang ada didalamnya dikhawatirkan menjadi rusak oleh ulah mereka yang menangan. Mereka menjadi virus didalam rumah hati yang mereka kunci dari dalam, penuh rahasia. Tak ada yang melawan sebab ia hanya budak rumah hati belian, yang lantas digadaikan. Kehilangan status kepemilikan, dan kemudian menjadi rumah pesta para iblis, pesta pora dari pagi siang sore malam ke pagi lagi. Pesta itu berupa: badai!

Tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali menunggu pesta mereka usai, setelah nurani sanggup mengkompromi bahwa pesta memang pekerjaan si menangan. Mengangkat tangan dan mempersilakan mereka tinggal didalam dengan selamat adalah pilihan. Maka si tuan tanah kehilangan pulalah segala yang merasa menjadi miliknya yang tak berharga. Rumah hati yang digadaikan itu! Itulah satu satunya yang kini patut dianggapnya sebagai benda berkepemilikan. Tapi si tuan tanah lupa jalan pulang. Ia terlalu sibuk menghamburkan uang gadaian untuk senang senang, pesta pora (seperti iblis) sampai tandas tak bersisa, tanpa isi angka. Ia lupa tempatnya berada, karena terlalu mabok oleh kenikmatan sebuah pesta dengan dress code binatang.

Seorang yang baik hati, yang diludahi dulu di tempat pesta menolongnya ketika ia tersesat dan sendirian dalam pencarian jalan pulangnya. Dituntunya si mabok dengan kekuatan yang ia punya sebagai orang nomor kesekian dalam skala prioritas si tuan tanah pemabuk. Diantarkanya sampai pintu rumah hati itu terbuka dan dia masih menemukan miliknya yang disangkakan hilang, fikiran yang penuh kemabukan tatkala itu. Ketika mabuknya perlahan berkurang, dan dia nyaman menjadi penguasa rumah hati. Dia perlahan berfikir…Ah betapa nikmatnya berpesta!

Maka digadaikannya lagi rumah itu, dengan harga yang lebih mahal kepada sekelompok iblis paling bengis. Kemudian rumah itu kehilangan bentuk, menjadi suram tanpa cahaya, hanya jeritan yang kadang terdengar dari dalamnya. Spooky istilahnya (meminjam terminologi dari seorang istimewa). Si tuan tanah setelah uangnyapun kandas ditempat pesta, terhuyung huyung mabuk pulang kerumahnya, lalu terkapar pingsan diemperanya. Pintunya terkunci dari dalam. Ketika siuman, ditemukan dirinya terkapar telanjang di emperan rumah tanpa bentuk. Inilah rumah yang dianggap tetap menjadi miliknya. Kini reot dan buruk, kehilangan bentuk dan…dia tak menemukan pintu ataupun jendela disana! Rumah itu telah jadi batu! Maka ia tetap menggelesot di emperanya, menghayalkan ribuan pesta yang pernah dilakukan sambil menyaksikan matahari melintasi langit bumi setiap hari. Sampai pangeran kodok akan datang untuk menyihir kembali rumah hati jadi rumah teduhan.

Atau, sampai ia pergi lagi mencari pinjaman, setidaknya diemperan rumah tanpa pintu itulah tempatnya berada...


Gempol, 060320

Saturday, March 18, 2006

Kursus Budi Pekerti

Demonstrasi mahasiswa Universitas Cendrawasih di Abepura Papua yang menuntut penutupan PT Freeport McMoran berakhir rusuh, empat nyawa aparat negara menjadi tumbal dibantai beramai ramai. Peristiwa barbar itu menyisakan kesan mengerikan, sebuah tragedi yang ironis. Tragedi kerena sedemikian brutal yang mengakibatkan kepiluan panjang, ironis karena justru dilakukan oleh mahasiswa terhadap aparat hukum, alat negara pengawal ketertiban dan keamanan.

Mahasiswa dalam pengertian harafiah adalah intelektual yang mengedepankan sikap sikap rasional. Secara lebih idealis mahasiswa adalah kader kader yang diharapkan mampu membawa bangsa kearah perbaikan. Jenjang pendidikan sampai di tingkat itu secara sederhana juga pasti memahami hukum hukum materi yang berlaku dalam peradaban manusia. Tetapi yang kita lihat ditayangan tivi itu samasekali mencerminkan kebalikan dari teori teori tersebut. Kita disuguhi tontonan mengerikan, dimana sekelompok petugas yang ragu dikepung dan dibantai oleh ribuan orang mahasiswa. Dan dalam keadaan tak berdaya sekalipun si petugas yang tidak dilengkapi senjata kecuali pelindung tubuh merka masih direjam dengan cara primitif dan sadis.

Sungguh kelompok demonstran itu hanya mengandalkan semangat kriminalisme, mengabaikan aspek hukum apalagi tenggang rasa. Mereka bangga menjadi primitif sehingga sangat tolol untuk sekedar mengerti dan menempatkan diri sebagai mahasiswa yang semestinya dalam komunitas peradaban berada pada derajat yang terhormat. Pemaksaan kehendak dan penggunaan kekerasan (anarkisme) mencerminkan betapa rendah budaya zaman jahilliyah tersebut. Status sosial sebagai mahasiswa hanya tempelan tanpa pemahaman yang memadai.

Ilmu ilmu yang mereka serap dari bangku kuliah hanya menghasilkan kekerasan dan pelanggaran terhadap aturan sebuah negara, sebuah lembaga dimana harus ada rakyat, pemerintahan dan wilayah. Tuntutan penutupan tambang emas dan tembaga rakasasa terkesan sekedar ‘kehendak’ mereka, tanpa memikirkan dampak lain yang akan timbul kalau Freeport harus tutup tiba tiba. Pastilah di kampus mereka juga diajarkan tentang efek domino dari penutupan sebuah tambang raksasa yang menyangkut harkat hidup ribuan orang pekerjanya, bahkan barangkali sampai kepada hal hal yang bersifat politispun mereka pelajari. Pelajaran diambil sebagai landasan ilmiah untuk meluruskan sekaligus mengawal proses bernegara dengan semangat untuk bersama, sekian ratus juta orang dari Sabang sampai Merauke. Ah, barangkali memang mereka berkuliah hanya supaya dapat gelar, dapat sertifikat dan nantinya dapat pekerjaan. Atau memang diajarkan kurikulum pelajaran membunuh polisi? Pantaslah kalau begitu apa yang mereka perbuat!

Konflik horizontal panjang di Papua memang (barangkali) mempengaruhi impresi mereka terhadap penegak hukum. Tetapi seharusnya mahasiswa mengerti betul bahwa petugas petugas itu hanya alat untuk mengawal ketertiban dan mengayomi masyarakat suatu negara. Dibalik figur tugas itu, mereka adalah individu individu yang hanya ingin berbakti kepada negara, tumpah darahnya. Petugas itu bergerak kaku dengan koridor HAM yang sangat ketat, sedangkan mahasiswa penyerangnya tak memiliki itu samasekali. Petugas petugas itu, mereka menjaga agar garis batas HAM tidak terlewati dan pada saat yang sama mereka tidak berada didalam naunganya. Ironis!

Mahasiswa, anarki, criminal…sebuah krisis akhlak yang seharusnya menjadi tombol waker bagi kita semua, betapa bangsa ini sudah memerlukan sebuah kursus sederhana tentang budi pekerti, tenggang rasa dan penghormatan terhadap hukum yang berlaku dimasyarakat suatu pemerintahan dalam wilayah negara Indonesia. Akal yang maju hanya akan jadi penghancur jika tak disertai akhlak yang baik. Kalau itu juga belum bisa difahami, barangkali memang harus setiap hari setiap kader pemimpin itu digembleng dengan doktrin berjudul tenggang rasa saja cukup. Atau kita akan menumpas anak cucu kita sendiri dengan menaburkan kader kader penentu karakter bangsa ini ditangan primitivisme?

(Sebagai ucapan berbelasungkawa kepada empat orang anggota keamanan negara yang tewas dalam pembubaran pemblokiran jalan di Abepura pada 16 Maret 2006)

Friday, March 17, 2006

Siman menggugat Tuhan

(Kronologi: Siman, seorang lelaki dari desa nun jauh dari asap kehidupan metropolis. Dia menjalani hidup berbekal intuisi dan mengumpulkan sedikit demi sedikit pengalaman untuk membangun kehidupanya sendiri dengan cita citanya yang sederhana; hidup tentram damai, pantas dalam peradaban manusia. Selepas dari pintu pagar rumah orang tuanya ketika dia remaja, dia merasa menjelajahi dunia ini sendirian, mengembara ke tempat tempat yang belum pernah dikenalnya, mengenali aneka warna dan rasa kehidupan dan menemukan pelajaran pelajaran tentang hidup sepanjang perjalanannya itu.

Syahdan, Siman membangun sebuah keluarga yang termasuk dalam cita cita sederhananya. Keluarga, sebuah investasi sosial dan pengejawantahan kehidupanya. Semua berjalan sempurna, dengan anak sebagai jimat penyemangat, dengan harapan dan mimpi yang terbangun dan perlahan menjadi kenyataan. Dia hanya tahu membangun, memberi dan mengadakan dari ketiadaan, menempatkan diri sebaik mungkin sebagai suami dan ayah bagi si kecil. Kebahagiaan yang lengkap, dia tak butuh apa apa lagi.

Suatu ketika, kebahagiaanya terampas oleh ulah durjana sang istri yang dia amat sayangi, istri yang dijadikan subyek pengabdian, ketika semua yang ditabung dan dibangunya runtuh oleh obesesi liar sang istri bersama lelaki bejat yang membuat sang istri jatuh cinta habis habisan. Maka Siman mengalami kebangkrutan mental dan material yang sempurna, merana berkepanjangan. Caci maki sang istri bahkan perlakuan fisik untuk memanipulasi kebejatanya diterimanya dengan hati perih, dan dia bertahan dengan investasi sosial yang ditanamnya. Hanya kepada Tuhan dia memohon untuk dikuatkan. Dan ketika tanpa nurani istrinya mengulangi perbuatanya untuk kedua kali, maka Siman menggugat Tuhan, mempertanyakan kesahihan doktrin doktrin moral yang selama ini dianutnya secara harafiah. Dia menggugat setelah bathinya letih berlari mengingkari kenyataan, setelah akal sehatnya tak mampu lagi mencerna makna ketidak adilan umat manusia. Demikian gugatanya….)

Benarkan engkau maha adil? Kalau demikian apakah adil memperlakukanku sedemikian buruk dalam kehidupan? Selama bertahun dipenjara oleh kekecewaan dan disiksa oleh kepintaran? Apakah salah jikalau aku lantas meragukan keberadaanmu sebagai yang maha adil dan penyayang? Rasa sayangkah ini namanya penganiayaan bathin yang tak berkesudahan, dan membiarkan si zalim sang penganiaya bebas tertawa berkeliaran diluar sana, diluar penjara pribadi yang terterali material?

Ketika kenyataan menjepit, aku telah datang kepadamu untuk berdoa, mengemis belas kasihan. Juga ketika orang orang yang begitu rendah budaya dengan enteng merenggut semua kebanggaan sebagai hakku, aku berdoa agar mereka dilaknat. Ketika kebahagiaan yang menjadi symbol dari kebanggaanku runtuh, engkau ada dimana untuk menegakkan keadilan? Apakah hanya mimpi buruk yang terus terjadi setiap malam itu saja yang pantas menjadi imbalanku, mimpi buruk yang terus saja terjadi dalam berbagai bentuknya.

Segala sesuatu yang terjadi dibumi ini tergantung kepada manusia sendiri. Kalaupun engkau maha adil, siapa yang bisa menunjukkan keadilanmu bagi diriku dalam peradaban manusia ini? Mengandalkan dan bergantung padamu hanya akan meracuni pikiran pikiran rasional, dan menaburkan benih harapan harapan yang tidak rasional. Aku sudah dianiaya, dihina, dirampas oleh manusia lain, dan itu membuatku memberontak atas segala keyakinanku sendiri.

Surgamupun terkadang aku ragukan keberadaannya. Bukankah manusia juga yang menggembar gemborkan tentang adanya surga sampai sampai orang rela membunuh dengan iming iming janji surga? Sungguh tidak rasional! Agama yang mengatakan bahwa janji surga itu berasal darimu. Tetapi semua yang menggunakan bahasa manusia adalah produk otak manusia juga.

Aku yakin semua hal dimulai dari pikiran. Demikian juga pembusukan perilaku, juga berakar dari pemikiran yang busuk, sebuah basis kleptrokasi ; kegembiraan atas prestasi jadi maling, kemudian jadi kebiasaan yang menyenangkan dan lama lama jadi kebutuhan. Bukankah dalam setiap kegiatan itu menghasilkan korban? Dan bukankah itu ketidak adilan yang senyatanya menurutmu? Apakah harus menunggu si klepto puas dulu sementara cerita tentang neraka hanya jadi momok belaka? Bukankah akan lebih ideal kalau engkau langsung saja menghukum mereka yang bermental maling dan bermoral bejat ketimbang membiarkan mereka menambah panjang daftar korban yang akhirnya akan datang mengemis padamu dengan doa doa mereka?

Aku menggugat atas kepiluan yang tiada berakhir…tolong jangan hanya diam saja.

Gempol, 060317

Thursday, March 16, 2006

Satu cerita tentang malam

Bahkan senyap sang malampun menjadi kabur oleh pikiran yang menimbun, makin lama makin kokoh mengunci bathin. Bumi menjadi hamparan maha luas dengan gunung dan laut yang memisahkan jarak antara jiwa jiwa yang diam diam menyimpan catatan tentang diri. Begitu jauh dari manapun. Kesendirian yang semestinya menenangkan menjadi kegelisahan ketika ternyata yang ditemukan hanya semu disekeliling.

Keindahan biasanya memiliki ruang sepanjang hidup masih terus dijalani. Bahkan dibalik tragedi yang memilukan atau prahara yang mengerikan sekalipun. Tetapi ketika iblis menempati posnya masing masing disetiap aspek ingatan, rayuan tentang estetika kesemestaan menjelma menjadi pemikiran skeptis belaka. Pemikiran yang hanya berputar putar pada pertanyaan tentang bagaimanakah cara menjalani hidup yang semestinya. Berputar tanpa jawaban kecuali ingatan yang datang silih berganti saling menindih bersama menumpuknya waktu ketika malam bergulir menuju muara bernama pagi.

Malam berisi diam, ketenangan yang mengendapkan banyak pertanyaan. Bahkan rapalan mantra pengusir gelisah rajin terlontar tanpa terucapkan sekedar menunda kemenangan sang amarah. Fikiran yang terkurung dalam ruang terkunci terus memberontak mencari celah, memanggil manggil datangnya seseorang yang dulu setia menemani, menjadi saksi atas setiap gerak yang terbuat dan kata yang terucap, yang lalu menuliskanya dengan indah untuk dipajang di dinding rumah teduhan hati.

Waktunya umat manusia tertidur melepaskan segala kesadaran dan tergolek menjadi zombie. Waktunya istirahat dari kenyataan yang terkadang membebani diri, dan berharap mendapat penghiburan dari mimpi yang dihasilkan dari kontemplasi bawah sadar. Maka bagi penduka waktunya juga menyongsong mimpi buruk yang akan jadi ilustrasi peristirahatan, memperpanjang garis antara tepi ke tepi sang malam dengan catatan hitam.

Sungguh tak penting apa yang telah terjadi hari ini, siang tadi. Sungguh tak penting juga apa yang mungkin akan terjadi esok pagi, keduanya sama sama nisbi. Kekinian adalah malam ini dimana angan angan timbul tenggelam antara kekhawatiran akan esok dan ketidak puasan atas cara memanifestasikan diri hari ini. Sungguh sebuah krisis mental yang rumit untuk diuraikan dengan penjabaran melalui tulisan. Tapi biarlah tulisan menjadi jejak sang fikiran yang tidak akan terhapus oleh waktu bahkan oleh hukum materi. Dan esok hari akan datang lagi bersama matahari, menerbitkan harapan dan benih benih cita cita yang terpupuk oleh gemerlap sisa embun dipucuk rerumputan sepanjang jalan kewajiban, mengaktualisasikan diri dan menjadi bagian dari kehidupan makro bumi manusia.


Gempol, lewat tengah malam di kontrakan, 060316

Wednesday, March 15, 2006

Secuil Sejarah Indah




…from the third floor, watching the busy street with you in mind.
Wondering how could I let this feeling go?
Whom will I tell if the rain pours down?
Whom will I send the picture of red sky?
What do we tell the hearts then?...

Sebait kata kata cantik itu meruntuhkan bangunan dinding keyakinan yang baru saja berdiri setelah berabad abad merana, menunggu proses kering agar kuat seperti karang.
Sebait kata itu merebut simpul hati yang sudah terkendali dalam kekang. Kembali angan mempertanyakan jawaban jawabanya, menggagapi masa masa depan yang tanpa bayangan.

(sebuah percakapan dengan sebelah hati pada 09 Januari 2006)

Tuesday, March 14, 2006

….dan ….

Badai dilangit hati perlahan menepi, diam diam menyisakan keletihan dan keperihan yang menjadi sia sia untuk dicari muasalnya. Dia yang datang ketika gelap menyekap dulu, perlahan menghitung gores demi gores luka yang kelihatan mata. Dia datang untuk membuktikan bahwa disetiap mendung selalu ada garis keperakan sebagai janji akan datangnya kecerahan, bahwa mendung dan hujan badai dihadirkan sebagai penegas keindahan sesudahnya.

Tangan lembutmu memapah berdiri, bangkit dan melangkah menjejaki tangga rumah kita dibalik langit ketika senja datang mengurung. Sendi sendi masih ngilu, dengan beban masalalu melekat dipunggung dan betis kaki. Mulut mungilmu bercerita tentang warna warni lukisa yang pernah kita buat dan kita tinggalkan ditebing gua dimana kita berlindung dari kejinya alam nyata. Mulut mungil yang selalu menaburkan cerita hati, bukan keinginan apalagi ketidak inginan.

Pernah kutitipkan hatiku padamu, dengan bungkus kesementaraan yang sama sama kita sepakati hingga aku tersesat dikedalaman lain lagi. Tersesat tanpa tahu kemana harus kembali, atau kemana harus menuju. Aku hanya tahu berlari dan terus berlari menghindari matahari yang keji membakar, dan berlari menghindari gelap malam yang kejam mengurung. Ya, aku berlari menghindari hingga tak sanggup lagi menghindar kecuali menipu diri dengan segala penghiburan pribadi.

Dibalik langit biru bening itu, engkau tawarkan lagi padaku mantera mantera penegak hati, sedangkan kedua kakiku tertancap erat dibeton yang mengeras ketika kesadaranku hilang dibungkam oleh bius nurani. Bahkan setumpuk naskah catatan kitapun aku kini sulit mengejanya, menerawangkan rasanya ketika itu. Aku kehilangan ketrampilanku untuk mengumpulkan lagi satu demi satu serpihan kehidupanku dulu.

Atau, barangkali memang badai panjang itu telah merubah wujudku menjadi sepotong kabut…

(kepada sesorang, yang pernah menggenggam erat tanganku jadi pegangan ketika angin badai menerjang dulu…terimakasihku tak terhingga buatmu)

Cubicle, 060313


Friday, March 10, 2006

Petinju Lucu = tontonan yang mengesalkan

Menyaksikan pertandingan tinju antara Apolos Inury dan Anwar Solihin dikelas walter yunior 63, 5kg menyisakan kedongkolan setelah delapan ronde yang seharusnya menjadi tontonan yang penuh excitement setelah ditunggu selama satu minggu itu menjadi sesuatu yang menyebalkan. Judulnya saja tinju professional, semestinya menampilkan profesionalisme sang petinju dan para second men yang mendampinginya, tetapi yang tertayang adalah kekuatan emosi, perkelahian yang miskin dengan tehnik bertinju yang baik, bahkan jauh dari memadai. Kedua petinju lebih banyak terlibat dalam rangkulan, dorongan, dan gerakan gerakan seperti perkelahian jalanan umumnya. Maka yang tampak dilayar tv adalah adu nyali antara dua orang petinju diatas ring! Kedua petinju menyuguhkan tontonan seni beladiri yang semestinya dikelola dengan keras dan manis menjadi tontonan “lucu” tanpa tendensi untuk melawak dengan wardrobe tinju; konyol memalukan, menimbulkan kekesalan belaka bagi penonton seni bertinju.

Menonton pertandingan tinju adalah mengikuti sensasi ketegangan rivalitas dua individu, dua orang diatas ring yang mengadu kekuatan, nyali, stamina, strategi, intelegensia dan tentu keberuntungan. Tinju adalah tontonan yang seharusnya bisa mendikte adrenalin penontonya ketika kedua orang diatas ring diadu satu lawan satu dengan sederet aturan ketat yang sama sama difahami dan dikawal oleh seorang wasit. Tehnik bertinju yang baik bukan hanya soal kuat memukul, tetapi juga pintar menggunakan tehnik yang benar, pintar dalam memilih momen momen memukul, pintar dalam mengatur mengontrol dan membelanjakan stamina, dan tidak kalah penting adalah pintar membaca strategi lawan, membaca kekuatan lawan, mengantisipasi serangan lawan dan menemukan solusi jitu dan cepat untuk menetralisir serangan lawan sambil menyusun taktik serangan pada saat yang bersamaan.

Tinju professional adalah pertandingan beladiri dengan bayaran, sebuah bisnis entertainment yang memerlukan pengelolaan secara professional dari setiap elemen yang terlibat mulai dari penyelenggara pertandingan, promotor, pelatih, sampai ke hal hal kecil dari si petinju sendiri. Tetapi yang tidak kalah menonjol dari pertandingan tinju adalah sportifitas karena basis filosofisnya adalah sportif sebagai landasan dasar dari sebuah pertandingan olah raga. Semakin professional para pelaku “bisnis berantem” ini maka semakin berkelas pulalah sebagai tontonan, ketika penonton disuguhi perebutan prestise diatas ring oleh dua orang dengan cara perkelahian yang gentleman.

Bisa dibayangkan betapa tidak mudahnya seorang petinju diatas ring yang pada saat bell dibunyikan tanda perkelahian dimulai diharuskan mampu untuk menjaga emosi tetap stabil antara marah, nafsu ingin mengalahkan, nafsu ingin menyakiti badan lawan dan lain sebagainya, pada saat yang bersama harus juga menjaga agar tidak terkalahkan dalam persaingan itu. Sepanjang tiga menit ronde berlangsung baku hantam itu harus mengikuti koridor aturan yang sangat ketat; hanya boleh memukul dengan kepalan tangan yang sudah dibungkus sarung tinju pada target target yang sudah ditentukan, menghindari serangan dan melindungi anggota badan dari pukulan lawan. Padahal untuk menjatuhkan musuh dalam perkelahian (seperti dalam mix martial art) banyak anggota badan mulai dari kaki sampai kepala bisa dijadikan senjata untuk meruntuhkan keperkasaan sang lawan.

Pertandingan tinju yang menarik untuk ditonton adalah ketika petinju diatas ring memegang teguh disiplin bertinju, dengan tehnik tehnik sesuai text book yang diaplikasikan dalam kombinasi antara kekuatan fisik dan kecerdasan. Pertandingan tinju menjadi berbobot oleh karena ketatnya persaingan kedua unsur tersebut dengan kedisiplinan yang terbaca dari gaya bertinju, melambangkan ketekunan si petinju dalam berlatih keras dan terus mengembangkan andalan yang dimiliki sebagai senjata diatas ring. Chris John adalah satu dari sangat sedikit petinju Indonesia yang memiliki dedikasi dan disiplin dalam bertinju, melengkapi diri secara maksimal untuk menduduki posisi elite dalam peta tinju nasional yang secara otomatis membuka pintu peluang bagi eksistensinya di ring internasional. Chris John mengukir prestasinya dengan gemilang karena dedikasi dan intergritasnya di dunia tinju sebagai profesi yang dipilihnya sepenuh hati. Dia pantas menyandang gelar juara dunia WBA saat ini.

Bagi penonton, yang menang dan yang kalah tidaklah menjadi soal yang penting ketika pertandingan tinju terasa enak untuk ditonton, bahkan ketika petinju yang “diinginkan” untuk menangpun akhirnya kalah, rasa hormat, salut kepada si pemenang akan muncul dari penonton yang juga harus mengikuti aturan permainan sebagai penonton yang professional. Bahkan sekalipun petinjug yang diandalkan diam diam terpukul knock out oleh sebuah lucky blow lawan. Apalagi bagi si petinju, ketika bell dari ronde terakhir usai dibunyikan atau ketika wasit mengehentikan pertandingan karena salah satu terpukul jatuh dan tak sanggup melanjutkan pertandingan, si menang dan si kalah akan berpelukan sesudah saling memukul selama pertandingan, saling memuji, menerima kemenangan dengan rendah hati dan juga menerima kekalahan dengan besar hati, untuk kemudian berlatih lagi siap untuk bertanding lagi, menguji lagi hasil latihan diatas ring.

Jadi memang tinju professional tidaklah pantas dijadikan arena perkelahian yang “gemlelengan”, minim disiplin dan persiapan hanya bermodal nyali dan kekuatan fisik, sebab hanya akan menjadi tontonan dua badut yang berkelahi diatas ring, saling takut kena pukul dan kebingungan cara memukul lawan. Lucu yang tak mengundang tawa, kecuali kekesalan bagi penonton professional yang mengharap sebuah tontonan seni beladiri professional, dedikasi terhadap pilihan hidup sebagai petarung.

(sebagai bayar hutang untuk seseorang yang mempertanyakan kapan akan menulis topik ini – Engkau tak pernah pergi jauh dari hidupku…)
Belakang TMII, 060310

Thursday, March 09, 2006

Hakuna Matata




Hakuna Matata!
What a wonderful phrase
Hakuna Matata!
Ain't no passing craze
It means no worries
For the rest of your days
It's our problem-free philosophy
Hakuna Matata!

Syair diatas menjadi ruh dari film animasi bertajuk The Lion King yang peraih academy award. Pesan moral dari film animasi tersebut tebagi bagi dalam banyak aspek, yang salah satunya adalah persahabatan yang dengan gamblang digambarkan oleh tiga binatang (dalam kehidupan nyata) yang sangat berbeda, yaitu antara Timon si meerkat dan Pumbaa si babi hutan dan Simba si singa jantan. Tulisan ini tentu akan mengesampingkan karakter karakter lain seperti Uncle Max si pemimpin komunitas meercat, si Scar yang jahat, trio hyena beserta gerombolanya yang bersekongkol dengan Scar demi lestarinya selera makan mereka yang rakus, Rafiki si kera baboon yang bijak, dan seabrek karakter lainnya, maaf mereka menunggu giliran untuk diterjemahkan oleh pemahaman yang terbatas ini.

Timon dan Pumbaa saling bertemu setelah keterbuangan masing masing dari komunitasnya. Timon si trouble maker yang segala hal menjadi salah setiap kali sampai ke tangannya seberapa kerasnyapun usaha untuk membuatnya benar, dan sesudah pandangan skeptis dari komunitasnya, penolakan halus secara bersama sama oleh kelompoknya dia meminta ijin kepada ibunya yang lembut khas keibuan untuk pergi jauh, mencari dunia dimana dia tidak harus menggali terowongan untuk menghindari hyena, dimana dia bisa bebas dari status sebagai penghuni mata rantai makanan terendah dikehidupan liar, setelah dia merasa hanya memiliki kegagalan. Tubuhnya kecil, tekatnya kuat dan cara berfikirnya cernderung praktis.

Pumbaa tak kalah menyedihkanya. Bahkan diluar komunitasnyapun dia menjadi persona non grata; sosok yang tidak disukai karena…bau kentutnya yang audzubilah!! Semua binatang pada kabur setiap kali dia ada, seranggapun pingsan oleh baunya, bahkan semak rerumputan langsung terkulai layu jika terkena gas buang mautnya. Badanya besar, dan selera makanya lumayan rakus.

Syahdan mereka akhirnya dipertemukan oleh ketdak sengajaan. Kesamaan dari kedua mahluk yang kelak menjadi sahabat dengan motto “friends stick to the end" ini adalah bahwa mereka sama sama polos saja menjalani hidup mereka, berfikir sederhana dan tentu dengan pesan moral bahwa hidup seharusnyalah polos tanpa pamrih seperti mereka. Dengan modal itu mereka menjelajahi belantara afrika untuk menemukan tempat yang dinasehatkan oleh Rafiki si kera baboon bijaksana; untuk melihat apa dibalik yang kelihatan mata (look beyond what you see). Timon yang kecil memang in charge dengan gaya berfikirnya yang harafiah mengartikan ucapan itu dan menjelajah belantara untuk menemukan tempat tinggal ideal bagi mereka berdua.

Dalam pengembaraan itu suatu hari, mereka menemukan bayi singa yang kelak bernama Simba yang terkapar pingsan dikerubuti burung nazar yang siap mencabik cabik kulitnya. Atas intuisi mereka lalu si bayi singa diselamatkan dan diasuhnya, didoltrin dengan filsafat filsafat Timon yang terkesan sok tau dan tak terbantahkan. Pesan pesan moral sederhana dijejalkan kepada Simba yang desperate karena perasaan bersalah yang ditanamkan Scar sang paman, menyemangati untuk meninggalkan masalalu sebagai masalalu, membelakangi dunia ketika dunia terasa membelakanginya dan sebagainya. Disinilah mulainya sebuah bentuk persahabatan yang penuh makna kebijakan, dimana Timon dan Pumbaa kemudian mengambil alih fungsi parental bagi si Simba kecil, menjadi tiga sekawan dengan motto yang mereka pelajari sepanjang pengalaman hidup mereka; Hakuna Matata!

Persahabatan itu terus berjalan sampai Simba tumbuh jadi singa jantan dewasa dengan bayang bayang tragedi kematian ayahnya Mufasa yang menjadi korban dari kekejian pamanya sendiri Scar yang haus kekuasaan dan dengan licik melakukan ‘kudeta’ dengan berkolaborasi dengan para hyena. Mereka bertiga benar benar hidup dengan Hakuna Matatanya, bebas masalah dan gemah ripah penuh ketenteraman dengan pangan berlimpah.

At the end of the day, setelah bertemu Nala teman masa kecilnya, Simba kemudian berencana merebut kembali kekuasaan dari tangan Scar dan para hyena. Kehidupan yang sudah berjalan adem ayem itu harus mengalami jeda perang besar antara Simba yang kemudian dibantu para singa betina kawan kawan Nala (dan tentu Timon dan Pumbaa juga Rafiki), melawan Scar sang paman dengan pasukan setia dan balatentara hyena-nya. Cerita itu sendiri berakhir dengan happy ending, Simba yang difitnah kemudian pada saatnya melawan sang zalim dan menang, dan meneruskan persahabatan dengan dua orang yang paling berjasa dalam hidupnya; Timon dan Pumbaa.

Cerita tentang Timon, Pumbaa dan Simba memberikan pesan moral bahwa persahabtan yang tanpa pamrih akan membawa kebaikan. Perbedaan karakter bahkan sifat maupun jenis dari tiga unsur mahluk itu justru menjadi perbedaan yang melengkapkan. Mereka tidak mengejar kesamaan dan sama sama menyadari perbedaan. Tetapi kepolosan fikiran tanpa kepalsuan sedikitpun membentuk tali tak terlihat yang mengikat kuat antara individu individu yang terlibat, menjadi kokoh sebagai satu kesatuan dalam label “sahabat” tanpa kepentingan. Ketiganya terbuang dari komunitasnya masing masing dengan cara dan alasanya masing masing, kemudian bertemu dalam keterasingan dan hanya mengandalkan intuisi untuk berbuat baik, tetap bersama saling menolong. Begitulah hakekatnya persahabtan manusia yang lebih berakal budi. Idealnya!

Hakuna Matata, my friends!
(life is problem free because problem is just a creation of our own mind)

Wednesday, March 08, 2006

Selamat ulang tahun, Sangalang!

Jika kakimu letih wahai Sangalang, mengejar harap dari mencari apa yang tak kau dapati, maka berhentilah sejenak dari berlari, definisikan ulang segala keinginan dan sekejap saja tengoklah kebelakang kepada kebun pengalaman yang ditumbuhi oleh subur onak dan semak berduri bernama kekecewaan.

Hari inipun tiba wahai Sangalang, setelah ratusan hari tak terbayangkan akan engku lewati dengan gagah berani, setelah ratusan kata tentang kematian engku suguhkan sebagai perhiasan kehidupan. Pun hati tetaplah menjadi pertaruhan terbaikmu jua.

Hari ini, mari kita baca semua keluhan yang hanya berujud gumaman dengan gema yang membingungkan disetiap lereng gunung ego yang kokoh engkau bangun sendirian, setelah kesia siaan demi kesia siaan engkau nikmati sebagai satu pembalasan yang pantas atas kuburan janin kebahagiaan yang ditancapkan dipunggungmu, tembus ke dada dan melukai jantungmu. Duh, betapa setahun penuh hari harimu berisi erang kesakitan yang dengan kerapuhanmu kau pura purai, kau sembunyikan diam diam namun tak sanggup engkau tanggungkan sendirian.

Selamat ulang tahun wahai sangalang, semoga amarah dan lapar bathinmu menuntunmu kembali pulang kepalung kebahagiaan nurani yang hanya engkau sendiri diam diam menikmati, semoga pelangi pagi hari yang terlukis diatas Bandara Sepinggan menjadi pertanda selesainya episode puting beliung pencarian dijiwamu, sebab bagimu selalu disisakanNya sejuk embun diujung rerumputan halaman rumahmu sebagai pemupuk optimisme.

Selamat ulang tahun wahai Sangalang, mari, berhenti sejenak mengasihani diri, membiarkan nurani lepas sejenak dari kungkungan tempurung ego diri, lalu memeriksa dengan seksama pilar pilar kesejatian yang telah berpuluh tahun menyokong kaki tetap berdiri memanifestasikan eksistensi. Mari kubantu mengukir catatan catatan kebanggaan atas jejak langkah yang telah menempuh lebih jauh justru ketika engkau harus sendirian. Aku melihat, kastil riwayat yang engkau bangun, berdiri kokoh didalam hati orang orang yang mengerti makna menyayangi, dengan nama dan catatan tentangmu terukir abadi disana.

Selamat ulang tahun wahai Sangalang,
tetaplah jadi malaikat bagi kehidupan yang hanya memiliki harapan sebagai kemewahan
tetaplah jadi sahabat bagi yang linglung memerlukan panduan
tetaplah menjadi matahari jiwa bagi orang orang yang terpenjara kegelapan akal fikiran…

Selamat ulang tahun wahai Sangalang…
Dari kejauhan kukirim bingkisan, surah Al-Fatehah sebagai puja kemuliaan, menembus gelap malam ketika gerimis menyingkir perlahan

Semoga, damai dan sejahtera selalu hidupmu…


Gempol, 060308

Monday, March 06, 2006

Menyublimkan Ego

Dia terbangun dari istirahat pendeknya semalam. Terbangun karena mimpi yang tak sanggup ditahankan sebagai mimpi melainkan tayangan kenyataan yang menyakitkan. Ya, dia sedang sakit bathin, terluka dan merana berkepanjangan. Mimpi itupun entah sudah yang keberapa ratus mengganggu istirahatnya. Dia hanya pasrah tak mampu mengelak dan tak berhak menolaknya. Ketika malam hanya berisi suara kipas angin yang menderu, diapandanginya tubuh tubuh anggota keluarganya yang terlelap tak berdaya. Hanya dia yang terjaga dirumah itu. Keterjagaanya membangunkan kesadaranya, betapa dia adalah yang terperkasa diantara semua yang tertidur saat itu. Kemudian bisikan ditelinga bathinya yang menderu oleh mimpi yang membangunkan tadi;

“ Aku tidaklah penting bagi diriku sendiri. Maafkan pengalaman jika aku keliru menganggap diriku penting bagi hidupku sendiri. Selama ini ego – lah yang justru menyiksaku sendirian, karena ego itu milikku sendiri”

Bisikan itu dibawanya keruang tamu, kedalam perenunganya sendiri yang menggumpal seiring asap rokok kretek yang dihisapnya. Dalam perenunganya, slide slide pengalaman menyakitkan yang dihadiahkan orang lain menjadi tayangan memalukan bahwa dia telah mendramatisir kesakitan itu sedemikian rupa, bahkan menawarkanya kepada udara berharap ada simpati bagi si ego, si karakter diri. Kesakitan hati terasa hanya membandul menjadi liontin hiasan nasib, sedangkan tak ada sesuatupun yang sanggup menggubahnya menjadi sandaran pengharapan. Kekecewaan dilumurkan pada setiap permukaan bumi, dan dijilatinya sebagai santapan tiga kali sehari, bahkan egonya yang sombong telah memprogandakan kader kader iblis ciptaanya sendiri yang di klaim sebagai iblis ciptaan orang lain yang diternakkan dijiwanya.

Ditemukan dirinya menjadi pribadi pincang yang mendekati lumpuh, dengan plakat tulisan dengan huruf besar besar didadanya; “AKU MENDERITA”. Ditemukan dirinya malam itu menjadi seorang pribadi yang pathetic mengobral iba bagi siapa saja demi simpati. Memalukan, sebab dia telah berjalan sendirian ratusan ribu kilometer untuk memunguti pengalaman, sedangkan dia tidak pernah mengeluh melainkan bangga selama ini. Kehancuran dan kehilangan atas apa yang dibangun dan dianggap menjadi miliknya pribadi yang selama ini menjadi batu penindih gerak kakinya dilihatnya mengakibatkan kakinya mengecil dan tak bertenaga, sedangkan dia sendiri yang meletakkan batu itu disana, dan menganggap orang lain yang melakukan itu dengan kejinya.


Keletihanya bathinya mengembalikan kesadarannya akan kesombonganya keapada karakter, kepada diri sendiri. Kesombongan yang lahir dari keinginan keinginan duniawi dan ketidak terpenuhinya harapan harapanya terhadap pribadi lain yang bersinggungan dengan dirinya, pribadi yang dengan sadar dia jadikan tumpangan hati berharap untuk berdamai dengan semua ketidak nyamanan dunia. Maka dia memilih berkompromi dengan konflik kesombongan individunya sendiri, memilih mencari format menyublimkan egonya sendiri agar menjadi kempis, kecil tak berbobot, tak berotot. Dinihari itu ditanyakanya kepad Tuhanya tentang sebuah formasi bagi pribadi yang mampu menumpas egonya sendiri dan bertekad mempersembahkan hidup bagi siapapun juga yang menganggapnya berguna bahkan kepada mereka yang tidak menganggapnya berguna. Dia hanya ingin berbuat baik, tanap pamrih apapun bahkan berharap pahala karena dia tak ikut mengontrol hasil akhir, seperti dia juga tidak ikut mengontrol kehidupan yang akan dijalaninya. Dia hanya tahu, terlalu lelah untuk melawan ego sendiri, memilih tidak menampakkan diri dan menjadi ada bagi siapapun yang melihatnya.

Maka pagi itu, setelah berpuluh batang rokok kandas di paru paru, didengarnya embun bercakap cakap dengan hangat sinar matahari, tentang diri yang memang tak berarti apa apa bagi diri sendiri, tak penting bagi diri sendiri, dan tak harus penting bagi orang lain….dan dia tersenyum menyambut datangnya hari, berjalan meretas usia menuju mati. Disepanjang jalan banyak dijumpai iblis yang diternakkanya di kandang kenangan, tak diberinya makan, biar mati kelaparan pelan pelan…


Gempol, 060306

Sunday, March 05, 2006

Sebuah nilai dari bawah hujan badai

Sore jam setengah empat. Jakarta dikurung hujan lebat dan angin ribut. Udara berwarna gelap oleh air hujan yang menghambur dan dipermainkan angin yang kebingungan arah, berputar dan berpendaran dengan liar. Pepohonan bergoyang hebat, meliuk kesana kemari dengan acak. Angin ribut makin kencang, seperti curah hujan yang makin deras meluncur langsung dari langit. Jalan jalan aspal mulai tergenang disana sini, airnya coklat tua menyapu debu dan tanah sepanjang trotoar dan pembatas jalan. Sebagian lagi mengalir deras memasuki gang gang dengan turunan, berubah menjadi kanal kecil yang dangkal membawa air entah berakhir dimana.

Ditengah hujan sebuah sepeda motor melaju pelan, menyusuri tepian jalan. Diatasnya duduk seorang laki laki memengang kemudi dengan penumpang anak perempuan kecil erat memeluk tubuh si lelaki, bapaknya sendiri. Sepanjang jalan percakapan keduanya tak pernah henti, si anak sibuk bercerita tentang air hujan yang terasa manis tak sengaja masuk ke mulutnya, bertanya tentang air hujan dan berceloteh tentang gembiranya hati si kecil. Ya, keduanya memang sengaja menikmati hujan yang turun, menembus derasnya dan membiarkan air membasahi sekujur tubuh mereka, menembus jaket dan helm mereka. Mereka bergembira, menikmati fenomena alam bernama hujan dengan hati penuh keriangan. Mereka berseru bersama ketika roda sepeda motor membelah genangan air dan memuncratkan air ke kaki mereka. Angin yang mengamuk terasa juga mendorong dorong tubuh keduanya, dan mereka nikmati sebagai sesuatu yang luar biasa dengan tertawa tawa.

Sepanjang jalan rasanya hanya mereka berdua yang bersepeda motor menembus hujan. Tiba tiba dijalur yang sama mobil berderet terhenti oleh sesuatu didepan sana. Sebatang dahan pohon angsana patah, tumbang menutup jalanan. Mobil mobil berhenti, karena tidak mungkin melewatinya. Lelaki pengemudi motor itu berhenti dekat dahan patah, keduanya turun dari motor. Si kecil dipandunya kepinggir jalan, diatas trotoar. Dibawah helm hijaunya mata kecilnya mengikuti bapaknya yang mendorong dorong patahan dahan yang masih melekat di pokok pohon dipinggir jalan. Lelaki itu berkutat keras dengan dahan yang menghalangi jalan, menarik dan mendorongnya ketepi untuk memberi ruang bagi mobil mobil yang akan melintasi jalanan dibawah hujan dan angin ribut sore itu. Perlahan lahan dahan seukuran betis orang dewasa itupun bergerak oleh dorongan kedua tanganya, bergerak kepinggir jalan dan memberikan ruang cukup bagi kendaraan untuk terus melaju. Tidak ada yang membantu. Orang orang didalam mobil hanya melihat dari balik atap dan kaca yang melindungi tubuh mereka dari basah air hujan yang dingin.

Sesudah dahan yang tetap menempel dipokoknya tersingkir, dan lalulintas berjalan mengalir, lelaki itu kembali menghampiri sepeda motornya, menghampiri anaknya yang berdiri memperhatikan tingkah bapaknya. Mobil yang mulai berjalan menyampaikan terimakasih mereka dengan sentuhan bunyi klakson, yang dibalas dengan senyum lebar dibalik helm dan lambaian tangan mengiyakan. Sebuah pekerjaan tanpa keharusan selesai, si lelaki kembali ke sepeda motornya dan sianak kembali berada diboncenganya, meneruskan perjalanan menembus hujan dan angin ribut disore gelap mengurung Jakarta. Sepenjang jalan itu jejak kekuatan angin ditemui, atap atap berterbangan, dahan dahan pohon patah bahkan pepohonan yang tumbang, menambah decak kagum keduanya betapa alam begitu perkasa dibalik keindahan guyuran hujan dan kengerian angin ribut.

Hari itu, si kecil memperolah pelajaran berharga dari kegembiraan main hujan hujanannya, dengan kegirangan dan pembelajaran tentang nilai kebaikan, bahwa diri sendiri bukanlah yang terpenting, bukan segala galanya. Bahwa diri sendiri bisa berguna bagi siapa saja selama tak ada maksud sesuatu dibalik apapun yang dikerjakan, kecuali kegembiraan hati melakukan hal hal yang membuat orang lain terbantu. Sebab, alamlah yang lebih perkasa daripada manusia, dan sebab Tuhanlah yang mengaturnya demikian. Maka tunduk takluk kepada Tuhan memberikan kegembiraan dan kedamaian yang diam tak terkira.


Pasar Rebo 060305

Friday, March 03, 2006

(...) kosong titik tiga kosong

Kosong titik tiga kosong...dari kekosongan kemudian berisi tiga titik bermakna vacum, bermakan kekosongan yang meragukan...

Begitulah hakekatnya sebuah kehidupan, terkadang kekosongan menghadang, mengisi dan menghiasi kehidupan...demikian juga saat ini, tiga tanda titik mengisi kepala dan kehidupan, ragu menanti sesuatu terjadi, sesuatu datang; masa depan.


dibawah mendung, 060303

Tuesday, February 28, 2006

Episode jam makan siang

Berhenti sejenak wahai kejenuhan, ketika tiga tanda titik menjadi jeda bagi kelelahan fikiran mencari cari kemana perginya sang akal setelah dari pagi dibentur benturkan pada kemuakan demi kemuakan yang melelahkan, melumpuhkan.

Orang orang pergi, mengejar dunianya sendiri sendiri, menciptakan hidup mereka sendiri sendiri setelah bosan mendengarkan keluhan demi keluhan; yang itu itu juga. Hanya yang itu itu juga tak beralih juga tak berpindah.

Segala puja bahkan sekedar kata simpati telah pergi, jauh meninggalkan diri. Deret demi deret kata tak lagi punya makna, hanya pemaksaan atas ketidak relaan hati menerima bahwa semua sudah padam, layu diseret seret oleh kemeranaan yang diam.

Sapaan “apa kabar?” hanya sekali terlontar, itupun tadi pagi ketika matahari belumlah meninggi. Lalu hilang tanpa kesan. Jelas sekali hanya angin musim yang kesasar dan meniup nyala cinta yang telah padam, memunafikinya menjadi semacam prasasti bahwa hati pernah memiliki persinggahan yang menenteramkan.

Setengah pertama catatan hari berlalu dengan beban hampa bernama kesia siaan. Menghitung angka, menanti jarum jam menunjuk angka lima sementara setumpuk kewajiban ditumbuhi ilalang dan semak belukar ketidak mengertian, jauh dari sentuhan. Terdampar dibawah matahari yang tiba tiba menyilalukan, setelah berjuta tahun memberi penghidupan.

Mungkin sebaiknya padamkan saja hati, bungkam mulutnya, sumbat telinganya dan ikat matanya supaya hari berjalan tanpa rasa, tanpa cemburu apalagi curiga sebab pemberontakan yang terjadi dibalik kepala datang dari setiap panca indera.

Sepi, hening mencekam pada jam makan siang. Semua orang pergi tertawa didunia mereka sendiri sendiri….


Graham Simatupang, 060228

Sunday, February 26, 2006

Rindu Damai

Aku rindu rasanya damai, ketika senyum datang bersama mengalirnya detik demi detik merampas usia. Aku rindu rasanya hidup dalam genggaman harapan, dengan benih mimpi dan harapan jadi pemandu, dengan nurani dan logika sebagai rambu.

Inikah arwahku dari jasad jasmaniku yang tenggelam dikedalaman kegelapan? Inikah uap dari kemeranaan atas jiwa yang teraniaya? atau hanya kaki hatiku yang tertancap dilumpur beton, menunggunya mengeras dan lalu mematri diam, meninggalkan kedamaian menjauh ke awang awang?

Aku sungguh rindu rasanya damai, ketika jiwa menyediakan diri menjadi wadah masadepan, wadah ketidak pastian dengan kesiapan tak pura pura. Aku rindu datangnya pagi dengan matahari membawa janji bahwa benih benih harapan akan tumbuh dan bersemi menyemangati.

Setahun ini tempurung pengalaman mengurung dalam gelap, tanpa kisi kisi maupun ventilasi. Dan aku hanya rindu damai, rindu hudupku yang telah lalu. Kapan akan kembali kutemui??

Aku rindu rasanya hidup, dimana mendung, hujan, awan, langit, tanah, udara, air bahkan kegetiran menjadi nyenyanyian berirama damai…

Aku rindu, seseorang jelmaan malaikat yang mengajariku mengangkat dagu, tersenyum menumpas luka luka yang tersembunyi…


Gempol, 060226

Saturday, February 25, 2006

Hikayat Pendusta

Maka dari mulutnya mengalir cerita demi cerita bohong melulu. Sampai tangis dan sikapnyapun hanya imitasi belaka, menjejalkan dongengan untuk dipercaya bahwa dirinya bersih, kalis dari segala dosa. Sedangkan kenyataan begitu gampangnya dinalar dengan logika bahwa perbuatanya menghancurkan sendi kehidupan dari kaki sampai kepala. Bahkan si dungupun dengan gampang menterjemahkan dirinya sebagai pendosa.

Diniliainya orang lain tidak akan siap dengan kenyataan karena kenyataan itu sendiri jauh menyimpang dari jalur norma, melenceng meninggalkan tatanan peradaban dan aturan kepantasan. Dia tidak sanggup jujur bahkan kepada dirinya sendiri, ego dan kesombongan diri telah mengalahkan nurnainya, mati sia sia.

Si penghianat adalah pengecut sempurna, bagi dirinya sendiri dan bagi dunia. Dipandangnya segala dengan mudah, padahal kesulitan melilit langkah. Nurani plastiknya membutakan pengertian akan terimakasih dan rasa bersyukur apalagi balas budi. Yang ada dikepalanya hanya dirinya sendiri yang lebih tinggi dan lebih mulia dari apapun yang ada dimuka bumi. Sungguh kebodohan yang sempurnya yang pada saatnya akan membenturkan kesadaranya bahwa hidup bukanlah sekehendak keinginan belaka, bahwa orang lainpun akan sanggup menciptakan kehidupan yang harus dijalaninya, dan akan diterimanya dengan kesombongan sebagai beban, sebagai penghimpit nafas disetiap detik yang dilalui.

Dari mulutnya mengalir nyanyian tentang penghianatan yang dianggap sebagai ketidak mengertian, sebagai perbuatan lumrah, bahkan sebagai nilai. Dari mulutnya yang busuk mengalir segala sumpah serapah sebagai pembelaan bahkan semburan ludah sebagai benteng pertahanan akan aib yang dibuatnya yang terkoyak oleh kenyataan. Seluruh penampilan fisik dan bathinya hanyalah tinggal bangkai, yang akan menebarkan bau busuk bagi siapa saja, bagi dunia yang ditinggalinya.

Si penghianat hidup dalam kurungan dunia buatanya sendiri, karanganya sendiri dan memaksa siapapun untuk tinggal didalamnya, menghirup busuknya dan beranak pinak dalam kebejatan moralnya. Tak disadarinya bahwa satu persatu nilai duniawinya meninggalkan dirinya, hingga pada garis terakhir pertahanannya pelampung keselamatan bagi dirinyapun dimunafikinya sebagai suatu yang barharga. Harga diri yang diobral habis tetap dipegang teguh sebagai harga, tak sadar bahwa hampa semata yang dimilikinya.

Maka sebentar lagi, nyanyian sang penghianat hanya akan menemukan sunyi, melolong lolong tanpa seorangpun sudi mendengar, ketika dijualnya diri dan kehormatan untuk ditukarkan dengan semenit demi semenit tempatnya meniti hidup, pun tanpa sesal maupun pelajaran yang sanggup diserap oleh fikiranya yang buta. Dia telah menjadi penghianat bagi nuraninya sendiri…

Gempol 060225

Thursday, February 23, 2006

Korban

Perbedaan antara ‘dikorbankan’ dan ‘mengorbankan diri’ jelaslah sangat ekstrim. Tetapi bagaimana dengan diri yagn rela berkorban kemudian justru dipilih oleh sang iblis untuk dipecundangi dengan kebiadaban perilaku? Si korban dipilih untuk dikorbankan karena sikap ‘mengorbankan diri’nya dianggap sebagai kedunguan yang mudah untuk dimanfaatkan, sedangkan baginya mengorbankan diri adalah kesukarelaan untuk tujuan mulia, menjadi orang baik yang menurutnya pantas untuk sekedar dihargai, diperlakukan sebagai manusia syukur syukur manusia bijaksana.

Ketika sikap mengorbankan diri dipilih, maka ego dipenjara oleh keperkasaan nurani, oleh bisikan sang baik hati untuk rela menelan kotoran yang bukan dibuatnya sendiri, dengan hati remuk tanpa bentuk memperbaiki susunan kebanggaan yang pernah dibangun dan lalu dihancurkan iblis. Butuh kekuatan besar dan effort yang tidak sederhana untuk melakukanya.

Tidak perlu kecerdasan berlebih untuk bisa menafsirkan sebagai perbuatan mulia, hanya perlu mengembalikan diri pada cermin sebagai manusia yang berakal budi.

Kebohongan adalah ketika si pembohong menganggap kehidupan serba mudah sementara kesulitan tercermin disekeliling kenyataanya, dan yang lebih menonjol adalah anggapan si pembohong bahwa korbanya tidak lebih daripada si dungu yang memiliki kualitas intelegensia jauh dibawah miliknya sendiri, sangat apriori. Tetapi, kebohongan sama yang dilakukan berulang setelah si korban dengan gamblang menguak kebohongan itu sendiri menurutku adalah kebodohan yang sesungguhnya. Atau barangkali kesengajaan untuk menghancurkan, sebuah metode penghancuran terhadap sebuah karakter. Inilah kejahatan nurani yang sesungguhnya!

Lebih mengenaskan lagi ketika si pelaku justru menyalahkan si korban hanya karena memposisikan sebagai korban, karena tidak bisa menerima kebohongan sebagai kebenaran yang harus dipercayai, sebagai takdir, bahwa kebenaran hanyalah produk dari iblis yang sesungguhnya. Sungguh memprihatinkan krisis nurani yang terjadi pada orang seperti ini., karena kepintaran yang diakumulasikan dari nafsunya menempatkan dirinya pada satu level dibawah nilai seekor B-I-N-A-T-A-N-G.

Gempol, 060222

Wednesday, February 22, 2006

Balada si badut

Ini kisah tentang seorang penduka bernama badut, hidup didunianya yang hitam kelam dan sendirian. Menyediakan. Hatinya terpenjara demi dunia lelucon bagi peradaban. Ia menyediakan diri menjadi tertawaan, membunuh kepribadian dengan topeng kesedihan. Oleh penguasa pertunjukan, dia hanyalah benda mati sebagai mainan, bibirnya ditempeli plastik lukisan sebuah senyuman. Dia sadar, hidupnya sendirian.

Suatu kali ia terdampar dikerumunan sebuah pemberhentian; seseorang menjanjikan datang dan mengharap jemputan. Si badut merasa terhormat berada di tempat seperti orang kebanyakan. Seseorang, kali ini bukan badut. Segala atribut kebadutanya dilepaskan, ditinggalkan dirumah dengan kesedihan, sayang rasanya meninggalkanya tergantung dilemari pengalaman.

Subuh ini si badut akan menjadi orang biasa yang tak dapat dikenali kebadutanya. Dipersiapkanya sekeranjang duka sebagai cerita (sebab hanya itu yang dia punya), dibawanya langkah yang lelah menuju kerumunan, tempat yang dijanjikan. Dia menunggu bersama malam dan segala kegirangan dalam fikiran, dia menunggu seperti semua orang ramah dan baik hati menemani, mengajaknya berbincang tentang indah kehidupan.

Maka datanglah kereta kesekian, dengan sebuah hati membawa bunga dan senyuman. Sebuah hati tempat sibadut menitipkan riwayat kehidupannya. Dia tersenyum dengan hati berdebaran kencang, menyusun ribuan kata untuk jadi percakapan. Harum rambut yang pernah dikenalinya membius cerita duka yang sejak setahun terakhir memperkosa bathin si badut. Dia tenggelam dalam cerita cerita sebuah pertemuan di negeri dongeng, negeri khayalan. Sebuah hati berjalan kearahnya, hati yang ditungguinya yang diharapkannya tanpa kemungkinan lain. Mutlak. Tak sadar si badut melonjak girang.

Direntangkan tangan dengan dada penuh perban, ketika si hati berada dihadapan menyambutnya masuk dalam pelukan. Senyumanya tetap senyum yang memabukkan dulu, senyum yang dia bawa khusus buat si badut yang kegirangan. Tetapi si hati hanya berlalu dan terus tersenyum, si badut hanya memeluk udara, memeluk kehampaan mulanya. Lalu kehampaan itu menjadi pemberontak paling garang ketika si hati jatuh rebah dalam pelukan sang pemilik pertunjukan. Sang hati pembawa bunga, dia datang bukan untuk si badut, menjadi bintang bagi sang pemilik menggelar sebuah pertunjukan.

Dengan kehampaan udara dipelukan, dunia meledak dalam gelak tawa yang tak terbendungkan. Sebagian menunjuk muka si badut yang kemerahan. Dunia terpingkal mentertawakan kebodohanya dengan semua mata melekat pada wajahnya yang kehilangan pijakan. Berhenti tertawa tak diijinkan sampai si badut tahu diri dan menyingkir dari keramaian, berjalan menunduk menyusuri trotoar Jakarta dengan sesekali sumpah serapah merendahkan dirinya. Telah didengarnya caci maki, telah dirasainya ludah penghinaan, telah diterimanya tamparan kemarahan dan hari ini, diterimanya sebuah cemooh terhadap keangkuhan harga diri. Apa lagi yang lebih kurang merendahkan dari semua kejadian?

Si badut pulang kedunianya dikegelapan. Menemukan jubah badutnya tetap tersenyum dalam gantungan, lalu ia menangis mengasihani diri. Sungguh ia ingin melukai hatinya sendiri namun tak didapatinya satupun kemungkinan. Si badut kenyang dengan hidupnya yang dipermainkan. Si badut mengira telah cukup dilewatinya kesengsaraan, namun nyatanya penyiksaan masih saja diterima tanpa bisa dihentikan. Dibawah gerimis, dibawah gelap lepas subuh ia tersdar bahwa ia belum lagi meraih puncak kesengsaraan bathinya sebagi badut senyatanya bagi kehidupan, bagi sang pemilik pertunjukan; orang orang yang menganiaya bathinya.

Ya dia hanya patut jadi badut kehidupan…


Gempol, 060221 – 0201hrs

Monday, February 20, 2006

Drowning

Tenggelam semakin dalam, dikedalaman gelap dan pengap tanpa tuan. Ribuan beling jadi pijakan dikaki, dan bara api dalam dada, juga hujan silet mengamuk dalam badai yang maha pekat. Letih terluka dan merana, diri lumpuh teraniaya. Bahkan untuk pemberontakan terakhir berupa bunuh diripun diri tak sanggup melakukanya. Sesekali letupan dikepala dari kawah hati yang tak henti bergejolak mengalirkan tangis kepedihan yang melukai siapapun yang dihadapan, disamping kiri maupun kanan. Perih membakar.

Harum bau pedang mengundang keberanian, menantang diri untuk tetap tegak sedangkan tiang tiang sandaran perlahan melemah menanggungkan beban. Kehidupan raya semakin menjauhi diri, melayang meninggalkan bumi. Lalu dimana sebenarnya kaki harus dipijakkan dan udara harus dihisap untuk kehidupan jika memang ada. Tenggelam dalam gelap, yang terasa hanya pengap. Tak ada ruang maupun garis pembatas antara kehidupan dan alam fikiran. Sama saja, pengap.

Hujan badai mengamuk makin terasa jika lapar ikut serta mendera, ikut ikutan meramaikan pesta iblis yang membusukkan jantung, paru paru dan limpa. Jalan melempang menuju kematian telah dibangunkan untuk sebuah hati yang bersikukuh menempatkan telapak kaki disepatu laki laki, kekonyolan pribadi yang mengalahkan ruang toleransi yang memiliki garis batas berupa karet fleksibel, menawar nawar nurani untuk mengampuni sang iblis yang dengan tertawa menginjak injak tanpa rasa berdosa.

Semestinya nurani menjadi wasit yang maha bijak atas perdebatan antara hati dan logika, kepentingan diri dan pertimbangan kebajikan. Tetapi nuranipun telah kehilangan wibawa, terbenam dalam arus lumpur hitam yang membutakan. Maka tinggallah sekarang logika berjibaku dengan datangnya miliaran kemungkinan masa depan, berharap dan terus berharap agar dimengerti segala kecacatan mental yang ditimbulkan. Berharap dan terus berharap bahwa manusia kembali kepada fitrahnya sebagai manusia, menempatkan diri sebagai manusia dengan kesempurnaan dan ketidak sempurnaan sebagai manusia. Sungguh berharap bahwa kekuatan yang dipaksakan akan menjadi sesuatu yang patut untuk dibanggakan bahkan dihargai sebagai sebuah nilai penyelamat bagi kehidupan.

Jauh didalam pekat hujan badai asa meraba raba mencari kesejatian diri yang perlahanpun kehilangan nilai atas kebajikan, berubah menjadi monster mengerikan yang hanya tahu menepis, melawan dan mematahkan setiap iblis yang datang menyerang. Sementara cadangan tenaga dikaki untuk terus berdiri makin menipis, dan goyah oleh mimpi mimpi buruk yang dihasilkan dari kalkulasi perlawanan yang tampaknya hanya sia sia belaka. Ya, perlawanan yang sia sia sebab diri terkapar kehilangan rasa, kehilangan tenaga dan kehilangan asa. Kalah dalam siluet kemenangan yang selalu menjadi harapan hampa.


Gempol, 060220 – ketika iblis menyekap dalam siksa sendirian.

Sunday, February 19, 2006

Luka yang indah.


Kekecewaan belakangan menjadi teman akrab. Amarah menjadi tamu tetap, lalu menjelma jadi mutan dalam darah dan udara. Apa mau dikata, diri tak kuasa menentukan bahkan sekedar menghindarkan apa yang orang lain akan perlakukan. Pasang badan menjalani keadaan, meskipun kaki yang pincang kelelahan membuat otak kehilangan tuan sekalipun. Harus dijalani, mengharap akan jadi berkah suatu hari kelak. Mungkinkah?

Kebekuan ini begitu gersang oleh penghianatan terhadap fikiran. Seorang badut ditengah kerumunan dan gelak tawa dunia disekeliling. Dia benar banar sendirian dan tak punya pegangan sekarang. Dia hanya punya nafas yang panjang yang sesekali ditahan dan disimpan untuk cadangan kehidupan. Mulutnya kosong, matanya kosong tapi kepala dan lenganya sarat dengan beban. Dan didalam dadanya, sakit terasa mempertontonkak hehidupan.

Lalu dicari dari mana datangnya luka yang mengucurkan darah, jauh dikedalaman dunia fikiran sendiri. Lubang dan sobekan menganga dimana mana, ada yang baru ada yang lama, ada yang bernanah dan ada yang meneteskan darah hangat masih segar. Dan luka itu merubung hati, hancur kehilangan bentuknya yang asli.

Nasehat datang dari nurani yang kelelahan. Logika bodoh kecewa karena mengharap apa yang tak bisa didapatkan. Seseorang datang mengantar perban! Ia hanya lewat dengan senyuman sebab ia membawa bunga bagi kekasih hatinya. Subuh baru tiba ditempat yang dijanjikan, setelah sekian tahun dalam penantian. Sang penduka menangis digerbong terakhir yang berhenti, afkir, disetasiun pemberhentianya yang terakhir.

Betapa indah luka, ketika yang mengikuti hanya penghayatan sebab diri tak berhak menolak, tak kuasa mengelak. Betapa indah luka ketika titik titik kecemasan perlahan mengabur dan hilang, lalu tinggal hampa yang maha luas membahana menyelesaikan tugas sang malam untuk menikam bathin orang orang yang teraniaya oleh lukanya lukanya sendiri, luka luka yang indah…


Gempol, 060219

Saturday, February 18, 2006

Menunggu

Aku telah menunggumu sejak tak ada apapun lainya yang bisa dilakukan. Apakah aku harus membunuh penantianku, berjalan mengelak dari sergapan perih kenyataan bahwa engkau tak datang untukku? Semestinya begitu, tapi tolong ajari akau bagaimana caranya, sebab aku terlalu dungu untuk sekedar menjadi orang yang pura pura. Maka aku menunggu, sebab aku tak bisa menipu diriku bahwa aku telah lama menunggu dan akan terus menunggu datangmu.

Engkau tak punya pilihan, katamu tetapi engkau membuat keputusan dengan memilih pilihan. Memintaku menunggu, membuatku menunggu dan disebuah kota yang salah karena tak mendaftarku sebagai pilihan. It is fine to live with violated mind inside of me, because it’s just me, the whole me. Engkau tak akan pernah bisa mencicipi perihnya, seperti juga aku tak bisa sedikitpun merasakan pedihmu. Dinding gelembung dunia bathin kita, mustahil untuk didobrak, terlalu tebal meski transparan dalam pandangan.

Seperti mengharap, semua tak harus jadi bukti jawaban tepat. Demikian juga menunggu, tak semua berujung dengan ‘bertemu’. Dan engaku datang bukanlah buatku, itulah kenyataan dan kenyataan itu menyakitkan. Aku merasa tak melakukan hal yang buruk terhadapmu, ucapmu suatu ketika dan memang tak ada satupun hal buruk yang pernah kuterima darimu. Apapun itu. Bahkan sikapmu yang mempermainkan keyakinanku sekalipun tetap indah untuk kuhayati, menyadarkan diri bahwa aku bukanlah miliki peradaban dimana kehidupan normal dijalani.

Engkau mengenalku sebagai rangkuman kata kata, maka aku lahir dalam kehidupanmu sebagai wakil dari kata kataku. Sampai engkau membunuhkupun, aku akan tetap jadi kata kata yang hidup dalam jiwamu. Bahkan ribuan iblis yang kaukenali yang kini tengah berpesta ditengah tengah tubuhkupun tak sanggup merubah wujudku menjadi bongkah daging dan tulang yang tumbuh tanpa hati. Nanti, lihatlah dalam gambar saja, catatan tentang tipu daya yang tertoreh dilengan kiriku, menjadi saksi abstrak peneman penantianku.

Seperti kataku, aku akan tetap menunggumu meskipun sulit bagiku membedakan antara siang dan malam hari. Setidaknya sampai subuh, sampai engkau menginjak bumi kembali…


Gempol 060218


Friday, February 17, 2006

Sang Individu

Manusia individu adalah subyek yang mengalami kondisi manusia. Ini diikatkan dengan lingkungannya melalui indera mereka dan dengan masyarakat melalui kepribadian mereka, jenis kelamin mereka serta status sosial. Selama kehidupannya, ia berhasil melalui tahap bayi, kanak-kanak, remaja, kematangan dan usia lanjut. Deklarasi universal untuk hak asasi diadakan untuk melindungi hak masing-masing individu.


Pengalaman subyektif dari seorang individu berpusat di sekitar kesadarannya, kesadaran-diri atau pikiran, memperbolehkan adanya persepsi eksistensinya sendiri dan dari perjalanan waktu. Kesadaran memberikan naiknya persepsi akan kehendak bebas, meskipun beberapa percaya bahwa kehendak bebas sempurna adalah khayalan yang menyesatkan, dibatasi atau dilenyapkan oleh penentuan takdir atau sosial atau biologis. Hati manusia diperluas ke luar kesadaran, mencakup total aspek mental dan emosional individu. Ilmu pengetahuan psikologi mempelajari hati manusia (psike), khususnya alam bawah sadar (tak sadar). Praktek psikoanalisis yang dirancang oleh Sigmund Freud mencoba menyingkap bagian dari alam bawah sadar. Freud menyusun diri manusia menjadi Ego, Superego, dan Id. Carl Gustav Jung memperkenalkan pemikiran alam bawah sadar kolektif / bersama dan sebuah proses pengindividuan, menuangkan keragu-raguan untuk ketepatan pendefinisian individu ‘yang dapat diartikan’.

Individu manusia terbuka terhadap emosi yang besar mempengaruhi keputusan serta tingkah laku mereka. Emosi menyenangkan seperti cinta atau sukacita bertentangan dengan emosi tak menyenangkan seperti kebencian, cemburu, iri hati atau sakit hati.

Seksualitas manusia, di samping menjamin reproduksi, mempunyai fungsi sosial penting, membuat ikatan / pertalian dan hirarki di antara individu. Hasrat seksual dialami sebagai sebuah dorongan / keinginan badani, sering disertai dengan emosi kuat positif (seperti cinta atau luapan kegembiraan) dan negatif (seperti kecemburuan / iri hati atau kebencian).

Tubuh

penampilan fisik tubuh manusia adalah pusat kebudayaan dan kesenian. Dalam setiap kebudayaan manusia, orang gemar memperindah tubuhnya, dengan tato, kosmetik, pakaian, perhiasan atau ornamen serupa. Model rambut juga mempunyai pengertian kebudayaan penting. Kecantikan atau keburukan rupa adalah kesan kuat subyektif dari penampilan seseorang.
Kebutuhan individu terhadap makanan dan minuman teratur secara jelas tercermin dalam kebudayaan manusia (lihat pula ilmu makanan). Kegagalan mendapatkan makanan secara teratur akan berakibat rasa lapar dan pada akhirnya kelaparan (lihat juga malnutrisi).
Rata-rata waktu tidur adalah 8 jam per hari untuk dewasa dan 9–10 jam untuk anak-anak. Orang yang lebih tua biasanya tidur selama 6–7 jam. Sudah umum, namun, dalam masyarakat modern bagi orang-orang untuk mendapat waktu tidur kurang dari yang mereka butuhkan.
Tubuh manusia diancam proses penuaan dan penyakit. Ilmu pengobatan adalah ilmu pengetahuan yang menelusuri metode penjagaan kesehatan tubuh.

Kehidupan subyektif individu berawal pada kelahirannya, atau dalam fase kehamilan terdahulu, selama janin berkembang di dalam tubuh ibu. Kemudian kehidupan berakhir dengan kematian individu. Kelahiran dan kematian sebagai peristiwa luar biasa yang membatasi kehidupan manusia, dapat mempunyai pengaruh hebat terhadap individu tersebut. Kesulitan selama melahirkan dapat berakibat trauma dan kemungkinan kematian dapat menyebabkan rasa keberatan (tak mudah) atau ketakutan (lihat pula pengalaman hampir meninggal). Upacara penguburan adalah ciri-ciri umum masyarakat manusia, sering diinspirasikan oleh kepercayaan akan adanya kehidupan setelah kematian. Adat kebiasaan warisan atau penyembahan nenek moyang dapat memperluas kehadiran sang individu di luar rentang usia fisiknya.

(Sumber: wikipedia.org)

Thursday, February 16, 2006

Penghayatan Hidup

Menghayati hidup barangkali sama dengan mengikuti arus gelombang, naik turun tanpa melawan. Merasakan dramatisasi setiap gerakanya, terkadang tenang menenteramkan, terkadang kacau membingungkan, mematikan akal sehat dan kemauan.

Penghayatan terhadap dramatisasi emosi adalah menyerahkan rasa kepada hidup yang memperlakukan sementara nurani tetap menggenggam rambu rambu tetap dijalur yang menjadi keseharusan. Jalur yang akan membawa sipengikut rasa menjadi aman dalam perjalananya.

Perjalanan kemana? Dari keseluruhan romantika rasa kehidupan, semua akan di shut down olehNya ketika kematian dihadiahkan sebagai sampul terakhir dari buku catatan perjalanan sejarah sebuah individu. Kematian menjadi muara dari segala cerita tentang kehidupan, dan terkadang dia datang tanpa meninggalkan catatan bahkan resensipun tidak, dilupakan orang karena memang tak berharga, tak punya cerita yang pantas untuk dijadikan sekedar perenungan bahkan untuk suri tauladan.

Ada kalanya kehidupan memperlakukan diri seperti raja bagi keadaan, dimana semua keinginan datang dengan satu jentikan jari bahkan menemukan kenyataan yang jauh lebih baik dari harapan yang sempat dibayangkan. Bagi yang patuh pada nurani, keadaan seperti ini membuat orang menjadi bijaksana, tetap menempatkan kesombongan ditangga terbawah dalam semua sikap dan teguh berupaya membagi ‘keberuntungan’ itu dengan orang lain.

Pada hitungan detik, keadaan bisa berbalik semena mena. Diri terasa meluncur dari puncak gunung kehidupan terbentur dan terantuk sepanjang peluncuran kedasar jurang yang belum ketahuan, seperti apa bentuk permukaanya, bahkan terkadang merasa tersangkut diketinggian lereng jurang dengan luka diseluruh persendian dan badan matirasa, hanya kesadaran bahwa hidup masih bertahta sebagai penguasa saja yang tersisa, sambil menunggu hukum gravitasi bekerja sempurna menghempaskan diri kekaki lembah.

Sikap menghayati seperti itu memerlukan konskwensi kekuatan yang sesungguhnya, tertunduk syukur ketika bahagia dan mengerang memelas ketika terasa lara, tertawa lepas ketika gembira atau menangis memilukan ketika berduka. Tak apa, hidup memang ada untuk dihayati dan dirasakan romansanya, sebagai karunia terbesar dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mengikut arus gelombang kehidupan dengan perasaan penuh, adalah menyerahkan kesadaran diri sepenuhnya bahwa Dialah yang maha menentukan, dan kita hanya bertingkah entah menerima atau sekuat kuatnya melawan kehendakNya.

Gempol, 060216

Mimpi

Pucuk pucuk rerumputan pagi hari, menyisakan embun menyapa ditelapak kaki yang telanjang, hati ringan membawa badan berjalan menyusuri tepi hutan, lengang tanpa kehidupan. Sisa kabut menyingkir dihadapan hanya kicau burung menemani sepanjang jalanan. Pagi ini bumi begitu senyap, rembulan pulang meninggalkan bekas pesta semalaman berserakan sisa keteduhan romantisme kehidupan. Matahari masih malas melanglang menghitung jejak malam yang tertinggal direrumputan.

Jalan setapak ini kukenali, yang bertanah kering merah berdebu sisa lumpur musim lalu, sejuknya mengundang masa kanak kanak untuk menghambur dan rebah, dibawah rimbun rumpun bambu, pagi hari yang penuh cita cita. Alam memeluk kalbuku, damai menyelimuti bathin sendirian. Angin membawa kabar tentang negeri negeri yang jauh dibalik awan, menantikan catatanku untuk dibacakan, tentang peperangan yang aku pulang membawa bunga sebagai symbol perdamaian.

Persimpangan ini kukenali, dimana telah kutanam satu biji pohon kehidupan dan lalu tumbuh rimbun menjadi semboyan. Seratus langkah lagi aku tiba dihalaman, rumah tua tanpa penghuni, tanpa pagar maupun isi. Berdinding kayu berlantai batu, sepasang kursi tua setia menunggui tungku perapian yang membeku. Akupun mengenal rumah tua ini, dimana anak anak rohani lahir dari kehangatan cinta penghuninya dulu. Diberanda belakang, seikat bunga lili tergeletak merana, tampaknya baru saja datang sebagai persembahan. Seseorang setia menjaga rumah ini, merawat dan menyambanginya, barangkali berharap penghuninya pulang dari pengembaraan mengikuti langkah sang angin yang menerbangkanya, terpontang panting diantara rawa rawa.

Teduh rumah ini begitu mendamaikan, seikat lili dalam pelukan bersama sejuta kerinduan yang malu malu untuk dipertontonkan. Mengumpulkan lagi kenangan, diri tersesat pada labirin yang membingungkan, hilang ingatan. Catatan telah tercecer hancur bersama badai yang kuhadang ketika suara merdu memanggil pulang. Tapi aku kelelahan, mencari tempat dimana kaki dipijakkan sebab rumah inipun jadi hampa, tinggal aku yang duduk terpekur diberanda, menunggu matahari lewat dan malam datang bawa rembulan, dimana akan datang bidadari kayangan, mengajariku cara menjalani kehidupan. Dengan senyum yang tak dipaksakan…

Mimpiku, menafsir rindu akan diri yang lama hilang…


Gempol 060215

Wednesday, February 15, 2006

Senyum dan keikhlasan

(sebuah argumentasi atas kuasa sunyi)

“ Hidup jangan dipersulit, senyum itu lebih indah mengundang keikhlasan untuk masuk secara perlahan”
Mempersulit hidup, sungguh tidak seorangpun dimuka bumi ini yang masih menganggap diri waras mau melakukan itu. Terkadang hidup jadi dianggap sulit lantaran tanggungan konskwensi atas keputusan yang dibuat dan dihayati sungguh sungguh dengan nurani. Kesulitan itu sendiri menjadi denyut nadi kehidupan, sebuah indikasi harfiah bahwa hidup masih berjalan, masih ada dan terasa.

Hati yang ikhlas akan secara simbolis diterjemahkan dalam senyum yang mengembang, tanda kebahagiaan yang terundang masuk secara perlahan kedalam sanubari. Senyum menterjemahkan kebahagiaan itu dan menjadi bahan baku dari keikhalasan yang akhirnya beranak pinak dalam jiwa, berkembang biak menjadi suasana hati yang berbahagia.

Senyum sebagai umpan bagi datangnya keikhalasan menjadi imitasi atas kesementaraan, pertanda pondasi keikhlasan jiwa yang labil. Keikhlasan datang sebagai hidayah, bukanlah tamu bagi hati yang siap pergi kapan saja waktunya pantas untuk pergi. Dan ketika senyum dipaksakan sebagai umpan, keikhlasan yang datangpun hanya sebagai kiasan belaka. Sedangkan syarat mutlak dari keikhlasan adalah; sukarela.

Sebuah senyuman memerlukan kekuatan dari hati yang ikhlas, sebab ketika senyum dipaksakan maka keikhlasan yang menyertainyapun berupa keikhlasan yang dipaksakan juga, bukan keikhlasan yang hakiki, dan sama saja tidak ada keikhlasan disana.


Gempol, 060215