Tuesday, December 06, 2005

Balada seorang lelaki



Laki laki tua itu kini tinggal punya kenangan dan berjuta prasangka. Kakinya telanjang menjuntai diawang awang, jauh dari tanah bumi bernama kenyataan tempat dimana semestinya hidup dipijakkan. Melambung timbul tenggelam diantara bangkai kemewahan yang menobatkanya sebagai raja atas keinginan dan kesenangan hidup tanpa batas dimasa lalunya.

Dia kehilangan kebanggaanya sebagai laki laki, sebagai raja yang menciptakan tirani dengan kata katanya. Materi menjadi satu satunya nilai hidup, begitu miskin dengan penghargaan atas nilai kemanusaan bahkan tenggang rasa. Dalam kelumpuhann jiwa dan raganya, dia memberontak keadaannya sendiri yang tak boleh terjadi dan harus dia terima, yang tak menyempurnakan kesenanganya hingga ajal tiba. Dalam kealpaanya digugatnya zaman yang tak mau mengikuti kemauan individualnya. Kesulitan kehidupan sungguh menjadi monster yang menggerogoti kepribadianya, melupakan kodrat sebagai seorang manusia biasa yang menitiskan ruh dan raga kepada berpuluh puluh nyawa; anak anaknya.

Telinganya tuli, matanya buta, dan panca inderanya matirasa. Dia hanya tahu menjadi diri sendiri dan penguasa, tak peduli apa yang orang lain rasa. Hatinya gersang oleh cinta yang dimanifestasikan dalam pemenuhan hajat hidup yang sungguh kacau lagi bobrok tanpa format. Tanggung jawab adalah hal yang tak pernah dipelajari maupun dihayatinya. Seluruh penampilan fisiknya menterjemahkan status sosial yang bukan pakaianya; dia hidup di bangkai kemewahan masa mudanya, enggan kehilangan sesuatu yang bukan lagi menjadi miliknya. Dia petik hampir semua yang dikehendaki tanpa belajar menanam, menjadikan kesombongan sebagai kebanggaan, tak sadar dia telah kehilangan pengakuan.

Telah dihabiskanya seluruh energi dimasa muda untuk menghamburkan kesenangan manusiawi, tanpa menyisakan sedikitpun untuk masa tuanya. Dia menjadi manusia aneh dengan nilai manusia yang hampir nihil. Dunianya hayali bahkan tak ada Tuhan didalam sanubarinya. Diwariskanya kepada siapa saja yang bertalian darah dengannya sederet rongga kesengsaraan, berpuluh tahun terjalani dan akan bersambung berpuluh tahun lagi. Tak ada tauladan yang patut disimpan sebagai catatan sebagai seorang pelindung dan pembimbing atas nama kebijaksanaan. Patriark yang otoriter, feodal yang kolot dan sangat dangkal pemahaman tentang nurani.

Usia menunggu maut datang menjemput, dia mengharap kematian tak pernah ada. Dia hanya tinggal tahu, menindas orang orang yang mencintainya tanpa syarat, sebab hanya itu cara dia menjaga bangkai kemewahannya tetap terasa…




Jakarta, 5 Desember 2005

Monday, December 05, 2005

Jatuh Cinta


(catatan untuk teman yang sedang jatuh cinta)
Jatuh cinta adalah bunuh diri yang terindah. Ketika kita jatuh cinta, kita membiarkan ego dalam diri kita secara sangat individual mati sesaat, teracuni oleh gejolak hati. Jatuh cinta juga adalah puncak estetik dari nilai nilai hidup, dimana sang hati menjadi raja diraja penguasa yang memerintahkan seluruh syaraf rasa mengubah sudut pandang menjadi seni yang serba indah. Jatuh cinta mutlak menjadi urusan hati, dunia perasaan dan angan angan. Dan menurutkan hidup mengikuti hati, maka batasnya adalah nisbi belaka; dari ujung langit ke ujung lainya. Alias tidak ada. Nihil.

Jiwa manusia membawa dua unsur dunia, yaitu dunia hati dan dunia logika. Dunia hati mengurusi hal hal yang bersentuhan dengan perasaan dan emosi, sedangkan dunia logika berkepentingan dengan urusan urusan perhitungan matetis dan akal sehat. Dan ketika hati menjadi raja bagi jiwa ketika kita jatuh cinta, maka logika akan secara sadar dimati surikan atau mungkin diabaikan. Logika tidak bisa menalar dengan sistematis apa yang terjadi didunia hati, sedangkan hati menemukan egonya bahwa keindahan ketika jatuh cinta tidak ada sangkut pautanya sama logika. Logika yang memandang kelakuan hati akan mengusik usik bahkan memperingatkan untuk tetap dijalur logis, tetapi hati yang jatuh cinta biasanya hanya memandangnya sebagai anjuran yang tidak harus menjadi panutan.

Seperti semua hal didunia ini, bahwa tidak ada sesuatupun yang everlasting, maka jatuh cintapun sebenarnya adalah keadaan sesaat belaka. Ada masanya perasaan cinta yang menggebu lengkap dengan segala macam atributnya itu akan memudar bahkan padam. Tidak dipungkiri, jatuh cinta kepada seseorang dan mendapat sambutan seimbang adalah pengalama bathin yang luar biasa, tidak bisa akan lupa sekaligus pada saatnya ketika mabuk cinta sudah mereda, semua akan tampak wajar dan biasa saja. Jatuh cinta menghadirkan segala perasaan serba indah dan romantis bagi setiap individu. Hal hal sepele dan biasa bisa berubah menjadi dramatis. Sebagian orang menjalani kehidupan dengan dramatisasi emosi yang kental, dengan pemahaman bahwa segala yang disediakan oleh hidup adalah seni. Alam, manusia, perasaan, dan seluruh kehidupan memiliki nilai estetika yang tinggi. Jika orang seperti ini jatuh cinta, maka dunia angan anganya akan berubah menjadi segala sesuatu yang berhubungan dengan terjadinya keajaiban.

Jatuh cinta bagi orang luar yang tidak mengalaminya juga memiliki potensi distruktif, menghancurkan. Banyak orang menafsirkan jatuh cinta sebagai keinginan untuk bersama sama terus, berkomunikasi terus, bahkan sebagian orang menafsirkan sebagai kebebasan untuk bersebadan maupun berduaan dengan bebas dengan lawan jenis. Jatuh cinta seperti ini tentu memiliki kualitas yang rendah dan belum patut dinamakan jatuh cinta, kecuali ketertarikan akan lawan jenis; sexual needs fulfillment.

Jatuh cinta hakiki adalah seni komunikasi hati, dus tidak ada yang instant. Mungkin berawal dari rasa “click”, kemudian simpati, kemudian timbul perasaan perasaan halus yang membuai yang menimbulkan rasa peduli dan kerelaan untuk terlibat terhadap individu lain sekaligus memiliki dasar dasar rasa hormat dan tentu memuja. Jatuh cinta yang baik berisi hal hal yang saling menjaga tanpa mengekang.

Jatuh cinta adalah ketika diri membiarkan hati mengambil kendali, ketika logika mati suri, penghayatan terhadap setiap moment terjadinya komunikasi dua hati dengan cara apapun yang berujung pada satu kesimpulan; memuja rasa.


Minggu, 4 Desember 2005
Perenungan pada siang bolong dari kamar kost…

Sunday, November 27, 2005

Kontemplasi Perjalanan


Engkau hendak kemana?
Pergi, jauh menuju rumah teduhan hati. Menembus awan dan gerimis, melintasi lautan membunuh jarak yang membentang.
Atas kuasa apa?
Hati murni. Tuhan tak membuat aturan. Tapi manusia yang pintar menciptakan permainan nurani. Setiap hati punya parameter kelakuan dengan ukuran kekuatanya sendiri. Aturan peradaban diciptakan bagi nurani yang tak punya itu hati. Hanya hukum alamlah yang terbantahkan, aturan manusia selamanya adalah permainan diluar ruang hati.
Akan sampai kapan perjalananmu?
Sampai kucium tanah tujuan dimana bingkai jarak tak lagi berjejak. Sampai kutertidur diteduh rumah titipan hatiku.
Engkau ada dimana wahai hati?
In the middle of nowhere. Diatas air, ditengah udara dibawah langit dan awan gemawan tanpa matahari. Aku tengah menjelajah belantara kekosongan dimensia ruang, keluar dari kotak kubus kehiudupan logika. Tak ada masalalu, dan masa depan kecuali angan angan sepanjang jalan.
Letihkah engkau?
Hanya indah. Dan nikotin yang tak lagi mengalir di darah sejak kemarin pagi.
Lalu apa yang engkau lakukan itu?
Kontemplasi. Menjadi gila yang paling sempurna diplanet bumi.

Diatas KM Kambuna I – ditengah perairan selat sunda 26 November 2005,

Friday, November 25, 2005

Matinya Doktor Azahari


Salut dan angkat jempol untuk kerja Polisi dengan detasemen 88 antiterornya yang akhirnya berhasil menemukan persembunyian orang nomor satu yang dicari cari karena disangka sebagai begawan perakit bom handal yang dipakai buat membunuh secara acak dan massal sejak tahun 2000an. Doktor Azahari Husin, mati dengan tiga lubang ditubuhnya ditembusi peluru, hancur oleh bom yang dirakit dan dipasang ditubuhnya sendiri pada satu penggerebekan mirip adegan film Hollywood pada 9 November lalu di sebuah rumah sewaan di Songgoriti yang sejuk di Batu Malang. Profesionalisme institusi polisi Indonesia patut dihargai, minimal dengan angkat kedua ibu jari buat mereka. Good job!

Doktor Azahari lelaki kelahiran Jasin, Malaka Malaysia yang berumur 45 tahun itu pun jadi mayat tanpa sempat membela diri. Dia seorang lelaki cerdas dan berpendidikan tinggi yang meraih gelar doktor bidang statistika dengan predikat cum laude di Reading University London. Menurut infomasi intelijen Azahari mulai bergabung dengan islam radikal yang menginduk ke Al Qaeda setelah mengikuti latihan bersama ribuan mujahiddin lainya di Afganistan. Pendidikan itu rupanya merubah pula pandangan hidupnya tentang perjuangan melawan kebathilan dimuka bumi. Sayang sekali, pemahaman itu terlalu ekstrim dan egois, sekaligus impulsive. Menganggap diri adalah martir utusan Tuhan yang punya lisensi untuk membunuh dan akan dapat pass card gratis ke surga apabila terbunuh. Pemahaman itulah yang lantas membubuhkan gelar baru baginya sebagai “The demolition man” alias sang pengancur, gembong teroris.

Sebagai mahluk sosial Azahari dikaruniai kehiudupan dunia yang baik, dengan istrinya Wan Noraini Jusoh dan kedua anaknya Aisyah 7 tahun dan Zaid Abil 5 tahun, pekerjaan yang baik sebagai dosen di Universitas Teknologi Malaysia Sayang itupun kurang disyukurinya. Sebagian analisa menyimpulkan Azahari menjadi keblinger dengan konsep jihad dan menobatkan diri sebagai syuhada adalah sebagai pelarian atas kekecewaanya terhadap kehidupan, dimana istrinya menderita kanker tenggorokan sejak setelah kelahiran anak keduanya pada 2001. Bisa jadi memang ada kontribusi yang membentuk kelakuanya, tetapi mungkin lebih sederhana kalau simpatinya terhadap perjuangan Islam diartikulasikan sebagai perang salib era baru, yang jelas sudah bukan pada zamanya untuk diterapkan. Makna ketuhanan disikapinya sebagai pemahaman horizontal, mematikan hukum dasar ‘habluminallah wal habluminanaas” (berbakti kepada Tuhan dan menjaga hati kepada sesama).

Azahari melupakan kodratnya sebagai manusia, sebagai lelaki yang sudah mengambil keputusan untuk bertanggung jawab kepada dua orang manusia yang atas prakarsa dan kesengajaanya menjadi penghuni dunia, tanggung jawab sebagai ayah dan suami, kepala rumah tangga serta panutan bagi keluarganya. Keputusanya untuk menjadi pembunuh dan meninggalkan tanggung jawab sebagai kepala keluarga adalah sikap pengecut paling kentara. Islam mengajarkan untuk mencintai kehidupan, dan kehidupan yang paling nyata adalah kehidupan keluarga sendiri, kehidupan anak anak kita. Bagaiman membesarkan dan mendidik mereka, memberikan irah irah bagaimana hidup dalam harmoni didunia dengan menggandeng ajaran suci Tuhan didalam jiwa.

Ternyata, kecerdasan dan pendidikan tinggi bukanlah jaminan untuk menjadikan seseorang menjadi manusia berakhlak mulia. Doktor Azahari, meskipun mungkin menjadi legenda bagi sebagian orang berotak tengik, tetaplah seorang pembunuh keji tanpa hati manusia. Otaknya terpelintir oleh teori akidah dengan landasan kesombongan egonya sendiri, dan terjerumus kedalam pengertian yang sangat dangkal, sangat bodoh tentang sebuah ajaran agama.

Tetapi Azahari tetap manusia biasa ucapan ‘Innalillahi wainailaihi roji’un’ atas kematianya, juga doa selamat bagi keluarga yang ditinggalkanya. Sangat disesalkan dia mengingkari tanggung jawabnya sebagai seorang manusia, sebagai kepala rumah tangga, gantungan hidup tiga nyawa anggota keluarganya. Dimana letak tanggung jawab kepada Tuhan apabila tanggung jawabnya kepada sesamapun tak dihiraukanya?

Kadang kadang kecerdasan dan pendidikan tinggi membuat orang menjadi terlalu bodoh!


Kost Simatupang, 24 November 2005

Thursday, November 24, 2005

Tempat Kencing


(Endapan dari percakapan didalam limousine sepanjang Nagoya – Bandara)

Sejak Kapolri Jendral Sutanto mengeluarkan kebijakan tegas, melarang perjudian ditanah air sekitar lima bulan lalu, tempat kencing itu jadi susut pengencing, menjadi sepi. Glamour Batam sebagai tempat kencing yang mewah dan menyediakan segala equipment perkencingan menjadi sepi, menjadi merana. Para penjudi dari Singapura tak lagi datang dan menghamburkan dollarnya di sini, juga penjudi domestik tak lagi datang untuk mengadu untung dan bersenang senang lagi. Kasino gulung tikar, maka dampak ekonominya mengimbas kebanyak sisi, dari tukang jual liquor, tukang jual rokok, tukang ojek, tukang taksi, pelayan hotel, sampai ke perempuan yang mengkomoditikan tubuhnya menjadi equipment pelengkap para pengencing.

Pada tahun 1971, dengan keputusan Presiden No. 74 / 1971, Pemerintah pusat mengumumkan secara resmi bahwa pulau Batam sebagai suatu zona industri. Konsep dari pulau kecil bernama Batam yang dikembangkan oleh BJ Habibie sejak 1983 dengan sistem Otorita pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (OPDIPB) atau lebih dikenal dengan Otorita Batam-nya adalah sebuah kawasan industri dan zona perdagangan bebas, yang dalam bahasa sederhananya menciptakan sebuah metropolitan yang terlokalisir. Gagasan itu mengandung harapan bahwa Batam akan menjadi pintu gerbang ekonomi global ke Indonesia. Walhasil, Batam menjadi spill out industri dan barang bekas dari Singapura yang kekurangan daratan itu.
“Tapi Batam ini kota yang belum siap mas, infrastrukturnya masih awut awutan. Lihat saja bangunan yang ada hanya ruko dan ruko semata” kata Hasyim yang mengantarku. Konsep itu berjalan mulus sampai nama Batam menjadi mencuat, karena perdaganganya, industrinya, pelabuhanya, dan black marketnya. Tetapi sudah jadi adat negeri bahwa ganti pimpinan sama dengan pintu gerbang menganga untuk mengganti kebijakan.

Tempat kencing itu begitu semrawutnya dalam konsep yang hampir ngoyoworo . Dalam pemandanganku, Batam adalah a piece of Singapore – meskipun aku sendiri belum pernah melihat Singapura itu seperti apa. Pulau batam hanya dipisahkan perairan seluas 20km arah tenggara dengan daratan Singapura. Mobil mobil mewah berseliweran sepanjang jalan dan sepanjang hari, mobil secondhand yang diimpor dari Singapura tanpa beban pajak bea masuk. Mobil mobil itu kabarnya diperjual belikan dengan harga pantas di Batam, dan ditandai dengan letter X anu dibelakang plat nomornya untuk membedakan bahwa mobil itu bebas bea dan dilarang keluar dari pulau Batam. Dipelataran kantor pelayanan bea dan cukai dekat pelabuhan barang Batu Ampar, ratusan mobil sedan mewah berjajar parkir sampai karatan karena penyelundupan, impor gelap. Lumayanlah, paling tidak Batam memiliki stok cukup untuk besi tua.

Pulau seluas 415 Km2 (41.500 Ha) .itu juga menjadi surga bagi barang barang secondhand dari Singapura. Dari hand phone yang dipajang di mal mal, televisi dan elektronik sepanjang jalan di Nagoya, furniture sampai pakaian yang berderet di Tanjung Singkuang, dari kulkas, mesin cuci sampai kasur dan sepatu semua tersedia, semuanya seken dan masih menyisakan kebanggaan bagi pemiliknya karena buatan luar negeri.

Sebagai tempat kencing, Batam juga menyisakan bau busuk dari kapitalisme. Kawasan Batam Center, Nagoya, dan Muka Kuning menjadi urat nadi penting bagi kehidupannya. Bau busuk itu berupa “peluang” untuk menempatkan kepentingan pribadi pada porsi yang strategis. Jangan berharap akan menemukan taksi dengan argo, karena dealnya adalah tawar menawar dari luar pintu seperti kalau kita ingin naik bajaj di Jakarta. Bahkan, sebagian taksi memberlakukan sistem yang sama dengan angkutan kota dimana penumpang tidak terbatas hanya kita. Armada taksi yang resmipun wujudnya lebih banyak yang reot dan buruk. Tetapi dibalik itu kita bisa mendapatkan sistem transportasi alternatif seperti ojek yang bisa kita jumpai hampir disetiap persimpangan jalan, atau taksi gelap mobil mewah berplat nomor hitam. Semua menciptakan peluang untuk melakukan hal sesuai ketrampilan dan pengalaman, ketrampilan untuk memperdaya orang baru, pengalaman untuk memanfaatkan ketidak tahuan orang lain demi keuntungan materi pribadi. Hal umum dimuka bumi!

Tanah tanah kekuningan yang kosong menganga sepanjang Punggur sampai ke Kabil dan daerah daerah lainya menimbulkan tanda tanya besar dikepala tentang sistem tatakota pulau ini. Dari penduduk yang berjumlah 527.151 (data tahun 2001) jiwa tersebar di delapan kecamatan, 35 kelurahan dan 16 desa. Hanya penyebarannya tidak merata sehingga mengakibatkan kepadatan penduduk per Km2 di daerah ini bervariasi. Orang lebih suka berjejal jejal tinggal di flat atau semacam rumah susun ditengah kota dan membiarkan berpuluh hektar tanah hanya menjadi penangkis curah hujan dan panas matahari. Roda ekonomi berbagai aspek yang digenjot otorita batam memang menjadi gula bagi semut semut yang datang mencari makan, mencari kenyang dari pulau pulau lain di nusantara. Semua datang dengan tujuan hampir sama dikepala; mencari uang, menciptakan kehidupan. Dalam praktiknya, interaksi menciptakan banyak sekali ekses sosial yang terkadang rumit. Ternyata tidak semua datang dengan tujuan sama. Orang Singapura datang untuk numpang kencing, hepi hepi, dan bagi beberapa perempuan yang jeli melihat peluang bisnis memanfaatkan moment itu sebagai peluang untuk menyalahgunakan kodrat keperempuananya; menyediakan diri sebagai tempat kencing orang Singapura.


Hang Nadim Airport – 23 November 2005

Wednesday, November 23, 2005

Catatan dari Bukit Senyum


Apa yang dikatakan hati ketika diri tiba tiba terasa –untuk sekian kali- terlempar dan terdampar jauh di negeri asing? Entahlah, kesombongan yang bertahun tahun menjadi senjata lesap ditelan keterasingan, menjadi bukan apa apa. Apakah sebenarnya kesombongan yang sedang bicara atas diri jika kekosonganlah sebenarnya yang mengisi angkasa jiwa?

Tempat baru dengan kemisterianya selalu saja menyajikan selain pertanyaan juga ketidak mengertian baru tentang sesuatu, mungkin memperkaya pemahaman atau malah membangkrutkan pendalaman tentang maknanya hidup. Dari tepi jalan yang meliuk di Bukit Senyum ketika pandangan tertebar sejauh kemampuan, diri menjadi setitik air yang tersesat diselat Malaka. Dari ketinggian dan kejauhan diri menemukan betapa dalamnya menduka, sedalam mencinta.
Lalu datang Tuhan menemani hati, ketika pertanyaan demi pertanyaan hanya menumpuk menjadi rombeng di gudang kepala. Hukum Tuhan, hukum alam dan hukum peradaban berpilin pilin menjadi adonan kue kehidupan. Kelahiran dan kematian tak lagi menjadi penting selain pelengkap data statistik ilustrasi kependudukan. Dia bekerja dengan sangat rahasianya, menciptakan setan setan dan pembela pembelaanya, menciptakan malaikat dan malaikat dengan berbagai penjelmaanya. Dia bekali manusia dengan akal, nurani dan hati dan pada saat yang sama menciptakan segala peraturan yang ambigius…lihat, tapi jangan sentuh, sentuh, tapi jangan rasa, rasa tapi jangan dihayati, hayati tapi jangan hanyut, hanyutlah dengan kata hati, tapi tetaplah pergunakan otak sebagai senjata penegas dan perisai pelindung…kunyah…tapi jangan ditelan… Tuhan memang bekerja dengan misterius, sementara Dia ciptakan hati untuk merasa, otak untuk mencipta logika, dan pada saat yang sama Dia juga menciptakan aturan aturan yang tak terbantahkan; keadaan, dimensi waktu dan ruang.

Catatan empiris dari Bukit Senyum mencari kompromi dari pemandangan demi pemandangan yang sempat menyinggahi mata, sempat menyinggahi hati. Kota ini, begitu miskin dalam kekayaanya, begitu semrawut dalam keteraturanya. Kota ini, secuil negeri asing dalam kehidupanku sendiri, surga bagi siapa saja yang jadi penguasa. Mungkin semuanyapun akan kembali menjadi semu ketika nanti, kesombongan telah diakui sebagai anak rohani dari setan setan yang menggerakkan roda dunia meninggalkan peradaban purba, peradaban paling manusiawi milik manusia.

Dan aku tersesat entah dimana, menunggu jawaban dikirim Tuhan dari langitNya….Sementara, kubiarkan keindahan yang memabukkan perih menjajah jiwa…


Batam 22 November 2005

Monday, November 21, 2005

To reflect and Act


The difference between the poor countries and the rich ones is not the age of the country. This can be shown by countries like India and Egypt, that are more than 2000 years old and poor. On the other hand, Canada, Australia & New Zealand, that 150 years ago were inexpressive, today are developed countries and are rich.

The difference between poor & rich countries does not reside in the available natural resources. Japan has a limited territory, 80% mountainous, inadequate for agriculture & cattle raising, but it is the second world economy. The country is like an immense floating factory, importing raw materials from the whole world and exporting manufactured products. Another example is Switzerland, which does not plant cocoa but has the best chocolate in the world. In its little territory they raise animals andplant the soil during 4 months per year. Not enough, they produce dairy products of the best quality. It is a small country that transmits an image of security, order & labor, which made it the world's strong safe.

Executives from rich countries who communicate with their counterparts in poor countries show that there is no significant intellectual difference. Race or skin color are also not important: immigrants labeled lazy in their countries of origin are the productive power in rich European countries.

What is the difference then?
The difference is the attitude of the people, framed along the years by the education & the culture.On analyzing the behavior of the people in rich & developed countries, we find that the great majority follow the following principles in their lives:
1.Ethics, as a basic principle
2.Integrity
3.Responsibility
4.Respect to the laws & rules
5.Respect to the rights of other citizens
6.Work loving
7.Strive for saving & investment
8.Will of super action
9.Punctuality

In poor countries, only a minority follow these basic principles in their daily life.
We are not poor because we lack natural resources or because nature was cruel to us.We are poor because we lack attitude. We lack the will to comply with and teach these functional principles of rich & developed societies.
If you do not forward this message nothing will happen to you. Your pet will not die, you will not be fired, you will not have bad luck for seven years and also you will not get sick. If you love your country, let this message circulate, for a major quantity of people could reflect about this.

CHANGE , ACT !

Thursday, November 17, 2005

Waton Suloyo (as long as disagree)


“Orang Indonesia memang berbakat menjadi kritikus” celetuk pak Keith Loveard, seorang wartawan senior koresponden majalah asing yang sudah di Indonesia sejak 1962, pada suatu siang diruangan kerjaku yang tenang. “It is so easy to say ‘everything is not good enough’”. Aku merenung dalam. Aku orang Indonesia dengan nenek moyang orang Indonesia. Tetapi pemikiranku yang tumpul justru disentakkan oleh pandangan analitikal dari seorang yang neneknya moyangnya entah dibelahan bumi mana.

Gotong royong, sekarang tak lagi kudengar gaungnya. Diganti dengan budaya baru. Semua hal sudah ada petugasnya, sudah ada pegawainya. Bahkan petugas pembersih jalanan, petugas pembersih selokan, bahkan semua ruang publik telah memiliki petugasnya sendiri sendiri. Petugas petugas ini diorganisir oleh instansi instansi bisa swasta bisa negeri, atau sub kontraktor subkontraktor. Orang jadi kehilangan sense of belonging, roso handarbeni, hangrungkebi, hangroso wani. Cuek, toh sudah ada petugas yang mengurusnya.

Orang jadi mudah mengkritik ‘ini tidak benar, itu salah, si anu tidak becus', dan bermacam kritik negatif yang senada. Bahkan sampai kepada elemen sosial terbawah yaitu tingkat RT sekalipun, orang akan memandang pak RT sebagai petugas yang bertanggung jawab atas semua hal dilingkungannya, dan dengan mudah melontarkan kritik distruktif. Melihat sampah menggunung atau jalan bopeng bopeng dilingkungan, orang akan lebih mudah meng-komplain bahwa pengelola kebersihan atau pengelola jalan bahkan pelaku pemerintahan tidak becus, tidak professional ketimbang berupaya melakukan sesuatu hal untuk membereskanya, misalnya inisiatif gotong royong.

Dalam istilah intelijen, type orang orang seperti itu apalagi yang punya akses ke media massa dan rajin melontarkan kritik seperti itu diistilahkan sebagai WTS, bukan wanita tuna susila melainkan si Waton Suloyo; dimana setiap kebijakan maupun keputusan disikapi dengan kritik negatif dan sinis pesimistik. Kesukaanya hanya komplain dan komplain, kemudian atas fasilitas media komplain itu menjadi konsumsi public yang akhirnya membentuk opini. Kesukaan itu jadi membudaya dan mengakar sampai ketingkat rakyat jelata. Mungkinkah ini karena efek laten dari kebebasan pers? Wah, kok aku jadi ikutan latah jadi WTS? Karena salah satu sifat WTS ini adalah dengan enteng menunjuk orang lain atau lembaga lain sebagai kambing hitam.

Setelah tujuh tahun reformasi, apakah negeri kita ini akan terus melangkah ‘mundur’?. Kalau kita menengok sedikit ke China yang mengambil start pada era yang hampir sama yaitu 1998 ketika Uni Soviet membubarkan diri sebagai negara Union, China merasa tertantang untuk membangun diri dengan perombakan total (yang di Indonesia dinamakan reformasi), mulai dari kebijakan pemerintahan, ekonomi, penegakan hukum, politik, yang pada giliranya ikut merubah juga tatanan sosial dan budaya. Reformasi di China memberlakukan sistim yang ketat dan samarata, dan kepercayaan terhadap lembaga penyelenggara negara. Hasilnya, China dalam tempo tujuh tahun telah berhasil mencatat prestasi gilang gemilang hampir disegala bidang. Pada saat yang sama kita masih berkutat dengan ketidak percayaan dan kebanggaan menjadi WTS. Reformasi diartikulasikan sebagai sebuah gerakan ganti suasana, dengan ribuan konsep yang selalu di aborsi sebalum sempat teruji. Zaman serba instant, demikian juga orang ingin menganggap reformasi adalah salah satu produk jadi dengan hasil instant.

Memang tidak semua tokoh, tidak semua orang lantas menjadi WTS. Akan tetapi kecenderungan untuk asal mencela itu mau tidak mau membentuk prinsip pemikiran subyektif bagi banyak orang terutama yang tidak merasa puas dengan keadaan, apalagi yang kecewa. Yang akan terjadi adalah reformasi demi reformasi, konsep demi konsep dengan Indonesia sebagai kelinci percobaanya. Stop waton suloyo (asal mencela), cancut taliwondo, kencangkan ikat pinggang. Konsep dari masyarakat madani bukan semata kebebasan meng-komplain dan mengkritik, tetapi tanggung jawab nurani dari semua penghuni negeri untuk mencapai kemajuan disegala bidang. Aturan dan undang undang dibuat sebagai cermin penegas disiplin nurani, bahwa kita menuju kehilangan budaya malu.
Bukankah itu akan lebih memalukan jika terjadi?


Kost simatupang, 16 November 2005.

Wednesday, November 16, 2005

Surat Untuk Bunda


Bunda,
Apa kabarmu nun jauh disana? Aku rindu senyumanmu yang meredupkan bara, aku rindu pada tatapanmu yang mendamaikan seisi dunia, aku rindu pada belaianmu yang melenyapkan lara, dan suaramu yang syahdu merayu kalbu. Aku rindu keseluruhan keberadaanmu, bunda.

Bunda sayang,
Telah kutempuh jarak dan kejadian sepanjang pengalaman, melewati hutan, gunung dan samudera bahkan menjelajah angkasa sendirian. Telah kupijakkan kaki di bumi bumi impian kuhirup udara dari negeri negeri yang jauh, melangkahkan kakiku ditanah tanah basah maupun keras berdebu yang dulu hanya kita kenal dalam dongeng buku perpustakaan. Berbekal pelampung cintamu, kuarungi samudera hidup, mengikuti kemanapun arus menuntun dan mengayun.

Bunda,
Aku tak pernah letih, aku tak pernah sedih, menjadikan matahari dan embun sebagai teman hati, menjalani hidup dengan ringan tanpa beban penyesalan masalalu. Ribuan hati telah kusinggahi, bunda, dan ribuan jiwa kukenali. Terkadang aku bertemu manusia, iblis juga, tetapi Tuhanlah yang selalu setia menemani. Hari hariku berisi tawa dan senyuman, sebab cinta dalam jiwaku meluber kemana mana.

Bunda,
Anakmu kini menjadi naga yang menumpas badai dan angin lesus didalam kepala. Telah pula aku selesaikan episode demi episode getir dan tetap mengangkat kepala tegak tanpa sandaran. Berdiri lebih tinggi setelah menempuh lebih jauh. Kularung selruh dukaku kekuburan bernisan masalalu. Aku menjadi matahri yang lahir bayi setiap pagi, bangga menjadi anakmu.

Bunda,
Lewat angin yang berhembus melewati bukit dan gegunungan sepanjang jalan, kutitip sembah sujud baktiku padamu, kutitipkan segudang rindu yang menjadi belati tajam disetiap perkelahianku, menumpas getir zaman yang kukalahkan.

Oh Bunda,
Anakmu kini jadi laki laki…


Kost Simatupang, 15 November 2005

Sunday, November 13, 2005

Back Azimuth



(Catatan perjalanan menyusuri jejak keberangkatan)

0246hrs/65km
Dilangit penuh bintang, aku sendirian sepanjang jalan. Tak ada masalalu juga masadepan. Betapa sempurnanya hidup dalam angan angan. Menembus embun membelah gelap aku melaju, menuju tempatku memeluk angkasa; rumah jiwaku yang menenteramkan. Dingin menyapa tulang dan duka meraba hati. Kutinggalkan kenangan hampa tenggelam dalam pekat malam.

0520hrs/212km
Fajar tiba di Cepiring. Kajaiban pagi kunikmati dihamparan jagung muda sawah tepi jembatan kecil. Matahari malu malu dikepungan gunung slamet, merbabu, merapi dan sindoro, dikawal oleh kabut yang menyelimuti bukit bukit sepanjang pemandangan. There is no appropriate word to express how beautiful it is, or because you live inside of me and make it so perfectly adorable, dragon’s soul mate?

0635hrs/271km
Soto ayam dan teh manis Pekalongan sedikit mengendurkan syaraf yang mulai menegang kencang. Hari baru telah mulai, kehidupan terang benderang telah berjalan. Kerumunan orang menempatkan diriku dipojokan warung, ditepi jalan tempat lalulalang riuh menarik Jakarta ke hadapan.

0949hrs/374
Bengkel motor resmi Brebes kuketuk. Steering sepeda motorku mendekati gerakan pantat Inul pada kecepatan 90km/h. Tolong di diperbaiki, nanti pasti saya bayar. Tidak ada yang salah, coba stel velg racingnya nanti kalau di Jakarta. Asal jalan pelan pelan, dan jangan rem mendadak. Pfuuiiih…apa guna bengkel kalau hanya bisa mengkotbah? Apa guna ketrampilan mekanik kalau tidak bisa menemukan solusi permasalahan berdasarkan dari apa yang dipelajari dan digeluti? Dimana orang orang ini menempatkan profesionalisme ketika pelayanan dibutuhkan? Pelayanan yang tidak gratis pula! Apa makna “AUTHORIZED BLABLABLA BLABLABLA SERVICE STATION” dan adakah kriteria yang menentukan sertifikasi dari label nama keren itu?? Jawabanya membias dalam kekesalan yang kupendam jadi peneman sepanjang jalan, dibawah terik matahari yang membakar seluruh isi bumi!

1244hrs/434km
Otak jadi touchy tiba tiba. Something sad, knocking on my head. Lihat satu keluarga kembali dari mudik dengan motor. Membayangkan betapa letihnya para penumpang motor bebek itu, wanita sebagai si ibu dan bocah kuyu sebagai anak, dan pengemdinya lelaki sebagai bapak, dan barang bawaan dijok belakang yang disambung bambu penyangga, boneka Dora the explorer menempel diantara luggage. Diseberang kantor polsek Susukan Cirebon, dibawah miskin rindang pohon lamtoro aku terlentang dikurung langit gilang gemilang. Bersama letih, bersama kenang kenangan yang datang dan pergi, bersama bangkai kucing yang tertabrak dan mengeras ditepi jalan. Bersama the dragon’s soul mate yang menemani percakapan sepanjang jalan, memenuhi ruangan hati.

1447hrs/491km
Sore akan segera tiba, panas masih juga meraja. Di Indramayu kunikmati kelapa muda yang tak manis tanpa es, dan rokok berbatang batang melewati kerongkongan. Kesedihan merajai hati. Anak dekil sepuluhan tahunan mengikut bapaknya berjualan siomay pikul, sepanjang jalan dibawah terik matahari tepi pantai yang mencipta hawa bagai oven terbuka. Anak anak, selalu menjadi gedibal (korban yang diperbudak) tak perlu dari kerasnya hukum material; kemiskinan. Betapa malang! Selembar uang yang kuberikan kepada anak itu tak juga menepis penderitaan bathinku karena simpati. Selamanya charity tak bisa menjawab satu persoalan secara komprehensif memang. Dengan permaisuri sang naga kubagi sedihku, kubiarkan hatiku luluh lantak ditikam pemandangan dan perasaanku…langakahku melambat menuju angkasa yang kutuju…


1752/648km
Curtain of the sky descended few minutes ago. The busy town of Karawang has welcomed me along with the bumpy road all the way down to the town where I wish I never pass it for my entire life. I lost in this stupid, messy, ignorant town. Drowned by anger and millions of bad memories I lost my destination path to go thru. I am looking for a fight with an army looking man who drives his motorcycle like an intoxicated insane human being. I hate this town and everyone lived in it!!

1928hrs/670km
Kulonuwun…. my heavens home sweet home! Finally! And my middle aged “fat mermaid” hostess addresses me with four pieces of cake and a glass of almost clear colored hot tea. I am home, my dragon’s soul mate, to the place we built with thoughts, dreams and hopes, colored with passion and longing touch, up high beyond the ground of reality where I sense like I deserve for happiness of my deepest heart. I can feel your kiss thru the breeze eased my entire weary mind, and take me to the deep sleep. Barely naked!!


Baturetno – Jakarta November 08, 2005

Thursday, November 10, 2005

Renungan Lebaran 2005



Malam lebaran, kutembus desa desa dalam perjalananku. Tak ada kemeriahan kutemukan. Aku kehilangan masa kecilku yang riang penuh kegembiraan. Orang orang, berpasang pasangan berkumpul diwarung warung atau tempat tempat berlampu listrik terang. Takbir tak riuh berkumandang, hanya suara samar dari loudspeaker masjid, mungkin suara tape. Kampung jadi sepi, euphoria menyambut datangnya hari lebaran yang selama berpuluh tahun bersarang didalam kepalaku lenyap entah kemana. Semua berjalan biasa saja, seperti besok adalah hari biasa saja. Kampungku sepi, suara anak anak dengan oncor yang berbaris atau bergerombol mengumandangkan takbir keliling kampung (seperti waktu aku kecil dengan semangat baja melakukannya) tak ada lagi. Jalan jalan tanah yang dulu jadi rute tempuhanku sudah beraspal, listrik dari lampu merkuri 300watt terang benderang menerangi prapatan, episentrum kehidupan kampungku. Dibawahnya anak anak muda bergerombol, menyambut lebaran dengan alcohol dan ganja!!!

Kulewati kota dimalam takbiran dalam perjalananku. Mobil mobil bak terbuka, mengangkut puluhan manusia. Berpeci, sebagian bersarung. Ada wanita, anak anak dan laki laki. Corong loudspeaker diatas kabin mengumandangkan takbir dengan iringan musik dari tape recorder. Mulut mulut diatas mobil rapat terkatup, takjub pada pemandangan lampu lampu kota dan kemeriahanya diwaktu malam. Beriring iringan mobil dengan sarat penumpangnya, entah dari mana, entah mau kemana. Aku hanya ingin lewat, melaju menuju tempat yang kutuju. Dan…dusun dusun makin sunyi, seperti besok tak ada sesuatu terjadi.

Allahuakbar…allahuakbar…wallilahilhamd……Takbir menggema dalam hati, bersama sunyi dan kecut hati…mengiring penat perjalanan 687 kilometer diatas sepeda motorku. Bathin menangisi kemeriahan masakecilku yang lesap ditelan arus tehnologi. Pohon pohon bambu apus pemasok lampu oncor tak gampang lagi ditemukan, tak banyak lagi diperlukan.Anak anak kehilangan dunianya terganti dengan tontonan televisi, kehilangan inisiatif apalagi kreatifitas. Menjauh dari alam, menjauh dari kehidupan mula mula, menjadi generasi munafik penuh kepraktisan. Melanjutkan catatan zaman dengan kepribadian plastik, hati elektronik, dan mental karbitan.

Dan lebaran tiba ketika matahari muncul diangkasa. Masjid ramai orang sholat Ied, dengan baju baju baru dan kendaraan berjejer bagai pajangan dagangan di pasar loak. Usai sholat pulang, bersalam salaman dengan hati dangkal belaka. Minal aidzin wal faidzin, selamat idul fitri mohon maaf lahir bathin. Kemana anak anak? Tak ada bergerombol datang untuk “balal”. Tak ada orang kerja, setiap rumah televisi menyala. Disanalah anak anak lebih nyaman menikmati lebaran. Kegembiraanya terkurung oleh pencipataan kreasi yang kerdil. Tontonan tivi lebih menemani, dan ‘balal’ hanya dilakukan kepada orang orang tua yang datang kerumah. Tak perlu uang saku, apalagi kompilasi kue kue. Baju barupun biasa, bisa beli kapan saja. Kegembiraan bisa didapat kapan saja. Lebaran hanya hari libur biasa saja!


Greget masakecil tak kunjung tiba. Baju baru dan uang saku, kompilasi kue kue dari rumah kerumah tetangga. Hari bahagia sedunia, hari dimana aku menjadi raja. Mercon dan kembang api bersahutan meninmpahi kegembiraan hati. Tak ada orang bekerja. Semua orang baik hati dan dermawan, sepanjang jalan orang berjualan; cao, es cendol, pecel, bakwan, mentho, sampai bakso atau apapun yang kita mau. Perut penuh, hati riang, uang saku tersedia dan jajan terlaksana dengan baju baru, sandal baru, kopiah baru juga celana baru. Tak ada tugas rumah, tak ada kewajiban sekolah, tak ada orang marah marah. Semua orang tersenyum dan tertawa. Semua pintu rumah terbuka pertanda kita diundangnya; menikmati hidangan sesudah pura pura meminta maaf. Hari bahagia, tak ada letih menyapa sampai senja. Orang orang perantau dari kota berdatangan pulang, berpakaian kekaguman, dan beraroma ketakjuban. Betapa hebatnya menjadi orang kota! Cerita tentang negeri negeri perantauan dan tempat tempat diantah berantah ribuan mil dari jangkauan fikiran, serba menggiurkan. Aku ingin berpakaian kekeaguman dan beraroma ketakjuban; menjadi yang paling sempurna!

Lebaran 2005, hati kecut mengangisi kenangan yang hilang ditelan zaman. Tinggal ritual imitasi dan tipis makna. Aku rindu masakecilku yang hilang…

Jakarta-Boyolali-Baturetno, 3-4 November 2005.

Friday, November 04, 2005

Zero mileage notes


2251hrs/okm
As ther second day of the new month arises by the sun this morning, my trip to the beloved homeland has just begin. Fresh cloths run ready “leaking gasoline tank” motorcycle, safety motorist gear. Whallla!! The first inch of my hundreds kilos journey is ready to begin. Brushing the cold atmosphere of the morning dew, my mind warmed with thousands of reflection of the destination. I have everything to go except your physical presence on my passenger seat…my dragon's soul mate....

0124hrs / 127 km
First stop after 243 minutes trip. Somewhere, on the main road’s side of Indramayu. The sky is so dark, nothing visible. The street is very busy as everybody rushing on their hurry trip to the same destination; homeland! The floor of closed grocery store is so cold, where I lay down may body freely. My mind can not stop thinking about you. This is a beautiful night and I belong to nothing but the nighty sky; no room, no home. The picture of your caring fragmented on my busy thoughts along the road. Are you sleeping up there? Are you dreaming of me in this affectionately quiet night?
I have to go again now, kill the distance on my wheels. Sleep tight, sweet dream hey my dragon’s soul mate…

0313hrs/150km
The other edge of Indramayu border. Stop by for mid-dawn meal for fasting. Ambushed with tired, the rain drops blurring my helmet wind shields. At the warung tegal next to the mosque, I order rice and fish. The fat lady dish up my meal without smile. Old tv set on the corner, present a blur picture of cheap formatted stupid joke show. Kratingdaeng mixed with dry coffee powder is my stamina doping this morning. The picture of my dragon’s soul mate is filling every rooms of my heart, conversing everything that matter to every single breath circulate into my lung.
0346 got to go again. Makan sahur has just finished, and my helmet windshield is clear.

0435hrs/190km
Lohbener busy mosque. Stop by again for Subuh prayer, the worship for welcoming the new day. Teenagers wash my motorcycle and I do not expect result from what they are doing. Breaking the morning dew along this precious journey, my peaceful world left behind in my kost room, my ICQ window, our virtual home, and in your deepest heart.

0531hrs/224km
God blessed my journey. I was doing 100 on the wide cold asphalt bumpy road when suddenly my front tire went flat. Pfffuuuiih…I can be killed easily on this speed. Thank you God, for keeping me alive, thank you god for keeping me calm and control the steering of my vehicle…change the new tire tube at the closest repair station and carry on…

0917hrs/365km
The sun is pouring its brightness seriously. At the small mosque of the Pemalang gas station I stop again for resting. My engine needs a tune up and so does my body.

1211hrs/386km
Entering the town of Pekalongan, I experience the broken chain of my main gear. Life is so beautiful, even when troubles come and gone in this journey. My motorcycle is getting older and it is my loyal friend that takes me wherever I take it.

1714hrs/530km
Finally I feel my body exhausted of . Stop by at the border of Ungaran, where Salatiga the beautiful exotic town is one step ahead. I was surrounding by the hills of coffee plantation. The cool breeze of mountainous nature brings the feeling of my deepest affection to the dragon’s soul mate far away across the sea. I really wish I could share this wonderful view and dramatically romantic feeling of love with my dragon’s soul mate. This is peace of feeling is to empty in my loneliness. Fresh fruit and flower stall along the road side offering stronger desire to have your presence here in my passenger seat and feel the warmth of your touch. I miss the dragon’s soul mate so very much….

1712hrs/598km
The place where I was born tens of years ago. The atmosphere of takbiran is so thin. people gathers on the food stalls and other bright places with friends, watching the busy streets and expecting someone they know arrive from far away. I feel emptiness inside of me, it is sad to lost my childhood memory in my own village. People changed or the world changed? Dragon’s soul mate in my heart, ease my soured soul of this moral experience. My beloved mother welcome me, I will be here only for few minute before running again to another destination of my ‘home’.

2220hrs/687 km
Here I am, stepping my lousy feet into my ‘home’. The place where I used to built my dreams and hopes, the place where I poured my life dedication to. This used to be the place where my heart always redirected to. The plants of happiness faded away, and the air of this environment is so pitiable. This house is nearly dying since I take my heart and mind away from its rooms. I do not belong here as well as I do not belong to anywhere else called home…this is the place where thousands of zero mileage ended previously. Thousands of long way journeys headed for this place I created from nothing, and entrust my proud in. Now, it is just a building, the blend of bricks, cements, sand and other materials formed as the settlement of the human being, to protect from the rain drops and the heat of the sun. To hide from bare eye’s sight of the people, and especially to hide the disgraced attitude of the occupants….

Dragon’s soul mate….I do not belong here…I belong to the virtual paradise of ‘our home’…here I am, crying like a baby on your lap where you treat me like an egg…

Simatupang-Baturetno, 3 November 2005






Thursday, November 03, 2005

Percakapan sepanjang jalan

: dragon’s soul mate

Percayakah bahwa segala hal yang berawal pasti akan berakhir jua?
Ya, aku percaya itu.
Selalu berakhir pada kemisterian, entah berapa miliar jumlahnya bahkan kitalah obyek dan subyek dari kemisterian itu sendiri. Hidup selalu terlalu kaya dengan kisah yang menjadi pakem penegas kemisteriannya sendiri. Hanya proses dengan hasil selalu nihil tak tertebak.

Tapi bukankah karma adalah jawaban hitam putih atas kemisteiran itu?

Ya, sealalu. Dengan mekanisme perputaran yang membosankan keyakinan atas kemutlakanya.

Itukah akhir?

Misteri! Nihil tak tertebak. Dan Cuma kuasa waktu belaka penayanganya, membiarkan tanda Tanya yang berpautan bahkan atas pertanyaan itu sendiri, menjadi atom peradaban yang ternyata tak berakhiran. Riwayat selalu menjadi bukti betapa rapuh da labilnya hidup, yang dalam hitungan detik bisa terhempas berantakan.

Jadi, mufakat?

Ah, dia pola berantai yang merangkai gelembung gelembung dunia yang menyerati setiap manusia. Tiap mataratai adalah gelembung dunia yang selalu mencari lekatan atau bersimbiosis mutualisme dengan gelembung lainya. Gelmbung rapuh dan labil itu adalah kisah awal dan kisah akhir setelah menitipkan ruh misteri. Tak akan pernah ada akhir yang betul betul berakhir sepanjang udara masih mengidupi dunia dan kita. Alam masih menghormati kemuliaan peradaban, sebab hidup hanyalah kisah besar dari dengan miliaran adegan.

Masa depan tidak pernah ada, sebab ia adalah misteri juga akhiran. Hidup adalah hari ini yang mengumpulkan kontribusi jawaban atas kemisterian sebuah akhir; masadepan!

Jakarta – Boyolali diatas Honda Tiger AD 4875 DR 3 November 2005.

Thursday, October 27, 2005

Bunda


Saat merenungkan cinta bunda, yang muncul adalah cinta yang begitu indah. Saat memikirkan bunda, maka terpikirkan cinta, cinta yang manis, lembut dan harum. Harum adalah bau yang sangat menyenangkan, ia tetap segar tidak pernah pergi. Tanpa cinta bunda aku pasti telah jatuh dari kebajikan, keletihan, kehilangan kekuatan dan layu, tanpa cintanya semua pergi dan lenyap.

Cinta bunda adalah cinta pertama yang aku rasakan. Ia adalah akar dari semua cinta yang ada dimuka bumi. Bunda adalah guru pertama yang mengajarkan cinta, dan cinta dalah pelajaran yang terpenting di dalam kehidupan. Tanpa bunda, aku tidak akan pernah mengenal cinta. Terimakasihku kepada bunda karena aku telah mampu mencintai semua mahluk hidup. Melalui bunda, aku belajar konsep tentang pengertian dan kasih sayang untuk pertama kalinya. Bunda adalah dasar bagi semua cinta. Kehilangan cinta bunda adalah kehilangan cinta dunia, kemalangan besar dalam kehidupan menurutku.

Melalui kemuliaan perilaku bunda aku belajar konsep awal tentang cinta dan kasih sayang. Dengan demikian bunda adalah dasar dari semua cinta. Karena bunda mencintai anak anaknya, mengajarkan telaah cinta yang sempurna, tanpa cacat, dan toleran. Aku sungguh beruntung memiliki bunda yang terlatih menahan diri. Beliau jarang membicarakan ha hal yang sedih walaupun bapak entah apa kabarnya sejak aku masih sangat muda. Bunda menyimpanya untuk dirinya sendiri dan selalu berfikir tentang hal hal yang baik, tidak pernah mengeluh. Dengan demikian aku belajar untuk tidak mencurigai orang lain sejak kecil, tidak iri hati, kami menganggap semua hal adalah sesuatu yang memang harus terjadi dan dijalani, dan ini sangat membantuku dikemudian hari. Bunda menunjukkan cintanya yang terbesar dan memiliki kebaikan yang terbesar buatku.

Bunda adalah sumber cinta yang tiada akhir, harta yang tak pernah habis. Bunda juga pemberian terbaik dari kehidupan. Di dunia ini, karena bunda aku merasakan cinta, hidup bahagia, hidup dengan rasa aman. Itulah yang memuaskanku melebihi kepuasan seandainya aku adalah penguasa alam semesta. Ajaran kasih sayangnya membekas, mengandung pengertian bahwa kekuatan cinta dari kasih sayang bisa membuat bunga berkembang, membuat semua orang di dunia bahagia. Aku tidak ingin sedikitpun menitipkan rasa khawatir atau menderita karena keadaanku. Membuat bunda merasa tenang dan senang bagiku adalah kebajikan yang besar yang layak sebagai persembahan.

Sekarang aku mengerti, sikap sikap bunda sebenarnya mengajarkan bahwa kami memiliki hubungan sebab akibat dengan semua mahluk dan semua kondisi, bahwa aku tidak bisa hidup sendiri. Barangkali inilah perenungan yang benar, mengambil semua yang aku mengerti sebagai fakta dan memelihara gagasan yang timbul oleh pandangan yang benar pula, menjadi satu kesimpulan bahwa ibu adalah guru dan sumber dari cinta sejati. Cinta sejati yang tercipta dari satu pemahaman atas perpaduan antara ketulusan hati dan teladan.

Bunda, tahukah engkau bahwa aku sangat mencintaimu…

Simatupang, 27 Oktober 2005


Monday, October 24, 2005

Romantisme hujan



Because the rain is so pure, it makes me cry…

Senja luruh menikam sisa gerimis, rumah rumah batu membeku diliput remang lampu lampu, menyembunyikan entah kehangatan entah kehampaan hati para penghuninya. Jendela kamar buram oleh angin yang berhenti diam. Hujan yang turun diluar kaca jendela menghadirkan lagi lagi romantisme yang kosong, memaksa hati melolong lolong mencari alamat kerinduan. Rintik hujan memenjara hati dalam kamar dan menghadirkan fikiran fikiran mengembara kesetiap hati yang pernah singgah.
Malam begitu romantis penuh kenangan dalam penjara ruang…hampa.

Kesempurnaan terkadang begitu menakutkan, mencekam, karena hati sebetulnya tidak rela dengan kehilangannya. Alam adalah karya seni Tuhan yang tidak ada bandingan indahnya. Menghayati setiap tetes air yang turun dari langit, negeri para dewa, menghadirkan rasa syukur dan kekaguman luar biasa atas kekuasaan Tuhan. Diri menjadi mengerdil begitu kecil didepan kuasa alam, kuasa Tuhan; betapa tidak berdayanya manusia atas kehendakNya!

Keindahan hujan selalu mengusung romantisme hidup, dramatisasi atas nisan nisan kenangan dipekuburan pengalaman. Pada hati hati dan jiwa jiwa yang pernah singgah, rindu itu mengembara. Aroma tanah basah dan gemuruh suara hujan menjadi bingkai atas manisnya beribu pengalaman, pahit getir, manis, jadi satu dalam keindahan kenangan. Sejuk hawa yang hadir bersamanya seolah olah memaksa hati untuk mencari kehangatan rumah jiwa, tempat hati berlindung dari sepi.

Dalam lingkupan nuansa hujan dan kehampaan hati maha luas, kehangatan hadir justru lewat harapan, lewat masa depan yang misterius. Hidup terus berjalan dalam kehendaknya, dan masa lalu tinggal menjadi buah pengalaman yang berhamburan menumbuhkan benih benih keyakinan baru mengeja teka teki masa depan. Hujan yang menaburi bumiku malam ini, menghadirkan rindu yang begitu syahdu menggebu, keindahan yang begitu sempurna oleh sebab rindu tanpa tuju.

Hujan, fenomena indah penegas romantisme hidup…

Kost Simatupang, 23 Oktober 2005

Friday, October 14, 2005

Perjalanan Ragu

Berabad terapung disamudera kebencian dan cinta, menunggu badai reda, menunggu matahari tiba. Usia terus merambati kecemasan dan melapukkan semangat yang porak poranda. Hati meletih dalam penantian akan datang malaikat dari kegelapan yang menuntun arah ketanjung pengharapan. Kesunyian dalam gemuruh ini begitu sempurrna menggigilkan jiwa. Bimbang hati menyeret langkah menyusuri cakrawala berbingkai keniscayaan. Dalam ketelanjangan ribuan petimbangan mendorong dorong logika untuk percaya, tetap mengayuh menuju keraguan lain lagi.

Maafkan aku wahai pelangi karena mencabut pedang berkarat bernama kewajiban yang menancap dipunggung tembus kedada. Tak ada kehidupan didalam perihnya kecuali ratapan panjang atas batu batu nisan yang berjajar tak bernama, di pekuburan ingatan. Jiwa jiwa telah lama mati menyisakan beku membatu sedangkan diladang ketiadaan tetumbuhan kebahagiaan tampak menyembul dari balik tanah sisa peperangan. Hanya jika perkelahian ini usai, kita akan bertemu daratan yang menjadi tuan, entah karena tujuan entah karena terdamparkan nanti.

Dijagat manusia perkawinan hanya tinggal selembar kertas dan segudang kepurapuraan. Tamu tamu hati datang membawa ceritanya sendiri sendiri, dari keculasan demi keculasan dunia. Betapa peradaban telah terbeli hanya oleh egoisme. Tamu tamu yang membawa cerita perjalanannya masing masing melengkapi cerita perjalananku menoreh sejarah tentang keragu raguan yang menjadi tujuan, sampai satu lagi nisan tercipta dengan sempurna.


Simatupang, 14 Oktober 2005

Wednesday, October 12, 2005

Kastanisasi Diri

Bahkan dikehidupan maya cyberspace-pun, watak watak dasar yang mencerminkan landasan sikap kepribadian tidak sulit untuk dijumpai. Di cyberspace orang dengan mudah mengaburkan atau menyesatkan nama, alamat, umur, dan detail detail lainya. Penyediaan informasi yang manipulatif seperti itu aku nilai sebagai itikad untuk mengaburkan identitas, dimana bagi sebagian peculas adalah satu langkah kemenangan untuk menentukan golongan mana yang akan dan ingin digauli. Pengkaburan identitas (baca profile) juga didentifikasi sebagai langkah menutup diri dan melihat lebih jelas kepada orang lain atau profil lain yang dijumpai di cyber.

Pernah pada sebuah perkenalan di chatroom, sapaan sopan seperti “ hello selamat sore…” atau semacamnya mendapat jawaban “ mau apa?” atau yang lebih sering adalah “ siapa?”. Dan itu terterjemahkan dengan ekspresi ketus. Bahkan sorang yang pernah mengobrol di chatroom sehari sebelumnya pernah menjawab sapaan itu dengan “I will appreciate if you don’t talk to me again”. Puih! Rasanya ingin menonjok layar monitor, tapi akhirnya hanya senyuman yang tertempel dibibir. Orang orang ini memiliki karakter arogan, aku yakin mereka memiliki pemahaman yang kaku terhadap pergaulan, apriori terhadap keberadaan dunia gender. Orang orang seperti ini yang menderita kemiskinan humanisme, krisis kepekaan terhadap sopan santun dan budaya tenggang rasa. Memprihatinkan! Padahal, sudah pada sepantasnya orang orang yang bermain dengan perangkat tehnologi seperti itu dan menyediakan diri untuk “mengendarainya” adalah orang orang yang notabene berpendidikan cukup dan berpergaulan cukup, minimal bisa baca tulisan dan membuat tulisan; sedikit tahu tentang adat kesopanan.

Hakekatnya, pergaulan di cyberspace adalah pergaulan yang tak dibatasi oleh pematang pematang peradaban seperti umur, pekerjaan, profesi, jumlah kekayaan dan sebagainya. Cyber adalah tempat bertemunya jiwa jiwa yang lepas dari keterkungkungan hukum kebudayaan. Masing masing jiwa selayaknya terbekali dengan ajaran nurani dan yang lebih baku adalah ajaran tentang sopan santun dan menghargai sesama. Dalam dunia cyber, individu user diwakili oleh cara berfikir dan tatakrama kesopanan, ditunjukkan dengan sikap tahu diri dan tentu keterbukaan komunikasi. Jiwa jiwa itu ibarat gelembung udara dan cyber adalah angkasa sebagai media kebebasan gelembung gelembung itu mengembara. Akan tetapi sudah menjadi perwatakan umum bahwa dunia cyber diibaratkan sama dengan alam sesungguhnya, dimana segala bentuk antonim kebendaan menjadi hukum pengkastaan diri.

Jika pada jaman purba orang menciptakan kasta, tinggi rendah golongan yang terbedakan dari garis keturunan maupun jabatan kedudukan, bahkan kadang jumlah kepemilikan hartabenda, hal itu jelas jelas telah menjadi kesepakatan baku yang dimahfumi dan diterima sebagai sebuah tradisi luhur. Pada perkembanganya, pengkotakan golongan tingkat derajat manusia itu luntur dalam literatur literatur sejarah, berganti menjadi sebuah istilah membingungkan seperti liberal, demokrat, sosial dan sebagainya. Otomatis pengkastaan secara harfiah tidak lagi memiliki makna penentu satu golongan. Menurut Pramoedya Ananta Toer, dunia selalu berubah sedangkan manusia tidak. Selamnya seperti itu itu juga. demikian halnya dengan feodalisme, dengan penggolongan ukuran derajat manusia yang umurnya sepadan dengan pelacuran dan perjudian. Sejak manusia diciptakan!

Penggolongan jenis manusia pada zaman serba elektronik dan mobile ini, secara ekstrim ditunjukkan dengan kastanisasi pribadi, sebuah pengingkaran terhadap kesetaraan dan ruh humanisme secara universal. Kastanisasi itu dimulai dengan pembatasan komunitas pergaulan berdasarkan kesetaraan eksistensi diri dalam masyarakat umum. Sangat mengenaskan bahwa kastanisasi itu dimunafiki dengan slogan slogan humanisme, kepedulian dan sebagainya sedangkan pada prakteknya jelas jelas menyimpang dari teori teori yang didengungkan. Komunitas komunitas berdasarkan pengkastaan pribadi yang disamarkan menjamur lengkap dengan tradisi dan budaya modern dalam konteks yang dangkal yang kerap dinamakan trend. Komunitas itu berada diruang ruang labirin dengan dinding tebal dari kaca, memiliki batas batas nilai tersendiri, seperti ceceran minyak dalam air.

Komunitas itu lahir dari pendalaman akal dan pengetahuan setiap pribadi yang tanpa sadar menciptakan ruang khusus bagi dunia yang diartikan ideal. Perbedaan perbedaan lahiriah menjadi bible yang malu malu disembunyikan. Kepedulian akan kesetaraan dan kesamaan dengan impulsif diterjemahkan dengan laku charity; memberi amal materi. Pengkastaan diri pun menjalari dunia cyber, virtual community dimana idealnya adalah dunia tanpa hukum materi, dunia jiwa jiwa, nurani nurani tanpa dimensi lahiriah, sebuah utopia dimana setiap orang saling menilai dan mengukur berdasarkan jalan fikiran dan kepribadian.

Kastanisasi dalam formatnya yang baru adalah penciptaan kelas berdasarkan perhitungan lahiriah pergaulan; pemimpin dengan pemimpin, pengikut dengan pengikut, penonton dengan penonton, pemain dengan pemain, penggembira dengan penggembira, dan interaksi diantara kelaspun dibatasi pada garis garis baku yang tak tampak mata; hanya hati. Sebuah kemunduran peradaban berjubah kemajuan akal!

Simatupang, 11 Oktober 2005



Monday, October 10, 2005

Utopia


Tuhan mencipatakan tangan melengkapi fikiran, dan Tuhan menciptakan hati sebagai ukuran kepintaran produk fikiran. Kesederhanaan menjadi barang langka ketika zaman berganti jahiliyah, merampas masa dimana manusia menjadi mahluk paling buas dengan taring panjang bernama logika. Tajam mencabik apa saja, siapa saja. Lelah hati berharap nurani menjadi raja atas umat manusia maka mimpilah menjadi pengingkaran yang maha sempurna.

Di satu sudut bumi dalam naungan langit utopia subur menggoda. Pada lereng gunung berhawa sejuk sebuah rumah kayu dengan pendapa dan buritan pada arsitekturnya, berdinding tinggi dengan jendela jendela. Mungil kokoh tanpa warna. Berpagar budi pekerti rumah itu hangat oleh cinta yang damai penghuninya.

Sebidang tanah menghiasi belakang pekarangan, tangan karunia Tuhan mengadakan dari ketiadaan, membuat untuk dipergunakan, menyemai untuk memetik panenan, memakan apa yang ditanam. Tak ada yang patut dirisaukan.

Tetangga adalah sahabat, dimana rasa hormat menjadi aturan kepatutan dan nurani adalah penimang sikap dengan privacy sebagai hak yang terhormati. Wangi bunga rumput melahirkan inspirasi atas karya cipta dari hati juga pada nyenyanyian sepi tercipta filsafat filsafat yang tak pernah terajarkan tentang alam.

Kekerasan bukan budaya, tabu dilakukan, juga prasangka mati oleh ketulusan yang sebenarnya. Kebencian dan keculasanpun tak punya ruang tumbuh pada jiwa jiwa yang hanya tahu bersyukur dan merendah hati, menempatkan Tuhan sebagai pengawal nurani; ajaran paling hakiki bagi setiapi insan.

Rumah, dimana segala bermuara, dimana cinta beristana. Hanya mencintai dan dicintai sepenuh hati sepenuh hidup denga ekspresi tertinggi, tanpa pura pura. Eksotisme alam telah mematri cinta dua hati dalam rumah kayu berpagar budi pekerti. Sampai raga rebah disejuk tanah berdebu sisa lumpur musim hujan dulu, tenang melepas ruh ke perjalanan yang sesungguhnya. Tak ada tangis kecuali senyuman, sebab kematian hanya siklus kehidupan mahluk Tuhan…




Kost Simatupang, menjelang sahur 10 Oktober 2005

Dimana Langitku berada?


:Langit Senja

Ngit,
Aku merindukan gelisahmu yang tanpa malu malu. Aku merindukan birumu yang mengundang hati untuk bernyanyi, aku rindukan lembayungmu yang membawa cinta mengharubiru. Engkau telah sempurna berlari dan bersembunyi dari hidupku, ataukah aku yang terkurung ruang sempit peradaban?

Ngit,
Aku tetap kupu kupu itu, murid atas ajaran absurditas hidup dan engkau selalu jadi guru nuraniku. Aku yang pernah jadi sweet june-mu yang menari dengan ekspresi tertinggi antara batas nyata dan khayal, batas hati dan rasionalitas. Engkau yang mengajarkan aku untuk mencintai dengan kesempurnaan dan mengesampingkan segala bentuk labirin tradisi. Akulah kupu kupu yang pernah jadi ephitapmu, yang tetap mengembara diantara bunga rumput dan ilalang liar di sabana kosmos maya. Masih ingatkah setelah musim demi musim lewat tanpa kata kata?

Ngit,
Aku masih kabut putih yang menjadi bukan apa apa atas kemegahan anggunanmu. Barangkali sekejap lenyap dalam hempasan keperkasaan kuasamu, mati tertebas pedang rasionalitas yang erat engkau genggam ditangan kanan? Tetapi, bathinku teguh meyakini, engku tetaplah langit yang mengetahui segala yang tersembunyi, juga kupu kupu dan kabut putih milikmu dulu.

Ngit,
Aku tinggal punya rindu yang membenalu….padamu….


Kost Simatupang, 10 Oktober 2005

Percakapan Yang Menenteramkan

: nonon

Di sabana maya sebutir debu jiwa mengelana meratapi penghuninya, pada suatu ketika saat prasangka lenyap diserap bumi yang terpijak kaki. Berpendaran dari sisi ke sisi ruh, mengetuk nurani demi nurani dengan kehendak yang polos mengharap harap. Dia mengelana laksana kupu kupu, senyap dalam pengembaraanya yang sendirian kehilangan rantai metamorfosa kodrati.

Langkah terhenti pada teduh berwarna ragu pada sisi sisinya, gemetar memasuki alam hayali dengan pedang bernama rasionalitas terhunus lemah. Mengetuk kaca jendelanya ketika embun bersiap memburamkannya. Pada rongga jiwa yang teduh itu ia pasrahkan catatan pengembaraan tertulis dengan darah sisa peperangan panjang melawan fikiran; kepintaran yang menjajah hati atas ribuan kekecewaan.

“Nafas dan darah yang mengaliri setiap millimeter jalinan tubuh, yang memompakan segenap energi kesetiap penjuru dalam rangkaian rumit urat dan syaraf adalah anugerah tertinggi bagi hidup, otak yang menglirkan warna dalam dimensi bentuk adalah keajaiban yang hanya patut untuk disyukuri, teman baru…” ucapmu membunuh semua gelisah penyesalan, menghentikan letih upaya memunguti serpihan kenangan yang hancur berantakan. Kesombongan menghambur kelantai, belum siap dengan pujian!

Dari letih yang menelikung asa, mimpi tentang utopia mengalir bagai banjir. Satu tempat yang hanya berisi cinta, satu tempat dimana kematian mutlak milik sang alam. Katakan, tunjukkan dimana secuil tanah impian itu berada, dari semilyar tempat yang pernah engkau singgahi meski ia takkan sanggup mencari, setidaknya menyemayamkanya dalam mimpi jadi penghiburan mujarab ketika kegilaan siap dengan kemenangan.

Percakapan sebutir debu jiwa pada teduh berwarna ragu dalam kubus ruang maya menghamburkan ketenteraman tiba tiba. Betapa, utopia itu hadir dalam hati dan jiwa tanpa hukum materi yang angkuh membentengi. Tali temali aturan budaya bumi manusia yang terperangkap ruang bentuk dan gengsi menjadi lumpuh dan mati, ketika hanya nurani dan jalan setapak fikiran menjadi bahasa percakapan. Pada realita, sebutir debu jiwa bukanlah apa apa selain pengembara tanpa harga dan bentuk hakiki…

Terimakasih teman baru, untuk percakapanmu yang menenteramkan hati…

Kost Simatupang, 09 Oktober 2005, 2355hrs.


Sunday, October 09, 2005

Refleksi dari kamar mandi



Jika jiwa adalah samudera maka raga hanyalah biduk kecil tanpa layar ditengahnya. Jika jiwa adalah langit, raga hanyalah sebuah bintang diantara keleluasaanya. Refleksi dari kamar mandi bercerita tentang ketelanjangan diri atas keberadaan jiwa yang sunyi senyap maha luas.

Senyap dan lengang yang menyerbu menghadirkan badai bisu yang mencekam, menggelisahkan. Keyakinan bahwa diri tetap hidup dalam hati orang orang terkasih lelah terombang ambing dalam keraguan sendiri. Angan tertancap dibeton masa, tanpa harapan dan hanya masa lalu yang memilukan. Bahkan musim berjalan tanpa suara dan tanpa rasa. Kekosongan menjadi begitu sempurna dikamar mandi, mengharap sesuatu terjadi, datang dari langit.

Khayal dan pemikiran pun membentur pada langit langit tempurung pengetahuan, dimana hanya ketelanjangan semata yang tertayang. Pertanyaan ragu menikam nikam; benarkah bumi telah kehilangan gravitasi dan kedap segala? Ruang ini, sudahkan hampa udara? Atau barangkali nyawa ini masihkan punya harga?

Semestinya, selama jarum jam tetap berdetak memutar dan siklus perjalanan matahari belum rusak, tentu harapan tetaplah ada, meski buram tak kentara. Membawa diri mengikuti arus takdir tidaklah akan sampai kemana mana kecuali mati. Mati? Betapa indah dan menyedihakan sebuah kematian dalam kehampaan ini. Akankah dibalik kematian ada para bidadari telanjang dan orang orang baik hati penuh ketulusan? Ataukah itu hanya dongeng yang menjadi bingkai nurani?

Dari kamar mandi, ketiadaan hanya melahirkan pertanyaan pertanyaan tanpa jawaban semata…

Kost Simatupang, 08 Oktober 2005

Friday, October 07, 2005

Keadilan Bagi Ketidakadilan

Maka kantor kecil dengan ide besar itupun resah. Empat pendiri dan pemilik perusahaan sebagai direktur divisi masing masing, Operasi, Keuangan, Utama dan Pemasaran. Masing masing berjalan dalam proporsinya selama dua setengah tahun, dan masing masing saling mengandalkan dan mempercayai. Tetapi mereka tampak tegang seminggu belakangan ini. Desas desus beredar bak asap kebakaran hutan setiap musim kemarau di Sumatra dan Kalimantan. Desas desus bahwa direktur operasi kesandung kasus korupsi. Seminggu belakangan memang ruanganya lengang tanpa penghuni. Biasanya dia ada duduk didalamnya, menutup pintu entah apa yang dikerjakanya didalam sana, mungkin chatting di inernet.

Sore tadi pengumuman resmi datang. Semua yang bersangkutan dengan harkat hidup yang berasal dari kantor itu dikumpulkan untuk mendengarkan maklumat penting: He is no longer with us. We respect you and value you personally as the big family of this company. However, we will not tolerate corruption, theft and office politics. We understand that many of you are the good friends of him, and once again we will not tolerate office politics. Tiga perempat orang diruangan setengah tercengang. Sebagian duduk di lajur bangku paling depan, tenang mendengarkan kata demi kata yang keluar dari bibir sang pembicara. Hatinya tenang dan senang jauh hari sebelum maklumat dikumandangkan, dia tahu apa sebenarnya kejadian.

Sang direktur operasi menggelapkan uang perusahaan, hasil patungan bersama ketiga teman. Seorang kaya yang bergaya hidup jetset, seorang terpandang dalam status komunitas yang berwatak preman. Bicaranya kasar dan dangkal, tak membersitkan cermin pimpinan. Sisa produk orde baru dengan predikat OBB (Orde Baru Banget) dalam setiap statement yang diucapkan. Kosong melompong tak meyakinkan bagi orang orang yang mengerti tentang hidup dan kehidupan, apalagi peradaban. Sebentar lagi desas desus susulan akan segera berhembus; sang direktur dizalimi oleh teman teman sepermainanya sendiri! Pasti!

Maka keadilan bagi ketidak adilan terjadi hari ini. “Becik ketitik olo ketoro, temen tinemu. Sopo salah bakal seleh” terbukti benar. Protes bisu dari nurani nurani sederhana sudah terjawab oleh alam. Protes dari sebagian yang tahu makna kebusukan hati dan kebobrokan moral yang terukurung dalam langit tempurung birokrasi kapitalisme. Maka feodalisme di dunia kantor itupun tumbang, mati bersama runtuhnya kerajaan kebohongan yang sistematis terbangun selama ini. Para pengkultus sang direktur menggelar rapat rapat dibelakang forum, mengarang kesimpulan tentang kudeta dari hati yang bolong, mempersiapkan sederet nama sebagai kambing hitam legam.

Wajar, bila orang memetik buah karma dari pohon perbuatan yang ditanamnya sendiri, tak peduli siapapun dia. Begitulah Tuhan menciptakan keadilan bagi ketidak adilan dimuka bumi yang makin tua ini…

Kost Simatupang, 6 Oktober 2005

Dunia Kanan dan Dunia Kiri

:crawford

Pada suatu kesempatan di toko buku Gramedia sekitar dua bulan yang lalu, sekilas saya membaca judul buku yang menggoda” Selingkuh; seni bercinta atas kuasa bohong” Whew! Dan saya tidak tertarik samasekali untuk mendekatinya. Dikarenakan teori teori yang terkandung didalamnya pastilah rumusan rumusan basi atas telaah perilaku sosial, dan sedikit saja mengupas tentang bagaimana pokok permasalahanya tenggelam dalam kedalaman kolam emosi. Barangkali begitu. Dan karena saya tidak punya minat untuk mengetahuinya, maka saya biarkan pikiran apriori menguasai, toh gratis malahan!

Seratus persen saya setuju bahwa selingkuh adalah seni bercinta atas kuasa bohong. Bagi siapapun, kata kata ‘bohong’ pastilah mengandung energi pukulan yang lumayan keras di nurani, atau minimal ke hati-lah. Tulisan ini tidak akan mengkritisi buku diatas yang ditulis entah oleh siapa, apalagi menjadi resensi buku itu. Seorang teman laki laki sempat bertualang didunia tersebut dengan dan bagi saya lebih mudah untuk menganalisa dan menyimpulkannya. Begini pandangan pandanganya;

Dibalik setiap jiwa manusia terpenjara sifat kebinatangan, bahkan manusialah sebenarnya binatang yang paling sempurna dimuka bumi. Kemudian jiwa itu sendiri terkurung oleh jasad duniawi secara fisik dan itupun masih dilapisi dengan tatanan peradaban kehidupan sosial sebagai zon politicon. Tatanan itu lebih ampuh yang tidak tertulis bagi bangsa kita, seperti agama, norma, dan tentu adat tradisi. Itulah parameter terakhirnya. Tatanan kehidupan sosial, aturan peradaban. Jelas itu produk budaya hasil dari revolusi jutaan tahun kehidupan umat manusia.

Definisi dunia kanan dan dunia kiri adalah sebenarnya penjabaran dari apa yang disebut perselingkuhan, sebuah seni bercinta atas kuasa bohong seperti judul buku di Gramedia itu. Dunia kanan adalah dunia dimana peradaban dan semua aturan kepantasan diberlakukan. Dunia ini biasanya berisi anak, istri atau suami, keluarga dan investasi social lainya berupa rumah tangga dan tetek bengek yang menyertainya.

Dunia kiri lebih bersifat inklusif, berisikan tentang khayalan khayalan, ilusi bahkan fantasi yang diwujudkan bersama seseorang dalam satu buah hubungan tahu sama tahu yang lebih sering dinamakan Selingkuh (Selingkuh sering diistilahkan dengan SLI – Selingkuh Itu Indah- adalah sebuah perhubungan khusus dengan seseorang lain jenis yang disembunyikan rapi dibalik tembok dunia kiri. Batasanya seperti apa, tidak ada literatur manapun yang bisa dijadikan acuan lantaran dunia kiri mengikuti kebebesan alam fikiran ibaratkan sebutir debu dilangit biru, bebas mengembara, bebas menentukan rasa, bebas menentukan pembatas bagi dunianya sendiri. Pada umumnya, dunia bathin yang bebas tidak mengenal batasan, apakah itu hanya sekerar bed relationship atau lebih dalam lagi dengan melibatkan perasaan. Teman saya itu pernah juga mengalami dimana pasangan dunia kiranya terlalu tenggelam dengan perasaan melangkolis; jatuh cinta dan berencana meng'kanan'kan dunia kiri itu no matter what it takes!! Yang didapatkan si istri orang ini jelas: ketahuan suaminya, diceraikan dan ditinggalkan sama pasangan dunia kirinya karena tidak bisa konsisten dengan komitmen dunia kiri dan kanan. Akhirnya si eks istri orang itu hidup dalam ketidak menentuan, melacur di kafe kafe menggabungkan dunia kiri dan kanan tanpa batasan. Itu mengenaskan menurut saya.

Dunia kanan dan dunia kiri dibatasi oleh tembok kokoh bernama nurani. Dunia kiri hidup dalam kebun rahasia tiap tiap manusia, sedangkan dunia kanan mengemban segala macam batasan kewajiban hukum, peradaban, ikatan komunitas. Antara dunia kanan dan dunia kira sebenarnya adalah kutub kontradiktif, dimana masing masing dunia itu memiliki perwatakan dan sifat yang saling me-latenkan, saling mewaspadai, saling menakuti, dan saling mengiri.

Pecahnya tembok pembatas antara dua dinia itu bisa menyebabkan banjir bandang segala macam, mulai dari rasa malu, rasa tidak terhoramti, rasa tidak terbutuhkan, rasa terhina, rasa terkhianati, rasa terdzalimi, atau ribuan rasa negatif lainya yang bisa menghancurkan. Dunia kiri adalah laten bagi dunia kanan, dan yang paling parah dari akibat kemenangan dunia kiri adalah; perceraian.

Dunia kiri jauh lebih menarik karena faktor kerahasiaanya, petualangan bathin atas mengalami sesuatu yang baru bersama lawan jenis yang bukan pasangan hidup, sebuah tantangan yang berbahaya dan gairah yang membuncah karena magnit lawan jenis. Dunia kiri yang sempurna mengenal batasan batasan yang sangat ekstrim, serperti dilarang bersms atau menelpon ketika berada dilain dunia, dsb. Sekaligus memiliki ketidak terbatasan dalam pelaksanaanya, fikiran dan kemampuan berfantasilah ukuranya.

Apapun definisi dan kedahsyatan petualangan yang terjadi, tetap saja disimpulakan bahwa dunia kiri adalah produk seni bercinta atas kuasa bohong…nista namun nikmat! Penyakit umat manusia sejak zaman Adam dan Hawa...


TB Simatupang, 6 Oktober 2005

Thursday, October 06, 2005

Revolusi Cinta

Ketika seseorang memutuskan untuk menikahi lawan jenisnya, alasan universalnya adalah karena cinta. Lalu membentuk sebuah lembaga pribadi bernama rumah tangga, sebagai investasi sosial. Ketika rumah tangga mengikat cinta, maka terminologi cinta berubah pula menjadi ikatan kewajiban, ikatan tanggung jawab dan ikatan hukum yang melekat kepada negara, masyarakat dan pasangan. Ikatan ikatan itu terkadang menjadi kabur dan menjelma menjadi sebuah ikatan yang tak telindungi hukum materi; ikatan emosional. Keruwetan konstruksi rumah tangga itu bisa saja disederhanakan dengan begini; menikah adalah memilih seseorang untuk saling mengikat dalam setiap aspek sosial maupun personal, dengan landasan kerelaan terlibat secara emosional berdasarkan cinta kasih.

Dan ketika dua individu itu disatukan atas dasar keinginan maka terbangunlah mimpi dan harapan. Dunia memang selamanya tidak berubah, tetapi manusialah sesungguhnya yang berubah. Waktu terkadang memberi ajaran tentang betapa tidak ada apapun yang akan abadi dikolong langit ini. Cinta, sang modal investasi sosialpun kadang tergerus dan berubah bentuk seiring perjalanan zaman. Degradasi cinta membuat segala ikatan itu menjadi sumir, tak bermaka apa apa kecuali sederet kewajiban. Karena cinta adalah energi jiwa mencari pelepasan dan penampungan, maka bentuk cinta yang telah melorot maknanya itupun kelayapan mencari ‘rumah’nya yang ideal. Pengembaraan energi cinta ini melawan arus moralitas nurani dan memberikan kuasa bohong kepada hati untuk terus mencari dan menari wahana ekspresi; satu individu baru.

Maka investasi sosial itu menjadi bangkrut kehilangan esensinya. Hanya sebatas status suami istri belaka, itupun telah berada diujung tebing menunggu hari baik datang dimana angin mendorong masuk kejurang kehancuran. Masing masing pemegang saham dalam lembaga cinta itu sekian lamanya mengubur hak pribadi mereka, selamannya mematikan fantasi fantasi pribadi mereka dan berpura pura menjadi suami dan istri agar sang lembaga cinta tetap bernafas. Tali tali yang mengikatnyapun telah lapuk oleh penghianatan atas nurani maupun harga diri individu dan perlahan menyebabkan simpul simpul ikatan itu mengendur dan siap untuk luruh menjadi debu.

Ketika itu terjadi, maka jelaslah bahwa kehancuran sudah lengkap menjulang didepan mata, maka yang dibutuhkan tinggal revolusi cinta. Dengan rela meski berat melepaskan semua ikatan membawa semua bekal pengalaman untuk perjalanan lain lagi. Perceraian adalah revolsi cinta yang paling ekstrim, hingga yang tersisa hanya rasa bahwa kita tidak pernah merasa memiliki apapun sampai kita kehilangan sesuatu. Runtuhnya sebuah lembaga cinta adalah kehilangan investasi sosial karena cinta yang bangkrut. Ikatan emosi telah meredupkan nyala terang sang rasionalitas yang seharusnya menjadi panel sentral sebuah revolusi. Pada giliranya rasionalitas akan menjadi tembok kokoh pelindung diri dari kesedihan yang berkepanjangan, dari derita yang berkelanjutan. Ketika rasionalitas menjadi raja atas intuisi, maka cinta hanya sekedar dua hati yang berdiri tertanam dikutub berlawanan, kehilangan energi magnetik yang mengikat dalam eksistensi lembaga cinta dalam percturan peradaban.

Dimana mana revolusi membutuhkan darah sebagai tumbalnya, meninggalkan perih sebagai catatanya, maka bijaklah mereka yang memilih pasangan hidup dari golongan orang dimana merka tidak bisa hidup tanpanya.

Kost Simatupang, 5 Oktober 2005

Wednesday, October 05, 2005

Setelah Bali Meledak Lagi


Senja lepas dari mayapada. Dari tepi pantai Kuta, matahari baru saja lindap dibalik garis horizontal yang menyisakan bias merah menggelap diangkuti ombak yang lantas mendamparkanya ditepian, amblas dihisap pasir putih sepanjang bibir samudera. Diatas pasir, ditepi pantai dan dibawah langit meja meja kayu telah rapi ditata, orang orang enggan melepas matahari keperaduan, menatapi ujung barat yang tinggal pekat. Lazuardi bening. Sabtu malam baru mulai, eksotisme Bali membuncah pada atmosphere yang tecipta disetiap sudut kota. Lalulintas jalan seminyak begitu bersemarak menyambut datangnya malam minggu pada tanggal muda 1 Oktober 2005. Tak ada duka yang tersembunyi dari ribuan kepala dan hati yang berkelana disetiap ruang sepanjang jangkauan sinar lampu. Kemesuman membisik malu malu pada malam yang belia. Dewata sedang bercengkerama dengan semua penghuni kehidupan disana, diberkati setiap tawa yang meledak dari mana mananya.

1942WITA, sebuah gelegar dahsyat terdengar dari Raja’s café. Menit berikutnya dua ledakan serupa membahana dari pantai Jimbaran* ketika orang bercengkerama bersama kekasih hidup mereka dibawah langit, diatas pasir, ditepi samudera kafe Manage dan kafe Nyoman. Ledakan itu menjadi titik kulminasi yang membalikkan kisah dari hitam ke putih, memberangus romantisme kehidupan yang berlaku, mengubah ketenteraman menjadi malapetaka. Detik berikutnya kepanikan merajalela. Manusia, kendaraan dan segala jenis kekacauan bebas menghambur dijalan jalan dan dimanapun. Suara klakson mengiringi jeritan dan teriakan, disusul lengking berpuluh ambulans menambah resah. Hati hati yang ceria berubah menjadi gelap gulita. Dewata entah ada dimana, mengilang seketikan dari dalam hati dan kepala. Asap pekat membumbung, segala keteraturan berhamburan acak tak tentuan. Sebuah aksi terror baru saja sukses dilaksanakan!! Sebuah tindakan dengan tujuan untuk melahirkan efek takut dan terancam; terorisme.

27 orang berubah menjadi mayat; tewas dengan tubuh compang camping, sedangkan 129 lainya harus dirawat masuk IGD rumah sakit karena luka yang kebanyakan karena terbakar dan cedera tulang. Korban tidak dipilih berdasarkan kriteria dosa dan kebejatan ahlaknya, tetapi random berdasarkan peruntungan hari naas masing masing, dari bocah, manula, remaja, dewasa bahkan binatang sekalipun menjadi korban - meskipun tidak masuk dalam hitungan angka statistik ‘death toll’ resmi - . Polisi kita dengan detasemen 88 antiteror andalanya cekatan bertindak. Dua hari setelah kejadian polisi menyimpulkan; modus operandi: suicide bombing. Pelaku: tiga orang pria, tinggal kepala doang. Identitasnya, dalam proses penyidikan.

Dunia mengecam aksi kriminal sadis ini. Bahkan semua orang yang msih punya nurani menghujat tiga butir kepala si pelaku peledakan. Sikap kelompok pelaku yang banci membisu tak berani mengklaim sebagai fihak yang bertanggung jawab membuat banyak fihak dan banyak orang menyampaikan analisa, terkumpul menjadi teori berdasarkan penguasaan materi dibumbui dengan asumsi teknis. Dari banyak ‘narasumber’ sukarela itu ditarik garis garis besar sebagai berikut; pelakunya dicurigai adalah kelompok islam radikal Jamaah Islamiyah. Motifnya, bisa memang terror murni anti Amerika dan Australia yang memanfaatkan kealpaan popularitas Bali sebagai media atau serangan terhadap sistem demokrasi Indonesia yang menghisap Bali habis habisan atau “SMS” kepada dunia bahwa institusi keamanan di Indonesia loyo atau pukulan terhadap arogansi Bali yang notabene mayoritas Hindu karena issue tuntutan otonomi khusus bahkan ada yang dengan sinis menyimpulkan aksi itu adalah gaya mengalihkan perhatian orang terhadap kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM yang mencekik leher dan mengeksploitasi keberadaan keluarga miskin.

Teori teori diatas menjadi tidak penting ketika fakta menunjukkan bahwa tigaperempat lebih korban ledakan adalah orang Indonesia sendiri dan 100% adalah tidak mengerti seluk beluk misi terorisme (kecuali ketiga korban yang hanya tinggal kepala, tentu). Obyek yang diserangpun bukan lagi gedung, bangunan ataupun instalasi vital milik negara lain, tapi tempat umum yang biasa dipakai untuk rendezvous, kongkow kongkow.

Dalam pemahamanku, aksi brutal itu tetaplah perbuatan diluar batas ukuran orang bermental sehat, bodoh dan destruktif. Siapapun pelakunya adalah manusia yang sangat patut dikasihani karena kemelaratan nuraninya. Atau lebih patut diterapi karena kesesatan jiwanya. Ada pribadi invalid telah menebarkan virus budi pekerti kepada orang orang bodoh yang bisa didoktrin untuk menjadi monster dengan iming iming surga berlabel agama yaitu dengan melilitkan bahan peledak sejenis Trinitrotoluena (TNT) dengan imbalan perjalanan aman menuju surga. Menurutku sistem pengajaran akidah di negeri tercinta ini masih bersifat konservatif dimana agama dijejalkan diotak sebagai ideologi akal dan Tuhan diperkenalkan sebagai ‘algojo’. Seyogianya agama diperkenalkan sebagai sebuah ideologi nurani sebagai dasar dan patokan berperilaku sedangkan Tuhan adalah sang causa prima, pengawal nurani setiap jiwa. Dalam sejarahnya, agama timbul sebagai reaksi korektif dari kemerosotan budi pekerti pada suatu kaum. Ajaran dasarnya universal, yaitu cinta kasih kepada semua mahluk. Cinta kasih adalah sumber dan akar dari budi pekerti yang seyogianya menjadi dasar dari sikap hidup penuh harmoni. Perkembanganya, agama menjadi tunggangan bagi segelintir orang ambisius dengan pemahaman yang keliru untuk mengkampanyekan agenda individualistik terselubung dalam kamuflase agama.
Type orang seperti itu aku namai saja; Bajingan!


Kost Simatupang, 04 Oktober 2005



* Pantai Jimbaran: dimana pada sebuah sore November 1992 aku dengan ceria memunguti puluhan ikan layang layang yang terdampar, mabok oleh angin pancaroba dan perubahan suhu di samudera Hindia. Kubawa pulang ke gubukku dan berpesta bersama Blackie, anjing kecil hitamku yang mati tertabrak mobil dua bulan kemudian di depan Santa Fe bar and grill Jl, Dhyana Pura 11A, Seminyak – Kuta.


.





MARHABAN YA RAMADHAN



Besok Ramadhan datang lagi. Ritual puasa sebulan penuh dimulai. Hari ini demonstran menolak kenaikan harga bahan bakar minyak masih meramaikan jalan jalan protokol Jakarta. Dua ribuan massa bergerombol dan membuang engergi sekaligus mengganggu pengguna jalan di seputaran HI dan dekat RSCM. Dari mushola samping kostku suara orang bertadarus mendayu dayu lewat corong loudspeaker. Entah surah apa yang dibacanya, entah apa pula maknanya.

Dikantor, sore tadi menjelang pulang orang bersalam salaman, meminta maaf dan mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Harmonisasi komunitas ataukah bagian dari ritual Ramadhan, tak perlu dipertanyakan karena memang bagus demikian diadakan, meninggikan rasa kehormatan dan penghargaan terhadap satu kepercayaan bathin, tuntunan perilaku dan mungkin sebagian orang lagi adalah komunikasi vertikal antara mahluk dan sang Khalik.

Ramadhan tahun ini berangkat dengan bobot yang sedang sedang saja dalam ukuran pendalaman kebatinan pribadi. Puasa, yang pada hakekatnya adalah pengendalian diri lebih merupakan momentum rutin yang tercetak baku dalam konsepsi masa. Seperti tahun kemarin, seperti tahun yang akan datang, Ramadhan akan datang. Nilai “kesucian” seperti yang dikampanyekan ahli dakwah belum datang menyentuh kedasar sanubari yang bisa meluruhkan segala jenis kegersangan dalam jiwa. Aku menunggu hidayah, sebab hanya bisa menunggunya.

Selamat datang Ramadhan. Selamat datang bulan suci, aku menyambut dengan ucapan. Melewatinya dan menjadi catatan yang tak teramalkan. Tetap, duapuluh empat jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu berjalan, meski bulan suci Ramadhan datang, hingga tiba hari lebaran….bulan depan.
Setidaknya, abab kita bau wangi bunga kesturi kata Mami Sita…kejadian langka, bukan?!

MARHABAN YA RAMADHAN….SELAMAT DATANG BULAN PENUH BERKAH DAN KESEMPATAN….


Simatupang, 4 Oktober 2005.

Friday, September 23, 2005

Makelar Mimpi


Aku bukan MD* bukan YT* ataupun RD*. Bukan type ketiganya sekaligus bukan type salah satunya. Bukan. Mereka bisa memanivestasikan sisi kemanusiaan ke sisi apapun yang mereka mau. Tapi aku bukan mereka. Aku ingin menjadi makelar mimpi.

Siapa yang menjual mimpi, tolong beritahukan kepadaku sebab aku punya pembelinya. Semua jenis mimpi akan dihargai amat mahal semau kalimat yang keluar dari mulut. Total transkasi belah semangka, begitulah ‘deal’nya.

Maka para pemimpi menyetor komoditi. Karena aku makelar mimpi, akupun jadi pemimpi. Bermimpi Tuhan tiba tiba menjadi amat pemurah hati, memberi rejeki lewat jual beli mimpi. Empat ratus juta rupiah tiba tiba ditangan, hanya dengan modal mimpi doang!

Untuk informasi, mimpi telah menjadi kemewahan bagi jiwa jiwa yang lelah mencari dan letih berkelahi dengan hidup kenyataan. Dipasar mimpi segalanya bisa terjadi tanpa harus mengejawantahkan diri sebagai anu atau membuat anu. Orang orang kalah menciptakan komunitas mimpi sebagai penghiburan atas ketidak berdayaan, atas kemiskinan yang mencekik leher. Sederhana saja, tanpa referensi ataupun katabelece dari siapapun, hanya perlu telinga dan mulut yang sedikit berbusa. Itu saja.

Inilah makealar mimpi dijagat nyata, dibumi manusia. Memperdagangkan kemustahilan dan terbayar dengan impian; jadi kaya. Tak apa, memang layak si kalah hanya tinggal mimpi. Beruntung malah, sebab sebagian lagi orang telah bangkrut sampai mimpipun tak punya…

La Casa Tikala 106, 22 September 2005
* Tokoh LSM Sulut yang konsisten memperjuangkan hak rakyat Buyat.

Thursday, September 22, 2005

IM3 Corner Manado



Disaksikan rembulan yang malu malu muncul diperadaban bumi, kuhirup anyir pasir lautan dan sayup gelisah lautan pantai Boulevard di teluk Manado. Eksotisme kota ini telah menjadi kemesuman menjijikkan dijiwaku yang sakit. Aku merindukan kamar hotelku yang kosong sunyi ketika dialog meliuk bagaikan puting beliung. Kebisingan kulalui bagaikan mute mode dalam layar TV. Sunyi dihati.

Ah, musik dari loudspeaker itu, bikin aku muak ingin muntah. Musik yang mendengingkan dendam dan menayangkan badut dengan cemoohan atas diri yang terpecundangi. Lampu lampu berbisik tentang kasak kusuk sepanjang pantai, ketika orang orang berpasangan bergandengan berlalu dari hadapan. Entah apa yang diperbuat dalam gelap sana!

Dan dialog kami terus saja berkisar. Dua jam duduk untuk satu gelas teh jeruk nipis hangat, ketika coklat panas tak tersedia. Dinegeri tropis tanah airku sendiri dimana jutaan hektar bidang tanah ditanami kakao, dan aku gagal menikmati coklat panas yang sudah mengepul dikepala. Dan obrolan terus saja berkisar, dan musik terus saja mengalun, bagai palu godam dalam fikiran.

Angin datang dan pergi sesuka hati, kadang kencang kadang sepoi. Mejaku kini penuh gagasan gagasan penutup lubang menganga atas siapa diri. Aku menjadi idealis jalanan paling dominan tiba tiba, bicara tentang Jalan Roda dalam perspektif sederhana. Bicara tentang kota ini dalam ketidak pedulianku yang sesungguhnya.

Tempat ini telah menjadi bedebah dalam diriku. Eksotismenya terterjemahkan menjadi kemesuman menjijikkan dikepalaku. Aku ingin pulang, kekamar hotelku yang senyap menenteramkan…




IM3 Corner Megamas – Manado, 21 Septmber 2005

Tuesday, September 20, 2005

Catatan Ulang Tahun



Rembulan penuh diatas lapangan Tikala, diatas kepalaku dan diatas tubuh tubuh kumuh yang tertidur dibangku beton membeku, berderet disisi tenggara lapangan yang berseberangan dengan deretan penjaja makanan dan minuman rupa rupa. Sepanjang malam memasak dan sepanjang malam pula orang berdatangan membelanjakan uang, memanjakan keinginan normatif; makan.

Bulan purnama menyapa ketika kaki pegalku melintasi lantai beton sisi lapangan. Malam ini telah kuhadiahkan untuk usiaku yang ke 35 sebuah semangat untuk terus mengecap hidup yang kujalani. Konsistensi atas diri, bukan lagi perenungan atas apa yang terjadi. Beginilah sang air menjalani hidup yang mencair, mengalir mengembara menuju ketiadaan. Menghentikan pencarian dan teruslah mengalir mengikuti katahati.

Rembulan penuh diatas lapangan Tikala depan gedung balaikota memantulkan sinar pucatnya. Diatas sana diantara kekosongan maha luas dia sendiri dalam kecantikanya. Seperti mengajakku menimang diri, betapa sendiri dan kosongnya hidupku meski aku bukan rembulan. Tak ada suara apa apa di atas sana, hanya sinar pucat dan sedikit romantisme basi. Aku kesepian, seperti rembulan penuh diatas lapangan Tikala.

Maka kubawa pulang kenyang, kubawa pula kekosongan jiwaku kekamar hotel. Aku letih dan telah berhenti bertanya tentang diri, sebab hanya mengapa dan mengapa saja pertanyaan itu. Menggubal tak tentuan, menggumpal bagaikan karang kejam dalam dada. Akukah kehilangan semangat hingga menjadi begitu istimewa sebagai hadiah ulang tahunku?

Nun jauh dari ribuan mil tempat raga kosongku berada, seseorang telah memanen kebahagiaanku enam bulan lalu untuk dihadiahkan sebagai ulang tahunku. Dihadiahkanya kepadaku keperihan hidup dan kebusukan hingga akhir hayat. Dari 35 sampai tak terhingga, sebab usia hanyalah misteri belaka. “Selamat ulang tahun, semoga abadi kehancuran hatimu” ucapnya tertulis pada selembar daun kenangan….

Maka kuterima jatah hidupku, menjadi catatan kenangan bahwa 35 tahun setelah bunda melahirkanku aku telah menjadi sebuah jiwa yang penyok penyok, menjadi sebuah hati yang hancur lebur sampai mati…kepadamu yang pernah begitu kucintai, hadiah ini kuterimakan dengan senyum kusembunyikan. Sebab, sejak sekarang aku bukanlah lagi aku yang selama 35 tahun belakangan…

Selamat ulang tahun, diri….selamat ulang tahun jiwa yang merana…semoga perihmu abadi, semoga deritamu terbawa mati….


La Casa 106, Tikala – Manado, Selasa, 20 September 2005

Tuesday, August 30, 2005

Jakarta, macet dan SMS


“Ufh…I am trapped in a traffic jam. Streets of Jakarta is really unpredictable” Amadea sms pada jam sembilan belas lewat tigapuluh menit tigapuluh sembilan detik, hari Senin minggu terkhir bulan ini. Di sudirman katanya, dalam perjalanan pulang dari kantornya di kawasan Hayam Wuruk ke rumahnya di Cinere.
“Yup! I heard a lot about that. What do you think government should do about it?” begitu tertulis di layar handphone dari antah berantah dalam format sama; sms.

“ Perbaiki kondisi angkutan umum, so the society lebih memilih naik angkutan umum daripada mbl pribadi. Contoh: Singapore. Angkat jempol buat angkutan umum disana. The keyword is: disiplin. Do u think Indonesia could do that?”
.
“ Not in d next 30 years I reckon. It is the matter of discipline. I agree. It is the mentality of the whole nation, -jkt community particularly. I think we can start from education plan”.
“ Indonesia disiplin? Berapa generasi lg ya? Dari segi edukasi kita ketinggalan many steps behind. Maybe we’ve lost 1 generasi penerus bangsa…”

“30yrs is when the next generation will be in charge. Idealnya kita yang menyiapkan pddkan bwat mereka sekarang. Sbh sistem pddkn yang komprehensif dan terevaluasi, tapi harus dibarengi policy yang ketat dalam prakteknya. Hukum harus dikawal scr represif. Ufh…I am out! Honestly I know nothing of what I was talking about”

Anda jangan salah, obrolan sms itu bukan keluar dari hape ekspatriat yang kebetulan tinggal dan bekerja di Jakarta, tapi dari dua orang laki laki perempuan dengan usia hampir sama, orang Indonesia satu bersuku Jawa dan satu bersuku Batak. Jangan pula kaget dengan bahasa yang mereka pergunakan, karena dalam dunianya bahasa itu justru lebih ekspresif dan sederhana! Bahasa seperti itu relatif jamak digunakan dalam komunitas eksekutif muda Jakarta. Campur aduk, yang penting komunikatif dan ekspresif. Dan kita tidak sedang dalam forum tata bahasa, kan?

Anda salah lagi kalau mengira obrolan kritis itu keluar dari pemikiran dua orang yang memang berkecimpung dalam dunia profesi yang sama, atau orang orang yang memang berkutat dengan kepedulian terhadap keadaan sosial kemasyarakatan, apalagi Lembaga Sosial Masyarakat. Bukan, si wanita bekerja di bidang civil engineering pada divisi tehnik sedangkan si laki laki bekerja dibidang Badan Usaha Jasa Pengamanan dan Penyelamatan pada bagian Operasi. Sama sama tidak ada konteks langsung dengan pekerjaan mereka. Wacana diskusi itu mengalir spontan atas apa yang mereka rasa, lihat dan alami semata.

Minimal dua orang itu sudah saling mengenal sangat lama? Oh, anda kurang tepat jika berprasangka seperti itu. Mereka kenal di dunia cyber lewat Yahoo Messenger barulah lima hari yang lalu dari computer di kantor mereka masing masing dan hanya itu. Mereka tidak pernah bertemu secara fisik di dunia real. Tetapi justru dunia maya itu barangkali yang membuat mereka berkomunikasi dengan bahasa fikiran dan bathin mereka, mengesampingkan embel embel hukum materi maupun yang melingkupi karakter peradaban secara fisik, termasuk latar belakang pendidikan. Sarjana tehnik dan seorang tamatan SMTA!
Sudahlah, kita kesampingkan profil dua panelis kita ini, sedikit kita bicarakan saja landasan filosofis dari content diskusi mereka.

Kemacetan Jakarta memang sudah menjadi keluhan umum yang didiamkan, diterima dan dimaklumi adanya. Orang seperti tidak berdaya melawan keadaan itu, kebingungan mencari alternatif jalan keluar ternyata menimbulkan kemacetan lain lagi pada umumnya. Penetapan three in one, menambah jalur perlintasan alternatif, Mass Rapid Transit atau Busway yang berbasis jalan raya, dan banyak lagi solusi praktis rasa rasanya belum membawa hasil yang melegakan bagi kemacetan itu sendiri. Macet tetap saja menimbulkan efek psikis yang sama; jengkel biarpun itu di mobil pribadi apalagi bergelantungan di bus kota. Pulang kerja, tanggal tua pula! Puih!

Obrolan sms diatas mengandung satu keluhan dari individu yang secara rutin mengkonsumsi kemacetan itu pada setiap hari kerja. Nah! Pada hari kerja saja rupanya kemacetan itu menjadi rutinitas. Sedangkan pada hari hari libur, jalanan menjadi lengang oleh lalu lalang. Orang bahkan bisa bikin acara jalan santai, sepeda santai atau jalan ramai ramai dijalanan protokol Sudirman pada hari libur! Dengan minta ijin kesana kemari dulu tentunya! Tidak diragukan lagi, memang mobilitas kaum pekerja jugalah yang menyebabkan kemacetan itu. Jutaan orang dalam urusannya masing masing memanfaatkan fasilitas jalan yang sama pada saat yang sama. Apakah lantas ada introspeksi yang konstruktif dari pemakai jalan bahwa merekalah sebenarnya subyek dan sekaligus obyek dari kemacetan itu? Tentu tidak. Mereka memiliki hak yang sama untuk menggunakan fasilitas jalan dan kendaraan, mereka dibebani dengan kewajiban yang sama pentingnya atas tuntutan profesi dan kehidupan pribadi masing masing. Harapan mereka, orang lain yang seharusnya mengerti kepentingan egois mereka, jalanan seharusnya tidak menciptakan kemacetan, dan nah ini dia…pemerintah seharusnya tanggap dan cerdas mencari solusi demi warganya!

Orang orang seperti Amadea yang notabene kelahiran Jakarta ataupun orang orang yang bermukim di Jakarta meskipun dilahirkan ditempat lain, memang cenderung terjebak dalam ekslusifias individunya masing masing. Pola seperti itu mau tidak mau memang menjadi budaya kota urban.
Sebagai individu Amadea mengeluhkan tentang kemacetan yang terjadi, dan dengan lancar dia mengungkapkan idealismenya kepada orang yang dianggapnya ada dalam ekslusifitas individunya. Sebuah idealisme berbasis solusi yang lahir dari keluhan terhadap realisme sosial yang semakin mengakar menjadi satu permakluman bersama; macet. Sebuah idealisme yang lagi lagi hanya terkurung dalam lingkaran ekslusifitas individu Jakarta, bukan menjadi wacana dari para pembuat kebijakan tata kota. Apa ini? Apakah Amandea berada di posisi yang tidak seharusnya atau pembuat kebijakan yang memang tidak tepat menduduki kursinya? Somebody put the wrong man on the wrong place? Mohon anda tidak berfikir su’udzon, sebab itu juga bisa menjadi salah satu bibit stress kabarnya. Saya tidak mau tulisan ini nantinya menjadi pemicu salah satu pemicu melonjaknya angka penderita penyakit kejiwaan di Jakarta, lho!

Gagasan Amadea lahir dari keluhan yang terkurung dalam ruang ekslusif itu, terjemahan dari kejenuhan akan keadaan yang tidak lebih baik dari harapannya. Berdasarkan pengalaman pribadinya, di ambillah profil Singapura sebagai contoh pembanding. Dari perbandingan itu pula akhirnya ditarik benang merah, titik pangkal dari penyebab kesemrawutan di jalanan Jakarta; disiplin pengguna jalan, disiplin bangsa! Content diskusi secara sederhana menyadari bahwa produk disiplin bukan pekerjaan tukang sulap atau borongan sehari jadi, karena disiplin jelas memiliki banyak sekali variabel sebagai korelasi. Dan yang paling berdekatan denga degradasi disiplin mental bangsa ini – sekali lagi menurut panelis – adalah pendidikan. Kalau mau lebih jauh lagi, simpul kemacetan bisa diurai sebagai dimensi kultural terhadap perilaku anti disiplin. Disiplin disini kita definisikan saja dengan kepatuhan atas kuasa kesadaran terhadap aturan prosedur yang berlaku secara umum.

Tigapuluh tahun waktu yang dibutuhkan jika ide tentang reformasi sistem pendidikan itu direalisasikan sekarang, jika tidak hari ini ya bisa minggu ini, bulan ini tidak apa apa, atau minimal tahun inipun masih bolehlah. Bukankah bangsa kita termashur fleksibel dalam urusan waktu? Tigapuluh tahun masa yang singkat sebenarnya untuk ‘merelakan’ satu generasi hilang dan membentuk sekaligus melahirkan brand new generation yang beda dengan generasi sekarang. Angka itu jelas bukan muncul dari kajian ilmiah, melainkan opini impulsif semata, ekspresi pesimistik atas kualitas generasi yang sedang hidup sekarang ini. Tapi kita bayangkan saja tigapuluh tahun kedepan dari usia kita yang sekarang, itu tips lagi untuk mengurangi beban protes yang terkadang menjadi bibit stress di kota semegah Jakarta ini. Jadi delivery product dari ide itu begini; sebuah generasi yang berdisiplin yang terbentuk dari satu sistem pendidikan yang integrated, kemudian dalam penerapanya di dalam aktivitas semua sektor dikerangkai satu sistem kebijakan publik yang dikawal oleh praktek hukum yang menekan. Whaalla…! Sebuah generasi yang kembali kepada nurani dasar, bahwa siapapun akan malu hati jika tidak berdisiplin ketahuan ataupun tidak ketahuan oleh khalayak, karena mencerminkan tingkat kemampuan menyerap pendidikan yang diterima rendah alias bodoh, kampungan atau predikat yang meremukkan kebanggaan lainya. Penderitaan si bodoh tidak sampai disitu saja karena masih harus berhadapan dengan sistim hukum yang secara eksplisit dan transparan memberikan tekanan tindakan koreksi tingkah laku. Catat: hukum budaya ini berlaku universal dari pengangguran, preman, pegawai, pejabat, aparat sampai orang gila sekalipun.

Tigapuluh tahun yang akan datang barangkali panelis sudah menjadi kakek nenek yang tinggal punya kenangan bahkan tidak berkepentingan lagi dengan gagasan yang terkurung tadi. Atau bahkan barangkali sudah tidak lagi menjadi penghuni planet bumi, dan masih mengenangkan gagasanya untuk melihat satu generasi yang berdisiplin sehingga tidak ada lagi kemacetan di jalan jalan Jakarta meskipun tembok ekslusifitas pribadi makin tinggi dan kokoh membentengi jiwa setiap orang Jakarta. Toh gagasan itu tidak mempunyai tendensi untuk menghujat, atau menyalahkan siapapun seperti tren saat ini dimana satu persoalan selalu melahirkan kambing berbulu hitam. Kita tidak mengesampingkan bahwa kemungkinan sudah ada gagasan gagasan yang lebih brilian daripada obrolan sms beberapa menit itu dari orang orang yang jauh lebih berkompeten. Terlebih lagi, educated generation form ini bukanlah satu satunya solusi mengatasi macet karena dari setiap kepala orang orang seperti Amandea pasti banyak lagi memiliki ide ide yang terkurung dalam ekslusifisme individu. Mislnya; perbaikan sistem angkutan umum Perilaku masyarakat yang lebih memilih kendaraan pribadi harus segera dirubah. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan paksaan ataupun dengan penyediaan pilihan lain. Angkutan umum yang aman, nyaman dan tepat waktu serta terintegrasi satu sama lainnya merupakan pilihan lain paling logis yang dapat merubah perilaku tersebut. Angkutan umum yang baik juga memberikan peluang bagi semua lapisan masyarakat untuk melakukan perjalanan dengan biaya yang terjangkau dan aksesibilitas yang tinggi dengan dampak lingkungan yang minimall. Nah!

Bagi anda pekerja pemerintah pembuat kebijakan, itung itung daripada bingung bingung menghitung hitung jumlah kendaraan bermotor di Jakarta dan berapa kapasitas ruas perlintasan dan isfrastruktur lainya untuk menampung angka itu. Atau bahkan itung itung daripada dikantor bingung, bacaan ini bisa diplagiat menjadi gagasan institusi; dengan improvisasi sana sini tentunya. Dengan catatan harus ikhlas bahwa tigapuluh tahun yang akan datang generasi baru akan malu makan gaji buta dari kantor pemerintah, dihukum Negara karena menganggur pada jam kerja, apalagi menjiplak gagasan orisinil punya orang lain!


Simatupang, 29 Agustus 2005





Catatan:
Data pada akhir tahun 2004, petumbuhan jumlah kendaraan di DKI Jakarta selama 10 tahun terakhir adalah 11% per tahun, sedangkan pertambahan ruas jalan tidak lebih dari satu persen. Itu pun ruas jalan yang baru dibangun berupa jembatan layang (flyover) dan terowongan (underpass).
Jumlah kendaraan bermotor yang bergerak di Jakarta setiap harinya mencapai 5,6 juta (kendaraan roda dua 53%, mobil pribadi 30%, bis 7%, dan truk 10%). Jumlah itu belum termasuk sekitar 600 ribu kendaraan komuter (pulang-pergi) dari wilayah Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi.
Lebih ruwet lagi karena kendaraan di Jakarta didominasi kendaraan pribadi. Perbandingannya adalah 98 persen kendaraan pribadi dan 2 persen kendaraan umum. Dari total 17 juta orang perjalanan setiap hari, kendaraan pribadi hanya mengangkut sekitar 49,7 persen. Sedangkan 2 persen kendaraan umum harus mengangkut sekitar 50,3 persen. Akibatnya, jumlah penumpang menumpuk di angkutan umum. Sedangkan angkutan pribadi memakan sebagian besar ruas jalan.