Tuesday, September 20, 2005

Catatan Ulang Tahun



Rembulan penuh diatas lapangan Tikala, diatas kepalaku dan diatas tubuh tubuh kumuh yang tertidur dibangku beton membeku, berderet disisi tenggara lapangan yang berseberangan dengan deretan penjaja makanan dan minuman rupa rupa. Sepanjang malam memasak dan sepanjang malam pula orang berdatangan membelanjakan uang, memanjakan keinginan normatif; makan.

Bulan purnama menyapa ketika kaki pegalku melintasi lantai beton sisi lapangan. Malam ini telah kuhadiahkan untuk usiaku yang ke 35 sebuah semangat untuk terus mengecap hidup yang kujalani. Konsistensi atas diri, bukan lagi perenungan atas apa yang terjadi. Beginilah sang air menjalani hidup yang mencair, mengalir mengembara menuju ketiadaan. Menghentikan pencarian dan teruslah mengalir mengikuti katahati.

Rembulan penuh diatas lapangan Tikala depan gedung balaikota memantulkan sinar pucatnya. Diatas sana diantara kekosongan maha luas dia sendiri dalam kecantikanya. Seperti mengajakku menimang diri, betapa sendiri dan kosongnya hidupku meski aku bukan rembulan. Tak ada suara apa apa di atas sana, hanya sinar pucat dan sedikit romantisme basi. Aku kesepian, seperti rembulan penuh diatas lapangan Tikala.

Maka kubawa pulang kenyang, kubawa pula kekosongan jiwaku kekamar hotel. Aku letih dan telah berhenti bertanya tentang diri, sebab hanya mengapa dan mengapa saja pertanyaan itu. Menggubal tak tentuan, menggumpal bagaikan karang kejam dalam dada. Akukah kehilangan semangat hingga menjadi begitu istimewa sebagai hadiah ulang tahunku?

Nun jauh dari ribuan mil tempat raga kosongku berada, seseorang telah memanen kebahagiaanku enam bulan lalu untuk dihadiahkan sebagai ulang tahunku. Dihadiahkanya kepadaku keperihan hidup dan kebusukan hingga akhir hayat. Dari 35 sampai tak terhingga, sebab usia hanyalah misteri belaka. “Selamat ulang tahun, semoga abadi kehancuran hatimu” ucapnya tertulis pada selembar daun kenangan….

Maka kuterima jatah hidupku, menjadi catatan kenangan bahwa 35 tahun setelah bunda melahirkanku aku telah menjadi sebuah jiwa yang penyok penyok, menjadi sebuah hati yang hancur lebur sampai mati…kepadamu yang pernah begitu kucintai, hadiah ini kuterimakan dengan senyum kusembunyikan. Sebab, sejak sekarang aku bukanlah lagi aku yang selama 35 tahun belakangan…

Selamat ulang tahun, diri….selamat ulang tahun jiwa yang merana…semoga perihmu abadi, semoga deritamu terbawa mati….


La Casa 106, Tikala – Manado, Selasa, 20 September 2005

2 comments:

Anonymous said...

Maaf jika comment ini menyakitkan ... tp setelah aku membaca tulisanmu itu ... apa yg aku tangkap adalah ...dihari ultahmu itu (bahkan walau itu bukan hari ultahmu) kamu merasa kesepian dan kehancuran yg mendalam ... entah dari siapa sesungguhnya ... tp yg jelas bukan hanya dari orang yang tersebut dan tersirat di dalam tulisanmu. Kalupun kamu hancur ... tp kamu tetap berusaha mencari sesuatu yangbisa menghiburmu jika seperti sekaranglah dirimu itu. Tp aku tidak menyalahkan kamu atau siapapun krn sayapun merasakan hal yang sama ... tp saya yakin dunia berputar dan akan datang masanya bahwa semua akan berubah kearah yang lebih baik dan lebih baik lagi sejauh kita masih mau tetap berjuang dan berusaha. OKEH ... RANI

Anonymous said...

Ulang Tahun...nice day ha,i dont thingk so...kamu terlalu capek dengan segala yang terjadi dalam hidupmu.Kesepian,kegagalan dan kehancuran yang kamu rasakan akan menjadikan kamu orang yang lebih kuat dalam menghadapi hidup,so hadapi semua itu jangan menyesali apa yang terjadi.semua ada masanya,carilah kebahagian kamu di hari yang baru teman.(stansye)