Friday, October 07, 2005

Keadilan Bagi Ketidakadilan

Maka kantor kecil dengan ide besar itupun resah. Empat pendiri dan pemilik perusahaan sebagai direktur divisi masing masing, Operasi, Keuangan, Utama dan Pemasaran. Masing masing berjalan dalam proporsinya selama dua setengah tahun, dan masing masing saling mengandalkan dan mempercayai. Tetapi mereka tampak tegang seminggu belakangan ini. Desas desus beredar bak asap kebakaran hutan setiap musim kemarau di Sumatra dan Kalimantan. Desas desus bahwa direktur operasi kesandung kasus korupsi. Seminggu belakangan memang ruanganya lengang tanpa penghuni. Biasanya dia ada duduk didalamnya, menutup pintu entah apa yang dikerjakanya didalam sana, mungkin chatting di inernet.

Sore tadi pengumuman resmi datang. Semua yang bersangkutan dengan harkat hidup yang berasal dari kantor itu dikumpulkan untuk mendengarkan maklumat penting: He is no longer with us. We respect you and value you personally as the big family of this company. However, we will not tolerate corruption, theft and office politics. We understand that many of you are the good friends of him, and once again we will not tolerate office politics. Tiga perempat orang diruangan setengah tercengang. Sebagian duduk di lajur bangku paling depan, tenang mendengarkan kata demi kata yang keluar dari bibir sang pembicara. Hatinya tenang dan senang jauh hari sebelum maklumat dikumandangkan, dia tahu apa sebenarnya kejadian.

Sang direktur operasi menggelapkan uang perusahaan, hasil patungan bersama ketiga teman. Seorang kaya yang bergaya hidup jetset, seorang terpandang dalam status komunitas yang berwatak preman. Bicaranya kasar dan dangkal, tak membersitkan cermin pimpinan. Sisa produk orde baru dengan predikat OBB (Orde Baru Banget) dalam setiap statement yang diucapkan. Kosong melompong tak meyakinkan bagi orang orang yang mengerti tentang hidup dan kehidupan, apalagi peradaban. Sebentar lagi desas desus susulan akan segera berhembus; sang direktur dizalimi oleh teman teman sepermainanya sendiri! Pasti!

Maka keadilan bagi ketidak adilan terjadi hari ini. “Becik ketitik olo ketoro, temen tinemu. Sopo salah bakal seleh” terbukti benar. Protes bisu dari nurani nurani sederhana sudah terjawab oleh alam. Protes dari sebagian yang tahu makna kebusukan hati dan kebobrokan moral yang terukurung dalam langit tempurung birokrasi kapitalisme. Maka feodalisme di dunia kantor itupun tumbang, mati bersama runtuhnya kerajaan kebohongan yang sistematis terbangun selama ini. Para pengkultus sang direktur menggelar rapat rapat dibelakang forum, mengarang kesimpulan tentang kudeta dari hati yang bolong, mempersiapkan sederet nama sebagai kambing hitam legam.

Wajar, bila orang memetik buah karma dari pohon perbuatan yang ditanamnya sendiri, tak peduli siapapun dia. Begitulah Tuhan menciptakan keadilan bagi ketidak adilan dimuka bumi yang makin tua ini…

Kost Simatupang, 6 Oktober 2005

Dunia Kanan dan Dunia Kiri

:crawford

Pada suatu kesempatan di toko buku Gramedia sekitar dua bulan yang lalu, sekilas saya membaca judul buku yang menggoda” Selingkuh; seni bercinta atas kuasa bohong” Whew! Dan saya tidak tertarik samasekali untuk mendekatinya. Dikarenakan teori teori yang terkandung didalamnya pastilah rumusan rumusan basi atas telaah perilaku sosial, dan sedikit saja mengupas tentang bagaimana pokok permasalahanya tenggelam dalam kedalaman kolam emosi. Barangkali begitu. Dan karena saya tidak punya minat untuk mengetahuinya, maka saya biarkan pikiran apriori menguasai, toh gratis malahan!

Seratus persen saya setuju bahwa selingkuh adalah seni bercinta atas kuasa bohong. Bagi siapapun, kata kata ‘bohong’ pastilah mengandung energi pukulan yang lumayan keras di nurani, atau minimal ke hati-lah. Tulisan ini tidak akan mengkritisi buku diatas yang ditulis entah oleh siapa, apalagi menjadi resensi buku itu. Seorang teman laki laki sempat bertualang didunia tersebut dengan dan bagi saya lebih mudah untuk menganalisa dan menyimpulkannya. Begini pandangan pandanganya;

Dibalik setiap jiwa manusia terpenjara sifat kebinatangan, bahkan manusialah sebenarnya binatang yang paling sempurna dimuka bumi. Kemudian jiwa itu sendiri terkurung oleh jasad duniawi secara fisik dan itupun masih dilapisi dengan tatanan peradaban kehidupan sosial sebagai zon politicon. Tatanan itu lebih ampuh yang tidak tertulis bagi bangsa kita, seperti agama, norma, dan tentu adat tradisi. Itulah parameter terakhirnya. Tatanan kehidupan sosial, aturan peradaban. Jelas itu produk budaya hasil dari revolusi jutaan tahun kehidupan umat manusia.

Definisi dunia kanan dan dunia kiri adalah sebenarnya penjabaran dari apa yang disebut perselingkuhan, sebuah seni bercinta atas kuasa bohong seperti judul buku di Gramedia itu. Dunia kanan adalah dunia dimana peradaban dan semua aturan kepantasan diberlakukan. Dunia ini biasanya berisi anak, istri atau suami, keluarga dan investasi social lainya berupa rumah tangga dan tetek bengek yang menyertainya.

Dunia kiri lebih bersifat inklusif, berisikan tentang khayalan khayalan, ilusi bahkan fantasi yang diwujudkan bersama seseorang dalam satu buah hubungan tahu sama tahu yang lebih sering dinamakan Selingkuh (Selingkuh sering diistilahkan dengan SLI – Selingkuh Itu Indah- adalah sebuah perhubungan khusus dengan seseorang lain jenis yang disembunyikan rapi dibalik tembok dunia kiri. Batasanya seperti apa, tidak ada literatur manapun yang bisa dijadikan acuan lantaran dunia kiri mengikuti kebebesan alam fikiran ibaratkan sebutir debu dilangit biru, bebas mengembara, bebas menentukan rasa, bebas menentukan pembatas bagi dunianya sendiri. Pada umumnya, dunia bathin yang bebas tidak mengenal batasan, apakah itu hanya sekerar bed relationship atau lebih dalam lagi dengan melibatkan perasaan. Teman saya itu pernah juga mengalami dimana pasangan dunia kiranya terlalu tenggelam dengan perasaan melangkolis; jatuh cinta dan berencana meng'kanan'kan dunia kiri itu no matter what it takes!! Yang didapatkan si istri orang ini jelas: ketahuan suaminya, diceraikan dan ditinggalkan sama pasangan dunia kirinya karena tidak bisa konsisten dengan komitmen dunia kiri dan kanan. Akhirnya si eks istri orang itu hidup dalam ketidak menentuan, melacur di kafe kafe menggabungkan dunia kiri dan kanan tanpa batasan. Itu mengenaskan menurut saya.

Dunia kanan dan dunia kiri dibatasi oleh tembok kokoh bernama nurani. Dunia kiri hidup dalam kebun rahasia tiap tiap manusia, sedangkan dunia kanan mengemban segala macam batasan kewajiban hukum, peradaban, ikatan komunitas. Antara dunia kanan dan dunia kira sebenarnya adalah kutub kontradiktif, dimana masing masing dunia itu memiliki perwatakan dan sifat yang saling me-latenkan, saling mewaspadai, saling menakuti, dan saling mengiri.

Pecahnya tembok pembatas antara dua dinia itu bisa menyebabkan banjir bandang segala macam, mulai dari rasa malu, rasa tidak terhoramti, rasa tidak terbutuhkan, rasa terhina, rasa terkhianati, rasa terdzalimi, atau ribuan rasa negatif lainya yang bisa menghancurkan. Dunia kiri adalah laten bagi dunia kanan, dan yang paling parah dari akibat kemenangan dunia kiri adalah; perceraian.

Dunia kiri jauh lebih menarik karena faktor kerahasiaanya, petualangan bathin atas mengalami sesuatu yang baru bersama lawan jenis yang bukan pasangan hidup, sebuah tantangan yang berbahaya dan gairah yang membuncah karena magnit lawan jenis. Dunia kiri yang sempurna mengenal batasan batasan yang sangat ekstrim, serperti dilarang bersms atau menelpon ketika berada dilain dunia, dsb. Sekaligus memiliki ketidak terbatasan dalam pelaksanaanya, fikiran dan kemampuan berfantasilah ukuranya.

Apapun definisi dan kedahsyatan petualangan yang terjadi, tetap saja disimpulakan bahwa dunia kiri adalah produk seni bercinta atas kuasa bohong…nista namun nikmat! Penyakit umat manusia sejak zaman Adam dan Hawa...


TB Simatupang, 6 Oktober 2005

Thursday, October 06, 2005

Revolusi Cinta

Ketika seseorang memutuskan untuk menikahi lawan jenisnya, alasan universalnya adalah karena cinta. Lalu membentuk sebuah lembaga pribadi bernama rumah tangga, sebagai investasi sosial. Ketika rumah tangga mengikat cinta, maka terminologi cinta berubah pula menjadi ikatan kewajiban, ikatan tanggung jawab dan ikatan hukum yang melekat kepada negara, masyarakat dan pasangan. Ikatan ikatan itu terkadang menjadi kabur dan menjelma menjadi sebuah ikatan yang tak telindungi hukum materi; ikatan emosional. Keruwetan konstruksi rumah tangga itu bisa saja disederhanakan dengan begini; menikah adalah memilih seseorang untuk saling mengikat dalam setiap aspek sosial maupun personal, dengan landasan kerelaan terlibat secara emosional berdasarkan cinta kasih.

Dan ketika dua individu itu disatukan atas dasar keinginan maka terbangunlah mimpi dan harapan. Dunia memang selamanya tidak berubah, tetapi manusialah sesungguhnya yang berubah. Waktu terkadang memberi ajaran tentang betapa tidak ada apapun yang akan abadi dikolong langit ini. Cinta, sang modal investasi sosialpun kadang tergerus dan berubah bentuk seiring perjalanan zaman. Degradasi cinta membuat segala ikatan itu menjadi sumir, tak bermaka apa apa kecuali sederet kewajiban. Karena cinta adalah energi jiwa mencari pelepasan dan penampungan, maka bentuk cinta yang telah melorot maknanya itupun kelayapan mencari ‘rumah’nya yang ideal. Pengembaraan energi cinta ini melawan arus moralitas nurani dan memberikan kuasa bohong kepada hati untuk terus mencari dan menari wahana ekspresi; satu individu baru.

Maka investasi sosial itu menjadi bangkrut kehilangan esensinya. Hanya sebatas status suami istri belaka, itupun telah berada diujung tebing menunggu hari baik datang dimana angin mendorong masuk kejurang kehancuran. Masing masing pemegang saham dalam lembaga cinta itu sekian lamanya mengubur hak pribadi mereka, selamannya mematikan fantasi fantasi pribadi mereka dan berpura pura menjadi suami dan istri agar sang lembaga cinta tetap bernafas. Tali tali yang mengikatnyapun telah lapuk oleh penghianatan atas nurani maupun harga diri individu dan perlahan menyebabkan simpul simpul ikatan itu mengendur dan siap untuk luruh menjadi debu.

Ketika itu terjadi, maka jelaslah bahwa kehancuran sudah lengkap menjulang didepan mata, maka yang dibutuhkan tinggal revolusi cinta. Dengan rela meski berat melepaskan semua ikatan membawa semua bekal pengalaman untuk perjalanan lain lagi. Perceraian adalah revolsi cinta yang paling ekstrim, hingga yang tersisa hanya rasa bahwa kita tidak pernah merasa memiliki apapun sampai kita kehilangan sesuatu. Runtuhnya sebuah lembaga cinta adalah kehilangan investasi sosial karena cinta yang bangkrut. Ikatan emosi telah meredupkan nyala terang sang rasionalitas yang seharusnya menjadi panel sentral sebuah revolusi. Pada giliranya rasionalitas akan menjadi tembok kokoh pelindung diri dari kesedihan yang berkepanjangan, dari derita yang berkelanjutan. Ketika rasionalitas menjadi raja atas intuisi, maka cinta hanya sekedar dua hati yang berdiri tertanam dikutub berlawanan, kehilangan energi magnetik yang mengikat dalam eksistensi lembaga cinta dalam percturan peradaban.

Dimana mana revolusi membutuhkan darah sebagai tumbalnya, meninggalkan perih sebagai catatanya, maka bijaklah mereka yang memilih pasangan hidup dari golongan orang dimana merka tidak bisa hidup tanpanya.

Kost Simatupang, 5 Oktober 2005

Wednesday, October 05, 2005

Setelah Bali Meledak Lagi


Senja lepas dari mayapada. Dari tepi pantai Kuta, matahari baru saja lindap dibalik garis horizontal yang menyisakan bias merah menggelap diangkuti ombak yang lantas mendamparkanya ditepian, amblas dihisap pasir putih sepanjang bibir samudera. Diatas pasir, ditepi pantai dan dibawah langit meja meja kayu telah rapi ditata, orang orang enggan melepas matahari keperaduan, menatapi ujung barat yang tinggal pekat. Lazuardi bening. Sabtu malam baru mulai, eksotisme Bali membuncah pada atmosphere yang tecipta disetiap sudut kota. Lalulintas jalan seminyak begitu bersemarak menyambut datangnya malam minggu pada tanggal muda 1 Oktober 2005. Tak ada duka yang tersembunyi dari ribuan kepala dan hati yang berkelana disetiap ruang sepanjang jangkauan sinar lampu. Kemesuman membisik malu malu pada malam yang belia. Dewata sedang bercengkerama dengan semua penghuni kehidupan disana, diberkati setiap tawa yang meledak dari mana mananya.

1942WITA, sebuah gelegar dahsyat terdengar dari Raja’s cafĂ©. Menit berikutnya dua ledakan serupa membahana dari pantai Jimbaran* ketika orang bercengkerama bersama kekasih hidup mereka dibawah langit, diatas pasir, ditepi samudera kafe Manage dan kafe Nyoman. Ledakan itu menjadi titik kulminasi yang membalikkan kisah dari hitam ke putih, memberangus romantisme kehidupan yang berlaku, mengubah ketenteraman menjadi malapetaka. Detik berikutnya kepanikan merajalela. Manusia, kendaraan dan segala jenis kekacauan bebas menghambur dijalan jalan dan dimanapun. Suara klakson mengiringi jeritan dan teriakan, disusul lengking berpuluh ambulans menambah resah. Hati hati yang ceria berubah menjadi gelap gulita. Dewata entah ada dimana, mengilang seketikan dari dalam hati dan kepala. Asap pekat membumbung, segala keteraturan berhamburan acak tak tentuan. Sebuah aksi terror baru saja sukses dilaksanakan!! Sebuah tindakan dengan tujuan untuk melahirkan efek takut dan terancam; terorisme.

27 orang berubah menjadi mayat; tewas dengan tubuh compang camping, sedangkan 129 lainya harus dirawat masuk IGD rumah sakit karena luka yang kebanyakan karena terbakar dan cedera tulang. Korban tidak dipilih berdasarkan kriteria dosa dan kebejatan ahlaknya, tetapi random berdasarkan peruntungan hari naas masing masing, dari bocah, manula, remaja, dewasa bahkan binatang sekalipun menjadi korban - meskipun tidak masuk dalam hitungan angka statistik ‘death toll’ resmi - . Polisi kita dengan detasemen 88 antiteror andalanya cekatan bertindak. Dua hari setelah kejadian polisi menyimpulkan; modus operandi: suicide bombing. Pelaku: tiga orang pria, tinggal kepala doang. Identitasnya, dalam proses penyidikan.

Dunia mengecam aksi kriminal sadis ini. Bahkan semua orang yang msih punya nurani menghujat tiga butir kepala si pelaku peledakan. Sikap kelompok pelaku yang banci membisu tak berani mengklaim sebagai fihak yang bertanggung jawab membuat banyak fihak dan banyak orang menyampaikan analisa, terkumpul menjadi teori berdasarkan penguasaan materi dibumbui dengan asumsi teknis. Dari banyak ‘narasumber’ sukarela itu ditarik garis garis besar sebagai berikut; pelakunya dicurigai adalah kelompok islam radikal Jamaah Islamiyah. Motifnya, bisa memang terror murni anti Amerika dan Australia yang memanfaatkan kealpaan popularitas Bali sebagai media atau serangan terhadap sistem demokrasi Indonesia yang menghisap Bali habis habisan atau “SMS” kepada dunia bahwa institusi keamanan di Indonesia loyo atau pukulan terhadap arogansi Bali yang notabene mayoritas Hindu karena issue tuntutan otonomi khusus bahkan ada yang dengan sinis menyimpulkan aksi itu adalah gaya mengalihkan perhatian orang terhadap kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM yang mencekik leher dan mengeksploitasi keberadaan keluarga miskin.

Teori teori diatas menjadi tidak penting ketika fakta menunjukkan bahwa tigaperempat lebih korban ledakan adalah orang Indonesia sendiri dan 100% adalah tidak mengerti seluk beluk misi terorisme (kecuali ketiga korban yang hanya tinggal kepala, tentu). Obyek yang diserangpun bukan lagi gedung, bangunan ataupun instalasi vital milik negara lain, tapi tempat umum yang biasa dipakai untuk rendezvous, kongkow kongkow.

Dalam pemahamanku, aksi brutal itu tetaplah perbuatan diluar batas ukuran orang bermental sehat, bodoh dan destruktif. Siapapun pelakunya adalah manusia yang sangat patut dikasihani karena kemelaratan nuraninya. Atau lebih patut diterapi karena kesesatan jiwanya. Ada pribadi invalid telah menebarkan virus budi pekerti kepada orang orang bodoh yang bisa didoktrin untuk menjadi monster dengan iming iming surga berlabel agama yaitu dengan melilitkan bahan peledak sejenis Trinitrotoluena (TNT) dengan imbalan perjalanan aman menuju surga. Menurutku sistem pengajaran akidah di negeri tercinta ini masih bersifat konservatif dimana agama dijejalkan diotak sebagai ideologi akal dan Tuhan diperkenalkan sebagai ‘algojo’. Seyogianya agama diperkenalkan sebagai sebuah ideologi nurani sebagai dasar dan patokan berperilaku sedangkan Tuhan adalah sang causa prima, pengawal nurani setiap jiwa. Dalam sejarahnya, agama timbul sebagai reaksi korektif dari kemerosotan budi pekerti pada suatu kaum. Ajaran dasarnya universal, yaitu cinta kasih kepada semua mahluk. Cinta kasih adalah sumber dan akar dari budi pekerti yang seyogianya menjadi dasar dari sikap hidup penuh harmoni. Perkembanganya, agama menjadi tunggangan bagi segelintir orang ambisius dengan pemahaman yang keliru untuk mengkampanyekan agenda individualistik terselubung dalam kamuflase agama.
Type orang seperti itu aku namai saja; Bajingan!


Kost Simatupang, 04 Oktober 2005



* Pantai Jimbaran: dimana pada sebuah sore November 1992 aku dengan ceria memunguti puluhan ikan layang layang yang terdampar, mabok oleh angin pancaroba dan perubahan suhu di samudera Hindia. Kubawa pulang ke gubukku dan berpesta bersama Blackie, anjing kecil hitamku yang mati tertabrak mobil dua bulan kemudian di depan Santa Fe bar and grill Jl, Dhyana Pura 11A, Seminyak – Kuta.


.





MARHABAN YA RAMADHAN



Besok Ramadhan datang lagi. Ritual puasa sebulan penuh dimulai. Hari ini demonstran menolak kenaikan harga bahan bakar minyak masih meramaikan jalan jalan protokol Jakarta. Dua ribuan massa bergerombol dan membuang engergi sekaligus mengganggu pengguna jalan di seputaran HI dan dekat RSCM. Dari mushola samping kostku suara orang bertadarus mendayu dayu lewat corong loudspeaker. Entah surah apa yang dibacanya, entah apa pula maknanya.

Dikantor, sore tadi menjelang pulang orang bersalam salaman, meminta maaf dan mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Harmonisasi komunitas ataukah bagian dari ritual Ramadhan, tak perlu dipertanyakan karena memang bagus demikian diadakan, meninggikan rasa kehormatan dan penghargaan terhadap satu kepercayaan bathin, tuntunan perilaku dan mungkin sebagian orang lagi adalah komunikasi vertikal antara mahluk dan sang Khalik.

Ramadhan tahun ini berangkat dengan bobot yang sedang sedang saja dalam ukuran pendalaman kebatinan pribadi. Puasa, yang pada hakekatnya adalah pengendalian diri lebih merupakan momentum rutin yang tercetak baku dalam konsepsi masa. Seperti tahun kemarin, seperti tahun yang akan datang, Ramadhan akan datang. Nilai “kesucian” seperti yang dikampanyekan ahli dakwah belum datang menyentuh kedasar sanubari yang bisa meluruhkan segala jenis kegersangan dalam jiwa. Aku menunggu hidayah, sebab hanya bisa menunggunya.

Selamat datang Ramadhan. Selamat datang bulan suci, aku menyambut dengan ucapan. Melewatinya dan menjadi catatan yang tak teramalkan. Tetap, duapuluh empat jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu berjalan, meski bulan suci Ramadhan datang, hingga tiba hari lebaran….bulan depan.
Setidaknya, abab kita bau wangi bunga kesturi kata Mami Sita…kejadian langka, bukan?!

MARHABAN YA RAMADHAN….SELAMAT DATANG BULAN PENUH BERKAH DAN KESEMPATAN….


Simatupang, 4 Oktober 2005.

Friday, September 23, 2005

Makelar Mimpi


Aku bukan MD* bukan YT* ataupun RD*. Bukan type ketiganya sekaligus bukan type salah satunya. Bukan. Mereka bisa memanivestasikan sisi kemanusiaan ke sisi apapun yang mereka mau. Tapi aku bukan mereka. Aku ingin menjadi makelar mimpi.

Siapa yang menjual mimpi, tolong beritahukan kepadaku sebab aku punya pembelinya. Semua jenis mimpi akan dihargai amat mahal semau kalimat yang keluar dari mulut. Total transkasi belah semangka, begitulah ‘deal’nya.

Maka para pemimpi menyetor komoditi. Karena aku makelar mimpi, akupun jadi pemimpi. Bermimpi Tuhan tiba tiba menjadi amat pemurah hati, memberi rejeki lewat jual beli mimpi. Empat ratus juta rupiah tiba tiba ditangan, hanya dengan modal mimpi doang!

Untuk informasi, mimpi telah menjadi kemewahan bagi jiwa jiwa yang lelah mencari dan letih berkelahi dengan hidup kenyataan. Dipasar mimpi segalanya bisa terjadi tanpa harus mengejawantahkan diri sebagai anu atau membuat anu. Orang orang kalah menciptakan komunitas mimpi sebagai penghiburan atas ketidak berdayaan, atas kemiskinan yang mencekik leher. Sederhana saja, tanpa referensi ataupun katabelece dari siapapun, hanya perlu telinga dan mulut yang sedikit berbusa. Itu saja.

Inilah makealar mimpi dijagat nyata, dibumi manusia. Memperdagangkan kemustahilan dan terbayar dengan impian; jadi kaya. Tak apa, memang layak si kalah hanya tinggal mimpi. Beruntung malah, sebab sebagian lagi orang telah bangkrut sampai mimpipun tak punya…

La Casa Tikala 106, 22 September 2005
* Tokoh LSM Sulut yang konsisten memperjuangkan hak rakyat Buyat.

Thursday, September 22, 2005

IM3 Corner Manado



Disaksikan rembulan yang malu malu muncul diperadaban bumi, kuhirup anyir pasir lautan dan sayup gelisah lautan pantai Boulevard di teluk Manado. Eksotisme kota ini telah menjadi kemesuman menjijikkan dijiwaku yang sakit. Aku merindukan kamar hotelku yang kosong sunyi ketika dialog meliuk bagaikan puting beliung. Kebisingan kulalui bagaikan mute mode dalam layar TV. Sunyi dihati.

Ah, musik dari loudspeaker itu, bikin aku muak ingin muntah. Musik yang mendengingkan dendam dan menayangkan badut dengan cemoohan atas diri yang terpecundangi. Lampu lampu berbisik tentang kasak kusuk sepanjang pantai, ketika orang orang berpasangan bergandengan berlalu dari hadapan. Entah apa yang diperbuat dalam gelap sana!

Dan dialog kami terus saja berkisar. Dua jam duduk untuk satu gelas teh jeruk nipis hangat, ketika coklat panas tak tersedia. Dinegeri tropis tanah airku sendiri dimana jutaan hektar bidang tanah ditanami kakao, dan aku gagal menikmati coklat panas yang sudah mengepul dikepala. Dan obrolan terus saja berkisar, dan musik terus saja mengalun, bagai palu godam dalam fikiran.

Angin datang dan pergi sesuka hati, kadang kencang kadang sepoi. Mejaku kini penuh gagasan gagasan penutup lubang menganga atas siapa diri. Aku menjadi idealis jalanan paling dominan tiba tiba, bicara tentang Jalan Roda dalam perspektif sederhana. Bicara tentang kota ini dalam ketidak pedulianku yang sesungguhnya.

Tempat ini telah menjadi bedebah dalam diriku. Eksotismenya terterjemahkan menjadi kemesuman menjijikkan dikepalaku. Aku ingin pulang, kekamar hotelku yang senyap menenteramkan…




IM3 Corner Megamas – Manado, 21 Septmber 2005

Tuesday, September 20, 2005

Catatan Ulang Tahun



Rembulan penuh diatas lapangan Tikala, diatas kepalaku dan diatas tubuh tubuh kumuh yang tertidur dibangku beton membeku, berderet disisi tenggara lapangan yang berseberangan dengan deretan penjaja makanan dan minuman rupa rupa. Sepanjang malam memasak dan sepanjang malam pula orang berdatangan membelanjakan uang, memanjakan keinginan normatif; makan.

Bulan purnama menyapa ketika kaki pegalku melintasi lantai beton sisi lapangan. Malam ini telah kuhadiahkan untuk usiaku yang ke 35 sebuah semangat untuk terus mengecap hidup yang kujalani. Konsistensi atas diri, bukan lagi perenungan atas apa yang terjadi. Beginilah sang air menjalani hidup yang mencair, mengalir mengembara menuju ketiadaan. Menghentikan pencarian dan teruslah mengalir mengikuti katahati.

Rembulan penuh diatas lapangan Tikala depan gedung balaikota memantulkan sinar pucatnya. Diatas sana diantara kekosongan maha luas dia sendiri dalam kecantikanya. Seperti mengajakku menimang diri, betapa sendiri dan kosongnya hidupku meski aku bukan rembulan. Tak ada suara apa apa di atas sana, hanya sinar pucat dan sedikit romantisme basi. Aku kesepian, seperti rembulan penuh diatas lapangan Tikala.

Maka kubawa pulang kenyang, kubawa pula kekosongan jiwaku kekamar hotel. Aku letih dan telah berhenti bertanya tentang diri, sebab hanya mengapa dan mengapa saja pertanyaan itu. Menggubal tak tentuan, menggumpal bagaikan karang kejam dalam dada. Akukah kehilangan semangat hingga menjadi begitu istimewa sebagai hadiah ulang tahunku?

Nun jauh dari ribuan mil tempat raga kosongku berada, seseorang telah memanen kebahagiaanku enam bulan lalu untuk dihadiahkan sebagai ulang tahunku. Dihadiahkanya kepadaku keperihan hidup dan kebusukan hingga akhir hayat. Dari 35 sampai tak terhingga, sebab usia hanyalah misteri belaka. “Selamat ulang tahun, semoga abadi kehancuran hatimu” ucapnya tertulis pada selembar daun kenangan….

Maka kuterima jatah hidupku, menjadi catatan kenangan bahwa 35 tahun setelah bunda melahirkanku aku telah menjadi sebuah jiwa yang penyok penyok, menjadi sebuah hati yang hancur lebur sampai mati…kepadamu yang pernah begitu kucintai, hadiah ini kuterimakan dengan senyum kusembunyikan. Sebab, sejak sekarang aku bukanlah lagi aku yang selama 35 tahun belakangan…

Selamat ulang tahun, diri….selamat ulang tahun jiwa yang merana…semoga perihmu abadi, semoga deritamu terbawa mati….


La Casa 106, Tikala – Manado, Selasa, 20 September 2005

Tuesday, August 30, 2005

Jakarta, macet dan SMS


“Ufh…I am trapped in a traffic jam. Streets of Jakarta is really unpredictable” Amadea sms pada jam sembilan belas lewat tigapuluh menit tigapuluh sembilan detik, hari Senin minggu terkhir bulan ini. Di sudirman katanya, dalam perjalanan pulang dari kantornya di kawasan Hayam Wuruk ke rumahnya di Cinere.
“Yup! I heard a lot about that. What do you think government should do about it?” begitu tertulis di layar handphone dari antah berantah dalam format sama; sms.

“ Perbaiki kondisi angkutan umum, so the society lebih memilih naik angkutan umum daripada mbl pribadi. Contoh: Singapore. Angkat jempol buat angkutan umum disana. The keyword is: disiplin. Do u think Indonesia could do that?”
.
“ Not in d next 30 years I reckon. It is the matter of discipline. I agree. It is the mentality of the whole nation, -jkt community particularly. I think we can start from education plan”.
“ Indonesia disiplin? Berapa generasi lg ya? Dari segi edukasi kita ketinggalan many steps behind. Maybe we’ve lost 1 generasi penerus bangsa…”

“30yrs is when the next generation will be in charge. Idealnya kita yang menyiapkan pddkan bwat mereka sekarang. Sbh sistem pddkn yang komprehensif dan terevaluasi, tapi harus dibarengi policy yang ketat dalam prakteknya. Hukum harus dikawal scr represif. Ufh…I am out! Honestly I know nothing of what I was talking about”

Anda jangan salah, obrolan sms itu bukan keluar dari hape ekspatriat yang kebetulan tinggal dan bekerja di Jakarta, tapi dari dua orang laki laki perempuan dengan usia hampir sama, orang Indonesia satu bersuku Jawa dan satu bersuku Batak. Jangan pula kaget dengan bahasa yang mereka pergunakan, karena dalam dunianya bahasa itu justru lebih ekspresif dan sederhana! Bahasa seperti itu relatif jamak digunakan dalam komunitas eksekutif muda Jakarta. Campur aduk, yang penting komunikatif dan ekspresif. Dan kita tidak sedang dalam forum tata bahasa, kan?

Anda salah lagi kalau mengira obrolan kritis itu keluar dari pemikiran dua orang yang memang berkecimpung dalam dunia profesi yang sama, atau orang orang yang memang berkutat dengan kepedulian terhadap keadaan sosial kemasyarakatan, apalagi Lembaga Sosial Masyarakat. Bukan, si wanita bekerja di bidang civil engineering pada divisi tehnik sedangkan si laki laki bekerja dibidang Badan Usaha Jasa Pengamanan dan Penyelamatan pada bagian Operasi. Sama sama tidak ada konteks langsung dengan pekerjaan mereka. Wacana diskusi itu mengalir spontan atas apa yang mereka rasa, lihat dan alami semata.

Minimal dua orang itu sudah saling mengenal sangat lama? Oh, anda kurang tepat jika berprasangka seperti itu. Mereka kenal di dunia cyber lewat Yahoo Messenger barulah lima hari yang lalu dari computer di kantor mereka masing masing dan hanya itu. Mereka tidak pernah bertemu secara fisik di dunia real. Tetapi justru dunia maya itu barangkali yang membuat mereka berkomunikasi dengan bahasa fikiran dan bathin mereka, mengesampingkan embel embel hukum materi maupun yang melingkupi karakter peradaban secara fisik, termasuk latar belakang pendidikan. Sarjana tehnik dan seorang tamatan SMTA!
Sudahlah, kita kesampingkan profil dua panelis kita ini, sedikit kita bicarakan saja landasan filosofis dari content diskusi mereka.

Kemacetan Jakarta memang sudah menjadi keluhan umum yang didiamkan, diterima dan dimaklumi adanya. Orang seperti tidak berdaya melawan keadaan itu, kebingungan mencari alternatif jalan keluar ternyata menimbulkan kemacetan lain lagi pada umumnya. Penetapan three in one, menambah jalur perlintasan alternatif, Mass Rapid Transit atau Busway yang berbasis jalan raya, dan banyak lagi solusi praktis rasa rasanya belum membawa hasil yang melegakan bagi kemacetan itu sendiri. Macet tetap saja menimbulkan efek psikis yang sama; jengkel biarpun itu di mobil pribadi apalagi bergelantungan di bus kota. Pulang kerja, tanggal tua pula! Puih!

Obrolan sms diatas mengandung satu keluhan dari individu yang secara rutin mengkonsumsi kemacetan itu pada setiap hari kerja. Nah! Pada hari kerja saja rupanya kemacetan itu menjadi rutinitas. Sedangkan pada hari hari libur, jalanan menjadi lengang oleh lalu lalang. Orang bahkan bisa bikin acara jalan santai, sepeda santai atau jalan ramai ramai dijalanan protokol Sudirman pada hari libur! Dengan minta ijin kesana kemari dulu tentunya! Tidak diragukan lagi, memang mobilitas kaum pekerja jugalah yang menyebabkan kemacetan itu. Jutaan orang dalam urusannya masing masing memanfaatkan fasilitas jalan yang sama pada saat yang sama. Apakah lantas ada introspeksi yang konstruktif dari pemakai jalan bahwa merekalah sebenarnya subyek dan sekaligus obyek dari kemacetan itu? Tentu tidak. Mereka memiliki hak yang sama untuk menggunakan fasilitas jalan dan kendaraan, mereka dibebani dengan kewajiban yang sama pentingnya atas tuntutan profesi dan kehidupan pribadi masing masing. Harapan mereka, orang lain yang seharusnya mengerti kepentingan egois mereka, jalanan seharusnya tidak menciptakan kemacetan, dan nah ini dia…pemerintah seharusnya tanggap dan cerdas mencari solusi demi warganya!

Orang orang seperti Amadea yang notabene kelahiran Jakarta ataupun orang orang yang bermukim di Jakarta meskipun dilahirkan ditempat lain, memang cenderung terjebak dalam ekslusifias individunya masing masing. Pola seperti itu mau tidak mau memang menjadi budaya kota urban.
Sebagai individu Amadea mengeluhkan tentang kemacetan yang terjadi, dan dengan lancar dia mengungkapkan idealismenya kepada orang yang dianggapnya ada dalam ekslusifitas individunya. Sebuah idealisme berbasis solusi yang lahir dari keluhan terhadap realisme sosial yang semakin mengakar menjadi satu permakluman bersama; macet. Sebuah idealisme yang lagi lagi hanya terkurung dalam lingkaran ekslusifitas individu Jakarta, bukan menjadi wacana dari para pembuat kebijakan tata kota. Apa ini? Apakah Amandea berada di posisi yang tidak seharusnya atau pembuat kebijakan yang memang tidak tepat menduduki kursinya? Somebody put the wrong man on the wrong place? Mohon anda tidak berfikir su’udzon, sebab itu juga bisa menjadi salah satu bibit stress kabarnya. Saya tidak mau tulisan ini nantinya menjadi pemicu salah satu pemicu melonjaknya angka penderita penyakit kejiwaan di Jakarta, lho!

Gagasan Amadea lahir dari keluhan yang terkurung dalam ruang ekslusif itu, terjemahan dari kejenuhan akan keadaan yang tidak lebih baik dari harapannya. Berdasarkan pengalaman pribadinya, di ambillah profil Singapura sebagai contoh pembanding. Dari perbandingan itu pula akhirnya ditarik benang merah, titik pangkal dari penyebab kesemrawutan di jalanan Jakarta; disiplin pengguna jalan, disiplin bangsa! Content diskusi secara sederhana menyadari bahwa produk disiplin bukan pekerjaan tukang sulap atau borongan sehari jadi, karena disiplin jelas memiliki banyak sekali variabel sebagai korelasi. Dan yang paling berdekatan denga degradasi disiplin mental bangsa ini – sekali lagi menurut panelis – adalah pendidikan. Kalau mau lebih jauh lagi, simpul kemacetan bisa diurai sebagai dimensi kultural terhadap perilaku anti disiplin. Disiplin disini kita definisikan saja dengan kepatuhan atas kuasa kesadaran terhadap aturan prosedur yang berlaku secara umum.

Tigapuluh tahun waktu yang dibutuhkan jika ide tentang reformasi sistem pendidikan itu direalisasikan sekarang, jika tidak hari ini ya bisa minggu ini, bulan ini tidak apa apa, atau minimal tahun inipun masih bolehlah. Bukankah bangsa kita termashur fleksibel dalam urusan waktu? Tigapuluh tahun masa yang singkat sebenarnya untuk ‘merelakan’ satu generasi hilang dan membentuk sekaligus melahirkan brand new generation yang beda dengan generasi sekarang. Angka itu jelas bukan muncul dari kajian ilmiah, melainkan opini impulsif semata, ekspresi pesimistik atas kualitas generasi yang sedang hidup sekarang ini. Tapi kita bayangkan saja tigapuluh tahun kedepan dari usia kita yang sekarang, itu tips lagi untuk mengurangi beban protes yang terkadang menjadi bibit stress di kota semegah Jakarta ini. Jadi delivery product dari ide itu begini; sebuah generasi yang berdisiplin yang terbentuk dari satu sistem pendidikan yang integrated, kemudian dalam penerapanya di dalam aktivitas semua sektor dikerangkai satu sistem kebijakan publik yang dikawal oleh praktek hukum yang menekan. Whaalla…! Sebuah generasi yang kembali kepada nurani dasar, bahwa siapapun akan malu hati jika tidak berdisiplin ketahuan ataupun tidak ketahuan oleh khalayak, karena mencerminkan tingkat kemampuan menyerap pendidikan yang diterima rendah alias bodoh, kampungan atau predikat yang meremukkan kebanggaan lainya. Penderitaan si bodoh tidak sampai disitu saja karena masih harus berhadapan dengan sistim hukum yang secara eksplisit dan transparan memberikan tekanan tindakan koreksi tingkah laku. Catat: hukum budaya ini berlaku universal dari pengangguran, preman, pegawai, pejabat, aparat sampai orang gila sekalipun.

Tigapuluh tahun yang akan datang barangkali panelis sudah menjadi kakek nenek yang tinggal punya kenangan bahkan tidak berkepentingan lagi dengan gagasan yang terkurung tadi. Atau bahkan barangkali sudah tidak lagi menjadi penghuni planet bumi, dan masih mengenangkan gagasanya untuk melihat satu generasi yang berdisiplin sehingga tidak ada lagi kemacetan di jalan jalan Jakarta meskipun tembok ekslusifitas pribadi makin tinggi dan kokoh membentengi jiwa setiap orang Jakarta. Toh gagasan itu tidak mempunyai tendensi untuk menghujat, atau menyalahkan siapapun seperti tren saat ini dimana satu persoalan selalu melahirkan kambing berbulu hitam. Kita tidak mengesampingkan bahwa kemungkinan sudah ada gagasan gagasan yang lebih brilian daripada obrolan sms beberapa menit itu dari orang orang yang jauh lebih berkompeten. Terlebih lagi, educated generation form ini bukanlah satu satunya solusi mengatasi macet karena dari setiap kepala orang orang seperti Amandea pasti banyak lagi memiliki ide ide yang terkurung dalam ekslusifisme individu. Mislnya; perbaikan sistem angkutan umum Perilaku masyarakat yang lebih memilih kendaraan pribadi harus segera dirubah. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan paksaan ataupun dengan penyediaan pilihan lain. Angkutan umum yang aman, nyaman dan tepat waktu serta terintegrasi satu sama lainnya merupakan pilihan lain paling logis yang dapat merubah perilaku tersebut. Angkutan umum yang baik juga memberikan peluang bagi semua lapisan masyarakat untuk melakukan perjalanan dengan biaya yang terjangkau dan aksesibilitas yang tinggi dengan dampak lingkungan yang minimall. Nah!

Bagi anda pekerja pemerintah pembuat kebijakan, itung itung daripada bingung bingung menghitung hitung jumlah kendaraan bermotor di Jakarta dan berapa kapasitas ruas perlintasan dan isfrastruktur lainya untuk menampung angka itu. Atau bahkan itung itung daripada dikantor bingung, bacaan ini bisa diplagiat menjadi gagasan institusi; dengan improvisasi sana sini tentunya. Dengan catatan harus ikhlas bahwa tigapuluh tahun yang akan datang generasi baru akan malu makan gaji buta dari kantor pemerintah, dihukum Negara karena menganggur pada jam kerja, apalagi menjiplak gagasan orisinil punya orang lain!


Simatupang, 29 Agustus 2005





Catatan:
Data pada akhir tahun 2004, petumbuhan jumlah kendaraan di DKI Jakarta selama 10 tahun terakhir adalah 11% per tahun, sedangkan pertambahan ruas jalan tidak lebih dari satu persen. Itu pun ruas jalan yang baru dibangun berupa jembatan layang (flyover) dan terowongan (underpass).
Jumlah kendaraan bermotor yang bergerak di Jakarta setiap harinya mencapai 5,6 juta (kendaraan roda dua 53%, mobil pribadi 30%, bis 7%, dan truk 10%). Jumlah itu belum termasuk sekitar 600 ribu kendaraan komuter (pulang-pergi) dari wilayah Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi.
Lebih ruwet lagi karena kendaraan di Jakarta didominasi kendaraan pribadi. Perbandingannya adalah 98 persen kendaraan pribadi dan 2 persen kendaraan umum. Dari total 17 juta orang perjalanan setiap hari, kendaraan pribadi hanya mengangkut sekitar 49,7 persen. Sedangkan 2 persen kendaraan umum harus mengangkut sekitar 50,3 persen. Akibatnya, jumlah penumpang menumpuk di angkutan umum. Sedangkan angkutan pribadi memakan sebagian besar ruas jalan.






Saturday, August 27, 2005

Musyawarah embun

Embun mulai luruh di dedaunan rambutan diluar jendela, bersekutu dengan sisa hujan tadi malam yang engggan luruh ke bumi dan bermanja dalam buaian angin lembab jakarta. Langit semburat merah oleh lampu mercury di kejauhan, dan dijalanan masih terdengar suara mobil dan motor sesekali menderum, sesekali ditimpali bunyi sirine membawa orang sepagi ini masuk IGD, masuk penjara barangkali. Tak ada suara manusia. Semua lelap dalam kehidupan maya; mimpi dan kecemasanya masing masing. Seekor cicak dilangit langit dekat lampu diam bagai patung, seperti sedang merenungi takdirnya sebagai cicak. Dan pada tembok yang retak retak jam dinding warna kuning dengan logo Bank Niaga tak henti henti bergerak, sekarang 0128. Jarum kecilnya seolah menyempurnakan kesendirianku. Aku merasa begitu jauh dari siapa siapa, merasa begitu sendiri di jagad raya. Ya, aku begitu jauh dari orang orang yang dulu mengenalku,dan mengharapkanku. Aku tak pantas lagi menjadi harapan. Musyawarah embunpun hanya tayangan kebisuan. Pagi ini kebekuan begitu sempurna menggigilkan hati...
Aku selalu rindu hari hariku yang telah hilang...


Jatipadang, 26 Agustus 2005

Wednesday, August 10, 2005

Surat Kepada Teman Baru

Teman baruku,
Angin lembab kota Manado perlahan membawa embun turun luruh ke atap atap rumah yang membisu. Perlahan menyelimutinya; syahdu. Kota ini mulai tertidur ditimpahi satu dua lalulintas sisa kebisingan seharian penuh. Suara yang mengiring malam melangkah melewati setengah perjalanan menuju pagi.

Di tv masih ada tinju, salah satu tontonan kesukaanku selain warta berita. Discourse kita tentang anak di sms sudah terhenti, dan asumsiku, kita setuju bahwa jiwa seorang anak adalah guru filsafat yang luar biasa bagi orang dewasa. Kesederhanaanya adalah tauladan perilaku bagi orang dewasa, seharusnya. Demikian juga anakku, Kartika Mumpuni namanya, Tika panggilanya. Hampir setiap hari aku menelponya, dan hampir setiap hari pula kata kataku tersumbat di tenggorokan, terganjal pasir yang keluar dari perasaan haru. Sedih. Hampir selalu aku menangis setiap kali selesai menelpon. Pernah suatu ketika ditelepon dia bilang tentang mimpinya semalam, dan dengan polosnya dia bilang:” andaikan bapak bisa masuk lewat telepon, kita bisa ketemu sekarang. Dik Tika kangen bapak...” dan kata kata itu langsung mencabuti otot dan tulang belulang dalam tubuhku. Begitu sederhana, dan begitu mengena.

Bagiku, berteman yang sebenarnya berteman adalah ketika hati merasa nyaman untuk berkomunikasi, bertenggang rasa. Aku sendiri memiliki teman teman dekat yang masih hidup dalam alam bathin itu, masih menjaga komunikasi meskipun mungkin belum tentu satu tahun sekali kami bertemu. Bahkan seorang sahabatku aku tak pernah mengenalnya secara fisik, tetapi aku hampir mengenal seluruh kehidupan dan cara berfikirnya. Tidak jarang juga aku ketemu dengan orang yang pada akhirnya bukan malah menjadi teman, melainkan berhenti diperkenalan dan hilang ditelan arus sang waktu. Seorang temanku, aku mengenalnya sepuluh tahun yang lalu, dan kami menjadi sahabat hati sampai sekarang. Intensitas komunikasipun tidak terlalu terpentingkan karena kami tahu masing masing kami punya kehidupan sosial yang terbentengi oleh aturan kepantasan dan tatanan peradaban. Tetapi nilai seorang sahabat tidaklah luntur, dia hidup dalam alam bathin dan selalu ada ketika bathin membutuhkan. Kedekatan semu seperti itu terkadang justru menciptakan satu komunikasi bathin yang bd anggap sebagai telepati tanpa sadar. Ya, komunikasi bawah alam sadar. Terkadang seorang sahabat tiba tiba berkirim email setelah sekian bulan atau bahkan tahun menghilang, berkirim kabar ketika hati gundah menanyakan bagaimana kabarnya. Tak jarang pula justru aku yang mengirim email dan si sahabat bilang kalau sebenarnya dia memikirkan bd beberapa hari sebelum dia terima emailku. Ya, dan itu menumbuhkan keyakinan bahwa aku masih tetap hidup dalam kehidupan bathin beberapa orang. That is true!

Tentang aku,
Hmm...tak ada sesuatu yang istimewa rasanya yang ada padaku. Dalam komunikasi aku lebih suka dipanggil bd, pharse bd mewakili sebuah jiwa, sebuah pribadi yang kalis dari keharusan peradaban dan budaya, dia memiliki nilai yang mandiri sebagai pribadi. Bagiku, menjalani hidup terkadang adalah memunguti buah buah pengalaman pada setiap detik yang terlewati, dan menulis adalah memanivestasikan pengalaman itu sendiri. Mungkin menjadi kenangan, mungkin menjadi pelajaran, tetapi selalu punya makna. Menulis adalah pelepasan atas apa yang tersimpan dihati, dan bagiku tulisan haruslah jujur seperti apa yang dialirkan oleh hati ke otak dan otak memerintahkan syaraf2 untuk menggerakkan jari diatas keyboard atau membentuk serangkaian huruf huruf ketika tangan menggenggam pena. Aku lebih suka menikmatinya sendiri dan kalaupun menulis atas permintaan, aku anggap sebagai keingin tahuan orang lain tentang bagaimana aku memandang sesuatu. Karena itu pandangan, maka sifatnya adalah opini yang kesimpulanya terserah kepada siapapun yang bersinggungan dengan opini itu.

Teman baruku,
Bagiku bertemu seseorang adalah ibarat membaca sebuah buku, dan aku sendiri adalah sebuah buku bagi orang lain. Tak pernah aku menitipkan standar dalam berkenalan. Siapapun, seperti apapun dia adalah jiwa, adalah pribadi. Setiap orang memiliki kekhasanya pengalamanya sendiri sendiri, seperti bukupun memiliki bibliografi tersendiri yang menentukan ruh kehidupan temanya. Kamu boleh saja tidak setuju dan aku akan tetap menghargai ketidak setujuanmu itu.


Singkil – Manado 09 Agustus 2005

Manado Dalam Kelebat

Kota ini sedang membangun, a rapid growing. Tetapi kota ini sendiri dalam pandanganku memiliki kejayaan dimasa silam. Penduduknya memiliki kebanggaan yang membanggakan sebagai satu komunitas. Ekonomi kota ini berjalan cepat dan dalam pusaran yang kuat. Keramaianya bisa melebihi Yogya kalau siang hari, bahkan pada malam minggu seluruh kota bisa menjadi seperti hari raya. Kesan yang belum hilang sampai hari ini adalah semrawutnya. Kesemrawutan yang dibumbui dengan perilaku “aneh” dari banyak sopir angkot (mikro) yang memasang pengeras suara dimobil mereka, memutar musik kencang kencang sampai terdengar sampai radius ratusan meter. Kencang sekali karena memang keluar dari corong loudspeaker. Disisi lain, kota ini bagi laki laki adalah kolam besar untuk cuci mata. Mayoritas wanita wanita muda berpakaian sensual, seksi, kebanyakan berkulit bersih dan.....ehemmm..cantik. Beberapa orang kenalanku juga bilang kalau tidak sulit untuk mengencani wanita disini. Kabarnya disini (maaf) free sex bukan hal yang begitu tabu. Tentang kebenarnya aku tidak pernah berusaha membuktikan.

Manado, sekali lagi memang kota yang menurutku memiliki eksotisme tinggi. Pola hidup penduduknya konsumtif, tetapi religius. Ya, religius selalu membawa ketenteraman tersendiri. Sayangnya aku belum sempat datang ke museum, sebab biasanya aku selalu menyempatkan diri datang ke musemu atau makam tua apabila berada disatu kota.

Singkil – Manado 09 Agustus 2005

Tuesday, August 09, 2005

Demotivasi laki laki

Laki laki dan demotivasi adalah sesuatu yang bersifat kodrati. Dimana mana dimuka bumi barangkali setiap lelaki menginginkan pengakuan atas diri, pengakuan atas keberadaan sebagai “laki laki”. Tidak harus bersikap otoriter apalagi patriark tetapi pengakuan itu sesuatu yang harus dimiliki laki laki. Perasaan dihargai dan dibutuhkan laki laki terkadang menjadi sumber dari demotivasi ini karena mau tidak mau terkadang keadaan diri, keadaan jiwa tidak bisa memuaskan perasaan penghargaan itu. Sebagian orang lebih suka dengan cara otoriter bahkan patriark (bahwa dia adalah penguasa, bahwa dia adalah benar, dan bahwa dia adalah yang serba tahu, dan bahwa dia adalah yang harus diikuti semua pendapat serta rencananya). Cara cara itu memang terkesan primitif, tetapi praktek itu masih tetap terjadi sampai sekarang. Terbuka atau tertutup.

Demotivasi laki laki juga bisa terjadi karena secara emosional laki laki tidak mendapat pengakuan eksistensi dari dirinya sendiri. Ini yang paling sering terjadi dimana diri tidak bisa mengakui bahwa pribadi laki lakinya (secara individualistik) memperoleh bahan bakar yang memadai. Bahan bakar itu adalah harapan. Harapan akan membuat hidup bergairah dan gairah akan memotivasi tindakan apapun dimana gairah itu akan melahirkan daya cipta dan karsa. Kehilangan gairah = demotivated.

Menurut saya, pangkal demotivasi ada dua yaitu kekecewaan pribadi dan ketidak berdayaan pribadi. Itu dua hal yang sangat melemahkan semangat. Kekecewaan dan ketidak berdayaan itu bisa karena ulah orang lain, tetapi juga bisa karena keadaan. Terkadang lelaki menginginkan keadaan mengikuti kemauan hatinya, bukan kemauan hati yang menyesuaikan keadaan.

Obat yang paling mujarab bagi ‘penyakit’ ini tentu adalah infus support dari orang yang dianggap paling berarti bagi si laki laki itu. Orang yang dianggapnya memililki kelebihan yang tak dimiliki oleh laki laki itu. Curahan perhatian dari orang terdekat dan “pengakuan” dari orang terdekat.

Demotivasi bisa jadi adalah manifestasi dari batang tumbuhan dari akar serabut kejadian, adalah buah akumulasi kecewa. Memperbaikinya tentu tidak akan semudah membalikkan telapak tangan, kecuali memang semangat juang dan persemaian harapan tetap terpelihara, tetap dipelihara. Depresi sembunyi sembunyi yang terjadi, orang lain tahu hanya tidak bisa berbuat apa apa atasnya. Mungkin secara sederhana orang akan beranggapan bahwa yang seharusnya bisa berbuat lebih adalah yang mengalami demotivasi itu sendiri. Tidak selamanya seperti itu. Bagaimanapun dominasi perempuan (diluar fanatisme definisi gender, hanya kebetulan mahluk hidup bermetamorfosa disekitar faham itu) juga adalah faktor yang bisa menyebabkan demotivasi. Yang menjadi permasalahan adalah ketika demotivasi itu terjadi dan orang sekitar merasa sedikit banyak terpengaruh oleh itu, setidaknya orang beranggapan akan bisa lebih mudah untuk bangkit dari demotivasi itu kalau terjadi pada dirinya sendiri. Tidak semudah itu bagi laki laki, demotivasi melemahkan semua sendi kehidupan yang sebenarnya bola salju depresi yang menggelinding dari puncak gunung kebanggaan pribadi. Dia bisa menghancurkan semua mua yang dimiliki laki laki yang tidak bisa dilihat ataupun dirasakan oleh perempuan.

Mungkin tidak ada keharusan untuk setuju, bahwa yang terbaik adalah mempelajari betul betul sejauh mana demotivasi itu berpengaruh dalam sendi kehidupan sampai sekecil kecilnya, syukur syukur bisa tahu apa penyebab konkritnya. Lelaki merasa punya arti apabila dia bisa menciptakan sesuatu, mengadakan sesuatu dari tangannya sendiri, dari perbuatanya sendiri. Tetapi sekali lagi memang harus diketahui penyebabnya apa, dan lebih penting lagi sejauh mana demotivasi itu mempengaruhi sikap hidup dan pola berfikir. Yang pasti, sikap untuk menumbuhkan kepercayaan diri, sikap untuk tetap menjadi “ perempuan” harus tetap dijaga.
Laki laki memiliki sifat superior dan menguasai, dan perempuan memiliki sifat lemah dan perlu perlindungan (meskipun prakteknya tidak seperti itu, tetapi itu kodrat yang diakui nurani mungkin hampir setiap orang).



Singkil - Manado, 8 Agustus 2005

Friday, August 05, 2005

Mengemas Kenangan

(sebuah catatan untuk sesorang yang pernah begitu terkasihi)

Malam meleleh pelan pelan menuju pagi. Dalam alam fikiran yang merasa sebongkah karang di Antartika, kehidupan masih ramai berseliweran. Kehidupan angan angan, kehidupan kenangan, kehidupan fikiran semata. Ah, ternyata sulit mengubur kenangan dan menancapkan nisan bernama pengalaman atasnya.

Kesadaran bahwa diri hanya setitik debu bagi kehidupan yang laksana pantai di samudera hindia. Mestinya meratapi itu, tetapi entah kenapa hanya bisa menerimanya dengan rela, bahwa memang diri berarti demikian sekarang ini. Maka memilih tahu diri dengan kerelaan adalah bijaksana.

Tulisan inipun seharusnya adalah tetasan dari fikiran fikiran pribadi dalam pandangan pandangan sebagai pribadi yang introvert (?). Tetapi apa yang mengeram dalam fikiran itu tidak akan menetas disini, ditempat lain dimana bisa dicerna otak dan hati tanpa harus menjaga perasaan orang lain akan tidak menyukainya. Tentu tulisan itu hanya bersifat memoir belaka dan barangkali tak berguna bagi orang lain. Tak mengapa, itupun teranggap sebagai jejak perjalanan hati dan fikiran, untuk kelak menjadi catatan untuk catatan.

Dan akan terkemas segala kenangan bersama. Kita tak lagi membutuhkan itu semua, karena didepan jalan melempang terang benderang digelari permadani warna warni yang menjajikan. Tak ada sesuatupun manfaat dari keberadaan dan dramatisitas kenangannya. Tersimpan itu semua dalam tulisan, dalam fikiran dan sebagai catatan hidup. Akan terpajangkan di dinding hati mutiara mutiara persahabatan yang terjalin, hanya diri yang berhak menikmati betapa pernah punya sebuah perhubungan mullti makna dan multi definisi. Di dinding hati akan terukir sebuah keyakinan dari masa lalu bahwa pernah diri merasa berarti …

Semoga bertahun kemeranaan yang tersembunyikan sendiri berganti dengan masa depan gilang gemilang, kebahagiaan yang tumpah ruah tak berhenti. Amin. Akhirnya ucapkan rasa terimakasih yang tak terhingga untuk semua semua yang pernah terbagi atau terberi selama ini. Juga memohon maaf untuk semua kekhilafan dan juga sikap sikap yang entah menyakiti entah membuat merasa terabaikan dimasa yang telah lewat. Mohon diri….


Simatupang, 4 Agustus 2005

Friday, March 04, 2005

Hati dan Logika



Kesombongan mengenalkan diri sebagi yang terlatih oleh pengalaman dan terbiasa untuk mandiri, mumpuni dan sekaligus menyandang kodrat atas gender. Dewasa, dan kokoh dalam diam serta sebagai pribadi yang bukan pemberontak. Selalu berusaha keras untuk tetap menabur benih bahagia bagi hati sendiri hampir pada setiap kesempatan dan menikmati semua yang terlewati sambil belajar darinya. Kepada orang yang tersayangi selalu menimbulkan hasrat untuk mengabdi, menjadi sinar samar samar ketika pandanganya mengabur, menjadi tiang ala kadar ketika kakinya goyah, menjadi apapun yang menguatkan ketika keyakinanya menjenuh. Mereka tidak pantas untuk bersedih bahkan untuk menangis sendirian, mereka punya segalanya untuk menolak bahwa kesedihan memang layak untuk dilalui.

Keyakinan bahwa hidup memang karya Tuhan yang misterius, tanpa tertebak dan bahkan terlalu banyak penjabaranya. Tetapi juga meyakini bahwa hidup manusia hanyalah manjalani keputusan yang dibuatnya sendiri. Setelah sekian tahun berkutat dengan amarah yang meluap, dendam yang menghanguskan dan kekecewaan yang memerihkan hati setiap detik, bersyukur sekali bahwa bisa cope dengan itu, bisa berkompromi dengan itu dan memandangnya sebagai salah satu episode dalam riwayat hidup. Kesedihan kadang juga datang menyergap kesendirian yang sempurna, dan itu belakangan bisa terimprovisasi dengan hal hal yang menenteramkan hati sendiri. Begitu juga ketika diri merasa harus pasrah pada keadaan bahwa inilah yang harus dijalani, tetapi pada detik lainya harus dengan kekuatan hati menghentikanya sebelum semuanya menjadi semakin parah.

Hati dan logika, pekerjakan dua unsur itu untuk tetap bertahan mencari perbaikan, mencari kompromi kompromi dan bahkan kalau mungkin improvisasi. Ikuti apa kehendak hati, dan biarkan logika sebagai pedang pengawal kebebasan hati. Apapun bisa terjadi pada siapapun, dan ketika hal terekstrim sekalipun terjadi, maka terjadilah sebagai kejadian yang memang wajar terjadi dimuka bumi ini, di lingkaran komunitas yang terkotak kotak oleh produk budaya. Hidup haru terus berjalan dan memang akan terus berjalan, maka jalani saja semuanya sebab hanya diri sendirilah yang memegang kemudi hidup secara penuh, tidak orang lain. Hidup untuk diri sendiri meskipun sekarang harus banyak terbagi oleh hadirnya orang orang tercinta sebagai jimat penyemangat, sebagai harta paling berharga. Maka, ketika bathin galau, ketika pandangan mengabur dan ketika langkah goyah, kembalilah pada hati yang paling jujur, dan biarkan akal sehat menimbang nimbangnya untuk kemudian membuat keputusan yang harus secara konskwen dijalani. Mencari jawaban atas pertanyaan " apa " yang paling membuat hati bahagia dan tenteram, lalu mengikuti jawaban itu dengan ikhlas, dengan landasan bahwa tidak menggulung kebahagiaan apalagi kehormatan orang lain.

Ah aku kenyang betul dengan menghayal dan mengandai andai, bahkan hal yang tidak mungkin sekalipun. Jadi ingat, banyak andai andai menjadi kenyataan kemudian suatu saat, suatu hari ketika pengandaian pengandaian itu sendiri sudah lewat dari angan angan.


Nuansa Indah #317 – Balikpapan, 3 Maret 2005

Friday, January 21, 2005

Darah Biru dan Semut Pekerja

dedicated to : MSC

Sungguh ada perasaan tertindas yang meronta ronta menuntut pembebasan ketika rasa keadilan menjadi sumir oleh karena sikap palsu, oleh karena subyektifitas atas pandangan yang dangkal. Tulisan ini tidak akan mengulas apa yang terjadi disana secara mendetail maupun menelaah point demi point untuk mencari titik kelemahan dan kesalahan melainkan merupakan ulasan singkat dari pandangan dari luar kotak ‘kesemestian’ yang memang dibudidayakan demikian baik dalam komunitas kita. Pembudidayaan itu sendiri dimulai dari pengkultusan individu, budaya cuci tangan dan tentu dramatisasi post power syndrome. Sayangnya dalam komunitas kita, pengkotakan power sudah begitu jelas dalam embel embel status.

Pengkultusan individu sebagi produk kuno dari sebuah counter ketertindasan zaman purbapun masih ada hingga hari ini. Feodalisme barangkali lebih tepat. Di masyarakat suku saya, feodalisme amat mudah ditemukan tanpa harus dimengerti bahwa itu namanya feodal. Budaya itu adalah ketika satu orang menjadi penguasa yang tidak pernah salah meskipun itu perbuatan salah. Patriark. Falsafah itu juga dulu yang punya andil meruntuhkan dinasti orde barunya Pak Soeharto barangkali, sebuah dinasti adem ayem, sebuah organisasi bernama negara yang tenang tanpa kejadian apa apa. Hal itu nampaknya juga diciptakan dalam komunitas kita. Kondisi itu secara otomatis akan melahirkan anak anak emas yang pada giliranya berubah warna darah dari merah menjadi biru. Darah biru menjadi unsur pendukung dan pelestari klan feodalis itu, menjadi pupuk pengokoh dengan pengakuan bahwa feodalisme memang ada serta layak dilestarikan. Klan darah biru sebagai anak rohani dari feodalis mutlak diperlukan sebagai tiang, dan sang feodal akan melakukan pembelaan yang diperlukan untuk tetap menghidupkan darah biru ini. Nah, ketika kita harus berbenturan dengan klan darah biru inilah kita dihadapkan pada penindasan nurani yang luar biasa yang membuat kita bisa terkejut bahwa praktek jahiliyah masih ada disekitar kita bahkan dalam komunitas tempat kita menitipkan sedikit banyak hidup dari keluarga maupun orang orang yang kita hormati dan sayangi.

Memang idealnya pemimpin adalah pengayom, pelindung dan tentu pembimbing. Pemimpin ideal (yang ada dikepala saya) adalah pemimpin yang mumpuni, yang memiliki kepekaan dua kali lebih tebal dari anak buahnya. Kuncinya keikhlasan untuk mengabdi, melayani anak buah. Nah, apakah keikhlasan itu terasa dikomunitas kita? Menurut saya tidak, karena yang ada dalam pandangan saya adalah beberapa individu yang duduk diatas tandu dengan pandangan nanar jauh dari perencanaan dan sumbangsih yang ikhlas terhadap komunitas yang mengusungnya, dibawah pantatnya, dibawah kakinya. Kecurangan, kekurangajaran, bahkan pendustaan menjadi seperti legal oleh karena powernya dari atas tandu. Dia bisa mendorong salah satu kepala pengusungnya dengan jempol kakinya untuk melakukan sesuatu.

Pada scope yang lebih sempit –hanya sebatas komunitas kita- nuansa ‘orde baru’ yang memuakkan memang kental terasa. Kita akan dengan mudah menemukan kepalsuan tanpa harus bisa melakukan banyak hal untuk memupus kepalsuan yang lagi lagi menindas rasa keadilan nurani itu, bahkan sampai kepada kenistaan materi yang kita tahu terjadi. Apa boleh buat? Kita memang harus pintar menjadi elemen kecil dari mesin kapitalisme, mengesampingkan banyak kata hati maupun bisik nurani.

Sebenarnya yang paling fundamental adalah bahwa kita menjalani konskwensi dari pilihan hidup kita sendiri untuk menjadi elemen kecil dari mesin organisasi itu. Pilihan kita waktu itu lahir dengan ari ari bernama pengharapan bahwa kita akan terlibat dengan orang orang yang pantas menjadi panutan. Bijak, baik hati dan kapabel. Wah, kadang kadang pengharapan maupun standard pencapaian kita sendiri terelalu tinggi barangkali ketika ketemu dengan beberapa orang yang culas dalam kenyataan sehari hari. Mengecewakan hati akhirnya, dan kita tidak bisa menyalahkan keadaan atas itu semua maupun melaporkanya kepada Tuhan agar Dia memberi teguran kepada si culas karena memang si culas sudah ada dimuka bumi sejak mungkin komunitas pertama diciptakan.

Hanya jiwa yang merdeka yang bisa menyaksikan ketimpangan dan pengkacauan system itu terjadi. Jiwa merdeka akan lebih percaya kepada system ketika harus menjadi elemen dari sebuah mesin organsisai, dan tetap menjaga nurani tetap hidup, memandang hidup sebagai anugerah penuh nilai estetika, melihat kepongahan bahkan –maaf – kebodohan orang lain sebagai kemalangan yang kita tidak bisa berbuat apa apa untuk membantunya. Jiwa yang merdeka, hati yang merdeka akan menyingkirkan segala bentuk emosi negatif mesikpun kita sedang dikerubung dan dikeroyok oleh negatifisme itu. Percayalah, bahwa masing masing individu telah memiliki rel rel yang tak terlakkan. Sebagian orang diberkati dengan kebaikan hati, sebagian orang juga diberkati dengan kebengisan dan keculasan. Itu terjadi tanpa ada persamaan tanpa satupun dari seberapapun banyak manusia yang pernah hidup. Bersyukurlah, bahwa kita diberkati dengan banyak kebaikan dalam hati kita, diberkati dengan logika dan nurani yang matang. Bersyukurlah karena hari ini kita bisa menilai apa yang sebenarnya terjadi...

Balikpapan, 21 Januari 2005

Monday, December 15, 2003

Ceritera Muhammad Afan, Lie Hong Hua dan Sutopo dari Magelang

Ini kisah manusia biasa, kisah kehidupan klasik yang terjadi setiap hari dimanapun yang sudutnya bernama dunia. Ini jika kisah criminal biasa, kisah pembunuhan pembunuhan, pelanggaran terhadap hukum yang diatur di Kitab Undang Undang Hukup Pidana biasa. Yang menjadi tidak biasa bagiku adalah kisah klasik latar belakang peristiwa itu sendiri. Inilah yang kutangkap dari apa yang kuliat di tivi tadi siang dikamar hotel:
Sucipto; adalah seorang bapak dua anak berumur sekitar empatpuluh delapan tahun. Pengusaha jual beli mobil yang sukses didaerahnya. Hampir semua orang dikota itu mengenalnya. Dunia bisnisnya berbaur dengan dunian lelaki paruh bayanya mengantarkan Sucipto kepada kehidupan kedua diluar kehidupan rumah tangganya; selingkuh, otoriter dan belakangan cenderung anarkis ke istri sendiri yang dulu dipacari dan disayanginya.
Lie Hong Hua; Istri Sucipto 43 tahunan. Ibu rumah tangga biasa, yang punya tanggung jawab kepada anak, suami, rumah dan lingkunganya. Dia tetapkan standard yang tinggi untuk kesempurnaan tanggung jawabnya itu.
Muhamad Afan; Sopir pribadi keluarga itu. Pria lajang berumur sekitar dualapan tahunan, lugu dan berfikir polos saja. Bertampang ganteng dengan kulit kehitaman. Orang baik baik, rajin bekerja dan mengabdi kepada profesinya.

Tiga alam fikiran manusia, berarti tiga sudut pandang yang kalau terjadi senyawa terkadang menyebabkan satu simbiosis yang berbahaya. Inilah yang terjadi kemudian:
Sucipto ketahuan berselingkuh, bahkan pernah tertangkap basah segala oleh istrinya. Afan sang supir pribadi tentu banyak dengan ini, dan bagi Sucipto tentu ini hal yang bisa dimaklumi, sebagai sesama lelaki. Afan yang polos dan tidak tahu rumus humanisme tetapi menghayati dengan nurani dan jalan fikiranyapun menyadari telah terjadi penghianatan didalam tembok rumah tangga majikanya. Lie mengerti betul karakter sopirnya ini, dan setelah pertanyaan pertanyaan yagn dijawab Afan dengan jujur mengenai Sucipto, Lie tidak segan segan untuk bercerita tentang beban bathin yang dikandungnya. Penderitaan bathin seorang perempuan yang dimata Afan sendiri sudah digariskan sebagai mahluk yang lebih rapuh daripada kaumnya sendiri; laki laki. Inilah kunci dari segala rahasia hubungan antara lelaki dan perempuan; bahwa lelaki mengerti betul kerapuhan perempuan sementara perempuan mengerti betul dengan watak seperti apa seorang lelaki baik hati akan menjadi ‘hamba’ atas emosi perempuanya, dengan penderitaan dan keluh kesah yang akan dengan mudah dicerna oleh telinga lelaki manapun. Afan menjadi tokoh sentral yang membuka dua telinga untuk dua jalan fikiran dan dua dunia yang berbeda; menjadi saksi dan pendukung kekejian Sucipto dan sekaligus menjadi ‘teman baik’ bagi Lie, korban kekejian Sucipto, terlibat secara emosi dengan si korban sekaligus terlibat secara fisik pada pelaku. Afan mulai belajar membaca sikap superior sekaligus culasnya Sucipto dengan cara pandang sederhananya, sedangkan simpati pribadinya kepada Lie yang juga dengan cara pandang yang amat sederhana pula berwujud perbedaan dua kepentingan yang berlawanan, meskipun dengan sadar Afan tahu tidak ada kepentingan dirinya sendiri disana, sekaligus dia sadar warna baru yang timbul dari dua dunia yang berbeda tersebut telah memunculkan warna baru bagi dirinya sendiri; sikap campuran dari simpati dan antipati. Simpati mengajarkanya untuk lebih jauh lagi menumbuhkan antipati itu sendiri dalam fikiranya yang dibungkus tubuh gagahnya. Lie merasa tertemani, sebagai dua manusia, sebagai yang teraniaya kepada yang peduli. Maka ketika rencana rencana untuk mencelakakan Sucipto yang lahir dari isi kepala Lie terlontar ke Afan, secara prinsip yang mewakili pribadinya yang sederhana Afan menyetujui niatan Lie. Persetujuan sukarela. (betapa berharganya nilai hidup ketika kesukarelaan itu muncul karena ketulusan hati). Bathinya setuju untuk melenyapkan penderitaan bathin Lie, karena Afan peduli. Lain tidak. Persetujuan bathinya menuntun langkahnya untuk berbuat dengan kesadaranya menghantam belakang kepala Sucipto dengan palu sebanyak tiga kali sampai tewas ketika sedang minta dipijit diruang tamu lantai rumah Sucipto sendiri. Benang merah yang lalu tampak adalah bahwa Afan dengan sadar memahami keculasan hidup, memahami arti si lemah dan si kuat, si kejam dan si tak berdaya. Lalu dengan sadar dibiarkanya nurani sederhananya memilih cara untuk terlibat. Dan nuraninya telah memilih untuk menjadi pahlawan, ksatria penumpas Denawa* seperti dalam ceritera wayang yang memang tidak punya KUHP. Dan kesatria itupun masuk penjara karenanya...
Memang ceritera ini ceritera biasa, bisa terjadi dimana saja dan pada siapa saja tanpa kita bisa membaca.

* Denawa: visualisasi sosok raksasa jahat dan selalu menjadi musuh ksatria dalam dunia pewayangan.

Balikpapan, 15 Desember 2003

Wednesday, December 03, 2003

Kenangan

Pulang ke kost dengan fikiran kosong dan hati ompong. ‘ceramah’ mami Sita tentang performanceku tetap mencekik otak. Segala hal tentang hidup pribadiku menjadi murung. Anjing keparat memang, karena kenangan buruk masa lalu yang selalu hidup dlam jantungku, terpompa mengkuti aliran darah ke setiap inci tubuhku tetap hidup dalam abadiny, tetap rajin menusuk nusuk kan pisau yang makin karatan, dan tetap seja menjejalkan amarah luar biasa tanpa seorangpun berhak tahu; apalagi ikut merasakan. Anjing keparat juga atas kesombongan diri yang enggan berkompromi dengan masalalu ning, dengan kebusukan yang menempatkanku sebagai jongos yang patut dianggap bodoh dan diperlakukan sebagaimana orang bodoh.
Ketika sendirian di kamar kost, ketika otak sedang letih bekerja dikantor, atau ketika oksigen perlahan kuhirup dan kualirkan keparu paru, ketika itu puolalah perih dan amarahku menggulung gulung dalam kebisuan, dalam hatiku yang maha sunyi, maha hancur dan membusuk. Warisan luka masalalu terlah beranak pinak menjadi ibolis iblis baru , membuat kampung dan membentuk peradaban baru bagi pribadiku; membentuk pribadiku menjadi pincang dan ganjil.

Monday, November 17, 2003

Malam Terbelah Dua

Ingatan,
Tumbuh menumbuhi hati dengan kenangan- dengan penjuru cinta yang kupertanyakan sendirian –
Orang orang,
Wajahnya berloncatan memburu kasihku (atau iba??) berebut merajang – rajang nuraniku yang memekik sakit, karam dilautan wabah sesal, dan waktu tak hanya seperti udara dalam balon, ia mengalir berputar menembusi pintu dan jendeal labirin (atau mungkin berjalan seratus triliun dari kelambatan – siap tahu?!)

Telah kutelan kenistaan kemudain banmgga, pinvcang jadi pahlawan sampai kebanmggaanku memancung sendiri kebanggan yang lain. Aku terpenjara di kandan besar kecurangan yang mencurangi kecuarangan lain lagi. Tindih menindih bagai angan angan belaka.

“pernah kuleburkan darah, daging dan cinta birahi denganmu, arjunaku, dank aku hanya ingin darah , daging dan cinta birahiku kembali menjadi hakku. Engakau telah merampasnya dengan keji. Brengsek!”
ucap debu dari utara yang sengaja engaku kirim lewat akhir musim kemarau…

…berhenti, jangan lagi dorong aku ke pojokan, wahai kebaikan nurani…

“ Tidak cukupkah aku menjadi budak menebus khlafku ketika kau ingkari punyamu, mengabdi pada penghianatanmu jua”
Ucap titik gerimis dari timur yang luruh di daun talas hatiku…

… enyah kau kemunafikan, bawa pergi kesombongan yagn membangun tugu bernama rasa malu…

Tuhan ijinkan aku,
Membelah malam menjdai dua dengan pedang akal pemberianMu.
Biar kubagi pada dua hati yang berkelahi sengit dalam hatiku.
Ampunkan aku dari murka-Mu.

Gang Bambu, 17 November 2003

Saturday, November 15, 2003

Monyet di Planet Aneh

Maka akupun sepakat untuk datang ke acara buka puasa ex-shields di camoe camoe café panglima polim meskipun aku sendiri nggak puasa. Yang penting semangat kebersamaan.Semu.
Dan inilah aku, celingukan diantra 20an orang yang memang sempat kukenal di shields dulu, tetapi aku menjadi monyet ditengah arena kegembiraan dan hysteria. Aku menjadi monyet diplanet aneh!
Dua jam buatku seperti tersesat dikomunitas aneh, aku lebih banyak membaca mimik mimick yang berada disekitarku, dan berharap ada dikamar kostku dengan buku pinjaman yang tengah kubaca, tenggelam dalam ceritanya.
Ah, komunitas Jakarta, aku bukan salah satu dari mereka ternyata!
Bahkan tetet pun begitu menyakitkan sikapnya. Tidak ada jabat tangan ataupun sapaan salam. Hysteria menenggelamkanya dan menjadikanku sebagai debu, luruh dikaki bangku restoran.
Aku menyesal telah meyakini diri bahwa aku sebangku dengan mereka, bahkan aku seoksigen dunia dengan mereka.
Bukan, bukan untukku dunia dan pribadi pribadi itu.

Thursday, October 30, 2003

Dibalik Dinding Kaca

Dibalik dinding kaca satu dunia tersimpan
sembunyi
engkau pasti tak melihatnya
sebab memang tak pernah kau jenguk sisi sepi hidupku,
kecuali ketokohan yang kau sempurnakan
Dunia di balik dinding kacaku perlahan menindasku
justru oleh kehadiranmu,
perlahan menjadi ketakutan atas pribadiku yang kerdil.

Sepotong sepotong kisah terangkai diam diam
ingin kupadamkan perlahan.

Jakarta, 30 Oktober 2003

Wednesday, October 15, 2003

Si Miskin dan Trantib

Di Jakarta, ‘orang orang miskin’ digusur, bersikeras dan berakhir bentrok dibeberapa tempat. Orang orang berebut simpati mendatangi, mengecam aksi pemerintah DKI dan berlagak jadi malaikat. Intinya sama, rebut simpati untuk kelompoknya. Orang orang yang digusur itu memang tidak seharusnya ada disana, liar dan sikap Trantib DKI pun buatku adalah penegakan hukum. Aku sendiri setuju penegakan hukum dengan ekses apapun. Mereka bukan korban tapi pelaku buatku. Maju terus Trantib, tegakkan keadilan sekecil dan seberat apapun!

Kosong

gelisah, kosong, angan menenelanjangi sesal, menjejalkan kejang pada mimpi. Aku ingin waktu segera menghanyutkanku ke peluk malam dimana tak kujumpai gelisah menikam.
Suara suara tanya jadi hambar dikepala, sebab tak ada jawab yang keluar dari hati. Pagi tadi kusulut api dari kediaman waktu, sekedar mengingatkan waktu Aku sendiri asing pada nyanyian dari seberang kaca jendela..

Kusangka kota ini berisi tentram, rupanya kemanjaan yang takut takut dipertahankan sementara gemuruhnya menjejalkan sunyi yang menjerit jerit mentertawai usia yang merapuh…

Saturday, October 11, 2003

Balada Perempuan Malam

:Ria
Petir jaman mendamparkanku pada lampu lampu malam bersama jutaan lagu yang terperdengarkan mengikuti apapun kata hati (ataukah hati yang dibuat buat mengikuti segala nyenyanyian?)
Ia mencoba menjadi tiang tanpa akar menentang ombak yang terus berputar seperti jarum arloji. Kontradiksi hidup tak lagi punya makna sebab hidup hanyalah sekedar hidup, sekedar berbirahian...

Telah kuretas temali layarku ucapmu pada senja kesekian,
Kubiarkan nuraniku mengarungi laut tanpa tuju, aku tak lagi dahaga meski kerongkonganku terbakar keinginan normatif
Dan setiap lekuk tubuhmu, juga suara yang mendayu dayu palsu atau bau ketiakmu memabukkan setiap lelaki yang membiarkan kau sandarakan kepala dan harapan liar hari ini dipundaknya.

Pada saatnya engkau berjalan sendiri,
Berucap syukur karena badai tak merobohkan bentengmu, bahkan mengikisnyapun tidak kecuali buah kenangan yang hanya kau pendam sendirian hingga membusuk dalam peraman perasaanmu...


BPN, 11 Oct 03

Sesal

Bahkan senyum diwajahmupun tak kukenali lagi
Bahkan rasa yang kucaripun tak kuingat lagi meski kudapatai tanpa kurasai
Matematika hidup tak lagi hidup oleh sang pencari

Sebungkus kenang kenangan hambar mengendap diam diam
Tinggal sesal karena malam melulu berisi birahi; dan busuk bau sampah kota
Dari manakah datang penghuni penghuni bumi yang selalu bersembunyi
Yang hanya memperdengarkan tawa sebagai undangan?

Sesalku bagai serpihan gambut dipantai Lamaru
Dan kepribadianku adalah bangkai ubur ubur yang menghias tajam terumbu
Sungguh tak kutemukan kesadaran dari darah yang menetes dari kaki kiriku yang tertoreh waktu,
Sebab hidup hanya menunggu arti mimpi, mengekang keinginan dan berontak kepada kenyataan

(sebongkah hati meratap ratap dari jauh, menggema gema didalam kalbu sunyiku)

Balikpapan, 11 Oktober 2003

Thursday, October 09, 2003

Jongos


19 orang tenaga kerja wanita yang bekerja jadi jongos di Kuwait dipulangkan karena ketidak adilah yang mereka terima dinegeri impian. Sebagian mereka dianiaya, dipenjara, diperkosa tanpa rasa manusia. Mereka hanya ingin bekerja, mencari uang, mengharap gaji bulanan dan pulang kekeluarga mereka di kampung dengan uang cukup. Itulah typical kehidupan jongos, manusia bernurani dan bermartabat yang bahkan menurut pandanganku terkadang lebih bermartabat daripada pemegang kuasa atau yang merasa menguasai mereka atau orang orang dengan tipe seperti itu. Aku tahu persis kehidupan jongos, aku tau persis bagaimana rasanya jadi jongos, menjadi orang sisa sisa dengan martabat sisa sisa.

Indonesiaku menangis keras, sesak dada oleh beratnya beban duka dan ketidak adilan dunia yang harus dialami.

Crime Driver Banyuglugur

Kecelakaan bus di Banyu Glugur situbondo yang diekspos tv membuatku mau nggak mau berduka. Mungkin aku tak pernah bertemu dengan mereka apalagi mengenalnya, tetapi ke 54 orang korban yang kesemuanya tewas terbakar. 51 orang siswi SMK Yapemda , dan empat laki laki yang juga guru dan pemandu mereka terpanggang dalam bus yang terbakar. Ekspresi duka menyayat yang jujur yang ditampilkan di tv sepertinya mau tak mau mengajak seluruh isi bumi menangisi tragedy itu.
Ada yang agak menggelitikku, ketika media mengekspos pernyataan pejabat direktur Lalulintas Babinkam Mabes POLRI Brigjend Pol Ananto Boedhiardjo berjanji dalam 1x24 jam akan sanggup menentukan tersangkanya. Untuk pemahamanku yang dangkal dan awam tentu menggelitik karena pendapatku, opini public akan membacanya sebagai ajang pencarian si bersalah, ya si tersangka dimaksud, kemudian dihubungkan dengan 54 nyawa yang gosong dalam bus, maka si bersalahlah yang menyebabkan duka mendalam dan penderitaan bathin anggota keluarga dan jutaan simpatisan ke 54 korban. Si bersalahpun tanpa dicap maupun divonis oleh orang ramai tentu sudah akan sangat tertekan mungkin bisa saja gila kalau memang super ego yang dimilikinya kuat. Kecelakaan lalulintas, korban mati puluhan, terjadi dimedan yang memang rawan dan dengan rambu rambu (marka) jalan yang jelas, toh tetap saja kecelakaan. Menurutku, mental, attitude ‘human’ nya lah yang lebih layak jadi tersangka. Ketaatan pada peraturan, ketaatan pada ketentuan, perhitungan matematis (teknis mengemudi), pemahaman akan akibat akibat negative dari negligence serta pola hidup yang berdisiplin dan teratur akan sangat banyak membantu menghindari dan mengurangi korban mati sia sia seperti di situbondo. Yang terjadi sekarang dalam pandanganku adalah kecelakaan lalulintas ini akan menjadi semacam delik pidana (mungkin karena timbul korban?), menetapkan tersangka seperti penjahat jalanan yang melecehkan marka jalan. Ya aku setuju kalau begitu!!!

Friday, June 20, 2003

Catatan Ulang Tahun Untuk Istri

Jam 00.19, Jum’at 20 Juni 2003 sekarang. Aku dikamar staff house Balairajaku, bersama kehidupan didalam otakku yang berputar putar seperti butiran debu terbawa badai.
Seharusnyakah ini menjadi sesuatu yang menyedihkan ? Karena aku tidak berada disampingmu untuk sekedar membisikkan kata selamat ulang tahun.
Ah aku harap tidak demikian, sebab aku yakin didalam benakmu pasti kamu selalu simpan bahwa aku teramat mencintai dan menyayangimu untuk sekedar lupa hari ulang tahunmu. Hanya mungkin kekasihku, gelembung dunia yang menceraikan jasad kita yang menghalangi kata yang seharusnya kamu dengar lembut halus ditelingamu. Ah, paling tidak telinga hatimu pasti mendengar ucapan itu lewat angin kemarau yang kutiup pulang baru saja.

Barangkali tak ada sesuatupun yang pantas untuk kujadikan bingkisan ulang tahunmu kali ini seperti halnya tahun tahun sebelumnya. Kecuali kabar bahwa aku tak pernah kesepian disini sebab didalam jiwaku kamu dan Tika menghidupkan dan meramaikanya selalu dengan cinta yang selalu terasa lebih dari cinta manapun di dunia.

Selamat ulang tahun kekasih jiwaku,
embun yang luruh diatap rumah kita
mewakili hangat rindu yang kupendam seakan berabad abad lamanya
menawarkan sejuk ke hati mencinta
kenangan manis membalut fikiran
mengantarkan tatapan ke tempatmu berada
diruang istimewa sebelah hatiku…
bayangan manismu setia lumatkan sunyi membuncah
damai mengingat tawamu yang kusimpan diangan angan
kukirim rindu lewat angin subuh hari
kualamatkan ke palung kalbumu ketika engkau terlelap tenteram
sejuta bidadari dari angkasa menyanyi khidmat,
seperti puja puja seribu malaikat dari syurga
yang setia menjadi penjaga tidur malammu


selamat ulang tahun teman hidupku,
selamat ulang tahun cinta hidupku…


Staffhouse Balairaja – Duri, Jumat 20 Juni 2003

Saturday, May 10, 2003

Risalah sunyi

Pada beku telah kupancang tugu peringatan
untuk pejalan pemungut sisa semangat
pada sepi yang menggigit telah kupilih cinta
yang menampakkan keindahan dari balik perih ke perih,
dunia menjadi singgasana yang menobatkanku sebagai raja
atas bukan apa apa
atas bukan siapa siapa
kemewahan yang merasuki setap sisi ruh sunyiku
maha luas dan penuh,
tanpa batas...

semilyar kunang kunang
sejuta kupu kupu mengembara tanpa pencarian
; ‘sekedar menari-nari’
‘Sekedar menikmati hidup’kutanya

Aku melihat bening dari segala bening
disunyiku,
kudengar segala filsafat maha bijak yang tak pernah terajarkan
dan nyenyanyian paling merdu yang tak terlantunkan,
juga puisi terindah yang tak pernah tertuliskan.

Disunyiku, hidup hanyalah aku dan penghayatanku.

Balairaja – Duri, Sabtu 10 Mei 2003

Saturday, March 01, 2003

Tengah Malam Dikotamu

Tengah malam dikotamu,
kuhirup karbondioksida dan aroma kotoran burung layang layang
seperti pernah kujumpai dalam mimpiku,
atau kenanganku?
Aku kelelawar yang terdampar dialam ganjil Pekanbaru,
kelelawar yang kelaparan bentuk,
seperti sang raja yang sedang menghukum diri atas takdir yang dijalani.

Mungkin embun juga turun diatap rumahmu?
Seperti embun yang juga turun didalam fikiranku,
yang memerangi api dendam didadaku.
Sebentar lagi mimpimu usai, jika matahari memanggil manggil
lewat kaca jendela kamarmu,
dan hamparan buah harapan siap untuk kau tuai.
Tersenyumlah seperti seorang kekasih dalam dongeng dongeng cinta cassanova,
riaslah dirimu dengan cahaya kebajikan untuk semua yang datang bertamu dihatimu.

Sebelah ruang kosong dihatiku kini riuh oleh gemuruh,
sejuknya menjadi hangat oleh mimpi dan keletihanku menumpas hari hari panjang. Dikotamu kumuntahkan darah dari dalam dadaku yang terluka,
kualamatkan kesetiap pintu pintu rumah berpagar,
tempat peradaban dan budaya dipenjarakan.
Kota ini menjadi aneh oleh keinginan keinginan yang datang terlambat
sesudah semua lampu kota dipadamkan.
Malam ini kuletakkan semua buah pengalaman dikotamu
aku telanjang dengan kesendirianku
mentertawakan kesombonganku yang menguap musnah hanya oleh sepi.
Malamku yang membatu dingin dan kosong kutatapi saja
sambil mengeja butiran demi butiran waktu lepas dari labirin

dikotamu, tadi sore aku disambut selusin anak anak baru lepas khitan
berbedak debu aspal, rokok ditangan
matanya liar menguliti kemanusiaan taring taringnya kuning dan tajam; aku ingin mengenal mereka, anak anak rimba beton di sudut pasar Kodim yang telah sepi tinggal caci makian mereka mendoa dalam irama zaman yang tak terbaca oleh mereka.

Dikotamu, rindu membuncah sepanjang malam…

Minggu, 1 Maret 2003,Hotel Megara – Pekanbaru pukul 01.33.