Thursday, November 10, 2005

Renungan Lebaran 2005



Malam lebaran, kutembus desa desa dalam perjalananku. Tak ada kemeriahan kutemukan. Aku kehilangan masa kecilku yang riang penuh kegembiraan. Orang orang, berpasang pasangan berkumpul diwarung warung atau tempat tempat berlampu listrik terang. Takbir tak riuh berkumandang, hanya suara samar dari loudspeaker masjid, mungkin suara tape. Kampung jadi sepi, euphoria menyambut datangnya hari lebaran yang selama berpuluh tahun bersarang didalam kepalaku lenyap entah kemana. Semua berjalan biasa saja, seperti besok adalah hari biasa saja. Kampungku sepi, suara anak anak dengan oncor yang berbaris atau bergerombol mengumandangkan takbir keliling kampung (seperti waktu aku kecil dengan semangat baja melakukannya) tak ada lagi. Jalan jalan tanah yang dulu jadi rute tempuhanku sudah beraspal, listrik dari lampu merkuri 300watt terang benderang menerangi prapatan, episentrum kehidupan kampungku. Dibawahnya anak anak muda bergerombol, menyambut lebaran dengan alcohol dan ganja!!!

Kulewati kota dimalam takbiran dalam perjalananku. Mobil mobil bak terbuka, mengangkut puluhan manusia. Berpeci, sebagian bersarung. Ada wanita, anak anak dan laki laki. Corong loudspeaker diatas kabin mengumandangkan takbir dengan iringan musik dari tape recorder. Mulut mulut diatas mobil rapat terkatup, takjub pada pemandangan lampu lampu kota dan kemeriahanya diwaktu malam. Beriring iringan mobil dengan sarat penumpangnya, entah dari mana, entah mau kemana. Aku hanya ingin lewat, melaju menuju tempat yang kutuju. Dan…dusun dusun makin sunyi, seperti besok tak ada sesuatu terjadi.

Allahuakbar…allahuakbar…wallilahilhamd……Takbir menggema dalam hati, bersama sunyi dan kecut hati…mengiring penat perjalanan 687 kilometer diatas sepeda motorku. Bathin menangisi kemeriahan masakecilku yang lesap ditelan arus tehnologi. Pohon pohon bambu apus pemasok lampu oncor tak gampang lagi ditemukan, tak banyak lagi diperlukan.Anak anak kehilangan dunianya terganti dengan tontonan televisi, kehilangan inisiatif apalagi kreatifitas. Menjauh dari alam, menjauh dari kehidupan mula mula, menjadi generasi munafik penuh kepraktisan. Melanjutkan catatan zaman dengan kepribadian plastik, hati elektronik, dan mental karbitan.

Dan lebaran tiba ketika matahari muncul diangkasa. Masjid ramai orang sholat Ied, dengan baju baju baru dan kendaraan berjejer bagai pajangan dagangan di pasar loak. Usai sholat pulang, bersalam salaman dengan hati dangkal belaka. Minal aidzin wal faidzin, selamat idul fitri mohon maaf lahir bathin. Kemana anak anak? Tak ada bergerombol datang untuk “balal”. Tak ada orang kerja, setiap rumah televisi menyala. Disanalah anak anak lebih nyaman menikmati lebaran. Kegembiraanya terkurung oleh pencipataan kreasi yang kerdil. Tontonan tivi lebih menemani, dan ‘balal’ hanya dilakukan kepada orang orang tua yang datang kerumah. Tak perlu uang saku, apalagi kompilasi kue kue. Baju barupun biasa, bisa beli kapan saja. Kegembiraan bisa didapat kapan saja. Lebaran hanya hari libur biasa saja!


Greget masakecil tak kunjung tiba. Baju baru dan uang saku, kompilasi kue kue dari rumah kerumah tetangga. Hari bahagia sedunia, hari dimana aku menjadi raja. Mercon dan kembang api bersahutan meninmpahi kegembiraan hati. Tak ada orang bekerja. Semua orang baik hati dan dermawan, sepanjang jalan orang berjualan; cao, es cendol, pecel, bakwan, mentho, sampai bakso atau apapun yang kita mau. Perut penuh, hati riang, uang saku tersedia dan jajan terlaksana dengan baju baru, sandal baru, kopiah baru juga celana baru. Tak ada tugas rumah, tak ada kewajiban sekolah, tak ada orang marah marah. Semua orang tersenyum dan tertawa. Semua pintu rumah terbuka pertanda kita diundangnya; menikmati hidangan sesudah pura pura meminta maaf. Hari bahagia, tak ada letih menyapa sampai senja. Orang orang perantau dari kota berdatangan pulang, berpakaian kekaguman, dan beraroma ketakjuban. Betapa hebatnya menjadi orang kota! Cerita tentang negeri negeri perantauan dan tempat tempat diantah berantah ribuan mil dari jangkauan fikiran, serba menggiurkan. Aku ingin berpakaian kekeaguman dan beraroma ketakjuban; menjadi yang paling sempurna!

Lebaran 2005, hati kecut mengangisi kenangan yang hilang ditelan zaman. Tinggal ritual imitasi dan tipis makna. Aku rindu masakecilku yang hilang…

Jakarta-Boyolali-Baturetno, 3-4 November 2005.

Friday, November 04, 2005

Zero mileage notes


2251hrs/okm
As ther second day of the new month arises by the sun this morning, my trip to the beloved homeland has just begin. Fresh cloths run ready “leaking gasoline tank” motorcycle, safety motorist gear. Whallla!! The first inch of my hundreds kilos journey is ready to begin. Brushing the cold atmosphere of the morning dew, my mind warmed with thousands of reflection of the destination. I have everything to go except your physical presence on my passenger seat…my dragon's soul mate....

0124hrs / 127 km
First stop after 243 minutes trip. Somewhere, on the main road’s side of Indramayu. The sky is so dark, nothing visible. The street is very busy as everybody rushing on their hurry trip to the same destination; homeland! The floor of closed grocery store is so cold, where I lay down may body freely. My mind can not stop thinking about you. This is a beautiful night and I belong to nothing but the nighty sky; no room, no home. The picture of your caring fragmented on my busy thoughts along the road. Are you sleeping up there? Are you dreaming of me in this affectionately quiet night?
I have to go again now, kill the distance on my wheels. Sleep tight, sweet dream hey my dragon’s soul mate…

0313hrs/150km
The other edge of Indramayu border. Stop by for mid-dawn meal for fasting. Ambushed with tired, the rain drops blurring my helmet wind shields. At the warung tegal next to the mosque, I order rice and fish. The fat lady dish up my meal without smile. Old tv set on the corner, present a blur picture of cheap formatted stupid joke show. Kratingdaeng mixed with dry coffee powder is my stamina doping this morning. The picture of my dragon’s soul mate is filling every rooms of my heart, conversing everything that matter to every single breath circulate into my lung.
0346 got to go again. Makan sahur has just finished, and my helmet windshield is clear.

0435hrs/190km
Lohbener busy mosque. Stop by again for Subuh prayer, the worship for welcoming the new day. Teenagers wash my motorcycle and I do not expect result from what they are doing. Breaking the morning dew along this precious journey, my peaceful world left behind in my kost room, my ICQ window, our virtual home, and in your deepest heart.

0531hrs/224km
God blessed my journey. I was doing 100 on the wide cold asphalt bumpy road when suddenly my front tire went flat. Pfffuuuiih…I can be killed easily on this speed. Thank you God, for keeping me alive, thank you god for keeping me calm and control the steering of my vehicle…change the new tire tube at the closest repair station and carry on…

0917hrs/365km
The sun is pouring its brightness seriously. At the small mosque of the Pemalang gas station I stop again for resting. My engine needs a tune up and so does my body.

1211hrs/386km
Entering the town of Pekalongan, I experience the broken chain of my main gear. Life is so beautiful, even when troubles come and gone in this journey. My motorcycle is getting older and it is my loyal friend that takes me wherever I take it.

1714hrs/530km
Finally I feel my body exhausted of . Stop by at the border of Ungaran, where Salatiga the beautiful exotic town is one step ahead. I was surrounding by the hills of coffee plantation. The cool breeze of mountainous nature brings the feeling of my deepest affection to the dragon’s soul mate far away across the sea. I really wish I could share this wonderful view and dramatically romantic feeling of love with my dragon’s soul mate. This is peace of feeling is to empty in my loneliness. Fresh fruit and flower stall along the road side offering stronger desire to have your presence here in my passenger seat and feel the warmth of your touch. I miss the dragon’s soul mate so very much….

1712hrs/598km
The place where I was born tens of years ago. The atmosphere of takbiran is so thin. people gathers on the food stalls and other bright places with friends, watching the busy streets and expecting someone they know arrive from far away. I feel emptiness inside of me, it is sad to lost my childhood memory in my own village. People changed or the world changed? Dragon’s soul mate in my heart, ease my soured soul of this moral experience. My beloved mother welcome me, I will be here only for few minute before running again to another destination of my ‘home’.

2220hrs/687 km
Here I am, stepping my lousy feet into my ‘home’. The place where I used to built my dreams and hopes, the place where I poured my life dedication to. This used to be the place where my heart always redirected to. The plants of happiness faded away, and the air of this environment is so pitiable. This house is nearly dying since I take my heart and mind away from its rooms. I do not belong here as well as I do not belong to anywhere else called home…this is the place where thousands of zero mileage ended previously. Thousands of long way journeys headed for this place I created from nothing, and entrust my proud in. Now, it is just a building, the blend of bricks, cements, sand and other materials formed as the settlement of the human being, to protect from the rain drops and the heat of the sun. To hide from bare eye’s sight of the people, and especially to hide the disgraced attitude of the occupants….

Dragon’s soul mate….I do not belong here…I belong to the virtual paradise of ‘our home’…here I am, crying like a baby on your lap where you treat me like an egg…

Simatupang-Baturetno, 3 November 2005






Thursday, November 03, 2005

Percakapan sepanjang jalan

: dragon’s soul mate

Percayakah bahwa segala hal yang berawal pasti akan berakhir jua?
Ya, aku percaya itu.
Selalu berakhir pada kemisterian, entah berapa miliar jumlahnya bahkan kitalah obyek dan subyek dari kemisterian itu sendiri. Hidup selalu terlalu kaya dengan kisah yang menjadi pakem penegas kemisteriannya sendiri. Hanya proses dengan hasil selalu nihil tak tertebak.

Tapi bukankah karma adalah jawaban hitam putih atas kemisteiran itu?

Ya, sealalu. Dengan mekanisme perputaran yang membosankan keyakinan atas kemutlakanya.

Itukah akhir?

Misteri! Nihil tak tertebak. Dan Cuma kuasa waktu belaka penayanganya, membiarkan tanda Tanya yang berpautan bahkan atas pertanyaan itu sendiri, menjadi atom peradaban yang ternyata tak berakhiran. Riwayat selalu menjadi bukti betapa rapuh da labilnya hidup, yang dalam hitungan detik bisa terhempas berantakan.

Jadi, mufakat?

Ah, dia pola berantai yang merangkai gelembung gelembung dunia yang menyerati setiap manusia. Tiap mataratai adalah gelembung dunia yang selalu mencari lekatan atau bersimbiosis mutualisme dengan gelembung lainya. Gelmbung rapuh dan labil itu adalah kisah awal dan kisah akhir setelah menitipkan ruh misteri. Tak akan pernah ada akhir yang betul betul berakhir sepanjang udara masih mengidupi dunia dan kita. Alam masih menghormati kemuliaan peradaban, sebab hidup hanyalah kisah besar dari dengan miliaran adegan.

Masa depan tidak pernah ada, sebab ia adalah misteri juga akhiran. Hidup adalah hari ini yang mengumpulkan kontribusi jawaban atas kemisterian sebuah akhir; masadepan!

Jakarta – Boyolali diatas Honda Tiger AD 4875 DR 3 November 2005.

Thursday, October 27, 2005

Bunda


Saat merenungkan cinta bunda, yang muncul adalah cinta yang begitu indah. Saat memikirkan bunda, maka terpikirkan cinta, cinta yang manis, lembut dan harum. Harum adalah bau yang sangat menyenangkan, ia tetap segar tidak pernah pergi. Tanpa cinta bunda aku pasti telah jatuh dari kebajikan, keletihan, kehilangan kekuatan dan layu, tanpa cintanya semua pergi dan lenyap.

Cinta bunda adalah cinta pertama yang aku rasakan. Ia adalah akar dari semua cinta yang ada dimuka bumi. Bunda adalah guru pertama yang mengajarkan cinta, dan cinta dalah pelajaran yang terpenting di dalam kehidupan. Tanpa bunda, aku tidak akan pernah mengenal cinta. Terimakasihku kepada bunda karena aku telah mampu mencintai semua mahluk hidup. Melalui bunda, aku belajar konsep tentang pengertian dan kasih sayang untuk pertama kalinya. Bunda adalah dasar bagi semua cinta. Kehilangan cinta bunda adalah kehilangan cinta dunia, kemalangan besar dalam kehidupan menurutku.

Melalui kemuliaan perilaku bunda aku belajar konsep awal tentang cinta dan kasih sayang. Dengan demikian bunda adalah dasar dari semua cinta. Karena bunda mencintai anak anaknya, mengajarkan telaah cinta yang sempurna, tanpa cacat, dan toleran. Aku sungguh beruntung memiliki bunda yang terlatih menahan diri. Beliau jarang membicarakan ha hal yang sedih walaupun bapak entah apa kabarnya sejak aku masih sangat muda. Bunda menyimpanya untuk dirinya sendiri dan selalu berfikir tentang hal hal yang baik, tidak pernah mengeluh. Dengan demikian aku belajar untuk tidak mencurigai orang lain sejak kecil, tidak iri hati, kami menganggap semua hal adalah sesuatu yang memang harus terjadi dan dijalani, dan ini sangat membantuku dikemudian hari. Bunda menunjukkan cintanya yang terbesar dan memiliki kebaikan yang terbesar buatku.

Bunda adalah sumber cinta yang tiada akhir, harta yang tak pernah habis. Bunda juga pemberian terbaik dari kehidupan. Di dunia ini, karena bunda aku merasakan cinta, hidup bahagia, hidup dengan rasa aman. Itulah yang memuaskanku melebihi kepuasan seandainya aku adalah penguasa alam semesta. Ajaran kasih sayangnya membekas, mengandung pengertian bahwa kekuatan cinta dari kasih sayang bisa membuat bunga berkembang, membuat semua orang di dunia bahagia. Aku tidak ingin sedikitpun menitipkan rasa khawatir atau menderita karena keadaanku. Membuat bunda merasa tenang dan senang bagiku adalah kebajikan yang besar yang layak sebagai persembahan.

Sekarang aku mengerti, sikap sikap bunda sebenarnya mengajarkan bahwa kami memiliki hubungan sebab akibat dengan semua mahluk dan semua kondisi, bahwa aku tidak bisa hidup sendiri. Barangkali inilah perenungan yang benar, mengambil semua yang aku mengerti sebagai fakta dan memelihara gagasan yang timbul oleh pandangan yang benar pula, menjadi satu kesimpulan bahwa ibu adalah guru dan sumber dari cinta sejati. Cinta sejati yang tercipta dari satu pemahaman atas perpaduan antara ketulusan hati dan teladan.

Bunda, tahukah engkau bahwa aku sangat mencintaimu…

Simatupang, 27 Oktober 2005


Monday, October 24, 2005

Romantisme hujan



Because the rain is so pure, it makes me cry…

Senja luruh menikam sisa gerimis, rumah rumah batu membeku diliput remang lampu lampu, menyembunyikan entah kehangatan entah kehampaan hati para penghuninya. Jendela kamar buram oleh angin yang berhenti diam. Hujan yang turun diluar kaca jendela menghadirkan lagi lagi romantisme yang kosong, memaksa hati melolong lolong mencari alamat kerinduan. Rintik hujan memenjara hati dalam kamar dan menghadirkan fikiran fikiran mengembara kesetiap hati yang pernah singgah.
Malam begitu romantis penuh kenangan dalam penjara ruang…hampa.

Kesempurnaan terkadang begitu menakutkan, mencekam, karena hati sebetulnya tidak rela dengan kehilangannya. Alam adalah karya seni Tuhan yang tidak ada bandingan indahnya. Menghayati setiap tetes air yang turun dari langit, negeri para dewa, menghadirkan rasa syukur dan kekaguman luar biasa atas kekuasaan Tuhan. Diri menjadi mengerdil begitu kecil didepan kuasa alam, kuasa Tuhan; betapa tidak berdayanya manusia atas kehendakNya!

Keindahan hujan selalu mengusung romantisme hidup, dramatisasi atas nisan nisan kenangan dipekuburan pengalaman. Pada hati hati dan jiwa jiwa yang pernah singgah, rindu itu mengembara. Aroma tanah basah dan gemuruh suara hujan menjadi bingkai atas manisnya beribu pengalaman, pahit getir, manis, jadi satu dalam keindahan kenangan. Sejuk hawa yang hadir bersamanya seolah olah memaksa hati untuk mencari kehangatan rumah jiwa, tempat hati berlindung dari sepi.

Dalam lingkupan nuansa hujan dan kehampaan hati maha luas, kehangatan hadir justru lewat harapan, lewat masa depan yang misterius. Hidup terus berjalan dalam kehendaknya, dan masa lalu tinggal menjadi buah pengalaman yang berhamburan menumbuhkan benih benih keyakinan baru mengeja teka teki masa depan. Hujan yang menaburi bumiku malam ini, menghadirkan rindu yang begitu syahdu menggebu, keindahan yang begitu sempurna oleh sebab rindu tanpa tuju.

Hujan, fenomena indah penegas romantisme hidup…

Kost Simatupang, 23 Oktober 2005

Friday, October 14, 2005

Perjalanan Ragu

Berabad terapung disamudera kebencian dan cinta, menunggu badai reda, menunggu matahari tiba. Usia terus merambati kecemasan dan melapukkan semangat yang porak poranda. Hati meletih dalam penantian akan datang malaikat dari kegelapan yang menuntun arah ketanjung pengharapan. Kesunyian dalam gemuruh ini begitu sempurrna menggigilkan jiwa. Bimbang hati menyeret langkah menyusuri cakrawala berbingkai keniscayaan. Dalam ketelanjangan ribuan petimbangan mendorong dorong logika untuk percaya, tetap mengayuh menuju keraguan lain lagi.

Maafkan aku wahai pelangi karena mencabut pedang berkarat bernama kewajiban yang menancap dipunggung tembus kedada. Tak ada kehidupan didalam perihnya kecuali ratapan panjang atas batu batu nisan yang berjajar tak bernama, di pekuburan ingatan. Jiwa jiwa telah lama mati menyisakan beku membatu sedangkan diladang ketiadaan tetumbuhan kebahagiaan tampak menyembul dari balik tanah sisa peperangan. Hanya jika perkelahian ini usai, kita akan bertemu daratan yang menjadi tuan, entah karena tujuan entah karena terdamparkan nanti.

Dijagat manusia perkawinan hanya tinggal selembar kertas dan segudang kepurapuraan. Tamu tamu hati datang membawa ceritanya sendiri sendiri, dari keculasan demi keculasan dunia. Betapa peradaban telah terbeli hanya oleh egoisme. Tamu tamu yang membawa cerita perjalanannya masing masing melengkapi cerita perjalananku menoreh sejarah tentang keragu raguan yang menjadi tujuan, sampai satu lagi nisan tercipta dengan sempurna.


Simatupang, 14 Oktober 2005

Wednesday, October 12, 2005

Kastanisasi Diri

Bahkan dikehidupan maya cyberspace-pun, watak watak dasar yang mencerminkan landasan sikap kepribadian tidak sulit untuk dijumpai. Di cyberspace orang dengan mudah mengaburkan atau menyesatkan nama, alamat, umur, dan detail detail lainya. Penyediaan informasi yang manipulatif seperti itu aku nilai sebagai itikad untuk mengaburkan identitas, dimana bagi sebagian peculas adalah satu langkah kemenangan untuk menentukan golongan mana yang akan dan ingin digauli. Pengkaburan identitas (baca profile) juga didentifikasi sebagai langkah menutup diri dan melihat lebih jelas kepada orang lain atau profil lain yang dijumpai di cyber.

Pernah pada sebuah perkenalan di chatroom, sapaan sopan seperti “ hello selamat sore…” atau semacamnya mendapat jawaban “ mau apa?” atau yang lebih sering adalah “ siapa?”. Dan itu terterjemahkan dengan ekspresi ketus. Bahkan sorang yang pernah mengobrol di chatroom sehari sebelumnya pernah menjawab sapaan itu dengan “I will appreciate if you don’t talk to me again”. Puih! Rasanya ingin menonjok layar monitor, tapi akhirnya hanya senyuman yang tertempel dibibir. Orang orang ini memiliki karakter arogan, aku yakin mereka memiliki pemahaman yang kaku terhadap pergaulan, apriori terhadap keberadaan dunia gender. Orang orang seperti ini yang menderita kemiskinan humanisme, krisis kepekaan terhadap sopan santun dan budaya tenggang rasa. Memprihatinkan! Padahal, sudah pada sepantasnya orang orang yang bermain dengan perangkat tehnologi seperti itu dan menyediakan diri untuk “mengendarainya” adalah orang orang yang notabene berpendidikan cukup dan berpergaulan cukup, minimal bisa baca tulisan dan membuat tulisan; sedikit tahu tentang adat kesopanan.

Hakekatnya, pergaulan di cyberspace adalah pergaulan yang tak dibatasi oleh pematang pematang peradaban seperti umur, pekerjaan, profesi, jumlah kekayaan dan sebagainya. Cyber adalah tempat bertemunya jiwa jiwa yang lepas dari keterkungkungan hukum kebudayaan. Masing masing jiwa selayaknya terbekali dengan ajaran nurani dan yang lebih baku adalah ajaran tentang sopan santun dan menghargai sesama. Dalam dunia cyber, individu user diwakili oleh cara berfikir dan tatakrama kesopanan, ditunjukkan dengan sikap tahu diri dan tentu keterbukaan komunikasi. Jiwa jiwa itu ibarat gelembung udara dan cyber adalah angkasa sebagai media kebebasan gelembung gelembung itu mengembara. Akan tetapi sudah menjadi perwatakan umum bahwa dunia cyber diibaratkan sama dengan alam sesungguhnya, dimana segala bentuk antonim kebendaan menjadi hukum pengkastaan diri.

Jika pada jaman purba orang menciptakan kasta, tinggi rendah golongan yang terbedakan dari garis keturunan maupun jabatan kedudukan, bahkan kadang jumlah kepemilikan hartabenda, hal itu jelas jelas telah menjadi kesepakatan baku yang dimahfumi dan diterima sebagai sebuah tradisi luhur. Pada perkembanganya, pengkotakan golongan tingkat derajat manusia itu luntur dalam literatur literatur sejarah, berganti menjadi sebuah istilah membingungkan seperti liberal, demokrat, sosial dan sebagainya. Otomatis pengkastaan secara harfiah tidak lagi memiliki makna penentu satu golongan. Menurut Pramoedya Ananta Toer, dunia selalu berubah sedangkan manusia tidak. Selamnya seperti itu itu juga. demikian halnya dengan feodalisme, dengan penggolongan ukuran derajat manusia yang umurnya sepadan dengan pelacuran dan perjudian. Sejak manusia diciptakan!

Penggolongan jenis manusia pada zaman serba elektronik dan mobile ini, secara ekstrim ditunjukkan dengan kastanisasi pribadi, sebuah pengingkaran terhadap kesetaraan dan ruh humanisme secara universal. Kastanisasi itu dimulai dengan pembatasan komunitas pergaulan berdasarkan kesetaraan eksistensi diri dalam masyarakat umum. Sangat mengenaskan bahwa kastanisasi itu dimunafiki dengan slogan slogan humanisme, kepedulian dan sebagainya sedangkan pada prakteknya jelas jelas menyimpang dari teori teori yang didengungkan. Komunitas komunitas berdasarkan pengkastaan pribadi yang disamarkan menjamur lengkap dengan tradisi dan budaya modern dalam konteks yang dangkal yang kerap dinamakan trend. Komunitas itu berada diruang ruang labirin dengan dinding tebal dari kaca, memiliki batas batas nilai tersendiri, seperti ceceran minyak dalam air.

Komunitas itu lahir dari pendalaman akal dan pengetahuan setiap pribadi yang tanpa sadar menciptakan ruang khusus bagi dunia yang diartikan ideal. Perbedaan perbedaan lahiriah menjadi bible yang malu malu disembunyikan. Kepedulian akan kesetaraan dan kesamaan dengan impulsif diterjemahkan dengan laku charity; memberi amal materi. Pengkastaan diri pun menjalari dunia cyber, virtual community dimana idealnya adalah dunia tanpa hukum materi, dunia jiwa jiwa, nurani nurani tanpa dimensi lahiriah, sebuah utopia dimana setiap orang saling menilai dan mengukur berdasarkan jalan fikiran dan kepribadian.

Kastanisasi dalam formatnya yang baru adalah penciptaan kelas berdasarkan perhitungan lahiriah pergaulan; pemimpin dengan pemimpin, pengikut dengan pengikut, penonton dengan penonton, pemain dengan pemain, penggembira dengan penggembira, dan interaksi diantara kelaspun dibatasi pada garis garis baku yang tak tampak mata; hanya hati. Sebuah kemunduran peradaban berjubah kemajuan akal!

Simatupang, 11 Oktober 2005



Monday, October 10, 2005

Utopia


Tuhan mencipatakan tangan melengkapi fikiran, dan Tuhan menciptakan hati sebagai ukuran kepintaran produk fikiran. Kesederhanaan menjadi barang langka ketika zaman berganti jahiliyah, merampas masa dimana manusia menjadi mahluk paling buas dengan taring panjang bernama logika. Tajam mencabik apa saja, siapa saja. Lelah hati berharap nurani menjadi raja atas umat manusia maka mimpilah menjadi pengingkaran yang maha sempurna.

Di satu sudut bumi dalam naungan langit utopia subur menggoda. Pada lereng gunung berhawa sejuk sebuah rumah kayu dengan pendapa dan buritan pada arsitekturnya, berdinding tinggi dengan jendela jendela. Mungil kokoh tanpa warna. Berpagar budi pekerti rumah itu hangat oleh cinta yang damai penghuninya.

Sebidang tanah menghiasi belakang pekarangan, tangan karunia Tuhan mengadakan dari ketiadaan, membuat untuk dipergunakan, menyemai untuk memetik panenan, memakan apa yang ditanam. Tak ada yang patut dirisaukan.

Tetangga adalah sahabat, dimana rasa hormat menjadi aturan kepatutan dan nurani adalah penimang sikap dengan privacy sebagai hak yang terhormati. Wangi bunga rumput melahirkan inspirasi atas karya cipta dari hati juga pada nyenyanyian sepi tercipta filsafat filsafat yang tak pernah terajarkan tentang alam.

Kekerasan bukan budaya, tabu dilakukan, juga prasangka mati oleh ketulusan yang sebenarnya. Kebencian dan keculasanpun tak punya ruang tumbuh pada jiwa jiwa yang hanya tahu bersyukur dan merendah hati, menempatkan Tuhan sebagai pengawal nurani; ajaran paling hakiki bagi setiapi insan.

Rumah, dimana segala bermuara, dimana cinta beristana. Hanya mencintai dan dicintai sepenuh hati sepenuh hidup denga ekspresi tertinggi, tanpa pura pura. Eksotisme alam telah mematri cinta dua hati dalam rumah kayu berpagar budi pekerti. Sampai raga rebah disejuk tanah berdebu sisa lumpur musim hujan dulu, tenang melepas ruh ke perjalanan yang sesungguhnya. Tak ada tangis kecuali senyuman, sebab kematian hanya siklus kehidupan mahluk Tuhan…




Kost Simatupang, menjelang sahur 10 Oktober 2005

Dimana Langitku berada?


:Langit Senja

Ngit,
Aku merindukan gelisahmu yang tanpa malu malu. Aku merindukan birumu yang mengundang hati untuk bernyanyi, aku rindukan lembayungmu yang membawa cinta mengharubiru. Engkau telah sempurna berlari dan bersembunyi dari hidupku, ataukah aku yang terkurung ruang sempit peradaban?

Ngit,
Aku tetap kupu kupu itu, murid atas ajaran absurditas hidup dan engkau selalu jadi guru nuraniku. Aku yang pernah jadi sweet june-mu yang menari dengan ekspresi tertinggi antara batas nyata dan khayal, batas hati dan rasionalitas. Engkau yang mengajarkan aku untuk mencintai dengan kesempurnaan dan mengesampingkan segala bentuk labirin tradisi. Akulah kupu kupu yang pernah jadi ephitapmu, yang tetap mengembara diantara bunga rumput dan ilalang liar di sabana kosmos maya. Masih ingatkah setelah musim demi musim lewat tanpa kata kata?

Ngit,
Aku masih kabut putih yang menjadi bukan apa apa atas kemegahan anggunanmu. Barangkali sekejap lenyap dalam hempasan keperkasaan kuasamu, mati tertebas pedang rasionalitas yang erat engkau genggam ditangan kanan? Tetapi, bathinku teguh meyakini, engku tetaplah langit yang mengetahui segala yang tersembunyi, juga kupu kupu dan kabut putih milikmu dulu.

Ngit,
Aku tinggal punya rindu yang membenalu….padamu….


Kost Simatupang, 10 Oktober 2005

Percakapan Yang Menenteramkan

: nonon

Di sabana maya sebutir debu jiwa mengelana meratapi penghuninya, pada suatu ketika saat prasangka lenyap diserap bumi yang terpijak kaki. Berpendaran dari sisi ke sisi ruh, mengetuk nurani demi nurani dengan kehendak yang polos mengharap harap. Dia mengelana laksana kupu kupu, senyap dalam pengembaraanya yang sendirian kehilangan rantai metamorfosa kodrati.

Langkah terhenti pada teduh berwarna ragu pada sisi sisinya, gemetar memasuki alam hayali dengan pedang bernama rasionalitas terhunus lemah. Mengetuk kaca jendelanya ketika embun bersiap memburamkannya. Pada rongga jiwa yang teduh itu ia pasrahkan catatan pengembaraan tertulis dengan darah sisa peperangan panjang melawan fikiran; kepintaran yang menjajah hati atas ribuan kekecewaan.

“Nafas dan darah yang mengaliri setiap millimeter jalinan tubuh, yang memompakan segenap energi kesetiap penjuru dalam rangkaian rumit urat dan syaraf adalah anugerah tertinggi bagi hidup, otak yang menglirkan warna dalam dimensi bentuk adalah keajaiban yang hanya patut untuk disyukuri, teman baru…” ucapmu membunuh semua gelisah penyesalan, menghentikan letih upaya memunguti serpihan kenangan yang hancur berantakan. Kesombongan menghambur kelantai, belum siap dengan pujian!

Dari letih yang menelikung asa, mimpi tentang utopia mengalir bagai banjir. Satu tempat yang hanya berisi cinta, satu tempat dimana kematian mutlak milik sang alam. Katakan, tunjukkan dimana secuil tanah impian itu berada, dari semilyar tempat yang pernah engkau singgahi meski ia takkan sanggup mencari, setidaknya menyemayamkanya dalam mimpi jadi penghiburan mujarab ketika kegilaan siap dengan kemenangan.

Percakapan sebutir debu jiwa pada teduh berwarna ragu dalam kubus ruang maya menghamburkan ketenteraman tiba tiba. Betapa, utopia itu hadir dalam hati dan jiwa tanpa hukum materi yang angkuh membentengi. Tali temali aturan budaya bumi manusia yang terperangkap ruang bentuk dan gengsi menjadi lumpuh dan mati, ketika hanya nurani dan jalan setapak fikiran menjadi bahasa percakapan. Pada realita, sebutir debu jiwa bukanlah apa apa selain pengembara tanpa harga dan bentuk hakiki…

Terimakasih teman baru, untuk percakapanmu yang menenteramkan hati…

Kost Simatupang, 09 Oktober 2005, 2355hrs.


Sunday, October 09, 2005

Refleksi dari kamar mandi



Jika jiwa adalah samudera maka raga hanyalah biduk kecil tanpa layar ditengahnya. Jika jiwa adalah langit, raga hanyalah sebuah bintang diantara keleluasaanya. Refleksi dari kamar mandi bercerita tentang ketelanjangan diri atas keberadaan jiwa yang sunyi senyap maha luas.

Senyap dan lengang yang menyerbu menghadirkan badai bisu yang mencekam, menggelisahkan. Keyakinan bahwa diri tetap hidup dalam hati orang orang terkasih lelah terombang ambing dalam keraguan sendiri. Angan tertancap dibeton masa, tanpa harapan dan hanya masa lalu yang memilukan. Bahkan musim berjalan tanpa suara dan tanpa rasa. Kekosongan menjadi begitu sempurna dikamar mandi, mengharap sesuatu terjadi, datang dari langit.

Khayal dan pemikiran pun membentur pada langit langit tempurung pengetahuan, dimana hanya ketelanjangan semata yang tertayang. Pertanyaan ragu menikam nikam; benarkah bumi telah kehilangan gravitasi dan kedap segala? Ruang ini, sudahkan hampa udara? Atau barangkali nyawa ini masihkan punya harga?

Semestinya, selama jarum jam tetap berdetak memutar dan siklus perjalanan matahari belum rusak, tentu harapan tetaplah ada, meski buram tak kentara. Membawa diri mengikuti arus takdir tidaklah akan sampai kemana mana kecuali mati. Mati? Betapa indah dan menyedihakan sebuah kematian dalam kehampaan ini. Akankah dibalik kematian ada para bidadari telanjang dan orang orang baik hati penuh ketulusan? Ataukah itu hanya dongeng yang menjadi bingkai nurani?

Dari kamar mandi, ketiadaan hanya melahirkan pertanyaan pertanyaan tanpa jawaban semata…

Kost Simatupang, 08 Oktober 2005

Friday, October 07, 2005

Keadilan Bagi Ketidakadilan

Maka kantor kecil dengan ide besar itupun resah. Empat pendiri dan pemilik perusahaan sebagai direktur divisi masing masing, Operasi, Keuangan, Utama dan Pemasaran. Masing masing berjalan dalam proporsinya selama dua setengah tahun, dan masing masing saling mengandalkan dan mempercayai. Tetapi mereka tampak tegang seminggu belakangan ini. Desas desus beredar bak asap kebakaran hutan setiap musim kemarau di Sumatra dan Kalimantan. Desas desus bahwa direktur operasi kesandung kasus korupsi. Seminggu belakangan memang ruanganya lengang tanpa penghuni. Biasanya dia ada duduk didalamnya, menutup pintu entah apa yang dikerjakanya didalam sana, mungkin chatting di inernet.

Sore tadi pengumuman resmi datang. Semua yang bersangkutan dengan harkat hidup yang berasal dari kantor itu dikumpulkan untuk mendengarkan maklumat penting: He is no longer with us. We respect you and value you personally as the big family of this company. However, we will not tolerate corruption, theft and office politics. We understand that many of you are the good friends of him, and once again we will not tolerate office politics. Tiga perempat orang diruangan setengah tercengang. Sebagian duduk di lajur bangku paling depan, tenang mendengarkan kata demi kata yang keluar dari bibir sang pembicara. Hatinya tenang dan senang jauh hari sebelum maklumat dikumandangkan, dia tahu apa sebenarnya kejadian.

Sang direktur operasi menggelapkan uang perusahaan, hasil patungan bersama ketiga teman. Seorang kaya yang bergaya hidup jetset, seorang terpandang dalam status komunitas yang berwatak preman. Bicaranya kasar dan dangkal, tak membersitkan cermin pimpinan. Sisa produk orde baru dengan predikat OBB (Orde Baru Banget) dalam setiap statement yang diucapkan. Kosong melompong tak meyakinkan bagi orang orang yang mengerti tentang hidup dan kehidupan, apalagi peradaban. Sebentar lagi desas desus susulan akan segera berhembus; sang direktur dizalimi oleh teman teman sepermainanya sendiri! Pasti!

Maka keadilan bagi ketidak adilan terjadi hari ini. “Becik ketitik olo ketoro, temen tinemu. Sopo salah bakal seleh” terbukti benar. Protes bisu dari nurani nurani sederhana sudah terjawab oleh alam. Protes dari sebagian yang tahu makna kebusukan hati dan kebobrokan moral yang terukurung dalam langit tempurung birokrasi kapitalisme. Maka feodalisme di dunia kantor itupun tumbang, mati bersama runtuhnya kerajaan kebohongan yang sistematis terbangun selama ini. Para pengkultus sang direktur menggelar rapat rapat dibelakang forum, mengarang kesimpulan tentang kudeta dari hati yang bolong, mempersiapkan sederet nama sebagai kambing hitam legam.

Wajar, bila orang memetik buah karma dari pohon perbuatan yang ditanamnya sendiri, tak peduli siapapun dia. Begitulah Tuhan menciptakan keadilan bagi ketidak adilan dimuka bumi yang makin tua ini…

Kost Simatupang, 6 Oktober 2005

Dunia Kanan dan Dunia Kiri

:crawford

Pada suatu kesempatan di toko buku Gramedia sekitar dua bulan yang lalu, sekilas saya membaca judul buku yang menggoda” Selingkuh; seni bercinta atas kuasa bohong” Whew! Dan saya tidak tertarik samasekali untuk mendekatinya. Dikarenakan teori teori yang terkandung didalamnya pastilah rumusan rumusan basi atas telaah perilaku sosial, dan sedikit saja mengupas tentang bagaimana pokok permasalahanya tenggelam dalam kedalaman kolam emosi. Barangkali begitu. Dan karena saya tidak punya minat untuk mengetahuinya, maka saya biarkan pikiran apriori menguasai, toh gratis malahan!

Seratus persen saya setuju bahwa selingkuh adalah seni bercinta atas kuasa bohong. Bagi siapapun, kata kata ‘bohong’ pastilah mengandung energi pukulan yang lumayan keras di nurani, atau minimal ke hati-lah. Tulisan ini tidak akan mengkritisi buku diatas yang ditulis entah oleh siapa, apalagi menjadi resensi buku itu. Seorang teman laki laki sempat bertualang didunia tersebut dengan dan bagi saya lebih mudah untuk menganalisa dan menyimpulkannya. Begini pandangan pandanganya;

Dibalik setiap jiwa manusia terpenjara sifat kebinatangan, bahkan manusialah sebenarnya binatang yang paling sempurna dimuka bumi. Kemudian jiwa itu sendiri terkurung oleh jasad duniawi secara fisik dan itupun masih dilapisi dengan tatanan peradaban kehidupan sosial sebagai zon politicon. Tatanan itu lebih ampuh yang tidak tertulis bagi bangsa kita, seperti agama, norma, dan tentu adat tradisi. Itulah parameter terakhirnya. Tatanan kehidupan sosial, aturan peradaban. Jelas itu produk budaya hasil dari revolusi jutaan tahun kehidupan umat manusia.

Definisi dunia kanan dan dunia kiri adalah sebenarnya penjabaran dari apa yang disebut perselingkuhan, sebuah seni bercinta atas kuasa bohong seperti judul buku di Gramedia itu. Dunia kanan adalah dunia dimana peradaban dan semua aturan kepantasan diberlakukan. Dunia ini biasanya berisi anak, istri atau suami, keluarga dan investasi social lainya berupa rumah tangga dan tetek bengek yang menyertainya.

Dunia kiri lebih bersifat inklusif, berisikan tentang khayalan khayalan, ilusi bahkan fantasi yang diwujudkan bersama seseorang dalam satu buah hubungan tahu sama tahu yang lebih sering dinamakan Selingkuh (Selingkuh sering diistilahkan dengan SLI – Selingkuh Itu Indah- adalah sebuah perhubungan khusus dengan seseorang lain jenis yang disembunyikan rapi dibalik tembok dunia kiri. Batasanya seperti apa, tidak ada literatur manapun yang bisa dijadikan acuan lantaran dunia kiri mengikuti kebebesan alam fikiran ibaratkan sebutir debu dilangit biru, bebas mengembara, bebas menentukan rasa, bebas menentukan pembatas bagi dunianya sendiri. Pada umumnya, dunia bathin yang bebas tidak mengenal batasan, apakah itu hanya sekerar bed relationship atau lebih dalam lagi dengan melibatkan perasaan. Teman saya itu pernah juga mengalami dimana pasangan dunia kiranya terlalu tenggelam dengan perasaan melangkolis; jatuh cinta dan berencana meng'kanan'kan dunia kiri itu no matter what it takes!! Yang didapatkan si istri orang ini jelas: ketahuan suaminya, diceraikan dan ditinggalkan sama pasangan dunia kirinya karena tidak bisa konsisten dengan komitmen dunia kiri dan kanan. Akhirnya si eks istri orang itu hidup dalam ketidak menentuan, melacur di kafe kafe menggabungkan dunia kiri dan kanan tanpa batasan. Itu mengenaskan menurut saya.

Dunia kanan dan dunia kiri dibatasi oleh tembok kokoh bernama nurani. Dunia kiri hidup dalam kebun rahasia tiap tiap manusia, sedangkan dunia kanan mengemban segala macam batasan kewajiban hukum, peradaban, ikatan komunitas. Antara dunia kanan dan dunia kira sebenarnya adalah kutub kontradiktif, dimana masing masing dunia itu memiliki perwatakan dan sifat yang saling me-latenkan, saling mewaspadai, saling menakuti, dan saling mengiri.

Pecahnya tembok pembatas antara dua dinia itu bisa menyebabkan banjir bandang segala macam, mulai dari rasa malu, rasa tidak terhoramti, rasa tidak terbutuhkan, rasa terhina, rasa terkhianati, rasa terdzalimi, atau ribuan rasa negatif lainya yang bisa menghancurkan. Dunia kiri adalah laten bagi dunia kanan, dan yang paling parah dari akibat kemenangan dunia kiri adalah; perceraian.

Dunia kiri jauh lebih menarik karena faktor kerahasiaanya, petualangan bathin atas mengalami sesuatu yang baru bersama lawan jenis yang bukan pasangan hidup, sebuah tantangan yang berbahaya dan gairah yang membuncah karena magnit lawan jenis. Dunia kiri yang sempurna mengenal batasan batasan yang sangat ekstrim, serperti dilarang bersms atau menelpon ketika berada dilain dunia, dsb. Sekaligus memiliki ketidak terbatasan dalam pelaksanaanya, fikiran dan kemampuan berfantasilah ukuranya.

Apapun definisi dan kedahsyatan petualangan yang terjadi, tetap saja disimpulakan bahwa dunia kiri adalah produk seni bercinta atas kuasa bohong…nista namun nikmat! Penyakit umat manusia sejak zaman Adam dan Hawa...


TB Simatupang, 6 Oktober 2005

Thursday, October 06, 2005

Revolusi Cinta

Ketika seseorang memutuskan untuk menikahi lawan jenisnya, alasan universalnya adalah karena cinta. Lalu membentuk sebuah lembaga pribadi bernama rumah tangga, sebagai investasi sosial. Ketika rumah tangga mengikat cinta, maka terminologi cinta berubah pula menjadi ikatan kewajiban, ikatan tanggung jawab dan ikatan hukum yang melekat kepada negara, masyarakat dan pasangan. Ikatan ikatan itu terkadang menjadi kabur dan menjelma menjadi sebuah ikatan yang tak telindungi hukum materi; ikatan emosional. Keruwetan konstruksi rumah tangga itu bisa saja disederhanakan dengan begini; menikah adalah memilih seseorang untuk saling mengikat dalam setiap aspek sosial maupun personal, dengan landasan kerelaan terlibat secara emosional berdasarkan cinta kasih.

Dan ketika dua individu itu disatukan atas dasar keinginan maka terbangunlah mimpi dan harapan. Dunia memang selamanya tidak berubah, tetapi manusialah sesungguhnya yang berubah. Waktu terkadang memberi ajaran tentang betapa tidak ada apapun yang akan abadi dikolong langit ini. Cinta, sang modal investasi sosialpun kadang tergerus dan berubah bentuk seiring perjalanan zaman. Degradasi cinta membuat segala ikatan itu menjadi sumir, tak bermaka apa apa kecuali sederet kewajiban. Karena cinta adalah energi jiwa mencari pelepasan dan penampungan, maka bentuk cinta yang telah melorot maknanya itupun kelayapan mencari ‘rumah’nya yang ideal. Pengembaraan energi cinta ini melawan arus moralitas nurani dan memberikan kuasa bohong kepada hati untuk terus mencari dan menari wahana ekspresi; satu individu baru.

Maka investasi sosial itu menjadi bangkrut kehilangan esensinya. Hanya sebatas status suami istri belaka, itupun telah berada diujung tebing menunggu hari baik datang dimana angin mendorong masuk kejurang kehancuran. Masing masing pemegang saham dalam lembaga cinta itu sekian lamanya mengubur hak pribadi mereka, selamannya mematikan fantasi fantasi pribadi mereka dan berpura pura menjadi suami dan istri agar sang lembaga cinta tetap bernafas. Tali tali yang mengikatnyapun telah lapuk oleh penghianatan atas nurani maupun harga diri individu dan perlahan menyebabkan simpul simpul ikatan itu mengendur dan siap untuk luruh menjadi debu.

Ketika itu terjadi, maka jelaslah bahwa kehancuran sudah lengkap menjulang didepan mata, maka yang dibutuhkan tinggal revolusi cinta. Dengan rela meski berat melepaskan semua ikatan membawa semua bekal pengalaman untuk perjalanan lain lagi. Perceraian adalah revolsi cinta yang paling ekstrim, hingga yang tersisa hanya rasa bahwa kita tidak pernah merasa memiliki apapun sampai kita kehilangan sesuatu. Runtuhnya sebuah lembaga cinta adalah kehilangan investasi sosial karena cinta yang bangkrut. Ikatan emosi telah meredupkan nyala terang sang rasionalitas yang seharusnya menjadi panel sentral sebuah revolusi. Pada giliranya rasionalitas akan menjadi tembok kokoh pelindung diri dari kesedihan yang berkepanjangan, dari derita yang berkelanjutan. Ketika rasionalitas menjadi raja atas intuisi, maka cinta hanya sekedar dua hati yang berdiri tertanam dikutub berlawanan, kehilangan energi magnetik yang mengikat dalam eksistensi lembaga cinta dalam percturan peradaban.

Dimana mana revolusi membutuhkan darah sebagai tumbalnya, meninggalkan perih sebagai catatanya, maka bijaklah mereka yang memilih pasangan hidup dari golongan orang dimana merka tidak bisa hidup tanpanya.

Kost Simatupang, 5 Oktober 2005

Wednesday, October 05, 2005

Setelah Bali Meledak Lagi


Senja lepas dari mayapada. Dari tepi pantai Kuta, matahari baru saja lindap dibalik garis horizontal yang menyisakan bias merah menggelap diangkuti ombak yang lantas mendamparkanya ditepian, amblas dihisap pasir putih sepanjang bibir samudera. Diatas pasir, ditepi pantai dan dibawah langit meja meja kayu telah rapi ditata, orang orang enggan melepas matahari keperaduan, menatapi ujung barat yang tinggal pekat. Lazuardi bening. Sabtu malam baru mulai, eksotisme Bali membuncah pada atmosphere yang tecipta disetiap sudut kota. Lalulintas jalan seminyak begitu bersemarak menyambut datangnya malam minggu pada tanggal muda 1 Oktober 2005. Tak ada duka yang tersembunyi dari ribuan kepala dan hati yang berkelana disetiap ruang sepanjang jangkauan sinar lampu. Kemesuman membisik malu malu pada malam yang belia. Dewata sedang bercengkerama dengan semua penghuni kehidupan disana, diberkati setiap tawa yang meledak dari mana mananya.

1942WITA, sebuah gelegar dahsyat terdengar dari Raja’s café. Menit berikutnya dua ledakan serupa membahana dari pantai Jimbaran* ketika orang bercengkerama bersama kekasih hidup mereka dibawah langit, diatas pasir, ditepi samudera kafe Manage dan kafe Nyoman. Ledakan itu menjadi titik kulminasi yang membalikkan kisah dari hitam ke putih, memberangus romantisme kehidupan yang berlaku, mengubah ketenteraman menjadi malapetaka. Detik berikutnya kepanikan merajalela. Manusia, kendaraan dan segala jenis kekacauan bebas menghambur dijalan jalan dan dimanapun. Suara klakson mengiringi jeritan dan teriakan, disusul lengking berpuluh ambulans menambah resah. Hati hati yang ceria berubah menjadi gelap gulita. Dewata entah ada dimana, mengilang seketikan dari dalam hati dan kepala. Asap pekat membumbung, segala keteraturan berhamburan acak tak tentuan. Sebuah aksi terror baru saja sukses dilaksanakan!! Sebuah tindakan dengan tujuan untuk melahirkan efek takut dan terancam; terorisme.

27 orang berubah menjadi mayat; tewas dengan tubuh compang camping, sedangkan 129 lainya harus dirawat masuk IGD rumah sakit karena luka yang kebanyakan karena terbakar dan cedera tulang. Korban tidak dipilih berdasarkan kriteria dosa dan kebejatan ahlaknya, tetapi random berdasarkan peruntungan hari naas masing masing, dari bocah, manula, remaja, dewasa bahkan binatang sekalipun menjadi korban - meskipun tidak masuk dalam hitungan angka statistik ‘death toll’ resmi - . Polisi kita dengan detasemen 88 antiteror andalanya cekatan bertindak. Dua hari setelah kejadian polisi menyimpulkan; modus operandi: suicide bombing. Pelaku: tiga orang pria, tinggal kepala doang. Identitasnya, dalam proses penyidikan.

Dunia mengecam aksi kriminal sadis ini. Bahkan semua orang yang msih punya nurani menghujat tiga butir kepala si pelaku peledakan. Sikap kelompok pelaku yang banci membisu tak berani mengklaim sebagai fihak yang bertanggung jawab membuat banyak fihak dan banyak orang menyampaikan analisa, terkumpul menjadi teori berdasarkan penguasaan materi dibumbui dengan asumsi teknis. Dari banyak ‘narasumber’ sukarela itu ditarik garis garis besar sebagai berikut; pelakunya dicurigai adalah kelompok islam radikal Jamaah Islamiyah. Motifnya, bisa memang terror murni anti Amerika dan Australia yang memanfaatkan kealpaan popularitas Bali sebagai media atau serangan terhadap sistem demokrasi Indonesia yang menghisap Bali habis habisan atau “SMS” kepada dunia bahwa institusi keamanan di Indonesia loyo atau pukulan terhadap arogansi Bali yang notabene mayoritas Hindu karena issue tuntutan otonomi khusus bahkan ada yang dengan sinis menyimpulkan aksi itu adalah gaya mengalihkan perhatian orang terhadap kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM yang mencekik leher dan mengeksploitasi keberadaan keluarga miskin.

Teori teori diatas menjadi tidak penting ketika fakta menunjukkan bahwa tigaperempat lebih korban ledakan adalah orang Indonesia sendiri dan 100% adalah tidak mengerti seluk beluk misi terorisme (kecuali ketiga korban yang hanya tinggal kepala, tentu). Obyek yang diserangpun bukan lagi gedung, bangunan ataupun instalasi vital milik negara lain, tapi tempat umum yang biasa dipakai untuk rendezvous, kongkow kongkow.

Dalam pemahamanku, aksi brutal itu tetaplah perbuatan diluar batas ukuran orang bermental sehat, bodoh dan destruktif. Siapapun pelakunya adalah manusia yang sangat patut dikasihani karena kemelaratan nuraninya. Atau lebih patut diterapi karena kesesatan jiwanya. Ada pribadi invalid telah menebarkan virus budi pekerti kepada orang orang bodoh yang bisa didoktrin untuk menjadi monster dengan iming iming surga berlabel agama yaitu dengan melilitkan bahan peledak sejenis Trinitrotoluena (TNT) dengan imbalan perjalanan aman menuju surga. Menurutku sistem pengajaran akidah di negeri tercinta ini masih bersifat konservatif dimana agama dijejalkan diotak sebagai ideologi akal dan Tuhan diperkenalkan sebagai ‘algojo’. Seyogianya agama diperkenalkan sebagai sebuah ideologi nurani sebagai dasar dan patokan berperilaku sedangkan Tuhan adalah sang causa prima, pengawal nurani setiap jiwa. Dalam sejarahnya, agama timbul sebagai reaksi korektif dari kemerosotan budi pekerti pada suatu kaum. Ajaran dasarnya universal, yaitu cinta kasih kepada semua mahluk. Cinta kasih adalah sumber dan akar dari budi pekerti yang seyogianya menjadi dasar dari sikap hidup penuh harmoni. Perkembanganya, agama menjadi tunggangan bagi segelintir orang ambisius dengan pemahaman yang keliru untuk mengkampanyekan agenda individualistik terselubung dalam kamuflase agama.
Type orang seperti itu aku namai saja; Bajingan!


Kost Simatupang, 04 Oktober 2005



* Pantai Jimbaran: dimana pada sebuah sore November 1992 aku dengan ceria memunguti puluhan ikan layang layang yang terdampar, mabok oleh angin pancaroba dan perubahan suhu di samudera Hindia. Kubawa pulang ke gubukku dan berpesta bersama Blackie, anjing kecil hitamku yang mati tertabrak mobil dua bulan kemudian di depan Santa Fe bar and grill Jl, Dhyana Pura 11A, Seminyak – Kuta.


.





MARHABAN YA RAMADHAN



Besok Ramadhan datang lagi. Ritual puasa sebulan penuh dimulai. Hari ini demonstran menolak kenaikan harga bahan bakar minyak masih meramaikan jalan jalan protokol Jakarta. Dua ribuan massa bergerombol dan membuang engergi sekaligus mengganggu pengguna jalan di seputaran HI dan dekat RSCM. Dari mushola samping kostku suara orang bertadarus mendayu dayu lewat corong loudspeaker. Entah surah apa yang dibacanya, entah apa pula maknanya.

Dikantor, sore tadi menjelang pulang orang bersalam salaman, meminta maaf dan mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Harmonisasi komunitas ataukah bagian dari ritual Ramadhan, tak perlu dipertanyakan karena memang bagus demikian diadakan, meninggikan rasa kehormatan dan penghargaan terhadap satu kepercayaan bathin, tuntunan perilaku dan mungkin sebagian orang lagi adalah komunikasi vertikal antara mahluk dan sang Khalik.

Ramadhan tahun ini berangkat dengan bobot yang sedang sedang saja dalam ukuran pendalaman kebatinan pribadi. Puasa, yang pada hakekatnya adalah pengendalian diri lebih merupakan momentum rutin yang tercetak baku dalam konsepsi masa. Seperti tahun kemarin, seperti tahun yang akan datang, Ramadhan akan datang. Nilai “kesucian” seperti yang dikampanyekan ahli dakwah belum datang menyentuh kedasar sanubari yang bisa meluruhkan segala jenis kegersangan dalam jiwa. Aku menunggu hidayah, sebab hanya bisa menunggunya.

Selamat datang Ramadhan. Selamat datang bulan suci, aku menyambut dengan ucapan. Melewatinya dan menjadi catatan yang tak teramalkan. Tetap, duapuluh empat jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu berjalan, meski bulan suci Ramadhan datang, hingga tiba hari lebaran….bulan depan.
Setidaknya, abab kita bau wangi bunga kesturi kata Mami Sita…kejadian langka, bukan?!

MARHABAN YA RAMADHAN….SELAMAT DATANG BULAN PENUH BERKAH DAN KESEMPATAN….


Simatupang, 4 Oktober 2005.

Friday, September 23, 2005

Makelar Mimpi


Aku bukan MD* bukan YT* ataupun RD*. Bukan type ketiganya sekaligus bukan type salah satunya. Bukan. Mereka bisa memanivestasikan sisi kemanusiaan ke sisi apapun yang mereka mau. Tapi aku bukan mereka. Aku ingin menjadi makelar mimpi.

Siapa yang menjual mimpi, tolong beritahukan kepadaku sebab aku punya pembelinya. Semua jenis mimpi akan dihargai amat mahal semau kalimat yang keluar dari mulut. Total transkasi belah semangka, begitulah ‘deal’nya.

Maka para pemimpi menyetor komoditi. Karena aku makelar mimpi, akupun jadi pemimpi. Bermimpi Tuhan tiba tiba menjadi amat pemurah hati, memberi rejeki lewat jual beli mimpi. Empat ratus juta rupiah tiba tiba ditangan, hanya dengan modal mimpi doang!

Untuk informasi, mimpi telah menjadi kemewahan bagi jiwa jiwa yang lelah mencari dan letih berkelahi dengan hidup kenyataan. Dipasar mimpi segalanya bisa terjadi tanpa harus mengejawantahkan diri sebagai anu atau membuat anu. Orang orang kalah menciptakan komunitas mimpi sebagai penghiburan atas ketidak berdayaan, atas kemiskinan yang mencekik leher. Sederhana saja, tanpa referensi ataupun katabelece dari siapapun, hanya perlu telinga dan mulut yang sedikit berbusa. Itu saja.

Inilah makealar mimpi dijagat nyata, dibumi manusia. Memperdagangkan kemustahilan dan terbayar dengan impian; jadi kaya. Tak apa, memang layak si kalah hanya tinggal mimpi. Beruntung malah, sebab sebagian lagi orang telah bangkrut sampai mimpipun tak punya…

La Casa Tikala 106, 22 September 2005
* Tokoh LSM Sulut yang konsisten memperjuangkan hak rakyat Buyat.

Thursday, September 22, 2005

IM3 Corner Manado



Disaksikan rembulan yang malu malu muncul diperadaban bumi, kuhirup anyir pasir lautan dan sayup gelisah lautan pantai Boulevard di teluk Manado. Eksotisme kota ini telah menjadi kemesuman menjijikkan dijiwaku yang sakit. Aku merindukan kamar hotelku yang kosong sunyi ketika dialog meliuk bagaikan puting beliung. Kebisingan kulalui bagaikan mute mode dalam layar TV. Sunyi dihati.

Ah, musik dari loudspeaker itu, bikin aku muak ingin muntah. Musik yang mendengingkan dendam dan menayangkan badut dengan cemoohan atas diri yang terpecundangi. Lampu lampu berbisik tentang kasak kusuk sepanjang pantai, ketika orang orang berpasangan bergandengan berlalu dari hadapan. Entah apa yang diperbuat dalam gelap sana!

Dan dialog kami terus saja berkisar. Dua jam duduk untuk satu gelas teh jeruk nipis hangat, ketika coklat panas tak tersedia. Dinegeri tropis tanah airku sendiri dimana jutaan hektar bidang tanah ditanami kakao, dan aku gagal menikmati coklat panas yang sudah mengepul dikepala. Dan obrolan terus saja berkisar, dan musik terus saja mengalun, bagai palu godam dalam fikiran.

Angin datang dan pergi sesuka hati, kadang kencang kadang sepoi. Mejaku kini penuh gagasan gagasan penutup lubang menganga atas siapa diri. Aku menjadi idealis jalanan paling dominan tiba tiba, bicara tentang Jalan Roda dalam perspektif sederhana. Bicara tentang kota ini dalam ketidak pedulianku yang sesungguhnya.

Tempat ini telah menjadi bedebah dalam diriku. Eksotismenya terterjemahkan menjadi kemesuman menjijikkan dikepalaku. Aku ingin pulang, kekamar hotelku yang senyap menenteramkan…




IM3 Corner Megamas – Manado, 21 Septmber 2005

Tuesday, September 20, 2005

Catatan Ulang Tahun



Rembulan penuh diatas lapangan Tikala, diatas kepalaku dan diatas tubuh tubuh kumuh yang tertidur dibangku beton membeku, berderet disisi tenggara lapangan yang berseberangan dengan deretan penjaja makanan dan minuman rupa rupa. Sepanjang malam memasak dan sepanjang malam pula orang berdatangan membelanjakan uang, memanjakan keinginan normatif; makan.

Bulan purnama menyapa ketika kaki pegalku melintasi lantai beton sisi lapangan. Malam ini telah kuhadiahkan untuk usiaku yang ke 35 sebuah semangat untuk terus mengecap hidup yang kujalani. Konsistensi atas diri, bukan lagi perenungan atas apa yang terjadi. Beginilah sang air menjalani hidup yang mencair, mengalir mengembara menuju ketiadaan. Menghentikan pencarian dan teruslah mengalir mengikuti katahati.

Rembulan penuh diatas lapangan Tikala depan gedung balaikota memantulkan sinar pucatnya. Diatas sana diantara kekosongan maha luas dia sendiri dalam kecantikanya. Seperti mengajakku menimang diri, betapa sendiri dan kosongnya hidupku meski aku bukan rembulan. Tak ada suara apa apa di atas sana, hanya sinar pucat dan sedikit romantisme basi. Aku kesepian, seperti rembulan penuh diatas lapangan Tikala.

Maka kubawa pulang kenyang, kubawa pula kekosongan jiwaku kekamar hotel. Aku letih dan telah berhenti bertanya tentang diri, sebab hanya mengapa dan mengapa saja pertanyaan itu. Menggubal tak tentuan, menggumpal bagaikan karang kejam dalam dada. Akukah kehilangan semangat hingga menjadi begitu istimewa sebagai hadiah ulang tahunku?

Nun jauh dari ribuan mil tempat raga kosongku berada, seseorang telah memanen kebahagiaanku enam bulan lalu untuk dihadiahkan sebagai ulang tahunku. Dihadiahkanya kepadaku keperihan hidup dan kebusukan hingga akhir hayat. Dari 35 sampai tak terhingga, sebab usia hanyalah misteri belaka. “Selamat ulang tahun, semoga abadi kehancuran hatimu” ucapnya tertulis pada selembar daun kenangan….

Maka kuterima jatah hidupku, menjadi catatan kenangan bahwa 35 tahun setelah bunda melahirkanku aku telah menjadi sebuah jiwa yang penyok penyok, menjadi sebuah hati yang hancur lebur sampai mati…kepadamu yang pernah begitu kucintai, hadiah ini kuterimakan dengan senyum kusembunyikan. Sebab, sejak sekarang aku bukanlah lagi aku yang selama 35 tahun belakangan…

Selamat ulang tahun, diri….selamat ulang tahun jiwa yang merana…semoga perihmu abadi, semoga deritamu terbawa mati….


La Casa 106, Tikala – Manado, Selasa, 20 September 2005

Tuesday, August 30, 2005

Jakarta, macet dan SMS


“Ufh…I am trapped in a traffic jam. Streets of Jakarta is really unpredictable” Amadea sms pada jam sembilan belas lewat tigapuluh menit tigapuluh sembilan detik, hari Senin minggu terkhir bulan ini. Di sudirman katanya, dalam perjalanan pulang dari kantornya di kawasan Hayam Wuruk ke rumahnya di Cinere.
“Yup! I heard a lot about that. What do you think government should do about it?” begitu tertulis di layar handphone dari antah berantah dalam format sama; sms.

“ Perbaiki kondisi angkutan umum, so the society lebih memilih naik angkutan umum daripada mbl pribadi. Contoh: Singapore. Angkat jempol buat angkutan umum disana. The keyword is: disiplin. Do u think Indonesia could do that?”
.
“ Not in d next 30 years I reckon. It is the matter of discipline. I agree. It is the mentality of the whole nation, -jkt community particularly. I think we can start from education plan”.
“ Indonesia disiplin? Berapa generasi lg ya? Dari segi edukasi kita ketinggalan many steps behind. Maybe we’ve lost 1 generasi penerus bangsa…”

“30yrs is when the next generation will be in charge. Idealnya kita yang menyiapkan pddkan bwat mereka sekarang. Sbh sistem pddkn yang komprehensif dan terevaluasi, tapi harus dibarengi policy yang ketat dalam prakteknya. Hukum harus dikawal scr represif. Ufh…I am out! Honestly I know nothing of what I was talking about”

Anda jangan salah, obrolan sms itu bukan keluar dari hape ekspatriat yang kebetulan tinggal dan bekerja di Jakarta, tapi dari dua orang laki laki perempuan dengan usia hampir sama, orang Indonesia satu bersuku Jawa dan satu bersuku Batak. Jangan pula kaget dengan bahasa yang mereka pergunakan, karena dalam dunianya bahasa itu justru lebih ekspresif dan sederhana! Bahasa seperti itu relatif jamak digunakan dalam komunitas eksekutif muda Jakarta. Campur aduk, yang penting komunikatif dan ekspresif. Dan kita tidak sedang dalam forum tata bahasa, kan?

Anda salah lagi kalau mengira obrolan kritis itu keluar dari pemikiran dua orang yang memang berkecimpung dalam dunia profesi yang sama, atau orang orang yang memang berkutat dengan kepedulian terhadap keadaan sosial kemasyarakatan, apalagi Lembaga Sosial Masyarakat. Bukan, si wanita bekerja di bidang civil engineering pada divisi tehnik sedangkan si laki laki bekerja dibidang Badan Usaha Jasa Pengamanan dan Penyelamatan pada bagian Operasi. Sama sama tidak ada konteks langsung dengan pekerjaan mereka. Wacana diskusi itu mengalir spontan atas apa yang mereka rasa, lihat dan alami semata.

Minimal dua orang itu sudah saling mengenal sangat lama? Oh, anda kurang tepat jika berprasangka seperti itu. Mereka kenal di dunia cyber lewat Yahoo Messenger barulah lima hari yang lalu dari computer di kantor mereka masing masing dan hanya itu. Mereka tidak pernah bertemu secara fisik di dunia real. Tetapi justru dunia maya itu barangkali yang membuat mereka berkomunikasi dengan bahasa fikiran dan bathin mereka, mengesampingkan embel embel hukum materi maupun yang melingkupi karakter peradaban secara fisik, termasuk latar belakang pendidikan. Sarjana tehnik dan seorang tamatan SMTA!
Sudahlah, kita kesampingkan profil dua panelis kita ini, sedikit kita bicarakan saja landasan filosofis dari content diskusi mereka.

Kemacetan Jakarta memang sudah menjadi keluhan umum yang didiamkan, diterima dan dimaklumi adanya. Orang seperti tidak berdaya melawan keadaan itu, kebingungan mencari alternatif jalan keluar ternyata menimbulkan kemacetan lain lagi pada umumnya. Penetapan three in one, menambah jalur perlintasan alternatif, Mass Rapid Transit atau Busway yang berbasis jalan raya, dan banyak lagi solusi praktis rasa rasanya belum membawa hasil yang melegakan bagi kemacetan itu sendiri. Macet tetap saja menimbulkan efek psikis yang sama; jengkel biarpun itu di mobil pribadi apalagi bergelantungan di bus kota. Pulang kerja, tanggal tua pula! Puih!

Obrolan sms diatas mengandung satu keluhan dari individu yang secara rutin mengkonsumsi kemacetan itu pada setiap hari kerja. Nah! Pada hari kerja saja rupanya kemacetan itu menjadi rutinitas. Sedangkan pada hari hari libur, jalanan menjadi lengang oleh lalu lalang. Orang bahkan bisa bikin acara jalan santai, sepeda santai atau jalan ramai ramai dijalanan protokol Sudirman pada hari libur! Dengan minta ijin kesana kemari dulu tentunya! Tidak diragukan lagi, memang mobilitas kaum pekerja jugalah yang menyebabkan kemacetan itu. Jutaan orang dalam urusannya masing masing memanfaatkan fasilitas jalan yang sama pada saat yang sama. Apakah lantas ada introspeksi yang konstruktif dari pemakai jalan bahwa merekalah sebenarnya subyek dan sekaligus obyek dari kemacetan itu? Tentu tidak. Mereka memiliki hak yang sama untuk menggunakan fasilitas jalan dan kendaraan, mereka dibebani dengan kewajiban yang sama pentingnya atas tuntutan profesi dan kehidupan pribadi masing masing. Harapan mereka, orang lain yang seharusnya mengerti kepentingan egois mereka, jalanan seharusnya tidak menciptakan kemacetan, dan nah ini dia…pemerintah seharusnya tanggap dan cerdas mencari solusi demi warganya!

Orang orang seperti Amadea yang notabene kelahiran Jakarta ataupun orang orang yang bermukim di Jakarta meskipun dilahirkan ditempat lain, memang cenderung terjebak dalam ekslusifias individunya masing masing. Pola seperti itu mau tidak mau memang menjadi budaya kota urban.
Sebagai individu Amadea mengeluhkan tentang kemacetan yang terjadi, dan dengan lancar dia mengungkapkan idealismenya kepada orang yang dianggapnya ada dalam ekslusifitas individunya. Sebuah idealisme berbasis solusi yang lahir dari keluhan terhadap realisme sosial yang semakin mengakar menjadi satu permakluman bersama; macet. Sebuah idealisme yang lagi lagi hanya terkurung dalam lingkaran ekslusifitas individu Jakarta, bukan menjadi wacana dari para pembuat kebijakan tata kota. Apa ini? Apakah Amandea berada di posisi yang tidak seharusnya atau pembuat kebijakan yang memang tidak tepat menduduki kursinya? Somebody put the wrong man on the wrong place? Mohon anda tidak berfikir su’udzon, sebab itu juga bisa menjadi salah satu bibit stress kabarnya. Saya tidak mau tulisan ini nantinya menjadi pemicu salah satu pemicu melonjaknya angka penderita penyakit kejiwaan di Jakarta, lho!

Gagasan Amadea lahir dari keluhan yang terkurung dalam ruang ekslusif itu, terjemahan dari kejenuhan akan keadaan yang tidak lebih baik dari harapannya. Berdasarkan pengalaman pribadinya, di ambillah profil Singapura sebagai contoh pembanding. Dari perbandingan itu pula akhirnya ditarik benang merah, titik pangkal dari penyebab kesemrawutan di jalanan Jakarta; disiplin pengguna jalan, disiplin bangsa! Content diskusi secara sederhana menyadari bahwa produk disiplin bukan pekerjaan tukang sulap atau borongan sehari jadi, karena disiplin jelas memiliki banyak sekali variabel sebagai korelasi. Dan yang paling berdekatan denga degradasi disiplin mental bangsa ini – sekali lagi menurut panelis – adalah pendidikan. Kalau mau lebih jauh lagi, simpul kemacetan bisa diurai sebagai dimensi kultural terhadap perilaku anti disiplin. Disiplin disini kita definisikan saja dengan kepatuhan atas kuasa kesadaran terhadap aturan prosedur yang berlaku secara umum.

Tigapuluh tahun waktu yang dibutuhkan jika ide tentang reformasi sistem pendidikan itu direalisasikan sekarang, jika tidak hari ini ya bisa minggu ini, bulan ini tidak apa apa, atau minimal tahun inipun masih bolehlah. Bukankah bangsa kita termashur fleksibel dalam urusan waktu? Tigapuluh tahun masa yang singkat sebenarnya untuk ‘merelakan’ satu generasi hilang dan membentuk sekaligus melahirkan brand new generation yang beda dengan generasi sekarang. Angka itu jelas bukan muncul dari kajian ilmiah, melainkan opini impulsif semata, ekspresi pesimistik atas kualitas generasi yang sedang hidup sekarang ini. Tapi kita bayangkan saja tigapuluh tahun kedepan dari usia kita yang sekarang, itu tips lagi untuk mengurangi beban protes yang terkadang menjadi bibit stress di kota semegah Jakarta ini. Jadi delivery product dari ide itu begini; sebuah generasi yang berdisiplin yang terbentuk dari satu sistem pendidikan yang integrated, kemudian dalam penerapanya di dalam aktivitas semua sektor dikerangkai satu sistem kebijakan publik yang dikawal oleh praktek hukum yang menekan. Whaalla…! Sebuah generasi yang kembali kepada nurani dasar, bahwa siapapun akan malu hati jika tidak berdisiplin ketahuan ataupun tidak ketahuan oleh khalayak, karena mencerminkan tingkat kemampuan menyerap pendidikan yang diterima rendah alias bodoh, kampungan atau predikat yang meremukkan kebanggaan lainya. Penderitaan si bodoh tidak sampai disitu saja karena masih harus berhadapan dengan sistim hukum yang secara eksplisit dan transparan memberikan tekanan tindakan koreksi tingkah laku. Catat: hukum budaya ini berlaku universal dari pengangguran, preman, pegawai, pejabat, aparat sampai orang gila sekalipun.

Tigapuluh tahun yang akan datang barangkali panelis sudah menjadi kakek nenek yang tinggal punya kenangan bahkan tidak berkepentingan lagi dengan gagasan yang terkurung tadi. Atau bahkan barangkali sudah tidak lagi menjadi penghuni planet bumi, dan masih mengenangkan gagasanya untuk melihat satu generasi yang berdisiplin sehingga tidak ada lagi kemacetan di jalan jalan Jakarta meskipun tembok ekslusifitas pribadi makin tinggi dan kokoh membentengi jiwa setiap orang Jakarta. Toh gagasan itu tidak mempunyai tendensi untuk menghujat, atau menyalahkan siapapun seperti tren saat ini dimana satu persoalan selalu melahirkan kambing berbulu hitam. Kita tidak mengesampingkan bahwa kemungkinan sudah ada gagasan gagasan yang lebih brilian daripada obrolan sms beberapa menit itu dari orang orang yang jauh lebih berkompeten. Terlebih lagi, educated generation form ini bukanlah satu satunya solusi mengatasi macet karena dari setiap kepala orang orang seperti Amandea pasti banyak lagi memiliki ide ide yang terkurung dalam ekslusifisme individu. Mislnya; perbaikan sistem angkutan umum Perilaku masyarakat yang lebih memilih kendaraan pribadi harus segera dirubah. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan paksaan ataupun dengan penyediaan pilihan lain. Angkutan umum yang aman, nyaman dan tepat waktu serta terintegrasi satu sama lainnya merupakan pilihan lain paling logis yang dapat merubah perilaku tersebut. Angkutan umum yang baik juga memberikan peluang bagi semua lapisan masyarakat untuk melakukan perjalanan dengan biaya yang terjangkau dan aksesibilitas yang tinggi dengan dampak lingkungan yang minimall. Nah!

Bagi anda pekerja pemerintah pembuat kebijakan, itung itung daripada bingung bingung menghitung hitung jumlah kendaraan bermotor di Jakarta dan berapa kapasitas ruas perlintasan dan isfrastruktur lainya untuk menampung angka itu. Atau bahkan itung itung daripada dikantor bingung, bacaan ini bisa diplagiat menjadi gagasan institusi; dengan improvisasi sana sini tentunya. Dengan catatan harus ikhlas bahwa tigapuluh tahun yang akan datang generasi baru akan malu makan gaji buta dari kantor pemerintah, dihukum Negara karena menganggur pada jam kerja, apalagi menjiplak gagasan orisinil punya orang lain!


Simatupang, 29 Agustus 2005





Catatan:
Data pada akhir tahun 2004, petumbuhan jumlah kendaraan di DKI Jakarta selama 10 tahun terakhir adalah 11% per tahun, sedangkan pertambahan ruas jalan tidak lebih dari satu persen. Itu pun ruas jalan yang baru dibangun berupa jembatan layang (flyover) dan terowongan (underpass).
Jumlah kendaraan bermotor yang bergerak di Jakarta setiap harinya mencapai 5,6 juta (kendaraan roda dua 53%, mobil pribadi 30%, bis 7%, dan truk 10%). Jumlah itu belum termasuk sekitar 600 ribu kendaraan komuter (pulang-pergi) dari wilayah Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi.
Lebih ruwet lagi karena kendaraan di Jakarta didominasi kendaraan pribadi. Perbandingannya adalah 98 persen kendaraan pribadi dan 2 persen kendaraan umum. Dari total 17 juta orang perjalanan setiap hari, kendaraan pribadi hanya mengangkut sekitar 49,7 persen. Sedangkan 2 persen kendaraan umum harus mengangkut sekitar 50,3 persen. Akibatnya, jumlah penumpang menumpuk di angkutan umum. Sedangkan angkutan pribadi memakan sebagian besar ruas jalan.






Saturday, August 27, 2005

Musyawarah embun

Embun mulai luruh di dedaunan rambutan diluar jendela, bersekutu dengan sisa hujan tadi malam yang engggan luruh ke bumi dan bermanja dalam buaian angin lembab jakarta. Langit semburat merah oleh lampu mercury di kejauhan, dan dijalanan masih terdengar suara mobil dan motor sesekali menderum, sesekali ditimpali bunyi sirine membawa orang sepagi ini masuk IGD, masuk penjara barangkali. Tak ada suara manusia. Semua lelap dalam kehidupan maya; mimpi dan kecemasanya masing masing. Seekor cicak dilangit langit dekat lampu diam bagai patung, seperti sedang merenungi takdirnya sebagai cicak. Dan pada tembok yang retak retak jam dinding warna kuning dengan logo Bank Niaga tak henti henti bergerak, sekarang 0128. Jarum kecilnya seolah menyempurnakan kesendirianku. Aku merasa begitu jauh dari siapa siapa, merasa begitu sendiri di jagad raya. Ya, aku begitu jauh dari orang orang yang dulu mengenalku,dan mengharapkanku. Aku tak pantas lagi menjadi harapan. Musyawarah embunpun hanya tayangan kebisuan. Pagi ini kebekuan begitu sempurna menggigilkan hati...
Aku selalu rindu hari hariku yang telah hilang...


Jatipadang, 26 Agustus 2005

Wednesday, August 10, 2005

Surat Kepada Teman Baru

Teman baruku,
Angin lembab kota Manado perlahan membawa embun turun luruh ke atap atap rumah yang membisu. Perlahan menyelimutinya; syahdu. Kota ini mulai tertidur ditimpahi satu dua lalulintas sisa kebisingan seharian penuh. Suara yang mengiring malam melangkah melewati setengah perjalanan menuju pagi.

Di tv masih ada tinju, salah satu tontonan kesukaanku selain warta berita. Discourse kita tentang anak di sms sudah terhenti, dan asumsiku, kita setuju bahwa jiwa seorang anak adalah guru filsafat yang luar biasa bagi orang dewasa. Kesederhanaanya adalah tauladan perilaku bagi orang dewasa, seharusnya. Demikian juga anakku, Kartika Mumpuni namanya, Tika panggilanya. Hampir setiap hari aku menelponya, dan hampir setiap hari pula kata kataku tersumbat di tenggorokan, terganjal pasir yang keluar dari perasaan haru. Sedih. Hampir selalu aku menangis setiap kali selesai menelpon. Pernah suatu ketika ditelepon dia bilang tentang mimpinya semalam, dan dengan polosnya dia bilang:” andaikan bapak bisa masuk lewat telepon, kita bisa ketemu sekarang. Dik Tika kangen bapak...” dan kata kata itu langsung mencabuti otot dan tulang belulang dalam tubuhku. Begitu sederhana, dan begitu mengena.

Bagiku, berteman yang sebenarnya berteman adalah ketika hati merasa nyaman untuk berkomunikasi, bertenggang rasa. Aku sendiri memiliki teman teman dekat yang masih hidup dalam alam bathin itu, masih menjaga komunikasi meskipun mungkin belum tentu satu tahun sekali kami bertemu. Bahkan seorang sahabatku aku tak pernah mengenalnya secara fisik, tetapi aku hampir mengenal seluruh kehidupan dan cara berfikirnya. Tidak jarang juga aku ketemu dengan orang yang pada akhirnya bukan malah menjadi teman, melainkan berhenti diperkenalan dan hilang ditelan arus sang waktu. Seorang temanku, aku mengenalnya sepuluh tahun yang lalu, dan kami menjadi sahabat hati sampai sekarang. Intensitas komunikasipun tidak terlalu terpentingkan karena kami tahu masing masing kami punya kehidupan sosial yang terbentengi oleh aturan kepantasan dan tatanan peradaban. Tetapi nilai seorang sahabat tidaklah luntur, dia hidup dalam alam bathin dan selalu ada ketika bathin membutuhkan. Kedekatan semu seperti itu terkadang justru menciptakan satu komunikasi bathin yang bd anggap sebagai telepati tanpa sadar. Ya, komunikasi bawah alam sadar. Terkadang seorang sahabat tiba tiba berkirim email setelah sekian bulan atau bahkan tahun menghilang, berkirim kabar ketika hati gundah menanyakan bagaimana kabarnya. Tak jarang pula justru aku yang mengirim email dan si sahabat bilang kalau sebenarnya dia memikirkan bd beberapa hari sebelum dia terima emailku. Ya, dan itu menumbuhkan keyakinan bahwa aku masih tetap hidup dalam kehidupan bathin beberapa orang. That is true!

Tentang aku,
Hmm...tak ada sesuatu yang istimewa rasanya yang ada padaku. Dalam komunikasi aku lebih suka dipanggil bd, pharse bd mewakili sebuah jiwa, sebuah pribadi yang kalis dari keharusan peradaban dan budaya, dia memiliki nilai yang mandiri sebagai pribadi. Bagiku, menjalani hidup terkadang adalah memunguti buah buah pengalaman pada setiap detik yang terlewati, dan menulis adalah memanivestasikan pengalaman itu sendiri. Mungkin menjadi kenangan, mungkin menjadi pelajaran, tetapi selalu punya makna. Menulis adalah pelepasan atas apa yang tersimpan dihati, dan bagiku tulisan haruslah jujur seperti apa yang dialirkan oleh hati ke otak dan otak memerintahkan syaraf2 untuk menggerakkan jari diatas keyboard atau membentuk serangkaian huruf huruf ketika tangan menggenggam pena. Aku lebih suka menikmatinya sendiri dan kalaupun menulis atas permintaan, aku anggap sebagai keingin tahuan orang lain tentang bagaimana aku memandang sesuatu. Karena itu pandangan, maka sifatnya adalah opini yang kesimpulanya terserah kepada siapapun yang bersinggungan dengan opini itu.

Teman baruku,
Bagiku bertemu seseorang adalah ibarat membaca sebuah buku, dan aku sendiri adalah sebuah buku bagi orang lain. Tak pernah aku menitipkan standar dalam berkenalan. Siapapun, seperti apapun dia adalah jiwa, adalah pribadi. Setiap orang memiliki kekhasanya pengalamanya sendiri sendiri, seperti bukupun memiliki bibliografi tersendiri yang menentukan ruh kehidupan temanya. Kamu boleh saja tidak setuju dan aku akan tetap menghargai ketidak setujuanmu itu.


Singkil – Manado 09 Agustus 2005

Manado Dalam Kelebat

Kota ini sedang membangun, a rapid growing. Tetapi kota ini sendiri dalam pandanganku memiliki kejayaan dimasa silam. Penduduknya memiliki kebanggaan yang membanggakan sebagai satu komunitas. Ekonomi kota ini berjalan cepat dan dalam pusaran yang kuat. Keramaianya bisa melebihi Yogya kalau siang hari, bahkan pada malam minggu seluruh kota bisa menjadi seperti hari raya. Kesan yang belum hilang sampai hari ini adalah semrawutnya. Kesemrawutan yang dibumbui dengan perilaku “aneh” dari banyak sopir angkot (mikro) yang memasang pengeras suara dimobil mereka, memutar musik kencang kencang sampai terdengar sampai radius ratusan meter. Kencang sekali karena memang keluar dari corong loudspeaker. Disisi lain, kota ini bagi laki laki adalah kolam besar untuk cuci mata. Mayoritas wanita wanita muda berpakaian sensual, seksi, kebanyakan berkulit bersih dan.....ehemmm..cantik. Beberapa orang kenalanku juga bilang kalau tidak sulit untuk mengencani wanita disini. Kabarnya disini (maaf) free sex bukan hal yang begitu tabu. Tentang kebenarnya aku tidak pernah berusaha membuktikan.

Manado, sekali lagi memang kota yang menurutku memiliki eksotisme tinggi. Pola hidup penduduknya konsumtif, tetapi religius. Ya, religius selalu membawa ketenteraman tersendiri. Sayangnya aku belum sempat datang ke museum, sebab biasanya aku selalu menyempatkan diri datang ke musemu atau makam tua apabila berada disatu kota.

Singkil – Manado 09 Agustus 2005

Tuesday, August 09, 2005

Demotivasi laki laki

Laki laki dan demotivasi adalah sesuatu yang bersifat kodrati. Dimana mana dimuka bumi barangkali setiap lelaki menginginkan pengakuan atas diri, pengakuan atas keberadaan sebagai “laki laki”. Tidak harus bersikap otoriter apalagi patriark tetapi pengakuan itu sesuatu yang harus dimiliki laki laki. Perasaan dihargai dan dibutuhkan laki laki terkadang menjadi sumber dari demotivasi ini karena mau tidak mau terkadang keadaan diri, keadaan jiwa tidak bisa memuaskan perasaan penghargaan itu. Sebagian orang lebih suka dengan cara otoriter bahkan patriark (bahwa dia adalah penguasa, bahwa dia adalah benar, dan bahwa dia adalah yang serba tahu, dan bahwa dia adalah yang harus diikuti semua pendapat serta rencananya). Cara cara itu memang terkesan primitif, tetapi praktek itu masih tetap terjadi sampai sekarang. Terbuka atau tertutup.

Demotivasi laki laki juga bisa terjadi karena secara emosional laki laki tidak mendapat pengakuan eksistensi dari dirinya sendiri. Ini yang paling sering terjadi dimana diri tidak bisa mengakui bahwa pribadi laki lakinya (secara individualistik) memperoleh bahan bakar yang memadai. Bahan bakar itu adalah harapan. Harapan akan membuat hidup bergairah dan gairah akan memotivasi tindakan apapun dimana gairah itu akan melahirkan daya cipta dan karsa. Kehilangan gairah = demotivated.

Menurut saya, pangkal demotivasi ada dua yaitu kekecewaan pribadi dan ketidak berdayaan pribadi. Itu dua hal yang sangat melemahkan semangat. Kekecewaan dan ketidak berdayaan itu bisa karena ulah orang lain, tetapi juga bisa karena keadaan. Terkadang lelaki menginginkan keadaan mengikuti kemauan hatinya, bukan kemauan hati yang menyesuaikan keadaan.

Obat yang paling mujarab bagi ‘penyakit’ ini tentu adalah infus support dari orang yang dianggap paling berarti bagi si laki laki itu. Orang yang dianggapnya memililki kelebihan yang tak dimiliki oleh laki laki itu. Curahan perhatian dari orang terdekat dan “pengakuan” dari orang terdekat.

Demotivasi bisa jadi adalah manifestasi dari batang tumbuhan dari akar serabut kejadian, adalah buah akumulasi kecewa. Memperbaikinya tentu tidak akan semudah membalikkan telapak tangan, kecuali memang semangat juang dan persemaian harapan tetap terpelihara, tetap dipelihara. Depresi sembunyi sembunyi yang terjadi, orang lain tahu hanya tidak bisa berbuat apa apa atasnya. Mungkin secara sederhana orang akan beranggapan bahwa yang seharusnya bisa berbuat lebih adalah yang mengalami demotivasi itu sendiri. Tidak selamanya seperti itu. Bagaimanapun dominasi perempuan (diluar fanatisme definisi gender, hanya kebetulan mahluk hidup bermetamorfosa disekitar faham itu) juga adalah faktor yang bisa menyebabkan demotivasi. Yang menjadi permasalahan adalah ketika demotivasi itu terjadi dan orang sekitar merasa sedikit banyak terpengaruh oleh itu, setidaknya orang beranggapan akan bisa lebih mudah untuk bangkit dari demotivasi itu kalau terjadi pada dirinya sendiri. Tidak semudah itu bagi laki laki, demotivasi melemahkan semua sendi kehidupan yang sebenarnya bola salju depresi yang menggelinding dari puncak gunung kebanggaan pribadi. Dia bisa menghancurkan semua mua yang dimiliki laki laki yang tidak bisa dilihat ataupun dirasakan oleh perempuan.

Mungkin tidak ada keharusan untuk setuju, bahwa yang terbaik adalah mempelajari betul betul sejauh mana demotivasi itu berpengaruh dalam sendi kehidupan sampai sekecil kecilnya, syukur syukur bisa tahu apa penyebab konkritnya. Lelaki merasa punya arti apabila dia bisa menciptakan sesuatu, mengadakan sesuatu dari tangannya sendiri, dari perbuatanya sendiri. Tetapi sekali lagi memang harus diketahui penyebabnya apa, dan lebih penting lagi sejauh mana demotivasi itu mempengaruhi sikap hidup dan pola berfikir. Yang pasti, sikap untuk menumbuhkan kepercayaan diri, sikap untuk tetap menjadi “ perempuan” harus tetap dijaga.
Laki laki memiliki sifat superior dan menguasai, dan perempuan memiliki sifat lemah dan perlu perlindungan (meskipun prakteknya tidak seperti itu, tetapi itu kodrat yang diakui nurani mungkin hampir setiap orang).



Singkil - Manado, 8 Agustus 2005

Friday, August 05, 2005

Mengemas Kenangan

(sebuah catatan untuk sesorang yang pernah begitu terkasihi)

Malam meleleh pelan pelan menuju pagi. Dalam alam fikiran yang merasa sebongkah karang di Antartika, kehidupan masih ramai berseliweran. Kehidupan angan angan, kehidupan kenangan, kehidupan fikiran semata. Ah, ternyata sulit mengubur kenangan dan menancapkan nisan bernama pengalaman atasnya.

Kesadaran bahwa diri hanya setitik debu bagi kehidupan yang laksana pantai di samudera hindia. Mestinya meratapi itu, tetapi entah kenapa hanya bisa menerimanya dengan rela, bahwa memang diri berarti demikian sekarang ini. Maka memilih tahu diri dengan kerelaan adalah bijaksana.

Tulisan inipun seharusnya adalah tetasan dari fikiran fikiran pribadi dalam pandangan pandangan sebagai pribadi yang introvert (?). Tetapi apa yang mengeram dalam fikiran itu tidak akan menetas disini, ditempat lain dimana bisa dicerna otak dan hati tanpa harus menjaga perasaan orang lain akan tidak menyukainya. Tentu tulisan itu hanya bersifat memoir belaka dan barangkali tak berguna bagi orang lain. Tak mengapa, itupun teranggap sebagai jejak perjalanan hati dan fikiran, untuk kelak menjadi catatan untuk catatan.

Dan akan terkemas segala kenangan bersama. Kita tak lagi membutuhkan itu semua, karena didepan jalan melempang terang benderang digelari permadani warna warni yang menjajikan. Tak ada sesuatupun manfaat dari keberadaan dan dramatisitas kenangannya. Tersimpan itu semua dalam tulisan, dalam fikiran dan sebagai catatan hidup. Akan terpajangkan di dinding hati mutiara mutiara persahabatan yang terjalin, hanya diri yang berhak menikmati betapa pernah punya sebuah perhubungan mullti makna dan multi definisi. Di dinding hati akan terukir sebuah keyakinan dari masa lalu bahwa pernah diri merasa berarti …

Semoga bertahun kemeranaan yang tersembunyikan sendiri berganti dengan masa depan gilang gemilang, kebahagiaan yang tumpah ruah tak berhenti. Amin. Akhirnya ucapkan rasa terimakasih yang tak terhingga untuk semua semua yang pernah terbagi atau terberi selama ini. Juga memohon maaf untuk semua kekhilafan dan juga sikap sikap yang entah menyakiti entah membuat merasa terabaikan dimasa yang telah lewat. Mohon diri….


Simatupang, 4 Agustus 2005

Friday, March 04, 2005

Hati dan Logika



Kesombongan mengenalkan diri sebagi yang terlatih oleh pengalaman dan terbiasa untuk mandiri, mumpuni dan sekaligus menyandang kodrat atas gender. Dewasa, dan kokoh dalam diam serta sebagai pribadi yang bukan pemberontak. Selalu berusaha keras untuk tetap menabur benih bahagia bagi hati sendiri hampir pada setiap kesempatan dan menikmati semua yang terlewati sambil belajar darinya. Kepada orang yang tersayangi selalu menimbulkan hasrat untuk mengabdi, menjadi sinar samar samar ketika pandanganya mengabur, menjadi tiang ala kadar ketika kakinya goyah, menjadi apapun yang menguatkan ketika keyakinanya menjenuh. Mereka tidak pantas untuk bersedih bahkan untuk menangis sendirian, mereka punya segalanya untuk menolak bahwa kesedihan memang layak untuk dilalui.

Keyakinan bahwa hidup memang karya Tuhan yang misterius, tanpa tertebak dan bahkan terlalu banyak penjabaranya. Tetapi juga meyakini bahwa hidup manusia hanyalah manjalani keputusan yang dibuatnya sendiri. Setelah sekian tahun berkutat dengan amarah yang meluap, dendam yang menghanguskan dan kekecewaan yang memerihkan hati setiap detik, bersyukur sekali bahwa bisa cope dengan itu, bisa berkompromi dengan itu dan memandangnya sebagai salah satu episode dalam riwayat hidup. Kesedihan kadang juga datang menyergap kesendirian yang sempurna, dan itu belakangan bisa terimprovisasi dengan hal hal yang menenteramkan hati sendiri. Begitu juga ketika diri merasa harus pasrah pada keadaan bahwa inilah yang harus dijalani, tetapi pada detik lainya harus dengan kekuatan hati menghentikanya sebelum semuanya menjadi semakin parah.

Hati dan logika, pekerjakan dua unsur itu untuk tetap bertahan mencari perbaikan, mencari kompromi kompromi dan bahkan kalau mungkin improvisasi. Ikuti apa kehendak hati, dan biarkan logika sebagai pedang pengawal kebebasan hati. Apapun bisa terjadi pada siapapun, dan ketika hal terekstrim sekalipun terjadi, maka terjadilah sebagai kejadian yang memang wajar terjadi dimuka bumi ini, di lingkaran komunitas yang terkotak kotak oleh produk budaya. Hidup haru terus berjalan dan memang akan terus berjalan, maka jalani saja semuanya sebab hanya diri sendirilah yang memegang kemudi hidup secara penuh, tidak orang lain. Hidup untuk diri sendiri meskipun sekarang harus banyak terbagi oleh hadirnya orang orang tercinta sebagai jimat penyemangat, sebagai harta paling berharga. Maka, ketika bathin galau, ketika pandangan mengabur dan ketika langkah goyah, kembalilah pada hati yang paling jujur, dan biarkan akal sehat menimbang nimbangnya untuk kemudian membuat keputusan yang harus secara konskwen dijalani. Mencari jawaban atas pertanyaan " apa " yang paling membuat hati bahagia dan tenteram, lalu mengikuti jawaban itu dengan ikhlas, dengan landasan bahwa tidak menggulung kebahagiaan apalagi kehormatan orang lain.

Ah aku kenyang betul dengan menghayal dan mengandai andai, bahkan hal yang tidak mungkin sekalipun. Jadi ingat, banyak andai andai menjadi kenyataan kemudian suatu saat, suatu hari ketika pengandaian pengandaian itu sendiri sudah lewat dari angan angan.


Nuansa Indah #317 – Balikpapan, 3 Maret 2005

Friday, January 21, 2005

Darah Biru dan Semut Pekerja

dedicated to : MSC

Sungguh ada perasaan tertindas yang meronta ronta menuntut pembebasan ketika rasa keadilan menjadi sumir oleh karena sikap palsu, oleh karena subyektifitas atas pandangan yang dangkal. Tulisan ini tidak akan mengulas apa yang terjadi disana secara mendetail maupun menelaah point demi point untuk mencari titik kelemahan dan kesalahan melainkan merupakan ulasan singkat dari pandangan dari luar kotak ‘kesemestian’ yang memang dibudidayakan demikian baik dalam komunitas kita. Pembudidayaan itu sendiri dimulai dari pengkultusan individu, budaya cuci tangan dan tentu dramatisasi post power syndrome. Sayangnya dalam komunitas kita, pengkotakan power sudah begitu jelas dalam embel embel status.

Pengkultusan individu sebagi produk kuno dari sebuah counter ketertindasan zaman purbapun masih ada hingga hari ini. Feodalisme barangkali lebih tepat. Di masyarakat suku saya, feodalisme amat mudah ditemukan tanpa harus dimengerti bahwa itu namanya feodal. Budaya itu adalah ketika satu orang menjadi penguasa yang tidak pernah salah meskipun itu perbuatan salah. Patriark. Falsafah itu juga dulu yang punya andil meruntuhkan dinasti orde barunya Pak Soeharto barangkali, sebuah dinasti adem ayem, sebuah organisasi bernama negara yang tenang tanpa kejadian apa apa. Hal itu nampaknya juga diciptakan dalam komunitas kita. Kondisi itu secara otomatis akan melahirkan anak anak emas yang pada giliranya berubah warna darah dari merah menjadi biru. Darah biru menjadi unsur pendukung dan pelestari klan feodalis itu, menjadi pupuk pengokoh dengan pengakuan bahwa feodalisme memang ada serta layak dilestarikan. Klan darah biru sebagai anak rohani dari feodalis mutlak diperlukan sebagai tiang, dan sang feodal akan melakukan pembelaan yang diperlukan untuk tetap menghidupkan darah biru ini. Nah, ketika kita harus berbenturan dengan klan darah biru inilah kita dihadapkan pada penindasan nurani yang luar biasa yang membuat kita bisa terkejut bahwa praktek jahiliyah masih ada disekitar kita bahkan dalam komunitas tempat kita menitipkan sedikit banyak hidup dari keluarga maupun orang orang yang kita hormati dan sayangi.

Memang idealnya pemimpin adalah pengayom, pelindung dan tentu pembimbing. Pemimpin ideal (yang ada dikepala saya) adalah pemimpin yang mumpuni, yang memiliki kepekaan dua kali lebih tebal dari anak buahnya. Kuncinya keikhlasan untuk mengabdi, melayani anak buah. Nah, apakah keikhlasan itu terasa dikomunitas kita? Menurut saya tidak, karena yang ada dalam pandangan saya adalah beberapa individu yang duduk diatas tandu dengan pandangan nanar jauh dari perencanaan dan sumbangsih yang ikhlas terhadap komunitas yang mengusungnya, dibawah pantatnya, dibawah kakinya. Kecurangan, kekurangajaran, bahkan pendustaan menjadi seperti legal oleh karena powernya dari atas tandu. Dia bisa mendorong salah satu kepala pengusungnya dengan jempol kakinya untuk melakukan sesuatu.

Pada scope yang lebih sempit –hanya sebatas komunitas kita- nuansa ‘orde baru’ yang memuakkan memang kental terasa. Kita akan dengan mudah menemukan kepalsuan tanpa harus bisa melakukan banyak hal untuk memupus kepalsuan yang lagi lagi menindas rasa keadilan nurani itu, bahkan sampai kepada kenistaan materi yang kita tahu terjadi. Apa boleh buat? Kita memang harus pintar menjadi elemen kecil dari mesin kapitalisme, mengesampingkan banyak kata hati maupun bisik nurani.

Sebenarnya yang paling fundamental adalah bahwa kita menjalani konskwensi dari pilihan hidup kita sendiri untuk menjadi elemen kecil dari mesin organisasi itu. Pilihan kita waktu itu lahir dengan ari ari bernama pengharapan bahwa kita akan terlibat dengan orang orang yang pantas menjadi panutan. Bijak, baik hati dan kapabel. Wah, kadang kadang pengharapan maupun standard pencapaian kita sendiri terelalu tinggi barangkali ketika ketemu dengan beberapa orang yang culas dalam kenyataan sehari hari. Mengecewakan hati akhirnya, dan kita tidak bisa menyalahkan keadaan atas itu semua maupun melaporkanya kepada Tuhan agar Dia memberi teguran kepada si culas karena memang si culas sudah ada dimuka bumi sejak mungkin komunitas pertama diciptakan.

Hanya jiwa yang merdeka yang bisa menyaksikan ketimpangan dan pengkacauan system itu terjadi. Jiwa merdeka akan lebih percaya kepada system ketika harus menjadi elemen dari sebuah mesin organsisai, dan tetap menjaga nurani tetap hidup, memandang hidup sebagai anugerah penuh nilai estetika, melihat kepongahan bahkan –maaf – kebodohan orang lain sebagai kemalangan yang kita tidak bisa berbuat apa apa untuk membantunya. Jiwa yang merdeka, hati yang merdeka akan menyingkirkan segala bentuk emosi negatif mesikpun kita sedang dikerubung dan dikeroyok oleh negatifisme itu. Percayalah, bahwa masing masing individu telah memiliki rel rel yang tak terlakkan. Sebagian orang diberkati dengan kebaikan hati, sebagian orang juga diberkati dengan kebengisan dan keculasan. Itu terjadi tanpa ada persamaan tanpa satupun dari seberapapun banyak manusia yang pernah hidup. Bersyukurlah, bahwa kita diberkati dengan banyak kebaikan dalam hati kita, diberkati dengan logika dan nurani yang matang. Bersyukurlah karena hari ini kita bisa menilai apa yang sebenarnya terjadi...

Balikpapan, 21 Januari 2005

Monday, December 15, 2003

Ceritera Muhammad Afan, Lie Hong Hua dan Sutopo dari Magelang

Ini kisah manusia biasa, kisah kehidupan klasik yang terjadi setiap hari dimanapun yang sudutnya bernama dunia. Ini jika kisah criminal biasa, kisah pembunuhan pembunuhan, pelanggaran terhadap hukum yang diatur di Kitab Undang Undang Hukup Pidana biasa. Yang menjadi tidak biasa bagiku adalah kisah klasik latar belakang peristiwa itu sendiri. Inilah yang kutangkap dari apa yang kuliat di tivi tadi siang dikamar hotel:
Sucipto; adalah seorang bapak dua anak berumur sekitar empatpuluh delapan tahun. Pengusaha jual beli mobil yang sukses didaerahnya. Hampir semua orang dikota itu mengenalnya. Dunia bisnisnya berbaur dengan dunian lelaki paruh bayanya mengantarkan Sucipto kepada kehidupan kedua diluar kehidupan rumah tangganya; selingkuh, otoriter dan belakangan cenderung anarkis ke istri sendiri yang dulu dipacari dan disayanginya.
Lie Hong Hua; Istri Sucipto 43 tahunan. Ibu rumah tangga biasa, yang punya tanggung jawab kepada anak, suami, rumah dan lingkunganya. Dia tetapkan standard yang tinggi untuk kesempurnaan tanggung jawabnya itu.
Muhamad Afan; Sopir pribadi keluarga itu. Pria lajang berumur sekitar dualapan tahunan, lugu dan berfikir polos saja. Bertampang ganteng dengan kulit kehitaman. Orang baik baik, rajin bekerja dan mengabdi kepada profesinya.

Tiga alam fikiran manusia, berarti tiga sudut pandang yang kalau terjadi senyawa terkadang menyebabkan satu simbiosis yang berbahaya. Inilah yang terjadi kemudian:
Sucipto ketahuan berselingkuh, bahkan pernah tertangkap basah segala oleh istrinya. Afan sang supir pribadi tentu banyak dengan ini, dan bagi Sucipto tentu ini hal yang bisa dimaklumi, sebagai sesama lelaki. Afan yang polos dan tidak tahu rumus humanisme tetapi menghayati dengan nurani dan jalan fikiranyapun menyadari telah terjadi penghianatan didalam tembok rumah tangga majikanya. Lie mengerti betul karakter sopirnya ini, dan setelah pertanyaan pertanyaan yagn dijawab Afan dengan jujur mengenai Sucipto, Lie tidak segan segan untuk bercerita tentang beban bathin yang dikandungnya. Penderitaan bathin seorang perempuan yang dimata Afan sendiri sudah digariskan sebagai mahluk yang lebih rapuh daripada kaumnya sendiri; laki laki. Inilah kunci dari segala rahasia hubungan antara lelaki dan perempuan; bahwa lelaki mengerti betul kerapuhan perempuan sementara perempuan mengerti betul dengan watak seperti apa seorang lelaki baik hati akan menjadi ‘hamba’ atas emosi perempuanya, dengan penderitaan dan keluh kesah yang akan dengan mudah dicerna oleh telinga lelaki manapun. Afan menjadi tokoh sentral yang membuka dua telinga untuk dua jalan fikiran dan dua dunia yang berbeda; menjadi saksi dan pendukung kekejian Sucipto dan sekaligus menjadi ‘teman baik’ bagi Lie, korban kekejian Sucipto, terlibat secara emosi dengan si korban sekaligus terlibat secara fisik pada pelaku. Afan mulai belajar membaca sikap superior sekaligus culasnya Sucipto dengan cara pandang sederhananya, sedangkan simpati pribadinya kepada Lie yang juga dengan cara pandang yang amat sederhana pula berwujud perbedaan dua kepentingan yang berlawanan, meskipun dengan sadar Afan tahu tidak ada kepentingan dirinya sendiri disana, sekaligus dia sadar warna baru yang timbul dari dua dunia yang berbeda tersebut telah memunculkan warna baru bagi dirinya sendiri; sikap campuran dari simpati dan antipati. Simpati mengajarkanya untuk lebih jauh lagi menumbuhkan antipati itu sendiri dalam fikiranya yang dibungkus tubuh gagahnya. Lie merasa tertemani, sebagai dua manusia, sebagai yang teraniaya kepada yang peduli. Maka ketika rencana rencana untuk mencelakakan Sucipto yang lahir dari isi kepala Lie terlontar ke Afan, secara prinsip yang mewakili pribadinya yang sederhana Afan menyetujui niatan Lie. Persetujuan sukarela. (betapa berharganya nilai hidup ketika kesukarelaan itu muncul karena ketulusan hati). Bathinya setuju untuk melenyapkan penderitaan bathin Lie, karena Afan peduli. Lain tidak. Persetujuan bathinya menuntun langkahnya untuk berbuat dengan kesadaranya menghantam belakang kepala Sucipto dengan palu sebanyak tiga kali sampai tewas ketika sedang minta dipijit diruang tamu lantai rumah Sucipto sendiri. Benang merah yang lalu tampak adalah bahwa Afan dengan sadar memahami keculasan hidup, memahami arti si lemah dan si kuat, si kejam dan si tak berdaya. Lalu dengan sadar dibiarkanya nurani sederhananya memilih cara untuk terlibat. Dan nuraninya telah memilih untuk menjadi pahlawan, ksatria penumpas Denawa* seperti dalam ceritera wayang yang memang tidak punya KUHP. Dan kesatria itupun masuk penjara karenanya...
Memang ceritera ini ceritera biasa, bisa terjadi dimana saja dan pada siapa saja tanpa kita bisa membaca.

* Denawa: visualisasi sosok raksasa jahat dan selalu menjadi musuh ksatria dalam dunia pewayangan.

Balikpapan, 15 Desember 2003

Wednesday, December 03, 2003

Kenangan

Pulang ke kost dengan fikiran kosong dan hati ompong. ‘ceramah’ mami Sita tentang performanceku tetap mencekik otak. Segala hal tentang hidup pribadiku menjadi murung. Anjing keparat memang, karena kenangan buruk masa lalu yang selalu hidup dlam jantungku, terpompa mengkuti aliran darah ke setiap inci tubuhku tetap hidup dalam abadiny, tetap rajin menusuk nusuk kan pisau yang makin karatan, dan tetap seja menjejalkan amarah luar biasa tanpa seorangpun berhak tahu; apalagi ikut merasakan. Anjing keparat juga atas kesombongan diri yang enggan berkompromi dengan masalalu ning, dengan kebusukan yang menempatkanku sebagai jongos yang patut dianggap bodoh dan diperlakukan sebagaimana orang bodoh.
Ketika sendirian di kamar kost, ketika otak sedang letih bekerja dikantor, atau ketika oksigen perlahan kuhirup dan kualirkan keparu paru, ketika itu puolalah perih dan amarahku menggulung gulung dalam kebisuan, dalam hatiku yang maha sunyi, maha hancur dan membusuk. Warisan luka masalalu terlah beranak pinak menjadi ibolis iblis baru , membuat kampung dan membentuk peradaban baru bagi pribadiku; membentuk pribadiku menjadi pincang dan ganjil.

Monday, November 17, 2003

Malam Terbelah Dua

Ingatan,
Tumbuh menumbuhi hati dengan kenangan- dengan penjuru cinta yang kupertanyakan sendirian –
Orang orang,
Wajahnya berloncatan memburu kasihku (atau iba??) berebut merajang – rajang nuraniku yang memekik sakit, karam dilautan wabah sesal, dan waktu tak hanya seperti udara dalam balon, ia mengalir berputar menembusi pintu dan jendeal labirin (atau mungkin berjalan seratus triliun dari kelambatan – siap tahu?!)

Telah kutelan kenistaan kemudain banmgga, pinvcang jadi pahlawan sampai kebanmggaanku memancung sendiri kebanggan yang lain. Aku terpenjara di kandan besar kecurangan yang mencurangi kecuarangan lain lagi. Tindih menindih bagai angan angan belaka.

“pernah kuleburkan darah, daging dan cinta birahi denganmu, arjunaku, dank aku hanya ingin darah , daging dan cinta birahiku kembali menjadi hakku. Engakau telah merampasnya dengan keji. Brengsek!”
ucap debu dari utara yang sengaja engaku kirim lewat akhir musim kemarau…

…berhenti, jangan lagi dorong aku ke pojokan, wahai kebaikan nurani…

“ Tidak cukupkah aku menjadi budak menebus khlafku ketika kau ingkari punyamu, mengabdi pada penghianatanmu jua”
Ucap titik gerimis dari timur yang luruh di daun talas hatiku…

… enyah kau kemunafikan, bawa pergi kesombongan yagn membangun tugu bernama rasa malu…

Tuhan ijinkan aku,
Membelah malam menjdai dua dengan pedang akal pemberianMu.
Biar kubagi pada dua hati yang berkelahi sengit dalam hatiku.
Ampunkan aku dari murka-Mu.

Gang Bambu, 17 November 2003

Saturday, November 15, 2003

Monyet di Planet Aneh

Maka akupun sepakat untuk datang ke acara buka puasa ex-shields di camoe camoe café panglima polim meskipun aku sendiri nggak puasa. Yang penting semangat kebersamaan.Semu.
Dan inilah aku, celingukan diantra 20an orang yang memang sempat kukenal di shields dulu, tetapi aku menjadi monyet ditengah arena kegembiraan dan hysteria. Aku menjadi monyet diplanet aneh!
Dua jam buatku seperti tersesat dikomunitas aneh, aku lebih banyak membaca mimik mimick yang berada disekitarku, dan berharap ada dikamar kostku dengan buku pinjaman yang tengah kubaca, tenggelam dalam ceritanya.
Ah, komunitas Jakarta, aku bukan salah satu dari mereka ternyata!
Bahkan tetet pun begitu menyakitkan sikapnya. Tidak ada jabat tangan ataupun sapaan salam. Hysteria menenggelamkanya dan menjadikanku sebagai debu, luruh dikaki bangku restoran.
Aku menyesal telah meyakini diri bahwa aku sebangku dengan mereka, bahkan aku seoksigen dunia dengan mereka.
Bukan, bukan untukku dunia dan pribadi pribadi itu.