Wednesday, October 27, 2010

Bermuda

Mereka yang pernah mememberikan luka kepada hati orang lain, maka mereka sebenarnya tidak pernah bisa diusir pergi dari hati orang yang pernah disakitinya. Sakit hati ibarat tanaman parasit yang menyamar menjadi kehidupan manusia normal. Mengintai setiap saat ibarat kata tsunami tiba tiba di segitiga Bermuda. Segala yang dihadapan akan digulung lalu ditenggelamkan ke dasar penyesalan, lalu diseret seret oleh arus bawah gelombang bernama amarah. Bahkan diudara sekalipun berubah menjadi gelombang elektromagnetik dari listrik bumi masa lalu akan mampu menyesatkan jalur kehidupan, menghadirkan badai magnet yang mengacaukan sistem navigasi bernama nurani.

Praktek praktet kebohongan murahan, lalu tumpang tindih satu dusta dengan muslihat lainnya menyeruak bagaikan lava pijar yang menghambur ke angkasa. Badai masalalu menggilas begitu saja, puing puingnya menusuk kaki dan mata, membutakan keberadaan dan meniadakan keseimbangan. Kepala yang tegak menjadi rebah ke tanah dan semua cadangan kebaikan luluh lantak oleh datangnya dendam. Praktik praktik muslihat yang pernah menjajarkan langkah kaki di masa lalu hidup kembali tiba tiba, merampas kekuatan ikhlas yang ditabung susah payah.

Pendusta pendusta tetap tertawa, menganggap penghianatan tidak pernah ada. Intrik intrik murahan yang pernah ditampilkan kembali hidup dan tumbuh menyembul dari kepala, siksa diri yang tak sanggup untuk dihindari, sulit diterima dan tak mungkin ditolak datangnya. Kekuatan arus dendam telah menenggelamkan keyakinan diri bahwa badai sudah lewat dan tak mungkin akan datang lagi. Nyatanya memang hidup hanyalah peristiwa yang berulang ulang meskipun hanya dalam ingatan. Perihnya masih perih yang sama, amarahnya masih dengan rasa yang sama.

Ketika badai menggulung kepasrahan menjadi satu satunya pilihan. Amarah hanya ekspresi atas pembelaan dari luka yang lebih perih. Nyatanya tidak mungkin memungkiri penghianatan sebagai sesuatu yang bukan menyakitkan. Penyesalan datang terlambat, atas hati lembek yang tak sanggup menentukan langkah gagah; tinggalkan saja para penghianat yang hanya pintar menganak pinakkan duka! Telan saja kenyataan yang disembunyikan demi memelihara kesucian nama pribadi.

Ada kalanya diri menggigil sendiri melawan semua keadaan dunia meskipun yang nampak hanyalah nilai nilai negatif atas beban rasa. Tidak ada tempat untuk bersambat, tidak ada sesiapa untuk bermanja manja ketika bencana tak kasat mata meluluh lantakkan jiwa. Kesendirian adalah pilihan paling bijaksana ketika segala hal berubah menjadi musuh yang hanya punya dua pilihan; dihancurkan atau menghancurkan. Toh dua dua pilihan tersebut tetap menyisakan satu bentuk pasti; kehancuran diam diam.

Para penghianat memang bermuka ganda, terkadang hadir sebagai pribadi yang pantas untuk dicinta. Tetapi dibalik kepalanya, muslihat dan skenario dusta berjubal untuk dilahirkan dalam konsep pengelabuan yang paling kasar. Menjadi korban penghiantanpun tidak kalah sulitnya. Menerima perlakuan sedemikian buruk menjadi sejarah kejadian terkadang terasa bagai menelan beling ketika perut hanya berisi rasa lapar. Tetapi hidup harus terus berjalan, dan kenangan buruk akan tetap hidup sebagai iblis yang terpelihara jauh di dasar kesadaran. Hari hari yang porak poranda suka datang tiba tiba dan menusukkan pedang karatan bernama dendam.

Dari lumpur kepekatan pikiran terdengar lirih sumpah serapah bercampur doa; semoga semua penghianat di muka bumi ini dilaknat dan membusuk dalam hidupnya.

Serang 101027

No comments: