Monday, October 16, 2006

Rumah bagi si sakit

Saudara, jika kita kebetulan miskin dan karena satu dan lain hal menderita sakit dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit, maka alternative ekonomisnya adalah rumah sakit pemerintah. Tetapi sebelum berangkat dari rumah, mohon di siapkan untuk satu tambahan lagi penyakit, hanya satu saja tambahan yakni sakit hati!

Memang Negara punya kewajiban untuk memelihara kesehatan warganya termasuk juga mengobati dan merawat mereka yang sakit. Untuk itulah ada anggaran kesehatan, merekrut orang orang yang berprofesi sebagai dokter, perawat, pegawai administrasi, sampai tukang kebun untuk menjalankan fungsi rumah sakit pemerintah. Jangan kecewa jika bayangan rumah sakit sebagai alat pemerintah adalah institusi yang mengemban fungsi sosial atas nama negara itu kemudian ternyata memiliki performance yang kurang baik alias buruk. Namanya pelayanan, memang selalu diharap untuk memberikan kesempurnaan setidaknya kepuasan bagi yang dilayani. Warga negara yang menderita sakit.

Calon pasien secara emosional menyandarkan harapan atas kesembuhan ataupun penanganan medis terhadap rumah sakit yang notabene dijalankan oleh elemen elemen individu yang ada di dalamnya yang di gaji oleh pemerintah. Calon pasien yang harus juga meyiapkan biaya pribadi atas jasa layanan tentu mengharap ‘hospitality’. Proses administrasi yang sederhana dan mudah juga layanan non medis berupa empati yang cukup dari setiap orang yang terlibat dalam berjalanya system rumah sakit sungguh diharapkan dari setiap pasien yang tidak selalu tidak bisa terbiasa dengan birokrasi administrasi rumah sakit pemerintah. Namanya juga sakit fisik, maka mentalpun ikutan merasakan sakit juga dengan mengharap perhatian dan kepedulian melebihi jatah biasanya, jatah orang sehat.

Kekecewaan calon pasien sudah resmi menjadi burden pertama yang akan menghambat proses kesembuhanya sendiri. Birokrasi (administrasi) yang berbelit belit, waktu tunggu yang seolah olah selamanya sampai jemu, sikap acuh dari para perawat dan staff dan juga dokter yang berseliweran membumbui sakit hati semakin sedap dirasa. Pada satu contoh kasus, si calon pasien sudah menunggu dokter selama dua jam lengkap dengan kebosanan dan sakit yang tertahankan. Ia harus rela menangguhkan rasa sakit berlama lama sedikit hanya karena dokternya belum ada di tempatnya alias belum datang, entah dimana rimbanya. Waktu menunggu dua jam itupun sebagai tebusan untuk sesi konsultasi selama delapan menit saja. Belum lagi jika dokter A merujuk ke poliklinik lain dan di jawab oleh staf bagian administrasi dengan jawaban ringan “ dokternya sudah pulang, silahkan kembali besok saja”. Maka “besok” itupun si calon pasien harus melewati birokasi administrasi yng mirip labirin bagi tikus percobaan.

Pendekatan pelayanan rumah sakit pemerintah adalah salah satu hal yang patut untuk di reformasi. Rumah sakit secara harafiah adalah rumah bagi si sakit dimana si sakit berharap menadapap perlindungan dan perawatan baik jasmani maupun rohani, mental dan fisiknya. Menempatkan calon pasien sebagai kambing congek yang tak tahu apa apa tentang seluk beluk pelayanan medis menjadikan para abdi masyarakat yang bergelantungan dari gaji subsidi pemerintah itu seenaknya melayani calon pasien dengan standar ala kadarnya. Calon dan pasien mengharapkan greget pengabdian, dedikasi terhadap aspek kemanusiaan maupaun sosial di terapkan terhadap mereka. Orang yang sakit menjadi super sensitive terhadap yang namanya kepedulian atau lebih lagi terhadap sentuhan rasa kasih sayang. Kecuali para pegawai rumah sakit pemerintah tersebut tidak pernah mengalami sakit, tentu lain lagi urusanya.

Saudara, mari membayangkan satu utopia, sebuah kondisi rumah sakit pemerintah yang mencerminkan makna ‘hospitality’ yang sesungguhnya. Calon pasien diperlakukan seperti tamu, seperti famili sendiri jika perlu, degna system manajemen yang memberikan kemudahan seluas luasnya serta kenyamanan sebesar besarnya. Pelayanan yang ept, dengan pendampingan yang bersifat individual bahkan calon pasien tidak harus menunggu berlama lama hanya untuk urusan administrasinya. Keramah tamahan dan juga sikap ‘merawat’ sejak pertama masuk pintu rumah sakit adalah setengah terapi yang mujarab bagi apapun penyakit yang kekeluhkan. Pelayananan yang seperti itu akan menimbulkan kecintaan terhadap institusi rumah sakit yang juga kebanggaan terhadap pemerintah, terhadap perasaan sebagai warga negara sendiri dan tentunya kepada negara.

Mohon maaf jika sekiranya tulisan ini sangat spesifik bagi calon pasien miskin yang mendambakan perawatan yang cepat, mudah dan murah dari negara (pemerintah sebagai pemomong, abdi warga negara) tanpa tambahan sakit hati. Anda tidak termasuk salah satu calon pasien seperti itu, bukan?

Gempol, 061016

(* Tertulis sebagai catatan atas proses panjang selama empat hari mengurus administrasi sebelum akhirnya KM bisa di operasi karena menderita Osteoma tibia dextra ujung proximal dibawah tulang sendi lutut kanannya. Tulisan ini juga sebagai ungkapan rasa terima kasih setinggi tingginya kepada perawat, staf, dokter dan siapapun yang membantu melayani kami. Semoga Tuhan yang maha pemurah membalas budi baik anda semua. Amin).

3 comments:

Anonymous said...

Glad that she's ok. Besok2 pasti udah boleh naik sepeda lagi...

Pengorbanan hati demi sang jiwa tercinta..

Cepat sembuh ya, de Tika.

iteung said...

semoga lekas sembuh untuk si kecil ya buddy...

sampe kapan ya masyarakat kurang mampu bisa diperlakukan lebih manusiawi lagi? bukan sekedar objek penderita yang mesti *terpaksa* rela untuk tambah menderita lagi... *hela napas*

Anonymous said...

Sebagaimana yang pernah Qee tuliskan. Hal ini terjadi di mana-mana.