
Bahwa menikah adalah memasuki gerbang penjara raksasa yang berisi lahan garapan masa depan, yang dengan bergandengan tangan bersama pasangan masuk kedalam sebuah dunia eksklusif. Sekali melangkah melewati gerbang maka pintu raksasa itupun tertutup dengan otomatis. Keseluruhan dunia perkawinan berdinding kaca, berlangit kaca dan juga berlantai kaca, semua tembus pandangan. Itulah gelembung peradaban, yang dengan ekstrim memiliki tatanan kepantasa dan standar etika sebagai produk budaya.
Di dalamnya membaur dua individu yang sama sama berasal dari planet asing – seberapapun kita mengenal orang itu- yang kemudian atas komitmen hati menciptakan sebuah bangunan rumah tangga tempat berlindung dari terik dan kerasnya pergaulan. Tempat berlindung itu juga sekaligus basis untuk membangun mimpi mimpi dan harapan, menciptakan sesuatu dari ketiadaan dan merencanakan masa depan. Secara kodrati kehidupan baru dua individu ini juga melahirkan kewenangan kewenangan atas fungsi yang berbeda, menakhodai dan memelihara dengan tujuan sama; demi tetap berlangusngnya kehidupan penjara.
Ketika rumah penjara baru dimasuki, yang menjadi azas adalah cinta. Dan seperti saudara maklum, cinta membutakan mata logika, meremehkan ketidak mungkinan ketidak mungkinan yang biasanya melahirkan penindasan bathin (biasanya kemudian cinta dipersalahkan). Selama proses pembutaan logika berlangsung, maka dunia penjara dengan komunal baru itupun menjadi tempat memuja rasa yang membanggakan sekaligus menjanjikan, bahwa tidak akan ada hal buruk yang bakal terjadi selama cinta mengikat dua hati. Eh, jangan salah, hatipun labil adanya. Pandangan hati bisa setajam mata elang menembus dinding kaca, dan pada saat yang sama tak sanggup mengendus dunia mikro si individu pasangan terpilih.
Maka pada titik kelabilan tertentu dua mahluk masing masing dari planet asing itupun memperoleh panggilan alamnya masing masing. Kepintaran akal melahirkan skill untuk menelisik planet asal di langit langit penjara, sebagian bahkan menempel di tembok kaca penjara cinta; perkawinan. Sebuah hirarki baru terbentuk bersamaan dengan mengaburnya dinding kaca, seolah tidak ada wewaler yang menghalangi kebebasan tarian angan angan, yang berupa khayalan fantastis. Maka pada saat itulah, saudara, satu demi satu pilar penopang kokoh teduhan peradaban mulai melapuk, memungkinkan untuk runtuh. Hati hati, ini bisa terjadi kapan saja dan dimana saja meskipun jelas bukan kategori kecelakaan.
Maka saudara, memilih teman hidup adalah juga menentukan type ‘rasa’ yang mendasarinya. Memilih mencintai atau dicintai? Mencintai berarti bahwa mengikhlaskan hati, fikiran, dan perbuatan sebagai persembahan terhadap hidup orang lain. Memberikan cinta yang sebenar benarnya cinta tanpa pamrih imbalan balas jasa. Mencintai seseorang dengan cara seperti itu dalam perhitungan logis akan memperoleh imbalan yang sama dari si obyek dimana cinta itu dicurahkan. Hanya orang dengan mutu tinggi dan kebajikan sangat tinggi bisa menjalani ini, sebab mencintai bukan otomatis mendapat juga feedback cinta dengan kadar yang sama. Salah salah malah dimanfaatkan oleh si obyek karena dianggap cinta adalah senjata mematikan untuk melumpuhkan si pencinta.
Kemudian dicintai. Memilih orang sebagai teman hidup karena diri merasa dicintai oleh orang lain, berartii juga telah memvonis diri sendiri dengan keyakinan yang bisa saja apriori. Rasanya dicintai adalah diperhatikan, dimanja dan dibutuhkan. Bagi yang bijak hati, dicintai ibaratnya menerima pemberian hati, separuh jiwa dari orang lain yang memasrahkan pengabdian untuk memelihara dan membela kepentingan diri. Rasa dicintai bisa menimbulkan kesadaran dan tekad nurani untuk menerima si hati pemberian sebagai amanah, kepercayaan yang wajib dijaga dan dirawat; dengan cara mencintai si pemberi. Hati hati karena merasa dicintai bisa membuat orang lupa diri. Bagi mereka yang memiliki falsafah hidup adalah sebatas konsepsi ‘menang’ dan ‘kalah’ (aku ada kenal type orang seperti ini), maka dicintai bisa dianggap sebagai kemenangan atas orang yang mencintai kita. Sedangkan, hukum pemenang adalah bebas melakukan apa saja terhadap si kalah. Orang dengan perilaku seperti ini (menurut Qee) adalah golongan orang licik, dan untuk menjadi licik orang harus bejat dulu. Jadi, orang yang merasa dicintai kemudian memanfaatkan cinta itu untuk menindas si pencinta adalah bejat adanya.
Demikianlah saudara, selamanya cinta memang fleksibel dalam makna, labil dalam fondasinya karena cinta adalah cawan disetiap jiwa manusia. Selama kaki tegak lurus, maka air didalamnya akan tenang dan menghidupi, mendamaikan sekaligus membahagiakan dan melindungi si jiwa. Tetapi jika kaki hati pecicilan, tentu ia bisa tumpah kesana kemari, dan bisa menyebabkan sakit jiwa, luka psikis yang permanen. Dan karena aku mencintai saudara, maka pilihlah teman hidup saudara dari golongan orang yang saudara rasa saudara tidak bisa hidup sempurna tanpanya, bukan cinta dengan azas balas budi apalagi memuja. Selamat menjadi pengantin!
Gempol, 060601
17 comments:
Tulisan dikau sudah bagussss sekali, sangat apa adanya dari hati:) Penjabaran yang tepat sekali buddy.
Dan buat saya pribadi, pernikahan justru sebuah awal dari segala banyak keterkejutan hehehe... kalo gak pinter-pinter mengontrol hati *baca: sabar*, weesss... ambrol :)
nice post..buddy :D keep writing !
are you ready to join in :D
So? Can I choose you to be mine?
kalo gagal gimana ?
Nice posting...
gw suka kata2 ini :
*****
Bahwa menikah adalah memasuki gerbang penjara raksasa yang berisi lahan garapan masa depan, yang dengan bergandengan tangan bersama pasangan masuk kedalam sebuah dunia eksklusif.
*****
"Keseluruhan dunia perkawinan berdinding kaca, berlangit kaca dan juga berlantai kaca, semua tembus pandangan. Itulah gelembung peradaban, yang dengan ekstrim memiliki tatanan kepantasa dan standar etika sebagai produk budaya."
Jadi boleh dilihat tapi tak boleh disentuh oleh individu diluar rumah kaca ya pak?
Jadi, lebih enak mana?
married or single?
or MBA (Married But Available)??
Heuehuehuehue... Pa kabar, om??
Mbak Ida: yaah, itu mah pujian mbak...douuh, merasa blm pantes dapet pujian kek gitu. Terimakasih banyak eniway mbak.
sefawkes: Terimakasih En. Hm, to join in what? *bingung*
hiking: gagal apanya neh king?
Lucy: dan terkadang badai tiba2 datang tatkala air tenang. Lebih mengerikan lagi, terkadang cinta cuma tinggal jadi slogan keterpaksaan ketika yang tersisa cuma kewajiban.
Ir: dan terkadang definisnya bisa bergeser menjadi 'sangkar emas' Ir.
Uthe: Itu kembali kepada atmosphere rumah kaca itu sendiri..huehue...pak opo om to The?
Cinta memang fleksibel dalam makna, labil dalam fondasinya karena cinta adalah cawan disetiap jiwa manusia.
------------
Fondasi kokoh kita yang membuatnya, dengan bersama bergenggaman tangan memecah aral. Bersama pecahkan karang, Berdua dalam satu tujuan...
" Kata orang perkawinan dan tatoo itu sama. Orang berpikir seribu kali sebelum memutuskan diri untuk mentato tubuhnya, begitu juga ketika mereka memutuskan untuk menikah. Begitu kita menyetempel diri kita dengan tatoo , stempel itu akan melekat selamanya ".
Perkawinan adalah pergulatan mengelola dan mengatasi rasa bosan yang akan muncul, karena hidup bersama dengan orang lain dalam satu ikatan bukanlah hal yang mudah.
U never know unless you are in that battle
Emang seru yang berbau bau sentimentil gini. Peperangan Qta banyak manfaatnya juga ya? heuheuehue.
Aku ikutan catut nama deh...take a look ya.
And jangan heran kalo Qee slalu ngotot. Namanya juga Qee....
(**Nyengir sambil meletin lidah**)
wow..jadi mikir....
mauuuuuuuuuuuuu
gw mau dicintai...dan
juga akan selalu mencintai...
ehmm...kok tulisan mas bud ini pas banget sama "sikon"ku sekarang....huhu pedihnyahhh...
anu anu...mau tanya ?
kalo disuruh milih emangnya milih apa sih ? dicintai atau mencintai ?
Unai: Selamanya produk manusia akan mengalami pergeseranya, Nai.
Tata: excatly! pengharapan yang berlebihpun bisa menjadi bencana, Ta.
Qee: yeap! hikmah dari setiap kejadian termasuk peperangan!
@yu: jangan lama lama mikirnya yaa..
Dahlia: heheh...rumus alami ya Dahlia?
Mata: pilihanya ada di paragraph terakhir Mata...heheheh
We've talked about it ya...Boleh gak aku mencintai dan dicintaimu?
Waduuuhhh...namaku lagi disebut-sebut. Yeah...gitulah resikonya jd orang beken..jiaakakakkakaka....
Post a Comment