
Ia menggelandang dari bayangan demi bayangan, dari kabut ke kabut yang disangka menenteramkanya. Dilarungnya segala benda kepemilikanya ke kawah keputus asaan, lebur jadi asap lalu terbang tak bersisa dilangit raya. Jika air mata yang tumpah melambangkan hati yang terkoyak dan patah, suatu kali ia adalah muatan awan yang sempat diminta bintang untuk singgah, sekedar menyirami kebun strawberry dan ladang anggrek. Lalu ia ditendang jatuh, mukanya membentur lantai es yang kaku. Maka tumpahlah pula segala luka baru jiwanya, menghambur ke bumi menjadi butiran hujan; berkah bagi kehidupan yang melata di tepi kematian.
Dia menyerahkan diri kepada ketidak pastian masa. Dilaluinya hari dengan serpihan kaca disekujur nadinya, berjalan gontai kehilangan delapan mata angin penuntunnya. Ia hanya mencari kematian dari satu titik ke titik lainya. Tak satupun rumah yang disinggahinya menganggapnya pantas untuk menjadi penghuni, sedangkan miliknya sendiri telah amblas ditelan sejarah badai hujan yang hitam. Dikuburnya mimpi yang menjelma menjadi batu kenangan, dibawanya kesana kemari sebagai beban sepanjang perjalanan ragunya. Telah dipilihnya kekalahan menjadi teman sejati tanpa ikatan janji. Toh dia hanya menjalani jalan setapak kehidupan dengan langkah kedepan yang hanya menginjak udara. Kosong tanpa rasa.
Dipeliharanya mimpi dikepala, tentang sebuah kematian indah dimana hanya alam yang menyaksikan ketika jiwanya lepas dari belenggu konskwensi. Kematian yang ia persembahkan bagi pengabdian terhadap hidup. Perlahan disadarinya, harapan hanyalah fatamorgana yang memprovokasi hati untuk takut kehilangan hidup. Dia sadar bahwa dia tidak punya kontrol apa apa terhadap wujud masa lalu maupun transformasi masa depan. Dibuangnya jauh jauh segala bentuk kebanggaan, ia terima tawaran dari nurani untuk beternak domba di kandang srigala. Dia teruslah berjalan, mencari kesempatan dimana malaikat merencanakan kematiannya meski pencarianya membetur dinding dinding buntu, sebuntu harapanya.
Gempol, dibawah kerlip Orion 060627
15 comments:
Hmmp... *tarik napas*
Jikalau kematian itu berujung pada kebahagiaan maka akan banyak jiwa2 luka menantinya
Jikalau kematian itu berujung pada kebebasan maka akan banyak jiwa2 yang tersesat menemuinya...
Jikalau kematian itu adalah jalan rahasia menuju keabadian maka akan banyak jiwa2 muda mencarinya
hmmm, not figure it out yet. but for me, hidup itu keuntungan, mati itu kemenangan.
Air mata yang menganak sungai akan menjadi teman dalam kesendirian. Kesunyian yang sebenar benarnya.
Pasrah saja kepada pemilik kehidupan dan penentu kematian.
Bahwa kesedihan saat ini bukan dari buah kesedihan di masa lalu.
berharap apapun atas apapun? jangan pula kau kunci harapmu. Karena tak ada yang tak mungkin di dunia.
*ceramah mode on sambil betulin sanggul
Banyak yg takut akan kematian, tp apa sih yg sebenarnya ditakuti?
As long as we treat our self properly, bukankah kita cukup menyerahkan padaNya?
(sok tau bgt ya?:-))
Where would we be then?
Will we be together then, prince?
Hmm, fei selalu agak2 gimana kalo mas yang ngomongin soal ini. Tapi personally, for me, death is another stage of 'life'...maybe...
kematian merupakan sesuatu yang unik dan menyimpan misteri bagi kebanyakan manusia,dan kematian tetap merupakan sesuatu yang di takuti orang.
tapi siapakah yang sebenarnya menyimpan misteri..? kematian atau manusianya....?
How if I say: Death is another stage of life....Mungkin orang akan bilang: Penakut yang bersembunyi dibalik ketakutannya dengan menebarkan aroma pesimisme yang mungkin tidak mungkin....well...we never know what's next on our next life, right....:)
Coba mampir ke rumahku, pasti akan kusambut dgn tangan terbuka
jangan takut mati, tapi takutlah pada kehidupan setelah mati nanti.
pawang: pemahamanku, kematian itu sendiri adalah ujung dari benderang...
gee: benar, hidup adalah keberuntungan dan mati adalah akhir kehidupan
unai: another side story of life?
ratih: tak pantas ditakuti, buka tangan menyambut datangnya hari
fei: we never know what will happen after death...there is no more life for sure
nita: bukan misteri karena ia pasti datang Nit...ketika kita lahir sama dengan kita menanda tangani kontrak untuk mati, kan?
Lucy: Death is the end of earthy life, for sure Cy. The next? Nobody knows...
Yaya: Inshaallah mampir....tangan doang yang terbuka?????
Nyiur: Bagiku mati bukan hal yang patut ditakuti juga bukan dicari, tapi kadang diidamkan datang sebagai penyempurna pengabdian...
kematian... dalam kasus tertentu, itulah yg aku tunggu...
Mbak Ida: Sama mbak, the final destination...
Hanya ingin, sekali berarti lalu mati...
dan didalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian ini, ternyata ada satu yang pasti...
...MATI...
like... or dislike...
"KEMATIAN INDAH" adalah impian setiap manusia "beriman"..
:)
Post a Comment