Friday, June 14, 2019

RISALAH JATUH CINTA



: mp
Pejamkanlah mata dalam tidur tenangmu, dan dengarkanlah jiwaku bersyair untukmu;
Kutulis kesaksian hati, pengakuanku paling jujur kepada diri sendiri. Aku memujamu, memujamu sejak dahulu, dan semesetinya engkau tahu itu. Dan oleh karenanya aku telah jatuh kepada lubang dalam ketidak berdayaanku untuk tidak bersamamu. Bagiku engkau adalah dunia damai yang kutinggali dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari hariku yang normal. Mungkin bagiku engkau juga adalah udara yang selalu ada meskipun kita tidak perlu meminta, ada untuk memberi kehidupan.
Sungguh perasaanku mengalir bagaikan mata air yang tak berhenti menyusuri setiap lorong pikiran dan jiwamu, membawamu juga berselancar disetiap kelok labirin pikiranku. Cintaku padamu hampir sepenuh hati, sehingga membuat logikaku mati fungsi. Aku telah habis habisan membelanjakan perasaankku hanya padamu. Akan kau lihat bahwa cintaku padamu adalah cinta terbaik yang pernah ada didunia. Tidak akan ada engkau temukan pengalaman seperti ekspresi cintaku padamu dalam hidupmu, bahkan dari cerita cerita cinta orang lain yang mungkin pernah kau dengar.
Aku memujamu karena engkau adalah hidupku. Susah, sedih, senang dan bahagianya diriku selalu saja memabawamu untuk ikut serta merasakan, atau setidaknya menyimpan keinginan permanen untuk mengajakmu mengalaminya kelak; suatu saat. Mengajakmu ke tempat tempat yang begitu eksotis seperti yang telah ku ceritakan selalu dalam perjalanan hidupku padamu; setiap hari selama duabelas tahun terakhir ini. Ah, betapa engkau telah menjadi bagian inti dari hidupku; hidup yang bahagia. Selama itu pula kubiarkan diriku larut dalam pemujaan dan menganggapmu sepakat membangun cita cita purba kita; menghabiskan hari tua bersama. 
Engkau tahu, betapa bangganya aku ketika engkau menjadikanku seseorang yang engkau puja seperti halnya aku memujamu. Aku memujamu karena kesederhanaanmu. Juga sikapmu yang seolah selalu menjadikan aku bagian penting dari hidup keseharianmu. Ah, aku telah jatuh cinta padamu sejak lama, lama sekali sampai kuyakini selama itu bahwa perasaanmu juga sama denganku; mengagungkan hubungan rahasia kita. Kita sudah tidak lagi merahasiakannya, karena perasaanku yang tertuju padamu adalah nyata. Bahwa aku teramat menyayangimu, itu pasti. Bahwa aku takut kehilanganmu, itu juga pasti, sebab tanpamu bagiku tidak ada kehidupan di dunia ini. Aku akan memilih mati.
Akan kuceritakan saja padamu tentang masa depan dalam khayalanku, sekalian untuk mencurangi masalalu yang terus saja memprovokasi pikiranku. Hidup bersama denganmu adalah cita cita dan impianku sejak dulu. Cita cita dan impian itu kusimpan begitu rapat menjadi rahasia yang kusembunyikan darimu, oleh sebab sesuatu.  Didalam kehidupan batinku, duniaku adalah kamu. Ingin rasanya menghauskan pertanyaan pada diri sendiri tentang keputusanmu yang menghancurkanku belakangan, tetapi itu hanya akan mengorek luka yang bisa meradang kapan saja; terutama pada saat salah makan.
Tumbuh tua bersamamu, maka fisik kita sudah jauh berkurang dari kondisi sekarang. Tidak apa, cinta tidak akan tumbuh menua bersama usia. Rasa cintaku rasanya akan abadi dan tidak mengenal dimensi ruang dan waktu. Setuju tidak? Lihatlah kita sayangku; terpisah 11.217 kilometer, tetapi kita lebih dekat dari siapapun. Kita juaranya. Tumbuh tua bersamamu, kita akan menjadi manusia yang sederhana; hanya saja penuh cinta. Selama duabelas tahun ini saja aku sudah merindukanmu setiap hariku, dan setiap pertemuan adalah keajaiban yang ingin kuabadikan. Coba bayangkan, betapa bersyukur bahagianya hidupku jika setiap hari dapat bertemu denganmu. Akan terjadi keajaiban setiap hari, setiap kali aku bertemu denganmu. Bagiku, kesanku padamu tentang engkau sebagai malaikat penyelamatku tetap ada dalam hatiku.

Khayalku tentang masa depan denganmu seolah nyata dan menjadi patron dalam hidupku. Aku percaya bahwa ketika hati kita kuat memohon, maka Tuhan akan mengabulkan. Kita hanya tidak akan tahu kapan Tuhan akan mengabulkan keinginan kita. Keinginan sederhana saja, hidup bersama dihari tua, menikmati cinta sepenuh jiwa. Kita akan menanam untuk apa yang ingin kita makan. Menumbuhkan dan memelihara tetanaman yang menghasilkan sesuatu adalah keajaiban yang bisa kita syukuri setiap hari. Kita akan membiasakan diri untuk menggali lebih dalam segala sesuatu, karena disana akan kita temukan keindahan. Dari sekian banyak hal sederhana yang kita pandang sebagai keindahan, maka akan terbentuk dunia kita yang serba indah. Indahnya akan cepat mengubur masalalu, dan menjadi tembok penghalang supaya demons tidak bisa menyeberang.
Sayang,
Jika tumbuh tua nanti, hitunglah keriput di wajahku ketika aku tertidur. Terjemahkanlah setiap garis keriput kulit wajahku sebagai cerita panjang tentang segala pengalaman hidup yang kubagi denganmu. Aku telah menahbiskan diriku untuk menjadi manusia kaca bagimu, manusia transparan yang bisa engkau lihat seluruh isi kepala sampai ke dada. Bahkan lebih daripada itu, kuajak engkau untuk hidup senafas, terhubung dalam gawai di setiap gerak dan ucap kita. Itu semua agar engkau tahu; tidak ada sesuatupun yang kusembunyikan darimu. Bukahkah itu akan membuatmu merasa nyaman dan percaya pada perasaan cintaku padamu? Jika engkau terganggu ragu, kekasihku, tengoklah ke belakang, kali ini salami lebih dalam segala isi perasaan yang kusimpan dalam tulisan. Atau, cukup ingatlah kembali; seseorang yang selalu menyapamu setiap hari selama duabelas tahun tanpa henti. Aku rasa akulah satu satunya lelaki dalam hidupmu yang mampu se konsisten itu dalam merawat sebuah hubungan. Aku merasa nyaman denganmu, merasa bahwa aku berhak memiliki dunia rahasia yang berisi bahagia, dan dunia rahasia itu hanya dihuni dua orang saja; aku dan kamu!

Kuceritakan kepadamu tentang harapan harapan yang kusimpan rapat dan menjadikanku semangat. Harapan itu  seperti jimat yang membuatku selalu berusaha baik dalam berbuat. Kupersembahkan dan kupamerkan semua pencapaianku padamu. Bagiku, kebanggaanku adalah bisa membuatmu bangga, dan kebahagiaanku adalah mampu membuatmu hidup bahagia. Aku telah hidup bahagia bersamamu selama ini, maka tidak akan sulit menurutku untuk membawamu ke dunia bahagiaku itu. Menjaga, mengambil alih semua cemasmu dan melayanimu setiap hari adalah harapan paling sederhanaku. Aku tidak peduli bagaimana itu nanti bisa terjadi, kerena seperti kataku sebelumnya, telah kumatikan logikaku hanya untukmu. Akan kuajak engkau ke tempat tempat yang pernah kuceritakan, dan akan kuceritakan padamu tentang perasaanku padamu pada saat dulu aku di tempat itu.  Kita akan tua, keriput dan satu persatu pesendian tulang kita akan menyerah. Tetapi itu semua tidak akan membuatku tunduk lemah. Bagiku, kekaguman dan rasa sayangku padamu bukan tumbuh dari faktor yang tampak kasat mata. Kecintaanku padamu tumbuh dari sesuatu yang terasa dalam hati dan jiwa, bukan dari yang tampak dari mata.
Demikianlah, rasanya kata dan kalimat tidak akan pernah cukup untuk dapat mengekspresikan perasaanku padamu, dan betapa besar rasa cintaku padamu. Seluruh persediaan kata dan kalimat hanya untuk menyanjungmu, mengutarakan isi hatiku tanpa sungkan dan malu. Bagiku engkau adalah hidupku sendiri, tujuan dan juga inti dari seluruh kehidupanku. Lihatlah aku sayang, yang babak belur melawan pikiranku sendiri dan kemudian memilih jalan perih bersamamu. Apapun asal bersamamu, maka kuyakin bahwa Tuhan memberikan keajaiban yang kita butuhkan. Bukankah kita sudah membuktikan itu berulang ulang?
Cintaku,
Pertanyaan gamang tentang candaan atau sindiran tentang kesetiaan cinta yang kita bahas satu kelumit itu melintas begitu saja. Betapa cinta telah melukai begitu banyak anak manusia, bahkan membunuhnya. Dan betapa perasaan manusia dapat berubah menurut situasi dan waktu. Aku takut suatu saat tiba tiba datang kesadaran rasionalmu dan kemudian diam diam menjauhiku, bahkan mungkin ‘membunuhku’. Engkau tahu, aku hampir mati hanya oleh kekecewaanku pada sikap tak terpujimu sebelumnya. Sebenarnya masalahnya sederhana, aku hanya tidak mau kehilangan kamu. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Bagiku, tetap memiliki kamu dalam dunia batinku adalah sepadan dengan pedih perih yang harus kulewati sendirian. Itulah perjuangan, menurutku. Memperjuangkanmu hampir merenggut semua kehidupanku. Aku ingin bangkit dan kuat lagi agar mampu menjagamu kelak. Aku ingin kepalaku tegak lagi dengan senyum lebar kesukaanmu di bibirku, agar aku mampu mengadopsi semua kecemasan dan ketakutanmu. Aku ingin menjadi manusia istimewa buatmu, sekarang dan selamanya.
Soal siapa yang kemudian akan memicu candaan dan sindiran soal kesetiaan cinta, aku rasa aku cukup yakin dengan pengalaman batinku sendiri bahwa perasaanku akan tetap lebat seperti duabelas tahun belakangan ini. Cintaku padamu tak berkurang dan tak tergoyahkan meskipun jarak dan waktu memenjara kita dalam rindu yang menggebu. Kita sudah terbiasa begitu, terbiasa menahan rindu, dan jarang bisa bertemu. Tetapi tahukah kamu cintaku, kondisi itu membuat perasaan cinta yang tumbuh dalam jiwaku menjulang tak terlawan. Aku ingin kamu merasakan cinta terbaik, dan cinta terbaik itu akan datang dariku; seperti biasa.
Kekasih,
Rasanya tidak akan ada selesainya aku menuliskan isi perasaanku padamu. Maka akan kuajak engkau dalam setiap gerak dan tarikan nafasku supaya engkau tahu bahwa disana selalau ada kamu yang menemaniku. Selamilah setiap lorong dan labirin rahasia pikiranku agar tenteram jiwaku untuk menitipkan hati rapuh pada perawatanmu.
Jangan jauh jauh dariku, sebab hanya padamu aku berharap. Kuminta bersetialah pada cinta kita seperti kisah kisah epic fiksi. Jadilah dirimu sendiri seperti sekarang ini, bebaskanlah dirimu dari kungkungan keharusan yang hanya akan menyenangkan orang lain tetapi menenggelamkanmu. Ingat selalu bahwa ada aku yang selalu membanggakanmu, ada aku yang selalu kagum kepada pencapaianmu. Aku mengingat semua proses metamorphosismu sejak kita pertama bertemu. Dan lihatlah sekarang, bahkan pelosok dunia adalah tempat bermainmu sekarang; tempat yang bahkan tidak sempat melintas dalam pikiranku. Dan sikap manismu padaku itu, yang tetap menempatkanku beberapa langkah didepanmu – itu katamu. Insan mana yang tidak lemas dan bangga diperlakukan seperti itu?  Kebanggaan seseorang adalah ketika seorang yang diistimewakanya menempatkan dirinya sebagai orang yang memberi pengaruh baik dan  menempatkan diri sebagai manusia yang baik. Aku adalah kekasih terbaikmu, dan aku tahu itu; dan engkau lebih tahu tentang itu.
Aku mencintaimu sungguh sungguh. Lihat langkahku, mengayun maju; menuju kamu. 
I love You 3000x.
Bambuapus, 190529




Tuesday, May 28, 2019

Larungan


:MP

Dari ketinggian jelajah tigabelas ribu kaki dan terus menurun, pulau tujuan itu nampak seperti seonggok kotoran yang terapung di luasnya air berwarna biru. Kerlap kerlip riak ombak tampak seperti permata yang menyambut pesawat kecil yang terombang ambing dipermainkan altitude. Langit begitu cerah dan biru, awan gemawan mengambang disekitaran seperti kapas dan kembang gula. Warnanya yang putih berlarian ke belakang seolah menyilahkan diri untuk datang mencicipi bumi baru, bumi larungan tanpa masa lalu.

Bandara yang lebih menyerupai airstrip menyambut dengan guncangan dan sedikit kecemasan akan terjadinya celaka diperjalanan. Angin berhembus membawa bau laut menyapu wajah, memperkenalkan diri sebagai tuan baru bagi diri dengan batin kosong melompong yang berkehendak membuang diri ke dalam ketidak tahuan orang orang yang pernah dikenal sebelumnya.

Salam kenal wahai Larungan, bumi kecil tempat masa depan akan terancang dengan hati hati. Luka dan dendam yang tersimpan di hati akan menjadi pengigat abadi dan penghias bagi gemilang yang nanti mungkin menjelang. Kamp kecil menyambut, diiringi oleh sopir penyambut yang langsung memperkenalkan diri begitu kaki menginjak pintu keluar bandara kecil dan sederhana itu.

Berkendara dalam mobil double cabin dan sambil mendengarkan pak sopir berceita tentang tempat tempat, bangunan beratap seng, pagar pagar kawat dan marka marka menunjukkan bahwa inilah areal tambang nickel yang menjadi ladang pangan dan sekaligus arena mengaktualisasikan diri bagi begitu banyak orang, begitu banyak nyawa. Tantangan dan rintangan tidak akan menghalangi, sebab diri datang hanya membawa nyawa yang terbuang.  Betapa sendirinya manusia hidup membawa semua kehidupannya.

Masa lalu telah mati, roboh oleh khianat kekasih hati, sebuah istana batin yang runtuh sekali sentuh oleh dia yang paling memahami cara menyakiti. Catatan catatan kekaguman dan kesetiaan telah berubah menjadi duri duri pengingat sakit hati yang tidak akan tercabut sampai akhir hayat nanti. Perihnya melebihi perih dari kulit yang tergores oleh pisau cutter pada saat kepala hanya berisi api. Amarah yang membuncah setiap siang malam bahkan sampai ke alam mimpi menjadi rahasia paling pribadi yang tidak satu orangpun yang akan mengetahui. Luka itu dibawa dari pertarungan diam yang sangat panjang, dicetuskan oleh penghianatan yang diulang oleh malaikat yang dulunya menolong ketika mulut tak kuat lagi mengerang kesakitan.

Alam baru yang serba asing seolah tunduk oleh diri yang tak lagi berpribadi, tak ber masalalu dan tak punya harga selain nyawa yang dibawa. Hewan dan tumbuhan seperti memaklumi keadaan diri yang polos tanpa tendensi. Akulah orang baru yang terlahir dari badai yang menderu. Masalaluku telah mati bersama dengan orang orang yang tercintai. Hanya badan dan kaki sedikit pincang yang akan bertahan mempertaruhkan nyawa demi masa depan. Akulah manusia baru di bumi Larungan, yang berharap dari puing ingatan akan tumbuh dunia baru dengan harapan harapan baru dan mimpi mimpi yang baru. Duka lara kusimpan dalam diam, kujadikan kenangan paling kelam dalam sejarah kehidupan.

O, Larungan yang cantik, sebentar lagi akan menjadi surga tak bertuan dimana aku akan menjadi raja bagi diri dan keinginganku sendiri. Persetan dengan semua yang datang hanya untuk menyakiti sesudah sekian tumpuk kesetiaan tercatat rapi. Kesedihan yang terbawa akan mejadi alas tidur diam diam dimana tak seorangpun akan dapat mengeja kisahnya. Semua terkubur hanya dalam ingatan meskipun sesekali menyeruak berontak dari otak di dalam mimpi yang samar samar, didalam tangisan tak sadar yang liar.

Luka dari seluruh luka, sakit dari semua sakit terbawa dalam dunia diam. Erangan dan jerit kesakitan harus ditahankan demi menerima dan menjalani takdir yang diciptakan para durjana. Kekecewaan dan kesedihan harus ditahankan dan dirahasiakan oleh sebab mustahil dapat melupakan. Malaikat kecil berambut ikal, yang telah berubah menjadi iblis keji tidak akan dapat berubah jadi malaikat lagi. Hati yang terlalu dalam mencintai telah terlanjur koyak dan bernanah kini. Koreng dalam jiwa masih membiru ketika langkah kaki menapaki halaman kantor tempat satu satunya diri merasa diterima dan ada; disini di tempat yang jauh dimana tidak seorangpun tahu: Larungan.

Pulau Larungan akan berarti pula menjadi obituari yang bermakna pulau Kabar Duka,  akan menjadi bumi baru tempat semua masalalu terpendam rapi dalam api abadi dalam hati. Pulau itu tidak terlalu besar, tidak ada kota yang ada hanya rumah rumah penduduk beratap seng disepanjang tepi pantai yang landai. Kapal ferry datang setiap tiga kali dalam seminggu untuk mengantar perbekalan dan sarana transportasi. Pesawat rintis akan datang dua kali dalam sebulan yang lebih banyak digunakan charter oleh perusahaan tambang yang seolah seenaknya sendiri mengeksploitasi bumi kecil Larungan.

Mercu suar tempat kantor baru berdiri sendirian sejak zaman Belanda. Berdiri tegak dan tegar selama puluhan tahun kesendirian. Aku ingin belajar dari keteguhan sang suar, atas kesetiaanya kepada alam dan memberi kebaikan bagi kehidupan para pemakai jalur pelayaran. Ditempat itu hanya sepi dan isi hati yang berbincang tanpa henti. Jutaan kata kata dan kalimat akan tersusun dalam berjilid jilid kisah indah tentang cinta yang tak pernah terjadi di dunia nyata. Kisah kisah tragis tentang penghianatan dan sakit hati akan tertoreh dengan indah hingga tak seorangpun pembaca akan menyaadari betapa dalam luka yang diderita sang penulisnya.

Inilah manusia kosong berbatin compang camping yang melarungkan diri ke tempat paling sepi. Berharap suatu saat disinilah dia akan bertemu mati. Kehidupan nun jauh diseberang akan tetap dipelihara sebagai kewajiban menjadi manusia. Sementara, jiwa yang merana melarungkan diri ke tempat yang tanpa alamat. Satu dua orang sahabat telah menjadi kerabat yang tak tertandingi. Kepada mereka tertitip pesan agar jasad tanpa nyawa milik diri seorang kelak dapat dipulangkan ke hangat dan damai pangkuan bunda di kampung halaman dan tak perlu kenangan khusus atasnya; cukup menuliskan nama di batu nisannya.



Bambuapus 190312

Saturday, May 25, 2019

Perang Fiksi

: MP

Ibaratkan badan, kamu adalah tangan kanan sedangkan aku adalah tangan kiri. Tangan kanan menggenggam belati tajam, mamiliki daya serbu dan daya  rusak sedemikan kejam. Tangan kanan lebih dominan. Sedangkan aku adalah tangan kiri. Tidak terlalu banyak fungsi kecuali melengkapi keperluan tangan kanan. Tugasku melindungimu,  menangkis serangan dan menyokong tangan kanan jika membutuhkan. Tugasku hanya memberimu keseimbangan dan pemenuhan atas segala yang kau butuhkan.
Suatu hari tanpa sebab, aku kau lukai dengan belatimu yang selalu terhunus. Dilukai begitu saja tanpa kamu merasa seolah rasa sakit itu ada. Nyerinya sampai ke tulang seketika, perihnya melumpuhkan hampiir seluruh kehidupanku. Aku jatuh pingsan dihantam kenyataan. Ketika siuman, badanku sudah penuh luka goresan. Darah menyembul dari kulitku yang koyak lalu mengering di tempat, menegaskan garis garis sayatanmu. Aku mungkin sekarat, tak sanggup mengangkat martabat yang kau tumbangkan. Duniaku hilang seketika, berganti dengan kebingungan yang membingungkan bingung. Matahariku padam saat itu juga.
Hingga kemudian kutemukan gudang setan, tempat demons hidup dan beranak pinak. Kutemukan ruang ruang kenyataan masalalu yang melulu  berisi perihnya dicurangi; sakitnya dikhianati. Aku kecewa karena kamu sampai hati menyakitiku. Aku kecewa karena aku kira akulah rekan terbaik dalam hidupmu, seperti aku menganggapmu sebagai bagian dari kehiduapnku, bagian dari duniaku. Tetapi yang membuatku paling kecewa adalah bahwa telah kau serahkan kerhormatanmu yang selalu kujaga kepada tubuh lain. Aku kecewa dan mengutuk diriku sendiri karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Tetap tidak bisa kumengerti alasan sebab kamu tega menikamku, justru pada saat aku tengah mendukung perjuanganmu. Aku sangkakan aku pendukung tunggalmu, hingga kusembunyikan letihku darimu hanya agar kamu tidak mencemaskanku. Kecemasan itu adalah bagianku, bahkan cita cita rahasiaku adalah mengadopsi semua kecemasanmu. Tapi aku kecewa kamu menghianati ketulusanku.
Kuratapi lukaku penuh penghayatan. Aku berada di level paling bawah, paling dasar ketidak berdayaanku melawan. Seluruh persediaan kekuatanku  sudah kukerahkan, mencengkeram ledakan sakitku dalam pikiran. Hidupku menjadi berantakan. Langkahku menjadi tanpa arah (atau, barangkali memang aku tidak pernah melangkah).  Aku hanya tinggal punya nyawa saja. Aku merasa tidak layak berada di dunia tanpa cahaya ini. Sakit yang kau beri telah berporses menjadi koreng menganga berwarna biru, merah dan hitam kotor. Lukanya membengkakkan bagian lengan yang tak terluka disekitarnya. Rasa sakitknya menyebabkan kesakitan ke seluruh kitaran kehidupan tangan kiriku, bahkan sampai ke seluruh badan –mungkin termasuk kamu. Lukaku dapat kau lihat dan kamu bisa berempati. Tetapi sebenarnya hanya aku yang bisa merasakannya sendiri, menerima dan menjalaninya sendiri. Kamu tidak akan pernah bisa merasakan karena yang terluka adalah aku, bukan kamu.
Kamu tahu tentang luka? Setiap luka adalah gerbang terbuka bagi masuknya bakteri maupun virus yang bertebaran tak kasat mata. Macam macam virusnya, tetapi akan lebih mudah untuk menginventarisir akibatnya. Virus dan bakteri berbahaya dan mematikan dapat masuk ke seluruh badan melalui luka yang kamu buat ini. Perjalanan kuman dalam badan akan menyebabkan berbagai penyakit mengerikan yang pernah kita dengar di dunia kedokteran. Bahkan konon luka terbuka juga dapat menyebabkan infeksi yang bisa menyebabkan kematian atau minimal amputasi.
Kamu adalah bagian dari ruh diniaku, tidak mungkin aku akan sanggup menyebabkanmu sakit atau sedih. Tugasku adalah melindungimu! Kutahankan sakitku sekuat kuatku. Bukan sakit pada luka terbuka buatanmu, tetapi sakitku meladeni pikiran pikiran buruk yang datang tak kenal waktu  dan tak kenal berhenti. Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu hingga kamu sampai hati melukaiku. Pertanyaanku tentang mengapa kamu lakukan itupun hanya membentur di udara, tidak menemukan jawaban logisnya. Begitu banyak argumentasimu bahkan kepada hal hal yang berniat membuatku merasa diunggulkan olehmu, tetapi toh kenyataanya kamu memutus urat nadiku karena lalai pada keberadaanku. Secara template sudah semestinya kamupun turut menjaga dan memelihara sinergi kita, bukan malah meremukkannya. Aku menyesalkan apa yang sudah kamu lakukan; bukankah sudah berulang kukatakan untuk tidak lagi memberiku kejutan buruk bagi hidupku?
Lukaku masih bernanah, menjijikkan bagi siapa saja yang melihatnya. Engkaupun pasti malu memiliki partner seperti keadaanku sekarang. Hari hariku muram oleh menekan perang fiksi yang terus saja terjadi. Perang dalam pikiran antara kemauan hati dan nasehat bijak dari logika. Perang itu semakin meriah saja dengan banyaknya rahasia yang kamu sembunyikan dariku selama dua tahun keparat itu. Selama itu pula setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari engkau dustai aku. Dan selama itu pula setiap detik, setiap menit, setiap jam dan setiap hari aku memujamu, menempatkanmu di tempat paling istimewa dalam batinku. Tetapi rupanya engkau memilih nyaman dengan mendustaiku.
Perang fiksiku telah meluluh lantakkan kebanggaan dan harga diriku. Seluruh pencapaian dan kebanggaanku telah runtuh dan sia sia bersama penghianatanmu. Aku telah menjadi cacat oleh sebab apa yang kau perbuat. Aku terpuruk dalam ketidak berdayaan yang gelap tanpa cahaya, dan kamu enteng saja menganggap semua hanya masa lalu  belaka.
Harus kuterima dan kujalani semua seperti pintamu, seperti rencanamu. Sayatan hanya akan meninggalkan bekas luka, tetapi sakit yang didalam akan terbawa sampai hidupku berganti alam. Terimakasih karena kamu telah mengantarkanku tepat ke pintu lorong panjang bernama kematian.

Kost,
190524

Wednesday, May 08, 2019

Surat Kepada Embun




Dear Embun,
Ini aku, Matahari. Bicara kepadamu seolah kamu masih ada didalam bagian nisbiah hidupku; di alam batinku. Nyatanya sebuah peristiwa telah menjauhkan kedekatan gaib kita, menjauhkan masing masing kita dari jangkauan keinginan setiap kali kita membutuhkan telinga berisi hati. Bicara yang selalu menenangkan dan menguatkan setiap kali serangan amarah bercampur sedih karena kecewa datang mencengangkan sekaligus melumpuhkan.
Kali ini aku  ingin bicara mengenai perang di negeri senyapku, di batin yang menyelubungi seluruh kisah hidupku. Para iblis yang kita kenal dulu telah menjadi jinak oleh waktu dan ketabahan kita dalam meladeni setiap seranganya, tetapi aku sudah lupa bagaimana menghadapi mereka diwaktu itu, aku butuh ilmu untuk menghadapi mereka dari kamu.
Ingatkah kamu, kita bertemu di savanna kosmos maya bertahun silam; sama sama menyembunyikan luka dendam. Buah dari keyakinan kita pada kesetiaan; luka hati oleh sebab mencintai! Kita berjalan sempoyongan di dunia yang penuh dengan aturan kewajiban ini, kemudian tanpa sengaja bergandengan tangan ketika tubuhmu limbung oleh serbuan ingatan masa lalu, dan aku ada disana memapahmu spontan. Kamu hanya perlu telinga dan hati untuk menterjemahkan betapa berat bebanmu dan betapa perih lukamu. Lalu kamu hanya perlu seorang yang memanusiakanmu, menempatkamu sebagai sesuatu yang penting didalam hidupnya. Dan itu aku.
Sedangkan aku waktu itu, kubawa lukaku yang beribu ribu dalam bisu. Di langit ku pahat jeritan jeritan kesakitan dengan indah, berharap sama sepertimu; menemukan telinga dengan hati dan menjadi manusia bagi seseorang. Aku perlu sejuk embun untukku sedikit berjeda dari perang batin yang berkepanjangan. Aku hampir bangkrut kala itu, tidak lagi memiliki tempat didunia dan terus saja batin mengingkari masa lalu dan pesimis memandang masa depan. Aku perlu seseorang dengan mata hati seteduh embun pagi. Dan itu kamu.
Demikianlah kita kemudian mempertontonkan perang yang sama. Perang dalam diam yang menghancurkan hampir semua sendi kehidupan. Perang itu hanya terjadi dalam pikiran. Pertentangan antara hati dan logika, pertentangan antara standard ideal dan kenyataan yang mengecewakan. Kita membawa kehancuran masing masing dan menghitung berapa banyak hal baik yang sudah mereka sia siakan. Perang batin itu sendiri adalah buah pertentangan dan protes diam diam di hati dan pikiran. Jutaan pertanyaan demi pertanyaan yang menyebar pada pertanyaan pertanyaan anakan tentang “bagaimana mungkin hal seburuk itu bisa terjadi ?”. Sampai lelah logika menentangnya hingga dada luluh lantak oleh fakta bahwa khianat itu memang benar benar terjadi dalam hidup kita. Kita sama sama dikhianati oleh orang yang kita cintai, orang yang kepadanya kita titipkan hati rapuh kita. Rasanya kita telah salah memilih titipan hati.
Maka kemudian kita menghadapi perang yang sama. Gerombolan demi gerombolan pengacau kedamaian memporak porandakan pikiran, dan kita tidak berdaya dibuatnya. Kita dianiaya sesuka mereka dengan cara semau mereka. Perihnya luar biasa, panasnya bagaikan api neraka (kira kira). Terkadang kita memilih gila saja daripada hidup hanya membawa nyawa – tanpa cita cita. Mati sengaja bukan menjadi pilihan karena kita terpaut pada kewajiban moral untuk tetap menjadi kita; untuk seorang manusia kecil titisan ruh kita. Hal hal tak rasional terkadang terlintas begitu saja, berharap  perang dalam batin kita lekas berakhir. Kita memvisualisasikan diri kita sendiri sebagai si korban, berkelahi tanpa henti dengan segala macam alasan penghianatan itu sebagai musuh abadi. Kita menyebutnya demons!
Mbun,
Untung aku ketemu kamu. Benar benar laksana embun, hadirmu membuat perangku berjeda. Datangmu membawa sejuk pada waktu yang tidak pernah mengecewakan. Kiranya Tuhan mengirim keajaiban itu melalui kamu. Jika demikian, sekarang aku paham bahwa kamulah malaikat itu kala itu. kita jadi merasa tidak sendiri lagi. Luka luka yang kita bawa dari negeri empiris masing masing dapat redam hanya dengan saling berjabat tangan lalu bergandengan. Dan kita jadi saling mengenal demons masing masing lengkap dengan sifat dan tabiatnya. Aku menopangmu ketika demonsmu menyerbu, dan kamu menyediakan tanganmu membelai kepalaku ketika demonsku  mengamuk merajalela dan aku kalah olehnya; membakar seluruh isi kepala. Lama lama kita jadi kuat, sekuat ikatan dalam batin kita yang penuh dengan rasa hormat. Kita menemukan keajaiban berupa harapan justru pada saat diam diam kita putus asa bahwa akan ada cahaya yang bakal bisa sedikit saja menyinari pekatnya hati.
Meskipun sekarang kamu sudah tidak dalam jangkauanku, tetapi kamu tetaplah embun. Kepada dunia kamu tawarkan damainya kebaikan hati. Kamu tetap saja menyejukkan isi dunia, terutama mereka yang menghayati dan memahami apa makna penderitaan. Itulah kenapa aku tetap bercerita padamu tentang demons baruku;

Demons yang menganiayaku kali ini jauh lebih perkasa dan jahat. Hasil tetasan dari seseorang yang pernah kusangka malaikat. Dia, yang datang setelah pergimu ke dunia baru dengan harapan baru. Pergimu tak melukaiku, tetapi justru menghadirkan bahagia yang membuncah karena semua berjalan baik, dan kesan yang kita tinggalkan pada lambaian terakhir di stasiun itu adalah kesan kebaikan, hormat dan kasih sayang tulus antar hati manusia. Demons kali ini hampir memadamkan cahaya yang kupelihara susah payah. Dampak kerusakan yang ditimbulkannya sepuluh kali daripada bencana pertama dulu; bencana yang kamupun juga tahu. Maaf jika kemudian cerita ini seperti anak kecil yang mengadu karena dizalimi oleh teman bermainnya. Tetapi sifatnya sama seperti dulu juga, bahwa mengagungkan cinta ternyata harus ditebus dengan duka lara. Ah tetapi rasanya tak patut lagi aku membeberkan kisahku kali ini.
Anyway, setidaknya aku masih bisa menulis untuk kamu yang tinggal menjadi imajiner bagiku. Aku sendiri telah kehilangan kebanggan masa lalu dan harapan cemerlang hari depan yang sempat aku yakini tidak akan tergoyahkan. Aku terjerembab pada kenyataan pahit tentang mencintai dengan setulus hati yang berakhir dengan sebuah perbuatan jahat yang amat keji. Kali ini juga aku tidak bisa menghindar lari. Semua yang kujaga telah runtuh, sedangkan pada saat yang sama dia telah menjadi bagian dari keseharianku  untuk waktu sangat lama meskipun hanya kebun rahasia. Tiba tiba semuanya menjadi tidak berarti lagi. Setiap hari bersusah payah aku berusaha untuk tidak memilih mati, dengan cara cara yang mempercepat datangnya mati. Aku menjadi tidak menghargai apa apa lagi di dunia ini. Nilai nilai yang selama ini kupelihara sehingga berusaha hanya kebaikan yang terjadi, seolah olah tidak ada makannya apa apa lagi.
mbun,
Manusia yang katamu hatinya terbuat dari emas ini hidup dengan hanya sekedar hidup. Baginya ia hanya ingin menjalani sisa nafas ini sampai ajal tiba. Bahkan belakangan ia banyak berpikir untuk menghindari dunia. Baginya sudah tidak ada lagi tempat nyaman didunia ini, karena penghianatan yang bejalan begitu lama telah meninggalkan pos pos berisi jutaan beling disetiap jalanan kota kota dan tempat tempat, bahkan disetiap sudut ingatan yang menyimpan kenanagan duabelas tahun kebersamaan. Disanalah mereka mentertawakan kenaifanku, melecehkan intelgensiaku bahkan menginjak injak martabatku sebagai manusia. Untuk waktu yang sangat lama, terlalu banyak peristiwa yang bisa aku analisis menjadi sebuah cerita pilu bagiku sendiri. Cerita pilu itu akan berlangsung lama sekali, sampai nanti datangnya mati.
Saat ini aku hanya bisa menunggu, menunggu malaikat datang menjemputku. Aku telah kehilangan banyak darah dalam perangku kali ini. Luka lukaku terlalu parah dan tenagaku sudah lelah. Sekuat hati aku bertahan, sepenuh tenaga aku melawan mereka. Kali ini aku sendirian. Selain kamu sudah tidak dalam jangkauan, satu satunya yang aku harapkan justru induk dari demons terkutuk itu.
Aku tahu, kamu bukan lagi menjadi pawang demonsku seperti dulu. Meski begitu, oleh kebaikanmu, setiap kali demons menyerbu, bentakan parau, menjerit dan menghina di kepala, atau meneriakkan cerita cerita hasutan, kata kata caci maki dan kekeh tawa kesenangan mereka, kata katamu bagai setetes embun di kemarau abadiku; “yang mereka katakan semua adalah bohong, tidak benar. Tetaplah kuat, kalahkan mereka wahai manusia tangguh matahariku”.
Aku masih berjuang, melawan dan berusaha tetap hidup meskipun kakiku tak punya pijakan.

Jaga dirimu baik baik selalu.
matahari

Gempol - 190507

Wednesday, March 13, 2019

Epicentrum



:MP
Genap sebulan sejak letupan bencana batin itu terjadi. Guncanganya masih saja seperti kemarin terjadi. Segalanya porak poranda sehingga mengaburkan masa depan. Langkah langkah bingung dan goyah oleh luka yang majemuk mencari arah yang tak dapat ditemukan. Luka luka menganga menandakan pertempuran yang dahsyat dan mengerikan. Setiap orang terluka, sobek di dada atau kepala oleh tebasan pedang kenyataan. Dunia seolah berhenti berkehidupan dan hanya seolah mencacah jumlah kerugian akibat hancur oleh khianat.

Sebulan berlalu dan badai mengamuk belum lagi reda. Peperangan yang sangat diam melahirkan jiwa jiwa penuh luka, penuh dengan dendam dan keletihan. Leleran darah dari luka segar tak jua mengering meskipun badan letih oleh perang batin. Kehilangan dan penyesalan telah bertransformasi menjadi kesedihan yang pekat. Erang kesakian dan jerit ketakutan ditebar sepanjang jalan demi terlampiaskannya kecewa yang bagaikan cuilan batu menancap di telapak kaki. Malam malam berisi api yang membakar dada dan kepala, melahirkan sumpah serapah layaknya manusia sampah.

Rangka rangka masa depan berguguran oleh sebab terbengkalai ketika batin sibuk berperang dalam bisu. Putus asa telah menguras seluruh isi pesediaan energy yang biasanya begitu menggairahkan, kini berubah lunglai tanpa pengharapan. Langkah langkah hara-kiri mulai dilirik untuk dijadikan alasan terakhir menyelesaikan peperangan batin.

Begitu banyak orang terluka. Ada yang berteriak menggelepar, ada yang mengerang seolah tubuhnya terbelah. Tak kurang tujuh orang sudah berlumuran darah, masing masing memamerkan luka menganga yang melambangkan duka terdalam. Semua terjadi hanya karena satu langkah yang lupa diri, ketika dunia membutakan mata dari ketulusan dan kedalaman kasih yang tumbuh secara alami. Semua rubuh ke tanah, tertikam oleh kebohongan panjang demi dengus pelacuran. Satu langkah khianat telah menyebabkan dunia bagai kiamat. Pikiran hilang arah, badan hancur dijajah, dan batin yang compang camping dipermainkan kenyataan.

Kebingungan mempermainkan gelap pandangan, tak jua mengendap segala keruh debu kenangan. Iblis menari nari disana sini, mempermainkan jiwa yang tak berdaya ditikam segala bentuk kebencian. Belum ada tanda tanda akan datang cahaya hikmah yang akan menuntuk kepada sebuah hidayah. Tetap saja semuanya  harus hanya diterima dan dijalani sebab hidup tidak akan berhenti hanya karena masalah hati. Bahasa hati punya komuniatasnya sendiri, komunitas sangat rahasia yang tidak ada sama antara satu dan yang lainnya. Semua peristiwa melahirkan cermin benggala dimana kita diingatkan untuk selalu setia kepada nurani. Sebab hati nurani adalah tiang tengah yang harus jadi pegangan karena berisi hukum etis tentang kepantasan, kelayakan dan adab. Semua berkaca, menyelami diri yang selama ini terasa lena hidup bahagia. Nyatanya memang segala yang terbentuk dari hati akan berakhir abadi. Keinginan tak pernah ikut menua bersama usia. Harapaatn harapan baru dibangun sebagai penghiburan atas getir  aturan peradaban.

Badai akan mereda, lalu langit akan terlihat lebih cerah dari biasanya.



Bambuapus 190313




Tuesday, October 02, 2018

Jakarta Dalam Logika





Akhirnya..…
Setelah lima tahun ditugaskan di Surabaya, dan kembali lagi ke Jakarta, kota tempat dulu pernah bercengkerama dan mengukir kisah kisah klasik perantau. Kota yang pernah menjadi bagian dari kisah hidup sekian panjang. Jakarta menyimpan keping keping kenangan tentang perjuangan dan romantisme perantauan di setiap sudutnya. 

Kini Jakarta menyambut dengan angkuh seperti biasanya. Diri merasa menjadi manusia asing yang menziarahi nisan nisan penanda cataan manis masa lalu. Ada perasaan nglangut, cenderung sedih dan hampa. Ada sesuatu tidak bisa lagi ditemukan lagi disini, tetapi tidak bisa dijelaskan apa sebenarnya yang hilang. Yang pasti ada lima tahun yang hilang, dimana selama lima tahun, kisah kehidupan dapat diceritakan menjadi film dokumenter dengan durasi putar sangat panjang oleh karena banyaknya kepingan kepingan cerita sehari hari yang terputus dan berpindah dimensi.  Kebingungan menyergap, ketika harus menyusun rencana untuk menjadi salah satu penghuni Jakarta lagi, dengan sesuatu yang benar benar nol. Ah, sungguh diri tidak punya apa apa di kota ini kecuali kenangan….

Rasanya perkembangan kota ini mengikut kepada perkembangan zaman secara global. Pembangunan infrastrukturnya begitu massive padahal baru lima tahun tertinggalkan. Kemajuan peradaban juga turut merubah wajah Jakarta. Sebagai magnet raksasa, Jakarta menyedot segala macam bentuk niat untuk datang dan mewujudkan mimpi; atau sekedar turut dalam daya hisapnya. Jalanan masih macet seperti sediakala, dan sekarang seolah olah kemacetan menjadi hal biasa yang tidak layak untuk dikeluhkan lagi. Proyek proyek infrastrukur jalan dengan aneka macam nama dengan tujuan sama yaitu mengendalikan arus lalu lintas kendaraan, menambah semrawut dan makin tersumbatnya jalur jalur pokok seperti Cawang, Mampang, Pancoran, dan banyak lagi. Logika pengguna kendaraan di Jakarta memang sudah sedemikian permisif terhadap ketidaknyamanan macet. Kondisi itu menjadi salah satu pemicu mengapa orang bisa demikian abai terhadap aturan dan etika berkendara, yang sebenarnya pelanggaran terhadap hak pengguna jalan lainnya. Golongan orang seperti itu dinamakan “ si Pa’ul”, mereka pengguna jalan yang menyandang predikat arogan yang kurang pintar; okol istilahnya.

Ada satu hal lagi yang tiba tiba membuat merasa menjadi penghuni lama Jakarta, yaitu ketika di jalan toll denging suara sirine disertai lampu biru tajam tiba tiba menyela dari belangan kerumunan macet, meminta orang lain mengalah dan meberikannya jalan. Motor atau mobil polisi membuka jalan untuk serang pejabat negara.  Dibelakan kendaraan polisi biasanya akan meluncur lancar mobil mewah entah siapa isinya. Betapa geregetannya dengan situasi seperti itu, karena si pejabat dalam mobil mewahnya begitu arogan hanya karena dia menjabat. Polisi pengawal dengan sirine mendenging atau menyalak nyalak seperti suara anak anjing, memaksa pengguna jalan lain yang dianggap tidak penting memberi jalan. Cuma kali ini, intensitas nguing nguing itu semakin sering dan semakin banyak. Terkadang ada juga kendaraan tentara melakukan hal yang sama. Meminta prioritas! Bahkan kendaraan kendaraan dinas berplat merah pertanda milik pemerintah. Penggunaan bahu jalan menjadi hal yang biasa dan seolah dibolehkan asal mereka adalah pejabat. Sungguh aneh dalam logika, sebuah kemunduran budi pekerti akibat dari kemajuan zaman itu.



Pejabat yang digaji oleh negara idealnya adalah abdi pelayan masyarakat. Mereka yang menjadi pejabat semestinya yang melayani kepentingan seluruh rakyat dan menempatkan rakyat sebagai prioritas. Logika ini kebalik dengan situasi nyata yang sebenarnya. Kebanyakan orang yang memiliki jabatan di pemerintahan cenderung songong atau arogan. Serba dilayani dan diistimewakan layaknya juragan. Sebagian besar pejabat menganggap diri mereka terlalu penting dan berharga dimata orang lainnya, sehingga layak untuk diperlakukan dengan istimewa. Meskipun dimaklumi karena Jakarta adalah ibu kota, dengan jumlah pejabat yang begitu banyaknya. Sangking banyaknya, maka hampir tiap menit akan lewat satu rangkaian arogansi minta keistimewaan di kemacetan jalan tol. Polisi pengawal itu ibaratnya adalah pengejawantahan dari cikal bakal kesatuan kepolisian di Indonesia, yaitu Jayengsekar.

Dahulu, pada masa tahun 1880an ketika Hindia Belanda dipimpin Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, orang orang kaya dan terhormat berhimpun untuk menyewa sepasukan orang terlatih untuk menjaga badan, harta dan kepentingan mereka. Perhimpunan itu diakomodir oleh pemerintah kolonial, dengan merekrut sekelompok orang professional dan dilatih kemiliteran, dengan tungganan kuda pilihan. Anggotanya kebanyakan diambil dari resimen pasukan khusus dari kraton Mataram, di rekrut dan dipekerjakan untuk kepentingan pemerintah kolonial. Maka terbentuklah Jayengsekar yang tugas pokoknya membela kepentingan sang juragan kaya dan terhormat tapi dibawah panji pemerintahan kolonial. Anggota pasukan Jayengsekar adalah lelaki pribumi gagah, berseragam beludru merah, dengan sepatu dan topi kulit, pedang dipinggang, bedil di sandang, menunggang kuda sehat dengan bulu punggungnya yang mengkilap. Pasti gagah sekali! Polisi nguing nguing di kemacetan jalan tol itu nampak sebagai agen agen Jayengsekar yang mengendarai kuda bermesin dengan gagahnya, dan menghardik siapa saja yang merintangi kemewahan tuannya.

Tetapi patut juga berterimakasih kepada pejabat dan polisinya yang menyela kemacetan, supaya tidak sepenuhnya merasa sebal dan mengumpat dalam hati. Berterimakasih karena sedikit banyak pengalaman dan endapan pemikiran itu membawa ke suatu persaan tidak asing dalam kepulangan ke Jakarta lagi. Itulah bagian dari kesemrawutan yang menjadi salah satu warna Jakarta sejak bertahun tahun silam.

Hm, Jakarta ini memang luar biasa istimewa, dimana banyak orang akan merasa tidak cocok untuk menjadi bagiannya.

-        To be continued –

Gempol 181002

Friday, August 31, 2018

Rechtsstaat

Jumat Legi Sore, Jam 15.30 WIB.
Jalan Raya yang dibangun Gubernur Jenderal Daendles 1808 silam yang terkenal dengan ruas jalan Anyer – Panarukan, atau juga Jalan Raya Pos, alias jalur Pantura, ruas Malang menuju Surabaya telah menjelma menjadi medan lalu lalang  sangat sibuknya kendaraan dan pengguna jalan lainnya. Kebetulan di KM 5.4 jalan tersebut kondisinya agak menurun, sehingga kebanyakan kendaraan yang lewat meluncur deras. Sore yang cerah, malam minggu dan baru tanggal 4, tanggal muda dan nampaknya semua orang bergembira menikmati proses hidup yang melewati malam Minggu.
 
Jalan itu adalah gerbang utama menuju pabrik, yang menghubungkan antara jalan masuk ke pabrik dengan jalan raya, jalan provinsi warisan colonial. Tiga orang petugas security berjaga, dan tugas utamanya adalah mengamankan para penyeberang jalan yang akan memasuki pabrik dan keluar dari area pabrik. Tugas mulia karena mereka menjaga keselamatan sebagian pengguna jalan dalam menyeberang arah, untuk melanjutkan proses kehidupan dengan rencana masing masing. Untuk menjalankan tugas itu bapak bapak petugas security menempatkan diri dalam resiko tinggi dari ancaman menjadi korban kecelakaan, tertabrak ataupun sengaja ditabrak oleh pengguna jalan yang merasa tidak senang hati karena merasa perjalanannya terganggu. Bukankah setiap pengendara saat ini merasa menjadi raja jalanan dan menganggap orang lain harus bisa memaklumi kekuasaanya atas jalanan? Ketidak sukaan kadang juga di lahirkan dalam bentuk umpatan bahkan maikian kepada petugas yang terpapar langsung dengan kepentingan public. Sungguh profesi yang mulia para security, yang mengesampingkan keselamatan diri sendiri untuk menjaga keselamatan orang lain.
 
 Jalan raya adalah jalan umum, dimana setiap orang memiliki hak yang sama untuk menggunakannya, dan semua harus patuh terhadap aturan maun yang diberkalukan agar semua menjadi tertib teratur. Aturan paling tinggi adalah etika, dan etika itulah yang saat ini mengalami degradasi di masyarakat. Pelanggaran banyak terjadi dan seolah dibiarkan, sehinggal lama lama orang menganggap itu bukan pelanggaran lagi. Tetapi secara etika, setiap manusia pasti menyadari perbuatan yang benar atau salah, yang patut atau yang tabu. Orang orang yang taat pada aturan umum dan etika sosial, adalah mereka adalah orang yang cerdas.
Pergantian shift pagi keshift siang baru saja terjadi. Petugas jaga baru menempati posnya dengan menyiapkan diri sebelumnya, mengikuti apel, mendapat pesan dan pengarahan lalu bertugas sampai delapan jam kedepan. Petugas jaga lama telah bersiap diri untuk balik kanan atau meninggalkan lokasi. Petugas jaga lama memberikan briefing singkat mengenai hal hal yang terjadi pada shift regunya, sedangkan petugas jaga baru menerima pesan estafet untuk tugas tugas yang harus menjadi perhatian sebagai kelanjutan dari tugas shift sebelumnya. Petugas jaga lama bergegas berkemas untuk meninggalkan pos dan kembali kepada kehidupan Pribadi masing masing, membaur menjadi anggota masyarakat biasa diluar penugasannya.
Tepat sebelum tiga orang anggot security besiap meninggalkan lokasi dengan sepeda motornya, keriuhan tiba tiba datang dari arah Malang. Seseorang bereriak keras, memperingatkan bahwa ada pencuri yang melarikan diri. Sontak saja enam petugas security yang masih berada disekitar pos melakukan penghadangan terhadap seorang pengendara sepeda motor yang diteriaki sebagai maling dan secara reflek membantu menangkap si pelarian. Senjata api terdengar diletuskan, sebelum tiga orang dengan pistol di tangan tiba tiba turut meringkus si pelarian dan mengambil kuasa dari tangan para petugas security yang menangkapnya. Kejadiannya di tengah jalan, dengan tidak memperdulikan arus lalu lintas ataupun hal lain yang terjadi disekitar tempat kejadian. Rupanya telah terjadi penangkapan pelaku yang disangka terlibat dalam perdagangan narkoba, dilakukan oleh tiga petugas polisi dari POLDA. Si pelarianpun tertangpak sudah oleh polisi, yang kemdian membawanya serta ikut ke dalam sebuah mobil yang digunakan, lalu melaju meninggalakan tempat kejadian menuju ke arah Surabaya.
Si pelarian masih berusaha memberontak dan melepaskan diri dari sergapan tiga petugas polisi yang memganinya dan berusaha untuk melakukan penahanan dan pemborgolan. Tiga orang petugas security masih membantu polisi untuk mengendalikan si pelarian yang masih mengenakan helm berwarna kuning gading. Mereka ingin memastikan bahwa polisi berhasil membawa si buronan sampai selesai. Dalam prosesnya, pas ketika si buronan melepaskan helm, seorang petugas security terlihat mengayunkan kaki ke arah perut si buronan dan berulang sebanyak beberapa kali. Si buronan tampak kesakitan, meskipuan tetap berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari penahanan, sampai akhirnya tidak berdaya digiring menuju ke dalam mobil yang menunggu.
Suasana chaos yang timbul dari proses penangkapan perlahan berangsur normal. Tersisa beberapa orang bergerombol berbicara satu sama lain di depan pos security, seperti menceritakan kejadian yang baru saja terjadi menurut versi kepahlawananannya masing masing. Tetapi sebagian besar dari yang ada dalam kerumunan adala kepoman, mereka yang penasaran untuk tahu kejadian yang sebenarnya dan mendengarkan kesaksian dari orang yang mengalami langsung; para petugas security di pos lalu lintas! Kepenasaran menimbulkan kemacetan yang makin berkembang karena penasara seseorang menular kepada kepenasaran orang lainnya. Di area public, kepenasaran berkembang bagaikan bola salu, mengakibatkan penyumbatan arus lalu lintas yang ramai dan deras di Sabtu bulan Agustus itu. Beruntung proses rekonstruksi audio visual tidak berlangsung lama hingga jalanan raya warisan Daendles kembali normal seperti sedia kala, menjalankan fungsinya dalam menyambut malam minggu malam yang gembira. Libur akhir pekan telah tiba!
Kesokan harinya ketika hari masih pagi, berita pecah; keluarga terduga pelaku kejahatan yang ditangkap polisi datang ke Mako untuk meminta petanggung jawaban berupa ganti rugi uang, lengkap dengan jumlah nominal sepuluh juta rupiah! Keadaan menjadi keruh ketika permintaan itu dirasa mengada ada dan bentuknya adalah pemerasan. Logika yang terbailk memang belakangan menjadi semakin umum dan seolah dapat diterima oleh khalayak. Indonesia yang negara Hukum idealnya diisi oleh warganya yang taat pada hukum dan menempatkan aturan hukum sebagai panglima yang ditaati dan dipatuhi. Kenyataan sehari hari tidaklah seindah utopia bahkan cita bangsa yang digagas oleh pendiri negeri dengan hati bersih.
Ujung ujung dari insiden penangkapan terduga pelanggar undang undang oleh apparat hukum pada Jumat sore itu adalah hitung hitungan angka nilai ganti rugi. Segala hal yang berkaitan dengan pemberitaan memang bisa diputar balikkan dan disesuaikan dengan kepentingan tertentu. Perlawanan tentu ada, karena dari setiap satu konflik akan timbul bermacam macam versi cerita menurut persepsi sang pencerita. Dan atas pertimbangan aneh, tawar menawar uang kompensasipun terjadi. Terjadi antara pihak terduga pelaku kejahatan dan satpam yang diwakili perusahaan penaungnya. Pertimbangan yang paling tidak masuk logika adalah bahwa demi menjaga ketenangan dengan lingkungan sekitar tempat bekerja!
Intinya adalah bahwa dalam kasus ini, lingkungan lebih berkuasa dari hukum apapun di dunia. Praktek praktek arogansi mengatasnamakan lingkungan, mengatasnamakan kelompok organisasi, mengatasnamakan isntitusi adalah contoh nyata aksi negative yang bebas bergerak di negeri yang dipagari dan mengusung platform hukum. Ironis memang, tapi mungkin itu sudah menjadi kehendak zaman. Apakah semua itu tidak terdeteksi oleh aparat hukum yang semestinya menjunjung tinggi slogan fiat Justitia ruat caelum?  Tidak sepenuhnya benar, karena aparat hukum bertindak pasif dan memiliki banyak sekali pertimbangan yang dapat memandulkan pemahamana mengenai penegakan hukum meskipun langit akan runtuh itu.
Pada akhirnya dari banyak konflik kepentingan akan bermuara kepada uang. Tidak mengherankan karena memang zaman telah membawa peradaban pada fase budaya konsumtif. Ketidak mampuan orang untuk menyeimbangkan antara kemampuan dan gebyar keinginan konsumsi akhirnya melahirkan banyak cara untuk korupsi, untuk mengukur segala sesuati dari sisi materi. Tehnologi semakin maju selaras dengan zaman, dan peradaban mengalami kemunduran sejalan dengan kemajuan yang disertai kemudahan serba instant.
Sudah semestinya kita bersyukur dapat menyaksikan semua dinamika itu, sambil menyadari sepenuhnya bahwa kita tidak mungkin bisa sendirian menciptakaan utopia.
 
Sukorejo 180831

Friday, October 06, 2017

Hikayat Tanah Lor


 

 

 

 
Rabu Pahing yang dibalut gerimis mengawali langkah mengikuti arah khayali, dari kampungku di Boyolali menjelajahi tanah Jawa bagian utara. Rute Pantai Utara, jadi jika dari kampungku kearah timur sekitar 7 km, bertemu dengan kota kecil bernama Gemolong. Dari Gemolong ketemu jalur kereta api yang menandai jalur jalan utama Solo – Purwodadi. Pada perempatan Gemolong membelok ke kiri menuju kota Purwodadi yang masuk di Kabupaten Grobogan. Seratusan meter dari perempatan itu, terdapat stasiun kereta api kecil, peninggalan masa Belanda dulu. Stasiun Salem namanya. Konon Gemolong dulu namanya Salem, dan lebih konon lagi sebelum Salem namanya adalah Ngeseng. Mungkin dahulu kota persimpangan ini pernah berdiri pabrik seng, hal itu sama sekali tidak diketahui oleh pengetahuanku yang dangkal. Jalur kereta api itu yang menghubungkan pesisir utara Jawa menuju ke tengah (Solo) dan lalu bisa melebar ke seluruh pulau, menghubungkan dengan kota kota besar dengan stasiun stasiun besarnya seperti Jogyakarta dan Semarang.
Belanda membangun jalur kereta api untuk mengangkuti kayu kayu Jati dari peisir utara Jawa, Tanah Lor simbah menyebutkannya. Terkadang juga disebut Ngare. Kalau direnung renung, Tanah Lor artinya adalah tanah pesisir utara Jawa, sedangkan Ngare kemungkinan seseorang pernah menyebut daerah hutan yang luas itu dengan Ngarai. Selain kayu jati, produk produk laut juga mengalir ke jantung Jawa melalui jalur yang sama. Kudus, Jepara, Pati, Blora, Rembang, dan sekitarnya adalah gudang produk maritim yang sangat besar. Simbah adalah pedagang di masa produktifnya. Namanya Wakiyem, orang memanggilnya Mbah Jo (karena pernah bersuami bernama Harjo – yang dulu aku selalu memanggilnya dengan panggilan Mbah Moe). Masa kecilku dulu sering mainan di besek raksasa tempat simbah membawa tembakau dagangannya ke Tanah Lor, tembakau yang didapat dari daerah Temanggung. Simbah sering menyebut stasiun Kutoarjo masa itu. Terkadang simbah membawa ke selatan ikan asin berkarung karung untuk dijual di Solo. Jari manis sebelah kiri punya simbah memang tampak beda, dan beliau berkisah bahwa kecacatan itu diakibatkan oleh duri ikan asin dalam karung dagangannya yang ia tepuk di atas kereta api suatu ketika, dan menyebabkan luka infeksi, menjadikannya cacat permanen. Jejak jejak simbah sebagai bekas peniaga ulung hanya aku temui ujungnya, dari beberapa benda saja seperti sekaleng uang koin yang kata simbah sudah tidak laku lagi, menjadi barang mainan bagi aku sesaudara. Besek raksasa bekas wadah tembakau yang terbuat dari anyaman bambu itu, tempat favorit bermain bersama kami. Kami sering masuk ke besek itu, kemudian menutup diri kami dengan penutupnya yang juga dari anyaman bambu. Kami betah berlama lama berdua dialam besek itu, sambil sesekali mengintip keluar melalui lubang lubang anyaman. Benda selanjutnya adalah Grobok (mungkin benda ini asalnya dari kata drop box). Peti raksasa yang berfungsi sebagai meja itu berada ditengah ruangan, karena memang difungsikan sebagai meja. Terbuat dari kayu jati tebal, dan didalamnya simbah menyimpan untingan untingan padi dan terkadang beras dalam wadah dari anyaman bambu lagi, anamanya bojok.
Wadah dari anyaman bambuseperti itu tiap tiap ukuran dan bentuk memiliki nama sendiri sendiri. Yang terkecil itu namanya centhak, tompo, kemudian lebih besar lagi tumbu, bojok, tomblok, lalu senik. Itu urutan berdasarkan kapasitas daya angkutnya. Biasanya cara membawanya di gendong dengan menggunakan utas kain jarik atau selendang. Sedangkan benda serupa yang dikhususkan untuk dipikul bernama thopling. Seperti halnya barang diatas, thopling juga dibuat dari anyaman bambu berbentuk segi empat setinggi kira kira 50cm Di keempat sudutnya ditautkan tali keatas, tempat nantinya melilit di pikulan. Container gendongan itu dibuat dengan anyaman bambu yang halus, sedangkan thopling dibuat lebih kasar dan kekar. Peralatan peralatan itu sekarang sudah mulai punah, berubah menjadi plastic dan yang bermesin. Aku masih mengalami paling senang kalau dipikul oleh pakde Bejo, aku sebelah dan anak lain di thopling sebelah, terkadang juga menggunakan benda hasil bumi sebagai penyeimbang sebelah. Itu sensasional bagi masa kecil.
Melewati Gemolong, jalanan lengang diguyur gerimis Januari. Tetapi sungguh hari hari pertama tahun barupun tak juga membedakan aktifitas di pasar pasar tradisional yang terlewati. Jika melintas ke arah utara, maka nanti akan ketemu dengan papan tulisan besar besar berbunyi “Lokasi Pariwisata makam Pangeran Samudro”. Itulah yang orang orang sebut sebagai Gunung Kemukus. Konon itu dalah sebuah bukit dimana terdapat makam yang dikeramatkan. Orang percaya bahwa memohon dan bertirakat di makam itu dapat mendatangkan kekayaan, dengan syarat bahwa si pemohon harus berhubungan badan dengan lawan jenis sesama pemohon di tempat itu. Sejak beberapa tahun silam mitos itu sudah berubah, Gunung Kemukus sudah menjadi lokasi pelacuran dan salah satu sumber pendapatan kabupaten Sragen. Konon pangeran Samudro adalah seorang pangeran yang jatuh cinta kepada ibunya sendiri. Kisah itu sangat mirip dengan kisah Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Jika dinalar secara logika, maka memang perkawinan sedarah tidak boleh karena sangat riskan terhadap keturunannya kelak. Aku sendiri belum pernah datang ke tempat itu, tempat yang langsung berkonotasi mesum.
Sampai dengan Gunung Kemukus terlewati, sepanjang perjalanan kita beriringan dengan rel kereta api di kiri jalan, kemudian kita akan bertemu kota kecil bernama Sumberlawang. Kota kecil dengan stasiun kereta api kecil yang masih terawat baik sehingga sekarang. Aku tidak punya cerita banyak soal Sumberlawang ini, kecuali dulu waktu SMP sempat bersepeda bersama teman teman ke kota kecil ini. Melewati Sumberlawang, maka kemudian perjalanan lebih banyak melintasi hutan dan oro oro. Seingatku dulu ini adalah hutan jati yang rimbun dan terkesan wingit, jalannya  berbelok belok di beberapa tempat. Sekarang pepohonan didominasi oleh pohon pohon mahoni raksasa, dan beberapa rumah sudah dibangun diantara sela selanya. Jalanan yang sebentar aspal sebentar beton menandakan bahwa tekstur tanah ditempat ini labil, mudah bergerak dan menyebabkan kerusakan konstruksi jalan.
Kita skip perjalanan melewati hutan dan pedesaan, untuk kemudian memasuki kabupaten Grobongan. Sawah dan beberapa bangunan tua menyambut beku, meskipun hari sudah beranjak makin siang. Waktunya sarapan telah terlewatkan, dan gerimis masih saja turun perlahan lahan. Kuda penarik delman mengangkut penumpang yang baru pulang dari pasar, diantaranya membawa seekor kambing betina yang dipegangi erat oleh pemiliknya, tepat di kekang lehernya. Aku membayangkan percakapan antara kuda penarik delman dan kambing penumpangnya; mereka tentu saling mencurahkan isi hati tentang betapa nesatpanya hidup menjadi binatang. Yang satu diperbudak oleh tuannya untuk mencari nafkah dengan tenaganya, dan sang penumpang hanya menunggu waktu sampai sang jagal menutup biografinysa sebagai kambing untuk terhidang di meja makan. Sang kuda lebih nestapa lagi, setelah tenaganya habis diperas sepanjang usia, iapun akan menghadapi golok tajam penjagal di warung sate kuda. Sayang sekali, mereka tak terdengar menghiba hiba oleh telinga manusia.
 
Memasuki kota Purwodadi, jalanan masih saja sepi. Barangkali memang kota ini setiap hari sepi. Atau hanya kebetulan karena angka di almanak berwarna merah, kemudian seolah olah kehidupan berhenti sejenak. Menara tandon air di persimpangan jalan lima arah tengah kota menandakan kita berada di pusat kota Purwodadi. Menara air yang menjadi penanda, pertemuan dari lima arah jalan yang berbeda beda; Solo, Semarang, Blora, Pati dan Rembang. 
 Jam delapan malam. Pikiran kosong di ruang tamu. Buku  gendut berjudul “Pram Melawan” tinggal sekira seperempat lagi selesai kubaca, tapi saat ini aku sedang tidak mood membaca. Aku pengen mendengar sesuatu, tapi mendengar apa yang menarik saat ini? Seharian tadi berulang ulang memutar lagu in the arms of angel dari Sarah McCallahan itu. Diluar rumah gerimis turun, suara butiran air lembut menyentuh atap beranda berbahan plastik. Gerimis mengurung badan kita dalam ruang yang begitu aman dan kering. Teralinya berupa perasaan syahdu merindu rindu. Semua kenangan membanjir, semua ingatan mengalir menembusi rintik air. Sungguh hujan adalah sesuatu yang ajaib.
Sejak kecil sampai setua ini aku masih menyukai hujan. Waktu kecil aku senang sekali main hujan hujanan. Bue seringnya mengijinkan, dengan catata bahwa sesudah hujan hujanan harus mengerjakan sesuatu atau jika sudah tidak ada pekerjaan yang menjadi tugas lagi. Telanjang bulat hujan hujanan, berlarian dan memburu genangan genangan kecil. Seperti biasa, berdua dengan Sony. Aku masih ingat kekecewaan jika sedang asyik asyiknya bermain, hujan berhenti. Biasanya kami teruskan bermain hujan hujanan tanpa hujan di parit perti kecil atau ke sawah yang lebih basah…..
Purwodadi. Memasuki kota kecil itu sama saja memasuki labirin persimpangan lima jalan yang membingungkan. Aku mencari arah menuju Blora. Purwodadi menyeret ingatan kepada masa kecil, cerita simbah tentang Tanah Lor, tentang Wong Ngare. Dulu di kampungku ada beberapa warga baru pindahan dari Tanah Lor. Orang orangnya cenderung lebih religious, dan logat bahasa jawanya aneh di telinga kecilku. Bahkan semasa SMA, aku punya teman Ngare yang tinggal dikampungku, teman sekelsku. Dia menumpang dirumah saudaranya, karena jarak sekolahan yang relative lebih dekat dibanding di kampungnya Tanah Lor sana. Namanya Kuswandi. Meskipun polos dan lugu, tetapi dia baik hati, dan selalu punya uang jajan kalau sekolah. Sedangkan aku hampir selalu tanpa uang jajan. Di sekolahan terkadang aku ‘memeras’ teman teman dengan mengerjakan PR mereka atau ‘menyendera’ surat buat mereka. Kuswandi ikut pakdenya, namanya Dakelan (aku yakin sebenarnya adalah Dahlan). Dia orang yang lumayan misterius. Orang orang Ngare yang tinggal di Andong antaranya ada Siran, Ngadenan (Adnan?), Ropingi (Rofii?) dll.
Dan aku menyelam kepada kenangan itu sambil mengirup udara Purwodadi yang basah oleh gerimis tak berhenti. Sepanjang jalan slide demi slide khayal bertamu ke ruang ingatan. Inilah Tanah Lor yang pernah dijelajahi oleh simbah di masa silam. Tanah Lor yang yang pernah hidup di pikiran masa kecilku sebagai sebuah lanskap subur lohjinawi dengan penduduknya yang masih agak terbelakang dari segi peradaban modern. Tapi ini baru batas selatan dari Tanah Lor, tanah pesisir Jawa bagian utara.
Diantara hutan hutan jati dan jalan aspal sunyi itulah aku bersama Ampung pernah menjelajah desa desa hingga ke Demak, bersepeda motor memburu benda antik dan kuno simpanan warga. Bahkan sempat juga mendapatkan senjata api pistol Smith and Wesson di sekitar Pati, senjata api simpanan warga bekas polisi hutan dulu. Desa desa itu juga menyimpan bermacam pusaka dan senjata di rumah mereka, yang tidak akan bermafaat jika tinggal menjadi simpenan dan dikeramatkan. aku ingat, ada stasiun besar dan tua bernama Gundih diantara lebatnya hutan jati itu. Di depan stasiun itu ada sate yang lezat sekali, jawa sekali, tidak seperti sate sate yang dijual di kota kota. Tidak jauh dari stasiun itu ada pemandangan yang mencengangkan; selusinan rumah rumah gedong peninggalan zaman Belanda berdiri megah dengan arsitektur Eropa yang menawan. Bisa dikatakan lokasinya sebenarnya ditengah hutan. Kondisinya sangat terawat dan menjadi milik dari Perhutani.
Dari cerita cerita orang orangg, aku tahu bahwa daerah Gundih, Godong, Juwana sampai Blora adalah daerah penghasil kayu jati Jawa kualitas nomor satu di dunia pada masanya. Tidak heran jika Belanda mendatangkan pegawai pegawai yang cakap membabat pohon pohon raksasa itu, untuk kemudian dimuat ke atas gerbong gerbong kereta meuju entah kemana. Aku masih ingat waktu kecil masih sering berpapasan dengan truk raksasa dengan bentuk aneh, hitam, kotor dan kekar dengan muatan log kayu jati berukuran raksasa. Kami menyebutkan truk itu adalah truk Gorga (bisa jadi berasal dari kata Gurkha, pasukan bayaran dari dataran Nepal atau India), asapanya hitap pekat, suaranya selalu meraung parau, dan belum tentu seminggu sekali melewati jalan raya di kampungku. Truk Gorga adalah kendaraan yang menakutkan. Suranya bisa kedengaran dari berkilo kilo meter sebelum truk itu melintas. Bahkan dimasa kecil aku masih ingat, masih bisa terdengar suara kereta apai yang melintas di Gemolong, yang jaraknya sekitar 7km an. Masuk akal karena zaman itu memang praktis tidak ada polusi suara kecuali ada orang hajatan. Listrik belum ada, dan tivi masih satu dua dirumah orang orang kaya dengan sumber tenaga menggunakan accu. Sepi pedesaan seperti itu sekarang sudah sulit untuk ditemukan, kesunyian telah didistorsi oleh gaduhnya teknologi. Hanya pada waktu terang bulan saja sekali sekali aku ikut simbah dan bue, menggelar tikar dihalaman rumah yang berlantai tatanan batu dan ditumbuhi rumput teki di sela selanya. Terkadang dengan beberapa tetangga, dan seringnya ada mbah Mustaram mampir untuk ikut ngobrol sampai jauh larut malam. Jika hari sedang baik, teh tubruk pahit, gula jawa dan ikan asin bisa menjadi peneman yang istimewa bagi orang orang tua menggiring malam. Suara obrolannya hanya terdengar seperti menggumam dari dalam rumah.
Mbah Mustaram adalah orang yang istimewa dimata ingatanku. Istrinya namanya mbah Ranti, anak anak kecil takut sama mbah Ranti karena kalau ada anak kecil ditangkap maka dia akan diuyel uyel dengan payudaranya yang sudah molor dan berukuran sebesar kepala anak anak. Ukuran sebesar itu hanya satu sisi saja! Mbah Ranti itu nggilani! Mbah Mustaram, seperti halnya laki laki malam. Dia berjalan kaki bertemu orang dan ngobrol, jalan lagi dan seterusnya. Padahal mbah Mustaram mukanya mengerikan. Wajahnya terkelupas hampir separoh, bagian hidung hingga bibir atasnya sudah hilang, sehingga susunan tulang tulang mukannya kelihatan. Konon mbah Mustaram ganteng waktu mudanya. Karena ganteng itu, maka dia disukai oleh istri lurah. Zaman feodal dulu tidak ada yang berani macam macam dengan mbah Lurah. Suatu malam ketika mbah Mustaram muda menjaga jagung di ladang, dia tidur di gubugnya dan merasakan seperti mukanya tersiram pasir panas. Dia tidak sempat mengetahui apa yang terjadi. Dan sejak itu mukanya mengalami pembusukan luar biasa sehingga bagian depannya menjorok kedalam dalam susunan tulang tengkorak. Mbah Mus Grumpung kami dulu memanggilnya karena kondisi fisiknya.
Konon mbah Mustaram ini juga berasal dari Tanah Lor, jauh sebelum aku dilahirkan. Beranak pinak di kampungku, dan anak pertamanya adalah mbah Wagiyem, bersuamikan mbah Atmo. Mbah Atmo orangnya kekar, tinggi besar (tadinya) kepalanya selalu gundul dan jalannya ekar. Dia seperti kebanyakan lelaki di desa waktu itu, juga jarang menenakan pakaian penutup badan. Telanjang dada senantiasa! Kaki kirinya seolah berjalan menyamping ketika ia melangkah kedepan. Konon kecacatan itu ia dapatkan di pasar Kemusu. Dia terkena serpihan peluru mortir ketika Belanda menggempur pasar Kemusu pada waktu mbah Atmo muda. Pekerjaannya  adalah kuli pikul,memikul barang barang dagangan serupa toko kelontong ke pasar pasar sekitar kampung. Zaman dulu tenaga manusia dihargai sebagai alat transportasi. Dia kulinya mbah Suwondo, pedagan kelontong pasar dari kampungku juga. Jika ke pasar Kemusu yang jauh itu, mbah Wondo naik sepeda dengan ban mati, dan mbah Atmo memikul barang dagangannya kepasar dan kembali kerumah. Lokasi dan jarak pasarnya tergantung hari pasaran. Legi itu ke Karanggede sekitar 12 kilometer, Pahing itu ke Kacangan , sekitar tiga kilometer, Pon itu ke Klego sekitar 5 kilometer, Wage itu ke Kemusu seitar 18 kilometer dan Kliwon itu ke Ngegot yang hanya berjarak sekitar 3 kilometer saja. Mbah Atmo jalannya ekar, serpihan logam masih tertanam di paha kirinya yang cecel bonyel. Aku suka sekali nanggap cerita dari orang orang tua, kisah kisah zaman wali,  zaman Belanda, zaman Jepang, zaman perang kemerdekaan, zaman PKI, dan zaman zaman sebelum masa itu semua yang mereka cerita. Bahkan dari salah satu orang tua aku mendapat cerita, legenda tentang asal usul nama desaku, Andong. Mbah Atmo menantu mbah Mustaram, mahir menyanyikan lagu lagu patriotik Jepang, berhitung Jepang dan menirukan gerakan gerakan militer Jepang yang ia dapat ketika dia dilatih menjadi anggota Heiho yang kemudian menjadi PETA. Mbah Atmo lancar bercerita tentang Remusa (Romusha), tentang Kimigayo, dan baris berbaris a la Jepang.
Sayang sekali mbah Atmo merana di hari tuanya. Bersama istrinya dia terpukul oleh peristiwa tragis, anak keduanya bernama Juyati, melahirkan orok tanpa pernikahan, yang lantas dibunuhnya si orok dan membuangnya di barongan oren (rumpun bambu ori, jenis bambu yang berduri tajam)  belakang rumahnya. Itu terjadi sekitar tahun 1983, dan begitu menggemparkan sampai kampungku penuh manusia; sekedar ingin tahu kejadiannya. Juyati kemudian dibawa oleh polisi, dan kabarnya dipenjara di Boyolali (kota kabupaten). Sejak itu tak terdengar sangat lama kisah Juyati yang berparas cantik dan berkulit bersih itu. Sejak peristiwa itu mbah Atmo dan istrinya seperti menarik diri dari pergaulan. Tidak lama kemudian mbah Wagiyem meninggal, mati ngenes menanggungkan wiring (malu), dan mbah Atmo sudah sangat jarang keluar rumah, apalagi berkisah tentang masa masa perang. Kalau aku kerumahnya, dia melayani seperti biasa, tetapi lebih pendiam dan tidak beranjak dari tempatnya. Berbulan bulan akhirnya dia tidak beranjak dari tempatnya duduk, diujung dipan dengan setengah badaya menghadap jendela, memandang orang di jalanan yang hanya berjarak 5 meteran dari jendela rumahnya. Oya, dia selalu mengaji tidak lama sesudah kejadian itu. Dia mengaji seolah tidak pernah berhenti. Beberapa bulan itu terus terjadi, sampai kemudian suara mengajinya mendengung dengung, bergumam gumam saja. Selang sekitar satu setengah tahun dari istrinya, kemudan mbah Atmo meninggal. Atmo Ngatemin, berbadan kekar, berkepala plontos dan kalau jalan ekar. Adik adik Juyati sepertinya tidak terlalu terpukul. Parno, Jarwono, Parjo, Kirman, Tukimin. Kirman dan Tukimin adalah teman bermainku. Mbah Atmo Gundala Putera Petir kami anak anak remaja yang nakal dulu memanggilnya diam diam.
Aku punya kisah dengan Kirman dan Tukimin. Dulu sewaktu lepas lulus dari SD, aku tidak langsung meneruskan sekolah ke SMP.  Aku sempat berjualan es keliling, gerobak kecil dengan pengeras suara kecil memainkan musik dangdut, atau apa saja yang penting bunyi dari pita kaset. Eskimo namanya, semacam es mambo kalau zaman sekarang. Juragannya  orang dari Kacangan, pak Ilyas namanya. Rumah pak Ilyas sekitar jarak 6 rumah dari rumah Ampung teman lamaku yang sekarang. Kami punya cara sendiri untuk berbuat curang ketika berjualan es itu. Kang Kirman yang mengajari; kalau haus dan kepingin mencicipi seperti apa es yang dijajakan, maka cukup kenyot saja es di dalam termos itu, jangan sampai habis, lalu kembalikan lagi. Selama bungkus dan tusuknya masih ada, maka Pak Ilyas tidak akan menghitungnya sebagai dagangan nyang sudah laku. Suhu udara dan kulaitas termos siap menjadi kambing hitam yang tak punya perlawanan. Trik itu sukses berjalan lancar. Meskipun berjualan, bukan serta merta kami tahu seperti apa rasanya eskimo itu. Bahkan kalau berjualan sampai ke Andong dan mampir kerumah, biasanya mbah Kun mentraktir eskimo untuk anak anak yang berkerumun. Aku sang penjual termasuk salah satu anak yang menjadi obyek kebaikan mbah Kun. Berdagang es keliling itu terhenti karena suatu hari adiknya bapak, Om Prapto pulang dari Jakarta dan waktu ke Andong melihatku mendorong gerobak es itu, dia marah besar. Katanya hal itu mempermalukan keluarga besar bapak. Sedangkan, masa kecilku sendiri hampir tidak pernah ada figur bapak. Padahal kami sangat miskin waktu itu, dan bue tidak berdaya untuk menyekolahkan anak kembarnya ke SMP.
Ketika tahun ajaran baru sudah berjalan sekitar tiga bulan, aku baru masuk SMP. Namanya SMP Pemda, yang kelak menjadi SMP Bhineka Karya. Kepala sekolahnya sudah uzur, betul betul berjiwa pendidik. Namanya pak Wignyo Suharsono. Orang tua yang bijaksana meskipun terkadang galak luar biasa. Kakakku yang pertama sudah di sekolah yang sama, tetapi di SMEA. Lokasinya sama. Untuk keluarga kami, pak Wignyo memaklumi jika bayaran SPP menunggak beberapa bulan karena tidak ada kiriman uang dari bapak. Terkadang kami malu jika pengumuman tentang tenggat akhir bayaran bulanan atau bayaran lainnya tiba. Kakakku akan menghadap pak Wignyo untuk meminta penangguhan pembayaran bagi keluarga kami. Biasanya beliau mengabulkan. Aku sekolah sampai selesai di SMP Pemda itu, dan kemudian melanjutkan ke SMEA Pemda di lokasi yang sama.
Pada waktu SMP kelas 2, aku pernah diminta oleh Om Waluyo, pegawai Pos di Jakarta famili jauh, untuk tinggal bersama ibunya yang waktu itu umurnya sekitar 70 tahun. Mbah Harjo namanya, tinggal di kampung bernama Kliwonan. Rumahnya kecil, ditengah pekarangan yang luas dengan banyak pohon jambu, belimbing, dan tentu saja singkong dan papaya. Berdua saja kami tinggal disitu, aku dijanjikan akan diurus soal uang kebutuhan sekolah. Aku senang, karena jarak ke sekolah menjadi dekat. Sedangkan kalau dari Andong, sekitar lima kilo ke sekolahan, seringnya jalan kaki. Jika kebetulan bertemu teman yang bersepeda, terkadang aku dibonceng. Pernah suatu ketika adikku dibonceng teman sekolahnya, dan kakinya masuk ke jari jari sepeda. Sepatu baru warna coklat kiriman dari Jakarta menjadi robek dibagian belakangnya.
Di Kliwonan aku sepenuhnya  mengurus mbah Harjo. Ini kegiatan rutinnya: Pagi hari, bangun tidur sekitar jam 5, ke pasar Kacangan membawa sekarung daun singkong yang sudah diikat ikat sedemikian rupa. Terkadang bukan hanya sekarung, dan terkadang juga bukan hanya daun singkong yang dijual melainkan juga nangka, pisang dan lainnya. Mbah Harjo akan kepasar untuk menjualnya nanti. Kembali dari pasar, aku ke kebun untuk ramban (memetik daun pucuk pucuk daun singkong) untuk dijual esok harinya. Kegiatan ramban itu berlangsung hingga menjelang siang, karena sekolah masuk siang. Daun daun singkong yang sudah dipetik dikumpulkan dalam wadah besar didalam rumah. Siang sampai sore aku sekolah. Pulang sekolah masing mengikat daun daun singkong itu dengan ukuran yang kira kira sama. Oya, aku juga kebagian untuk masak nasi, itu sering terjadi. Dan mbah Harjo itu pelitnya luar biasa. Pernah suatu kali dia mendapat kiriman ikan bandeng dari salah satu kerabatnya, disimpan entah dimana tau taunya dicuri kucing. Hm, kalau malam aku sering keluar lompat jendela untuk bermain dengan mas Sugi tetangga depan rumah. Orangnya ganteng. Sedangkan tetangga terdekat adalah Bude Kerti namanya, anaknya ada tiga, dua laki laki dan satu perempuan. Yang perempuan sudah berkeluarga dan tinggal dirumah itu juga bersama suaminya. Bude Kerti termasuk orang berada, termasuk diantaranya keluarga ini sudah memiliki sumur, tempat aku mengambil air untuk isi gentong dan kolah mandi mbah Harjo, tempat aku mencuci dan juga numpang mandi di kamar mandi samping sumurnya. Keluarga yang baik. Sayangnya aku lupa nama anak anak bude Kerti, karena yang satu lebih tua dari aku, dan satunya lebih muda. Mas Meri yang lebih muda itu, aku masih ingat namanya. Tipikal orang kaya. Halus dan terawatt.
 
Terkadang kalau pas sekolah libur aku pulang ke Andong. Jalan kaki tentu. Jauh dari bue dan saudara lainnya sungguh tidak mengenakkan. Berjalan sekitar 6 bulan saja aku tinggal sama mbah Harjo. Selama itu pula aku belum pernah bertemu dengan yang namanya Om Waluyo. Alasan aku pergi dari rumah itu karena mbah Harjo ke Jakarta diantar oleh menantunya, pak Bardan namanya. Keluarga pak Bardan tinggal di belakang pasar Kacangan, dan memiliki tiga orang anak Handoko, Yoyok, dan Anna. Pak Bardan lurah pasar yang sangat dibenci karena sikap kasarnya, arogan dan sewenang wenang. Perawakannya tinggi besar, brewok dan jika berbicara lantang. Sepeda motornya BSA besar itu. Bu Bardan punya usaha warung makan. Ramai juga karena letaknya dibelakang pasar. Rumahnya luas, aku sering main kesana dan bersahabat dengan Handoko. Sayangya, keluarga pak Bardan mengalami akhir yang tragis, dan itu panjang ceritanya…
 
To be continued…