Friday, March 19, 2010

Balada Nawangwulan

Alkisah, serombongan bidadari dari khayangan, meniti pelangi turun ke bumi, menuju telaga dimana mereka akan berbasah basah penuh sukacita. Jaka Tarub yang beruntung, mengendap dari balik rerimbunan semak belukar, terbangkitkan gejolak alam, panggilan paling purba akan kesempurnaan lawan jenisnya. Pada waktu itu, hari mulai senja. Jaka Tarub yang nakal mencuri sehelai selendang warna ungu, milik salah satu bidadari diantara tujuh. Entah yang mana, sekenanya saja sebab semua begitu elok rupawan, molek bagai boneka. Ternyata selendang ungu itu milik Nawangwulan, bidadari malang yang tak sanggup terbang tanpa selendang, sementara yang lain telah kembali ke khayangan, tempat dimana tidak ada kesulitan dan kekesalan. Dunia tanpa batas dimana dulu ia bebas untuk menjelma jadi manusia, kemudian memilih lelaki yang disuka untuk dikencani dan dibawa pulang, tidur dalam pelukan sampai matahari membangunkan. Nawangwulan tak punya pilihan, diucapkannya janji kepada diri sendiri untuk mengabdi bagi sesiapa yang menolongnya pergi dari telaga yang menggigilkan dan menjanjikan keamanan. Maka jadilah Jaka Tarub sang pahlawan, mempersunting bidadari seumpama tertimpa rembulan. Dan Nawangwulan menerima nasibnya, dijauhkan dari ingar bingar dunia angkasa, setia menjalani kehidupan artificial yang sebenarnya bukan dunianya. Dipakasakannya hati demi memenuhi janji yang ia ucapkan sendiri ketika rasanya tak akan ada satu orangpun akan mampu menolongnya dulu. Dilupakanya statusnya sebagai selebriti angkasa, yang dikerumuni oleh pemuja pemujanya.

Maka, sudah menjadi aturan kehidupan, bahwa segala yang ada di dunia pasti akan ada akhirnya. Segala yang menyertai kehidupan akan berubah, waktu memberi pengertian pengertian yang berbeda, terkadang memberi makna lewat proses keseharian yang terkadang direncana, namun lebih sering tak terduga. Jaka Tarub menganggap keberuntunganya akan abadi, sedangkan Nawangwulan yakin suatu saat kemalangannya akan berakhir. Mereka berdua menjalani hidup saling terikat oleh tali hati berusaha saling menjaga hati yang rapuh agar tak retak ataupun hancur oleh terlukanya perasaan. Waktu berjalan, melahirkan kebosanan di perasaan. Bagi Nawangwulan, menjadi manusia sudah terasa tidak nyaman lagi. Hidupnya jadi monoton, hanya hitam dan putih warna yang ada, hanya kedepan pandangannya dapat diarahkan. Terkadang ia rindu kemeriahan khayangan, tempat dimana para pemujanya sengaja mengelu elukan, memuja mujanya sebagai yang paling istimewa. Yang paling ia rindui adalah rasa bebasnya dari segala bentuk kewajiban, keharusan dan aturan kepantasan yang harus ditaati. Di khayangan, semua hal adalah pantas. Sedangkan di mayapada, pemuja satu satunya hanyalah Jaka Tarub, lelaki biasa yang oleh keberuntungan nasibnya telah memperistrinya. Rasa beraninya bangkit untuk memberontak, bahwa bukan di mayapadalah tempatnya yang sejati. Tetapi apa daya, ke khayangan hanya bisa ditempuh dengan meniti pelangi, dibantu dengan selendang warna ungu miliknya yang telah hilang tercuri.

Suatu pagi berkabut, seperti biasanya Nawangwulan berpesan kepada suaminya untuk tidak pernah membukan kekep penutup kukusan menanak nasi sembari pergi ke telaga untuk cuci mencuci. Rasa penasaran lelaki Jaka Tarub mendorongnya untuk melanggar larangan itu, sekedar menjajaki apa yang bakalan terjadi kemudian. Rupanya didalam kukusan yang terpanggang diatas tungku dari batu cadas, Jaka Tarub hanya menemukan satu biji beras. Ia baru sadar, bahwa selama ini lumbungnya selalu penuh oleh pundi pundi padi, seolah tidak berkurang meskipun setiap hari ia tahunya makan nasi berkecukupan. Ia takjub dan terkejut oleh keajaiban yang tidak disadarinya itu. Larangannya begitu sederhana, dan ia melanggarnya dengan cara yang sederhana pula. Sepulangnya Nawangwulan dari mencuci, Jaka Tarub menceritakan pengalaman hebatnya, dan luluh lantaklah tulang belulang Nawangwulan. Pantangan yang dilanggar Jaka Tarub itulah satu satunya kekuatan ajaib yang dimiliki sebagai seorang bidadari, dan sekarang ia harus rela lagi menerima kehidupan sebagai manusia seratus persen, dia akan harus menumbuk padi di lesung, menampinya dan memilah milahnya supaya ia bisa memasak nasi yang cukup bagi keluarganya. Hidupnya tidak lebih baik dari beberapa tahun sebelumnya, yaitu ketika segalanya masih baru. Jaka Tarub menyesal setengah mati telah mengungkap larangan sederhana, ia tahu kini bahwa hal yang terlalu sederhana terkadang menyembunyikan kenyataan yang mengerikan, dan hanya akan membuahkan penyesalan. Keduanya kini bekerja keras untuk dapat menjaga supaya langkah mereka tetap akan sama, menuju ke arah yang sama.

Sewaktu tumpukan padi di lumbung menipis, sewaktu perasaan cinta mulai terkikis, suatu hari Nawangwulan menemukan hari keberuntungannya. Ditemukannya selendang ungu yang ia sudah cari cari sejak terakhir bercengkerama dengan saudari saudarinya dari angkasa. Ya, selendang ungu itu miliknya pribadi, kendaraan satu satunya yang bisa mengantarkannya pulang kembali ke alam angkasa, kembali menjadi selebriti dunia maya. Maka ia tak menemui Jaka Tarub, pada selembar daun pandan ia tulisakan pesan, menumpahkan kesalahan kepada sikap abai Jaka Tarub yang telah berani melanggar laranganya, yang telah menyepelekanya sebagai keturunan bidadari dari khayangan. Jaka Tarub juga dianggap bersalah telah mencuri selendang ungunya, yang menyebabkannya kemudian harus hidup terikat, terkekang dan menderita bersama Jaka Tarub. Ditumpahkannya segala bentuk kesalahan dan kejadian buruk masa lalu kepada Jaka Tarub yang kehilangan hak jawab, diungkitnya lagi sakit hati yang pernah dideritakan dulu sewaktu masih seperjalanan. Selendang itu memberinya kekuatan baru untuk melawan, sebab ia akan menjejak bumi, meninggalkan Jaka Tarub tanpa peduli. Suka cita dan canda tawa yang pernah terjadi kemudian menjadi pucat pasi, layu dan mati bersama kenang kenangan dan sejarah yang rasanya tidak perlu untuk dikenangkan lagi. Nawangwulan tidak peduli meskipun ia tahu segala kata kata yang diucapkan kepada Jaka Tarub adalah mengada ada, toh ia akan pergi, menjejak bumi meninggalkan mayapada yang penuh tipuan dan kebohongan ini. Ia akan kembali kepada kehidupan aslinya di sudut langit bernama khayangan, dimana segala hasrat manusiawi dapat ia tebuskan hanya dengan menjentikkan jari. Ia sudah terlalu lama terpenjara di bumi, terpisah jauh dari para pemujanya.

Jika hati sudah tidak menghendaki dan jika rasa nyaman sudah tidak ada lagi, maka hal sederhanapun bisa menjadi suatu penyebab berakhirnya sebuah hubungan antar manusia. Kesalahan dijadikan senjata, sedangkan niat baik telah berubah menjadi prasangka, maka waktunya mengukir cerita menjadi prasasti, catatan perjalanan yang mati di dinding candi...

Gempol, 100318

Friday, February 19, 2010

Lawatan Khayali

Tidur adalah berkah mewah dan istimewa bagi hidup yang terus bergerak mendaki makin terjal kurva cembung kulminasi usia. Ketika raga dan otot sensorik terbius mati, maka sebuah perjalanan lawatan ke dunia mimpi dimulai. Pada detik pertama tertidur, maka detik yang sama juga menjadi langkah perjalanan petualangan ruh ke alam mimpi, angan angan; alam bawah sadar yang memiliki keniscayaan mutlak, yang tidak punya batas, garis, aturan maupun bentuk yang bisa digambarkan. Alam itu begitu sempurnanya, sehingga sanggup mematahkan semua konsep ketidak mungkinan. Setiap petualangan mengandung pesan dan keindahannya sendiri, sesuatu yang hanya akan terjadi satu kali dalam seumur hidup. Baik petualangan di alam nyata maupun di planet mimpi, baik dilakukan bersama ataupun sendiri.

Cerita kejadian sepanjang perjalanan petualangan mimpi tidak pernah bisa diramalkan sebelumnya oleh akal sehat di dunia nyata, atau dilahirkan oleh pikiran pikiran taktis dan pragmatis dalam bentuk teori ilmiah. Katanya dunia mimpi berisi kehidupan yang timbul dari kebingungan nalar dalam memahami atau menyimpulkan sesuatu kejadian (siang harinya), tetapi terkadang mimpi berisi kisah berkesan yang tidak ada hubunganya dengan buah pikiran sesiang hari. Mimpi yang buruk tidak bisa dicegah datang dan perginya, serta tidak peduli separah apa akibatnya bagi gangguan kewarasan perilaku bijaksana ketika berpergaulan. Mimpi buruk adalah kehidupan muram versi alam bawah sadar, yang mengartikulasikan setiap detail penderitaan yang diakibatkan oleh kesialan. Bahkan definisi kesialan itu pula lahir dari pikiran yang subyektif serta negatif. Ingatan yang dihindari, pikiran yang diupayakan untuk dipungkiri di siang hari sering menimbulkan balas dendam berupa terjadinya kembali episode paling getir dalam hidup yang pernah terjadi di masa silam. Itupun umum disebut sebagai mimpi buruk. Indahnya, segala kesedihan dan nestapa yang memilukan itu terjadi tanpa memakan energi dari badan kasar, melainkan hanya libatan emosi semata.

Mimpi yang ndah sebaliknya, adalah harapan dan cita cita semua manusia waras. Bahkan saking warasnya, terkadang dibuat sebagai pesan sebelum tidur kepada orang yang kita sayangi agar bermimpi yang indah. Terdengar romantis, hanya saja tidak logis. Mimpi bukan barang bikinan yang bisa dipesan seenak udel, apalagi porsekot pemesanan mimpi itu hanya sebuah basa basi atau malah bahkan rayuan maut si penjahat kelamin. Petualangan yang terjadi didalamnya adalah utopia sejati. Segala hal yang ada dan yang hidup didalam kisah mimpi indah memiliki kemutlakan hakiki. Mimpi yang indah sesungguhnya adalah gugusan jawaban atas hal yang sulit dicerna di siang hari. Bermimpi bertemu dengan kekasih yang dirindui, misalnya, adalah buah dari rasa rindu itu sendiri yang mendarah daging sampai ke syaraf otak bahkan tanpa disadari. Bathin yang merindu mengharapkan pertemuan yang sulit dilakukan karena tatanan peradaban dan aturan kepantasan, dan mimpi tentang pertemuan yang meniadakan dimensi ruang dan waktu adalah jawaban manis melebihi khayalan. Mari berharap saja, dapat tertawa atau tersenyum dalam tidur.

Ah, jangan jangan....mimpi adalah refleksi kebalikan dari keadaan alam fikiran kita di dunia nyata?! Atau mimpi adalah sebuah kanal terusan yang menghubungkan alam pikiran pada detik terakhir terjaga dan detik pertama terlelap? Oleh karena mimpi adalah lawatan pikiran yang misterius; unpredictable, mungkin ada baiknya mengantisipasinya sebelum tidur dengan hal hal baik sebagai ritual pergi tidur. Badan yang bersih oleh mandi yang baik, satu semprotan kecil Eclat Sport for Man di dada akan baik, baju tidur yang baik, tempat tidur yang baik, selimut yang baik, persiapan yang baik untuk hal hal pertama ketika terbangun besok, doa yang baik, pikiran yang tenang nyaman dan baik, lalu harapan akan datangnya mimpi yang baik adalah persiapan yang baik untuk menyerahkan badan wadag kepada ketidak berdayaan sebaik baiknya, sebagai bentuk penghargaan terhadap rasa syukur atas karunia hidup yang masih diberikanNya kepada kita dengan cuma cuma. Sebuah ekspresi terimakasih kepada hidup karena keadaan yang baik baik saja sampai hari ini.


Sleep tight...


Bambuapus 100219

Tuesday, February 02, 2010

Siapa Punya Siapa Kita

: PYO
Dari angka satu sampai ke angka sepuluh, siapakan orang yang paling kita sayangi saat ini?

Maka segala ingatan, kesadaran dan kemutlakan subyektifitas penilaian akan memanggil nama nama orang yang saat ini masih hidup dan berpengaruh besar dalam memanusiakan diri kita; yang pengaruhnya paling besar, menimbulkan empati paling kuat, dan paling ingin kita bahagiakan, itulah penyandang predikat orang tersayang. Mengingat ataupun menyebut namanya bisa menggetarkan seluruh jalinan perasaan, sebab dia yang mampu menyumberkan kasih sayang dan memang paling layak untuk menjadi orang yang paling kita sayangi.

Orang tua, ibunda adalah sosok yang semestinya paling layak mendapatkan gelar orang tersayang karena beliaulah yang membuat kita menjadi manusia, kemudian yang mengajari kita tentang tata tertib dunia, mengenalkan kepada hidup dengan caranya, menuntun sikap untuk selalu menuruti cahaya hati. Cintanya sebesar rongga antara bumi dan langit, sedangkan kasih sayangnya seluas ukuran dunia. Suci dan juga sepenuh hati. Tidak akan pernah ada cinta yang menyamai keagungan cinta seorang ibu yang bercita cita memuliakan anaknya dalam kehidupan dunia. Begitu besar cinta kasihnya sehingga ruh seorang ibu selalu tertitis kepada anak anaknya. Tidak peduli hal apapun yang kita anggap sebagai hal buruk yang diberikan oleh seorang ibu, maka ibu tetaplah seorang malaikat utusan Tuhan untuk menjadi perantara keberadaan kita di dunia dalam keadaan hidup. Nah, bukankah hidup adalah anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan melalui tubuh ibunda? Tidak ada kemuliaan yang melebihi hal itu.

Lalu bapak yang baik kepada anaknya sendiri. Menempatkan diri dalam kehormatan seorang bapak yang ikhlas rela menjaga dan ngawat awati sang anak dari orok hingga meninggal dunia kalau mungkin. Seorang bapak yang mampu memanjakan anaknya, menjadikan kebutuhan lahir batin sang anak sebagai prioritas utama, bertanggung jawab mengumpani sekaligus melindungi anaknya dari segala bentuk kesusahan. Sang bapak yang menyuapi anaknya dengan pengalaman pengalaman hidup yang berharga, sebagai mata pelajaran bagi sang anak dalam mengayunkan langkah kakinya yang hijau. Kelahiran seorang manusia sesungguhnya tidak pernah akan terjadi tanpa campur tangan seorang bapak.

Bapak yang juga manusia biasa, ibu yang juga manusia biasa merekapun terkadang terjebak dalam sifat hewani kemanusiaanya, buta terhadap betapa mulianya menjadi orang tua; memperlakukan anak sebagai komoditas pengumpul materi semata. Tetapi mereka tetaplah orang tua yang membuat kita ada didunia dan menjadi salah satu renik yang membuat kehidupan dunia bergerak.

Kemudian anak. Titisan ruh, titisan darah dan daging dua manusia, dua individu asing yang beda jenis yang kemudian membentuk menjadi manusia baru. Anak memberikan pelajaran paling berharga bagi setiap manusia dewasa untuk memahami bagaimana dulu dibesarkan oleh orang tua. Kepadanya, orang tua membangun rambu rambu dan menyalakan cahaya, meratakan tanah pijakan untuk dilewati sang anak supaya aman sentausa di masa depannya, supaya mampu menghidupi dirinya sendiri dan menciptakan kehidupan bagi orang lain pada saatnya kelak orang sang orang tua termakan usia. Kehadiran seorang anak adalah penyadaran terbesar akan siklus silsilah panjang sekaligus memberikan harapan bahwa tentakel silsilah dijamin semakin meraksasa dan panjang. Kepada anak, orang tua menitipkan warisan berupa zaman, yang terus bergerak dan berubah mengikuti kehendak kehidupan. Anak selayaknya adalah symbol kebahagiaan hidup, buah cinta dan tumpahan kasih sayang sepanjang hayat dikandung badan.

Baru kemudian orang asing, si individu asing yang bersarang di dalam batin, dimana dengan suka rela dan maksud yang sama telah menjadi teman hati, terikat dengan talihati yang tidak terlihat oleh mata. Kita menyayanginya karena kita disayang olehnya. Simbiosis mutualisme batin yang tidak mungkin untuk dijabarkan hanya dengan serentetan kata kata. Sebuah hubungan aneh atas kuasa rasa yang sama, yang memberikan sensasi sensasi hipnotis bagi siapapun yang mengalaminya. Namanya asmara. Oleh sebab faktor waktu dan lain sebagainya, posisi ini sering terjadi pergeseran nama dan zaman ke zaman. Orang asing yang kita sayangi saat ini bisa jadi bukanlah orang yang sama seperti sepuluh tahun, lima tahun, tiga tahun, atau enam bulan yang lalu. Kepadanyalah kita menemukan potongan puzzle yang lalu membentuk keutuhan sketsa impresi sebagai sebuah pribadi, sebagai seorang manusia dalam level mutunya.

Deretan angka selebihnya diwakili oleh nama nama yang sangat kita kenal dan kita fahami keadaanya, atau oleh ikatan darah yang tidak bisa diceraikan dengan apapun. Namanya juga subyektif, jadi masing masing orang bebas menentukan siapa berada pada urutan peringkat berapa dalam posisi orang tersayang dalam hidup kita. Samasekali bukan soal pembandingan kualitas, akan tetapi hanya sekedar skala prioritas. Sesungguhnya setiap orang adalah orang tersayang bagi seseorang. Bagi seseorang yang beruntung, dia bisa menjadi orang tersayang bagi lebih dari satu orang, sedangkan dia si orang beruntung hanya punya satu orang tersayang dalam hidupnya saat ini.

Sayangnya, kita tidak pernah tahu orang tersayang urutan ke berapakah kita bagi orang lain, tetapi kita tahu pasti siapa orang orang yang kita sayangi dalam hidup kita.


Surabaya 100202

Tuesday, January 26, 2010

Suami Istri

Dua individu asing yang bertemu lalu menyatu menjadi satu individu baru? Atau dua individu asing yang bertemu dan lalu bergandengan tangan melangkah bersama dengan langkah yang sama tetapi tetap dalam perbedaanya? Atau mungkin dua individu asing yang atas dasar perbedaanya kemudian sepakat untuk melebur menjadi individu baru yang dilengkapi dengan dokumen sah yang menyatakan bahwa mereka pasangan yang terikat oleh kewajiban mentaati hukum sipil peradaban dan bersumpah atas nama Tuhan. Sedangkan sumpah atas nama Tuhan adalah sumpah tertinggi yang bisa dijadikan ukuran sumpah apapun. Itu semua tebusan untuk legalisasi perbuatan yang tadinya tidak boleh untuk dilakukan sebelum sumpah dan akta nikah mengikat pasangan itu.

Menjadi suami istri adalah langkah pertama untuk terikat dalam aturan aturan yang ketat terutama tentang tenggang rasa, hormat dan bagaimana memelihara cinta dengan saling menghargai dan mempercayai. Soal rasa sayang tentu tidak masuk akal lagi untuk diperbincangkan disini, oleh sebab setiap pernikahan pasti diawali dengan rasa kasih sayang atau rasa cinta, atau asmara. Hubungan suami istri - ritual paling purba sepanjang serjarah peradaban manusia, warisan dari sifat mahluk hidup yang dilengkapi dengan akal rangsang dan nurani - menjadi barang legal yang boleh dilakukan kapan saja dan dimana saja sesukanya. Sedangkan persetubuhan adalah ekspresi tertinggi dari nilai kasih sayang yang divisualisasikan dengan segenap perasaan terdalam bernama nafsu. Buah terlarang yang semestinya tidak boleh dimiliki pada orang yang tidak terikat pernikahan, sebab pernikahan memang adalah legalisasi hubungan badan suami istri! Selebihnya adalah pembagian kewajiban dan hak sebagai sebuah lembaga bersama.

Surat nikah hanyalah kertas, pengikat lembaga itu yang sejatinya adalah itikad nurani untuk setia menjaga komitmen perkawinan dan memberi nilai positif terhadap diri sendiri. Orang yang berbuat baik akan menilai dirinya baik dan itu baik untuk memotivasi diri untuk menjadi orang yang baik. Kaki kiri dan kaki kanan bisa tidak simetris pada saat kita berjalan, tetapi toh keduanya membawa tubuh ke arah dan tujuan yang sama. Dua individu asing tetap menjadi dua individu asing, menjaga kerahasiaanya masing masing demi membela arah dan tujuan yang sama pula. Bentuk hubungan akan berkembang mengikuti kemauan zaman, mengikuti arus takdir kedua individu asing tersebut. Rapuhnya akta nikah dan sumpah dihadapan Tuhan sebagai tali pengikat hubungan dibuktikan dengan banyaknya pasangan yang mendaftarkan diri mereka di pengadilan untuk proses perceraian. Sebuah penyelesaian yang elegan dari ketidak sesuaian yang ditemukan kemudian setelah sebelumnya hakul yakin bahwa pasangannya adalah jodoh yang dikrimkan Tuhan. Bukan soal salah memilih orang sebagai pasangan, tetapi lebih kepada arogansi ego masing masing yang terlalu tinggi sehingga menutupi sumpah maupun komitmen yang ditandatangani hitam diatas putih. Akta nikah tidak bisa menjadi pengikat dua keinginan, sebab tali hatilah yang sebenarnya menjadi satu satunya pengikat dua individu asing untuk menjalani sesuatu bersasma sama dengan rasa yang sama dan semangat yang sama.

Mungkin dulu alasan sepasang manusia menikah adalah karena mereka sama sama terlalu takut untuk kehilangan pasangannya (menjadi bukan pasanganya lagi). Lalu berikrar dengan disaksikan orang lain bahwa mereka sepakat untuk menjalani hidup bersama selamanya. Dalam suka dan duka, susah senang, sehat dan sakit. Amboyy...betapa indahnya kata kata utopia yang membuai. Itulah nilai tertinggi dari hubungan dua individu asing yang kemudian menjadi suami istri; menjalani hidup bersama, merencanakan dan mengalaminya bersama sama. Karena itulah sebabnya disetiap peradaban manusia suku manapun pasti ada ritual pernikahan meskipun cara yang dilakukan berbeda beda. Dan setiap perkawinan menghasilkan cerita peradaban yang berbeda beda. Dan, cerita perkawinan terindah hanya bisa terbentuk oleh hubungan dua individu berbeda jenis kelamin untuk saling menyenanangkan, saling menjaga, serta saling membiarkan pasangan menjadi diri sendiri. Maybe!


Tasikmalaya – Garut - Jakarta 100124

Friday, January 15, 2010

Usai Perang

Pesta iblis akhirnya usai. Perang telah selesai. Luka luka diteliti dengan seksama. Korban ditaksir berdasarkan bobot penghargaan atas sebuah hubungan; tak ternilai dengan materi. Duapuluh enam hari musuh mengamuk didalam selimut yang melelahkan berlalu, menyisakan serpihan kebahagiaan yang berserakan pecah berantakan. Air mata kering, sumbernya mati karena dikuras setiap hari. Panas dendam telah menghanguskan hampir ke seluruh aspek kehidupan, bahkan yang tidak berhubungan dengan peperangan. Dimana mana, perang hanyalah memproduksi korban. Sedangkan perang, selalu dimulai dari sebuah pengkhianatan sederhana.

Perempuan yang khianat, laki laki yang khianat. Khianat terhadap janji, khianat terhadap diri sendiri. Manipulasi perasaan atas kuasa nafsu. Dan sudah menjadi ciri wanci, bahwa setiap penghianat pastilah akan di laknat. Laknat dunia akherat sebagai bentuk pemaksaan pertanggung jawaban atas perbuatan yang khianat. Perbuatan khianat yang melahirkan perang, yang menyisakan kerusakan parah untuk waktu yang panjang. Kecacatan permanen terhadap kemapanan emosi yang menganggap sebuah kebahagiaan akan bisa abadi. Sungguh sebuah perang yang mengerikan, ketika ribuan pedang menghambur dari kegelapan; sebuah upaya pengelabuan yang gagal. Itikad yang terkandung didalamnya sudah menunjukkan nilai negatif atas komitmen tali hati.

Sambil menunggu asap gelap tersibak dan terang menjelang, perih perih dihitung dan dirasakan sekali lagi. Badan yang tercacah dengan luka menganga masih bisa ditahankan, tak seberapa sakit dibandingkan dengan nilai harga diri yang dirampok si durjana. Di dalam sepi setelah musuh pergi dengan membawa selimutnya sekalian, sebuah catatan perang ditulis sebagai eksplorasi atas gores demi gores luka yang diderita. Kisah yang akan menceritakan panjang lebar tentang sebuah kepingan peristiwa atas persekutuan yang cidera. Sudah waktunya mengemas impian dan lalu memasang nisan diatas kubur kenangan. Dunia yang beku dan muram menancap di liat dan pekatnya lumpur kekalahan.

Luka luka harus segera disembuhkan dan sisa perang harus segera dibersihkan, keadaan harus segera bisa dipulihkan. Kekalahan harus diterima, sebab para pengacau telah pergi bersembunyi; saling melindungi dan tidak pernah ada tanggungan yang mereka jawab. Pengecut memang selamanya demikian dan akan terus menjadi pengecut sampai akhir zaman. Memang sebaiknya mereka pergi dan tidak kembali, menjauh dari segala bentuk tanggung jawab untuk hidup yang lebih enak, dan untuk dunia yang lebih tenteram dalam persembunyian. Sayangnya, mereka bersembunyi hanya persis didepan mata!

Akhirnya pesta perang para iblis harus selesai. Saatnya menunggu sang waktu menyembuhkan luka, merestorasi hati kemudian membersihkannya dari serpihan beling yang menancap di didnding langit pikiran. Jalan kedepan akan penuh dengan tantangan yang harus dapat diretas sendirian. Tidak akan mudah dan memerlukan kekuatan melebihi rata rata, bahkan hanya untuk sekedar menerima kekalahan. Butuh hati berukuran raksasa untuk dapat menghayati indahnya dikhianati. Toh semua sudah terjadi dan berlalu, menjadi masalalu yang benda mati. Setidaknya manis dan getir perjalanan yang pernah terlewati memberi pelajaran baru tentang isi hidup. Pengalaman memperkaya pemahaman atas nilai sebuah hubungan serta ukuran ketaatan azas tenggang rasa.

Maka ketika perang iblis usai, perang barupun dimulai. Satu kelas lebih tinggi dari perang sebelumnya, karena perang baru adalah bentuk perlawanan dari kebangkrutan nurani oleh sebab terkurasnya cadangan kesabaran. Perang yang lebih bermartabat karena misinya adalah mengembalikan nilai kehidupan kedalam norma peradaban berdasarkan kebijaksanaan. Meneruskan cita cita sederhana; menjadi orang baik dan memenjara dendam yang ibarat Da;jjal. Merapikan kembali segala yang porak poranda, mengenangkan peristiwa ini sebagai satu episode yang telah selesai penayangannya. Sampai hari hari akan berjalan seperti sedia kala...

Bambuapus, 100115 - 0238

Thursday, January 14, 2010

Membaca Luka

When love goes wrong, nothing goes right.

Membacai catatan tentang luka, seperti membangkitkan iblis dari kuburnya. Berhamburan menyerbu muka, dada dan kepala. Kenangan menikam perih seperti jantung tertancap kujang karatan. Memang benar, hanya karena nila yang setitik, susu sebelangapun bisa tercemar. Hanya dengan hujan yang sehari orang lantas bisa begitu saja melupakan kemarau yang setahun penuh. Satu luka bacokan yang tepat ditengah bahagia niscaya akan sanggup melumpuhkan sisa jatah kehidupan. Ia menjadi bibit dari semua jenis malapetaka di alam batin. Luka luka yang menyusul sesudahnya tidak lebih dari siraman air cuka diatas luka lama. Menyebabkan lupa atas rasa segala bentuk kesenangan dunia.

Membacai lagi catatan catatan lama, seolah olah menemukan lagi pribadi baru yang menipu jiwa. Semuanya menjadi asing, bahkan terhadap wajah sendiri yang terpantul dari genangan air mata. Riwayat yang tercatata di altar langit berjatuhan laksana hujan dari jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang tetap menjadi rahasia sendiri. Kaki dan tangan seolah terikat ketika gerombolan iblis bertamu pada malam penuh kegelapan. Mereka telah menyeret mata menuju subuh lalu tertawa pergi menyembunyikan keji ketika matahari tiba menuntut pertanggung jawaban aktualisasi diri. Iblis iblis itu mereka persis seperti orang orang pengecut yang kelak akan mati membusuk dimakan belatung.

Seharusnya hati bisa menjadi kuat setelah melalui beribu malam dalam perkelahian bisu. Semestinya semuanya menjadi lebih terang setelah reda sang hujan. Tidak seharusnya memang luka yang sama terjadi berulang kali. Tidak seharusnya juga orang yang dipercaya menikamkan belati pengelabuan di dipunggung yang tersandar. Seharusnya memang tali pengikat hati dilepaskan, direlakan sang putri menjadi selebritis laris di langit maya tempatnya memuja rasa. Tempat manusia memang di bumi, di dunia nyata dengan manusia nyata; tempat bahagia dan duka yang nyata.

Keikhlasan laksana seberkas cahaya yang mampu menuntun diri untuk selalu ingat pada sesama ketika mata hati gelap oleh badai khianat. Seharusnya!!
Kuta Bali - 100114

Wednesday, January 13, 2010

Dunia Maya

Dunia maya adalah padang kehidupan dengan orang oroang virtual, saling berteman tanpa harus merasakan menjadi teman yang sejatinya. Teman yang sebagai malaikat tidak bersayap itu. Dunia maya juga adalah kehidupan tak nyata yang didasarkan atas angkasa tak bertuan, tak berpagar dan tak berambu. Disana manusia saling tampilkan nafsu. Jalinan sosial yang terbentuk dari interaksi nafsu berupa lorong lorong labirin penuh kejutan menyakitkan. Sebagian pengecut di dunia nyata bersembunyi rapi jali di dunia maya, mempertontonkan kepengecutannya yang sejati di dunia yang bahkan tidak nyata.

Sebagai wahana angkasa, orang yang maju akal pikirannya tidaklah bisa menolak daya tariknya. Sebuah lapangan besar berisi permainan hayal rupa rupa dan sangat rahasia. Seperti pasar tradisional dimana setiap sesama boleh memilih dan dipilih untuk dimanterakan supaya menjadi nyata, seorang yang menyentuh dan teraba. Kita tidak bisa memagarinya supaya kita tidak ada didalam pengaruh kesaktiannya ketika kita ada di bagian luarnya, akan tetapi kita juga tidak bisa melindungi diri dari niat itikad untuk masuk dan berselancar didalamnya ketika kita sendiri sudah menjadi bagian darinya.

Jejaring sosial, ludah laba laba yang menjerat peradaban dengan kebiasaan baru dan seolah olah dunia baru; mempertemukan, menyatukan dan juga mampu menceraikan bahkan menghancurkan hidup nyata. Sebuah kehidupan nyata yang dipunggah ke atas panggung khayali manusia dirangkai dengan tali hati. Kehidupan ’seolah olah’, kisah kisah cinta atas kuasa bohong hingga segala pencitraan nafsu binatang niscaya ada disana, tidak diakui oleh pemiliknya sendiri; si empunya diri. Acap kali gesesekan antara dunia maya dan dunia nyata menimbulkan gempa yang menggemparkan. Bahkan mematikan matahari di dunia nyata!

Bentuk bentuk pengingkaran atas kebenaran serta kehilangan logika sederhana tentang tatanan hidup di dunia nyata merupakan akibat dari pengaruh buruk yang ditimbulkan dunia maya. Sikap naif yang palsu, jiwa yang mendua, dunia yang mendua, hati yang mendua, lelaki yang mendua, perempuan yang mendua, tapi tidak dengan perih rasa akibat lukanya. Perih dan luka hanya milik individu yang tidak mendua. Perihnya terasa di dunia nyata, sebagai pantulan keras dari cermin dunia maya yang tak sanggup untuk ditentang untuk selalu memandang. Udara yang mengisi dunia maya bisa meracuni otak orang sedemikian rupa hingga lupa bahwa berbohongpun memerlukan logika. Membohongkan dunia nyata di dunia maya atau sebaliknya sesunggunya adalah perkara bodoh dan berbahaya. Akibatnya bisa membuat orang celaka. Benar benar celaka dalam arti harafiah di dunia nyata. Celaka tigabelas namanya!


Oleh karena teknologi memberi kita sayap untuk terbang sesuka hati kedalam dunia maya, ada saatnya mencabuti sayap, turun perlahan dan berpijak pada bumi, pada panas tanah merah sesudah dijerang matahari. Di atas bukit tak bertuan kaki dipijakkan, memandang mengeliling untuk menentukan tujuan sesuka hati. Tak apa jika sesekali kaki kita terantuk, toh sakitnya hanya sementara. Bukankah segala yang ada dalam hidup kita ini sementara?! Tetapi jika batin kita yang tertusuk, amboy..lukanya akan terasa perih abadi. Dunia maya hanya tinggal menjadi hantu yang patut untuk dibelakangi. Menemukan orang yang nyata dalam dunia nyata, apapun itu bentuk dan karakternya, adalah nyata dan sederhana. Memang demikianlah seharusnya kehidupan berjalan. Tenggang rasa maupun segala upaya bersosialisasi adalah yang senyatanya menentukan nilai dari seseorang. Didunia maya semua hanya kata kata di angkasa.

Kiranya aku rindu matahari ketika pagi dan langit senja di kala sore.

Kuta Bali - lewat tengah malam 100113

Tuesday, January 05, 2010

Setetes embun penyejuk api

Malam menjadi tua. lampu lampu kota beku ditikam angin Januari, berkedip perlahan dikejauhan. Embun luruh ke bumi, tetesannya memaksa sejuk pada gambut yang tak henti mengobarkan api dendam, api yang terpendam nun jauh dibalik permukaan. Malaikat membisikkan kata bijak, dan bidadari mengirimkan tembang cinta paling indah sepanjang zaman. Sebuah tembang penyesalan yang mengalun melewati layu malam, menelusuri letih seharian mengikuti semburan magma dari timbunan amarah tak terkira.

Gerombolan iblis tertawa, berlari meninggalkan luka yang porak poranda. Mereka akan datang lagi dalam pola sesukanya, menyerbu dari segala penjuru, memuntahkan segala senjata selama tujuannya adalah untuk menyiksa. Mereka telah menduduki segala sisi hidup, mengintai untuk membantai prinsip kebaikan yang perlahan disemikan oleh kesadaran yang timbul tenggelam dipermainkan emosi dan logika. Kebijaksanaan sikap yang terkumpul dari sepotong demi sepotong pengalaman luluh lantak diinjak injak mereka yang riang berjingkrakan. Dan logika menemukan jalannya yang buntu. Langkah kaki menjadi mundur, pandangan matapun menjadi kabur.

Besok matahari akan datang lagi, memberi hidup bagi duri duri yang seolah mati. Barangkali juga akan memantikkan bara dibalik permukaan gambut yang telah jadi sanggeman ketika benih luka ditaburkan oleh angin dusta; berulang dari musim lalu ke musim berikutnya. Panas dan perih akan menghampiri, sumpah serapah akan jadi menu makan pagi, makan siang, makan malam dan doa sebelum tidur yang tak pernah lelap. Iblis telah merampas semua niat makan, tidur dan berkarya, tidak meninggalkan sisa untuk ruang kosong yang terlalu hampa. Tidak ada pembanding bagi bengis siksaanya.

Setetes embun layak dirindukan sebagai peredam perih dari luka menganga atas luka diatas codetan lama. Sesungguhnya luka hati tidak akan pernah sembuh secara sempurna. Ia meninggalkan larva sakit jiwa yang dapat bangkit dan tumbuh bagaikan belatung didalam dada, menggerogoti lambung hingga kepala. Ialah bayi bayi dendam yang disembunyikan dibalik terali bernama pengampunan tanpa permaafan, hasil dari peperangan panjang yang terus berulang dan hanya memproduksi kerugian. Mereka diredam dalam dinding rapuh bernama pengampunan sebagai pemenuhan atas tuntutan kewajiban dan aturan kepantasan manusia yang berperadaban.

Malaikat kecil yang hadir dari balik jendela kaca menjelang pagi, mengantarkan ramuan penawar sakit hati lewat bening malam ketika lampu lampu membeku di kejauhan. Memaafkan adalah obat mujarab bagi sakit hati sekronis apapun itu sakit hati. Memaafkan adalah melepaskan, merelakan, mengikhlaskan semua kejadian buruk yang menimpa di masalalu. Memaafkan adalah menerima masalalu sebagai bangkai waktu, yang berisi catatan yang tak mungkin dapat dimodifikasi sesuai selera. Apa yang terjadi sudah terjadi, dan tidak dapat direkontruksi kembali. Menerima kenyataan dengan tabah adalah cara kompromi yang pasti akan membahagiakan sekaligus membanggakan sebagai sebuah pribadi.

Tetapi sungguh tidaklah mudah untuk melepaskan, untuk berkompromi. Untuk dua hal itu diperlukan konsumsi energi positif yang luar biasa besar, serta kekuatan yang melebihi kekuatan manusia normal ketika dibutuhkan sekedar untuk menandingi rasa ketersinggungan sesaat. Menampung amarah yang datang secara acak, amarah ngawur yang membabibuta terkadang menimbulkan pesimisme bahwa hal hal yang semestinya normal akan bisa diterima sebagai kedaan normal. Kecacatan mental memang membuat seseorang menjadi berperilaku aneh, tidak bisa difahami hanya dengan sekali asumsi. Merumuskan konsep penyelesaian yang paling baik bukanlah perkara mudah ketika matahati kabur tertutup oleh debu pergelutan iblis dan nurani, dimana nurani berulang kali kalah tak berdaya dan teraniaya.

Sayangnya ’melepaskan’ acap kali juga dirampok oleh pikiran iblis, dipelintir menjadi kerelaan hati untuk melepaskan prinisip nilai nilai kebaikan. Itu artinya ketidak mampuan nurani untuk menahan agar iblis tidak menyusun skenario pembalasan dendam yang paling keji. Ketika perang batin yang hanya menghasilkan luka batin permanen terjadi, orang lain hanya bisa berdiri dibalik dinding kaca, tanpa bisa berbuat apa apa untuk membantu.

Kompromi dengan hati sendiri memerlukan energi luar biasa banyak, mengumbar emosipun menguras semua energi positif. Sayangnya dua duanya dalah pilihan simalakamayang harus dijalani ketika murka membabibuta. Inti dari kompromi yang sebenarnya adalah penyadaran diri atas status sebagai si kalah atas keadaan yang tidak seusai keinginan. Si kalah yang harus ikhlas dan rela menerima kekalahan berbagai bentuk yang terjadi pada pengalaman hidupnya. Siapapun yang bisa melakukan itu, sungguhlah ia manusia kuat yang punya prestasi hebat; mengakui dengan kepala tegak sebagai pecundang.

Jika masih sanggup; tanggungkanlah!
Jika sudah tidak mampu lagi; lepaskanlah!
Kata maaf bisa terucap dari mulut, jutaan kali dalam sehari.
Tetapi cinta dalam hati, tak bisa dipungkiri dengan ucapan miliaran kali


Surabaya, menjelang pagi 100105

Wednesday, December 30, 2009

Risalah Sakit Hati

Badai masih mengumbang ambingkan pikiran dan mempermainkan emosi. Didalam dada tipis ada gunung berapi yang siap meledak dan memuntahkan lahar panas yang menghancurkan siapa saja, apa saja yang dilintasinya. Tidak ada yang akan bisa menanggungkan akibatnya, maka akan bijaksanalah untuk menghindari komunikasi dengan, apalagi dengan penyebab bencana. Ibaratnya, setiap detik dan menit amarah itu membuncah, hanya penyebab bencanalah yang layak untuk menerimanya tumpahan kesalaha. Dan itu akan merusak, melukai serta merendahkan diri sendiri.

Hati bekas, berupa bangunan puing yang berdiri diatas puing pula. Akan lebih baik bagi siapapun jika gugatan atas keadaan itu diekspresikan dengan mengasihani diri dengan cara sendiri. Pikiran negative bukan hanya peristiwa muslihat yang diterima saja, tetapi berkembang biak menjadi anak anak prasangka yang begitu jahat menjajah kepala. Terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab sendiri dengan perkiraan, dan semuanya serba menyakitkan bahkan sampai ketidak percayaan akan kebenaran, serta lusinan pikiran yang menimbulkan ribuan pertanyaan dan juga menghasilkan jawaban berupa kesimpulan kesimpulan menyakitkan lainnya.

Kata kata adalah pedang, yang terkadang tajamnya terasa keterlaluan. Ketika itu terjadi, yang ada dalam pikiran adalah mendorong orang disekitar untuk menjadi musuh yang memusuhi karena sikap kasar dan provokatif. Ekspresi emosi adalah sikap yang dengan sadar dilakukan, seperti halnya ketika kita sadar bahwa kita telah gagal meredam amarah sendiri. Seandainya saja isi kepala dapat dibaca, maka mungkin orang tidak akan punya kata kata untuk menggambarkan betapa jahatnya cara pikiran negatif menyiksa diri. Kata ’keterlaluan’ akan menjadi terlalu sederhana untuk menggambarkan betapa sakit dan parahnya akibat dari siksa cemburu.

Maka sikap diam akan lebih baik untuk dilakukan, menenggelamkan diri dalam kemuraman sendiri, bebas mendramatisir luka luka disekujur hati. Semuanya terasa menjadi salah dalam hidup seketika, dan itu konskuensi yang harus tertanggungkan dari akibat tindak durjana. Keadaan seperti itu akan berlangsung entah sampai kapan, sebab seperti sebelumnya, hanya Tuhan yang tahu kapan siksa batin seseorang akan sementara menghilang. Hidayah akan datang supaya kita bisa melihat dunia dnegan cara yang lebih tenteram, mengembalikan kebahagiaan yang terkadang timbul tenggelam dipermainkan badai menyakitkan.

Sakit hati dimasa lalu tidak pernah bisa benar benar pulih kembali seperti sedia kala. Hati yang tersakiti akan menimbulkan kecacatan kepirbadian. Dan kecacatan kepribadian tidak bisa dihindari seperti halnya codetan luka yang menggambarkan sebuah kehancuran kecil di masalalu. Bekas luka menjadi catatan sejarah hidup yang harus menjadi hak milik pribadi selama hayat masih dikandung badan. Hanya kematianlah yang bisa memutus rantai peristiwa dan pengalaman sepanjang hidup, sekaligus menghapuskan semua kesakitan dan penderitaan yang terjadi diam diam. Bagi seorang lelaki, terkadang ada yang lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Hal ini, semua laki laki tentu juga tahu.

Jika pernah bertahun tahun dalam kemuraman dalam kungkungan pikiran buruk dan sakit hati yang berkepanjangan maka cukup dijalani dengan kehidupan yang seolah olah. Mengekspresikan perasaan dengan kata kata dan perbuatan memang bisa menyinggung perasaan orang lain dan melahirkan konflik yang seharusnya tidak perlu. Seorang yang kuat hati akan menelan mentah semua amarahnya demi menjaga permukaan tetap datar dan aman tenteram bagi penghuni dunia lainnya.



Gempol 091230

Sunday, December 27, 2009

Cermin Benggala

Seminggu pasca benturan, ledakan dahsyat yang menggoncangkan ketenangan dan menggelapkan pandangan. Debu mulai mengendap, udara mulai jernih kembali, seperti tirai yang menyingkap gambaran kehancuran yang ditimbukan oleh dampak gempa jiwa. Korban mulai dihitung, penyebab dan musabab diselidiki untuk dijadikan catatan, sebagai tambahan pengetahuan atas alam kepribadian yang penuh rahasia dan selalu menampilkan sisinya yang berbeda dari waktu ke waktu. Analisa atas seluruh kejadian dijadikan patokan untuk merancang bangun kembali sebuah hubungan yang sempat goyah dan terdapat retak disana sini. Sebuah renovasi harus dilakukan dengan ekstrim jika kerusakan yang ditimbulkan oleh guncangan itupun menyebabkan sesuatu yang ekstrim. Demikianlah yang semestinya terjadi, jika sebuah hubungan terguncang oleh pikiran negatif pemercaya prasangka. Sebuah keputusan ekstrim tentu saja berharga sangat mahal. Bahkan nilai materi tidak bisa dipergunakan untuk mengukur nilai tukar dari kehilangkan seorang teman, sedangkan berteman adalah hak azasi manusia yang dilindungi oleh PBB. Memutuskan samasekali tali komunikasi dengan seorang teman dan bukan atas kehendak pikiran dan kemauan sendiri adalah harga yang tidak bisa ditukar dengan apapaun di duni ini.

Janji itu membuat bumi bergetar, bahwa untuk membangun sesuatu yang kuat dan kokoh memang ada harga yang harus dibayar, meskipun harga itu tidak terhingga nilainya; seorang teman. Bukankah seorang teman adalah malaikat yang tidak bersayap? Betapa rendah hinanya dia yang telah memerintahkan dengan cara otoriter untuk melarang kita berteman dengan orang lain? Jika pemberi perintah itu adalah laki laki, maka dia tidak lebih dari seorang banci. Sebab kekuatan seorang laki laki diukur dari kesanggupannya memikul tanggung jawab; bahwa dibalik kekuatan yang besar mengandung tanggung jawab yang besar pula. Sifat utama seorang ksatria adalah menggunakan kekuatan dan keperkasaannya dengan arif untuk melindungi isi dunia dari segala bentuk kerusakan yang mungkin terjadi. Tugas seorang ksatria adalah untuk menciptakan suasana aman, terang, teratur dan tenang di muka bumi. Seorang ksatria sejati adalah juru selamat bagi semua mahluk seisi bumi. Jadi, sungguh bukanlah sikap ksatria bagi seseorang untuk meminta seseorang lainnya untuk memutuskan tali pertemanan secara permanen dengan seseorang temanya. Perbuatan itu melebihi reputasi buruk Hitler terhadap kejahatan kemanusiaan.

Badai seminggu lalu seperti halnya kilatan cahaya yang menampilkan gambaran kondisi kita dari sudut pandang orang didepan kita. Setiap badai yang terjadi adalah pertanda bahwa sudah saatnya bagi kita untuk bercermin, merasakan sekejab berada di pisisi sebagai orang ketiga, atau orang kedua, orang keempat dan seterusnya. Hentakannya menimbulkan halusinasi atas penderitaan orang orang yang disebabkan oleh karena sikap atau perbuatan negatif kita terhadapnya di masa yang sudah lalu. Kitapun bisa menjadi korban seperti pernah menjadikan mereka sebagai korban kita dahulu. Orang yang baik akan tidak membiarkan dirinya menjadi penyebab terputusnya tali silaturahim seseorang dengan orang lain yang tidak ada hubungan apa apa denganya si orang baik. Dan, menjadi orang baik adalah mempergunakan daya kekuatannya untuk menerima dengan ikhlas sebuah pukulan yang mengenai egonya dan membuat emosinya limbung, apalagi jika itu adalah pukulan yang tidak disengaja. Temperamental adalah bukan sifat bijaksana, sifat dan syarat utama dan pertama yang harus dimiliki oleh orang baik. Tinggi hati hanya akan menimbulkan kerusakan dan ketidak damaian, dan prasangka hanya akan menghasilkan bencana bagi orang lain dan diri sendiri. Orang yang baik hati adalah mereka yang menempatkan kepentingan orang lain satu diatas kepentingan diri sendiri; selalu mengutamakan orang lain ketimbang diri sendiri. Dan, untuk memiliki sifat bijaksana, syarat mutlaknya adalah ia harus orang yang cerdas, sebab sifat bijaksana lahir dari kemampuan logika untuk menginterpretasikan maknanya bertenggang rasa, maknanya kata saling hormat menghormati sesama mahluk bumi. Maka mereka yang memiliki sifat bijaksana adalah mereka orang orang yang cerdas pemikirannya.

Seminggu setelah badai berlalu, ketika langit kembali terang, ternyata efek kerusakan yang ditimbulkan tidak seperti yang dikhawatirkan secara berlebihan. Sikap waspada yang berlebihan telah menimbulkan kepanikan justru pada saat ketika kita harus lebih tenang untuk merumuskan tindakan penyelamatan. Dan segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik akibatnya. Sedangkan hanya kebaikanlah satu satunya hal di muka bumi yang tidak pernah bisa dianggap berlebihan yang bisa dilakukan oleh manusia. Kita seharusnya selalu merasa belum cukup berbuat baik, dan terus berupaya untuk berbuat baik supaya menjadi orang yang baik bagi penilaian sendiri yang paling hakiki. Memperlakukan orang lain seperti halnya kita berharap orang lain akan memperlakukan kita seperti kita memperlakukan mereka. Itulah cermin benggala refleksi kematangan sebuah pribadi yang lahir dari badai seminggu yang lalu. Bahwa sikap bermusuhan sesungguhnya adalah degradasi dari kehormatan diri, sebuah sikap yang bertetangan dengan prinsip kebaikan.



(... seorang pangeran adalah orang baik hati yang memiliki kewajiban moral untuk menebarkan kebahagiaan kepada sesiapapun mahluk hidup di muka bumi. Sama halnya dengan seorang princess...)

Bambuapus 091226

Sunday, December 20, 2009

Ingin Tidak Pernah Bertemu Malam

Dalam sebuah episode hidup, pernah merasa seperti ini; rasanya tidak ingin bertemu malam, sebab didalam malam iblis membabi buta, sedangkan tangan terikat pada kedua kaki. Tidak berdaya disiksa oleh iblis, iblis yang kemarin baru dilahirkan, mengajak serta seluruh kekuatan perusaknya. Beratus ratus hari dulu pernah berperang sendirian, menahan marah hingga tubuh bergetar, menahan sakit hingga tangis kehilangan air mata, menahan sedih yang tak terlukiskan dengan kata kata, menahan nyeri yang menyerang sekujur badan.

Iblis dari masalalu telah merasuki jiwa, dan itu akan perlu waktu cukup lama mengusir mereka, menundukkan mereka, berkompromi dengan mereka satu persatu. Jumlahnya terlalu banyak saat ini. Iblis iblis ada dimana mana, bahkan disetiap lagu yang biasanya bisa didengarkan sekarang isinya sindiran dan ejekan. Mending tidak didengarkan. Sejatinya mereka telah berkampung dan beranak pinak dalam pikiran, menjadi virus yang menyebar keseluruh sistem kerja badan dan otak. Agresif serta berpikir serba negatif. Mungkin sakit hati bagi orang lain hanya dramatisasi belaka yang membesar besarkan persoalan sepele dengan cara sangat subyektif. Apriori! Padahal kita tidak akan pernah bisa mencicipi seperti apa sakitnya hati orang lain.

Sebuah hubungan yang ternodai, ibarat batang kayu yang ditancapi paku baja. Ia tidak akan pernah kembali pulih selamanya. Cacat permanen, terbawa sampai tamatnya nanti. Sikap kasar yang membabi buta mau tidak mau pasti menyakiti, karena memang tujuannya hanya itu; menyakiti sebagai protes atas siksa yang ditanggungkan. Tetapi sikap kasar itu tidak pernah bisa cukup untuk menebus kerusakan yang terdampak di dalam alam batin. Semua porak pranda, setiap tempat menyisakan kesan bahwa sebisa mungkin tempat tersebut dihindari karena mengingatkan kepada kenangan. Memang membencikan perasaan seperti itu, tetapi harus dihadapi dan ditelan sendirian. Setiap hal yang mengingatkan kenangan pasti akan menjadi sesuatu yang tajam menusuk, perih memilukan. Hal hal semacam itu akan terjadi sampai nanti akhirnya masa buram itu sudah lewat. Hati begitu bahagia ketika merasa bisa berkompromi dengan iblis iblis itu. Rasanya kembali lahir dan memiliki semangat hidup lebih baik lagi, karena satu ujian sudah selesai terlewati.

Berharap pada pengalaman buruk masalalu akan membuat para iblis bosan menyiksa. Namanya iblis, semakin berinteraksi dengan manusia, maka semakin banyak orang akan terluka. Reaksi buruk dan kasar yang diekspresikan kepada penyebab sakit hati tidak akan cukup satu atau dua kali saja, itu bisa saja berulang ribuan kali, dan terjadi lagi dan lagi tanpa interval waktu yang bisa digambar. Semua dikendalikan oleh seberapa kuat iblis menguasai sikap. Ibarat harus melintasi lapangan luas berisi beling dibawah matahari, tanpa alas kaki, rasa takut tentu ada. Rasa takut bahwa kita tidak bisa menjadi orang baik, seperti sering menjadi cita cita dalam angan angan setiap orang; yaitu merasa bahagia ketika bisa menolong, serta menghormati orang melebihi cara mereka menghargai kita.

Setiap orang yang digolongkan sebagai orang dewasa, akan selalu dituntut tanggung jawab atas perbuatannya dan juga usianya. Sungguh sangat disesalkan semua rangkaian cerita kejadian buruk yang berujung pada cacatnya hubungan antar manusia, sebab kita tidak seharusnya melewati hal seperti itu. Setidaknya , itulah yang selalu diyakini oleh setiap orang ketika mengenal seseorang lainnya. Terkadang mungkin juga memang datang waktu yang tepat untuk tahu diri, pergi menjauh saja supaya semua orang terjaga dari terluka, membawa perih dada yang menganga menuju ke sebuah manara mercu suar dipulau kecil, dimana disana hanya sepi dan iblis iblis yang menyiksa yang tinggal.

Lupakan tentang bentuk penjelasan. Rasanya itu tidak lagi diperrlukan sebagai bekal perjalanan menuju depan. Cukup membawa luka hati sebagai kenangan.
Gempol 091220

Saturday, December 19, 2009

Definisi Cembokur

Ada satu syair lagu Kangen Band yang memprovokasi hati untuk berprasangka sekehendaknya, seperti keinginan seorang maha raja yang bisa menentukan apa saja. Prasangka atas pasangan hati yang kemungkinan dengan sadar telah melakukan sesuatu yang menyakiti, atau cenderung menghianati komitmen batin yang tidak pernah diucapkan lewat mulut dengan kata kata. Prasangka itu bernama rasa cemburu. Cemburu timbul karena kekhawatiran berlebihan, dan kekhawatiran terkadang bisa membutakan bahkan membunuh. Rasa cemburu itu ibaratnya berjalan dengan telanjang kaki didalam gelap gulita, melintas di lautan beling. Segala hal yang datang dari pikiran yang bersinggungan dengan rasa cemburu akan menimbulkan kesakitan amat pribadi, yang hanya bisa dirasakan sendiri tanpa harus mengalami gejala. Sakitnyapun luar biasa perih terasa.

Pengalaman empiris terkadang menjadi batu pengasah bagi insting seseorang, insting yang terbentuk dari kejadian kejadian dimasa sebelumnya. Namanya insting, ia memberi sinyal pertanda, firasat, atau rambu alert apabila sesuatu hal terasa ganjil dan patut didapatkan klarifikasi supaya ada jawaban atas pertanyaan yang hanya berputar putar didalam fikiran, tanpa menemukan jawaban. Pertanyaan pertanyaan yang lahir dari rahim kecemburuan tidak ubahnya darah panas yang bersirkulasi keseluruh jalinan tubuh, mempengaruhi sistem kerja syaraf dan otak. Pandangan, pendengaran, perasaan, semuanya campur aduk saling berkonflik memporak porandakan ketenangan fikiran menjelang akhir minggu yang panjang menyenangkan. Dan semua bersumber dari komunikasi yang kacau balau, meskipun seribu media sudah dipakai sebagai penyampai pesan. Akal sehat tidak sanggup lagi melakukan kompromi terhadap hati yang terlanjur terbakar cemburu. Jawaban jawabanya justru menganak pinakkan pikiran macam macam, yang lalu berfermentasi jadi prasangka subyektif; kebohongan sedang terjadi, dan diri siap untuk menjadi korban!

Ketika api prasangka membara dan membabi buta, maka kerugian immaterial yang ditanggungkan sungguh tidak kira kira. Ia seperti virus yang menggerogoti ketegaran gunung dan mencemari ketenangan samudera. Orang lebih sering menamakannya cemburu buta, rasa buruk yang timbul dari hanya bongkahan bongkahan prasangka yang kemudian menjadi penghalang pandang terhadap nilai nilai kearifan. Kebenaran menjadi sumir karena semakin meragukannya argumentasi yang disampaikan. Segalanya serba menyakitkan, sebab si pencemburu buta tidak melihat cahaya yang bisa mencerahkan seperti apa wujud setan prasangka itu yang sebenarnya. Dan karena ketidak tahuan wujud yang sebenarnya itulah maka amukanya semakin memerihkan tulang belulang dan persendian, terasa sampai ke sumsusm, otak, jantung, sampai ke pencernaan. Pasir beling yang mengalir di dalam pembuluh darah!

Pemadam dan peredup gejolak itu hanyalah pengakuan yang dapat dirangkai dengan sederhana sebagai kebenaran. Rangkaian fakta, kronologi, apalagi bukti yang menuju satusatunya kesimpulan tak terbantahkan bahwa setiap keganjilan yang membutakan hati itu hanya prasangka yang tidak beralasan. Sebuah hubungan antar manusia yang melibatkan hati pasti berisi pula rempah bernama cemburu. Kepercayaan kepada orang lain tidak bisa 100%, sebab kepercayaan yang terlalu banyak terkadang juga menimbulkan impact yang lebih parah apabila kepercayaan itu disalah gunakan untuk menusuk dari belakang. Itu namanya pelecehan terhadap intelegensia, penghinaan terhadap niat baik yang sederhana.

Hal baik dari cemburu adalah dia adalah pengejawantahan dari rasa untuk tidak diperlakukan tidak adil oleh pasangan hati. Cemburu adalah insting paling dasar, sebuah cara hati untuk melindungi diri dari kesakitan yang bisa mengakibatkan pembusukan. Sayangnya, terkadang ekspresi cemburu sering diartikan sebagai sikap kekanak kanakan yang tidak beralasan. Seperti halnya pameo yang mengatakan ’Bertanyalah! Sebab tidak ada pertanyaan yang dianggap sebagai pertanyaan bodoh’. Hanya kadang kadang pameo itu dipatahkan hanya oleh sebuah jawaban yang bodoh atas pertanyaan yang sederhana. Cemburu pada orang dewasa sama saja cemburu pada anak anak. Kedua duanya adalah proses alamiah batin untuk melindungi hati dengan menggunakan logika logika berpikir yang sederhana. Maka tidak ada namanya cemburu itu sikap kekanak kanakan. Penjelasan yang tidak berlebihan dan dapat diterima oleh akal sehat sebagai kejadian diluar rencana, atau sebagai hal yang bukan karangan indah penghibur hati buta yang disampaikan dengan cara komunikasi yang baik dan benar, (artinya adalah bertukar pesan untuk menyampaikan maksud atau dan mengabarkan berita), adalah cara paling baik untuk mecegah terjadinya bahaya cembru itu.

Maka berdasarkan penyesalan dan pengalaman, jika sebuah kebohongan besar telah dimanipulasi sedemikian rupa menjadi cerita karangan yang tidak masuk akal layaknya sinetron, akan lebih aman dan bijak apabila berhenti sejenak, mendefinisikan ulang semua ke dalam konsep awal sebuah hubungan. Supaya tidak ada yang harus merasa teraskiti apalagi menjadi korban, jika memang sebuah hubungan harus berakhir tiba tiba.

Bambuapus – OPP 091218

Tuesday, December 08, 2009

Sketsa Rumah Kayu

Rumah itu bertiang kayu jati yang keras bagaikan besi, berwarna kemerahan tanda usia tua yang menjamin kekuatannya; menyangga seluruh konstruksi bangunan agar tetap kukuh ikut berdiri. Tugasnya memang menggendong sang rumah dan seluruh partikel bangunannya. Empat soko guru tiang jati menjadi kerangka dasar yang mengawali keindahan, keanggunan, kegagahan dan kesejukan bangunan yang disebut sebagai rumah, tempat segala urusan bermuara! Dindingnyapun kayu jati, tidak banyak warna dari bahan kimia sebab warna dan corak papan kayu sendiri sudah memiliki lukisan alami seindah pamor di bilah keris. Keindahan yang mengandung begitu banyak makna serta tulada sifat mulia manusia. Sebuah pelajaran agung bagaimana menempatkan diri sebagai manusia di dalam pergaulan sebagai dunia serta berbakti kepada Gusti. Garis garis usia pada bilah papan kayu, perubahan tekstur warna yang disebabkan oleh ramah atau ganasnya musim yang telah dilewati sang pohon, berisi tentang kisah kisah kebijaksanaan alam yang pemurah. Seluruh lantai terbuat dari parkel berbagai jenis kayu dengan bentuk dan perpaduan warna yang serasi, membuat lantai bukan hanya indah, tetapi selalu bersih dari debu demi menjaga keindahannya tetap pada kondisi utama. Lantai itu ternaungi ternaungi oleh atap genting tanah liat yang sudah berubah warna menjadi hitam dari merah menyala ketika barunya, warna hitam yang didapat dari semacam lumut yang mengering dipanggang kemarau. Rumah kayu, bertiang kayu, berdinding kayu dan berlantai kayu.

Lembabnya angin gunung telah mematikan debu, menggantikannya dengan hawa dingin yang terkadang seperti menusuk tulang iga dan tulang belakang juga. Amat jarang terdengar suara mesin meskipun akhir akhir ini semakin banyak sepeda motor melewati jalan makadam depan rumah, yang terkadang begitu mengherankan karena suaranya yang terlalu keras dan parau ditelinga tua. Tetapi rumah kayu ini harus hanya berisi kedamaian dan kebahagiaan tenanan. Kebencian tidak boleh tinggal dan tumbuh dirumah kayu. Dan untuk damai dan bahagia seperti dimaksudkan, mutlak harus mematikan segala pikiran negatif dan mengekspresikan ketidak sukaan. Dunia batin yang damai tidak berisi konflik maupun keluhan, melainkan hanya melulu berisi rasa syukur dan menyukai segala kejadian. Rasa syukur karena telah diberikan anugerah kehidupan berupa masa muda yang tertinggal di makam masalalu. Masa muda yang mati meninggalkan begitu banyak pelajaran hidup. Dikelilingi megahnya lereng bukit yang seolah dijaga oleh gunung menjulang berwarna hitam keabu abuan, rumah kayu adalah tempat tetirah dan ngitung mongso, menyimpulkan banyak kejadian dan pengalaman dalam tulisan yang memuliakan kehidupan serta memberikan wewaler bagi anak keturunan.

Di belakang rumah kayu seteleh melewati jurang kecil, tepi danau membentang tempat bertemunya dua anak sungai yang selalu mengalirkan air dari lereng gunung. Kehidupan dunia air berjalan dengan tenang tenang, selama manusia meniru cara pohon dalam konsep ekspansi material; makan sesuai kebutuhan. Memandangnya dari beranda kayu, memompakan kisah kisah klasik perjalanan kehidupan. Rumah yang dikelilingi oleh bermacam vegetasi budidaya maupun alami, selalu menghadirkan drama drama percintaan di masa muda. Orang orang datang dalam ingatan, menyajikan cerita mereka masing masing yang begitu mempesona saking indahnya. Setiap orang yang pernah hadir dan tinggal dalam hati ternyata diliputi oleh cerita kebahagiaan yang demikian indah. Sedangkan kenangan getir terpupuskan oleh damai yang selalu melingkupi hati. Kesedihan masa lalu terkenang tinggal sebagai bangkai ingatan, sudah terjadi dan sanggup untuk dilalui. Dan hidup akan terus memproduksi masalalu, yang ditentukan oleh sikap dan tindakan serta cara berpikir sendiri. Memang ternyata semua orang harus otodidak untuk menjadi tua.

Pekarangan yang tidak begitu luas yang mengitari rumah kayu ditanami pepohonan yang menyajikan bermacam macam buah secara begantian di setiap musimnya. Hampir setiap jenis buah yang bisa tumbuh dan berkembang di tanah kaki perbukitan itu ada di pekarangan. Diujung sisi kanan rumah, sebuah pohon sawo tumbuh paling kekar dan dominan diantara pohon pohon lainnya. Diantara batang pohonnya yang membelah bercabang cabang, tiga meter dari permukaan tanah gundul dimana akar kekarnya menancap sampai ke punggung bumi, sebuah rumah pohon dibangun berukuran dua kali tiga meter. Tak perlu tangga untuk mencapai dalamnya, sebab cabang pohon sawo memberikan bentuknya sebagai panjatan mudah. Duduk dibibir rumah pohon, kaki menjuntai memandang kebun sayur dan buah begitu menenangkan hati. Sekarang baru tersadar, kenapa pagi selalu datang dengan segalanya yang terkesan besih. Udaranya bersih sinar mataharinya bersih, dunia begitu segar, seperti lahan yang siap untuk garapan. Ketika pagi yang bersih terjadi di perkotaan, maka manusia penghuninya mengotorinya dengan pikiran sendiri. Semestinya bersihnya pagi bermakan kesempatan baru untuk membuat kebaikan di segala bidang. Dan orang kota yang serba tergesa gesa cenderung menggerutu ketika pagi tiba. Mereka juga cenderung menjadi manusia yang pemarah. Di kaki bukit ini, di rumah kayu ini, datangnya pagi selalu bermaka sebagai anugerah baru, yang menyenangkan. Tidak ada perasaan damai melebihi datangnya pagi, sebab pada hari baru yang datang, akan datang pula bersamanya harapan harapan baru, benih benih baru tumbuh, buah dan sayur yang telah masak untuk dipetik, tinggi bayi pohon yang bertambah satu senti dan banyak hal lagi yang benar benar menunjukkan keajaiban alam raya.

Di rumah kayu, nostalgia dan kenangan petualangan masa mudah mengendap bermuara di palung ingatan…

To be continued

Bambuapus - 091208

Thursday, December 03, 2009

Wetboek van Strafrecht

Bahasa Belanda yang susah diucapkan dengan lidah Indonesia yang menjadi judul tulisan ini artinya dalam bahasa indonesia sangat tegas; Kitab Undang Undang Hukum Pidana. Jadi berisi tata aturan yang secara eksplisit menjelaskan jika sebuah perbuatan melawan apa yang diamanatkan sang kitab, maka didalamnya juga diatur lebih eksplisit mengenai konskwensi yang diancamkan kepada pelaku pelanggaran yang secara umum ganjarannya adalah penjara. Penjara sendiri berasal dari kata ‘pen-jera’, suatu alat yang diharapkan akan bisa membuat orang terdampak efek jera berbuat melawan hukum. Maka sifat penjara dimanapun dimuka bumi ini sebenarnya adalah sudut paling suram bagi kemuliaan manusia dalam menjalani hidup di negeri yang merdeka dan bardaulat. Dan Wetboek van Stracfech memiliki kuasa absolut untuk memaksa setiap warga negara untuk tunduk mematuhinya sebagai aturan pelindung hak privacy tiap warga negara.

Dan KUHP hari ini di negeriku tercinta laksana pilar tua yang menjadi suar bagi benar dan salahnya sebuah perbuatan yang melibatkan orang lain. KUHP juga adalah pedang tajam yang maha dahsyat, yang bisa mendatangkan celaka luar biasa hebatnya bagi yang mengalaminya; bersinggungan dengan konskwensi dari perbuatan melawan hukum pidana! Supaya orang tidak bersinggungan dan kemudian masuk dalam golongan orang yang didefinisikan sebagai kriminal, maka KUHP disosialisasikan ke semua orang yang tinggal di negeri ini melalui seni cetak yang pekoleh pula. Hanya saja, kitab penting itu jarang dipahami orang, apalagi dibaca dan dijadikan rambu perilaku bagi tiap individu. Padahal hakikatnya KUHP dimaksudkan sebagai induk peraturan hukum pidana positif, KUHP untuk melindungi nilai nilai positif yang berlaku dalam hidup berpergaulan.

Maka, ketika nama Mbah Minah, Besar dan Kholil, Romin dan Yanto, Manisih dan Suratmi atau nama nama lainnya yang didakwa dan terbukti melawan apa yang diamanatkan oleh KUHP, nurani siapapun akan terhenyak dan protes diam diam. Mereka, yang oleh nilai material dan latar belakang perbuatanya secara manusiawi tidak pantas untuk dilakukan proses peradilan pidana, terkalahkan oleh cadas dan perkasanya KUHP. Sebagian kita lebih cenderung melimpahkan pikiran negatif kita kepada para penegak hukum pelaksana KUHP, yang seolah olah telah mengabaikan hati nurani dengan menjatuhkan sanksi pidana kepada si lemah yang terdakwa. Menganggap salah pejabat pemangku tegaknya hukum lebih mudah karena yang menjadi ukuran penilaian hanyalah prasangka semata, apriori semata.

Toh KUHP yang disokong oleh KUHAP juga memberikan kesempatan seluas luasnya bagi siapapaun yang disangka atau didakwa melakukan pelanggaran pidana untuk mempersiapkan pembelaan diri sebaik baiknya. Dan ketika para pencuri kelas teri itu oleh hakim di pengadilan dinyatakan terbukti secara sah melakukan perbuatan melawan hukum yaitu melanggar salah satu pasal dalam BAB XXII Kitab Undang Undang Hukum Pidana tentang pencurian, maka ganjarannyapun didasarkan dari bab dan pasal yang sama juga. Vonis hakim sebagai penentu status seseorang sebagai kriminal atau bukan penjahat sangat ditentukan oleh faktualnya alat bukti dan pernyataan saksi saksi yang dipaparkan di dalam ruang persidangan oleh dua pihak yang berperkara; korban dan terdakwa, penuntut dan pembela. Dan pencuri tiga buah kakao, sebutir buah semangka, sekilo getah karet ,beberapa buah randu, beberapa batang rokok atau benda sekecil apapun tetaplah dikategorikan sebagai pencuri dalam definisi hukum seperti yang ditulis dengan tegas dalam pasal 362 KUHP yang berbunyi: “ Barang siapa mengambil barang sesutu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.”

Efek sosiologis dari saklek-nya penegakan hukum sebenarnya menempatkan para aparat penegak hukum (yang tidak korup – pasti masih ada) berada dalam posisi yang ambigius sekaligus rapuh. Mereka harus berdiri tegak sebagai wali hukum sementara nurani sendiri tertikam perih oleh kenyataan pilu, bahwa hukum tidak boleh pandang bulu. Maka kita tidak pantas menumpahkan pikiran negatif kita kepada para aparat penegak hukum (yang tidak korup – pasti masih ada) karena mereka memang kita beri kehormatan untuk mengawal berjalannya hukum demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Zaman melaju pesat, kehidupan bergerak cepat, keadaan berubah laksana kilat, sedangkan KUHP tetap berdiri tegak dengan konstruksi kunonya. Barangkali memang sudah waktunya para pintar negeri ini untuk menyusun rencana renovasi pilar hukum di negeri indah makmur ini agar dapat menjadi payung pelindung dan wadah penampung bagi kemanusiaan yang adil dan beradab dan sanggup mengakomodir keseimbangan antara faktor sosial, tradisi, budaya serta segala perbedaan umum masyarakat kita.

Sementara kita menunggu para pintar negeri ini sadar, saya hendak menghimbau kepada saudara; janganlah saudara melanggar hukum, janganlah saudara menjadi maling!

Bambuapus - 091203

Friday, November 20, 2009

Rafflesia

Langit Bali biru bersih seolah lahir kembar dengan biru laut dari kejauhan pantai, disinari penuh oleh matahari yang panas mengangas terang benderang. Derai tawa bercumbu debur ombak menyatu dalam otak dari kejauhan jarak pandangan; lantai tiga hotel bintang lima.

Musim telah menenggelamkan pengetahuan di kedalaman lumpur waktu, meninggalkan kejadian masa lalu sebagai cerita bisu. Dan catatan seribu tahun yang telah tanggal terkoyak oleh datangnya kisah yang menggebu. Jalan batin setapak dimana dulu kita bertemu, telah bercabang seribu lalu menyisakan jaring jaring kenyataan, pagar pelarang bagi asmara yang membuncah bagai bunga Rafflesia Arnoldi (Patma Raksasa) yang tumbuh di belantara tak bertuan. Kehidupan yang tiba tiba menyeruak dari ketiadaan panjang. Membuat seolah olah kita terputuskan oleh kisah yang tak sempat kita selesaikan, ketika semuanya bermula dari dialog bisu di dalam diary berwarna biru.

Pertemuan seolah menuntun langkah menyusuri pantai, mengeja jejak masa lalu yang sebagian besar telah lenyap tersapu ombak peradaban. Dan jejak itu kita temukan hanya dalam angan angan sebab kaki kita tak menapak di lembutnya pasir pantai kehidupan, tempat segala batas dan kisah kisah perantauan terhempas lunas. Semuanya mati, semuanya baru. Dunia bisa menjadi sangat aneh, dimana sikap malu malu membungkus perasaan senang bukan kepalang. Kisah kehidupan yang sepakat kita jalani ini memang penuh keajaiban, misalnya kita yang dipertemukan setelah menjadi bukan gadis dan bujang lagi.

Mungkin kita selayaknya menghormat tunduk kepada masa lalu sebab ia adalah kesaksian atas utas jatah hidup yang terurai panjang dan bersimpul ketika kita dipertemukan lagi. Tetapi masalalu dan kekinian yang kia jalanipun mengandung anomali yang tak terbantahkan; perbedaan atas kenyataan yang ada. Menggambarkannya mungkin seperti hamparan keajaiban di jarak pandang dari lantai tiga ke arah lautan, menembus pantai Kuta dimana biru langit berkawin dengan biru lautan. Mereka berdua tak bersentuhan di keagungan semesta ini, tetapi mereka berdua ada dan memiliki arah asal kedatangannya masing masing.

Jika perasaan adalah sesuatu yang hidup dan menciptakan kehidupan, mungkin kita biarkan menjadi seperti Rafflesia Arnoldi yang menyeruak tiba tiba dari perut bumi tanpa bentuk pohon tertentu, lalu hidup untuk 5 – 7 hari, setelah itu layu dan mati dan sirna kembali ditelan bumi. Ia tak berbatang, tak berdaun dan hanya tumbuh dari menghisap unsur organik dan anorganik dari tanaman inang. Seluruh jaringan yang membentuk kelopak bunga Patma Raksasa tak memiliki bentuk konstruksi batang tubuhnya, apalagi masa lalunya. Tetapi Rafflesia tetap akan hidup dan ada ditimbunan bumi, untuk suatu hari nanti menggemparkan isi dunia dengan kemunculan kelopanya yang raksasa secara tiba tiba; laksana nostalgia cinta yang sekonyong konyong membuncah seolah nyata di hati manusia.
Ah, dunia memang dipenuhi dengan keajaiban....



Legian, 091119

Tuesday, November 10, 2009

Republik Sinetron

Ini hanya kabarnya;
Di republik ini bermacam tata tertib diterbitkan, untuk menjadi pagar yang melindungi kepentingan umum dan pribadi yang disepakati berdasarkan rasa adil. Sebagai republik yang demokrasi, orang orang yang duduk di management pemerintahan, abdi negara pelaksana konstitusi dipilih seolah olah atas kehendak rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Mereka dititipi amanah oleh rakyat untuk menjadi pamong yang pembimbing dan pelindung. Hukum didasarkan atas keadilan, sebab keadilan adalah hal yang tidak bisa dirubah sebagai manifestasi suatu kebenaran hakiki. Keadilan tidak pernah bisa diperjual belikan, tetapi pengadilanlah yang bisa diperdagangkan, dilelang, di obral, atau dijajakan. Dan ketika boss boss besar ‘penguasa’ keadilan saling bertengkar membenarkan diri sendiri, maka rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi - ditulis sekali lagi – disuguhi tontonan seru menyerupai sinetron (tayangan jelek menyerupai sandiwara yang ditayangkan banyak stasiun tivi dari pagi sampai malam hari). Sinetron di tivi menghipnotis penontonya, melupakan kesulitan hidup dan kecutnya harapan dengan kehidupan utopis tapi penuh konflik, intrik dan segala sesuatu yang jauh dari kewajaran, apalagi masuk akal.

Ketika boss boss bertengkar menyemburkan ludah yang berhamburan ke wajah rakyat (apalagi rakyat jelata; kalau masih ada!), maka saling tuding dan saling bantah, saling tuduh dan saling sanggahpun tak urung memunculkan banyak nama pemeran kebobrokan lawan masing masing, dan untungnya semuanya dari kalangan boss boss. Tidak ada kalangan rakyat jelata yang terlibat langsung di skenario setengah jadi yang di ekspose oleh Mahkamah Konstitusi, lewat rekaman pembicaraan telepon yang direkam tanpa sepengetahuan si penelpon dan si penerima telpon. Siapapun tahu, pengadilan dan peradilan adalah komiditas dagang, mulai dari level kecamatan sampai kemana mana. Sebuah kebohongan dapat diubah menjadi fakta hukum yang memvonis, dan uang bicara banyak tentang justifikasi keadilan. Kekuasaan adalah magnet bagi uang, dan pamong juga manusia yang bisa mengkonsumsi uang tanpa batas jumlah tertentu. Bossnya KPK, bossnya Polisi, bossnya Jaksa dan sindikat perkoncoannya saat ini sedang menunjukkan kepada rakyat betapa dahsyatnya kekuatan magnet itu kepada rakyat (terutama rakyat jelata – ditulis 2x) .

Ketiga institusi kepunyaan rakyat yang didaulat untuk mengawal tegaknya hukum yang adil bagi rakyat itu sedang congkrah hanya oleh hasutan kakak beradik Anggoro dan Anggodo; yang kaya uang tapi tidak terlalu berkuasa, dan lalu menitipkan kekuasaan kepada segepok uang; dan berhasil. Konon, uang pulalah yang punya kekuatan memutar balikkan fakta, membenarkan dusta dan mendustakan kesejatian. Ukuranya hanya moral, dan moralitas adalah hal paling rahasia yang dimiliki setiap orang. Tetapi boss ketiga institusi itu sepakat untuk menghipnotis rakyat dengan lakon yang dikarang masing masing, lakon realitas yang disajikan oleh pers ke mata, kuping dan pikiran rakyat (termasuk rakyat jelata – kemungkinan kata rakyat jelata adalah sebuah frase untuk menggambarkan golongan kelas masyarakat yang seolah olah melata karena miskin, susah hidupnya; wong cilik kata Ivan).

Rasanya sinetron di republik ini tidak cukup hanya ada di tivi tivi. Kisah klasik permainan kekuasaan ketiga institusi itu sendiri adalah sinetron, sebuah tontonan jelek menyerupai sandiwara. Sikap dan perkataan para pejabat menjadi dialog yang berisi kebohongan kebohongan baru yang dipaksaakan untuk diterima sebagai sebuah ’yang paling benar’. Rakyat disuguhi terlalu banyak kebohongan, yang akan mampu meracuni kepercayaan yang diamanahkan. Jika sudah demikian, maka yang dapat rakyat lebih percayai adalah opini publik yang dibentuk oleh media massa. Keadilan hukum akan dilandaskan pada opini dan empati semata, mengabaikan aturan tata tertib apalagi guna kekuasaan.

Lembaga lembaga peradilan yang notabene lembaga kepunyaan rakyat harusnya bersih dari orang orang bermoral bejat. Sebab jika hukum dan rasa adil dipercayakan kepada lembaga yang dikelola oleh orang orang bejat, sifat dan istilah ”adil demi hukum” hanya tinggal slogan kosong pematut prestise. Ditangan para bejat, lembaga lembaga peradilan dapat difungsikan sebagai legitimasi penindasan dan pemerasan, oleh pamong kepada kawula. Sebuah kebenaran yang hakiki hanya Tuhan yang mengetahui. Sedangkan sebuah kebenaran dari aspek hukum adalah fakta yang didukung oleh alat alat bukti dan saksi saksi. Dan di Republik Sinetron, hal paling mendasar soal syarat sebuah sangkaan hukum itu tidak lagi dihormati. Meskipun republik ini punya begitu banyak alat dan tempat untuk menjalankan proses hukum tetapi polemik kasus Polisi, KPK, Kejagung dan Anggodo – Anggoro cs dibiarkan menjadi gumpalan gumpalan opini liar yang tidak kondusif. Proses peradilan hukum sudah dibuat sedemikian detail oleh para pendahulu kita sebagai satu satunya jalur yang harus ditaati oleh segenap rakyat dan juga rakyat yang pejabat.

Mumpung hari ini adalah peringatan hari pahlawan, maka mari kita buat bangga para pahlawan kita dengan berlaku adil dan benar, sebab hanya kebenaran dan keadilan yang diperjuangkan oleh para pahlawan. Dengan demikian, kita akan selalu menghormati jasa para pahlawan kita; mereka yang saat ini menangis prihatin menyaksikan prahara peradilan di Republik Sinetron.

Surabaya - 091110

Saturday, October 17, 2009

Surga Dunia



: sebuah pendapat pribadi atas pertanyaan DK

Surga dunia adalah ungkapan dari perasaan bahagia yang memenuhi rongga jiwa, tidak menyisakan kecemasan apapun dalam pikiran. Jikapun ada ketidak sesuaian, kebahagiaan mampu menjustifikasinya sebagai hal yang bisa diterima terjadi dalam hidup. Kebahagiaan adalah ketika kita bisa menerima dan berkompromi dengan hal negative; yang tidak membahagiakan. Hidup yang penuh rasa syukur, mengukur segala yang didapat dan dijalani serba lebih baik dari apa yang pernah diharapkan, bahwa Tuhan selama ini selalu menguatkan, menemani, memanjakan dan sekaligus menguasai. Hal hal sederhana menjadi begitu sempurna jika hati sedang berbahagia. Ibarat kata, air minum tawarpun menjadi manis rasanya. Surga tidak bisa diperjual belikan, demikian juga kebahagiaan hidup di dunia tidak dapat dipertukarkan dengan apapun. Hidup tidak menyediakan kebahagiaan untuk dipertukarkan dengan apapun, sebab kebahagiaan merupakan hak hakiki dari setiap mahluk hidup, itu anugerah gratis dari Tuhan.

Sayangnya, kebahagiaan terkadang tidak datang menghampiri kita, melainkan kita kitalah yang harus memburu dan berupaya mengadakannya dengan barbagai cara. Status bahagia bisa lahir dari terciptanya rasa aman diri dari ancaman kecemasan atas apapun. Rasa aman menciptakan keikhlasan, dan keikhlasanlah pangkal dari semua kebijakan kebahagiaan. Orang yang bahagia adalah mereka yang mampu melepaskan pikiran yang dibuatnya seendiri. Pikiran yang dibuat sendiri selalu berunsur nafsu, nyanyian setan yang sanggup menghipnotis seseorang menjadi jahat bahkan menjadi setan. Itupun sifat manusiawi. Ketika nafsu nafsu egosentris dapat ditolerir dan dibungkam, maka ketika itulah proses kelahiran sebuah surga dunia berawal.

Ketika kita jatuh cinta, kita seperti berada dalam surga dunia karena dunia dipenuhi segala keindahan perasaan yang sangat pribadi. Terkadang kita lupa bahwa keindahan itu lahir dari kebahagiaan hati yang penuh. Surga duniapun hanya idiom, sebuah sanepa, dan segala sesuatu yang terjadi dialam dunia tidaklah akan berlangsung lama. Semuanya berawal dari satu titik dan berakhir di satu titik lainnya. Melintas begitu saja, membentuk garis sejarah peradaban manusia. Antara surga dunia dan malapetaka (bukan neraka dunia) hanya dibatasi garis tipis dan rapuh yang sangat rentan akan kepunahan. Seperti hal setiap hal dalam hidup dibedakan menjadi dua, layaknya siang dan malam, hitam dan putih, lelaki dan perempuan dan seterusnya; surga duniapun memiliki antagoni. Selalu digolongkan sebagai sebuah malapetaka saja ketika dinding kebahagiaan pecah, bocor. Keadaan sebaliknya dari sifat sifat kebahagiaan umpamanya kecemasan, ketakutan, kekhawatitran, dan kebencian. Sungguh kita layak turut prihatin kepada saudara saudara kita yang mengalami salah satu atau lebih dari segala sifat malapetaka itu.

Materi memberi andil bagi terbentuknya surga dunia. Materi adalah logistik yang menyokong sedikit saja letak kebahagiaan. Bukan hal mutlak. Manusia, orang lain, individu lain adalah mahluk yang dapat menghadirkan kebahagiaan penuh alias surga dunia. Bebas dari semua rasa negatif terhadap seseorang, berarti cinta telah mengambil alih perannya. Rasa cinta kepada seseorang sungguh membahagiakan, dan rasa dicintai oleh orang yang kita cintai memperpanjang kebahagiaan itu, dan berjalan bersama dengan orang yang kita cintai dan dia mencintai kita menyempurnakanya. Tidak ada hal yang patut menjadi penghalang ketika cinta menafikan segala bentuk perbedaan menjadi sesuatu yang melengkapkan. Terkadang keadaan seperti itu justru membuat telapak kaki kita menjadi serasaa tidak menyentuh tanah kenyataan yang akibatnya mata logika kita dibutakan oleh gambar gambar yang berlebihan sempurnanya.

Rasanya kurang pas menyebut keadaan utopis itu sebagai surga dunia. Akan lebih pantas disebut sebagai sebuah dunia tak bertuan dimana dua orang yang berbeda sama sekali segala sesuatunya - kecuali satu kenyataan persamaan bahwa keduanya adalah manusia -menemukan kebebasanya, rasa amannya untuk mengekspresikan diri sebagai manusia sepenuhnya, sebagai binatang yang paling sempurna. Senyawa dua manusia di dunia tak bertuan sering pula disalah artikan sebagai inti dari surga dunia. Padahal, proses alami menyatunya dua perbedaan dalam penghamburan rasa yang saling membahagiakan hanyalah bagian kecil dari inti rasa surga dunia, eh dunia tak bertuan.


Bambuapus 091017

Friday, October 09, 2009

Déjà vu

Langit baru saja menutup tirai di cakrawala, menyembunyikan bumi dari pancaran matahari. Gelap merambati hamparan pasir putih diantara onggokan onggokan canang, dan pasangan pasangan masyuk dalam buaian alam. Semburat jingga yang tinggal sisa sisa perlahan menguap, hilang bersama terang, giliran malam menjaga bumi dengan selimut hitam, meninggalkan gemuruh debur ombak yang tak lelah maka tak berhenti henti. Lampu lampu dari kejauhan menjadi pagar cahaya yang membatasi permukaan air tempat mahluk laut hidup, dengan daratan tempat ribuan manusia berjejal dalam peradaban dan kemartabatan. Senja turun dengan sempurna di pantai Kuta hari ini.

Langit diatas laut masih sama seperti langit enambelas tahun silam. Lautnya juga masih laut yang sama, dengan pantainya yang tidak berubah sejak enambelas tahun lalu. Kesendirian menenggelamkan diri dalam ingatan tentang sepotong sejarah yang tidak tercatat, yang hidup dalam darah dan mengisi ingatan sampai sekarang. Yang membedakan semua keadaan dalam hidup kita sebenarnya adalah pikiran kita sendiri. Pengalaman sepanjang riwayat perjalanan tentu akan membentuk pandangan pandangan baru tentang makna setiap peristiwa, menjadikan pribadi lebih matang dan juga menjadikan raga semakin berkurang fungsinya. Sang waktu hanya menjalankan tugasnya; memberi anugerah cuma cuma pada setiap detiknya. Sedangkan segala mahluk yang hidup hanyalah pejalan yang melintasinya dunia fana. Tanah yang purba menjadi semakin tua.

Kota ini, secuil tanah Australia ini, dalam timbunan tanah dan kotorannya menyimpan catatan yang tertulis diatas batu pengalaman. Pandangan mata yang baru terbuka menakjubi setiap apapun yang dilihat dalam dimensi warna yang sangat sederhana. Sedangkan segala urusan nasib sungguh dipasrahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan takdir Tuhan. Romantisme masa muda berjalan dalam porsi cerita setiap hati, yang lalu terpatri abadi dalam ingatan. Lengan yang kokoh menafikan segala bentuk penghalang, menjadikannya musuh yang rantas sekali tebas. Kelaparan akan pengetahuan memompakan semangat baja menjadi tekad sebulat bola untuk bertahan dan mengecap nikmat setiap rasa hidup yang terjadi. Bertahan hidup sendiri dan jauh terpencil sungguh adalah guru kehidupan yang sejatinya. Keadaan itu akan membentuk pengertian pengertian yang kaya dengan ajaran ajaran mulia, pengetahuan lebih banyak tentang isi dunia. Barang siapa berjalan sendirian, maka ia akan menempuh jarak yang lebih jauh.

Enambelas tahun telah merubah hampir segalanya dalam kehidupan. Semua yang bernyawa, segala yang berbentuk berubah bentuk, segala yang berwajah berubah wajah. Tetapi tidak akan berubah, apa yang tertanam dan tumbuh diam diam dalam ingatan dari peristiwa enambelas tahun silam. Ia sudah tertanam oleh alam, hidup dengan diam diam dan berkembang dalam alam pikiran. Dimensi ruang, dimensi waktu telah merampas semua pengetahuan tentang aura kota ini. Setiap perubahan membutuhkan pengetahuan baru untuk dapat beradaptasi, dan enambelas tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubur banyak hal dengan kelupaan. Dan, Dhyanapura entah ada dimana.

Kuta hari ini menjadi lembaran peta baru yang mengurung setiap orang asing dengan deja vu yang menyesatkan, ketidak tahuan. Kuli kuli yang menggali parit panjang bakal menyembunyikan kabel telepon masih ada, dengan pacul dan peralatan pencari makan mereka, dengan pikiran dan cita cita serta kehidupan di kampung halaman mereka. Orang orang datang ke kota ini untuk prestise, gengsi, sekaligus bertamasya menyenangkan hati. Kesengajaan memanjakan kesenangan adalah budaya universal yang tertumpah di kota ini, maka segalanya bisa menjadi barang dagangan jika demikian adanya; demi menyenangkan hati para pelancong. Dan para kuli penggali tanah, tetap menempati kastanya dengan ikhlas, menyerahkan nasib kepada kebijaksanaan takdir.

Rumah atap sirap dengan gubuk kecil berdinding gedek ditengah sawah jauh dari tetangga, masihkah masa memeliharanya? Dan sepasang mata remaja dibawah rimbun pohon mangga, kemanakan waktu telah menyembunyikannya?


Seminyak – Kuta, 091008

Monday, September 07, 2009

Kontemplasi XXXIX

: terimakasih kepada mbak Ratih dan Neva yang menyemangati untuk menulis di blog lagi...

Kesunyian melahirkan cermin, dimana bayangan dan kenyataan menyetubuh tak terpisahkan satu sama lain. Batin yang lengang akan mampu menelanjangi dan menjelajahi setiap ukuran jarak, rahasia pribadi yang tersembunyi rapi dalam ingatan. Rahasia yang hanya berisi dua hal, kebohongan dan kebenaran yang ditemukan setelah melewati proses kejadian yang terkadang hampir mematikan keyakinan diri. Atau juga rahasia yang berisi segala bentuk keindahan, yang menjadi seakan sempura karena sifat rahasiannya.
Dan setiap manusia secara absolut memiliki rahasianya sendiri sendiri, tidak ada hal apapun yang bisa menggugat kemutlakan itu. Sesuatu yang hanya satu orang yang mengetahuinya; sang pemilik cerita. Sedangkan, satu satunya hal yang tidak bisa terbagi dengan kata kata atau peragaan adalah; pengalaman empiris. Segala peristiwa kejadian kehidupan yang melibatkan perasaan secara mendalam. Hanya itu rahasia yang tidak bisa terceritakan, sebab kosa kata yang ada tidak cukup pantas untuk menggubahnya dalam tulisan. Perasaan kita adalah istana rahasia yang absolut.


Memelihara dan mengelola rahasia agar tetap rapi bahkan indah bukan perkara mudah, sebab yang namanya rahasia, tentunya sangat berbahaya apabila oleh sebab kecerobohan ataupun kekurang penguasaan maksud, menjadi bukan rahasia lagi. Kita bisa kemudian menemukan alasan hakiki untuk menjadikan pengalaman masa lalu sebagai rahasia pribadi. Rahasia rahasia itulah yang akhirnya menjadi butir butir kristal, intisari perjalanan yang berisi catatan catatan kegagalan dan keberhasilan. Sebuah ajaran empiris yang kemudian membentuk sebuah individu. Kegagalan memberikan kita pelajaran, sedangkan keberhasilan menghasilkan motivasi.

Betapa agungnya hidup, yang setiap detik baru selalu menyajikan hal hal baru. Betapa maha pemurahnya Tuhan pemilik kehidupan ini kepada setiap individu di muka bumi. Dan pada setiap usia yang bertambah, maka bertambah pulalah kebijakan kebijakan nurani. Pengalaman mengajarkan segala hal bagi setiap individu. Penyesalan –yang dirahasiakan- sebenarnya adalah rambu pengingat supaya kita tidak melakukan hal yang menyebabkan kegagalan terulang kembali dalam bentuk yang mungkin berbeda sekalipun. Badan raga yang dirambati usiapun semakin berkurang efektifitasnya, aus digerus umur, melemah, sebagian patah bahkan musnah. Ketika badan tak lagi gagah, ketika kerja otak perlahan menumpul, ketika sebagian organ tubuh minta perhaian lebih, maka biarlah itu menjadi pertanda bahwa masa muda sudah berlalu menjauh. Memandang masa muda yang ditinggalkan seperti halnya memandangi sebuah bangunan yang disetiap sudut dindingnya penuh relief, hampir seluruhnya rahasia. Kenangan masa muda, pengembaraan dan hal hal tidak mudah yang dialami di waktu lampau menjadi batu monumen kebanggaan yang mengandung magnet untuk selalu dikenangkan. Maka segala yang pernah terjadi didalam perasaan di masalalu, semuanya tetap hidup di alam batin dan menjadi bagian sifat karakter setiap pribadi .


Dalam pendapat, pengetahuan merupakan simbol kekayaan pengalaman, lambang keunggulan dalam hal lomba beradaptasi dengan peradaban zaman. Nilai nilai tanggung jawab berubah, lebih berbobot dengan berbagai kondisi yang menurun fungsinya. Kekuatan masa muda dan energi yang dihasilkan tidak akan dapat mampu untuk dipertahankan. Jadi memang hidup harus berubah, berubah mengikuti pola zaman dan mengikuti pola usia. Dari pengalaman, maka akan didapati bahwa kemuliaan akal budi, kebijaksanaan hati dihasilkan oleh pengalaman pengalaman buruk masa lalu. Dan pada masa ini, nurani semakin menguatkan keyakinan bahwa nilai seseorang diukur dari kesanggupan dan kesetiaanya memikul tanggung jawab yang menyertainya sebagai mahluk sosial. Orang baik akan bijaksana dalam menjaga dan memelihara tanggung jawab terhadap apapun yang menjadi predikat dalam masa produktifnya. Sebab pada masa ini pandangan tentang kebaikan dan keburukan menjadi lebih kentara, menjadi antara hitam dan putih saja.


Segala yang hidup akan menghasilkan kehidupan, maka memang sudah menjadi kehendak alam juga jika kemudian muncul kehidupan baru sebagai cabang dari pokok pohon kehidupan kita. Manusia baru datang dan menjadi bagian dari hidup kita, manusia baru yang akan mencandikan masa silam dan mempengaruhi bentuk masadepan kita. Individu individu baru juga datang dan pergi, meninggalkan jejak rahasia dalam sejarah hati, mencoretkan catatan catatan tentang cinta dan tragedi.


Terimakasihku tak putus padamu Tuhan, atas hidup yang semakin mengagumkan untuk dijalani...


Bambuapus 090907

Sunday, June 14, 2009

Mengenal Iblis (2)


(diceritakan pada Sabtu, 14 Juni 2009)

Hatinya iblis, matanya iblis, pikiranya iblis, sikapnyapun juga iblis. Seluruh jalinan ruhnya mewakili semua sifat iblis yang tidak mengenal rasa kasihan maupun tatakrama kesopanan. Ia tidak punya ambisi kekuasaan, hanya nafsu menghancurkan yang ia turutkan, menghancurkan kebahagiaan, menghancurkan semesta isi kehidupan. Sebuah kehancuran yang menguntungkan bagi reputasinya sebagai penghancur kebahagiaan. Semua jenis kelicikan dan kecurangan ia kuasai, segala tehnik provokasi dan penghasutan ia mainkan dengan mahir.


Katanya, satu satunya yang unggul disetiap pertempuran antar manusia adalah iblis. Iblispun berhak berbahagia, mungkin ia mendapatkan kebahagiaanya dari mengeroposnya nilai kebaikan di hati setiap manusia. Katanya iblis pula yang membisik bisiki orang supaya berlaku jahat, dan juga menjerumuskan orang untuk mengambil keputusan yang menyesatkan. Dan, setiap keputusan yang kita buat menentukan apa yang akan kita jalani dalam hidup yang indah ini. Kegemaran juga bagi sang iblis untuk merekayasa sebuah keputusan menjadi sebuah penyesalan panjang.


Lalu, siapakah sebenarnya iblis ini? Apakah dia berujud atau hanya mitos belaka? Iblis tidak menyeramkan karena ia adalah sumber godaan dengan keindahan segala bentuk nafsu. Ia yang selalu mematut matut dirinya seolah barang pajangan pada sebuah pameran. Ia memiliki eksotisme luar biasa kuat dan kadang sanggup mematikan akal sehat. Jika divisualisasikan dengan binatang, mungkin hayalan ini yang paling mendekati; Macanan! Spesies laba laba tanah berukuran sebangsa lalat yang mencari mangsa tidak dengan jerat seperti moyang2nya, tetapi dengan melakukan pengintaian, penyergapan, pemerkosaan, pembunuhan lalu memakan korbannya. Dan korban favoritnya tentu saja; lalat. Itu keji namanya, dan iblis bisa beratus kali lebih keji daripada laba laba macanan. Tapi iblis bukan pula binatang, karena ia bisa menyerupai apa saja dalam kehidupan. Iblis bermain di alam fikiran kita sendiri, bergerak mengikuti dinamika emosi, dan selalu mencari celah untuk dapat mendobrak kemapanan dan stabilitas mental setiap orang. Kita semua memiliki dan membawanya dalam pikiran, karena iblis adalah pikiran kita sendiri sebenarnya, diri kita sendiri yang terbentuk dari susunan hawa nafsu. Iblis tak bisa mati, ia beranak pinak dan bersekolah didalam alam fikiran kita; binatang berakal yang paling sempurna di dunia ini.


Keragu raguan sering disimpulkan sebagai efek guncang dari benturan kepentingan antara kesadaran nurani dan godaan iblis. Hanya nurani (empati) saja yang sanggup menjadi lawan yang seimbang bagi sang iblis. Mengembalikan hati nurani kita kepada kesederhanaan dasar2 kebaikan bisa menjadikanya sebagai benteng yang kokoh dari rongrongan sang iblis. Belajar membiasakan diri dengan ketulus ikhlasan menerima setiap kejadian dan menebar cinta kasih tanpa prasangka adalah mantra yang bisa menjelma menjdi jari jari terali yang memenjarakan sang iblis di pengasingan sepinya. Semakin kuat iblis berpengaruh dalam otak kita, semakin jauh pula jarak tujuan yang menjadi akhir pencarian kita semua: kebahagiaan. Mengatasi iblis tidak perlu dengan konfrontasi karena itu permainan yang ia ciptakan, tetapi cukup dengan kompromi. Kompromi antara hati (nurani) dengan logika (otak), membagi rata ransum kebahagiaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Kepada kita semua. Sebab, semua mahluk punya caranya sendiri sendiri dalam mengupayakan kebahagiaan dan semua mahluk berhak serta semestinya berbahagia.

Termasuk iblis juga berhak bahagia!



Bambua Apus 130609