All of sudden I feel so lonely… Getir pengalaman mengajarkan untuk tidak menyesali dan apalagi mengutuki masalalu, sebab akan percuma saja hasilnya. Masa lalu itu hanya batu fosil bekas kehidupan dan masa depan adalah misteri permainan teka teki nasib. Tetapi tatapan mata dan senyummu meruntuhkan kokoh keyakinan itu. Ternyata kita telah berjalan menjauh untuk waktu yang sangat lama dari tempat dimana hati kita pertama bertemu, tempat dimana mata kita biasa bertatapan. Tempat dimana deburan hati seperti mempermainkan setiap cc darah yang terpompa liar setiap kali pertemuan.
Terlalu banyak kosa kata ‘if only’ berjubal di dalam kepala, menyembul tak beraturan menjadi ratapan terhadap ketidak bahagiaan dari sebelah badan. Ketiadaan yang datang justru dari cara yang kita pilih dan membuat kita tak lagi bersama dulu. Kesadaran selalu datang terlambat bersama penyesalan, betapa indah kehangatan yang tercipta dahulu, betapa jauh jarak telah kita tempuhi sepanjang jalan kita masing masing.
Ketika angin dingin yang kering membekukan tulang, sinar rembulan menyembunyikan debu dari pelataran kesunyian yang merajai hati. Menghadirkan keindahan atas kenangan masasilam; masa kanak kanak. Dulu kita sering membicarakan hal yang sama, tempat yang sama di awang awang sana. Masih ada rumah kayu dengan ladang di pekarangannya, dengan huma dibawah teduh pokok mangganya. Semua jadi gersang dengan ilalang disana sini. Rayap usia pun siap merubuhkan tiang tiangnya. Dan kebun strawberry hampir musnah dilindas musim, tinggal akar belukar tanpa dedaunan. Pemiliknya telah pergi lama, entah kapan kembali, atau mungkin hanya pemimpi yang menunggu ragu di sana
Renungan melahirkan kesadaran, barangkali memang hanya perbedaan harta diri sekarang. Hal hal yang dulu terlihat bersama tidak tampak lagi sebab kita ada di alam fikiran dan dua dunia yang berbeda. Angan akan terus menari dengan rasa sendiri. Dan jikapun indah tidak akan pernah kembali, tetaplah sama saja, kenangan tetap hidup dan menjadi bunga bagi langit hati disana…di tempat paling tersembunyi di muka bumi…
(Dan aku tinggal punya kenangan atasnya. Ya, aku sendiri, bukan untukmu karena engkau jauh terbang tinggi diantara sela warna pelangi. Aku tidak, aku tetap di bumiku, dengan debu dan matahariku …)
Ciracas, 070828
Siang. Matahari yang membakar bumi. Api yang maya menyambar kepala, menghanguskan segala pencapaian dan cita cita dalam bentuk amarah terpenjara yang sangat diam. Wajah menjadi panas, kata kata berjubal disela gigi. Seluruhnya kata kata makian atas kekecewaan terhadap diri sendiri. Seolah ingin menyembur keluar mewakili kemurkaan yang merajalela.







Betapa sederhananya sebuah kehidupan berproses mulai lahir, hidup lalu mati. Ya, begitu saja. Kemudian waktulah yang menjadi poros satu satunya perputaran dua titik antara lahir dan mati yang bernama hidup tersebut. Sang Waktu mengurai konskwensi logis dari sepotong sepotong kehidupan mikro dan menggumpal sangat besar menjadi keseluruhan berjalannya dunia fana yang ramai dan tumpah ruah dengan miliaran cerita. Sang Waktu terkesan mengendalikan semua alur cerita, padahal yang terjadi adalah waktu memberi peluang kepada setiap elemen hidup untuk merangkum segala lakon, hanya membiarkan berjalan tanpa kekang.
Ombak yang pasang bisa tampak jadi gelombang, sebagian bahkan terhayati sebagai badai dadakan. Kesurutannya akan mengagetkan siapapun sebab terkadang hidup seperti terasa di awang angan, tak mungkin kembali menginjak bumi.








(mantra jingga embun dan matahari)