Tuesday, August 28, 2007

Bediding

All of sudden I feel so lonely…
Tatapan mata yang terakhir membekas dalam ke selaput hati, sampai menghilangkan jeda seratus tahun perpisahan ketika kita harus terseret oleh arus kehidupan masing masing. Mata itu mengingatkan betapa pernah kita begitu bahagia dulu. Kesadaran mematikan bebunyian dalam rasa, menyadarkan diri betapa sepinya hati…

Getir pengalaman mengajarkan untuk tidak menyesali dan apalagi mengutuki masalalu, sebab akan percuma saja hasilnya. Masa lalu itu hanya batu fosil bekas kehidupan dan masa depan adalah misteri permainan teka teki nasib. Tetapi tatapan mata dan senyummu meruntuhkan kokoh keyakinan itu. Ternyata kita telah berjalan menjauh untuk waktu yang sangat lama dari tempat dimana hati kita pertama bertemu, tempat dimana mata kita biasa bertatapan. Tempat dimana deburan hati seperti mempermainkan setiap cc darah yang terpompa liar setiap kali pertemuan.

Terlalu banyak kosa kata ‘if only’ berjubal di dalam kepala, menyembul tak beraturan menjadi ratapan terhadap ketidak bahagiaan dari sebelah badan. Ketiadaan yang datang justru dari cara yang kita pilih dan membuat kita tak lagi bersama dulu. Kesadaran selalu datang terlambat bersama penyesalan, betapa indah kehangatan yang tercipta dahulu, betapa jauh jarak telah kita tempuhi sepanjang jalan kita masing masing.

Ketika angin dingin yang kering membekukan tulang, sinar rembulan menyembunyikan debu dari pelataran kesunyian yang merajai hati. Menghadirkan keindahan atas kenangan masasilam; masa kanak kanak. Dulu kita sering membicarakan hal yang sama, tempat yang sama di awang awang sana. Masih ada rumah kayu dengan ladang di pekarangannya, dengan huma dibawah teduh pokok mangganya. Semua jadi gersang dengan ilalang disana sini. Rayap usia pun siap merubuhkan tiang tiangnya. Dan kebun strawberry hampir musnah dilindas musim, tinggal akar belukar tanpa dedaunan. Pemiliknya telah pergi lama, entah kapan kembali, atau mungkin hanya pemimpi yang menunggu ragu di sana

Renungan melahirkan kesadaran, barangkali memang hanya perbedaan harta diri sekarang. Hal hal yang dulu terlihat bersama tidak tampak lagi sebab kita ada di alam fikiran dan dua dunia yang berbeda. Angan akan terus menari dengan rasa sendiri. Dan jikapun indah tidak akan pernah kembali, tetaplah sama saja, kenangan tetap hidup dan menjadi bunga bagi langit hati disana…di tempat paling tersembunyi di muka bumi…

(Dan aku tinggal punya kenangan atasnya. Ya, aku sendiri, bukan untukmu karena engkau jauh terbang tinggi diantara sela warna pelangi. Aku tidak, aku tetap di bumiku, dengan debu dan matahariku …)

Ciracas, 070828

Amarah

Siang. Matahari yang membakar bumi. Api yang maya menyambar kepala, menghanguskan segala pencapaian dan cita cita dalam bentuk amarah terpenjara yang sangat diam. Wajah menjadi panas, kata kata berjubal disela gigi. Seluruhnya kata kata makian atas kekecewaan terhadap diri sendiri. Seolah ingin menyembur keluar mewakili kemurkaan yang merajalela.

Semua orang pergi menjauh, pergi tertawa membawa suka citanya. Sebuah pesan terkirim bagaikan timpukan seember air cabai kemuka dan kepala. Menggeledah simpanan luka membiru yang selama ini tersembunyi rapi, pura pura mati. Tempat ini siang ini terbakar hangus jadi neraka, menyisakan abu dan jelaga, debu dan murka.
“Aku kesakitan...” bisik seonggok hati yang melelehkan nanah diam diam.

Dan segerombolan iblis menyeringai berkeliling, dengan segala hal yang tak pantas untuk diucapkan bahkan untuk diperlihatkan. Belatung dan beling dari masalalu menyembul menganiaya batin, membutakan matahari dan mematikan jalan fikiran. Sekeping demi sekeping pilar kemunduran yang pernah terpatahkan hanya dengan kompromi perlahan mengumpul menjadi kekuatan baru yang mengerikan. Menawarkan kesakitan yang tak terobati hanya dengan keikhlasan hati.

Selamanya kekecewaan adalah buah dari harapan yang berlebihan, memang. Dan selamanya kekecewaan melemahkan syaraf logika, melumpuhkan barisan kata kata. Semestinya hari lekas usai dan berganti sunyi, tetapi matahari yang tiada pernah akan terlambat mengabdi hanya melata mengikuti jalur yang selama jutaan tahun dikenalnya. Hujan tak akan sanggup kita hentikan, dan kemarahan hanya satu dari sekian banyak ilustrasi emosi sebagai pertanda hidup memang sedang terjadi. Ya, kemarahan sama halnya dengan sukacita dan kesedihan.

Dan tersadar tiba tiba, dendam tetap hidup dan ada didalam jiwa, terbawa sampai kan mati kelak…

Keparat kau iblisku!!

Ciracas, 070828

Tuesday, August 21, 2007

Kampung Kolongtol

(Ceritera dari Jakarta V)

7 Agustus lalu lebih dari 200 ‘rumah’ ‘milik’ sekitar 6.000 kepala keluarga yang dihuni sekitar 14.000 nyawa manusia terbakar ludes di ruas sepanjang 13 kilometer kolong tol Wiyoto Wiyono atau gampangnya tol Jembatan Tiga interchange Pluit. Sepanjang kolong jalan tol itu memang telah disulap jadi kampung kumuh berdasarkan ijin dari Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah Republik Indonesia tahun 2002 lalu, meskipun ijin tersebut konon sudah dicabut pada tahun 2006.

Kebakaran itu menyisakan selain abu dan arang secara harfiah juga menyuguhkan persoalan sosial yang teramat pelik bagi pemerintah kecamatan Pluit. Dari total sebanyak itu warga, hanya 24% yang memiliki KTP dan selebihnya illegal lias penduduk liar. Masih ada sisa 76% dari warga kampung Kolongtol yang akan menghadapi ‘deportasi’ ke kampung halamannya masing masing meskipun jika dilihat dari adat kebiasaan kota Jakarta, mereka yang semestinya pulang kampung itu hanya akan pindah ke satu lahan kosong ke lahan nanggur lainya. Begitu dan seterusnya.

Tidak heran kalau angka dari jumlah manusia yang tinggal di kolong tol Jembatan Tiga mencengangkan siapapun yang tidak pernah memperhatikannya, karena dari hari ke minggu, kemudian ke bulan dan tahun, mereka beranak pinak dan berkembang biak di tempat itu atas ‘restu’ dari abdi negara yang semestinya mengedepankan aturan dan kepentingan Jakarta secara luas. Upeti memberikan akses bagi kehidupan layaknya rumah normal dengan tata cara maupun budaya yang dibuat sedemikian rupa legal. Pola hidup konsumtif Jakarta tak urung memberi dampak langsung terhadap keberadaan para penghuni kolong tol.

Jakarta memang semrawut, dan mental Jakarta juga yang membuat kesemrawutan itu bisa menjadi lahan rezeki bagi sebagian orang. Apalagi jika sebagian orang oportunis tersebut memiliki seragam yang menunjukkan kepemilikan atas kewenangan mengatur dan menjaga, maka soal tanggung jawab tugas bisa dengan gampang saja digadaikan di Jakarta ini untuk tujuan pengkayaan pribadi. Belum sampai ke level kaya barangkali, sekedar pemenuhan dari keinginan sebagai dampak langsung dari budaya konsumtif Jakarta yang mahal. Tumpang tindih pungli dan pungutan ditengah kesemrawutan membuat lahan kolong tol menjadi ajang pendpatan yang menggiurkan bagi banyak fihak, termasuk Satpol PP, Kampraswil, maupun BPN.

Sekarang nasi sudah menjadi bubur, kolongtol tumbuh subur menjadi kampung bernama kampung Kolongtol. Daerah daerah seperti Pluit, Penjaringan, Warakas, Tanjung Priok dan banyak lagi lainnya seperti invisible bagi mereka yang berkewajiban menjalankan pengelolaan sistim tata kota, atau lebih parah lagi justru dijadikan bahan obyekan penghasilan tambahan. Sebuah ‘kemajuan’ yang sebenarnya sangat mudah diprediksi untuk bisa dicarikan solusinya sejak awal apabila pegawai dan pejabat berseragam bisa membwa diri mereka sebagai pengemban amanah, pemomong dan pengayom masyarakat serta pelaku berjalannya hukum dan peraturan. Pendekatan sosial saja belumlah cukup untuk bisa mengatasi permasalahan sosial yang terjadi di kampung besar Jakarta. Ketegasan pelaksanaan hukum, pemberlakuan sanksi serta aplikasi tata tertib secara murni dan terkontrol dibutuhkan demi kepentingan semua fihak.

Ketidak pedulian pelaksana pemerintahan maupun tumpang tindih wewenang sering kali menjadi pusat konflik panjang yang juga sekaligus menjadi ajang pencucian tangan tangan yang kotor. Kebakaran hebat kolong tol Jembatan Tiga tidak urung menimbulkan kerugian miliaran bagi pengelola si jalan tol yang nota bene adalah atap kampung Kolongtol dan juga tentunya para penghuni yang menjadi korbannya juga. Meskipun dalam 2 tahun terakhir saja sudah 5 kali terjadi kebakaran di kolong tol, namun nampaknya tidak ada upaya serius untuk pencegahan.

Setiap sudut, lorong maupun inci tanah di Jakarta adalah ajang mencari makan bagi siapapun yang tinggal di kota ini. Sebagian besar pendatang membawa mimpi manis untuk dikonfirmasi dengan kenyataan kota ini, sebagian lagi berjibaku dengan nasib saja cukup. Sebagian besar orang beruntung bertahan dan berkembang menjadi manusia yang pulang kampung dengan dialek dan penampilan berbeda dibandingkan dengan pada saat berangkat dulu, dan sebagian lagi menghitung hari demi hari dengan mengumpulkan mimpi mimpi yang berantakan.

Di kolong tol interchange pluit Jembatan Tiga kontradiksi Jakarta terlihat nyata. Sebagian kita lewat di atap rumah mereka sepulang dari berterbangan atau hendak berangkat terbang melaluai Jakarta International Airport Soekarno Hatta.
Dan…Jakarta masih menyimpan jutaan cerita manusia sebagai catatan dari sejarah zamannya…


Ciracas, 070821

Thursday, August 16, 2007

Mimpi Buruk

(Mimpi adalah cara otak menterjemahkan kejadian yang membingungkan pikiran – Spacetoon)

Entah dari mana datangnya, mimpi buruk merajam, mimpi yang dulu pernah rajin hadir di malam malam ketika tertidur maupun terjaga. Mimpi itu sebenarnya hanya repetasi dari kejadian yang teramat buruk dimasa lalu, dan mendamparkan pada situasi yang sangat tidak berdaya, sangat tidak beruntung. Mungkin lebih tepat dinamakan mimpi buruk untuk hal hal yang bersangkutan dengan masa lalu, sedangkan untuk hal hal masa depan adalah mimpi manis (?)

Mimpi buruk menempatkan diri ditempat yang paling tidak mengenakkan bagi hidup, dimana dulu pernah ada disana untuk waktu yang cukup lama, cukup lama dalam ukuran normal untuk merontokkan semangat maupun keyakinan bahwa hidup masih terus berjalan dan akan berubah entah kapan. Sebuah situasi dimana diri terperangkap dalam lubang hitam yang sangat pekat, kehilangan cahaya dan hanya bisa meratap sendirian. Seperti anak ayam yang terjebak di lubang kakus.

Mimpi buruk membawa seluruh muatan emosi, pengalaman rasa hati. Pertengkaran, muslihat, penghianatan, penghinaan, ucapan, dan segala hal yang memang pernah terjadi dalam rangkaian cerita masa lalu. Mimpi buruk seperti benda busuk masa lalu yang disuguhkan ke meja makan untuk menu sarapan. Nutrisinya menjalar menjadi energi yang menggerakkan segala sikap yang berawal dari pikiran, menjadi racun yang meneggelamkan optimisme sang matahari. Mimpi buruk membajak tidur dan merubah haluan menjadi sumpah serapah yang hanya terpendam sendirian. Amarah yang membuncah kadang meledak tanpa kesadaran, juga kesedihan yang tesisa sesudahnya menjadikan tidur adalam momok yang menakutkan. Seperti dulu dulu, pergi tidur hampir sama dengan menyerahkan badan dan fikiran kepada iblis yang akan menjadikan setiap serpihan diri sebagai pelengkap pesta mereka. Tanpa berdaya…

Apakah ada kontribusi ekternal yang membuat mimpi buruk itu hidup kembali setelah mati suri beberapa bulan ini? Sungguh tidak ada korelasinya samasekali. Tetapi keyakinan bahwa memang hidup setiap manusia terbagi atas ceritanya masing masing, berjalan dan berkembang sesuai dengan catatan takdir. Dan rasa menggumpal seperti itu sama saja membuka pintu lebar lebar bagi iblis, mengundangnya untuk masuk dan menguasai alam bawah sadar. Hidup jadi tampak semua serba salah, serba mengecewakan diri sendiri. Rasanya tidak ada alasan samasekali untuk memelihara optimisme bahwa masa depan itu ada untuk ditanami dengan pohon pohon harapan sebab semua akan berakhir percuma saja.

Tidak akan ada yang mampu mencegahnya, tidak ada yang sanggup merubahnya. Mimpi buruk hanyalah visualisasi dari kejadian buruk masa lalu yang hadir tiba tiba setelah sekian lama terkubur dangkal dalam ingatan. Tidak ada jeda pembeda waktu antara kejadian sebenarnya dan bayangan yang hadir disebabkan oleh betapa parahnya dampak yang ditimbulkan oleh peristiwa tragis masa lalu. Dan masa lalu tetaplah sebongkah batu yang menggelinding liar menggilas kekinian di kadang kala, menjelma dalam mimpi buruk yang meremukkan rasa. Dalam keadaan terjaga, mungkin saja mimpi buruk bisa dilawan dengan pemikiran lainnya yang memenangkan ego, tetapi dalam keadaan tertidur, sungguh merupakan siksa tanpa daya.

Sebagai perenungan, mimpi buruk adalah anak anak dari peristiwa buruk masa lalu dimana diri terlalu banyak berharap kepada orang yang menyebabkan kerusakan itu, berharap bahwa dia akan memiliki kebijaksanaan hati yang cukup untuk menunjukkan itikad memperbaiki, atau setidaknya menunjukkan tanggung jawab atas perbuatannya. Dan ketika harapan harapan itu pupus, muncullah pengertian baru bahwa tidak seharusnya berharap apapun dari apapaun supaya juga tidak kecewa.

Bahwa tidak ada yang bisa merubahnya lagi karena masa lalu menjadi property individu yang sangat pribadi, dan dimana mana masa lalu hanyalah sebongkah batu yang tidak bisa kita rubah menjadi sesuatu yang bukan batu. Ia ada menjadi prasasti bagi hidup, catatan belaka. Hal yang bisa meringankan adalah berkompromi dengan hati sendiri, dengan pikiran sendiri. Berhenti berharap, berhenti menghujat dan menumbuhkan pandangan pandangan baru tentang hidup.

Ciracas, 070816

Monday, August 13, 2007

Hidup masing masing

(…sepeninggalmu aku bagai terhempas kembali ke permukaan bumi…)

Jarak telah menyeret langkah untuk saling menjauh dan waktu mengurung dalam keangkuhanya yang tidak tertembus oleh hasrat yang terus menyala nyala. Ribuan ton beban di mata kaki, memaksa hati untuk tinggal dalam hangat pelukan kasih sayang di ruang persembunyian. Tetapi tidak, pintu pintu telah menawarkan marka jalan untuk dilalui, dilewati dan ditinggalkan dalam diam yang meradang ketika ribuan kata kata menjadi prematur di tenggorokan. Tinggal pandangan mata mengabur ditenggelamkan keharuan, dan kepala yang berat dibanduli kehilangan yang tiba tiba.

Pertemuan dan perpisahan mengiris iris kenangan, menempelkan siluet kesedihan dan sukacita dalam bingkai dunia, dunia tak bertuan yang hanya berisi dua kupu kupu melanglang sekejap dari gerbong panjang kehidupan masing masing. Air mata tertabur sepanjang jalan, menyaru bagaikan embun yang luruh menampar muka setelah berjibaku dengan debu kota dini hari. Betapa rapuh dan sunyinya kesedihan yang menghuni pikiran oleh sebab tertikam perpisahan…

Stasiun tua yang itu itu juga membeku dalam penantiannya, menghitung berapa banyak hati diceraikan dan dipenggal dari kekasihnya. Arloji usang di dinding betonnya masih bekerja, menebar kecemasan bagi sesiapa saja yang tinggal dan menunggu datangnya kereta pengangkut jutaan rasa. Ciuman terakhir, sentuhan terakhir dan bisikan terakhir, sepertinya menjadi akhir sebuah cerita. Entah kapan ada perjumpaan lagi di mayapada. Diatas rakit peradaban, hidup menghanyut mengikti aturannya. Waktu membuatnya terus bergerak, berkembang dan hidup menumbuh, melahirkan cerita baru, sejarah baru dan harapan yang baru juga tragedi tragedi baru.

Sudah jadi adat bumi untuk terus bergerak, serasa mustahil berada di satu titik ketetapan dan statis dalam pemikiran. Kita hanya mengalir, menumpang diatas rakit dari jalinan pengalaman mengikuti arus yang memberi banyak ajaran tentang hidup dan cara merasakannya. Hari esok bukanlah janji, hanya satu medan waktu yang berisi teka teki. Betapa labil hidup manusia, berubah dan berkembang sebgai ekses hidup yang dikendalikan oleh dua warna kontras; hitam dan putih yang melambangkan keinginan dan ketidak inginan. Dan semua mendaur dalam satu konsep bernama alam kenyataan, buah dari harapan yang terkadang beracun penuh duri.

Inilah hidup, dengan hati sebagai pengemudinya. Berjalan, mengalir, melayang, terhempas dan mengapung lagi dalam kisaran masa yang tak tertebak. Inilah rasa, bukti bahwa hidup sangatlah berharga untuk disia siakan dalam kurungan citra…

Ciracas, 070813

Wednesday, July 11, 2007

Rumah Kontrakan Pak Abdullah

Rumah Pak Abdullah terletak di gang kecil tanpa nama, gang kecil dari sebuah gang yang lebih besar bernama gang Wadas I, di bilangan Gempol – Bambu Apus bagian Timur kota Jakarta. Memasuki gang Wadas I kita akan disuguhi pemandangan kiri jalan dengan tanah kosong berisi tetanaman pisang, ubi kayu dan kacang tanah yang tidak terurus dengan baik. Kebon kosong itu berbatasan dengan tembok tinggi yang melindungi sebuah rumah hunian megah mewah yang konon milik seorang jenderal entah siapa namanya kemudian disusul dengan rumah rumah berukuran besar dengan halamanya yang luas luas menyebar sampai ke sisi belakang kiri, terus sampai ke mulut gang selanjutnya yang merupakan sebuah blok yang hanya berisi beberapa rumah mewah.

Di kanan jalan, kita akan disambut oleh halaman rumput hijau yang terawat oleh tukang kebun dengan pintu gerbang samping bercat putih. Pagar teralis membuat pandangan mata bebas menelanjangi dinding dan atap rumah indah yang besar di ujung halaman yang menyerupai lapangan sepak bola dengan sebatang pohon rambutan dengan rumah kayu diantara dahan dahannya yang kekar. Kemudian dari rumah itu berderet rumah minimalis seharga dua ratus juta, sebuah rumah megah lainya yang baru dibangun, (rumah rumah megah itu umumnya berlantai lebih dari satu dengan atap merah yang bersih gemerlapan ditimpa sinar matahari baik pagi, siang maupun sorehari) lalu lapangan bulu tangkis dan beberapa pohon rambutan, pohon kersem yang rindang menaungi warung gado gado, kemudian rumah sederhana punya si Mada dengan halaman tanpa rumput, hanya pohon rambutan berpagar teralis tipis, lalu warung kosong yang kabarnya akan dijadikan tempat penjualan pulsa telepon seluler, sekitar seratus meter jaraknya dari mulut gang Wadas I dari Jalan Raya Gempol.

Di samping bakal toko voucher itulah gang kecil tanpa nama itu berada, membelok ke kanan dari gang Wadas I yang beralaskan aspal sampai di ujung bakal counter voucher yang juga tepat di hek sebuah pertigaan pemukiman mewah, lalu disambung dengan alas cor semen yang mengelupas jadi lubang lubang sedalam sepuluh sentimeteran sampai ke ujung gang yang akan bertemu dengan rumah rumah kontrakan dari kayu yang entah sudah berapa tahun dua diantara tiga pintunya kosong melompong, mungkin jadi rumah ular karena keadaan tanah dan lokasinya yang berada dipojokan sebuah situ, air resapan yang juga berfungsi sebagai tempat pemancingan gratis. Gang selebar kira kira sembilan puluh senti itu diapit dua tembok yang juga adalah dinding dari dua buah rumah di kiri dan kanannya.

Duapuluh langkah kedalam gang, kita akan diambut oleh pintu triplek kontrakan satu kamar yang dihuni dua pemuda yang kalau sore suka membunyikan musik metal dari system tata suara mereka di kanan jalan, lalu sedikit halaman dari sederetan rumah petak kontrakan dengan jemuran yang nampaknya selalu ada di teras rumah mereka, terkadang ayam Bangkok aduan atau ikan cupang dalam toples toples yang dibatasi lembaran kertas dengan iringan suara radio transistor yang seakan tidak pernah dimatikan dari kontrakan yang paling tengahnya. Rumah kontrakan Pak Abdullah berbatasan hanya setengah meter dengan rumah petak yang paling ujung, menghadap ke barat dengan lantai keramik berwarna hijau di terasnya dan empat jendela besar menghadap barat dan selatan, mengapit sebuah pintu kayu yang tampak kokoh dibawah pergola sederhana.

Duapuluh meter dari mulut gang tanpa nama yang lebih mirip jalan setapak itu akan membentur tembok pagar sebuah rumah dengan gerbang kecil tepat di kelurusan jalan setapak yang mengharuskannya membelok ke kiri untuk mencari terusan untuk jalan setapak lebih masuk lagi ke perkampungan. Memandang ke ketinggian kita tidak akan disuguhi rindangnya daun pepohonan, melainkan atap, antena, kabel listrik dan layang layang yang tersangkut diantaranya. Tepat di pojok belokan kecil itu rumah tinggal pak Entong yang punya sembilan orang anak, dua perempuan dan sisanya lelaki semua dan tujuh diantaranya sudah berumah tangga, sedangkan dua diantaranya tidak tinggal bersama mereka. Istri Pak Entong yang gendut dibantu anak anak perempuannya yang juga gendut gendut setiap pagi membuka dagangan di lapak emperan rumahnya dengan berdagang nasi uduk dan gorengan, sedangkan anak anaknya sebagian bekerja dan sebagian lagi tidak. Mereka tinggal disana, berasama anak anak mereka juga. Rumah Pak Entong yang orang Betawi sendiri juga rumah tua harta yang tersisa, selain sikap dan kata katanya yang mencerminkan kebanggaan diri atau kekecewaan diri sebagai bumi putra, orang Betawi asli.

Jika malam tiba, dua orang lelaki diantara tigabelas orang yang tinggal dirumah itu akan tidur di teras dengan lampu dimatikan, hanya neon redup yang juga menyinari aquarium kumuh. Pak Entong yang lebih sering terlihat tidur disana, yang biasanya memulai ritual tidurnya dengan merebahkan diri di lincak bambu buah tangannya sendiri, sambil sesekali menyapa atau disapa satu dua orang yang kebetulan lewat di gang itu dan mengenal atau dikenalnya. Itu dia lakukan biasanya sekitar jam sepuluhan, ketika jeritan, teriakan dan tawa cucu cucunya sudah meredup dan tertidur pulas berhimpitan di dalam rumah yang menjadi gelap ketika malam semakin larut tiba.

Di sebelah timur teras Pak Entong berbatas tanah mati, rumah kontrakan Pak Abdullah yang yang harus meninggalkan Jakarta beserta keluarganya untuk pindah ke Jambi karena panggilan tugasnya sebagai sopir di Pertamina. Rumah itu dikontrak oleh sebuah keluarga Jawa yang terdiri dari suami istri dan satu anak perempuannya yang berumur sembilan tahun sepuluh bulan. Rumah kontrakan itu memanjang ke belakang dengan tiga buah kamar tidur, satu teras, satu ruang tamu, satu ruang keluarga, satu ruang makan, satu kamar mandi dan lalu satu dapur yang luas. Penghuni baru itu tidur sekamar bertiga oleh sebab hanya satu kasur yang tersedia, dan membiarkan tujuh ruangan lainya hampa tanpa penghuni.

Rumah kontrakan Pak Abdullah di Gempol, cermin nyata kompromi kontras kehidupan mahal kampung Ibu Kota yang penuh gengsi.


Gempol, 070711

Saturday, July 07, 2007

Pesona Pasar Loak

Berkelana ke pasar loak adalah tamasya jiwa yang mengasikkan. Potret kemiskinan yang dipajangkan begitu indah dalam seni kehidupan. Di lapak lapak para pedagang, terpajang para saksi kecemerlangan sejarah masa silam. Para benda mati yang kaya akan kisah kehidupan yang hanya disimpannya sendiri. Mereka pernah menjadi baru, melewati zaman keemasan untuk kemudian akhirnya terdampar dengan harga obralan. Sebuah komoditi yang terkumpul dari para abang pemulung, abang pengepul, abang pengangguran ataupun abang pencuri. Tidak penting benar darimana mereka berasal dan dengan cara apa hingga sampai ke lapak. Tidak penting benar!

Menatapi satu persatu benda yang tertata rapi dengan dandannan sepatut patutnya, menyeret batin untuk bertamasya ke sejarah masalalu dimana kita boleh memiliki dengan membeli nilai sejarah yang begitu berharga. Segala jenis benda yang pernah terlibat dengan kehidupan manusia ada disana. Semua butut, tetapi patut. Apa gerangan kisah dari setiap benda yang dipajangkan, itulah inti dari keindahan pasar loak yang mempesona. Apa saja kejadian yang pernah dialami oleh si benda sampai hari ini, jawabanya menerbangkan kita ke masa silam yang telah mati, sebuah kehidupan manusia yang telah mati. Benda benda loak itu menyimpan semua catatan tentang kehidupan, sepotong demi sepotong yang tidak ada kesamaan meskipun acap kali ditemui kemiripan. Mengunjungi pasar loak adalah berhajat mengundang rombongan pertanyaan tentang kejadian di masa silam, sebuah perjalanan menelusuri gelap lorong sejarah.

Inilah museum kehidupan yang yang tinggal diperjual belikan kaum urban, menjadikanya sebagai ladang kehidupan baru. Tidak ada yang salah dengan pola demikian, sebab hidup memang hanyalah daur ulangan. Barangkali dulu di kehidupan sebelumnya kita saling kenal, atau bahkan mungkin tetangga. Benda benda tidak berharga bagi si kaya menjadi benda benda penyambung nyawa bagi si dhuafa. Betapa kontras dunia menjalani hidup ini. Sampah bagi seseorang adalah rezeki bagi seseorang lainnya, menyebabkan korban bagi seseorang tetapi juga mendatangkan uang bagi seseorang lainnya.

Pasar loak tidak menawarkan keindahan bentuk, juga tidak mementingkan fungsi. Pasar loak bukanlah pasar barang antik. Loak bermakna bekas pakai, jadi memang benda benda yang dijual di pasar loak adalah benda benda yang bekas dipakai orang dan berharap bisa dipakai orang lain pada beda zaman, beda cara penghargaan. Pasar loak menjadi simbol bagi pasang surutnya zaman, pasang surutnya kehidupan individu seseorang. Setiap benda melambangkan status dan kualitas selera bekas pemiliknya ketika masih baru dahulu kala, bukan benda pajangan yang tidak berguna apa apa.

Pasar loak barang bekas, sebuah potret indah daur ulang kehidupan yang begitu kaya dengan cerita pengalaman.

Kebayoran Lama, 070630 - 070707

Tuesday, June 26, 2007

Mengenang Kesedihan

Kesedihan adalah bagaikan beling yang menancap di tulang usia kita. Caranya muncul begitu misterius bahkan tanpa firasat, lalu menghancurkan begitu saja segala hal yang kokoh untuk tunduk pada kuasa bumi, luruh jadi debu begitu saja. Tak ada lagi tenaga tersisa, tak ada lagi suara yang mampu menembus udara. Semua menyerah takluk pada kuasa mengasihani diri yang parah. Amat parah. Rasa perih membenamkan cahaya alam fikiran, membunuhi setiap jentik harapan yang baru muncul dari balik tanah. Sebuah harapan yang menjajikan buah dari pohon kecil yang semula kecambah, untuk melunasi tugas kehidupan. Dan kesedihan telah membantainya jauh sebelum biji diciptakan.

Mengenang kesedihan jadinya seperti menonton cerita sinetron secara berulang ulang, sampai kita memiliki adegan adegan favorit yang kita anggap sebagai pencerminan atas pribadi kita sebagai penonton kehidupan yang kita pertunjukkan sendiri. Rasa mengasihani diri mengandung sebuah drama yang kaya akan penciptaan rasa. Seorang pujangga besar sering terlahir dari kepiawaian si pujangga dalam mengekspresikan dramatisasi penderitaan bathin. Bathin yang menderita kesedihan! Dan sedih karena ketidak adilan, sedih karena tidak bisa mencegah kebathilan disekelilingnya. Dan sedih karena tidak berdaya melepaskan diri cengkeraman celaka itu. Pramoedya dengan luar biasanya mendramatisir kesedihan sendiri menjadi karya tulis monumental yang sulit dicari tandingannya di zaman ini.

Bagi masa depan, kesedihan adalah cara mengenang kehidupan yang paling indah. Menyublimkan diri kita sendiri pada ketiadaan dan ketidak berdayaan, kecuali mengikuti arus hidup yang katanya sudah direkam jauh hari sebelumnya, sebelum kita ada dimuka bumi dan menjadi manusia. Duka yang mendalam terkadang terasa bagai palu godam yang mengingatkan kepada nurani kita untuk lebih bijaksana. Menempatkan kita pada titik terendah level kehidupan sehingga kita tidak punya peluang seujung jarumpun untuk bersombong diri. Luluh lantak tak berharga, teraniya oleh rasa kalah sehingga satu satunya pilihan adalah menyerah. Ya, menyerah pasrah kepada bantingan dan belitan lawan, mengikuti arus tanpa perlawanan. Itulah makna kompromi. Berhenti melawan dan tetaplah bernafas. Dari nafaslah maka segala benih bisa ditumbuhkan, segala sakit bisa disembuhkan bahkan segala kesedihan akan menjadi sebuah kenangan yang indah.

Bathin sendirilah sebenarnya yang menciptakan dan kemudian mengundang para iblis untuk berpesta pora di ingatan setiap saatnya. Setiap detail kehidupan telah terjangkit oleh nafsu kesedihan dan hanya berhubungan dengan kesedihan berlipat ganda lagi. Seperti asap yang membekap paru paru kita tanpa kita bisa melawanya dengan tenaga. Seperti orang bodoh yang berkelahi dengan diri sendiri, tangan kanan melawan tangan kiri. Kesedihan itu bisa juga lucu, betapa dewasanya diri mengalir hanya mengikuti seutas hati. Menyaksikan kehancuran yang perlahan dengan cara yang amat memilikan; membiarkan diri menangis dipojokan dalam kegelapan. Dari kegelapan demi kegelapan yang panjang layaknya mulut sumur berwarna hitam, satu dua kata tersaring dari langit kejauhan, satu dua kata yang kemudian tertoreh jadi pengingat masa depan.

Menghayati kesedihan ibarat menikmati setiap set cerita dari diri sendiri, dan proses yang mengikuti sesudahnya, kemudian mundur ke penyebabnya dan selanjutnya selanjutnya hingga kembali berputar ke keadaan yang membedakan hari ini dan masa lalu. Seorang kuat yang pengalah jauh lebih mulia dan perkasa dari pada seorang kuat yang pemenang melawan si lemah. Sifat ksatria yang sejati barangkali adalah yang bisa mematikan kepentingan diri sendiri, dan mengabdikan diri untuk hidup bagi kehidupan lain kecuali dirinya sendiri. Tidak perlu pengakuan soal siapa si juara dan siapa si pecundang. Peperangan hanya melahirkan korban, dan peperangan bathin hanyalah kedua tangan kita yang berkelahi, saling melukai. Memperkenalkan rasa sakit terhadap sesama, pada saat sakit harus diderita sendiri.

Kehidupan diciptakan dengan penuh keindahan disana sini, disetiap detail dari inti hidup itu sendiri. Semuanya begitu sempurna untuk memuaskan kebutuhan dan kemauan kita, sebatas kempuan. Kegembiraan dan kesedihan sama sama hanyalah unsur unsur kecil dari hidup yang membuat kita menjadi kaya akan pengetahuan rasa. Yang kemudian menjadi pilar kokoh yang akan melindungi hati dari sedih yang serupa nanti. Jika kita tidak pernah merasakan sedih, maka kita belum pernah merasakan hidup. Dan jika sebagian dari kita sedang merasakan sedih, selamat menjalani kehidupan! Di kedalaman kesedihan, tersimpan keindahan yang tak terlukiskan hanya dengan tulisan ataupun kata kata.


Gempol, 070625

Thursday, May 31, 2007

Tangisan pohon

Angin yang tersesat di tepi tembok bingung mencari pusaran untuk sampaikan kisah rindu dari tempat tempat yang jauh, mengabarkan kelahiran dan juga kematian sebagai proses metamorfosa alam semesta. Kelahiran dan kematian semua mahluk hidup dan proses penciptaan atas mahluk mati. Butiran cerita yang terbawa angin membentur dinding kaca pada akhirnya kemudian menjelempah di lantai tanah mencari pemilik sepetak taman yang dulu berisi kupu kupu yang menyanyi.

Menyaksikan batang batang dan daun hijau itu akhrinya terkapar tak berdaya diikat oleh seutas tali plastic, layu bercampur debu diatas beton adalah pemandangan yang menyakitkan. Betapa bertahun tahun hidup berisi pengalaman binasa begitu saja oleh tebasan parang tajam kehendak manusia. Pohon tidak berdaya melawan, tapi tangisannya terdengar sangat memilukan di palung kalbu terdalam.

Sebentar lagi angin besi akan menyeretnya menjauh, menelusuri got got lalu teronggok di penimbunan, berjuang sendiri mempertahankan kambium tetap dikandung badan. Tak berharap banyak pada kesempatan sebab ia hanya sebatang pohon, mahluk pasif penyaksi ribuan cerita manusia.

Halaman yang kosong menjadi pekuburan tanpa catatan kini. Lengang, bahkan sinar mataharipun terkurung oleh kanopi mati. Kehidupan berkurang lagi, melapangkan areal untuk kesenangan, demi habitat yang berkuasa.

Dan hujan turun menghempas bumi yang bolong, kecewa tak bertemu kekasih abadinya; sang pohon. Air menggenang bagaikan tanda duka liar menuruti pencarianya yang sia sia. Tanah lapang tak lagi menjanjikan apa apa kecuali tempat langit bercermin dari segala mendung hamparan bintang ketika malam.

Sekumpulan burung gereja termangu di kusen baja, memandang asing pada tanah yang memberinya ajaran tentang hidup bersama dalam faham mutualisme. Pohon yang biasanya bercerita tentang duapuluh tahun perjalanan hidup dan keculasan yang disaksikan dengan diam sekarang sudah tidak ada lagi.

Dan senjapun turun perlahan tanpa bayangan sang pohon di pintu gerbang berwarna biru…lengang.


Nutricia 070531

Friday, May 25, 2007

Dibawah sinar asli rembulan

: embun
Sinar asli sang bulan membawa pesan singkat dari seberang, mengabarkan malam yang telah berjalan pelan keseluruh sudut bumi. Empat cangkir kopi hitam dan sepiring obrolan sekedaran memenuhi rongga waktu dalam kehadiran, sedangkan angan mengembara jauh mencari cari seseorang yang rindu akan belaian. Sekelompok bintang mematahkan senja menjadi kenangan, sekian ribu jeda yang hanya berlalu tak mau menunggu barang sekejap jua.

Bukan hari yang berlaku berat, bukan pula mimpi yang menjadi liontin perhiasan sesiang tadi, tetapi adalah catatan yang tertoreh dari seutas kesempatan hari ini. Kecemasan tak diperlukan oleh mereka yang bisa diandalkan, berjalan pelan pelan dalam buaian rasa simpati yang mungkin berlebihan. Kasih yang menguatkan sementara iblis merubung di setiap penjuru pandangan, memprovokasi hati dari balik dinding kaca tebal pelindung diri dan iblis celaka.

Hari ini tidak ada yang istimewa kecuali rindu yang semakin menyesakkan dada. Bayangan manisnya menyumbat kepala dan meninabobokan jarak yang membentang memamerkan ketidak mungkinan akan tertebusnya rasa yang menikam. Bau tubuh terbawa dalam butiran udara yang mengembara ke seribu kota tanpa tujuan, sekejap singgah di penciuman maya yang lalu mengacaukan otak yang mengharap terlalu berlebihan atas datangnya keajaiban.

Jika terkatakan, tolong simpan cerita hari ini dalam catatan. Semuanya akan membawa kita kepada benang merah kesimpulan kalau saatnya kelak masa depan menjemput usia. Nanti sepuluh tahun mendatang barangkali kisah ini hanya akan menjadi segumpal kenangan pengisi hari hari sepi menunggu kematian tiba. Biarkan saja sekarang, kisah ini mengalir seperti angin yang menghambur menembusi genting di atap rumah ketika embun perlahan menyelimutkan sejuk bagi tidur yang menjanjikan damai.

Sepi ini menjadi warna sang malam sedangkan ruh berkeliaran mencari pembebasan. Riuh peradaban terbunuh mati hanya oleh bayangan wajah mempesona yang melekat di pelupuk mata, bayangan yang dibawa turun dari kayangan dengan jembatan pelangi di kegelapan, turun lewat sinar asli sang bulan di lorong sempit kesempatan. Ya, hari ini sebelum pulang, terbawa sosok utuhmu dalam setiap ingatan. So, how's your day hun?

Disini, rindu membuncah seperti sakit yang mendamba ramuan…

Gempol dibawah sinar asli rembulan 070525

Thursday, May 24, 2007

Sang Waktu

Betapa sederhananya sebuah kehidupan berproses mulai lahir, hidup lalu mati. Ya, begitu saja. Kemudian waktulah yang menjadi poros satu satunya perputaran dua titik antara lahir dan mati yang bernama hidup tersebut. Sang Waktu mengurai konskwensi logis dari sepotong sepotong kehidupan mikro dan menggumpal sangat besar menjadi keseluruhan berjalannya dunia fana yang ramai dan tumpah ruah dengan miliaran cerita. Sang Waktu terkesan mengendalikan semua alur cerita, padahal yang terjadi adalah waktu memberi peluang kepada setiap elemen hidup untuk merangkum segala lakon, hanya membiarkan berjalan tanpa kekang.

Sang Waktu menciptakan tiga dimensi masa yang tak bisa terputuskan hanya dengan kalimat ‘seumpama dulu’ atau ‘seandainya nanti’. Keduanya tidak mengandung isi, kosong dan bukan kenyataan. Tadi, sekarang dan nanti adalah tiga dimensi masa ibarat saudara kembar siam tiga orang dengan karakter yang berseberangan. Sang Waktu menjadi bejana besar dimana masa lalau, masa kini dan masa depan saling berpilin menjadi kesempurnaan misteri kehidupan. Ya, Sang Waktu sendiri adalah manifestasi dari kemisterian itu sendiri yang mengolah masalalu menjadi batu, masa kini menjadi kenyataan dan masa depan menjadi….bayangan.

Sang Waktu mengandung sisi sisi tajam kepedihan dan sekaligus anggunnya sebuah kebahagiaan. Bukan pula sebagai permainan Sang Waktu apabila warna langit berubah hanya dalam hitungan detik, melainkan sekali lagi konskwensi logis dari sebuah proses metamorfosa panjang kehidupan. Tidak sepanjang itu, saudara sebab satu mahluk hidup hanya boleh tunduk dalam kekuasaan Sang Waktu dalam sekejap saja, yaitu pada hidup diantara titik lahir dan mati. Masa lalu bisa menjadi hantu blao, bisa menjadi permen pemanis kenyataan dan tentu saja menjadi buku abadi bernama pengalaman. Sang Waktu setia mencatat semua kejadian dengan goresan goresan sejarah di setiap halaman buku yang mencatat setiap detik yang dilewati oleh alam fikiran yang akhirnya tersimpul rapi menjadi sebuah produk bernama kenangan. Dan kenangan, ada baiknya untuk disimpan di peti peninggalan dan tetap menjadi kenangan. Membangkitkannya kembali menjadi sebuah kehidupan akibatnya bisa sangat mengecewakan, sebab ia telah menjadi milik mutlak dari Sang Waktu; yang telah mengolahnya menjadi batu.

Masa lalu hanya sebutir pasir di padang pasir Sang Waktu. Hal yang sebutir inilah yang menjadi bekal warna dan rasa kekinian. Ia menentukan kelanjutan sebuah kisah, sebuah konskwensi logis yang disebut sebagai kenyataan. Tanpa masa lalu maka tidak ada kekinian yang tercipta dan tanpa kekinian maka masa depan telah kehabisan ruang sebagai cerita. Dalam kekinian Sang Waktu menjadi mata dan telinga, menjadi saksi atas sebuah kehidupan. Ia menjadi sebuah hidup yang terjalani yang dalam sekejapan mata berubah menjadi hanya cerita, kenangan hasil cetakan sang masa lalu. Bagi yang bijaksana kekinian adalah sebuah kesempatan emas untuk mengarang bentuk masa depan dalam sebuah rencana bahkan hanya sekedar angan angan. Pada saat yang bersamaan proses mengarang, menikmati setiap helai karunia dalam sebuah sikap syukur membuat hidup terasa tidak memerlukan beban apa apa karena tidak memilikinya. Tiap tetes air yang masuk lewat kerongkongan, tiap butir udara yang mengisi paru paru, dan tiap kelebat ingatan maupun pemikiran semua bersinergi menjadi rasa, dan itulah yang disbut kenyataan.

Selebihnya kenyataan menjadi hulu dari keinginan dan rancang bangunan masa depan. Bermula dari proses berfikir, kemudian menganak sungai menjadi berjenis jenis calon tingkah dengan bungkus jubah belabel ‘akan’. Dan masa depan menyimpan misterinya sendiri, tak teraba oleh rasa bahkan tak terdeteksi oleh hitungan matematis dalam bentuk ramalan. Masa depan adalah teka teki tanpa jawaban, sedangkan logika dan intuisi hanya menuntun kepada kemungkinan kemungkinan, padahal masa depan tidak lebih dari jutaan pintu kemungkinan yang akan terbuka salah satunya dengan kejutan maupun bukan kejutan dibaliknya. Dan Sang Waktu akan terus berjalan tak tergoyahkan meninggalkan mereka yang menyesali kejadian dan lambat menghampiri mereka yang menanti. Ia hambar bagai udara hanya berisi molekul yang menghidupkan kehidupan.

Maka, masalalu percuma disesali maupun dibuat mummi, kekinian bukanlah provokasi untuk diingkari, dan masa depan bukan dinding tembok tebal tinggi yang melemahkan nyali. Semua hanya proses pendek kehidupan yang terurai dalam penjabaran mikroskopik Sang Waktu. Ia akan setia menyediakan tempat bagi setiap cerita mahluk hidup dan benda mati.


Gempol lewat tengah malam, 070524

Friday, May 11, 2007

Angin tinggi di siang hari

Ombak yang pasang bisa tampak jadi gelombang, sebagian bahkan terhayati sebagai badai dadakan. Kesurutannya akan mengagetkan siapapun sebab terkadang hidup seperti terasa di awang angan, tak mungkin kembali menginjak bumi.

Sebuah “kesalahan” ibarat sebuah bola yang terlihat dari seribu sisi jendela. Tergantung siapa dan bagaimana si penilai menyimpulkan pengetahuannya kemudian menjatuhkan argumentasi tentang makna “kesalahan” itu sendiri. Tetap menegakkan tameng ego (pembelaan) dengan mengatakan bahwa “aku tidak salah” barangkali saja adalah sebuah reaksi yang salah dari sebuah “kesalahan” yang dialamatkan kepada diri. Reaksi yang salah dari sebuah kesalahan akan berentet menjadi tindakan tindakan selanjutnya yang bisa jadi makin salah. Pembelaan terhadap diri sendiri bisa berubah bentuk rupa sebagai seliter bensin yang tertuang ke dalam nyala bagi orang lain.

Diam adalah salah satu pilihan yang menyakitkan, terkesan melemahkan. Tetapi percayalah, diam justru memberikan banyak peluang untuk menyimpulkan dengan lebih jernih, dengan otak yang lebih sehat dan berharap akan dapat output untuk bersikap yang lebih wajar dan diterima. Disekitar kita, berinteraksi dan hidup diantara kita, adalah individu individu, pribadi pribadi yang menutup rahasia dunia dibalik tempurung tengkorak mereka masing masing. Setiap pribadi membawa rahasianya sendiri sendiri, dan alam dunia yang ramai mengharuskan kita untuk terus dan terus berafiliasi dengan pribadi pribadi misterius itu. Apa yang tampak lurus belum tentu tampak sama dari sisi yang lain, apa yang tampak benar belum tentu benar bagi isi kepala yang lain.

Kekuatan untuk melawan ketidak inginan dan mengejar keinginan selama ini harus dikendalikan. Melawan fikiran sendiri sama saja menyelenggarakan proses pengeroposan terhadap nilai diri kita sendiri. Orang lain, kehidupan lain, mahluk lain, boleh berbuat semau mereka meskipun wujudnya menyiksa, memfitnah dan menganiaya. Semuanya terjadi dalam alam fikiran, dalam pertempuran emosi yang melelahkan dan tidak menghasilkan apa apa kecuali kebangkrutan. Setinggi apapun standar pencapaian atas apa yang bisa kita karyakan bagi kehidupan, tetap bukan kedua tangan kita yang menentukan. Namun demikian, tetaplah yakin percaya pada kekuatan kita sendiri serta terus memuja Tuhan sebagai sang Maha Kuasa.

Tahukah? Kenapa kuda yang menarik delman itu matanya ditutupi? Karena, supaya ia hanya bergerak maju sesuai kehendak sang kusir. Jika kita membayangkan dunia pandangan kita seperti itu, maka yang tampak adalah inci demi inci jalan ke depan, tak terlihat apa yang disamping dan sekitar kita. Intinya adalah bahwa selama kita bergerak maju, maka tidak perlu khawatir dengan laju dunia disekitar kita. Orientasi hidup semestinya memang maju. Bagi kita yang memang idealis dan memiliki standar pencapaian yang tinggi (yang sudah ratusan kali terbukti sering menjadi palu godam pelemah langkah kaki). Sikap dan perilaku menjadi terbius oleh upaya maksimal untuk memberi sumbangsih maksimal dalam karya. Kembali lagi, disekitar kita ada jutaan manusia yang belum siap dengan konsep seperti itu.

Seburuk apapun kita terjatuh, bukankah seyogyanya kita masih tetap harus bisa bersyukur bahwa kita masih bisa bangun lagi, bahwa kita masih memiliki hidup yang bisa kita isi dengan beragam cerita dan sejarah seiring berjalannya sang waktu? Maka rasanya tidak ada alasan untuk tidak bersyukur atas apapun yang didapatkan sekarang. Sakit hati, geram, kesal, sedih, teraniaya, terabaikan dan banyak lagi jenis penyakit jiwa hanyalah iblis penjelmaan dari fikiran kita sendiri. Meladeninya untuk terus menganiaya akan menguras energi dan membusukkan hati. Setiap kejatuhan mengandung makna pembelajaran, dan setiap nilai yang dilontarkan orang kepada kita, adalah patut untuk kita terima sebagai sebuah pandangan, bukan penghakiman. Kita beranggapan bahwa kita mengerti siapa diri kita serta bagaimana cara berfikir kita, tetapi sebenarnya tidak. Kita samasekali tidak mengenal siapapun dengan baik, bahkan mengenal diri kita sendiri.

Little this and little that, little here and little there will keep you strong. And the strongest you thought you are, we are only human beings…Dan benar bahwa diri sendiri harus mendapatkan prioritas pertama untuk dipercayai, dihargai dan dijaga oleh kita sendiri…

Nutricia 070511

Thursday, May 10, 2007

Mengenal iblis

(Demons ternyata adalah perwujudan dari fikiran kita sendiri, ia ada untuk merusak dan menyesatkan kita, Mbun. …)

Iblis adalah bentuk dari pikiran negatif yang tercipta dari batin diri sendiri. Ia berkembang atau merana tergantung seberapa besar kita mengasihani diri. Cara memeliharanyapun mudah, tinggal membagi bagi mereka dalam kandang kurungan dalam cangkang ego, maka lestarilah kehidupan si iblis dalam jiwa dan tubuh seseorang. Ia ada karena keberadaanya diada adakan sebagai tindak kecengengan atas sesuatu yang menimpa. Sebuah tragedy yang dialami seseorang bisa dengan mudah menebar larva larva iblis ke dalam seluruh sendi fikiran seseorang. Alasanya adalah hati yang tersakiti atau lebih lunak lagi sebagai reaksi dari pembelaan diri.

Ketika waktu berjalan begitu lambat, kegiatan si larva yang dititipkan oleh takdir untuk membusukkan akal kita telah membentuk menjadi kerajaan hantu dalam fikiran, mati dan hampa rasa, hanya bau busuk semata. Segalanya menjadi musuh dan langkah tertancap di beton penyesalan. Akal sehat dimabokkan oleh cacian yang terus menerus meluncur ke angkasa. Seluruh layar kehidupan menjadi muram dan jalan setapak dihadapan kehilangan rambu pijakan. Kekuatan hati yang dulu dibanggakan bisa bangkrut dalam hitungan hari bahkan waktu kehilangan harganya yang begitu berarti. Hidup serasa dikelilingi tembok ketidak yakinan, ketidak pastian dan ketidak berdayaan. Mengelilingi begitu ketat sehingga mematikan kemungkinan untuk melintasinya. Terkurung dalam kerangkeng negeri iblis ciptaan yang tak tersadari.

Pada titik terendah maka segala hal dan setiap mahluk hidup bisa menjadi penjelmaan dari iblis ‘ciptaan’ diri sendiri, memiliki kekuatan dahsyat untuk merusak atau sekedar memporak porandakan tatanan yang kita bangun sejak lama, bahkan sebagian tatanan hidup yang kita bangun sejak zaman masih kanak kanak. Segalanya menjadi terdramatisir dengan bumbu tragedy di awal cerita, menampakkan kemuraman kemuraman panjang yang seolah menjadi lumpur yang membenamkan kehidupan dan segala isi ceritanya yang nyata. Kebahagiaan menjadi menjauh, dan amarah menggumpal menyumbat aliran darah dan menimbulkan berbagai penyakit; psikosomatis.

Iblis memiliki sifat yang sama dimanapun berada, yaitu memprovokasi akal sehat untuk menjadi buta dan ngawur dan mengatasnamakan penderitaan bathin sebagai lagu sepanjang hari. Beruntunglah bagi sebagian orang yang memiliki saluran untuk mengekspresikan polah sang iblis dalam fikiran melalui bentuk bentuk karya seperti tulisan maupun karya seni lainnya sebab dengan begitu ia akan memiliki tonggak sejarah untuk ditelaah nanti jika badai derita ciptaan iblis mulai reda. Tidak ada sesuatupun di muka bumi yang abadi, segalanya menjanjikan perubahan buruk maupun baik. Demikian pula umur sang iblis, hanyalah tergantung kepada seberapa lama seseorang akan memeliharanya supaya tetap ada dan hidup di dalam fikiran, menjadi penguasa dan raja atas keadaan.

Karena keberadaanya memang dipertahankan secara tidak sadar oleh emosi, maka kepergiannyapun akan sesederhana datangnya. Mengabaikan adalah cara terjitu untuk mengaburkan daya rusak si iblis. Mengabaikan apapun yang dibisikkan sebagai provokasi, mengabaikan dampak kerusakannya terhadap laju pemikiran bahkan mengabaikan keberadaanya didalam diri kita sendiri. Seorang sahabat hati berpendapat bahwa ibils tidak akan mati, ia hanya bersembunyi tertimbun debu tipis penampilan sang matahari. Benar, bahwa mereka tidak mati, iblis adalah dzat yang tidak bisa mati, selama pikiran masih berfungsi. Ia ada dan terus mencari celah untuk memprovokasi fikiran, menyulut emosi untuk menghujamkan belati karatan masa lalu ke dalam jantung sendiri. Iblis sebagai pengejawantahan pikiran negatif kita akan terus menjadi oposisi yang mencari kesempatan untuk menyesatkan kepasrahan kita kepada hidup, dengan kata kata yang membakar dan pernyataan pernyataanya yang vulgar. Ia ada, didalam diri setiap manusia yang mengenakan jubah pembela dan berlagak sebagai hakim yang memalsukan tindakan pembelaan diri kepada siapa saja yang bingung untuk menentukan langkah bijaksana.

Mengenali iblis yang hidup dalam alam fikiran kita, adalah sama saja dengan mengenali diri kita sendiri dengan sangat diam diam. Semakin keras kita melawannya, semakin dahsyat pula daya rusakknya untuk jiwa kita…



Gempol – Nutricia, 070509

Friday, May 04, 2007

Penjaga Gudang Pangan

(cerita dari jakarta - 4)
Bang Ali Sadikin waktu jadi gubernur DKI meyakini bahwa Jakarta adalah kampung raksasa, kampung yang sangat besar. Orang orang yang tinggal di dalamnyapun otomatis adalah sekumpulan orang kampung juga. Persaingan hidup yang ketat dan keras, membuat banyak orang didalamnya dihinggapi penyakit kampung besar bernama ; kampungan. Bukan menyoal tata peradaban maupun tata sosial, tapi lebih kepada endemi penyakit mental yang perlahan menjangkit menjadi budaya baru, budaya kampungan. Krisis rasa malu, krisis toleransi dan krisis krisis budi pekerti lainya.

Kampung identik dengan ketenangan, kesahajaan, persaudaraan, gotong royong dan nilai peradaban yang tinggi, tetapi akrab dengan kesulitan demi kesulitan. Kampung adalah tempat dimana anak anak dilahirkan, dibesarkan dan diperkenalkan dengan alam, sedangkan Jakarta menampung sekian juta individu yang berdatangan dari kampung kampung di seluruh negeri. Masing masing kampung memiliki spesifikasi tradisi sendiri sendiri, dan ketika tradisi itu dibawa ikut serta ke Jakarta maka akan terjadi transformasi budaya baru lengkap dengan tradisi barunya. Budaya baru itu bisa berupa bentuk kebudayaan neo kapitalisme dan segala hal yang bersifat materialistic. Uang, barang, kasta, bentuk rupa, gengsi, kekuasaan dan segala jenis warna indah dunia ada disana.

Korupsi meskipun sudah berumur ribuan tahun, tetap mengalami pertumbuhanya sesuai dengan irama zaman. Jakarta tentu tidak luput dari giliran dihuni oleh para penggemar korupsi ini, yang baragam bentuk serta berbagai modus operandi. Korupsi bukan sekedar kata akta yang akrab kita dengar setiap hari namun juga bisa kita lihat di sekitar kita, atau bahkan barangkali tanpa sadar kita sendiri ikut ambil bagian dalam melaksanakan dan melestarikan kegiatan nista ini. Seorang bekas pejabat tinggi era Pak Harto yang pernah sekantor suatu saat bilang, bahwa korupsi itu seperti kejahatan legal bagi siapapun yang memiliki kemampuan. Wewenang dan kekuasaan mempermudah terjadinya hal ini, diselewengkan demi kepentingan diri sendiri yang umumnya adalah memperkaya diri.

Penegakan hukum yang loyo serta lemahnya komitment pelaku birokrasi atau penyelenggara negara ibarat oksigen bagi titik api yang tersembunyi. Menipisnya budaya malu dan tahu diri membuat banyak pejabat menjadi begitu tenar di media massa, ketenaran karena menilep uang negara yang notabene uang rakyat juga. Rakyat pasti gemas ketika menyaksikan orang yang berwenang ngurusin kesejahteraan pangan rakyat ternyata kelimpungan sendiri, kekenyangan uang dari hasi tilepan. Ibarat tikus mati di lumbung padi, si pejabat memperlihatkan aksi serakahnya dengan membagi bagikan uang yang hanya beberap miliar rupiah kepada sanak saudara dan anggota keluarganya, yang lainnya disimpan di dalam ember kamar mandi dan dimanapun sesuka hati.

Sang penjaga gudang makanan tidak akan lucu jika ia mati kekenyangan. Pikiran kotor dan serakah menyeret keinginan manusiawi yang sulit dicari batasnya. Barangkali otak pintarnya telah terkooptasi dengan stigma tentang budaya kerja penjaga gudang makanan, karena memang sejarahnya mengatakan demikian. Soal rasa malu, tahu diri apalagi pengabdian sebagai pengemban sebuah amanah rakyat jelata, sudah dilupakan sehari setelah pelantikan. Itu hanya slogan, hanya landasan filsafat yang mandul. Moralnya bangkrut digerus nafsu duniawi semata. Kesadaran intelektualnya telah mengijinkan dirinya sendiri untuk menjadi maling dengan suka dan rela membunuh martabatnya sendiri. Uang, semakin banyak memang semakin enak rasanya dan tidak ada yang bisa membantah itu di Jakarta…

Mari saudara, kita pelihara budaya malu dan tahu diri dalam pribadi kita masing masing…

(ditulis sebagai renungan akhir pekan, bukan sebagai penghakiman tetapi pengingat kepada nurani kita sendiri bahwa ada yang jauh lebih berharga daripada uang dan kesenangan dalam hidup; integritas diri)


nutricia 070504

Wednesday, May 02, 2007

Kenangan cinta

Sore ini gerimis mengantarkan kenangan, menggubahnya menjadi kerinduan yang menggebu, begitu diam lindap di dalam ruh sang kalbu. Begitu rahasianya pikiran manusia. Obrolan tentang seribu satu pertanyaan meliuk dan menukik diantara angin yang dilumuri butiran air dari langit, terjawab hanya oleh rintiknya yang lalu terhempas di jendela dan jadi cerita masa lalu. Hanya angin yang membawa kabar tentang keberadaanya, tentang kehidupannya dan tentang fikiranya. Semua gelap, kosong tanpa warna apa apa, hanya pertanyaan semata.

Mengenangkan cinta, mengenangkan seraut wajah penuh pesona, mengenangkan manis kehangantan kasih mesra yang pernah begitu dekat dalam hati. Cinta yang tadinya seperti benda mati yang tak akan mati ternyata bisa juga berubah menjadi kenangan. Waktu begitu perkasanya merubah semua hal diatas bumi, tapi waktu juga tak berdaya mempengaruhi bentuk atas apa yang tak kasat mata; kehidupan nun jauh di pendalaman rasa.

Cinta yang terkenang menjadi ilham bagi kehidupan. Ya, seluruh isi kehidupan manusia adalah cinta dan sisanya hanyalah sampah pemanis cerita semata. Terkadang masalah datang bukan dari diri sendiri, masalah itu bukan punya diri. Tetapi sering fikiran mengolah masalah itu menjadi milik sendiri, menjadi masalah pribadi sendiri dan membiarkan diri tersesat kehilangan petunjuk oleh karenanya. Jika mengikhlaskan diri untuk terlibat dalam kehidupan orang lain, sama halnya dengan tulus terlibat dalam masalah orang lain juga yang mana itu menjadi inti dari kasih sayang.

Mengenangkan cinta yang telah menjadi sejarah seumpama memandangi lukisan di galeri dinding hati. Relief relief kehidupan menjadi ornamen yang tersimpan rapi di ruang batin, memperkaya khasanah rasa dalam hati. Mengharapkanya bangkit dan hidup kembali, sama halnya dengan menimbuni keindahan itu dengan hal baru yang bisa saja menghapusnya selamanya.

Ah, betapa beruntungnya kita mampu memelihara kenangan dalam ruangan batin, kemudian betapa bersyukurnya kita pernah menjelajahi perjalanan dalam buaian keperkasaan sang cinta, dan membiarkan jadi sebuah kenangan panjang tentang isi kehidupan masa silam...ya, hanya kenangan cinta.

Nutricia, 070502

Thursday, April 26, 2007

Kompromi

Yang terpenting adalah mendukung tanpa menitip beban pengharapan apapun dari siapapun. Jika hidup telah mencair dan segalanya jadi mengalir, seperti angin laksana udara, langit perkasa pamerkan keperkasaan luasnya. Biru tanpa batas!

Hati memenangkan pertempuran diam diamnya, bertahun dalam kebisuanya. Segala cerita telah menjadi asap yang membumbung lalu lenyap ditelan angkasa. Tersisa gandengan logika dan hati dalam sebuah kompromi. Kompromi hati, memenangkan diri sendiri dalam pertempuran yang sendiri dan mengukur penderitaan yang hanya oleh sebab diri sendiri, pengharapan dan ketidak relaan diri sendiri dan hanya dirasa oleh diri sendiri. Sungguh hanya sebuah drama tragedi sebuah individual. Meletakkan jubah jadi naungan, kini bangkai iblis berserakan. Tak menyisakan rasa apa apa, api padam oleh setetes embun siang hari. Hati fikiran dan perasaan kini kebal oleh pedang dan silet masa lalu.

Tak ada kalah pun tiada menang sebab kekalahan dan kemenangan hanyalah kurungan kebahagiaan. Entah darimana datangnya, ada kompromi besar besaran dalam hati. Mungkin sakit hati yang terlalu lama bisa menyebabkan kebal? Atau mungkin angan jenuh dengan segala kemuraman yang membuat hanya berjalan di tempat saja. Suatu subuh ketika ribuan iblis menyiksa, sekuatnya diri untuk menyibak mendung tebal diatas atap bumi kecil, dan melongok kepada kecerahan diluar sana. Menghirup dalam dalam udara yang memberi kekuatan untuk berkompromi dengan hati sendiri, dan menterjemahkan damai dalam rasa yang tak tergambarkan dengan kata kata. Maka daganglah kompromi itu tiba tiba.

Bumi menjadi damai, api di padang gambut jiwa perlahan padam, menyisakan kesejukan disetiap hembusanya. Tenggelam dalam lirik lirik puitis yang ditimpah dengan permainan akustik The Eagles, menikmati lagi Gypsi King yang menghentak hentak penuh semangat, atau Ermy Kullit yang serak syahdu mendayu, juga Evie Tamala yang melambungkan pikiran rindu ke tempat yang jauh, ke tempat yang tidak pernah ada dalam gambar angan angan sekalipun. Kompromi ini melahirkan optimisme, kecerahan mata memandang jalanan tak tertebak kedepan, ke masa depan dengan keindahan pandangan di sepanjang kiri kanan jalan. Kehidupan lainya berjalan mengikuti arus, mengalir datar dan jauh dari letupan letupan amarah. Berkat doa yang bukan dari diri sendiri Tuhan mengirimkan malaikatNya untuk menumpas segala fikiran negatif yang melumpuhkanku.

Pengalaman pahit masa lalu, sakit hati yang tak kunjung hilang, atau rasa kecewa yang tak pernah bisa kompromi untuk menyingkir dari bilik hati, senantiasa menjadi beban hidup. Bahkan terbawa-bawa beban ini sepanjang hidup, kemana pun pergi, saat terpejam terlebih di saat sadar. Bayang-bayang orang-orang dari masa lalu yang pernah membuat hati tertusuk, tak pernah lenyap. Padahal segala upaya sudah dicoba untuk melupakannya, tetapi masih saja terus menggerayangi dan begitu dekat, menjadi iblis yang memporak porandakan tatanan jiwa.

Sakit hati, kecewa, perasaan bersalah, iri, kesal, benci, dan lain sebagainya muncul lantaran ego menstimulus otak untuk kemudian menyimpulkan bahwa keadaan sebagai masalah. Persepsi yang muncul setelah dipengaruhi ego jelas menyatakan bahwa keadaan yang tengah menimpa diri adalah masalah besar. Sehingga terus menerus pikiran terfokus pada dua hal; menghadapi masalah dan orang yang kita anggap telah menimbulkan masalah tersebut dan menempatkanya sebagai mahluk perusak hidup yang wajib untuk dimusuhi dan dilawan habis habisan, apapun caranya. Ah, ternyata teori ini hanya berujung kepada kebangkrutan dan kesia siaan besar.

Mengizinkan hati nurani mengambil peran lebih dalam diri, untuk merencana, mengambil sikap, membuat keputusan, dan menentukan kemana arah akhir hidup. Masalahnya, selama ini ego yang terus menerus mendominasi diri. Hati nurani lebih berperan layaknya pahlawan kesiangan yang muncul belakangan, tepat satu langkah di belakang penyesalan. Kebenaran dan kesadaran dari nurani baru muncul setelah kita menyesal telah melakukan sebuah kesalahan. Dialog dua diri, antara ego dan hati nurani, bukan bicara kalah atau menang sebab seringkali hati nurani begitu mudah terkalahkan. Karena ego tidak datang sendirian, ia seringkali ditemani oleh kawan-kawannya antara lain, nafsu, ambisi, keserakahan, dan ketidakpuasan. Karenanya, dialognya hanya berupa penyelarasan mana yang lebih baik untuk diri; kompromi hati nurani…

Ternyata tidak ada yang lebih nikmat daripada menyadari bahwa hidup amatlah indah untuk dilewatkan dalam kemuraman…

Gempol - Nutricia 070426

Thursday, April 12, 2007

Tujuan

Ingat selembar bulu elang yang gugur dari tancapan sayap perkasa sang binatang di angkasa tak berraja? Selembar bulu itu terbang mengitari mayapada, menyapai embun gunung, awan pantai dan dan udara perbukitan, sejenak tunduk pada lembab hawa belantara yang mempermainkannya dalam tetarian dan membumbungkannya melewati langit ke tujuh nun jauh diatas batas perkiraan akal mahluk hidup. Gerakanya tak berarah hanya mengikuti keinginan sang angin membawanya mengembara, dan tak satupun pijakan untuk berhenti tersedia di pucuk langit sana. Ia kehilangan alamnya, kehilangan kesejatiannya sendiri. Sebuah kehilangan yang tak bisa digambarkan kecuali dirasakanya sendiri.

Dunianya yang kosong melompong dipagari oleh pikirannya sendiri, dan ia terkurung didalam tempurung ciptaanya sendiri, menciptakan lawan atas ketidak inginan serta keinginannya sendiri. Ia petarung yang kehilangan lawan kecuali dirinya sendiri. Ah sungguh tak banyak orang yang menemukan kebaikan dalam hidupnya, sedangkan semestinya hidup adalah berisi segala kebaikan seperti yang selalu dimintakan dalam mantera mantera pengobat jiwa bagi mereka yang terluka. Ia melanglang dari kehampaan demi kehampaan, merindukan sebuah tujuan.

Betapa bisu dan diam dunia yang ditinggalinya, betapa sunyi dan luasnya alam tempatnya mengambang dan tenggelam di ketinggian. Seluruh monolog ditorehnya di dinding langit, menjadi warna warna yang lekas saja pudar ketika suhu berganti lalu hilang ditelan keheningan lain lagi. Terkadang ucapan terbaik dari kata katanya adalah kebisuan yang membalut kecamuk angan angan.

Ia rindu kebahagiaan. Rindu rasa bahagia. Rasa mencintai. Ia bahagia bisa mencintai keseluruhan pokok hidupnya dulu. Dan ketika cinta yang diagungkan perlahan mati, maka membusuk pulalah akar kehidupanya. Waktu telah menjerang semua persediaan harapanya, hingga yang tersedia hanya wadah pemanis tanpa isi, bolong bolong dan compang camping ditingkahi musim yang datang pergi silih berganti. Tapi di kehampaan ini kebahagiaanpun ikut mati rasa. Mengharap kebahagiaan sedangkan itu bukan hal layak untuk didapatkan. Ketika hidup berjalan dengan baik, itulah hadiah yang mengejutkan dari hidup, dan kebahagiaan melekat pada sifatnya yang sementara.

Hatinya mati, sebuah kematian yang perlahan dan jauh dari kerumunan. Tak ada kabar tentang kematiannya kecuali kesunyian yang menjadi saksinya. Kematian yang menggugurkan setiap harapan satu demi satu bagai daun hingga tak tersisa lagi samasekali. Telah dipoles wajahnya dengan gincu untuk menyembunyikan wajahnya yang kuyu yang kehilangan tempat di bumi tempatnya berada. Kepada udara ia pasrahkan cerita, menekuri jejak demi jejak baru tanpa ia tahu akan tiba dimana. Kesunyian hanya pembungkus alam fikirannya, sedangkan yang dikandungkannya kekacauan keadaan serta masa lalu dan masa depanya yang berhamburan.

Sungguh ia hanya ingin perjalanan terakhirnya, dari kekosongan dan kehampaan berubah menjadi punya tujuan…


Gempol, menjelang subuh 070412

Wednesday, April 11, 2007

Sebuah drama duka seorang pecinta

: W
Ia merasa menjadi seorang pemain sandiwara yang paling kejam, tanpa hati dan perasaan. Lima tahun usia perkawinan yang menghasilkan seorang bocah hiperaktif ternyata tak cukup menghasilkan sebuah resolusi yang ditunggu tunggu, bahwa cinta takan timbul seiring dengan kebersamaan. Sepuluh tahun sudah bibit pemberontakan disemaikan dalam jiwanya, bukti penolakannya atas kenyataan tak nyaman tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan; membentur udara hampa.

Orang yang kini menjadi teman hidup dalam status suami istri yang semestinya berazaskan cinta, sebenarnya hanyalah salah satu kewajibanya menjalankan adat dunia; kecil, tumbuh, berumah tangga dan memiliki keturunan. Maka kewajibanya lunas sudah. Semalam ia menangis sendirian, merasa telah meracuni pasangan hidupnya dengan kepura puraan yang sempurna. Ia telah lakukan semuanya tanpa rasa, bahkan cinta yang sering diagung agungkan baginya hanya isapan jempol belaka.

Di dalam tangis sunyinya ia berdoa, semoga sang teman hidup dipertemukan dengan seseorang yang benar benar akan mencintai, mengabdikan hidup hanya kepada pribadinya. Ia percaya bahwa cinta adalah bentuk pengabdian penuh dari hidup seseorang kepada orang lain. Dan ia tidak memiliki itu untuk pasangan hidupnya. Lima tahun telah membuatnya miskin dan tersesat dari hikmah hidup bersama maupun hakekat investasi sosial. Mengurai penyesalannya yang panjang dan melelahkan, ia menemukan dirinya terjebak dalam himpitan masa lalu dan kesuraman masa depan. “Aku ingin pergi jauh sekali, ke tempat dimana tak seorangpun mengenali…” katanya suatu ketika. Ia ingin menghindari hidupnya sendiri.

Dikeringkannya air mata dengan ujung lengan bajunya, namun tetap saja butiran baru datang bertubi tubi mengaburkan pandangannya di remang lampu ruang tengah tempat tinggalnya. Dunia menjadi begitu luas tanpa batas, dan ia hanya sendiri saja duduk ditengahnya. Apa yang didapatkanya bukan apa yang diinginkannya, sedangkan waktu terus saja melaju meninggalkan cerita cerita tentang kesia siaan yang ia tanggungkan sendirian. Tak seorangpun tahu tentang apa yang berkecamuk didalam dirinya. Sering ia khayalkan tentang teman teman sebayanya yang hidup normal dengan rumah tangga mereka, dengan kehidupan cinta mereka. Kehiudupan normal? Apa definisi kehidupan normal itu sebenarnya? Ia menjadi bingung dengan apa yang diarasakannya sendiri.

Apa yang tidak membahagiakanya, ia tidak mampu mangurainya. Ia bahkan tidak mengerti apa itu bahagia kecuali ketika masa sebelum sepuluh tahun lalu, ketika seorang figure manusia sejati masuk dan menjadi panutannya diam diam. Tanpa sadar lalu ia leburkan khayalan dan harapan kepada manusai idaman ini, sementara sang idaman sendiri mengepakkan sayapnya tinggi tinggi, jauh jauh menjelajahi alam ketidak tahuanya, meninggalkan dirinya dalam peraman rasa cinta yang makin hari makin menggungung tanpa terekspresikan sempurna. Itulah masa masa bahagianya, ketika ia bisa melihat orang yang dikasihinya berlelehan keringat berkelahi dengan mimpi masa depanya. Menjadi dekat dengannya merupakan sebuah azimat bagi optimisme masadepanya, sampai suatu saat ia harus menerima kodrat bahwa sang idamanya bukanlah kandidat peneman hidupnya.

Cintanya mati, di jiwanya hanya ada satu nama dan terus subur mengakar mengabaikan kenyataan sehari hari. Betapa keras dan berat ia berusaha untuk mengingkarinya, menolaknya dan membenturkan dahi kepada kenyataan sekeras batu karang dihadapanya, bahwa ia sendirian kini. Cengkeraman pesona tak sanggup ia lawan, dan ia kepayahan menanggungkan nestapa sepanjang jalan hidupnya. Ia berkelana dari neraka ke lorong lorong pengab, mengharap kematian datang menjemput dan pahlawannya terlambat menemukan kesadaran akan betapa besar cinta yang harus ia kandungkan sendirian.

Ketika malam melewati ujung bumi, tangisnya tak jua berhenti. Sang buah hati tergolek dengan mimpi mimpi di dipan kayu sebelah kanannya, di bibirnya tersungging senyum ceria, tanda bahwa ia tengah berada dialam surga kecilnya. Tiba tiba ia merasa menjadi egois dan sangat keji kepada bocah kecil buah pernikahanya, yang tidak mengerti apa apa urusan orang dewasa. Bocah kecil yang muncul dari akibat keputusan yang ia buat sendiri, sedangkan hidup hanyalah menjalani apapun keputusan yang ia buat. Sorot mata lugu bocah itu mengikat langkah kaki hatinya, dan celotehnya membelenggu jiwanya untuk berontak dan pergi dari alam kenyataan yang mengkerdilkan.

Ia jadi lemah, tak berdaya, tak bisa memutuskan apa apa, bahkan sesudah sepuluh tahun perjalanan cinta yang sia sia…ia bertambah bingung, hanya menunggu usia melintas di atas kepala...


Andong, 070408

Friday, April 06, 2007

Mengantar Matahari Pulang

Ruhku pulang, meniti sepanjang pematang sawah dan melewati pepohonan Gude yang hitam, wijen hijau kekuningan diantara pokok pokok jagung muda bermahkotakan kembang warna jingga. Bahkan bayi bayi belalangpun berloncatan menyingkir memberi jalan ketika kaki telanjang menapak tanah kering berbau wangi aroma rumput. Kemarau masih belia, dan tanah menjadi induk bagi segala kehidupan dipermukaanya, bersolek mempersiapkan persembahan kepada musim yang menimangnya sepanjang masa. Dan biji biji kentang yang tertinggal merana sendirian di musim lalu, memberontak dari keberadaanya dengan tunas hijau kekuningan, menyembul dari sisi sisi pematang; sebentar lagi ambrol digerus anak gembala mencari teduhan, diantara rimbun daun ubi kayu sang penguasa pematang kini.

Matahari di barat laut sayu, dilangkahi satu dua burung kontul yang terbang bermalas malasan mencari sisa sisa kubangan dimana bayi bayi wader, lele, gobi, uceng dan udang sempat menikmati hidup mereka yang pendek. Bahkan perkutut dan kutilangpun berpasang pasangan menghinggapi ranting turi bergantian. Suara burung srikatan bercerecet renyah menikam sunyi sore menjelang senja diantara pekatnya rumpun bambu ori, pagar hidup kampung. Setiap kampung di Jawa konon berasal dari satu kelompok yang dipimpin satu individu, kebanyakan ceceran dari prajurit prajurit kerajaan yang mungkin tersesat entah memberontak, mengadakan kehidupanya sendiri dengan membentuk kelompok kecil, membangun sebuah komunitas dalam sebuah kampung dan mengkonsep system perlindungan dengan menanam bambu ori (oren) keliling kampung, dan memasang gardu perondaan disetiap jalan masuknya.

Deru angin seperti mengikuti, mengelilingi dan tak henti menciumi membelai wajah. Di tanah ini angin tak pernah pergi, tidak seperti setiap lelaki isi kampung itu yang berlarian mengejar mimpi setelah akil baliq. Angin seperti mengalir langsung dari langit, tanpa muatan debu maupun karbon dioksida, hanya butiran embun di malam hari dan mengantar hangat sinar matahari di siangnya. Segar hawa persawahan mengantar bergegas mencapai puncak gumuk, menanjak pada sejuk rumput setiap kali kaki ditapakkan. Dan segala pepohonan berdaun berayun menyambut seolah mengabarkan tentang kerinduan yang telah ditanggungkan beratus ratus tahun sendirian. Angge angge di belik kecil barair kecoklatan dipuncak gumuk berenangan kesana kemari seperti kegirangan yang tak bisa berhenti. Batu cadas dinding belik membasah dengan lumut hijau tua menggelayut, ujungnya menari dipermukaan air belik.

Membasuh muka lalu duduk takjub memandangi matahari yang sebentar lagi tenggelam dibalik rimbun kampung Tegal Rejo seberang sawah, dimana rimbun pohon Cepokal menjadi gerbang jalan masuknya. Warnanya memerah saga, besar dan terang benderang bagaikan cermin berkilauan ditengah hamparan langit melembayung syahdu. Hangat tanah pematang membawa kenangan tentang masa kecil dimana masadepan bagaikan langit tak bertuan, tempat dimana penjelajahan bisa terpuaskan sampai ke ujung kekuatan. Cerita tentang negeri negeri penuh kejayaan terlukis jelas disetiap gumpalan mendung yang melintas atau pada petak petak bayangan yang tergambar dilangit tak bergaris. Diseberang sana, diujung sana, dibalik sana, dibawah langit sana, sebuah tempat telah menanti siapa saja yang datang dengan keberanian untuk pulang membawa medali kebanggaan; ke kampung halaman, tempat masa kecil diciptakan hanya sekali dalam seumur hidup. Semilir hawa gumuk selalu menenteramkan fikiran, memberikan asupan gizi bagi nurani sebagai hikmah dari kesahajaan.

Terimakasih wahai sang matahari yang telah menjadi mata bagi hari ini. Luruhlah luruh ke balik bumi dengan catatan tentang apa yang kau hidupkan dan kau matikan di mayapada. Terimakasih karena kau telah memberi hidup dari yang mati, dan memberi terang bagi yang gelap hati. Terimakasih atas hidup, yang mengajarkan bahwa sendiri bukanlah berarti kesepian. Orang orang tercinta tinggal dan hidup, menghangatkan setiap ruangan dalam lorong hati senja ini, dengan unggun cinta yang selalu terpelihara oleh alam.

Damainya gumuk senja ini, serasa mengikat kaki untuk tidak melangkah pergi; kembali ke dunia plastik, negeri impian masa kecil dulu…dan sebelah hati rebah di bahu kiri, melafalkan percakapan hati tanpa kata kata…

(…aku ingin,
rebah di sejuk tanah berdebu kampungku,
di bawah rimbun pohon bambu…)

Gempol, 070405

Thursday, April 05, 2007

Anak ayam di lubang kakus

Pandanganya yang buram mengikuti gerak awan berarak menjelajahi angkasa yang luas dan kosong. Disana dulu tempatnya bercengkerama dan memandang hidup dari sisi ketinggian akal nurani. Umpama anak ayam yang tercebur diantara kubangan kotoran, berteriak teriak hanya kepada dinding tanah bisu membeku, tempat para baksil beranak pinak bersimaharajalela. Di lubang kakus yang menjegalnya dia terjebak kini dengan sayap yang dipincangkan dan kehilangan kehalusan fikiran. Bahkan tak kadang dia kehilangan arah fikiran dan apa yang musti difikirkan.

Ia terkenang sayap kecilnya dulu, yang mengajarkan mimpi memburu matahari sampai ke negeri dongeng dimana pepohonan tumbuh berakar kabut. Dimana pernah dijumpainya tangkai demi tangkai buah pengalaman yang ia susun jadi mahkota kebanggaan. Bersama awan pula ia mengembara menembus batas batas kemustahilan atas dirinya yang kecil, menempuh lebih jauh hanya karena dia sendirian saja. Negeri negeri yang ditinggalkan kini datang berjubal dalam rindunya, menyuguhkan pengandaian pengandaian yang memabukkan kebosanan. Negeri negeri itu, akankah mereka juga mengenang jejak yang pernah ditinggalkan serta menyimpan kehadiranya sebagai sebuah catatan?

Berpasrhahpun bahkan ia tak tahu caranya kini. Hatinya menolak dan membentuk menjadi sebuah pemberontakan eskalatif diam diam yang panjang. Sebuah pertempuran bathin yang merontokkan bulu bulu kebanggaan. Sungguh iapun berharap seseorang akan datang dengan irus bergagang, dan mengentaskanya dari jurang kenestapaan yang dipilihnya untuk berkubang dulu. Ia menolak menjadi korban sesaat setelah ia relakan sayapnya dipatahkan, berasa buah pengalaman dan mahkota kebanggaan menjadi obat penenang dari segala jenis kekacauan alam fikiran.

Seandainya saja ia ikuti logika yang menyisihkan idealisme, mungkin kini ia akan sudah berada diantara gumpalan awan di negeri lain lagi, memunguti serpihan kejadian menjadi bekal hidupnya sebelum usia merapuhkan. Penyesalanya datang tanpa dilawannya, sebagai symbol kepasrahan yang dipaksakan; musuh musuh baru bagi segala jenis contoh kepahlawanan. Mungkin juga ia tidak akan pernah bertemu dengan lubang kakus celaka ini, dimana ia hanya menyaksikan kisah lembar demi lembar daun bambu kering yang luruh dari tangkai kemegahan, lalu membaur jadi zat ketidak bergunaan.

Satu kali seorang malaikat datang didalam gelap dan pengap dunianya, mengajarkan hikmah tentang menjadi pejantan. Bahwa kekuatan yang besar sama artinya dengan tanggung jawab yang besar pula. Dan telah digadaikan kekuatanya yang besar itu kepada waktu yang memakan tubuhnya tenang tenang, yang ditukarkan dengan kebingungan sebagai anak keturunan dari ketersesatan. Ia termenung sejenak oleh sebab dunia di angkasa tak berisi apa apa. Tak ada temannya bicara meskipun dalam hati sekalipun. Mengaca kepada pengetahuanya tentang dirinya sendiri, ia simpulkan bahwa dirinya memang lemah, bahkan hanya karena tatapan mata bocah.

Sebutir embun luruh dari pucuk daun bambu dihadapanya. Ia tertunduk menanyakan kabar masa lalu…

Gempol, 070405

* tulisan ini sebagai pengingat masa kecil, dimana seekor anak ayam acap kali tercebur ke lubang kakus Mbak Sujak, dibawah rimbun pohon bambu sebelah rumah. Bingung dan lemah di dasar kakus, berlumur kotoran yang jadi beban keseluruhan hidupnya sampai seseorang akan mendengar jeritannya lalu mengangkatnya dari sana dengan irus (sendok besar yang cekung, terbuat dari tempurung kelapa dsb untuk menyendok sayur dsb dari kuali, belanga, periuk atau panci) bergagang genter (galah).

Tuesday, April 03, 2007

Modal Cinta

Cinta bisa diterjemahkan sesuka hati dari miliaran aspek dan dimensi, sejalan dengan pengalaman, dengan pengharapan dan tentunya perasaan. Tidak pelak lagi, seperti jumlah yang tidak terbatas untuk menggambarkan kaidah maupun kedahsyatan positif dan jenis perhubungan antara lelaki dan perempuan ini, sampai segala halpun bisa disangkut sangkutkan sekenanya dan mengena. Awan, langit, udara, hujan matahari bahkan mimpi sekalipun akan jadi sahih pulen dengan bumbu cinta secukupnya. Kisah kisah asmara yang menggila, melumpuhkan logika dimana cinta menjadi tameng sekaligus penuntun jalan bagi berjalanya dunia tak bertuan milik dua orang yang sedang kasmaran.

Modal cinta kadangkala juga membuat manusia keblinger, kehilangan ketajaman akal sehat bahkan otak warasnya. Dengan cinta maka segalanya berubah menjadi materi optimistic, penuh kepastian dan tak punya ruang untuk yang namanya kekhawatiran dan kecemasan. Cinta menjadi wadah dari kepercayaan yang tak memiliki batas kapasitas tampungan, tak terhingga hitunganya. Bahkan seluruh aspek hidup dari kemelaratan dan kesakitan pun lenyap ditelan kedahsyatan kamuflase cinta. Dan itu sudah dimulai sejak planet bumi pertama diciptakan, sejak manusia pertama diturunkan. Cinta juga yang menyebabkan dunia menjadi sedemikian ramai seperti sekarang, bukan?

Ketika seorang lelaki dan perempuan bertemu entah bagaimana ceritanya, kemudian sepakat untuk saling mengikatkan hati dalam sebuah sumpah perkawinan dan lalu dipatri dengan selembar akta nikah, maka cinta menjadi modalnya. "gegarane wong akrami, dudu bondo dudu rupo,amung ati pawitane" Yang menyebabkan orang untuk menikah, bukan harta benda dan wajah, hanya cinta modalnya. Sebait tembang mocopat jawa yang ada sejak zaman kuno makuno itu terbukti masih berlaku efektif hingga zaman sekarang. Nyata. Modal cinta yang diagung agungkan bahkan dalam kata kata bisa digambarkan dengan sangat sentimental, melebihi kemampuan alam berpikir logis untuk mencernanya “ when we hungry, love will keep us alive” (Eagles – Love Will Keep Us Alive). Bagaimana mungkin cinta bisa mengalahkan rasa lapar, sedangkan domain-nya adalah beda? Yang satu urusan perut dan pencernaan, energi dan bahan bakar yang membuat mempertahankan berfungsinya organ tubuh dan tetap berkembang, sedangkan yang satu urusan emosi yang notabene tanpa kelir apa apa, hanya rasa. Ya, hanya rasa.

Penghargaan dan kepedulian sepenuh hati, rela ‘mengorbankan’ hidup untuk orang yang dicintai (padahal istilah korban mengorban semestinya tidak dipakai dalam urusan cinta sebab azas cinta yang sesungguhnya adalah tenggang rasa dan kesukarelaan). Rasa menyayangi penuh adalah semata keinginan sederhana untuk membuat orang yang dicintai berbahagia, senang dan terlindungi lahir dan bathinya, serta memperoleh penghargaan yang wajar atas upaya itu. Penghargaanyapun sederhana, hanya cukup berupa perlakuan istimewa. Nah, ketika cinta masih menjadi raja, maka dua orang akan menjadi sangat istimewa dimata masing masing, diperlakukan dengan istimewa dan memperoleh hak hak istimewa secara penuh sebagai bentuk penghargaan atas hubungan yang ada. Kamabukan yang sempurna seperti ini sering meninabobokan orang, dan melupakan satu hokum alam yang sampai sekarang tak terbantahkan; bahwa tidak ada apapun yang abadi dan tetap diatas bumi, selama bersangkutan dengan keadaan mahluk hidup, dan cinta hanya milik para mahluk hidup.

Segala hal yang menenggelamkan orang ke negeri dongeng tak bertuan itu bisa dimungkinkan berlangsung selama cinta belum bergeser makna ataupun mengalami degradasi nilai. Dan ketika pergeseran makna (inipun bisa terjadi karena miliaran sebab, sengaja maupun tidak sengaja) maka masing masing individu akan berjuang keras menemukan kesejatian dirinya yang ditenggelamkan dalam lumpur cinta dulu. Sama sama menghidupkan kembali ego yang disembunyikan dahulu untuk diasah menjadi senjata pemberi rasa sakit bagi pasangan. Dan ketika harubiru cinta semakin memudar, maka yang tersisa adalah tali hati yang perih mengikat dengan rantai kewajiban semata, kehilangan samasekali makna dasar dari cinta. Sakit hati yang berlebih dan meradang bertahun tahun bisa menjadi kawah lava yang sangat berbahaya yang bisa melumat dan meluluh lantakkan apapun yang tersangkut dalam perhubungan itu. Sakit hati menahunpun bisa mematikan kepekaan terhadap rasa, menjadikan si manusia cacat mental untuk waktu yang mungkin bisa sangat lama. Hidup bisa menjadi sangat muram dan pesimistik untuk waktu yang lama, ketika cinta berbalik makna menjadi benalu sesal dalam jiwa yang menggerogoti perlahan lahan dari dalam kesejatian diri dalam memberlakukan cinta.

Demikianlah cinta, penjelmaan dari ruh maha rasa, wujud imateri paling dahsyat yang bisa demikian membahagiakan sekaligus membunuh secara perlahan. Ia bisa berubah dari kabut indah penghias kelopak mata menjadi racun gas tak kentara yang mematikan setiap sel dalam darah satu perasatu dengan sangat lamban. Silahkan mengakui juga, bahwa cintapun bisa mentransformasikan bentuknya menjadi perang besar dan panjang yang hanya menjadi pabrikasi atas…korban!

Gempol, 070403

Friday, March 30, 2007

Moksa

(mantra jingga embun dan matahari)
kepada: Liu Huang Fei


Langit biru muda. Luas tak bertemu batas hampa membahana. Ketenangan yang suwung tanpa kejadian tanpa catatan dan menghilangkan kemungkinan masadepan. Kita menjadi gumpal awan itu, putih mengambang perlahan, berjalan tanpa kaki, tanpa mata dan tanpa rasa. Langit ini begitu bebas menjadi tempat kita berenang dalam gelembung perbedaan yang saling bersentuhan. Damai yang membuncah menyaru antara perih yang mencacah, diantara kecemasan yang mengikuti dibawah permukaan arus udara. Kehilangan perbedaan nuansa.

Hening tenang lindap segala suara dan gerak, hanya sayap fikiran mengepak lembut menjelajahi kedalaman sonyaruri. Ah, bahkan dimensi waktupun tak lagi punya jeda dilautan langit tanpa kesunyian maupun kegaduhan ini. Kesejukan menjelajahi pori pori menterjemahkannya menjadi lukisan bunga dipelupuk mata. Medan ini terlalu luas, kokoh dan indah untuk bisa ditembus iblis. Terlalu tinggi hingga hanya berisi dewa dewi yang menyingkir menyilakan kita ada.

Rintik gerimis hangat menyaput wajah, senyummu mengembang dengan tangan erat di gandengan. Di matamu yang bening pelangi membayang menampakkan tetarian Gambyong para bidadari. Hidup begitu luas hingga tak tersisa tempat bagi kekhawatiran masa depan, juga tak punya ruang bagi kekecutan masalalu. Kita hanyut dalam irama syahdunya dan rembulan layu tersipu ditengah hari melumuri batang tubuh kita dengan ketenangannya.

Mengalirlah hanyut berarak wahai hati yang hidup, mengikuti arah angin kan membawa mengembara. Tak ada masa lalu juga masa depan, hanya keluasan sebagai tawaran rute perjalanan. Tak ada rambu maupun penghalang hanya rasa yang menghambur memenuhi seluruh isi jagad.

Disini, hanya ada kita, langit dan udara….serta cinta yang tak tertembus materi…


Glassbox, 070330

Wednesday, March 28, 2007

Datang Pergi di Gerbang Perkawinan

Memasuki megahnya ‘dunia’ perkawinan, orang bisa saja terbius dengan segala rupa macam persiapan dan euphoria psikologis, hal besar dan baru sekali dalam seumur hidup. Tatapan mata optimistic serta bertumpuk tumpuk bibit harapan serta menunggu lahan persemaian untuk diuraikan menjadi hasil panen kehidupan kelak. Perfect, sempurna rasanya lelaki dan perempuan asing dipertemukan dan dipersatukan dalam lembaga perkawinan yang mengikatkan cinta dua orang pribadi berbeda. Segala ritual pernikahan akan menjadi symbol dari pitutur dan nasehat bijak tentang bagaimana idealnya menjadi istri, bagaimana menjadi suami dan bagaimana menjadi suami istri. Dimulailah maka investasi sosial itu, dalam bentuk anggota masyarakat baru dengan identitas baru. Rasanya semua tamu yang datang ke pesta mandoakan, menyetujui dan ikut berbahagia atas berlangsungnya upacara. Jadi memang tidak ada samasekali hal yang patut untuk dirisaukan tentang hakekat perkawinan itu sendiri, semua berjalan sempurna sejak awal mula, dan tidak ada apapun yang bisa merusak itu kecuali kematian.

Gemerlap dunia perkawinan ternyata hanya pagar pemoles kulit luar belaka. Didalamnya berisi rimba belantara yang memerlukan ketekuanan serta keteladanan untuk bisa ditaklukkan agar nyaman menjadi hunian jiwa dua manusisa yang berhimpitan tinggal didalamanya. Sejatinya memasuki dunia perkawinan adalah mengikatkan diri kepada dunia yang menyempit, dengan tebalnya rimba yang mudah menyesatkan orang. Tempat sempit itu juga menjadi penjara bagi kebebasan penghuninya, yang mau tidak mau harus meleburkan diri dalam segala beda, suka maupun tidak suka. Tak jarang setelah umur kesekian dari sang lembaga, penghuninya baru menyadari dan menemukan bahwa pasangan yang digandengnya adalah orang yang salah, orang yang seharusnya tidak berada didalam penjara kebebasan bersamanya.

Alternatif untuk keluar, quit dari rumah megah perkawinan itu selalu terbuka lebar selama dunia masih dikendalikan umat manusia. Selalu tersedia undang undang, peraturan maupun tatacara untuk membatalkan kepemilikan investasi sosial dengan meminta pernyataan pailit dari pengadilan agama. Krisis cinta, modal awal yang terlalu banyak dihambur hamburkan pada saat baru memasuki gerbang perkawinan sudah tiris, dan persediaan bibit harapan yang dulu begitu kokoh menerangi jalan keyakinan ternyata berisi ulat, busuk dan tak mau tumbuh yang akhirnya ngamprah menjadi sampah di belantara kekacauan hubungan dua manusia pemrakarsanya.

Usaha untuk keluar dari belenggu rumah tanggapun memerlukan kekuatan dan usaha yang berkali lipat jumlahnya daripada sewaktu membentuknya. Butuh keberanian, keteguhan dan ketenangan luar biasa, sebab keputusan seperti itu biasanya terjadi setelah badai panjang, gelap dan menyesatkan fikiran. Ketenangan dan kekuatan logika diperlukan untuk menangkis protes dari hati yang tentu tidak mau menyebabkan kelukaan bagi mahluk apapaun dimuka bumi. Hidup yang telah di bond sedemikian lekat kemudian harus di amputasi, dan masing masing nyawa yang tinggal di dalamnya harus mau menerima perihnya. Akan lebih baik barangkali, daripada lembaga seperti itu kehilangan esensinya samasekali, kehilangan makna hakiki sebagai payung pergaulan di masyarakat, dan sekali lagi sebagai investasi sosial sekali seumur hidup.

Dan hidup bukanlah melulu hanya perkawinan, pergaulan juga bukan melulu rumah tangga. Namun acap kali aspek aspek negatif dari perkawinan yang berjalan timpang mempengaruhi segala sendi yang mengikutinya. Meneruskan sesuatu yang tak berguna adalah sama saja dengan menangguhkan ketidak bergunaan untuk berakhir kepada kesia siaan, tanpa memabawa manfaat apa apa dimuka bumi.

Antara yang masuk dan keluar pintu gerbang itu, terkadang terbawa dua warna, dua cerita kontras tentang pergaulan dunia. Memasukinya perlu perencanaan, keluar darinya memerlukan perjuangan sama sama untuk satu lingkaran dunia yang aneh..


Glass box 070328