Friday, April 06, 2007

Mengantar Matahari Pulang

Ruhku pulang, meniti sepanjang pematang sawah dan melewati pepohonan Gude yang hitam, wijen hijau kekuningan diantara pokok pokok jagung muda bermahkotakan kembang warna jingga. Bahkan bayi bayi belalangpun berloncatan menyingkir memberi jalan ketika kaki telanjang menapak tanah kering berbau wangi aroma rumput. Kemarau masih belia, dan tanah menjadi induk bagi segala kehidupan dipermukaanya, bersolek mempersiapkan persembahan kepada musim yang menimangnya sepanjang masa. Dan biji biji kentang yang tertinggal merana sendirian di musim lalu, memberontak dari keberadaanya dengan tunas hijau kekuningan, menyembul dari sisi sisi pematang; sebentar lagi ambrol digerus anak gembala mencari teduhan, diantara rimbun daun ubi kayu sang penguasa pematang kini.

Matahari di barat laut sayu, dilangkahi satu dua burung kontul yang terbang bermalas malasan mencari sisa sisa kubangan dimana bayi bayi wader, lele, gobi, uceng dan udang sempat menikmati hidup mereka yang pendek. Bahkan perkutut dan kutilangpun berpasang pasangan menghinggapi ranting turi bergantian. Suara burung srikatan bercerecet renyah menikam sunyi sore menjelang senja diantara pekatnya rumpun bambu ori, pagar hidup kampung. Setiap kampung di Jawa konon berasal dari satu kelompok yang dipimpin satu individu, kebanyakan ceceran dari prajurit prajurit kerajaan yang mungkin tersesat entah memberontak, mengadakan kehidupanya sendiri dengan membentuk kelompok kecil, membangun sebuah komunitas dalam sebuah kampung dan mengkonsep system perlindungan dengan menanam bambu ori (oren) keliling kampung, dan memasang gardu perondaan disetiap jalan masuknya.

Deru angin seperti mengikuti, mengelilingi dan tak henti menciumi membelai wajah. Di tanah ini angin tak pernah pergi, tidak seperti setiap lelaki isi kampung itu yang berlarian mengejar mimpi setelah akil baliq. Angin seperti mengalir langsung dari langit, tanpa muatan debu maupun karbon dioksida, hanya butiran embun di malam hari dan mengantar hangat sinar matahari di siangnya. Segar hawa persawahan mengantar bergegas mencapai puncak gumuk, menanjak pada sejuk rumput setiap kali kaki ditapakkan. Dan segala pepohonan berdaun berayun menyambut seolah mengabarkan tentang kerinduan yang telah ditanggungkan beratus ratus tahun sendirian. Angge angge di belik kecil barair kecoklatan dipuncak gumuk berenangan kesana kemari seperti kegirangan yang tak bisa berhenti. Batu cadas dinding belik membasah dengan lumut hijau tua menggelayut, ujungnya menari dipermukaan air belik.

Membasuh muka lalu duduk takjub memandangi matahari yang sebentar lagi tenggelam dibalik rimbun kampung Tegal Rejo seberang sawah, dimana rimbun pohon Cepokal menjadi gerbang jalan masuknya. Warnanya memerah saga, besar dan terang benderang bagaikan cermin berkilauan ditengah hamparan langit melembayung syahdu. Hangat tanah pematang membawa kenangan tentang masa kecil dimana masadepan bagaikan langit tak bertuan, tempat dimana penjelajahan bisa terpuaskan sampai ke ujung kekuatan. Cerita tentang negeri negeri penuh kejayaan terlukis jelas disetiap gumpalan mendung yang melintas atau pada petak petak bayangan yang tergambar dilangit tak bergaris. Diseberang sana, diujung sana, dibalik sana, dibawah langit sana, sebuah tempat telah menanti siapa saja yang datang dengan keberanian untuk pulang membawa medali kebanggaan; ke kampung halaman, tempat masa kecil diciptakan hanya sekali dalam seumur hidup. Semilir hawa gumuk selalu menenteramkan fikiran, memberikan asupan gizi bagi nurani sebagai hikmah dari kesahajaan.

Terimakasih wahai sang matahari yang telah menjadi mata bagi hari ini. Luruhlah luruh ke balik bumi dengan catatan tentang apa yang kau hidupkan dan kau matikan di mayapada. Terimakasih karena kau telah memberi hidup dari yang mati, dan memberi terang bagi yang gelap hati. Terimakasih atas hidup, yang mengajarkan bahwa sendiri bukanlah berarti kesepian. Orang orang tercinta tinggal dan hidup, menghangatkan setiap ruangan dalam lorong hati senja ini, dengan unggun cinta yang selalu terpelihara oleh alam.

Damainya gumuk senja ini, serasa mengikat kaki untuk tidak melangkah pergi; kembali ke dunia plastik, negeri impian masa kecil dulu…dan sebelah hati rebah di bahu kiri, melafalkan percakapan hati tanpa kata kata…

(…aku ingin,
rebah di sejuk tanah berdebu kampungku,
di bawah rimbun pohon bambu…)

Gempol, 070405

Thursday, April 05, 2007

Anak ayam di lubang kakus

Pandanganya yang buram mengikuti gerak awan berarak menjelajahi angkasa yang luas dan kosong. Disana dulu tempatnya bercengkerama dan memandang hidup dari sisi ketinggian akal nurani. Umpama anak ayam yang tercebur diantara kubangan kotoran, berteriak teriak hanya kepada dinding tanah bisu membeku, tempat para baksil beranak pinak bersimaharajalela. Di lubang kakus yang menjegalnya dia terjebak kini dengan sayap yang dipincangkan dan kehilangan kehalusan fikiran. Bahkan tak kadang dia kehilangan arah fikiran dan apa yang musti difikirkan.

Ia terkenang sayap kecilnya dulu, yang mengajarkan mimpi memburu matahari sampai ke negeri dongeng dimana pepohonan tumbuh berakar kabut. Dimana pernah dijumpainya tangkai demi tangkai buah pengalaman yang ia susun jadi mahkota kebanggaan. Bersama awan pula ia mengembara menembus batas batas kemustahilan atas dirinya yang kecil, menempuh lebih jauh hanya karena dia sendirian saja. Negeri negeri yang ditinggalkan kini datang berjubal dalam rindunya, menyuguhkan pengandaian pengandaian yang memabukkan kebosanan. Negeri negeri itu, akankah mereka juga mengenang jejak yang pernah ditinggalkan serta menyimpan kehadiranya sebagai sebuah catatan?

Berpasrhahpun bahkan ia tak tahu caranya kini. Hatinya menolak dan membentuk menjadi sebuah pemberontakan eskalatif diam diam yang panjang. Sebuah pertempuran bathin yang merontokkan bulu bulu kebanggaan. Sungguh iapun berharap seseorang akan datang dengan irus bergagang, dan mengentaskanya dari jurang kenestapaan yang dipilihnya untuk berkubang dulu. Ia menolak menjadi korban sesaat setelah ia relakan sayapnya dipatahkan, berasa buah pengalaman dan mahkota kebanggaan menjadi obat penenang dari segala jenis kekacauan alam fikiran.

Seandainya saja ia ikuti logika yang menyisihkan idealisme, mungkin kini ia akan sudah berada diantara gumpalan awan di negeri lain lagi, memunguti serpihan kejadian menjadi bekal hidupnya sebelum usia merapuhkan. Penyesalanya datang tanpa dilawannya, sebagai symbol kepasrahan yang dipaksakan; musuh musuh baru bagi segala jenis contoh kepahlawanan. Mungkin juga ia tidak akan pernah bertemu dengan lubang kakus celaka ini, dimana ia hanya menyaksikan kisah lembar demi lembar daun bambu kering yang luruh dari tangkai kemegahan, lalu membaur jadi zat ketidak bergunaan.

Satu kali seorang malaikat datang didalam gelap dan pengap dunianya, mengajarkan hikmah tentang menjadi pejantan. Bahwa kekuatan yang besar sama artinya dengan tanggung jawab yang besar pula. Dan telah digadaikan kekuatanya yang besar itu kepada waktu yang memakan tubuhnya tenang tenang, yang ditukarkan dengan kebingungan sebagai anak keturunan dari ketersesatan. Ia termenung sejenak oleh sebab dunia di angkasa tak berisi apa apa. Tak ada temannya bicara meskipun dalam hati sekalipun. Mengaca kepada pengetahuanya tentang dirinya sendiri, ia simpulkan bahwa dirinya memang lemah, bahkan hanya karena tatapan mata bocah.

Sebutir embun luruh dari pucuk daun bambu dihadapanya. Ia tertunduk menanyakan kabar masa lalu…

Gempol, 070405

* tulisan ini sebagai pengingat masa kecil, dimana seekor anak ayam acap kali tercebur ke lubang kakus Mbak Sujak, dibawah rimbun pohon bambu sebelah rumah. Bingung dan lemah di dasar kakus, berlumur kotoran yang jadi beban keseluruhan hidupnya sampai seseorang akan mendengar jeritannya lalu mengangkatnya dari sana dengan irus (sendok besar yang cekung, terbuat dari tempurung kelapa dsb untuk menyendok sayur dsb dari kuali, belanga, periuk atau panci) bergagang genter (galah).

Tuesday, April 03, 2007

Modal Cinta

Cinta bisa diterjemahkan sesuka hati dari miliaran aspek dan dimensi, sejalan dengan pengalaman, dengan pengharapan dan tentunya perasaan. Tidak pelak lagi, seperti jumlah yang tidak terbatas untuk menggambarkan kaidah maupun kedahsyatan positif dan jenis perhubungan antara lelaki dan perempuan ini, sampai segala halpun bisa disangkut sangkutkan sekenanya dan mengena. Awan, langit, udara, hujan matahari bahkan mimpi sekalipun akan jadi sahih pulen dengan bumbu cinta secukupnya. Kisah kisah asmara yang menggila, melumpuhkan logika dimana cinta menjadi tameng sekaligus penuntun jalan bagi berjalanya dunia tak bertuan milik dua orang yang sedang kasmaran.

Modal cinta kadangkala juga membuat manusia keblinger, kehilangan ketajaman akal sehat bahkan otak warasnya. Dengan cinta maka segalanya berubah menjadi materi optimistic, penuh kepastian dan tak punya ruang untuk yang namanya kekhawatiran dan kecemasan. Cinta menjadi wadah dari kepercayaan yang tak memiliki batas kapasitas tampungan, tak terhingga hitunganya. Bahkan seluruh aspek hidup dari kemelaratan dan kesakitan pun lenyap ditelan kedahsyatan kamuflase cinta. Dan itu sudah dimulai sejak planet bumi pertama diciptakan, sejak manusia pertama diturunkan. Cinta juga yang menyebabkan dunia menjadi sedemikian ramai seperti sekarang, bukan?

Ketika seorang lelaki dan perempuan bertemu entah bagaimana ceritanya, kemudian sepakat untuk saling mengikatkan hati dalam sebuah sumpah perkawinan dan lalu dipatri dengan selembar akta nikah, maka cinta menjadi modalnya. "gegarane wong akrami, dudu bondo dudu rupo,amung ati pawitane" Yang menyebabkan orang untuk menikah, bukan harta benda dan wajah, hanya cinta modalnya. Sebait tembang mocopat jawa yang ada sejak zaman kuno makuno itu terbukti masih berlaku efektif hingga zaman sekarang. Nyata. Modal cinta yang diagung agungkan bahkan dalam kata kata bisa digambarkan dengan sangat sentimental, melebihi kemampuan alam berpikir logis untuk mencernanya “ when we hungry, love will keep us alive” (Eagles – Love Will Keep Us Alive). Bagaimana mungkin cinta bisa mengalahkan rasa lapar, sedangkan domain-nya adalah beda? Yang satu urusan perut dan pencernaan, energi dan bahan bakar yang membuat mempertahankan berfungsinya organ tubuh dan tetap berkembang, sedangkan yang satu urusan emosi yang notabene tanpa kelir apa apa, hanya rasa. Ya, hanya rasa.

Penghargaan dan kepedulian sepenuh hati, rela ‘mengorbankan’ hidup untuk orang yang dicintai (padahal istilah korban mengorban semestinya tidak dipakai dalam urusan cinta sebab azas cinta yang sesungguhnya adalah tenggang rasa dan kesukarelaan). Rasa menyayangi penuh adalah semata keinginan sederhana untuk membuat orang yang dicintai berbahagia, senang dan terlindungi lahir dan bathinya, serta memperoleh penghargaan yang wajar atas upaya itu. Penghargaanyapun sederhana, hanya cukup berupa perlakuan istimewa. Nah, ketika cinta masih menjadi raja, maka dua orang akan menjadi sangat istimewa dimata masing masing, diperlakukan dengan istimewa dan memperoleh hak hak istimewa secara penuh sebagai bentuk penghargaan atas hubungan yang ada. Kamabukan yang sempurna seperti ini sering meninabobokan orang, dan melupakan satu hokum alam yang sampai sekarang tak terbantahkan; bahwa tidak ada apapun yang abadi dan tetap diatas bumi, selama bersangkutan dengan keadaan mahluk hidup, dan cinta hanya milik para mahluk hidup.

Segala hal yang menenggelamkan orang ke negeri dongeng tak bertuan itu bisa dimungkinkan berlangsung selama cinta belum bergeser makna ataupun mengalami degradasi nilai. Dan ketika pergeseran makna (inipun bisa terjadi karena miliaran sebab, sengaja maupun tidak sengaja) maka masing masing individu akan berjuang keras menemukan kesejatian dirinya yang ditenggelamkan dalam lumpur cinta dulu. Sama sama menghidupkan kembali ego yang disembunyikan dahulu untuk diasah menjadi senjata pemberi rasa sakit bagi pasangan. Dan ketika harubiru cinta semakin memudar, maka yang tersisa adalah tali hati yang perih mengikat dengan rantai kewajiban semata, kehilangan samasekali makna dasar dari cinta. Sakit hati yang berlebih dan meradang bertahun tahun bisa menjadi kawah lava yang sangat berbahaya yang bisa melumat dan meluluh lantakkan apapun yang tersangkut dalam perhubungan itu. Sakit hati menahunpun bisa mematikan kepekaan terhadap rasa, menjadikan si manusia cacat mental untuk waktu yang mungkin bisa sangat lama. Hidup bisa menjadi sangat muram dan pesimistik untuk waktu yang lama, ketika cinta berbalik makna menjadi benalu sesal dalam jiwa yang menggerogoti perlahan lahan dari dalam kesejatian diri dalam memberlakukan cinta.

Demikianlah cinta, penjelmaan dari ruh maha rasa, wujud imateri paling dahsyat yang bisa demikian membahagiakan sekaligus membunuh secara perlahan. Ia bisa berubah dari kabut indah penghias kelopak mata menjadi racun gas tak kentara yang mematikan setiap sel dalam darah satu perasatu dengan sangat lamban. Silahkan mengakui juga, bahwa cintapun bisa mentransformasikan bentuknya menjadi perang besar dan panjang yang hanya menjadi pabrikasi atas…korban!

Gempol, 070403

Friday, March 30, 2007

Moksa

(mantra jingga embun dan matahari)
kepada: Liu Huang Fei


Langit biru muda. Luas tak bertemu batas hampa membahana. Ketenangan yang suwung tanpa kejadian tanpa catatan dan menghilangkan kemungkinan masadepan. Kita menjadi gumpal awan itu, putih mengambang perlahan, berjalan tanpa kaki, tanpa mata dan tanpa rasa. Langit ini begitu bebas menjadi tempat kita berenang dalam gelembung perbedaan yang saling bersentuhan. Damai yang membuncah menyaru antara perih yang mencacah, diantara kecemasan yang mengikuti dibawah permukaan arus udara. Kehilangan perbedaan nuansa.

Hening tenang lindap segala suara dan gerak, hanya sayap fikiran mengepak lembut menjelajahi kedalaman sonyaruri. Ah, bahkan dimensi waktupun tak lagi punya jeda dilautan langit tanpa kesunyian maupun kegaduhan ini. Kesejukan menjelajahi pori pori menterjemahkannya menjadi lukisan bunga dipelupuk mata. Medan ini terlalu luas, kokoh dan indah untuk bisa ditembus iblis. Terlalu tinggi hingga hanya berisi dewa dewi yang menyingkir menyilakan kita ada.

Rintik gerimis hangat menyaput wajah, senyummu mengembang dengan tangan erat di gandengan. Di matamu yang bening pelangi membayang menampakkan tetarian Gambyong para bidadari. Hidup begitu luas hingga tak tersisa tempat bagi kekhawatiran masa depan, juga tak punya ruang bagi kekecutan masalalu. Kita hanyut dalam irama syahdunya dan rembulan layu tersipu ditengah hari melumuri batang tubuh kita dengan ketenangannya.

Mengalirlah hanyut berarak wahai hati yang hidup, mengikuti arah angin kan membawa mengembara. Tak ada masa lalu juga masa depan, hanya keluasan sebagai tawaran rute perjalanan. Tak ada rambu maupun penghalang hanya rasa yang menghambur memenuhi seluruh isi jagad.

Disini, hanya ada kita, langit dan udara….serta cinta yang tak tertembus materi…


Glassbox, 070330

Wednesday, March 28, 2007

Datang Pergi di Gerbang Perkawinan

Memasuki megahnya ‘dunia’ perkawinan, orang bisa saja terbius dengan segala rupa macam persiapan dan euphoria psikologis, hal besar dan baru sekali dalam seumur hidup. Tatapan mata optimistic serta bertumpuk tumpuk bibit harapan serta menunggu lahan persemaian untuk diuraikan menjadi hasil panen kehidupan kelak. Perfect, sempurna rasanya lelaki dan perempuan asing dipertemukan dan dipersatukan dalam lembaga perkawinan yang mengikatkan cinta dua orang pribadi berbeda. Segala ritual pernikahan akan menjadi symbol dari pitutur dan nasehat bijak tentang bagaimana idealnya menjadi istri, bagaimana menjadi suami dan bagaimana menjadi suami istri. Dimulailah maka investasi sosial itu, dalam bentuk anggota masyarakat baru dengan identitas baru. Rasanya semua tamu yang datang ke pesta mandoakan, menyetujui dan ikut berbahagia atas berlangsungnya upacara. Jadi memang tidak ada samasekali hal yang patut untuk dirisaukan tentang hakekat perkawinan itu sendiri, semua berjalan sempurna sejak awal mula, dan tidak ada apapun yang bisa merusak itu kecuali kematian.

Gemerlap dunia perkawinan ternyata hanya pagar pemoles kulit luar belaka. Didalamnya berisi rimba belantara yang memerlukan ketekuanan serta keteladanan untuk bisa ditaklukkan agar nyaman menjadi hunian jiwa dua manusisa yang berhimpitan tinggal didalamanya. Sejatinya memasuki dunia perkawinan adalah mengikatkan diri kepada dunia yang menyempit, dengan tebalnya rimba yang mudah menyesatkan orang. Tempat sempit itu juga menjadi penjara bagi kebebasan penghuninya, yang mau tidak mau harus meleburkan diri dalam segala beda, suka maupun tidak suka. Tak jarang setelah umur kesekian dari sang lembaga, penghuninya baru menyadari dan menemukan bahwa pasangan yang digandengnya adalah orang yang salah, orang yang seharusnya tidak berada didalam penjara kebebasan bersamanya.

Alternatif untuk keluar, quit dari rumah megah perkawinan itu selalu terbuka lebar selama dunia masih dikendalikan umat manusia. Selalu tersedia undang undang, peraturan maupun tatacara untuk membatalkan kepemilikan investasi sosial dengan meminta pernyataan pailit dari pengadilan agama. Krisis cinta, modal awal yang terlalu banyak dihambur hamburkan pada saat baru memasuki gerbang perkawinan sudah tiris, dan persediaan bibit harapan yang dulu begitu kokoh menerangi jalan keyakinan ternyata berisi ulat, busuk dan tak mau tumbuh yang akhirnya ngamprah menjadi sampah di belantara kekacauan hubungan dua manusia pemrakarsanya.

Usaha untuk keluar dari belenggu rumah tanggapun memerlukan kekuatan dan usaha yang berkali lipat jumlahnya daripada sewaktu membentuknya. Butuh keberanian, keteguhan dan ketenangan luar biasa, sebab keputusan seperti itu biasanya terjadi setelah badai panjang, gelap dan menyesatkan fikiran. Ketenangan dan kekuatan logika diperlukan untuk menangkis protes dari hati yang tentu tidak mau menyebabkan kelukaan bagi mahluk apapaun dimuka bumi. Hidup yang telah di bond sedemikian lekat kemudian harus di amputasi, dan masing masing nyawa yang tinggal di dalamnya harus mau menerima perihnya. Akan lebih baik barangkali, daripada lembaga seperti itu kehilangan esensinya samasekali, kehilangan makna hakiki sebagai payung pergaulan di masyarakat, dan sekali lagi sebagai investasi sosial sekali seumur hidup.

Dan hidup bukanlah melulu hanya perkawinan, pergaulan juga bukan melulu rumah tangga. Namun acap kali aspek aspek negatif dari perkawinan yang berjalan timpang mempengaruhi segala sendi yang mengikutinya. Meneruskan sesuatu yang tak berguna adalah sama saja dengan menangguhkan ketidak bergunaan untuk berakhir kepada kesia siaan, tanpa memabawa manfaat apa apa dimuka bumi.

Antara yang masuk dan keluar pintu gerbang itu, terkadang terbawa dua warna, dua cerita kontras tentang pergaulan dunia. Memasukinya perlu perencanaan, keluar darinya memerlukan perjuangan sama sama untuk satu lingkaran dunia yang aneh..


Glass box 070328

Tuesday, March 27, 2007

Tulisan bebas penulis bebas

(Berpikir adalah merupakan aktifitas kognitif yang hasilnya dikatakan sebagai pikiran (mind). Pikiran adalah merupakan perangkat lunak (shoftware) yang dioperasikan di dalam otak (brain). Hasil olahan dari kognitif adalah logika dan afeksi - kutipan dari blog seorang teman - red)

Mengingat segala dinamika kehidupan berawal dari pikiran yang berkembang menjadi wacana atau pemikiran kemudian tumbuh menjadi rencana serta ke pelaksanaan, maka menulispun melalui proses metamorfosa yang sama. Menulis adalah menterjemahkan pengendapan fikiran atas kejadian, peristiwa atau kesan yang tertangkup dalam ruang bernama renungan. Penulis yang baik adalah yang bisa mengekspresikan sifat individualitas si penulis. Tulisan bebas tentu tidak mengandung unsur menggurui maupun menghakimi, tapi lebih cenderung sebagai pendapat pribadi bebas terhadap apa yang dirasa dan dilalui lewat kepekaan syaraf seni.

Menulis adalah seni mengalirkan fikiran melalui rangkaian huruf huruf yang tersambung dalam kata dan mengalir dalam satu kalimat, membentuk sebuah kesan dalam paragraph yang akhir akhirnya meninggalkan jejak bagi fikiran siapapun yang membacanya. Jadi sebetulnya tulisan adalah dari fikiran untuk fikiran, dari pendapat untuk pendapat. Dari tulisan bebas kita hanya bisa paling tidak meraba kepribadian si penulis, karena tulisan adalah anak rohani dari penulis itu sendiri selama itu tulisan bukanlah merupakan tulisan pesanan maupun tulisan dengan tendensi tertentu yang bisa menghasut fikiran orang lain.

Tulisan yang baik juga bisa mempengaruhi si pembaca, mempengaruhi untuk berpendapat tentang pendapat yang dikemukakan di tulisan atau bahkan yang lebih parahnya lagi bisa menyebabkan ketersinggungan karena tersindir. Hanya tulisan yang dibuat dengan proses befikir yang dalam yang bisa menggerakkan fikiran orang lain, dan memberikan wawasan baru dari pendapat yang dikemukakan secara bebas didalam tulisan. Sebuah karya sastra mengandung keindahan dari penyusunan kalimat kalimat serta pemilihan kata kata (diksi), untuk menyampaikan suatu pesan secara simbolis ataupun terang terangan. Semestinyalah sebuah karya sastra dilihat sebagai sebuah karya sastra, sebuah hasil kerja berfikir dan berkreatif terlepas dari mencoba menganalisa sifat luar si penulisnya.

Jika tulisan bisa dengan tidak sengaja menyinggung pembaca, reaksi umum pertama yang muncul adalah penghujatan kepada si penulis karena tidak mungkin memboikot atau membredel tulisan yang menyinggung si pribadi terhormat berintelektual setinggi langit dan setara dengan kahayangan dimana para dewa dewi bercengkerama itu, maupun atas pertimbangan etika tidak pantas dilakukan. Pembaca yang merasa kehormatanya yang tinggi (atau mungkin seseorang yang menjadi layanan empatynya) tergesek bisa bereaksi aneh, bisa lucu, tapi bisa juga konyol. Jarang malahan yang bisa bereaksi dengan akal sehat yang mencerminkan kedewasaan emosional sebagai wakil dari warga beradab. Kekonyolan itu bisa berupa pembubuhan cap semena mena terhadap si penulis dengan tidak mempertimbangkan adat sopan santun maupun tata krama pergaulan di masyarakat umum. Sebuah warisan zaman jahiliyah yang dilestarikan hingga hari ini!

Kritik terhadap esensi tulisan maupun terhadap gaya penulisan mungkin akan dipandang sebagai cara yang lebih elegan ketimbang lontaran kata vulgar yang menggabrul kepada interpersonal penulisnya. Sebuah tulisan bertema cengeng bisa jadi adalah hasil dari penyulingan rasa mengharu biru yang tidak sembarang orang bisa melakukanya, dan kalaupun semua orang memiliki rasa mengharubiru, belum tentu juga bisa mengekspresikanya dalam sebuah tulisan. Beberapa karya tulis bahkan bisa membawa pembacanya menangis, dan tentu tulisan itu tidak dibuat dengan cara menangis pada masanya. Semata adalah kepiawaian si penulis menjabarkan detail dari matrix rasa dalam susunan kata kata.

Jadi ketika kekonyolan itu ditampilkan dalam bentuk tulisan yang hambar tanpa cita rasa seni, maka yang muncul semata mata adalah cap dangkal atas sebuah karya berfikir kognitif. Sungguh memprihatinkan. Sedangkan bagi si penulis, melahirkan anak rohani dalam tulisan adalah memandang dunia di telapak tangan, memberikan rasa pelepasan yang tak terbagikan dengan orang lain. Menulis adalah hal menyampaikan, mengeluarkan, soal itu menjadi madu ataupun racun bagi pembaca, terserah kepada apa isi tembolok masing masing pembacanya. Akan lebih menghibakan lagi apabila si pembaca sendiri merasa entah sungkan entah malu menampakkan diri sebagai pembaca, seperti melempar tahi sapi dari gelapnya malam. Kasihan...!


Glass box 070327

Thursday, March 22, 2007

Bunga Kertas untuk Ibunda

Apalah arti bhakti seorang anak kepada ibundanya jika dibandingkan dengan seberapa mulianya seorang ibu membesarkan dan memelihara anak anaknya. Tanpa campur tangan ibu, mustahillah seorang bayi terlahir di atas bumi, memecah hening dengan tangis pertama dan lalu menjelma menjadi manusia yang lambat laun berakal budi dan berpribadi. Tidak ada jasa manusia yang melebihi kemuliaan jasa seorang ibu bagi anak anaknya menurutku.

Ketika si bayi kemudian menjadi kanak kanak dan perlahan tumbuh remaja kemudian dewasa, peran sang ibu tidak bisa lepas, sebagai pembimbing moral maupun permandu akal. Ibu selalu ada dengan kebijaksanaan kata katanya, dengan contoh contoh perilakunya dan tentu dengan kecemasan juga kekhawatiran yang disembunyikanya. Cintanya tak ada yang bisa melebihi kedalamannya, kasih sayangnya tak ada yang melebihi tingginya. Maka selayaknyalah penghargaan tertinggipun ditujukan kepadanya.

Semua orang kemudian belajar tua dari dirinya sendiri, pengalamanya sendiri sendiri. Tidak ada pelajaran menjadi tua, atau untuk menjadi tua kita juga tidak bisa belajar dari orang lain. Pundi pundi waktu yang pecah dan tak akan utuh lagi menjadi catatan bagi perjalanan hidup, kadang menyisakan bekas bekas luka, terkadang juga membentuk otot diri menjadi lebih sedap dilihat mata. Kulit yang robek, tulang yang patah, fungsi organ tubuh yang melemah atau bahkan rusak, sel sel mati yang tak mau hidup lagi, semua larut dalam perjalanan pundi waktu; menjadi tua.

Begitulah niatan alam, manusia bermetamorfosa, beranak pinak dan menciptakan manusia manusia baru. Tetapi cinta ibu tetap tak tergantikan dan tersimpan abadi jauh didalam lubuk sanubari. Seburuk apapun ibu, maka ia adalah manusia terbaik dimuka bumi. Pabrikasi keturunanpun menggeser pemahaman kita terhadap ibu, sumbangsihnya kepada kehidupan dan pekembangan akal kita, anak anaknya. Sekarang baru tersadar, bahwa ketika anak hasil produksi kita dengan orang yang samasekali asing sebelumnya sakit maupun terganggu kelancaran hidupnya, maka kita orang tualah yang pertama dihinggapi sakit kepala, berasa ingin menggantikan peran buruk yang harus dilakoni si anak. Maka demikianlah juga dulu ibu kepda kita ketika kita belumlah seberdaya sekarang, sesombong sekarang.

Manakala ibu yang kemudian masa berlaku hidupnya perlahan menyusut dan rapuh, maka sudah sepantasnyalah kewajiban kita anak anaknya untuk menggelontorkan segenap cinta kasih sayang, perhatian dan sumbangsih kepada beliau, seperti halnya dulu ketika kita masih kecil kecil, nakal, bodoh dan bau asem. Kepada anak anaknya seorang ibu tidak pernah ingin bergantung apalagi menjadi beban, maka kepada anaknya pula sang ibu terus berharap dan berdoa, agar memiliki perilaku mulia sebagai manusia dan agar berlaku selayaknya manusia terhormat. Agar anaknya tidak terbius oleh kesombongan dunia dan lantas menjadi durhaka.

Pengabdian ibu tidak pernah berhenti sampai maut datang menjemput, dan sudah selayaknya demikian pulalah bhakti sang anak kepada ibu sebagai wali utama penyebab keberadaan diatas bumi. Keterbatasan kemampuan dan terkotaknya tanggung jawab sebagai manusia dewasa tidak seharusnya menyurutkan niat dalam hati untuk mengabdikan hidup kepada orang tercinta, ibunda kita. Entah dengan perlambang apapun, bahasa cinta musti disampaikan tanpa pura pura sedikitpun jua. Betapa masih beruntungnya kita, yang tetap menyimpan ibu sebagai sang pemrakarsa kehidupan , sebagai guru dan juga sekaligus pembimbing jalan fikiran akal.
Tiba saatnya jika kita memohon, Tuhan akan mengirimkan malaikatNya, menjadi penolong yang memanjangkan tangan kita untuk memapah ibunda, berjalan menyusuri hari tuanya yang lengang dan rapuh, seperti masa kanak kanak kita dulu.
Lewat malaikatNya, terkirim kembang kertas untukmu, ibu… perlambang cinta yang tak kenal layu...


Nutricia, 070322

Wednesday, March 21, 2007

Hikmah Prasangka

:kepada syak wasangka yang menyudutkan pikiran

Ketika sesuatu terjadi tanpa sengaja, terkadang terasai bagaikan puting beliung yang membokong dari belakang, mendorong dan membuat diri terjerembab ke tanah kering membatu. Maka atas nama dosa, kesalahan itu ditutupi dengan kebohongan lagi, dengan kesalahan lagi. Jadilah beranak pinak si kesalahan hingga merontokkan kualitas kemanusiaan. Sesuatu yang terjadi dan dengan mudah bisa dicerna nalar, dibelitkan pada cerita cerita rekaan baru yang sangat jauh dari logika, dari pemikiran orang dewasa.

Sebagian orang dikaruniai dengan kedewasaan intelektual yang diperoleh setelah bertahun tahun berkutat dengan buku dan bangku, ruang kelas dan diktat. Sebagian lagi diberkahi dengan kemampuanya memungut setiap serpihan pengalaman sepanjang hidupnya, kemudian menjadikannya cermin pembanding, galah pengukur atas segala hal yang terjadi kepadanya di kemudian hari. Kesimpulan sederhana yang mengandung kebenaranpun terkadang dianggap sebagai sebuah sangkaan belaka, sebuah kesalahan cara berfikir dan sebuah penghakiman yang tidak benar.

Terkadang kita begitu cepat bisa menilai dan menyimpulkan sesuatu hal lumrah yang dirahasiakan. Maka kemudian, munculnya kesimpulan adalah dari pengendapan logika, berdasarkan hal hal lumrah pula. Tidak susah saudara, menyimpulkan segala sesuatu yang sudah terjadi menjadi intisari maksud, yang lalu bisa dituangkan ke cawan kenyataan untuk dicicip rasanya; kadang pahit, kadang manis mempesona, kadang meruntuhkan air mata.

Sedangkan prasangka adalah rabaan atas kejadian semata, yang lebih berkonotasi negatif terhadap perilaku seseorang. Perilaku negatif ini yang sering disebutkan sebagai kesalahan yang ditutupi dengan kesalahan yang jika tidak dikontrol dengan baik akan menggelinding menjadi bola salju bernama – tetap – kesalahan. Frustrasi akhir akhirnya karena kesalahan yang ditutupi dengan kesalahan hanya akan memperjelas inti kesalahan itu sendiri. Tidak selamanya prasangka muncul sebagai reaksi kesalahan. Terkadang sikap atau apaun yang dilakukan orang lain yang barangkali tidak ada sangkutanya dengan kitapun bisa menimbulkan prasangka. Itulah cara batin melindungi pikiran, cara ego membentengi diri dari penganiayaan fikiran yang sudah nyata rasanya jauh lebih perih dari nyeri fisik semata.

Perasaan tersindir sebenarnya membenarkan sebuah fakta atas diri, kemudian mengayunkanya dalam reaksi adalah soal lain. Sikap berlebihan memperlakukan rasa tersindir juga hanya akan menyoroti kebenaran yang diingkarkan, memperjelas bahwa kenyataan memang sulit untuk diterima secara mentah. Sebuah salah akan tinggal sebagai sebuah salah bila diakui sebagai salah, bukan dipoles bermacam rupa supaya menjadi kebenaran. Sebab, membelokkan kebenaran yang gampang dicerna akal manusia anak anak maupun dewasa, hanya akan menyebabkan luka di hati; luka yang bisa abadi.


Gempol, lewat tengah malam 070321

Saturday, March 10, 2007

Namaku Karla

Namaku Karla.
Aku lahir dari perkawinan antara luka dan dendam, lewat celah batu pualam. Lalu kutawarkan kepada sesiapa saja pejalan diriku bak barang dagangan. Silahkan mencicipi tubuhku yang berlumur nanah, silahkan menjamah auratku yang berbau darah. Murah saja, hanya dengan secangkir iba dan sejumput simpati (meskipun imitasi) orang sudah boleh memiliki keseluruhanku, mentransformasikan diri mereka menjadi pahlawan yang kemudian boleh mencemooh pahlawan pahlawan terdahulu lainya. Merendahkan orang orang mulia sekaligus membenamkan kualitas diri sendiri.

Namaku Karla,
Maka kepada seorang lelaki pahlawan, hidup pernah kutitipkan suatu ketika. Celaka, bahkan lelaki pahlawanpun mengandung unsur setan di dalam dirinya. Maka jadilah ia setan, dan aku menjadi pengemis atas belas kasihan, lalu ia menjelma jadi udara. Sejak itu aku jadi pengemis kepada setiap lelaki yang kujumpai, berharap mereka adalah salah satu reinkarnasi dari sang Superman. Sedangkan yang aku temui adalah lelaki lelaki yang menyembunyikan kelamin mereka sendiri dikepala, sekedar singgah untuk menunjukkan kemampuan birahi semata. Tidak apa, toh tetap lelaki juga. Ah, tanpa sadar aku telah menjadi pelacur buat mereka, telah melacurkan diriku kepada setiap lelaki yang singgah dan kemudian berak di hatiku. Aku mengobral martabatku sendiri untuk kepuasan nafsu besarku yang tak terkendali.

Namaku Karla
Akulah kesedihan atas ribuan tahun terluka sendirian, berjalan kesepian dengan beban ribuan ton penyesalan (?). Mari setubuhi aku dimana saja sesuka kita. Aku tidak pernah berhenti orgasme setiap kali kulit tubuhku menyentuh sembarang lelaki. Jangan risaukan soal dosa atau nilai, tentang moral maupun tatakrama. Setangkai kembang, sebentuk cincin, segudang pemberian hanya basa basi belaka, selebihnya nafsu binatang yang berbungkus kepura puraan; pura pura jadi manusia.

Namaku Karla
Bagiku hidup berjalan mengikuti kemauanku, memenuhi semua harapan liarku. Aku tak punya batas untuk belas kasihan dan telah kumatikan sejak lama saraf tenggang rasa. Kalimat kalimat nasehat terdengar seperti kentut yang lewat. Duniaku adalah duniaku, berbatas langit dan bumi yang melulu berisi kebenaran tentangku. Aku berbeda dari pelacur kebanyakan juga lain daripada iblis umumnya. Aku adalah keindahan yang disia siakan, si malang yang perlu timbunan belas kasihan, yang lalu dengan itu kumanfaatkan untuk mengendalikan dunia; dunia katak dalam tempurung.

Namaku Karla,
Tak ingat lagi berapa banyak lelaki pernah menitipkan birahi dengan caranya, dengan jumlah imbalanya sendiri sendiri. Tak tersisa buatku sesal maupun rasa salah, sebab aku adalah ibu dari kebenaran mutlak. Maka aku marah jika lelaki yang seharusnya menciumi jari kakiku, justru memilih jalannya sendiri yang diam. Murka jika lelaki yang kuharap bisa kupecundangi berpaling dan melangkah pergi tanpa kata kata. Lelaki seperti itu adalah lelaki munafik menurutku, dan aku marah sebenar benarnya marah karena mereka menolak mencium pantatku.

Aku perlu pahlawan baru untuk marahku, untuk lukaku, untuk dendamku, dan untuk birahiku yang menggebu…

Gempol lewat tengah malam, 070310

Friday, March 09, 2007

Berencana terbang


Ditanggalkan sayapnya dua tahun belakangan, lalu membungkus diri dalam kegelapan, dalam dendam dan jutaan perasaan yang menyakitkan. Dibiarkanya iblis memangsa jeroan, dia hanya bisa merasakan pelan pelan. Mendung menjadi payung bagi langit hatinya, sebisa mungkin menghindari matahari yang mengajarkan kebenaran. Di pojok dunia yang sepi ia mencoba menemukan kompromi atas kejadian yang tak diharapkan dan benar benar terjadi.

Dibalik mendung pertir berhamburan mencari pasangan. Tanah pijakan beku menggigilkan nyali, kenangan perlahan menjadi prasasti yang larut dalam sentuhan. Dua tahun ia diam ditempatnya yang seolah abadi, menjadi ribuan abad dilaluinya sendiri. Sesekali setiap hari iblis berkelebat membabatkan pedang karatan namun tajamnya tak terkirakan. Perihnya tak terkatakan dan ia terima dengan sepenuh rasa. Bahkan ketika iblis iblis baru terciptakan dari sekelompok manusia bertopeng budi mulia mengeroyoknya dengan penghakiman yang bengisnya tidak ketulungan. Iapun tak hendak membela diri. Diamnya menyimpan miliaran kata kata yang hanya dia sendiri mampu menterjemahkan.

Dirindukannya langit biru, tempat udara bersinggasana. Dulu tempatnya memuja bintang dan menggandeng bulan, atau sesekali bercengkerama dengan matahari. Disana juga ia setubuhi embun dengan segenap jiwa yang merana sepanjang perjalanan. Ya, ia telah berjalan sendirian dan menempuh lebih jauh dari kebanyakan. Sayap yang ia tanggalkan dulu telah karatan dianiaya waktu dan takdir imitasi, berdebu seumpama barang loakan. Penjelajahan masalalu membekas dibalik sayap sayap itu, mencatat setiap kejadian yang begitu mengagumkan; selamanya tentang penjelajahan di langit lepas. Maka ia berencana terbang….

Perlahan digerakkan kepalanya, memandang ke atas dimana mendung menjadi payungnya, menjadi langit langit tempurung pengetahuanya. Ia menyadari selama ini telah memenjarakan dirinya sendiri dalam kesia siaan – dua tahun yang berat dalam bui virtual ciptaanya sendiri -. Dua tahun ia bunuh diri dalam mati suri, dan menceraikan langit yang selama ini menjadi warna hidupnya. Dikuatkanya nyali untuk berencana terbang lagi, menyapa bintang, menggandeng bulan dan bercengkerama dengan matahari seperti dulu lagi. Ia rindu hidupnya yang hakiki, rindu pada sosoknya yang asli.

Maka kepada mendung selepas subuh, ia tersenyum menyapa ramah. Menanyakan kabar tentang satwa malam yang berlarian mencari tempat sembunyi. Dipesankan kepada angin timur yang membawa hawa hangat dari ujung bumi, agar dibawakanya aroma bunga kanabis untuknya memuja para dewa, untuk dibawanya serta terbang ke batas tertinggi dari langit tak bertuan, dimana ia kembali ke singgasananya dan menjadi raja bukan atas apa apa, bukan atas siapa siapa…

Maka nanti jika fajar telah pergi, ia akan terbang jauh tinggi…seperti biasa, sendirian…

Nutricia, 070309

* Terimakasih untuk para iblis yang menguatkanku. Maaf jika aku mengecewakan kalian karena aku tidak hancur dan larut menjadi kotoran seperti kehendak kalian…

Monday, March 05, 2007

Senin

Senin selepas fajar, serasa jutaan sepasukan iblis ikut melepas bersama bendungan yang pecah penahan segala gundah yang tertipui pada dua hari bernama akhir pekan. Segalanya ikut membuncah menyerbu meja kerja, mengacak acak isi kepala bahkan mencabik cabik ingatan lama. Mereka semena mena membangkitkan lagi kawah angkara murka yang dengan berat dan melelahkan tertimbuni oleh detik demi detik yang berlalu, meniti jalan menuju ketuaan.

Langit hati tidaklah secerah penampilan, dan menunggu hanya menyia nyiakan waktu. Hujan badai tak menghentikan gerak sedangkan menunggu adalah satu satunya jalan melempang di hadapan. Apa yang harus ditunggu untuk berubah? Dan apa yang bisa diperbuat selama ini kecuali menunggu? Iblis iblis telah menganiaya otak hingga tak mampu lagi menghitung hitung hambatan untuk dilalui. Jiwa yang cacat berjalan timpang, melukai siapapun yang dijumpai di jalanan. Memperhitungkan setiap kemungkinan, tebing jalan buntu menjulang menjadi jawaban.

Penyesalan telah mematikan rencana langkah, tutup buku sudah untuk rencana cuci darah. Menjadi pahlawan kesiangan sungguh sia sia saja, berbangga bahwa hidup cukup bararti untuk menutup aib penghianatan. Inilah hidup normal manusia bumi yang hanya menjalani segala sesuatu yang besar dalam dunia tersembunyi, dunia kalbu. Arah sudah berubah, dan langkah tak lagi gagah saudara. Malaikat hati hanya mencatati setiap kejadian yang melelehkan rasa. Berdamai dengan diri sendiri adalah jawaban filosofis, sedangkan upaya membuatnya berdamai sungguh telah mencacatkan jiwa yang semata wayang, yang berdiri diatas kebanggaan semata. Sepanjang hidup diri telah berjuang melawan dendam, mencekokinya dengan penawar sakit hanya biar sekedar bedamai dengan perang diam diam yang meluluh lantakkan.

Mestinya ia bisa tinggal menjadi harta, benda mati dalam rumah tangga. Tapi apakah pantas sesuatu disebut harta bila tak lagi bernilai apa lagi bermakna? Ribuan nasehat menjadi hilang guna, sebab segala bentuk bimbingan hanya dianggap selingan, bahkan segala bentuk pengorbanan hanyalah bahan guyonan bagi pengertianya yang sedangkal mata kaki. Ketidak sempurnaan memang menjadi sifat umat manusia, tetapi tidak tahu diri tentu berbeda lagi definisinya. Idealisme tentang hidup bersama telah berbuah kepahitan yang tak terlihat ujungnya, menawarkan kenangan kecut di setiap incinya. Hingga usia melumpuhkan sekalipun tak akan mampu energi terkumpul untuk membangun kembali istana pasir yang telah hancur diamuk ombak. Barangkali hidup telah kehilangan manfaatnya…

Bagi seorang laki laki, ada sesuatu yang lebih buruk dari kematian dalam kehidupan…Dan benar, bagi seorang laki laki, seharusnya dirasakan sendiri lalu disembunyikannya dalam diam segala yang menggejolak meremukkan hati, menunggu sampai Senin berlalu pergi… Menunggu sampai kan mati...

Nutricia, 070305

Friday, March 02, 2007

Gajian yang menyakitkan

(Sepenggal cerita dari jakarta 3)

Dari jauh mukanya berseri seri, tergopoh gopoh menemui mandornya. Hari ini gajian setelah bulan pertama bekerja. Di kepalanya bergumul segala keinginan dan angka angka juga rencana rencana. Ia akan menjadi lelaki dengan uang dikantong sebentar lagi, tak perlu lagi mengutang makan di warung Emak untuk beberapa hari. Ia berencana membelikan anak kesayanganya baju kaus bergambar Sponge Bob yang dikagumi sibocah; sebagai kejutan!

Duduk di depan kursi sang mandor, ia gelisah tak sabar menerima amplop khusus bagi dirinya. Inilah hasil dari satu bulan bekerja, mengumpulkan hari demi hari, menunggu akhir bulan dan gajian. Namanya tertera di amplop putih bersih secerah fikiranya itu, dan tertera di bawahnya deretan angka: Rp. 693.600…!

Tiba tiba dunia terasa gelap, lehernya seperti tercekik, panas dan kering seperti tidak pernah ada cairan melewati selang tenggorokanya. Ia kecewa pada kenyataan, bahwa jumlah yang diterima jauh dari yang diharapkan. Sang mandor menjelaskan dengan bahasa birokrat kecil, formulasi penggajian, aturan pemerintah dan segala macam yang hanya mengiang ditelinga si buruh. Semua harapanya musnah seketika. Baju kaus Sponge Bob untuk anaknya melayang hilang tak ditemukan. Jumlah itu jauh dari cukup untuk biaya hidup, bayar kontrakan, sekolah anak, uang jajan, ongkos kerja setiap hari, uang belanja istri dll. Untuk makan tiga orang nyawa manusia mungkin msih kurang jumlah itu. Bukan itu yang membuatnya terpukul, tetapi kenyataan bahwa ia telah menghabiskan waktu sebulan penuh dengan mengabaikan waktu siang, malam, pagi hari libur. Ia tidak bisa menerima.

Ia tinggalkan meja si mandor dengan perasaan yang seratus delapan puluh derajat kondiisinya dengan ketika dia berangkat beberapa menit yang lalu. Satu detik saja ternyata bisa merubah segala pandangan dan fikiran dalam hidupnya. Tiba tiba ia marah. Marah kepada dirinya sendiri, marah kepada perusahaan yang mempekerjakannya, marah kepada pemerintah negaranya yang tidak becus mengurus kepentingan rakyat jelata, marah kepada Tuhan yang membiarkan orang zalim berkuasa memberinya gaji. Ia diam dalam marahnya, tetapi marah dalam diamnya. Mengutuki apapun yang dijumpai, mengutuki nasib yang diterima di muka bumi.

Di tepi jalan ia menunggu angkot yang ia harap tak pernah akan datang menjemputnya, untuk membawanya ke gang kecil dimana ia dan anak istrinya tinggal mengontrak di rumah orang. Ia tidak punya kata kata untuk disampaikan kepada anak dan istrinya yang menunggu penuh harap. Ia tidak berani menjelaskan nanti jika ia membatalkan ajakan anak kesayanganya untuk makan ayam goreng di mol. Lelaki itu berdiri lesu di bawah pohon Mahoni dengan kepala kosong, dan pandangan yang bolong. Uang di kantong celananya serasa berat ia bawa. sebentar lagi habis terbagi untuk hal hal yang harus dipenuhinya. Sesudah itu entah bagaimana.

Ia tahu ia telah menjadi korban dari ekploitasi manusia, perbudakan gaya baru di zaman modern. Pengetahuanya tidak cukup memberinya kekuatan untuk memberontak dari rasa ketidak adilan yang diarasakannya. Ia sadar bahwa ada orang ada bebearpa orang yang lebih tahu ketimbang dirinya memanfaatkan ketidak tahuanya. Orang yang lebih tahu dari dirinya telah dengan sengaja mengeksploitir kesulitan hidupnya. Dan ia, laki laki itu tak punya pilihan lain selain menghidupi anak istrinya dengan bekerja…

(ungkapan keprihatinan untuk Joni F, Nawi, Suaib, Rukma dkk…)

Nutricia, 070302

Tuesday, February 27, 2007

Beling Segitiga

Sebuah hubungan saudara, ketika pecah maka tak ubahnya ia menjadi beling yang menyelip diantara fikiran. Setiap sisinya mengandung ketajaman yang menjanjikan keperihan jika terjadi gesekan maupun tersentuh dengan sengaja maupun tidak. Tidak jarang kemudian menimbulkan luka yang melama, meradang dan terasa perih setiap kali terjadi gerakan. Padahal saudara, selama hayat masih dikandung badan, manusia akan terus bergerak, paling tidak ada detak darah mengalir. Dan selama fikiran belum mati, selama itu pula sang beling yang menyelip akan terus menggesek gesekkan ketajamanya, menebarkan keperihanya ke seluruh sendi kehidupan.

Konon sebuah perhubungan (relationship) yang sehat adalah ketika fihak fihak yang terlibat didalamnya menemukan kemerdekaanya, kebebasanya untuk mengekspresikan individu sendiri, menjadi diri sendiri. Disaat itulah kemudian disimpulkan bahwa interaksi yang dibuat menimbulkan dampak bahagia, nilai positif bagi berlakunya kehidupan sosial. Hubungan yang sehat pada giliranya akan memberikan inspirasi tentang tenggang rasa, tentang cara kita menilai orang lain dan memperlakukanya sesuai kaidah baku. Pada saat seperti itu tentu sang beling berada jauh di tempat yang tidak teraba, sebab si perhubungan tengah menjadi selembar kaca indah yang menyembunyikan kerapuhanya dibalik bentuk yang terasa.

Sebuah perbedaan maupun sebuah persamaan bisa saja menjadi awal muasal terbentuknya hubungan. Interaksi awal ini mengumpulkan data data tentang individu lain yang diinventarisir dalam penilaian pribadi masing masing. Waktu akan memeramnya menjadi sesuatu yang berbeda bentuk nantinya jika memang masing masing individu menemukan slot masing masing untuk saling membaur. Orang yang samasekali tidak kita kenal terkadang tanpa sadar suatu saat terasa sangat dekat melebihi saudara dalam silsilah. Sebuah hubungan yang berlandaskan ketulusan dan kesahajaan tentu akan jauh lebih bermutu dan bertahan lama daripada hubungan yang memiliki maksud sesuatu, atas nama kepentingan sesuatu.

Saudara, terkadang banyak dari kita tertipu dengan penampilan luar saja dan terburu buru membuat simpul mati dari apa yang terlihat di mata. Padahal saudara, nilai seorang manusia justru diukur dari apa yang tidak terlihat mata, dari caranya memperlakukan orang lain, caranya memandang segala sesuatunya orang lain terhadap diri sendiri, dan yang tidak kalah penting adalah dari kesanggupanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya. Penampilan fisik terkadang menjadi racun bagi kemungkinan kita melihat yang tidak terlihat tersebut.

Perhubungan sekali lagi adalah jalinan kokoh yang berbahan rapuh, yang hanya dalam hitungan detik saja bisa pecah berkeping keping, ambyar jadi beling dan tak bisa lagi utuh seperti sedia kala. Ataupun jika tersambung kembali meninggalkan kecacatan yang tidak bisa lagi diingkari. Jika sebuah hubungan berakhir dengan perpecahan, maka yang terluka adalah hati, dan si beling akan tetap tinggal didalamnya menjadi penggerogot bagi kesejatian hidup. Akibatnya cacat mental maupun luka fikiran yang menagbadi. Meninggalkan jejak tak sedap sesisa hayat dikandungan badan…

Orang ketiga, adalah bentuk paling perkasa untuk menciptakan kehancuran itu, dan jika kehancuran itu tiba maka tak ubahnya sebuah beling berbentuk segitiga dengan ketajaman seribu kali dari tajamnya mata pedang samurai buatan Hattori Hanzo…

Nutricia, sebuah perenungan tentang relationship 070227

Monday, February 26, 2007

Lelaki di Goa Batu

Di dalam gelap goa batu lelaki itu menyembunyikan tubuhnya. Luka lukanya perlahan mengering, tetapi tidak hatinya. Pikirannya berputar putar bagaikan puting beliung yang liar mencari apapun yang ditemukan untuk diterbangkan lalu di hempaskan. Kemarahan menjadi sesutu yang terasa dalam gelap dan dingin goa batunya.

Satu kala ia pijak hatinya sendiri yang memberontak atas ketidak seharusan yang diterimanya. Memaksakan berkwintal kwintal pasir beling tertelan sebagai perlambang sebuah nilai kelaki lakianya. Perih yang meradang dikeluhkan hanya kepada angin dan sisa embun, dada yang terbakar dibaluri dengan telapak tangannya yang gemetaran, menunggu waktu menjadi tua, menunggu arloji kehilangan pegasnya. Menunggu kesadaran akan datangkan kekuatan baru setelah ribuan tahun dalam belenggu lara.

Tetapi betapa sia sianya segala daya upaya yang melelahkan. Ia berjuang melawan malam yang mengurung bersama jutaan iblis yang menginjak injaknya. Kelelahan, kesakitan dan terluka, ia bertahan hanya dengan nafas yang tersisa. Kezaliman memang ada dan menjadi praktek di kehidupan nyata, si lelaki tak mau jua kehilangan nama. Maka ia putuskan untuk berhenti, lalu dengan kekuatan labil yang dimilikinya, diamputasinya lorong hati yang berisi beling beling masa lalu, dengan tanganya sendiri dan dengan rasa yang ditanggungkanya sendiri.

Sirnalah sebongkah hati miliknya, sirna juga ribuan rasa yang terkandung didalamnya. Pintu goa yang terbuka seperti pintu hatinya yang bebas dilalui siapa saja, bagi orang orang yang sekedar menengok, meludahi bahkan sebagian mengambil manfaat atas keterkaparanya. Orang boleh datang, menganiayanya berulang ulang, dan ia hanya terkapar menunggu kesadaran. Sampai sutu subuh angin mengabarkan kematian bagi harapan yang ia sangkakan sebagai ruh dari nafasnya sendiri. Perlahan ia bangkit dari gelapnya, meraba batu lumutan dinding goa, dingin semata. Kakinya yang rapuh diseret ke pintu goa, pembatas nyata dari dua keadaan yang berbeda. Alam raya terang benderang diluar sana ditatapnya untuk barangkali yang terakhir kali. Sepi. Tidak ada yang datang berlari menghampiri.

Lalu ia putuskan untuk membuang kunci pintu goanya sendiri, ke dasar tebing dimana lautan luas menganga. Lalu ditutupnya pintu batu itu, dikunci dan tak diharapkan akan terbuka lagi. Sejak itu ia jalani hidupnya dalam beku goa batu, bersama hati yang perlahan mati dan membeku menjadi batu dan kelak tinggal sebagai fosil masa lalu. Dalam gelap goa ia hidup dalam alam fikiranya sendiri, antara kenangan dan penyesalan yang datang silih berganti. Dalam gelap goa batu ia temukan terang jalanya menuju pulang kepada diri sendiri. Tak ada musuh tak jua kawan disamping badan dan ia hanya menjalani hari harinya tanpa beban berlebihan lagi. Dunia jahiliyah tak lagi terjadi di dunia goanya, di alam fikiranya kini.

Lelaki itu, menjadi pertapa dengan nuraninya sendiri sebagai muridnya…ia menutup hatinya sendiri dari janji janji…
(Dan di luar goa batunya, ia tinggal nama sebagai lelaki kejam tak punya hati...)


Nutricia, 070226

Saturday, February 24, 2007

Matahari

Matahari adalah mata sang hari, indra penglihatan bagi berjalannya sebuah hari yang dimulai dari pagi, siang lalu sore dan berakhir ketika senja membayang. Sinar lembayung di tepi barat mengisyaratkan selesainya tugas sang mata hari satu pada satu siklus waktu. Dua belas jam kira kira.

Maka kerja sang mata hari bukan sekedar menyinari, tatap juga menaburkan kehidupan kepada yang termasuk sebagai mahluk hidup di muka bumi. Ia juga menguak kegelapan dan hal hal tersembunyi, memberikan sinar kepada fikiran setiap mahluk yang dikarunii otak dan akal budi untuk berencana dalam terangnya, menyambung hidup demi sejarah masing masing.

Jika langit dipenuhi mendung kelam sekalipun, jika tak terpancar hangat sinarnya sekalipun bukanlah berarti sang mata hari tidak menjalankan tugasnya. Dia berjalan sesuai kodratnya, tidak lebih dan tidak juga kurang. Tugasnya adalah menumbuhkan dan menerangi, menghidupkan dan jika diperlukan kadang mematikan sembarang yang hidup dihadapanya.

Cerita kedatanganya selalu bermula dari sejuknya fajar, dengan sinar hingar bingar yang menguak kepekatan sang malam. Seisi bumi diserah terimakan antara embun sebagai sisa pesta alam malam dan matahari sang penguasa baru sekira dua belas jam kedepan. Di tepi bumi bagian timur sang embun di pucuk daun dan sang matahari yang menggantung diantara langit dan awan gemawan berkecupan, berpapasan unguk kemudian saling pergi menjauhkan diri, lalu tenggelam dalam tugas dan perjalananya masing masing. Sang embun menjelma menjadi setetes air yang lesap dihisap sang matahari, diterbangkan diantara miliaran molekul di angkasa untuk dikembalikan ke pucuk daun lagi dalam daur waktu yang berbeda. Sedangkan sang matahari gagah melangkahi bumi, memancar memberi arah dan sekaligus nyawa bagi mahluk mati.

Maka saudara, kita mengira jarak terdekat ubun ubun kepala kita dengan mata sang hari adalah ketika kita berdiri diatas bayangan kita sendiri. Disaat seperti itu maka diri merasa ditelanjangi sebab tak ada yang patut untuk disembunyikan. Mata hari meminta peluh dan uap tubuh kita sebagai bukti keberadaan dan sebagai imbalanya diberikan kita kebijakan untuk melanjuti hari tidak dalam kegelapan. Sumpah serapah dan caci maki tak lagi menjadi istimewa sebab dia hanya menjalankan tugasnya yang sahaja; tidak untuk memanggang hanya menghangatkan.

Merangkak mengikuti jarum arloji, sang mata hari perlahan menepi ke barat daya, dimana diujung pandangan ia akan terbang dan lalu terbenam tenang. Kita diberikan kesempatan untuk menata diri sebelum gelap datang, dengan sinarnya yang perlahan berkurang sengangarnya, agar kita tak salah jalan menentukan arah pulang. Lalu sempurnalah tugas seharian, ditinggalkan bumi menjadi mangsa sang malam, berbalut gelap dan dikerubuti kehidupan rahasia. Jutaan bola lampu (bolam bukan bohlam –red) mencoba mengingkari gelap yang mengurung, dan bumi menjadi terkotak kotak dalam cahaya tak sempurna. Dan kehiduapan malam berjalan dalam bisunya, dalam rahasianya, dimana iblis mengadakan pesta dimana mana. Lembab jejak matahari mengundang embun turun dari langit yang terkurung, lalu luruh di atap atap rumah batu dimana segala plakethik disembunyikan dan direncanakan. Sebagian terdampar di dahan pohon dan bermesraan dengan ulat ulat kayu yang sebentar lagi akan bermetamorfosa menjadi kupu kupu, mencoba menggapai tempat dimana sang mata hari bersinggasana di langit tak bertuan.

…lalu saudara, kehidupan akan terus bergulir siang dan malam berganti gantian. Seperti halnya matahari dan embun yang akan bersetubuh di fajar hari suatu saat nanti, entah kapan yang pasti akan terjadi lagi….

(untuk embun yang memanggilku matahari…I am not that good, mbun…)

Nutricia, 070224

Wednesday, February 21, 2007

Melukis langit

Suatu pagi yang tidak begitu cerah, langkah yang goyah membawa fikiran gundah menjauh dari satu titik keberadaan, melewati tikungan dan belokan, tanjakan dan turunan bersama ratusan orang lainya yang entah mau kemana atau dari mana. Sebagian berpasang pasangan, diatas kendaraan mereka masing masing. Sepeda motor, mobil dan sedikit lagi berjalan kaki. Keramaian dunia dimulai lagi pagi ini.

Sisa embun terlupakan di dahan pohon mangga, seperti memang tidak pernah ada yang memperhatikan samasekali kehadiranya. Sebentar lagi matahari muncul, menyeruak diantara sekumpulan mendung kelabu yang menggantung di awang awang. Lalu apa? Harapan! Ya harapan bahwa hari ini sesuatu yang berwarna akan mengisi kalbu kita, akan mengisi fikiran kita dengan semangat dan kebanggaan atas eksistensi diri.

Ternyata gerimis yang datang menaburi dunia, membawa kesan muram yang membalut keindahanya. Ia datang membawa pesan tentang satu hari mendatang yang akan berjalan biasa biasa saja, seperti kemarin kemarin, seperti berabad abad silam. Sapa dari kejauhan dan ucapan selamat pagi dari seberang lauatanpun tak menggantikan kemurungan pagi, meraba raba apa yang hendak diperbuat dan apa yang akan terjadi sepanjang hari nanti.

Langkah yang tercetak di tanah berlumpur tempo hari perlahan pudar coraknya, berganti dengan genangan kenangan yang mengaburkan optimisme diri. Sederet angka dan setumpuk kewajiban siap berjibaku dalam diamnya, dalam penghayatan yang kekal. Kontradiksi demi kontradiksi terjadi dan orang orang terpelanting oleh kebingunganya sendiri menterjemahkan arti hidup yang tengah dijalani, sebagian lagi tertancap di tiang kebekuan tak hilang tak jua pergi.

Mimpi semalam terbawa ke ruang kerja, berbaur dalam rumit tanda tangan yang harus dibubuhkan bersama isi perut yang melilit, menyatu dalam syaraf di otak yang serasa terjepit perih. Kalendar di dinding membatu tak mengisyaratkan apa apa, demikian juga riuh para pekerja yang seolah tak memiliki dunia, kehilangan ruang privacynya. Batu batu dongkal kepribadian menghalangi pandangan, menggempurnya menjadikan kelelahan. Sebagian telah tercabut dari cadas tancapan, sebagian lagi masih mencoba coba mengukur kekuatan sang mental diri.

Melukis langit dikala pagi tak begitu cerah adalah meraba jawaban atas terkaan kabur, tentang apa yang mungkin akan terjadi seharian penuh nanti. Dilangit, tergambar kecemasan dan kebosanan, keinginan untuk pergi berlari jauh .…

Nutricia ketika gerimis menyapa 070221

Monday, February 19, 2007

Permaafan

Seorang biasa pernah dengan bijak menyampaikan kata ini :” Seberapapun kesalahan yang dia buat, tidak menghalangi saya untuk tetap mencintainya. Jika saya marah atas perbuatanya, saya takut nanti justru amarah itu akan menyeret saya ke arah sikap yang salah dalam menyikapi kesalahanya”. Padahal lelaki yang belum terlalu tua itu baru saja kehilangan 3 orang anak kandungnya yang tewas dibunuh oleh ibunya sendiri yang notabene adalah istri yang dinikaihnya dulu karena cinta. Demikianlah maka ia telah betul betul berkomitmen terhadap cintanya kepada istri. Ketika sang istri oleh pengadilan dibebaskan karean mengalami gangguan jiwa berat, sang suami dengan tabah hati harus menerima semuanya dengan ikhlas bahkan semasa persidangan sekalipun suami luar biasa ini tetap setia mendampingi istrinya, pembunuh tiga anak kandungnya.

Tidak banyak yang diharap dari sang suami, kecuali agar supaya istrinya kembali menjadi wanita normal dengan pemikiran yang normal. Ketidak normalan cara berfikir telah menyebabkan anak anak titipan Illahi harus berujung di liang lahat pada usia yang masih sangat muda.

Ketauladanan si suami ini menjadi godam pemukul hati ketika kita begitu sibuk menghitung dan mendokumentasikan kesalahan orang lain dan sakit hati yang ditimbulkan oleh orang lain terhadap kita. Kebesaran hati dan kekuatan jiwanya telah membawa pandangan jernih dalam situasi yang samasekali tidak terbayangkan dalam emosional yang normal. Air mata yang masih terus mengalir tak menghalangi niat maupun pandanganya bahwa maaf harus diberikan mutlak kepada siapapun yang bersalah dan harus dengan ikhlas diberikan agar tidak mengaburkan pandangan ke arah yang lebih salah dari kesalahan pertama.

Bagi kebanyakan orang memaafkan adalah hal sulit dalam hidup. Melihat apa yang kita kerjakan bertahun tahun hanya berakhir dengan penghinaan, atau melihat perbuatan kesengajaan terhadap sikap baik kita, tentu akan menimbulkan luka mengaanga di dalah hati. Jadi teringat tentang sebuah paku dan kayu, jika kesalahan itu diibaratkan paku, maka hati manusia ibaratnya adalah sang kayu. Bisa saja dipaku, kemudian dicabut, tapi tetap saja meninggalkan bekas luka. Demikian juga manusia, sekali berbuat salah, dan seberapapun permohonan maaf yang disampaikan, tetap saja didalam hati tersimpan bekas luka.

Tapi sang suami yang tertulis diatas tentu beda dari kebanyakan dari kita karena dia termasuk satu dari sedikit manusia luar biasa dimuka bumi ini…


Nutricia, 070217

Thursday, February 08, 2007

Sejarah


...
from the third floor, watching the busy street with you in mind.
Wondering how could I let this feeling go?
Whom will I tell if the rain pours down?
Whom will I send the picture of red sky?
What do we tell the hearts then?
….

Sebait kata kata cantik itu meruntuhkan bangunan dinding hati yang baru saja berdiri, menunggu proses kering agar kuat seperti karang.

Sebait kata itu seperti merebut simpul hati yang sudah terkendali dalam kekang.
Kembali hati mempertanyakan jawaban jawabanya, menggagapi masa masa depan yang tanpa bayangan.

(sebuah percakapan dengan malaikat hati ketika logika menggoda goda, Cubicle 060109)

Monday, February 05, 2007

Larva di kepompong jiwa

Sebuah sentuhan yang awalnya sederhana ternyata bisa menyuntikkan jutaan larva, menyelip diantara lipatan bangkai waktu dan terus tumbuh hidup diantara badai dan gelisah, antara sedih dan amarah. Larva larva iblis yang masih bayi dan lembek seolah benda mati yang tak akan memberikan dampak apa apa bagi masa depan. Kegagahan diri tampak sebagai tameng yang menghalangi apapun untuk datang menerjang, menyombongkan diri atas kekuatan hati yang dipaksakan, berharap diberi seutas medali penghargaan.

Dan saudara, catatan masa adalah proses metamorfosa yang sebenarnya. Menyimpan kekokohnya dalam bungkus keseharian yang sempurna, dan merasakan bayi bayi iblis perlahan lahan menggerogoti sampai ke setiap sudut yang tersembunyi sekalipun dalam nurani. Membusuk dan rapuh, hingga bolong bolong dinding pertahanan emosi, tertinggal sejuta lobang tempat iblis dewasa datang dan pergi sesuka hatinya. Tak ada lagi larva, tak ada lagi cita cita yang dikandungkan si kepompong, hanya tinggal bangkai tak bernyawa penghias ranting di belantara dunia.

Lantas kemana perginya jutaan larva iblis itu, saudara? Mereka telah menjadi iblis dewasa yang mentransformasikan kehidupan dalam warna amarah dan kesedihan. Mereka terbang berhamburang menempati setiap sudut pandang dunia fana, dan menjadi klilip bagi mata yang memandangnya, slilit bagi fikiran yang mengandungkannya. Iblis iblis menjadi algojo penyiksa yang datang sesuka hati, kapan saja dari subuh hingga subuh berikutnya. Hati yang semata wayang menjadi compang camping kehilangan bentuk, dicabik dan ditindasnya tanpa perikemusiaan. Seranganya tak mematikan hanya melumpuhkan segala syaraf rasa.

Tak ada lagi yang bisa diberontak sebab semua berjalan hanya mengikuti siklus waktu yang bermetamorfosa pelan pelan dan tanpa akses kesalahan, kecuali diri yang terus menyesali karena dibiarkan sebuah sentuhan sederhana terjadi dahulu kala di suatu hari. Menganggap kekuatan hati boleh menampung beban apapun yang bakalan datang, apalagi hanya segerombol belatung lembek di telapak kaki. Siapa menyangka jika akhirnya sang belatung berubah menjadi sekelompok monster yang meremukkan segenap kesejatian diri?

Nutricia, ketika hujan tak jua reda, ketika amarah tak jua sirna 0701201

Wednesday, January 31, 2007

Konsep Pengelabuan

Ketika kemutlakan warna hitam dan putih dicampurkan dengan komposisi yang seimbang maka akan timbul warna baru yang berwarna kelabu. Sebauh warna yang berisi kebimbangan, penuh ketidak berfihakan atas sebuah kemutlakan dan menciptakan kemutlakan baru, wahana baru dan tentu saja nuansa baru.

Dan ketika kebenaran bercampur aduk dengan kebohongan yang timbul di permukaan kemudian adalah pengelabuan fakta. Mengelabui keyakinan pandangan bahkan sampai kepada tingkat kepercayaan seseorang dengan kebohongan menjadikan kebenaran kehilangan bobot makna. Untuk bisa mengelabui orang lain, orang harus mampu mengelabui diri sendiri dengan melakukan pembenaran atas apa yang seharusnya tidak benar, dilarang oleh nurani dan hati kecil. Karena larangan ini tanpa sanksi, maka pengelabuan bisa berjalan dan dilancarkan tanpa pura pura.

Antara kebohongan dan kebenaran yang berpilin pilin, maka akan timbul pula anak beranak kebohongan dan kebenaran itu sendiri, berpacu dalam arah yang berlawanan dengan kepentingan yang berlawanan dan efek karambol yang berlawanan arah. Kadang kadang tidak akan pernah bertemu, sebab ketika anak anak kebohongan dan kebenaran bertemu, yang terjadi adalah sebuah benturan dahsyat yang mengakibatkan sendi kehidupan menjadi nyeri, bengkak bahkan tidak jarang membusuk.

Untuk mengelabui, yang diperlukan adalah kepercayaan semata. Kepercayaan bisa didapat hanya dengan mengungguli rasa percaya diri si korban dan dengan sedikit kepandaian mengakali bahasa tubuh. Inilah yang sebenarnya disebut sebagai sebuah penipuan. Segala kegiatan menipu orang lain mulanya adalah menipu diri sendiri, membelanjakan sekian persen dari kualitas pribadi untuk tujuan mengaburkan warna kesejatian. Pada akhirnya adalah memaksa si korban untuk percaya dan meyakini bahwa kelabu adalah warna yang hakiki sebagai perwujudan kemutlakan hitam atau putih.

Sebagian orang dibekali dengan cangkang kebodohan ego yang mempertahankan kelicikan dengan sikap kasar dan melupakan hukum malu apalagi tahu diri. Orang seperti ini memang memiliki bakat sejak lepas dari masa kanak kanak untuk menjadi parasit, penghancur apapun yang baik bagi kehidupan dan kehilangan penghargaan atas segala sesutu yang dihasilkan atas nama perjuangan hidup bahkan pengalaman. Tidak ada sesuatupun yang berarti di muka bumi kecuali diri sendiri, itulah semboyan hidup bagi kaum lemah nurani ini. Dianggapnya kehidupan berjalan lancar lancar saja sesuai keinginan pribadinya, menyembunyikan segala persoalan bahkan aib dalam sikap pura pura, dalam kehidupan seolah olah. Kaum lemah nurani seperti ini biasa hidup di habitat bernama kepalsuan, mendewakan benda benda imitasi dan pecinta sinetron sejati. Mereka bahkan sebetulnya patah arang untuk sekedar melihat diri sendiri, sebab tak ada satupun cermin yang dipandang sebagai sebuah kebenaran.

Bahkan ketika kebenaran dijejalkan ke kornea mata, dihempaskan kehadapan muka dengan bukti sedemikan nyatapun pengakuan yang muncul adalah penyangkalan atas kebenaran yang disimpanya sendiri. Tidak jauh beda dengan maling yang tertangkap tangan, maka si pendurhaka seperti ini akan mempergunakan segala daya upaya untuk mempertahankan aksi pengelabuannya dengan satu bisikan setan tentang cerita fiksi. Dia tertipu!

Selalu ada sesuatu yang tersembunyi dan tidak kita ketahui dari hal apaapun di muka bumi, terlebih lagi ketika yang ada didepan pelupuk mata adalah hamparan warna kelabu semata…

Nutricia, usai hujan 070131

Thursday, January 25, 2007

Kerikil

Angan membeban ketika ketidak berdayaan dan rasa bersalah bergumul berpilin pilin dalam tangkaran perenungan. Apakah langkah tidak terbawa sebagaimana mestinya? Atau ini hanya sekedar efek sentimental dari sisi manusia yang terusik dan tercabik cabik. Hukum sebab akibat membuat semua kejadian menjadi sederhana, sedangkan relativitas telah mengatur setiap gerak hidup alam maya. Dua puluh empat jam sehari semalam terasa kurang sedangkan waktu tercuri dan tebawa pergi oleh hujan pagi hari.

Idealnya memang tidak ada kejahatan di muka bumi, idealnya tidak ada perasaan benci yang disebabkan hanya karena dengki semata. Semestinya rasa hormat dapat ditimba dari semua hal yang ada di depan mata maupun yang tersembunyi di balik dada. Semestinya, apa yang ditulis dihormati sebagai koridor untuk melangkah bersama, semestinya kebanggaan diri yang membutakan ditinggalkan dirumah, di kolong ranjang sebelum berangkat mengais rezeki. Idealnya sungguh, pertikaian tak perlu terjadi di muka bumi.

Beginilah akibatnya wahai pendurhaka. Tidak ada lagi hormat yang tersisa, maupun belas kasih yang tercecer. Semua lenyap dalam sekejap, hanyut oleh angin ambisi yang engkau hembuskan membabi buta. Persetan dengan masa lalumu yang jadi batu pengisi rongga kepalamu, persetan dengan segala pengalamanmu yang melulu hanya pelajaran mencuri yang kau dapat dari para gurumu yang pencuri pula. Lihatlah mukamu jadi pucat seperti monyet dalam belitan ular boa, tak mampu lagi menghindar dan kelincahanmu mati sia sia.

Sungguh mustahil melempar batu tanpa mengayunkan tangan, mengharap diri bersih dari lumpur yang engkau taburkan keudara. Biar kuasa angin yang membawanya kembali ke manapun seharusnya sang lumpur menghambur. Tanggung jawab tetap melekat di badan sebagai predikat kemanusiaan yang atas nama keluarga, diri sendiri dan Tuhanmu telah kau sakiti sesama tanpa ukuran rasa. Kemana perginya caci maki itu ketika matahari menyinari kegelapan dan menampakkan semua yang kau sembunyikan, wahai orang tua. Lalu apa saja yang engkau pelajari dari hidup setelah sekian tahun pura pura menjadi manusia??

Maka kini tantanglah badai dari angin yang kau taburkan sembarangan. Berlindunglah dari amukanya yang sederhana, dengan tameng rasa bangga yang kau sangkakan datang dari kumpulan pengalaman. Kasihan, engkau tertipu oleh dirimu sendiri yang kau sangkakan sebesar gunung dan sekeras batu. Maka kembalilah kepada nuranimu, sekedar menunduk malu. Kemudian, terimalah kenyataan bahwa diri tak lebih dari sebutir debu…

Hari ini, hidup adalah kemewahan atas pencapaian aktualisasi diri. Apakah sudah benar langkah mengarah? Ataukah justru badai datang dari getaran langkah perkasa? Ah, ragu, kenapa selalu mengganggu?

Nutricia, 070124

Friday, January 19, 2007

Langkah Besar

Seperti apa definisi langkah besar itu sebenarnya? Apakah jika kita telah berhasil melakukan sesuatu yang menunjukkan hasil? Ataukah ketika kita memulai sesuatu diluar kebiasaan dan bertekad untuk menjadikanya rutinitas?

Bagi para penganut hati (yang notabene berpondasi labil) langkah besar sama saja berkompromi dengan hati sendiri, menundukkan pemberontakan hati sendiri lalu menjalaninya dengan tenang, dengan datar meskipun gejolak dari peperangan yang terkurbur hidup hidup dalm diri terus menjombak, tak henti bergejolak. Adalah sebuah langkah besar menurutku ketika benci dan muak juga sakti hati yang membenalu akhirnya bisa ditekuk, lalu dibenamkan ke dasar jurang hati lalu diinjak rapat rapat agar tak menyembul lagi menjadi caci maki. Permukaan hidup yang sedatar lantai es menggambarkan bahwa sudah tidak ada lagi perang sengit antara harapan dan kekecewaan dari tidak terwujudnya pengharapan.

Harapan menjadi warna hitam putih semata berbatas tabir yang nyaris tak kentara. Mengharap membuat kita begitu merasakan hidup, demikian pula ketika diri di aniaya olehnya. Mengharap seseorang untuk melangkah maju, mengambil langkah besar dengan mereformasi tingkah laku dan belajar befikir dengan cara lain yang lebih umum kerap kali membenturkan kita pada tembok kekecewaan. Caci maki, tetesan darah dari lengan kiri, pertemuan antara kepala dan tembok yang bertubi tubi kini berhenti sudah, angin badai dan petir reda, sunyi gung liwang liwung. Hidup kemudian kehilangan separuh rasa, separuh warna tinggal antara puing puing bangunan yang dulu sempat menobatkan diri menjadi raja.

Amarah kadang kadang membuncah tanpa arah, mencari pelepasan, sekedar ekspresi kekecewaan yang ditanggungkan sendirian begitu lama dan mencemaskan. Anak bisa pasti menjadi sasaran empuk bagi kekesalan hati atas kebuntuan logika, kecele atas ketidak cocokan antara harapan dan kenyataan yang terjadi. Kekesalan dan penyesalan berpilin pilin hanya berselang detik, lalu kita terdampar di kesadaran betapa tidak bahagianya hidup kita saat ini justru di tempat dimana semestinya kebahagiaan bersimaharajalela. Tekanan psikis yang sedemikian hebatnya harus ditanggungkan sendirian. Lalu kembali kepada satu titik yang tidak menenangkan karena perasaan bersalah kita kepada buah hati yang keberadaanya di muka bumi atas prakarsa kita sendiri. Anak menjadi alasan kita rela menelan perih dan pahit perkawinan, menjalani apa yang tidak kita kehendaki dan harapkan, tetapi karena labilnya emosi oleh gerusan sakit hati, anak pula yang sangat rentan menjadi sasaran. Sungguh sama sekali kehidupan yang tidak sehat, sakit menurutku.

It is not a simple and easy life we are live in now, and there is no such simple life. Yang ada hanya 'life', apapun bentuk dan rasanya masing masing orang punya cara menghayatinya sendiri sendiri. Menyesalkan kenapa hidup bisa berbalik arah sedemikian buruk, yang dulunya membanggakan dan membahagiakan kini menjadi beban, tidaklah akan menemukan jawaban yang memuaskan karena semua berpendar di perasaan semata. Yang kita butuhkan hanya sebuah langkah besar, sebuah keberanian untuk mengamputasi rasa sakit hati yang tumbuh menjadi langit dalam rongga batin kita, untuk kemudian berani mengatakan kepada diri kita senidri bahwa inilah hidup yang harus kita jalani. Setelah sekian ribu deretan kata kotor, sekian kilometer luka disepanjang jalan penagalaman batin kita terima sebagai hadiah atas harapan panen kebahagiaan dari titipan hati yang kita pilih diatas kuburan keraguan dahulu kala.

Jangan bumbui hati dengan iri, bahwa kita tidak bisa sebahagia orang lain disekitar kita, bahwa kita tidak bisa se normal mereka dalam berumah tangga. Tidaklah seperti itu hukum yang berlaku, semua hal memiliki jatahnya sendiri sendiri di muka bumi. Meskipun bukan orang religius, tetapi diri memilih untuk mempercayai itu setelah semua yang teralami, setelah keletihan yang melewati titik puncak. Mengharapkan orang untuk sadar, untuk bisa memahami kita seperti yang kita rasa, rasanya kita harus mempersiapkan lagi satu ladang untuk memanen kekecewaan.

Cinta bukanlah harga mati yang bisa diikat erat hanya dengan selembar akta nikah, hanya berdasarkan sumpah gereja. Selamanya cinta adalah sukarela, urusan kemauan dan kesadaran hati. Tidak ada apapun yang menjadi jaminan pengikatnya. Anak sekalipun, tidak bisa menjadi jaminan keaslian rasa cinta, yang ada kemudian adalah tanggung jawab atas status masing masing. Sekali lagi, selagi masih punya daya dan kesempatan, juga kemampuan untuk menolak diperlakukan tidak adil, maka kita juga berhak untuk berbuat apapun yang memberi jaminan kebahagiaan hati dan hidup. Agar jangan tersisa hanya tinggal penyesalan, penyesalan itu membenalu, tumbuh meraksasa setiap hari menjadi bayang bayang penutup celah munculnya sinar kebahagiaan hati.
Ya, langkah besar sebenarnya adalah reformasi atas rasa hati, keberanian untuk mengamputasi tumor psikis bernama ‘sakit hati’…

Nutricia, 070118

Monday, January 08, 2007

Tentang Rindu

Ketika jarak, waktu dan rantai kewajiban mengikat kaki hati, maka rindu menjadi terpenjara pada dinding kenyataan yang tak teraba oleh mata telanjang. Rasa yang menjombak seakan memberontak merontokkan pelapis dada maupun tulang pelindung kepala. Sesederhana itulah cinta, ketika rindu menjadi raja penguasa dari keterasingan ditengah keriuhan alam peradaban umat manusia. Dua hati, dua manusia memuja rasa hanya melewati angin yang menerobos melalui kisi kisi ruang fikiran.

Oh, betapa perkasanya cinta, yang sanggup mengombang ambingkan rasa dan menjadikan bumi fikiran menjadi gelap tak teraba. Betapa mahalnya sentuhan dan tatapan mata ketika ratusan kilometer mengangkangi keberadaan dua jiwa yang merana mencari penebusan atas hausnya kebersamaan. Sepenggal kata yang terkirim lewat pesan ajaib yang meluncur cepat melintasi bukit dan lautan memaparkan betapa dalamnya rasa rindu memperkosa hati. Kemeranaan yang mempertegas bahwa kesendirian adalah milik yang sejatinya.

Angan mengalir bagaikan air, mengangkuti rindu dari tempatnya yang kosong tak menemukan sambutan. Apa lagi yang hendak dinyatakan jika tidak satupun kata sanggup mengulas rindu yang menggelembung menerbangkan isi dada dan isi kepala. Arus yang mengalir mencari penebusan terkadang mendobrak segala ketidak mungkinan menjadi sesuatu yang sederhana, sesuatu yang tak memiliki resiko kerusakan apapun.

Merindukan seseorang adalah merindukan keseluruhan kebersamaan dan menghitung setiap detiknya menjadi penuh makna. Ketika waktu kemudian dengan keperkasaanya memutus kebersamaan, yang tersisa adalah luka menganga dari dua hati yang saling menjauh dan meninggalkan kebersamaan. Luka yang di kelak kemudian hari akan menjadi indah, manis ketika diletakkan di lemari kenangan dalam hati maupun ingatan. Luka yang kemudian membujuk hati maupun fikiran untuk mempertanyakan kapan luka baru yang serupa akan terjadi lagi, kapan setiap sentuhan menjadi benturan dua magnet bagi hati yang mendamba…

Perjalanan membawa badan melintasi jarak dalam kecepatan tinggi, menghamburkan angan yang tercecer pada setiap pohon yang seolah berlari menjauh, tercecer pada sederet bangku peron yang letih menunggui jejak kaki. Jarak ini mengunci gerak, kecuali hati yang bebas menari di langit angan angan bagaikan kupu kupu kehilangan pasangan. Ada pedih yang menteteskan peluh disetiap sisi tajamnya rindu, pedih yang mengandungkan kesejukan akan indahnya rasa. Pedih nan tak sia sia sebab hati tahu kemana rindu dialamatkan, ke tempat satu lubuk hati dimana hati tenteram terlindungi, dimana setiap detik terbagi penuh makna. Rindu yang tak pura pura, ia datang dari pendalaman rasa, biarpun sekedar ingin menukik dan menyelam di kolam hati pujaan. Tak ada yang apapun yang bisa menghalangi datangnya rindu, meskipun aturan peradaban sekalipun.

Dan bahagialah mereka, yang memiliki rindu yang mengalir tanpa henti, tiap waktu…


Nutricia, 070108

Thursday, January 04, 2007

Lelaki Perempuan Suatu Masa

“ Tolong jangan tebaskan pedang yang kau genggam itu ke hatiku suatu saat jika kita berselisih faham, sayang”

Pinta perempuan itu setengah menghiba. Tulang belulangnya serasa dicabuti dan diangkut pergi dari susunan raganya setiap kali lelaki gagah itu menjulang di hadapanya atau setiap kali suara lelaki pujaan hatinya itu menggeletar seperti meruntuhkan seluruh dinding kepercayaan dirinya yang ia bangun diatas reruntuhan masa lalunya, diatas pondasi yang labil dan bagaikan kastil pasir.

“ Makanya, jangan pernah bikin aku marah !”
Lelaki itu mengurai luka di setiap inci tubuhnya yang dipelihara agar abadi sebagai senjata yang siap mencabik hati sang wanita kapan saja iblis menggelitik kepalanya. Selalu dibawa bawanya bangkai masa lalu yang telah teringgalkan waktu, sekedar menunjukkan betapa perihnya seorang lelaki menanggungkan luka hati. Segala aspek menjadi delik pemberat untuk mengkerdilkan hati dan jiwa si perempuan, menjadikanya seonggok daging tumbuh yang dikerumuni kekurangan dan jauh dari kesempurnaan bentuk fisik. Kesalahan si perempuan di ungkit setiap kali iblis menghendaki, dan berubah bentuk menjadi pisau tajam yang menyisakan perih tak tertahankan bagi si perempuan. Perbandingan demi perbandingan tentang nilai penampilan fisik dihempaskan ke muka si perempuan untuk menguji kekuatan hati, sampai dimana akan bertahan sampai ikatan beban tanggung jawab boleh dilepaskan tanpa beban rasa bersalah.

Lelaki itu begitu perkasanya membangun singgasana bagi hati si perempuan. Ia ada di setiap kerdipan dan helaan nafas, bahkan mimpi mimpi tentang sebuah rumah di tepi danau mulai menggelitik, tinggal selangkah untuk jadi nyata. Ganjalan nyata berbumbu keraguan melanggengkan ketidak berdayaan, pasrah terhadap apapun yang dikehendaki sang hidup. Berharap sang lelaki tidak akan pernah mengayunkan pedang dendamnya ke hati lembek sang perempuan meratap merutuki masa lalunya sendiri. Apa yang bisa dipercayakan kepada sikap manis ataupun bengis seseorang di masa datang? Sungguh hidup tak memiliki pertanggungan, bahkan tidak ada satupun jaminan yang bisa membuat segalanya berjalan seperti kemauan diri.

Sebuah hubungan dibangun diatas ringkih tanah pekuburan masa lalu, dengan harap sebagai penguatnya agar tak datang badai maupun angin yang mengalir menyisiri butir demi butir mimpi yang tersusun dalam dinding rumah tangga. Filsafat indah kebersamaan dalam sumpah diatas nama Tuhan menjadi sandaran rapuh dari hati yang merindukan ketenteraman, dimana investasi sosial pertama kali benihnya disemaikan. Semestinya menjadi satu satunya alasan kenapa dua manusia berbeda jenis saling menautkan hidup, dengan satu gerak sama, satu arah yang sama dan satu tujuan yang sama; membangun sesuatu dari ketiadaan. Cinta menjadi landasan klisenya, berharap cinta sanggup mendestilasikan udara menjadi satu zat baru yang mempengaruhi arah dan rasa setiap inci jarak fikir logika manusia dalam mengawal hati yang terlalu rapuh untuk berjalan sendirian melintasi padang kehidupan.


Nutricia, 070104

Wednesday, January 03, 2007

Tahun Baru

Selamat Tahun Baru, meskipun diri tidak tahu apa makna ucapan selamat itu dan kemana ditujukan dan apa isi kandungan dari ucapan selamat itu sendiri? Doa kah, ucapan selamat karena ‘berhasil’ melewati tahun ‘lama’ kah, atau sekedar basa basi karena orang lebih banyak melakukan hal itu daripada tidak melakukan pada saat bulan Desember berakhir setiap tahunnya? Ah, makin tua rasanya diri makin bodoh mencerna hal hal yang sederhana begini. Ketika orang bersuka cita dengan terompet dan kembang api, jauh didalam hati diri malah berfikir apa sebenarnya yang ada dibenak orang orang yang merayakan ini? Old and New bla bla bla, kontemplasi bla bla bla…apa pentingnya? Berapa banyak waktu, tenaga dan juga uang terbuang lebur jadi udara tanpa sisa ketika perayaan dihajatkan ditempat tempat umum maupun tertutup? Ah, makin ruwet, makin rumit rasanya kalau semakin detail mencari akar dari akar pertanyaan yang muncul beranak pinak dalam benak.

Tahun baru, bukanya kita justru menghadapi masa dimana jaman semakin tua dan nilai manusia semakin murah karena persaingan hidup dan gesekan kemajuan tehnologi? Mengandalkan kebijakan fikiran orang sama saja menebak berapa biji isi dari buah manggis yang rapat tertutup kulit hitam kemerahanya, bukan? Hidup hanyalah mengikuti jelujur masa yang sama, panjang dengan batas misterius, dan juga berisi cetakan rute yang misterius dimana manusia tinggal menjalaninya dan punya cara sendiri sendiri untuk menghayati rasanya. Semua pasti akan tersimpul dalam satu rangkuman pengalaman batin, dan dari pengalaman itulah maka kita akan berfikir untuk berbuat atau bertindak sesuatu. Berdasarkan pengalaman, bukan berdasarkan jibaku. Jadi, sudah bijaksanakah kita menyambut datangnya tahun baru sebagai sesuatu yang baru? Bukankah hanya angka yang berubah dan itupun atas prakarsa manusia juga? Jadi jika itu adalah perayaan, perayaan atas apa?

Ketika satu tahun terlewati, kemudian secara massal kita menganggap bahwa tahun baru telah datang, dan yang dikenang hanya setahun belakangan. Nilai dari berpuluh tahun sebelumnya dimunafiki sebagai catatan sejarah belaka, cerita belaka. Semudah itukah kita menyimpulkan bahwa hidup hanya berdasarkan satu kotak ke satu kotak lainya yang bernama ‘tahun’? Tidak saudara, hidup adalah kumpulan dari pengalaman yang terbentuk dari detik demi detik kita menjalaninya, bukan tahun maupun bulan ukuranya, tetapi dari setiap aspek yang kita rasakan, kita jalani, kita lewati selama hayat di kandung badan.

Tahun baru sama saja dengan hari baru, dimana matahari memulai tugasnya dan kehidupan berjalan akan penuh rahasia, tak terduga dan tak teraba akan apa yang mungkin terjadi nantinya. Sepantasnyalah membekali hati dan mental dengan kekuatan agar jangan kita diperdaya oleh keadaan yang barangkali tidak sesuai dengan pengharapan kita yang lebih banyak kepada kebaikan semata. Hal buruk bisa terjadi kapan saja, dan hidup bisa berubah apapun bentuknya hanya dalam hitungan detik. Sebuah luka hanya perlu hitungan detik untuk terjadi, dan lalu hinggap didalam hidup selamanya. Bukan hasil kristalisasi dari menjalani hidup selama setahun penuh, tetapi dari dari apa yang terjadi pada saat ini, pada detik ini sebab detik yang akan datang selalu saja menjadi rahasia alam, rahasia kehidupan yang tak memiliki kunci jawaban.

Apakah kemudian kita harus pesimistik bahwa masa depan berisi iblis yang akan menghancurkan hidup yang kita jaga selama sekian tahun? Jangan pula saudara, biarkan saja hidup berjalan sebagaimana mestinya, dan lewati, jalani saja tanpa mengharap lebih dari apa yang kita dapat. Ukuran kualitas diri hanya kita sendiri yang tahu, dan rahasia terbesar dalam hidup kita hanya kita jua yang menyimpan catatanya. Jika hidup menenggelamkan kita dalam dukalara, maupun melambungkan kita dalam sukacita, maka memang terjadilah itu seperti kehendak sang alam yang rahasia. Kita tidak bisa menolak kemalangan seperti tidak sanggup menggapai kemujuran. Berbuat yang terbaik atas apa yang harus kita lakukan dan menyerahkan hasilnya kepada sang penentu adalah cara bijaksana menyikapi hidup, sebab kita tidak bisa mengontrol semua yang bakal terjadi atas hidup kita, juga tidak bisa mengontrol bagaimana orang harus bersikap kepada kita. Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita memperlakukan orang dan memulai dari diri kita sendiri apapun yang namanya perbaikan.

Setiap bangkai waktu akan meninggalkan jejak dan catatan, yang semestinya menjadi landasan bagi sikap kita untuk lebih bijak, lebih baik dan lebih menghargai kehidupan, lebih menghargai sesama…

Nutricia, 070103