Friday, March 09, 2007

Berencana terbang


Ditanggalkan sayapnya dua tahun belakangan, lalu membungkus diri dalam kegelapan, dalam dendam dan jutaan perasaan yang menyakitkan. Dibiarkanya iblis memangsa jeroan, dia hanya bisa merasakan pelan pelan. Mendung menjadi payung bagi langit hatinya, sebisa mungkin menghindari matahari yang mengajarkan kebenaran. Di pojok dunia yang sepi ia mencoba menemukan kompromi atas kejadian yang tak diharapkan dan benar benar terjadi.

Dibalik mendung pertir berhamburan mencari pasangan. Tanah pijakan beku menggigilkan nyali, kenangan perlahan menjadi prasasti yang larut dalam sentuhan. Dua tahun ia diam ditempatnya yang seolah abadi, menjadi ribuan abad dilaluinya sendiri. Sesekali setiap hari iblis berkelebat membabatkan pedang karatan namun tajamnya tak terkirakan. Perihnya tak terkatakan dan ia terima dengan sepenuh rasa. Bahkan ketika iblis iblis baru terciptakan dari sekelompok manusia bertopeng budi mulia mengeroyoknya dengan penghakiman yang bengisnya tidak ketulungan. Iapun tak hendak membela diri. Diamnya menyimpan miliaran kata kata yang hanya dia sendiri mampu menterjemahkan.

Dirindukannya langit biru, tempat udara bersinggasana. Dulu tempatnya memuja bintang dan menggandeng bulan, atau sesekali bercengkerama dengan matahari. Disana juga ia setubuhi embun dengan segenap jiwa yang merana sepanjang perjalanan. Ya, ia telah berjalan sendirian dan menempuh lebih jauh dari kebanyakan. Sayap yang ia tanggalkan dulu telah karatan dianiaya waktu dan takdir imitasi, berdebu seumpama barang loakan. Penjelajahan masalalu membekas dibalik sayap sayap itu, mencatat setiap kejadian yang begitu mengagumkan; selamanya tentang penjelajahan di langit lepas. Maka ia berencana terbang….

Perlahan digerakkan kepalanya, memandang ke atas dimana mendung menjadi payungnya, menjadi langit langit tempurung pengetahuanya. Ia menyadari selama ini telah memenjarakan dirinya sendiri dalam kesia siaan – dua tahun yang berat dalam bui virtual ciptaanya sendiri -. Dua tahun ia bunuh diri dalam mati suri, dan menceraikan langit yang selama ini menjadi warna hidupnya. Dikuatkanya nyali untuk berencana terbang lagi, menyapa bintang, menggandeng bulan dan bercengkerama dengan matahari seperti dulu lagi. Ia rindu hidupnya yang hakiki, rindu pada sosoknya yang asli.

Maka kepada mendung selepas subuh, ia tersenyum menyapa ramah. Menanyakan kabar tentang satwa malam yang berlarian mencari tempat sembunyi. Dipesankan kepada angin timur yang membawa hawa hangat dari ujung bumi, agar dibawakanya aroma bunga kanabis untuknya memuja para dewa, untuk dibawanya serta terbang ke batas tertinggi dari langit tak bertuan, dimana ia kembali ke singgasananya dan menjadi raja bukan atas apa apa, bukan atas siapa siapa…

Maka nanti jika fajar telah pergi, ia akan terbang jauh tinggi…seperti biasa, sendirian…

Nutricia, 070309

* Terimakasih untuk para iblis yang menguatkanku. Maaf jika aku mengecewakan kalian karena aku tidak hancur dan larut menjadi kotoran seperti kehendak kalian…

Monday, March 05, 2007

Senin

Senin selepas fajar, serasa jutaan sepasukan iblis ikut melepas bersama bendungan yang pecah penahan segala gundah yang tertipui pada dua hari bernama akhir pekan. Segalanya ikut membuncah menyerbu meja kerja, mengacak acak isi kepala bahkan mencabik cabik ingatan lama. Mereka semena mena membangkitkan lagi kawah angkara murka yang dengan berat dan melelahkan tertimbuni oleh detik demi detik yang berlalu, meniti jalan menuju ketuaan.

Langit hati tidaklah secerah penampilan, dan menunggu hanya menyia nyiakan waktu. Hujan badai tak menghentikan gerak sedangkan menunggu adalah satu satunya jalan melempang di hadapan. Apa yang harus ditunggu untuk berubah? Dan apa yang bisa diperbuat selama ini kecuali menunggu? Iblis iblis telah menganiaya otak hingga tak mampu lagi menghitung hitung hambatan untuk dilalui. Jiwa yang cacat berjalan timpang, melukai siapapun yang dijumpai di jalanan. Memperhitungkan setiap kemungkinan, tebing jalan buntu menjulang menjadi jawaban.

Penyesalan telah mematikan rencana langkah, tutup buku sudah untuk rencana cuci darah. Menjadi pahlawan kesiangan sungguh sia sia saja, berbangga bahwa hidup cukup bararti untuk menutup aib penghianatan. Inilah hidup normal manusia bumi yang hanya menjalani segala sesuatu yang besar dalam dunia tersembunyi, dunia kalbu. Arah sudah berubah, dan langkah tak lagi gagah saudara. Malaikat hati hanya mencatati setiap kejadian yang melelehkan rasa. Berdamai dengan diri sendiri adalah jawaban filosofis, sedangkan upaya membuatnya berdamai sungguh telah mencacatkan jiwa yang semata wayang, yang berdiri diatas kebanggaan semata. Sepanjang hidup diri telah berjuang melawan dendam, mencekokinya dengan penawar sakit hanya biar sekedar bedamai dengan perang diam diam yang meluluh lantakkan.

Mestinya ia bisa tinggal menjadi harta, benda mati dalam rumah tangga. Tapi apakah pantas sesuatu disebut harta bila tak lagi bernilai apa lagi bermakna? Ribuan nasehat menjadi hilang guna, sebab segala bentuk bimbingan hanya dianggap selingan, bahkan segala bentuk pengorbanan hanyalah bahan guyonan bagi pengertianya yang sedangkal mata kaki. Ketidak sempurnaan memang menjadi sifat umat manusia, tetapi tidak tahu diri tentu berbeda lagi definisinya. Idealisme tentang hidup bersama telah berbuah kepahitan yang tak terlihat ujungnya, menawarkan kenangan kecut di setiap incinya. Hingga usia melumpuhkan sekalipun tak akan mampu energi terkumpul untuk membangun kembali istana pasir yang telah hancur diamuk ombak. Barangkali hidup telah kehilangan manfaatnya…

Bagi seorang laki laki, ada sesuatu yang lebih buruk dari kematian dalam kehidupan…Dan benar, bagi seorang laki laki, seharusnya dirasakan sendiri lalu disembunyikannya dalam diam segala yang menggejolak meremukkan hati, menunggu sampai Senin berlalu pergi… Menunggu sampai kan mati...

Nutricia, 070305

Friday, March 02, 2007

Gajian yang menyakitkan

(Sepenggal cerita dari jakarta 3)

Dari jauh mukanya berseri seri, tergopoh gopoh menemui mandornya. Hari ini gajian setelah bulan pertama bekerja. Di kepalanya bergumul segala keinginan dan angka angka juga rencana rencana. Ia akan menjadi lelaki dengan uang dikantong sebentar lagi, tak perlu lagi mengutang makan di warung Emak untuk beberapa hari. Ia berencana membelikan anak kesayanganya baju kaus bergambar Sponge Bob yang dikagumi sibocah; sebagai kejutan!

Duduk di depan kursi sang mandor, ia gelisah tak sabar menerima amplop khusus bagi dirinya. Inilah hasil dari satu bulan bekerja, mengumpulkan hari demi hari, menunggu akhir bulan dan gajian. Namanya tertera di amplop putih bersih secerah fikiranya itu, dan tertera di bawahnya deretan angka: Rp. 693.600…!

Tiba tiba dunia terasa gelap, lehernya seperti tercekik, panas dan kering seperti tidak pernah ada cairan melewati selang tenggorokanya. Ia kecewa pada kenyataan, bahwa jumlah yang diterima jauh dari yang diharapkan. Sang mandor menjelaskan dengan bahasa birokrat kecil, formulasi penggajian, aturan pemerintah dan segala macam yang hanya mengiang ditelinga si buruh. Semua harapanya musnah seketika. Baju kaus Sponge Bob untuk anaknya melayang hilang tak ditemukan. Jumlah itu jauh dari cukup untuk biaya hidup, bayar kontrakan, sekolah anak, uang jajan, ongkos kerja setiap hari, uang belanja istri dll. Untuk makan tiga orang nyawa manusia mungkin msih kurang jumlah itu. Bukan itu yang membuatnya terpukul, tetapi kenyataan bahwa ia telah menghabiskan waktu sebulan penuh dengan mengabaikan waktu siang, malam, pagi hari libur. Ia tidak bisa menerima.

Ia tinggalkan meja si mandor dengan perasaan yang seratus delapan puluh derajat kondiisinya dengan ketika dia berangkat beberapa menit yang lalu. Satu detik saja ternyata bisa merubah segala pandangan dan fikiran dalam hidupnya. Tiba tiba ia marah. Marah kepada dirinya sendiri, marah kepada perusahaan yang mempekerjakannya, marah kepada pemerintah negaranya yang tidak becus mengurus kepentingan rakyat jelata, marah kepada Tuhan yang membiarkan orang zalim berkuasa memberinya gaji. Ia diam dalam marahnya, tetapi marah dalam diamnya. Mengutuki apapun yang dijumpai, mengutuki nasib yang diterima di muka bumi.

Di tepi jalan ia menunggu angkot yang ia harap tak pernah akan datang menjemputnya, untuk membawanya ke gang kecil dimana ia dan anak istrinya tinggal mengontrak di rumah orang. Ia tidak punya kata kata untuk disampaikan kepada anak dan istrinya yang menunggu penuh harap. Ia tidak berani menjelaskan nanti jika ia membatalkan ajakan anak kesayanganya untuk makan ayam goreng di mol. Lelaki itu berdiri lesu di bawah pohon Mahoni dengan kepala kosong, dan pandangan yang bolong. Uang di kantong celananya serasa berat ia bawa. sebentar lagi habis terbagi untuk hal hal yang harus dipenuhinya. Sesudah itu entah bagaimana.

Ia tahu ia telah menjadi korban dari ekploitasi manusia, perbudakan gaya baru di zaman modern. Pengetahuanya tidak cukup memberinya kekuatan untuk memberontak dari rasa ketidak adilan yang diarasakannya. Ia sadar bahwa ada orang ada bebearpa orang yang lebih tahu ketimbang dirinya memanfaatkan ketidak tahuanya. Orang yang lebih tahu dari dirinya telah dengan sengaja mengeksploitir kesulitan hidupnya. Dan ia, laki laki itu tak punya pilihan lain selain menghidupi anak istrinya dengan bekerja…

(ungkapan keprihatinan untuk Joni F, Nawi, Suaib, Rukma dkk…)

Nutricia, 070302

Tuesday, February 27, 2007

Beling Segitiga

Sebuah hubungan saudara, ketika pecah maka tak ubahnya ia menjadi beling yang menyelip diantara fikiran. Setiap sisinya mengandung ketajaman yang menjanjikan keperihan jika terjadi gesekan maupun tersentuh dengan sengaja maupun tidak. Tidak jarang kemudian menimbulkan luka yang melama, meradang dan terasa perih setiap kali terjadi gerakan. Padahal saudara, selama hayat masih dikandung badan, manusia akan terus bergerak, paling tidak ada detak darah mengalir. Dan selama fikiran belum mati, selama itu pula sang beling yang menyelip akan terus menggesek gesekkan ketajamanya, menebarkan keperihanya ke seluruh sendi kehidupan.

Konon sebuah perhubungan (relationship) yang sehat adalah ketika fihak fihak yang terlibat didalamnya menemukan kemerdekaanya, kebebasanya untuk mengekspresikan individu sendiri, menjadi diri sendiri. Disaat itulah kemudian disimpulkan bahwa interaksi yang dibuat menimbulkan dampak bahagia, nilai positif bagi berlakunya kehidupan sosial. Hubungan yang sehat pada giliranya akan memberikan inspirasi tentang tenggang rasa, tentang cara kita menilai orang lain dan memperlakukanya sesuai kaidah baku. Pada saat seperti itu tentu sang beling berada jauh di tempat yang tidak teraba, sebab si perhubungan tengah menjadi selembar kaca indah yang menyembunyikan kerapuhanya dibalik bentuk yang terasa.

Sebuah perbedaan maupun sebuah persamaan bisa saja menjadi awal muasal terbentuknya hubungan. Interaksi awal ini mengumpulkan data data tentang individu lain yang diinventarisir dalam penilaian pribadi masing masing. Waktu akan memeramnya menjadi sesuatu yang berbeda bentuk nantinya jika memang masing masing individu menemukan slot masing masing untuk saling membaur. Orang yang samasekali tidak kita kenal terkadang tanpa sadar suatu saat terasa sangat dekat melebihi saudara dalam silsilah. Sebuah hubungan yang berlandaskan ketulusan dan kesahajaan tentu akan jauh lebih bermutu dan bertahan lama daripada hubungan yang memiliki maksud sesuatu, atas nama kepentingan sesuatu.

Saudara, terkadang banyak dari kita tertipu dengan penampilan luar saja dan terburu buru membuat simpul mati dari apa yang terlihat di mata. Padahal saudara, nilai seorang manusia justru diukur dari apa yang tidak terlihat mata, dari caranya memperlakukan orang lain, caranya memandang segala sesuatunya orang lain terhadap diri sendiri, dan yang tidak kalah penting adalah dari kesanggupanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya. Penampilan fisik terkadang menjadi racun bagi kemungkinan kita melihat yang tidak terlihat tersebut.

Perhubungan sekali lagi adalah jalinan kokoh yang berbahan rapuh, yang hanya dalam hitungan detik saja bisa pecah berkeping keping, ambyar jadi beling dan tak bisa lagi utuh seperti sedia kala. Ataupun jika tersambung kembali meninggalkan kecacatan yang tidak bisa lagi diingkari. Jika sebuah hubungan berakhir dengan perpecahan, maka yang terluka adalah hati, dan si beling akan tetap tinggal didalamnya menjadi penggerogot bagi kesejatian hidup. Akibatnya cacat mental maupun luka fikiran yang menagbadi. Meninggalkan jejak tak sedap sesisa hayat dikandungan badan…

Orang ketiga, adalah bentuk paling perkasa untuk menciptakan kehancuran itu, dan jika kehancuran itu tiba maka tak ubahnya sebuah beling berbentuk segitiga dengan ketajaman seribu kali dari tajamnya mata pedang samurai buatan Hattori Hanzo…

Nutricia, sebuah perenungan tentang relationship 070227

Monday, February 26, 2007

Lelaki di Goa Batu

Di dalam gelap goa batu lelaki itu menyembunyikan tubuhnya. Luka lukanya perlahan mengering, tetapi tidak hatinya. Pikirannya berputar putar bagaikan puting beliung yang liar mencari apapun yang ditemukan untuk diterbangkan lalu di hempaskan. Kemarahan menjadi sesutu yang terasa dalam gelap dan dingin goa batunya.

Satu kala ia pijak hatinya sendiri yang memberontak atas ketidak seharusan yang diterimanya. Memaksakan berkwintal kwintal pasir beling tertelan sebagai perlambang sebuah nilai kelaki lakianya. Perih yang meradang dikeluhkan hanya kepada angin dan sisa embun, dada yang terbakar dibaluri dengan telapak tangannya yang gemetaran, menunggu waktu menjadi tua, menunggu arloji kehilangan pegasnya. Menunggu kesadaran akan datangkan kekuatan baru setelah ribuan tahun dalam belenggu lara.

Tetapi betapa sia sianya segala daya upaya yang melelahkan. Ia berjuang melawan malam yang mengurung bersama jutaan iblis yang menginjak injaknya. Kelelahan, kesakitan dan terluka, ia bertahan hanya dengan nafas yang tersisa. Kezaliman memang ada dan menjadi praktek di kehidupan nyata, si lelaki tak mau jua kehilangan nama. Maka ia putuskan untuk berhenti, lalu dengan kekuatan labil yang dimilikinya, diamputasinya lorong hati yang berisi beling beling masa lalu, dengan tanganya sendiri dan dengan rasa yang ditanggungkanya sendiri.

Sirnalah sebongkah hati miliknya, sirna juga ribuan rasa yang terkandung didalamnya. Pintu goa yang terbuka seperti pintu hatinya yang bebas dilalui siapa saja, bagi orang orang yang sekedar menengok, meludahi bahkan sebagian mengambil manfaat atas keterkaparanya. Orang boleh datang, menganiayanya berulang ulang, dan ia hanya terkapar menunggu kesadaran. Sampai sutu subuh angin mengabarkan kematian bagi harapan yang ia sangkakan sebagai ruh dari nafasnya sendiri. Perlahan ia bangkit dari gelapnya, meraba batu lumutan dinding goa, dingin semata. Kakinya yang rapuh diseret ke pintu goa, pembatas nyata dari dua keadaan yang berbeda. Alam raya terang benderang diluar sana ditatapnya untuk barangkali yang terakhir kali. Sepi. Tidak ada yang datang berlari menghampiri.

Lalu ia putuskan untuk membuang kunci pintu goanya sendiri, ke dasar tebing dimana lautan luas menganga. Lalu ditutupnya pintu batu itu, dikunci dan tak diharapkan akan terbuka lagi. Sejak itu ia jalani hidupnya dalam beku goa batu, bersama hati yang perlahan mati dan membeku menjadi batu dan kelak tinggal sebagai fosil masa lalu. Dalam gelap goa ia hidup dalam alam fikiranya sendiri, antara kenangan dan penyesalan yang datang silih berganti. Dalam gelap goa batu ia temukan terang jalanya menuju pulang kepada diri sendiri. Tak ada musuh tak jua kawan disamping badan dan ia hanya menjalani hari harinya tanpa beban berlebihan lagi. Dunia jahiliyah tak lagi terjadi di dunia goanya, di alam fikiranya kini.

Lelaki itu, menjadi pertapa dengan nuraninya sendiri sebagai muridnya…ia menutup hatinya sendiri dari janji janji…
(Dan di luar goa batunya, ia tinggal nama sebagai lelaki kejam tak punya hati...)


Nutricia, 070226

Saturday, February 24, 2007

Matahari

Matahari adalah mata sang hari, indra penglihatan bagi berjalannya sebuah hari yang dimulai dari pagi, siang lalu sore dan berakhir ketika senja membayang. Sinar lembayung di tepi barat mengisyaratkan selesainya tugas sang mata hari satu pada satu siklus waktu. Dua belas jam kira kira.

Maka kerja sang mata hari bukan sekedar menyinari, tatap juga menaburkan kehidupan kepada yang termasuk sebagai mahluk hidup di muka bumi. Ia juga menguak kegelapan dan hal hal tersembunyi, memberikan sinar kepada fikiran setiap mahluk yang dikarunii otak dan akal budi untuk berencana dalam terangnya, menyambung hidup demi sejarah masing masing.

Jika langit dipenuhi mendung kelam sekalipun, jika tak terpancar hangat sinarnya sekalipun bukanlah berarti sang mata hari tidak menjalankan tugasnya. Dia berjalan sesuai kodratnya, tidak lebih dan tidak juga kurang. Tugasnya adalah menumbuhkan dan menerangi, menghidupkan dan jika diperlukan kadang mematikan sembarang yang hidup dihadapanya.

Cerita kedatanganya selalu bermula dari sejuknya fajar, dengan sinar hingar bingar yang menguak kepekatan sang malam. Seisi bumi diserah terimakan antara embun sebagai sisa pesta alam malam dan matahari sang penguasa baru sekira dua belas jam kedepan. Di tepi bumi bagian timur sang embun di pucuk daun dan sang matahari yang menggantung diantara langit dan awan gemawan berkecupan, berpapasan unguk kemudian saling pergi menjauhkan diri, lalu tenggelam dalam tugas dan perjalananya masing masing. Sang embun menjelma menjadi setetes air yang lesap dihisap sang matahari, diterbangkan diantara miliaran molekul di angkasa untuk dikembalikan ke pucuk daun lagi dalam daur waktu yang berbeda. Sedangkan sang matahari gagah melangkahi bumi, memancar memberi arah dan sekaligus nyawa bagi mahluk mati.

Maka saudara, kita mengira jarak terdekat ubun ubun kepala kita dengan mata sang hari adalah ketika kita berdiri diatas bayangan kita sendiri. Disaat seperti itu maka diri merasa ditelanjangi sebab tak ada yang patut untuk disembunyikan. Mata hari meminta peluh dan uap tubuh kita sebagai bukti keberadaan dan sebagai imbalanya diberikan kita kebijakan untuk melanjuti hari tidak dalam kegelapan. Sumpah serapah dan caci maki tak lagi menjadi istimewa sebab dia hanya menjalankan tugasnya yang sahaja; tidak untuk memanggang hanya menghangatkan.

Merangkak mengikuti jarum arloji, sang mata hari perlahan menepi ke barat daya, dimana diujung pandangan ia akan terbang dan lalu terbenam tenang. Kita diberikan kesempatan untuk menata diri sebelum gelap datang, dengan sinarnya yang perlahan berkurang sengangarnya, agar kita tak salah jalan menentukan arah pulang. Lalu sempurnalah tugas seharian, ditinggalkan bumi menjadi mangsa sang malam, berbalut gelap dan dikerubuti kehidupan rahasia. Jutaan bola lampu (bolam bukan bohlam –red) mencoba mengingkari gelap yang mengurung, dan bumi menjadi terkotak kotak dalam cahaya tak sempurna. Dan kehiduapan malam berjalan dalam bisunya, dalam rahasianya, dimana iblis mengadakan pesta dimana mana. Lembab jejak matahari mengundang embun turun dari langit yang terkurung, lalu luruh di atap atap rumah batu dimana segala plakethik disembunyikan dan direncanakan. Sebagian terdampar di dahan pohon dan bermesraan dengan ulat ulat kayu yang sebentar lagi akan bermetamorfosa menjadi kupu kupu, mencoba menggapai tempat dimana sang mata hari bersinggasana di langit tak bertuan.

…lalu saudara, kehidupan akan terus bergulir siang dan malam berganti gantian. Seperti halnya matahari dan embun yang akan bersetubuh di fajar hari suatu saat nanti, entah kapan yang pasti akan terjadi lagi….

(untuk embun yang memanggilku matahari…I am not that good, mbun…)

Nutricia, 070224

Wednesday, February 21, 2007

Melukis langit

Suatu pagi yang tidak begitu cerah, langkah yang goyah membawa fikiran gundah menjauh dari satu titik keberadaan, melewati tikungan dan belokan, tanjakan dan turunan bersama ratusan orang lainya yang entah mau kemana atau dari mana. Sebagian berpasang pasangan, diatas kendaraan mereka masing masing. Sepeda motor, mobil dan sedikit lagi berjalan kaki. Keramaian dunia dimulai lagi pagi ini.

Sisa embun terlupakan di dahan pohon mangga, seperti memang tidak pernah ada yang memperhatikan samasekali kehadiranya. Sebentar lagi matahari muncul, menyeruak diantara sekumpulan mendung kelabu yang menggantung di awang awang. Lalu apa? Harapan! Ya harapan bahwa hari ini sesuatu yang berwarna akan mengisi kalbu kita, akan mengisi fikiran kita dengan semangat dan kebanggaan atas eksistensi diri.

Ternyata gerimis yang datang menaburi dunia, membawa kesan muram yang membalut keindahanya. Ia datang membawa pesan tentang satu hari mendatang yang akan berjalan biasa biasa saja, seperti kemarin kemarin, seperti berabad abad silam. Sapa dari kejauhan dan ucapan selamat pagi dari seberang lauatanpun tak menggantikan kemurungan pagi, meraba raba apa yang hendak diperbuat dan apa yang akan terjadi sepanjang hari nanti.

Langkah yang tercetak di tanah berlumpur tempo hari perlahan pudar coraknya, berganti dengan genangan kenangan yang mengaburkan optimisme diri. Sederet angka dan setumpuk kewajiban siap berjibaku dalam diamnya, dalam penghayatan yang kekal. Kontradiksi demi kontradiksi terjadi dan orang orang terpelanting oleh kebingunganya sendiri menterjemahkan arti hidup yang tengah dijalani, sebagian lagi tertancap di tiang kebekuan tak hilang tak jua pergi.

Mimpi semalam terbawa ke ruang kerja, berbaur dalam rumit tanda tangan yang harus dibubuhkan bersama isi perut yang melilit, menyatu dalam syaraf di otak yang serasa terjepit perih. Kalendar di dinding membatu tak mengisyaratkan apa apa, demikian juga riuh para pekerja yang seolah tak memiliki dunia, kehilangan ruang privacynya. Batu batu dongkal kepribadian menghalangi pandangan, menggempurnya menjadikan kelelahan. Sebagian telah tercabut dari cadas tancapan, sebagian lagi masih mencoba coba mengukur kekuatan sang mental diri.

Melukis langit dikala pagi tak begitu cerah adalah meraba jawaban atas terkaan kabur, tentang apa yang mungkin akan terjadi seharian penuh nanti. Dilangit, tergambar kecemasan dan kebosanan, keinginan untuk pergi berlari jauh .…

Nutricia ketika gerimis menyapa 070221

Monday, February 19, 2007

Permaafan

Seorang biasa pernah dengan bijak menyampaikan kata ini :” Seberapapun kesalahan yang dia buat, tidak menghalangi saya untuk tetap mencintainya. Jika saya marah atas perbuatanya, saya takut nanti justru amarah itu akan menyeret saya ke arah sikap yang salah dalam menyikapi kesalahanya”. Padahal lelaki yang belum terlalu tua itu baru saja kehilangan 3 orang anak kandungnya yang tewas dibunuh oleh ibunya sendiri yang notabene adalah istri yang dinikaihnya dulu karena cinta. Demikianlah maka ia telah betul betul berkomitmen terhadap cintanya kepada istri. Ketika sang istri oleh pengadilan dibebaskan karean mengalami gangguan jiwa berat, sang suami dengan tabah hati harus menerima semuanya dengan ikhlas bahkan semasa persidangan sekalipun suami luar biasa ini tetap setia mendampingi istrinya, pembunuh tiga anak kandungnya.

Tidak banyak yang diharap dari sang suami, kecuali agar supaya istrinya kembali menjadi wanita normal dengan pemikiran yang normal. Ketidak normalan cara berfikir telah menyebabkan anak anak titipan Illahi harus berujung di liang lahat pada usia yang masih sangat muda.

Ketauladanan si suami ini menjadi godam pemukul hati ketika kita begitu sibuk menghitung dan mendokumentasikan kesalahan orang lain dan sakit hati yang ditimbulkan oleh orang lain terhadap kita. Kebesaran hati dan kekuatan jiwanya telah membawa pandangan jernih dalam situasi yang samasekali tidak terbayangkan dalam emosional yang normal. Air mata yang masih terus mengalir tak menghalangi niat maupun pandanganya bahwa maaf harus diberikan mutlak kepada siapapun yang bersalah dan harus dengan ikhlas diberikan agar tidak mengaburkan pandangan ke arah yang lebih salah dari kesalahan pertama.

Bagi kebanyakan orang memaafkan adalah hal sulit dalam hidup. Melihat apa yang kita kerjakan bertahun tahun hanya berakhir dengan penghinaan, atau melihat perbuatan kesengajaan terhadap sikap baik kita, tentu akan menimbulkan luka mengaanga di dalah hati. Jadi teringat tentang sebuah paku dan kayu, jika kesalahan itu diibaratkan paku, maka hati manusia ibaratnya adalah sang kayu. Bisa saja dipaku, kemudian dicabut, tapi tetap saja meninggalkan bekas luka. Demikian juga manusia, sekali berbuat salah, dan seberapapun permohonan maaf yang disampaikan, tetap saja didalam hati tersimpan bekas luka.

Tapi sang suami yang tertulis diatas tentu beda dari kebanyakan dari kita karena dia termasuk satu dari sedikit manusia luar biasa dimuka bumi ini…


Nutricia, 070217

Thursday, February 08, 2007

Sejarah


...
from the third floor, watching the busy street with you in mind.
Wondering how could I let this feeling go?
Whom will I tell if the rain pours down?
Whom will I send the picture of red sky?
What do we tell the hearts then?
….

Sebait kata kata cantik itu meruntuhkan bangunan dinding hati yang baru saja berdiri, menunggu proses kering agar kuat seperti karang.

Sebait kata itu seperti merebut simpul hati yang sudah terkendali dalam kekang.
Kembali hati mempertanyakan jawaban jawabanya, menggagapi masa masa depan yang tanpa bayangan.

(sebuah percakapan dengan malaikat hati ketika logika menggoda goda, Cubicle 060109)

Monday, February 05, 2007

Larva di kepompong jiwa

Sebuah sentuhan yang awalnya sederhana ternyata bisa menyuntikkan jutaan larva, menyelip diantara lipatan bangkai waktu dan terus tumbuh hidup diantara badai dan gelisah, antara sedih dan amarah. Larva larva iblis yang masih bayi dan lembek seolah benda mati yang tak akan memberikan dampak apa apa bagi masa depan. Kegagahan diri tampak sebagai tameng yang menghalangi apapun untuk datang menerjang, menyombongkan diri atas kekuatan hati yang dipaksakan, berharap diberi seutas medali penghargaan.

Dan saudara, catatan masa adalah proses metamorfosa yang sebenarnya. Menyimpan kekokohnya dalam bungkus keseharian yang sempurna, dan merasakan bayi bayi iblis perlahan lahan menggerogoti sampai ke setiap sudut yang tersembunyi sekalipun dalam nurani. Membusuk dan rapuh, hingga bolong bolong dinding pertahanan emosi, tertinggal sejuta lobang tempat iblis dewasa datang dan pergi sesuka hatinya. Tak ada lagi larva, tak ada lagi cita cita yang dikandungkan si kepompong, hanya tinggal bangkai tak bernyawa penghias ranting di belantara dunia.

Lantas kemana perginya jutaan larva iblis itu, saudara? Mereka telah menjadi iblis dewasa yang mentransformasikan kehidupan dalam warna amarah dan kesedihan. Mereka terbang berhamburang menempati setiap sudut pandang dunia fana, dan menjadi klilip bagi mata yang memandangnya, slilit bagi fikiran yang mengandungkannya. Iblis iblis menjadi algojo penyiksa yang datang sesuka hati, kapan saja dari subuh hingga subuh berikutnya. Hati yang semata wayang menjadi compang camping kehilangan bentuk, dicabik dan ditindasnya tanpa perikemusiaan. Seranganya tak mematikan hanya melumpuhkan segala syaraf rasa.

Tak ada lagi yang bisa diberontak sebab semua berjalan hanya mengikuti siklus waktu yang bermetamorfosa pelan pelan dan tanpa akses kesalahan, kecuali diri yang terus menyesali karena dibiarkan sebuah sentuhan sederhana terjadi dahulu kala di suatu hari. Menganggap kekuatan hati boleh menampung beban apapun yang bakalan datang, apalagi hanya segerombol belatung lembek di telapak kaki. Siapa menyangka jika akhirnya sang belatung berubah menjadi sekelompok monster yang meremukkan segenap kesejatian diri?

Nutricia, ketika hujan tak jua reda, ketika amarah tak jua sirna 0701201

Wednesday, January 31, 2007

Konsep Pengelabuan

Ketika kemutlakan warna hitam dan putih dicampurkan dengan komposisi yang seimbang maka akan timbul warna baru yang berwarna kelabu. Sebauh warna yang berisi kebimbangan, penuh ketidak berfihakan atas sebuah kemutlakan dan menciptakan kemutlakan baru, wahana baru dan tentu saja nuansa baru.

Dan ketika kebenaran bercampur aduk dengan kebohongan yang timbul di permukaan kemudian adalah pengelabuan fakta. Mengelabui keyakinan pandangan bahkan sampai kepada tingkat kepercayaan seseorang dengan kebohongan menjadikan kebenaran kehilangan bobot makna. Untuk bisa mengelabui orang lain, orang harus mampu mengelabui diri sendiri dengan melakukan pembenaran atas apa yang seharusnya tidak benar, dilarang oleh nurani dan hati kecil. Karena larangan ini tanpa sanksi, maka pengelabuan bisa berjalan dan dilancarkan tanpa pura pura.

Antara kebohongan dan kebenaran yang berpilin pilin, maka akan timbul pula anak beranak kebohongan dan kebenaran itu sendiri, berpacu dalam arah yang berlawanan dengan kepentingan yang berlawanan dan efek karambol yang berlawanan arah. Kadang kadang tidak akan pernah bertemu, sebab ketika anak anak kebohongan dan kebenaran bertemu, yang terjadi adalah sebuah benturan dahsyat yang mengakibatkan sendi kehidupan menjadi nyeri, bengkak bahkan tidak jarang membusuk.

Untuk mengelabui, yang diperlukan adalah kepercayaan semata. Kepercayaan bisa didapat hanya dengan mengungguli rasa percaya diri si korban dan dengan sedikit kepandaian mengakali bahasa tubuh. Inilah yang sebenarnya disebut sebagai sebuah penipuan. Segala kegiatan menipu orang lain mulanya adalah menipu diri sendiri, membelanjakan sekian persen dari kualitas pribadi untuk tujuan mengaburkan warna kesejatian. Pada akhirnya adalah memaksa si korban untuk percaya dan meyakini bahwa kelabu adalah warna yang hakiki sebagai perwujudan kemutlakan hitam atau putih.

Sebagian orang dibekali dengan cangkang kebodohan ego yang mempertahankan kelicikan dengan sikap kasar dan melupakan hukum malu apalagi tahu diri. Orang seperti ini memang memiliki bakat sejak lepas dari masa kanak kanak untuk menjadi parasit, penghancur apapun yang baik bagi kehidupan dan kehilangan penghargaan atas segala sesutu yang dihasilkan atas nama perjuangan hidup bahkan pengalaman. Tidak ada sesuatupun yang berarti di muka bumi kecuali diri sendiri, itulah semboyan hidup bagi kaum lemah nurani ini. Dianggapnya kehidupan berjalan lancar lancar saja sesuai keinginan pribadinya, menyembunyikan segala persoalan bahkan aib dalam sikap pura pura, dalam kehidupan seolah olah. Kaum lemah nurani seperti ini biasa hidup di habitat bernama kepalsuan, mendewakan benda benda imitasi dan pecinta sinetron sejati. Mereka bahkan sebetulnya patah arang untuk sekedar melihat diri sendiri, sebab tak ada satupun cermin yang dipandang sebagai sebuah kebenaran.

Bahkan ketika kebenaran dijejalkan ke kornea mata, dihempaskan kehadapan muka dengan bukti sedemikan nyatapun pengakuan yang muncul adalah penyangkalan atas kebenaran yang disimpanya sendiri. Tidak jauh beda dengan maling yang tertangkap tangan, maka si pendurhaka seperti ini akan mempergunakan segala daya upaya untuk mempertahankan aksi pengelabuannya dengan satu bisikan setan tentang cerita fiksi. Dia tertipu!

Selalu ada sesuatu yang tersembunyi dan tidak kita ketahui dari hal apaapun di muka bumi, terlebih lagi ketika yang ada didepan pelupuk mata adalah hamparan warna kelabu semata…

Nutricia, usai hujan 070131

Thursday, January 25, 2007

Kerikil

Angan membeban ketika ketidak berdayaan dan rasa bersalah bergumul berpilin pilin dalam tangkaran perenungan. Apakah langkah tidak terbawa sebagaimana mestinya? Atau ini hanya sekedar efek sentimental dari sisi manusia yang terusik dan tercabik cabik. Hukum sebab akibat membuat semua kejadian menjadi sederhana, sedangkan relativitas telah mengatur setiap gerak hidup alam maya. Dua puluh empat jam sehari semalam terasa kurang sedangkan waktu tercuri dan tebawa pergi oleh hujan pagi hari.

Idealnya memang tidak ada kejahatan di muka bumi, idealnya tidak ada perasaan benci yang disebabkan hanya karena dengki semata. Semestinya rasa hormat dapat ditimba dari semua hal yang ada di depan mata maupun yang tersembunyi di balik dada. Semestinya, apa yang ditulis dihormati sebagai koridor untuk melangkah bersama, semestinya kebanggaan diri yang membutakan ditinggalkan dirumah, di kolong ranjang sebelum berangkat mengais rezeki. Idealnya sungguh, pertikaian tak perlu terjadi di muka bumi.

Beginilah akibatnya wahai pendurhaka. Tidak ada lagi hormat yang tersisa, maupun belas kasih yang tercecer. Semua lenyap dalam sekejap, hanyut oleh angin ambisi yang engkau hembuskan membabi buta. Persetan dengan masa lalumu yang jadi batu pengisi rongga kepalamu, persetan dengan segala pengalamanmu yang melulu hanya pelajaran mencuri yang kau dapat dari para gurumu yang pencuri pula. Lihatlah mukamu jadi pucat seperti monyet dalam belitan ular boa, tak mampu lagi menghindar dan kelincahanmu mati sia sia.

Sungguh mustahil melempar batu tanpa mengayunkan tangan, mengharap diri bersih dari lumpur yang engkau taburkan keudara. Biar kuasa angin yang membawanya kembali ke manapun seharusnya sang lumpur menghambur. Tanggung jawab tetap melekat di badan sebagai predikat kemanusiaan yang atas nama keluarga, diri sendiri dan Tuhanmu telah kau sakiti sesama tanpa ukuran rasa. Kemana perginya caci maki itu ketika matahari menyinari kegelapan dan menampakkan semua yang kau sembunyikan, wahai orang tua. Lalu apa saja yang engkau pelajari dari hidup setelah sekian tahun pura pura menjadi manusia??

Maka kini tantanglah badai dari angin yang kau taburkan sembarangan. Berlindunglah dari amukanya yang sederhana, dengan tameng rasa bangga yang kau sangkakan datang dari kumpulan pengalaman. Kasihan, engkau tertipu oleh dirimu sendiri yang kau sangkakan sebesar gunung dan sekeras batu. Maka kembalilah kepada nuranimu, sekedar menunduk malu. Kemudian, terimalah kenyataan bahwa diri tak lebih dari sebutir debu…

Hari ini, hidup adalah kemewahan atas pencapaian aktualisasi diri. Apakah sudah benar langkah mengarah? Ataukah justru badai datang dari getaran langkah perkasa? Ah, ragu, kenapa selalu mengganggu?

Nutricia, 070124

Friday, January 19, 2007

Langkah Besar

Seperti apa definisi langkah besar itu sebenarnya? Apakah jika kita telah berhasil melakukan sesuatu yang menunjukkan hasil? Ataukah ketika kita memulai sesuatu diluar kebiasaan dan bertekad untuk menjadikanya rutinitas?

Bagi para penganut hati (yang notabene berpondasi labil) langkah besar sama saja berkompromi dengan hati sendiri, menundukkan pemberontakan hati sendiri lalu menjalaninya dengan tenang, dengan datar meskipun gejolak dari peperangan yang terkurbur hidup hidup dalm diri terus menjombak, tak henti bergejolak. Adalah sebuah langkah besar menurutku ketika benci dan muak juga sakti hati yang membenalu akhirnya bisa ditekuk, lalu dibenamkan ke dasar jurang hati lalu diinjak rapat rapat agar tak menyembul lagi menjadi caci maki. Permukaan hidup yang sedatar lantai es menggambarkan bahwa sudah tidak ada lagi perang sengit antara harapan dan kekecewaan dari tidak terwujudnya pengharapan.

Harapan menjadi warna hitam putih semata berbatas tabir yang nyaris tak kentara. Mengharap membuat kita begitu merasakan hidup, demikian pula ketika diri di aniaya olehnya. Mengharap seseorang untuk melangkah maju, mengambil langkah besar dengan mereformasi tingkah laku dan belajar befikir dengan cara lain yang lebih umum kerap kali membenturkan kita pada tembok kekecewaan. Caci maki, tetesan darah dari lengan kiri, pertemuan antara kepala dan tembok yang bertubi tubi kini berhenti sudah, angin badai dan petir reda, sunyi gung liwang liwung. Hidup kemudian kehilangan separuh rasa, separuh warna tinggal antara puing puing bangunan yang dulu sempat menobatkan diri menjadi raja.

Amarah kadang kadang membuncah tanpa arah, mencari pelepasan, sekedar ekspresi kekecewaan yang ditanggungkan sendirian begitu lama dan mencemaskan. Anak bisa pasti menjadi sasaran empuk bagi kekesalan hati atas kebuntuan logika, kecele atas ketidak cocokan antara harapan dan kenyataan yang terjadi. Kekesalan dan penyesalan berpilin pilin hanya berselang detik, lalu kita terdampar di kesadaran betapa tidak bahagianya hidup kita saat ini justru di tempat dimana semestinya kebahagiaan bersimaharajalela. Tekanan psikis yang sedemikian hebatnya harus ditanggungkan sendirian. Lalu kembali kepada satu titik yang tidak menenangkan karena perasaan bersalah kita kepada buah hati yang keberadaanya di muka bumi atas prakarsa kita sendiri. Anak menjadi alasan kita rela menelan perih dan pahit perkawinan, menjalani apa yang tidak kita kehendaki dan harapkan, tetapi karena labilnya emosi oleh gerusan sakit hati, anak pula yang sangat rentan menjadi sasaran. Sungguh sama sekali kehidupan yang tidak sehat, sakit menurutku.

It is not a simple and easy life we are live in now, and there is no such simple life. Yang ada hanya 'life', apapun bentuk dan rasanya masing masing orang punya cara menghayatinya sendiri sendiri. Menyesalkan kenapa hidup bisa berbalik arah sedemikian buruk, yang dulunya membanggakan dan membahagiakan kini menjadi beban, tidaklah akan menemukan jawaban yang memuaskan karena semua berpendar di perasaan semata. Yang kita butuhkan hanya sebuah langkah besar, sebuah keberanian untuk mengamputasi rasa sakit hati yang tumbuh menjadi langit dalam rongga batin kita, untuk kemudian berani mengatakan kepada diri kita senidri bahwa inilah hidup yang harus kita jalani. Setelah sekian ribu deretan kata kotor, sekian kilometer luka disepanjang jalan penagalaman batin kita terima sebagai hadiah atas harapan panen kebahagiaan dari titipan hati yang kita pilih diatas kuburan keraguan dahulu kala.

Jangan bumbui hati dengan iri, bahwa kita tidak bisa sebahagia orang lain disekitar kita, bahwa kita tidak bisa se normal mereka dalam berumah tangga. Tidaklah seperti itu hukum yang berlaku, semua hal memiliki jatahnya sendiri sendiri di muka bumi. Meskipun bukan orang religius, tetapi diri memilih untuk mempercayai itu setelah semua yang teralami, setelah keletihan yang melewati titik puncak. Mengharapkan orang untuk sadar, untuk bisa memahami kita seperti yang kita rasa, rasanya kita harus mempersiapkan lagi satu ladang untuk memanen kekecewaan.

Cinta bukanlah harga mati yang bisa diikat erat hanya dengan selembar akta nikah, hanya berdasarkan sumpah gereja. Selamanya cinta adalah sukarela, urusan kemauan dan kesadaran hati. Tidak ada apapun yang menjadi jaminan pengikatnya. Anak sekalipun, tidak bisa menjadi jaminan keaslian rasa cinta, yang ada kemudian adalah tanggung jawab atas status masing masing. Sekali lagi, selagi masih punya daya dan kesempatan, juga kemampuan untuk menolak diperlakukan tidak adil, maka kita juga berhak untuk berbuat apapun yang memberi jaminan kebahagiaan hati dan hidup. Agar jangan tersisa hanya tinggal penyesalan, penyesalan itu membenalu, tumbuh meraksasa setiap hari menjadi bayang bayang penutup celah munculnya sinar kebahagiaan hati.
Ya, langkah besar sebenarnya adalah reformasi atas rasa hati, keberanian untuk mengamputasi tumor psikis bernama ‘sakit hati’…

Nutricia, 070118

Monday, January 08, 2007

Tentang Rindu

Ketika jarak, waktu dan rantai kewajiban mengikat kaki hati, maka rindu menjadi terpenjara pada dinding kenyataan yang tak teraba oleh mata telanjang. Rasa yang menjombak seakan memberontak merontokkan pelapis dada maupun tulang pelindung kepala. Sesederhana itulah cinta, ketika rindu menjadi raja penguasa dari keterasingan ditengah keriuhan alam peradaban umat manusia. Dua hati, dua manusia memuja rasa hanya melewati angin yang menerobos melalui kisi kisi ruang fikiran.

Oh, betapa perkasanya cinta, yang sanggup mengombang ambingkan rasa dan menjadikan bumi fikiran menjadi gelap tak teraba. Betapa mahalnya sentuhan dan tatapan mata ketika ratusan kilometer mengangkangi keberadaan dua jiwa yang merana mencari penebusan atas hausnya kebersamaan. Sepenggal kata yang terkirim lewat pesan ajaib yang meluncur cepat melintasi bukit dan lautan memaparkan betapa dalamnya rasa rindu memperkosa hati. Kemeranaan yang mempertegas bahwa kesendirian adalah milik yang sejatinya.

Angan mengalir bagaikan air, mengangkuti rindu dari tempatnya yang kosong tak menemukan sambutan. Apa lagi yang hendak dinyatakan jika tidak satupun kata sanggup mengulas rindu yang menggelembung menerbangkan isi dada dan isi kepala. Arus yang mengalir mencari penebusan terkadang mendobrak segala ketidak mungkinan menjadi sesuatu yang sederhana, sesuatu yang tak memiliki resiko kerusakan apapun.

Merindukan seseorang adalah merindukan keseluruhan kebersamaan dan menghitung setiap detiknya menjadi penuh makna. Ketika waktu kemudian dengan keperkasaanya memutus kebersamaan, yang tersisa adalah luka menganga dari dua hati yang saling menjauh dan meninggalkan kebersamaan. Luka yang di kelak kemudian hari akan menjadi indah, manis ketika diletakkan di lemari kenangan dalam hati maupun ingatan. Luka yang kemudian membujuk hati maupun fikiran untuk mempertanyakan kapan luka baru yang serupa akan terjadi lagi, kapan setiap sentuhan menjadi benturan dua magnet bagi hati yang mendamba…

Perjalanan membawa badan melintasi jarak dalam kecepatan tinggi, menghamburkan angan yang tercecer pada setiap pohon yang seolah berlari menjauh, tercecer pada sederet bangku peron yang letih menunggui jejak kaki. Jarak ini mengunci gerak, kecuali hati yang bebas menari di langit angan angan bagaikan kupu kupu kehilangan pasangan. Ada pedih yang menteteskan peluh disetiap sisi tajamnya rindu, pedih yang mengandungkan kesejukan akan indahnya rasa. Pedih nan tak sia sia sebab hati tahu kemana rindu dialamatkan, ke tempat satu lubuk hati dimana hati tenteram terlindungi, dimana setiap detik terbagi penuh makna. Rindu yang tak pura pura, ia datang dari pendalaman rasa, biarpun sekedar ingin menukik dan menyelam di kolam hati pujaan. Tak ada yang apapun yang bisa menghalangi datangnya rindu, meskipun aturan peradaban sekalipun.

Dan bahagialah mereka, yang memiliki rindu yang mengalir tanpa henti, tiap waktu…


Nutricia, 070108

Thursday, January 04, 2007

Lelaki Perempuan Suatu Masa

“ Tolong jangan tebaskan pedang yang kau genggam itu ke hatiku suatu saat jika kita berselisih faham, sayang”

Pinta perempuan itu setengah menghiba. Tulang belulangnya serasa dicabuti dan diangkut pergi dari susunan raganya setiap kali lelaki gagah itu menjulang di hadapanya atau setiap kali suara lelaki pujaan hatinya itu menggeletar seperti meruntuhkan seluruh dinding kepercayaan dirinya yang ia bangun diatas reruntuhan masa lalunya, diatas pondasi yang labil dan bagaikan kastil pasir.

“ Makanya, jangan pernah bikin aku marah !”
Lelaki itu mengurai luka di setiap inci tubuhnya yang dipelihara agar abadi sebagai senjata yang siap mencabik hati sang wanita kapan saja iblis menggelitik kepalanya. Selalu dibawa bawanya bangkai masa lalu yang telah teringgalkan waktu, sekedar menunjukkan betapa perihnya seorang lelaki menanggungkan luka hati. Segala aspek menjadi delik pemberat untuk mengkerdilkan hati dan jiwa si perempuan, menjadikanya seonggok daging tumbuh yang dikerumuni kekurangan dan jauh dari kesempurnaan bentuk fisik. Kesalahan si perempuan di ungkit setiap kali iblis menghendaki, dan berubah bentuk menjadi pisau tajam yang menyisakan perih tak tertahankan bagi si perempuan. Perbandingan demi perbandingan tentang nilai penampilan fisik dihempaskan ke muka si perempuan untuk menguji kekuatan hati, sampai dimana akan bertahan sampai ikatan beban tanggung jawab boleh dilepaskan tanpa beban rasa bersalah.

Lelaki itu begitu perkasanya membangun singgasana bagi hati si perempuan. Ia ada di setiap kerdipan dan helaan nafas, bahkan mimpi mimpi tentang sebuah rumah di tepi danau mulai menggelitik, tinggal selangkah untuk jadi nyata. Ganjalan nyata berbumbu keraguan melanggengkan ketidak berdayaan, pasrah terhadap apapun yang dikehendaki sang hidup. Berharap sang lelaki tidak akan pernah mengayunkan pedang dendamnya ke hati lembek sang perempuan meratap merutuki masa lalunya sendiri. Apa yang bisa dipercayakan kepada sikap manis ataupun bengis seseorang di masa datang? Sungguh hidup tak memiliki pertanggungan, bahkan tidak ada satupun jaminan yang bisa membuat segalanya berjalan seperti kemauan diri.

Sebuah hubungan dibangun diatas ringkih tanah pekuburan masa lalu, dengan harap sebagai penguatnya agar tak datang badai maupun angin yang mengalir menyisiri butir demi butir mimpi yang tersusun dalam dinding rumah tangga. Filsafat indah kebersamaan dalam sumpah diatas nama Tuhan menjadi sandaran rapuh dari hati yang merindukan ketenteraman, dimana investasi sosial pertama kali benihnya disemaikan. Semestinya menjadi satu satunya alasan kenapa dua manusia berbeda jenis saling menautkan hidup, dengan satu gerak sama, satu arah yang sama dan satu tujuan yang sama; membangun sesuatu dari ketiadaan. Cinta menjadi landasan klisenya, berharap cinta sanggup mendestilasikan udara menjadi satu zat baru yang mempengaruhi arah dan rasa setiap inci jarak fikir logika manusia dalam mengawal hati yang terlalu rapuh untuk berjalan sendirian melintasi padang kehidupan.


Nutricia, 070104

Wednesday, January 03, 2007

Tahun Baru

Selamat Tahun Baru, meskipun diri tidak tahu apa makna ucapan selamat itu dan kemana ditujukan dan apa isi kandungan dari ucapan selamat itu sendiri? Doa kah, ucapan selamat karena ‘berhasil’ melewati tahun ‘lama’ kah, atau sekedar basa basi karena orang lebih banyak melakukan hal itu daripada tidak melakukan pada saat bulan Desember berakhir setiap tahunnya? Ah, makin tua rasanya diri makin bodoh mencerna hal hal yang sederhana begini. Ketika orang bersuka cita dengan terompet dan kembang api, jauh didalam hati diri malah berfikir apa sebenarnya yang ada dibenak orang orang yang merayakan ini? Old and New bla bla bla, kontemplasi bla bla bla…apa pentingnya? Berapa banyak waktu, tenaga dan juga uang terbuang lebur jadi udara tanpa sisa ketika perayaan dihajatkan ditempat tempat umum maupun tertutup? Ah, makin ruwet, makin rumit rasanya kalau semakin detail mencari akar dari akar pertanyaan yang muncul beranak pinak dalam benak.

Tahun baru, bukanya kita justru menghadapi masa dimana jaman semakin tua dan nilai manusia semakin murah karena persaingan hidup dan gesekan kemajuan tehnologi? Mengandalkan kebijakan fikiran orang sama saja menebak berapa biji isi dari buah manggis yang rapat tertutup kulit hitam kemerahanya, bukan? Hidup hanyalah mengikuti jelujur masa yang sama, panjang dengan batas misterius, dan juga berisi cetakan rute yang misterius dimana manusia tinggal menjalaninya dan punya cara sendiri sendiri untuk menghayati rasanya. Semua pasti akan tersimpul dalam satu rangkuman pengalaman batin, dan dari pengalaman itulah maka kita akan berfikir untuk berbuat atau bertindak sesuatu. Berdasarkan pengalaman, bukan berdasarkan jibaku. Jadi, sudah bijaksanakah kita menyambut datangnya tahun baru sebagai sesuatu yang baru? Bukankah hanya angka yang berubah dan itupun atas prakarsa manusia juga? Jadi jika itu adalah perayaan, perayaan atas apa?

Ketika satu tahun terlewati, kemudian secara massal kita menganggap bahwa tahun baru telah datang, dan yang dikenang hanya setahun belakangan. Nilai dari berpuluh tahun sebelumnya dimunafiki sebagai catatan sejarah belaka, cerita belaka. Semudah itukah kita menyimpulkan bahwa hidup hanya berdasarkan satu kotak ke satu kotak lainya yang bernama ‘tahun’? Tidak saudara, hidup adalah kumpulan dari pengalaman yang terbentuk dari detik demi detik kita menjalaninya, bukan tahun maupun bulan ukuranya, tetapi dari setiap aspek yang kita rasakan, kita jalani, kita lewati selama hayat di kandung badan.

Tahun baru sama saja dengan hari baru, dimana matahari memulai tugasnya dan kehidupan berjalan akan penuh rahasia, tak terduga dan tak teraba akan apa yang mungkin terjadi nantinya. Sepantasnyalah membekali hati dan mental dengan kekuatan agar jangan kita diperdaya oleh keadaan yang barangkali tidak sesuai dengan pengharapan kita yang lebih banyak kepada kebaikan semata. Hal buruk bisa terjadi kapan saja, dan hidup bisa berubah apapun bentuknya hanya dalam hitungan detik. Sebuah luka hanya perlu hitungan detik untuk terjadi, dan lalu hinggap didalam hidup selamanya. Bukan hasil kristalisasi dari menjalani hidup selama setahun penuh, tetapi dari dari apa yang terjadi pada saat ini, pada detik ini sebab detik yang akan datang selalu saja menjadi rahasia alam, rahasia kehidupan yang tak memiliki kunci jawaban.

Apakah kemudian kita harus pesimistik bahwa masa depan berisi iblis yang akan menghancurkan hidup yang kita jaga selama sekian tahun? Jangan pula saudara, biarkan saja hidup berjalan sebagaimana mestinya, dan lewati, jalani saja tanpa mengharap lebih dari apa yang kita dapat. Ukuran kualitas diri hanya kita sendiri yang tahu, dan rahasia terbesar dalam hidup kita hanya kita jua yang menyimpan catatanya. Jika hidup menenggelamkan kita dalam dukalara, maupun melambungkan kita dalam sukacita, maka memang terjadilah itu seperti kehendak sang alam yang rahasia. Kita tidak bisa menolak kemalangan seperti tidak sanggup menggapai kemujuran. Berbuat yang terbaik atas apa yang harus kita lakukan dan menyerahkan hasilnya kepada sang penentu adalah cara bijaksana menyikapi hidup, sebab kita tidak bisa mengontrol semua yang bakal terjadi atas hidup kita, juga tidak bisa mengontrol bagaimana orang harus bersikap kepada kita. Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita memperlakukan orang dan memulai dari diri kita sendiri apapun yang namanya perbaikan.

Setiap bangkai waktu akan meninggalkan jejak dan catatan, yang semestinya menjadi landasan bagi sikap kita untuk lebih bijak, lebih baik dan lebih menghargai kehidupan, lebih menghargai sesama…

Nutricia, 070103

Tuesday, January 02, 2007

Hujan Tahun Baru

Hujan turun mengurung diri, fikiran mengembara jauh ke luar ruangan kaca, menukik dan melayang diantara serpihan air, melanglang mencari pemiliknya, mengembara kehilangan pemiliknya. Diantara geraknya senandung mengalun menyelubungi jejak yang tersisa di hempasan tanah basah, nyenyanyian cinta dari negeri orang orang sempurna. Lalu rintik hujan di dinding kaca melukiskan betapa merananya rindu yang tak terjemahkan alamatnya. Hanya lautan rasa tawar sebagai ujung jawabanya.

Batu batu kenangan berbaur dengan mimpi mimpi masa depan, berebut kuasa untuk menjadi penghias angan yang sia sia. Segala rupa pengandaian berjibaku dengan kehidupan seolah olah, berlagak kukuh didera iblis yang datang setiap detiknya menikam dan mencabik jantung.

Rasa tertipu menjadi raja ketika tak ada sesal tampak dari sorot mata. Sesal atas kebodohan diri menerima perlakuan sedemikian rupa sekaligus mengandalkan ketaatan nurani sebagai pembimbing setiap sikap manusia; terkadang berakhir dengan sia sia. Sesal yang menjamurpun perlahan menjadi lumut pembungkus kesemestian, menghilangakan kesejatian dan menampilkan kehidupan seolah olah. Palsu belaka segalanya yang semestinya nyata.

Hujan meniupkan angin menghempas di kaca jendela, perlahan meleleh menafikan segala pemikiran, bahwa segala sesuatu adalah kuasa waktu. Perlahan bercak air akan mengering, perlahan lumpur di tanah merahpun akan menjadi butiran pasir. Begitulah pengalaman, yang mengemudikan alam fikiran manusia; merubah pandangan dan terkadang mengaburkanya. Pengalaman dan kuasa waktu membentuk jiwa yang immaterial dalam kungkungan peradaban dunia, menjadi bagian dari adat kebiasaan orang per orang dalam warna interaksi bumi.

Dibawah langit, segalanya bergerak dan berubah searah kehendak alam. Matahari yang terbit setiap pagi terkadang menghadirkan apa yang disebut hari baru, minggu baru, tahun baru dan harapan baru. Betapa mengada adanya optimisme manusia sedangkan segalanya tidak ada yang baru, semua adalah produk masa lalu belaka. Kegirangan sering dianggap sebagai semangat sedangkan kecemasan dibenamkan jauh seolah dimunafiki agar tak kentara betapa menghawatirkanya ketidak pastian mendatang yang bernama masa depan.

Dan hujanpun berhenti atas kuasa waktu. Tiba saatnya nanti tanah akan mengering menyisakan debu, dan matahari menggantung di ubun ubun membakar kulit ari. Metamorfosis hidup sungguh tidak pernah berhenti, berputar pada poros yang itu itu saja setiap waktunya.

Ah, hujan kali ini, begitu dalam menyisakan kenangan dan begitu buram menayangkan optimisme masadepan…

Nutricia, 070102

Wednesday, December 20, 2006

Rindu Rasa Cinta

Hujan mempertajam sunyi semalam tadi. Badan wadag mati, di kepala berisi fikiran mengembara ke ribuan kota dalam kenangan, mencari cari sosok dimana senyum pernah dipersembahkan bahkan mungkin peluk sayang pernah di dapatkan. Berhambur keinginan terkurung dinding gelap udara kamar kontrakan, hanya menjelajahi malam dalam lautan kehampaan rasa, kehampaan ingin dan kehampaan makna. Rindu akan cinta, sungguh bukanlah laksana kemarau menantikan hujan atau embun rindukan hangat mentari, sebuah siklus alam yang ada sejak sebalum peradaban tercipta. Rindu rasa cinta adalah manifestasi kemeranaan yang sia sia.

Rasa rindu ini berputar putar lakasana angin puting beliung yang resah mencari arah tempuhan, kehilangan delapan mata tempatnya menuju dahulu kala. Diam hanya menunggu sampai waktu menentukan jawaban atas semua pertanyaan yang meletihkan jiwa, tentang datangnya sebuah rasa yang mengisi hari hari, mengisi hati dan menjadi warna atas seluruh isi jiwa. Kehidupan telah mati pada separuh bumi, tinggal separuh nyawa yang hanya berisi rancangan perjuangan bagi eksistensi diri.

Rindu, bukan atas nama siapapun, membuat warna waktu menjadi apakah sendu atau syahdu. Tepat membacanya dengan hati karena catatan dituliskan juga dengan hati. Barangkali ada ruangan tipis diantara dimensi sendu dan syahdu, sesuatu yang tak terjangkau dan ada diluar sana. Sesuatu yang mungkin pernah menjadi isi cerita hidup yang tinggal kerangka saja. Merindukan rasa hati dimana hati hangat terlindungi, dimana damai menyelimuti ketika ketulusan menjadi landasan kasih sayang. Bukan siapa yang dirindui, tetapi lebih kepada rindu terhadap suatu rasa…rindu rasanya mencinta.

Merindukan rasanya cinta, merindukan media dimana rasa boleh dihamburkan sepenuh jiwa, dan segenap hati. Menemukan potongan puzzle yang melengkapi nilai hidup sebagai individu dengan penghargaan dan perhatian, mengisi tulisan diary dengan bahasa angin yang hanya berdua bisa dimengerti. Merindukan dunia tak bertuan dimana penjelajahan atas setiap sudutnya tak menemukan garis akhiran, membacai angin dan langit menjadi nyenyanyian hati dan menterjemahakanya dalam bahasa puisi panjang yang mendayu dayu melambangkan kalbu yang syahdu merayu.

Ah, rindu yang menyiksa…

Nutricia, 061219

Monday, December 18, 2006

Catatan pagi

Menatap ladang hari dari pinggiran pematang bernama pagi, hati kecut membayangkan matahari yang bakalan terik menghujam ubun ubun sampai ke dalam hati ketika diri membungkuk menyiangi tetanaman pengalaman yang dieprtahankan dan dipelihara demi eksistensi semata. Ditangan hanya ada belati, bekal dari sang bunda untuk membunuhi gulma nurani, dan berkonsep mimpi yang terbentuk dari satu demi satu detik yang terjalani di masa lalu, berharap terkumpul jadi satu rangkaian cerita biografi tentang seorang penghuni muka bumi.

Ternyata cinta yang menempatkan diri terlalu tinggi pada suatu saat sesuatu akan membantingnya keras ke permukaan bumi, kepada pijakan kaki; ladang garapan kehidupan sendiri. Awan gemawan di langit terang benderang seperti membujuk untuk terus menatapi, bahkan terkadang terlalu indah untuk mengabaikan sayap untuk tidak berkepak dan menari diantara gumpalanya, bertualang rasa diantara kerahasiaanya dan menjadi raja atas bukan siapa siapa kecuali diri sendiri.

Menatap ladang garapan hari ditepi pematang pagi, hati kecut menengok tetanaman yang binasa bekas pesta para durjana. Mencuri kepercayaan, merampok kasih sayang, dan menggadaikan pengorbanan atas ribuan tahun mengembara sendirian. Tidak apa, bujuk sang nurani. Matahari pagi ini akan menuntunmu untuk menabur lagi bebijian untuk benih harapan, diladang kering yang kelak akan menunggu datangnya hujan. Turunlah kemari, ke bumi di atas tanah merah dan letakkan sejenak sayap khayali, buka baju biarkan angin dan matahari menciumi dada dengan bebas.

Setetes embun yang tersisa di ujung sehelai rumput, menghentakkan kesadaran akan fikiran yang selama ini hanya melulu berisi tembok tembok tinggi pembatas kemampuan. Embun setia datang setiap pagi, menungguku setia di pematang sebelum melangkah jalani hari. Isak tangis akan ada, entah punya siapa. Pandangan bengis akan tetap ada, entah dari mana, juga cemburu yang membakar hati, akan tetap tinggal disana, entah karena apa. Tetapi kaki harus terus diayunkan maju kedepan, meninggalkan jejak dan juga jarak. Dan ladang harapan harus terus dipelihara menjadi sesutau yang menghidupi.

Dan ketika matahari merangkak mengangkangi bumi, mata tertuju hanya untuk mengikuti. Entah apa rasanya, tetapi menemukan diri sendiri dan kemudian menjalani mimpi dalam kehidupan adalah rasa dari hidup yang senyatanya. Demikianlah alam, hanya mimpilah yang patut untuk diperjuangkan agar diri bisa berselancar diantara perih dan indahnya.


Nutricia , dibawah mendung 061218

Thursday, December 14, 2006

Sampah bayang bayang

Sampai dimana kesadaran akan menuntun keyakinan bahwa diri bermakna atas apapun yang dibuat dan diniatkan? Sedangkan lembaran demi lembaran hari terlewati tak kurang jua dari klasifikasi sempurna.

Masa lalu tak pernah mati, dia hidup dan ada dibawah alam kesadaran sang diri. Entah menjadi laten atau menyimpan akar serabut kesementaraan hidup yang terkadang terpaparkan bagaikan cerita berulang tanpa titik kejenuhan. Selebihnya hanya sampah fikiran, sampah bayang bayang yang menebar bau dan mendatangkan terror kepada rasa.

Andai saja cemburu adalah hak, maka letaknya bukanlah di hati. Dan andai saja fikiran adalah batu tentu dia tidak mencerna dan menyimpulkan pengetahuan kedalam pemahaman nurani.

Keparat!

Keparat!

Keparat!



Nutricia, 061213

Friday, December 08, 2006

Hari mati di pagi hari

Kesedihan fikiran datang tanpa di undang, ia adalah hasil dari larutan pengalaman yang menyesakkan di masa dulu. Harapan .letih menyembul nyembul mengelabuhi hati, menyangkakan matahari akan terus bersinar hingga tengah malam tiba. Menjalani separuh bumi tanpa hati, bagaikan melangkah di kegelapan, tanpa tujuan dan rambu pernunjuk jalan. Demikianlah isi malam, hanya kerlip bintang di kejauhan menyisakan sedikit harap bahwa ditempat yang jauh dan tersembunyi seseorang tengah memelihara diri dalam perasaanya yang tersembunyi. Ufh, bahkan untuk berkhayalpun hati terlalu letih terkadang.

Angin membawa kabar dari timur kejauhan, dimana seseorang mengingatkan betapa kata kata bijak dimasa lalu masih berlaku hingga kini, menemukan kesejatianya setelah sekian tahun hanya menjadi penghias layar monitor, bahkan terlupakan dalam gugusan persoalan yang dibuat buat. Waktu telah merubah segalanya menjadi cerita baru atas cerita lama, dan segala yang hidup menjadi semakin tua. Bayi bayi baru dikandungkan sebagai persiapan bagi kelangsungan pencatatan biografi, selamanya berjalan demikian dan terus menerus tanpa berkesudahan.

Pagi ini matahari mati di bumi, tak menyentuh kaca jendela bahkan bunga bunga anggrek biru dan jingga tak terjamah oleh hangatnya, diam terpekur meratapi sisa embun yang merana di dahan kering tanpa nyawa. Angin telah pergi mengembara, menyapai rumah rumah kosong yang berlumut ditinggal pemiliknya yang sakit hati. Barang baranya menjadi usang, berganti pemilik jadi bukan manusia lagi. Jutaan ngengat tengah membangun sarang untuk menghapus catatan kehidupan dirumah itu, dan angin hanya mampu mengusap dinding bata merahnya yang terkelupas dipermainkan musim.

Musim? Masih berartikan ribuan musim yang berganti semau hati jika yang ditemui tetap saja pagi siang sore dan malam hari? Haiyh….haih…kisah tentang cacing tanah yang kepanasan tak lagi terdengar ketika hujan, juga cerita tentang hangat dekapan ditengah hujan tak lagi terbacakan ketika panas sengangar mengepulkan ubun ubun. Ah, betapa keinginan tak memiliki dinding pembatasan, betapa angan angan hanya berjalan mengikuti mata angin yang buta.

Kesedihan yang datang menyelimuti pagi, mematikan separuh hari dalam kekosongan panjang yang tak menyisakan apa apa, kecuali waktu yang terbuang sia sia, tanpa jejak kaki maupun catatan tentang perjalanan…

Aku rindu padamu, ibu…


Nutricia, 061208

Thursday, December 07, 2006

Filsafat kembang kacang

Sebaik apapun rasa hidup, seburuk apapun semangat terpuruk, selalu sisakan sedikit ruang untuk hal hal yang lebih obyektif. Tumbuhnya perasaan seperti biji kacang tanah yang tersembunyi di bawah permukaan tanah, kemudian datang hujan dan si biji kacang akan menyembul menjadi kecambah, menyembul dengan indah sebagai sesuatu bentuk yang baru penghuni jagad raya. Penampilanya bersih, bersinar, indah dan menggemaskan, menyenangkan hati dan pemandangan. Siapapun yang memilikinya pasti akan terpesona dengan bentuk dan kemunculanya. Bahkan jikapun mau, si kecambahpun bisa langsung saja dicabut dari tanah, disantap terasa manis dengan resiko kemudian menghilangnya si kecambah dari permukaan tanah, meninggalkan luka menganga pada tanah yang masih lembab oleh air hujan. Tetapi apakah si kecambah biji kacang tanah itu akan terus dalam bentuknya?

Segala hidup berjalan dalam siklus, terkotak kotak dalam dimensi waktu yang akan memuntun kepada arah cerita kehidupan yang mungkin sering disebut orang sebagai 'takdir'. Tidak ketinggalan juga si kecambah. Lambat laun dia akan tumbuh menjadi sebatang pohon kacang tanah, lengkap dengan bulu bulu yang tidak indah, lengkap dengan daun daun yang mulai mengering dan jatuh ketanah, lengkap dengan kehidupan lain yang menumpang diantara klorofilnya. Si pohon tidak lagi menjadi indah, tetapi dia punya kewajiban baru untuk mengembang biakkan keturunan, membuahkan umbi kacang tanah jauh dibawah permukaan tanah untuk lalu suatu saat kelak jika hujan datang akan tumbuh pula menjadi kecambah. Si pohon kacang tanah oleh kuasa waktu kemudian hanya akan menunggu saatnya mati tiba, dengan dahan yang membusuk dan menjadi kompos. Jasadnya akan memperkaya hara dan humus pada tanah tempatnya mengukir sejarah hidup.

Bahwa, segala sesuatu berkembang dan tumbuh atas kuasa waktu...segala yang ada dimuka bumi bisa berubah, baik bisa jadi buruk dan sebaliknya. Ulat bulu yang mengerikan tampangnyapun suatu saat akan berubah menjadi kupu kupu cantik rupa, bukan??

Kepadamu yang tengah jatuh cinta, aku turut bersuka cita atas petualangan rasa yang sedang terjadi padamu.Terbanglah tinggi, kepakkan sayap keinginanmu dan jelajahi langit angan angan yang tidak bertepi. Jika engkau bertemu seseorang di ketinggian , genggam erat tanganya, ajaklah ia menari bersamamu menghirup setiap butir oksigen yang tersedia, sebelum badai datang menghampiri, sebelum mungkin awan hitam melingkari. Dan jika mendung mengurung dalam pandanganmu, maka yakinlah bahwa selalu ada garis keperakan yang melingkari setip sisinya, pertanda kecerahan selalu ada, menantimu diluar batas pandangan.
Hanya, jangan lupakan tanah tempat pijakan kaki...

Nutricia, 061207

Monday, November 20, 2006

Hujan Pertama

Menyambut kesaksian hujan pertama dari kemarau panjang terakhir, fikiran menembus jauh ke bawah permukaan tanah hampir gundul dimana rumput tinggal menyisakan batang batang yang memutih tak bernyawa, tunduk takluk pada selera musim yang mengangkanginya. Hanya debu dan bangkai dedaunan yang seolah tak memberi harap apa apa.

Nun jauh di bawah permukaan tanah merekah tanapa kelembaban dan cahaya, kebebasan tak bisa dipenjara. Ia hidup dalam penantianya dalam, dimensi waktu yang tak punya simpul mati. Bau harum tanah kering yang tertusuk butiran air mengabarkan padanya tentang kehidupan yang bakal terjadi dan segera dimulai. Seperti halnya pagi yang datang mengantar cerita hari dengan setia; yang selalu berujud sebongkah misteri. Di bawah permukaan segala kehidupan mesti tak mencerminkan wajah bumi di diatasnya, dalam tatanan yang memabukkan keyakinan diri.

Wangi tanah basah seperti melantunkan syair para pujangga leluhur bumi, membujuk fikiran untuk mengembara menyambangi nisan nisan waktu yang berderet di sepanjang lorong nasib, lalu mengecupi sisa sisa manisnya yang berserak usang bagai pajangan di dinding ingatan. Sungguh hati berkehendak angin akan mengangkutinya pergi saja, jauh ke kota kota yang berisi kenangan untuk kemudian tunduk hening dalam upacara penguburan bangkai sang waktu ke makamnya yang abadi. Tetapi hendak dengan apa sang gunung api ini diselimuti? Keberadaannya terlalu nyata bahkan terkandung dalam oksigen dan di udara yang terhirup ke paru paru dan juga pada gas yang terlontar membaur jadi udara kembali setelah masa tugasnya selesai di labirin pencernaan.

O, betapa mengerikanya kerja sang fikiran jika ia hanya berlari pada kubangan yang sama tiap waktunya. Gelap dibawah permukaan alam kenyataan yang benderang dalam lingkupan cahaya matahari. Betapa malangnya manusia biasa dengan beban yang luar biasa, ketika kebohongan melahirkan bayi kebohongan baru dan menjadi koloni dalan kehidupanya. Maka temannya tinggalah mimpi buruk yang meniadakan jeda antara alam fikiran dan kefanaan dunia.

Hujan pertama pada kemarau terakhir, telah meyisakan kemurungan yang terkurung dalam gelap yang diam, jauh dibawah permukaan yang menyembunyikan suara nafas…

Nutricia, 061120

Thursday, November 02, 2006

Farewell


Maka tiba waktunya angin membawanya pergi. Menghembus layar perahunya yang bolong sana sini, menuju ketidak mengertian arah sekelabu keyakinan yang dipaksakanya sendiri. Kakinya yang pincang telah lama menyerah, pada layar perahu nasib pemeberian dari perjalanan masalalu.

Kemuliaanya tertutup oleh sebongkah bangkai rasa, yang mati terkhianati oleh bayanganya sendiri, bahkan oleh separuh otot dan ruhnya sendiri. Kebanggaanya ikut mati, terkubur dangkal di pemakaman eksistensi. Ia kini jadi wasit tanpa fungsi, tanpa peran hanya penonton yagn terjebak jarak terdekat dari pertunjukan besar dalam kerangkeng tempat para korban mempertaruhkan segala pengabdian bagi hidup yang di impikan.

Kini tiba saatnya arah menciptakan jarak yang menjauh, menceraikan tawa bersama dari cubicle tanpa muatan kecuali kerikuhan. Tangan dilambaikan sebagai basa basi terakhir sebelum cemas menyergap di sepuluh meter pertama perjalanan babak baru. Puja bakti diharapkan sedangkan otak telah hancur lebur berantakan. Apa yang terpecah tak bisa disatukan lagi di sini. Begitulah aturan dunia, adat dunia…

Selamat tingal ladang mimpi, pernah terpanen buah dari bertahun tahun harap yang dulu tersemaikan dengan optimisme, terpupuk oleh keringat dan tersiangi degan nyali yang kini mengkristal menjadi setengah lembar surat keterangan berisi catatan perjalanan.

Permisi, tanya harus tertaburkan selama pergi menuju tanah baru lain lagi. Terimakasih kepada kemurahan hatimu yang telah sempat memberiku alasan atas kebanggaan yang menjadi kesemestian seorang manusia…


Gempol, 061102

Thursday, October 19, 2006

Tentang Poligami

Dalam antropologi sosial, poligami artinya adalah merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu istri atau suami sekaligus pada suatu saat. Dilihat dari ‘pelaku’nya, poligami kemudian dibagi lagi menjadi poligini untuk lelaki yang beristri lebih dari satu orang dan poliandri untuk wanita yang memiliki beberapa suami sekaligus.

Terlepas dari aturan nilai (ajaran agama) yang membolehkan praktik ini terjadi maupun undang undang yang dikeluarkan oleh negara sebagai landasan legalitas praktik poligami, secara sederhana poligami lebih dimaknai sebagai kehidupan yang mendua dari sebuah ikatan cinta dengan akta nikah sebagai pengikat hukum dan kewajiban yang terkandung di dalamnya. Poligami jika dilihat dari sisi ajaran nilai (agama) semata akan membentur pada sebuah pembenaran, mengesampingkan soal ‘rasa’ yang dialami bagi yang mengalaminya. Tidak peduli apakah azas kawin ganda itu diletakkan pada lantai rasa keadilan ataupun alasan apapun, rasanya tidak realistis untuk membentuk satu rumah tangga dengan beberapa orang sekaligus.

Sungguh naïf terdengar jika seseorang beranggapan bahwa memiliki pasangan hidup lebih dari satu (yang terikat dalam hubungan suami istri) adalah hak dan kebutuhan. Soal hak barangkali masih bisa ditoleransi, tapi kalau kebutuhan??? Bukankah alasan orang yang pertama menikah adalah karena cinta yang mengikatkan mereka dan kemudian berkembang menjadi satu keinginan untuk membentuk sebuah rumah tangga yang mewakili identitas mereka? Sedangkan sebuah rumah tangga atau keluarga adalah investasi sosial yang menjadi tempat bagi berkembangnya sebuah silsilah baru, pengisi ramai kehidupan peradaban dunia.

Kecenderungan poligami terjadi pada kalangan orang yang memiliki ‘kekuasaan’ entah secara material maupun secara sosial. Raja memiliki selir, pemimpin agama (maaf), pemimpin bandit, pemuka satu komunitas, bahkan orang biasa yang kebetulan memiliki kemampuan finansial. Kecenderungan praktek poligami di kalangan ‘pemuka’ ini jelas memberi inspirasi bagi siapapun yang ada dalam lingkaran kekuasaanya bahwa kawin ganda juga bermakna kemampuan sosial, predikat tersendiri dalam lingkungannya. Kaum lelaki memiliki keleluasaan yang lebih luas ketimbang kaum wanita dalam mempraktekkan kerakusan status seperti ini, dengan menggunakan ajaran agama dan hukum pemerintahan sebagai alat melanggengkan keinginan duniawinya. Bahkan sebagian orang lelaki picik malah memilih menggunakan hitung hitungan matematis dari masa reproduksi wanita sebagai salah satu kiat memilih istri istri.

Wanita yang dikodratkan lebih lemah dari kaum pria terkadang terjebak dalam situasi dimana mereka tidak bisa menolak atau melawan dari kehendak suaminya sendiri untuk mengambil istri baru. Ungkapan klise “ Perempuan mana sih yang sudi dimadu?” mengandung nada protes yang begitu tandas. Sebagian wanita memilih bercerai daripada hidup dalam permaduan, sedangkan sebagian lagi yang malang sungguh tidak bisa menolak dimadu karena ketergantunganya terhadap si pria. Ketergantungan secara ekonomi (nafkah), dan ketergantungan lainya yang membuat si wanita kemudian lebih memilih berkompromi dengan jeritan hati sendiri, menerima di madu selama masih mendapat jaminan keamanan sosial dan finansial dari si pria.

Apapun alasanya poligami tetap mencerminkan ketidak adilan dalam ukuran standar maknanya sendiri. Poligami bagaimanapun idealnya, tetap melambangkan sebuah keterpaksaan dari salah satu fihak yang merasa seharusnya tidak diperlakukan seperti yang tidak seharusnya. Keharusan inilah yang bagi setiap orang memiliki kelenturan alasanya sendiri sendiri. Poligami sedikit banyak mengandung unsur keterpaksaan di dalamnya, bukan kerelaan hati seikhlas ikhlasnya meskipun seringkali kemudian azas keadilan dijadikan alasan pembelaan terhadap ketidak adilan itu sendiri. Bukankah ada fihak yang begitu egois jika kita mau merenungkan sedikit hakekat poligami? Intinya, adilkah seorang membagi kewajiban untuk lebih dari satu orang sekaligus dalam ikatan rumah tangga, sedangkan idealnya sebuah rumah tangga terdiri dari satu istri satu suami dan anak anak yang dihasilkan sebagai buah cinta.

Jika kemudian ajaran agama maupun perilaku pemimpinya dijadikan alasan pembenaran praktek poligami, maka kita tidak beranjak dari peradaban purba dengan kondisi fisik dunia yang semakin maju seiring dengan pola pikir umat manusianya. Sebuah contoh tragis yang mungkin tidak bisa kita lupakan begitu saja adalah pembantaian dengan bom bunuh diri oleh beberapa orang yang menafsirkan sendiri secara individual tentang kepercayaan moral yang diyakini sebagai kebenaran baku. Kepercayaan yang fanatik terhadap ajaran nilai justru menodai bahkan menganiaya keluhuran nilai yang terkandung di dalamnya sendiri. Demikian pula halnya dengan poligami, bahwa semestinya kekuatan seseorang kalau ditara dari sisi nilainya, seharusnya dipergunakan untuk melindungi dan menguatkan fihak yang lemah, bukan kekuasaan untuk menjadikan individu lain alat pelengkap atribut kekuasaan sosial.

Banyak kita jumpai praktek poligami oleh kaum pria terjadi di sekitar kita, saudara. Masing masing memiliki alasanya sendiri sendiri, pembenaranya sendiri sendiri. Sebuah penjajahan dalam lingkaran yang sangat pribadi. Ketidak relaan yang terpaksa diterima sebagai takdir, yang melambangkan betapa lemahnya kemandirian kaum wanita. Wanita menerimanya juga dengan berbagai alasanya, berbagai keterpaksaanya. Anak anak sering dijadikan pertimbangan utama sang ibu untuk menerima rasa perih dan hancur sebagai istri yang di madu, dengan pesimisme bahwa si ibu tidak akan bisa memberi lebih baik dari ayahnya. Kisah perih poligami ini terkam dalam sebuah tulisan panjang yang mungkin suatu hari akan muncul di blog ini suatu hari nanti. Tetapi cerita panjang itu yang mendasari pandangan individual bahwa apapun bentuk dan alasanya, poligami tetap sebuah ketidak adilan yang menyebabkan kehancuran bagi sebagian harkat hidup, pun juga mempengaruhi pemahaman akan kehidupan bagi generasi generasi berikutnya yang dihasilkan dari praktek poligami ini.

Sebuah kepedihan panjang kerap menjadi ending story dari praktek poligami, apalagi jika alasan poligami hanyalah keserakahan nafsu semata. Kepedihan di depan mata itulah yang melandasi penolakan terhadap pembenaran terjadinya praktek poligami dengan alasan apapun bahkan iba hati, apalagi terhadap diri sendiri…


Cubicle, 061019
(on a quiet noon when your tiny eyes wont stop staring at me, undressing me like you always do when we were together)

Wednesday, October 18, 2006

Anatomi kecewa

Kekecewaan menghela hati untuk berjalan membelakangi masa depan dengan kaki menjuntai di angkasa dan darah yang serta merta menjebol ubun ubun kepala. Darah yang menggumpal dari timbunan sedimen waktu masalalu. Berharap penghianatan tidak pernah terjadi sungguh sama dengan berharap masalalu tidak pernah ada; sama sama mustahil. Semakin nampak jelas lukisan luka, semakin terasa pula perih yang meraja. Selebihnya menjadi kehidupan seolah olah, kehidupan seakan akan, dan tentu siksa yang semena mena dan amat pribadi.

Upaya apa lagi yang musti dicobakan jika kepala tak lagi berisi fikiran? Kehidupan terasa mengerucutkan keinginan dan ketidak inginan semakin melambung jauh meninggalkan alas pijakan tanah kenyataan dengan sayap sayap pengingkaran yang rajin memberontak dan berakhir dengan kesia siaan. Menerima adalah melepaskan apa yang disesali telah terjadi dan tercatat dalam buku harian riwayat diri. Mengobati luka hati punya caranya tersendiri untuk diekspresikan, yaitu dengan menyembunyikan punggung dari terpaan angin maupun hembusan udara, menyembunyikan dari terang sang matahari.

Belajar dari matahari pada jam sembilan pagi dimana embun menguap jadi misteri, adalah telaah filsafat basi bahwa hidup berjalan dalam siklus rutinnya sejak jutaan era yang telah terlampaui. Selamanya begitu begitu dan seterusnya begitu begitu saja. Sederhana. Sedangkan wujud perubahan hanya terjadi atas kuasa waktu. Menguasakan perubahan kepada jarum arloji yang berdetik pastipun selamanya membawa muatan harapan, permintaan atas rasa hati yang ideal, jauh dari aroma kekecewaan yang sama saja dengan menabur benih kekecewaan itu sendiri.

Kaki yang melangkah menjauh usahlah ditangisi, sebab tak ada satupun ayat yang bisa membuatnya berhenti menjauhi lagi. Bahkan jutaan tahunpun berisi kisah kisah yang sama juga, tentang pertemuan tentang perpisahan dan detail kejadian diantara kedua titiknya. Utamanya bagi mereka yang telah kehilangan air mata oleh sebab habis terkuras sepanjang perkelahiannya sendiri dengan sunyi setiap malamnya. Tak perlu lagi luka itu sebab sakit hanyalah soal dramatisasi rasa. Sedangkan rasa sakit selamanyapun sama. Bagitu begitu juga, begitu begitu saja, tidak berubah sejak dari sejarahnya. Kepastian yang baku tetaplah jadi misteri tanpa jawaban sampai akhirnya pengetahuan mengelupaskan kulit yang membalut kesejatian diri. Ialah jika kelak raga tergeletak tak berdaya di damai bumi bunda, disejuk tanah berdebu , dibawah rumpun bambu dimana butiran lumpur kering saling bercerita tentang kisah perjalanan menyusuri lereng bukit tanah merah, lumpur kering dari musim lalu…

Biar, lepas sudah jangkar menancap di terumbu karang, menyilakan jiwa semata wayang ditumbuhi ganggang dan menari di tempat dalam ayunan irama permainan angin harapan dan arus kekecewaan. Memang begitulah sejatinya hidup dilakonkan (?) dengan tanya yang perlahan padam. Sampai akhirnya kelak satu demi satu episode terbacakan bagi siapapun pejalan yang singgah hanya jika matahari mempecundangi gelap yang mengurung diam. Atau terlupakan begitu saja ditimbun waktu yang tak terukur dengan perkiraan...


Gempol menjelang fajar, 061018

Monday, October 16, 2006

Rumah bagi si sakit

Saudara, jika kita kebetulan miskin dan karena satu dan lain hal menderita sakit dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit, maka alternative ekonomisnya adalah rumah sakit pemerintah. Tetapi sebelum berangkat dari rumah, mohon di siapkan untuk satu tambahan lagi penyakit, hanya satu saja tambahan yakni sakit hati!

Memang Negara punya kewajiban untuk memelihara kesehatan warganya termasuk juga mengobati dan merawat mereka yang sakit. Untuk itulah ada anggaran kesehatan, merekrut orang orang yang berprofesi sebagai dokter, perawat, pegawai administrasi, sampai tukang kebun untuk menjalankan fungsi rumah sakit pemerintah. Jangan kecewa jika bayangan rumah sakit sebagai alat pemerintah adalah institusi yang mengemban fungsi sosial atas nama negara itu kemudian ternyata memiliki performance yang kurang baik alias buruk. Namanya pelayanan, memang selalu diharap untuk memberikan kesempurnaan setidaknya kepuasan bagi yang dilayani. Warga negara yang menderita sakit.

Calon pasien secara emosional menyandarkan harapan atas kesembuhan ataupun penanganan medis terhadap rumah sakit yang notabene dijalankan oleh elemen elemen individu yang ada di dalamnya yang di gaji oleh pemerintah. Calon pasien yang harus juga meyiapkan biaya pribadi atas jasa layanan tentu mengharap ‘hospitality’. Proses administrasi yang sederhana dan mudah juga layanan non medis berupa empati yang cukup dari setiap orang yang terlibat dalam berjalanya system rumah sakit sungguh diharapkan dari setiap pasien yang tidak selalu tidak bisa terbiasa dengan birokrasi administrasi rumah sakit pemerintah. Namanya juga sakit fisik, maka mentalpun ikutan merasakan sakit juga dengan mengharap perhatian dan kepedulian melebihi jatah biasanya, jatah orang sehat.

Kekecewaan calon pasien sudah resmi menjadi burden pertama yang akan menghambat proses kesembuhanya sendiri. Birokrasi (administrasi) yang berbelit belit, waktu tunggu yang seolah olah selamanya sampai jemu, sikap acuh dari para perawat dan staff dan juga dokter yang berseliweran membumbui sakit hati semakin sedap dirasa. Pada satu contoh kasus, si calon pasien sudah menunggu dokter selama dua jam lengkap dengan kebosanan dan sakit yang tertahankan. Ia harus rela menangguhkan rasa sakit berlama lama sedikit hanya karena dokternya belum ada di tempatnya alias belum datang, entah dimana rimbanya. Waktu menunggu dua jam itupun sebagai tebusan untuk sesi konsultasi selama delapan menit saja. Belum lagi jika dokter A merujuk ke poliklinik lain dan di jawab oleh staf bagian administrasi dengan jawaban ringan “ dokternya sudah pulang, silahkan kembali besok saja”. Maka “besok” itupun si calon pasien harus melewati birokasi administrasi yng mirip labirin bagi tikus percobaan.

Pendekatan pelayanan rumah sakit pemerintah adalah salah satu hal yang patut untuk di reformasi. Rumah sakit secara harafiah adalah rumah bagi si sakit dimana si sakit berharap menadapap perlindungan dan perawatan baik jasmani maupun rohani, mental dan fisiknya. Menempatkan calon pasien sebagai kambing congek yang tak tahu apa apa tentang seluk beluk pelayanan medis menjadikan para abdi masyarakat yang bergelantungan dari gaji subsidi pemerintah itu seenaknya melayani calon pasien dengan standar ala kadarnya. Calon dan pasien mengharapkan greget pengabdian, dedikasi terhadap aspek kemanusiaan maupaun sosial di terapkan terhadap mereka. Orang yang sakit menjadi super sensitive terhadap yang namanya kepedulian atau lebih lagi terhadap sentuhan rasa kasih sayang. Kecuali para pegawai rumah sakit pemerintah tersebut tidak pernah mengalami sakit, tentu lain lagi urusanya.

Saudara, mari membayangkan satu utopia, sebuah kondisi rumah sakit pemerintah yang mencerminkan makna ‘hospitality’ yang sesungguhnya. Calon pasien diperlakukan seperti tamu, seperti famili sendiri jika perlu, degna system manajemen yang memberikan kemudahan seluas luasnya serta kenyamanan sebesar besarnya. Pelayanan yang ept, dengan pendampingan yang bersifat individual bahkan calon pasien tidak harus menunggu berlama lama hanya untuk urusan administrasinya. Keramah tamahan dan juga sikap ‘merawat’ sejak pertama masuk pintu rumah sakit adalah setengah terapi yang mujarab bagi apapun penyakit yang kekeluhkan. Pelayananan yang seperti itu akan menimbulkan kecintaan terhadap institusi rumah sakit yang juga kebanggaan terhadap pemerintah, terhadap perasaan sebagai warga negara sendiri dan tentunya kepada negara.

Mohon maaf jika sekiranya tulisan ini sangat spesifik bagi calon pasien miskin yang mendambakan perawatan yang cepat, mudah dan murah dari negara (pemerintah sebagai pemomong, abdi warga negara) tanpa tambahan sakit hati. Anda tidak termasuk salah satu calon pasien seperti itu, bukan?

Gempol, 061016

(* Tertulis sebagai catatan atas proses panjang selama empat hari mengurus administrasi sebelum akhirnya KM bisa di operasi karena menderita Osteoma tibia dextra ujung proximal dibawah tulang sendi lutut kanannya. Tulisan ini juga sebagai ungkapan rasa terima kasih setinggi tingginya kepada perawat, staf, dokter dan siapapun yang membantu melayani kami. Semoga Tuhan yang maha pemurah membalas budi baik anda semua. Amin).

Thursday, October 12, 2006

Sebuah mimpi buruk

Syahdan di suatu kala. Di sebuah ladang dengan tetumbuhan kacang tanah yang sedang tanggung umurnya, ada seorang perempuan berjubah panjang berwarna hitam, rambutnya panjang tergerai dipermainkan angin. Ia berteriak menyanyi dan menari membinasakan tetanaman kacang tanah yang sejuk di kaki jadi pijakan. Ia bernyanyi dan menari tanda kegirangan. Perempuan itu adalah sahabat kita yang kita kenal entah kapan entah dimana, bahkan aku lupa siapa namanya. Tapi wajah dan penampilan fisiknya begitu familiar buat kita. Perempuan itu terus bernyanyi dengan suara kencang, dari mulutnya menyembur nyemburkan nyala api merah kekuningan. Engkau tergesa gesa menusulnya, aku mengikutimu dari belakang dengan kecemasan yang kusembunyikan. Di wajahmu menampak kesal bersungut sungut. Ketika sampai di ladang kacang itu engkau terdiam, menangis di ujung pematang menyaksikan sahabat kita terus menari dan menyanyi kesetanan. Jelas engkau prihatin atas apa yang terjadi di pemandangan. Sedangkan aku, melompat riang ke tangah satu petak ladang dimana sejuk lembar tetumbuhan menyapa telapak kakiku. Aku ikut bernyanyi dan bermain lidah api bersama perempuan itu.

Ada gubuk kecil disana, seorang lelaki tua bertelanjang dada dan anak kecil yang juga bertelanjang dada di sebelahnya. Keduanya diam tanpa ekspresi, kulitnya hitam, matanya merah. Sorot mata keruhnya tajam, tak berkedip memandang aku dan perempuan itu menari dan menyanyi histeris. Aku terus melompat mengikuti nyanyian sahabat kita. Dua orang bertelanjang dada itu terus mengawasi, sinar matanya menelanjangi pengetahuan tentang diriku sendiri. Di ujung pematang tempatmu berada memuja rasa kini hampa. Engkau pergi lantaran kecewa. Perempuan berjubah hitam berambut panjang itu kini gembira mendapatkan teman menyanyi dan bermain lidah api. Tiba tiba api di mulutnya tak menyala lagi. Suara gemuruhnya tak ada lagi.

Nyanyian terhenti, tetarianpun diam. Bumi kembali sunyi. Tiba tiba aku merasa ada sesuatu yang besar dan berat menubruk dan membekap punggungku dari belakang. Sepertinya seekor anjing. Ya, seekor anjing yang besar dan hitam telah mencengkeram tubuhku dari belakang. Kedua kaki depanya berubah menjadi lengan lengan kekar yang kuat memegangi muka dan kepalaku. Aku memberontak sebisanya memberontak, memberikan pemberontakan terbaik sekuat tenagaku melawan rengkuhanya yang mengerikan. Terbayang gigi gigi tajamnya siap menghujam tengkuk, dan aku berkelahi sejadi jadinya melawan. Binatang itu tak berhenti menggeram marah. Suaranya menggemuruh memenuhi rongga pendengaran mas. Aku mulai cemas akan tergigit dengan kekuatanya yang aku rasa begitu perkasa. Aku bantingkan badan ke tanah, menarik kedua tangan binatang itu agar menyingkir dari tubuhku. Tetapi cengkeramanya begitu kuat. Aku gagal pada usaha pertamaku.

Pada satu detik aku memutar badanku, menyiku ulu hati binatang itu yang membuatnya menjerit kesakitan padahal aku tidak merasakan terjadi benturan. Sedetik kemudian aku hujani binatang itu dengan pukulan sekuat tenagaku, dan setiap kali menghujam tanpa benturan binatang itu surut mengendurkan cengkeramanya di tubuhku. Setiap pukulan membuat binatang itu berganti bentuk, yang perlahan berubah menjadi sosok manusia berwajah aneh, dengan pakaian serba putih. Wajahnya benar benar aneh, tidak punya ketetapan bentuk pasti. Warna kulitnya putih pucat seperti mayat. Wajah mengerikanya tampak murka oleh pukulan yang aku hujankan ke tubunya.

Inilah kesempatanku untuk lari menjauh dari monster yang kepayahan itu. Aku berlari menyusuri lorong sempit dengan tembok tinggi disamping kanan dan juga kiri mengarah ke luar dari areal perladangan. Rasa takut, letih dan cemas menggelayut disetiap langkah yang aku ayun cepat. Mahluk putih itu mengejar dan mengikutiku berlari, bayangan keganasanya menyerimpung langkah ringanku sepanjang lorong. Dibelakangku kini tampak anak kecil tak berbaju, mukanya merah karena marah dan ditanganya menenteng senapan laras panjang. Ia ikut mengejarku sekarang. Pada sebuah cabang lorong sempit itu, aku sembunyi menyambut pengejarku. Pengganggu pengganggu ini harus selesai di tikungan ini, pikirku. Ketika aku mengintip dari sudut tembok, anak kecil bermata merah itu ternyata telah siap membidikkan senapanya tepat ke arah bola mataku dari jarak sekitar satu meter. Serta merta kuhamburkan sangkar burung yang ada di samping kiriku untuk memecah konsentrasi bocah celaka itu. Anak kecil itu terganggu, dan sekali tendang maka selesailah perlawanan bocah sok jagoan itu, pikirku. Aku keliru. Ternyata anak kecil itu lihai menggunakan senjatanya. Badanya yang kecil lincah kesana kemari menghindari serangan kaki dan tanganku.

Tiba tiba aku ingat, aku harus kembali ke ladang itu. Tika ada disana, tadi ikut serta dalam perjalanan kita. Dia pasti tidak punya pikiran lain selain menungguku menjemputnya. Sungguh anak yang polos dan baru mengerti sedikit tentang permainan hidup orang dewasa. Sejurus kemudian bocah hitam itu telah berubah bentuk menjadi seekor anjing besar berbulu hitam yang semula menyerang. Aku berkelahi lagi sejadi jadinya, kepayahan kehabisan tenaga. Tapi aku yakin aku akan bisa mengalahkan mahluk celaka itu. Sat ketika aku jatuh tertelungkup melawan seranganya yang membabi buta, dan terbangun dengan nafas memburu, tersengal sengal dengan kedua tanganku mengepal, tersentak seketika duduk dari tidurku. Satu jam tidur yang mengerikan terbawa sampai kaki menapak alam kenyataan,. Iblis iblis itu ada disekitar kita, hidup di belantara mimpi. Mereka bersembunyi menunggu saat aku tertidur lagi entah kapan, untuk menyerbu dan memaksaku berkelahi lagi…


Gempol, subuh 061012