Wednesday, August 16, 2006

Enampuluh Satu

(renungan untuk peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia)

Enam puluh satu tahun sudah negeri ini dideklarasikan sebagai negeri yang bebas merdeka dan berdaulat penuh sebagai sebuah negara, lengkap dengan pemerintahan, territorial, dan tentu rakyatnya. Sebagai sebuah bangsa, nasion, enam puluh satu tahun bukanlah masa yang singkat untuk bisa memanfaatkan fungsi kedaulatan itu bagi kemakmuran seluruh isi negeri semakmur makmurnya. Lika liku perjalanan sejarah sebuah bangsa pasti selalu diwarnai tragedi, intrik maupun kesalahan kesalahan prediksi oleh sebab mengemudikan sebuah negara sama saja meletakkan dasar dasar yang akan dipijak dimasa yang akan datang yang notabene undpredictable.

Dari sistim kemasyarakatan yang monarkis dan terkotak kotak di zaman baheula tua kemudian disepuh sedemikian rupa dengan kebudayaan barat yang dibawa bangsa belanda dari belahan utara bumi pada zaman baheula lebih muda, mental kebangsaan kita mengalami transisi yang ekstrem, dari kebanggaan menjadi sebuah kaum yang kental dengan rasa handarbeni, hangrungkebi dan hangrosowani, kemudian dibalik grempyang menjadi kaum budak yang tunduk luruh dibawah kaki kaum penjajah, hanya karena orang putih dianggap lebih maju, lebih beradab dan tentu dipercaya lebih bijak. Hasilnya sama sama kita tahu, tigaratus limapuluh tahun lebih nenek moyang keturunan kita dikebiri sedemikian rupa hak haknya sebagai nasion menjadi budak di tanah kelahiran sendiri dan dijauhkan dari peradaban asal muasal.

Menilik dari sejarah pula, kita bisa simpulkan bahwa memang bangsa ini sejak zaman dulu adalah bangsa yang rendah hati, andhap asor dan tentu murah hati. Keramahan dan permakluman bangsa ini banyak diartikan sebagai kemalasan bahkan lebih mencolok lagi diartikulasikan sebagai kebodohan oleh kaum putih pada masa lampau. Apakah benar nenek moyang kita bodoh? Pendapat itu menurut saya sama sekali keliru. Bukan karena pandangan subyektif yang muncul karena kita ada karena mereka, melainkan lebih kepada penilaian bahwa setiap bangsa memiliki local environment – nya sendiri sendiri dan tingkat kecerdasanya sendiri sendiri. Hanya saja aturan dunia, tingkat kecerdasan lebih diukur dari penguasaan terhadap hal hal materialistik kemajuan ilmu pengetahuan. Pendeknya up to date mengikuti perkembangan zaman. Sedangkan bangsa Polynesia yang menduduki kepulauan membentang dari Sumatra sampai Papua ini memang memiliki kareakteristik yang konservatif, memelihara budaya dan peradaban nenek moyang sebagai kebanggan dan jubah kebangganya. Sayangnya karakter seperti itu mudah ditembus melalui individu individu, pencekokan terhadap cara berfikir dan tentu propaganda yang menyesatkan maupun tidak menyesatkan tentang jati diri sebuah kaum.

Tigaratus limapuluh tahun lebih menjadi kambing congek bangsa lain tentulah meninggalkan bekas mendalam kepada perubahan karakter mental berfikir bangsa ini. Mental karakter bangsa terjajah! Gembar gembor kemerdekaan menjadi jargon mujarab bagi para agitator politik bangsa tanpa bisa melepaskan diri sendiri dari mental terjajah. Demikianlah kaum terjajah, yang mengidamkan kebebasan sebagai satu hadiah, yang bagi bangsa ini harus dengan susah payah dan pengorbanan luar biasa baru bisa diraih. Mimpi bagi kaum yang terbelenggu semuanya sama, kebebasan! Dan dalam kebebasan itu berisi bermacam macam nilai kebaikan yang menjanjikan, kebebasan sebagai ladang garapan untuk membangun negeri agar semua menjadi makmur.

Bagaimanapun juga kita patut berterimakasih kepada Belanda sang penjajah, karena mau tidak mau, suka tidak suka, banyak dasar dasar administrasi pengelolaan negara ini diletakkan oleh mereka. Belanda juga punya andil dalam membangun produktifitas asset negara maupun pengelolaanya. Dan yang lebih penting lagi, kita patut berterimakasih kepada Belanda sang penjajah karena diwariskan kepada kita bangsa terjajah ini sebuah semangat persatuan sebagai satu bangsa yang utuh dengan kesadaran bahwa kita terdiri dari ratusan ribu etnik, adat, budaya yang memiliki spesifikasi sendiri sendiri. Warisan berupa semangat persatuan itupun barangkali bukan tepat sebagai warisan sebab semangat itu terbentuk dari pengalaman empiris berkepanjangan ditambah dengan arus zaman yang memungkinkan orang untuk memiliki hasrat membangun dan maju melangkah kedepan, menyongsong tantangan zaman.

Toh kenyataanya, semangat kesatuan itu pula yang menjadi ujung tombak dari terwujudnya kemerdekaan, pengakuan atas kedaulatan bangsa sendiri atas diri sendiri. Kesatuan melahirkan gagasan gagasan brilian tentang bagaimana mengelola sebuah bangsa, melahirkan individu individu idealis yang memiliki sitemap lengkap tentang rancang bangun sebuah pemerintahan yang absolute. Ketika ‘bola’ kedaulatan itu sudah berada di tangan, kemudian yang terjadi adalah debat demi debat panjang tentang pola pengelolaan yang dari satu kepala dengan kepala lainya tentu berbeda. Bahkan perbedaan itupun acap kali disikapi dengan cara yang berbeda pula. Enam puluh satu tahun sesudah Soekarno membacakan proklamasi, bangsa ini masih saja berkutat dengan definisi definisi yang melebar, dan sedikit melupakan arti harafiah dari kata “m.e.r.d.e.k.a” itu sendiri.

Penulis yang pendek nalar ini mengartikan kemerdekaan sebagai kebebasan sebuah negara, sebuah bangsa dari segala macam ancaman dan ketakutan. Kemerdekaan semestinya adalah sertifikasi dari kebebasan akan rasa tertindas, perlakuan tidak adil, maupun kebebasan dari rasa takut dari apapun. Makna kemerdekaan itu sendiri lebih detail seharusnya menjadi landasan mental nasion, setiap individu bangsa Indonesia. Sebuah pola pemikiran progresif yang menegaskan bahwa baik buruk, kemajuan maupun kemunduran bangsa ini terletak pada individu tiap gelintir manusia yang mengaku sebagai warga negara Indonesia. Kemerdekaan idealnya disikapi sebagai sebuah tonggak baru untuk melangkah maju bersama sama, membangun dan memelihara demi tercapainya kesejahteraan setiap gelintir manusia penghuni negeri. Kemerdekaan memberikan peluang seluas luasnya kepada kita untuk turut berpartisipasi secara penuh untuk mewujudkan gagasan gagasan agung itu.

Tetapi apa lacur? Mental karakter sebagai bangsa terjajah masih lebih mendominasi bangsa ini. Kebebasan bagi sebagian orang (kapanpun masanya) lebih dilihat sebagai peluang untuk memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadi. Semangat kesatuan sesudah enampuluh satu tahun merdeka terasa lebih mengendur, berubah menjadi kotak kotak labirin oligarki. Dalam kaitan pengelolaan negara, tidak ada hal yang menjadi sederhana di negeri ini. Undang Undang Dasar sebagai landasan konstitusional paling sahih di negeri inipun sering hanya dilangkahi, atau dipajang di rak buku sebagai simbol, bukan pelaksanaan atas nilai yang terkandung didalamnya. Mental purba yang memandang hal hal yang datang dari luar dan tak diketahui pasti dianggap sebagai sesuatu yang lebih bagus dan patut untuk ditiru. Pendidikan generasi mendatang lebih didominasi oleh tayangan televisi yang lebih banyak menonjolkan kebobrokan akhlak maupun tontonan tanpa nilai yang dicap sebagai hiburan yang melambungkan mimpi mimpi dan membuat anak anak kita jadi gemar onani. Dari mana datang semua budaya baru itu sesudah enampuluh satu tahun merdeka? Dari kerajaan Majapahit? Samudera Pasai? Hikayat Hang Tuah? Atau kitab ramalan Ranggawarsito? Atau hikayat hikayat yang mengandung petuah luhur bagi pembentukan nurani generasi muda dari setiap pelosok negeri? Jawabanya kita tahu, bahwa semua bukan berasal dari itu semua. Tivi dengan canggihnya mencekoki otak anak anak kita dengan mimpi, menggembosi karakter tunas tunas muda bangsa ini menjadi kaum tanpa akar, hidup menggantung di dahan pohon mati.

Apa yang kita harap dari generasi muda dengan bahan mental dari tayangan tivi? Kita tentu tahu pasti bahwa enampuluh satu tahun setelah kemerdekaan, bangsa ini belum memiliki karakter bangsa, masih gentayangan mencari jati dirinya yang terus diingkari sebagai sebuah kaum monarkis absolute yang mengemban teguh wawasan kebangsaan, yang memiliki rasa memiliki, melindungi, dan berani membela terhadap kepentingan negara dalam bentuk apapun. Bukan lagi sikap berlawanan arah antara pemerintah dan warga negara, penguasa dan rakyat jelata. Indonesia masih tetap menunggu lahirnya sebuah generasi berkualitas yang akan bisa mengelola negara ini dengan bijaksana dan mengembalikan semangat nasionalisme sebagai tali pengikat keberagaman isinya. Jika semua orang mengerti betul bahwa fungsi gelintir individu adalah untuk negara, maka kita tidak perlu risau lagi melihat tayang tivi tentang betapa gigihnya Satpol PP melakukan law enforcement bagi ketertiban umum, razia gelandangan, pengemis, anak anak jalanan, pembongkaran lapak pedagang kaki lima, razia pelacur dan sebagainya. Darimana semua itu datang dan berkembang? Kita tahu, bahwa semua bermula dari ketidak becusan pengelola negara menjalankan fungsi elemental sebagai pengemban, pengayom, pelindung dan sekaligus pemimpin rakyatnya. Mari berkaca didepan cermin besar, betapa banyak atribut asing menempel di tubuh dan pakaian kita dan tak satupun menerbitkan patriotisme yang membanggakan.

Enampuluh satu tahun setelah kemerdekaan, kita masih tetap menunggu sebuah generasi terlahir dengan nation character yang jelas, dan tugas kita adalah membentuk embrio dari hari ini, dari diri sendiri.

Dirgahayu Indonesiaku, jayalah kembali engkau seperti di masa lalu…


Gempol, 060816

Sunday, August 13, 2006

The Pain

(An ultimate human drama)

Menjabarkan perih, seperti halnya menguraikan bibit keindahan dalam pembungkus seni yang sesuai. Keindahan yang lahir dari tetes demi tetes darah dari lukanya jiwa, membaur dengan partikel bebas lainya dari angkasa, lalu bersinergi kompak menyuguhkan bangun bangun keperihan yang indah nikmat. Sebagian luka kerasan tinggal lama lama, membentuk kampung dan peradabanya sendiri, menjadi penguasa lalim bagi labilnya bathin di kadang kala. Mereka tinggal dari generasi ke generasi, menempelkan label dendam di setiap jendela kepengapan dimana diri bisa sedikit mengntip dunia diluar dari keruh dan gemuruhnya tempurung kepala. Dramatisasi dari kekecutan hati sebagai bumbu atas luka yang menganga, adalah cara mengekspresikan nilai estetik dari penderitaan. Dan seni sebagai pembungkusnya, memelihara agar luka tetap ada, menjadi sumber keindahan bagi seisi dunia.

Keindahan dari penderitaan menjadi lebih mantap terasa beralaskan pengertian bahwa segalanya terjadi di dalam lingkaran kaca kehidupan individual. Penderitaan setimpal dengan keindahanya tak tersentuh oleh jangkauan realitas, menjadi kepemilikan yang ekslusif sebagai satu elemen psikis yang memberi dampak kepada kualitas seorang manusia, yang mencerminkan independensi sebuah pribadi. Dunia pribadi tak ubahnya partikel bebas yang bisa membentuk debu, bisa berkelana sendirian dan bisa menjadi apapun dimana alam mendamparkan. Tak ada sesiapapun dimuka bumi ini yang bisa merasakan indah maupun perih yang sama dengan satu orang lainya. Yang bisa dilakukan adalah mengira ira, kemudian sebisa mungkin menimbang rasa diri untuk mencoba mengukur tekanan serta mencoba menemukan faktor faktor penentunya, kemudian menyimpulkanya dengan sebuah kata sederhana “ I can feel you easily” .

Bahkan diri kita sendiripun belum tentu bisa mengenal dengan baik nilai si diri dalam perspektif kualitas kemanusiaannya. Sifat inkonsisten dengan dalih mengikuti irama zaman tidak memberikan jaminan apapun terhadap sebuah kepastian dimasa depan. Bumi terus berputar, segala isinya pun turut terubah dengan siklus yang tidak teratur. Yang kita kenal pada diri kita sendiri adalah kembali lagi, penderitaan yang melahirkan seni, kemudian seni yang bisa menganak pinakkan rasa perih disekujur organ pikir. Kepincangan pikiran semestinya tidak terlihat sebagai sebuah keanehan atau bahkan dianggap sebagai sebuah cara mendramatisir keadaan. Akan tetapi kepincangan mental fikiran selayaknya lebih dipandang sebagai satu dari ribuan faktor yang membuat si individu eksis. Segala kecompang campingan perasaan itupun adalah satu elemen kecil dari sebuah keseluruhan utuh sebuah pribadi.

Bagi si cripple minded pun, bukan hal yang diingini terjadi kecacatan mental seperti itu. Jikapun perlahan maupun sekonyong konyong ia menyadari ada elemen elemen yang hilang atau tertimbun pekatnya kepedihan yang mengerak, dipandangnya apa yang tampak sebagai hidup normal apa adanya, bahwa memang harus demikian terjadi dan persis seperti itu kejadianya, menyadari bahwa semua hanyalah catatan biografi paling original, paling asli milik sebuah pribadi, sebuah individu, dunia dengan lingkaran kaca. Dunia yang rapuh terbungkus dalam gambar gambar pantulan dua warna hitam putih, sebagai perlambang dari hukum relativitas, aturan kodrati untuk soal keseimbangan. Semua pantulan dari dua kubu berseteru; logika dan hati. Meskipun kerap kali antara logika dan hatipun berjabat tangan dan saling memberi kompromi atas kepentingan masing masing. Ketika penderitaan hadir sebagai hasil hubungan gelap antara iblis dan akal, maka hati dan logikapun disibukkan dengan rapat rapat yang melulu mempertentangkan keraguan demi keraguan, prediksi demi prediksi, dan evaluasi demi evaluasi atas semua yang telah terjadi.

Lalu tidak ada segala sesuatu yang berdiri sendiri. Satu sama lain unsur dan elemen, saling berhubungan hanya dengan isyarat sensor. Semua mengangkat kepentingan yang sama dan satu saja, yakni manusia, kita diluar dari kehidupan diluar kita, dan sekaligus melingkupi segala riwayat dan kisah yang menyebabkan diri kita menjadi ada hingga tulisan ini terbaca. Penderitaan sekali lagi adalah baginda yang memerintah pribadi setiap manusia hidup dan berakal waras. Banyak orang bernasib tragis, runtuh dinding kaca yang melingkari kepribadianya, pecah oleh peperangan dahsyat antara hati dan logika dan kehilangan tempat untuk melihat diri. Mereka bahkan tidak menyadari kemalanganya sendiri, bebas dalam dunia ikatan sederet tatanan kepantasan dan aturan peradaban umum. Orang orang malang itukah yang beruntung karena mereka dibebaskan dari himpitan penderitaan mental? Ataukan mereka dari golongan dari orang yang justru gagal mengartikulasikan penderitaan dengan sebagai keindahan seni kejiwaan?

Ah, tidak saudara. Orang orang malang yang karena miskinnya hati nurani penguasa negara mereka harus menjadi manusia tak berguna diperempatan jalan ataupun sepanjang trotoar itupun adalah manusia juga, tetap memiliki jatidiri meskipun terlempar dari kumpulan peradaban. Di dunia mereka, penderitaan menjadi lembah terindah dan terluas yang mereka tinggali. Mereka yang kita pandang malang, telah menyempurnakan ultimate human drama. Pikiran mereka terbebas dari kewajiban berpura pura, serta kewajiban kewajiban lain sebagai simbol kewarasan seorang manusia. Kemalangan mereka hanya terletak di masa lalu, memfosil dan menjadi batu pijakan dalam kehidupan alam fikiran yang mereka bawa bawa tanpa beban kamanapun juga. Jiwa mereka terperangkap dalam kungkungan kodrat mahluk hidup, terbungkus dalam rangkaian kulit, daging, tulang, syaraf dan darah. Sebenarnya mereka adalah siluet bagi kehidupan fana. Terlalu terbiasa dengan penderitaan membuat mereka tak mengerti lagi apa itu penderitaan dan seperti apa itu rasanya perih hati. Tak ada seorangpun yang waras bisa mencicipi citarasa penderitaanya maupun nikmatnya dia berselancar dalam gelombang jiwanya. Demikian juga mereka, tak mengerti makna kewarasan dengan mengorbankan sederet nilai kemanusiaan hanya demi pengekspresian rasa kecewa, yang diganti nama menjadi penderitaan bathin.

Penderitaan dari segala sisi tetaplah absurd. Ia adalah dramatisasi indah dari sebuah hidup individu, titik debu bagi komunitas kosmik. Yes, the pain is an ultimate human drama…

Gempol, 060813

Wednesday, August 09, 2006

Jalani saja

(nasehat bagi langkah yang lelah…)

Jalani saja seperti dulu hingga engkau sampai di tempatmu saat ini. Dan jika memang ada alasan kenapa semua harus terlewati, biar saja nanti akan terlihat jua di persimpangan. Bengkak di lutut kanan mengisyaratkan tentang letih tulang kaki oleh beban jarak tempuhan. Jauh, berabad abad sendirian dalam helaan keyakinan dan keberuntungan. Mencoba berteman dengan iblis yang membeku, diri hanya menemukan kata kata membentur dinding, terbelenggu dalam bisunya sendiri. Kembali sunyi, hanya nyala api yang terasa dalam dada.

Terlintas dalam ingatan, tempat tempat yang jauh tak terkirakan, dimana badan telanjang hanya membawa diri tanpa beban tak berguna. Berpandu matahari dan piaraan nyali ala kadarnya. Sebuah tempat nun jauh dibalik jangkauan mimpi sekalipun. Mimpi, dialah yang meracuni kekinian yang harus dipijak dan seperti kaki yang riuh melangkah diatas landasan karet treadmill. Jalan di tempat yang sesungguhnya hanya letih yang terasa.

Ada saatnya langkah melemah, perlahan goyah bahkan sempat terpikir untuk berhenti dan menganggap diri telah cukup melakoni jarak tempuhan. Ternyata diperlukan kejujuran untuk sekedar pengingkaran sekalipun. Hawa panas dan busuk yang mengendap jadi bakteri telah mengaburkan segala bentuk pandangan kenormalan. Merasakan letih yang menghinggapi sukma, yang tertayang hanya sederet nisan pengalaman dibelakang dan langit tanpa warna dihadapan. Tanda tanya terus memukul mukul belakang kepala seperti palu godam yang hanya dibuat untuk meremukkan. Terlalu bersemangat dalam permainan hiduppun terkadang harus ditebus dengan kelumpuhan sebelah kaki, atau bahkan pembengkakan di keduanya.

Sewajarnyalah untuk menjalani saja semua, tanpa mengharap bertemu garis finish ataupun pos pos persinggahan. Tanpa mengharap apa yang bakal dilewati dan ditemukan nanti. Seperti ribuan tahun sebelumnya yang menyebabkan diri berada di ruang kekinian saat ini. Toh semua hanya terdiri dari susunan langkah kiri kanan, satu satu dan terus menerus. Syaraf penggerak otot kaki yang ikut hangus tak diperlukan lagi sebab memang fungsi kaki hanyalah untuk melangkah maju dan terus maju membunuh jarak tempuhan usia. Meskipun nasehat bijak dari nurani yang tumbuh setiap kali tercabut dari akarnya seperti bayi rumput yang baru saja menembus labirin mayapada, pupus dari orbit riwayat diri.

Dan jika kelak terendap tanya kenapa semua bisa terjadi, di persimpangan kelokan pertama akan jelas terbaca semua hikmah dari sepanjang perjalanan, sebagai pembelajaran atas hidup yang berazaskan praduga.

Maka jalani saja, langkahkan kaki satu satu meski lesu menuju ke langit tanpa warna dimana selaksa jawaban menunggu.

Gempol, 060809

Tuesday, August 08, 2006

Sunyi hati di tengah riuh

: Urip

Inilah raga yang tak berjiwa, daging berdenyut disangga belulang kumuh dengan tempurung kepala kosong berisi udara busuk bekas bangkai penghuninya. Telah disembelih mimpi untuk ditukar dengan sekedar senyum dan nyaman bukan untuk dirinya. Tugas kewajibannya sebagai manusia untuk menjadi manusia. Pengikat hati telah lapuk kini, membiarkan cinta tumbuh subur meninggi di tempat yang tak semesetinya. Kesunyian mengiringi setiap langkah, mendenging menikam riuh tawa dan jerit bahagia. Orang orang ada di dunia ini dimaksudkan untuk menikmati isinya, demikian juga penduka. Merasakannya dengan cuka cita akan menjadi seni hidup yang tak tertandingi oleh karya seni masterpiece manapun. Ia memiliki nilai tertinggi bagi pribadi yang mengalami dan menjalaninya. Hidup jadi terbebas dari rasa, terbebas dari kehendak masa depan, mengalir pasrah tak mengapung juga tak tenggelam. Menggelinding lemah mengikuti tinggi rendah lereng lembah usia. Dia tak memiliki tempat dimanapun lagi.

Dunia dibelakang garis pelipis hanyalah gelap berisi dugaan semata. Tak tampak pohon pohon raksasa makin subur menjulang, menjajikan alternative hidup sandaran hati dengan bahasa bisu. Disana terbangun bunker perlindungan dari terik tikaman dendam, dimana teriakan kekesalan dan jerit kesakitan tak dipersalahkan. Semuanyapun berjalan sendirian tanpa beban target tujuan, hanya pencarian atas sesuatu hak pribadi yang masih bisa didapatkan dari puing puing bencana. Biarlah jiwa berjalan tanpa rasa selama ia sanggup berdiri melangkahkan kaki, sebab hanya itu, sesederhana itulah semestinya hidup dijalani. Angan adalah angkasa dimana batasnya adalah udara. Emosi memotivasi gerak dalam jangkauan dinding dinding kepantasan yang menempatkan kata ‘tidak boleh’ sebagai pagar pembatas dan sekaligus garis penegas. Dan dinding dinding udara itupun begitu rapuhnya untuk diterobosi dengan melangkahkan satu kaki.

Hukum relativitas kemudian berubah menjadi absurd bahkan rancu kehilangan formula. Keseimbangan jadi gonjang ganjing mengikuti irama angin membacai alam. Dunia ternyata hanya setipis tebal uang logam untuk membedakan hitam dan putih sebagai patokan baku berlakunya hukum relativitas; keseimbangan. Urusan sakit hati tak pernah ada seimbangnya karena kekuasaan hati berbatas udara di setiap sisinya; maha luas tanpa ukuran. Kemana bermuara segala emosi rasa? Sedangkan hidup terlanjur dipatok harus memiliki rasa, semua tentang rasa. Sama halnya urusan mencintapun demikian pula berlaku idem. Ia memiliki ekspresi seluas langit sampai tak ada kemustahilan yang pantas disebutkan. Hati tak bisa dibendungi, diarahkan bahkan dibaca sekalipun. Ia adalah raja bagi sebuah pribadi yang memiliki kekuasaan penuh dalam setiap gerak dan aksi. Logika sang penasehat bijakpun kerap luluh lantak dibawah kaki sang hati. Mengharapkan orang untuk melakukan atau tidak melakukan hal yang kita harap, sama saja dengan memetik asap rokok dan menyimpanya dalam toples untuk pajangan. Nisbiah.

Oh, sunyinya hati justru ditengah riuh hiruk pikuk segala hiburan. Hiburan atas apa? Hidup yang menjenuhkan? Atau sekedar memanjakan diri tanpa juntrungan sebagai penegas status sebagai penghuni bumi berperadaban? Peradaban, bukankah semacam permainan kehidupan dengan segala macam corak aturannya dibuat sebegitu mutlak hingga setiap orang menempatkannya menjadi papan peringatan dalam angan masing masing?

Diantara riuh keramaian dia merasa asing dan sendiri, terombang ambing dalam kemidi yang berputar pada poros yang sama, dengan sesal dan mual menjejali dada, dengan kemuakan yang melobangi kepala, meloncat jadi ludah yang menyembur liar, pertanda hati yang panas terbakar. Di sudut jalan ia muntah, mabok oleh nanah dari luka luka tak kentara yang diemban dalam jiwanya. Ia telah menjadi alat masturbasi emosi bagi hidup manusia yang menganiayanya yang hidup langgeng dalam bumi khayali, tak terkoyak apalagi luka.

Dufan – Ancol 060808

kisah dunia kecil berpelangi

Dulu pernah ada terjumpai dalam cerita, sebuah dunia kecil berpelangi. Dihuni oleh hanya dua hati dalam ayunan keraguan dan ketidak mengertian kisah masa depan. Berjuta tahun sudah kisah itu timbul tenggelam dalam permainan musim, antara menganggapnya ada dan mengenangnya dalam makam ingatan. Dunia kecil berpelangi itu, terbentuk oleh erosi, arus dan gelombang kehidupan tanpa desain bentuk maupun sebuah tata letak dengan kepastian, mengambil cetakan dari ketiadaan dan membentuk begitu saja tanpa kehendak yang berlebihan.

Dunia kecil berpelangi itu kini memfosil, tertutup oleh belukar dan sedimen biografi, kehilangan bentuknya. Pelangi yang dulu selalu melengkung mengitarinya dengan definisi multi fungsi telah patah dan tanggal, menjelempah di tanah kehilangan warna. Tidak ada kehidupan selain sisa sisa didalamnya, hanya tinggal jejak jejak percakapan menempel di setiap dinding batunya. Sejauh hati menerawang hanya hamparan hampa dari ujung ke ujung langit, kekosongan rasa dari tepi ke tepi mimpi. Gersang tak bertuan semata rupanya.

Kemana gerangan pemiliknya pergi?

Jauh ke negeri yang tak tersentuh oleh jangkauan keniscayaan. Memegang tara di tangan kiri dan pedang logika ditangan kanan menyusuri jalan perawan atas nama kewajiban dan tanggung jawab, memilih jalan yang tak lazim dilalui demi mengukur kualitas diri. Ia terusir oleh usia yang tak henti memburu merelakan dunia kecil berpelanginya musnah ditelan oleh musim demi musim yang lama kelamaan enggan mengabarkan keberadaanya lagi. Terpencil ia dalam kehidupanya yang sunyi, diam dalam badai kata kata yang selalu saja tak terlahirkan lewat mulut, hanya dicatatnya segala yang dialaminya dalam buku diary yang tak pernah terbaca.

Kenapa harus pergi?

Ia yang tinggal disana telah berabad abad menggigil kesepian. Berharap matahari akan datang benar benar membawa hangat bagi jiwa dan mendaftarkanya dalam angka statistik metamorfosa peradaban. Lalu ia lelah dan berhenti berharap, menjejakkan kakinya yang kecewa untuk mencebur ke dunia nyata yang sesungguhnya, serba besar, serba nyata. Ia pergi untuk selama lamanya, menumpang hatinya yang berlari kencang mengejar pencarian. Dan ia selalu dapat apa yang ia kejar. Ia pergi, beberapa detik sebelum matahari yang diharapkan benar benar datang dan menerangi semua sisi gelap dari isi dunia kecil berpelangi miliknya. Tapi kini dunia kecil itu tak berpenghuni, tak berpelangi dan tinggal menjadi fosil yang indah tersimpan dalam etalase kenang kenangan. Ia tak memiliki alasan apapun untuk membuatnya kembali menyambangi dunia kecil berpelanginya yang telah mati, terkubur tanpa nisan di palung hati.

Gempol, 060808

Monday, August 07, 2006

Kemanusiaan yang manusiawi

(hari ke 27 serangan Israel ke Libanon)

Manusia adalah binatang yang paling sempurna. Sempurna karena sifat dari semua jenis binatang yang ada dimuka bumi dimilikinya, masih ditambah lagi bonus berupa akal dan tentu nafsu. Akal dan nafsu inilah yang sering kali dijadikan tunggangan demi kelangsungan sifat kebinatangan, sebagai alat legalitas hukum yang sebenarnya dan sangat purba; hukum rimba. Dalam dunia binatang kita mengenal kekerasan ketika teritori terancam dan sebagai upaya untuk bertahan hidup seperti memang digariskan oleh kehidupan dalam mata rantai panjang mahluk hidup. sekali lagi, manusia menempati podium tertinggi dari mata rantai itu dengan kemajuan akal dan fikiran yang menghasilkan nafsu, lengkap dengan lemah dan kokohnya pengendalianya.

Dibelahan bumi bagian timur tengah sana sebuah kebanggaan lain lagi sedang dibangun dengan menyusun kepingan kepingan tubuh manusia mulai dari bayi, anak anak, remaja, dewasa, orang tua, dan manula, pria wanita maupun waria. Pun semua atas prakarsa manusia lainya juga. Mesin mesin pembantaian diciptakan untuk mempertontonkan kebodohan dan kerendahan akal yang disangkakan sebagai sebuah keunggulan. Sikap perwira semakin tipis dan membias ketika anyir bau mayat menjadi aroma rutin disela sela keporak porandaan tatanan peradaban maupun bangunan kemapanan.

Membedakan antara manusia dan binatang bukanlah dari sekedar penampilan fisik semata. Dari anatomi tubuh tentulah semua memiliki pola dan fungsi yang sama hanya kemudian implementasinya dibedakan oleh kemampuan otak untuk menganalisa dan mengolah fikiran menjadi sebuak tindakan, lepas dari penilaian biadab, beradab maupun laknat. Sebagai binatang yang paling sempurna, sebagian (kecil) manusia diberi keberuntungan dengan memegang kendali atas manusia lain dan bebas menentukan nasib baik buruk yang kemudian diserahkan dengan acak menjadi paradigma takdir. Sungguh malang mereka, manusia yang tersesat jauh dari batu pengingat jati diri kemanusiaan yang bernama nurani. Lebih malang lagi bagi mereka yang dengan sadar mengingkari suara nuraninya sendiri dan menuruti nafsu manusiawinya dengan menggunakan patron binatang. Maka manusia yang malang itu kemudian pantas untuk mendapat predikat baru sebagai binatang yang mengatasnamakan manusia. Semakin terlihat jelas marka batas antara manusia dan binatang justru dari caranya memperlakukan semua mahluk pelaku kehidupan, benda hidup maupun benda mati yang semua memiliki andil dan fungsinya sendiri sendiri.

Ketidak puasan manusia menjadi ciri khas yang kemudian dimahfumkan dengan sifat ‘manusiawi’, sedangkan efek negative yang timbul dari penggelontoran nafsu oligarki selalu saja mencari dalil dalil “kemanusiaan” sebagai wujud dasar dari kata; kasihan. Sedangkan binatang yang sebenar benarnya binatang, hanya mencari apa yang dibutuhkan, mennggunakan insting untuk bertahan hidup dan mengambil peran dalam siklus kehidupan secara wajar, dengan kewajiban yang dibenihkan oleh insting mereka untuk menjaga keturunan demi keberlangsungan siklus kehidupan. Jadi, sangat sederhana memahami pola hidup binatang, mereka hanya mengambil peran sesuai porsi dan menjalani kehidupan sesederhana mengirup dan menghembuskan nafas yang diatur oleh organ pernafasan masing masing, berbagi oksigen yang sama untuk sama sama mengukir kisah yang bisa jadi saling berbeda antara satu dan lainya.

Belajar dari sifat dasar binatang dan mau mengakui kebinatangan sendiri tentu akan menerbitkan sikap cinta kasih dan kemanusiaan yang manusiawi, terhadap manusia maupun mahluk lain penghuni bumi. Semua benda dan semua mahluk memiliki haknya sendiri sendiri, kewajibanya sendiri sendiri, dalam kapasitasnysa sendiri sendiri yang kesemuanya adalah pot puzzle dari sebuah kehidupan makro kosmik jagad raya. Sedikit saja memangkas hak eksis mahluk lain sama halnya dengan mengolok kepiawaian mengolah akal budi, mempertontonkan kebodohan diri sendiri. Perang juga semata adalah mengolok kerendahan atas akhlak binatang yang terperangkap dalam jiwa jiwa manusia yang mengalami krisis pengertian tentang makna kemanusiaan yang manusiawi. Dengan maksud dan dalih apapun, perang hanya pabrikasi dari satu rantai panjang kepiluan bernama korban.

Mari hentikan perang tanpa perang, tebarkan cinta kasih kepada sesama demi siklus kehidupan jagad raya…kita hanyalah debu di langit tak bertuan mayapada.

Salam cinta dari bunga langit!

Gempol, 060807

Saturday, August 05, 2006

Bangku plastik biru beku

Gerbong gerbong keresahan dan kesedihan datang dan pergi, melintas dan kadang terhenti sejenak untuk bergerak dan lenyap dalam kubangan ingatan. Di stasiun beban kejut dari kedatangan sebanding dengan tonase dua hati, dua ingin, dua badan yang dipisahkan jarak semakin menjauh. Inilah sebuah tulisan tentang romansa stasiun, dimana miliaran cerita hati yang diceraikan dan dipertemukan silih berganti terjadi, dengan saksi yang itu itu juga, sederet bangku plastik berwarna biru, dengan suhu beku bagaikan es batu.

Kedatangan yang berjodoh dengan penantian acap melahirkan sebuah pertemuan, yang kemudian diikuti oleh kegembiraan yang membuat jarum jam melipat gandakan gerak rotasi. Pertemuan fisik sebagai konfirmasi bahwa hati benar adanya (Q), disimbolkan dalam moment hitungan menit ketika senyum lebar menyambut dan kemudian tangan melingkar terasambut. Detik itu jarak terbunuh dan rindu yang menindih perlahan membias dalam percakapan panjang dengan bahasa sederhana; cinta.

Demikian juga perpisahan yang masih disaksikan oleh bangku biru beku berderet mentertawakan kesedihan dari dua jiwa yang diceraikan oleh menggelindingnya roda ke arah yang berlawanan. Ketika pertemuan mengkonfirmasi bahwa hati benar adanya, demikian juga perpisahan. Beban yang timbul dari rasa yang membandul meniadakan senyum berganti dengan kelopak mata yang menggenang, mengaburkan pandangan. Sebentar lagi jarak akan mengambil haknya, tak peduli luka sedalam apa ketika peluit stasiun menghentakkan keberangkatan. Lambaian tangan sesudah ciuman terakhir menterjemahkan hati yang gulung koming tak menentu, keruh oleh kesedihan yang mengharu biru.

Sederet bangku biru dingin membeku tak berhenti sibuk mencatati kisah kisah dramatis pertemuan dan perpisahan di tempat yang sama. Ia tak peduli dengan bumi pijakan sebelum dan sesudah terjadinya pertemuan dan perpisahan ketika gerbong gerbong cerita memuntahkan muatanya di tempat yang sama; stasiun pemberhentian kisah kehidupan. Setiap individu adalah kereta dengan gerbong pengalaman masing masing dan dengan track nya masing masing. Tak saling bersentuhan kecuali ketika singgah di stasiun pemberhentian untuk kemudian melaju kencang ke bilik dunia lain lagi, ke stasiun lain lagi tanpa seorangpun pernah tahu dimana lagi mesti berhenti dan kapan lagi mesti kembali.

Demikian juga kisah hidup yang menjadi penumpang dari kereta kehidupan, melulu saja berisi scenario tentang menanti kedatangan dan mengantar keberangkatan di stasiun pemberhentian. Di stasiun, diantara deretan bangku plastik warna biru yang dingin membeku, segala cerita berawal dan bermuara untuk terus berlalu dan berulang dalam siklus cerita setiap manusia. Dan, dari segala yang cerita yang tersaksikan, tak satupun mengerti persis tentang apa yang terasa, padahal semuanya hanya tentang rasa…

Mozes Kilangin Airport – Timika to Gambir 060805

Thursday, August 03, 2006

Pagi di tanah hitam

Membuka mata lagi pagi ini setelah waker menjerit jerit minta dikasihani, mata sembab oleh tangis semalam, hati pengab oleh mimpi buruk yang rajin datang memberi jawaban atas kebingungan logika yang tak henti bertanya tentang kejadian ciptaan para pendurhaka. Hawa dingin melilit tulang mengikat kaki menjadi enggan untuk melangkah menapaki tangga hari, merobek selembar lagi kalender tanpa angka. Tersisa puluhan kata kata, sisa obrolan bersama kesunyian semalam, seperti ratusan tahun silam, selalu tenggelam bersama berhentinya embun yang luruh di atap kamar.

Selamat pagi wahai tanah basah Papua, kuhirup lagi wangi lumpurmu yang menyeruak dari balik semak semak, menjadi bahan bakar seadanya bagi semangat yang tak lagi perkasa. Di tenggara matahari layu ditikam gerimis, sinarnya menjadi kelabu mempertontonkan gunung batu tak berpuncak; melulu berisi kabut tebal. Satwa hutan ceria menyambut terang, bercicit dan bernyanyi memanggil sang matahari yang kusut dipermainkan ketidak pastian musim.

Kaki lemah melangkah menjejak tanah, bersiap menjelajahi pagi dalam kehampaan rencana. Ikuti saja, ikuti saja setiap lembah dan medan di hadapan, tak peduli jurang atau entah tanjakan. Tak patut mengimpi tentang jalan setapak dengan rambu rambu penunjuk jalan, semua tersimpan dalam rahasia masa depan. Berikan yang terbaik bagi setiap inci kehidupan dalam perjalanan, tak perlu catatan maupun peta untuk sampai di tujuan. Anggap tujuan tak pernah ada, telah hilang ditelan separuh bumi yang runtuh jadi debu sejak satu setengah tahun silam. Biar saja badan telanjang sebab diri tak terdaftar dimanapun dimuka bumi. Identitas cuma kemewahan milik para pemegang tombol kehidupan, memainkan peran kekuasaan atas nama materi.

Gerimis yang menyapa ubun ubun mencoba menahan sesak dendam, memenjaranya agar tak berloncatan dari mulut berujud ludah maupun sumpah serapah tanpa tujuan. Semua dipendam, arloji di tangan kiri berhenti berdetak sejak puluhan tahun silam. Sebentar lagi mataharipun akan garang menikam, dan keringat membanjir membasahi tubuh pertanda energi terlontar ke udara entah bermakna entah sia sia. Seperti yang sudah sudah, hidup akan berjalan dalam hitungan musim yang tidak menentu, datang sesukanya dan menyuguhkan kecewa bagi siapa saja yang berharap terlalu banyak tentang datangnya kepastian dari ketidak pastian yang semestinya.

Di sini pagi bukanlah hari baru, ia adalah penjabaran dari ribuan hari berisi kesunyian dan kehampaan yang harus dijalani dengan setenghah hati yang robek robek dilumat kedurjanaan. Ia pun bukan awal dari lembar kosong bernama kisah sejarah, melainkan rutinitas berazas kewajiban, keharusan yang tak berisi dorongan hati. Entah akan berapa banyak lagi luka yang akan dipanen hari ini, entah berpa lusin tawa yang akan dipetik nanti. Biarlah saja, jalani saja kewajiban menjadi seorang manusia. Keberadaan disinipun telah kehilangan muara tumpahan, alamat pengabdian. Semua berjalan atas dasar siklus rutin semata, tanpa pola. Nilai perjuangan tak lagi memiliki makna apa lagi hakekat dari pengharapan. Manusia manusia buas berkeliling menengadah mengharapkan diri remuk jatuh ke tanah tak berdaya untuk diseret sepanjang perjalanan hidupnya yang dinamai takdir tanpa menimbang beban rasa.

Pagi di Papua, kerikil di tanah basah sepanjang jalan tetap tabah dalam eksistensi diri mereka. Mereka tak pernah mengharap menjadi sebongkah batu maupun segumpal lumpur, tetap menjalani kodratnya di hamparan jalan tambang. Menyembunyikan keluhan dan menjadikanya santapan bagi nafas, kehidupan fikiran dan bahkan mimpi yang sempat singgah malam nanti jika raga letih tergolek sendiri di di tempat yang sama; jauh, terpencil dan sendirian…

Kuala Kencana – Papua 060803

Wednesday, August 02, 2006

Indahnya pasifisme

Diam pasif, ternyata tidak selamanya mengandung makna bodoh ataupun kalah. Dalam sikap diam dan pasif kita lebih banyak memiliki kesempatan untuk mempelajari, memperhatikan dan menimbang untuk akhirnya membuat keputusan terhadap apa yang kita perhatikan dan pelajari. Sikap diam pasif juga bisa dijadikan wahana untuk mengukur seberapa bagus mutu dari orang lain yang menjadi subyek bersikap kita. Dengan diam orang tidak akan tahu apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui. Sikap diam seperti ini kadangkala mengundang orang untuk bicara banyak tentang kehebatan kehebatanya, keunggulan keunggulannya sekedar ingin menanamkan kesan secara subyektif bahwa dia berkualitas baik, mungkin lebih baik dari kita sendiri dalam anggapanya yang dangkal.

Kebalikan sikap ini adalah mengumbar segala macam cerita, pengalaman, filsafat yang itu itu saja tetapi dengan penerapan yang sangat miskin. Disinilah pepatah “Tong kosong nyaring bunyinya” itu berlaku, saudara. Orang yang menilai orang lain dari sisi luarnya saja, tentu akan dengan instant menilai bahwa orang ini hebat, kualitas unggul dsb karena perbedaan karakteristik, budaya, bahasa, dan segala macam tetek bengek label peradaban umat manusia di dunia. Banyak orang yang menganggap bahwa orang asing yang bukan dari lingkungan yang dikenalnya secara impulsif diartikan sebagai orang yang unggul dalam kualitas. Orang seperti ini akan dengan serta merta mau membuat keputusan yang menyangkut tentang keberlangsungan nasib dan hidupnya, menganggap menemukan orang hebat sebagai sandaran. Keputusan spontan yang hanya dilandasi penilaia dangkal terhadap kualitas orang asing semata beresiko membawa dampak panjang bernama penyesalan.

Saudara, mengukur kualitas manusia idealnya adalah dari kepekaan nuraninya yang tercermin dalam sikap, perilaku, tutur kata maupun tingkah keseharian dalam berinteraksi dengan mahluk hidup lainya. Cara orang memperlakukan sesama dan bagaimana menempatkan hormat dalam skala prioritas praktek interaksinya sangat jelas adalah refleksi dari bentuk kepribadian yang ditimbulkann oleh cara berfikir dan cara memandang orang tersebut terhadap tatanan kehidupan. Cara pandang dan berfikir, terbentuk oleh banyak sekali aspek pengamalan empiris emosional dan pengalaman spiritual yang diterjemahkan menjadi sikap mental. Usia yang menua bukan jaminan kematangan, juga pendidikan tidak mutlak menjadi galah pengukur. Kerendahan budi timbul oleh ketidak patuhan terhadap nuraninya sendiri, penggunaan hak ego yang melebihi kapasitas terhadap orang lain dan sebagainya. Sikap seperti ini sangat mudah dilihat dari orang orang yang punya kepribadian sebagai penguasa yang menganggap dengan keberadaan pribadinya dia merasa berhak dan harus memiliki porsi menguasai terhadap sesuatu dari kehidupan orang lain.

Pasifisme menuntun kita untuk dengan teliti menilai orang lain dari banyak sekali faktor, mulai dari bagaimana sikap dan tutur kata, yang akan berujung kepada bagaimana pola berfikir si empunya sikap itu. Sebab saudara, segala sesuatu adalah bermula dari fikiran, dan fikiran setiap individu memiliki karakternya sendiri sendiri yang diimplementasikan dalam menjalani kehidupan ditengah mahluk hidup dan mati lainya di muka bumi. Ketika kita berhadapan dengan orang yang samasekali tidak kita kenal, ada baiknya kita melepaskan kepercayaan tidak sepenuhnya, tetapi tetap menjunjung tinggi hormat dan penghargaan kita sebagai sesama manusia. Sebab sekali lagi, orangpun akan menilai kita dari bagaimana kita bersikap terhadapnya ketika masih sama sama asing. Dengan begitu saudara, sikap diam pasif justru lebih memberi peluang untuk menentukan pilihan yang tepat apabila suatu saat kita harus membuat keputusan apakah kita akan meneruskan bentuk hubungan (apapun bentuknya) dengan orang tersebut atau cukup berhenti disini karena kita tahu dari pendalaman si orang asing yang tiba tiba menyeruak masuk ke dalam kehidupan kita. Keputusan berhenti ini bisa kita ambil ketika sikap diam pasif kita mementerjemahkan dengan jitu bahwa menyekutukan diri dengan orang tersebut lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Orang yang sengaja mengabaikan perasaan orang lain dan mengatasnamakan pepentingan sendirilah yang patut kita pertimbangkan untuk membangun sebuah perhubungan.

Dan jika orang asing itu ternyata hanya manusia –maaf- brengsek (jenis ini banyak sekali dijumpai di kehidupan), maka hendaknya kita tetap konsisten menjaga sikap dan tutur kata kita, tanpa harus mengharap berlebih bahwa orang itu sesuai yang kita harap yakni barbudi luhur dan berhati nurani. Tinggal kita doakan saja semoga dilimpahi hidupnya di dunia dengan rahmat dan karuniaNya. Dan dari situ kita akan belajar betapa indahnya sikap diam pasif dalam mengenal orang baru dalam kehidupan kita…

Portacamp 38 Papua 060802
(Tertulis untuk NW – DDA)

Tuesday, August 01, 2006

Satu senja di tanah hitam

Hujan badai baru saja reda, pucuk pucuk cemara takluk menggigil dalam diamnya. Tanah basah, ranting ranting patah menghitung luka luka. Empat ekor burung beo melintas cepat diatas camp, memekik lalu menghilang di kegelapan rimba. Serombongan awan kelabu bergerombol berkejaran menghapus jejak mentari sore.

Pada mesin penyambung rasa, sepatah demi sepatah kata menguntai menjadi rantai yang mengikat rindu menimbun dalam kandungan membeban hampir tak tertahankan. Ditanah ini, menyusuri jejak kenangan yang membenalu dalam jiwa, mencoba mengeja satu demi satu maknanya, tersisa indah dan sekaligus perihnya. Darah belum mengering dan tawa belum lagi reda didalam sana, menggumpal mempertegas hitam putih hidup yang terlewati. Serombongan iblis muncul mengepung dari setiap balik semak, merampas tempat kosong dalam bilik jantung yang tak terawat karena ditinggal pergi pemiliknya.

Hawa hangat dari tanah seberang membelai wajah, mengabarkan tentang tempat tempat teduhan hati yang mengharap diri kembali kedalam kesempurnaan masa dimana dunia kehilangan pemiliknya dan menjadi medan makna yang sesungguhnya. Lekaslah pulang wahai hati yang merana, padamu telah kesediakan sebaskom air hangat cinta untuk membasuh segala letihmu setelah diperdaya fikiran durjana. Di pintu kedatangan akan kusambut hadirmu tanpa tari dan nyanyi nyanyi, hanya segunung rindu yang menyesakkan dadaku (ucapnya pada senja yang semakin menua).

Hati mulai merayu rayu meminta penebusan atas rindu yang memerihkan, sementara bilik ruang dan waktu kokoh menjadi penjara keleluasaan. Bahkan jikapun saatnya kelak diri bertolak, penjara lain lagi menanti, dengan mata mata bengis yang menjaganya, dengan kata kata perih yang akan menjadi imbalanya. Seperti layaknya mummi, tak ada masa depan dicetak dengan pasti. Hanya menjalani saja setiap utas usia dengan kenelangsaan yang membabi buta. Tempat ini sungguhlan bukan milik diri, juga tempat dimanapun dimuka bumi. Terpencil, jauh dan menyendiri menyadarkan diri bahwa kematianpun tidaklah cukup berarti ketika hidup telah kehilangan tempat pengabdian untuk aktualisasi diri. Jika bahkan sungaipun memiliki muara, pohonpun memiliki akar untuk alasan hidup, diri hanyalah menghirup dan menghembuskan nafas sepanjang hari dari pagi, siang, sore malam hingga bertemu pagi entah sampai kapan.

Senjapun luruh disela sela porta camp, diiring gemuruh mesih dan nyala lampu lampu listrik. Pohon pohon raksasa menyaksikan kehidupan berjalan, melupakan badai dan hujan dan terus setia menemani bumi berjalan dalam siklus ketidak menentuan. Malam sebentar lagi kan datang, sunyi dan gelap mengurung bumi melindapkan segala tingkah polah seharian penuh. Perenungan perenungan menjadi mantera pengundang iblis berkerumun dikepala mencacah harapan yang tersisa. Mereka tak jua mau pergi.

Porta camp 38 – Papua 060801

Sunday, July 30, 2006

... rembulan seujung kuku...

Rembulan seujung kuku menggantung ragu dilangit hitam, pucuk dahan pohon pohon raksasa di hutan lebat seperti menggapainya, mengajaknya turun ke bumi dan bercengkerama bersama satwa malam yang rajin menyenandungkan nyanyi pujian. Malam masih begini muda, rembulan condong ke barat tak sabar ingin beristirahat dibalik gegunung yang hanya tampak jadi bayangan. Di langit tinggi mendung berkejaran ke selatan, melintasi rembulan dan terkadang mengaburkan keberadaanya dari pandangan. Tak ada kerlip bintang yang menemani, sang bulan diam dalam kesendirianya, menjalani kodratnya dalam ruang yang itu itu juga mengitari bumi, berkembang dan membagi sinar redup kepada gelap yang tak lagi membutuhkan kehadiranya malam ini; lampu lampu merkuri telah mendurhakai sinarnya yang abadi.

Sepotong salam terkirimkan, menanyakan apa yang sedang bergumul dalam fikiran. Jarak yang jauh telah melahirkan rindu yang tak berhenti bergemuruh, mengundang pengandaian pengandaian yang meracuni kemustahilan dengan perlahan. Kepala dipenuhi oleh ilusi manis tentang kebersamaan, mengisi sisa hidup dengan kedamaian, menimbun bekas bekas luka yang menganga dengan cinta yang membanjiri setiap sudut ruangan rumah kecil di lereng bukit.

“Jangan kau pergi dari hidupku, jangan jauh jauh dariku, aku ingin kamu tetap ada didalam hatiku. Aku ingin meleburkan rindu yang membelenggu ini, mempersembahkan seluruh kasih sayangku yang terasa hanya padamu” ucapku pada selembar daun yang gugur dari luar pagar kompartmmentku, dan hanya angin beku yang mengangkutinya pergi kelangit, ke telinga sebelah hati nun jauh ditempatnya berada.

Satu dunia kehilangan kefanaanya terbentuk hanya dari ceceran demi ceceran kesia siaan masa lalu, mempertemukan dua debu di angkasa maya dalam ketidak mengertian arus nasib. Dan malam datang menyempurnakan kegundahan akan seribu satu pertanyaan tentang rasa yang menyelubungi kepalsuan yang harus dijalani sebagai bentuk tunggal dari kewajiban. Keterpaksaan telah melahirkan dunia baru yang tak kasat mata bagi pemandangan alam duniawi, rapi tersembunyi dalam bilik bathin dan perlahan kokoh menjadi raja pengisi kehampaan yang sempurna.

Perih terlalu lama menjadi pengisi tas pengalaman, diri letih sudah menggendongnya sendirian kesana kemari mengitari bumi. Perih yang menyemaikan keluhan demi keluhan yang memuakkan, pun masih berisi tangis dan kegilaan setiap kecutnya memelintir ingatan. Mencoba berhenti untuk tidak meladeni perihnya atau sekedar bungkam menyembunyikannya ternyata bukanlah perkara mudah. Segala daya kekuatan telah dihamburkan untuk menanggulangi setiap potong beling yang datang dan bebas meneracap kedalam jantung karatan. Diri tak kuasa melindungi kepentingan hati ketika iblis terus memburu sampai jauh kelorong setiap sudut mimpi sekalipun.

Inikah pengingkaran yang sering dibicarakan? Ataukah perlawanan atas nama kebahagiaan hakiki? Entahlah, saat ini aku hanya ingin menghamburkan kepalaku di pangkuanmu, mengadukan kekecewaanku dalam tangis panjang di hangat kasihmu, dengan jarimu rajin mencabuti potong demi potong beling yang menghiasi sekujur tubuhku…

“aku sayang kamu…” ucapmu mengantar tidurku, menjemput iblis yang siap menunggu di negeri bawah sadarku.

Porta camp – 38 Papua 060730

Friday, July 28, 2006

Jauh

Jarak yang mempertajam sunyi mengundang gerimis untuk memupuk cabang pohon kehidupan menjadi lebih kokoh dan ngrembuyung menerima terpaan matahari yang sesekali mempertontonkan diri. Romansa perjalanan menyeberangi pulau pulau, ribuan kota dan jutaan kampung lindap dalam keterasingan yang sempurna sudah.

Keterpencilan telah membuka ribuan pintu gerbang pada iblis yang menyerbu menjadi hama, menggerogoti fikiran dengan amarah tanpa tujuan dan dendam tanpa tuan. Berandai andai hanyalah mengalihkan fikiran terhadap kenyataan yang berlawan. Gerimis setia mengawal pagi, tanah basah penuh misteri. Kenangan buruk rajin datang menyambangi, ia datang menjadi pengisi udara menjadi penuh dengan suara bisik, gambar dan rasa tentang penyiksaan perasaan. Ribuan iblis yang rajin berpesta membawa letih tak terkira.

Mengharap matahari datang menuntun semangat, ketidak pastian datang sebagai jawaban. Khayalan menjadi pengobatnya, meski pada kenyataanya jiwa dikerdilkan oleh perilaku durjana yang datang begitu saja diluar segala perkiraan akal sehat dimasa lalu. Nyata sudah bahwa khayalan hanya mimpi indah semata; tentang sebuah rumah sederhana di lereng bukit dimana hidup hanya berisi cinta, penghargaan, penghormatan dan penghabisan akan sisa usia dalam dekapan damai.

Siapa kuasa mengendalikan datang dan perginya kenangan dan rombongan rasa yang menyertainya ketika hati masih berfungsi dan jaringan syaraf dalam otak masih bekerja? Ia menjadi bagian dari darah, daging, tulang dan aura yang melingkupi keberadaan diri, nun jauh terasing di perantauan. Dan ketika sepi menghimpit, keberadaanya menjadi nyata, perihnya makin terasa juga segala pikiran negative yang beranak pinak dalam ketersembunyian masa. Pincang semata yang ada menjalani nasib dengan setengah hati. Kematian yang diharap datang tak bertanda, entah dimana rimbanya.

Melepas harapan ke angkasapun tak banyak membantu ketika diri dikelilingi oleh budak budak kepentingan kapital yang pintar berfilsafat tentang hal hal basi semata. Mengikuti arus fikiran sungguhlah sesuatu yang mematikan kepentingan ego, menyembunyikanya rapat hingga kelak meledak menjadi satu batu patokan langkah pengukuh nilai tawar. Rupanya di dunia hidup juga orang orang yang hanya mampu memandang apa yang ada dalam dirinya, mengesampingkan kepentingan orang lain apalagi berusaha menyelami apa yang terasa oleh orang atas apa yang diucap maupun sikap yang dipertontonkan.

Ketika jarak tempuhan jauh, pengalaman merelief di dinding ingatan, sebagian hidup kembali membwa banjir darah masa silam. And those demons…I can only stop them from coming in if I could only stop my mind from thinking, and I can stop thinking when I stop breathing.

Porta camp mile 38 – Papua 060728

Saturday, July 22, 2006

Negeri di awan

Menyusuri jalan tanah berlapis kerakal sepanjang jalan menembus sejuk pagi di paru paru bumi. Pepohonan raksasa seperti berlarian mengejar matahari ke arah timur, mengikuti arus sungai Ajwa yang seperti tak berujung. Amole wahai Menok Menok yang terjumpai sepanjang pelintasan, mengusung mimpi dan harapan yang digali dari endapan sedimen sungai limbah. Kerakal berlompatan digilas roda kendaraan, menyingkir mempersilahkan lewat dengan cepat. Sejuk hawa rimba menyongsong disetiap sudut paru paru, mengabarkan tentang sebuah tempat tujuan, dimana langit hanya sejangkauan tangan. Jalan menukik 60 derajat seperti menuju ke langit, tempat peradaban lain lagi sedang terjadi, tempat para dewa saling membagi rezeki. Jarak pandang hanya selemparan batu, selebihnya adalah terkaan dibalik lembutnya kabut.

Selaksa kabut datang dan pergi menyelimuti bukit dan jurang jurang, terowongan Hannekam sepanjang 1050m menjadi gerbang dunia lain lagi dimana hawa dingin menusuk tulang menyambut. Berdiri ditepi jalan, menyaksikan tebing raksasa dengan puluhan air terjun menghiasi punggung batunya yang berkilau oleh cahaya matahari yang memberontak dari setiap celah awan mendung dan perkabutan. Inilah negeri di awan, kampung impian tempat segala keindahan alam bermuara.

Selepas check point 66 menuju tanah tinggi, ditepi sebuah kelokan di tubir jurang pandangan menebar menjelajahi pohon pohon purba yang hanya sering kita lihat pada gambar di kalender kelender. Inilah keajaiban, sisa kehidupan berjuta tahun silam. Bunga bunga biru, kuning dan putih bertebaran menghiasi sepanjang jalan, seperti menyambut mata siapapun yang mengerti akan arti keindahan alam. Diujung dahan, bunga bunga terompet berwarna krem mengayun ayun seperti menari dipermainkan angin sepoi. Gerimis mempertegas hadirnya kabut, memasuki terowongan kedua Zaagkam sepanjang 950 meter pada ketinggian 2486 di km 104.

Di kejauhan camp rainbow ridge berderet seperti gambar, menjadi tempat perlindungan dan sarang bersosialisasi bagi ratusan penghuninya. Disanalah pelangi berujung, melengkung mengitari separuh luas bumi. Di seberangnya, hidden valley menghampar setelah kabut tersingkap sejenak untuk datang kembali menyelimuti. Tempat ini, saudara, hanya secuil dari dunia yang tak pernah tertemui baik dalam mimpi mimpi maupun cerita romantisme remaja. Pucuk pucuk pohon kelelahan menahan usia, menjadi tebal oleh ganggang yang mungkin ratusan tahun telah menjadi teman setia; anggrek hutan dengan bunga kuning, hitam dan warna warninya.

Alam ini mengingatkan kepada sepenggal cerita Pramoedya tentang pulau Buru yang tandus dan berisi pokok pokok pohon purba. Manusia manusia sisa zaman batupun masih bermunculan dari balik semak semak sepanjang jalan menanjak, berkeliaran di alamnya sendiri dan mencoba berkenalan dengan kemajuan peradaban. Melewati Tembagapura, kota modern ditengah keterbelakangan penduduk Amungme, Menok berkeliaran disana sini. Suku Amungme yang mendominasi wilayah pegunungan ini, dan mereka ikut mengais emas dari sisa pembuangan tailing tambang. Konon, untuk yang mendulang persis di mulut pembuangan limbah, sehari mereka bisa mendapatkan beberapa ons emas jika beruntung! Dan tujuan hidup mereka sejauh ini baru untuk foya foya. Dan kehidupan para pendulang sepanjang sungai Ajwa dimana limbah dari proses konsentrat batuan untuk tembaga dan emas dibuang jauh ke laut lepas menjamur bak gold rush dalam cerita film film cowboy zaman baheula di Amerika. Meningitis-pun menggerayangi selaput otak para pendulang, meski demikian godaan uang dan dampak yang tak terasa langsung membuat mereka abaikan itu semua.

Tembagapura nan modern dengan kehidupan peradaban modern tertinggalkan dan jalan menikung mendaki serta basah terus dilalui. Air dingin mengalir disepanjang sisi kiri kanan jalan, oksigen mulai terasa tipis pada tempat dimana berton ton batu digiling setiap hari, disaring untuk didapatkan konsentrat tembaga dan emasnya. Mesin mesin raksasa menggemuruh tak berhenti, juga sky train yang menggantung hilir mudik diangkasa mengangkuti segala keperluan ke tempat yang lebih tinggi lagi; Grasberg dimana pada bulan September sampai November salju sering turun menyambangi tanah dataran tinggi Grasberg.

Disini, di ketinggian ini kerajaan antah berantah dibangun dalam ironi sosial bumi dan langit, begitu dekat tanpa bersentuhan demi satu kata yang sama; u-a-n-g.

Hidden valley – Tembagapura Papua, 060722

Friday, July 21, 2006

Jika Engkau Mati...

Jika engkau mati nanti air mata menghiasi raung kehilangan bukan perlambang dari cinta yang diceraikan kecuali kekecewaan atas kenyataan yang datang terlalu dini. Sekedar ekspresi mengasihani diri atas kekecewaan runtuhnya tiang harapan.

Kematian adalah hal yang pasti yang kita tanda tangani ketika pertama kita ada dan menghirup wangi udara bumi. Terbebas dari gelap rahim bunda, dengan benderang menjadi menyambutnya. Sekejap saja, lalu datang gelap lainya dan kita tidak akan kembali lagi.

Jika engkau mati nanti, coba cacah dalam ingatanmu orang orang yang mungkin akan meratapi pergimu; tak seorangpun tersenyum melihatmu terbebas dari kejenuhan akan kemunafikan dunia. Mereka seolah menganggapmu berarti, padahal hidup berjalan normal dalam hitungan hari setelah pergimu. Tak ada yang mengingatmu lagi sebab mereka tahu tak ada gunanya mengingat orang mati. Jadi bangkai, itu pasti.

Jika engkau mati nanti, berjalanlah tenang sebab kematian hanyalah siklus akhir dari kehidupan, berbanggalah bahwa engkau telah menyelesaikan peranmu dalam babak yang belum tentu engkau faham apa judul episodenya…

Jika engkau mati kelak, ucapkan salam terakhir kepada matahari yang tidak akan kau temui lagi sesudah ini…

Jika aku yang mati, maka tersenyumlah mengiringku sebab aku telah selesaikan kewajiban hidupku sebagai manusia…

Porta camp mile 38 – Papua 060721

Thursday, July 20, 2006

Pesan dari jauh...

Datang sebuah sms dari seorang terdekat yang menitipkan pesan:

"Postingin aja kalau aku sedang unavailable, berada jauh di bumi purba dimana langit hanya sejangkauan tangan. Dan membawa setiap orang dalam angan angan"


Empunya blog meminta bantuan untuk memberitahukan kepada semua teman teman blog bahwa ia sedang dalam tugas di Papua untuk beberapa saat. Dan disana belum memungkinkan untuk menemukan sambungan internet sehingga blognya agak terbengkalai. Tapi aku tahu, pasti dia juga merindukan teman teman semua disini. Dia sedang mencoba memperoleh kembali sisa sisa jejak kaki yang dulu pernah menjadi semangat hidupnya, yaitu mendedikasikan diri secara penuh untuk pekerjaan. Mohon doa dari teman teman semua semoga dia bisa kembali dengan selamat dan tentu saja membagi cerita indah dengan kalimat kalimatnya yang ajaib.

Salam dari Papua.

Titah dilaksanakan, pangeran...Come home soon.

Sunday, July 16, 2006

Perjalanan ke tanah hitam

Pada tiga perempat usia hidupnya dan entah untuk berapa ratus kali lagi akhirnya dia harus bersiap untuk melangkah pergi. Kali ini ke tanah hitam yang bahkan tak pernah singgah dalam mimpinya. Suatu kali dahulu, seorang teman pernah menginjak tanah bumi itu dan bercerita sebagai sebuah tempat di ujung dunia, dimana langit hanya dalam jangkauan tangan. Bahkan si teman tidak punya kata kata untuk menggambarkan keindahannya.

Langkahnya kali ini gamang. Tak lagi berisi tekad dan antusias lelaki yang haus akan penjelajahan hal hal baru dan belajar sambil mengabdikan diri kepada kehidupan. Bahkan keyakinanya menjadi abu abu ketika ketidak pastian demi ketidak pastian ditelannya mentah dan sebagian membuatnya muntah. Dikenangnya kisah kisah perjalanan, tempat tempat persinggahan dan kemewahan pribadi berupa kesendirian sepanjang perjalananya dulu. Ia rindu pada semangat mudanya yang hangus dan belum tergantikan dengan tunas yang baru.

Ikat pinggang pemberian menjadi bekal penguat semangat, dan doa restu bunda menjadi belati pengawal bagi keselamatan. Namun toh pintu pintu kemungkinan tetap dipelihara dengan layak, bahkan yang paling mengenaskan sekalipun keadaanya; siapa tahu justru itu yang dipilih kehidupan masa depan untuk lorong perjalanan. Setiap pergi sama saja dengan membawa kemungkinan kemungkinan baru ketika nanti kembali; mungkin tidak utuh lagi, mungkin tak bernyawa lagi, atau bahkan mungkin menjadi manusia dengan pemahaman hidup yang lebih kaya dari sebelumnya. Semua hanyalah teka teki hari depan, tak patut dijawab sekarang.

Perjalanan kali ini tak dibawanya keranjang harapan seperti yang sudah sudah. Akan ia bawa beban dan barangkali buah pengalaman semampu pundak dan tangannya merengkuhnya nanti. Inipun sekedar menjalani kewajiban hidup manusia untuk menjadi manusia, melihat dan merasakan hal baru untuk disimpan dalam lemari pengalaman, disimpan menjadi resep kue kehidupan. Ia tidak akan kaget dengan rasa sakit yang barangkali nanti ia akan terima di tanah perantuanya yang jauh dan sendirian. Ia telah mengalaminya beratus tahun tanpa catatan untuk hal yang satu itu, kecuali kebanggaan diri bahwa ia menempuh lebih jauh karena berjalan sendirian.

Maka esok, ketika mataharipun masih berselimutan embun dan gelap masih rajin mengurung, ia akan berangkat dengan langkahnya yang pertama, meninggalkan pagar rumah kontarkannya menuju negeri hitam yang kabarnya diamuk api. Tas punggungnya berisi pengalaman, dan tatapan matanya berusaha menyingkirkan gelap harapan. Ia melangkah terus melangkah dalam menapaki udara dan mengayunkan kaki ke depan. Entah apa yang dirasakan, yang pasti tak banyak yang ia harapkan dari perjalanannya kali ini, kecuali menjalani kewajiban.

Angin dari tepi kota akan membawanya pergi pagi ini, jauh ke ujung bumi tempat dimana langit hanya sebatas jangkauan tangan, suatu saat iapun akan kembali lagi, kerumah kontarkan istana sonyaruri.
Entah hidup entah mati…

Gempol, 060715

Saturday, July 15, 2006

Klepto

Kaum (?) klepto barangkali ada sejak pertama peradaban manusia terciptakan, ialah mereka atau sesiapapun yang secara genetik maupun akhlak memiliki kecenderungan untuk menguasai hak milik orang lain dengan cara rahasia maupun terbuka.

Pada kelas yang rendah klepto sering disebut dengan julukan maling, pencuri, rampok, begal, copet, kutil dan sebagainya. Sedangkan pada level klepto yang lebih elegan orang sering menyebutnya sebagai koruptor, penggelapan, penipuan dan lain sebagainya. Intinya sama saja; mencuri atau mengambil atau menguasai hak orang lain tanpa seijin yang punya. Zaman yang lebih canggih lagi, maling di dunia maya disebut sebagai hacker dan memiliki klasifikasi sendiri dalam kejahatan maya atau cyber crime. Sedangkan kejahatan jalanan seprti maling ayam, maling jemuran, copet dan sebangsanya masuk kedalam klasifikasi kejahatan konvensional. Hukuman yang paling mengena tentunya adalah keroyokan massa, hakim di TKP, dengan sangsi babak belur atau bahkan mati ditempat; sebanding dengan nilai jual benda obyek kejahatanya; ayam dan jemuran. Kejahatan seperti ini (kejahatan-catat!) dalam dunia hukum lebih lazim disebut sebagai ‘pencurian’, sedangkan kualitas pelaksanaannya menentukan predikat nantinya, apakah pencurian biasa, pencurian dengan pemberatan, atau pencurian dengan kekerasan.

Obyek yang dicuripun tentu beragam, dari yang bertujuan material maupun yang bersifat pencurian informasi. Ketika seorang hacker mengacak acak isi mailbox e-mail, maka yang ia butuhkan hanyalah informasi dari lalulintas komunikasi e-mail si empunya account. Sedangkan pada tingkat yang lebih canggih, hacker kakap (maling kelas kakap) bisa mempergunakan informasi yang dicuri dari ID si korban untuk tujuan ekonomi, material.

Ketika infomasi yang bersifat pribadi diakses dengan seenaknya oleh si hacker, yang tercuri adalah privacy. Privacy yang hilang dicuri menyebabkan korban merugi secara moral, merasa seseorang dengan tanpa hak telah masuk mendobrak kedalam lemari simpananya, mendobrak gembok password dan membiarkanya teronggok tak bisa di akses lagi bahkan oleh si empunya account. Menjadi korban selamanya hanya berisi ketidak enakan. Berisi kegondokan, bahkan amarah yang terpendam. Pikiran yang pertama muncul ketika kita menjadi korban dari pencurian adalah tentunya apa yang telah hilang dicuri, kemudian menentukan kemungkinan kemungkinan siapa pelakunya lalu mengikuti motif apa yang menyebabkan si panjang tangan melakukan itu dan memilih kita sebagai korban. Dari sekian banyak rentetan itu kemudian akan muncul solusi pemecahan, berharap hal serupa tidak terjadi dikemudian hari.

Sikap reaksi dari si korban ketika sadar telah menjadi korban kehebatan (atau kerendahan budi?) si klepto adalah hal yang menarik untuk dibicarakan. Bahkan sebagian orang dengan legowo menerima saja apapun perlakuan orang terhadapnya, meskipun telah memilihnya menjadi korban. Orang yang seperti ini tentu bukan pertama kali mengalami menjadi korban, malah jangan jangan pernah kehilangan nilai yang lebih besar lagi yaitu kebanggaan diri atau mungkin martabat karena pencurian juga. Orang seperti ini telah mengalami satu kehilangan yang sesunguhnya, sebuah nilai yang tak tampak dari pandangan mata. Jadi segala sesuatu yang bersifat kepemilikanpun menjadi ikut hambar dari nafsu posesif. Berharap orang untuk tidak melakukan praktek permalingan apalagi memilih diri kita sebagai korban sama halnya dengan menjaring asap di udara. Ajaran budi pekerti maupun dogma hanyalah anjuran. Bahkan peraturan dan undang undang yang memiliki kekuatan memaksa sekalipun bisa diabaikan sedemikian rupa, dipermainkan sesuai ketrampilan berargumentasi.

Suka ataupun tidak, orang jahat memang ada dan hidup diantara kita, di lingkungan kita, membaur menjadi warna dari peradaban manusia di muka bumi. Dalam terminologi yang lebih halus ‘orang jahat’ banyak dinamakan sebagai orang yang kurang kesadaran. Mereka yang dengan sadar hati mentahbiskan diri sebagai kaum klepto, barangkali juga harus bergelut dulu dengan nurani sebelum kepintaran logika mampu mengalahkanya, menganggap bahwa perbuatanya tidak akan pernah ketahuan, dan kalaupun ketahuan tidak perlu sulit untuk menyangkalnya dengan kata kata. Kekurang sadaran akan pentingnya menjaga orang lain seperti halnya kita ingin juga diperlakukan sama oleh orang lain menyebabkan orang dengan mudah melaksanakan prinsip prinsip klepto atau permalingan.

Jadi benar kata bang Napi, bahwa kejahatan terjadi atas kombinasi tiga unsur penunjang; niat, kesempatan, dan kemampuan. Maka….Waspadalah….Waspadalah…!!!

(Khusus kepada hacker yang mengacak acak mailboxku, semoga rahmat dan karunia Tuhan selalu tercurah kepada saudara, semoga dimuliakan hidup saudara dan juga orang orang yang saudara sayangi. Amin)


Gempol, ketika hacker mengobrak abrik mailbox email 060710

Friday, July 14, 2006

Bulan di atas empang

Bayangan rembulan mengambang diatas empang, bimbang diayun ayunkan oleh riak kecil pada permukaan air. Angin Selasa malam gelisah mencari persembunyianya, mengoyak ngoyak pucuk daun pisang yang baru menikmati aroma dunia. Di barat daya satu cahaya kecil berkerlip ragu, kata orang itu namanya bintang. Mungkin arwah dari seorang ksatria yang terperangkap di langit hampa. Ia begitu dekat bersama bulan ketika malam sempurna dandanannya. Saat itulah kesadaran datang, bahwa hidup telah dipersatukan hanya dengan selembar kertas usang dan sekaligus merusaknya.

Dunia berputar semakin cepat, tinggal diri berpegangan di gagang daun siapa tahu menjadi bagian dari cerita isinya. Diri harus tetap berdiri sebab jika jatuh akan menimpa mereka yang terlanjur mentahbiskan diri sebagai gantungan kunci, penghias kehidupan mewah milik pribadi. Sesuatu telah mengubah segalanya, dan orang tidak akan tahu apa yang orang lain tahu dan tidak tahu. Kebenaranpun menjadi absurd ditepi empang pada Selasa malam.

Rahasia semestinya tak dibicarakan bahkan kepada angin dan bayangan bulan. Permainan baru dilakonkan, dengan peran sebagai si bodoh yang harus melampaui kemampuan sendiri. Ditepi empang ini hidup tak terasa sebagai ajang rebutan antara kepentingan ingin dan tidak ingin, melainkan untaian waktu yang merubah banyak hal dengan caranya yang ekstrim. Cinta tak bisa dikhianati seperti juga laut, pohon, ataupun misteri lainya. Tetapi dunia dipenuhi dengan orang orang yang berpura pura cacat mental dan bepura pura jadi pelacur menjadi sampah sampah penting yang psikotis, eksotis, dan gelap. Seseorang harus menangisinya…

Sekali lagi angin yang itu itu juga mengusap tatapan mata, empang kumuh menjadi lautan dimana puri putih menjulang ditepi bukit dengan bebungaan yang menghampar menghiasai setiap celah dan lerengnya. Duduk ditepianya dan bulan makin pucat merayap ke barat. Memang demikianlah bumi bernafas sejak jaman paleolitik. Diluar lingkaran empang, orang orang aneh hidup dengan keanehan yang dijadikan kebiasaan. Mereka yang egonya hancur tertimpa ego yang lebih besar lagi. Demikianlah manusian, selamanyapun hanyalah permainan dari teori ego dimana semua berakhir ketika kematian indah datang pada kehidupan yang buruk. Disana burung burung menatap layar lalu jatuh ke bumi, menjelempah mati.

Aroma sampah menyapa pernafasan, mengantar langkah menuju kontrakan dimana kehampaan lain lagi tak terbacakan…Selembar kesan tertempel di dahi tanpa menutup pandangan, bahwa hidup tetaplah yang terbaik untuk didapatkan. Didalamnya berisi kejutan, keajaiban dan keindahan.
(...seekor ikan mati mengapung dalam kepungan remang malam ketika seekor kelelawar terbang melintas cepat diatas bangkainya...)
Season by season, creature by creature, miracle by miracle the epic journey continues…

Dari tepi empang Gempol, pada awal July 2006

Tuesday, July 11, 2006

Tentang Hikmah

Benarkah hidup hanyalah permainan dimensi ruang dan juga waktu? Bahwa setiap kejadian dan peristiwa memiliki medianya sendiri sendiri supaya bisa dengan mudah terbawa dalam ingatan, dalam kehidupan sehari hari. Sebagian terpelihara sebagai sebuah dunia yang hidup terus menerus bagaikan nikotin yang menjadi enzim resmi bagi darah dalam tubuh. Sebagian lagi membandul menjadi batu kenangan yang harus dibawa bawa kesana kemari di punggung sebagai beban resmi sepanjang perjalanan.

Idealnya tujuan hidup adalah untuk melayani orang lain, mengabdikan diri bagi kehidupan orang lain dengan ataupun tanpa imbalan. Bahwa untuk menjadi seperti itu orang tidaklah perlu menjadi sempurna sebab memang tidak ada manusia yang sempurna dimuka bumi. Kesempatan kadang datang tanpa sengaja, datang pada ruang dan waktu yang tepat meskipun tak terencanakan dengan matang sebelumnya. Tetapi titik pangkal dari semua kejadian, peristiwa, sejarah masa lalu bahkan kejadian yang akan datang di masa depan adalah konskwensi dari keputusan yang kita ambil pada saat ini. Kadang kita memutuskan untuk diam jadi penonton dengan bermacam pertimbangan, sedangkan pada situasi lain kita terpanggil untuk menjadi pelakon, menciptakan sejarah dan mengukir peristiwa yang barangkali akan menjadi catatan bagi bathin beberapa orang, terutama diri sendiri.

Setiap keping sejarah diri adalah pantas untuk direnungkan untuk kemudian di definisikan ulang barangkali hikmah yang digembar gemborkan oleh sang bijak datang pada saat perenungan itu. Hikmah selamanya memiliki standar ganda, sebagai pengobat perih dari kejadian yang pernah terlewati, apalagi jika itu adalah kejadian buruk. Hmmh…hikmah, tak lebih dari pengobat kekecewaan hati ketika diri merasa terpojok kemudian harus terseok meneruskan langkah kisah. Hikmah memaksa hati untuk menerima apapun yang telah diterima, berkompromi dengan keadaan apapun yang terjadi di pendalaman dunia angan angan. Hikmah menjadi obat mujarab pembasmi gulma kebahagiaan bernama protes atas sakit hati. Dengan hikmah, maka semua pantas untuk diterima dan diberi ganjaran yang seimbang dalam ukuran yang sangat abstrak.

Mengharap setiap hal berjalan baik dan menyandarkan tiang kebahagiaan pada rapuh jawaban atas harap sama dengan membangun pondasi untuk kekecewaan atas harap itu sendiri. Semakin tinggi benteng keyakinan dibangun untuk menggapai harapan, semakin tinggi pula jarak jatuh ketika harapan hanya menampar ruang hampa. Bergedebam menyisakan lebam dan memar memar bagi jiwa, bahkan terkadang bisa mematahkan arang hati. Kejadian buruk bisa timbul dari orang lain berakhlak buruk, bisa juga berasal dari penetapan standar atas keinginan pribadi. Kita terkadang agak lalai bahwa semakin kita ingin mengontrol dunia di luar kita, maka semakin jauh kemampuan kontrol kita terhadap hati dan logika sendiri. Semua dihamburkan begitu saja kepada ketidak pastian masa depan.

Walhasil, hikmah adalah jawaban baku atas apapun yang terjadi. Pasti ada hikmah dibalik anu, ini dan itu. Perwujudan hikmah itu sendiri dicari cari sedemikian rupa, dihubung hubungkan kesana kemari bahkan terkadang dipaksakan ketika proses pencernaan hikmah kurang pas mengena. Hikmah adalah benteng kukuh supaya apapun tak perlu dicari jawabanya kenapa bisa terjadi dan sebagainya. Sebuah kehidupan (apapun bentuknya) dari sebuah kehancuran atau bencana dianggap sebagai hidup baru, sebagai hikmah dari bencana yang baru berlalu. Bahkan keinginan untuk hidup sederhana, hidup dengan kehidupan wajar dianggap sebagai suatu yang istimewa ketika kaki kiri telah berada separuh di tubir jurang; padahal selamanya hidup tidaklah ada yang disebut hidup wajar sebab kewajaran hidup adalah misteri kehidupan itu sendiri, yang tak terpecahkan hanya dengan perkiraan maupun harapan. Hanya waktu yang menyimpan kunci atas gudang jawaban. Yang ada hanyalah hidup. Titik!

Gempol, 060708

Monday, July 10, 2006

My Solitary

Kupunguti kepingan gelisah yang menghambur berlompatan dari matamu yang berkilauan ketika cahaya hari baru melewati kulminasi. Ketidak mengertian tujuan perjalanan mengantarkan begitu banyak kecemasan dan kutampung di pundi pundi ketidak mungkinan yang kupersiapkan sejak berangkat bersama melenyapnya sejuk embun ditimpas matahari pagi tadi. Kejujuran atas beban rasa terpersembahkan sebagai bingkisan, tanpa berharap apapun atas apapun dari semuanya. Membiarkan semua mengalir seperti biasanya ketika diri kehilangan kemampuan untuk menolak apalagi menghentikan apapun yang datang dari delapan penjuru angin. Datanglah semua sesukamu wahai kejadian, ombang ambingkan dan permainkan semampumu emosiku. Engkaupun tahu, aku telah lumpuh layu untuk sekedar memprotes, dan menerima dengan kekuatan adalah perlawanan terakhirku.

Maka bagikupun ini hanya angin musim yang membawaku; tubuh sebutir debu ini terbang lenyap diantara kerlip bintang dan samudera langit. Seperti juga telah kupasrahkan keseluruhan sosokku pada semesta. Aku terlalu kecil untuk engkau pandang dari tempatmu yang megah. Bukankah inipun Supernova biasa yang terjadi hampir setiap hari di planet tak bertuan? Disinilah tempatku, ujung mega yang berjalan pelan tanpa tahu arah tujuan, dengan kaki menjuntai aku tatapi saja kejadian yang berlarian bagaikan penghiburan dari identitas diri yang nisbiah.

Hey…jangan tangisi, sebab aku akan selalu ada dibalik setiap gelap yang engkau tatap. Aku ada disana tanpa pintu dan jendela, diam menatap setiap kejadian dan menterjemahkan suara tawa yang lewat ditelinga sebagai kebahagiaan yang meledak. Aku tak lebih dari benda pasif yang tak mengerti harus berbuat apa ketika apapun harus terjadi dalam pengalaman, dan pada saat yang sama ketidak berdayaan itu menciptakan aku sebagai mahluk keji yang pintar melukai, mencacah dua hati pada detik yang bersamaan. Dua hati? Bukankah ribuan jumlahnya? Ya, berapapun jumlahnya tak terhitung tergantung dari siapapun yang berkehendak menitipkan predikat bersalah sebagai milikku yang sesungguhnya. Bagi kemuliaan hidup orang orang yang berhati mulia aku hanyalah monster mengerikan di peradaban. Maka jangan cemaskan, sebab kegelapan akan sempurna menjadi sinar bagi dunia lamaku. Tak ada kehidupan yang baru, sebab yang baru adalah ketika bunda melahirkanku dengan bekal nyawa segalanya untuk perjalananku.

Lalu aku minta maaf kepada kehidupan kalau adaku hanya menjadi jelmaan dari sebilah pedang ditangan si buta. Maafkan aku atas ketidak bisaanku menjadi malaikat harapanmu, wahai hati . Sungguh semestinya aku tak mengharap diri menjadi sesuatu yang meneduhkan, apalagi menjadi berarti sesuatu bagi siapapun. Entah nanti, entah kapan…




Cubicle, 060705

Thursday, June 29, 2006

Mabok kematian

Atas nama luka ia pasrahkan hidupnya pada kematian, tangan terbuka menunggu malaikat datang tunaikan tugasnya, agar pupus satu kisah tentang manusia. Jika benar bahwa harapan membuat orang bertahan hidup, Dia menerimanya sebagai cara yang layak untuk menjemput sang maut. Ia telah menjadi tawanan nasib yang membanting dan menghempaskanya tanpa kendali, membuat syaraf motoriknya mati. Ia menggelinding saja mengikuti arus kewajiban serta meniadakan perlawanan apalagi pemberontakan. Diterimanya semua dengan hati tak rela.

Ia menggelandang dari bayangan demi bayangan, dari kabut ke kabut yang disangka menenteramkanya. Dilarungnya segala benda kepemilikanya ke kawah keputus asaan, lebur jadi asap lalu terbang tak bersisa dilangit raya. Jika air mata yang tumpah melambangkan hati yang terkoyak dan patah, suatu kali ia adalah muatan awan yang sempat diminta bintang untuk singgah, sekedar menyirami kebun strawberry dan ladang anggrek. Lalu ia ditendang jatuh, mukanya membentur lantai es yang kaku. Maka tumpahlah pula segala luka baru jiwanya, menghambur ke bumi menjadi butiran hujan; berkah bagi kehidupan yang melata di tepi kematian.

Dia menyerahkan diri kepada ketidak pastian masa. Dilaluinya hari dengan serpihan kaca disekujur nadinya, berjalan gontai kehilangan delapan mata angin penuntunnya. Ia hanya mencari kematian dari satu titik ke titik lainya. Tak satupun rumah yang disinggahinya menganggapnya pantas untuk menjadi penghuni, sedangkan miliknya sendiri telah amblas ditelan sejarah badai hujan yang hitam. Dikuburnya mimpi yang menjelma menjadi batu kenangan, dibawanya kesana kemari sebagai beban sepanjang perjalanan ragunya. Telah dipilihnya kekalahan menjadi teman sejati tanpa ikatan janji. Toh dia hanya menjalani jalan setapak kehidupan dengan langkah kedepan yang hanya menginjak udara. Kosong tanpa rasa.

Dipeliharanya mimpi dikepala, tentang sebuah kematian indah dimana hanya alam yang menyaksikan ketika jiwanya lepas dari belenggu konskwensi. Kematian yang ia persembahkan bagi pengabdian terhadap hidup. Perlahan disadarinya, harapan hanyalah fatamorgana yang memprovokasi hati untuk takut kehilangan hidup. Dia sadar bahwa dia tidak punya kontrol apa apa terhadap wujud masa lalu maupun transformasi masa depan. Dibuangnya jauh jauh segala bentuk kebanggaan, ia terima tawaran dari nurani untuk beternak domba di kandang srigala. Dia teruslah berjalan, mencari kesempatan dimana malaikat merencanakan kematiannya meski pencarianya membetur dinding dinding buntu, sebuntu harapanya.


Gempol, dibawah kerlip Orion 060627

Tuesday, June 27, 2006

Kepalsuan yang palsu

Jika tiba saatnya ia memilih diam sebagai sebuah percakapan, yang menjabarkan begitu banyak kemungkinan yang tak tertebak, menyembunyikan ketidak tahuan bahkan hal hal yang diketahui sekalipun. Dia juga menyempurnakan kepura puraan, membuat sikap menjadi pasif.

Dipalsukanya kepalsuan hingga kerap menjelma menjadi kebenaran. Bahkan gerak tubuh dan tarikan nafasnya hanyalah seutas kewajiban yang menyatu dengan udara dari angkasa mana sana. Jubah kebajikan dipersembahkan sebagai seragam, menyembunyikan badai yang terkandung pada setiap ayunan jarum arloji. Separuh jalan yang amblas telah hancur menjadi lumpur, menghambur menyusuri lereng curam hingga nanti kering didasar jurang dan lalu mentransformasikan diri menjadi butiran debu yang kelak akan meliuk dipecundangi angin.

Dikira gampang meluruskan kaki pincang, letihlah yang datang menjadi jawaban. Ciuman mentari meredam amukan gundah gulana membawa kabar tentang langit berisi bunga, satu satunya di galaksi. Cerita tentang kabut dan asap yang saling berbicara, tentang mimpi dan mimpi yang saling bertemu telah menyempurnakan tampilan sang palsu. Melambari telapak kaki yang hancur tertusuk batuan dengan sandal fantasi berlogo cinta. Tubuh seolah menari dilantai mega mega, dengan irama angin meniupkan wangi sorga. Bersama sebentuk bintang, bersetubuh menghayati alam memanjakan keinginan hingga lupa diri juga lupa ingatan.

Selayang udara hangat melintas diam diam, lembutnya yang menyentuh kulit membangkitkan kehidupan pada pori pori membuat darah menagih untuk dijelajahi senti demi senti setiap bidang tubuh. Iapun melebur malam menjadi imajinasi, bercerita tentang dunia tak tersentuh angan angan, apalagi cerita kepalsuan. Sang Cupidon sibuk merentangkan busur panahnya, meluncurkan kata kata yang bergedebam melentingkanya kelangit tinggi, membuatnya mati mati. Nafas mereka menyatu, meniadakan dimensi ruang dan waktu yang membentengi rindu, menayangkan drama animasi terbaik abad ini. Ia menjadi bayi, tergolek tak berdaya tanpa jubahnya, ditelanjangi lembar demi lembar piranti kepalsuanya. Ia rasa ia menjadi dirinya sendiri, hidup diantara debu dan udara alam nyata.

Hingga tiba saatnya dia akan kembali, bertemu pagi dan seribu satu urusan duniawi, kepalsuan demi kepalsuan lain lagi. Kepalsuan belaka yang menyebabkan pagi dianggap sebagai hari baru, dimana segala bebas dimulai bak ladang harapan yang minta ditanami. Tak sadar isi dunia hanyalah kehausan akan keinginan dan kelaparan akan ketidak inginan, dengan peraturan pertaruran yang dibuat sedemikian rupa sebagai juklak pelaksanaan. Batasan demi batasan dibuat dengan azas ambigius demi celah pembelaan. Ah, betapa tua dunia bahkan ketika tak disadari bahwa sekarang tak perlu ada api untuk memunculkan asap. Keajaiban menjadi hal biasa, keluar biasaan menjadi budaya yang dimaklumi begitu saja pun tanpa alasan apapun. Garis antara palsu dan nyata menjadi kabur oleh pijakan kaki kaki kotor para pejalan, dan kepalsuan perlahan menjelma jadi kebenaran.


(Aku ingin menjadi bayi raksasamu malam ini,
tenggelam dalam lautan damai pelukanmu.
Ciumlah aku,
hapuslah resahku dengan belaianmu,
angkuti bergunung gunung rindu yang menimbun dengan lembut bisikanmu,
rindu yang kutanggungkan ratusan tahun sendirian.
Ah, kamu terlalu indah, sonyaruri…)


Gempol, 060624

Monday, June 26, 2006

Nafas Alam

(Tentang Rindu)
Ingin sambil mentap matamu kelak jika ruh kita menyatu mengalirkan jutaan ton tabungan rindu yang tak pernah bisa terjabarkan dengan kata kata. Nafas yang menyatu meniadakan jarak dan waktu yang telah semena mena mempermainkan rasa. Segala beban lenyap tak tersisa hanya oleh pelukan yang pertama.

Udara membawa muatan yang kita punguti sepanjang jalan bercampur baur menjadi satu, saling memilin kisah betapa jauhnya jarak tempuhan untuk sekedar sampai di dermaga pertemuan. Darah yang menggerakkan nadi berlarian kencang kesana kemari, membentur dinding jantung dan kebingungan mencari jendela untuk meloncat dari bangunan tubuh, berlarian kencang mengusung di sirkit syaraf, membuncah menguapkan ubun ubun.

Dengan tubuh telanjang dari aneka kepalsuan, rindu menjadi selimut penghangat kebersamaan. Setiap gerak melahirkan sentuhan, menjadi benturan dua godam dalam kecepatan. Seribu ciuman disekujur badan merubah daki menjadi cairan manis dengan rasa rindu. Sunyi, tak ada polusi suara di telinga sebab hanya rintihan hati menahan beban rindu yang menjepit sepanjang jalan. Ri rindu, si raja lalim yang kejam telah dengan licik melabur indah dengan keperihan.

Kita menuju ke perjalanan lain lagi, penjelajahan atas ngarai dan sungai, melewati hutan belantara, mendaki bebukitan dan mencari apa yang tidak ada tanpa berharap menemukan. Otak seolah merekam setiap detail yang telah di perbesar dan perjelas, lengkap dengan warna, bau rasa dan suhunya. Logika tetap terpelihara untuk mengkonfirmasi bahwa kejadian ini benar adanya, bukan sekedar mimpi siang hari yang membuat terjaga dengan hati kecewa. Menelusuri inci demi inci keajaiban sang hidup, membacai setiap goresan tinta masa lalu yang membuat kita menjadi ada.

Nafas alam penebus hutang rindu yang menggunung tak tertanggungkan, ekspresi tertinggi dari bahasa perasaan dua angan yang saling bertautan. Sebuah rasa yang tak pernah terjabarkan dengan kata kata tinggal menjadi misteri sebagai propaganda sang alam. Ia adalah persetubuhan dua ruh yang saling mendambakan keindahan tanpa bentuk…


Gempol, 060625

Wednesday, June 21, 2006

Anak

Anak sebagai wahyu, titipan sekaligus amanah selayaknya memiliki tempat tinggi dalam kehidupan keluarga maupun dalam komunitas sosial. Eksploitasi terhadap kelemahan dan ketidak mengertian anak terhadap tetek bengek kehidupan adalah sesuatu yang sungguh keji. Setiap orang dewasa pasti pernah memiliki masa kanak kanak, tetapi sayangnya banyak orang dewasa pura pura lupa bagaimana menjadi anak anak dengan kemampuan menganalisa dan pengertian terhadap pengalaman yang baru sedikit. Orang tua yang melakukan kekerasan fisik terhadap anak jelas mengidap penyakit mental, kelainan nurani yang kronis. Tindakan itu juga sebenarnya menciptakan dunia kekerasan berlipat ganda bagi kehidupan si anak itu sendiri. Dengan dalih apapun, kekerasan terhadap anak bukanlah cara bijak membentuk masa depanya. Bukankah masa kanak kanak adalah penopang kedewasaanya kelak?

Orang tua yang merasa lebih berpengalaman dan lebih tahu tentang segala hal juga terkadang memanfaatkan situasi itu dengan sangat picik. Perceraian, adalah contoh paling gampang kita temukan dimana kepentingan si anak tidak mendapatkan posisi yang semestinya; sebagai dasar dari setiap pertimbangan pengambilan keputusan. Selamanya perceraian adalah cara ekstrim penonjolan egoisme suami istri, yang memunafiki fungsi sosial sebagai induk psikologis maupun biologis dari sang anak. Ketika perceraian terjadi, otomatis anak anak secara psikologis akan kehilangan sebelah kaki. Dia akan berjalan pincang menjalani hari harinya kedepan dengan rasa kehilangan. Dalam hal ini, anak tidak diberikan hak pilihan. Orang tua semacam ini hanya berfikir tentang diri mereka sendiri, dan memandang anak sebagai tanggung jawab materi. Dan perceraian hanyalah kekerasan psikis terhadap anak semata. Selamanya, kekerasan dilakukan oleh siapapun yang lebih kuat terhadap siapapun yang lebih lemah.

Seyogianya, anak memiliki kedudukan tertinggi dalam rumah tangga. Resolusi atas konflik yang terjadi seharusnya mengedepankan kepentingan sang anak karena menjadi orang tua berarti juga mengambil konskwensi sebagai penanggung jawab kehidupan sang anak. Anak anak hanya tahu mencintai dan dicintai, mereka tidak punya kepentingan lebih tinggi selain belajar tentang segala hal dari apa yang dialami dan dijalaninya. Tidaklah sulit menempatkan anak sebagai malaikat penyelamat, jimat penguat dan sahabat karib bagi si orang tua selama kepentingan anak menjadi prioritas utama. Penempatan anak pada posisi mulia seperti itu juga menjadikan orang tua memiliki mercu suar perilaku dengan selalu memperhitungkan dampak terburuk terhadap si anak ketika mengambil sebuah sikap.

Orang tua adalah guru kehidupan, cermin panutan bagi anak. Orang tua yang buruk akan menciptakan generasi yang buruk dimasa depan, dan sebuah kehidupan dunia yang suram telah menjadi janji untuk ditepati di kemudian hari. Menjadikan anak ‘pangeran’ ataupun ‘puteri’ dalam keluarga akan memberinya motivasi untuk mencintai hidup, mencintai sesama dan kehidupan. Pengajaran yang benar tentang toleransi dan rasa hormat terhadap mahluk hidup akan menciptakan pribadi pribadi yang peduli terhadap isi bumi. Sikap orang dewasa kepada anak anak, adalah cermin kedewasaan yang sesungguhnya.

(tulisan ini sebagai ekspresi keprihatinan terhadap rasa bangga yang ditonjolkan pada sebuah acara infotainment tentang perceraian, betapa anak hanya menjadi figuran dalam kepentingan dua orang tua mereka yang hanya menuruti ego. Tidak malukah public figure ini dengan gemerlap pesta pernikahan a la raja raja yang dilangsungkan beberapa tahun silam sebelum si anak ada di dunia atas prakarsa mereka?)

Gempol, 060620

Monday, June 19, 2006

Harmonisasi Bumi

Judul diatas sekaligus sebagai jawaban atas pertanyaan sekaligus juga materi tulisan untuk kontes yang diadakan oleh Hiking.

Sebuah kehidupan dimana semua mahluk hidup saling berdampingan dan terbebas dari ancaman dan kecemasan. Setiap orang saling memandang orang lainya bahkan yang tidak dikenalnya secara pribadi dengan pandangan penuh cinta kasih seperti halnya cinta kita kepada anak maupun kepada orang tua. Penghormatan terhadap anak maupun orang tua adalah manifestasi cinta kasih yang sesungguhnya, tanpa embel embel tertentu dibelakangnya. Jika itu terjadi, maka dunia tak memerlukan kosa kata untuk mengumpat, memaki ataupun kata kata vulgar yang sebenarnya sebagai jarum penunjuk kualitas kecerdasan emosi. Tak ada negativisme di bumi, maka tidak akan perlu ada perkelahian, konflik apalagi peperangan. Semua nurani pasti dibekali satu pemahaman bahwa perang hanya pabrikasi atas korban, sebab nurani hanya mengenal kebaikan.

Sikap legowo (menerima dengan ikhlas) bisa menjadi kunci dari semua keruwetan dari penjabaran nilai tenggang rasa ini. Menempatkan ego diri dalam rantai terendah kepentingan umat manusia dengan kepemilikan tanggung jawab moral terhadap nurani akan membuat dunia menjadi sejuk. Bagaimanapun, menekan ego yang menjulang pada setiap diri manusia bukanlah perkara mudah. Berfikir sebagai kerja kognitif oleh otak dan cikal bakal pemikiran, ide maupun gagasan menjadi sumber dari segala peristiwa sosial di kehidupan. Pengendalian terhadap arus berfikir mutlak memerlukan kemampuan menduplikasi efek dari perbuatan kita terhadap hidup disekitar kita. Inipun terkadang menjebak manusia dalam sikap superior, tidak mau kalah apalagi dikalahkan, tidak ingin salah apalagi disalahkan. Kita sering bertindak kasar karena tidak mau orang lain berlaku kasar terhdap kita. Sikap legowo tidak mengenal pembalasan maupun fikiran sikap petakompli. Sombong yang tak disadarilah yang memprovokasi batin manusia untuk melindungi kepentingan individu (sebagai sifat bawaan), ketimbang mengembangkan pola pola kompromi terhadap konflik kepentingan antara ego, logika dan hati. Bukankah jika mata dibalas mata, maka dunia akan menjadi buta (mengutip kata kata bijak dari Mahatma Gandhi). Mengalah yang benar benar mengalah sama saja menciptakan kemenangan yang tak perlu dipublikasikan, sebab kemenangan yang sejati adalah ketika manusia bisa mengalahkan ego sendiri. Kemenangan seperti samasekali tidak memerlukan korban kalah.

Mahluk hidup juga termasuk segala jenis binatang dan tumbuhan tanpa pengecualian. Kemampuan akal manusia melahirkan sifat ingin menguasai dan ambisius dengan sederet nafsu dan cara pemuasanya. Malang bagi mahluk hidup non manusia, karena harus menempati posisi yang paling mudah untuk di eksploitir. Terhadap binatang, manusia yang nota bene berakal tetapi terkadang justru mematikan akalnya sendiri. Sangat mudah kita dapati disekeliling kita, betapa dengan dalih kesenangan, manusia menempatkan binatang dalam kurungan terali. Predikat menyayangi binatang diartikulasikan sebagai penguasaan atas hidup si binatang malang. Pernahkah terpikir bagaimana seandainya zaman berbalik, dimana manusia yang tak berdaya dan binatang yang berkuasa? Maka bersiap siaplah kepada saudara saudara yang berparas elok maupun berpenampilan fisik menarik untuk menjadi buruan para binatang ini sebagai pajangan. Betapa mudah manusia mencabut nyawa binatang hanya alasan jijik melihatnya. Binatang, juga tumbuhan memiliki alam dan dunianya sendiri di bumi ini, dan kecerdasan akal manusia seharusnya memberikan ruang yang semestinya bagi kehidupan mereka, kita berbagi tempat dan kepentingan di bumi yang sama.

Maka bumi yang harmonis adalah kehidupan ideal yang barangkali lebih berupa utopia. Tetapi setidaknya kelebihan akal kepintaran manusia atas mahluk hidup lainya memberi peluang kepada kita untuk mengevaluasi kerja nurani sendiri bagi kehidupan, bukankah semua manusia hanya pejalan dari gelap rahim bunda menuju gelapnya liang kuburan? Dan diantara dua kegelapan itu manusia diwajibkan menjalani benderang bernama kehidupan, bukankah indah jika menjadi sekali berarti lalu mati? Dan semua itu hanya bisa terjadi dengan memulainya dari diri sendiri…


Gempol, 060618