(hari ke 27 serangan Israel ke Libanon)Mari hentikan perang tanpa perang, tebarkan cinta kasih kepada sesama demi siklus kehidupan jagad raya…kita hanyalah debu di langit tak bertuan mayapada.
Salam cinta dari bunga langit!
Gempol, 060807
(hari ke 27 serangan Israel ke Libanon)
Gerbong gerbong keresahan dan kesedihan datang dan pergi, melintas dan kadang terhenti sejenak untuk bergerak dan lenyap dalam kubangan ingatan. Di stasiun beban kejut dari kedatangan sebanding dengan tonase dua hati, dua ingin, dua badan yang dipisahkan jarak semakin menjauh. Inilah sebuah tulisan tentang romansa stasiun, dimana miliaran cerita hati yang diceraikan dan dipertemukan silih berganti terjadi, dengan saksi yang itu itu juga, sederet bangku plastik berwarna biru, dengan suhu beku bagaikan es batu.
Membuka mata lagi pagi ini setelah waker menjerit jerit minta dikasihani, mata sembab oleh tangis semalam, hati pengab oleh mimpi buruk yang rajin datang memberi jawaban atas kebingungan logika yang tak henti bertanya tentang kejadian ciptaan para pendurhaka. Hawa dingin melilit tulang mengikat kaki menjadi enggan untuk melangkah menapaki tangga hari, merobek selembar lagi kalender tanpa angka. Tersisa puluhan kata kata, sisa obrolan bersama kesunyian semalam, seperti ratusan tahun silam, selalu tenggelam bersama berhentinya embun yang luruh di atap kamar.
Hujan badai baru saja reda, pucuk pucuk cemara takluk menggigil dalam diamnya. Tanah basah, ranting ranting patah menghitung luka luka. Empat ekor burung beo melintas cepat diatas camp, memekik lalu menghilang di kegelapan rimba. Serombongan awan kelabu bergerombol berkejaran menghapus jejak mentari sore.
Rembulan seujung kuku menggantung ragu dilangit hitam, pucuk dahan pohon pohon raksasa di hutan lebat seperti menggapainya, mengajaknya turun ke bumi dan bercengkerama bersama satwa malam yang rajin menyenandungkan nyanyi pujian. Malam masih begini muda, rembulan condong ke barat tak sabar ingin beristirahat dibalik gegunung yang hanya tampak jadi bayangan. Di langit tinggi mendung berkejaran ke selatan, melintasi rembulan dan terkadang mengaburkan keberadaanya dari pandangan. Tak ada kerlip bintang yang menemani, sang bulan diam dalam kesendirianya, menjalani kodratnya dalam ruang yang itu itu juga mengitari bumi, berkembang dan membagi sinar redup kepada gelap yang tak lagi membutuhkan kehadiranya malam ini; lampu lampu merkuri telah mendurhakai sinarnya yang abadi.
Keterpencilan telah membuka ribuan pintu gerbang pada iblis yang menyerbu menjadi
Mengharap matahari datang menuntun semangat, ketidak pastian datang sebagai jawaban. Khayalan menjadi pengobatnya, meski pada kenyataanya jiwa dikerdilkan oleh perilaku durjana yang datang begitu saja diluar segala perkiraan akal sehat dimasa lalu. Nyata sudah bahwa khayalan hanya mimpi indah semata; tentang sebuah rumah sederhana di lereng bukit dimana hidup hanya berisi cinta, penghargaan, penghormatan dan penghabisan akan sisa usia dalam dekapan damai.
Siapa kuasa mengendalikan datang dan perginya kenangan dan rombongan rasa yang menyertainya ketika hati masih berfungsi dan jaringan syaraf dalam otak masih bekerja? Ia menjadi bagian dari darah, daging, tulang dan aura yang melingkupi keberadaan diri, nun jauh terasing di perantauan. Dan ketika sepi menghimpit, keberadaanya menjadi nyata, perihnya makin terasa juga segala pikiran negative yang beranak pinak dalam ketersembunyian masa. Pincang semata yang ada menjalani nasib dengan setengah hati. Kematian yang diharap datang tak bertanda, entah dimana rimbanya.
Melepas harapan ke angkasapun tak banyak membantu ketika diri dikelilingi oleh budak budak kepentingan kapital yang pintar berfilsafat tentang hal hal basi semata. Mengikuti arus fikiran sungguhlah sesuatu yang mematikan kepentingan ego, menyembunyikanya rapat hingga kelak meledak menjadi satu batu patokan langkah pengukuh nilai tawar. Rupanya di dunia hidup juga orang orang yang hanya mampu memandang apa yang ada dalam dirinya, mengesampingkan kepentingan orang lain apalagi berusaha menyelami apa yang terasa oleh orang atas apa yang diucap maupun sikap yang dipertontonkan.
Ketika jarak tempuhan jauh, pengalaman merelief di dinding ingatan, sebagian hidup kembali membwa banjir darah masa silam. And those demons…I can only stop them from coming in if I could only stop my mind from thinking, and I can stop thinking when I stop breathing.
Porta camp mile 38 – Papua 060728
Menyusuri jalan tanah berlapis kerakal sepanjang jalan menembus sejuk pagi di paru paru bumi. Pepohonan raksasa seperti berlarian mengejar matahari ke arah timur, mengikuti arus sungai Ajwa yang seperti tak berujung. Amole wahai Menok Menok yang terjumpai sepanjang pelintasan, mengusung mimpi dan harapan yang digali dari endapan sedimen sungai limbah. Kerakal berlompatan digilas roda kendaraan, menyingkir mempersilahkan lewat dengan cepat. Sejuk hawa rimba menyongsong disetiap sudut paru paru, mengabarkan tentang sebuah tempat tujuan, dimana langit hanya sejangkauan tangan. Jalan menukik 60 derajat seperti menuju ke langit, tempat peradaban lain lagi sedang terjadi, tempat para dewa saling membagi rezeki. Jarak pandang hanya selemparan batu, selebihnya adalah terkaan dibalik lembutnya kabut.
Jika engkau mati nanti air mata menghiasi raung kehilangan bukan perlambang dari cinta yang diceraikan kecuali kekecewaan atas kenyataan yang datang terlalu dini. Sekedar ekspresi mengasihani diri atas kekecewaan runtuhnya tiang harapan.Kematian adalah hal yang pasti yang kita tanda tangani ketika pertama kita ada dan menghirup wangi udara bumi. Terbebas dari gelap rahim bunda, dengan benderang menjadi menyambutnya. Sekejap saja, lalu datang gelap lainya dan kita tidak akan kembali lagi.
Jika engkau mati nanti, coba cacah dalam ingatanmu orang orang yang mungkin akan meratapi pergimu; tak seorangpun tersenyum melihatmu terbebas dari kejenuhan akan kemunafikan dunia. Mereka seolah menganggapmu berarti, padahal hidup berjalan normal dalam hitungan hari setelah pergimu. Tak ada yang mengingatmu lagi sebab mereka tahu tak ada gunanya mengingat orang mati. Jadi bangkai, itu pasti.
Jika engkau mati nanti, berjalanlah tenang sebab kematian hanyalah siklus akhir dari kehidupan, berbanggalah bahwa engkau telah menyelesaikan peranmu dalam babak yang belum tentu engkau faham apa judul episodenya…
Jika engkau mati kelak, ucapkan salam terakhir kepada matahari yang tidak akan kau temui lagi sesudah ini…
Porta camp mile 38 – Papua 060721
Datang sebuah sms dari seorang terdekat yang menitipkan pesan:
Pada tiga perempat usia hidupnya dan entah untuk berapa ratus kali lagi akhirnya dia harus bersiap untuk melangkah pergi. Kali ini ke tanah hitam yang bahkan tak pernah singgah dalam mimpinya. Suatu kali dahulu, seorang teman pernah menginjak tanah bumi itu dan bercerita sebagai sebuah tempat di ujung dunia, dimana langit hanya dalam jangkauan tangan. Bahkan si teman tidak punya kata kata untuk menggambarkan keindahannya.
Kaum (?) klepto barangkali ada sejak pertama peradaban manusia terciptakan, ialah mereka atau sesiapapun yang secara genetik maupun akhlak memiliki kecenderungan untuk menguasai hak milik orang lain dengan cara rahasia maupun terbuka.
Bayangan rembulan mengambang diatas empang, bimbang diayun ayunkan oleh riak kecil pada permukaan air. Angin Selasa malam gelisah mencari persembunyianya, mengoyak ngoyak pucuk daun pisang yang baru menikmati aroma dunia. Di barat daya satu cahaya kecil berkerlip ragu, kata orang itu namanya bintang. Mungkin arwah dari seorang ksatria yang terperangkap di langit hampa. Ia begitu dekat bersama bulan ketika malam sempurna dandanannya. Saat itulah kesadaran datang, bahwa hidup telah dipersatukan hanya dengan selembar kertas usang dan sekaligus merusaknya.
Benarkah hidup hanyalah permainan dimensi ruang dan juga waktu? Bahwa setiap kejadian dan peristiwa memiliki medianya sendiri sendiri supaya bisa dengan mudah terbawa dalam ingatan, dalam kehidupan sehari hari. Sebagian terpelihara sebagai sebuah dunia yang hidup terus menerus bagaikan nikotin yang menjadi enzim resmi bagi darah dalam tubuh. Sebagian lagi membandul menjadi batu kenangan yang harus dibawa bawa kesana kemari di punggung sebagai beban resmi sepanjang perjalanan.
Kupunguti kepingan gelisah yang menghambur berlompatan dari matamu yang berkilauan ketika cahaya hari baru melewati kulminasi. Ketidak mengertian tujuan perjalanan mengantarkan begitu banyak kecemasan dan kutampung di pundi pundi ketidak mungkinan yang kupersiapkan sejak berangkat bersama melenyapnya sejuk embun ditimpas matahari pagi tadi. Kejujuran atas beban rasa terpersembahkan sebagai bingkisan, tanpa berharap apapun atas apapun dari semuanya. Membiarkan semua mengalir seperti biasanya ketika diri kehilangan kemampuan untuk menolak apalagi menghentikan apapun yang datang dari delapan penjuru angin. Datanglah semua sesukamu wahai kejadian, ombang ambingkan dan permainkan semampumu emosiku. Engkaupun tahu, aku telah lumpuh layu untuk sekedar memprotes, dan menerima dengan kekuatan adalah perlawanan terakhirku.
Atas nama luka ia pasrahkan hidupnya pada kematian, tangan terbuka menunggu malaikat datang tunaikan tugasnya, agar pupus satu kisah tentang manusia. Jika benar bahwa harapan membuat orang bertahan hidup, Dia menerimanya sebagai cara yang layak untuk menjemput sang maut. Ia telah menjadi tawanan nasib yang membanting dan menghempaskanya tanpa kendali, membuat syaraf motoriknya mati. Ia menggelinding saja mengikuti arus kewajiban serta meniadakan perlawanan apalagi pemberontakan. Diterimanya semua dengan hati tak rela.
Jika tiba saatnya ia memilih diam sebagai sebuah percakapan, yang menjabarkan begitu banyak kemungkinan yang tak tertebak, menyembunyikan ketidak tahuan bahkan hal hal yang diketahui sekalipun. Dia juga menyempurnakan kepura puraan, membuat sikap menjadi pasif.
Anak sebagai wahyu, titipan sekaligus amanah selayaknya memiliki tempat tinggi dalam kehidupan keluarga maupun dalam komunitas sosial. Eksploitasi terhadap kelemahan dan ketidak mengertian anak terhadap tetek bengek kehidupan adalah sesuatu yang sungguh keji. Setiap orang dewasa pasti pernah memiliki masa kanak kanak, tetapi sayangnya banyak orang dewasa pura pura lupa bagaimana menjadi anak anak dengan kemampuan menganalisa dan pengertian terhadap pengalaman yang baru sedikit. Orang tua yang melakukan kekerasan fisik terhadap anak jelas mengidap penyakit mental, kelainan nurani yang kronis. Tindakan itu juga sebenarnya menciptakan dunia kekerasan berlipat ganda bagi kehidupan si anak itu sendiri. Dengan dalih apapun, kekerasan terhadap anak bukanlah cara bijak membentuk masa depanya. Bukankah masa kanak kanak adalah penopang kedewasaanya kelak?
Kulit buahnya yang rapuh koyak oleh cabikan paruh burung pemangsan, terbawa melanglang lalu bijinya yang lengket didamparkan begitu saja disebuah dahan pohon kehidupan yang yang tumbuh di alam jiwa. Dahan tumpangan menjadi sandaran yang menyamankan untuk memulai satu kehidupan baru diatas kehidupan yang sedang ada, menjadi wahana bagi pengembang biakan cita cita generasi lanjutan. Biji benalu yang tak berdaya, kecil dan hina kini mendapat sandaran kokoh batang pohon kehidupan, yang menyerap dan menyimpan puluhan tahun pengalaman dalam setiap jalinan batang kayu, kulit dan akarnya.
Bahkan wahana transparan itupun sanggup memantulkan imanji tentang diri, berwujud manusia dari ujung kaki, badan hingga rambut penutup tulang tengkorak. Karakteristik ciri jasmaniah mahluk paling sempurna. Kehidupan fisik memiliki pamornya sendiri demikian juga kehidupan dibalik penampilanya. Jauh lebih rumit dan kompleks ketimbang apa yang bisa dibaca oleh mata. Ia adalah sebuah dunia yang tersembunyi, terisolasi oleh garis garis batas bentukan nurani.
Aku ingat sebidang tanah tandus di sebelah timur kampungku dulu, yang melulu berisi semak dan tumbuhan perdu. Tidak produktif, gersang dan mandul. Tempat itu menjadi arena bermain sekaligus lahan gembala hewan piaraan sewaktu aku kecil dulu, berada di kepungan sawah sawah oncoran yang subur, ia menjadi seperti pulau yang ditengah lautan sawah. Orang menyebutnya sebagai lemah sangar. Dongeng nenek dulu, tanah itu menjadi gersang demikian karena pada suatu ketika di zaman dahulu kala seorang ksatria pernah menangis dan meneteskan air matanya ke bumi, radius puluhan meter dari tempat air mata ksatria itu menetes akan menjadi gersang dan mandul, tak memberi janji berarti bagi kehidupan. Pesan moral dari nenek barangkali agar lelaki ksatria dipantangkan untuk menangis apalagi meneteskan air mata, sebab seorang ksatria adalah figur yang mumpuni dalam segala suasana.
Satu pesta pernikahan yang membosankan syaraf menyisakan pesan untuk saudara yang berkehendak memilih seseorang sebagai teman menghabiskan sisa hidup, menjadi pasangan yang terikat oleh hukum dan kewajiban.
Dibawah sepotong bulan anganya menggerayangi pekat jawaban teka teki masa silam. Segugus bintang Alpha Centaury diselatan mengabarkan duka, milik bersama umat manusia.