Tuesday, August 01, 2006

Satu senja di tanah hitam

Hujan badai baru saja reda, pucuk pucuk cemara takluk menggigil dalam diamnya. Tanah basah, ranting ranting patah menghitung luka luka. Empat ekor burung beo melintas cepat diatas camp, memekik lalu menghilang di kegelapan rimba. Serombongan awan kelabu bergerombol berkejaran menghapus jejak mentari sore.

Pada mesin penyambung rasa, sepatah demi sepatah kata menguntai menjadi rantai yang mengikat rindu menimbun dalam kandungan membeban hampir tak tertahankan. Ditanah ini, menyusuri jejak kenangan yang membenalu dalam jiwa, mencoba mengeja satu demi satu maknanya, tersisa indah dan sekaligus perihnya. Darah belum mengering dan tawa belum lagi reda didalam sana, menggumpal mempertegas hitam putih hidup yang terlewati. Serombongan iblis muncul mengepung dari setiap balik semak, merampas tempat kosong dalam bilik jantung yang tak terawat karena ditinggal pergi pemiliknya.

Hawa hangat dari tanah seberang membelai wajah, mengabarkan tentang tempat tempat teduhan hati yang mengharap diri kembali kedalam kesempurnaan masa dimana dunia kehilangan pemiliknya dan menjadi medan makna yang sesungguhnya. Lekaslah pulang wahai hati yang merana, padamu telah kesediakan sebaskom air hangat cinta untuk membasuh segala letihmu setelah diperdaya fikiran durjana. Di pintu kedatangan akan kusambut hadirmu tanpa tari dan nyanyi nyanyi, hanya segunung rindu yang menyesakkan dadaku (ucapnya pada senja yang semakin menua).

Hati mulai merayu rayu meminta penebusan atas rindu yang memerihkan, sementara bilik ruang dan waktu kokoh menjadi penjara keleluasaan. Bahkan jikapun saatnya kelak diri bertolak, penjara lain lagi menanti, dengan mata mata bengis yang menjaganya, dengan kata kata perih yang akan menjadi imbalanya. Seperti layaknya mummi, tak ada masa depan dicetak dengan pasti. Hanya menjalani saja setiap utas usia dengan kenelangsaan yang membabi buta. Tempat ini sungguhlan bukan milik diri, juga tempat dimanapun dimuka bumi. Terpencil, jauh dan menyendiri menyadarkan diri bahwa kematianpun tidaklah cukup berarti ketika hidup telah kehilangan tempat pengabdian untuk aktualisasi diri. Jika bahkan sungaipun memiliki muara, pohonpun memiliki akar untuk alasan hidup, diri hanyalah menghirup dan menghembuskan nafas sepanjang hari dari pagi, siang, sore malam hingga bertemu pagi entah sampai kapan.

Senjapun luruh disela sela porta camp, diiring gemuruh mesih dan nyala lampu lampu listrik. Pohon pohon raksasa menyaksikan kehidupan berjalan, melupakan badai dan hujan dan terus setia menemani bumi berjalan dalam siklus ketidak menentuan. Malam sebentar lagi kan datang, sunyi dan gelap mengurung bumi melindapkan segala tingkah polah seharian penuh. Perenungan perenungan menjadi mantera pengundang iblis berkerumun dikepala mencacah harapan yang tersisa. Mereka tak jua mau pergi.

Porta camp 38 – Papua 060801

Sunday, July 30, 2006

... rembulan seujung kuku...

Rembulan seujung kuku menggantung ragu dilangit hitam, pucuk dahan pohon pohon raksasa di hutan lebat seperti menggapainya, mengajaknya turun ke bumi dan bercengkerama bersama satwa malam yang rajin menyenandungkan nyanyi pujian. Malam masih begini muda, rembulan condong ke barat tak sabar ingin beristirahat dibalik gegunung yang hanya tampak jadi bayangan. Di langit tinggi mendung berkejaran ke selatan, melintasi rembulan dan terkadang mengaburkan keberadaanya dari pandangan. Tak ada kerlip bintang yang menemani, sang bulan diam dalam kesendirianya, menjalani kodratnya dalam ruang yang itu itu juga mengitari bumi, berkembang dan membagi sinar redup kepada gelap yang tak lagi membutuhkan kehadiranya malam ini; lampu lampu merkuri telah mendurhakai sinarnya yang abadi.

Sepotong salam terkirimkan, menanyakan apa yang sedang bergumul dalam fikiran. Jarak yang jauh telah melahirkan rindu yang tak berhenti bergemuruh, mengundang pengandaian pengandaian yang meracuni kemustahilan dengan perlahan. Kepala dipenuhi oleh ilusi manis tentang kebersamaan, mengisi sisa hidup dengan kedamaian, menimbun bekas bekas luka yang menganga dengan cinta yang membanjiri setiap sudut ruangan rumah kecil di lereng bukit.

“Jangan kau pergi dari hidupku, jangan jauh jauh dariku, aku ingin kamu tetap ada didalam hatiku. Aku ingin meleburkan rindu yang membelenggu ini, mempersembahkan seluruh kasih sayangku yang terasa hanya padamu” ucapku pada selembar daun yang gugur dari luar pagar kompartmmentku, dan hanya angin beku yang mengangkutinya pergi kelangit, ke telinga sebelah hati nun jauh ditempatnya berada.

Satu dunia kehilangan kefanaanya terbentuk hanya dari ceceran demi ceceran kesia siaan masa lalu, mempertemukan dua debu di angkasa maya dalam ketidak mengertian arus nasib. Dan malam datang menyempurnakan kegundahan akan seribu satu pertanyaan tentang rasa yang menyelubungi kepalsuan yang harus dijalani sebagai bentuk tunggal dari kewajiban. Keterpaksaan telah melahirkan dunia baru yang tak kasat mata bagi pemandangan alam duniawi, rapi tersembunyi dalam bilik bathin dan perlahan kokoh menjadi raja pengisi kehampaan yang sempurna.

Perih terlalu lama menjadi pengisi tas pengalaman, diri letih sudah menggendongnya sendirian kesana kemari mengitari bumi. Perih yang menyemaikan keluhan demi keluhan yang memuakkan, pun masih berisi tangis dan kegilaan setiap kecutnya memelintir ingatan. Mencoba berhenti untuk tidak meladeni perihnya atau sekedar bungkam menyembunyikannya ternyata bukanlah perkara mudah. Segala daya kekuatan telah dihamburkan untuk menanggulangi setiap potong beling yang datang dan bebas meneracap kedalam jantung karatan. Diri tak kuasa melindungi kepentingan hati ketika iblis terus memburu sampai jauh kelorong setiap sudut mimpi sekalipun.

Inikah pengingkaran yang sering dibicarakan? Ataukah perlawanan atas nama kebahagiaan hakiki? Entahlah, saat ini aku hanya ingin menghamburkan kepalaku di pangkuanmu, mengadukan kekecewaanku dalam tangis panjang di hangat kasihmu, dengan jarimu rajin mencabuti potong demi potong beling yang menghiasi sekujur tubuhku…

“aku sayang kamu…” ucapmu mengantar tidurku, menjemput iblis yang siap menunggu di negeri bawah sadarku.

Porta camp – 38 Papua 060730

Friday, July 28, 2006

Jauh

Jarak yang mempertajam sunyi mengundang gerimis untuk memupuk cabang pohon kehidupan menjadi lebih kokoh dan ngrembuyung menerima terpaan matahari yang sesekali mempertontonkan diri. Romansa perjalanan menyeberangi pulau pulau, ribuan kota dan jutaan kampung lindap dalam keterasingan yang sempurna sudah.

Keterpencilan telah membuka ribuan pintu gerbang pada iblis yang menyerbu menjadi hama, menggerogoti fikiran dengan amarah tanpa tujuan dan dendam tanpa tuan. Berandai andai hanyalah mengalihkan fikiran terhadap kenyataan yang berlawan. Gerimis setia mengawal pagi, tanah basah penuh misteri. Kenangan buruk rajin datang menyambangi, ia datang menjadi pengisi udara menjadi penuh dengan suara bisik, gambar dan rasa tentang penyiksaan perasaan. Ribuan iblis yang rajin berpesta membawa letih tak terkira.

Mengharap matahari datang menuntun semangat, ketidak pastian datang sebagai jawaban. Khayalan menjadi pengobatnya, meski pada kenyataanya jiwa dikerdilkan oleh perilaku durjana yang datang begitu saja diluar segala perkiraan akal sehat dimasa lalu. Nyata sudah bahwa khayalan hanya mimpi indah semata; tentang sebuah rumah sederhana di lereng bukit dimana hidup hanya berisi cinta, penghargaan, penghormatan dan penghabisan akan sisa usia dalam dekapan damai.

Siapa kuasa mengendalikan datang dan perginya kenangan dan rombongan rasa yang menyertainya ketika hati masih berfungsi dan jaringan syaraf dalam otak masih bekerja? Ia menjadi bagian dari darah, daging, tulang dan aura yang melingkupi keberadaan diri, nun jauh terasing di perantauan. Dan ketika sepi menghimpit, keberadaanya menjadi nyata, perihnya makin terasa juga segala pikiran negative yang beranak pinak dalam ketersembunyian masa. Pincang semata yang ada menjalani nasib dengan setengah hati. Kematian yang diharap datang tak bertanda, entah dimana rimbanya.

Melepas harapan ke angkasapun tak banyak membantu ketika diri dikelilingi oleh budak budak kepentingan kapital yang pintar berfilsafat tentang hal hal basi semata. Mengikuti arus fikiran sungguhlah sesuatu yang mematikan kepentingan ego, menyembunyikanya rapat hingga kelak meledak menjadi satu batu patokan langkah pengukuh nilai tawar. Rupanya di dunia hidup juga orang orang yang hanya mampu memandang apa yang ada dalam dirinya, mengesampingkan kepentingan orang lain apalagi berusaha menyelami apa yang terasa oleh orang atas apa yang diucap maupun sikap yang dipertontonkan.

Ketika jarak tempuhan jauh, pengalaman merelief di dinding ingatan, sebagian hidup kembali membwa banjir darah masa silam. And those demons…I can only stop them from coming in if I could only stop my mind from thinking, and I can stop thinking when I stop breathing.

Porta camp mile 38 – Papua 060728

Saturday, July 22, 2006

Negeri di awan

Menyusuri jalan tanah berlapis kerakal sepanjang jalan menembus sejuk pagi di paru paru bumi. Pepohonan raksasa seperti berlarian mengejar matahari ke arah timur, mengikuti arus sungai Ajwa yang seperti tak berujung. Amole wahai Menok Menok yang terjumpai sepanjang pelintasan, mengusung mimpi dan harapan yang digali dari endapan sedimen sungai limbah. Kerakal berlompatan digilas roda kendaraan, menyingkir mempersilahkan lewat dengan cepat. Sejuk hawa rimba menyongsong disetiap sudut paru paru, mengabarkan tentang sebuah tempat tujuan, dimana langit hanya sejangkauan tangan. Jalan menukik 60 derajat seperti menuju ke langit, tempat peradaban lain lagi sedang terjadi, tempat para dewa saling membagi rezeki. Jarak pandang hanya selemparan batu, selebihnya adalah terkaan dibalik lembutnya kabut.

Selaksa kabut datang dan pergi menyelimuti bukit dan jurang jurang, terowongan Hannekam sepanjang 1050m menjadi gerbang dunia lain lagi dimana hawa dingin menusuk tulang menyambut. Berdiri ditepi jalan, menyaksikan tebing raksasa dengan puluhan air terjun menghiasi punggung batunya yang berkilau oleh cahaya matahari yang memberontak dari setiap celah awan mendung dan perkabutan. Inilah negeri di awan, kampung impian tempat segala keindahan alam bermuara.

Selepas check point 66 menuju tanah tinggi, ditepi sebuah kelokan di tubir jurang pandangan menebar menjelajahi pohon pohon purba yang hanya sering kita lihat pada gambar di kalender kelender. Inilah keajaiban, sisa kehidupan berjuta tahun silam. Bunga bunga biru, kuning dan putih bertebaran menghiasi sepanjang jalan, seperti menyambut mata siapapun yang mengerti akan arti keindahan alam. Diujung dahan, bunga bunga terompet berwarna krem mengayun ayun seperti menari dipermainkan angin sepoi. Gerimis mempertegas hadirnya kabut, memasuki terowongan kedua Zaagkam sepanjang 950 meter pada ketinggian 2486 di km 104.

Di kejauhan camp rainbow ridge berderet seperti gambar, menjadi tempat perlindungan dan sarang bersosialisasi bagi ratusan penghuninya. Disanalah pelangi berujung, melengkung mengitari separuh luas bumi. Di seberangnya, hidden valley menghampar setelah kabut tersingkap sejenak untuk datang kembali menyelimuti. Tempat ini, saudara, hanya secuil dari dunia yang tak pernah tertemui baik dalam mimpi mimpi maupun cerita romantisme remaja. Pucuk pucuk pohon kelelahan menahan usia, menjadi tebal oleh ganggang yang mungkin ratusan tahun telah menjadi teman setia; anggrek hutan dengan bunga kuning, hitam dan warna warninya.

Alam ini mengingatkan kepada sepenggal cerita Pramoedya tentang pulau Buru yang tandus dan berisi pokok pokok pohon purba. Manusia manusia sisa zaman batupun masih bermunculan dari balik semak semak sepanjang jalan menanjak, berkeliaran di alamnya sendiri dan mencoba berkenalan dengan kemajuan peradaban. Melewati Tembagapura, kota modern ditengah keterbelakangan penduduk Amungme, Menok berkeliaran disana sini. Suku Amungme yang mendominasi wilayah pegunungan ini, dan mereka ikut mengais emas dari sisa pembuangan tailing tambang. Konon, untuk yang mendulang persis di mulut pembuangan limbah, sehari mereka bisa mendapatkan beberapa ons emas jika beruntung! Dan tujuan hidup mereka sejauh ini baru untuk foya foya. Dan kehidupan para pendulang sepanjang sungai Ajwa dimana limbah dari proses konsentrat batuan untuk tembaga dan emas dibuang jauh ke laut lepas menjamur bak gold rush dalam cerita film film cowboy zaman baheula di Amerika. Meningitis-pun menggerayangi selaput otak para pendulang, meski demikian godaan uang dan dampak yang tak terasa langsung membuat mereka abaikan itu semua.

Tembagapura nan modern dengan kehidupan peradaban modern tertinggalkan dan jalan menikung mendaki serta basah terus dilalui. Air dingin mengalir disepanjang sisi kiri kanan jalan, oksigen mulai terasa tipis pada tempat dimana berton ton batu digiling setiap hari, disaring untuk didapatkan konsentrat tembaga dan emasnya. Mesin mesin raksasa menggemuruh tak berhenti, juga sky train yang menggantung hilir mudik diangkasa mengangkuti segala keperluan ke tempat yang lebih tinggi lagi; Grasberg dimana pada bulan September sampai November salju sering turun menyambangi tanah dataran tinggi Grasberg.

Disini, di ketinggian ini kerajaan antah berantah dibangun dalam ironi sosial bumi dan langit, begitu dekat tanpa bersentuhan demi satu kata yang sama; u-a-n-g.

Hidden valley – Tembagapura Papua, 060722

Friday, July 21, 2006

Jika Engkau Mati...

Jika engkau mati nanti air mata menghiasi raung kehilangan bukan perlambang dari cinta yang diceraikan kecuali kekecewaan atas kenyataan yang datang terlalu dini. Sekedar ekspresi mengasihani diri atas kekecewaan runtuhnya tiang harapan.

Kematian adalah hal yang pasti yang kita tanda tangani ketika pertama kita ada dan menghirup wangi udara bumi. Terbebas dari gelap rahim bunda, dengan benderang menjadi menyambutnya. Sekejap saja, lalu datang gelap lainya dan kita tidak akan kembali lagi.

Jika engkau mati nanti, coba cacah dalam ingatanmu orang orang yang mungkin akan meratapi pergimu; tak seorangpun tersenyum melihatmu terbebas dari kejenuhan akan kemunafikan dunia. Mereka seolah menganggapmu berarti, padahal hidup berjalan normal dalam hitungan hari setelah pergimu. Tak ada yang mengingatmu lagi sebab mereka tahu tak ada gunanya mengingat orang mati. Jadi bangkai, itu pasti.

Jika engkau mati nanti, berjalanlah tenang sebab kematian hanyalah siklus akhir dari kehidupan, berbanggalah bahwa engkau telah menyelesaikan peranmu dalam babak yang belum tentu engkau faham apa judul episodenya…

Jika engkau mati kelak, ucapkan salam terakhir kepada matahari yang tidak akan kau temui lagi sesudah ini…

Jika aku yang mati, maka tersenyumlah mengiringku sebab aku telah selesaikan kewajiban hidupku sebagai manusia…

Porta camp mile 38 – Papua 060721

Thursday, July 20, 2006

Pesan dari jauh...

Datang sebuah sms dari seorang terdekat yang menitipkan pesan:

"Postingin aja kalau aku sedang unavailable, berada jauh di bumi purba dimana langit hanya sejangkauan tangan. Dan membawa setiap orang dalam angan angan"


Empunya blog meminta bantuan untuk memberitahukan kepada semua teman teman blog bahwa ia sedang dalam tugas di Papua untuk beberapa saat. Dan disana belum memungkinkan untuk menemukan sambungan internet sehingga blognya agak terbengkalai. Tapi aku tahu, pasti dia juga merindukan teman teman semua disini. Dia sedang mencoba memperoleh kembali sisa sisa jejak kaki yang dulu pernah menjadi semangat hidupnya, yaitu mendedikasikan diri secara penuh untuk pekerjaan. Mohon doa dari teman teman semua semoga dia bisa kembali dengan selamat dan tentu saja membagi cerita indah dengan kalimat kalimatnya yang ajaib.

Salam dari Papua.

Titah dilaksanakan, pangeran...Come home soon.

Sunday, July 16, 2006

Perjalanan ke tanah hitam

Pada tiga perempat usia hidupnya dan entah untuk berapa ratus kali lagi akhirnya dia harus bersiap untuk melangkah pergi. Kali ini ke tanah hitam yang bahkan tak pernah singgah dalam mimpinya. Suatu kali dahulu, seorang teman pernah menginjak tanah bumi itu dan bercerita sebagai sebuah tempat di ujung dunia, dimana langit hanya dalam jangkauan tangan. Bahkan si teman tidak punya kata kata untuk menggambarkan keindahannya.

Langkahnya kali ini gamang. Tak lagi berisi tekad dan antusias lelaki yang haus akan penjelajahan hal hal baru dan belajar sambil mengabdikan diri kepada kehidupan. Bahkan keyakinanya menjadi abu abu ketika ketidak pastian demi ketidak pastian ditelannya mentah dan sebagian membuatnya muntah. Dikenangnya kisah kisah perjalanan, tempat tempat persinggahan dan kemewahan pribadi berupa kesendirian sepanjang perjalananya dulu. Ia rindu pada semangat mudanya yang hangus dan belum tergantikan dengan tunas yang baru.

Ikat pinggang pemberian menjadi bekal penguat semangat, dan doa restu bunda menjadi belati pengawal bagi keselamatan. Namun toh pintu pintu kemungkinan tetap dipelihara dengan layak, bahkan yang paling mengenaskan sekalipun keadaanya; siapa tahu justru itu yang dipilih kehidupan masa depan untuk lorong perjalanan. Setiap pergi sama saja dengan membawa kemungkinan kemungkinan baru ketika nanti kembali; mungkin tidak utuh lagi, mungkin tak bernyawa lagi, atau bahkan mungkin menjadi manusia dengan pemahaman hidup yang lebih kaya dari sebelumnya. Semua hanyalah teka teki hari depan, tak patut dijawab sekarang.

Perjalanan kali ini tak dibawanya keranjang harapan seperti yang sudah sudah. Akan ia bawa beban dan barangkali buah pengalaman semampu pundak dan tangannya merengkuhnya nanti. Inipun sekedar menjalani kewajiban hidup manusia untuk menjadi manusia, melihat dan merasakan hal baru untuk disimpan dalam lemari pengalaman, disimpan menjadi resep kue kehidupan. Ia tidak akan kaget dengan rasa sakit yang barangkali nanti ia akan terima di tanah perantuanya yang jauh dan sendirian. Ia telah mengalaminya beratus tahun tanpa catatan untuk hal yang satu itu, kecuali kebanggaan diri bahwa ia menempuh lebih jauh karena berjalan sendirian.

Maka esok, ketika mataharipun masih berselimutan embun dan gelap masih rajin mengurung, ia akan berangkat dengan langkahnya yang pertama, meninggalkan pagar rumah kontarkannya menuju negeri hitam yang kabarnya diamuk api. Tas punggungnya berisi pengalaman, dan tatapan matanya berusaha menyingkirkan gelap harapan. Ia melangkah terus melangkah dalam menapaki udara dan mengayunkan kaki ke depan. Entah apa yang dirasakan, yang pasti tak banyak yang ia harapkan dari perjalanannya kali ini, kecuali menjalani kewajiban.

Angin dari tepi kota akan membawanya pergi pagi ini, jauh ke ujung bumi tempat dimana langit hanya sebatas jangkauan tangan, suatu saat iapun akan kembali lagi, kerumah kontarkan istana sonyaruri.
Entah hidup entah mati…

Gempol, 060715

Saturday, July 15, 2006

Klepto

Kaum (?) klepto barangkali ada sejak pertama peradaban manusia terciptakan, ialah mereka atau sesiapapun yang secara genetik maupun akhlak memiliki kecenderungan untuk menguasai hak milik orang lain dengan cara rahasia maupun terbuka.

Pada kelas yang rendah klepto sering disebut dengan julukan maling, pencuri, rampok, begal, copet, kutil dan sebagainya. Sedangkan pada level klepto yang lebih elegan orang sering menyebutnya sebagai koruptor, penggelapan, penipuan dan lain sebagainya. Intinya sama saja; mencuri atau mengambil atau menguasai hak orang lain tanpa seijin yang punya. Zaman yang lebih canggih lagi, maling di dunia maya disebut sebagai hacker dan memiliki klasifikasi sendiri dalam kejahatan maya atau cyber crime. Sedangkan kejahatan jalanan seprti maling ayam, maling jemuran, copet dan sebangsanya masuk kedalam klasifikasi kejahatan konvensional. Hukuman yang paling mengena tentunya adalah keroyokan massa, hakim di TKP, dengan sangsi babak belur atau bahkan mati ditempat; sebanding dengan nilai jual benda obyek kejahatanya; ayam dan jemuran. Kejahatan seperti ini (kejahatan-catat!) dalam dunia hukum lebih lazim disebut sebagai ‘pencurian’, sedangkan kualitas pelaksanaannya menentukan predikat nantinya, apakah pencurian biasa, pencurian dengan pemberatan, atau pencurian dengan kekerasan.

Obyek yang dicuripun tentu beragam, dari yang bertujuan material maupun yang bersifat pencurian informasi. Ketika seorang hacker mengacak acak isi mailbox e-mail, maka yang ia butuhkan hanyalah informasi dari lalulintas komunikasi e-mail si empunya account. Sedangkan pada tingkat yang lebih canggih, hacker kakap (maling kelas kakap) bisa mempergunakan informasi yang dicuri dari ID si korban untuk tujuan ekonomi, material.

Ketika infomasi yang bersifat pribadi diakses dengan seenaknya oleh si hacker, yang tercuri adalah privacy. Privacy yang hilang dicuri menyebabkan korban merugi secara moral, merasa seseorang dengan tanpa hak telah masuk mendobrak kedalam lemari simpananya, mendobrak gembok password dan membiarkanya teronggok tak bisa di akses lagi bahkan oleh si empunya account. Menjadi korban selamanya hanya berisi ketidak enakan. Berisi kegondokan, bahkan amarah yang terpendam. Pikiran yang pertama muncul ketika kita menjadi korban dari pencurian adalah tentunya apa yang telah hilang dicuri, kemudian menentukan kemungkinan kemungkinan siapa pelakunya lalu mengikuti motif apa yang menyebabkan si panjang tangan melakukan itu dan memilih kita sebagai korban. Dari sekian banyak rentetan itu kemudian akan muncul solusi pemecahan, berharap hal serupa tidak terjadi dikemudian hari.

Sikap reaksi dari si korban ketika sadar telah menjadi korban kehebatan (atau kerendahan budi?) si klepto adalah hal yang menarik untuk dibicarakan. Bahkan sebagian orang dengan legowo menerima saja apapun perlakuan orang terhadapnya, meskipun telah memilihnya menjadi korban. Orang yang seperti ini tentu bukan pertama kali mengalami menjadi korban, malah jangan jangan pernah kehilangan nilai yang lebih besar lagi yaitu kebanggaan diri atau mungkin martabat karena pencurian juga. Orang seperti ini telah mengalami satu kehilangan yang sesunguhnya, sebuah nilai yang tak tampak dari pandangan mata. Jadi segala sesuatu yang bersifat kepemilikanpun menjadi ikut hambar dari nafsu posesif. Berharap orang untuk tidak melakukan praktek permalingan apalagi memilih diri kita sebagai korban sama halnya dengan menjaring asap di udara. Ajaran budi pekerti maupun dogma hanyalah anjuran. Bahkan peraturan dan undang undang yang memiliki kekuatan memaksa sekalipun bisa diabaikan sedemikian rupa, dipermainkan sesuai ketrampilan berargumentasi.

Suka ataupun tidak, orang jahat memang ada dan hidup diantara kita, di lingkungan kita, membaur menjadi warna dari peradaban manusia di muka bumi. Dalam terminologi yang lebih halus ‘orang jahat’ banyak dinamakan sebagai orang yang kurang kesadaran. Mereka yang dengan sadar hati mentahbiskan diri sebagai kaum klepto, barangkali juga harus bergelut dulu dengan nurani sebelum kepintaran logika mampu mengalahkanya, menganggap bahwa perbuatanya tidak akan pernah ketahuan, dan kalaupun ketahuan tidak perlu sulit untuk menyangkalnya dengan kata kata. Kekurang sadaran akan pentingnya menjaga orang lain seperti halnya kita ingin juga diperlakukan sama oleh orang lain menyebabkan orang dengan mudah melaksanakan prinsip prinsip klepto atau permalingan.

Jadi benar kata bang Napi, bahwa kejahatan terjadi atas kombinasi tiga unsur penunjang; niat, kesempatan, dan kemampuan. Maka….Waspadalah….Waspadalah…!!!

(Khusus kepada hacker yang mengacak acak mailboxku, semoga rahmat dan karunia Tuhan selalu tercurah kepada saudara, semoga dimuliakan hidup saudara dan juga orang orang yang saudara sayangi. Amin)


Gempol, ketika hacker mengobrak abrik mailbox email 060710

Friday, July 14, 2006

Bulan di atas empang

Bayangan rembulan mengambang diatas empang, bimbang diayun ayunkan oleh riak kecil pada permukaan air. Angin Selasa malam gelisah mencari persembunyianya, mengoyak ngoyak pucuk daun pisang yang baru menikmati aroma dunia. Di barat daya satu cahaya kecil berkerlip ragu, kata orang itu namanya bintang. Mungkin arwah dari seorang ksatria yang terperangkap di langit hampa. Ia begitu dekat bersama bulan ketika malam sempurna dandanannya. Saat itulah kesadaran datang, bahwa hidup telah dipersatukan hanya dengan selembar kertas usang dan sekaligus merusaknya.

Dunia berputar semakin cepat, tinggal diri berpegangan di gagang daun siapa tahu menjadi bagian dari cerita isinya. Diri harus tetap berdiri sebab jika jatuh akan menimpa mereka yang terlanjur mentahbiskan diri sebagai gantungan kunci, penghias kehidupan mewah milik pribadi. Sesuatu telah mengubah segalanya, dan orang tidak akan tahu apa yang orang lain tahu dan tidak tahu. Kebenaranpun menjadi absurd ditepi empang pada Selasa malam.

Rahasia semestinya tak dibicarakan bahkan kepada angin dan bayangan bulan. Permainan baru dilakonkan, dengan peran sebagai si bodoh yang harus melampaui kemampuan sendiri. Ditepi empang ini hidup tak terasa sebagai ajang rebutan antara kepentingan ingin dan tidak ingin, melainkan untaian waktu yang merubah banyak hal dengan caranya yang ekstrim. Cinta tak bisa dikhianati seperti juga laut, pohon, ataupun misteri lainya. Tetapi dunia dipenuhi dengan orang orang yang berpura pura cacat mental dan bepura pura jadi pelacur menjadi sampah sampah penting yang psikotis, eksotis, dan gelap. Seseorang harus menangisinya…

Sekali lagi angin yang itu itu juga mengusap tatapan mata, empang kumuh menjadi lautan dimana puri putih menjulang ditepi bukit dengan bebungaan yang menghampar menghiasai setiap celah dan lerengnya. Duduk ditepianya dan bulan makin pucat merayap ke barat. Memang demikianlah bumi bernafas sejak jaman paleolitik. Diluar lingkaran empang, orang orang aneh hidup dengan keanehan yang dijadikan kebiasaan. Mereka yang egonya hancur tertimpa ego yang lebih besar lagi. Demikianlah manusian, selamanyapun hanyalah permainan dari teori ego dimana semua berakhir ketika kematian indah datang pada kehidupan yang buruk. Disana burung burung menatap layar lalu jatuh ke bumi, menjelempah mati.

Aroma sampah menyapa pernafasan, mengantar langkah menuju kontrakan dimana kehampaan lain lagi tak terbacakan…Selembar kesan tertempel di dahi tanpa menutup pandangan, bahwa hidup tetaplah yang terbaik untuk didapatkan. Didalamnya berisi kejutan, keajaiban dan keindahan.
(...seekor ikan mati mengapung dalam kepungan remang malam ketika seekor kelelawar terbang melintas cepat diatas bangkainya...)
Season by season, creature by creature, miracle by miracle the epic journey continues…

Dari tepi empang Gempol, pada awal July 2006

Tuesday, July 11, 2006

Tentang Hikmah

Benarkah hidup hanyalah permainan dimensi ruang dan juga waktu? Bahwa setiap kejadian dan peristiwa memiliki medianya sendiri sendiri supaya bisa dengan mudah terbawa dalam ingatan, dalam kehidupan sehari hari. Sebagian terpelihara sebagai sebuah dunia yang hidup terus menerus bagaikan nikotin yang menjadi enzim resmi bagi darah dalam tubuh. Sebagian lagi membandul menjadi batu kenangan yang harus dibawa bawa kesana kemari di punggung sebagai beban resmi sepanjang perjalanan.

Idealnya tujuan hidup adalah untuk melayani orang lain, mengabdikan diri bagi kehidupan orang lain dengan ataupun tanpa imbalan. Bahwa untuk menjadi seperti itu orang tidaklah perlu menjadi sempurna sebab memang tidak ada manusia yang sempurna dimuka bumi. Kesempatan kadang datang tanpa sengaja, datang pada ruang dan waktu yang tepat meskipun tak terencanakan dengan matang sebelumnya. Tetapi titik pangkal dari semua kejadian, peristiwa, sejarah masa lalu bahkan kejadian yang akan datang di masa depan adalah konskwensi dari keputusan yang kita ambil pada saat ini. Kadang kita memutuskan untuk diam jadi penonton dengan bermacam pertimbangan, sedangkan pada situasi lain kita terpanggil untuk menjadi pelakon, menciptakan sejarah dan mengukir peristiwa yang barangkali akan menjadi catatan bagi bathin beberapa orang, terutama diri sendiri.

Setiap keping sejarah diri adalah pantas untuk direnungkan untuk kemudian di definisikan ulang barangkali hikmah yang digembar gemborkan oleh sang bijak datang pada saat perenungan itu. Hikmah selamanya memiliki standar ganda, sebagai pengobat perih dari kejadian yang pernah terlewati, apalagi jika itu adalah kejadian buruk. Hmmh…hikmah, tak lebih dari pengobat kekecewaan hati ketika diri merasa terpojok kemudian harus terseok meneruskan langkah kisah. Hikmah memaksa hati untuk menerima apapun yang telah diterima, berkompromi dengan keadaan apapun yang terjadi di pendalaman dunia angan angan. Hikmah menjadi obat mujarab pembasmi gulma kebahagiaan bernama protes atas sakit hati. Dengan hikmah, maka semua pantas untuk diterima dan diberi ganjaran yang seimbang dalam ukuran yang sangat abstrak.

Mengharap setiap hal berjalan baik dan menyandarkan tiang kebahagiaan pada rapuh jawaban atas harap sama dengan membangun pondasi untuk kekecewaan atas harap itu sendiri. Semakin tinggi benteng keyakinan dibangun untuk menggapai harapan, semakin tinggi pula jarak jatuh ketika harapan hanya menampar ruang hampa. Bergedebam menyisakan lebam dan memar memar bagi jiwa, bahkan terkadang bisa mematahkan arang hati. Kejadian buruk bisa timbul dari orang lain berakhlak buruk, bisa juga berasal dari penetapan standar atas keinginan pribadi. Kita terkadang agak lalai bahwa semakin kita ingin mengontrol dunia di luar kita, maka semakin jauh kemampuan kontrol kita terhadap hati dan logika sendiri. Semua dihamburkan begitu saja kepada ketidak pastian masa depan.

Walhasil, hikmah adalah jawaban baku atas apapun yang terjadi. Pasti ada hikmah dibalik anu, ini dan itu. Perwujudan hikmah itu sendiri dicari cari sedemikian rupa, dihubung hubungkan kesana kemari bahkan terkadang dipaksakan ketika proses pencernaan hikmah kurang pas mengena. Hikmah adalah benteng kukuh supaya apapun tak perlu dicari jawabanya kenapa bisa terjadi dan sebagainya. Sebuah kehidupan (apapun bentuknya) dari sebuah kehancuran atau bencana dianggap sebagai hidup baru, sebagai hikmah dari bencana yang baru berlalu. Bahkan keinginan untuk hidup sederhana, hidup dengan kehidupan wajar dianggap sebagai suatu yang istimewa ketika kaki kiri telah berada separuh di tubir jurang; padahal selamanya hidup tidaklah ada yang disebut hidup wajar sebab kewajaran hidup adalah misteri kehidupan itu sendiri, yang tak terpecahkan hanya dengan perkiraan maupun harapan. Hanya waktu yang menyimpan kunci atas gudang jawaban. Yang ada hanyalah hidup. Titik!

Gempol, 060708

Monday, July 10, 2006

My Solitary

Kupunguti kepingan gelisah yang menghambur berlompatan dari matamu yang berkilauan ketika cahaya hari baru melewati kulminasi. Ketidak mengertian tujuan perjalanan mengantarkan begitu banyak kecemasan dan kutampung di pundi pundi ketidak mungkinan yang kupersiapkan sejak berangkat bersama melenyapnya sejuk embun ditimpas matahari pagi tadi. Kejujuran atas beban rasa terpersembahkan sebagai bingkisan, tanpa berharap apapun atas apapun dari semuanya. Membiarkan semua mengalir seperti biasanya ketika diri kehilangan kemampuan untuk menolak apalagi menghentikan apapun yang datang dari delapan penjuru angin. Datanglah semua sesukamu wahai kejadian, ombang ambingkan dan permainkan semampumu emosiku. Engkaupun tahu, aku telah lumpuh layu untuk sekedar memprotes, dan menerima dengan kekuatan adalah perlawanan terakhirku.

Maka bagikupun ini hanya angin musim yang membawaku; tubuh sebutir debu ini terbang lenyap diantara kerlip bintang dan samudera langit. Seperti juga telah kupasrahkan keseluruhan sosokku pada semesta. Aku terlalu kecil untuk engkau pandang dari tempatmu yang megah. Bukankah inipun Supernova biasa yang terjadi hampir setiap hari di planet tak bertuan? Disinilah tempatku, ujung mega yang berjalan pelan tanpa tahu arah tujuan, dengan kaki menjuntai aku tatapi saja kejadian yang berlarian bagaikan penghiburan dari identitas diri yang nisbiah.

Hey…jangan tangisi, sebab aku akan selalu ada dibalik setiap gelap yang engkau tatap. Aku ada disana tanpa pintu dan jendela, diam menatap setiap kejadian dan menterjemahkan suara tawa yang lewat ditelinga sebagai kebahagiaan yang meledak. Aku tak lebih dari benda pasif yang tak mengerti harus berbuat apa ketika apapun harus terjadi dalam pengalaman, dan pada saat yang sama ketidak berdayaan itu menciptakan aku sebagai mahluk keji yang pintar melukai, mencacah dua hati pada detik yang bersamaan. Dua hati? Bukankah ribuan jumlahnya? Ya, berapapun jumlahnya tak terhitung tergantung dari siapapun yang berkehendak menitipkan predikat bersalah sebagai milikku yang sesungguhnya. Bagi kemuliaan hidup orang orang yang berhati mulia aku hanyalah monster mengerikan di peradaban. Maka jangan cemaskan, sebab kegelapan akan sempurna menjadi sinar bagi dunia lamaku. Tak ada kehidupan yang baru, sebab yang baru adalah ketika bunda melahirkanku dengan bekal nyawa segalanya untuk perjalananku.

Lalu aku minta maaf kepada kehidupan kalau adaku hanya menjadi jelmaan dari sebilah pedang ditangan si buta. Maafkan aku atas ketidak bisaanku menjadi malaikat harapanmu, wahai hati . Sungguh semestinya aku tak mengharap diri menjadi sesuatu yang meneduhkan, apalagi menjadi berarti sesuatu bagi siapapun. Entah nanti, entah kapan…




Cubicle, 060705

Thursday, June 29, 2006

Mabok kematian

Atas nama luka ia pasrahkan hidupnya pada kematian, tangan terbuka menunggu malaikat datang tunaikan tugasnya, agar pupus satu kisah tentang manusia. Jika benar bahwa harapan membuat orang bertahan hidup, Dia menerimanya sebagai cara yang layak untuk menjemput sang maut. Ia telah menjadi tawanan nasib yang membanting dan menghempaskanya tanpa kendali, membuat syaraf motoriknya mati. Ia menggelinding saja mengikuti arus kewajiban serta meniadakan perlawanan apalagi pemberontakan. Diterimanya semua dengan hati tak rela.

Ia menggelandang dari bayangan demi bayangan, dari kabut ke kabut yang disangka menenteramkanya. Dilarungnya segala benda kepemilikanya ke kawah keputus asaan, lebur jadi asap lalu terbang tak bersisa dilangit raya. Jika air mata yang tumpah melambangkan hati yang terkoyak dan patah, suatu kali ia adalah muatan awan yang sempat diminta bintang untuk singgah, sekedar menyirami kebun strawberry dan ladang anggrek. Lalu ia ditendang jatuh, mukanya membentur lantai es yang kaku. Maka tumpahlah pula segala luka baru jiwanya, menghambur ke bumi menjadi butiran hujan; berkah bagi kehidupan yang melata di tepi kematian.

Dia menyerahkan diri kepada ketidak pastian masa. Dilaluinya hari dengan serpihan kaca disekujur nadinya, berjalan gontai kehilangan delapan mata angin penuntunnya. Ia hanya mencari kematian dari satu titik ke titik lainya. Tak satupun rumah yang disinggahinya menganggapnya pantas untuk menjadi penghuni, sedangkan miliknya sendiri telah amblas ditelan sejarah badai hujan yang hitam. Dikuburnya mimpi yang menjelma menjadi batu kenangan, dibawanya kesana kemari sebagai beban sepanjang perjalanan ragunya. Telah dipilihnya kekalahan menjadi teman sejati tanpa ikatan janji. Toh dia hanya menjalani jalan setapak kehidupan dengan langkah kedepan yang hanya menginjak udara. Kosong tanpa rasa.

Dipeliharanya mimpi dikepala, tentang sebuah kematian indah dimana hanya alam yang menyaksikan ketika jiwanya lepas dari belenggu konskwensi. Kematian yang ia persembahkan bagi pengabdian terhadap hidup. Perlahan disadarinya, harapan hanyalah fatamorgana yang memprovokasi hati untuk takut kehilangan hidup. Dia sadar bahwa dia tidak punya kontrol apa apa terhadap wujud masa lalu maupun transformasi masa depan. Dibuangnya jauh jauh segala bentuk kebanggaan, ia terima tawaran dari nurani untuk beternak domba di kandang srigala. Dia teruslah berjalan, mencari kesempatan dimana malaikat merencanakan kematiannya meski pencarianya membetur dinding dinding buntu, sebuntu harapanya.


Gempol, dibawah kerlip Orion 060627

Tuesday, June 27, 2006

Kepalsuan yang palsu

Jika tiba saatnya ia memilih diam sebagai sebuah percakapan, yang menjabarkan begitu banyak kemungkinan yang tak tertebak, menyembunyikan ketidak tahuan bahkan hal hal yang diketahui sekalipun. Dia juga menyempurnakan kepura puraan, membuat sikap menjadi pasif.

Dipalsukanya kepalsuan hingga kerap menjelma menjadi kebenaran. Bahkan gerak tubuh dan tarikan nafasnya hanyalah seutas kewajiban yang menyatu dengan udara dari angkasa mana sana. Jubah kebajikan dipersembahkan sebagai seragam, menyembunyikan badai yang terkandung pada setiap ayunan jarum arloji. Separuh jalan yang amblas telah hancur menjadi lumpur, menghambur menyusuri lereng curam hingga nanti kering didasar jurang dan lalu mentransformasikan diri menjadi butiran debu yang kelak akan meliuk dipecundangi angin.

Dikira gampang meluruskan kaki pincang, letihlah yang datang menjadi jawaban. Ciuman mentari meredam amukan gundah gulana membawa kabar tentang langit berisi bunga, satu satunya di galaksi. Cerita tentang kabut dan asap yang saling berbicara, tentang mimpi dan mimpi yang saling bertemu telah menyempurnakan tampilan sang palsu. Melambari telapak kaki yang hancur tertusuk batuan dengan sandal fantasi berlogo cinta. Tubuh seolah menari dilantai mega mega, dengan irama angin meniupkan wangi sorga. Bersama sebentuk bintang, bersetubuh menghayati alam memanjakan keinginan hingga lupa diri juga lupa ingatan.

Selayang udara hangat melintas diam diam, lembutnya yang menyentuh kulit membangkitkan kehidupan pada pori pori membuat darah menagih untuk dijelajahi senti demi senti setiap bidang tubuh. Iapun melebur malam menjadi imajinasi, bercerita tentang dunia tak tersentuh angan angan, apalagi cerita kepalsuan. Sang Cupidon sibuk merentangkan busur panahnya, meluncurkan kata kata yang bergedebam melentingkanya kelangit tinggi, membuatnya mati mati. Nafas mereka menyatu, meniadakan dimensi ruang dan waktu yang membentengi rindu, menayangkan drama animasi terbaik abad ini. Ia menjadi bayi, tergolek tak berdaya tanpa jubahnya, ditelanjangi lembar demi lembar piranti kepalsuanya. Ia rasa ia menjadi dirinya sendiri, hidup diantara debu dan udara alam nyata.

Hingga tiba saatnya dia akan kembali, bertemu pagi dan seribu satu urusan duniawi, kepalsuan demi kepalsuan lain lagi. Kepalsuan belaka yang menyebabkan pagi dianggap sebagai hari baru, dimana segala bebas dimulai bak ladang harapan yang minta ditanami. Tak sadar isi dunia hanyalah kehausan akan keinginan dan kelaparan akan ketidak inginan, dengan peraturan pertaruran yang dibuat sedemikian rupa sebagai juklak pelaksanaan. Batasan demi batasan dibuat dengan azas ambigius demi celah pembelaan. Ah, betapa tua dunia bahkan ketika tak disadari bahwa sekarang tak perlu ada api untuk memunculkan asap. Keajaiban menjadi hal biasa, keluar biasaan menjadi budaya yang dimaklumi begitu saja pun tanpa alasan apapun. Garis antara palsu dan nyata menjadi kabur oleh pijakan kaki kaki kotor para pejalan, dan kepalsuan perlahan menjelma jadi kebenaran.


(Aku ingin menjadi bayi raksasamu malam ini,
tenggelam dalam lautan damai pelukanmu.
Ciumlah aku,
hapuslah resahku dengan belaianmu,
angkuti bergunung gunung rindu yang menimbun dengan lembut bisikanmu,
rindu yang kutanggungkan ratusan tahun sendirian.
Ah, kamu terlalu indah, sonyaruri…)


Gempol, 060624

Monday, June 26, 2006

Nafas Alam

(Tentang Rindu)
Ingin sambil mentap matamu kelak jika ruh kita menyatu mengalirkan jutaan ton tabungan rindu yang tak pernah bisa terjabarkan dengan kata kata. Nafas yang menyatu meniadakan jarak dan waktu yang telah semena mena mempermainkan rasa. Segala beban lenyap tak tersisa hanya oleh pelukan yang pertama.

Udara membawa muatan yang kita punguti sepanjang jalan bercampur baur menjadi satu, saling memilin kisah betapa jauhnya jarak tempuhan untuk sekedar sampai di dermaga pertemuan. Darah yang menggerakkan nadi berlarian kencang kesana kemari, membentur dinding jantung dan kebingungan mencari jendela untuk meloncat dari bangunan tubuh, berlarian kencang mengusung di sirkit syaraf, membuncah menguapkan ubun ubun.

Dengan tubuh telanjang dari aneka kepalsuan, rindu menjadi selimut penghangat kebersamaan. Setiap gerak melahirkan sentuhan, menjadi benturan dua godam dalam kecepatan. Seribu ciuman disekujur badan merubah daki menjadi cairan manis dengan rasa rindu. Sunyi, tak ada polusi suara di telinga sebab hanya rintihan hati menahan beban rindu yang menjepit sepanjang jalan. Ri rindu, si raja lalim yang kejam telah dengan licik melabur indah dengan keperihan.

Kita menuju ke perjalanan lain lagi, penjelajahan atas ngarai dan sungai, melewati hutan belantara, mendaki bebukitan dan mencari apa yang tidak ada tanpa berharap menemukan. Otak seolah merekam setiap detail yang telah di perbesar dan perjelas, lengkap dengan warna, bau rasa dan suhunya. Logika tetap terpelihara untuk mengkonfirmasi bahwa kejadian ini benar adanya, bukan sekedar mimpi siang hari yang membuat terjaga dengan hati kecewa. Menelusuri inci demi inci keajaiban sang hidup, membacai setiap goresan tinta masa lalu yang membuat kita menjadi ada.

Nafas alam penebus hutang rindu yang menggunung tak tertanggungkan, ekspresi tertinggi dari bahasa perasaan dua angan yang saling bertautan. Sebuah rasa yang tak pernah terjabarkan dengan kata kata tinggal menjadi misteri sebagai propaganda sang alam. Ia adalah persetubuhan dua ruh yang saling mendambakan keindahan tanpa bentuk…


Gempol, 060625

Wednesday, June 21, 2006

Anak

Anak sebagai wahyu, titipan sekaligus amanah selayaknya memiliki tempat tinggi dalam kehidupan keluarga maupun dalam komunitas sosial. Eksploitasi terhadap kelemahan dan ketidak mengertian anak terhadap tetek bengek kehidupan adalah sesuatu yang sungguh keji. Setiap orang dewasa pasti pernah memiliki masa kanak kanak, tetapi sayangnya banyak orang dewasa pura pura lupa bagaimana menjadi anak anak dengan kemampuan menganalisa dan pengertian terhadap pengalaman yang baru sedikit. Orang tua yang melakukan kekerasan fisik terhadap anak jelas mengidap penyakit mental, kelainan nurani yang kronis. Tindakan itu juga sebenarnya menciptakan dunia kekerasan berlipat ganda bagi kehidupan si anak itu sendiri. Dengan dalih apapun, kekerasan terhadap anak bukanlah cara bijak membentuk masa depanya. Bukankah masa kanak kanak adalah penopang kedewasaanya kelak?

Orang tua yang merasa lebih berpengalaman dan lebih tahu tentang segala hal juga terkadang memanfaatkan situasi itu dengan sangat picik. Perceraian, adalah contoh paling gampang kita temukan dimana kepentingan si anak tidak mendapatkan posisi yang semestinya; sebagai dasar dari setiap pertimbangan pengambilan keputusan. Selamanya perceraian adalah cara ekstrim penonjolan egoisme suami istri, yang memunafiki fungsi sosial sebagai induk psikologis maupun biologis dari sang anak. Ketika perceraian terjadi, otomatis anak anak secara psikologis akan kehilangan sebelah kaki. Dia akan berjalan pincang menjalani hari harinya kedepan dengan rasa kehilangan. Dalam hal ini, anak tidak diberikan hak pilihan. Orang tua semacam ini hanya berfikir tentang diri mereka sendiri, dan memandang anak sebagai tanggung jawab materi. Dan perceraian hanyalah kekerasan psikis terhadap anak semata. Selamanya, kekerasan dilakukan oleh siapapun yang lebih kuat terhadap siapapun yang lebih lemah.

Seyogianya, anak memiliki kedudukan tertinggi dalam rumah tangga. Resolusi atas konflik yang terjadi seharusnya mengedepankan kepentingan sang anak karena menjadi orang tua berarti juga mengambil konskwensi sebagai penanggung jawab kehidupan sang anak. Anak anak hanya tahu mencintai dan dicintai, mereka tidak punya kepentingan lebih tinggi selain belajar tentang segala hal dari apa yang dialami dan dijalaninya. Tidaklah sulit menempatkan anak sebagai malaikat penyelamat, jimat penguat dan sahabat karib bagi si orang tua selama kepentingan anak menjadi prioritas utama. Penempatan anak pada posisi mulia seperti itu juga menjadikan orang tua memiliki mercu suar perilaku dengan selalu memperhitungkan dampak terburuk terhadap si anak ketika mengambil sebuah sikap.

Orang tua adalah guru kehidupan, cermin panutan bagi anak. Orang tua yang buruk akan menciptakan generasi yang buruk dimasa depan, dan sebuah kehidupan dunia yang suram telah menjadi janji untuk ditepati di kemudian hari. Menjadikan anak ‘pangeran’ ataupun ‘puteri’ dalam keluarga akan memberinya motivasi untuk mencintai hidup, mencintai sesama dan kehidupan. Pengajaran yang benar tentang toleransi dan rasa hormat terhadap mahluk hidup akan menciptakan pribadi pribadi yang peduli terhadap isi bumi. Sikap orang dewasa kepada anak anak, adalah cermin kedewasaan yang sesungguhnya.

(tulisan ini sebagai ekspresi keprihatinan terhadap rasa bangga yang ditonjolkan pada sebuah acara infotainment tentang perceraian, betapa anak hanya menjadi figuran dalam kepentingan dua orang tua mereka yang hanya menuruti ego. Tidak malukah public figure ini dengan gemerlap pesta pernikahan a la raja raja yang dilangsungkan beberapa tahun silam sebelum si anak ada di dunia atas prakarsa mereka?)

Gempol, 060620

Monday, June 19, 2006

Harmonisasi Bumi

Judul diatas sekaligus sebagai jawaban atas pertanyaan sekaligus juga materi tulisan untuk kontes yang diadakan oleh Hiking.

Sebuah kehidupan dimana semua mahluk hidup saling berdampingan dan terbebas dari ancaman dan kecemasan. Setiap orang saling memandang orang lainya bahkan yang tidak dikenalnya secara pribadi dengan pandangan penuh cinta kasih seperti halnya cinta kita kepada anak maupun kepada orang tua. Penghormatan terhadap anak maupun orang tua adalah manifestasi cinta kasih yang sesungguhnya, tanpa embel embel tertentu dibelakangnya. Jika itu terjadi, maka dunia tak memerlukan kosa kata untuk mengumpat, memaki ataupun kata kata vulgar yang sebenarnya sebagai jarum penunjuk kualitas kecerdasan emosi. Tak ada negativisme di bumi, maka tidak akan perlu ada perkelahian, konflik apalagi peperangan. Semua nurani pasti dibekali satu pemahaman bahwa perang hanya pabrikasi atas korban, sebab nurani hanya mengenal kebaikan.

Sikap legowo (menerima dengan ikhlas) bisa menjadi kunci dari semua keruwetan dari penjabaran nilai tenggang rasa ini. Menempatkan ego diri dalam rantai terendah kepentingan umat manusia dengan kepemilikan tanggung jawab moral terhadap nurani akan membuat dunia menjadi sejuk. Bagaimanapun, menekan ego yang menjulang pada setiap diri manusia bukanlah perkara mudah. Berfikir sebagai kerja kognitif oleh otak dan cikal bakal pemikiran, ide maupun gagasan menjadi sumber dari segala peristiwa sosial di kehidupan. Pengendalian terhadap arus berfikir mutlak memerlukan kemampuan menduplikasi efek dari perbuatan kita terhadap hidup disekitar kita. Inipun terkadang menjebak manusia dalam sikap superior, tidak mau kalah apalagi dikalahkan, tidak ingin salah apalagi disalahkan. Kita sering bertindak kasar karena tidak mau orang lain berlaku kasar terhdap kita. Sikap legowo tidak mengenal pembalasan maupun fikiran sikap petakompli. Sombong yang tak disadarilah yang memprovokasi batin manusia untuk melindungi kepentingan individu (sebagai sifat bawaan), ketimbang mengembangkan pola pola kompromi terhadap konflik kepentingan antara ego, logika dan hati. Bukankah jika mata dibalas mata, maka dunia akan menjadi buta (mengutip kata kata bijak dari Mahatma Gandhi). Mengalah yang benar benar mengalah sama saja menciptakan kemenangan yang tak perlu dipublikasikan, sebab kemenangan yang sejati adalah ketika manusia bisa mengalahkan ego sendiri. Kemenangan seperti samasekali tidak memerlukan korban kalah.

Mahluk hidup juga termasuk segala jenis binatang dan tumbuhan tanpa pengecualian. Kemampuan akal manusia melahirkan sifat ingin menguasai dan ambisius dengan sederet nafsu dan cara pemuasanya. Malang bagi mahluk hidup non manusia, karena harus menempati posisi yang paling mudah untuk di eksploitir. Terhadap binatang, manusia yang nota bene berakal tetapi terkadang justru mematikan akalnya sendiri. Sangat mudah kita dapati disekeliling kita, betapa dengan dalih kesenangan, manusia menempatkan binatang dalam kurungan terali. Predikat menyayangi binatang diartikulasikan sebagai penguasaan atas hidup si binatang malang. Pernahkah terpikir bagaimana seandainya zaman berbalik, dimana manusia yang tak berdaya dan binatang yang berkuasa? Maka bersiap siaplah kepada saudara saudara yang berparas elok maupun berpenampilan fisik menarik untuk menjadi buruan para binatang ini sebagai pajangan. Betapa mudah manusia mencabut nyawa binatang hanya alasan jijik melihatnya. Binatang, juga tumbuhan memiliki alam dan dunianya sendiri di bumi ini, dan kecerdasan akal manusia seharusnya memberikan ruang yang semestinya bagi kehidupan mereka, kita berbagi tempat dan kepentingan di bumi yang sama.

Maka bumi yang harmonis adalah kehidupan ideal yang barangkali lebih berupa utopia. Tetapi setidaknya kelebihan akal kepintaran manusia atas mahluk hidup lainya memberi peluang kepada kita untuk mengevaluasi kerja nurani sendiri bagi kehidupan, bukankah semua manusia hanya pejalan dari gelap rahim bunda menuju gelapnya liang kuburan? Dan diantara dua kegelapan itu manusia diwajibkan menjalani benderang bernama kehidupan, bukankah indah jika menjadi sekali berarti lalu mati? Dan semua itu hanya bisa terjadi dengan memulainya dari diri sendiri…


Gempol, 060618

Wednesday, June 14, 2006

Identity barcode

.....
“Seandainya setiap individu memiliki Identity barcode, mungkin tidak akan ada orang yang dikemudan hari menyadari bahwa dia salah memilih teman hidupnya, masing masing orang tinggal menemukan barcode yang cocok, nanti akan ada organ semacam detector yang berdenging. Semakin cocok identity barcode seseorang dengan kita, maka dengingnya akan semakin nyaring. Aku yakin di dunia ini tidak ada perceraian kalau keadaanya seperti itu”
“ Kalau kita punya barcode, kira kira apa yang akan terjadi dengan detector kita sayang ya?”
“Aku rasa akan berdenging terus saat kita dekat seperti ini. Brisik, tau! Kamu tahu cara men-deaktifkanya, kan?”
.....
Jika benar urusan jodoh, mati dan rezeki itu mutlak urusan Tuhan, kenapa manusia diwajibkan untuk mengupayakan ketiga hal tersebut dan menyerahkan hasilnya kembali kepada Tuhan?
Mohon maaf, pertanyaan diatas tanpa sedikitpun mengandung makna tendensius dan menghasut, sekedar pertanyaan pribadi atas percakapan dua manusia yang terdampar diserpihan nirwana di bumi langit namanya.

Ketidak harmonisan hubungan, dengan ribuan dalihnya sendiri sendiri. Sebagian mengada ada, sebagian lagi memang menjadi ciri wanci kehidupan manusia yang terus bergerak mencari dan menemukan, menjelajahi bahkan sebagian bertualang di miliaran rel perjalanan hidup penghuni bumi. Azas hubungan selamanya mengandung kepentingan entah itu pribadi maupun komunitas. Pengembaraan jiwa jiwa yang merana itu bergentayangan menghilangkan garis pembatas ruang peradaban. Ketidak bahagiaan melegitimasi pengkaburang terhadap batas antara semu dan nyata, antara khayal dan kenyataan. Dan ketidak terbatasan kemampuan angan angan memiliki merajai kekuatan atas setiap kehendak pemilik badan.

Idealnya orang mengenali orang lainya dari sisi dalam yang tak terlihat mata telanjang. Arus pemikiran dan irama pandangan jelas sekali menentukan karakter dasar dari satu individu. Umumnya keyakinan bahwa kita mengenal seseorang dengan baik dari sifat maupun tabiatnya mengabaikan hal hal yang mungkin saja menjadi pilar penentu perubahan kepribadianya di suatu masa. Slamanya dunia berubah, manusianya tetap sama itu itu juga dengan pola mengikuti perubahan dunia. Dan, masa kanak kanak yang akan berbicara jika sesorang memang tiba saatnya untuk bertransformasi. Masa kecil penyangga kedewasaan setiap manusia, penentu laju proses demi proses transoformasi penghuni dunia.

Terkadang kita berharap mengembangkan komitmen hubungan dengan maksud untuk menyekutukan kepentingan pribadi. Kita berharap dikenali seperti halnya mengenali orang sejauh yang kita mengerti. Padahal, tidak ada satupun orang di muka bumi yang bisa mengenali seseorang lainya secara menyeluruh. Disetiap kehidupan seseorang terdapat lorong lorong yang tak bisa dimasuki untuk dibaca maupun dipelajari oleh orang lain dan tetap menjadi misteri. Keyakinan yang terlalu tinggi terhadap pengetahuan kita atas orang yang ada dalam kehidupan kita tanpa sadar menyeret kita menuju laut apriori.

Dan alam punya aturanya sendiri, selamanya berjalan demikian sekuat apapun akal fikiran manusia mengingkari dengan kesombongan. Demikianlah akal budi yang berafiliasi menjadi kepintaran, memiliki senjata dan sekaligus daya pencarian terhadap apa yang dikehendaki, juga apa yang dibutuhkan oleh sebuah hati; kebahagiaan. Dan kebahagiaan adalah milik alam bathin, sedangkan alam bathin kalis dari batas vertical maupun horizontal alias tak terbatas. Kesenangan hanya segumpil dari ekspresi kebahagiaan, tak menterjemahkan keselurhan terpenuhinya nutrisi batin yang - sekali lagi - tanpa pembatas. Kalaupun norma dan nilai jadi pembatasnya, maka kepintaran dengan senjata dan dayanya akan bisa mencari celah untuk melegalkan penggeseran nilai untuk alasan keseimbangan.

Identity barcode hanya produk dari pabrikasi khayalan, sebab oleh sifat manusia yang memang pemilik sifat segala binatang termasuk bermimikri, mengelabuhi warna sekitar demi eksistensi. Maka siapakan sejatinya yang berkuasa atas jodoh, mati dan rezeki manusia? Diri sendiri, dan Tuhan yang mengawal prosesnya, kewajiban manusia adalah menjadi manusia. Seperti halnya kematian, perceraian, dan kebangkrutan hanya proses dari isi kehidupan belaka. Identity barcode akan mencegah terjadinya kemenysalan dan salah pilih bahkan kasus perceraian dalam rumah tangga, pastinya!


Gempol, 060614

Tuesday, June 13, 2006

Benalu

Kulit buahnya yang rapuh koyak oleh cabikan paruh burung pemangsan, terbawa melanglang lalu bijinya yang lengket didamparkan begitu saja disebuah dahan pohon kehidupan yang yang tumbuh di alam jiwa. Dahan tumpangan menjadi sandaran yang menyamankan untuk memulai satu kehidupan baru diatas kehidupan yang sedang ada, menjadi wahana bagi pengembang biakan cita cita generasi lanjutan. Biji benalu yang tak berdaya, kecil dan hina kini mendapat sandaran kokoh batang pohon kehidupan, yang menyerap dan menyimpan puluhan tahun pengalaman dalam setiap jalinan batang kayu, kulit dan akarnya.

Sang pohon yang hanya tahu cara menjadi pohon, menyerap intisari makanan sebanyak yang dibutuhkan dan terus menjulang ujung ujung rantingnya membacai langit pengetahuan. Klorofilnya mencerna setiap sari makanan jadi kekuatan, tajam akarnya kokoh menjaga tetap tegak berdiri menjadi prasasti. Sesekali pejalan dan petualang bersinggahan dibawah rimbunya, tak menghiraukan betapa ia menjadi saksi atas begitu banyak kejadian. Dari lembar lembar daun pengalaman berisi catatan penting tentang kebajikan yang gugur satu demi satu ditimpas musim ia memupuk diri.

Syahdan sang alam menitiskan ruh kehidupan kepada sang biji benalu, menggubahnya menjadi tumbuhan mungil tak berarti yang melekat di kekar dahan sang pohon. Atas kebaikan hati sang pohon semata si benalu memiliki kekuatan membangun kehidupanya sendiri perlahan dengan kepastian menyusupkan akar akar tajam tuntutan kepada lumbung enzim di dahan kekar. Ia lalu mentahbiskan diri sebagai pelaku simbiosis parasitisme; melakukan sabotase sari makanan yang yang dihasilkan sang pohon demi tumbuh kembang kehidupanya yang sangat eksklusif milik si benalu itu sendiri. Lalu ia menjadi benalu yang tak punya malu.

Timbunan waktu lalu mengantar sang benalu menjadi si sombong, merasa berdaya perkasa bukan atas prakarsa siapa siapa. Seluruh penampilanya mencerminkan sifat parasit dengan ciri dan bentuk segalanya yang serba berbeda dari sang pohon pemilik kehidupanya yang sejati. Benalu tidaklah lupa dari mana ia didamparkan dan berasal, ia hanya ingkar terhadap masa lalunya yang tak terlacak oleh jejak sejarah. Iapun hanya tahu cara menjadi benalu, menghisap hidup mahluk lain yang dengan dermawanya memberikan kesempatan kehidupan. Kesombonganya mengklaim diri menjadi mahluk tersendiri, terpisah dari induk pohon yang digerogoti. Benalu tumbuh gagah tanpa mengenal perih maupun lelah. Ia bersuka cita atas kuasa cuma cuma, bahkan empatipun tak dimilikinya kecuali sebanyak mungkin menuntut apapun yang tersedia untuk menjadikan dirinya lebih dari sekedar batang pohon kecil yang hidup pada dahan tumpangan yang kemudian menjadi jajahan.

Dengan jatidiri barunya benalu meracuni kesempatan sang pohon untuk mencari kesejatian. Dahanya menjadi kurus tak terurus, bukti tak terjaganya suplai keniscayaan yang semestinya. Kematian yang perlahan bagi sang dahan sedang dijalani, dan tergantikan kehidupan subur bagi benalu pemakan hati. Benalu hidup dalam kehidupan sang pohon, menjadi pohon dengan karakteristik terpisah diatas pohon, berjaya dengan menindas rasa sebagai bahan bakar pelangsung keangkuhanya. Dan sang pohon ia telah ikrarkan sumpah: demi matahari terbit ia tidak akan berkelahi lagi memprotes keberadaan benalu yang menempel di fikiranya.


Gempol, 060613

Saturday, June 10, 2006

Dunia dibalik kaca

Bahkan wahana transparan itupun sanggup memantulkan imanji tentang diri, berwujud manusia dari ujung kaki, badan hingga rambut penutup tulang tengkorak. Karakteristik ciri jasmaniah mahluk paling sempurna. Kehidupan fisik memiliki pamornya sendiri demikian juga kehidupan dibalik penampilanya. Jauh lebih rumit dan kompleks ketimbang apa yang bisa dibaca oleh mata. Ia adalah sebuah dunia yang tersembunyi, terisolasi oleh garis garis batas bentukan nurani.

Berdiri di depan dinding kaca transparan, mata memandang kehidupan lain lagi berjombak dikedalaman. Senyum tawa dan hangat suasana terpancar dari kilatan blitz lampu kamera, seolah menitip pesan agar jangan sejarah dilupakan. Ada kebahagiaan mengisi ruangan, ada cinta yang menegaskan persaudaraan saling mengikatkan hati mereka. Wajah wajah cerah menerangi dunia dibalik kaca bersinar penuh gairah penoreh kisah bagi setiap individu penghuni di dalamnya. Pertemuan fisik, selamanya adalah konfirmasi bahwa hati benar adanya (according to Q).

Dinding kaca hanya pembatas, garis penegas bagi letak keberadaan. Kehadiran termaknai sebagai saksi atas keraguan tentang dua dunia yang berbenturan, mengalahkan kemustahilan dan melipat lembaran daftar pertanyaan. Dari balik dinding kaca, benih cerita akan menjadi permulaan bagi episode lanjutan. Seseorang yang berdiri masygul didepan kaca, menghamburkan angan bersama mereka. Sayang, ia tak menemukan pintu untuknya membawa diri larut serta. Sampai saatnya matahari memanggilnya pulang, dibawanya serta cangkang dunianya dikepala, menyusuri jalan jalan dengan nyenyanyian tentang kerinduannya kepada bulan. Ia lebur menjadi debu disetiap ruas jalan pulang yang dilaluinya.

Diantara deru obrolan dan gempita pertanyaan, seseorang menyelinap ditengahnya tanpa terlihat dan terasa. Ia ada, hidup di dunianya sendiri dibalik dinding kaca menyaksikan dunia dunia yang dikenalinya dilangit tak bertuan sana. Dan ia tersenyum turut berbahagia dengan caranya sendiri siang itu…


Citos, 060610

Friday, June 09, 2006

Hikayat lemah sangar

Aku ingat sebidang tanah tandus di sebelah timur kampungku dulu, yang melulu berisi semak dan tumbuhan perdu. Tidak produktif, gersang dan mandul. Tempat itu menjadi arena bermain sekaligus lahan gembala hewan piaraan sewaktu aku kecil dulu, berada di kepungan sawah sawah oncoran yang subur, ia menjadi seperti pulau yang ditengah lautan sawah. Orang menyebutnya sebagai lemah sangar. Dongeng nenek dulu, tanah itu menjadi gersang demikian karena pada suatu ketika di zaman dahulu kala seorang ksatria pernah menangis dan meneteskan air matanya ke bumi, radius puluhan meter dari tempat air mata ksatria itu menetes akan menjadi gersang dan mandul, tak memberi janji berarti bagi kehidupan. Pesan moral dari nenek barangkali agar lelaki ksatria dipantangkan untuk menangis apalagi meneteskan air mata, sebab seorang ksatria adalah figur yang mumpuni dalam segala suasana.

Sebidang tanah gersang itu dulu, suatu kali terbakar hangus, terbakar oleh tangan manusia juga dengan tujuan kesenangan belaka. Rumpun rumpun rumput wlingi dan ilalang yang selalu berbau wangi hangus tanpa sisa, perdu perduan seperti orok orok, pohon duri, jlegor dan lainya tinggal menjadi onggokan onggokan gosong. Praktis kehidupan yang tadinya gersang menjadi semakin terpojok di rangkaian paling belakang rantai kehidupan. Kemarau kemudian memperpanjang gersangnya, menyisakan lemah sangar menjadi gurun kecil tanpa kehidupan, bahkan tanda tandanyapun tiada.

Kemudian atas kuasa alam, turunlah curah hujan. Dibawah tanah yang tak terlihat oleh mata harfiah, akar akaran hidup dalam kerahasiaan bentuknya. Hidup bersama para pemangsa dan sekaligus juga peneman yang dikodratkan harus demikian. Sejuk air hujan yang menelusup jauh kedalam bumi, sekedar mencari jalanya kembali ke angkasa itupun menyapa akar rumput yang mati suri, juga mengilhami biji biji rerumputan yang sempat gugur sebelum api memusnahkan rumah penghidupannya. Hujan seperti mengirimkan nyawa bagi mahluk mahluk hidup yang pasif ini, kemudian matahari membwa pemupuk semangat setiap pagi. Maka lemah sangar itupun perlahan ditumbuhi helai helai mungil berwarna hijau; daun kehidupan meskipun hanya rumput tanpa nilai materi. Tetapi kehidupan tetaplah kehidupan; berkah dan anugerah terbesar dimuka bumi.

Si akar rumput dan bebijian begitu perkasanya menahankan siksa api kebakaran dan juga tikaman matahari musim kemarau. Semangatnya hanya mengabdi kepada bumi, berharap silsilah tetap terjaga sebagai imbalan atas keberlangsungan kehidupan secuil lemah sangar tempat ia dan komunitasnya ada. Telah dibangunya sebuah investasi sosial sebaik kemampuanya sebelum ludas oleh satu percikan api durhaka. Sifatnya yang bukan pelawan telah dikalahkan kemudian diabaikan bahkan mungkin ditertawakan ketika perlahan ia luluh tak berdaya, hangus terbakar. Tak perlu menakar seberapa besar kontribusi kepada kehidupan, sebab pemberian bukanlah menjadi ukuran pengabdian.

Dinyatakan kalah dan salah (karena ia tumbuh di sebidang lemah sangar), ia tak mampu memberontak ke permukaan tanah kering yang memenjara amarahnya. Pembelaanya terhadap ketidak adilan yang hanyalah semata ketidak relaanya atas ego yang dilecehkan ketika jalinan ruhnya hanya berisi pengabdian bagi keberlangsungan satu gelembung kehidupan yang menjadi kebanggaan. Pemberontakan bisunya hanya menyisakan letih jiwa, merana tak menentu dipecundangi harapan dan keinginan basi. Lalu ia berhenti berharap apapun dari apapun, hanya menjalani kodrat sesuai amanat bumi. Kekalahan bertubinya melahirkann kontemplasi panjang tentang kekalahan itu sendiri, bahwa memang kehidupan berjalan atas konsepsi menang dan kalah bagi sebagian mahluk penghuni bumi. Terus memprotes kekalahan yang tidak adilpun hanya akan mempertajam setiap sisi makna kalah itu sendiri; tidak lebih baik dari sang pemenang. Tidak berharap apapun dari apapun adalah menerima kekalahan sebagai hal yang wajar (juga segala hal yang terjadi dalam kehidupan adalah kewajaran semata), seperti melepaskan seikat balon ke udara, ikhlas menerima kenyataan. Ikhlas tanpa menyembunyikan pertanyaan apapun, tak mengharap apapun.

Akan sampai kemudian datangnya hujan menggemburkan tanah dan matahari memberikan penghargaan terhadap peluang yang wajar. Giliranya kini, menjalani kewajiban untuk hidup menjadi sebatang rumput dalam komunitasnya yang sama; lemah sangar yang gersang tak bertuan, menjadi jelmaan dari ksatria sejati yang menangisi diri.


Gempol, 060609

Thursday, June 01, 2006

Mencintai dan Dicintai

Satu pesta pernikahan yang membosankan syaraf menyisakan pesan untuk saudara yang berkehendak memilih seseorang sebagai teman menghabiskan sisa hidup, menjadi pasangan yang terikat oleh hukum dan kewajiban.

Bahwa menikah adalah memasuki gerbang penjara raksasa yang berisi lahan garapan masa depan, yang dengan bergandengan tangan bersama pasangan masuk kedalam sebuah dunia eksklusif. Sekali melangkah melewati gerbang maka pintu raksasa itupun tertutup dengan otomatis. Keseluruhan dunia perkawinan berdinding kaca, berlangit kaca dan juga berlantai kaca, semua tembus pandangan. Itulah gelembung peradaban, yang dengan ekstrim memiliki tatanan kepantasa dan standar etika sebagai produk budaya.

Di dalamnya membaur dua individu yang sama sama berasal dari planet asing – seberapapun kita mengenal orang itu- yang kemudian atas komitmen hati menciptakan sebuah bangunan rumah tangga tempat berlindung dari terik dan kerasnya pergaulan. Tempat berlindung itu juga sekaligus basis untuk membangun mimpi mimpi dan harapan, menciptakan sesuatu dari ketiadaan dan merencanakan masa depan. Secara kodrati kehidupan baru dua individu ini juga melahirkan kewenangan kewenangan atas fungsi yang berbeda, menakhodai dan memelihara dengan tujuan sama; demi tetap berlangusngnya kehidupan penjara.

Ketika rumah penjara baru dimasuki, yang menjadi azas adalah cinta. Dan seperti saudara maklum, cinta membutakan mata logika, meremehkan ketidak mungkinan ketidak mungkinan yang biasanya melahirkan penindasan bathin (biasanya kemudian cinta dipersalahkan). Selama proses pembutaan logika berlangsung, maka dunia penjara dengan komunal baru itupun menjadi tempat memuja rasa yang membanggakan sekaligus menjanjikan, bahwa tidak akan ada hal buruk yang bakal terjadi selama cinta mengikat dua hati. Eh, jangan salah, hatipun labil adanya. Pandangan hati bisa setajam mata elang menembus dinding kaca, dan pada saat yang sama tak sanggup mengendus dunia mikro si individu pasangan terpilih.

Maka pada titik kelabilan tertentu dua mahluk masing masing dari planet asing itupun memperoleh panggilan alamnya masing masing. Kepintaran akal melahirkan skill untuk menelisik planet asal di langit langit penjara, sebagian bahkan menempel di tembok kaca penjara cinta; perkawinan. Sebuah hirarki baru terbentuk bersamaan dengan mengaburnya dinding kaca, seolah tidak ada wewaler yang menghalangi kebebasan tarian angan angan, yang berupa khayalan fantastis. Maka pada saat itulah, saudara, satu demi satu pilar penopang kokoh teduhan peradaban mulai melapuk, memungkinkan untuk runtuh. Hati hati, ini bisa terjadi kapan saja dan dimana saja meskipun jelas bukan kategori kecelakaan.

Maka saudara, memilih teman hidup adalah juga menentukan type ‘rasa’ yang mendasarinya. Memilih mencintai atau dicintai? Mencintai berarti bahwa mengikhlaskan hati, fikiran, dan perbuatan sebagai persembahan terhadap hidup orang lain. Memberikan cinta yang sebenar benarnya cinta tanpa pamrih imbalan balas jasa. Mencintai seseorang dengan cara seperti itu dalam perhitungan logis akan memperoleh imbalan yang sama dari si obyek dimana cinta itu dicurahkan. Hanya orang dengan mutu tinggi dan kebajikan sangat tinggi bisa menjalani ini, sebab mencintai bukan otomatis mendapat juga feedback cinta dengan kadar yang sama. Salah salah malah dimanfaatkan oleh si obyek karena dianggap cinta adalah senjata mematikan untuk melumpuhkan si pencinta.

Kemudian dicintai. Memilih orang sebagai teman hidup karena diri merasa dicintai oleh orang lain, berartii juga telah memvonis diri sendiri dengan keyakinan yang bisa saja apriori. Rasanya dicintai adalah diperhatikan, dimanja dan dibutuhkan. Bagi yang bijak hati, dicintai ibaratnya menerima pemberian hati, separuh jiwa dari orang lain yang memasrahkan pengabdian untuk memelihara dan membela kepentingan diri. Rasa dicintai bisa menimbulkan kesadaran dan tekad nurani untuk menerima si hati pemberian sebagai amanah, kepercayaan yang wajib dijaga dan dirawat; dengan cara mencintai si pemberi. Hati hati karena merasa dicintai bisa membuat orang lupa diri. Bagi mereka yang memiliki falsafah hidup adalah sebatas konsepsi ‘menang’ dan ‘kalah’ (aku ada kenal type orang seperti ini), maka dicintai bisa dianggap sebagai kemenangan atas orang yang mencintai kita. Sedangkan, hukum pemenang adalah bebas melakukan apa saja terhadap si kalah. Orang dengan perilaku seperti ini (menurut Qee) adalah golongan orang licik, dan untuk menjadi licik orang harus bejat dulu. Jadi, orang yang merasa dicintai kemudian memanfaatkan cinta itu untuk menindas si pencinta adalah bejat adanya.

Demikianlah saudara, selamanya cinta memang fleksibel dalam makna, labil dalam fondasinya karena cinta adalah cawan disetiap jiwa manusia. Selama kaki tegak lurus, maka air didalamnya akan tenang dan menghidupi, mendamaikan sekaligus membahagiakan dan melindungi si jiwa. Tetapi jika kaki hati pecicilan, tentu ia bisa tumpah kesana kemari, dan bisa menyebabkan sakit jiwa, luka psikis yang permanen. Dan karena aku mencintai saudara, maka pilihlah teman hidup saudara dari golongan orang yang saudara rasa saudara tidak bisa hidup sempurna tanpanya, bukan cinta dengan azas balas budi apalagi memuja. Selamat menjadi pengantin!


Gempol, 060601

Wednesday, May 31, 2006

Seseorang yang memandang langit

Dibawah sepotong bulan anganya menggerayangi pekat jawaban teka teki masa silam. Segugus bintang Alpha Centaury diselatan mengabarkan duka, milik bersama umat manusia.
“Aku bisa merasakan lukamu meski hanya sedikit” berbisik angin yang lindap dari letih perjalanan sesiangan, mengitari matahari untuk mengumpulkan butir demi butir debu penagalaman.

Seseorang menatap langit ketika dunia mengucilkannya sendirian. Embun yang turun perlahan menjadi tirai yang mengelabuhi perih alam kenyataan. Lapar dan terbuang. Ditemukan dirinya sebatang kara menjelajah belantara, sebatang kara meskipun ketika telinga pekak oleh kerumunan; mahluk mahluk pencari mangsa. Ia tak memiliki lingkaran silsilah yang sering menjadi tanggul bagi rapuhnya kekuatan diri. Ia hanya milik dirinya sendiri, dengan rentetan kewajiban yang terbentang dari ujung ke ujung langit.

Ia menatap langit ketika sebiru lautan, tempatnya menyemaikan bunga khayali. Langit tempatnya bersembunyi dari kerdil diri. Nyanyian dan tangisan ia ceritakan kepada langit, tanpa bosan sebab hanya itu temanya melintasi gurun kehidupan. Keinginannya datang bersama ketidak inginan, melahirkan bayi bayi harapan yang kemudian jadi beban standar pencapaian. Maka iapun menjadi penghuni lazuardi, kadang melayang kadang menukik mengikuti irama angin. Berteman mentari dan bulan, ia menjelma menjadi kabut misteri.

Iapun jatuh cinta pada langit hampa, memuja biru yang kosong untuk disadur menjadi isi kepala; meminta diri untuk tidak berharap apapun dari apapun, kosong maha luas seperti langit. Harapan hanya akan memilin keinginan, sedangkan tidak berharap adalah menerima apapun yang harus diterima tanpa ekspresi. Ah, sungguh nyanyian indah yang sederhana dari segumpil mahluk berakal bernama manusia. Musykil adanya!

Ketika menatap langit malam ini, ia menemukan diri mengapung di samudera misteri yang mesti dijalani dalam gelap jawaban. Ia letih menyabung keyakinan dengan kenyataan…


Gempol, lewat tengah malam 060531

Sunday, May 28, 2006

Duka di bumi Jogya

Sabtu baru lepas dari subuh ketika bumi terasa runtuh. Gempa tektonik mengguncang Jogyakarta dan getaran terasa hingga jarak puluhan kilometer dari episentrumnya di dasar laut Jawa, empatpuluh kilometer dari daratan pada kedalaman sekian ribu meter. 56 detik dengan guncangan 5.9 SR melumatkan apa yang dibangun, dijaga, dipelihara dan dianggap sebagai hak kepemilikan selama berpuluh tahun. Harta benda, harga diri, nyawa seakan remuk jadi debu. Hari itu mestinya akhir pekan yang menyenangkan penuh rencana cerita cerita keceriaan. Dan langit mendung penuh duka, bumi koyak oleh luka.

Kaki dunia seperti gemetar pada pijakan kepongahan manusia, peristiwa ini menempatkan kita sebagai butir butir debu tanpa daya dibawah kuasaNya. Dari kejauhan, lutut menyentuh tanah, tunduk takluk pada keperkasaan alam. Bukan amarah Tuhan sebab Tuhan tak pernah marah kepada mahluk ciptaaNya, maha Pengasih dan Penyayang. Barangkali inipun caraNya menyayangi, dengan mengetuk dinding nurani kita yang semakin tebal tertimbun kepintaran akal. Mungkin satu lagi wake up call kepada sanubari setiap manusia, bahwa setitik debu tidaklah pantas untuk bersombong diri. Bukankah lebih bijak jika kita terima itu sebagai pengingat bahwa seyogianya mahluk berakal di bumi ini mengedepankan kehidupan sesama diluar kepentinganya sendiri.

Ketakutan dan rasa kehilangan menjadi terror yang menggerayangi jiwa jiwa yang tersisa, berserak tak berdaya di tenda darurat. Hanya langit, tanah dan udaralah yang tersisa, juga kesedihan menggunung menindih jiwa. Kepedulian datang bagaikan banjir, jutaan hati mengalirkan simpati lewat udara. Keprihatinan menjadi sempurna oleh ketidak berdayaan kita untuk melakukan sesuatu yang berarti disana, meskipun sekedar mengulurkan tangan untuk pegangan bagi para korban, pertanda bahwa diri bersama mereka, meyakinkan bahwa kehidupan masih ada.

Inipun test case tersendiri bagi penyelenggara negara, pengabdi warga negara (baca; korban bencana). Hingga hari kedua, puluhan ribu nyawa yang selamat belum terurus dengan layak. Mereka semua terluka, fisik dan mental. Respon pemerintah seperti biasa; lamban!. Kesigapan raksi tanggap darurat dari pemegang kebijakan menjadi tumpul karena kepintaran berteori, menyusun ini itu, merencanakan ini itu. Pusat pusat penanganan bencana dibentuk (eh, bukankah pusat itu semestinya hanya satu???), masing masing institusi memiliki pusatnya sendiri, sementara di lapangan para korban masih harus tidur berselimut air hujan, berteman rasa takut juga lapar, sebagian terbiarkan keleleran dilingkungan rumah sakit menunggu pengobatan. Keadaan ini, menimbulkan asumsi – yang bisa jadi salah - bahwa rencana penganggulangan bencana gunung Merapi yang tempo hari terkesan amat sempurna itu ternyata hanya retorika. Sedikit banyak, kita andaikan saja bencana ini adalah akibat dari letusan gunung Merapi, maka ketahuan bahwa memang penggagas penanganan krisis itu tidak memasukkan skenario terburuk jika gunung benar benar mengamuk.

Otak awamku hanya berfikir, bahwa sistim tanggap darurat yang cepat dan efektif tentu akan sangat membantu dalam situasi ini. Pengerahan bantuan fisik dari seluruh lini negeri pada detik pertama berita itu tersiar pastinya membuat perbedaan besar. Tentara dan segala peralatan dan logistiknya semestinya diberangkatkan dari barak barak untuk penanganan pertama di tempat kejadian, menyusul kemudian relawan medis beserta bantuan logistik. Kita punya kepala badan koordinasi nasional yang juga Wapres, yang fungsinya sebenarnya adalah simpul terpenting untuk melegitimasi aksi. Apakah pendidikan perilaku yang salah, atau memang efek dari kecanggihan ilmu sosial yang menyebabkan pamong (pengasuh) anak negeri ini lebih jadi kurang punya kepekaan sense of crisis?

Tulisan ini samasekali tidak punya niat menghujat apalagi mengumpat. Hanya seandainya saja aku adalah Bakornas bencana, maka evakuasi yang segera akan menjadi prioritas utama ‘no matter what it takes’ dan pengerahan bantuan maksimal sesuai SOP yang terakreditasi canggih. Apa negara ini tidak memiliki satu standar prosedur operasi untuk sebuah skenario yang terburuk menghadapi bencana? Apa kita masih kurang belajar dari kejadian tsunami di Aceh Desember tahun lalu, gempa di Nias Maret lalu dan ribuan kali bencana sebelumya? Atau kita yang terlau sombong untuk tidak mau belajar dari kejadian kejadian itu? Kita punya Bulog, tentara, Depkes, Depsos, PU, dll yang memang ada untuk kepentingan warga negara sebagai pemegang kuasa pertama di sebuah negeri berlabel demokrasi. Ah, barangkali kesederhanaanpun menjadi hal langka di negara demokrasi? Sayang aku hanya sebutir debu di angkasa, yang dengan lutut gemetar terduduk takluk ditanah bumi, dengan isi hati dan angan angan berhamburan ke tanah bencana, berkhayal bisa berbuat sesuatu secara nyata bagi luka luka mereka.

(Kepada sahabat dan saudaraku Unai, Ratih dan puluhan ribu korban lainya;
Hang in on there,
Dilangitmu jutaan hati memayungi
Meski hanya nyeri dan takut yang kau rasa jadi penguasa
Di udaramu jutaan tangan hangat menggenggam jemarimu
Meski hanya gelap sunyi dan jerit kesakitan penemanmu
Menuju bumimu cinta yang datang dari jiwa jiwa mulia membanjir
Meski hanya pedih dan duka yang terasa olehmu
Matahari yang datang esok pagi, ladang garapan membentang bagi harapanmu
Meski hanya kehancuran yang tampak dalam pandangan

Lewat detik yang mengalir
Kutitipkan intisari do’a dan simpati dari palung sanubari
Sebab hanya itu yang sanggup ku berikan
Ketika engkau hanya bisa menerima apapun yang terjadi
Semoga ketabahan dan kekuatan baru menyertaimu, saudara hatiku…)

Gempol, ketika benderang lampu seakan padam 060528

Saturday, May 27, 2006

Garda Bangsa vs FPI = premanisme berkedok agama.

Jika anda bingung mengartikan judul diatas, maka bisa disederhanakan dengan Ormas Islam vs Ormas Islam, kedua duanya organisasi massa berbasis sektarian. Mau lebih sederhana lagi, sebut saja Gusdur cs vs Habib Rizieq cs. Kedua duanya adalah pemimimpin yang notabene imam dalam organisasi bebasis massa. Dan dimanapun, organisasi berbasis massa seperti ini rentan memicu dan menimbulkan konflik horizontal, dengan fihak manapun yang tidak persis sefaham dengan kolompoknya. Dalam konteks ini menjadi lebih parah karena kedua duanya berbasis agama sama, Islam yang seyogianya adalah sebuah faham yang mengajarkan kedamaian kepada penganutnya.

Perseteruan dua kolompok Islam yang dipicu soal pro kontra Rencana Undang Undang Pornografi dan Pornoaksi tersebut telah melenceng jauh dari esensi yang sebenarnya. Orang jadi lupa sama azas kesederhanaan, melupakan pokok pangkal permasalahan serta nilai nilai ajaran dogmatis tentang cinta kasih dan sopan santun. Satu kelompok menentang RUU APP karena dianggap hanya akan menjadi sampah undang undang setelah sekian peraturan, ketentuan dan undang undang selama ini mandul dalam implementasi (yang sebenarnya disebabkan karena unsur unsur pelaksananya yang impotent), satu kolompok lagi mendesak agar RUU APP itu segera di sahkan oleh DPR. Kedua duanya sama; untuk mereduksi kebejatan akhlak bangsa, mengatur batas batas eksplorasi syahwat!

Tetapi sekali lagi, masing masing yang berkepentingan adalah yang paling benar, dengan argumentasi yang paling sahih. Masing masing imam adalah yang harus diikuti dan dibela, kalau perlu dengan kerelaan untuk mati. Oligarki bergaya sektarian ini tidak lebih dari pada premanisme yang berkedok agama, menggunakan eksperimen eksperimen destruktif sebagai titik penekanan terhadap obyek garapan. Orang, bahkan anak anak (tunas harapan penerus generasi – pen) sudah tidak asing lagi dengan kata kata hujatan, makian bahkan pengkebirian martabat terhadap kepentingan diluar satu kelompok. Yang memprihatinkan lagi, kebangkrutan nilai tanggung jawab telaah moral telah jauh memutan didalam kelompok yang semestinya memiliki idealisme dan tanggung jawab terhadap perbaikan moral; agama. Ajaran sesat tentang moral itu digambarkan secara gamblang oleh Gus Dur cs dan Habib Rizieq cs yaitu budaya kekerasan.

Islam (baca : muslim) sebagai satu komunitas yang bisa menimbulkan efek positif maupun negatif yang massif di negeri tercinta ini seakan telah menjadi pecahan pecahan beling dengan sisi sisinya yang tajam mengerikan, siap melukai siapa saja yang bersinggungan. Pada pandangan yang lebih umum, kaidah tentang persatuan dan kesatuan bangsa yang semestinya bisa disokong oleh toleransi beragama sebagai modal vital dan sekaligus ladang persemaian bagi benih benih baru yang akan melestarikan budaya damai dan cinta kasih telah mengalami degradasi nilai yang sungguh memprihatinkan. Inilah saatnya kita mempertanyakan integritas pemimpin sebuah kaum kepada sanubari kita masing masing, bukan asal berteriak lantang dan mengacungkan kepalan tangan dengan pengertian yang dangkal mengenai arti sebuah pembelaan. Kebenaran bisa menjadi sumir dengan olah bahasa yang sedemikian absurd, dan menentukan kebenaran berdasarkan ‘kata orang’ adalah apriori semata; sebuah tindakan yang sebenarnya amat berbahaya bagi masa depan bangsa.

Jadi, benturan dua kelompok massa Islam yang terjadi sejak Selasa lalu (060523) sejak Gus Dur dengan lantang ‘menghujat’ FPI, mempertajam image buruk tentang Islam dengan anarkisme dan premanisme. Pembelaan apapun yang mengatas namakan perdamaian dengan kekerasan justru akan menimbulkan impact ganda atas image yang disangkakan. Jika beberapa kalangan menganggap penganut Islam berperilaku ekstrim, hal itu memang dibuktikan kebenaranya oleh Gus Dur cs dan Habib Rizieq cs dengan mengedepankan pendekatan yang arogan, alih alih dialog yang bisa menyejukkan iklim negara yang memang sedang gerah atas hampir segala hal ini. Siapa yang salah, tak perlu kita tentukan, sebaiknya kita tanyakan kepada lembar lembar rumput patah yang terinjak injak massa yang marah kepada sesamanya atas nama Tuhan itu, sebab sang rumput tak sanggup lagi bergoyang.

Apakah kita akan wariskan budaya kekerasan kepada anak cucu kita? Mari tebarkan kasih dan damai kepada seluruh penghuni bumi, satu satunya warisan yang layak bagi generasi mendatang…

Gempol, diantara petir dan gelap malam 060527

Friday, May 26, 2006

Bunga Desember


“ I am on the way to Bantul, remember when we were here…” pesanmu lewat angin lembut petang ini. Turut terkirim juga senyum lebar dan sorot bening dibalik kaca pelindung mata indahmu. Aku menjelma menjadi si bisu, kehilangan suara dan kata kata, hanya tulisan ini mewakilinya.

Dan angin petang ini telah membangkitkan satu catatan indah tentang hangat sebuah hubungan semasa dulu kita masih bebas berdiri ditengah tanah lapang, saling bergandengan tangan menyimak aliran cerita hidup mencari tujuannya sendiri. Disanalah batang bunga Desember tertanam oleh alam, lalu terpendam hilang dari pemandangan. Ia ditelan hiruk pikuk kehidupan. Hormat dan penghargaankupun ikut larut dalam keterpendaman, menjadi seonggok umbi yang bernafas diam diam didalam kebun rahasia persembunyian yang sempurna.

Sebutir air mata jatuh dari langit keharuan, meluruhkan kebekuan yang mengurung malam. Ternyata aku masih hidup di dalam tanah pekarangan hatimu, terawat meski tak tercatat. Maaf jika tak pernah kuajarkan pandanganmu tentang azas saling memiliki itu, hingga angin menerbangkan kita dalam gelembung yang berbeda ke arah yang berbeda pula.

Dalam ruang sempit ini, raga terbelenggu oleh udara. Sedangkan angan melanglang jauh menembusi awan, memetakan kembali Jogyakarta pada suatu masa. Keruh kali Opak dan riuh stasiun Tugu pernah menjadi catatan diary, dengan bathin yang saling erat berdekapan. Kita yang selalu saling menjaga, dan aku si kerdil yang hanya mampu sembunyi dibalik bayang bayang masa depan, semua lalu menghilang ditelan gelombang kehidupan.

Sebelas tahun sudah jejak terkubur debu dan rerumputan, demikian juga ilalang penyesalan telah tumbuh beranak pinak dalam keseharian, sebab aku tak menuruti nasehatmu untuk berlari dari sekedar keinginan menjadi tameng hidup bagi si pendurhaka, berharap aku jadi martir bagi harga yang telah digadaikan murah.

Petang ini…kenangan memapahku berjalan tertatih menyusuri jalanan khayali, dengan seribu penyesalan dan pengandaian yang sama sama nisbi…

(Sebatang tumbuhan menyembul dari dalam tanah, warnanya merah hanya batang dan sekelopak bunga; tanpa daun. Ia muncul begitu saja dari diamnya yang panjang setelah sekian ribu musim kemarau lewat dipermukaan. Umbian yang tertindih beban tanah telah menjadikanya kawan, bertahan hidup dalam mati suri yang panjang. Putiknya mekar segar merona, mengundang serangga untuk hinggap dan bercengkerama. Sebermula ia adalah sepokok pohon yang daunya luluh lantak ditindas matahari, kering dan mati dimuka bumi. Dan dipermukaan tanah yang menyembunyikan umbinya, tak ada jejak kehidupan yang pernah dilaluinya. Alam seolah melupakanya…ia sang bunga Desember – dinamakan demikian karena menurut Bunda, ia hanya muncul di bulan Desember ketika bumi basah oleh air yang tumpah dari langit)


Gempol, 060526

Thursday, May 25, 2006

Kisah seekor camar

Seekor burung camar terbang mengitari langit yang lembab suatu siang. Matahari sedang bersungguh sungguh menumpahkan resahnya, menikam ubun ubun dan memanggang dada. Sayapnya terluka, darah kering menghiasi bulu bulu mengkilatnya. Di langit ia sendirian, merindukan tanah pijakan tempatnya temukan dermaga letih yang ditahankan. Sedikit dami sedikit ditabungkan kesakitan hatinya, buah dari perkelahian dari alam seberang dimana telah dikaramkan segala pengharapan dan mimpi yang dibangunkan.

Burung camar terbang rendah, menghirup aroma damai dari ombak yang memecah disepanjang tepi laut, pantai pendamparan. Dipijakkanya kaki rapuhnya pada karang landasan pengharapan, dan perih didapatkan dari tajam setiap ujung sisi pendaratan. Bahkan batu karang tempatnya dulu bermain merenda jawaban atas tebakan di alam seberangpun tak lagi memiliki ruang baginya. Tapi ia tetap berpijak disana, berharap menemukan teman teman lama; belibis dan lumba lumba.

Sepi, sunyi sekelilingnya kini. Terdiam merenungi awan gemawan dimana telah diarunginya sekian mil perjalanan, menembusi kosong demi kosong angkasa bersama matahari dan bintang kecilnya. Udara membawa bau anyir dari sayapnya yang terkoyak, menusukkan amarah yang tak rela ia tuntaskan kepada sang durjana. Bersama rapuh kerangka tubuhnya ia yakinkan kaki gemetaranya bahwa ia kuat menopang sejarah masa lalu dan sekaligus memikul tanggung jawab masa depan.

Terkadang dirindukanya angkasa tempatnya memuja rasa, menjelajahi hampa tempatnya mengingkari tajam karang kenyataan. Tapi terbangpun ia letih, setelah perih dari sayatan masa lalu tak sanggup ia redam menjadi pengalaman. Dilangit ia pernah tulisakan puisi tentang cinta dan pengabdian, juga tangis pedih memanjang dari kemeranaan yang disembunyikan diam diam. Tetapi hujan telah menghapusnya kemarin sore, justru ketika ia rindukan datangnya damai.

Sekarang ia sendirian, sayapnya pincang menjelempah di lantai karang. Matanya keruh menanggungkan beban, berharap musim segera tentukan keputusan; mati jadi polutan atau tetap hidup membangun nyali. Tetapi jalinan ruhnya hanya berisi sepi dan uap air laut yang kental menggarami sayapnya yang membusuk…ia hanya menunggu, matahari tenggelam ditelan samudera untuk datang lagi esok menyeruak dari ujung lainya…

Sekali ini ditengoknya langit, laut, batu karang, pasir dan matahari…ia sadar kini, bumi ini bukan tempatnya berdiri lagi, sebab ia telah menjadi zombie, terpencil ditengah alam antah berantah tak terkenali…

Cubicle, 060525