Jumat Legi Sore, Jam
15.30 WIB.

Jalan itu adalah
gerbang utama menuju pabrik, yang menghubungkan antara jalan masuk ke pabrik
dengan jalan raya, jalan provinsi warisan colonial. Tiga orang petugas security
berjaga, dan tugas utamanya adalah mengamankan para penyeberang jalan yang akan
memasuki pabrik dan keluar dari area pabrik. Tugas mulia karena mereka menjaga
keselamatan sebagian pengguna jalan dalam menyeberang arah, untuk melanjutkan
proses kehidupan dengan rencana masing masing. Untuk menjalankan tugas itu
bapak bapak petugas security menempatkan diri dalam resiko tinggi dari ancaman
menjadi korban kecelakaan, tertabrak ataupun sengaja ditabrak oleh pengguna
jalan yang merasa tidak senang hati karena merasa perjalanannya terganggu.
Bukankah setiap pengendara saat ini merasa menjadi raja jalanan dan menganggap
orang lain harus bisa memaklumi kekuasaanya atas jalanan? Ketidak sukaan kadang
juga di lahirkan dalam bentuk umpatan bahkan maikian kepada petugas yang
terpapar langsung dengan kepentingan public. Sungguh profesi yang mulia para
security, yang mengesampingkan keselamatan diri sendiri untuk menjaga
keselamatan orang lain.
Jalan raya adalah jalan umum, dimana setiap
orang memiliki hak yang sama untuk menggunakannya, dan semua harus patuh
terhadap aturan maun yang diberkalukan agar semua menjadi tertib teratur.
Aturan paling tinggi adalah etika, dan etika itulah yang saat ini mengalami
degradasi di masyarakat. Pelanggaran banyak terjadi dan seolah dibiarkan,
sehinggal lama lama orang menganggap itu bukan pelanggaran lagi. Tetapi secara
etika, setiap manusia pasti menyadari perbuatan yang benar atau salah, yang
patut atau yang tabu. Orang orang yang taat pada aturan umum dan etika sosial,
adalah mereka adalah orang yang cerdas.
Pergantian shift
pagi keshift siang baru saja terjadi. Petugas jaga baru menempati posnya dengan
menyiapkan diri sebelumnya, mengikuti apel, mendapat pesan dan pengarahan lalu
bertugas sampai delapan jam kedepan. Petugas jaga lama telah bersiap diri untuk
balik kanan atau meninggalkan lokasi. Petugas jaga lama memberikan briefing
singkat mengenai hal hal yang terjadi pada shift regunya, sedangkan petugas
jaga baru menerima pesan estafet untuk tugas tugas yang harus menjadi perhatian
sebagai kelanjutan dari tugas shift sebelumnya. Petugas jaga lama bergegas
berkemas untuk meninggalkan pos dan kembali kepada kehidupan Pribadi masing
masing, membaur menjadi anggota masyarakat biasa diluar penugasannya.
Tepat sebelum
tiga orang anggot security besiap meninggalkan lokasi dengan sepeda motornya,
keriuhan tiba tiba datang dari arah Malang. Seseorang bereriak keras,
memperingatkan bahwa ada pencuri yang melarikan diri. Sontak saja enam petugas
security yang masih berada disekitar pos melakukan penghadangan terhadap seorang
pengendara sepeda motor yang diteriaki sebagai maling dan secara reflek
membantu menangkap si pelarian. Senjata api terdengar diletuskan, sebelum tiga
orang dengan pistol di tangan tiba tiba turut meringkus si pelarian dan
mengambil kuasa dari tangan para petugas security yang menangkapnya.
Kejadiannya di tengah jalan, dengan tidak memperdulikan arus lalu lintas
ataupun hal lain yang terjadi disekitar tempat kejadian. Rupanya telah terjadi
penangkapan pelaku yang disangka terlibat dalam perdagangan narkoba, dilakukan
oleh tiga petugas polisi dari POLDA. Si pelarianpun tertangpak sudah oleh
polisi, yang kemdian membawanya serta ikut ke dalam sebuah mobil yang
digunakan, lalu melaju meninggalakan tempat kejadian menuju ke arah Surabaya.
Si pelarian
masih berusaha memberontak dan melepaskan diri dari sergapan tiga petugas
polisi yang memganinya dan berusaha untuk melakukan penahanan dan pemborgolan.
Tiga orang petugas security masih membantu polisi untuk mengendalikan si pelarian
yang masih mengenakan helm berwarna kuning gading. Mereka ingin memastikan
bahwa polisi berhasil membawa si buronan sampai selesai. Dalam prosesnya, pas
ketika si buronan melepaskan helm, seorang petugas security terlihat
mengayunkan kaki ke arah perut si buronan dan berulang sebanyak beberapa kali.
Si buronan tampak kesakitan, meskipuan tetap berusaha sekuat tenaga melepaskan
diri dari penahanan, sampai akhirnya tidak berdaya digiring menuju ke dalam
mobil yang menunggu.
Suasana chaos
yang timbul dari proses penangkapan perlahan berangsur normal. Tersisa beberapa
orang bergerombol berbicara satu sama lain di depan pos security, seperti
menceritakan kejadian yang baru saja terjadi menurut versi kepahlawananannya
masing masing. Tetapi sebagian besar dari yang ada dalam kerumunan adala
kepoman, mereka yang penasaran untuk tahu kejadian yang sebenarnya dan
mendengarkan kesaksian dari orang yang mengalami langsung; para petugas
security di pos lalu lintas! Kepenasaran menimbulkan kemacetan yang makin berkembang
karena penasara seseorang menular kepada kepenasaran orang lainnya. Di area
public, kepenasaran berkembang bagaikan bola salu, mengakibatkan penyumbatan
arus lalu lintas yang ramai dan deras di Sabtu bulan Agustus itu. Beruntung
proses rekonstruksi audio visual tidak berlangsung lama hingga jalanan raya
warisan Daendles kembali normal seperti sedia kala, menjalankan fungsinya dalam
menyambut malam minggu malam yang gembira. Libur akhir pekan telah tiba!
Kesokan harinya
ketika hari masih pagi, berita pecah; keluarga terduga pelaku kejahatan yang
ditangkap polisi datang ke Mako untuk meminta petanggung jawaban berupa ganti
rugi uang, lengkap dengan jumlah nominal sepuluh juta rupiah! Keadaan menjadi
keruh ketika permintaan itu dirasa mengada ada dan bentuknya adalah pemerasan.
Logika yang terbailk memang belakangan menjadi semakin umum dan seolah dapat
diterima oleh khalayak. Indonesia yang negara Hukum idealnya diisi oleh
warganya yang taat pada hukum dan menempatkan aturan hukum sebagai panglima
yang ditaati dan dipatuhi. Kenyataan sehari hari tidaklah seindah utopia bahkan
cita bangsa yang digagas oleh pendiri negeri dengan hati bersih.
Ujung ujung dari
insiden penangkapan terduga pelanggar undang undang oleh apparat hukum pada
Jumat sore itu adalah hitung hitungan angka nilai ganti rugi. Segala hal yang
berkaitan dengan pemberitaan memang bisa diputar balikkan dan disesuaikan
dengan kepentingan tertentu. Perlawanan tentu ada, karena dari setiap satu
konflik akan timbul bermacam macam versi cerita menurut persepsi sang
pencerita. Dan atas pertimbangan aneh, tawar menawar uang kompensasipun
terjadi. Terjadi antara pihak terduga pelaku kejahatan dan satpam yang diwakili
perusahaan penaungnya. Pertimbangan yang paling tidak masuk logika adalah bahwa
demi menjaga ketenangan dengan lingkungan sekitar tempat bekerja!
Intinya adalah
bahwa dalam kasus ini, lingkungan lebih berkuasa dari hukum apapun di dunia. Praktek
praktek arogansi mengatasnamakan lingkungan, mengatasnamakan kelompok
organisasi, mengatasnamakan isntitusi adalah contoh nyata aksi negative yang bebas
bergerak di negeri yang dipagari dan mengusung platform hukum. Ironis memang,
tapi mungkin itu sudah menjadi kehendak zaman. Apakah semua itu tidak
terdeteksi oleh aparat hukum yang semestinya menjunjung tinggi slogan fiat Justitia ruat caelum? Tidak sepenuhnya benar, karena aparat hukum
bertindak pasif dan memiliki banyak sekali pertimbangan yang dapat memandulkan
pemahamana mengenai penegakan hukum
meskipun langit akan runtuh itu.
Pada akhirnya dari
banyak konflik kepentingan akan bermuara kepada uang. Tidak mengherankan karena
memang zaman telah membawa peradaban pada fase budaya konsumtif. Ketidak
mampuan orang untuk menyeimbangkan antara kemampuan dan gebyar keinginan
konsumsi akhirnya melahirkan banyak cara untuk korupsi, untuk mengukur segala
sesuati dari sisi materi. Tehnologi semakin maju selaras dengan zaman, dan
peradaban mengalami kemunduran sejalan dengan kemajuan yang disertai kemudahan
serba instant.
Sudah semestinya
kita bersyukur dapat menyaksikan semua dinamika itu, sambil menyadari sepenuhnya
bahwa kita tidak mungkin bisa sendirian menciptakaan utopia.
Sukorejo 180831